Laman

Minggu, 15 Juni 2014

RENUNGANKU


Dalam menulis atau membuat sesuatu
sebetulnya kata kata atau perbuatan
akan berlainan maksud, tujuan
walau ponm penulisnye sama..
tetapi yang menukis atau melakukan tidak sama

kenapa boleh macam tue..
karna dalam diri kita itu berlainan
walauponm satu badan sama..
tetapi lain....
dipecahkan adalah badan , diri, aku, hamba..
atau boleh dikatakan ..zat, sipat, asma , affaal..
atau boleh sariat , tarikat , hakikat , makrifat
semu berlainan padahal satu..
semakin kita memahami / mengenali diri kita
kita akan semakin paham dan mengerti..
siapa yang berbuat saat itu
apakah badan, diri, aku, atau hamba
yang melakukan atau berbuat..
aku mengkajinya dengan membaca
semu posting posting aku yang lalu..
siapa saat itu yang menulis atau melakukan
karna ayat kata, maksud, tujuan, dan penulisan
sangat lain...dan berlainan..
aku memahami dan mengkaji diriku sendiri..
dengn keadaan keadaan itu..
keadaan itulah ilmu sebenar...
atau dalam kitap syeh abdul kadir jailani
dikatakan zikir naff atau afaal kaffi..
karna aku menjumpai
suatu hadis..yg sangat susah untuk
diuraikan..dalam masa dulu
tetapi aku memahaminya saat ini..
hadis qudsi
TIADA ILMU YANG BOLEH SAMPAI
PADA ALLAH
SALAM

Sabtu, 24 Mei 2014

Masih Yakin kita melihat dengan mata???


proses dalam kita melihat tidak sesimpel yg kita rasakan,,, mata dalam tubuh kita bukan alat untuk melihat seperti yg kita yakini selama ini,, mata hanya berfingsi sebagai penangkap cahaya,, cahaya yang terpantul dari objek yang kita lihat akan ditangkap oleh mata dan cahaya tersebut akan langsung diubah menjadi sinya2 elektrik didalam mata,, yang dimana sinyal2 elektrik akan diteruskan melalui syaraf2 dari mata menuju otak kita,, diotak inilah sinyal2 tersebut akan dikonversi menjadi pencitraan gambaran seperti yang kita lihat,,, kuat lemahnya cahaya yg masuk ke mata akan dikonversi menjadi terang dan gelap,, sedangkan perbedaan panjang gelombang cahaya yg masuk ke mata akan di konversi menjadi berbagai macam warna... kesimpulannya apa yg kita lihat selama ini bukanlah kenyataan yg hakiki, melainkan hanya sebuah interpretasi yang di terjemahkan oleh otak sesuai dengan inputan cahaya yg masuk kedalam mata,,,,
Jika mata hanya berfungsi sebagai penangkap cahaya kemudian mengkonversi cahaya menjadi sinyal elektrik, dan otak hanya mengkonversi sinyal elektrik menjadi sebuah gambaran,,, maka pertanyaannya,, siapakah yang selama ini melihat gambaran tersebut?? dan dimanakah yang selama melihat gambaran tersebut???

Cinta Menurut Kaum Sufi


Cinta diambil dari kata ‘habab’ (Gelembung air) yang selalu berada di atas air. Dikatakan demikian karena cinta merupakan puncak segalanya dalam hati.
Dikatakan pula bahwa Cinta itu berasal dari istilah ‘menetapi’. Jika dikatakan “dia mencintai unta, maka ia menetapi bersama unta dan tidak meningalkannya, seolah-olah orang yang jatuh cinta itu hatinya tidak pernah melupakan untuk mengingat kekasihnya.
Diceritakan bahwa kata ‘hubbu’ (cinta) diambil dari kata ‘al habbu’ sebagai bentuk plural dari kata ‘habbah’ (biji), sedangkan biji hati merupakan sesuatu yang berada dan menetap dalam hati. Dari sini cinta disebut benih (biji) karena Cinta adalah benih kehidupan.
Kemudian Cinta itu disebut tiang karena Cinta menaggung kesenangan dan penderitaan.
Cinta merupakan suatu tempat yang berisi air. Tempat ini penuh dengan air dan tidak ada tempat untuk lainnya. Demikian jika hati telah penuh dengan Cinta, maka tiada tempat untuk selain kekasihnya.
Dikatakan bahwa Cinta mendahulukan kekasihnya daripada semua yang menyertainnya.
Dikatakan bahwa Cinta setia kepada kekasihnya, baik ketika berhadapan dengannya atau tidak.
Abu Yazid Al-Busthami berkata “Cinta menganggap sedikit pemberian yang ia keluarkan dan menganggap banyak pemberian kekasih walaupun sedikit.”
Sahal bin Abdullah berkata “Cinta itu merangkul ketaatan dan menentang kedurhakaan.”
Al-Junaid berkata “Cinta adalah masuknya sifat-sifat kekasih pada sifat-sifat yang mencintainya.”
Abu Ali Ahmad Ar-Rudzabari berkata “Cinta adalah kesetiaan”
Abu Abdullah Al-Quraisy berkata “Hakikat Cinta jika kamu memberi, maka kamu memberikan semua yang kamu miliki kepada orang yang kamu Cintai, tanpa tersisa sedikitpun untukmu.”
Dalf Asy-Syibli berkata berkata “Disebut Cinta Karena Cinta menghapus hati dari ingatan semua selain yang dicintainya.”
Dalf Asy-Syibli berkata “Cinta, Jika kamu cemburu pada seorang kekasih, maka orang sepertimu adalah mencintainya.”
Ahmad bin Atha’ berkata “Cinta itu dahan-dahan yang ditancapkan dalam hati sehingga hati akan berbuah seperti kemampuan akal.”
Muhammad bin ali al-Kattani berkata “Cinta Harus lebih mengutamakan yang dicintai.”
“Cintamu kepada sesuatu bisa membuatmu buta dan tuli” (HR Abu Dawud nomer 5130 dalam ‘Al-Adab’, Musnad Imam Ahmad 5 Halaman 194, dan 6 Halaman 450)
Kata ‘hubbu’ terdiri dari dua huruf ; ha’ dan ba’. Isyarahnya bahwa orang yang Jatuh Cinta harus keluar dari ruh, badan dan hatinya seperti kesepakatan suatu kaum yang mengatakan bahwa Cinta itu adalah kesetiaan. Kesetiaan yang paling nyata adalah kesetiaan dalam hati. Cinta harus tidak kontradiksi karena orang yang jatuh cinta akan selalu bersama orang yang dicintainya. Dengan demikian, maka terjadilah komunikasi,”
“al mar-u man’a ihabba”, Seseorang akan bersama yang dicintainya. (HR Mutafaqun alaih)

Ilmu ini (Hakikat) hanya bisa turun dengan Kasih Sayang

Ilmu ini (Hakikat) hanya bisa turun dengan Kasih Sayang
Islam adalah agama damai, sejuk, indah, memberi keselamatan kepada pemeluknya dunia dan akhirat serta menjadi rahmat bagi seluruh alam. Siapapun yang menyentuh Islam akan ikut bahagia lahir dan bathin. Islam adalah agama yang mengajarkan pemeluknya untuk berakhlak yang baik dan bekasih sayang antara satu dengan lain. Junjungan kita Rasulullah SAW memberikan contoh akhlak yang baik itu dan membimbing para sahabat dan ummat zaman itu untuk berakhlak yang baik, saling sayang menyayangi dan saling mencintai satu sama lain. Begitu mendalam dan berbekas pengajaran akhlak dari Nabi kepada sahabat sehingga mereka bahkan lebih mencintai saudaranya dari mencintai diri sendiri.
Bukan hanya terhadap ummat, kepada musuhpun Nabi menunjukkan kasih sayang, memberikan maaf kepada orang yang menyakiti Beliau bahkan terhadap orang yang pernah ingin membunuh Beliau. Power kasih sayang yang tulus itulah yang menyebabkan Beliau bisa diterima oleh segala lapisan masyarakat Arab yang terpecah menjadi banyak kabilah dan suku.
Dalam Hadist Qudsi Allah berfirman :
“Kasih sayang-Ku pasti Ku berikan kepada mereka yang saling berkasih sayang di jalan-Ku, saling berkumpul memenuhi panggilan-Ku, saling memberi pada jalan-Ku dan saling berziarah berkunjung karena aku”. (HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, Ibnu Hibban, dan Baihaqi dari Mu’az).
Apabila kita ingin dicintai oleh Allah, maka tebarkanlah kasih sayang kepada semua manusia di muka bumi ini terlebih lagi kepada kekasih-Nya. Selain dari Guru Mursyid, kita tidak tahu siapa diantara manusia yang berjalan dimuka bumi ini yang dekat dengan Tuhan dan makbul doanya sehingga tidak ada salahnya kalau kita berbuat baik dan menghargai semua orang sebagai bagian dari ajaran Rasulullah SAW. Bisa jadi orang yang kita lihat secara zahir bisa-biasa saja ternyata dialah orang yang paling dekat dengan Allah.
Berbuat baik dan menebarkan kasih sayang itu ibarat menam tanaman yang baik, semakin lama akan menuai hasil yang baik pula. Sebaliknya, berbuat jahat dan kemungkaran seperti menebarkan api yang akan bisa membakar dan memusnahkan diri sendiri.
Guru saya yang mulia memberikan nasehat, “Jangan pernah kau mendokan orang dengan doa yang buruk, karena kedudukanmu akan buruk pula di mata Tuhan”. Guru sangat melarang kita untuk mendoakan orang agar kena bala atau mendapat musibah, walaupun orang tersebut telaah berbuat jahat kepada kita. “Jika ada orang yang berbuat tidak adil kepada engkau, serahkan kepada Tuhan karena Dia lebih mengetahui hal yang tidak kau ketahui”, demikian nasehat Guru kepada saya.
Cara Nabi membina ummat Beliau zaman dulu kemudian diteruskan oleh para ulama pewaris Beliau sampai sekarang, sehingga tidak mengherankan kita lihat di kalangan pengamal Tarekat terutama yang masih satu Guru, diantara sesama murid benar-benar akrab secara lahir dan bathin. Mereka saling berkasih sayang, saling menghargai satu sama lain. Kedekatan dan keakraban semasa murid Guru bahkan melebihi kedekatan dengan saudara kandung. Memang para murid secara jasmani dilahirkan dari ibu yang berbeda akan tetapi secara rohani mereka “dilahirkan” dari Guru yang sama.
Sesama murid Guru, pada hakikatnya kedudukan kita sama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah walaupun dalam pandangan zahir terkadang dibedakan dari tahun masuk tarekat, tahun dituakan atau jumlah suluk yang pernah di ikuti. Biarlah Guru dan Allah SWT yang memberikan penilaian terhadap kedudukan kita, sementara tugas kita hanya memperkuat tali persaudaraan sehingga rahmat Allah akan selalu mengalir kepada kita semua. Begitu tingginya nilai persaudaraan dan persahabatan sehingga Allah menjadi orang ketiga diantara dua orang yang bersahabat sebagaimana Firman Allah :
“Aku adalah yang ketiga dari antara dua orang yang bersahabat selama salah seorang diantaranya tidak berkhianat. Bila salah seorang berkhianat kepada temannya, maka aku keluar diantara keduanya.” (HR. Abu Daud dan Hakim dari Abu Hurairah).
Saya mengakhiri tulisan singkat ini dengan mengutip ucapan Guru, “Ilmu ini (Hakikat) hanya bisa turun dengan Kasih Sayang dan kau pun menyampaikannya dengan kasih sayang, tanpa kasih sayang maka ilmu ini tidak akan bisa turun (tidak bisa diajarkan)”. Maknanya, ilmu-ilmu hakikat yang sangat tinggi nilainya hanya bisa turun (mengalir) dari Guru kepada para murid dan dari murid kepada orang lain harus dengan kasih sayang. Itulah sebabnya dalam terekat yang diutamakan bukan zikir atau ibadah akan tetapi Hadap (sopan santun) kepada Guru karena itu merupakan kunci turunnya seluruh ilmu dan karunia Allah SWT.

Jumat, 23 Mei 2014

——-TAMPARAN TUHAN YANG PENUH KASIH SAYANG——-


Ilmu Allah Swt sangatlah Luas sekali bahkan tak terbatas. Di dalam Ke Maha Luasan Ilmu-Nya itu meliputi segala
macam sifat2, apakah itu yang baik2 maupun yang buruk2, juga meliputiyang “Alami” dan “Ilmiah”. Tinggal bagaimana manusianya mengambil pelajaran dan hikmah dari apa2 yang telah di sediakan Allah Swt dari pada
Ilmu-Nya yang Maha Luas tadi. Jika kita semuanya mau menyadari…,
bahwa sesuatu yang Alami dan sesuatu
yang Ilmiah itu adalah bagaikan dua
kekuatan yang saling berhubungan satu
dengan yang lain. Ibarat dua tangan,
yaitu Tangan Kiri dan Tangan Kanan yang kedua2nya punya peranan
masing2 dan memiliki kedudukan
masing2. Akan tetapi walau kedua2nya
berbeda dari segi peranan dan
kedudukan tentunya jika ia bekerjasama dalam hal Kebaikan maka akan terjalinlah suatu keharmonisan
dalam hidup. Tetapi jika masing2 diri hanya melihat peranan dan kedudukan di dirinya
semata tanpa melihat saudaranya yang
lain, begitu pula sebaliknya. Maka tak
ubahnya ia itu ibarat Manusia yang
hanya memiliki Satu tangan. Ada yang memiliki hanya tangan kanan saja dan
ada pula yang hanya memiliki tangan
kiri saja.

Apakah itu yang dikatakan SEMPURNA?
Kesempurnaan itu bukanlah terletak
pada kedirian/ke EGO an/Hawa Nafsu. Karena kedirian/ke EGO an/Hawa Nafsu itu membawa perselisihan, perdebatan,
pertengkaran, permusuhan, sumpah
serapah, kutuk mengutuk, hujat menghujat, caci mencaci, cela mencela,
prasangka buruk, merasa diri yang
paling benar, yang paling sampai dll….dll…dll… dan pada akhirnya akan
timbul Fitnah memfitnah.
Apakah seperti itu para Arifbillah…..???
Apakah seperti itu para Pencinta Allah…..???
Apakah seperti itu para Kekasih Allah…..???
“Kebenaran yang Hakiki”(Allah Swt)
itu adalah Maha segala Maha, walaupun “DIA” pantas untuk sombong karena Maha segala Maha tetapi pada
kenyataanya “DIA” tidaklah sombong
bahkan Maha Rahman dan Maha Rahim. Buktinya…. Insan yang lemah tiada daya
dan tiada upaya yang fitrahnya di dalam
ke Dho’if an senantiasa selalu di perhatikan. Dari pagi sampai pagi lagi,
dari buka mata sampai tutup mata… 24
jam sehari semalam selalu mengalir Berkat, Rahmat dan Nikmat-Nya kepada
Insan walau insan itu menyadarinya
ataupun tidak.
Lalu bagaimanakah mereka2 yang telah
merasa kenal dengan Allah…???
Banyak di antara mereka yang lupa akan fitrah dirinya, sehingga
“KESADARAN” telah di kendalikan
oleh “PERASAAN”, Ya….
“PERASAAN”. Perasaan telah
menguasai Kesadaran dirinya sehingga membuat dirinya
merasa paling sempurna, merasa paling berilmu,
merasa paling tinggi, merasa paling
hebat, merasa paling kenal, merasa
paling sampai, paling…. paling…paling.
1000 kali paling… …..Waaaaaaaahhh!!!!!.
Saudaraku….. semuanya. Sungguh!, Letak kesempurnaan itu
hanya ada pada Allah Swt yang di sebut
pula dengan “KEBENARAN HAKIKI”.
Jika seseorang berjalan menuju kepada-Nya dengan menyadari ke Fitrahan
dirinya dengan menyadari Sesadar- sadarnya bahwa dirinya itu “Laa Haw
Laa Wa Laa Quwwata Illaa Billah”(Tiada
daya dan tiada upaya melainkan Qudrat
Iradat Allah semata dari buka mata
sampai tutup mata kembali, 24 jam
sehari semalam di dalam gerak dan diamnya, maka merekalah yang akan masuk dalam Pemeliharaan Allah Swt.
Dan akan di tuntun oleh Allah kepada
jalan2 kebaikan yang membawa
Rahmat Kasih dan Sayang.
Tetapi apabila Kedirian/ke EGO an/Hawa Nafsu yang mengendalikan
dirinya dari buka mata sampai tutup
mata kembali, 24 jam sehari semalam di
dalam gerak dan diamnya, maka
merekalah yang akan masuk di dalam perangkap “Iblis/Syaitan yang
membuat perasaan was2, sangka2,
perasaan gelisah, perasaan bingung,
perasaan gundah, perasaan resah,
perasaan takut dll. Dan akan dituntunlah
ia oleh Perasaan itu kepada jalan2 keburukan yang membawa Laknat,
Benci, dan Tak mau tersaingi.
Tetapi bagaimana dengan mereka yang
telah mengenal akan Allah tetapi masih
saja kedirian/ke EGO an/Hawa Nafsu
yang mengendalikan dirinya, yang
berbuahkan…… Laknat, Benci, dan Tak
Mau Tersaingi…?
Berarti mereka itu mengenal akan Allah
hanya masih di tataran TEORI belaka, belum lagi masuk kepada
“KESADARAN”, walau mengakunya
telah sampai, walau mengakunya telah
sempurna ilmu, walau mengakunya telah dituruni Laduni, Walau
mengakunya telah MANUNGGALING
KAWLA GUSTI. Jika masih kedirian/ke
EGO an/Hawa Nafsu yang
mengendalikan dirinya, maka apa2 yang di aku2i nya hanyalah TEORI!…. ya… TEORI!
Saudara2ku semuanya……
Marilah kita kembali kepada KESADARAN yang ada pada diri kita
masing2. Tanyakan pada diri kita….dan
Renungilah.
Apakah saya masih di kendalikan oleh
kedirian/ke EGO an/Hawa Nafsu ataukah tidak…???
Tanyakanlah…. Tanyakanlah….
Tanyakanlah….
Pesan ini lebih utama untuk diri saya
pribadi, dan juga untuk kita semuanya yang berada di jalan Ma’rifatullah.
Agar benar2 kita berada pada jalan Ma’rifatullah yang sesuai dengan yang dijalani para Anbiya wal Mursalin, Wali2 Allah dan para Arifbillah yang Ikhsan.
Salam Cinta Damai Kasih dan Sayang didalam Rahmat dan Ridho Allah swt.
Pengembara Jiwa yang masih di dalam perjalanan dan masih di dalam belajar

HANCURNYA KEGEMILANGAN ISLAM

RENUNGANKU
HANCURNYA KEGEMILANGAN ISLAM
Pernahkah anda mengkaji pasal sejarah
contah kejatuhan jaman kalifah atau
hancurnya kerajaan islam dinusantara
yaitu samudra pasai..( aceh )
sebetulnya hancurnya jaman kekalifahan
dan kerajaan samudra pasai sama saja
hanya berbeza masa dan zamannya
islam hebat karna ahli sufinya bukan
yaitu orang orang yg mempelajari
tarikat hakikat dan makrifat..atau tasauf
bukan yg asik cirite pasal hukum jew
begitu jugak dgn jaman itu...
samudra pasai adalah kerajaan hebat..
para penjajah dan yahudi..
tak dapat kalahkan karna begitu bnyknya
ahli sufi dan kerohanian di dalam kerajaan itu..
yang ikut berperang..dan jadi benteng pertahanan
untuk mengalahkannya mereka
mereka membuat satu plan..
yaitu disuruhnya atau mengupah orang untuk belajar..
tentang islam. tetapi bnyk pada sariat fekah
.apabila mereka ini mendapat nama...
otomatik mereka akan duduk ditempat tinggi
atau menjadi penasihat agama dikerajaan itu..
ada juga yg menjadi guru..
maka mereka hanya ajar ilmu sariat saja
cerite pasal hukum, baca quran, zakat..puasa sholat
tetapi mereka tidak ajar usuludin..
tarikat hakikat makrifat dan tasauf..
mereka hanya ajar pada kulit sahaja..
agar tidak jumap isi sebenarnya
dan mereka mula mengadu domba..
dgn mengatakan jalan tarikat, hakikat makrifat
atau tasauf adalah jalan sesat ,sirik , sesat jalan.
sesat ilmu..dan mcm mcm lagi..
tujuanya agar orang orang yg blum mengenal..
tak dapat belajar atau menjauhi ilmu ini..
dan bnyk juga ahli ahli kerohanian ini..
yang dihukum pancung..
maka akibatnya tembok islam hancur dari dlm..
karna pergaduhan ilmu dan apa bila bangsa asing
menyerang maka tembok tembok kukuh
dari ahli ahli kerohanian semakin berkurangan
maka kalahlah kerajan islam itu..
tuan puan mungkin tidak sadar..
minda dan fikiran tuan dan puan
sudah di rogol diperkosa dan dijajah awal awal lagi..
tanpa perasan...knp..karna tuan puan..
sudah menganggab ilmu ini sesat jalan
adakah tuan puan pernah mengkajinya..
haram jadah memang tak pernah ponm..
karna awal awal orang yg duduk sebagai mufti..
yang mengeluarkan fatwa ilmu nie sesat..
dan adakah tuan dan puan tau..
siapa yg bercakap itu..
orang islamkah atau orang yg belajar..
dari guru guru yg diupah atau dirasuah oleh
yahudi dan bangsa asing...
yang hanya mengajar pasal fekah semata mata..
tentu anda tidak tau..
karna anda tak pernah mengkaji..
hanya suka pada mencaci..
contoh sekarang..
ada orang mau bercerita pasal agama..
atau mengadakah kuliah atau ceramah ilmu
agama harus ada permit atau lesen...
apakah tujuan yg tersirat..
yaitu agar islam tak berkembang
dan makin kurangnya orang yg cerita pasal ilmu..
karna sudah dibatasi oleh lesen atau permit..
dan islam tidak maju....
diindonesia dihancurkan melalui ekonomi..
tetapi cerite agama masih bebas
dan boleh dimanaponm tanpa ada permit atau lesen
disini malaysia ekonomi maju tetapi
agama mula dipantau dgn permit atau lesen
agar pengajian tentang ilmu
usuludin, tasauf tarikat hakikat dan makrifat..
tidak berkembang dan mati..
maka agenda yahudi berhasil
maka akan same seperti jaman dahulu
seperti jaman kalifah atau kerajaan samudra pasai
apalah lagi hukum hudud itu
disahkan..comfm semu orang dijalan ini
akan dipancung , dipotong dan mcm macm gi..
cobelah renung dlm dlm
tuan puan..
dan cobelah mengkaji..
bukan duduk mengaji jew..!!

Syeikh Muhammad bin Salim Bab-shil: Rahasia Sholawat Sebagai Pendingin Akan Panasnya Tabiat

Syeikh Muhammad bin Salim Bab-shil: Rahasia Sholawat Sebagai Pendingin Akan Panasnya Tabiat
Keistimewaan shalawat, tidak terbilang jumlahnya, termasuk di antaranya: menyebabkan turunnya rahmat, menghapus dosa dan keburukan, mendatangkan hajat, menghilangkan problem yg sulit dipecahkan dan tdk ada amalan yg lebih berguna untuk menerangi hati dan mendapatkan ridlo Allah, yang maha mengetahui segala sesuatu yg ghaib, kecuali bacaan shalawat. Shalawat memang sangat istimewa, dibandingkan dzikir2 lain sebab shalawat bisa menghilangkan panasnya tabiat, sedangkan dzikir2 yg lain justru meluapkan aura panas.
Pengamal Sholawat Tidak Membutuhkan Guru Spiritual (Syeikh Mursyid)
Membaca sholawat, merupakan bentuk ibadah, yg paling utama dan paling besar pahalanya. Sampai2 sebagian kaum arifun mengatakan, “sesungguhnya sholawat itu bisa mengantarkan pengamalnya untuk ma’rifat kepada Allah, meskipun tanpa guru spiritual (mursyid). Karena guru dan sanadnya, langsung melalui Nabi.
Ingat! Setiap sholawat yg dibaca seseorang selalu diperlihatkan kpd beliau dan beliau membalasnya dg doa serupa. Hal ini berbeda dg dzikir2 (selain sholawat) yg harus melalui bimbingan guru spiritual yg sudah mencapai maqam ma’rifat. Jika tidak demikian, maka akan dimasuki syaithon dan pengamalnya tdk akan mendapat manfaat apapun.