Segala puji bagi Allah SWT dengan pujian yang dengannya kami dapat
mewujudkan ikhlas yang sesuangguhnya dalam penghambaan dan yang
dengannya kami menjadi bagian dari orang-orang yang hatinya terpenuhi
oleh cahaya Allah SWT SWT, yang tidak ada lagi tersisa celah sedikit pun
bagi syirik di saat-saat melakukan segala perbuatan.
Bila kami
katakan bahwa kesombongan (al-kibr) adalah tanda atas kebodohan, riya’
(ar-riya’) adalah tanda atas kepandiran, sesungguhnya hasad adalah
permusuhan (mu‘adah) terhadap Allah secara terang-terangan. Naudzu
billah!!!
Segala puji milik Allah, Yang mensucikan hati
orang-orang yang tulus dalam meraih kesucian, Yang menolong
hamba-hamba-Nya di dalam mensucikan hati mereka di jalan ketulusan
pencarian terhadap-Nya. Milik-Nya segala puji atas segala yang telah
dikaruniakan-Nya, milik-Nya segala puji atas segala yang tengah
dikaruniakan-Nya, dan milik-Nya segala puji hingga Allah ridha, dan
milik-Nya segala puji setelah ridha.
Ya Allah, limpahkanlah
karunia dan kesejahteraan senantiasa atas penghulu kami, Nabi Muhammad,
pemilik hati yang paling suci di antara makhluk, dan atas ahli baytnya,
shabat-shahabarnya, para tabi‘in, tabi’ut tabi‘in, dan para pengikut
mereka, hingga hari Kiamat.
Pada pelajaran yang lalu telah
dibahas ihwal menolehkan pandangan kepada hati dengan maksud untuk
mensucikannya dari kotoran-kotoran, yang menempel padanya dari maksiat
dan penyakit-penyakit hati.
Telah lalu penjelasan tentang
bagaimana mengobati hati dari penyakit sombong (al-kibr), yang menjadi
tanda dari kebodohan pelakunya, demikian pula tentang bagaimana
mengobati kegelapan penyakit riya’, yang merupakan bentuk peremehan hati
terhadap keagungan Allah SWT, dan penolehan hati, karena kebodohan,
kepada cinta kedudukan di sisi manusia. Imam Al-Haddad berkata, “Riya’
adalah tanda kebodohan pelakunya. Mengapa?”
Beliau berkata,
“Karena ia telah memalingkan ibadahnya kepada Allah kepada makhluk, yang
tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula memberikan madharat bagi
dirinya.”
Selanjutnya kita akan membicarakan bagaimana
melepaskan diri dari hasad, penyakit ketiga dari induk segala penyakit
dan maksiat hati.
Bila kembali mengingat pelajaran yang lalu,
kalian akan tahu bahwa sombong akan melahirkan penolehan pandangan
kepada manusia, karena pada kondisi ini seseorang membanding-bandingkan
dirinya dengan orang lain. Ia memandang dirinya lebih mulia dan lebih
utama dari orang lain. Pandangan ini muncul dari sombong dan merasa
lebih tinggi dari orang lain, yang selanjutnya berkembang menjadi riya’,
ingin dipandang oleh orang lain. Ia mencari dan menuntut pandangan
orang lain kepada dirinya, menuntut orang lain memuliakannya dan
mengagungkannya. Ia cinta terhadap kedudukan di antara manusia.
Keadaan semacam ini, bila terus tumbuh berkembang di dalam diri
pelakunya, selanjutnya akan berubah menjadi penyakit yang ketiga, yakni
hasad.
Hasad, yang merupakan maksiat di antara maksiat-maksiat
hati, adalah perasaan berat dalam memandang nikmat atau karunia yang ada
di sisi makhluk. Engkau merasa berat bila melihat orang lain memperoleh
nikmat dari Allah SWT, baik nikmat duniawi maupun nikmat ukhrawi. Dari
mana datangnya perasaan berat semacam ini? Perasaan itu datang karena
engkau sibuk untuk meraih dan mendapatkan kedudukan di antara manusia.
Apabila kedudukanmu di antara manusia adalah karena ilmu yang engkau
miliki, engkau akan merasa berat bila memandang orang lain yang lebih
alim dan berilmu dari dirimu, karena engkau takut orang-orang akan
menolehkan pandangan mereka kepadanya, bukan kepada dirimu. Sehingga
penyakit yang ada di dalam hatimu itu sampai kepada batasan bahwa
engkau merasa berat untuk melihat adanya nikmat yang Allah berikan
kepada selain dirimu. Mengapa? Karena engkau tidak menginginkan
orang-orang memandang kepada orang yang mendapat karunia itu. Engkau
hanya ingin agar orang-orang memandang kepadamu.
Atau, apabila
kedudukan yang engkau harapkan di antara manusia adalah dengan sebab
kekayaan yang engkau miliki, atau kemampuan untuk meng-goal-kan
proyek-proyek yang mendatangkan pundi-pundi kekayaan, engkau akan merasa
berat bila di hadapanmu terdapat orang lain yang juga memiliki
kemampuan seperti itu, karena engkau takut hal itu akan membuat
pandangan orang-orang tertuju kepadanya, bukan kepada dirimu.
Pada ilmu, kedudukan, pangkat, jabatan, dan pada apa pun itu, penuhnya
hati oleh kegelapan cinta terhadap kedudukan di sisi manusia akan
melahirkan setelahnya penyakit yang ketiga ini, yakni hasad, perasaan
berat melihat nikmat yang ada di sisi makhluk.
Bila kami
katakan bahwa kesombongan (al-kibr) adalah tanda atas kebodohan, riya’
(ar-riya’) adalah tanda atas kepandiran, sesungguhnya hasad adalah
permusuhan (mu‘adah) terhadap Allah secara terang-terangan. Naudzu
billah!!!
Apakah seseorang dapat menerima bahwa dirinya menjadi
musuh bagi Tuhan, Yang Maha Pemilik segala kemuliaan? Hasad adalah
permusuhan terhadap Allah SWT secara terang-terangan, karena orang yang
hasud seolah-olah ia menentang Allah SWT.
“Kenapa Engkau memberi si Fulan?”
Di saat engkau merasa berat untuk melihat adanya nikmat pada
seseorang, seolah-olah engkau menentang terhadap Yang memberinya nikmat
itu, Allah SWT. Inilah bahaya hasad. Engkau akan senantiasa hidup
dengan kegelapan hati, yang hatimu merasa berat untuk melihat kebaikan
di sisi manusia, dan menentang Allah SWT dalam memberikan karunia-Nya
kepada sekalian makhluk-Nya.
Hasad memiliki beberapa macam.
Pertama, hasad Iblis (al-hasad al-iblisiy). Yakni berharap hilangnya
nikmat dari orang lain meskipun nikmat itu tidak diharapkan menjadi
miliknya.
Seseorang berharap hilangnya nikmat dari orang lain
yang ada di hadapannya sekalipun nikmat itu tidak akan menjadi miliknya.
Misalkan, seseorang sukses dalam meng-goal-kan suatu transaksi bisnis,
engkau berharap agar orang itu mendapat kerugian, sekalipun dirimu tidak
dapat melakukan suatu transaksi pun.
“Atasku dan atas musuh-musuhku,” seperti yang dikatakan orang-orang.
Ini hasad Iblis. Dia merasa berat melihat kedudukan yang tinggi dari
Allah SWT berada pada ayah kita, Nabi Adam AS. Hasad semacam ini
kemudian membawa Iblis kepada menentang Tuhan, Yang Maha Pemilik segala
kemuliaan, dengan menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. Setelah
itu, sebagai ganti dari semestinya ia kembali dan bertaubat kepada Allah
SWT serta menyesali kesalahannya, yang, bila saja dia bertaubat,
niscaya Allah akan menghapuskan dosanya, karena sungguh Allah mahaluas
karunia-Nya, kepada Allah justru Iblis mengancam Adam AS dan
anak-cucunya. Iblis berkata, “Dia (iblis) berkata, ‘Terangkanlah
kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya
jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari Kiamat, niscaya
benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil."
(QS Al-Isra: 62).
Apakah perbuatan Iblis terhadap anak-cucu
Adam akan mengembalikan kedudukannya? Apakah dengan itu Iblis akan
mendapatkan kembali kedudukan yang telah hilang darinya? Tidak!!
Sekali-kali tidak akan pernah kedudukannya itu kembali kepadanya.
Disebabkan karena teramat gelap dan hitam pekatnya hasad yang ada di
dalam hatinya, Iblis berpaling dari seharusnya memikirkan bagaimana
mendapatkan ganti dari kerugian yang dialaminya, dan bagaimana meraih
kembali kedudukan yang telah hilang dari dirinya, kepada bagaimana
mendatangkan madharat terhadap orang lain yang mendapatkan karunia dan
kedudukan dari Allah SWT dan bagaimana melenyapkan karunia yang diraih
oleh selain dirinya.
Inilah yang terburuk dan paling hina dari macam-macam hasad.
Bila seseorang terhalang dari ketulusan dan kelapangan hati dan
selamanya bersedih hati, niscaya dia tidak akan pernah merasakan
nikmatnya ketaatan selama-lamanya. Tidak akan mungkin orang yang hasud
merasakan nikmatnya munajat kepada Allah SWT. Tidak akan mungkin orang
yang hasud merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, karena dia berhadapan
dengan Allah dengan sikap permusuhan terhadap-Nya.
Setelah
menjelaskan hakikat hasad dan macam pertama dari macam-macam hasad,
yakni hasad Iblis (al-hasad al-iblisiy), pengasuh melanjutkan
penjelasannya tentang macam-macam hasad selanjutnya dan bahaya darinya.
Kedua, harapan terhadap hilangnya nikmat dari orang lain agar
nikmat itu beralih kepada dirinya. Seseorang berharap hilangnya nikmat
dari orang lain yang berada di hadapanya dan dia berharap agar nikmat
itu beralih kepada dirinya. Dia berharap, si Fulan merugi dalam
usahanya, agar dirinyalah yang kemudian mendapat keuntungan yang besar.
Dia berharap, si Fulan jatuh kedudukannya, agar dialah yang nantinya
mendapatkan dan menggantikan kedudukannya.
Seseorang yang
memiliki sifat hasad semacam ini berharap hilangnya nikmat dari orang
lain agar dirinya yang mendapatkannya. Sifat semacam ini adalah sifat
yang buruk dan sesuatu yang dapat mengotori hati — wal-‘iyadzu billah,
semoga Allah menjauhkan kita dan kalian semua daripadanya. Akan tetapi
sifat hasad yang kedua ini lebih rendah keburukannya dari yang
sebelumnya.
Ketiga, harapan terhadap hilangnya nikmat dari
orang lain agar dia mendapatkannya, namun, jika tidak mendapatkannya,
dia tetap rela bila nikmat itu dimiliki orang lain.
Seseorang
berharap hilangnya nikmat dari orang lain yang ada di hadapannya dan
mengharapkan untuk mendapatkan nikmat itu. Akan tetapi jika tidak ada
jalan untuk menggapainya agar menjadi miliknya, dia merelakan nikmat itu
menjadi milik orang lain tersebut.
Jenis hasad semacam ini pun buruk, akan tetapi kadar keburukannya lebih ringan dari dua macam hasad sebelumnya.
Keempat, ghibthah. Sesuatu yang tidak dinilai buruk, tapi merasakan berat terhadap nikmat yang ada pada orang lain.
“Mengapa Fulan mendapatkan ini dan itu? Akan tetapi aku tidak berharap
agar si Fulan rugi. Aku hanya berharap agar aku pun mendapatkan seperti
yang didapatkan oleh si Fulan.”
Inilah ghibthah. Hasad seorang mukmin adalah ghibthah. Seorang mukmin tidak hasad kepada sesamanya, tetapi ia ghibthah.
Apa makna ghibthah kepada orang lain? Maknanya, ia berharap agar
mendapatkan nikmat seperti yang didapatkan orang lain, tetapi tidak
mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang lain.
Untuk macam
yang keempat ini, tidaklah mengapa dimiliki seorang mukmin. Engkau
melihat seseorang memiliki suatu kebajikan, misalkan ia telah hafal
Al-Qur’an. Engkau merasa berat karena engkau belum hafal, maka engkau
pun berharap agar segera dapat hafal Al-Qur’an, tapi engkau tidak merasa
berat terhadap saudaramu yang telah lebih dahulu hafal Al-Qur’an.
Perasaan berat itu selanjutnya memotivasimu untuk menghafal Al-Qur’an
sehingga engkau mendapatkan apa yang ia dapatkan.
Engkau tidak
berharap agar nikmat itu hilang dari saudaramu. Ini termasuk bab
at-tanafus (saling berlomba). Allah SWT berfirman, "...dan untuk yang
demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba." QS. Al-Muthaffifin: 26.
Ghibthah adalah sesuatu yang terpuji, karena ini kembali kepada sifat
asal manusia, yakni harapan untuk menang, harapan untuk beridentitas,
dan harapan untuk maju.
Bila datang ghibthah ke dalam hatimu,
tidaklah mengapa. Yang bermasalah adalah pada tiga macam yang pertama,
yakni seseorang berharap hilangnya nikmat dari orang lain.
Bahaya di Dunia
Adapun bahaya dan akibat yang ditimbulkan oleh sifat hasud sangatlah
besar. Dan tidak hanya terbatas di dunia, tetapi juga di akhirat.
Mengenai bahaya dan akibat sifat hasud di dunia, pertama, orang yang hasud akan senantiasa berada dalam duka dan kesedihan.
Orang yang hasud selalu berada dalam duka selama hidupnya. Karena
seseorang yang di hatinya terpenuhi oleh gelapnya sifat hasad tidak
pernah suka melihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah SWT. Dia
tidak pernah suka bila seseorang terlihat harmonis bersama keluarganya
sehingga berusaha untuk menebarkan fitnah, tidak suka bila seseorang
mendapatkan nikmat dari kebaikan dunia, tidak suka bila seseorang
mendapatkan nikmat berupa ilmu atau kebaikan apa pun.
Selamanya, ketika melihat orang lain mendapat kebaikan, dia akan merasa
berat karenanya, sehingga ia pun berharap agar nikmat itu hilang. Orang
semacam ini hidupnya miskin. Dia dalam kesedihan sepanjang hidupnya
karena karunia Allah tidak pernah terputus selamanya kepada makhluk-Nya.
Maka, sepanjang dia melihat karunia dan nikmat Allah di sisi
makhluk-Nya, sepanjang itu pula dia senantiasa berduka dan bersedih
hati sampai akhir umurnya.
Bila saja tidak ada akibat buruk
dikarenakan sifat hasad selain hal ini, niscaya cukuplah sebagai bukti
dari buruknya sifat hasad. Yang satu ini adalah bahwa orang yang hasud
selamanya bersedih di dunia.
Kedua, orang yang hasud tidak
memiliki kawan. Karena hubungannya dengan manusia lainnya sebatas
fatamorgana. Orang yang hasud, sekalipun seolah-olah mencurahkan cinta
kepada sesama, pasti akan datang saat-saat ketika tampak darinya sikap
dan perilaku yang menunjukkan bahwa dia seorang yang hasud terhadap
sesamanya sehingga orang-orang pun akan menjauh darinya. Orang yang
hasud tidak memiliki kawan. Dia akan hidup terkucilkan sekalipun dia
berusaha untuk menutupinya.
Ketiga, orang yang hasud terhalang
dari nikmat ketulusan dan kelapangan hati. Ini berlaku di dunia sebelum
akhirat. Orang yang hasud tidak akan merasakan makna ketulusan dalam
hubungannya dengan makhluk lainnya. Setiap kali melihat seseorang
mendapatkan sesuatu dari nikmat yang Allah berikan, hatinya merasa berat
karenanya. Dia pun gundah dan susah karenanya, di saat orang yang
menyambut gembira terhadap datangnya kebaikan pada orang lain merasakan
makna ketulusan, karena hubungan yang dibangun bersama sesamanya adalah
hubungan yang didasarkan atas cinta terhadap kebaikan bagi sesamanya.
Keempat, seorang yang hasud tidak akan mungkin menjadi dai yang
mengajak kepada jalan menuju Allah SWT. Orang yang hasud tidak akan
mungkin mengabdi kepada Islam. Meskipun berusaha untuk melakukan
perbuatan yang menggambarkan khidmah terhadap Islam, dia tidak akan
dapat menjadi sebab dalam menyampaikan kebajikan kepada segenap makhluk.
Karena dasar dalam berdakwah kepada Allah adalah bahwa engkau
menyampaikan cahaya iman kepada orang lain. Apa maknanya? Maknanya,
engkau menyampaikan kebaikan kepada mereka. Apa makna menyampaikan
kebaikan kepada mereka? Maknanya, engkau menjadi sebab bagi kebahagiaan
mereka. Dan jika di dalam hati terdapat hasad, niscaya akan terasa berat
terhadap adanya kebaikan di sisi makhluk. Lalu bagaimana engkau dapat
menjadi sebab dalam menyampaikan kebaikan kepada mereka? Syaikh Muhammad
As-Sinqithi menceritakan satu kisah nyata yang lucu tapi juga ironis.
Beliau menceritakan bahwa seorang nonmuslim nonpribumi tinggal di kota
Damaskus. Bertahun-tahun lamanya ia berjualan minyak tanah. Setelah
lebih dari dua puluh tahun berada di Damaskus, ia merasa saatnya kembali
ke negerinya. Lalu ia pun mendatangi seseorang yang terlihat ahli
ibadah. Ia datang kepada orang itu dan berkata, “Wahai Tuan, sekarang
ini usiaku 60 tahun. Selama aku tinggal di negeri kalian, negeri Islam,
aku telah tertarik kepada Islam. Apakah, jika aku masuk ke dalam Islam,
Allah akan mengampuniku atas segala yang telah aku perbuat selama ini?”
Orang itu berkata kepadanya, “Enam puluh tahun engkau bergelimang
dalam kemaksiatan, dosa, dan berbagai kenistaan... lalu begitu saja
ingin lepas dari semua itu dan engkau ingin masuk ke dalam surga?
Sulit... hal itu tidak akan mungkin... tidak ada jalan keselamatan
bagimu!”
Sampai di situ selesailah permasalahannya, dan orang
itu pun mempercayainya. Ia pun kembali ke rumahnya dalam keadaan
bersedih dan diliputi duka.
Namun, setelah enam bulan berlalu,
hasrat dan keinginan yang kuat di dalam hatinya untuk menetapi jalan
kebaikan membawanya untuk datang kepada Syaikh Muhammad As-Sinqithi,
yang menceritakan kisah itu.
Nonmuslim itu berkata kepada Syaikh Sinqithi, “Apakah mungkin aku masuk Islam?”
“Baiklah, sekarang ucapkan dua kalimah syahadat!”
“Apakah engkau yakin bahwa itu mungkin untukku?”
“Engkau rela Islam sebagai agamamu dan yakin terhadapnya?”
“Ya”
“Sekarang, ucapkanlah dua kalimah syahadat dan jangan ragu.”
Nonmuslim itu pun bersyahadat dan menangis setelahnya.
Syaikh Sinqithi pun bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
“Aku pergi kepada seorang syaikh sebelum ini, atau seorang yang
rupanya seperti seorang syaikh, tapi ia berkata kepadaku, ‘Tidak mungkin
ada jalan selamat untukmu...’.” “Siapa dia?”
“Si Fulan di daerah anu...”
Syaikh Sinqithi pun mengunjungi orang yang ditunjukkan oleh nonmuslim tadi.
Setelah bertemu, ia bertanya kepadanya, “Apakah benar beberapa bulan
yang lalu ada seorang kelana yang datang kepadamu dan menyatakan bahwa
ia hendak masuk Islam lalu engkau katakan kepadanya, ‘Sudahlah, tak ada
gunanya... engkau sudah 60 tahun....’
Orang itu menjawab, “Benar.”
“Bagaimana mungkin engkau melakukan hal seperti itu?”
“Allah adalah Tempat meminta pertolongan. Orang ini sudah 60 tahun
menghabiskan umurnya dalam keharaman, bersenang-senang dengan perempuan
dan segala yang dia inginkan dari dunia, lalu nanti dia akan masuk surga
bersama kita?! Ini musykil... Dia akan masuk surga bersama kita?!”
Hikmah dari kisah ini, di dalam kisah ini terdapat tiga masalah, akan
tetapi semuanya kembali kepada satu masalah, yakni hasad.
Masalah pertama, dia (“ahli ibadah” itu) tidak menginginkan adanya nikmat bagi orang lain.
Masalah kedua, dia meyakini bahwa dirinya masuk surga. Ini adalah
musibah yang kedua. Ujub telah mewariskan kesombongan di dalam hatinya
(...dia masuk surga bersama kita?!).
Apakah engkau dapat menjamin bahwa engkau pasti masuk surga?
Masalah yang ketiga adalah sesuatu yang paling dalam. Sesungguhnya dia
merasa dirinya rugi bahwa dirinya terhalang dari maksiat. “Bagaimana
mungkin orang ini tenggelam dalam maksiat sedangkan aku tidak?”
Karenanya dia marah, mengapa orang lain melakukan maksiat sedangkan
dirinya tidak.
Mengapa hal ini dapat terjadi? Tidak lain sebabnya adalah hasad.
Kelima, orang yang hasud terhalang dari nikmat ketaatan kepada Allah SWT.
Bila seseorang terhalang dari ketulusan dan kelapangan hati dan
selamanya bersedih hati, niscaya dia tidak akan pernah merasakan
nikmatnya ketaatan selama-lamanya. Tidak akan mungkin orang yang hasud
merasakan nikmatnya munajat kepada Allah SWT. Tidak akan mungkin orang
yang hasud merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, karena ia berhadapan
dengan Allah dengan sikap permusuhan terhadap-Nya. “Wahai Tuhanku,
kenapa Engkau memberi ini dan itu kepada Fulan dan Fulan?!”
Orang yang hasud menghadapi Allah dengan apa-apa yang tidak disukai-Nya
ada di dalam hati hamba-hamba-Nya yang datang kepada-Nya. Ini semua
adalah akibat dan bahayanya sifat hasud.
Di akhirat, hasad akan
menghanguskan segala kebajikan. Hasad adalah sebab datangnya murka
Allah SWT. Hasad adalah sebab tertolaknya seseorang dari rahmat Allah
SWT. Tidakkah engkau ketahui bahwa hasad adalah sebab dari terusirnya
Iblis?
Setelah pengasuh menjelaskan bahayanya penyakit hasad di
dunia, selanjutnya pengasuh menjelaskan bahaya hasad kelak setelah
pelakunya menjumpai Allah SWT di akhirat.
Di akhirat, hasad
akan menghanguskan segala kebajikan. Hasad adalah sebab datangnya murka
Allah SWT. Hasad adalah sebab tertolaknya seseorang dari rahmat Allah
SWT. Tidakkah engkau ketahui bahwa hasad adalah sebab dari terusirnya
Iblis? Itulah sebabnya, orang yang hasud akan terusir dari rahmat Allah
SWT.
Hasad juga adalah sebab masuknya pelakunya ke dalam
neraka. Hasad akan menjadi permulaan hilangnya iman seseorang bila
pelakunya tidak menyadarinya – wal ‘iyadzu billah. Bagaimana hasad dapat
menjadi sebab tercerabutnya iman dari pelakunya? Karena orang yang
hasud senantiasa menentang dan menentang Allah SWT. “Ya Rabb, mengapa
Engkau karuniakan kepada Fulan?!” “Mengapa Engkau mudahkan fulan?!”
“Mengapa?!” “Mengapa?!!!”
Terhadap Tuhannya, ia menyimpan rasa
dalam benaknya, “Ya Rabb, sungguh aku tidak rela dengan apa yang Engkau
putuskan!” Kondisi ini bila berkelanjutan di dalam dirinya, lalu apakah
yang tersisa dari imannya? Imannya akan hilang dan tercerabut dari
asalnya.
Wahai murid, peniti jalan menuju Allah SWT, masuklah
ke dalam hatimu dan periksalah. Terkadang hasad tersembunyi pada nafsu
di dalam hati. Berapa kali engkau merasa bahwa dirimu marah terhadap
seseorang melampaui batas dalam ucapan yang engkau lontarkan kepadanya
hanya karena hal sepele yang tidak perlu berkata keras dan tidak pula
berteriak karenanya.
Periksalah, mungkin di dalam hatimu engkau
merasakan sesuatu yang berat dari orang yang engkau marahi itu? Engkau
hasad terhadapnya pada satu hal sehingga muncul masalah paling kecil
namun membuatmu berdiri dan melontarkan kata-kata yang tidak patut
kepadanya.
Para ulama hati mengatakan, “Paling buruknya
macam-macam hasad adalah hasadnya para ulama, para penuntut ilmu, para
dai, dan para salikin, peniti jalan menuju Allah SWT. Mengapa demikian?
Karena, semestinya merekalah yang mempergunakan bekal pensucian hati.”
Apabila seorang penuntut ilmu, misalnya, hasad terhadap penuntut ilmu
lainnya, niscaya ia akan menanti-nanti kapan penuntut ilmu yang
dihasadinya itu melakukan suatu kesalahan. Dan bila ia telah melakukan
kesalahan, dia akan menyerangnya dengan serangan yang dahsyat
terhadapnya. Karena serangan yang dilakukan itu sesungguhnya bukanlah
ditujukan terhadap kesalahan yang ringan itu sendiri, melainkan untuk
membinasakan semua yang datang dan berasal dari sisi penuntut ilmu,
orang alim, dai, atau salik, yang dihasadinya itu.
Mengapa
demikian? Karena permasalahan yang sesungguhnya adalah permasalahan
hasad, bukan permasalahan kritik terhadap kesalahan. Demikian pula
halnya dalam perdagangan, jual-beli, dan perniagaan. “Tidak, tidak,
tidakk!!.... Aku tidak mungkin percaya kepada si Fulan selama-lamanya!”
Mengapa? Pada hari ketika engkau menurunkan barang dagangan ke pasar,
orang-orang tidak menemukan masalah apa pun dari si Fulan dalam
perniagaannya? Apakah ada kemunngkinan tidak sadarnya mereka terhadap
masalah si Fulan itu karena lupa? Sesungguhnya yang menyebabkan
datangnya kemungkinan, mengapa engkau langsung menganggapnya tidak
amanah atau keji dalam perniagaannya, adalah karena engkau dan si Fulan
berada pada satu profesi sebagai pedagang. Bila persaingan telah
berlangsung, hasad pun muncul dan datang.
Bila ada seorang
petani dan ada petani lain selain dalam satu usaha agrobisnis, misalnya,
lalu petani yang kedua melakukan kesalahan dalam salah satu prosedur
bercocok tanam yang semestinya hingga memberi pengaruh terhadap panen
yang dihasilkan, petani yang pertama akan berkata, “Tidak, jangan kalian
percaya kepada si Fulan untuk melakukan tugas-tugas ini dan itu, dia
telah melakukan ini dan itu....”
Siapa yang melakukan kecaman
dan serangan terhadap petani itu? Yang melakukannya tidak lain adalah
petani sepertinya, pada profesi yang sama. Mengapa? Karena petani
tersebut merasa berat untuk melihat petani lainnya lebih unggul dan
lebih sukses darinya.
Bagaimana mengobati hasad?
Pertama, benci terhadap sifat hasad itu sendiri. Engkau benci sifat ini
berada pada dirimu. Akui bahwa sifat hasad ada dalam dirimu dan engkau
membenci keberadaanya di dalam dirimu. Biarkan Allah melihat hatimu dan
mendapati kebencianmu terhadap hasad di dalamnya. Kebencianmu untuk
hasad terhadap orang lain.
Kedua, mendoakan orang yang engkau merasa berat melihat adanya karunia padanya.
Engkau melihat seseorang yang Allah berikan karunia kepadanya berupa
nikmat lahir atau bathin lalu hatimu merasa berat melihat nikmat itu ada
padanya, maka ucapkanlah, “Ya Allah, tambahkanlah nikmat-Mu baginya
dan berikan keberkahan untuknya di dalamnya.... Ya, Allah, berikan
taufiq untuknya agar dapat mempergunakan karunia-Mu dengan
sebaik-baiknya.... Ya Allah, bahagiakanlah dia dengan karunia-Mu di
dunia dan akhirat.... Ya Allah, muliakanlah dia dan muliakan dzuriyahnya
dengan tambahan karunia dari sisi-Mu....”
Sebagian ulama
berkata, “Ya Rabbi, Engkau perintahkan aku untuk mendoakan sedangkan
hatiku tiada rela. Mungkin lidahku dapat berkata-kata, tapi hatiku
sesungguhnya tak menghendakinya. Aku tertawa dan mengkhianati Tuhanku.
Aku tiada mampu melakukannya. Aku berkata ‘Ya Rabbi, tambahkan karuniamu
kepadanya’ sedang hatiku berkata ‘Jangan pernah Engkau tambahkan
baginya’.”
Meskipun hal seperti ini terjadi padamu, tetap
lakukanlah. Jika engkau ucapkan ‘Ya Rabb, tambahkanlah karunia-Mu
untuknya’ dan hatimu berkata ‘Jangan, ya Rabb. Jangan pernah Engkau
tambahkan karunia-Mu untuknya’, ucapkanlah, ‘Ya Rabb, aku berlepas diri
dari apa yang ada di hati ini kepada-Mu. Dan yang lidahku mampu untuk
mengucapkannya, tolonglah aku atas apa yang aku tiada kuasa terhadapnya
(untuk menggerakkan hatiku sebagaimana aku mampu menggerakkan lisanku
untuk mendoakan kebaikan). Aku ber-tawajjuh (menghadapkan diri dan jiwa)
kepada-Mu pada apa-apa yang membuat-Mu ridha dengan apa-apa yang aku
mampu melakukannya, maka tolonglah aku pada apa-apa yang aku tiada mampu
memperbuatnya.’ Semoga Allah memuliakanmu.
Ini adalah termasuk
obat yang mujarab untuk mengobati hasad yang ada di dalam hati. Engkau
mendoakan orang yang engkau merasa berat melihat nikmat berada di
sisinya, dan memohonkan untuknya agar Allah SWT menambahkan karunia yang
sudah diberikan dengan karunia yang lebih besar lagi.
Bila
justru engkau kukuhkan kedudukannya itu di sisi manusia, sesungguhnya
engkau telah menghinakan nafsumu dengan segala apa yang dapat
menghinakannya. Dengan demikian, engkau telah membunuh permasalahan yang
sesungguhnya dari dalam dirimu dan engkau membasminya sampai ke
akar-akarnya. Beberapa waktu yang lalu, pengasuh menjelaskan bahayanya
penyakit hasad di akhirat dan sebagian penjelasan tentang bagaimana
mengobati penyakit hasad. Selanjutnya pengasuh melanjutkan ihwal
bagaimana mengobati hati dari penyakit hasad, sebagai pelajaran terakhir
dari pelajaran kesebelas, tentang penyakit hasad.
Cara yang
ketiga untuk mengobati penyakit hasad adalah menceritakan orang yang
engkau hasadi di saat ketidakhadirannya dengan pujian.
Engkau
ceritakan orang yang engkau merasa berat melihat karunia Allah berada di
sisinya dengan pujian. Ceritakan orang yang engkau hasadi di saat
ketidakhadirannya dengan pujian terhadap kebaikan-kebaikan yang
dimilikinya kepada orang-orang lain. Adapun jika di hadapannya engkau
puji sedangkan di belakangnya engkau cela, yang demikian itu adalah
kemunafikan dan mencari muka.
Pujilah di saat ketidakhadirannya
kepada orang-orang dengan pujian yang baik dan kukuhkan buah dari
kebaikan-kebaikannya itu di hati manusia.
Tahukah engkau, di mana wujud pengobatan terhadap hasad dari perbuatan ini?
Ini adalah paling idealnya pengobatan langsung terhadap masalah hasad
pada nafsu. Mengapa engkau hasad? Engkau ingin bersenang-senang? Engkau
menginginkan kedudukan di sisi manusia? Engkau ingin bersenang-senang
dengan kedudukan? Bila engkau memuji kemampuan dan keahlian orang yang
bersaing denganmu dalam ilmu, perdagangan, industri, teknik, atau bidang
apa pun itu, di saat ketiadakhadirannya dan menceritakannya kepada
orang-orang lain, apa yang sesungguhnya engkau lakukan di sini? Engkau
tengah menguatkan dan meneguhkan kedudukan yang akan menjadi milik orang
yang engkau hasadi itu di hati manusia dengan sebab karunia yang telah
Allah berikan kepadanya.
Bila demikian halnya, apa yang sedang
engkau lakukan? Sesungguhnya engkau tengah membasmi penyakit yang ada
dalam hatimu dari asalnya.
Mengapa engkau merasa berat melihat
nikmat pada seseorang, mengapa engkau hasad terhadapnya? Karena engkau
melihat bahwa nikmat itu akan menjadi sebab bertambahnya kedudukan orang
itu, yang akan menyaingi kedudukanmu di sisi manusia. Dan bila justru
engkau kukuhkan kedudukannya itu di sisi manusia, sesungguhnya engkau
telah menghinakan nafsumu dengan segala apa yang dapat menghinakannya.
Dengan demikian, engkau telah membunuh permasalahan yang sesungguhnya
dari dalam dirimu dan engkau membasminya sampai ke akar-akarnya.
“Siapa yang dapat melakukan itu?! Ini teramat berat!!”
Apakah engkau ingin dekat dengan Allah? Apakah engkau ingin menjadi
seorang peniti jalan menuju Allah SWT? Tentu tidak akan pernah mudah
untuk berdiri dan berada di tempat orang-orang yang meniti jalan menuju
Allah.
Untuk pertama kali, engkau akan keluar dari majelis ini
dengan semangat yang berkobar-kobar setelah mendengarkan penjelasan ini.
“Ya Allah, aku merasa berat terhadap nikmat-Mu yang ada di
sisi Fulan. Ya Allah, tambahkanlah karunia-Mu untuknya dan berkahilah
dia padanya....”
Esok hari, engkau duduk bersama kawan-kawanmu,
katakanlah, “Masya Allah, Fulan luar biasa. Aku yakin, keahlian yang
luar biasa di bidang ini akan memberikan manfaat dan mendatangkan
kebaikan yang besar. Dan aku akan menyambut gembira atas
keberhasilannya.”
Sampai batas ini, mungkin masih mudah bagi
hati untuk menerimannya. Akan tetapi, setelah dua atau tiga hari, dan
orang-orang mulai menceritakan dan memuji-muji orang yang engkau puji
dan ceritakan itu di hadapan mereka, mulai nafsumu menjadi terasa sempit
mendengarnya. Mereka memujinya lagi, lagi, dan lagi, dan engkau
katakan, “Benar, benar demikianlah dia adanya!” Namun, sekali lagi,
dengan marah engkau berkata, “Kami tahu bahwa dia istimewa!!”
Mengapa itu bisa terjadi? Karena dengan sebab semakin banyaknya
orang-orang memuji dan menceritakan kebaikan orang itu, urat lehermu
terasa semakin sempit dan mencekik.
Makna dari penjelasan ini
adalah bahwa ini semua adalah proses yang panjang, karena di sini engkau
tengah melawan nafsumu pada apa-apa yang disukainya. Engkau tengah
membasmi penyakit ini dari dalam hatimu dari dasar hati, yakni mengobati
penyakit hasad.
Keempat, memikirkan bagaimana membantu orang
yang engkau hasad terhadapnya. Engkau merasa berat melihat nikmat yang
telah Allah berikan kepada sesorang. Bila engkau dapat membantu orang
itu pada nikmat yang ada padanya, ini pun akan dapat mengobati penyakit
hasad yang ada di dalam hatimu lebih dahsyat dan lebih hebat lagi. Bila
ini dapat engkau lakukan, niscaya Allah akan memandang hatimu. Inilah
yang diharapkan dan buah darinya.
Apabila Allah memandang
hatimu dan melihat bahwa engkau berinteraksi dengan-Nya dengan interaksi
seperti demikian itu, niscaya Allah akan bertajalli atas dirimu dengan
nur-Nya. Dan bila Allah telah bertajalli atas dirimu dengan nur-Nya,
Allah akan memberimu kesucian yang engkau tidak upayakan sebelumnya.
Dengan sebab itu hatimu akan membuat manusia menjadi tenteram dan hatimu
akan menjadi sebab turunnya kebaikan bagi manusia dari sisi Allah SWT,
selanjutnya engkau akan merasa rindu untuk melihat adanya nikmat dan
karunia bagi manusia lainnya. Mengapa? Karena engkau melihat tajalliyat
(pancaran-pancaran kemahakuasaan yang berupa rahmat dan kasih sayang)
Yang Maha Pemberi nikmat, Allah SWT....
Wahai murid, pahamilah
makna ini dan sadarilah. Apabila engkau obati jiwamu dengan apa yang
telah kami sebutkan dalam pelajaran ini dan dengan apa-apa yang telah
diuraikan oleh para ulama tentang mengobati hati, engkau akan melihat
adanya pancaran sinar di dalam hatimu. Apa pancaran sinar itu? Yakni nur
dan cahaya kebahagiaan dengan melihat nikmat yang diberikan oleh Yang
Maha Pemberi karunia terhadap makhluk-Nya yang lain.
Makna dari
ini adalah bahwa engkau menyaksikan tajalliyat Allah SWT. Engkau
melihat seseorang yang dikaruniai nikmat oleh Allah SWT.
Apa
yang engkau saksikan? Gambaran yang engkau saksikan adalah seorang
manusia dan nikmat yang datang kepadanya, adapun hakikatnya
sesungguhnya engkau menyaksikan tajalli Allah SWT dengan asma-Nya
Al-Mun‘im (Yang Maha Pemberi nikmat) atas hamba-Nya. Maka engkau telah
berpindah dari kegelapan hasad kepada nur penyaksian terhadap tajalli
Allah SWT dengan asma-Nya Al-Mun‘im. Kemudian tajalli Allah dengan
asma-Nya Al-Mun‘im ini membuat hatimu terpenuhi dengan nur asma Allah
Al-Mun‘im.
Bila hatimu telah terpenuhi dengan tajalli Allah
dengan asma-Nya Al-Mun‘im, engkau pun akan bertajalli atas dirimu
sendiri denga asma-Nya al-Mun‘im. Maka pada saat itu Allah bertajalli
atasmu dengan nikmat wushul (sampai) kepada-Nya, yang untuk sampai
kepada yang demikian itulah aku meniti jalan ini, menguraikan penjelasan
ini, dan menghadiri majelis ilmu untuk menyampaikan pelajaran ini.
Setelah kita membicarakan, pada tiga pelajaran yang lalu, perihal
induk dari segala penyakit hati, apakah masih tersisa sesuatu dari
al-kibr (kesombongan) dalam dirimu yang belum engkau benci. Benar, kita
butuh waktu untuk melakukan mujahadah agar kita terlepas darinya dan
memohon perlindungan Allah darinya. Dari riya’ (menolehkan padangan
kepada kedudukan di sisi manusia), dan dari hasad (merasa berat melihat
nikmat pada seseorang). Kita akan berupaya untuk melepaskan diri dari
penyakit-penyakit itu.
Setelah pelajaran ini, tugas telah
menunggu di hadapanmu yang harus engkau kerjakan. Yakni melepaskan diri
dari penyakit al-kibr dengan merenungkan keadaanmu dan segala
kekuranganmu. Kita melepaskan diri dari al-kibr dengan mendahului orang
lain untuk mengucapkan salam kepadanya, bersih-bersih rumah,
membersihkan kamar mandi masjid, dan lain-lain.
Kita melepaskan
diri dari riya’ dengan merasakan keagungan Allah SWT sampai kita tidak
mencari dan merindukan kedudukan di sisi makhluk, membenci lintasan
riya’ yang datang, dan memperbanyak dzikir La ilaha illallah.
Dan kita melepaskan diri dari hasad dengan membencinya dan mengakui
adanya hasad di dalam hati kita, mendoakan orang yang mendapatkan nikmat
di hadapan kita, mengakui adanya perasaan berat di dalam hati kita di
saat melihat orang lain mendapatkan nikmat, memuji mereka di belakang
mereka, dan dengan membantu orang itu pada nikmat yang ada padanya agar
semakin bertambah kebaikan padanya.
Dari tiga penyakit atau
tiga maksiat ini bercabang darinya berbagai macam penyakit di dalam
hati, karena penyakit-penyakit hati teramat banyak jenis dan bentuknya –
wal ‘iyadzu billah. Akan tetapi barang siapa perhatiannya tercurah
untuk mensucikan hatinya dari tiga penyakit ini, berarti ia mengobati
hatinya dari penyakit-penyakit yang lainnya, yang bercabang dari
ketiganya. Karena seolah ia mengobati sumber penyakitnya.
Apabila engkau peduli dengan semua itu dan rela terhadap berlalunya hari
demi hari, waktu demi waktu, kesungguhan, pikiran, segenap upaya, agar
engkau terlepas dari ketiga induk penyakit itu, niscaya nur-nur kesucian
akan memancar dan berkemilau di dalam hatimu.
Kita memohon
kepada Allah SWT, semoga Dia mengaruniai kita kesempurnaan kesucian
lahir dan bathin. Ya Bathin, ya Zhahir... sucikanlah lahir dan bathin
kami, dan jadikanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih. Ya
Allah, selamatkanlah kami dari kegelapan hasad. Ya Allah, karuniakanlah
di dalam hati kami cinta terhadap kebaikan bagi hamba-hamba-Mu. Ya
Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang paling bermanfaat bagi
makhluk-Mu yang lain dan paling dekat kepada-Mu...