Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Syekh Muhammad Baba as-Samasyi adalah seorang pelajar al-Azizan yang
ternama dan merupakan seorang Cendikia dari para Wali dan seorang Wali
dari para Cendikia. Beliau unik dalam dua jenis pengetahuan, yaitu
pengetahuan internal dan eksternal. Berkahnya menembus seluruh ummat di
masanya. Dari keinginan belajarnya yang tinggi, beliau menyebabkan
ilmu-ilmu ghaib dan rahasia menjadi tampak. Beliau adalah puncaknya
Matahari Pengetahuan Eksternal dan Internal di abad ke-8 H. Salah satu
tanda keajaibannya adalah mi’raj beliau dari Kubah Batu, yang merupakan
hatinya ke maqam Cendikia dari para Cendikia. Para cendikia yang
menguasai hikmah spiritual banyak yang menggali dari ladang ilmunya dan
ikut berthawaf mengelilingi Ka’bah dibawah bimbingan beliau.
Beliau dilahirkan di Sammas, sebuah desa di pinggiran Ramitan, tiga mil
dari Bukhara. Beliau mengalami kemajuan dalam perjalanannya dengan
memahami Ilmu dalam al-Qur’an, menghafalkan al-Qur’an dan Hadits
Rasulullah saw, serta menjadi ahli di bidang Jurisprudensi. Kemudian
beliau mulai mempelajari Teologi Spekulatif, Logika, Filosofi (‘ilm
al-Kalam) dan Sejarah, sampai beliau dijuluki ensiklopedia berjalan bagi
segala bidang ilmu dan seni. Beliau mengikuti Syaikh Ali ar-Ramitani
al-’Azizan dan terus-menerus berperang melawan dirinya sendiri. Beliau
melakukan khalwat setiap hari sampai mencapai maqam kemurnian sehingga
Syaikhnya diizinkan untuk mentransfer Pengetahuan Surgawi yang bersifat
Ghaib ke dalam hatinya. Beliau menjadi sangat terkenal dengan kekuatan
ajaib dan ketinggian maqam kewaliannya. Syaikh ‘Ali Ramitani memilih
beliau sebagai penerusnya sebelum beliau meninggal dan memerintahkan
semua murid untuk mengikutinya.
Beliau pernah berkata ketika
melewati sebuah desa di Qasr al-‘Arifan, “Dari tempat ini Aku mencium
wangi seorang Pemegang Ilmu Spiritual yang akan muncul dan dari
namanyalah seluruh thariqat ini akan dikenal.” Suatu hari beliau
melewati desa itu dan berkata, “Aku mencium aroma yang sangat kuat,
seolah-olah Pemegang Ilmu itu telah lahir.” Tiga hari berselang, kakek
dari seorang anak mengunjungi Syekh Muhammad Baba as-Samasi dan berkata,
“Ini adalah cucuku.” Beliau lalu berkata kepada para pengikutnya, “Bayi
ini adalah Pemegang Ilmu yang telah kuceritakan kepada kalian. Aku
lihat di masa depan dia akan menjadi pemandu bagi seluruh ummat manusia.
Rahasianya akan menggapai seluruh orang-orang shaleh. Pengetahuan
Surgawi yang telah dicurahkan oleh Allah kepadanya akan memasuki setiap
rumah di Asia Tengah. Nama Allah swt akan terukir (Naqsh) dalam hatinya.
Dan thariqat ini akan dinamai dengan ukiran tersebut.”
Dari
Ucapannya ”Para pencari harus selalu berusaha untuk mematuhi Perintah
Allah swt, dan dia harus selalu berada dalam keadaan suci. Pertama dia
harus mempunyai hati yang bersih sehingga tidak akan berpaling kepada
apa pun kecuali Allah. Selanjutnya dia harus menjaga agar bagian dalam
tubuhnya tetap suci, dan tidak diperlihatkan kepada orang lain. Yaitu
melihat dengan pandangan yang benar. Kesucian dada (shadr), terdiri atas
harapan dan kepuasan terhadap Kehendak Ilahi. Kemudian kesucian jiwa,
yang terdiri atas kesederhanaan dan penghormatan yang tinggi. Kemudian
kesucian perut dengan hanya memakan makanan yang halal dan pantangan.
Diikuti dengan kesucian badan yaitu dengan meninggalkan keinginan.
Diikuti dengan kesucian tangan yang terdiri atas keshalehan dan ikhtiar.
Kemudian kesucian dari dosa yaitu dengan menyesali kesalahan yang telah
dilakukan. Selanjutnya kesucian lidah, yang terdiri atas dzikir dan
istighfar. Kemudian dia harus mensucikan dirinya dari kelalaian dan
kealfaan, dengan mengembangkan ketakutan terhadap Akhirat.”
”Kita harus selalu beristighfar, berhati-hati dalam segala urusan,
mengikuti langkah orang-orang yang shaleh, mengikuti ajaran internalnya,
dan menjaga hati dari segala godaan.”
”Jadilah orang yang
terbimbing dengan ajaran Syaikhmu, sebab ajaran itu dapat menyembuhkanmu
secara langsung dan lebih efektif dari pada membaca buku.”
”Kalian
harus menjaga asosiasi dengan seorang Wali. Dalam asosiasi itu kalian
harus menjaga hatimu dari gosip dan tidak boleh berbicara di tengah
kehadirannya dengan suara yang keras, kalian juga tidak perlu
menyibukkan diri dengan shalat dan ibadah sunnah ketika sedang
bersamanya. Jagalah kebersamaanya dalam segala hal. Jangan berbicara
ketika mereka sedang berbicara. Dengarkan apa yang mereka katakan.
Jangan melihat apa yang mereka miliki di rumah, terutama di kamar dan
dapurnya. Jangan berpaling kepada Syaikh yang lain tetapi yakinlah bahwa
Syaikhmu akan membuatmu tiba di tujuanmu. Jangan menyambungkan hatimu
dengan Syaikh yang lain, bisa saja kalian akan terluka karena melakukan
hal itu. Tinggalkan apa pun yang telah kalian kumpulkan semasa
kanak-kanakmu.“Dalam menjaga kehadirat Syaikhmu, kalian tidak boleh
menyimpan sesuatu dalam hatimu kecuali Allah swt dan Nama-Nya.”
”Suatu ketika Aku bertemu dengan Syaikhku, Syaikh ‘Ali ar-Ramitani .
Ketika Aku memasuki kehadiratnya, beliau berkata kepadaku, ‘Wahai
anakku, Aku kirimkan keinginan mi’raj ke dalam hatimu’ Segera setelah
beliau mengatakan hal itu beliau menempatkan diriku ke dalam keadaan
dengan panorama spiritual, di mana Aku melihat diriku berjalan siang dan
malam, dari negriku menuju Masjid al-Aqsa, Aku memasuki masjid dan Aku
melihat seseorang yang bepakaian serba hijau di sana. Beliau berkata
kepadaku, ‘Selamat datang, kami telah menantimu sejak lama.’ Aku
berkata, ‘Wahai Syaikhku, Aku meninggalkan negriku pada tanggal sekian.
Tanggal berapa sekarang?’ Beliau menjawab, ‘Hari ini adalah 27 Rajab’
Aku sadar bahwa Aku telah melakukan perjalanan selama 3 bulan untuk
mencapai masjid itu, dan yang membuatku terkejut adalah bahwa Aku tiba
di malam yang sama dengan malam isra mi’raj Rasulullah saw.
Beliau berkata kepadaku, ‘Syaikhmu, Sayyid ‘Ali ar-Ramitani telah
menantimu sejak lama disini. Aku masuk kedalam, dan Syaikhku sudah siap
untuk menjadi Imam dalam rangkaian shalat malam. Setelah menyelesaikan
shalatnya beliau menoleh kepadaku dan berkata, ‘Wahai anakku, Aku telah
diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk menemanimu dari Masjid Kubah ke
Sidratul Muntaha, tempat yang sama di mana beliau mengalami mi’raj.’
Ketika beliau selesai berbicara orang yang serba hijau itu membawa dua
makhluk yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Kami menunggangi kedua
makhluk tersebut dan mengangkasa. Setiap kali kami naik, kami
mendapatkan pengetahuan yang terdapat di tingkat antara Bumi dan Surga
itu.”
”Mustahil melukiskan apa yang kami lihat dan kami
pelajari dalam mi’raj itu, karena kata-kata tidak bisa mengekspresikan
apa yang berhubungan dengan hati, kata-kata tidak bisa mengungkapkannya
kecuali dengan merasakan dan mengalaminya sendiri. Kami melanjutkan
mi’raj kami sampai tiba di maqam Realitas Rasulullah SAW (al-haqiqat
al-Muhammadiyya), yang berada di Kehadirat Ilahi. Setelah kami memasuki
tingkatan ini, Syaikhku lenyap, Aku pun lenyap. Kami melihat bahwa tidak
ada lagi yang eksis di alam semesta ini kecuali Rasulullah SAW sendiri.
Kami rasa tidak ada yang berada di maqam selanjutnya kecuali Allah swt
sendiri. “
Kemudian Aku mendengar suara Rasulullah saw berkata
kepadaku, “Wahai Muhammad Baba as-Samasi, Wahai anakku, jalur tempat
engkau berada adalah jalur yang paling mulia, dan orang-orang yang telah
terpilih untuk menjadi bintang dan penunjuk bagi ummat manusia akan
diterima di jalur tersebut. Kembalilah, dan Aku akan mendukungmu dengan
segala kekuatanku, dan Allah swt mendukungku dengan Kekuatan-Nya.
Layanilah Syaikhmu.” Ketika suara Rasulullah saw menghilang, Aku
menemukan diriku berdiri di tengah Syaikhku. Itu adalah sebuah karunia
yang besar, berada dekat dengan Syaikh yang sangat kuat, yang bisa
membawamu ke Kehadirat Ilahi.
Fana Dalam bahasa jawa berarti sepi, sunyi. Sementara fana dalam diri
seseorang berarti besrihnya hati dari segala bentuk-bentuk keterkaitan,
kebergantungan kepada selain Allah Swt. Orang-orang yang ada dalam
maqamatil fana (kedudukan fana), mereka menuju kepada Allah Swt., tidak
terkait, terpaut, kepada bentuk apapun. Bahkan pada kelebihan-kelebihan
yang diberikan pada dirinya oleh Allah Swt., seperti inkisyaf, terbuka
dan dapat mengetahui segala sesuatu. Dalam bahasa jawa inkisyaf itu
adalah weruh sajeroning winara, mengetahui apa yang akan terjadi.
Tapi sebetulnya mengetahui sesuatu yang akan terjadi itu bukan bentuk
kekasyafan yang hakiki, yang sebenarnya. Karena hakikat al kasyfi,
hakikat dari weruh sajeroning winara tujuannya adalah untuk memebenarkan
apa yang dibenarkan oleh syariat. Sehingga orang-orang yang dibuka
penghalang hatinya (hijab) atau mendapatkan kekasyafan dapat melihat
syariah bukan hanya kulitnya saja.
Ibarat melihat lautan sampai
kedasar lautan, tidak sebatas melihat permukaannya saja. Sehingga
mengetahui mutiara-mutiara yang terpendam didasarnya. Itulah
sesungguhnya kekasyafan, bukan untuk menebak atau membuka rahasia orang.
Justru orang yang bibuka hijab oleh Allah Swt, akan menutupi
kekasyafannya. Karena dengan dibuka hijabnya sehingga mereka bisa
mengetahui aib, kekurangan dirinya sendiri yang menjadi
penghalang-penghalang menuju Allah Swt. Dengan bersihnya hati, mereka
dapat menerobos, menembus rahasia-rahasia Allah Swt. yang hanya
diketahui orang tertentu.
Gambaran kekasyafan atau dibukanya
hijab, seumpama dokter, dengan alat-alat canggih yang dimilikinya dapat
mengetahui penyakit-penyakit yang tidak bisa dilihat oleh mata dan tidak
diketahui dengan panca indra. Barangkali dapat dikatakan saat ini ilmu
pengetahuan telah membuka inkisyaf secara saint. Seperti sinar X yang
ditemukan tokoh-tokoh ilmuan bisa mengetahui sesuatu yang tersembunyi.
Dengan bantuan sinar X seorang dokter dapat mengetahui penyakit yang
tidak tampak, seperti benjolan-benjolan dalam tubuh yang tidak pada
tempatnya. Benjolan penyakit yang tidak tampak pada permukaan kulit.
Demikian juga cairan-cairan dalam kepala bisa dilihat dengan bantuan
sinar X. Itu baru ilmu yang secara lahir diberikan kepada manusia. Ilmu
yang secara umum bisa dipelajari di bangku sekolah. Tapi sinar X yang
diberikan pada orang yang makrifatnya kuat, yang telah dibuka hijabnya,
tidak sebatas itu. Lebih jauh pandangannya. Karena mereka telah
menggapai mutiara-mutiara yang ada dalam syariat Allah Jala Wa’ala yang
dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Maka dengan ketajaman makrifatnya yang
luar biasa, bukan suatu hal yang mustahil dapat mengetahui yang tidak
tampak bagi keumuman orang.
Dengan sinar X saja seseorang bisa
mengatahui tengkorak dan tulang manusia. Yang ganteng, yang cantik kalau
direntogen yang terlihat bukan cantiknya lagi atau ganteng lagi, yang
terlihat tengkoraknya dan tulangnya. Begitu pula ilmu kasyfi, bilamana
orang sudah dibuka hijabnya oleh Allah Swt. akan bisa melihat
tulang-tulang yang ada dalam diri manusia. Cuma berbentuknya lain, apa?
Yang meninggalkan shalat, yang berbuat maksiat, kelihatan sekali
bentuknya tidak lagi membentuk kegantengan atau kecantikannya, yang
kelihatan tulang belulangnya, Cuma dalam bentuk yang lain. Kalu kita
bertanya, apa manusia bisa seperti itu? Kalau memandang manusianya tidak
mungkin bisa, tapi kalau Allah Taala menghendaki dan memberinya, tidak
ada yang mustahil.
Jangankan seorang mukmin, para pembesar
tokoh agama dijaman Firaun, mereka tidak beriman, mereka bisa mengetahui
akan lahir seorang nabi yang akan melawan Firaun. Karena takutnya,
Firaun membunuh setiap anak yang lahir. Mengapa Firaun melakukan hal
itu? Karena dia mempercayai apa yang dikatakan oleh tokoh dalam
agamanya. Dan terbukti itu benar, dengan lahirnya nabi Musa as. Demikian
di jelaskan dalam al Quran. Nah orang seperti itu saja bisa diberi
keanaehan, kelebihan oleh Allah Swt, apalagi orang yang beriman, yang
menyebut ‘lâilâha illallah’.
Orang yang hatinya dihiasi oleh
‘lâilâha illallah’, orang yang hatinya disinari oleh ‘lâilâha illallah’,
orang yang dalam hatinya terukir kata ‘lâilâha illallah’. Cahayanya
menerangi matanya, bisa menerangi mulutnya, bisa menerangi lidahnya,
bisa menerangi perilakunya. Sehingga seluruh anggota tubuhnya bisa
dikendalikan. Karena apa? karena ukiran ‘lâilâha illallah’.
Sehingga
hatinya selalu kembali kepada Allah Swt. Malu rasanya kalau kita duduk
berbicara hal-hal yang tidak bermanfaat, Malu rasanya kalau kita duduk
membuka aibnya orang, malu rasanya kita mempercayai omongan orang yang
menjelek-jelekan orang lain.
Itu semua tidak akan terjadi pada orang yang dalam hatinya telah terukir ‘lâilâha illallah’.
Ketika dia sujud mengucapkan: ‘subhâna rabiya al a’la wabihamdih’, maha
suci tuhanku, dan segala puji baginya, bukan hanya sekedar sarat dalam
shalat, atau karena itu peraturan shalat. Bacaan-bacaan itu diucapkan
dengan pengagungan dan pengakuan yang sebenar-benarnya. kata-kata itu di
ucapkan dengan betul-betul. Dirinya hilang (fana), sehingga mereka
tidak pernah mengatakan siapa saya, saya si A, saya, si B, saya bisa
ini, saya bisa itu, tidak. Dirinya hilang, yang ada adalah Allah Swt.
Dalam kesehariannya mereka dapat membawa buahnya ruku, buahnya sujud,
buahnya fatihah, sehabis shalat yang dilakukannya. Itulah diantaranya
yang dimaksud dengan fana.
KARAKTER MUKMIN DALAM MAQAM FANA
Orang yang sampai pada maqam fana adalah orang yang berhasil membawa
nilai-nilai shalat dalam seluruh aspek hidupnya. Ketika dia mengucapkan
kata ‘ihdina shirata al mustaqim’ dalam shalat, bukan hanya untuk
dirinya, tapi mendoakan orang lain, untuk semuanya. Bahkan menganggap
yang didoakan lebih baik daripada dirinya.
Itulah orang yang
mendapat berkah as sujud. Dimana digambarkan secara jelas dalam surat
Fatah ayat 29: “Muhammad Rasulullah walladzina maahu assyida’u ala al
Kuffar, ruhama’u bainahum, tarâhum rukkaan, sujjadan, yabtaghuna fadzla
minallah waridhwana, simahum fi wujuhihim min atsari sujud”, Muhammad
itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka,
kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan
keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud. Mukanya bercahaya, buktinya apa? Wajahnya selalu tersenyum.
Seperti Rasulullah Saw. ketika menghadapi bermacam-macam umat, wajah
beliau selalu berseri-seri. Selalu paling dahulu mengucapkan salam.
Nah, orang yang dibuka hijabnya oleh Allah Swt. akan membawa
nilai-nilai itu (baca:shalat, puasa dll) dalam kesehariannya. Dia
semakin takut pada Allah, tidak berani membuka aib siapapun. Saya
memberi contoh dengan kisah Hasan al Bashri, menurut satu pendapat
Sufyan Tsauri. Ketika Rabi’ah Adawiyah seorang wali wanita dilamar oleh
Hasan al Bashri. Rabi’ah Adawiah mengatakan : ‘saya terima lamaran Anda
kalau Anda bisa menjawab pertanyaan saya’. Apa pertanyaannya? Anda tahu
tidak nanti saya kalau mati husnul khatimah atau suul khatimah? Yang
bertanya wali wanita, yang ditanya pembesar para wali.
Apa
jawaban Hasan Bashri? Beliau diam tidak menjawab, padahal beliau diberi
tahu oleh Allah Swt.; mengetahui kalau Rabi’ah Adawiah akan husnul
khatimah. Lebih baik tidak mendapatkan Rabi’ah Adawiah daripada suul
adab, tidak sopan pada Allah Swt. Tidak seperti sekarang, murah
ramalan; awas akan terjadi ini, akan terjadi itu. Para wali tidak
begitu, mereka takut sama Allah Swt. Para wali Allah yang sudah sampai
pada maqamat al fana tidak tergiur dengan yang demikian.
Dijaman Maulana Khalid al Mujadid para pelaku thariqah oleh Allah Swt.
diberi karamah yang aneh-aneh; bisa terbang, bisa berjalan diatas air,
besi ditekuk lemes. Sehingga banyak para pelaku thariqah yang hatinya
terkait dengan hal yang demikian, akhirnya tidak bisa sampai (wusul)
pada Allah Swt. Maka sewaktu Maulana Khalid memohon pada Allah Swt.
supaya semua itu dihilangkan; yang terbang, jatuh; yang berjlan diatas
air, tenggelam. Akhirnya setelah itu para pelaku thariqah kembali pada
Allah Swt., tujuan para pelaku thariqat pada waktu itu lurus kembali.
Banyak orang salah paham; bisa melemaskan besi; thariqat, bisa
bercakap-cakap sama orang yang ada dikubur; thariqat, bisa berjalan
diatas air; thariqat. Thariqat itu bukan seperti itu. Thariqat itu
membingbing setiap individu manusia dalam meningkatkan sisi kehambaannya
di sisi Allah Swt., kesadarannya sebagai hamba Allah Swt. Itu tujuan
thariqat.
Masuk thariqat supaya diangkat jadi wali; supaya bisa
inkisyaf, bukan untuk itu. Tapi thariqat untuk menjalankan apa yang ada
dalam ihsan :’beribdahlah pada Allah seolah engkau dapat melihatNya.
Jika tidak bisa, beribdahlah karena engkau dilihat Allah’ (HR: Al
Bukhari 26. Muslim 93. Abu Dawud 4695. At Tirmidzi 2610. An Nasa’I 5005.
Ibnu Majah 63. Ahmad jilid I, hal 28. Ibnu Hiban 168).
Kalau kita sampai atau sudah mendekati maqam fana, hati itu bersih.
Tidak akan seujung rambutpun berbuat kesyirikan. Dan bagaimana kita akan
mengerti kesyirikan kalau hati kita banyak lupa pada Allah Swt.,
hatinya banyak lalai pada Allah Swt, hatinya lebih terkait pada selain
Allah Swt. Thariqat itu untuk membersihkan hati kita, untuk membersihkan
keterkaitan-keterkaitan itu. Keterkaitan atau ketergantungan hati pada
selain Allah banyak sekli contohnya. Seperti juga keyakinan kita pada
ikhtiar; usaha untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang syar’i.
Betul ikhtiar wajib. Tapi ikhtiar bukan satu upaya untuk memponis pasti
berhasil. Karena ikhtiar bukan Tuhan. Sejatinya ikhtiar untuk menambah
ketaatan kita pada Allah, menambah ibadah kita pada Allah. Itulah
ikhtiar. Kalau tidak ikhtiar darimana punya uang, mau makan dari mana
kalau tidak ikhtiar, tidak boleh kita berkata dan berkeyakinan seperti
itu.
Masalah rijki itu urusan Allah Swt., mau didatangkan
melalui ikhtiar atau tidak yang penting kita melakukan ikhtiar, karena
diperintahkan oleh Allah Swt. Jangan punya keyakinan; kalau tidak
ikhtiar akan mati, karena ikhtiar bukan Tuhan. Mau diberi atau tidak,
itu urusan Allah. Ikhtiar hakikatnya untuk menambah ibadah. Seperti kita
salat berjamaah, kita berjalan menuju masjid. Berjalan menuju masjid
adalah ikhtiar.
Inilah diantaranya yang kita maksud; harus membersihkan hati dari keterkaitan-keterkaitan pada selain Allah Swt.