Laman

Rabu, 15 Januari 2014

Jadilah Kunci Kunci Kebaikan


Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.
LAFAZ HADÎTS:
ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ:
ﺇِﻥَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻔَﺎﺗِﻴﺢَ ﻟِﻠْﺨَﻴْﺮِ ﻣَﻐَﺎﻟِﻴﻖَ ﻟِﻠﺸَّﺮِّ ﻭَﺇِﻥَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻔَﺎﺗِﻴﺢَ ﻟِﻠﺸَّﺮِّ
ﻣَﻐَﺎﻟِﻴﻖَ ﻟِﻠْﺨَﻴْﺮِ ﻓَﻄُﻮﺑَﻰ ﻟِﻤَﻦْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﻔَﺎﺗِﻴﺢَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻭَﻳْﻞٌ ﻟِﻤَﻦْ
ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﻔَﺎﺗِﻴﺢَ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﺪَﻳْﻪِ
Dari Anas bin Mâlik radhiallâhu ‘anhu, dia
berkata, “Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam
pernah bersabda, “Sesungguhnya di antara
manusia ada kunci-kunci pembuka kebaikan dan
gembok-gembok penutup keburukan. Di antara
manusia ada gembok-gembok penutup kebaikan
dan kunci-kunci pembuka keburukan.
Beruntunglah orang-orang yang Allah letakkan
kunci-kunci pembuka kebaikan di tangannya dan
celakalah orang-orang yang Allah letakkan kunci-
kunci pembuka keburukan di tangannya.”
TAKHRÎJ:
Hadîts ini diriwayatkan oleh Ibnu Mâjah di Sunan-
nya di Pembukaan Kitab Sunan Ibnu Mâjah, bab
Man Kâna miftâhan lilkhair (no. 237) dan Ibnu Abi
‘Âshim di As-Sunnah (no. 232).
Hadîts ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albâni di
Ash-Shahîhah (1332) dan Dzhilâlul-jannah
(297/299) dengan syawâhid-nya.
SYARH (PENJELASAN) HADÎTS:
Sesungguhnya di antara manusia ada (pemilik)
kunci-kunci pembuka (pintu-pintu) kebaikan dan
(pemilik) gembok-gembok penutup (pintu-pintu)
keburukan (yaitu orang-orang yang dijadikan oleh
Allah sebab, dimana orang-orang lain bisa
mengerjakan kebaikan dan meninggalkan
keburukan, seperti ulama, pemegang kekuasaan,
mujahid dll). Di antara manusia ada (pemilik)
gembok-gembok penutup (pintu-pintu) kebaikan
dan (pemilik) kunci-kunci pembuka (pintu-pintu)
keburukan (yaitu orang-orang yang dijadikan oleh
Allah sebab, dimana orang-orang tidak bisa
mengerjakan kebaikan dan tidak bisa
meninggalkan keburukan).[1]
FAIDAH-FAIDAH Yang berhubungan dengan
HADÎTS
Sesungguhnya Allâh-lah yang membuka dan
menutup segala segala sesuatu yang dikehendaki-
Nya. Allah memiliki ism (nama) Al-Fattâh. Di
dalam Al-Qur’an dan Al-Hadîts Al-Fattah memiliki
tiga makna, yaitu: Al-Hâkim (Yang Maha
Memutuskan Perkara), An-Nâshir (Yang Maha
Menolong) dan Al-Fattâh (Yang Maha Membuka).
[2]
Berkata Ibnul-Qayyim rahimahullâh, “Kunci semua
kebaikan adalah keinginan bertemu dengan Allah
dan mendapatkan akhirat (surga). Kunci semua
keburukan adalah cinta dunia dan panjangnya
angan-angan. Mengetahui hal ini adalah suatu hal
yang sangat agung dan termasuk ilmu yang paling
bermanfaat di antara ilmu-ilmu yang lain, yaitu
mengetahui kunci-kunci kebaikan dan keburukan.
Tidaklah ada orang-orang yang mengenal dan
memperhatikan hal ini kecuali orang-orang yang
sangat beruntung dan mendapatkan taufik”[3]
Berkata Syaikh Abdurrazzâq Al-’Abbâd
hafidzhahullah, “Ketahuilah! Orang-orang yang
terjatuh ke dalam kemaksiatan tidak akan
membiarkan dirinya terjatuh sendirian di dalam
kemaksiatan. Dia akan mengajak orang lain
bersamanya. Oleh karena itu, berhati-hatilah!”[4]
Pintu-pintu kebaikan itu banyak sekali. Barang
siapa yang telah dibukakan salah satu pintu
kebaikan maka janganlah mengejek atau
merendahkan orang lain yang telah dibukakan
pintu kebaikan yang lain. Ada kisah yang menarik
sekali, “Abdullah Al-’Umari seorang ahli ibadah
mengirim surat ke Imam Mâlik (yang isinya)
menyarankan agar sang Imam menyendiri (dari
orang-orang) dan beramal. Maka sang Imam pun
membalas surat tersebut, “Sesungguhnya Allah
membagi amalan-amalan sebagaimana membagi
rezeki. Banyak orang yang dibukakan baginya
pintu shalat, tetapi tidak dibukakan baginya pintu
puasa. Begitu pula yang lainnya, dibukakan pintu
sedekah tidak dibukakan pintu puasa. Dan yang
lainnya lagi, dibukakan pintu jihad. Menyebarkan
ilmu termasuk diantara amalan-amalan yang
sangat afdhal. Saya telah rida dengan apa yang
telah Allah bukakan untuk saya. Saya mengangap
apa yang sekarang saya jalani tidaklah lebih
rendah dari apa yang Anda amalkan. Saya
berharap kita berdua berada dalam kebaikan dan
ketakwaan.“[5]
Miftâhul-khair (kunci kebaikan) tidak hanya para
ustadz atau para dai, tetapi juga meliputi setiap
orang yang bisa mengajak orang-orang lain untuk
taat dan menjauhi perbuatan maksiat, seperti:
pemimpin daerah atau suatu organisasi, guru,
orang tua, mujâhid (orang yang berjihad), orang
kaya yang memanfaatkan hartanya untuk kebaikan
dll.
Menjadi miftâhul-khair termasuk salah satu cara
untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk orang
lain dan menjadi orang yang paling dicintai oleh
Allah. Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
ﺃَﺣَﺐُّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻧْﻔَﻌُﻬُﻢْ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ
Artinya: “Orang yang paling dicintai oleh Allah
adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”[6]
Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi
miftâhul-khair?
Orang-orang yang ingin menjadi miftâhul-khair
harus memiliki atau mengerjakan hal-hal sebagai
berikut:
- Al-’azm (tekad yang bulat) dan niat yang benar
Hendaknya kita tanamkan di dalam hati kita
keinginan yang kuat untuk mengubah dan
mengajak orang-orang di sekeliling kita kepada
kebaikan. Dengan demikian, kita akan senantiasa
berpikir bagaimana cara yang tepat untuk
mewujudkan hal tersebut. Terkadang kita agak
malu, tapi ingatlah bahwa “malu itu tidak datang
kecuali untuk kebaikan.” Jika kita malu untuk
berbuat baik, maka ketahuilah itu datangnya dari
setan.
Allah ta’âla berfirman:
Artinya: “Jika kamu telah ber-’azm maka
tawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang bertawakkal.” (QS Ali
‘Imran : 159)
- Ilmu
Dengan ilmu kita bisa mengetahui mana yang
merupakan miftâhul-khair dan mana yang
merupakan miftâhus-syarr (kunci keburukan).
Dengan ilmu kita bisa membedakaan yang mana
termasuk perbuatan taat dan yang mana termasuk
perbuatan maksiat. Dengan ilmu kita mengetahui
halal dan haram. Semakin tinggi ilmu seseorang
maka perkara-perkara yang menurutnya syubhat
akan semakin berkurang.
Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan
ilmu adalah hadits berikut:
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺧَﻴْﺮُ ﻣَﺎ ﻳَﺨْﻠُﻒُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺛَﻠَﺎﺛًﺎ : ﻭَﻟَﺪًﺍ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ ﻓَﻴَﺒْﻠُﻐُﻪُ ﺩُﻋَﺎﺅُﻩُ ، ﺃَﻭْ
ﺻَﺪَﻗَﺔً ﺗَﺠْﺮِﻱ ﻓَﻴَﺒْﻠُﻐُﻪُ ﺃَﺟْﺮُﻫَﺎ ، ﺃَﻭْ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻳُﻌْﻤَﻞُ ﺑِﻪِ ﺑَﻌْﺪَﻩُ
Artinya: “Sebaik-baik yang ditinggalkan oleh
seseorang setelah dia meninggal ada tiga: (1)
Anak yang soleh yang selalu berdoa kepadanya,
sehingga sampailah kepadanya apa yang di
doakan, (2) sedekah yang pahalanya mengalir
kepadanya, dan (3) ilmu yang diamalkan (oleh
orang lain) setelahnya.“[7]
Qatadah rahimahullâh berkata,
ﺑَﺎﺏٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻳَﺤْﻔَﻈُﻪُ ﺍﻟَّﺮﺟُﻞُ ﻟِﺼَﻠَﺎﺡِ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻭَﺻَﻠَﺎﺡِ ﻣَﻦْ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺓِ
ﺣَﻮْﻝٍ
Artinya: “Seseorang yang menghapal satu bab
ilmu (diniatkan) untuk kesolehan dirinya dan
kesolehan orang-orang setelahnya, lebih afdhal
daripada beribadah sepanjang tahun.”[8]
- Beramal dengan ilmu
Mungkin di antara kita pernah mengeluh, “Saya
sudah lama berdakwah, tetapi mengapa tidak
banyak memberikan pengaruh?” Kita harus sadar
dan muhâsabah (introspeksi) diri kita sendiri.
Bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki
kesolehan akan “menularkan” kesolehannya
kepada orang lain? Oleh karena itu, kerjakanlah
kewajiban-kewajiban dan jauhilah larangan-
larangan Allah dan Rasul-Nya! Adapun amalan-
amalan yang sifatnya nâfilah (sunnah) maka kita
amalkan semampu kita dan kita pertimbangkan
manakah di antara amalan-amalan tersebut yang
lebih mudah dan lebih afdhal untuk diri kita dari
yang amalan-amalan lainnya.[9]
Sebagian dari kita mungkin memandang bahwa
amalan itu hanya dikhususkan pada amalan yang
dzhâhir saja. Pandangan ini salah. Amalan-amalan
itu meliputi amalan-amalan zhâhir dan juga batin.
Bahkan amalan yang paling besar menurut Allah
adalah tauhid. Sedangkan tauhid, sebagaimana
kita ketahui, termasuk amalan batin.
- Mengikuti cara yang dicontohkan oleh Nabi
shallallâhu ‘alaihi wa sallam
Syaikh Rabî’ Al-Madkhali telah menulis buku
khusus tentang ini.[10]
- Menjadi An-Nâshih (Orang yang selalu
menasihati)
Menjadi An-Nâshih (Orang yang selalu
menasehati) adalah nikmat yang sangat besar
sekali. Coba bayangkan, seandainya kita sedang
melakukan perbuatan dosa, kemudian ditegur atau
dilarang oleh seseorang, maka betapa senangnya
hati kita, karena tidak jadi melakukan maksiat
kepada Allah. Begitu pula, ketika di suatu masjid
tidak hidup amalan-amalan sunnah kemudian
datang seseorang menasihati dan menganjurkan
untuk beramal dan menghidupkan sunnah, maka
betapa senangnya hati kita. Senantiasa kita akan
mengucapkan kepada orang tersebut “terima
kasih” atau paling tidak, kita akan selalu
mendoakan kebaikan untuknya.
Selama ada orang-orang yang seperti itu, maka
Allah akan senantiasa menurunkan keberkahan-
Nya.
Allah subhânu wa ta’âla menceritakan perkataan
Nabi ‘Isa ‘alaihis-salâm,
Artinya: “Dan Dialah (Allah) yang telah menjadikan
saya mubarak (penuh dengan keberkahan) di
mana pun saya berada.” (QS Maryam : 31)
Di antara tafsiran ayat ini sebagaimana disebutkan
oleh Ibnu Katsîr rahimahullâh di dalam tafsirnya
adalah “menjadi mubârak yaitu dengan ber-amr
bil-ma’rûf wa nahi ‘anil-munkar (Menyuruh kepada
kebaikan dan melarang dari kemungkaran).”
- Berakhlak yang mulia dan menjaga murû’ah[11]
(wibawa, citra atau kehormatan diri)
Meskipun menjaga murû’ah bukanlah sesuatu
yang wajib, tetapi hal ini sangat memberikan
pengaruh terhadap orang-orang di sekeliling kita.
Imam As-Syafi’i rahimahullâh pernah berkata,
ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ ﺍﻟْﺒَﺎﺭِﺩَ ﻳَﺜْﻠَﻢُ ﻣِﻦْ ﻣُﺮُﻭْﺀَﺗِﻲ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻣَﺎ ﺷَﺮِﺑْﺖُ ﺍﻟْﻤَﺎﺀَ ﺇِﻟَّﺎ ﺣَﺎﺭًّﺍ
Artinya : “Seandainya air yang dingin (dapat)
merusak sesuatu dari kewibawaanku
(kehormatanku) maka saya tidak akan minum air
kecuali yang panas.”[12]
- Berteman dengan orang-orang yang telah dikenal
sebagai miftâhul-khair
Ketahuilah! Hewan-hewan saja bisa memberikan
pengaruh terhadap watak seseorang, jika dia
sering bersamanya. Padahal hewan-hewan
tersebut tidak bisa berbicara. Apalagi jika yang
sering bersamanya adalah orang-orang yang bisa
berbicara, tentu pengaruhnya akan semakin besar.
Janganlah malu mendekati miftâhul-khair meski
umur kita masih terlalu muda! Begitu pula orang
yang sudah diberi hidayah oleh Allah sebagai
miftâhul-khair, janganlah gengsi bergaul dengan
yang lebih muda. Bisa jadi kebaikan-kebaikan
“mengalir” melalui yang lebih muda.
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah
berkata,
ﺍﻟْﻔَﺨْﺮُ ﻭَ ﺍﻟْﺨُﻴَﻠَﺎﺀُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻔَﺪَّﺍﺩِﻳْﻦَ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻮَﺑَﺮِ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻜِﻴْﻨَﺔُ ﻓِﻲ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻐَﻨَﻢِ
Artinya : “Kesombongan dan keangkuhan terdapat
pada pengembala-pengembala (yang meninggikan
suaranya terhadap hewan-hewan) dari kalangan
pengembala-pengembala unta. Sedangkan
ketenangan terdapat pada pengembala kambing
”[13]
- Hikmah dalam berdakwah
Allah ta’ala berfirman:
Artinya: “Berdakwahlah ke jalan Rab-mu dengan
berhikmah dan nasihat yang baik. Serta debatlah
mereka dengan yang lebih baik.” (QS An-Nahl:
125)
Al-Ustâdz Abdullah Zaen hafidzhahullâh telah
menulis buku khusus dalam permasalahan ini.
Silahkan merujuknya.[14]
- Berlemah lembut terhadap yang lain
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah
berkata,
ﻣَﻦْ ﻳُﺤْﺮَﻡِ ﺍﻟﺮِّﻓْﻖَ ﻳُﺤْﺮَﻡِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَ
Artinya: “Barang siapa dijauhkan dari kelemah-
lembutan maka akan dijauhkan dari kebaikan.”[15]
- Sabar
Menjadi miftâhul-khair tidaklah mudah. Tentu ada
saja hambatan-hambatan dan rintangan-rintangan
baik dari dalam diri kita sendiri ataupun dari orang
lain. Perjuangan dakwah kita belumlah seberapa
bila dibanding para Nabi ‘alaihimush-shalâtu
wassalâm. Rasululullah shallallâhu ‘alaihi wa
sallam pernah ditanya oleh Saad bin Abi Waqqâsh
radhiallâhu ‘anhu
ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻯُّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﺷَﺪُّ ﺑَﻼَﺀً ﻗَﺎﻝَ ﺍﻷَﻧْﺒِﻴَﺎﺀُ ﺛُﻢَّ ﺍﻷَﻣْﺜَﻞُ ﻓَﺎﻷَﻣْﺜَﻞُ ﻓَﻴُﺒْﺘَﻠَﻰ
ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﺣَﺴَﺐِ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﻓَﺈِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺩِﻳﻨُﻪُ ﺻُﻠْﺒًﺎ ﺍﺷْﺘَﺪَّ ﺑَﻼَﺅُﻩُ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﺩِﻳﻨِﻪِ
ﺭِﻗَّﺔٌ ﺍﺑْﺘُﻠِﻰَ ﻋَﻠَﻰ ﺣَﺴَﺐِ ﺩِﻳﻨِﻪِ
Artinya: “Ya Rasulullah! Manusia manakah yang
paling berat ujiannya? Beliau menjawab, “Para
Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya.
Seseorang akan diuji sesuai kadar
keberagamaannya. Jika agamanya kuat maka akan
ditambahkan ujian itu. Jika agamanya lemah maka
akan diuji sesuai kadar keberagamaannya.”[16]
- Banyak berdoa
Jangan lupa banyak berdoa kepada Allah agar
dijadikan miftâhul-khair dan mendoakan kebaikan
untuk orang-orang di sekitar kita di waktu-waktu
yang mustajab. Hal ini banyak dilupakan oleh
kebanyakan orang.
Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk
semua. Billâhit-taufîq walhamdulillâh.
[1] Lihat Syarh Sunan Ibn Mâjah li As-Sindi dan li
As-Suyûthi
[2] Lihat Shifâtullah ‘Azza wa jalla Al-Wâridah fil-
Kitâb was-Sunnah li As-Seggâf Hal. 270
[3] Hâdil-arwâh hal. 39. Beirut: Dârul-kutub
Al-’ilmiyah
[4]Ceramah umum beliau di Universitas Islam
Madinah yang berjudul ‘Kaifa takûnu miftâhan
lilkhair?‘. Jazâhullah khairan.
[5] Siyar A’lâm An-Nubalâ’ tentang Imam Malik
rahimahullah
[6] Diriwayatkan oleh Ath-Thabrâni dari hadis Ibnu
‘Umar dengan lafaz, “Bahwasanya seseorang
mendatangi Rasululah shallallahu ‘alahi wa sallam.
Kemudian dia bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah
manusia yang paling dicintai oleh Allah? Dan
Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?’
Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pun
menjawab, ‘Manusia yang paling dicintai oleh
Allah adalah yang paling bermanfaat di antara
mereka. Amalan yang paling dicintai oleh Allah
adalah kebahagiaan yang engkau berikan kepada
seorang muslim, engkau menghilangkan kesusahan
dari dirinya, engkau membayarkan hutangnya,
atau engkau menghilangkan kelaparan darinya.
Berjalan bersama saudaraku untuk suatu
keperluan, lebih saya sukai daripada ber-i’tikaf di
masjid ini –yaitu masjid nabawi- selama sebulan.
Barang siapa yang menahan marahnya, maka
Allah akan menutupi auratnya. Barang siapa yang
mengekang marahnya, walaupun sebenarnya dia
mampu untuk melampiaskan, maka Allah ‘Azza
wa Jalla akan mengisi hatinya dengan keamanan
pada hari kiamat. Barang siapa yang berjalan
bersama saudaranya untuk suatu keperluan
sampai saudaranya mendapatkannya, maka Allah
akan menetapkan kakinya di atas Ash-Shirat
(jembatan) di hari banyak orang-orang terpeleset
di atasnya.”
Lihat Al-Mu’jam Al-Kabir no. 13646 (12/453), Al-
Mu’jam Al-Ausath no. 6026 (6/139-140), Al-
Mu’jam Ash-Shaghir no. 861 hal. 106, dan di Al-
Ausath juga diriwayatkan dari hadis Jabir no. 5787
(6/58), dangan lafaz, “Sebaik-baik manusia adalah
yang paling bermanfaat untuk manusia.”
Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 906 (2/573),
dan no. 426 (1/787), dan di Shahihul-Jami’ no.
4289 dan di Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no.
2623.
[7] HR Ibnu Mâjah No. 241 dan Ibnu Khuzaimah
No. 2495. Di-shahîh-kan oleh Syaikh Al-Albâni di
At-Ta’lîq (1/58), Ahkâmul-janâ’iz Hal. 176 dan Ar-
Raudh hal. 1013
[8] Jâmi’ bayan al-’ilmi wa fadhlihi jilid I hal 111.
Dâr Ibnil-Jauzi
[9] Syaikh Ibrâhim Ar-Ruhaili telah menulis buku
berjudul ‘Tajrîdul-ittibâ’ fi bayâni asbâb tafâdhulil-
a’mâl‘. Silakan merujuknya.
[10]Judul bukunya Manhajul-anbiyâ’ fid-da’wah
ilallâh fîhi alhikmah wal-’aql’
[11] Murû’ah adalah kehormatan atau citra diri
atau sesuatu yang sudah sepantasnya ada pada
seseorang, sebagai contoh: Di suatu daerah
sesuatu yang aib sekali jika seorang thalibul-ilmi
shalat dengan memakai celana, maka untuk
menjaga murû’ah-nya dia shalat dengan memakai
sarung. Hukumnya kembali kepada adat masing-
masing daerah.
[12] Manâqib Asy-Syafî li-Ar-Râzy hal 85 dinukil
dari Ma’âlim fî tharîq thalabil’ilm hal 166
[13] HR Al-Bukhâri No. 3499 dan Muslim No. 187.
Ahlul-wabar dapat diartikan orang-orang
pedalaman (baduwi) karena rumah-rumah mereka
dulunya terbuat dari al-wabr atau bulu. Adapun
makna hadits di atas penulis ambilkan dari Syarh
Shahih Muslim li An-Nawawi
[14] Judul bukunya ’14 CONTOH PRAKTEK
HIKMAH DALAM BERDAKWAH’
[15] HR Muslim No. 2592
[16] HR At-Tirmidzi No. 2398 dan Ibnu Mâjah No.
4523

Adab Tahajjud lah yang buat kita belajar menjadi hamba yang shalih dan shalihah

(Al-'Isrā'):79 - Dan pada sebagian malam hari
bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu
ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan
Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang
terpuji.
(Al-'Isrā'):80 - Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku,
masukkanlah aku secara masuk yang benar dan
keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar
dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau
kekuasaan yang menolong.
(Al-'Isrā'):81 - Dan katakanlah: "Yang benar telah
datang dan yang batil telah lenyap".
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang
pasti lenyap.
Tahajud bisa menandakan kemuliaan bagi
seseorang.
Jika kita lihat lebih dalam sebenarnya dari "adab"
tahajjud dari situlah Allah memberi pelajaran
kepada kita agar kita semakin menjadi hamba yg
lebih baik,menuju hamba yg shalih/
shalihah ,seperti contoh jika malam sebelum tidur
kita berkata dusta/bohong lalu pada saat waktu
tahajjud tiba Allah tidak membangunkan kita dari
tidur kita..Allah tidak sudi di temui hamba
pendusta..
Itu adalah pelajaran bahwa kita tidak bisa
"berjumpa" dg Allah pada saat Tahajjud karena
kita telah berkata dusta .. itu hukuman juga
pelajaran dari Allah untuk kita.
Atau bisa juga sebelum tidur kita makan banyak
hingga kenyang lalu kita tidak bisa ikut shalat
tahajjud.
Begiti juga bisa merupakan hukuman dari Allah
untuk kita.
Karena sesungguhnya orang orang shalih tidak
membiarkan perut mereka kenyang..
Orang yang telah terbiasa dan ,atau sedang
berusaha mengistiqamahkan bertahajjud jika satu
kali saja tidak bisa shalat tahajjud maka
penyeselanya begitu besar.. begitu mendalam..
Karena dia menyadari bahwa ketidakbisaanya ikut
bangun untuk shalat dan menghadap / bermunajat
kepada Allah adalah dari dosanya kepada Allah..
# Renungan_sebelum_tidur

Kalam kalam habib Umar.

Mutiara Nasehat al-Habib Umar bin Hafidz
1. Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap
saudaramu niscaya akan menyempurnakan
kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi
Allah
2. Barang siapa Semakin mengenal kepada allah
niscaya akan semakin takut.
3. Barang siapa yang tidak mau duduk dengan
orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan
beruntung dan barang siapa yang duduk dengan
orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak
akan beruntung.
4. Barang siapa menjadikan kematiaannya
sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah),
maka kematian adalah hari raya baginya.
5. Barang siapa percaya pada Risalah
(terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi
padanya. Dan barang siapa percaya pada
risalah, maka ia akan menanggung (sabar)
karenanya. Dan barang siapa yang
membenarkan risalah, maka ia akan
mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.
6. Kedekatan seseorang dengan para nabi di
hari kiamat menurut kadar perhatiannya
terhadap dakwah ini.
7. Betapa anehnya bumi, semuanya adalah
pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di
muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran)
bagi orang yang berakal apabila mau
mempelajarinya.
8. Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan
seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.
9. Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia
tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali
dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut
kadar pembersihan jiwanya.
10. Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan
mendapatkan apa yang diinginkan.
11. Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu
kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka
hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.
12. Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian) ,
lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya
seribu kali.
13. Menyatunya seorang murid dengan gurunya
merupakan permulaan di dalam menyatunya
dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya
dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan
untuk fana pada Allah (lupa selain Allah)
14. Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri
dari dua golongan, golongan yang diwajahnya
terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan
golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda
dari bekas keingkaran.
15. Barang siapa yang menuntut keluhuran,
maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.
16. Sesungguhnya di dalam sujud terdapat
hakikat yang apabila cahanya turun pada hati
seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud
selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari
sujudnya.
17. Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang
wajib bagi kita yaitu harus menjadi daI dan tidak
harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah
wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku
mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas
aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya
(Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti
dakwah adalah memindahkan manusia dari
kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian
menuju ingat kepada Allah, dan dari
keberpalingan kembali menuju kepada Allah,
dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.
18. Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan
Allah menjaga kekasih-kekasih- Nya.
19. Apabila ibadah agung bagi seseorang maka
ringanlah adap (kebiasaan) baginya dan apabila
semakin agung nilai ibadah dalam hati
seseorang maka akan keluarlah keagungan adat
darinya.
20. Bila benar keluarnya seseorang (di dalam
berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang
tinggi.
21. Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari
hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa
takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah
berharap pada makhluk dari hatimu maka
engkau akan merasakan kenikmatan dengan
berharap pada Sang Kholiq.
22. Banyak bergurau dan bercanda merupakan
pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah
dan tanda dari lemahnya iman.
23. Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an
dengan merenungi artinya dan bangun malam.
24. Tidak akan naik pada derajat yang tinggi
kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).
25. Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia
akan selamat dari murka Allah.
26. Salah satu dari penyebab turunnya bencana
dan musibah adalah sedikitnya orang yang
menangis di tengah malam.
27. Orang yang selalu mempunyai hubungan
dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya
dengan rahmat di setiap waktu.
28. Salah satu dari penyebab turunnya bencana
dan musibah adalah sedikitnya orang yang
menangis di tengah malam.

KEMATIAN MENURUT SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI


"Gunakanlah umurmu sebaik-baiknya, sebelum
datangnya 'suatu hari dari Allah yang tidak bisa
ditolak,'(QS 30:43), yakni Hari Kebangkitan.
Engkau harus belajar memotong harapan-harapan
mu, sebab tidak ada keberhasilan tanpa
pemotongan harapan (qashrul-amal).
Habiskanlah sedikit waktu untuk hal-hal
menyangkut dunia ini, sebab bagian yang telah
dijatahkan untukmu akan datang kepadamu tanpa
bisa dielakkan lagi, meskipun engkau tidak
mengejarnya. Kecuali jika engkau telah menerima
jatahmu secara penuh, engkau tidak akan
dibiarkan meninggalkan dunia ini.
Sungguh celaka, wahai orang bodoh yang tertipu!
Janganlah engkau terikat dengan diri rendahmu
(nafs) dan hawa nafsu (hawa), sebab engkau tak
akan bisa lepas dari maut. Tak ada kekuatan yang
bisa menghadapi maut. Ke arah mana pun engkau
menghadap dan bagaimanapun engkau bergerak,
ia selalu ada di depanmu sebagai pemimpin dan
ada di belakangmu sebagai pengikut.
Namun, engkau tak perlu merasa risau dengan hari
Kebangkitan, sebab hari kematianmu adalah
kebangkitan individual bagimu secara pribadi.
Sedangkan Hari Kebangkitan adalah peristiwa
universal bagimu dan bagi setiap manusia.
Kebangkitan yang pertama akan memperlihatkan
kepadamu kebangkitan yang kedua. Semoga
ketika engkau melihat Malaikat Maut, dia akan
datang kepadamu dengan senyum di wajahnya,
demikian juga para pembantunya. Mereka akan
mengucapkan salam kepadamu, dan mereka akan
mengambil ruhmu dengan sentuhan yang lembut,
sebagaimana mereka mengambil ruh-ruh para
nabi, syuhada dan orang-orang saleh. Karena itu,
engkau bisa bergembira atas berita baik mengenai
Kebangkitan hari pertama.
Malaikat itu dan para pembantunya akan
menunjukkan kepadamu (apa yang akan kau alami)
pada Hari Kebangkitan yang kedua.
Jika apa yang kau lihat adalah baik, maka
harapanmu adalah baik. Tapi, jika yang kau lihat
adalah buruk, maka harapanmu adalah buruk."
--Syekh Abdul Qadir Jailani dalam Jala Al-
Khawathir

Selasa, 14 Januari 2014

Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan kesejahteraan serta keberkahan atas beliau


Ketika sang kekasih Allah itu tengah mendengarkan berita malaikat dengan penuh perhatian dan wajahnya tampak berseri bagaikan sinar di pagi hari, tiba tiba Halimah menjemputnya sambil memanggil..

Ia berseru, “Wahai anakku yang jauh di sana..”

Malaikat pun menyahut, “Wahai Muhammad, engkau tidaklah jauh, bahkan engkau sangat dekat dengan Allah, engkaulah pilihan dan kekasih Nya.

”Halimah kembali berseru, “Wahai anakku yang sendirian..”
Malaikat menyahutinya, “Wahai Muhammad, engkau tidak sendirian, bahkan engkaulah orang yang mempunyai pengukuhan.

Penghiburmu adalah Dzat Yang Maha Terpuji lagi Maha agung. Dan teman temanmu adalah saudara
Saudaramu yang terdiri dari para malaikat dan ahli tauhid.”

Halimah berseru lagi,
“Wahai anak yatim..” Malaikat pun kembali menyahut, “Kebaikan Allah selalu diberikan kepadamu sebagai anak yatim.

Sungguh kedudukanmu di sisi Allah sangat agung.”`

Ketika Halimah melihat sang Nabi dalam keadaan selamat dari marabahaya, dengan gembira ia mengajaknya pulang ke rumah.

Kemudian Halimah menceritakan kejadian itu kepada sebagian peramal dengan mengulang ulang cerita tersebut kembali.

Kemudian sang peramal bertanya kepada Nabi, “Wahai anak dari negeri Sumur Zamzam, Maqam Ibrahim, Rukun Yamani dan Baitul haram, apakah engkau menyaksikannya dalam keadaan sadar ataukah tidur?”

Nabi menjawab, “Demi kehormatan Raja Yang Maha Mengetahui, aku menyaksikan para malaikat itu dalam keadaan sadar
Dan aku tidak meragukan kejadian itu dan tidak pula mataku saat itu terhalang.”

Sang peramal itu pun berkata,
“Bergembiralah engkau Nak. Engkaulah pembawa panji panji kemenangan. Kenabianmu menjadi kunci penutup para nabi.

Malaikat Jibril akan datang kepadamu. Dan di atas hamparan alas yang suci akan engkau peroleh firman Tuhan, Yang Mahaagung.

Tiada seorang pun yang dapat menghitung keutamaan yang meliputi dirimu. Untuk menguraikan sebagian dari sifatmu, lidah yang fasih pun tak lagi mampu

KISAH NABIULLAH MUHAMMAD SAW



Dan orang-orang yang terdahulu; yang mula-mula dari orang-orang “Muhajirin” dan “Ansar” (berhijrah dan memberi bantuan), dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan (iman dan taat), Allah reda kepada mereka dan mereka pula reda kepada Nya, serta Dia menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar. (Surah At-Taubah, Ayat 100)

Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w telah bersabda: "Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling menyayangi antara satu sama lain. Mahukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling menyayangi antara satu sama lain? Sebarkanlah salam sebanyak-banyaknya diantara kalian" - (Muslim)

Sifat-Sifat Nabi Muhammad SAW
Fizikal Nabi
Telah dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata:

Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.

Kebiasaan Nabi
Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa baginda menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila baginda melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga baginda dapat membela kerananya. Baginda tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila baginda merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila baginda marah baginda terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila baginda gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila baginda ketawa, baginda ketawa seperti embun yang dingin.

Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.

Rumah Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. Satu bagian khusus untuk Allah ta'ala, satu bagian untuk isteri-isterinya, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.

Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: "Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat", tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.

Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.

Luaran Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan.

Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.

Majlis Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali.

Baginda tidak pernah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.

Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Baginda tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Baginda tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.

Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: "Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!". Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.

Diamnya Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik

Kebenaran yang sejati tentang Tuhan dan cara menyembah-Nya hanya bisa diperoleh dari/ melalui wahyu.


Kebenaran yang turun melalui wahyu itulah
kebenaran yang sejati, yang paling benar, tidak
Bisa di nalar oleh fikiran, ilham dan kasyaf.

Tugas fikiran, ilham dan kasyaf adalah
membuktikan kebenaran wahyu bukan mencari
kebenaran yang lain.

Bangsa manusia telah memilih seorang wakil
yang paling sempurna dari kalangan mereka,
seorang insan yang paling tinggi kecerdasan
akalnya, paling luas ilhamnya dan paling
terang seluruh kasyafnya.

Wakil yang sempurna
itu tiada lain adalah Nabi Muhammad s.a.w. Sebelum
wahyu datang wakil yang sempurna itu telah
menjalani latihan khalwat di Gua Hiraa.

Melalui
proses tersebut kesempurnaan baginda s.a.w
menjadi lebih sempurna tetapi kesempurnaan
yang paling sempurna itu pun tetap tunduk
kepada hukum Allah s.w.t.
.. yaitu berhajat kepada
jawaban dan bimbingan yang langsung
dariNya, tidak mampu dcapai oleh akal, tidak
mampu
diuraikan oleh ilham dan tidak mampu dilihat oleh
kasyaf, walaupun kesemua itu
beradadalam kesempurnaan. Apabila Allah
s.w.t mendatangkan jawaban dengan wahyu-
Nya
barulah hilang segala kesamaran dan
kekusutan dan tersingkaplah hijab yang
menutupi

Yang Haq!
Fikiran, ilham dan kasyaf wajib menerima
dengan apa yang di bawa oleh wahyu karena wahyu
Adalah Kalam al-Haq.

Pada tanggal 17 Ramadan,
tahun ke 41 usia Nabi Muhammad s.a.w,
wahyu yang pertama menyinari fitrah suci
baginda s.a.w.

Terbukalah era baru di dalam
kehidupan manusia dan penduduk seluruh alam.
Yang samar menjadi terang. Yang tertutup menjadi
terbuka.
Yang terhijab telah tersingkap.
Yang Haq telah nyata tanpa keraguan