Laman

Minggu, 19 Mei 2013

ITTIHAD ADALAH LEBURNYA DIRI YANG ADA HANYA ALLAH


Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah, pertama, Tuhan bersifat rohani, maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh, bukan jasadnya. Kedua, Tuhan adalah Maha Suci, maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya.

ASAL KATA SUFI

Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci. Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata:

1. Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. Dan memang, kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat, terutama salat dan puasa.

2. Saf (baris). Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan.

3. Ahl al-Suffah, yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin, tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah, (pelana) sebagai bantal. Ahl al-Suffah, sungguhpun tak mempunyai apa-apa, berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi.

4. Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat, dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Pendapat ini memang banyak yang menolak, karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab, dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf.

5. Suf (kain wol). Dalam sejarah tasawuf, kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf, ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia.

Diantara semua pendapat itu, pendapat terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. Jadi, sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak     (w.150 H).

ASAL-USUL TASAWUF

Karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani dan agama Hindu dan Buddha, muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar.

Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadat dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun pasir Arabia. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari, kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan; dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Rahib-rahib itu berhati baik, dan pemurah dan suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari dunia ramai, walaupun untuk sementara, berhati baik, pemurah dan suka menolong.

Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Dalam filsafatnya, roh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci, kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. Roh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada fllsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. Filsafat sufi juga demikian. Roh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam rohani yang suci, tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci, roh yang telah kotor itu dibersihkan dulu melalui ibadat yang banyak.

Masih dari filsafat Yunani, pengaruh itu dikaitkan dengan filsafat emanasi Plotinus. Roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Tapi, sama dengan Pythagoras, dia berpendapat bahwa roh yang masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor, dan tak dapat kembali ke Tuhan. Selama masih kotor, ia akan tetap tinggal di bumi berusaha membersihkan diri melalui reinkarnasi. Kalau sudah bersih, ia dapat mendekatkan diri dengan Tuhan sampai ke tingkat bersatu dengan Dia di bumi ini.

Paham penyucian diri melalui reinkarnasi tak terdapat dalam ajaran tasawuf. Paham itu memang bertentangan dengan ajaran al-Qur'an bahwa roh, sesudah tubuh mati tidak akan kembali ke hidup serupa di bumi. Sesudah bercerai dengan tubuh, roh pergi ke alam barzah menunggu datangnya hari perhitungan. Tapi, konsep Plotinus tentang bersatunya roh dengan Tuhan di dunia ini, memang terdapat dalam tasawuf Islam.

Dari agama Buddha, pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia, memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad, yaitu persatuan roh manusia dengan roh Tuhan.

Kita perlu mencatat, agama Hindu dan Buddha, filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis. Dalam kaitan ini timbul pertanyaan: sekiranya ajaran-ajaran tersebut diatas tidak ada, tidakkah mungkin tasawuf timbul dari dalam diri Islam sendiri?

Hakekat tasawuf kita adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam ajaran Islam, Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebut al-Qur'an dan Hadits. Ayat 186 dari surat al-Baqarah mengatakan, "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil."

Kaum sufi mengartikan do'a disini bukan berdo'a, tetapi berseru, agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat kepada-Nya. Dengan kata lain, ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru. Tentang dekatnya Tuhan, digambarkan oleh ayat berikut, "Timur dan Barat kepunyaan Tuhan, maka kemana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan" (QS. al-Baqarah 115). Ayat ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai. Tuhan dekat dan sufi tak perlu pergi jauh, untuk menjumpainya.

Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia, "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya (QS. Qaf 16). Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia, tetapi di dalam diri manusia sendiri. Karena itu hadis mengatakan, "Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya."

Untuk mencari Tuhan, sufi tak perlu pergi jauh; cukup ia masuk kedalam dirinya dan Tuhan yang dicarinya akan ia jumpai dalam dirinya sendiri. Dalam konteks inilah ayat berikut dipahami kaum sufi, "Bukanlah kamu yang membunuh mereka, tapi Allah-lah yang membunuh dan bukanlah engkau yang melontarkan ketika engkau lontarkan (pasir) tapi Allah-lah yang melontarkannya (QS. al-Anfal 17).

Disini, sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Bahwa Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia, tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut, "Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal. Maka Kuciptakan makhluk, dan melalui mereka Aku-pun dikenal."

Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu, dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. Kalau ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad, persatuan manusia dengan Tuhan, hadits terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud, kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan.

Demikianlah ayat-ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluk-Nya yang lain. Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu. Dengan khusuk dan banyak beribadat ia akan merasakan kedekatan Tuhan, lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan rohnya dengan roh Tuhan; dan inilah hakikat tasawuf.


 
JALAN PENDEKATAN DIRI KEPADA TUHAN

Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf. Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab), dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. Jalan itu, yang intinya adalah penyucian diri, dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat, terutama puasa, shalat, membaca al-Qur'an dan dzikir. Maka, seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat. Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu, terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur.

Jelas kiranya bahwa usaha penyucian diri, langkah pertama yang harus dilakukan seseorang adalah tobat dari dosa-dosanya. Karena itu, stasion pertama dalam tasawuf adalah tobat. Pada mulanya seorang calon sufi harus tobat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya Kalau ia telah berhasil dalam hal ini, ia akan tobat dari dosa-dosa kecil, kemudian dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. Tobat yang dimaksud adalah taubah nasuha, yaitu tobat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. Jelaslah bahwa usaha ini memakan waktu panjang. Untuk memantapkan tobatnya ia pindah ke stasion kedua, yaitu zuhud. Di stasion ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. Ia mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat, puasa, shalat, membaca al-Qur'an dan dzikir. Puasanya yang banyak membuat hawa nafsunya lemah, dan membuat ia tahan lapar dan dahaga. Ia makan dan minum hanya untuk mempertahankan kelanjutan hidup. Ia sedikit tidur dan banyak beribadat. Pakaiannyapun sederhana. Ia menjadi orang zahid dari dunia, orang yang tidak bisa lagi digoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. Yang dicarinya ialah kebahagiaan rohani, dan itu diperolehnya dalam berpuasa, melakukan shalat, membaca al-Qur'an dan berdzikir.

Kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi, ia keluar dari pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula. Ia terus banyak berpuasa, melakukan shalat, membaca al-Qur'an dan berdzikir. Ia juga akan selalu naik haji. Sampailah ia ke stasion wara'. Di stasion ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat. Dalam literatur tasawuf disebut bahwa al-Muhasibi menolak makanan, karena di dalamnya terdapat syubhat. Bisyr al-Hafi tidak bisa mengulurkan tangan ke arah makanan yang berisi syubhat.

Dari stasion wara', ia pindah ke stasion faqr. Di stasion ini ia menjalani hidup kefakiran. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. Bahkan ia tidak meminta sungguhpun ia tidak punya. Ia tidak meminta tapi tidak menolak pemberian Tuhan.

Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke stasion sabar. Ia sabar bukan hanya dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan yang berat dan menjauhi larangan-larangan Tuhan yang penuh godaan, tetapi juga sabar dalam menerima percobaan-percobaan berat yang ditimpakan Tuhan kepadanya. Ia bukan hanya tidak meminta pertolongan dari Tuhan, bahkan ia tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. Ia sabar menderita.

Selanjutnya ia pindah ke stasion tawakkal. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Ia tidak memikirkan hari esok; baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. Bahkan, sungguhpun tak ada padanya, ia selamanya merasa tenteram. Kendatipun ada padanya, ia tidak mau makan, karena ada orang yang lebih berhajat pada makanan dari padanya. Ia bersikap seperti telah mati.

Dari stasion tawakkal, ia meningkat ke stasion ridla. Dari stasion ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati. Ia tidak minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Di dalam hatinya tidak ada perasaan benci, yang ada hanyalah perasaan senang. Ketika malapetaka turun, hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Tuhan. Di sini ia telah dekat sekali dengan Tuhan dan iapun sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan.

Karena stasion-stasion tersebut di atas baru merupakan tempat penyucian diri bagi orang yang memasuki jalan tasawuf, ia sebenarnya belumlah menjadi sufi, tapi baru menjadi zahid atau calon sufi. Ia menjadi sufi setelah sampai ke stasion berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf.


PENGALAMAN SUFI

Di masa awal perjalanannya, calon sufi dalam hubungannya dengan Tuhan dipengaruhi rasa takut atas dosa-dosa yang dilakukannya. Rasa takut itu kemudian berubah menjadi rasa waswas apakah tobatnya diterima Tuhan sehingga ia dapat meneruskan perjalanannya mendekati Tuhan. Lambat laun ia rasakan bahwa Tuhan bukanlah zat yang suka murka, tapi zat yang sayang dan kasih kepada hamba-Nya. Rasa takut hilang dan timbullah sebagai gantinya rasa cinta kepada Tuhan. Pada stasion ridla, rasa cinta kepada Tuhan bergelora dalam hatinya. Maka ia pun sampai ke stasion mahabbah, cinta Ilahi. Sufi memberikan arti mahabbah sebagai berikut, pertama, memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya. Kedua, Menyerahkan seluruh diri kepada Yang Dikasihi. Ketiga, Mengosongkan hati dari segala-galanya, kecuali dari Diri Yang Dikasihi.

Mencintai Tuhan tidaklah dilarang dalam Islam, bahkan dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang menggambarkan cinta Tuhan kepada hamba dan cinta hamba kepada Tuhan. Ayat 54 dari surat al-Maidah, "Allah akan mendatangkan suatu umat yang dicintai-Nya dan orang yang mencintai-Nya." Selanjutnya ayat 30 dari surat 'Ali Imran menyebutkan, "Katakanlah, jika kamu cinta kepada Tuhan, maka turutlah Aku, dan Allah akan mencintai kamu."

Hadits juga menggambarkan cinta itu, seperti yang berikut, "Senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadat sehingga Aku cinta kepadanya. Orang yang Ku-cintai, Aku menjadi pendengaran, penglihatan dan tangannya."

Sufi yang masyhur dalam sejarah tasawuf dengan pengalaman cinta adalah seorang wanita bernama Rabi'ah al-'Adawiah (713-801 M) di Basrah. Cintanya yang dalam kepada Tuhan memalingkannya dari segala yang lain dari Tuhan. Dalam doanya, ia tidak meminta dijauhkan dari neraka dan pula tidak meminta dimasukkan ke surga. Yang ia pinta adalah dekat kepada Tuhan. Ia mengatakan, "Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka, bukan pula karena ingin masuk surga, tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya." Ia bermunajat, "Tuhanku, jika kupuja Engkau karena takut kepada neraka, bakarlah mataku karena Engkau, janganlah sembunyikan keindahan-Mu yang kekal itu dari pandanganku."

Sewaktu malam telah sunyi ia berkata, "Tuhanku, bintang di langit telah gemerlapan, mata-mata telah bertiduran, pintu-pintu istana telah dikunci, tiap pecinta telah berduaan dengan yang dicintainya, dan inilah aku berada di hadirat-Mu." Ketika fajar menyingsing ia dengan rasa cemas mengucapkan, "Tuhanku, malam telah berlalu dan siang segera akan menampakkan diri. Aku gelisah, apakah Engkau terima aku sehingga aku bahagia, ataukah Engkau tolak sehingga aku merasa sedih. Demi keMahakuasaan-Mu inilah yang akan kulakukan selama Engkau beri hajat kepadaku. Sekiranya Engkau usir aku dari depan pintuMu, aku tidak akan bergerak, karena cintaku kepada-Mu telah memenuhi hatiku."

Pernah pula ia berkata, "Buah hatiku, hanya Engkaulah yang kukasihi. Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadiratMu, Engkau harapanku, kebahagiaan dari kesenanganku. Hatiku telah enggan mencintai selain Engkau." Begitu penuh hatinya dengan rasa cinta kepada Tuhan, sehingga ketika orang bertanya kepadanya, apakah ia benci kepada setan, ia menjawab, "Cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong di dalam hatiku untuk benci setan."

Cinta tulus Rabi'ah al-'Adawiah kepada Tuhan, akhirnya dibalas Tuhan, dan ini tertera dari syairnya yang berikut:

Kucintai Engkau dengan dua cinta,

Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu,

Cinta karena diriku Membuat aku lupa

yang lain dan senantiasa menyebut nama-Mu,

Cinta kepada diri-Mu,

Membuat aku melihat Engkau karena Engkau bukakan hijab,

Tiada puji bagiku untuk ini dan itu, Bagi-Mu-lah puji dan untuk itu semua.


Rabi'ah al-'Adawiah, telah sampai ke stasion sesudah mahabbah, yaitu ma'rifah. Ia telah melihat Tuhan dengan hati nuraninya. Ia telah sampai ke stasion yang menjadi idaman kaum sufi. Dengan kata lain, Rabi'ah al-'Adawiah telah benar-benar menjadi sufi.

Pengalaman ma'rifah, ditonjolkan oleh Zunnun al-Misri (w.860 M). Ma'rifah adalah anugerah Tuhan kepada sufi yang dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Karena cinta ikhlas dan suci itulah Tuhan mengungkapkan tabir dari pandangan sufi dan dengan terbukanya tabir itu sufi pun dapat menerima cahaya yang dipancarkan Tuhan dan sufi pun melihat keindahan-Nya yang abadi. Ketika Zunnun ditanya, bagaimana ia memperoleh ma'rifah, ia menjawab, "Aku melihat dan mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tidak melihat dan tidak tahu Tuhan."

Yang dimaksud Zunnun ialah bahwa ia memperoleh ma'rifah karena kemurahan hati Tuhan. Sekiranya Tuhan tidak membukakan tabir dari mata hatinya, ia tidak akan dapat melihat Tuhan. Sebagaimana disebut dalam literatur tasawuf, sufi berusaha keras mendekatkan diri dari bawah dan Tuhan menurunkan rahmat-Nya dari atas. Juga dikatakan bahwa ma'rifah datang ketika cinta sufi dari bawah dibalas Tuhan dari atas.

Dalam hubungan dengan Tuhan, sufi memakai alat bukan akal yang berpusat di kepala, tapi qalb atau kalbu (jantung) yang berpusat di dada. Kalbu mempunyai tiga daya, pertama, daya untuk-mengetahui sifat-sifat Tuhan yang disebut qalb. Kedua, daya untuk mencintai Tuhan yang disebut ruh. Ketiga daya untuk melihat Tuhan yang disebut sirr.

Sirr adalah daya terpeka dari kalbu dan daya ini keluar setelah sufi berhasil menyucikan jiwanya sesuci-sucinya. Dalam bahasa sufi, jiwa tak ubahnya sebagai kaca, yang kalau senantiasa dibersihkan dan digosok akan mempunyai daya tangkap yang besar. Demikian juga jiwa, makin lama ia disucikan dengan ibadat yang banyak, makin suci ia dan makin besar daya tangkapnya, sehingga akhirnya dapat menangkap daya cemerlang yang dipancarkan Tuhan. Ketika itu sufi pun bergemilang dalam cahaya Tuhan dan dapat melihat rahasia-rahasia Tuhan. Karena itu al-Ghazali mengartikan ma'rifat, "Melihat rahasia-rahasia Tuhan dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada."

Kata ma'rifat memang mengandung arti pengetahuan. Maka, ma'rifat dalam tasawuf berarti pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan melalui kalbu. Pengetahuan ini disebut ilm ladunni. Ma'rifah berbeda dengan 'ilm. 'Ilm ini diperoleh melalui akal. Dalam pendapat al-Ghazali, pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu, yaitu ma'rifah, lebih benar dari pengetahuan yang diperoleh melalui akal, yaitu 'ilm. Sebelum menempuh jalan tasawuf al-Ghazali diserang penyakit syak. Tapi, menurut al-Ghazali, setelah mencapai ma'rifah, keyakinannya untuk memperoleh kebenaran ternyata melalui tasawuf, bukan filsafat.

Lebih jauh mengenai ma'rifah dalam literatur tasawuf dijumpai ungkapan berikut, pertama, kalau mata yang terdapat di dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah. Kedua, ma'rifah adalah cermin. Kalau sufi melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah. Ketiga, yang dilihat orang 'arif, baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah. Keempat, sekiranya ma'rifah mengambil bentuk materi, cahaya yang disinarkannya gelap. Semua orang yang memandangnya akan mati karena tak tahan melihat kecemerlangan dan keindahannya.

Tetapi sufi yang dapat menangkap cahaya ma'rifah dengan mata hatinya akan dipenuhi kalbunya dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan. Tidak mengherankan kalau sufi merasa tidak puas dengan stasion ma'rifah saja. Ia ingin berada lebih dekat lagi dengan Tuhan. Ia ingin mengalami persatuan dengan Tuhan, yang di dalam istilah tasawuf disebut ittihad.

Pengalaman ittihad ini ditonjolkan oleh Abu Yazid antara lain Bustami (w. 874 M). Ucapan-ucapan yang ditinggalkannya menunjukkan bahwa untuk mencapai ittihad diperlukan usaha yang keras dan waktu yang lama. Seseorang pernah bertanya kepada Abu Yazid tentang perjuangannya untuk mencapai ittihad. Ia menjawab, "Tiga tahun," sedang umurnya waktu itu telah lebih dari tujuh puluh tahun. Ia ingin mengatakan bahwa dalam usia tujuh puluh tahunlah ia baru sampai ke stasion ittihad.

Sebelum sampai ke ittihad, seorang sufi harus terlebih dahulu mengalami fana' dan baqa'. Yang dimaksud dengan fana' adalah hancur sedangkan baqa' berarti tinggal. Sesuatu didalam diri sufi akan fana atau hancur dan sesuatu yang lain akan baqa atau tinggal. Dalam literatur tasawuf disebutkan, orang yang fana dari kejahatan akan baqa (tinggal) ilmu dalam dirinya; orang yang fana dari maksiat akan baqa (tinggal) takwa dalam dirinya. Dengan demikian, yang tinggal dalam dirinya sifat-sifat yang baik. Sesuatu hilang dari diri sufi dan sesuatu yang lain akan timbul sebagai gantinya. Hilang kejahilan akan timbul ilmu. Hilang sifat buruk akan timbul sifat baik. Hilang maksiat akan timbul takwa.

Untuk sampai ke ittihad, sufi harus terlebih dahulu mengalami al-fana' 'an al-nafs, dalam arti lafdzi kehancuran jiwa. Yang dimaksud bukan hancurnya jiwa sufi menjadi tiada, tapi kehancurannya akan menimbulkan kesadaran sufi terhadap diri-Nya. Inilah yang disebut kaum sufi al-fana' 'an al-nafs wa al-baqa, bi 'l-Lah, dengan arti kesadaran tentang diri sendiri hancur dan timbullah kesadaran diri Tuhan. Di sini terjadilah ittihad, persatuan atau manunggal dengan Tuhan.

Mengenai fana', Abu Yazid mengatakan, "Aku mengetahui Tuhan melalui diriku hingga aku hancur, kemudian aku mengetahui-Nya melalui diri-Nya dan akupun hidup. Sedangkan mengenai fana dan baqa', ia mengungkapkan lagi, "Ia membuat aku gila pada diriku hingga aku mati. Kemudian Ia membuat aku gila kepada diri-Nya, dan akupun hidup." Lalu, diapun berkata lagi, "Gila pada diriku adalah fana' dan gila pada diri-Mu adalah baqa' (kelanjutan hidup)."

Dalam menjelaskan pengertian fana', al-Qusyairi menulis, "Fananya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan makhluk lain. Sebenarnya dirinya tetap ada, demikian pula makhluk lain, tetapi ia tak sadar lagi pada diri mereka dan pada dirinya. Kesadaran sufi tentang dirinya dan makhluk lain lenyap dan pergi ke dalam diri Tuhan dan terjadilah ittihad."

Ketika sampai ke ambang pintu ittihad dari sufi keluar ungkapan-ungkapan ganjil yang dalam istilah sufi disebut syatahat (ucapan teopatis). Syatahat yang diucapkan Abu Yazid, antara lain, sebagai berikut, "Manusia tobat dari dosanya, tetapi aku tidak. Aku hanya mengucapkan, tiada Tuhan selain Allah."

Abu Yazid tobat dengan lafadz syahadat demikian, karena lafadz itu menggambarkan Tuhan masih jauh dari sufi dan berada di belakang tabir. Abu Yazid ingin berada di hadirat Tuhan, berhadapan langsung dengan Tuhan dan mengatakan kepadaNya: Tiada Tuhan selain Engkau.

Dia juga mengucapkan, "Aku tidak heran melihat cintaku pada-Mu, karena aku hanyalah hamba yang hina. Tetapi aku heran melihat cinta-Mu padaku, karena Engkau adalah Raja Maha Kuasa."

Kara-kata ini menggambarkan bahwa cinta mendalam Abu Yazid telah dibalas Tuhan. Lalu, dia berkata lagi, "Aku tidak meminta dari Tuhan kecuali Tuhan."

Seperti halnya Rabi'ah yang tidak meminta surga dari Tuhan dan pula tidak meminta dijauhkan dari neraka dan yang dikehendakinya hanyalah berada dekat dan bersatu dengan Tuhan. Dalam mimpi ia bertanya, "Apa jalannya untuk sampai kepadaMu?"

Tuhan menjawab, "Tinggalkan dirimu dan datanglah." Akhirnya Abu Yazid dengan meninggalkan dirinya mengalami fana, baqa' dan ittihad.

Masalah ittihad, Abu Yazid menggambarkan dengan kata-kata berikut ini, "Pada suatu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan dan Ia berkata, Abu Yazid, makhluk-Ku ingin melihat engkau. Aku menjawab, kekasih-Ku, aku tak ingin melihat mereka. Tetapi jika itu kehendak-Mu, aku tak berdaya menentang-Mu. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu, sehingga jika makhluk-Mu melihat aku, mereka akan berkata, telah kami lihat Engkau. Tetapi yang mereka lihat sebenarnya adalah Engkau, karena ketika itu aku tak ada di sana."

Dialog antara Abu Yazid dengan Tuhan ini menggambarkan bahwa ia dekat sekali dengan Tuhan. Godaan Tuhan untuk mengalihkan perhatian Abu Yazid ke makhluk-Nya ditolak Abu Yazid. Ia tetap meminta bersatu dengan Tuhan. Ini kelihatan dari kata-katanya, "Hiasilah aku dengan keesaan-Mu." Permintaan Abu Yazid dikabulkan Tuhan dan terjadilah persatuan, sebagaimana terungkap dari kata-kata berikut ini, "Abu Yazid, semuanya kecuali engkau adalah makhluk-Ku." Akupun berkata, aku adalah Engkau, Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau."

Dalam literatur tasawuf disebut bahwa dalam ittihad, yang satu memanggil yang lain dengan kata-kata: Ya ana (Hai aku). Hal ini juga dialami Abu Yazid, seperti kelihatan dalam ungkapan selanjutnya, "Dialog pun terputus, kata menjadi satu, bahkan seluruhnya menjadi satu. Maka Ia pun berkata kepadaku, "Hai Engkau, aku menjawab melalui diri-Nya "Hai Aku." Ia berkata kepadaku, "Engkaulah Yang Satu." Aku menjawab, "Akulah Yang Satu." Ia berkata lagi, "Engkau adalah Engkau." Aku menjawab: "Aku adalah Aku."

Yang penting diperhatikan dalam ungkapan diatas adalah kata-kata Abu Yazid "Aku menjawab melalui diriNya" (Fa qultu bihi). Kata-kata bihi -melalui diri-Nya- menggambarkan bersatunya Abu Yazid dengan Tuhan, rohnya telah melebur dalam diri Tuhan. Ia tidak ada lagi, yang ada hanyalah Tuhan. Maka yang mengatakan "Hai Aku Yang Satu" bukan Abu Yazid, tetapi Tuhan melalui Abu Yazid.

Dalam arti serupa inilah harus diartikan kata-kata yang diucapkan lidah sufi ketika berada dalam ittihad yaitu kata-kata yang pada lahirnya mengandung pengakuan sufi seolah-olah ia adalah Tuhan. Abu Yazid, seusai sembahyang subuh, mengeluarkan kata-kata, "Maha Suci Aku, Maha Suci Aku, Maha Besar Aku, Aku adalah Allah. Tiada Allah selain Aku, maka sembahlah Aku."

Dalam istilah sufi, kata-kata tersebut memang diucapkan lidah Abu Yazid, tetapi itu tidak berarti bahwa ia mengakui dirinya Tuhan. Mengakui dirinya Tuhan adalah dosa terbesar, dan sebagaimana dilihat pada permulaan makalah ini, agar dapat dekat kepada Tuhan, sufi haruslah bersih bukan dari dosa saja, tetapi juga dari syubhat. Maka dosa terbesar tersebut diatas akan membuat Abu Yazid jauh dari Tuhan dan tak dapat bersatu dengan Dia. Maka dalam pengertian sufi, kata-kata diatas betul keluar dari mulut Abu Yazid. Dengan kata lain, Tuhanlah yang mengaku diri-Nya Allah melalui lidah Abu Yazid. Karena itu dia pun mengatakan, "Pergilah, tidak ada di rumah ini selain Allah Yang Maha Kuasa. Di dalam jubah ini tidak ada selain Allah."

Yang mengucapkan kata-kata itu memang lidah Abu Yazid, tetapi itu tidak mengandung pengakuan Abu Yazid bahwa ia adalah Tuhan. Itu adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan melalui lidah Abu Yazid.

Sufi lain yang mengalami persatuan dengan Tuhan adalah Husain Ibn Mansur al-Hallaj (858-922 M), yang berlainan nasibnya dengan Abu Yazid. Nasibnya malang karena dijatuhi hukuman bunuh, mayatnya dibakar dan debunya dibuang ke sungai Tigris. Hal ini karena dia mengatakan, "Ana 'l-Haqq (Akulah Yang Maha Benar).

Pengalaman persatuannya dengan Tuhan tidak disebut ittihad, tetapi hulul. Kalau Abu Yazid mengalami naik ke langit untuk bersatu dengan Tuhan, al-Hallaj mengalami persatuannya dengan Tuhan turun ke bumi. Dalam literatur tasawuf hulul diartikan, Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk bersemayam didalamnya dengan sifat-sifat ketuhanannya, setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dihancurkan.

Di sini terdapat juga konsep fana, yang dialami Abu Yazid dalam ittihad sebelum tercapai hulul. Menurut al-Hallaj, manusia mempunyai dua sifat dasar: nasut (kemanusiaan) dan lahut (ketuhanan). Demikian juga Tuhan mempunyai dua sifat dasar, lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Landasan bahwa Tuhan dan manusia sama-sama mempunyai sifat diambil dari hadits yang menegaskan bahwa Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya.

Hadits ini mengandung arti bahwa didalam diri Adam ada bentuk Tuhan dan itulah yang disebut lahut manusia. Sebaliknya didalam diri Tuhan terdapat bentuk Adam dan itulah yang disebut nasut Tuhan. Hal ini terlihat jelas pada syair al-Hallaj sebagai berikut:

Maha Suci Diri Yang Sifat kemanusiaan-Nya

Membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang

Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata

Dalam bentuk manusia yang makan dan minum

Dengan membersihkan diri malalui ibadat yang banyak dilakukan, nasut manusia lenyap dan muncullah lahut-nya dan ketika itulah nasut Tuhan turun bersemayam dalam diri sufi dan terjadilah hulul.

Hal itu digambarkan al-Hallaj dalam syair berikut ini:

Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku

Sebagaimana anggur disatukan dengan air suci

Jika Engkau disentuh, aku disentuhnya pula

Maka, ketika itu -dalam tiap hal- Engkau adalah aku.

Hulul juga digambarkan dalam syair berikut:

Aku adalah Dia yang kucintai

Dan Dia yang kucintai adalah aku,

Kami adalah dua jiwa yang menempati satu tubuh,

Jika Engkau lihat aku, engkau lihat Dia,

Dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat Kami.

Ketika mengalami hulul yang digambarkan diatas itulah lidah al-Hallaj mengucapkan, "Ana 'l-Haqq (Akulah Yang Maha Benar). Tetapi sebagaimana halnya dengan Abu Yazid, ucapan itu tidak mengandung arti pengakuan al-Hallaj dirinya menjadi Tuhan. Kata-kata itu adalah kata-kata Tuhan yang Ia ucapkan melalui lidah al-Hallaj. Sufi yang bernasib malang ini mengatakan,

"Aku adalah rahasia Yang Maha Benar,

Yang Maha Benar bukanlah Aku,

Aku hanya satu dari yang benar,

Maka bedakanlah antara kami."

Syatahat atau kata-kata teofani sufi seperti itu membuat kaum syari'at menuduh sufi telah menyeleweng dari ajaran Islam dan menganggap tasawuf bertentangan dengan Islam. Kaum syari'at yang banyak terikat kepada formalitas ibadat, tidak menangkap pengalaman sufi yang mementingkan hakekat dan tujuan ibadat, yaitu mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan.

Dalam sejarah Islam memang terkenal adanya pertentangan keras antara kaum syari'at dan kaum hakekat, gelar yang diberikan kepada kaum sufi. Pertentangan ini mereda setelah al-Ghazali datang dengan pengalamannya bahwa jalan sufilah yang dapat membawa orang kepada kebenaran yang menyakinkan. Al-Ghazali menghalalkan tasawuf sampai tingkat ma'rifah, sungguhpun ia tidak mengharamkan tingkat fana', baqa, dan ittihad. Ia tidak mengkafirkan Abu Yazid dan al-Hallaj, tapi mengkafirkan al-Farabi dan Ibn Sina.

Kalau filsafat, setelah kritik al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah, tidak berkembang lagi di dunia Islam Sunni, tasawuf sebaliknya banyak diamalkan, bahkan oleh syariat sendiri. Dalam perkembangan selanjutnya, setelah pengalaman persatuan manusia dengan Tuhan yang dibawa al-Bustami dalam ittihad dan al-Hallaj dalam hulul, Muhy al-Din Ibn 'Arabi (1165-1240) membawa ajaran kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan dalam wahdat al-wujud.

Lahut dan nasut, yang bagi al-Hallaj merupakan dua hal yang berbeda, ia satukan menjadi dua aspek. Dalam pengalamannya, tiap makhluk mempunyai dua aspek. Aspek batin yang merupakan esensi, disebut al-haqq, dan aspek luar yang merupakan aksiden disebut al-khalq. Semua makhluk dalam aspek luarnya berbeda, tetapi dalam aspek batinnya satu, yaitu al-haqq. Wujud semuanya satu, yaitu wujud al-haqq.

Tuhan, sebagaimana disebut dalam Hadits yang telah dikutip pada permulaan, pada awalnya adalah "harta" tersembunyi, kemudian Ia ingin dikenal maka diciptakan-Nya makhluk, dan melalui makhluklah Ia dikenal. Maka, alam sebagai makhluk, adalah penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. Alam sebagai cermin yang didalamnya terdapat gambar Tuhan. Dengan kata lain, alam adalah bayangan Tuhan. Sebagai bayangan, wujud alam tak akan ada tanpa wujud Tuhan. Wujud alam tergantung pada wujud Tuhan. Sebagai bayangan, wujud alam bersatu dengan wujud Tuhan dalam ajaran wahdat al-wujud.

Yang ada dalam alam ini kelihatannya banyak tetapi pada hakekatnya satu. Keadaan ini tak ubahnya sebagai orang yang melihat dirinya dalam beberapa cermin yang diletakkan di sekelilingnya. Di dalam tiap cermin, ia lihat dirinya. Di dalam cermin, dirinya kelihatan banyak, tetapi pada hakekatnya dirinya hanya satu. Yang lain dan yang banyak adalah bayangannya.

Oleh karena itu ada orang yang mengidentikkan ajaran wahdat al-wujud Ibn Arabi dengan panteisme dalam arti bahwa yang disebut Tuhan adalah alam semesta. Jelas bahwa Ibn Arabi tidak mengidentikkan alam dengan Tuhan. Bagi Ibn Arabi, sebagaimana halnya dengan sufi-sufi lainnya, Tuhan adalah transendental dan bukan imanen. Tuhan berada di luar dan bukan di dalam alam. Alam hanya merupakan penampakan diri atau tajalli dari Tuhan.

Ajaran wahdat al-wujud dengan tajalli Tuhan ini selanjutnya membawa pada ajaran al-Insan al-Kamil yang dikembangkan terutama oleh Abd al-Karim al-Jilli (1366-1428). Dalam pengalaman al-Jilli, tajalli atau penampakan diri Tuhan mengambil tiga tahap tanazul (turun), ahadiah, Huwiah dan Aniyah.

Pada tahap ahadiah, Tuhan dalam keabsolutannya baru keluar dari al-'ama, kabut kegelapan, tanpa nama dan sifat. Pada tahap hawiah nama dan sifat Tuhan telah muncul, tetapi masih dalam bentuk potensial. Pada tahap aniah, Tuhan menampakkan diri dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada makhluk-Nya. Di antara semua makhluk-Nya, pada diri manusia Ia menampakkan diri-Nya dengan segala sifat-Nya.

Sungguhpun manusia merupakan tajalli atau penampakan diri Tuhan yang paling sempurna diantara semua makhluk-Nya, tajalli-Nya tidak sama pada semua manusia. Tajalli Tuhan yang sempurna terdapat dalam Insan Kamil. Untuk mencapai tingkat Insan Kamil, sufi mesti mengadakan taraqqi (pendakian) melalui tiga tingkatan: bidayah, tawassut dan khitam.

Pada tingkat bidayah, sufi disinari oleh nama-nama Tuhan, dengan kata lain, pada sufi yang demikian, Tuhan menampakkan diri dalam nama-nama-Nya, seperti Pengasih, Penyayang dan sebagainya (tajalli fi al-asma). Pada tingkat tawassut, sufi disinari oleh sifat-sifat Tuhan, seperti hayat, ilmu, qudrat dll. Dan Tuhan ber-tajalli pada sufi demikian dengan sifat-sifat-Nya. Pada tingkat khitam, sufi disinari dzat Tuhan yang dengan demikian sufi tersebut ber-tajalli dengan dzat-Nya. Pada tingkat ini sufi pun menjadi Insan Kamil. Ia menjadi manusia sempurna, mempunyai sifat ketuhanan dan dalam dirinya terdapat bentuk (shurah) Allah. Dialah bayangan Tuhan yang sempurna. Dan dialah yang menjadi perantara antara manusia dan Tuhan. Insan Kamil terdapat dalam diri para Nabi dan para wali. Di antara semuanya, Insan Kamil yang tersempurna terdapat dalam diri Nabi Muhammad.

Demikianlah, tujuan sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan akhirnya tercapai malalui ittihad serta hulul yang mengandung pengalaman persatuan roh manusia dengan roh Tuhan dan melalui wahdat al-wujud yang mengandung arti penampakan diri atau tajalli Tuhan yang sempurna dalam diri Insan Kamil.

Sementara itu tasawuf pada masa awal sejarahnya mengambil bentuk tarekat, dalam arti organisasi tasawuf, yang dibentuk oleh murid-murid atau pengikut-pengikut sufi besar untuk melestarikan ajaran gurunya. Di antara tarekat-tarekat besar yang terdapat di Indonesia adalah Qadiriah yang muncul pada abad ke-13 Masehi untuk melestarikan ajaran Syekh Abdul Qadir Jailani (w. 1166 M), Naqsyabandiah, muncul pada abad ke-14 bagi pengikut Bahauddin Naqsyabandi (w. 1415 M), Syattariah, pengikut Abdullah Syattar (w. 1415 M), dan Tijaniah yang muncul pada abad ke-19 di Marokko dan Aljazair. Tarekat-tarekat besar lain diantaranya adalah Bekhtasyiah di Turki, Sanusiah di Libia, Syadziliah di Marokko, Mesir dan Suria, Mawlawiah (Jalaluddin Rumi) di Turki, dan Rifa'iah di Irak, Suria dan Mesir.

Dalam tarekat, ajaran-ajaran sufi besar tersebut terkadang diselewengkan, sehingga tarekat menyimpang dari tujuan sebenarnya dari sufi untuk menyucikan diri dan berada dekat dengan Tuhan. Tarekat ada yang telah 
menyalahi ajaran dasar sufi dan syari'at Islam, sehingga timbullah pertentangan antara kaum syari'at dan kaum tarekat.

Sementara itu ada pula tarekat yang menekankan pentingnya kehidupan rohani dan mengabaikan kehidupan duniawi, dan disamping itu menekankan ajaran tawakal sufi, sehingga mengabaikan usaha. Dengan kata lain, yang dikembangkan tarekat adalah orientasi akhirat dan sikap tawakal

Jumat, 17 Mei 2013

Ulama dan Jaringan Pemikiran-Tareqat di Minangkabau

Oleh : Muhammad Ilham
Peran tarekat dalam penyebaran agama Islam di Minangkabau tidak dapat diragukan lagi. Pendekatan empatik yang menonjolkan nilai-nilai moral serta kemampuan adaptasi terhadap budaya lokal menjadi sangat ampuh dalam rangka islamisasi tersebut. Peranan surau dan ulama tarekat dalam gerakan keagamaan bukan saja dalam masa awal perkembangan Islam. Bahkan pada akhir abad ke-18 surau-surau tarekat Syaththariyah di Minangkabau tampil sebagai pelopor pembaharuan keagamaan. Begitu juga dilingkungan pengikut tarekat Naqsyabandiyah, pembaharuannya begitu nyata melalui Tuanku Nan Tuo. Besarnya peran kaum tarekat dalam Islamisasi di Minangkabau dapat ditemukan dari tumbuhnya pendidikan surau di Minangkabau. Padat tahap awal mulanya ada tiga surau yang berjasa besar dalam merintis pendidikan agama dan penyebaran tarekat, yakni : Surau Syekh Burhan al-Din (w. 1111 H/1698 M) di Tanjung Medan Ulakan Pariaman. Kemudian, Surau Syekh Abdurrahman (1777-1899 M) di Batuhampar Payakumbuh, dan Surau Syekh Abdurrahman Kumanggo (w. akhir abad ke-19 M.) di Batusangkar, pusat tarekat Samaniyah.

Penyebaran Islam melalui tarekat berawal dari keyakinan mereka akan adanya berkah dan karomah. Keyakinan akan adanya berkah mengundang datangnya para peziarah yang sekaligus berbai’ah dengan khalifahnya. Hal lain, yang membentuk jaringan ulama tarekat dan pengikutnya adalah kesamaan mereka dalam silsilah. Kekuatan silsilah direkat lagi oleh organisasi Jamaah Syathariyah bagi pengikut Tarekat Syathariyah dan Persatuan Pembela Tarekat Islam (PPTI) bagi pengikut tarekat Naqsyabandiyah. Sistem penyebaran Islam melalui ulama dan pengikut tarekat bersifat “multilevel” dan “multisektoral”. Pada level institusional kesurauan dijumpai adanya jaringan ulama yang dihubungkan dan terbentuk melalui adanya visi dan missi yang sama atau karena adanya jaringan intelektual (relasi murid-guru). Pada level ideologis (mungkin teologis) didapati pula jaringan ulama tarekat yang bersifat organisatoris.


Adanya bermacam-macam silsilah dalam tarekat Syatariyah di Minangkabau dengan puncak silsilahnya Syekh Burhan al-Din Ulakan ternyata melahirkan jaringan silsilah yang luas dan membentuk komunitas kaum tarekat yang solid dan terorganisir. Begitu juga halnya dengan silsilah tarekat Naqsyabandiyah di Minangkabau yang bermula dari Syekh Ismail Simabur dan dari Syekh Sulaiman Al-Zuhdi Efendi di Jabal Kubis Mekah. Jaringan komunikasi tarekat Naqsyabandiyah Minangkabau pada penghujung abad kesembilan belas punya kaitan erat dengan pusat penyebaran tarekat Naqsyabandiyah di Singapura dan Pulau Pinang. Pada tahun 1889, Konsul Belanda di Singapura melaporkan bahwa jumlah pengikut Naqsyabandiyah belum lama berselang menunjukkan peningkatan pesat. Mereka berjumlah lebih dari 500 orang (dari keseluruhan penduduk Muslim yang 35.000 orang), kebanyakan dari mereka adalah pendatang dari Jawa dan Melayu Singapura.


Bukan rahasia lagi bahwa ulama dan penganut terbesar dari Naqsyabandiyah di Sumatera dan Semanjung Malaya adalah keturunan Minangkabau. Perantau Minangkabau selalu aktif, baik sebagai penganut dan pengamal tarekat Naqsyabandiyah maupun sebagai kelompok yang anti pada tarekat. Secara internal konflik antar tarekat Naqsabandiyah dengan tarekat Syaththariyah diawali oleh Syekh dari Cangking, Jalal al-Din. Masyarakat menamainya dengan “golongan haji" atau orang puasa dulu (sebagai lawan) dari kalangan Syatthariyah yang dinamai dengan "orang puasa kemudian" atau "Agama Cangking” (sebagai lawan dari "Agama Ulakan”), dengan mengambil nama pusat Syaththariyah yang pertama di Ulakan Pariaman. Pertentangan antara Naqsyabandiyah dengan Syaththariyah terus berlanjut meskipun intensitasnya tidak lagi sekuat abad kedepalan belas dulu.
Sampai masa kinipun kedua tarekat ini tetap memiliki potensi konflik. Fenomena konflik ini muncul ke permukaan ketika tarekat Syaththatiyah dapat mengorganisir jamaahnya melalui wadah organisasi Jamaah Syaththariyah.

Masalah pokok yang menjadi perbedaan tajam baik secara internal maupun antar tarekat pada umumnya adalah yang berkenaan dengan pemahaman tentang Keesaan Tuhan (Wahdaniyat). Ulama tarekat Naqsyabandiyah memiliki paham bahwa alam semesta ini adalah saksi atau dipandang sebagai bukti atas adanya Allah, yang dikenal dengan sebutan Wahdat al-Syuhud, Sedangkan dalam tarekat Syathariyah diyakini bahwa wujud (keberadaan) alam semesta ini pada hakikatnya hanyalah bayangan dari wujud Tuhan, yang wujud itu pada hakikatnya hanyalah Tuhan semata. Paham Wahdat al-Wujud yang berkembang di Ulakan sesudah Syekh Burhanuddin bukanlah berasal dari Syekh Burhanuddin sendiri. Sebab, Syekh Abd al-Rauf al-Sinkili, selaku guru Syekh Burhanuddin adalah ulama yang anti pada paham Wahdat al-Wujud. Dalam Kitab Tanbih al-Masyi misalnya ia menjelaskan ketidaksetujuannya dengan paham ini. Mengenai kapan corak Wahdat al-Wujud ada dalam tarekat Syattariyah, khususnya pengikut Syekh Burhanuddin Ulakan belum ada penelitian yang mengungkapkannya.
Adapun timbulnya kecaman terhadap tarekat adalah dari kalangan ulama, diantaranya adalah Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1276-133411/1852-1915). Kecaman Ahmad Khatib dinyatakannya dalam rangka menanggapi lima masalah, yaitu: Tarekat Naqsabandiyah itu adakah asalnya pada syara' atau tidak; Adakah silsilahnya sampai kepada Rasullullah; Bagimana meninggalkan makan daging ketika suluk; Suluk 40 hari, 30 dan 10 hari adakah asalnya pada syari'at, dan Rabithah dalam tarekat adakah asalnya pada sy'ari'at atau tidak. Tulisan Ahmad Khatib yang berisikan kritikan terhadap tarekat Naqsabadiyah antara lain : Kitab Izhar Zughal Al-Khazibin ila Tasyabbuhihim bi al-shadiqin, Naskah kitab ini ditulis Ahmad Khatib di Mekah, selesai pada tanggal 4 Zulkaedah 1324 H/1905 M yang di cetak di Kairo, 1908 M/1325 H. Kitab al-Ayat al-Bayyinat li al-Munshifin fi lzalat Khurafat Ba'dh al-Muta'asshifin (Bukti-bukti yang jelas untuk orang-orang yang insaf dalam melenyapkan khurafat dari sebahagian orang-orang yang fanatik). Kitab al-Saif al-Battar fi Mahq Kalimat Ba’dh Ahl al-Ightirar (Pedang yang amat tajam untuk membasmi kata-kata seorang tukang tipu).

Kemudian, Syekh Abdul Karim Amarullah yang lebih dikenal dengan sebutan Haji Rasul (1879-1945). Buya Hamka menukilkan ada 4 buku ayahnya yang menolak tarekat antara lain:
Izharu Asathir al-Mudhallin fi Tas'yabbuhihim bi al-Muhtadin (Menyingkap kebohongan orang-orang sesat dalam usaha mereka untuk menampakkan diri sebagai orang yang beroleh petunjuk). Kitab al-Suyuf al-Qathi'ah fi Da'wa al-Kazibah ( Pedang yang tajam untuk membinasakan pendapat-pendapat yang bohong). Tahun 1332/1914 ia melahirkan tulisannya yang berjudul Qathi' Riqab al-Mulhidin fi 'Aqaid al-Mufsiddin yang terbit di Bukit Tinggi. Selanjutnya DR. H. Abdullah Ahmad (1878-1933). Media penolakan Abdullah Ahmad terhadap tarekat adalah melalui majalah al-Munir yang didirikannya tahun 1911. Al-Munir memiliki kontribusi besar dalam mendobrak kebekuan berpikir dan sekaligus menjadi corong dari gerakan anti tarekat di Minangkabau. Syekh Thaher Jalal al-Din, lahir di Ampek Angkek Bukit Tinggi tahun 1869. Pada mulanya ia belajar di Mekah, kemudian melanjutkan pendidikaanya ke Mesir. Bahkan pada tahun 1911 ia pernah berkunjung ke London. Zainuddin Labay el-Yunisi melalui majalah al-Manarul Munir di Padang. Zainuddin Labay sangat keras mengatakan bahwa tarekat yang berkembang di Minangkabau bukanlah bahagian dari tasawuf. Syekh Muhammad Djamil Djambek yang di samping hadir dan terlibat aktif dalam perdebatan dengan kaum tua di Bukit Surungan Padang Panjang tahun 1905, ia juga menulis bantahannya terhadap tarekat Naqsyabandiyah, yang berjudul Penerangan Tentang Asal Usul Tarekat Naqsabandiyah. Buku ini ditulisnya tahun 1940. Hamka, dalam beberapa tulisannya menyerang pahamWahdat al-Wujud dan tarekat Naqsyabandiyah serta menyatukan tarekat ke dalam kalangan aliran kebatinan yang "panteis" dan mengecamnya sebagai bid'ah.

Sementara itu, ulama pendukung dan pembela tarekat di Minangkabau antara lain adalah :
Muhammad Ali Ibn Abdil Muthalib dan lebih dikenal Syekh Khatib Ali (1279-1355 H/1861-1936 M). Beliau menulis beberapa Risalah, diantaranya yaitu : Tulisannya adalah Risalah Naqsyiyah fi Thariqah Naqsyabandiyah, terjemahan dari kitab Risalah Naqsyiyah fi Assasi Ishthilah al-Naqsyabandiyah min al-Zikri al-Khaffiy wa al-Rabithah wa al-Muraqabah wa Daf’i al- I’thiraddh bi Zalik tulisan Sayyid Muhammad lbn Mahdi Al-Kurdi. Risalah keduanya, Miftah al-Shadiqiyyah fi Ishthilah al- Naqsyabandiyah terbit di Padang tahun 1326 H/ 1908 M. Buku ketiganya, Miftah al-Din li al-Mubtadi’ di cetak tahun 328 H/1910 M. dan Buku keempatnya adalah Burhan al-Haq terbit di Padang tahun 1337 H/1918 M. Syekh Muhammad Dalil ibn Muhammad Fatawi yang lebih populer dengan panggilan Syekh Bayang (1864-1923). Risalahnya pertamanya berjudul Dar al-Mau'izhah ditulis tahun 1326 H /1907 M. Buku keduanya adalah Al-Taragghubil Rahmat Allah ditulis tahun 1334 H/1916 M. Syekh Muhammad Sa'ad ibn Tanta (1257-1339 H/l857-1921 M) beliau dipopulerkan "Syekh Munka". Di antara beberapa karyanya adalah Irghamu Unuf al-Muta'annitin fi Inkarihim Rabtihah al- Wasilin (Untuk meremukkan kaum pembangkang yang mengingkari rabithah dan orang-orang yang bertawassul. Syekh Sulaiman Ar- Rasuli Candung yang menulis tiga buah buku, Pertama Dawa' al-Qulub Fi Qishashati Yusufa wa Ya’kub, kedua Risalah al-Aqwal al-Wasithah fi al-Zikri wa al-Rabithah dan ketiga al-Aqwal al-'Aliyah fi al-Thariqah al-Naqsyabandiyah. Al- Jalal al-Din yang dikenal sebagai ulama yang produktif dalam menulis. Beliau telah menulis sebanyak 41 buah buku dan 35 buah di antaranya berkaitan dengan tasawuf dan tarekat. Di antara karyanya tentang Tarekat adalah : Pertahanan Tarekat Naqsyabandiyah, Buku ini terdiri dari 4 jilid yang ditulisnya mulai tahun 1941. Rahasia Mutiara Tharekat Naqsyabandiyah yang terdiri dari 6 jilid dan ditulis tahun 1950. Masalah Seribu (llmu Ketuhanan Yang Maha Esa), terdiri dari 5 jilid ditulis tahun 1950. Pembuka Rahasia Allah, yang terdiri dari 5 Jilid, mulai ditulis sejak tahun 1950. Majalah Sinar Keemasan, terbit mulai 1952. Buku Tiga Serangkai, ditulis tahun 1964.

Kamis, 16 Mei 2013

Cinta dari Darah dan Ruh


PDF Print E-mail
Ditulis oleh Muh.Syukri Ali   
Rabu, 30 September 2009 12:49
muhsyukrialiLelaki itu sudah mengabdi pada ibunya sampai tuntas. Ia menggendong ibunya yang lumpuh. Memandikan dan mensucikannya dari semua hadatsnya. Ikhlas penuh ia melakukannya. Itu balas budi dari seorang anak yang menyadari bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua diturunkan Allah persis setelah perintah tauhid.

Tapi entah karena dorongan apa ia kemudian bertanya pada Umar Bin Khattab: “Apakah pengabdianku sudah cukup untuk membalas budi ibuku?” Lalu Umarpun menjawab: “Tidak!Tidak Cukup! Karena kamu melakukannya sembari menunggu kematiannya sementara ibumu merawatmu sembari mengharap kehidupanmu.”


Tidak!Tidak!Tidak!
Tidak ada budi yang dapat membalas cinta seorang ibu. Apalagi mengimbanginya. Sebab cinta ibu mengalir dari darah dan ruh. Anak adalah buah cinta dua hati. Tapi ia tidak dititip dalam dua rahim. Ia dititip dalam rahim sang ibu selama sembilan bulan: disana sang hidup bergeliat dalam sunyi sembari menyedot saripati kehidupan sang ibu. Ia lalu keluar diantar darah: inilah ruh baru yang dititip dari ruh yang lain.


Itu sebabnya cinta ibu merupakan cinta misi. Tapi dengan ciri lain yang membedakannya dari jenis cinta misi lainnya, darah! Ya, darah! Anak adalah metamorfosis dari darah dan daging sang ibu, yang lahir dari sebuah kesepakatan. Cinta ini adalah campuran darah dan ruh.


Ketika sang ibu menatap anaknya yang sedang tertidur lelap, ia akan berkata di akar hatinya: itu darahnya, itu ruhnya! Tapi ketika ia memandang anaknya sedang merangkak dan belajar berjalan, ia akan berkata didasar jiwanya: itu hidupnya, itu harapannya, itu masa depannya! Itu silsilah yang menyambung kehadirannya sebagai peserta alam raya.

Itu kelezatan jiwa yang tercipta dari hubungan darah. Tapi diatas kelezatan jiwa itu ada kelezatan ruhani. Itu karena kesadarannya bahwa anak adalah amanah langit yang harus dipertanggung jawabkan diakhirat. Kalau anak merupakan isyarat kehadirannya dimuka bumi, maka ia juga penentu masa depannya diakhirat. Dari situ ia menemukan semangat penumbuhan tanpa batas: anak memberinya kebanggaan eksistensial, juga sebuah pertanggungjawaban dan sepucuk harapan tentang tempat yang lebih terhormat di surga berkat doa sang anak.


Dalam semua perasaan itu sang ibu tidak sendiri. Sang ayah juga bersamanya. Sebab anak itu bukti kesepakatan jiwa mereka. Mungkin karena kesadaran tentang sisi dalam jiwa orang tua itu, DR. Mustafa Sibai menulis persembahan kecil di halaman depan buku monumentalnya “ Kedudukan Sunnah Dalam Syariat Islam.” Buku ini, kata Sibai, kupersembahkan kepada ruh ayahandaku yang senantiasa melantunkan do’a-do’anya : “Ya Allah, jadikanlah anakku sebagai sumber kebaikanku diakhirat kelak.”


Doa sang ibu dan ayah selamanya merupakan potongan-potongan jiwanya! Karena itu selamanya terkabul!

Dari Penelusuran Naskah Kuno dan Historiografi Ulama Pasaman : Ulama Lokal dan Kosmopolitan Pasaman


Di edit oleh : Muhammad Ilham

(Penelitian ini dilakukan oleh "adik-adik" mahasiswa (Chairullah & Apria Putra cs.), tepatnya sahabat-sahabat mahasiswa saya Fakultas Ilmu Budaya - Adab IAIN Padang yang tergabung dalam Tim Inventarisasi Naskah Melayu-Islam Minangkabau yang dalam usia "muda" yang belum menyelesaikan gerbang akhir perkuliahan, namun memiliki ikhtiar akademik luar biasa. Bagi saya, dosennya, mereka adalah orang-orang tercerahkan. Semoga kedepan, mereka mampu melahirkan penelitian yang lebih komprehensif. Tapi, ikhtiar mereka, sesederhana apapun, mereka pantasdiberi apresiasi ::: beberapa bahagian, terutama catatan kaki untuk menjaga orisinalitas laporan penelitian ini, tidak dipublish)

Hampir seluruh Ulama-ulama surau, tak terkecuali ulama-ulama ternama negeri Pasaman, sampai pertengahan abad ke-XX merupakan ulama didikan Mekkah. Paling tidak, setelah menyelesaikan pengajian di berbagai surau di Minangkabau, mereka berangkat Haji dan tinggal beberapa lama di Mekkah, mengambil barokah pada beberapa halaqah yang bertebaran di Mesjidil Haram, adapula yang sampai mendapat ijazah kitab hingga meraih gelar Khalifah dengan selembar ijazah keluaran Jabal Abi Qubais. Adapula yang benar-benar hidup menahun di Mekkah, belajar ilmu secara khusus kepada beberapa Syekh ternama, setelah cukup bilangan beberapa tahun, mereka berkelana menziarahi Madinah dan Baitul Maqdis, dan pulang selaku ulama besar.
Dengan demikian, ulama-ulama selaku icon intelektual Islam di Pasaman khususnya telah bersinggungan dengan jaringan Ulama kosmopolitan ketika belajar ilmu agama di Mekkah. Kemudian setelah kembali ke kampung halamannya, mereka membentuk Jaringan lokal lewat institusi surau di daerahnya masing-masing. Bagi orang-orang siak yang ramai menimba ilmu di surau, maka “surau” sendiri menjadi pijakan awal bagi mereka sebelum menuju Mekkah dan bergabung dalam jaringan ulama internasional di sana. Bagi mereka –orang siak- surau merupakan tempat belajar dasar-dasar keagamaan dan modal untuk berangkat ke Mekkah.

Mengenai ulama di Pasaman, seperti itu pula keadaannya. Mereka menepati posisi signifikan dalam jaringan ulama lokal dan jaringan ulama kosmopolitan. Seperti halnya setiap daerah di Minangkabau, Pasaman juga banyak pula dihuni tipikal ulama-ulama sebagai yang disebut diatas. Dari sekian banyak ulama-ulama ternama di daerah ini, maka di sini akan digambarkan jejak Historis-Biografis tokoh-tokoh inti jaringan ulama di Pasaman. Sehingga nantinya kita dapat memperoleh gambaran jaringan keilmuan yang mereka peroleh dan mereka ajarkan kepada jaringan lokal di bawahnya. Di samping itu, ada satu kriteria umum ulama-ulama besar masa lalu yaitu mereka masyhur terbilang keramat, sebuah bukti atas keshalehan beliau-beliau yang bermartabat di sisi Allah itu. Tiadakan berani menolaknya, terkecuali yang tidak percaya. Karena kekeramatan itu, yang dalam ilmu Tauhid diistilahkan dengan Khariqul lil Adah, memang diakui, dilihat oleh mata, disaksikan oleh masyarakat banyak, menjadi buah bibir sampai ke generasi-generasi selanjutnya. Namun banyak penulis Biografi ulama di masa modern ini tak menulis itu, hingga dikatakan itu tak logis, tak sesuai dengan metode sejarah, apakah ala Max Weber seperti yang dibanggakan Mangaraja Onggang Parlindungan, pokoknya tak logis, titik. Jika diberi argumen, mereka akan bilang keramat itu hanya sikap “Meng-KULTUS-kan guru belaka, agar murid membuat citra supaya gurunya besar dimata orang. Sedangkan Ibnu Khaldun saja, seorang Sejarawan Muslim terbesar itu, tetap menulis hal-hal ganjil itu dalam Muqaddimah-nya. Bahkan bangsa yang dikatakan modern itu, Jepang, masih meyakini Kaisar mereka keturunan dewa matahari.
Diantara tokoh-tokoh inti jaringan ulama Pasaman, yang membentuk jaringan lokal dan kosmopolitan, ialah Tuanku Mudik Tampang Rao (wafat awal abad ke XIX), Maulana Syekh Ibrahim bin Fahati al-Khalidi Kumpulan (1764-1914), Syekh Daud Durian Gunjo Malampah (1854-1939), Syekh Muhammad Bashir al-Khalidi Lubuk Landur (wafat 1920), Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak, Syekh Muhammad Sa’id Bonjol (1888-1979), Syekh Muhammad Nur Mangkumang Datar (wafat 1989) dan Syekh Abdullah Alin Tagak – Bukik Tuleh (wafat 1993).1) Tuanku Mudik Tampang Rao (awal abad XIX)

Tak ada sumber otentik yang berbicara langsung mengenai Tuanku Mudik Tampang, siapa beliau. Dari gelar nama beliau, dapat dimengerti bahwa nama itu hanya berupa gelar kehormatan, yaitu terdiri dari kata “Tuanku” dan “Mudik Tampang”. Tuanku ialah gelaran yang biasa dipakai untuk orang-orang besar, di Minangkabau dikenal sebagai gelar Ulama. Sedangkan “Mudik Tampang” ialah nama daerah, yaitu sebuah distrik kecil di Tanah Rao. Jadi gabungan dua istilah ini memberikan pengertian bahwa sang Syekh berasal dari Mudik Tampang, Rao.
Menurut salah satu sumber oral yang ditemui, Bapak Nasaruddin Hasibuan, sang Syekh Tuanku Mudik Tampang digelari dengan panggilan Syekh nan Bacukua Sabalah, yaitu sebuah gelar yang mengungkap kekeramatan sang Syekh, menghilang dari kampungnya dan langsung tiba di Mekkah untuk memadamkan kebakaran dalam keadaan bercukur sebelah. Beliau seangkatan dengan ulama-ulama besar paruh abad ke-18 dan ke-19, diantaranya Tuan Syekh Muhammad Shaleh “Beliau Munggu” Padang Kandih Lima Puluh Kota, yang masyhur namanya di Tiga Luhak dalam ilmu Tarekat dan Hakikat (ayah yang Mulia Syekh Abdul Wahid “Beliau Tabek Gadang”); Maulana Syekh Ibrahim Kumpulan, masyhur sebagai guru besar Tarekat Naqsyabandiyah di abad ke-19. Beliaupun punya hubungan dengan Tuanku Rao, pimpinan Paderi yang dikenal dalam historiografi Batak dengan nama si Pokki Nangolngolan Sinambela. Walaupun riwayat hidup beliau masih kabur, namun ada satu sumber yang memberikan sedikit informasi mengenai sang Syekh Mudik Tampang, sumber itu ialah Hikayat Jalaluddin, merupakan salah satu sumber lokal yang langka mengenai Paderi. Dinama Syekh Jalaluddin Ahmad Faqih Saghir menyebutkan :
…akan halnya cerita ini peri menyatakan asal kembang ilmu syari’at dan hakikat dan asal teguh larangan dan pegangan dan asal berdiri Agama Allah dan agama Rasulullah.……adalah seorang Auliya’ Allah yang kutab lagi kisyaf lagi mempunyai keramat yaitu orang tanah Aceh Tuanku Syekh Abdurra’uf, orang masyhurkan ia mengambil ilmu dari pada tuan Syekh Abdul Qadir Jailani. Itupun ia mengambil tempat di negeri Madinah tempat berpindah nabi kita Muhammad Rasulullah ‘alaihi wa sallam yaitu bimbing menghafazkan ilmu syari’at dan ilmu Hakikat ialah menjadi pintu ilmu sebelah pulau Aceh ini. Maka digarakkan Allah berlayar ia dikepala tempurung menjelang negeri Aceh adanya. Maka kemudian dari itu turunlah ilmu Tarekat ke negeri Ulakan kepada auliya’ Allah yang mempunyai keramat lagi mempunyai derajat yang a’la, ialah pergantungan ilmu tahqiq, ikutan dunia akhirat oleh segala makhluk di sebelah tanah ini. Maka berpindahlah Tarekat ke Paninjauan. Lalu kepada tuanku Mansiang nan Tuo. Segala surat-surat ia memakaikan tertib majlis lagi wara’ seperti Tuanku nan di Ulakan jua halnya. Maka dimasyhurkan orang pula Tuanku nan Tuo di negeri Kamang. Ia telah menghafazkan ilmu alat. Dan Tuanku di Lambah dan serta Tuanku di Puar, yang mempunyai keramat lagi beroleh limpah dari pada Tuanku di Paninjauan, orang Empat Angkat jua adanya. Maka Tuanku di Tampang di Tanah Rao datang dari negeri Madinah membawa ilmu mantiq dan ma’ani…
Dari keterangan Faqih Shaghir ini diketahui bahwa Tuanku Mudik Tampang masyhur namanya sebagai pemuka-pemuka ulama, khususnya di abad ke-18. beliau pernah belajar di Hejaz (Mekah dan Madinah), sehingga terkenal beliau sebagai ulama yang ahli dalam ilmu bahasa Arab, mantiq dan ma’ani. Selain itu beliau juga dikenal sebagai salah seorang Ulama Tarekat Naqsyabandiyah, hingga sekarang di surau bekas peninggalan beliau beratus-ratus orang, laki-laki dan perempuan, melaksanakan suluk dan wasilah.
2)
Maulana Syekh Ibrahim bin Fahati al-Khalidi Kumpulan (1764-1914)


Jika ditanya siapa ulama besar atas jalan Naqsyabandiyah di abad ke XIX dan awal abad XX, berpengaruh luas dikalangan orang-orang siak Minangkabau hingga tanah Batak, terbilang dalam catatan-catatan Belanda akan kemasyhurannya, maka Beliaulah Maulana Syekh Ibrahim al-Khalidi Kumpulan, masyhur ditengah-tengah masyarakat dengan “Angguik Balinduang” Kumpulan.
Nama kecil beliau ialah Abdul Wahab, lahir pada tahun 1764. diusia yang masih belia Beliau mengaji al-Qur’an menemui seorang alim di Pasir Lawas – Agam. Tersebut bahwa guru beliau tersebut maklum mahir al-Qur’an dan murid langsung dari Syekh Burhanuddin di Ulakan. Setelah menamatkan kaji di tempat tersebut, Beliau melanjutkan mempelajari hukum-hukum syari’at atas mazhab Syafi’i di Cangkiang, IV Angkat Candung. Kemudian Beliau berangkat ke Mekkah al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah Haji. Setelah Beliau kembali dari Mekkah, Beliau belajar ilmu Tharikat Naqsyabandiyah kepada mamanda Beliau Syekh Muhammad Sa’id Padang Bubus. Inilah guru Beliau pertama dalam ilmu Tharikat, hakikat dan Ma’rifat. Kemudian beliau pergi ke Mekkah lagi dan di situ beliau bermukim selama 7 tahun, untuk melanjutkan pengajian dalam ilmu syari’at dan secara khusus melanjutkan ilmu Tharikat di Jabal Abi Qubais kepada Maulana Syekh Khalid Kurdi. Setelah beliau menjadi orang alim pada ilmu Syari’at dan Tharikat, beliau kembali pulang ke Kumpulan. Di Kampung Sawah Laweh Kumpulan, beliau mengajar ilmu agama dalam syari’at dan Tharikat di sebuah Surau yang bernama Surau Kaciak. Karena orang semakin bertambah-tambah menimba ilmu kepada Syekh Ibrahim, maka dibangunlah kompleks surau yang lebih besar dinamai dengan Surau Tinggi. Syekh Ibrahim mempunyai pengaruh yang luas dikalangan ulama dan masyarakat banyak, maka beliau menepati posisi sentral dalam jaringan ulama setelahnya, terutama dalam jaringan Tharikat Naqsyabandiyah. Diantara murid-murid beliau yang terkenal keulamaannya setelah Beliau ialah Syekh Syahbuddin Tapanuli, Syekh Muhammad Nur Baruah Gunung, Limapuluh Kota, Syekh Muhammad Bashir Lubuk Landur, Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak, Syekh Daud Durian Tigo dan Syekh Mudo Tibarau Kinali.

Layaknya ulama-ulama besar dan yang ahli sufi lainnya, Beliau –Syekh Ibrahim- juga terbilang keramatnya, sebagai anugerah Allah akan wali-walinya dan orang-orang shaleh pilihan. Diantara karomah-karomah beliau yang masyhur menjadi buah bibir masyarakat umum ialah menggariskan tongkat Beliau ketika banjir di negeri Talu, sehingga air banjir itu menjadi surut; hilang lenyapnya tulisan-tulisan buku seorang sarjana Inggris yang hendak mendebat beliau dalam masalah Tasawwuf, dan banyak lagi lainnya kisah-kisah tersebut.
Syekh Ibrahim Kumpulan wafat pada tahun 1914, dalam usia 150 tahun. Menurut penuturan masyarakat, sewaktu Beliau meninggal dunia kampung Koto Tuo penuh sesak oleh orang banyak. Kebanyakan dari mereka itu tidak dikenal siapa orangnya dan banyak pula di antara mereka itu yang berpakaian putih-putih. Selain itu muncul keanehan, negeri tersebut penuh dengan kabut putih dan kupu-kupu kuning. Setelah berlalu 40 hari, maka kabut putih dan kupu-kupu kuning itu menghilang sama sekali.

3)
Syekh Daud Durian Gunjo Malampah (1854-1939)


Beliau adalah ulama besar Pasaman yang masyhur terbilang keramat. Sebagai halnya ulama-ulama Minangkabau masa dulu yang keramat-keramat keadaannya, sebagai tanda kuasa Tuhan akan hamba yang dikasihi-Nya, maka untuk Inyiak Durian Gunjo ini sangat terkenal kekeramatannya oleh masyarakat luas di Minangkabau. Namanya tersanding diantara Syekh Keramat Taram – Payakumbuh dan Syekh Abdurrahman al-Khalidi Batu Hampar yang keramat-keramat belaka. Selain ulama yang dalam fahamnya dalam bidang Syari’at, kekeramatan beliau lazim selaku ulama yang sangat mendalam pada bidang Tharikat, terutama atas garis silsilah saadat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah.
Beliau diperkirakan lahir pada tahun 1854, sejak kecil beliau telah menjadi anak didik Syekh Ibrahim Kumpulan yang masyhur itu. Dengan Syekh Ibrahimlah beliau menekuni ilmu-ilmu keislaman, hingga mengambil Tharikat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah, bersuluk dibawah pengawasan “Angguik Balinduang”. Maka terkemuka pula Inyiak Daud selaku salah satu murid kesayangan Syekh Kumpulan itu. Di samping itu, Inyiak Daud juga pernah secara khusus menekuni ilmu-ilmu Syari’at, mencakup fiqih dan ilmu-ilmu Kitab lainnya kepada Syekh Abbas Qadhi Ladang Lawas (wafat 1949), ayah KH Sirajuddin Abbas tokoh PERTI yang terkemuka itu. Selanjutnya, Syekh Durian Gunjo melanjutkan pelajarannya ke Mekkah sambil menunaikan rukun Islam yang kelima. Di Mekkah beliau bermukim selama 2 tahun, beribadah Haji serta memperdalam ilmu agama khususnya dalam bidang Tharikat Naqsyabandiyah. Konon kabarnya, di tengah perjalanan antara Mekkah dan Madinah, tepatnya di Bulan Ramadhan, beliau mendapati Lailatul Qadar. Saat itu beliau berjalan dengan unta, tak terasa unta itu telah menunduk saja tiada mau berdiri dan berjalan, sedangkan batang-batang kurma telah menunduk semuanya. Maka beliau mulai tersadar, bahwa beliau telah berjumpa dengan malam “kemuliaan” itu. Kemudian beliau berdo’a, salah satu bunyi munajatnya meminta kekayaan kepada Allah pada dua kampung, yaitu kaya di dunia dan kaya di akhirat. Rupanya malam itu membawa barokat yang besar kepada Syekh Daud Durian Gunjo dikemudian hari.

Beliau terkenal sebagai ulama terkemuka dan termasyhur, tersebab keutamaan yang beliau peroleh, apakah dari ilmu pengetahuan dan amal shaleh yang selalu beliau amalkan sepanjang waktu. Beliau mendirikan surau besar persis di kaki Gunung Pasaman. Suraunya memang jauh dari pemukiman ramai oranga, tapi dari melihat surau ini yang cukup megah di zamannya memberikan kepada kita gambaran bahwa surau ini merupakan salah satu surau Besar yang makmur di masa lalu, tak terpungkiri, juga sampai saat ini. Surau Besar itu terbuat dari kayu, sehingga suasana dalam surau itu sangat tenang, khitmat, mirip situasi surau-surau Tarekat naqsyabandiyah lainnya di hampir seluruh wilayah Minangkabau. Surau itu ditegakkan dengan empat tiang dari batang-batang kayu yang besar-besar. Surau itu memiliki 4 tingkat, yang konon dulunya keempat tingkat itu diisi penuh oleh orang-orang suluk, berkhitmat mengamalkan Tarikat Naqsyabandiyah, berzikir mengingati Allah. Sebuah lambang kejayaan surau di masa lalu, surau besar itu dibuat bergonjong, menawan, sebuah pesona pendidikan Islam masa lalu yang tiadakan pudar dimakan zaman, diterpa masa.


Hal ihwal mengenai peristiwa-peristiwa aneh seputar Beliau banyak menjadi buah bibir masyarakat banyak. Salah satu yang populer, ialah kisah Syekh Daud menyelamatkan kapal anaknya yang sedang berlayar mengaji ke Mekkah. Ini disaksikan oleh murid-murid beliau sewaktu bertahlil, lewat kasyaf nyata terang. Sedang orang-orang dalam kapal yang ditompang anaknya itu nyata melihat yang menolong kapal mereka supaya tidak tenggelam itu ialah seorang Syekh, ialah Inyiak Daud Durian Gunjo. Sedang disaat yang sama, Syekh Daud sendiri dilihat murid-muridnya sedang berzikir khusyu’ dalam kelambunya di Surau itu. Dan banyak lagi kisah-kisah lain.
Keberadaan Syekh Daud Durian Gunjo dengan dedikasinya selaku ulama berpengaruh, juga menepati inti jaringan Ulama di Pasaman, sebagaimana gurunya Syekh Ibrahim Kumpulan. Dari sekian anak Beliau, ada terdapat 3 orang yang melanjutkan usaha beliau, meneruskan jaringan ulama untuk generasi selanjutnya. Mereka ialah Syekh Muhammad Nur Mangkumang Datar (wafat 1989), terkenal masyhur; Syekh Sulaiman Batu Kambiang – Malampah dan Haji Hasan Kinali.
4)
Syekh Muhammad Bashir al-Khalidi Lubuk Landur (wafat 1920)


Pasaman Barat pernah pula menjadi basis keilmuan Islam yang terkemuka. Tak jauh dari Simpang Empat, yang menjadi barometer perekonomian Pasaman itu, terdapat satu komplek Surau Besar yang asri dan lumayan unik. Orang-orang asing berbondong-bondong melepas letih ke Komplek Surau itu, samping melihat kumpulan ikan-ikan besar, ikan-ikan larangan dimasyhurkan orang. Maka itulah negeri Lubuk Landur, surau itu surau Tuan Syekh Lubuk Landur yang terkenal dan ikan-ikan besar itu ialah ikan-ikan larangan Tuan Syekh Lubuk Landur yang dikenal bertuah.
Di masa-masa silam, surau Lubuk Landur yang luas itu merupakan salah satu pusat pendidikan Islam yang terbilang dikalangan penuntut-penuntut ilmu di daerah ini. Dia menjadi satu titik jaringan keilmuan islam, koneksi ulama yang terjalin lewat aktifitas mengaji di surau dan aktifitas Suluk yang sangat digemari hingga kini.

Tersebutlah ulama besarnya Tuan Syekh Muhammad Bashir Lubuk Landur, alim terkemuka dalam Syari’at dan Hakikat, pemimpin atas jalan Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Masa kecil dan riwayat mula belajarnya belum dapat dicatat. Namun dapat dipastikan beliau bermukim bertahun-tahun di Mekkah al-Mukarramah, memfahamkan kaji Naqsyabandiyah di Jabal Qubis, setelah terlebih dahulu berkhitmat kepada Syekh Ibrahim Kumpulan yang masyhur itu. Maka jelas sudah, lewat surau Lubuk Landur beliau membentuk jaringan keilmuan lokal dengan para orang siak dari berbagai daerah, setelah terlebih dahulu beliau memasuki jaringan ulama kosmopolitan di Mekkah al-Mukarramah.
Sebagai pula ulama sufi terkemuka beliau termasuk ahli kiramah yang masyhur, salah satunya yang tetap sampai sekarang ialah ikan larangan Syekh Lubuk Landur. Ikan itu bertuah, yang menurut informasinya ikan-ikan itu dilarang diambil Syekh Lubuk Landur karena suatu peristiwa. Bagi masyarakat yang tak percaya larangan itu, kemudian dimakan, paling tidak akalnya akan rusak.
5) Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak, Sasak.Beliau terkemuka sekali dalam organisasi kaum Tua, Perti. Teman seperjuangan Syekh Sulaiman ar-Rasuli (wafat 1970), dan ulama-ulama besar Minang lainnya dalam membentengi faham ahlussunnah dari rongrongan kaum muda yang hendak merubahnya. Riwayat beliau agak kabur, namun dapat dinyatakan beliau alim benar dalam Syari’at menurut kitab-kitab kuning. Sehingga bila beliau tersesak dalam diskusi dengan lawan-lawan faham beliau, maka berhamburanlah dalil dan hujjah dari mulut beliau, anehnya beliau tahu di kitab mana dalil-dalil itu beliau kutip dan halaman berapa tanpa sebelumnya menyentuh kitab itu. Selain alim syari’at, selayaknya ulama masa itu, beliau juga faham hakikat atas jalan Tarikat Naqsyabandiyah. Tersebut beliau adalah murid dari Syekh Ibrahim Kumpulan, selain itu beliau menyelesaikan kajinya ke Kampar - Riau, atas hadapan Tuan Syekh yang Mulia Syekh Abdul Ghani Batu Basurek (wafat 1961, dalam usia 150 tahun). Di samping itu, tak sulit bagi kita mengambil fakta, bahwa Beliau –Syekh Sasak- merupakan ulama didikan Mekkah, jaringan kosmopolitan itu.

6)
Syekh Muhammad Sa’id Bonjol (1888-1979)
Di salah satu Pusat perjuangan Paderi (1803-1838), Bonjol, pernah pula menjadi pusat kajian Islam Tradisional Minangkabau yang masyhur namanya sampai akhir abad ke-20. Nama besar perguruan Islam Tradisional itu tak lain karena dedikasi dan ketenaran seorang ulama besar yang kharismatik di daerah ini. Ulama itu ialah Syekh Muhammad Sa’id Bonjol, terkenal pulalah beliau ini dengan panggilan “Imam Bonjol ke-II”. Nama beliau paling banyak disebut apabila dihubungkan dengan jami’ah (organisasi) ulama-ulama Tua Minangkabau, PERTI, sebagai salah seorang sesepuh yang dihormati, teman seperjuangan Inyiak Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Syekh Muhammad Sa’id dilahirkan pada tahun 1881. tidak tercatat lagi masa kecil beliau. Namun dapat diduga bahwa beliau di masa-masa umur puluhan tahun mengaji ala surau Minangkabau di daerah kelahirannya, Bonjol. Dasar-dasar keilmuan surau inilah yang memotivasinya untuk belajar ke tanah suci Mekkah dikemudian harinya, sebagai halnya ulama-ulama besar yang sebaya dengan beliau, sampai masyhurnya beliau sebagai Ulama besar.

Syekh Sa’id mengambil Tarekat Naqsyabandiyah dari yang Mulia Syekh Ibrahim Kumpulan (1764-1914), yang masyhur namanya dengan “Angguik Balinduang Kumpulan”. Keberhasilan beliau dalam Tarekat Naqsyabandiyah menyebabkan beliau diangkat sebagai khalifah Syekh Ibrahim Kumpulan. Dikarenakan begitu taatnya beliau kepada Allah sehingga beliau mendapat Karunia Allah di dalam mengerjakan khalwat. Diceritakan dalam mengerjakan Suluk di Bulan Ramadhan beliau beroleh Karomah. Seketika mengambil wadhu’ di Malam Hari, Sorban beliau dilarikan Pohon kelapa yang rebah, sebab sebelumnya beliau meletakkan kain sorban beliau di pohon kelapa rebah itu sebelum berwudhu’.
Surau beliau yang kini telah menjelma menjadi mesjid merupakan pusat intelektual Islam yang terkemuka hingga akhir dekade abad XX. Jelas pula, sosok ulama Syekh Sa’id merupakan mata rantai penting dalam transmisi keilmuan Islam yang tidak bisa diabaikan.
7) Syekh Muhammad Nur Mangkumang Datar (wafat 1989)Beliau adalah salah seorang anak dari Inyiak Syekh Daud Durian Gunjo yang terkemuka keulamaannya. Tiada pula dapat ditulis mengenai perjalanan menuntut ilmunya ketika kecil. Namun dapat dinyatakan bahwa beliau merupakan salah satu ulama didikan Mekkah al-Mukarramah yang membentuk jaringan ulama lokal lewat surau Mangkumang Datar. Dan surau Beliau yang terletak jauh dari pemukiman penduduk di Mangkumang Datar, menyiratkan bahwa surau ini memang menjadi tipikal surau-surau Sufi, jauh dari hiruk pikuk dunia agar segera dapat mendekatkan diri kepada akhirat. Melihat arsitek surau yang cukup besar, dan bangunan-bangunan yang cukup tua yang masih berjejeran disamping surau Mangkumang Datar ini, memberikan gambaran bahwa surau ini pernah mengalami fase makmur di masa lampau. Syekh Mangkumang Datar wafat pada tahun 1989. untuk aktifitas suluk masih tetap dijalankan. Sedangkan anak-anak Syekh sendiri sebahagian besar tinggal di Jakarta.
8)
Syekh Abdullah Alin Tagak – Bukik Tuleh (wafat 1993)


Jauh di Gunung Tuleh, terdapat sebuah Madrasah (Pesantren) yang masih mempertahankan kaji ulama-ulama lama itu. Itulah pesantren Haji Abdullah Alin Tagak, didirikan oleh seorang ulama yang masuk pula dalam jaringan ulama lokal di Pasaman. Untuk periode terakhir ini, maka beliaulah yang tampaknya masih melanjutkan tradisi ulama-ulama lama Minangkabau, di tengah aruh modernisasi yang makin bergerak cepat.
Nama ulama Alin Tagak itu ialah Syekh Abdullah. Seperti sebahagian ulama lainnya, riwayat masa kecilnya tampaknya masih diselubungi kabut sejarah. Jaringan keilmuan yang dapat dicatat dari perjalanan intelektual Syekh Alin Tagak bahwa beliau termasuk pula sebagai salah seorang mursyid Naqsyabandiyah yang terkemuka sampai akhir abad XX sekaligus sebagai malin kitab dikenal. Pelajaran agama, termasuk Tharikat dan Kitab, dipelajarinya dari Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak.Transmisi keilmuan Islam : Surau dan naskah kuno Islam di Pasaman

Surau, bagaimanapun keadaannya telah menjadi sarana pendidikan Islam terkemuka dan berperan besar dalam Islamisasi, melahirkan ulama-ulama besar di zamannya, hingga mencetak juru-juru dakwah profesional. Di masa keemasannya, surau mampu menjadi barometer sosial-masyarakat, apakah dalam usaha perjuangan masyarakat terhadap kompeni, penentuan ekonomi petani, pengajaran adat istiadat Minangkabau dan tentunya istimewa dalam bidang agama. Fungsi surau yang bukan sekedar pusat pendidikan Islam, membuat kedudukan surau menjadi sangat penting bagi masyarakat kala itu. Apatah lagi dengan peran seorang ulama kharismatik yang memimpin surau tersebut, maka seolah-olah dia adalah pemimpin masyarakat. Pemimpin dalam bidang agama, penentuan kearifan ekonomi hingga penjaga ketertiban masyarakat. Begitulah surau, keadaan dan posisinya di masa jayanya.
Meneropong surau dari segi sosial keagamaan, kita akan memperoleh suatu gambaran nyata betapa lembaga ini, surau, memainkan peran penting dalam setiap aspek kehidupan masyarakat. Ulama yang menjadi titik nadi kehidupan surau merupakan sosok yang menjadi panutan, tumpuan hingga pimpinan. Sehingga fungsi utama surau sebagai tempat transmisi keilmuan yang dalam menjadi semakin menjadi nyata, dengan ulama sebagai penentu arah kebijakan-nya.

Transmisi keilmuan islam, berarti mentranfer ilmu-ilmu agama kepada generasi selanjutnya, agar tradisi keilmuan itu tidak putus. Setidaknya ada tiga porsi keilmuan Islam yang diajarkan secara mendalam di surau-surau Minangkabau. Pertama ialah pemahaman tentang syari’at, dengan mempelajari secara tuntas fiqih Mazhab Syafi’i. Kedua ialah pemahaman mengenai Tauhid, menekankan aspek akidah melalui “pengajian Sifat Dua Puluh” dan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni). Dan ketiga pengamalan Tasawwuf lewat Tharikat-tharikat Mu’tabarah. Di hampir semua surau-surau lama ketiga porsi keilmuan ini diajarkan secara tuntas, walaupun dibeberapa surau telah mengambil spesialis keilmuan tertentu, seperti Nahwu, Tafsir, Ma’ani dan lainnya, namun ketiga porsi ini tetap medapat tempat di surau-surau tersebut.
Dengan demikian jelas, surau-surau Minangkabau sangat kuat memegang tradisi Sunni; bersyari’at dengan Fiqih Syafi’i, berakidah sesuai dengan faham Asy’ariyah dan mengamalkan salah satu Tharikat Sufiyah sebagai sebuah kearifan Tasawwuf. Itulah sebabnya kenapa ulama-ulama surau ini kuat pendirian ketika munculnya beberapa kecaman dari kaum Modernis (kaum muda), karena memang sejak dulu Ahlussunnah telah mapan di ranah Minangkabau ini.

Memang tidak ditemui satu catatan kurikulum yang dipakai oleh lembaga surau. Namun dari penemuan naskah-naskah tua yang masih ditemui sekarang, kita akan membenarkan betapa surau ini menjadi basis Ahlussunnah yang kokoh berakar. Kita masih dapat menemui kitab-kitab besar mazhab Syafi’i yang masih bertulikan tangan di surau-surau ini, yang usia berabad-abad lamanya. Kitab masih menemui syarah-syarah ilmu Tauhid yang besar-besar di bekas-bekas surau masa lalu. Dan kitapun masih menjumpai kitab-kitab Tharikat yang sangat langka di beberapa surau-surau besar masa lalu. Di sinilah kekuatan surau, dengan ulama dan aktifitas transmisi keilmuannya; dalam dan tinggi. Itupulalah yang pertahankan kaum Tua ketika muncul pergolakan agama di Sumatera barat dengan kaum Muda di awal abad ke-20. Sehingga tersebut dalam pecahan undang-undang 12, salah diadat, hukum adat nan kewi itu, DAGO DAGI (mangguntiang nan lah bunta, menyubik nan lah rato), salah di undang-undang duo baleh. DAGO membatalkan mufakat yang telah adil dalam nagari (=mufakat agama), DAGI membuat haru biru dalam nagari (=huru hara dengan memasukkan faham baru yang membuat ricuh masyarakat). Karena tersebut Minangkabau, Indonesia umumnya sejak dahulu telah kuat memegang mazhab syafi’i, berittiqat Ahlussunnah wal jama’ah dan memakai kerifan Tasawwuf lewat pengamalan Tarikat-tarikat mu’tabarah. Maka sikap inilah yang di mulai oleh kaum Muda, membatalkan mufakat yang telah bulat, membuat pergolakan, dengan membatalkan faham agama yang telah mapan di Minangkabau sejak dulu kala.


Itu pulalah yang ditulis oleh Syekh Muhammad Sa’ad Mungka (wafat 1922) ketika melawan polemik Tarikat Naqsyabandiyah dengan Syekh Ahmad Khatib. Dalam kitab langka yang berjudul Irghamu Unufil Muta’annitin fi Inkarihim Rabithathal Washilin (=meremukkan hidung penantang, yaitu mereka yang membatalkan Rabithah orang-orang yang telah sampai kepada Allah), dimasa diawal risalah itu Syekh Muhammad Sa’ad menulis:


(Setelah Basmallah dan Hamdalah serta shalawat)
Tatakala di thaba’ orang kitab izhar Zaghlil Kazibin dan masyhurlah sikatib negeri Minangkabau, gaduhlah orang awam dan caci mencaci mereka itu, hingga mengkafirkan setengah mereka itu mereka yang lain orang yang ditetapkan oleh Allah hatinya atas yang haq. Dan demikian itu dengan sebab tersebut di dalam kitab izhar tersebut menyerupakan orang yang pakai rabithah dengan orang yang menyembah berhala dan di datangkan beberapa dalil dari pada al-Qur’an dan hadist dan kalam sahabat dan ulama sufiyah. Maka dengan sebab itu memintalah dari pada al-haqir Muhammad Sa’ad bin Tanta’ Mungka Tuo setengah dari pada ikhwan dari pada ahlus shalah bahwa menyebutkan al-Haqir akan wajah bagi penguatkan segala dalil rabithah dan bagi penolakkan segala wajah membatalkan rabithah dan pemasukkan amalan Tarikat Naqsyabandiyah kepada syari’at, supaya jangan terlonsong dan terkecuh orang-orang yang tiada kuasa menfahamkan dalil….

Karena memang kehebohan ditengah-tengah masyarakat itu disebabkan oleh orang-orang yang menyalahi mufakat.
Begitulah keilmuan surau-surau di Minangkabau, kuat memegang Ahlussunnah, kuat beramal dengan Tarikat-tarikat Ahli Sufi. Untuk selanjutnya keilmuan surau yang begitu halnya telah diadobsi oleh Perti, karena memang Perti merupakan kelanjutan surau-surau lama itu. Dan kitab-kitab tulisan tangan dalam tradisi surau dahulu telah diganti dengan kitab-kitab kuning, dengan tetap memakai materi kitab-kitab lama itu. Kitab kuning untuk selanjutnya menjadi prioritas keilmuan yang utama bagi kaum tua, sebab dengan kitab kuning akan terwarisi segala ajaran yang mencakup Fiqih Syafi’i, Ahl Sunnah dan Tasawwuf secara utuh. Diantara kurikulum Kitab yang dikaji di Madrasah-madrasah Perti itu ialah : (1) Bidang Fiqih, yaitu Matan Ghayah wat Taghrib, Fathul Qarib Mujib, Al-Bajuri, I’anatut Tahlibin dan Mahalli; (2) Bidang Tauhid, yaitu Jawahirut Tauhid, Al-Aqwal al-Mardiyah, Fathul Majid, Umm Burhain; (3) Bidang Tasawwuf, yaitu Minhajul ‘Abidin, Mau’izatul Mukminin dan Hikam; (4) Nahwu dan Sharaf (gramatikal Arab), yaitu Matan al-Jurumiyah, Matan Bina wal Asas, Mukhtashar Jiddan, Kaelani, Kawakib ad Durriyyah, Qatrun Nida, Ibnu Aqil ‘ala Alfiyah; (5) Bidang Ushul Fiqih, yaitu Waraqat, Jami’ul Jawami’, Asybah wa an-nazhair; (6) Bidang Tarekh (sejarah Islam), yaitu Khulasah Tarekh Islami, Nurul Yaqin, Itfamul Wafa; (7) Manthiq (logika), yaitu Idhohul Mubham, Sullamulwi; (8) Tafsir, yaitu Jalalain; (9) Balaghah, yaitu Jauharatul Maknun; dan (10) Bidang Hadist dan Musthalah, yaitu Kitab as-Sanawani dan al-Baiquniyah.

Begitupulalah surau-surau di Pasaman, dengan ulama-ulama yang gigih mempertahankan kaji lama itu.
Mengenai hal naskah-naskah tua yang menjadi local genius di surau-surau, maka ia ialah kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya. Dalam istilah Hamka jika dibeli tak terbeli, begitu mahalnya. Sebelum adanya mesin cetak seperti sekarang, maka untuk keperluan kitab-kitab pelajaran agama di surau-surau, maka materi-materinya disalin dengan tangan. Dari hasil tulisan-tulisan tangan itu agama Islam dipelajari secara menyeluruh. Selain itu adapula sebab produktifitas ulama-ulama yang mengarang buku sendiri, jadilah karangannya itu sebuah master peace yang langka, diburu keberadaannya. Dengan demikian naskah-naskah tua sangat penting keberadaannya dalam transmisi keilmuan Islam di masa lalu.

Naskah-naskah Tua surau-surau itu kebanyakannya masih tersimpan, tapi dalam kondisi yang memprihatinkan. Mungkin karena usia yang sudah berabad-abad lamanya, ataupun karena siempunya tak mengerti kegunaannya sehingga seolah-olah naskah itu sebagai barang terbuang. Seperti halnya naskah-naskah Tuanku Mudik Tampang di Surau Rao, dari watermark-nya naskah-naskah itu memang sudah berusia tua. Diantara bentuk-bentuk water mark dan tahun pembuatannya serta contoh-contoh naskah kuno Islam di Pasaman yang dikategorikan atas naskah al-Qur'an, naskah Wirid-Wirid, naskah Shalawat dan naskah Azimat (tidak diposting/dipublish : berada di tangan pemilik dan tim peneliti)
(c) Tim Inventarisasi Naskah Mahasiswa FIB-Adab IAIN Padang/2010 ::: telah dipresentasikan dalam Pertemuan Masyarakat Pernaskahan Cabang Sumatera Barat di Univ. Andalas Padang dan Diskusi Rutin Dosen Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN Padang, 6 Mei 2010

Segenggam Gundah



muhsyukriali
Oleh:Much Syukri Ali
Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah. "Yah, beras sudah habis loh..." ujar isterinya. Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah, "Ayah..., besok Agus harus bayar uang praktek". "Iya..." jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, "besok beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya dengan "Insya Allah" sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.

Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, "jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya". Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, "ini, anak siapa minta susunya ke siapa". Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, "Iya,nanti semua Ayah bereskan" meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan.

Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.