Laman

Jumat, 04 April 2014

Stop Menggunakan Kata "Sunnah Rasul" Di Malam Jumat!


Assalammualaikum Wr Wb
Sudah menjadi kebiasaan kalau hari kamis malam (atau malam Jumat), banyak tersebar kicauan atau status di social media yang isinya berkisar pada perkataan “Sunnah Rasul”. Begitu juga dalam pergaulan sehari-hari di dunia nyata, istilah tersebut juga sering terdengar. Menurut mereka, istilah “Sunnah Rasul” yang populer di malam Jum’at adalah penghalusan dari hubungan suami istri atau ML. Coba lihat sejenak hasil penelusuran super singkat ini, bagaimana ribuan kicauan serasa berlomba-lomba menyebut istilah “Sunnah Rasul”.
Spoiler for Sunnah Rasul
Bagi mereka yang muslim dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi karena ingin menutupi sesuatu yang dianggap vulgar / tabu baginya bila disampaikan dalam ruang publik. Tapi akibatnya fatal, karena telah menyempitkan arti dari sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an menjadi hanya sebuah aktifitas seks belaka.
Sedangkan bagi mereka yang berhati fasiq dijangkiti penyakit islamophobia dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi hanya ingin mengolok-olok, karena baginya ajaran Islam identik dengan urusan sex atau selangkangan. Sehingga tidak segan-segan menuduh dan melecehkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang katanya doyan kimpoi dan pedofilia. (Insya Allah, soal ini nanti akan saya bahas)
Dari mana asalnya muncul istilah “Sunnah Rasul” yang di-identikkan dengan aktivitas ML?
Semuanya berawal dari hadits ini:
Spoiler for Sunnah Rasul
“Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat (kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi.”
Dalam hadits yang lain ada disebutkan sama dengan membunuh 1000, ada juga yang menyebut 7000 Yahudi.
Sebenarnya bagaimana derajat hadits tersebut, apakah shahih, dhaif atau palsu?
Mari kita simak sejenak tayangan singkat “Hadits – Hadits Palsu” di RCTI berikut ini dengan nara sumber Prof.DR.KH. Ali Mustafa Yaqub, MA hafizhahullah.
Spoiler for Sunnah Rasul
Dalam video tersebut dijelaskan bahwa hadits di atas tidak akan ditemukan dalam kitab manapun, baik kumpulan hadits dhaif apalagi shahih. Kalimat tersebut tidak mempunyai sanad / bersambung ke sahabat, apalagi ke Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang akhirnya pada satu kesimpulan bahwa hadits “Sunnah Rasul” di atas adalah sama sekali bukan hadits, itu hadits PALSU yang telah dikarang oleh orang iseng, orang tidak jelas, dan tidak bertanggung-jawab yang mengatasnamakan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bahkan kita tidak akan menemukan satu-pun hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berhubungan suami istri pada malam-malam tertentu, termasuk malam Jum’at.
Kemudian lanjutan penelusuran singkat malam ini di “timeline pencarian”, pandangan mata saya tertarik pada sebuah kicauan yang berbunyi:
Spoiler for Sunnah Rasul
Pertanyaan ini mungkin mewakili ke-awam-an dalam masyarakat kita. Hukum pernikahan dalam Islam itu bisa Wajib, bisa Sunnah, bahkan bisa Haram, bisa Makruh, atau bisa Mubah; yang semuanya itu tergantung kondisi / latar belakang dalam pernikahan tersebut. Sedangkan dalam soal berhubungan badan (jima’), yang SALAH adalah pasangan suami istri tersebut meng-khusus-kan malam Juma’t untuk berhubungan badan dengan niat untuk mengamalkan hadits Palsu di atas dan “bersemangat membunuhi ribuan Yahudi” seperti dalam postingan yang menyesatkan di sini: [Kompasiana] Saatnya Membunuh Yahudi Malam Ini. Bagi yang punya akun Kompasiana, silakan menasehati pemilik jurnal tersebut.
Kalau mau berhubungan badan dengan pasangan sah-mu, jangan meng khusus-kan hari-hari, kemudian lebih baik itu diniatkan sebagai ibadah sehingga diawali dan diakhiri dengan do’a. Berhubungan badan dengan pasangan sah adalah merupakan ibadah seperti sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam:
Spoiler for Sunnah Rasul
“Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” [HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah].
Di Indonesia sangat subur akan hadits-hadits palsu dan dhaif (lemah) yang beredar dan bermaksud untuk menyesatkan dan membodoh-bodohi umat. Oleh karena itu berhati-hatilah, kawan!
Mari STOP mengatakan “Sunnah Rasul” sebagai pengganti dari istilah berhubungan suami istri alias ML ! Karena itu dosa besar.
Bahkan meskipun itu ucapan dalam bentuk “kode”, karena itu sama dengan menyuburkan kedustaan. Dikatakan berdusta karena mengatakan sebuah hadits padahal Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan apa-apa terhadap yang dikatakan itu.
“Kode” itu misalnya begini:
Spoiler for Sunnah Rasul
Papa: “Mah, ntar malam kita berburu dan membunuhi Yahudi yuk!”
Mama: “Maaf, pah, Yahudi nya sudah habis” *kode kalau si mama lagi datang bulan / pms*
Pasutri (pasangan suami istri) terpaksa menggunakan bahasa sandi tersebut agar komunikasinya sulit dipahami anaknya di dalam rumah. Bercanda seperti ini hanya akan menumbuh-suburkan kedustaan hadits tersebut. Itupun akan dituntut di akherat kelak. Maka silakan cari kode atau bahan candaan yang lebih bermutu.
Lantas, apa sih sebenarnya Sunnah Rasul itu?
Spoiler for The Real Sunnah Rasul
Definisi yang benar tentang Sunnah Rasul dalam Islam mengacu kepada sikap, perilaku / tindakan, ucapan dan cara Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani hidupnya. Sunnah merupakan sumber hukum kedua dalam Islam, setelah Al-Quran. Narasi atau informasi yang disampaikan oleh para sahabat tentang sikap, tindakan, ucapan dan cara Rasulullah disebut sebagai hadits. Sedangkan Sunnah yang diperintahkan oleh Allah disebut Sunnatullah.
Keseharian dan perilaku Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan gambaran kesempurnaan utuh seorang manusia. Akhlak Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam merupakan kesempurnaan akhlak pada diri seseorang yang harus diikuti dan diteladani. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu.” [QS Al Ahzab: 21].
Bagi seorang Muslim, mengikuti sunnah atau tidak bukanlah suatu “kebebasan memilih”. Sebab mengamalkan ajaran Islam sesuai garis yang telah ditentukan oleh Rasulullah adalah KEWAJIBAN yang harus ditaati, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an:
“Dan apa yang Rasul berikan untukmu, maka terimalah ia, dan apa yang ia larang bagimu, maka juhilah.” [Q.S. Al-Hasyr: 7]
Sunnah merupakan kunci untuk memahami pesan-pesan Al-Qur’an dan sebagai perangkat pengurai yang menunjuki dari dalil-dalil yang tersedia di dalamnya. Al-Qur’an diturunkan hanya memuat prinsip-prinsip dasar dan hukum Islam secara global sebagai aturan hidup, sedang sunnah mengajarkan petunjuk pelaksanaannya; jadi sunnah sangat diperlukan jika seseorang hendak mengamalkan secara benar ajaran Islam guna menjadi seorang Muslim yang hakiki. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an:
“Siapa yang taat kepada Rasul, maka ia taat kepada Allah.” [Q.S. An-Nisaa': 80]
Apakah ada Sunnah Rasul yang ada keterkaitannya dengan aktivitas pada hari Jumat (atau malam Jum’at)?
Ada. Hadits di bawah ini shahih.
Spoiler for Sunnah Rasul
Memperbanyak membaca shalawat. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada pada hari Jum’at dan malam Jum’at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Al Baihaqi)
Membaca Al-Qur’an khususnya surat Al Kahfi. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua Jum’at.” (HR. Al Hakim)
Memperbanyak do’a. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Hari Jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud)
Membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan dalam Sholat Subuh. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca pada shalat Shubuh di hari Jum’at “Alam Tanzil …” (surat As Sajdah) pada raka’at pertama dan “Hal ataa ‘alal insaani hiinum minad dahri lam yakun syai-am madzkuro” (surat Al Insan) pada raka’at kedua.” (HR. Muslim)
Dan dianjurkan ketika di rakaat pertama sampai pada bacaan ayat ke 15, imam sujud diikuti oleh makmum. Setelah sujud, imam berdiri kembali membaca ayat selanjutanya sampai selesai.
Stop Menggunakan Kata "Sunnah Rasul" Di Malam Jumat! | Kaskus - The Largest Indonesian Communityhttp://m.kaskus.co.id/thread/531479405ccb177d2c000019/stop-menggunakan-kata-quotsunnah-rasulquot-di-malam-jumat

KISAH IBLIS MEMBANTU PEMUDA MASJID


Seorang pemuda bangun awal pagi untuk solat Subuh di masjid. Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju ke masjid. Di pertengahan jalan menuju ke masjid, pemuda tersebut jatuh dan pakaiannya kotor.
Dia bangkit, membersihkan bajunya dan pulang kembali ke rumah. Di rumah, dia berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju ke masjid.
Dalam perjalanan ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yg sama. Dia sekali lagi bangkit, membersihkan dirinya dan kembali ke rumah. Di rumah, dia sekali lagi berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju ke masjid.
Di tengah jalan menuju ke masjid, dia bertemu seorang lelaki yang memegang lampu.
Dia menanyakan identiti lelaki tersebut dan lelaki tersebut menjawab "Saya melihat anda jatuh dua kali di perjalanan menuju ke masjid, jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda."
Pemuda tersebut mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan menuju ke masjid.
Saat mereka sampai di masjid, pemuda tersebut bertanya kepada lelaki yang membawa lampu untuk masuk dan solat Subuh bersamanya. Lelaki itu menolak, pemuda itu mengajak lagi hingga berkali-kali tetapi jawabannya sama.
Pemuda itu bertanya, kenapa menolak untuk masuk dan solat Subuh bersama?
Lalu lelaki itu menjawab...
"Aku adalah IBLIS..."
Pemuda itu terkejut.
Iblis menjelaskan, "Saya melihat kamu berjalan ke masjid dan sayalah yang membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah, membersihkan badan dan kembali ke masjid, Allah MEMAAFKAN SEMUA DOSAMU.
Saya membuatkan kamu jatuh kali kedua dan itupun tidak membuatkan kamu berubah fikiran, bahkan kamu tetap memutuskan kembali untuk ke masjid.
Kerana hal itu, Allah MEMAAFKAN DOSA-DOSA SELURUH ANGGOTA KELUARGAMU.
Saya khawattir jika saya membuat kamu jatuh untuk kali ketiga, jangan-jangan Allah akan memaafkan dosa dosa seluruh penduduk desamu, jadi saya harus memastikan bahwa kamu sampai di masjid dengan selamat...
IBLIS BERUSAHA SUNGGUH-SUNGGUH DALAM MENYESATKAN MANUSIA.

HU ALLAH,..........

Jadikanlah jasad tubuhmu atau dirimu semuanya karam di dalam rumahKu, dengan demikian engkau pun tiada lupa memuji Aku, sebab Aku tiada lupa berbunyi HU ALLAH,............
tiada lupa aku memuji diriKu sendiri.Dengarkan didalam dirimu, wujud Dzat itulah yang terdiri......
bahwasanya Ruh tiada lupa kepadaNya.....
Saudara ku............
Yang terhimpun didalam tubuh kita ada 2 Ruh.....:
1. Ruhul Kudus
2. Ruhani
Ruhul Kudus adalah HU.....
Ruhani adalah ALLAH.......
Inilah yang ingin kita kenal….
Inilah yang dinamakan Rahasia Allah, Rahasia Muhammad,.....
Jikalau ingin mengetahui Ilmu Rahasia ini...BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH....
Jalan ini yang membuat engkau selamat dunia dan akhirat.
Inilah jalan rahasia Tuhan yang tersembunyi dalam dirimu.
Yang bersungguh-sungguh sajalah yang akan mengetahuinya,.....
Karena rahasia ini dilarang untuk dikeluarkan bagi yang awam.
Teruslah tingkatkan kwalitas dirimu..
Jangan susah-susah mencari Allah, karena Allah sudah lenyap di dalam rahasia Diri mu....
"Al insanu sirri wa ana sirrhu"



Nafsu syai

NAFSU
Nafsu syai’ dalam bahasa Arab adalah
wujud sesuatu (jati diri). Sedangkan menurut
kauf Sufi, “Ucapan kata nafs bukan
dimaksudkan sebagai wujud, acuan masalah.”

Yang mereka maksudkan dangan nafs adalah
sesuatu yang tercela dalam sifat-sifat hamba,
akhlak dan perbuatannya.
Perilaku tercela dari sifat-sifat hamba
tebagi menjadi dua :
Pertama, bersifat upaya
dari hamba, seperti perbuatan maksiat dan
pengingkaran terhadap perintah dan larangan.
Kedua , budi pekertinya yang buruk dalam
dirinya yang tercela. Maka terapi dan
penyembuhannya pada diri hamba adalah
berjuang melawan kehinaan perilaku tersebut
yang telah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Pada sifat yang pertama, termasuk
hukum-hukum nafsu adalah hal-hal yang
dilarang setara dengan keharaman atau
larangan yang besifat dibenci.
Sedangkan
pada sifat kedua, berupa keburukan dan
kehinaan akhlak. Inilah batasan globalnya.
Kemudian rinciannya, seperti takabur, amarah,
dendam, dengki, buruk akhlak, sedikit
bersyukur, dan yang lainnya. Yang tergolong
akhlak tercela.
Hukum nafsu terburuk adalah berupa
khayalan bahwa sesuatu perbuatan yang
muncul dari nafsu dianggap baik . Atau
perbuatan nafsu itu sebagai bagian takdir.
Karena itulah perbuatan nafsu seperti itu
tergolong syirik khafy atau syirik yang samar.
Karena itu, terapi akhlak dalam menyingkirkan
nafsu lebih penting daripada berlapar-lapar,
haus atau berjaga (tanpa tidur) dan
sebagainya yang mengandung unsur
penyusutan kekuatan fisik. Walaupun cara
seperti itu juga termasuk meninggalkan
kesenangan nafsu.
Nafsu itu sendir merupakan nuansa
lembut yang ada dalam hati, sebagai tempat
akhlak yang tercela.
Sebagaimana ruh yang
merupakan nuansa lembut dalam hati, namun
sebagai tempat akhlak terpuji. Dalam
gambaran yang umum, masing-masing saling
meundukkan. Semuanya, merupakan bagian
dari kesatuan manusia.
Eksistensi ruh dan
nafsu tergolong wadah lembut dalam rupa,
sebagaimana eksistensi malaikat dan setan,
dengan sifat-sifat kelembutan.
Seperti benarnya mata sebagai tempat
memnadang, telinga sebagai tempat
mendengar, hidung sebagai tempat
penciuman, mulut sebagai tempat rasa, maka,
begitu pun orang yang mendengar, yang
melihat, yang mencium dan yang merasakan,
semuanya termasuk dalam bagan manusia.
Demikian pula, tempat sifat-sifat yang terpuji,
tempatnya adalah hati dan ruh. Sedangkan
sifat-sifat tercela tempatnya adalah nafsu.
Nafsu sendiri sebagai bagian dari keseluruhan
tersebut, begitu pula hati, hukum dan nama,
kembali pada keseluruhan kesatuan sosok
manusia.
Wallahu a'lam...

Kamis, 03 April 2014

Pengajian KH. Muhammad Bakheit. AM, Balangan mlm rabu 01-04-14

Ringkasan Hikmah ke 128
Pengajian KH. Muhammad Bakheit. AM, Balangan mlm rabu 01-04-14
“jika tidak ada ke`elokan tutupan dari Allah niscaya tidak ada amal bisa diterima”
Jika tidak ada anugrah Allah atas orang yg beramal, tidak ada amalnya itu yg bias diterima Allah Karna amal yg bias diterima itu ialah amal yg sempurna padanya syarat-syarat untuk diterima, sedangkan syarat-syaratnya itu banyak, ada yg zohir ada yg bathin.
Sholat itu memerlukan anugrah Allah agar bias diterima karna kita sulit menyempurnakan syarat-syarat amal itu. Jadi yg kita harapkan Allah tidak terlalu teliti dengan amal kita.
Sangat diperlukan anugrah Allah, kemaafan Allah agar amal diterima.
Syarat-syarat yg zohir itu adalah: makanan, minuman, pakaian, tempat yg halal.
Untuk memastikan yg kita makan ini halal aja sulit. Klu sudah nyata-nyata dengan sengaja kita melakukan yg haram kita kada kawa mengharap anugrah Allah agar diterima amal. Yg bias berharap ne orang yg sudah berhati-hati. Jadi ia berharap Allah memaafkan jika ia memakan yg haram tpi ia tidak mengetahuinya. Contohnya lagi syarat diterima, keridhaan dua orang tua. Kalau org tua tdak ridha dng kelakuan kita maka ibadah kita tertahan. Ahli ibada sholat, puasa, dzikir, tahajjud tapi orangnya durhaka lawan kuitannya. Ini org sia-sia amalnya. Juga istri yg durhaka kepada suami, jangan berharap amalnya diterima. Contohnya lagi, berbantah (kada barawaan) lebih dari tiga hari, kada akan diterima amalnya kecuali beres bantahannya itu.
Syarat bathin; ikhlas dengan amal itu karna Allah karna ingin mendekatkan diri kepada Allah agar diberi rahmat Allah. Tidak ada tujuan beramal itu untuk mencari simpati manusia, agar dipuji dll.
Bila beribadah itu kada kwa niatnya becabang karna Allah sekaligus untuk dipuji. Kalau tujuan karna Allah ya` karna Allah. Lamun ada tujuan lain Allah melepaskan diri.
Syarat bathin musti berlepas diri dari daya dan upayanya, kada merasa bahwa ia yg beramal itu dirinya tapi dengan daya dan upaya Allah, iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`iin “hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan” aku yg didaya upayakan oleh Allah.
aku menisbahkan amal kepada diriNya. Ayuja aku beramal tapi jangan kada ingat dengan daya dan upaya Allah.
Syaratnya lagi. Tidak ada idlal dengan amalnya, tidak ada merasa hak dan jasa disisi Allah karna ia beribadah. Karena idlal ia merasa ada semacam jasa dan hak disisi Allah. Kenapa orang sebelah ma`siat tapi nyaman haja hidup, saorang saban malam nahajjud tpi hidup kada makmur.
Sholat orang yg ada idlalnya itu tidak diangkat melebihi kepalanya.
Syaratnya lagi. Bahwa ia tidak merasa berjasa dengan seseorang. Saorang ma`ongkosi si anu` sekolah dari SD sampe Sarjana lalu pas inya lulus kada heran2 lagi inya, Lalu ada dalam hati rasa manyasal. Gugur shodaqah kita yg banyak tadi.
Syarat amal diterima sangat susah, jadi kita berharap anugrah Allah, kalau tidak dengan anugrah Allah amal kita tidak akan bias diterima. Sholat supaya sah aja sulit, apalagi diterima magin sulit lagi.
Manusia itu terdiri dari tubuh yg banyak aibnya dan hati yg banyak aibnya. Apakah mungkin dari tubuh yg aib dan hati yg aib ini keluar perbuatan bersih, kecuali dengan anugrah Allah.
Makin banyak amal makin banyak harapan kita.
Ini saja yg dapat ulun tulis kurang dan lebihnya mohon ma`af. Moga bermanfaat bagi yg membaca khususnya tuk ulun sendiri amiin.
...***Apakah hukumnya menggerak - gerakkan telunjuk saat tahiyat?***...
"...Mengenai masalah ini tidak ada kewajiban berbuat demikian, dan hal itu sunnah,
bila tak dilakukan maka tak membatalkan shalat. Berikhtilaf para Imam Madzhab dalam hal
ini :
Menunjukkan jari telunjuk saat tahiyyat merupakan sunnah Rasul saw, demikian diriwayatkan
dalam shahih Muslim, lalu dijelaskan bahwa khilaf antara 4 Imam
Madzhab mengenai caranya sebagai berikut :

-Menurut Imam Malik, jari telunjuk digerakkan ke kiri dan ke kanan.
-Menurut Imam Syafii jari telunjuk menunjuk saat ucapan ILLALLAH, dan tidak menggerak - gerakkannya.
-Menurut Imam Hanafi mengangkat jari telunjuk saat ucapan LAA ILAAHA, lalu menjatuhkannya sejajar lurus saat ucapan ILLALLAH
-Menurut Imam Hanbali bahwa telunjuk menunjuk setiap mengucapkan lafadz Allah. (Syarh Ibanatul Ahkam hal 435/436)
Kedua riwayat, yaitu menggerak -gerakkan jari telunjuk dan tak menggerak - gerakkannya
merupakan kabar yg shahih menurut Imam Baihaqi, namun tidak menggerak - gerakkannya
merupakan hal yg lebih mantap utk khusyu. (Syarh Imam Al Baijuri Ahkam shalat hal 255).
Menggerakkan jari jari tidak membatalkan shalat, demikian ittifaq 4 madzhab..."
(dijawab Oleh : Habib Munzir Al Musawa)

Selasa, 01 April 2014

“Syari'at nabi Muhammad SAW = Syari'at + Thareqat +Hakikat”..

“Syari'at nabi Muhammad SAW =
Syari'at + Thareqat +Hakikat”..
Sebagaimana Sabda-nya :
Syari'atul aqwali (Syari'at itu perkataan-ku).Thariqatul ahwali (Thariqat itu perbuatan-ku).Hakikatul rasyumali(Hakekat adalah keadaan batin-ku)…Maksudnya :...
SYARI'AT adalah ilmu dari seluruh ajaran yang telah disampaikan melalui ucapan.THARIQAT adalah cara atau jalan yang ditempuh dalam
meng-amal-kan Syariat.
HAKIKAT adalah tingkat kesadaran spiritual serta derajat atau maqam yang dicapai...Maka.....
MA'RIFAT itulah hasil-nya..Begitu pula tentang Islam, Iman dan Ikhsan.....
Islam berkembang menjadi Ilmu Fikih..
Iman berkembang menjadi Ilmu Kalam.
Ikhsan berkembang menjadi Ilmu Tasawwuf....
Jadi .....
Berbicara mengenai Tasawuf adalah berbicara tentang tujuan atau Hakikat dari Agama..Agama yang tidak berhenti pada syari'at saja.... TETAPI.....
Syar'at nabi Muhammad SAW yang mencakup Syari'at +Thariqat + Hakikat.................salam'alaika.........