Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Jumat, 10 Januari 2014
Kembali ke Sumber Azali
Keberadaan manusia dapat diihat dari dua sudut pandang, jiwa dan raga. Dari sisi raga, semua manusia secara umum sama. Semua orang memiliki ciri-ciri khas manusia. Dari sisi jiwa, yang tersembunyi dalam raga, setiap orang berbeda-beda. Karena itu diperlukan penjelasan yg lebih khusus.
Kaidah umum menyatakan, setiap orang dapat kembali ke sumer azalinya dengan mengikuti langkah-langkah tertentu. Dalil-dalil agama yg jelas dan tegas merupakan petunjuk bagi siapa saja untuk perjalanan kembalinya. Dengan menapaki satu tingkatan ke tingkatan lainnya, ia sebenarnya tengah mendaki jalan ruhani, untuk mencapai alam ilmu-tingkatan tertinggi. Rasulullah saw memuji tingkatan ini dalam sabdanya, “Ada satu tingkatan yg di dalamnya semua dari segala sesuatu dihimpun, yaitu ma’rifat-ilmu.”
Untuk mencapai tingkatan itu, pertama-tama orang harus meninggalkan keburukan dan kemunafikan dalam amalnya sehingga orang lain dapat menjadi saksi atas dirinya. Setelah itu, ia harus menetapkan 3 macam tujuan bagi dirinya sendiri. Ketiga macam tujuan itu sebenarnya merupakan 3 macam surga. Tujuan pertama disebut Ma’wa – surga menjadi tempat tinggal yg tentram atau surga duniawi. Tujuan kedua disebut Na’im – taman keridaan Allah bagi para makhluk-Nya, yaitu surga yang berada di alam malaikat. Tujuan ketiga disebut surga Firdaws – surga samawi, yaitu surga yg di alam ketunggalan akal sebab, tanah air jiwa, Nama-Nama dan Sifat-Sifat Ilahi. Itulah 3 macam imbalan, yg merupakan keindahan Allah, bagi manusia yg berusaha menempuh tingkatan-tingkatan ilmu ini, mengikuti ajaran agama, menghilangkan kemajemukan dalam dirinya, serta memerangi hawa nafsunya untuk mencapai persatuan dan kedekatan dengan Sang Pencipta (thariqah). Itulah imbalan atas perjuangannya meraih tingkatan ma’rifat, tingkatan yg memungkinkannya mengenal Tuhan.
Rasulullah saw –setelah mengatakan, “Ada satu tingkatan ilmu yg di dalamnya semua dan segala sesuatu dihimpun dalam ilmu Allah”- bersabda, “Dengannya seseorang mengetahui kebenaran yg menghimpun dalam dirinya semua jalan dan kebaikan. Ia harus mengamalkan kebenaran itu dan harus mengenal kesalahan serta meninggalkannya. Selanjutnya Rasulullah saw bersabda, “Ya Allah, tunjukkan kepada kami kebenaran dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan ajarkan kami tentang kesalahan lalu mudahkan kami untuk menjauhinya.” Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, “Siapa mengenal dirinya sendiri dan sungguh-sungguh menentang nafsunya, niscaya akan mengenal Tuhannya dan mengikuti kehendak-Nya.”
Tujuan mulia itu mungkin saja dicapai di dunia ini. Bagi orang yg telah mencapainya, tak ada bedanya antara tidur dan jaga, karena dalam tidur, jiwa dapat kesempatan untuk berjalan ke rumah sejatinya yaitu alam ruh, lalu kembali ke alam jasad dalam keadaan yg baru. Keadaan seperti ini kami sebut mimpi sejati. Layaknya mimpi, kejadian yg dialami mungkin terpecah-pecah, tetapi mungkin juga bersifat utuh, sebagaimana yg dialami Nabi Muhammad saw dalam peristiwa Mikraj. Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang (jiwa) (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Dia tahan jiwa (orang) yg telah Dia tetapkan kematiannya, dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada hal itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (al-Zumar: 42)
Keadaan seperti itu dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya, “Tidurnya orang berimu lebih utama daripada ibadah orang bodoh.” Orang berilmu yang dimaksud di sini adalah yang telah meraih pengetahuan sejati yg tak mengenal huruf maupun suara. Pengetahuan itu diperoleh dengan terus menerus membaca kalimat tauhid, dengan lidah dan hatinya. Hatinya telah masuk ke dalam cahaya Ilahi melalui cahaya tauhid. Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
“Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya. Pengetahuan batin mengenai ilmu batin adalah relung rahasia-Ku, jika Ku-masukkan pengetahuan ini ke dalam hati hamba-Ku yang sholeh, takkan ada yg dapat mengetahui keadannya kecuali Aku.”
Dalam hadis qudsi lainnya Dia berfirman:
“Aku seperti sangkaan hamba-Ku. Jika ia mencari dan mengingat-Ku, Aku bersamanya. Jika ia mengingat-Ku dalam hati, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dan menyebut nama-Ku dalam kelompok, Aku akan mengingatnya dan menyebutnya sebagai hamba-Ku yang saleh dalam kelompok yg lebih baik.”
Jadi, satu-satunya cara untuk mencapai tujuan jalan ini adalah tafakur, suatu laku yg jarang dijalankan kaum awam. Rasulullah saw bersabda, “Tafakur sesaat lebih utama daripada ibadah setahun. “ Atau, “Sesaat tafakur lebih utama daripada ibadah seribu tahun.”
Nilai setiap amal terletak pada hakekatnya. Sesaat tafakur dalam hadits di atas tampaknya mengandung tiga nilai yg berbeda.
Orang menafakuri suatu urusan dan berusaha menelusuri sebabnya, niscaya akan menyadari bahwa setiap bagian urusan itu memiliki banyak cabang dan bahwa setiap penggalan peristiwa menjadi sebab bagi peristiwa-peristiwa lainnya. Tafakur seperti inilah yg dianggap lebih utama daripada seribu tahun ibadah.
Sama halnya, tafakur mengenai makrifat, yg disertai tekad kuat untuk mengenal Allah, dianggap lebih utama daripada seribu tahun ibadah. Sebab, tafakur seprti itu adalah pengetahuan yg sejati.
Pengetahuan sejati adalah maqam tauhid. Seorang pecinta sejati akan menyatu dengan Kekasihnya. Dari alam materi ini, ia terbang dengan sayap ruhani ke alam karunia. Ia dianggap lebih mulia daripada orang yg beribadah karena ahli ibadah berjalan kaki menuju surga, sedangkan ia terbang ke berbagai alam yg dekat kepada Tuhannya.
Setiap pecinta memliki mata dalam hati mereka
Berkat cinta, mereka melihat, saat orang lain buta
Mereka memiiki sayap, bukan dari daging dan darah
Terbang menuju para malaikat, mencari Tuan mereka
Para pecinta itu terbang ke alam batin. Merekalah orang yg berilmu. Mereka dianugerahi gelar sebagai manusia sejati, para kekasih, dan orang yang sangat dekat kepada Allah. Bayazid al-Bisthami, semoga Allah meridainya, berkata, “Orang ang berilmu adalah kekasih Allah.” Sufi lain mengatkan bahwa mereka dekat kepada Allah karena mereka adalah kekasih Allah.
Hanya para pecintalah yg akan mengenal Sang Kekasih dengan sangat dekat. Mereka menjadi sahabat dekat Allah. Hakikat mereka adalah keindahan meskipun tampak seperti orang kebanyakan. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Sahabat-sahabat dekat-Ku tersembunyi di bawah jubah-Ku. Tak ada yg mengenal mereka kecuali Aku.” Jubah itu adalah penampilan mereka yg sederhana dan bersahaja. Mereka tersembunyi bagaikan pengantin wanita yang ditabiri tirai pelaminan; dapatkah kau melihat kecantikannya?
Yahya ibn Muaz al-Razi, semoga Allah menyucikan ruhnya, berkata, “Para kekasih Allah adalah minyak wangi bagi dunia ini. Namun, hanya mukmin yg ikhlas yg dapat mencium wangi mereka.” Kaum mukmin sejati itu mencium wangi mereka, dan kemudian mengikuti keharuman itu. Minyak wangi itu membangkitkan kerinduan kepada Tuhan dalam hati mereka. Seluruh perilaku mereka semakin meneguhkan langkah, upaya, dan kesungguhan mereka. Tingkatan kerinduan, kesungguhan dan kecepatan melangkah mereka meningkat pesat sesuai dengan semakin cemerlangnya cahaya mereka dan sejauh keberpalingan mereka dari dunia. Semakin jauh seseorang dari pakaian dunia, semakin dekat ia kepada Sang Kekasih. Alih-alih merasa dingin dan kesepaian, ia rasakan kehangatan Sang Pencipta. Semakin dekat pula ia dengan hakekat batin yg dicarinya. Kedekatan kepada hakekat tergantung pada kekuatan tekadnya untuk meninggalkan dunia. Semakin jauh dari dunia dan kemajemukan, semakin dekat ia kepada hakikat yg tunggal.
Kekasih Allah adalah orang yg berjalan menuju ketiadaan hingga ia menyaksikan eksistensi hakikat. Ia telah menyerahkan seluruh dirinya sehingga ia tak lagi memiliki pilihan. Tak ada lagi “Aku”, yg tersisa hanyalah eksistensi, Sang Hakiki. Berbagai keajaiban yg ia tampilkan membuktikan ketinggian derajatnya. Namun, semua mukjizat itu tak ada kaitannya dengan maqam ruhaninya. Pada maqam, seperti ini, tak ada pengungkapan rahasia, karena penyingkapan rahasia ketuhanan dianggap sebagai kemaksiatan.
Dalam kitab yg berjudul Mirshad dikatakan, “Karamah, atau kemampuan menampilkan sesuatu yg luar biasa merupakan hijab yg membuat seseorang lengah akan keadaan dirinya. Karena itu, saat-saat kemunculan karomah dianggap sebagai masa haid pada kaum wanita. Para wali, yg merupakan kekasih Allah, harus melewati sekurang-kurangnya seribu anak tangga. Dia ntara anak tangga yg pertama adalah karomah. Jika dapat melewatinya, ia dapat mendaki anak tangga lainnya,. Jika tidak, langkahnya terhenti di sana.”
Pada Mulanya Adalah Cahaya
Semoga Allah memberi kalian keberhasilan dalam melakukan segala tindakan yang diridhai-Nya.
Pikirkanlah, tanamkanlah dalam pikiran, dan pahamilah segala yang kukatakan. Bahwa makhluk pertama yang diciptakan Allah dari Cahaya Ilahi Yang Maha Indah adalah cahaya Muhammad saw. Dalam sebuah hadits qudsi Dia menyatakan:
“Telah Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya dzat-Ku (wajh).”
Pemimpin kita, Rasulullah saw pun menyatakan dalam sabdanya:
“Pertama-tama Allah menciptakan ruhku, yang diciptakan-Nya sebagai cahaya Ilahi.”
“Pertama-tama Allah menciptakan ‘Pena’.”
“Allah pertama-tama menciptakan ‘akal’.”
Ciptaan pertama yg dimaksudkan dalam hadits itu adalah hakekat Muhammad, yg dirahasiakan. Seperti Tuhannya, Muhammad juga memiliki nama-nama yg indah. Ia diberi nama Nur, Cahaya Ilahi, karena ia disucikan dari kegelapan yg tersembunyi di balik sifat kuasa dan keagungan Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Telah diturunkan kepadamu dari Allah cahaya dan Kitab yang terang” (al-Maidah: 15)
Ia disebut juga Akal Universal (‘aql al-kulli) karena ia melihat dan memahami segala sesuatu. Ia disebut Pena (al-qalam), karena ia menyebarkan hikmah dan ilmu, serta menorehkan ilmu ke hamparan alam huruf.
Ruh Muhammad adalah hakekat semua wujud. Ia adalah awal dan hakekat alam semesta. Nabi saw menyatakan hal ini dalam sabdanya, “aku berasal dari Allah dan orang beriman berasal dariku.” Allah menciptakan semua ruh dari ruhnya (Muhammad) di alam penciptaan pertama dengan sebaik-baik bentuk. Muhammad adalah nama semua manusia di alam arwah. Ia adalah sumber dan tempat kembali masing-masing dan segala sesuatu. Empat ribu tahun setelah penciptaan Nur Muhammad, Allah menciptakan ‘Arsy dari cahaya mata Muhammad. Dia menciptakan seluruh makhluk dari ‘Arasy.
Kemudian Dia mengutus ruh untuk turun kepada tingkatan penciptaan terendah, ke alam dunia ini, alam materi, atau alam jasadi.
“Kemudian Kami kembalikan dia kepada (tingkatan) yang terendah.” (Thin: 5)
Dia mengirim cahaya dari tempat penciptaannya, Alam Ketuhanan (alam Lahut), yakni alam manifestasi dzat, keesaan, wujud mutlak Allah, ke alam manifestasi nama-nama Allah, manifestasi sifat-sifat, alam kausal, alam Ruh Universal. Di sana, jiwa itu diberi pakaian jubah cahaya. Di sana pula jiwa itu diberi nama “jiwa sultan”. Berpakaian cahaya, mereka turun ke alam malaikat. Di sana mereka dipakaikan jubah terang para malaikat, lalu diberi nama “jiwa ruhani”. Kemudian Dia memerintahkan mereka untuk turun ke alam materi, alam air, api, tanah, dan eter, lalu mereka menjadi jiwa manusia. Dari alam inilah Dia menciptakan raga:
“Dan Kami ciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan, lalu darinya Kami bangkitkan kamu sekalian untuk kedua kalinya.” (Thaha: 55)
Setelah semua tahapan ini, Allah merintahkan ruh untuk masuk ke dalam raga, dan atas kehendak-Nya, ia memasukinya:
“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadian dan Kutiupkan ke dalamnya ruh-Ku…” (Shad: 72)
Seiring bergulirnya waktu, ruh-ruh itu mulai terikat kepada daging serta melupakan asal dan sumpah yang mereka ucapkan di alam arwah. Di sana, Allah bertanya kepada mereka, “Apakah Aku Tuhanmu?” dan mereka menjawab, “Ya!” Mereka melupakan janji dan sumber mereka; lupa jalan pulang mereka. Namun, Allah Maha Penyayang, sumber segala pertolongan dan keselamatan bagi makhluk-Nya. Dia mengasihi mereka sehingga diturunkan-Nya kitab-kitab suci dan para rasul untuk mengingatkan mereka akan sumber azali mereka.
“Dan sungguh Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah…” (Ibrahim: 5)
Maksudnya, “Ingatkanlah ruh-ruh itu akan masa-masa ketika mereka masih menyatu dengan Allah.”
Banyak rasul yg telah diutus ke dunia ini, melaksanakan tugas mereka dan kemudian wafat. Tujuannya adalah membawa pesan kepada umat manusia dan menyadarkan mereka dari kelalaian. Tetapi dari masa ke masa, orang yang mengingat-Nya, yang kembali kepada-Nya, yang ingin menyatu kepada sumber Ilahi mereka, dan yg tiba pada sumber azali mereka, jumlahnya semakin sedikit.
Para nabi datang dan pergi, dan pesan Ilahi terus disampaikan hingga datangnya risalah Muhammad saw, rasul terakhir yg menyelamatkan manusia dari kesesatan. Allah mengutusnya untuk membebaskan matahari dari kelalaian. Tujuan-Nya adalah membangkitkan mereka dari kealpaan dan menyatukan mereka dengan Keindahan Abadi, dengan dzat Allah sebagaimana firman-Nya:
“katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajakmu kepada Allah dengan hujjah yang nyata…” (Yusuf: 108)
Jalan yg dimaksud adalah jalan Nabi Muhammad saw.
Rasulullah, dengan maksud menunjukkan tujuan kita, bersabda, “Sahabat-sahabatku laksana bintang di langit. Siapa saja di antara mereka yg kamu ikuti, niscaya kamu akan mendapati jalan yg benar.”
Pandangan ini muncul dari mata jiwa, mata yg dapat membuka sanubari orang yg dekat kepada Allah, yakni para kekasih Allah. Pandangan semacam ini takkan dilahirkan oleh semua pengetahuan lahiriah. Hanya pengetahuan ruhani, yang berasal dan mengalir dari kesadaran Ilahi saja yg dapat melahirkannya: “yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (al-Kahfi: 65)
Untuk meraihnya, manusia harus mencari orang yg memiliki pandangan bathin, yang dibimbing oleh mata hatinya. Guru yg menanamkan ilmu seperti itu haruslah orang yg dekat kepada Allah dan mampu mencapai alam tertinggi.
Wahai kawan, bangunlah dan bertobatlah agar mendapat ilmu dari Tuhanmu. Berjuanglah! Allah memerintahkanmu:
“Dan bersegeralah kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yg luasnya seluas langit dan bumi yg disediakan untuk orang yang bertakwa. (Yaitu) Orang yg menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan yang menahan amarahnya, dan memaafkan orang. Allah menyukai orang yang berbuat kebaikan. (Al ‘Imran: 133-134)
Pilihlah jalan itu dan bergabunglah dengan kafilah ruhani yg menempuh jalan kembali kepada Allah. Sebentar lagi jalan itu akan ditutup, dan takkan kau dapati seorang pun teman seperjalanan. Kita tidak diturunkan ke dunia yg buas dan rusak ini untuk bersantai; kita tidak diutus ke sini hanya untuk makan, minum, dan buang hajat. Nabi kita, Muhammad saw selalu mengamatimu. Ia prihatin melihat keadaanmu. Ia tahu apa yg akan terjadi saat ia bersabda, “Rasa sakitku disebabkan oleh umatku di akhir zaman.”
Hanya ada 2 hal yang kita dapatkan, yaitu yang nyata dan yang gaib; yang nyata berbentuk ajaran-ajaran agama atau yang gaib dalam bentuk hikmah. Allah memerintahkan kita untuk menyelaraskan wujud lahiriah kita dengan ajaran agama dan menata wujud bathinian kita dengan hikmah. Jika yang lahir dan bathin telah menyatu, jika antara agama dan hikmah telah terpadu, kita akan meraih tingkatan hakikat. Perjalanan itu seperti pohon kebenaran yang menumbuhkan daun, lalu kuncup, dan kemudian bunga yang akhirnya menjadi buah.
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian keduanya bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (al-Rahman: 20)
Dua harus menjadi satu. Hakekat takkan bisa diraih hanya melalui pengetahuan inderawi, yang berkaitan dengan alam lahir. Tujuan akhir manusia, yaitu sumber azali, tidak dapat dicapai dengan cara itu. Ibadah sejati membutuhkan agama sekaligus pengetahuan. Allah berfirman:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” (al-Dzariyat: 56)
Dengan kata lain, “Mereka diciptakan agar mengenal-Ku.” Bagaimana mungkin orang yang tidak mengenal Dia dapat sungguh-sungguh memuji-Nya, memohon pertolongan, dan mengabdi kepada-Nya?
Ilmu yg dibutuhkan untuk mengenal-Nya hanya dapat diraih dengan membuka tabir yang menutupi cermin hati, dan membersihkannya hingga berkilau. Barulah kemudian keindahan Ilahi yg selama ini tersembunyi akan memancar darinya.
Allah dalam sebuah hadis Qudsi, berfirman: “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku ingin dikenal. Karena itulah Kuciptakan makhluk.” Jadi, manusia diciptakan oleh Allah agar ia berusaha memperoleh pengetahuan dan mengenal Penciptanya.
Ilmu ilahi terbagi ke dalam dua tingkatan. Tingkatan pertama adalah mengenal sifat-sifat dan manifestasi Allah. Tingkatan kedua adalah mengenal dzat Allah. Pada tingkatan pertama, manusia yg bersifat jasmani merasakan dunia ini maupun akherat. Namun yg menuntun kepada kepada pengetahuan tentang dzat Allah berada dalam ruh suci yang memungkinkan manusia mengetahui rahasia-rahasia akherat. Allah menegaskan ini dalam firman-Nya:
“…dan Kami perkuat dia dengan ruh kudus…” (al-Baqarah: 87)
Orang yang mengenal dzat Allah memperoleh kekuatan ini melalui ruh suci yg telah dianugerahkan kepada mereka.
Kedua jenis pengetahuan ini diperoleh melalui dua macam ilmu, yaitu ilmu bathin dan ilmu lahir. Setiap orang membutuhkan keduanya untuk meraih kebaikan. Rasulullah saw menjelaskan bahwa “Ilmu terbagi ke dalam dua bagian, yaitu ilmu yg berada dalam lidah yg menjadi hujjah atas keberadaan Allah, dan ilmu yg berada dalam hati. Ilmu inilah yang dibutuhkan untuk mewujudkan harapan-harapan kita.”
Manusia sangat membutuhkan ilmu agama untuk mengetahui manifestasi lahir dzat Allah yang tercermin pada alam sifat-sifat dan alam nama-nama. Setelah menguasainya, seseorang harus mendidik bathinnya untuk memahami berbagai rahasia sehingga ia dapat memasuki alam ilmu Ilahi dan mengenal hakekat. Pada tingkatan pertama, ia harus meninggalkan segala sesuatu yg bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan, kaum sufi menganjurkan agar kita meninggalkan segala perilaku dan akhlak yg salah. Caranya adalah melatih diri melaksankan segala hal yg dibenci hawa nafsu, serta melakukan segala hal yg menahan hasrat jasmani. Untuk meraih semua tujuan ini, ia harus melatih dirinya secara sungguh-sungguh agar hawa nafsunya benar-benar lumpuh; tak dapat melihat ataupun mendengar. Lakukanlah semua itu semata-mata karena Allah dan demi keridaan-Nya. Allah berfirman:
“Siapa berharap akan pertemuan dengan Tuhan, hendaklah ia beramal shaleh dan tidak menyekutukan Tuhannya dalam beribadah kepada –Nya.” (al-Kahfi: 110)
Inilah alam tertinggi, alam yang pertama diciptakan. Alam ini adalah sumber azali, tanah air yang didambakan setiap manusia, kampung halaman setiap jiwa. Di alam itulah ruh suci –ruh manusia-diciptakan dalam bentuk yang terbaik.
Hakikat itu telah ditanamkan pada inti hati sebagai amanat Allah yang diserahkan kepadamu untuk kau jaga. Hakikat ini akan mewujud melalui pertobatan dan upaya sungguh-sungguh mempelajari ilmu agama. Keindahannya akan memancar ke permukaan ketika seseorang senantiasa membaca kalimat penyaksian: La ilaha illaLLAAH. Pada mulanya, ia membaca kalimat tauhid itu dengan lidahnya, lalu hatinya menjadi hidup, dan akhirnya ia membacanya secara sirr dalam hatinya.
Shidq (kejujuran) ilmu para waliyyuLLAH
Saudara-saudariku, jadikanlah shidq sbg pusat perhatianmu dan awal smua urusanmu. Dikatakan bahwa shidq adalah pedang ALLAH di bumi. Apa pun yg disentuhnya pasti terpotong.
Ketahulah, shidq punya 2 arti: shidhqul lisan dan shidqul qalb. Shidqul qalb adalah sumber dari shidqul lisan, dan slalu menjadi pegangan dan tujuan kaum sholihin. Shidqul lisan adalah perbuatan yg baik, tp shidqul qalb merupakan sumber dan asal dari shidqul lisan. Shidqul lisan dikatakan baik karena ia menunjukkan kemakmuran bathin dan kesucian jiwa. Kebohongan lisan sgt jelek dan buruk, tp kebohongan hati lebih buruk dan berbahaya karena menunjukan kerusakan bathin dan kehinaan jiwa. Kebohongan hati dapat melahirkan berbagai perbuatan yg lebih buruk dibandingkan dengan kebohongan lisan. Orang yg mudah berbohong dan tidak mempedulikan kehinaan dan kekurangan jiwanya, adalah orang yg rendah. Keadaan ini akan membuatnya jauh dari ALLAH SWT. Seorang manusia yg sempurna tidak rela melihat dirinya penuh kekurangan, meski tidak ada seorangpun yg mengetahuinya. Orang yg suka berbohong akan meremehkan aib dan kekurangannya sendiri, meskipun ia mengetahui aib dan kekurangannya tersebut. Sebagaimana dikatakan bahwa seorang pendusta tidaklah berdusta kecuali karena memandang remeh dirinya.
Oleh karena itu, ketahuilah, bahwa shidqul bathin tidak akan membelokkan hati dari jalan kebenaran, bahkan kejujuran akan menjadi syiarnya. Jika seorang telah membiasakan batinya dgn kebenaran dan shidq, maka lisannya akan sulit untuk diajak berdusta karena:
Lisan adalah penerjemah hati
Lisan hanya akan mengutarakan apa yg terdapat dalam hati. Jika hati shidq, mustahil lisan akan berdusta. Kini jelaslah bagimu, bahwa jika bathin telah dibiasakan dgn kebenaran, maka kebenaran akan menjadi sifat dan karaktristik bathin. Sehingga andaikan ia ingin berbohong, ia tidak mampu melakukannya, sebab yg demikian itu bukan sifat bathinnya.
Smua ucapan dan perbuatnya buruk sesorang ditimbulkan oleh keburukan bathin. Hal ini terjadi karena akal yg lemah, atau hawa yg menguasai dirinya dan menodai nuraninya (sirr). Orang yg dikuasai oleh hawa, setelah sadar akan menyesali semua kelalaiannya. Sedangkan orang yg berakal lemah, tidak akan pernah bisa diharapkan kesembuhan bathinnya. Pahamilah hal ini dan berusahalah untuk bersikap shidq, semoga dengan pertolongan dan kehendak ALLAH kita akan memperoleh kebenaran.
Jangan sampai berbuat kebajikan selain untuk ALLAH.
Nabi SAW bersabda:
"jangan menuntut ilmu untuk membanggakan diri kepada para ulama, mendebat orang-orang bodoh, dan menyombongkan diri dalm majelis. Barang siapaberbuat demikian, tempatnya di neraka, di neraka."
(HR Ibnu Majah dengan matan sedikit berbeda)
Diriwayatkan bahwa ALLAH SWT berfirman dalam salah satu kitab terdahulu,
"sesungguhnya tidak setiap ucapan ahli hikmah KUterima, namunyg Kuperhatikan adalah semangat (ham) dan hawa-nya. Jika semangat dan hawa-nyaditujukan kepada-Ku, maka Aku akan menjadikan diamnya sebagai dzikir dan pandangan matanya dapat mengambil pelajaran dari semua yg disaksikannya."
'Ali ibn Abi Tholib kwh berkata:
"orang yg mengamalkan (ajaran) agama untuk (memperoleh kenikmatan) dunia, maka balasan ALLAH baginya adalah neraka."
Ikhlas adalah landasan amal yg kuat, pondasi yg kokoh dari iman, dan pusat perhatan kaum 'arifin. Tingkat keikhlasan seorang hamba bergantung pada tingkat iman dan ma'rifatnya kepada ALLAH 'AZZA WA JALL. Seseorang yg lemah imannya akan rendah pula tingkat keikhalasannya. Jika seseorang telah memiliki hati yg sucidan bersinar, telah memiliki ikatan yg kuat dengan ALLAH Ta'ala, maka ia akan menjadi penolong ALLAH yg MAha Agung, dan akan ikhlas dalam beramal dan menjauhi riya'.
Para 'arifin berkata:
"keikhlasan seorang hamba timbul dari keyakinan yang kuat, sedangkan riya' timbul dari hati yg rusak dan keyakinan yg lemah."
Ketahuliah, seseorang tidak dapat ikhlas betapapun ia menginginkannya. Sebab keikhlasan bergantung pada tabiat dan perilaku seseorang. Orang yang berjiwa lemah dan berhati rusak akan sulit menghadirkan ALLAH Ta'ala dalam hatinya ketika beramal. Semua ini trjadi karena lemahnya bashirah (mata bathin) meraka. Bashirah mereka seperti mata kelelawar: lemah tidak mampu memandang cahaya matahari. Karena jiwanya lemah dan hatinya rusak, maka dalam berhubungan dengan ALLAH, mereka mengharapkan perhatian makhluq. Adapun orangyg hatinya suci dan bercahaya, mereka selalu bersikap shidq. Mereka tidak mampu melepaskan diri dari sikap shidq meskipun sangat mengingininya, sebab bashirah mereka kuat dan fitrah mereka baik.
Riya' adalah syirik tersembunyi, juga merupakan dosa yg besar yg dapat menjauhkan seorang hamba dari ALLAH Ta'ala.
Nabi SAW bersabda:
"barang siapa yg menginginkan agar dirinya disebut-sebut manusia karena ilmunya, maka ALLAH akan memperdengarkan (keburukan2nya) ke telinga makhluq-Nya, serta merendahkan dan mengecilkannya." (HR Ahmad)
Seorang mukmin itu memperlihatkan amalnya tapi tidak riya'. Ia memperlihatkan amalnya dengan tujuan agar diteladani dan bermanfaat bagi orang lain. Niat seperti ini adalah niat yg baik. Hanya niat yang dpt membedakan antara orang yg memperlihatkan dengan orang yg riya'. Oleh karena itu saudaraku yg semoga ALLAH muliakan, hati-hati jangan sampai berbuat riya' dalam semua amalmu, sebab riya' adalah perbuatan buruk yg dapat merusak amal dan hati.
'Abdullah bin Abi Zakariyya rhm berkata, "Aku mendengar bahwa jiika seseorang berbuat riya' dalam salah satu amalnya, maka perbuatan riya' itu menyebabkan amal-amalnya yg lalu menjadi sia-sia."
Semakin sempurna akal seseorang, semakin baik keadaannya. Ia akan semakin adil dan benar, berusaha mencari kemuliaan dan kesempurnaan. Akibatnya, timbullah konflik antara dirinya dengan dunia. Keluhuran akhlaqnya ini membuatnya merasa hidup seorang diri, terasing di tengah-tengah masyarakat. Ia segera merasa lelah, lalu berusaha melepaskan diri dari dunia yg hina ini untuk memperolaeh kesuksesan akherat.
Jika pengetahuan seseorang tentang ALLAH Ta'ala dangkal dan imannya lemah, maka hatinya akan rusak dan nuraninya (sirr) akan ternoda. Tebalnya hijab yg menabiri dia dgn ALLAH Ta'ala hampir2 membuatnya tidak pernah ikhlas dalam setiap amalnya. Hatinya buta, suka pamer, riya' dan sum'ah. Akibatnya berbagai penjuru keburukan dan bencana datang silih berganti dari segala penjuru. Oleh karena itu, janganlah ia mencela orang lain atas penilaian mereka pada dirinya, itulah bagian akalnya.
Sebenarnya berbagai rahasia dan hal-hal yg tersembunyi pada diri manusia dapat dilihat dgn mata hati. Akan tetapi karena hati manusia buta, ia hanya dapat mengetahui apa yg dapat ia lihat denga matanya, dengar dengan telinganya, atau dengan mengikut pendapat orang lain.
Tersebarnya manusia berhati seperti ini pada kalangan awam telah memperburuk keadaan dan mengacaukan berbagai urusan. Kaum awam lebih senang mengikuti orang yang suka pamer, yang banyak disebut dan diikuti oleh orang-orang bodoh tanpa memandang orang tersebut benar atau salah. Inilah alasannya mengapa kaum arifin lari meninggalkan masyarakat. Mereka marah melihat banyaknya manusia yg berbuat bathil, melihat tempat mereka diambil alih oleh orang-orang yg hina, yaitu orang-orang bodoh yg hanya pandai mengaku-aku. Akibatnya kaum arifin menjadi terasing dan tidak memiliki teman.
Kasihan orang-orang bodoh ini, mereka menghamburkan waktu untuk perbuatan sia-sia dan berbagai khurafat, namun mengira apa yg mereka lakukan ini diajarkan oleh agama. Andaikan mereka menyadari keburukan sikapnya ini, tentu mereka akan menangisi diri mereka sendiri. Pahamilah hal ini dan beramallah dengan benar. Nasihat ini kusampaikan kepadamu dengan hati yg tulus.
Dikatakan bahwa ALLAH Ta'ala menurunkan wahyu kepada DzulQornain as,
"Setelah menciptakan akal, Aku tidak menciptakan makhluq yg lebih Kucintai daripada kebaikan (ma'ruf). Aku akan memberitahukan ciri-cirinya kepadamu. Jika kamu melihat seseorang yg Ku-jadikan cinta pada kebajikan dan Kumudahkan untuk melakukannya, serta Kugerakkan hati manusia untuk mencarinya, maka cintailah dan jadikanlah orang itu sebagai temanmu. Sebab, dia adalah makhluq yg paling Ku-cintai.
Namun jika kamu lihat seseorang yg Kujadikan benci pada kebajiikan dan Kusulitkan untuk melakukannya, maka bencilah dan abaikanlah dia. Sebab, dia adalah makhluq yang paling Ku-benci."
ketahuilah, ada hati yg hidup dan ada pula yg mati. tanda-tanda hati yg hidup adalah bersinarnya cahaya akal sehingga dada menjadi lapang dan gelora nafs menjadi padam, tunduk dan lemah, karena hawanya tidak berfungsi lagi. sebab, jika akal kuat, hawa menjadi lemah.
Nabi saw bersabda:
"setelah menciptakan akal, ALLAH berfirman kepadanya,
'Menghadaplah!'
akal menghadap.
ALLAH berfirman lagi kepadanya,
'Berpalinglah!'
akal berpaling.
kemudian ALLAH berfirman lagi kepadanya,
'Diamlah!'
akal pun diam.
setelah itu ALLAH berfirman,
'Demi Keagungan dan Kebesaran-Ku, Aku tidak akan menciptakan satu ciptaaan pun yg lebih Kucintai darimu. dan Aku pasti akan meletakkanmu pada diri makhluq yg paling Kucintai. denganmu Aku mengambil dan denganmu Aku memberi.'
setelah itu ALLAH menciptakan kebodohan dan berfirman kepadanya,
'Menghadaplah!'
ia berpaling.
ALLAH berfirman kepadanya,
'Berpalinglah!'
ia menghadap.
ALLAH berfirman kepadanya,
'Diamlah!'
ia tak mau berdiam.
ALLAH kemudian berfirman,'Demi Keagungan dan Kebesaran-Ku, tidak akan Kuciptakan satu ciptaan pun yg lebih Kubenci darimu, dan Aku pasti akan meletakkanmu pada makhluq yang paling Kubenci."
adapun hamba yg hatinya hidup, kamu akan melihatnya dicintai masyarakat, tenang hatinya, baik perbuatannya, dan berwibawa penampilannya karena cahaya ALLAH memancar dari tubuhnya. dengan hanya melihat hamba tersebut, jiwa merasakan kenikmatan,
"itulah karunia ALLAH, diberikannya kepada siapa saja yg dikehendaki-Nya. dan ALLAH mempunyai karunia yg besar."
(al hadid 57: 21)
adapun orang yg hatinya mati, kamu akan melihat perbuatannya buruk, tidak pernah merasakan ketenangan dalam keadaan apapun, diliputi kebencian, tunduk pada hawa sehingga orang itu menjadi buta dan tidak dapat melihat aib-aibnya. keadaan ini membuat hati bingung dan tidak tenang, ia seperti seseorang yang rumahnya roboh. karena hati adalah rumah akal, maka akal akan bersedih bila rumahnya roboh.
Hati yang mati
ketahuilah, kematian hati kadang kala diakaibatkan oleh sebab2 pembawaan (naluri), dan terkadang oleh sebab2 buruk lain.
adapun hati yg mati karena sebab2 pembawaan (naluri) adalah hati yg keras, tiadak khusyuk, tak memiliki rasa kasih sayang. manusia yg berhati semacam ini memiliki fitrah yg buruk, tidak mempunyai kesenangan bathin, menyukai keramaian, tidak suka menyendiri, gemar omong kosong dan suka melakukan perbuatan sia-sia. Ia jauh dari ALLAH, tak memiliki kecakapan dalam ilmu-ilmu agama, nasehat dan petunjuk hampir2 tak bermanfaat baginya, sbagaimana dikatakan:
Jika hati keras, nasehat akan sia-sia
Sebagaimana tanah tandus
hujan pun tak berguna
hati yg mati adalah hati yg pemiliknya sering melakukan maksiat dan ketaatannya sedikit.
Hati yang hidup
seseorang yg hatinya hidup akan bersikap penuh kasih sayang, lemah lembut, lunak, ramah, dekat dgn masyarakat, mencintai dan dicintai. kau akan melihat orang yg berhati macam ini bathinnya merasakan kenikmatan, suka menyendiri, tidak suka omong kosong, menjauhi keburukan dan pertentangan. berbahagialah dia karena hatinya mnjadi tempat jatuhnya pandangan ALLAH, perbendaharaan hikmah dan gudang rahasia-rahasia-Nya(asrar).
diriwayatkan bahwa ALLAH berfirman dalam beberapa kitab terdahulu,
"sungguh langit dan bumi tak mampu menampung-Ku (mengenal[berma'rifat]) dan terlalu sempit untuk menampung-Ku (mengenal[berma'rifat]), hanya hati hamba-Ku yg beriman dan tenang yang mampu menampung-Ku (mengenal[berma'rifat])".
Hati yang hidup merupakan rahasia alam (sirrul 'alam), sumber keajaiban dan wadah rahasia-rahasia ilahiah (asrarul ilahiyyah), di dalamnya sering terjadi peristiwa-peristiwa yg menakjubkan. begitu pula dalam nafs, bisa terjadi peristiwa-peristiwa serupa. hanya saja terdapat perbedaan besar antara hati dan nafs: keduanya saling bertentangan, semua yg datang dari hati itu baik, sedangkan semua yg timbul dari nafs itu buruk. namun perilaku orang yg dikuasai nafs tampak seperti orang yg memiliki hati. orang yg memiliki hati perbuatannya baik dan mulia. sedangkan orang yg dikuasai nafs perbuatannya buruk sperti syaithon, memiliki pengaruh yg nyata bagi timbulnya berbagai bencana dan fitnah. ALLAH menjadikan bencana dan fitnah tersebut sebagai ujian bagi hamba-Nya sesuai kehendak-Nya.
NEGERI KEBENARAN
Ada seseorang yang yakin bahwa waktu jaga sehari-hari, sebagaimana yang kita saksikan, tidak mungkin sempurna.
Ia pun pergi mencari Guru Zaman yang sejati. Banyak kitab-kitab yang telah dibacanya dan banyak kalangan-kalangan yang telah diterjuninya, sehingga ia telah dapat mendengar ucapan-ucapan dan menyaksikan perbuatan-perbuatan dari berbagai guru. Ia melaksanakan perintah-perintah yang keras beserta latihan-latihan spirituil yang sangat menarik hatinya.
Ia sangat gembira karena mendapatkan pengalaman-pengalaman. Namun kadang-kadang ia bingung karena ia sama sekali tak tahu tingkatan apa yang telah dicapainya dan dimanakah atau kapankah pencariannya itu akan berakhir.
Pada suatu hari ketika sedang mengkaji segala tingkah lakunya ia mendapati dirinya telah berada di dekat rumah kediaman manusia-manusia arif bijaksana yang sangat terkenal. Di dalam rumah itu ia bertemu dengan Khaidir, penunjuk-jalan rahasia yang menunjukkan jalan ke arah kebenaran.
Khaidir membawanya ke suatu tempat di mana ia dapat menyaksikan manusia-manusia yang sedang sangat berduka dan sengsara. Kepada mereka ia bertanya, siapakah mereka itu sebenarnya.
Mereka menjawab: "Kami adalah manusia-manusia yang tidak mengkuti ajaran-ajaran yang sejati, yang tidak setia kepada tugas yang dibebankan ke atas pundak kami, dan yang [hanya] memuliakan guru-guru yang kami angkat sendiri."
Kemudian ia dibawa pula oleh Khaidir ke suatu tempat di mana setiap orang mempunyai wajah yang berseri-seri dan berbahagia. Kepada mereka ia bertanya, siapakah mereka itu sebenarnya.
Mereka menjawab: "Kami adalah manusia-manusia yang tidak menuruti Petunjuk-petunjuk Jalan yang sebenarnya."
"Tetapi bila engkau telah mengabaikan petunjuk-petunjuk itu mengapakah engkau bisa berbahagia?" bertanya si pengelana.
"Karena kami lebih senang memilih kebahagiaan daripada kebenaran," jawab mereka, "seperti orang-orang yang memilih guru-guru mereka sendiri sebenarnya memilih kesengsaraan pula."
"Tetapi bukankah kebahagiaan itu adalah cita-cita yang paling tinggi dari ummat manusia?" bertanya pula si pengelana.
"Tujuan yang terakhir dari ummat manusia adalah kebenaran. Kebenaran itu lebih daripada kebahagiaan. Seseorang yang telah mendapatkan kebenaran dapat memiliki perasaan-perasaan yang bagaimanapun menurut keinginannya atau membuang semua perasaan-perasaan itu. Kami telah berpura-pura bahwa kebenaran itu adalah kebahagiaan dan kebahagiaan itu adalah kebenaran dan orang-orang percaya kepada kami. Dan hingga saat inipun engkau sendiri menyangka bahwa kebahagiaan itu pastilah sama dengan kebenaran. Tetapi kebahagiaan akan memenjarakan dirimu sebagaimana yang dilakukan oleh kesengsaraan."
Kemudian sang pengelana menemukan dirinya telah berada kembali di halaman itu dengan Khaidir di sisinya.
"Aku akan mengabulkan sebuah permintaanmu," kata Khaidir.
"Aku ingin mengetahui mengapa aku telah gagal dalam mencari dan bagaimana aku dapat berhasil," jawab si pengembara.
"Engkau telah menyia-nyiakan seluruh hidupmu," kata Khaidir, "karena engkau adalah manusia pembohong. Engkau sebenarnya mencari kepuasan pribadi walaupun engkau [sebenarnya] dapat [memilih] mencari kebenaran."
"Namun aku sedang mencari kebenaran itu ketika aku bertemu denganmu. Dan hal ini tak terjadi terhadap setiap orang."
"Ya, engkau telah dapat menemuiku karena ketulusan hatimu cukup besar untuk menginginkan kebenaran demi kebenaran itu sendiri walaupun untuk sesaat saja. Ketulusan hatimu yang sesaat itulah yang menyebabkan aku datang untuk memenuhi himbauanmu."
[sesaat kemudian] Kini si pengelana merasakan keinginan yang menggelora untuk menemui kebenaran meskipun ia akan tenggelam. Namun Khaidir telah beranjak pergi dan ia pun mengejarnya.
"Jangan engkau ikuti aku ", seru Khaidir, "aku akan kembali ke dunia yang penuh tipu, karena disitu[-lah] aku seharusnya berada untuk melakukan tugasku."
Ketika si pengelana melihat ke sekelilingnya, sadarlah ia bahwa ia tak lagi berada di halaman rumah sang guru arif bijaksana tetapi sedang berada di tengah-tengah negeri kebenaran.
Jiwa bertakhta dalam Raga
Tempat ruh manusia, nyawa kehidupan, di dalam raga adalah dada. Tempat itu dihubungkan dengan indra. Urusan yg dihadapinya adalah agama dan tugasnya adalah mengikuti ajaran-ajaran Allah, yg bertujuan memelihara alam nyata agar tetap selaras dan teratur. Setiap jiwa melaksanakan kewajiban yg ditetapkan oleh Allah atas dirinya serta tidak mengaku-aku bahwa amal perbuatannya berasal dari dirinya sendiri. Sebab, ia tak terpisahkan dari Allah; tak ada pemisah antara “aku” dan Allah dalam amal perbuatan dan ibadahnya:
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, kerjakanlah amal saleh dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya. “ (al-Kahfi: 110)
Allah Maha Esa. Dia mencintai setiap yg esa dan tunggal. Dia menghendaki agar semua pengabdian dan amal saleh, yg dipandang-Nya sebagai ibadah, hanya untuk-Nya. Karena itu, jangan memedulikan rasa suka atau benci orang lain terhadap perbuatannya. Selain itu jangan lakukan perbuatan dengan tujuan meraih sesuatu yg bersifat duniawi. Semua amal harus dilakukan hanya demi dan untuk Allah. Kemampuan luar biasa, seperti melihat tanda-tanda keberadaan Allah—manifestasi-manifestasi sifat-sifat-Nya, ketunggalan dalam kemajemukan, hakikat di balik penampakan—dan kedekatan kepada Sang Pencipta merupakan buah amal saleh dan keikhlasan ibadah. Tetapi semua ini masih berkaitan dengan kehidupan ragawi, dari ujung kaki hingga ke langit. Kemampuan luar biasa seperti berjalan di atas air, terbang di angkasa, menempuh jarak yg jauh dalam waktu singkat, mendengar atau melihat dari jarak yg sangat jauh, mengetahui pikiran orang lain, dan lain-lain, juga bersifat duniawi. Seseorang boleh mengharapkan balasan kebaikan di akherat—istana surga, pelayan2 belia, wanita yg selalu perawan sebagai istri, susu, madu, anggur dan semua nikmat surga lainnya—atas amal salehnya di dunia. Namun, semua nikmat itu hanyalah karunia surga tingkatan terendah, yaitu surga duniawi.
“Jiwa aktif” bertempat di dalam hati. Ia bertugas untuk mengetahui jalan ruhani. Ia terhubung dengan empat Asma’ul Husna yg pertama. Seperti dua belas nama Allah lainnya, keempat nama ini pun tanpa suara maupun huruf sehingga tak dapat dilafalkan. Allah berfirman:
“Dan katakanlah: “Serulah Allah atau serulah al-Rahman. Dengan nama mana pun kauseru, Dia memiliki nama-nama yg indah (al-Asma’ul Husna).” (al-Isra’: 110)
“Allah memiliki nama-nama yg indah (al-Asma’ul Husna) maka serulah Dia dengannya.” (al-A’raf: 180)
Banyak firman Allah yg merupakan pedoman utama bagi manusia unuk mengetahui nama-nama Allah. Ini merupakan pengetahuan tentang wujud bathin seseoarang. Jika ia dapat meraihnya, niscaya ia dapat meraih maqam makrifat, yakni ketika ia mengetahui Nama Yang Esa secara sempurna.
Nabi Muhammad saw bersabda, “Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama. Barang siapa mengenalnya, ia akan masuk surga.”
Dalam hadits yg lain ia bersabda, “Ilmu itu satu. Kemudian orang-orang berilmu membuatnya menjadi seribu.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa hanya ada satu nama bagi dzat yg tunggal, yg kemudian terpantulkan menjadi seribu sifat dalam diri orang-orang yg menerimanya.
Pada dasarnya dua belas nama Allah itu bersumber dari kalimat syahadat: La ilaha illallah—tidak ada Tuhan selain Allah. Kedua belas nama itu diwakili oleh setiap huruf dari penggalan kalimat tauhid ini.
Allah telah menetapkan satu nama pada tiap huruf dalam kalimat itu. Dan keempat alam yg dilewati jiwa juga memiliki namanya masing-masing Allah mengukuhkan hati para pecinta dalam cinta-Nya. Dia berfirman:
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yg beriman dengan ucapan yg teguh di kehidupan dunia dan akherat…” (Ibrahim : 27)
Kemudian Dia menagurehai mereka kedekatan kepada-Nya. Dia menanamkan pohon tauhid dalam hati mereka. Akhirnya menancap di lapis ketujuh bumi yg kita pijak dan cabangnya menjulang ke tujuh lapis langit hingga mencapai ‘Arasy dan mungkin lebih tinggi lagi. Allah berfirman:
“Tidaklah kauperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yg baik seperti pohon yg baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (Ibrahim: 24)
“Jiwa aktif” berada di dalam hati yg hidup pusat perhatiannya adalah alam malakut. Ia dapat melihat surga alam ini, para penghuninya, cahaya, semua malaikat yg ada di sana. Percakapannya adalah percakapan batin, tanpa kata dan tanpa suara. Pikirannya selalu terarah kepada hakikat makna rahasia. Tempat kembalinya di akhirat adalah Jannah Na’im, surga yg berisi segala nikmat dari Allah.
Tempat “jiwa sultan”, satu tempat ia menjalankan pemerintahannya, adalah pusat atau inti hati. Tugasnya adalah mencapai ma’rifat, dan ia harus menangani pengetahuan tentang semua bentuk ma’rifat, yg merupakan sarana pengabdian kepada Allah. Rasulullah saw mengatakan bahwa “Ilmu terbagi ke dalam dua bagian; bagian yg berada pada lidah manusia, yg meneguhkan keberadaan Allah, dan bagian yg ada dalam hati. Ilmu itulah yg mutlak dibutuhkan untuk meraih tujuan manusia.” Buah ilmu yg sejati hanya bisa dicapai oleh aktivitas hati. Rasulullah saw bersabda, “Al-Qur’an memiliki makna lahir dan makna batin.” Allah mewahyukan Al-Qur’an dalam sepuluh lapis makna. Lebih tinggi tingkatan maknanya, lebih besar manfaatnya, karena lebih dekat kepada hakikat. Kedua belas nama Allah adalah laksana dua belas mata air yg memancar dari batu yg dipukul Nabi Musa a.s. dengan tongkatnya:
”Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Lalu memancarlah darinya dua belas mata air. Sungguh setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing)…” (al-Baqarah: 60)
Ilmu lahir laksana air hujan, yg datang dan pergi, sedangkan ilmu batin laksana mata air yg tak pernah kering. Allah berfirman:
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah) bagi mereka adalah bumi yg mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian maka darinya mereka makan.” (Yasin: 33)
Allah telah menciptakan sebutir benih di langit yg kemudian menjadi kekuatan hewani dalam diri manusia. Dia pun telah menciptakan benih di alam jiwa (‘alam al-anfus), yg merupakan sumber tenaga, makanan bagi jiwa. Benih itu disirami oleh mata air ilmu. Rasulullah saw bersabda, “Jika seseorang jujur dan suci selama empat puluh hari, niscaya sumber ilmu akan memancar dari hatinya menuju lidahnya.”
Jiwa sultan akan merasakan takjub dan cinta setelah menyaksikan manifestasi keindahan, karunia, dan kesempurnaan Allah:
“yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yg sangat kuat; yg memiliki akal yg cerdas. Dan (Jibril) menampakkan diri dalam rupa yg asli, sedang ia berada di ufuk yg tinggi. Kemudian ia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Jadilah ia dekat (kepada Muhammad sejarak) dua busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu ia sampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yg telah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yg telah dilihatnya.” (al-Najm: 5-11)
Dengan ungkapan indah Rasulullah saw menjelaskan keadaan ini, “Mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.” Mukmin pertama dalam hadits ini adalah hati orang beriman yg sempurna, dan mukmin kedua, yg tercermin pada hati orang yg beriman, adalah Allah Ta’ala, karena Dia menamai diri-Nya sendiri sebagai “Mukmin”:
“Dialah Allah yg tiada tuhan selain Dia … yg memberi keamanan (al-mu’min) …” (al-Hasyr: 23)
Rumah jiwa sultan di akherat adalah firdaws—surga samawi.
Ruh suci bertahta di pusat hati, yg juga menjadi tempat Dia menyimpan rahasia-Nya (sirr). Dalam sebuah hadits qudsi Allah menjelaskan, “Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya.” Ruh suci berusaha meraih hakekat melalui tauhid. Ia membawa kemajemukan ke dalam ketunggalan dengan terus-terusan melafalkan Yang Esa dalam bahasa rahasia Ilahi—bukan bahasa lahir yg dapat didengar telinga.
“Dan jika kaukeraskan ucapanmu, sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yg lebih tersembunyi.” (Thaha: 7)
Hanya Allah yg mendengar bahasa ruh suci, dan hanya Dia yg mengetahui keadaannya.
Keunggulan ruh suci adalah dapat melihat makhluk yg pertama diciptakan—keindahan Allah. Ia memiliki rahasia penglihatan. Baginya, melihat dan mendengar adalah satu. Baginya, tak ada perbedaan dalam segala yg dilihatnya. Baginya, kekuatan dan murka Allah menyatu dengan sifat keindahan, karunia dan kasih sayang-Nya.
Ketika manusia menemukan tujuannya, rumah nya, seperti ketika menemukan akal sebab, pikiran yg dulu mengendalikannya tunduk kepada titahnya,: hatinya berlabuh dalam keterpesonaan, lidahnya menjadi kelu. Ia tak memiliki daya untuk menyampaikan kabar tentang semua keadaan ini, karena tak ada sesuatu pun yg menyamai Allah.
Jika penjelasan ini didengar oleh orang-orang yg mengetahui, biarkan mereka memahami lebih dahulu tingkatan pengetahuan mereka; biarkan mereka mencurahkan segenap perhatian kepada realitas sejati segala sesuatu yg mereka ketahui sebelum berusaha melihat ke ufuk yg lebih jauh, dan sebelum berupaya mencapai tingkatan baru. Dengan begitu, mereka dapat meraih tingkatan pengetahuan mengenai karunia Ilahi. Alih-alih mengingkari penjelasan yg telah kami sampaikan, mudah-mudahan mereka berusaha mencari pengetahuan untuk meraih ketunggalan, keesaan. Itulah langkah penting yg harus mereka tempuh.
Dari Kesempurnaan Menuju Kehinaan
Di alam eksistensi yang pertama, Allah menciptakan ruh sebagai makhluk yg paling sempurna. Lalu Dia berkehendak mengirimnya ke alam yg lebih rendah agar mempelajari cara kembali kepada hakekat Yang Mahakuasa dan mendekat kepada-Nya. Dia mengutusnya kepada tingkatan para rasul dan wali, para pecinta dan sahabat. Pada mulanya, Allah mengirimnya ke alam akal sebab, alam keesaan, jiwa universal, alam nama-nama dan sifat-sifat Tuhan, dan alam hakekat Muhammad. Sebelum menempuh perjalanannya, ruh telah dibekali benih tauhid. Ketika melewati alam ini, ia diberi pakaian cahaya Ilahi dan diberi nama jiwa sultan. Ketika turun ke alam malakut, ia diberi nama “jiwa aktif”. Ketika turun ke alam materi, ia diberi pakaian materi untuk menyempurnakan wujudnya. Ia dibungkus dengan pakaian materi untuk menyelamatkan dunia, karena jika alam materi berhubungan langsung dengan ruh suci, pasti ia hancur binasa. Di alam inilah ia mengenal kehidupan--nyawa manusia.
Setelah turun ke alam yg terendah ini ia harus berupaya meraih kedekatan kepada Allah meski telah dibungkus daging dan tulang. Dengan menggunakan hati yg ada dalam jasadnya, ruh harus menanam dan menumbuhkan pohon tauhid. Akar pohon itu tertancap kokoh; cabangnya memenuhi ruang rahmat, dan di sana dengan ridha Allah lahirlah buah tauhid. Kemudian dalam bumi hati, ruh menanam benih agama dan bertekad menumbuhkan pohon agama. Agar menghasilkan buah tauhid, setiap cabang pohon itu harus mendekatkan diri kepada Allah.
Allah menciptakan jasad sebagai rumah jiwa, dan masing-masing jiwa ini memiliki nama yg berbeda-beda. Dia telah menciptakan ruang yg serasi dalam bagi jiwa di dalam jasad. Dia menempatkan jiwa manusia, ruh kehidupan, antara daging dan darah. Dia letakkan ruh di pusat hati. Di sanalah Allah menciptakan ruang materi yg halus untuk menjaga rahasia hubungan antara Allah dan hamba-Nya. Ruh-ruh ini berada pada berbagai bagian jasad, dengan tugas dan urusan yg berbeda-beda. Masing-masing bagian, laksana orang yg berjual beli, menghasilkan beragam keuntungan. Setiap upaya mereka selalu membawa mereka pada karunia dan rahmat Allah.
“…dan menafkahkan sebagian rezeki yg Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi dan terang-terangan. Mereka itu mengharapkan perdagangan yg tiada merugi. “ (Fathir: 29)
Setiap orang harus mengetahui tugas dan tujuannya di alam eksistensinya. Ia harus memahami bahwa ia tidak dapat mengubah apa pun yg telah ditetapkan atas dirinya. Kepada orang yg ingin mengubah takdirnya, yg terbelenggu oleh dunia ini dan segala hasratnya, Allah bertanya:
“Apakah dia tidak tau jika apa yg ada di dalam kubur dibangkitkan dan apa yg ada di dalam dada diwujudkan?” (al-‘Adiyat: 9-10)
“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya seperti (tetapnya) kalung pada lehernya.” (al-Isra’: 13)
Ilmu dan Kesempurnaan Manusia
Ilmu dan kesempurnaan manusia terbagi ke dalam dua belas bagian, begitu pun ilmu batin. Semua bagian ilmu ini dianugerahkan kepada orang dan hamba Allah yg sangat istemewa sesuai dengan potensi dan kemampuan mereka.
Aku sendiri membagi ilmu itu ke dalam empat bagian. Bagian pertama berkaitan dengan kewajiban dan aturan agama mengenai segala sesuatu dan segala perbuatan di dunia ini. Bagian kedua berkaitan dengan makna batin dan sebab di balik semua ajaran ini. Bagian ini disebut tasawuf—pengetahuan konseptual mengenai segala sesuatu yg bersifat zhanni (tidak pasti). Bagian ketiga adalah falsafah, yg mengkaji rahasia hakekat nurani. Bagian keempat membahas hakikat batin ilmu ini, yakni ilmu mengenai kebenaran. Manusia sempurna harus mempelajari dan mengetahui semua ilmu ini dan mencari jalan untuk meraihnya.
Rasulullah saw bersabda, “Agama adalah pohon, tasawuf adalah cabangnya, falsafah adalah daunnya, kebenaran adalah buahnya. Dan semua itu terkandung dalam Al-Qur’an, dengan tafsir, uraian, dan takwilnya.”
Dalam kitab al-Majma’, kata tafsir—penjelasan, dan ta’wil—tafsir dengan analogi didefinisikan sebagai berikut: “Tafsir Al-Qur’an merupakan penjelasan untuk memberikan pemahaman kepada kaum awam, sedangkan takwil adalah uraian terhadap makna batin melalui ilham yg diterima seorang mukmin sejati, takwil hanya diperuntukkan bagi hamba Allah yg istimewa, yg berpendirian teguh, setia kepada cita-cita ruhani, dan menguasai ilmu untuk memilah antara yg benar dan yg salah. Layaknya pohon kurma yg akarnya menghujam ke bumi, kaki mereka berdiri kokoh di alam materi ini; dan bagaikan pohon kurma yg rantingnya menjulang ke angkasa, hati dan pikiran mereka pun menjulang meraih ilmu samawi.” Berkat rahmat Allah, keteguhan yg tanpa keraguan bertahta di pusat hati mereka. Tingkat keteguhan ini sejajar dengan paruh kedua kalimat tauhid: la ilaha illallaah—illallah, “kecuali Allah”, yg menegaskan keesaan.
“Dialah yg menurunkan Al-Kitab kepadamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yg muhkamat, itulah pokok-pokok Al-Qur’an dan yg lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Orang yg hatinya condong kepada kesesatan mengikuti sebagian ayat-ayat yg mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yg mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang yg mendalam ilmunya beriman kepada ayat-ayat yg mutasyabihat, “semuanya dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) kecuali orang yg berakal.” (al ‘Imran: 7)
Seorang mufasir menjelaskan ayat ini bahwa seandainya pintu ayat ini dibuka, semua pinu rahasia alam batin juga akan dibuka.
Jamba sejati wajib melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia juga wajib melawan hawa nafsu dan syahwatnya. Nafsu melawan agama dengan memunculkan khayalan yg bertentangan dengan kenyataan. Pada tataran tasawuf, nafsu yg licik membujuk manusia untuk menerima dan mengikuti sebab-sebab dan konsep-konsep yg seolah-olah benar, mengikuti pesan kenabian dan ucapan para wali yg tidak sahih, serta mengikuti para guru atau pemikiran yg sesat. Pada tataran falsafah, nafsu selalu berupaya mendorong manusia untuk mengaku-aku sebagai wali atau bahkan Tuhan—dosa terbesar karena menjadi sekutu bagi Allah:
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yg menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya…” (al-Furqan: 43)
Berbeda dengan ketiga tingkatan ilmu yg pertama, nafsu maupun setan tidak akan sampai pada tataran kebenaran, atau hakikat—bahkan para malaikat pun tak dapat menyentuhnya. Siapa pun, kecuali Allah, yg mendekati kawasan itu akan hancur menjadi debu, sebagaimana dikatakan oleh Jibril a.s, kepada Nabi Muhammad ketika ia tiba di tepi kawasan itu, “Jika aku melangkah satu langkah lagi, aku akan hancur menjadi debu.”
Hamba sejati Allah terlindungi dari setan dan perlawanan hawa nafsunya karena ia memiliki perisai keikhlasan dan kesucian.
“Iblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu, akan kusesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yg ikhlas.” (Shad: 82-83)
Manusia takkan bisa menapai hakikat kecuali dengan menyucikan dirinya, karena sifat-sifat duniawi tidak akan meninggalkannya hingga ia meraih hakikat. Itulah kebenaran dan kebaikan sejati. Ketika ia mencapai ilmu tentang hakikat Allah, semua kebodohannya sirna. Tingkatan ini takkan bisa dicapai melalui pembelajaran. Hanya Allah yg dapat mengajarkannya, tanpa perantara. Dialah satu-satunya guru yg memberikan pengetahuan seperti yg diberikan kepada Khidir. Orang yg dianugerahi pengetahuan akan meraih tingkatan makrifat sehngga ia mengenal Tuhannya dan menyembah-Nya.
Ia akan dapat melihat ruh suci dan kekasih Allah yakni Nabi Muhammad saw, yg akan berbincang dengannya mengenai segala sesuatu, dari awal hingga akhir. Semua nabi dan orang suci akan memberinya kabar gembira mengenai janji persatuan dengan Sang Kekasih. Allah menguraikan keadaan ini dalam ayat Al-Qur’an:
“Dan siapa saja yg menaati Allah dan rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang yg dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang saleh. Dan mereka itulah teman yg sebaik-baiknya. “ (al-Nahl: 69)
Orang yg tak dapat menemukan ilmu itu dalam dirinya tidak akan menjadi orang bijak meskipun membaca jutaan kitab. Hasil yg dapat diharapkan dari pencapaian ilmu lahir tentang berbagai hal yg bersifat pasti adalah surga: semua yg akan dilihatnya di sana adalah manifestasi sifat-sifat Allah dalam bentuk cahaya. Sesempurna apa pun pengetahuannya mengenai hal-hal yg nyata dan abstrak takkan bisa membantunya memasuki kawasan suci, yg dekat kepada Allah. Seseorang harus terbang menuju ke sana. Agar bisa terbang, ia butuh dua sayap. Hamba sejati Allah adalah orang yg terbang ke sana dengan sayap ilmu lahir dan batin, tak pernah berhenti di tengah jalan, dan tak pernah terhambat. Dalam sebuah hads qudsi, Allah berfirman:
“Hamba-Ku, jika kau ingin berada di dekat-Ku, jangan menaruh perhaian terhadap dunia ini, atau alam malakut, atau bahkan alam yg lebih tinggi tempat kau menerima sifat-sifat ketuhanan-Ku.”
Alam materi ini adalah godaan atau setan bagi orang berilmu. Alam malakut adalah godaan bagi kaum bijak, dana alam sifat-sifat Ilahi adalah godaan bagi ahli hakikat. Siapa saja yg merasa puas pada salah satunya, ia tertolak dari karunia Allah yg akan membuatnya lebih dekat kepada-Nya. Jika seseorang terperdaya oleh semua godaan ini, ia akan berhenti, tak bisa meneruskan langkah, dan tak kuasa bergerak ke tempat yg lebih tinggi lagi. Meskipun bertujuan unuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta ia takkan pernah bisa mencapainya. Ia terhalang; ia hanya memiliki sebelah sayap.
Namun, para ahli hakikat menerima karunia itu dari Allah; anugrah yg tak dapat dilihat mata, tak didengar telinga, atau tak terlintas dalam hati. Itulah surga kedekatan; anugerah keintiman. Di sana tak ada istana yg terbuat dari permata, juga tak ada pelayan-pelayan yg cantik belia. Setiap orang harus mengetahui bagiannya dan tak menghendaki apa yg bukan haknya. Hadrah ‘Ali r.a. berkata, “Semoga Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada orang yg mengetahui bagiannya, yg sadar untuk tetap berada di batas-batasnya, yg mengendalikan lisannya, dan yg tidak menghabiskan usianya dalam kesia-siaan.”
Orang yg mengetahui harus menyadari bahwa anak ruh yg dilahirkan di dalam hatinya merupakan hakikat sejati kemanusiaan. Ia harus mendidik anak hati ini dengan ajaran tauhid dan melatihnya agar senantiasa mengingat keesaan, menjauhkan diri dari alam materi dan kemajemukan ini, serta mencari alam ruhani, alam rahasia, yg hanya ditempati oleh dzat Alalh. Pada hakikatnya, tak ada tempat lain selain tempat itu; tempat yg tak memiliki awal maupun akhir. Sang anak hati mencapai kawasan yg tak terbatas itu seraya melihat segala sesuatu yg tak pernah dilihat siapa pun, yg tak terkatakan lisan siapa pun, dan yg tak pernah diceritakan siapa pun. Tempat itu adalah tanah air orang yg telah mencampakan diri mereka sendiri merasakan kebersatuan dengan Tuhan, mata keesaan. Ketika melihat keindahan dan karunia Tuhan, wujud mereka yg fana tak lagi bersisa. Seseorang yg menatap matahari takkan bisa melihat sesuatu yg lain. Jika keindahan dan karunia Allah mengejawantah, masih adakah diri? Tentu tak ada.
Nabi ‘Isa a.s. bersabda, “Manusia harus dilahirkan dua kali untuk mencapai alam malakut, bagaikan burung yg dilahirkan dua kali.” Kelahiran yg kedua adalah kelahiran makna dari perbuatan, kelahiran jiwa dari daging. Kemungkinan itu ada dalam diri manusia. Itulah rahasia manusia. Ia lahir dari persekutan ilmu agama dengan kesadaran akan hakikat, sebagaimana semua anak lahir karena perpaduan dua jenis air.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yg bercampur; Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu, Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (al-Insan: 2)
Ketika makna mengejawantah dalam wujud, ia dapat melewati bagian yg dangkal menuju samudra penciptaan dan menyelam di kedalaman perintah Allah. Dibandingkan alam ruhani, seluruh alam materi ini hanyalah seperti setetes air samudra.
Langganan:
Postingan (Atom)