Laman

Kamis, 22 Mei 2014

RENUNGANKU IKHLAS

Dalam aku merawat...tuhan datangkan bnyk sekali ujian..
Apa bila penyakit seseorang tue sembuh..
Otomatik aku akan berbangga diri..
Wahh...aku hebat...ada kuasa...
Aku boleh ini...Aku boleh itu...
Bigitu jugak dalam aku menerangkan atau mengajar ,
Terkadang aku merasa...
Wahhhh orang itu bodoh...dan ilmuku lebih tinggi..
Terutama bila disanjung dan dipuja...
Atau nk sanjungan itu...guru..atau ustad...
Dalam merawat atau jdi guru...
Iblis akan bnyk masuk dan mendatangi...
Yaitu dgn memasukan perasaan riya, sombong , egois
Takabur, berbangga diri.. dan beranggapan lebih hebat..
Dan berkebolehan lebih dari orang lain..
Maka untuk menghancurkan perasaan itu..
Tuhan datangkan sakit padaku..
Utuk aku mengingat dan trima hukuman..
Dan menyadarkan kesilapan aku tersebut..
Sakit itu berupa cengkaman
Dalam seluruh tubuhku..terutama otakku..
Aku cobe mencari..apakah benda nie...
Rupanya apabila aku bermujakarah..
Dgn kwanku kudapati sakit ini adalah karna ilmu...
Betul dan Benar....
Sebelum aku jumpe jalan kerohanian dan menuju pda tuhan..
Mengenar arti diriku sebenarnya...dalm arti hamba
Aku sangat jahil...
Aku jugak belajar mcm² ilmu..dan susuk..
Dgn berbagai guru..tetapi amalanku bnyk memakai
Ayat alquran , surah surah, dan ayat ayat..
ada juga yg mantera..boleh dikata..
Ilmu amalan ada 60 jenis ilmu..
dan susuk 40 jenis..berupa intan, emas, besi kuning..
Batu akik..
Dulu guruku...
Sebelum mengajar ilmu kerohanian..kenal diri..
Disuruhnya aku untuk membuang segala ilmuku
40 hari 40 mlam..aku disuruh..membaca ayat..
al isra ayat 81..itulah ayat menghilangkan setan dlm diri
dan memang benar..ilmuku macam hancur..
karna aku tak merasainya lagi...
Dan apa bila aku beralih arah...
Dari ilmu zikir menjadi ilmu rasa...
Aku memasuki badan dan diriku sendiri..
mengucapkan dua kalimah syahadah..
berjalan mencari tiada dlm diriku...
Aku mendapati..rupanya ilmuku terdahulu...
Hanya hilang kekuatannya saja..tetpi masih ada..
Dia menutub seluruh panca indra dan diriku...
sehingga aku macam terbelenggu
Dalam aku ciba mehilangkan ilmuku
Kedua sahabatku..mencobe membantu...
4 hari 4 mlm mengeluarkan ilmuku
ponm blum habis lagi diambil...
tetapi keadaanku lebih baik sedikit..
Dalam masih aku mencari jln untuk menghilankan ilmuku..
Aku bertemu dgnnya dlm alam maya ( fb )
Dia dpt tau bahwa aku tengah terbelenggu ilmu..
Tanpa aku bercerita..Namanya SS..
Dia bnyk memberi penerangan dalam arti iklas..
Aku sadar dan teringgat akan kesilapanku..
kesilapan dalam aku beramal terdahulu
yang maukan kehebatan dan kekuatan..
bukan maukan tuhan...
kenapa ilmu boleh membelenggu kita...
Karna kita tak iklas dlm beramal sehingga dapat kadam..
dari amalan tersebut..walauponm ayat atau surah al quran
sekalipun...karne aku sendiri yg yg melakukannya
berdasarkan pengalamanku...
aku beri contoh surat al fatehah atau ayat kursi..
kebnyakan saat ini dibuku atau guru menerangkan
tentang fadilat dan kegunaan ayat tarsebut..
maka apabila beraamal kite akan memikirkan surah tersebut..dgn maukan fadilat dan kelebihannya dgn niat pendinding, boleh merawat.., dijauhkan setan
boleh ini dan boleh itu ...
maka
kita akan jdi sirik...dan percaye ayat tersebut
mempunyai kekuatan dan kehebatan..
maka amalan itu akan jdi kadam
kadam itulah yg memberi perlindungan..
terus
dimana iklasnya...
dalam beramal..itu...
beramal semata mata maukan sesuatu..
BUKAN MAUKAN TUHAN...
Kalau engkau maukan tuhan...
tuhan sendiri yg jaga engkau
yang lindungi enkau
Jangan jdi macam kebodohanku...
ketolollanku...ke egoisanku...jadikan
kisah pahitku ini sebagai pengingat.
pengingat saat kau beramal...
jaga NIAT ITU...
NIAT
ITU SEPERTI KIRIM SURAT
JIKA SALAH TULIS ALAMAT
AKAN TERJADI SALAH TEMPAT..
YA ALLAH YA ROSULULLOH
Ampunkalah segala kesilapanku, perbuatanku,
kedaifhanku kejahilanku
baik sengaja atau tidak disengaja
dan lepaskanlah segala belenggu dan ikatan ini
kembali kepada engkau...
AMIN......

Tatkala Sayyidah FATIMAH Putri RASULILLAH Saw Sakit"


Saat RASULILLAH Saw di kabarkan bahwa PUTRI terkasihnya, Sayyidah FATIMAH sedang sakit.maka segera bliau menuju rumah
Sayyidah FATIMAH bersama sahabat nabi sayyidina Imran bin hushain.,

Sesampainya disana, beliau Saw mengucapkan salam dan minta izin untuk masuk.
Beliau Saw menemui putrinya yang sedang sakit, berbaring lemah di atas tikar yang terbuat daari anyaman daun kurma‘’
ASSALAMU’ALAIKUM WAHAI PUTRIKU, BAGAIMANA KEADAANMU ?’’ tanya Rasulullah Saw dengan penuh kasih sayang.’’
Demi Allah wahai ayah, aku sakit dan bertambah sakitku ketika aku tidak mendapatkan makanan beberapa hari ini, aku sangat
lapar wahai ayah, ! Jawab sayyidatina Fatimah RAH dengan suara lirih.
RASULILLAH SAW Menangis dan bersedih mendengar jawaban putrinya..
kemudian beliau Saw bersabda‘’ WAHAI PUTRIKU JANGAN ENGKAU MENANGIS DAN BERSEDIH HATI , DEMI ALLAH AKU
SUDAH TIGA HARI INI TIDAK MENCICIPI MAKANAN SEDIKIT PUN, SEDANGKAN AKU LEBIH MULIA DI SISI ALLAH DARI PADA
DIRIMU.SUNGGUH JIKA AKU MAU MEMINTA KEPADA ALLAH MAKANAN YANG LEZAT, PASTI ALLAH AKAN MEMBERIKANNYA
KEPADAKU, NAMUN AKU LEBIH MENGUTAMAKAN KEJAYAAN DI AKHERAT DARI PADA DI DUNIA ‘’
‘’ KETAHUILAH, MARYAM ADALAH WANITA PALING MULIA PADA MASANYA,KHADIJAH JUGA WANITA PALING UTAMA DI
MASANYA DAN ENGKAU ADALAH WANITA PALING MULIA DI MASAMU, KALIAN SEMUA KELAK DISURGA AKAN MENEMPATI
ISTANA YANG TIDAK ADA LAGI KESUSAHAN DAN KESEDIHAN DIDALAMNYA. BERSABARLAH WAHAI ANAKKU, BERLAKULAH
QANA’AH TERHADAP SUAMIMU (Sayyidina Ali bin abi thalib KWH), SUNGGUH AKU TELAH MENIKAHKANMU DENGAN
SEORANG PEMUDA YANG AKAN MENJADI PIMPINAN DI DUNIA DAN AKHERAT.
****
(Imam Al-Ghazali Ra telah menyebutkan kisah tersebut dalam kitabnya yang Fenomenal "IHYA’ ULUMUDDIN ).
"Subhanallah"
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎﻣُﺤَﻢﺩ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍَﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎﻣُﺤَﻢﺩ

Kisah Haru JK dan Athirah, Ibunda Tercinta yang Meninggal dalam Pelukannya

Kisah Haru JK dan Athirah, Ibunda Tercinta yang Meninggal dalam Pelukannya

DI balik setiap manusia besar selalu ada kisah manusia-manusia besar. Di balik setiap keberhasilan, selalu saja ada kisah tentang mereka yang setia menebar benih-benih keberhasilan. Di bumi Anging Mammiri, terdapat satu kisah yang menyentuh hati tentang seorang anak yang tak meninggalkan ibunya selama lebih 40 tahun, serta kelembutan seorang ibu yang serupa embun dan mengantarkan anaknya hingga kursi Wakil Presiden RI. Ibu itu adalah Athirah, ibunda dari Muhammad Jusuf Kalla.

SUATU hari, di akhir tahun 1940-an. Nun jauh di desa Bukaka, Bone, Sulawesi Selatan, seorang ibu tengah menidurkan putranya. Ibu itu berbaju khas seorang wanita pedesaan. Ia bersenandung untuk anaknya dengan syair berbahasa Bugis, “Anakku. Semoga engkau panjang umur dan menjadi orang yang melampaui apa yang dicapai orang dalam kebaikan.”

Ibu itu menatap anaknya dengan penuh kasih. Langit dan bumi menjadi saksi betapa dirinya amat mencintai anaknya. Ia kemudian berzikir sembari melepas ribuan harapan agar kelak sang anak bisa menjadi manusia berguna. Hari itu, di pertengahan bulan puasa, sang ibu lalu membagikan sarung kepada banyak warga Bukaka, sembari berpesan, “Doakan supaya Ucu bisa jadi bupati.”

Bone terletak tak jauh dari pesisir laut Sulawesi. Lelaki Bone adalah para petarung yang menjadikan laut sebagai arena untuk mengasah kecakapan. Mereka berlayar hingga ke tempat-tempat yang jauh. Para pelaut Bugis telah lama masyhur dan memijakkan kaki di banyak tempat, mulai dari tanah Johor hingga Madagaskar.

Banyak pula di antara mereka yang menjadi pedagang dan sukses berniaga di mana-mana. Salah satu dari sekian banyak pedagang sukses itu adalah Hadji Kalla. Lelaki asal kampung Nipa di Bone ini adalah tipikal pedagang tahan banting yang telah berdagang sejak usia muda. Mulanya ia pedagang biasa di dekat Pelabuhan Bajoe.

Selanjutnya, ia merambah ke bisnis transportasi, perdagangan lintas benua, hingga akhirnya membuka perusahaan NV Hadji Kalla. Ia kemudian dijodohkan dengan Athirah, perempuan lembut yang selalu bersenandung untuk anaknya.

Sejarah kemudian mencatat bahwa sang anak, yang dipanggil Ucu itu, telah jauh melampaui harapan orangtuanya agar dirinya menjadi bupati. Anak itu menjadi pemilik banyak perusahaan besar yang mempekerjakan ribuan orang.

Anak itu melangkahkan sebagai seorang wakil presiden, pada sebuah jabatan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Anak itu telah menjadi pejuang kemanusiaan dan perdamaian, memberikan banyak kontribusi bagi tanah air dan nusa bangsa.

Tak banyak yang tahu kalau sukses Hadji Kalla dan putranya Jusuf bersumber dari mata air seorang perempuan bernama Athirah. Perannya tak kecil. Athirah bukanlah seorang perempuan yang terpenjara di rumah dan hanya menanti suami sepanjang hari.

Athirah adalah seorang pekerja keras yang punya visi hebat dalam bisnis. Ia sukses mengelola bisnis kain sutera dengan pelanggan yang tersebar ke mana-mana. Ia pulalah yang kemudian membimbing Jusuf Kalla memasuki dunia bisnis.

Perempuan itu lahir tahun 1924 di kampung Bukaka, Bone. Ayahnya Muhammad adalah Kepala Kampung dan mantan penasehat Kerajaan Bone. Ibunya Hj Kerra adalah seorang pedagang kecil-kecilan sekaligus ibu rumah tangga.

Meskipun Athirah dijodohkan dengan Hadji Kalla pada usia 13 tahun, ia mencintai suaminya sepenuh hati. Meskipun pendidikan formalnya hanya di level sekolah dasar, ia ikut terjun dalam bisnis penjualan kain sutra.

Secara rapi ia mencatat semua pembukuan usaha dalam dua huruf yakni huruf latin dan huruf lontara, yang digunakan oleh orang Bugis. Ia rutin menghitung hasil penjualannya setiap hari menjelang tidur dan kemudian dimasukkan ke dalam brankas (peti uang) dan dikelolanya sendiri tanpa campur tangan dari pihak lain termasuk Hadji Kalla dan anak-anaknya. Catatan pembukuan dilakukannya setelah salat subuh.

Visi Athirah sangat kuat. Jusuf menuturkan bahwa pada pada tahun 1965, bisnis sedang lesu. Beberapa tahun sebelumnya, Athirah telah memiliki firasat akan iklim bisnis yang akan terpuruk.

Athirah lalu membeli banyak emas batangan, yang kemudian ditanam di bawah tempat tidurnya. Hanya Hadji Kalla, Athirah, dan Jusuf sendiri yang tahu posisi emas tersebut. Ketika krisis ekonomi menghantam dan nilai rupiah terjun bebas, ibunya lalu memerintahkan Jusuf untuk mengambil emas itu sedkit demi sedikit untuk membayar semua gaji karyawannya.

Ketika ekonomi membaik, emas itu kemudian menjadi awal dari usaha NV Hadji Kalla yang lalu mengibarkan bendera di banyak ranah bisnis. Tanpa visi Athirah, tak akan pernah ada kisah tentang salah satu kelompok usaha pribumi paling kuat di Sulawesi Selatan.

Pada ayahnya, Jusuf belajar tentang ketangguhan dalam bisnis serta kemampuan melihat sisi baik dari setiap masalah. Sedang pada ibunya Athirah, ia belajar bagaimana menjadi seorang manusia yang memberi manfaat bagi sesamanya.

Ibunya menitipkan banyak filosofi kehidupan, yang kemudian menjadi pegangan hidupnya. Kata Jusuf, ibunya pernah berkata, “Kalau kau sudah naik mobil, lihat orang naik motor, dan kalau kau naik motor lihat orang naik sepeda. Kamu akan merasa lebih baik dan mensyukuri hidup. Jangan berpikir bahwa ketika kamu naik motor tiba-tiba iri saat melihat orang naik Mercy, maka pastilah kamu akan susah tidur.”

Kisah Poligami

Banyak yang bertanya, mengapa Jusuf Kalla justru tetap setia berkarier dan berbisnis di Makassar? Mengapa ia tak berpikir untuk berekspansi ke Jakarta lalu membangun usaha besar di sana?

Pertanyaan ini amat menarik. Saya pun berusaha untuk menemukan jawabannya. Pada awal Orde Baru, banyak pengusaha yang berbondong-bondong ke Jakarta dan memulai bisnis ketika ekonomi sedang membaik. Tapi Jusuf justru memilih tetapbertahan di Makassar. Ia juga tak tergoda untuk bekerja di instansi lain setamat kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanuddin.

Saya menemukan jawabannya pada novel Athirah, yang ditulis Alberthiene Endah, terbita Noura. Ternyata, Jusuf bertahan di Makassar demi untuk menemani sang ibu yang saat itu merasa sendirian.

Satu fakta mencuat bahwa di balik kisah kesuksesan keluarga itu, terdapat satu kisah mengharukan tentang prahara keluarga yang dialami Athirah. Tak banyak yang tahu bahwa sejak muda, Jusuf telah melihat langsung kesedihan ibunya Athirah yang hanya bisa dipendam sejak ayahnya berpoligami.

Tahun 1955 adalah tahun paling berat bagi Jusuf. Ia menyaksikan kesedihan ibunya yang menjalani hari-hari serba berubah sejak suaminya menikah lagi. Bapaknya mulai jarang pulang ke rumah.

Jusuf menjadi tempa bagi ibunya untuk bercerita banyak hal. Pada Jusuf, ibunya menitipkan semua perasaan serta kegalauannya. Dalam usia muda, keadaan telah ‘memaksa’ Jusuf untuk menjadi lelaki dewasa yang mendampingi semua aktivitas ibunya, sekaligus menjadi ayah bagi empat saudaranya.

Sebagaimana halnya wanita Bugis pada masa itu, Athirah tidak banyak bercerita tentang perasaannya pada sang suami. Ia lalu mengalihkan energinya pada usaha yang dikelolanya. Ia menjadi amat kreatif dan selalu bergerak untuk membesarkan usaha. Ia aktif berorganisasi di Muhammadiyah.

Ia juga mengajak anak lelakinya Jusuf untuk terjun langsung dan mengawal banyak usaha. Hingga akhirnya, Hadji Kalla pun memercayakan Jusuf untuk menangani semua unit usaha lainnya. Di tahun 1982, Athirah meninggal dunia dalam pelukan Jusuf. Tiga bulan setelahnya, Hadji Kalla juga meninggal saat menyadari kesedihan istrinya sejak dirinya berpoligami.

Selama 40 tahun, Jusuf menjadi sahabat terdekat sekaligus tempat bercerita ibunya yang membesarkan semua anaknya. Semua kearifan itu diserap dan diterapkannya ketika mengembangkan bisnis NV Hadji Kalla dan melebarkannya di kawasan Indonesia timur.

Kisah mereka mengingatkan saya pada tuturan Malcolm Galdwell dalam buku Outlier(2008) bahwa di balik setiap pribadi besar, selalu ada konteks sosial serta manusia-manusia yang berperan besar. Bahwa di balik kisah tentang kehebatan satu tokoh, selalu saja ada pengalaman dan latar keluarga yang kemudian membesarkan seseorang untuk mengambil banyak peran strategis.

Peran besar Athirah pada Jusuf, mengingatkan saya pada syair Kahlil Gibran: “Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan. Pemberi harapan di dalam penderitaan, dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan. Manusia yang kehilangan ibunya berarti kehilangan jiwa sejati yang memberi berkat dan menjaganya tanpa henti…” (Kompasiana.com/Yusran Darmawan) 
 
DI balik setiap manusia besar selalu ada kisah manusia-manusia besar. Di balik setiap keberhasilan, selalu saja ada kisah tentang mereka yang setia menebar benih-benih keberhasilan. Di bumi Anging Mammiri, terdapat satu kisah yang menyentuh hati tentang seorang anak yang tak meninggalkan ibunya selama lebih 40 tahun, serta kelembutan seorang ibu yang serupa embun dan mengantarkan anaknya hingga kursi WakilPresiden RI. Ibu itu adalah Athirah, ibunda dari Muhammad Jusuf Kalla.
 
SUATU hari, di akhir tahun 1940-an. Nun jauh di desa Bukaka, Bone, Sulawesi Selatan, seorang ibu tengah menidurkan putranya. Ibu itu berbaju khas seorang wanita pedesaan. Ia bersenandung untuk anaknya dengan syair berbahasa Bugis, “Anakku. Semoga engkau panjang umur dan menjadi orang yang melampaui apa yang dicapai orang dalam kebaikan.”
Ibu itu menatap anaknya dengan penuh kasih. Langit dan bumi menjadi saksi betapa dirinya amat mencintai anaknya. Ia kemudian berzikir sembari melepas ribuan harapan agar kelak sang anak bisa menjadi manusia berguna. Hari itu, di pertengahan bulan puasa, sang ibu lalu membagikan sarung kepada banyak warga Bukaka, sembari berpesan, “Doakan supaya Ucu bisa jadi bupati.”
Bone terletak tak jauh dari pesisir laut Sulawesi. Lelaki Bone adalah para petarung yang menjadikan laut sebagai arena untuk mengasah kecakapan. Mereka berlayar hingga ke tempat-tempat yang jauh. Para pelaut Bugis telah lama masyhur dan memijakkan kaki di banyak tempat, mulai dari tanah Johor hingga Madagaskar.
Banyak pula di antara mereka yang menjadi pedagang dan sukses berniaga di mana-mana. Salah satu dari sekian banyak pedagang sukses itu adalah Hadji Kalla. Lelaki asal kampung Nipa di Bone ini adalah tipikal pedagang tahan banting yang telah berdagang sejak usia muda. Mulanya ia pedagang biasa di dekat Pelabuhan Bajoe.
Selanjutnya, ia merambah ke bisnis transportasi, perdagangan lintas benua, hingga akhirnya membuka perusahaan NV Hadji Kalla. Ia kemudian dijodohkan dengan Athirah, perempuan lembut yang selalu bersenandung untuk anaknya.
Sejarah kemudian mencatat bahwa sang anak, yang dipanggil Ucu itu, telah jauh melampaui harapan orangtuanya agar dirinya menjadi bupati. Anak itu menjadi pemilik banyak perusahaan besar yang mempekerjakan ribuan orang.
Anak itu melangkahkan sebagai seorang wakil presiden, pada sebuah jabatan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Anak itu telah menjadi pejuang kemanusiaan dan perdamaian, memberikan banyak kontribusi bagi tanah air dan nusa bangsa.
Tak banyak yang tahu kalau sukses Hadji Kalla dan putranya Jusuf bersumber dari mata air seorang perempuan bernama Athirah. Perannya tak kecil. Athirah bukanlah seorang perempuan yang terpenjara di rumah dan hanya menanti suami sepanjang hari.
Athirah adalah seorang pekerja keras yang punya visi hebat dalam bisnis. Ia sukses mengelola bisnis kain sutera dengan pelanggan yang tersebar ke mana-mana. Ia pulalah yang kemudian membimbing Jusuf Kalla memasuki dunia bisnis.
Perempuan itu lahir tahun 1924 di kampung Bukaka, Bone. Ayahnya Muhammad adalah Kepala Kampung dan mantan penasehat Kerajaan Bone. Ibunya Hj Kerra adalah seorang pedagang kecil-kecilan sekaligus ibu rumah tangga.
Meskipun Athirah dijodohkan dengan Hadji Kalla pada usia 13 tahun, ia mencintai suaminya sepenuh hati. Meskipun pendidikan formalnya hanya di level sekolah dasar, ia ikut terjun dalam bisnis penjualan kain sutra.
Secara rapi ia mencatat semua pembukuan usaha dalam dua huruf yakni huruf latin dan huruf lontara, yang digunakan oleh orang Bugis. Ia rutin menghitung hasil penjualannya setiap hari menjelang tidur dan kemudian dimasukkan ke dalam brankas (peti uang) dan dikelolanya sendiri tanpa campur tangan dari pihak lain termasuk Hadji Kalla dan anak-anaknya. Catatan pembukuan dilakukannya setelah salat subuh.
Visi Athirah sangat kuat. Jusuf menuturkan bahwa pada pada tahun 1965, bisnis sedang lesu. Beberapa tahun sebelumnya, Athirah telah memiliki firasat akan iklim bisnis yang akan terpuruk.
Athirah lalu membeli banyak emas batangan, yang kemudian ditanam di bawah tempat tidurnya. Hanya Hadji Kalla, Athirah, dan Jusuf sendiri yang tahu posisi emas tersebut. Ketika krisis ekonomi menghantam dan nilai rupiah terjun bebas, ibunya lalu memerintahkan Jusuf untuk mengambil emas itu sedkit demi sedikit untuk membayar semua gaji karyawannya.
Ketika ekonomi membaik, emas itu kemudian menjadi awal dari usaha NV Hadji Kalla yang lalu mengibarkan bendera di banyak ranah bisnis. Tanpa visi Athirah, tak akan pernah ada kisah tentang salah satu kelompok usaha pribumi paling kuat di Sulawesi Selatan.
Pada ayahnya, Jusuf belajar tentang ketangguhan dalam bisnis serta kemampuan melihat sisi baik dari setiap masalah. Sedang pada ibunya Athirah, ia belajar bagaimana menjadi seorang manusia yang memberi manfaat bagi sesamanya.
Ibunya menitipkan banyak filosofi kehidupan, yang kemudian menjadi pegangan hidupnya. Kata Jusuf, ibunya pernah berkata, “Kalau kau sudah naik mobil, lihat orang naik motor, dan kalau kau naik motor lihat orang naik sepeda. Kamu akan merasa lebih baik dan mensyukuri hidup. Jangan berpikir bahwa ketika kamu naik motor tiba-tiba iri saat melihat orang naik Mercy, maka pastilah kamu akan susah tidur.”
Kisah Poligami
Banyak yang bertanya, mengapa Jusuf Kalla justru tetap setia berkarier dan berbisnis di Makassar? Mengapa ia tak berpikir untuk berekspansi ke Jakarta lalu membangun usaha besar di sana?
Pertanyaan ini amat menarik. Saya pun berusaha untuk menemukan jawabannya. Pada awal Orde Baru, banyak pengusaha yang berbondong-bondong ke Jakarta dan memulai bisnis ketika ekonomi sedang membaik. Tapi Jusuf justru memilih tetapbertahan di Makassar. Ia juga tak tergoda untuk bekerja di instansi lain setamat kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanuddin.
Saya menemukan jawabannya pada novel Athirah, yang ditulis Alberthiene Endah, terbita Noura. Ternyata, Jusuf bertahan di Makassar demi untuk menemani sang ibu yang saat itu merasa sendirian.
Satu fakta mencuat bahwa di balik kisah kesuksesan keluarga itu, terdapat satu kisah mengharukan tentang prahara keluarga yang dialami Athirah. Tak banyak yang tahu bahwa sejak muda, Jusuf telah melihat langsung kesedihan ibunya Athirah yang hanya bisa dipendam sejak ayahnya berpoligami.
Tahun 1955 adalah tahun paling berat bagi Jusuf. Ia menyaksikan kesedihan ibunya yang menjalani hari-hari serba berubah sejak suaminya menikah lagi. Bapaknya mulai jarang pulang ke rumah.
Jusuf menjadi tempa bagi ibunya untuk bercerita banyak hal. Pada Jusuf, ibunya menitipkan semua perasaan serta kegalauannya. Dalam usia muda, keadaan telah ‘memaksa’ Jusuf untuk menjadi lelaki dewasa yang mendampingi semua aktivitas ibunya, sekaligus menjadi ayah bagi empat saudaranya.
Sebagaimana halnya wanita Bugis pada masa itu, Athirah tidak banyak bercerita tentang perasaannya pada sang suami. Ia lalu mengalihkan energinya pada usaha yang dikelolanya. Ia menjadi amat kreatif dan selalu bergerak untuk membesarkan usaha. Ia aktif berorganisasi di Muhammadiyah.
Ia juga mengajak anak lelakinya Jusuf untuk terjun langsung dan mengawal banyak usaha. Hingga akhirnya, Hadji Kalla pun memercayakan Jusuf untuk menangani semua unit usaha lainnya. Di tahun 1982, Athirah meninggal dunia dalam pelukan Jusuf. Tiga bulan setelahnya, Hadji Kalla juga meninggal saat menyadari kesedihan istrinya sejak dirinya berpoligami.
Selama 40 tahun, Jusuf menjadi sahabat terdekat sekaligus tempat bercerita ibunya yang membesarkan semua anaknya. Semua kearifan itu diserap dan diterapkannya ketika mengembangkan bisnis NV Hadji Kalla dan melebarkannya di kawasan Indonesia timur.
Kisah mereka mengingatkan saya pada tuturan Malcolm Galdwell dalam buku Outlier(2008) bahwa di balik setiap pribadi besar, selalu ada konteks sosial serta manusia-manusia yang berperan besar. Bahwa di balik kisah tentang kehebatan satu tokoh, selalu saja ada pengalaman dan latar keluarga yang kemudian membesarkan seseorang untuk mengambil banyak peran strategis.
Peran besar Athirah pada Jusuf, mengingatkan saya pada syair Kahlil Gibran: “Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan. Pemberi harapan di dalam penderitaan, dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan. Manusia yang kehilangan ibunya berarti kehilangan jiwa sejati yang memberi berkat dan menjaganya tanpa henti…” (Kompasiana.com/Yusran Darmawan)

RENUNGANKU TAUKAH ANDA...

RENUNGANKU
TAUKAH ANDA...
Dalam dri manusia..
Itu penuh mesteri..
karna dalam badan dan diri
manusia ada 18.000 alam...
Atau lapisan yg menutup..
cahayanya...

Hadis kudsi
KENAL DIRI
KENAL TUHAN
Dalam hadis nie..
kite disuruh tuk terokai dalm diri sendiri..
agar menjumpai yang sempurna itu..
yaitu yg menghidupkan kite..( roh )
karna die berasal dari yg maha hidup..
andai tak kenal roh..
bagaimana nk jumpe
yg hidupkan roh..( allah )
setiap lapisan lapisan alam..
bentuk dan rupanya berbeza..
dalam setiap alam..
terdapat 5 diri disitu..
yaitu jin, setan, iblis, malekat dan roh..
mcm halnya anda memasuki rumah..
dalam rumah ada berbagai bilik..
dan setiap bilik ada berbagai kunci
tuk membukanya dan memasukinya..
baru boleh menyelesaikannya..
menyelesaikan jin setan iblis dan malekat
atau dikosongkan baru boleh
memasuki alam atau bilik lain..
kunci rahasianya adalah..
jangn hukum ilmu orang lain..
atau sifat menghukummu dihilangkan..
itu kunci berjayanya...
begitu juga anda nk scan..
kalau anda boleh memasuki ..
alam dalm diri anda sendiri..
memasuki bilik bilik dan bilik..
otomatik anda boleh memasuki badan diri orang lain..
atau rumah orang lain itu...
tetpi kalau anda ponm tak tau
rumah atau alam diri sendiri..
mcm manew anda memasuki alam
atau rumah orang lain..
anda akan terperasan..bagus dan hebat..
pasal tau rumah orang lain..
yg ada jin setan iblis dan malekat..dan roh..
tetapi anda tidak sadar bahwa rumah anda..
ponw ada benda sama...
jadi..
jangn pandai cari aib orang lain..
karna aib dlm diri sendiri ponm tak tau
selesaikan aib itu yaitu jin setan iblis ..
dalm setiab alammu...
SALAM

RENUNGANKU


Banyk aku menjumpai dan menemui..
Guru , kawan dan rekan...
dalam perjalanku mencari diri..
tetapi aku melihat mereka..
caranya ,prilakunya dan ilmunya..
sangat teliti pandai dan bijak..
bercerita mengenai diri..
mengenai satu titik sebelum alip..
atau satu titik dibawah ba
harusnya kalau mereka menjumpainya..
mereka tidak ada penyakit..
tetapi mereka berpenyakit teruk..
kecing manis , darah tinggi, jantung
dan berbagai penyakit lagi...
apakah mereka nie hanya bercerita saja..
tetapi belum jumpa apa titik itu...
aku perbandingkan dgn jalan diriku..
yg aku pegang dan amalkan..
dan terkadang aku bgi pada kawan..
atau orang yg memerlukan...
sangat lain
dan berlainan sangat...
karna.. pabila aku menjumpai setitik itu..
mempergunakan dan mengamalkannya..
pabila aku sakit..
minum panadol ponm aku tak boleh..
dimuntahkan balik panadol itu..
dan begitu jugak dgn rekan rekanku..
yg membawa setitik ini..
sama jugak seperti aku..
kalau sakit tak boleh minum obat..
bahkan ada yg kew hospital..
obat hospital tak dew kesan..
dan sampai sekarang aku..
tak pernah minum obat..
karna setitik itu obat sempurna bagiku...
dan aku kaitkan dgn satu hadis..
" TIDAK ADA PENYAKIT
YANG TIDAK ADA OBAT
KECUALI MATI "
kalau setitik ini tak hidup
bagaimana mau mengobati badan..
setitik ini masih mati atau tidur..
maka meranalah badan..
menanggung beban...
dalam setitik ini
tidak ada lagi huruf, kalam dan rupa..
ianya hanya tenaga hidup yg menghidupkan kita..
yg datangnya dari yg maha hidup..
segala ayat segala hadis
ada dalam setitik itu..
dan segala obat ada didalammya..
setitik itulah yg boleh jumpa yg maha besar..
dan dlm setitik ini bnyk orang menamainya..
ada yg sebut allah, fuad, noktah, Hu, Ah..
hu allah , allah hu ..dan berbagai lagi nama..
tapi kenal nama belum tentu jumpa
barangnya apa, apa lagi mau mempergunakannya..
jdi jangan taksuf pada namanya
tidak menjadi jaminan bgi mu..
dan penyelamat bgi mu..
karna aku menjumpai
hadis qudsi..
barang siapa bertuhankan nama
tak kenal yang punya nama
kafir hukumnya..
MOHON JADI RENUNGAN
BERSAMA AGAR MENDAPAT
KASIH SAYANGNYA.
AMIN....

JAGALAH OLEHMU APAPUN MAQAMMU(ISTIQAMAHLAH)

Jika Hatimu telah bisa selalu terpaut pada Allah| itu semata mata atas Kemurahan Allah..atas bantuan allah mempermudah dirimu mengingat Allah ..
...
Gunakanlah kesempatan itu sebaik mungkin untuk meningkatkan / menguatkan maqomah mu..
Perbanyaklah olehmu Dzikir kepada Allah .. Ingatlah Allah selalu oleh mu saat kau duduk..saat kau berjalan.. kemanapun kamu pergi tetaplah ingat Dia al Haq..
Tingkatan Maqamah bukanlah tujuan dari perjalanmu munuju Allah..tapi mau tidak mau kau harus melewati tangga maqomah itu satu demi satu untuk bisa sampai kepada Allah ..
Maqamah ibarat tangga yg harus di lalui .. dan cara mendakinya adalah dengan membuka setiap hijab yg mnutupi hatimu..
Jika kau mampu membuka beberapa hijab di hatimu maka kau akan naik satu tangga maqamah ..semakin banyk hijab yang kau buka maka akan semakin tinggi maqamahmu .. dan setiap melewati tangga maqam trsebut ada "Bonus" Sirr Nya..
Hijab itu berada menutupi hatimu. Cara membukanya adalah dengan membersihkan hati.. membersihkan hati dengan memperbanyak dzikir ,melakukan amal wajib dan sunnah..
Hati yang terhijabi ibarat permata / berlian yg tertimbun lumpur ..
Lumpur / penghijab hati adalah satu dosa ke dosa yang lain.. jika kita mebuat satu dosa maka bertambah hijab kita..
Begitu pula jika kita berdzikir beramal wajib dan amal sunnah itu semua "memakan" hijab hijab dalam hati..

Rabu, 21 Mei 2014

Bahaya Kebiasaan Berhutang

Islam adalah agama yang mulia. Islam telah mengatur seluruh permasalahan di dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk di dalamnya adalah permasalahan hutang-piutang. Islam tidak hanya membolehkan seseorang berhutang kepada orang lain, tetapi Islam juga mengatur adab-adab dan aturan-aturan dalam berhutang.
Hukum Berhutang
Hukum asal dari berhutang adalah boleh (jaa-iz). Allah subhaanahu wa ta’aala menyebutkan sebagian adab berhutang di dalam Al-Qur’an. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ }
“Hai orang-orang yang beriman! Apabila kalian ber-mu’aamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya.” (QS Al-Baqarah: 282)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berhutang. Di akhir hayat beliau, beliau masih memiliki hutang kepada seorang Yahudi, dan hutang beliau dibayarkan dengan baju besi yang digadaikan kepada orang tersebut.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu’anhaa, bahwasanya dia berkata:
( أَنَّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ فَرَهَنَهُ دِرْعَهُ )
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai, kemudian beliau menggadaikan baju besinya” (HR Al-Bukhari no. 2200)
Kebiasaan Sering Berhutang
Akan tetapi, banyak kaum muslimin yang menganggap remeh hal ini. Mereka merasa nyaman dengan adanya hutang yang “melilit’ dirinya. Bahkan, sebagian dari mereka di dalam hidupnya tidak pernah sedetik pun ingin lepas dari hutang. Sebelum lunas pinjaman yang pertama, maka dia ingin meminjam lagi untuk yang kedua, ketiga dan seterusnya.
Jika hal ini dibiarkan, maka ini akan berlarut-larut dan akan “menular” kepada orang lain di sekitarnya. Terlebih lagi, dengan banyaknya fasilitas untuk berhutang yang disediakan oleh lembaga-lembaga, badan-badan atau perusahaan-perusahaan yang menganut sistem ribawi. Dan parahnya, tidak hanya orang-orang awam yang terlibat dengan hal-hal seperti ini, orang yang sudah lama mengaji, orang berilmu dan orang-orang kaya pun turut berpartisipasi dalam “meramaikannya”. Na’uudzu billaahi min dzaalika.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat takut berhutang dan sangat takut jika hal tersebut menjadi kebiasaannya. Mengapa demikian?
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu ‘anhaa, bahwasanya dia mengabarkan, “Dulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di shalatnya:
( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ)
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berhutang“
Berkatalah seseorang kepada beliau:
( مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟ )
“Betapa sering engkau berlindung dari hutang?”
Beliau pun menjawab:
( إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ, حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ. )
“Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berhutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya” (HR Al-Bukhaari no. 832 dan Muslim no. 1325/589)
Perlu dipahami bahwa berhutang bukanlah suatu perbuatan dosa sebagaimana telah disebutkan. Tetapi, seseorang yang terbiasa berhutang bisa saja mengantarkannya kepada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala. Pada hadits di atas disebutkan dua dosa akibat dari kebiasaan berhutang, yaitu: berdusta dan menyelisihi janji. Keduanya adalah dosa besar bukan?
Mungkin kita pernah menemukan orang-orang yang sering berhutang dan dililit oleh hutangnya. Apa yang menjadi kebiasaannya? Bukankan orang tersebut suka berdusta, menipu dan mengingkari janjinya? Allaahumma innaa na’udzu bika min dzaalika.
Memberi Jaminan Ketika Berhutang
Mungkin di antara pembaca ada yang mengatakan, “Bukankan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri berhutang?”
Ya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berhutang karena sangat membutuhkan hal tersebut pada saat itu. Coba kita perhatikan dengan seksama hadiits yang telah disebutkan. Bukankan yang dihutangi oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah makanan? Jika benar-benar memiliki kebutuhan, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang tercela.
Tetapi perlu diingat, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan hal yang mulia ketika beliau berhutang. Apakah hal yang mulia tersebut? Beliau menggadaikan baju besinya sebagai jaminan. Apabila beliau tidak mampu membayarnya, maka baju besi itulah yang menjadi pembayarannya.
Begitulah seharusnya yang kita lakukan ketika berhutang. Kita harus memiliki jaminan dalam berhutang. Jaminan-jaminan tersebut bisa berupa:
Harta yang dimiliki
Misalkan seseorang ingin membeli motor, dia memiliki uang di simpanannya sebanyak Rp 15 juta. Uang tersebut tidak berani dia keluarkan, karena menjadi simpanan usahanya yang harus di sisakan di simpanan bisnisnya, untuk berjaga-jaga dalam permodalan atau karena hal-hal lain. Kemudian orang tersebut membeli motor dengan kredit seharga Rp 15 juta kepada seseorang dengan batas waktu yang telah ditentukan.
Hal seperti ini tidak tercela, karena seandainya dia meninggal, maka dia memiliki jaminan harta yang ada di simpanannya.
Menggadaikan barang (Ar-Rahn)
Hal ini telah dijelaskan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Mengalihkan hutang kepada piutang yang dimiliki (Al-Hawaalah/Al-Hiwaalah)
Misalkan si A memiliki piutang (orang lain [si B] berhutang kepadanya) sebesar Rp 5 juta, kemudian orang tersebut ingin berhutang kepada si C sebesar Rp 5 juta. Si A mengatakan kepada si C, “Bagaimana menurutmu jika piutangku pada si B menjadi jaminan hutang ini.” Kemudian si C pun menyetujuinya. Maka hal tersebut juga tidak tercela dan pengalihan seperti ini diperbolehkan di dalam Islam. Seandainya si A meninggal, maka hutang tersebut menjadi tanggung jawab si B untuk membayarkannya kepada si C.
Mencari penanggung jawab atas hutang yang dimiliki (Al-Kafaalah)
Misalkan seseorang membutuhkan biaya yang sangat besar secara mendadak, seperti: biaya operasi yang diakibatkan oleh kecelakaan. Orang tersebut tidak memiliki uang atau harta sebagai jaminannya. Pihak rumah sakit meminta orang tersebut mencari seorang penanggung jawab (kafil) atas hutangnya tersebut. Seandainya orang tersebut kabur atau meninggal dunia, maka penanggung jawabnyalah yang membayarkan hutangnya kepada rumah sakit. Hal ini diperbolehkan dengan syarat penanggung jawab tersebut mampu untuk membayarkan hutangnya atau mampu mendatangkan orang yang berhutang tersebut apabila dia kabur.
Keburukan Jika Hutang Tidak Sempat Dilunasi
Jika tidak memiliki jaminan-jaminan yang telah disebutkan di atas, sebaiknya jangan membiasakan diri untuk berhutang. Karena orang yang meninggal sedangkan dia memiliki tanggungan hutang, maka dia akan mendapatkan banyak keburukan. Setidaknya penulis sebutkan tiga keburukan pada tulisan ini.
Keburukan pertama: Tidak dishalati oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menshalati jenazah yang memiliki hutang.
( عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا ، فَقَالَ : (( هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )), قَالُوا: لاَ، قَالَ: (( فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا ؟ )), قَالُوا: لاَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: (( هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )) قِيلَ : نَعَمْ ، قَالَ: (( فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟ )) قَالُوا : ثَلاَثَةَ دَنَانِيرَ، فَصَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ، فَقَالُوا: صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ: (( هَلْ تَرَك شَيْئًا؟ )) قَالُوا : لاَ، قَالَ: (( فَهَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ )) قَالُوا: ثَلاَثَةُ دَنَانِيرَ ، قَالَ: (( صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ ))، قَالَ أَبُو قَتَادَةَ: صَلِّ عَلَيْهِ يَا رَسُولَ اللهِ، وَعَلَيَّ دَيْنُهُ، فَصَلَّى عَلَيْهِ.)
Diriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiallaahu ‘anhu, dia berkata, “Dulu kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian didatangkanlah seorang jenazah. Orang-orang yang membawa jenazah itu pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau pun menshalatinya. Kemudian didatangkan lagi jenazah yang lain. Orang-orang yang membawanya pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Ya.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Ada tiga dinar.’ Kemudian beliau pun menshalatinya. Kemudian didatangkanlah jenazah yang ketiga. Orang-orang yang membawanya pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Ada tiga dinar.’ Beliau pun berkata, ‘Shalatlah kalian kepada sahabat kalian! Kemudian Abu Qatadah pun berkata, ‘Shalatilah dia! Ya Rasulullah! Hutangnya menjadi tanggung jawabku.’ Kemudian beliau pun menshalatinya.” (HR Al-Bukhaari no. 2289)
Hadits di atas jelas sekali menunjukkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mau menshalati orang yang punya hutang. Hal ini sebagai bentuk pengajaran beliau bahwa membiasakan diri untuk berhutang sedangkan dia tidak memiliki jaminan adalah sesuatu yang buruk. Oleh karena itu, sudah selayaknya orang-orang terpandang, tokoh masyarakat dan agama melakukan hal seperti ini ketika ada orang yang meninggal dan dia memiliki tanggungan hutang.
Keburukan kedua: Dosa-dosanya tidak akan diampuni sampai diselesaikan permasalahannya dengan orang yang menghutanginya
Diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiallaahu ‘anhu dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
( أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّى خَطَايَاىَ ؟)
“Bagaimana menurutmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan diampuni?”
Beliau pun menjawab:
( نَعَمْ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إِلاَّ الدَّيْنَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ لِى ذَلِكَ )
“Ya, dengan syarat engkau sabar, mengharapkan ganjarannya, maju berperang dan tidak melarikan diri, kecuali hutang. Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam baru memberitahuku hal tersebut” (HR Muslim no. 4880/1885)
Hadits di atas menjelaskan bahwa ibadah apapun, bahkan yang paling afdhal sekalipun yang merupakan hak Allah tidak bisa menggugurkan kewajiban untuk memenuhi hak orang lain.
Keburukan ketiga: Ditahan untuk tidak masuk surga, meskipun dia memiliki banyak amalan sampai diselesaikan permasalahannya dengan orang yang menghutanginya
Diriwayatkan dari Tsauban, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
( مَنْ مَاتَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ: الْكِبْرِ, وَالْغُلُولِ, وَالدَّيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ )
“Barang siapa yang mati sedangkan dia berlepas diri dari tiga hal, yaitu: kesombongan, ghuluul (mencuri harta rampasan perang sebelum dibagikan) dan hutang, maka dia akan masuk surga. (HR At-Tirmidzi no. 1572, Ibnu Majah no. 2412 dan yang lainnya. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Shahih” di Shahih Sunan Ibni Majah)