Laman

Selasa, 06 Mei 2014

RISALAH KEDUAPULUH tujuh


Ia bertutur :
Anggaplah kebaikan dan keburukan sebagai dua
buah dari dua cabang sebuah pohon. Cabang
yang satu menghasilkan buah yang manis,
sedang cabang yang satunya lagi, buah yang
pahit. Maka dari itu, tinggalkanlah kota-kota,
nerei-negeri yang menghasilkan buah-buah
pohon ini dan penduduknya. Dekatilah pohon itu
sendiri dan jagalah.

Ketahuilah kedua cabang itu,
kedua buahnya, sekelilingnya, dan senanitiasa
dekatlah dengan cabang yang menghasilkan
buah yang manis; maka ia akan menjadi
makananmu, sumber dayamu, dan waspadalah
agar kau tak mendekati cabang yang lian, makan
buahnya, dan akhirnya rasa pahitnya
membinasakanmu.
Jika kau senantiasa berlaku
begini, kau akan selamat dari segala kesulitan,
sebab segala kesulitan diakibatkan oleh buah
pahit ini. Bila kau jauh dari pohon ini, berkelana
di berbagai negeri, dan buah-buha ini
dihadapkan kepadamu, lalu dibaurkan
sedemikian rupa, sehingga tak jelas antara yang
manis dan yang pahit, dan kamu memulai
memakannya, bila tanganmu mengambil buah
yang pahit, sehingga lidahmu merasakan
pahitnya, kemudian tenggorokanmu, otakmu,
lubang hidungmu, sampai anasir tubuhmu, maka
kau terbinasakan.
Pembuanganmu akan sisanya
dari mulutmu dan pencucianmu akan akibatnya
tak dapat menghapus yang telah tertebar di
sekujur tubuhmu, dan sia-sia.
Tapi, jika kau makan buah yang manis dan rasa
manisnya menebar ke seluruh anggota tubuhmu,
maka kau beruntung dan bahagia, meski hal ini
tak mencukupimu.
Tentu, bila kau makan buah
yang lain, kau katakan tahu bahwa buah yang ini
pahit. Maka, kau akan mengalami yang telah
disebutkan bagimu.
Maka, tak baik menjauh dari pohon itu dan tak
tahu buahnya. Keselamatan terletak pada
pendekatan dengannya. Jadi kebaikan dan
keburukan berasal dari Allah Yang Mahakuasa
lagi Mahaagung.
“Allah telah menciptakanmu dan
yang kau lakukan ( Qs.37.96).
Nabi saw. bersabda : “Allah telah menciptakan
penyembelih dan binatang yang disemebelih.”
Segala tindakan hamba Allah adalah ciptaann-
Nya, begitu pula buah upayanya. Allah Yang
Mahakuasa lagi Mahaagung berfirman :
“Masuklah ke dalam surga disebabkan yang
telah kau lakukan.” (Qs. 16:32).
Syaikh Abdul Qadir AJ qs

Perancang burung garuda yang terlupakan


Siapa tak kenal burung Garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila). Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu? Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak – keduanya sekarang di Negeri Belanda. Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda. Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda. Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marah. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila- sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR RIS adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis. Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.
Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini. Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 Jo Pasal 6 PP No 66 Tahun 1951.
Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang. Turiman SH M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak yang mengangkat sejarah hukum lambang negara RI sebagai tesis demi meraih gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tersebut bisa membuktikan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. “Satu tahun yang melelahkan untuk mengumpulkan semua data.
Dari tahun 1998-1999,” akunya. Yayasan Idayu Jakarta, Yayasan Masagung Jakarta, Badan Arsip Nasional, Pusat Sejarah ABRI dan tidak ketinggalan Keluarga Istana Kadariah Pontianak,
merupakan tempat-tempat yang paling sering disinggahinya untuk mengumpulkan bahan penulisan tesis yang diberi judul Sejarah Hukum Lambang Negara RI (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Peraturan Perundang-undangan). Dihadapan dewan penguji, Prof Dr M Dimyati Hartono SH dan Prof Dr H Azhary SH dia berhasil mempertahankan tesisnya itu pada hari Rabu 11 Agustus 1999. “Secara hukum, saya bisa membuktikan. Mulai dari sketsa awal hingga sketsa akhir. Garuda Pancasila adalah rancangan Sultan Hamid II,” katanya pasti. Besar harapan masyarakat Kal- Bar dan bangsa Indonesia kepada Presiden RI SBY untuk memperjuangkan karya anak bangsa tersebut, demi pengakuan sejarah, sebagaimana janji beliau ketika berkunjung ke Kal-Bar dihadapan tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan anggota DPRD Provinsi Kal-Bar.
blogmwb.pun.bz/perancang-burung-garuda-yang-terlupakan. xhtml

Senin, 05 Mei 2014

Kecerdasan Ruhaniah adalah kebeningan batin

" YAA SAYIDII YAA ROSULULLOH " FAFIRU ILALLOH WA ROSULIHI SAW. # Kecerdasan Ruhaniah adalah kebeningan batin akibat pancaran nur nur IIahiah yang menyinari hati seorang hamba yang di kehendak-NYA . Pancaran nur tersebut selanjutnya akan menuntun hatinya menggerakan Iahiriah untuk berbuat, berkreasi, beramal, dan beribadah kepada Tuhan dengan sebenar benarnya. Dengan demikian bukan berarti Tuhan berada dalam diri, namun adanya kita dapat bergerak tentu karna adanya peran Alloh ta'alla di dalamnya. Dan dengan kesadaran inilah, maka nilai-nilai moralitas akan terpelihara. Karna seluruh tindakannya berasal dari pilihan hatinya yang tercerahkan nur IIahiyah. Dan tentu saja, perasaan kehadiran Alloh di dalam hati tidak akan datang begitu saja, melainkan harus di latih melalui keheningan batin dan menjalankan riyadhoh riyadhoh Qolbiyah. Menerabkan ajaran Wahidiyah lillah-billah dan seterusnya secara terus menerus serta di pupuk dengan Mujahadah Sholawat Wahidiyah."

Adab Dalam Bersahabat

Syeikh Abu Nashr as-Sarraj
Al-Junaid rahimahullah berkata: Dikisahkan dari sekelompok syekh Sufi, dari Ibrahim bin Syaiban - rahimahullah - yang berkata, “Kami tidak pernah bersahabat dengan orang yang mengatakan ini sandalku dan ini tempat air minumku.” Ada seseorang berkata kepada Sahl bin Abdullah- rahimahullah, “Sesungguhnya aku ingin bersahabat dengan Anda.”
Maka Sahl berkata kepadanya, “Jika salah seorang di antara kita mati maka yang lain akan bersahabat dengan siapa?” Orang tadi menjawab, “Allah!!”
Kemudian Sahl berkata, “Jika demikian, maka bersahabatlah dengan-Nya sejak sekarang.”
Seseorang berkata kepada Dzun-Nun al-Mishri - rahimahullah, “Dengan siapa aku berteman?”
Dzun-Nun menjawab, “Dengan Siapa pun yang apabila Anda sakit Dia menjengukmu, dan ketika Anda berbuat dosa Dia bisa menerima tobatmu.”
Sebagian kaum Sufi berkata, “Semua sahabat, yang Anda berkata kepadanya, `Tunaikan untuk kami.’ Kemudian la bertanya, `Ke mana?’ Maka ia bukanlah seorang sahabat.”
Dan Dzun-Nun - rahimahullah yang berkata, “Janganlah Anda bersahabat dengan Allah kecuali kecocokan (setuju dengan segala kebijakan-Nya), janganlah Anda bersahabat dengan makhluk kecuali dengan saling memberi nasihat, janganlah Anda ber­muamalah dengan nafsu kecuali dengan cara menentangnya, dan jangan pula dengan setan kecuali Anda melawan dan memeranginya.”
Ahmad bin Yusuf az-Zujaji - Rahimahullah - berkata,
“Dua orang yang bersahabat laksana dua cahaya. Ketika keduanya ber­kumpul maka akan melihat apa yang sebelumnya mereka tidak pernah melihatnya.”
Perselisihan adalah pangkal perpecahan. Dan ini adalah godaan setan yang sangat halus dalam usaha memisah persahabatan dua orang yang bersahabat hanya demi Allah.
Abu Said al-Kharraz - Rahimahullah - berkata, “Saya bersahabat dengan para Sufi selama lima puluh tahun dan tak pernah terjadi perselisihan antara kami dengan mereka.” Kemudian ia ditanya, “Mengapa bisa demikian?” Maka la menjawab, “Sebab aku bersama mereka pada satu jiwa.”
Al Junaid-rahimahullah-berkata, “Sungguh saya ditemani seorang fasik yang berakhlak balk adalah lebih saya senangi daripada orang yarag pandai membaca al-Qur’an namun jelek akhlak­nya.”
Ia juga berkata, “Saya pernah melihat orang botak yang selalu diam dan tak banyak bicara bersama Abu Hafsh an-Naisaburi - rahimahullah. Kemudian saya bertanya kepada teman-temannya, 'Siapa orang ini?’ Mereka menjawab, ‘la adalah orang yang selalu menemani Abu Hafsh dan melayani kami. la telah menginfakkan seratus ribu dirham kepada Abu Hafsh dari kantongnya sendiri, kemudian la berhutang seratus ribu lagi kepada orang lain yang kemudian la infakkan kepadanya. Itu pun Abu Hafsh tidak memperkenankan la berbicara satu kalimat pun.”
Abu Yazid al-Bisthami - rahimahullah - berkata,
“Saya pernah berteman dengan Al as-Sindi. Saya selalu mengingatkan kewajiban yang la lakukan. Sementara la mengajariku Tauhid secara praktis.”
Abu Utsman berkata, “Aku pernah berteman dengan Abu Hafsh, waktu itu aku masih sangat muda. Kemudian ia mengusirku dan berkata, `Jangan duduk di sisiku.’ Maka aku tidak ingin mengimbangi ucapannya dengan berpaling darinya. Kemudian aku pergi ke belakang sambil berjalan, sementara wajahku tetap
kuhadapkan ke arahnya, sampai aku tidak terlihat lagi olehnya. Aku berniat akan menggali sumur untuk diriku sendiri di depan pintunya. Kemudian aku turun dan duduk di dalamnya kemudian tidak akan keluar lagi dari sumur tersebut kecuali bila diizinkan­nya. Ketika la melihat kemauanku tersebut maka la mendekatiku dan menerimaku kemudian aku dijadikan salah seorang sahabatnya yang paling dekat sampai la wafat.”
Saya mendengar Ibnu Salim berkata, “Saya bersahabat dengan Sahl bin Abdullah - rahimahullah - selama enam puluh tahun. Suatu ketika saya pernah bertanya kepadanya, `Saya telah mela- yanimu selama enam puluh tahun, tapi tidak sehari pun engkau pernah memperlihatkan saya orang-orang yang bermaksud datang kepadamu, dimana mereka adalah para wali Allah dan abdal’ Kemudian la menjawab, `Bukankah engkau sendiri yang mem­persilakan mereka masuk menemuiku setiap hari? Apakah kemarin engkau tidak pernah melihat seorang yang memakai sarung dan siwak dimana la berbicara denganmu? la adalah termasuk dari mereka’.”
Ibrahim bin Syaiban - rahimahullah - berkata, “Kami menemani Abu Abdillah al-Maghribi - rahimahullah. Pada saat itu kami masih sangat muda. la bepergian bersama kami melalui da­ratan dan gurun pasir. Ia juga ditemani seorang syeikh bernama Hasan, dimana la telah menemaninya selama tujuh puluh tahun. Jika salah seorang di antara kami melakukan kesalahan, dan dirl syeikh terjadi perubahan, maka kami minta bantuan kepada syeikh Hasan ini, sehingga la bisa mengembalikan kami pada kondisi sebelumnya.”
Disebutkan dari Sahl bin Abdullah - rahimahullah - yang suatu ketika la pernah berkata kepada sebagian sahabatnya, “Jika Anda termasuk orang yang takut binatang buas maka janganlah Anda menemaniku.”
Yusuf bin al-Husain ar-Razi berkata: Saya pernah berkata kepada Dzun-Nun al-Mishri, “Siapa yang pantas aku jadikan teman?” la menjawab, “Orang yang Anda tidak pernah menyem-bunyikan darinya sesuatu yang Allah mesti mengetahuinya dari Anda.”
Sementara itu, Ibrahim bin Adham - rahimahullah - jika ia ditemani oleh seseorang, maka la mengajukan tiga syarat:
1. Persahabatan adalah suatu pengabdian;
2. Memberi tahu kepadanya; dan
3. Tangannya dalam segala anugerah dunia yang dibukakan Allah kepadanya hendaknya seperti tangannya sendiri. Kemudian ada seseorang dari sahabatnya berkata, “Aku tidak sanggup melakukannya.” Maka Ibrahim bin Adham berkata kepada sahabatnya, “Saya kagum terhadap kejujuran Anda.” Dan Ibrahim bin Adham adalah seorang Sufi yang bekerja mengawasi kebun atau ikut memanen hasil pertanian dan kemudian hasilnya la bagikan kepada para sahabatnya.
Abu Bakar al-Kattani - rahimahullah - berkata, “Pernah ada seseorang menemaniku. Padahal dalam hatiku ada beban yang sangat berat. Kemudian suatu ketika aku memberinya pakaian, dengan harapan agar beban berat yang ada dalam hatiku bisa hilang. Namun tak kunjung hilang. Maka pada suatu hari aku membawanya ke rumah atau ke suatu tempat, dan aku katakan padanya, `Letakkan kaki Anda di atas pipiku.’ Namun la tidak mau melaku­kannya. Kemudian aku meyakinkannya lagi, Anda harus melakukan hal itu.’ Akhirnya la mau melakukannya, dan apa yang menjadi beban berat di hatiku akhirnya hilang.”
Syekh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah - berkata: Kisah ini saya dengar dari ad-Duqqi. Dan dari Syam saya bermaksud pergi ke Hijaz sehingga saya bisa bertanya langsung kepada Abu Bakar al-Kattani tentang kisah ini.
Abu All ar-Ribathi - rahimahullah - berkata:
Aku pernah menemani Abdullah al-Marwazi - rahimahullah. Sebelum aku berteman dengannya, la telah memasuki daerah gurun pasir tanpa membawa bekal apa pun. Ketika saya menemaninya la berkata kepadaku, “Mana yang lebih Anda sukai, Anda yang menjadi seorang pimpinan (amir) ataukah aku?”
Maka aku menjawabnya, “Anda-lah yang jadi pemimpin.”
Maka la berkata, “Jika demikian, maka Anda harus taat.” Aku pun menjawabnya, “Ya!”
Kemudian la mengambil keranjang (tas) dan mengisinya bekal kemudian ia panggul di punggungnya.
Ketika aku berkata padanya, “Berikan barang itu padaku biar aku yang membawanya.”
Maka la berkata sembari bertanya, “Bukankah aku yang menjadi pemimpin? Sehingga Anda harus taat kepadaku.” Kemudian pada suatu malam hujan mengguyur kami hingga pagi hari. Aku duduk di sebelahnya, sementara la berdiri lebih tinggi di atas kepalaku dengan mengenakan pakaian tebal dan berusaha menghalangi air hujan agar tidak membasahiku. Maka aku berkata sendiri dalam hatiku, “Andaikan aku mati dan tidak pernah berkata kepadanya, `Andalah yang menjadi pemimpin.
Kemudian la berkata, “Jika ada orang yang ingin menemani Anda maka temanilah dia sebagaimana Anda melihatku menemani Anda.”
Sahl bin Abdullah -rahimahullah - berkata, “Hindarilah berteman dengan tiga kelompok manusia: Para penguasa diktator yang lalai, orang-orang pandai membaca al-Qur’an yang suka mencari muka dan para Sufi yang bodoh.”
Inilah cara mereka bersahabat antara satu dengan yang lain dalam makna yang telah kami sebutkan kisah-kisahnya. Semoga yang sedikit ini bisa menjadi cukup bagi mereka yang cerdik dan berakal. Semoga Allah memberi taufik kepada kita.

Rabu, 30 April 2014

Mbah Ahmad Marzuqi


Giriloyo adalah sebuah dusun di bawah kaki perbukitan Imogiri. Masyarakat sekitar mengenal dengan nama Pajimatan, suatu bukit yang terkenal di daerah kawasan selatan Yogyakarta karena disanalah raja-raja kerajaan Mataram Islam dimakamkan.
Daerah Giriloyo ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan Daerah Istetimewa Yogyakarta (jaraknya hanya sekitar 15 km). Namun karena daerah ini terpencil dan berada di kaki bukit. Sasana khas pedesaan yang sepi dan sunyi namun penuh dengan kebersamaan dan kedamaian sangat mewarnai daerah tersebut.
Suasana sepi yang mewarnai Giriloyo itu pada pertengahan abad ke-18 M sedikit demi sedikit berrubah dengan munculnya kelompok pengajian yang diasuh oleh KH. Romli, seorang ulama yang menjadi Mursyid Tarekat Syathariyah. Seluruh murid-muridnya diberi ijazah tarekat tersebut dengan maksud agar mereka memiliki amalan-amalan harian yang pada akhirnya bisa lebih mendekatkan diri pada Allah SWT.
Keseriusan dan ketekunan dalam pengelolaan pengajian, membuat KH. Romli seakan melupakan sunnah rasul yang lain, yaitu melangsungkan pernikahan. Maka ketika dirasa jamaah pengajian yang dibinanya itu semakin lama semakin menunjukkan peningkatan, beliau segera melaksanakan pernikahan dengan putri dari Kiai Ali. Dari pernikahan dengan putri Kiai Ali ini lahir 5 orang putra yang salah satunya adalah bernama Ahmad Marzuqi.
KH. Ahmad Marzuqi lahir pada tahun 1901 M di desa tempat ayahnya tinggal yaitu di Giriloyo Wukirsari Imogiri Bantul sebagai putra bungsu. Kiai Romli sangat berkeinginan kelak si bungsu apabila sudah besar dapat menggantikan perjuangan yang telah dirintisnya, mendidik orang-orang untuk lebih dekat pada Allah. Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, sangat wajar apabila KH Marzuqi ketika baru berumur 4 tahun sudah dididik dengan konsentrasi penuh.
Pada tahun 1905 oleh Kiai Romli, Ahmad Marzuqi dipondokkan di Pondok Pesantren Kanggotan Pleret Bantul di bawah bimbingan KH. Zaini. Karena masih kecil, maka pada waktu itu beliau hanya diajari kitab-kitab ubudiyah seperti Safinatun Najah, Fathul Qorib dan lain-lain. Di pondok Kanggotan ini beliau belajar sampai tahun 1910 M.
Setelah lima tahun belajar di Kanggotan, Ahmad Marzuqi kemudian pindah pondok. Pondok yang dituju kali ini adalah Pondok Pesantren Termas yang berada di Pacitan Jawa Timur. pada saat itu pondok Termas berada di bawah bimbingan KH. Hafidz Dimyati, beliau belajar berbagai ilmu agama, seperti syara’, tasawuf, dan lain-lain. Di pondok ini beliau belajar selama 4 tahun, dari tahun 1910 sampai tahun 1914 M.
Ahmad Marzuki melanjutkan ngangsu kaweruh di ponok pesantren Watucongol Muntilan Magelang , tahun 1915 sampai tahun 1918. Kehausan Ahmad Marzuki dengan ilmu-ilmu keislmaan terobati di bawah bimbingan KH. Dimyati. Dengan semangat, beliau mempelajari
Pulang dari Watucongol, Ahmad Marzuqi kemudian meneruskan di pondok Pesantren Somolangu Kebumen Jawa Tengah. Dibawah bimbingan KH. Abdurrauf, beliau mendapat kepercayaan untuk mengajar santri (badal : sebagai pengganti kyai) apabila kiai sedang berhalangan atau sakit. Kepercayaan itu diemban dengan tekun dan ikhlas sehingga tidak heran jika beliau semakin lama semakin menguasai ilmu-ilmu yang sudah dipelajari di pondok-pondok yang terdahulu. Di Somolangu ini berlangsung antara tahun 1919 sampai tahun 1922.
Tahun 1922 sepulang dari Pondok Somolangu sampai tahun 1925, beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirap Kebumen Jawa Tengah. Walaupun sudah mahir membaca kitab, namun beliau tidak jemu untuk lebih mendalami kitab-kitab yang telah dikajinya terdahulu.
Hanya dua tahun lebih sedikit Ahmad Marzuqi menempat di Lirap Kebumen, pada tahun 1926 sampai tahun 1927 beliau pindah ke Pondok Pesantren Jamsaren yang ada di Solo Jawa Tengah. Pondok Jamsaren pada saat itu berada di bawah bimbingan KH. Idris. Sepulang dari Pondok Jamsaren ini beliau menunaikan ibadah haji untuk yang pertama kali dalam hidupnya.
Pada tahun 1927 (selepas menunaikan ibadah haji) sampai tahun 1931 beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok pesantren Krapyak Yogyakarta. Dibawah bimbingan KH. Munawwir ini beliau mewujudkan cita-citanya yang sudah lama terpendam ketika masih mengaji di Watucongol dahulu, yaitu keinginannya untuk menghafal Al-Qur’an 30 juz.
Keinginan itu menjadi kenyataan bahkan untuk melanggengkannya beliau baca ayat-ayat suci itu sampai khatam yaitu pada bulan Ramadlan saat sholat tarwih. Diceritakan, bahwa selama bulan ramadlan apabila badannya sehat, beliau khatamkan dalam satu bulan itu tiga kali khataman. Sepuluh hari pertama khatam untuk yang pertama, sepuluh hari kedua digunakan untuk menghatamkan bacaannya yang kedua dan sepuluh hari ketiga untuk yang ketiga kalinya.
KH. Ahmad Marzuqi Mulai berda’wah
Sepulang dari ngangsu kaweruh di berbagai pondok pesantren, sekitar tahun 1931, KH. Ahmad Marzuqi mulai melakukan pengajian-pengajian di berbagai tempat terutama di desa-desa di Gunungkidul. Perjalanan untuk mencapai daerah-daerah di Gunungkidul yang melewati hutan belantara memakan waktu berhari-hari itu beliau lakukan dengan berjalan kaki.
Dalam melakukan Dakwah di Gunungkidul, KH. Ahmad Marzuqi atau Mbah Marzuqi -demikian kata santri PPNU- bisa disebut sebagai pembuka jalan bagi keberadaan Islam di daerah tersebut. Ketika beliau membuka jamaah pengajian yang baru di desa-desa, beliau islamkan terlebih dahulu orang-orang yang akan ikut dalam pengajian tersebut. Sehingga ketika semakin hari semakin bertambah jumlah jamaahnya berarti semakin banyak pula orang Islam yang ada di desa itu.
Perjalanan dalam berdakwah itu bukan berarti tanpa mendapatkan rintangan. Rintangan itu datang dalam perjalanan maupun oleh orang yang tidak suka dengan dakwah yang beliau lakukan. Diceritakan, ketika dalam suatu perjalanan menuju salah satu desa di daerah Gunungkidul harus melewati sebuah sungai yang lebar dan dalam. Seseorang harus berenang untuk sampai di seberang karena tidak ada gatek. KH. Habib yang pada waktu itu diajak untuk menemani, tidak berani turun ke sungai karena melihat ada seekor ular besar sedang menunggu. Melihat ular di sungai yang siap untuk menyerangnya KH. Habib berteriak “Pak, ada ular !” Teriakannya tidak dijawab oleh Mbah Marzuqi. Beliau hanya menusukkan jari manisnya di pinggang KH. Habib. Seketika itu juga KH. Habib sudah berada di seberang sungai.
Untuk mempersatukan jama’ah pengajian, Mbah Marzuqi mendirikan masjid atau musholla di desa-desa. Hal ini dimaksudkan agar para jamaah bisa berkumpul dalam satu tempat dalam melaksanakan kegiatan. Pendirian masjid dan musholla ini juga dimaksudkan agar masyarakat di desa itu apabila sholat tidak dilakukan sendiri-sendiri di rumah, tetapi dilakukan di masjid atau musholla dengan berjamaah.
Untuk melengkapi pembangunan masjid, beliau mendirikan sekolah-sekolah formal yang tentunya hal ini bertujuan agar generasi mudanya bisa mendapatkan pendidikan formal. Tercatat ada 130 buah untuk tingkat taman kanak-kanak, 53 buah untuk tingkat Madrasah Ibtidaiyah, 12 sekolah untuk tingkat MTs dan SMP, 8 sekolah untuk tingkat MA dan SMU.
Aktivitas dakwah ini masih terus berlangsung ketika beliau dipercaya memimpin pesantren yang didirikan oleh sang ayah, KH. Romli, pada tahun 1935. Pondok itu dipimpin oleh beliau berlangsung sampai dengan tahun 1955. Bahkan selama memimpin pondok pesantren tersebut, beliau mendapatkan sambutan yang semakin hangat dari masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari terus berkembangnya pondok tersebut yang semakin hari semakin banyak orang yang ikut mengaji.
Selepas Kemerdekaan RI 1945, bumi nusantara ternyata masih disenangi oleh Belanda sehingga wajar apabila pada bulan-bulan setelah Agustusan itu Belanda masih banyak yang berseliweran di Indonesia. Orang-orang pribumi yang melihat tingkah Belanda itu merasa tidak senang sehingga di banyak tempat dikumpulkan para pemuda untuk digembleng menjadi prajurit yang tangguh. Mereka diberi ijazah dan amalan serta olah-kanuragan. Salah satu tempat yang digunakan sebagai markas itu adalah pesantren yang dipimpin oleh KH. Ahmad Marzuqi.
Mbah Marzuqi yang semenjak kecil suka dengan kehidupan sederhana, suka menolong orang lain dan tidak suka hidup mewah, mempunyai pandangan hidup bahwa seluruh jiwa dan raganya semata-mata dicurahkan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Prinsip hidup ini beliau wujudkan dengan melakukan dakwah dari satu desa ke desa yang lainnya tanpa pernah mengharapkan imbalan. Dakwah ini beliau lakukan dengan ikhlas dan semata-mata hanya untuk mengharapkan ridla dari Allah.
Kiai memang dalam berdakwah tidak pernah mengharapkan imbalan bahkan beliau serahkan seluruh harta bendanya pada mereka yang membutuhkan. Diceritakan, bahwa beliau mempunyai sawah yang luasnya mencapai 7 hektar dan sapi yang jumlahnya mencapai sekitar 150 ekor. Harta miliknya itu seluruhnya beliau serahkan pada masyarakat yang kurang mampu dengan sistem bagi hasil (tidak ada informasi yang menceritakan berapa bagian untuk beliau dan orang yang diserahi). Pemberian dengan sistem tersebut semata-mata hanya untuk meringankan beban yang ada pada masyarakat.
Pertolongan yang beliau berikan disamping secara materi juga dengan memberikan pengobatan kepada siapa saja yang memerlukannya. Bahkan dengan memberikan pengobatan ini, aktivitas dan pengikut dalam jamaahnya semakin besar sehingga sangat memudahkan beliau apabila berkeinginan membuka daerah binaan yang baru.
Ilmu ketabiban ini beliau dapatkan disamping dari ayahnya, KH. Romli juga beliau dapatkan dari semenjak beliau mondok di pesantren-pesantren. Menurut KH. Habib Marzuqi, salah seorang putranya bahwa ilmu ketabiban itu beliau peroleh dari KH. Dalhar Watucongol, KH. Ma’ruf, KH. Kholil Bangkalan, KH. Dimyati Termas, KH. Dimyati Kebumen dan KH. Abdurrahman. Pemberian pertolongan ini juga beliau imaksudkan sebagai sarana berda’wah.
Membina Rumah Tangga
Sebagai putra bungsu dari lima bersaudara, KH. Ahmad Marzuqi mendapatkan tongkat estafet dari KH. Romli untuk meneruskan perjuangannya. Untuk membantu perjuangannya KH. Ahmad Marzuqi melangsungkan pernikahan dengan putri dari KH. Arifin yaitu Ny. Dasinah. Dari pernikahan ini menurunkan dua orang putra yaitu KH. Asyhari Marzuqi (Kotagede) dan KH. Habib Marzuqi (Wates Kulonprogo).
Setelah berpisah dengan Ny. Dasinah, pada tahun 1949 KH. Ahmad Marzuqi melangsungkan pernikahan untuk yang kedua kalinya yaitu dengan putri KH. Abdullah, Ny. Zuhroh. Dari pernikahan ini menurunkan dua putra yaitu KH. Masyhudi dan KH. Ahmad Zabidi dan seorang putri yaitu Hj. Siti Hannah.
Akhir Hayatnya
KH. Ahmad Marzuqi sewaktu hidupnya pernah melarang tentang 3 (tiga) hal. Tiga hal itu adalah pertama, beliau melarang dan mengharamkan adanya kebijakan pemerintah mengenai diberlakukannya Keluarga Berencana (KB) bagi masyarakat Indonesia. Kedua, beliau melarang dan mengharamkan adanya praktek dunia perbankan. Ketiga, beliau melarang keras adanya anggapan bahwa semua agama di Indonesia adalah baik dan benar.
Larangan ini sekitar awal tahun 80-an beliau tanamkan kembali pada setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya di Giriloyo. Tidak peduli apakah tamu itu laki-laki atau perempuan, kecil atau besar, pegawai biasa maupun pejabat. Semua dilarang untuk melaksanakan tiga hal tersebut diatas. Begitulah semua itu berlangsung sampai pada tahun 1991 disaat beliau akan menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Innalillahi wainna ilaihi rajiuun. Tanggal 9 Jumadil Akhir 1411 H atau tanggal 14 Desember 1991 M pada hari Sabtu malam Ahad adalah hari beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Seluruh putranya dan masyarakat sekitar sudah berkumpul. Disaat itulah beliau berwasiat kepada putra-putra dan seluruh kaum muslimin untuk membaca do’a Nekto Dinulu. Do’a itu bacaannya adalah sebagai berikut:
Allahumma Nekto Dinulu ahub-ahub ing Allah
Laa ilaaha illa Allah Muhammad rasulullah shalla Allah alaihi wasallam
Allahumma Roh amadep ing Nurullah
Somad-somad kelawan roh idlofi
Jisim rupaku amadep ing cahaya
Ning roh angadep uripku ing cahyane Allah
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya Ghaffar Ya Aziz
Ya Quddus Ya ‘Alim Ya Karim Ya Arhamarrahimin.
Pagi harinya, ribuan orang datang dari berbagai daerah untuk memberikan penghormatan yang terakhir (melayat). Tidak sedikit dari para pelayat itu mengetahui meninggalnya KH. Ahmad Marzuqi lewat mimpi.
Diceritakan, pada malam hari (malam Ahad) seorang haji di daerah Prembun Kebumen bermimpi kedatangan Mbah Marzuqi. Dalam mimpi itu Mbah Marzuqi menyuruhnya untuk pergi ke Giriloyo dan jangan lupa membawa bakmi. Hari Ahad pagi, sambil membawakan bakmi pesanan Mbah Marzuqi pak haji dari kebumen itu meluncur menuju Giriloyo. Sebelum memasuki Giriloyo, haji itu singgah terlebih dahulu di masjid Pondok Ar-Ramli Wukirsari karena dilihatnya ada ribuan orang berkumpul. Kemudian pak haji dari kebumen itu bertanya “Ada apa kok suasananya ramai sekali?” Orang yang ditanya oleh pak haji itu menjawab bahwa Mbah Marzuqi meninggal. Pak haji tidak percaya karena tadi malam beliau bermimpi bertemu Mbah Marzuqi dan disuruh ke Giriloyo. Namun setelah mengetahui peristiwa yang sebenarnya terjadi, pak haji dari Kebumen itupun lemas.
Begitulah banyak dari para hadirin yang datang karena mendapatkan mimpi “disuruh ke Giriloyo oleh Mbah Marzuqi”. Semua masyarakat yang ditinggalkan merasa kehilangan dengan kepergiannya. Namun apa mau dikata, kita tidak bisa melawan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Begitulah KH. Ahmad Marzuqi telah mendahului kita dengan menanamkan pijakan yang mantap dan kokoh pada masyarakat yang ditinggalkan. Semoga amal baik beliau diterima disisi-Nya dan kita yang ditinggalkan bisa meneruskan apa yang menjadi cita-citanya. Amin.

Wahai Yaqin, kapankah kau akan datang dan bersemayam dalam Hatiku ??

Semakin berjalan kesini ternyata memang semakin banyak pertentangan dan ketidaksamaan keinginan antara yang harus di lakukan untuk mendapatkan duniawi dan yang harus di lakukan jika hanya dia bertujuan menuju Allaah...
Dan sepertinya karena persilangan seperti inilah yang membuat banyak orang berhenti atau gugur di tengah jalan dalam perjalanan menujuNya..
Pada satu sisi dia harus berjalan menghilangkan segala yg ada di hatinya selainNya..
Dan pada satu sisi dia butuh planing tentang hidupnya kedepan ..walaupun Dia sudah memberikan jaminan bahwa Dia yg akan menjamin hidupnya kedepan kalau saja dia mampu menghilangkan segala yg ada di benak dan planingnya...
Dia yg akan memberikan kemakmuran padanya ...
Berhadapan dg ini tentu Ada satu yang perlu di ambil..
Yaitu melanjutkan menujuNya..
Atau beralih menuju seperti pemikiran kebanyakan orang di luar sana..
Jika sudah spti ini harus ada keputusan yg keputusan itu kedepan nya berpotensi menimbulkan sesuatu yg "kontroversi" ..
Banyak hal yang terjadi d sekelilingnya tapi dia hanya mampu merespon dg diam atau tersenyum..
Begitu juga Saat berhadapan dg sesamanya seringkali dia mendengar perkataan yg membuat dia hanya berdiam dan tersenyum ..
Juga saat melihat perilaku sesamanya.. hanya mampu berdiam diri ..
Hal itu di lakukan karena dia berusaha berhusnudzhan padaNya..
mungkin Dia belum membukakan pintu pemahaman kpda mereka sama seperti pemahaman yg Dia berikan padanya...
Pertentangan itu sendiri lebih banyak datang dari orang terdekatnya...
Sebab ini ... ingin yg benar benar sejalan dan sepemahaman ..
Perbuatan / perkataan nya terkdang berbuah kontroversi bagi yg blum tahu tentang hakikat yg ia lakukan...
Tarbiyatun Nadhor... mungkin harus demikian ia bersikap..
Aaaaaarrrrrgggggg...
...... ............. .......
DEKA

PRASYARAT JADI WALI ALLAH

PRASYARAT JADI WALI ALLAH
PRASYARAT MENJADI WALI
Dalam kitab Al-hikam halaman 5 sampai 7 ditulis tentang dialog seorang guru dengan muridnya.
Dia sang guru bernama Sayid Ahmad Albadawy ra sedangkan muridnya bernama Abdul Aali, yang bertanya tentang syarat-syarat menjadi wali Allah SWT.
Berikut cuplikan coretan yang diambil kitab Al-hikam Syekh Ibnu Athoillah.
Murid Sayid Ahmad Albadawy ra yang bernama Abdul Aali bertanya pada gurunya:
" Apakah syarat yang harus diperbuat oleh seseorang yang ingin menjadi waliyullah ? "
Gurunya menjawab :
" Seseorang yang benar-benar dalam syari’at ada dua belas tanda-tandanya:
1. Benar-benar mengenal Allah (yakni mengerti benar tauhid dan mantap iman dan keyakinannya kepada Allah)
2.Menjaga benar-benar perintah Allah
3. Berpegang teguh pada sunnaturrasul SAW
4. Selalu berwudhu ( bila berhadas segera membaharuhi wudhu )
5. Rela menerima hukum qodha Allah dalam suka atau duka
6. Yakin terhadap semua janji Allah
7. Putus harapan dari apa yang ditangan semua makhluk (manusia)
8. Tabah, sabar menanggung berbagai derita dan gangguan orang
9. Rajin mentaati perintah Allah
10 Kasih sayang terhadap semua makhluk Allah
11. Tawadhlu’ merendah diri terhadap yang lebih tua atau lebih muda
12. Menyadari selalu bahwa syaithan itu musuh utama Sedang sarang syaithan itu dalam hawa nafsumu dan selalu berbisik untuk mempengaruhimu
SELAMAT MENCOBA MENJADI WALI ALLAH