Laman

Minggu, 24 Agustus 2014

Angan - Angan Imajiner


Pardi ingin sekali berhenti dari hobinya.”mengkhayal”. setiap kali ada bayangan dan angan-angan, ia langsung potong angan-angan itu agar tidak berubah menjadi khayalan. Sebab, panjang angan-angan itu adalah induk dari liarnya nafsu.
Berkali-kali ia mengusap jidatnya seperti orang gila. Padahal ia sedang sebel dengan dirinya sendiri.
Banyak imajinasi yang saat ini dijualbelikan, dijadikan komoditas, dan industri imajinasi dan khayalan paling laris dijual. Itulah dosa terbesar peradaban manusia modern setelah kemusyrikan dan kekafiran. Karena selubung kemunafikan ada di sana, ada pada khayalan dan angan-angan yang liar.
“Astagfirullah…!” desah Pardi berkali-kali yang didengar oleh Dulkamdi di kedai kopi pagi itu.
“Kenapa, Kawan?”
“Lah iya. Saya ini akan berhenti jadi pelamun, kok sulit banget ya, Dul…”
“Realistis sajalah!”
“Gundhulmu itu. Realitanya saya suka ngelamun…Dul!”
“Ya, ingat saja kata-kata Ibnu Athaillah, “orang yang alpa adalah orang yang memandang apa yang bakal dikerjakan nanti, dan orang yang berakal sehat adalah orang yang memandang apa yang bakal diberlakukan kepadanya oleh Allah SWT.”
“Weh, benar juga kamu, Dul. Maksudnya bagaimana ya?”
“Hehehee..jelasnya kita tunggu Kang Soleh. Biar kamu berhenti tuntas, taubatan nasuha dari ngelamun yang ngelantur. Lalu nanti kamu bisa tafakkur. Bukan kethekur!”
“Lhah kamu kayak mendiang Mbah Surip aja, pakai ilmu gathuk segala.”
Dua sahabat itu menikmati kopi pagi. Nikmatnya bukan main. Kang Soleh datang dengan sarung yang membungkus kepalanya, mirip orang gunung kedinginan.
Tiba-tiba ia nerocos saja. “Orang yang sensntiasa membuat angan-angan apa yang akan dikerjakan, apa yang akan dilakukan, sesungguhnya tergolong orang alpa. Kenapa demikian? Karena ia lupa bahwa Allah SWT-lah yang sedang memberlakukan semua itu. Ketika Anda sedang menunggu atau merenung apa yang bakal dilakukan, apakah itu soal dunia atau soal agama, pada saat yang sama, di manakah peran Allah tiba-tiba hilang begitu saja?
Kenap demikian? Karena orang tersebut pasti sangat bergantung dan mengandalkan amal usahanya, maka ia senantiasa tidak akan meraih kesempurnaan selamanya.
Sedangkan orang yang berakal sehat, akan meninggalkan semua itu, mengembalikan pada kepasrahan dan kerelaan dirinya kepada Allah atas apa yang dikehendaki-Nya. Ia tidak berbuat pada waktunya kecuali atas perintah-Nya.
“Lhah, kok tahu Kang?”
“Lha sejak tadi saya dengarin kamu ngobrol dari luar kok..”
“Nah, kata Abu Ayyub as-Sikhtiyani ra mengatakan, “Bila tak ada yang kau kehendaki, maka kembalikanlah apa adanya.”
Umar bin Abdul Aziz Ra mengatakan, “di pagi hari, tak ada kegembiraan bagiku kecuali pada tempat-tempat takdir-Nya.”
Syekh Abu Madyan Ra mengatakan, “Berhasratlah untuk menjadi pasrah total, siapa tahu Allah melihatmu lalu Allah merahmatimu.”
Abdul Wahid bin Zahid mengatakan, “Rida itu adalah pintu Allah paling agung dan tempat istirahatnya ahli ibadah serta surga dunia.”
Sang Sufi, manakala muridnya masuk di hadapannya selalu menyanyikan syair ini, dan syair ini diperuntukkan kaum ‘arifin:
Ikutilah desau ketentuan-Nya
Ikutilah pusarannya ke mana berputar
Pasrahkan padanya dengan total
Berjalanlah ke mana ia bergerak.
“Weleh indah banget, Kang..”
Tapi Pardi terus mendekur. Ia tertunduk sembari mengelus jidatnya yang teriring istigfar berkali-kali.

Kedamaian


KANG Soleh berkali-kali merngepuskan asap rokoknya ke angkasa. Kepulan asap itu hampir-hampir membuat Kedai Cak San melayang ke udara. Sesekali ia ucapkan istighfar, lain kali jemari kakinya mengetuk-ngetuk ke arah meja. Kang Soleh stres? Tidak! Sebab, ia tampak sedang mencari-cari sesuatu. Kadang ia tersenyum sendiri, kadang bola matanya mengembangkan genangan air mata. Kadang wajahnya sedikit mendongak ke atas, kadang matanya memandang tajam pada satu objek tertentu.
Cak, tidak berani bertanya. Seringkali hal itu dialami Kang Soleh. Tapi, bagi Pardi dan Dulkamdi, kondisi Kang Soleh seperti itu dianggap sebagai bagian dari tema diskusi. Kalau perlu dijadikan objek kajian di majlis kedai kopi itu.
“Dul, pengetahuan apa yang paling utama diantara sejuta ilmu pengetahuan yang ada?” tanya Pardi.
“Pasti ilmu kedokteran. Sebab ilmu itu diilhami oleh penciptaan Siti Hawa’ dari rusuk Adam, itu kan bagian utama dari teori ilmu bedah,” jawab Dulkamdi.
“Bukan, ilmu teknik dan bangunan!” sela Wakidi,” sebab Allah menciptakan alam raya ini melalui teknologi dan teknik struktur yang dahsyat.”
“Kalau saya pasti ilmu politik, sebab dalam menciptakan jagad raya ini, Allah perlu membuat aturan-aturan hukum. Itu kan konsentrasi dunia politik. Apalagi Allah itu Maha Kuasa…ha..ha…ha…” kata anggota majlis kopi lainnya.
Perdebatan ilmu mana yang paling utama berlanjut seru. Masing-masing membuat argumentasi dan klaim paling benar. Bahkan diskusi itu tiba-tiba berubah menjadi debat kusir yang mengarah pada emosi. Suasana jadi geger.
Merlihat suasana seperti itu, Kang Soleh diam saja. Ia biarkan sampai dimana anggota majlis kopi itu menyelesaikan masalah sekaligus mencari solusi sosialnya.
“Kalian ini seperti anak-anak saja…” kata Kang Soleh menyela perdebatan itu. Mereka lantas terdiam, sambil menghela nafas dalam-dalam. “Ya itu… seperti kalian itu… inilah yang sedang saya pikirkan. Mengapa kedamaian kita tidak pernah terwujud? Saya tahu mengapa tidak terwujud? Tetapi saya masih penasaran, mengapa Sandiwara Ilahiyah tentang arah perdamaian ini, belum kita rasakan? Atau mungkin karena dosa-dosa kita sehingga mata hati kita kabur memandang mosaik kedamaian yang hakiki?”
“Wah, sorry Kang, kita memang kebacut! Tapi pasti ada hikmahnya Kang,” kata Pardi mewakili teman-temannya. “Tapi bagaimana sebenarnya menurut Kang Soleh, apakah prioritas utama atas pengetahuan itu salah, Kang?”
“Semua ilmu itu milik Allah. Karena itu ilmu yang lebih mendekatkan kepada Allah itulah yang harus Anda cermati dulu. Tetapi jangan sampai Anda mengabaikan yang lain, karena ilmu itu semua dari Allah swt.”
Mereka hanya manggut-manggut belaka, memahami wacana Kang Soleh, sembari menghayati dalam hati masing-masing, menurut potensi hati masing-masing, dan menurut situasi pergolakan hati masing-masing.
“Yang dirisaukan Kang Soleh tadi?”
“Saya hanya heran. Setiap hari, sehabis salat, kita baca doa, Allahumma Anta as-Salaam, wa-Minka as-Salaam, wailaika Ya’udus Salam, Fahayyina Rabbanaa bis-Salaam, wa-Adkhilnal Jannata Daaras Salaam…(Ya Allah, Engkaulah kedamaian, dari-Mu-lah kedamaian itu, dan kepada-Mu-lah kedamaian itu berpulang. Maka damaikanlah hidup kami, dan masukkanlah kami ke Syurga penuh damai…). Lha, iya, kok masih terus bengekerengan seperti kamu-kamu ini….”
“Kalau Kang Soleh heran…apalagi kami-kami ini Kang!”
“Ya…,saya dengan kalian, tidak ada bedanya. Sama-sama hamba Allah.
Soal penghayatan, saya yakin Cak San bisa lebih mantap daripada saya. Tapi benar juga ya, barangkali karena orang yang mengucapkan doa tadi tidak disertai zikir dalam hatinya. Sebab, kedamaian itu tidak terletak pada mulut dan anjuran. Palagi setelah dicarikan jalan dan direkayasa, malah nggak damai-damai. Damai itu kan, bermula dari jiwa kita sendiri. Dan jiwa kita bisa damai kalau jiwa kita berzikir, ingat terus menerus kepada Allah. Kalau begitu dusta, orang yang bicara kedamaian tanpa zikrullah!”.
Sambil manthuk-manthuk, Kang Soleh bangkit dari duduknya, tanpa babibu, ngeloyor saja keluar dari kedai.
Dulkamdi dan Pardi, Wakidi dan yang lainnya, saling memandang satu dengan lainnya. Mereka mencoba mengerti apa yang dikatakan Kang Soleh, dan mereka pun tersenyum simpul, kecuali Dulkamdi yang tertawa meledak seperti gludhuk.

Rela Nyembah Gusti Alloh?


“ Kamu sudah kenal gusti ALLAH Dul? “ tanya pardi tiba-tiba, ketika fajar mulai menyingkap semesta.
“ wah pertanyaan kok nganeh-nganehi Di… “
“lha wajar tho,ALLAH sudah kita sembah bertahun-tahun. Jangan-Jangan kita tidak kenal… “
Dulkamdi puyeng mendengar pertanyaan yang langsung menghujam ke ulu jantungnya, sampai ke ubun-ubun pikirannya. “ tidak Di, kamu kok tiba-tiba Tanya begitu pasti ada latar belakangnya…”.
“ latar belakangnya ya kebingungan saya, soalnya sekarang banyak orang ngaku makrifat, hakikat, sampai njlimet, tapi nyatanya tidak kenal gusti ALLAH …”.
“ lhah itu soal klasik sejak jaman dahulu juga banyak manusia seperti itu. Tidak usah dipikirkan, tiwas melu edan…”
“ lha terus gimana tho Dul? “
“ gampang, coba tadi malam kiai mursyid kan melontarkan suatu hadist nabi. (“telah merasakan nikmatnya iman, orang yang rela ALLAH sebagai tuhan, islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi ”)beres kan? Tidak usah puyeng-puyeng….”
“ lalu rasa tersebut macam apa, Dul? ”
“begini, ini kata kang soleh, tidak tau kang soleh ngutip dari mana, saya juga tidak tau antah-berantahnya. Katanya, rasa tersebut adalah faktor yang di bangkitkan oleh ridho’ (kerelaan) yaitu makrifat kepada allah. Dan makrifat itu adalah cahaya yang di tempatkan oleh allah dalam kalbu hamba yang di cintainya, tidak ada yang lebih besar dan lebih agung ketimbang cahaya itu, sedangkan hakikat makrifat itu adalah hidupnya hati dengan yang maha hidup, sebagaimana firman allah:
(“ adakah orang yang keadaan mati, maka kami hidupkan dia? “) begitu juga , (“ agar menjadi peringatan bagi orang yang hidup (hatinya)” ) ayat lain (“ maka kami hidpkan ia, dengan kehidupan yang baik ”).
“ itu yang ku maksud Dul…”
“ Ah itu tadi takwilan dari syeik rifa’i. beliau juga mengatakan “ siapa yang mati nafsunya maka dunianya jauh darinya,siapa yang mati hatinya akan jauh dari tuhannya.” Kata kang soleh njudul begitu saja dalam majlis kedai kopi.
Ibnu samak pernah di Tanya,” kapan seorang hamba di kenal bahwa dirinya telah sampai di hakikat makrifat?” beliau menjawab
“ manakala seorang hamba melihat ALLAH dengan mata renungan hatinya, fana dari segala selain dari-NYA.”
Dikatakan, “ makrifat berarti sirnanya pandangan melihat selain ALLAH. dimana selain ALLAH ta’ala begitu kecil bahkan di banding biji bayam sekalipun.katakanlah; ALLAH…! Lalu tinggalkan mereka…”
Matahari orang yang mencintaimu telah terbit di malam hari, lalu cahaya-NYA memendar, tak pernah surup. Matahari di siang dunia telah surup,sedangkan matahari kalbu tak pernah sirna.
Cukup kang… cukuuuup. Aku bisa edan makan sepatu nanti kaaaaang…. Cukuppp…!”
Lalu, kang soleh ngeloyor pergi di telan pagi buta, pardi dan dulkamin malah berpelukan erat, dadanya berdegup guncang. Penuh dengan zikrullah.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Kisah Raden Rahmatullah

inilah kisah raden rahmatullah
putra ibrahim as samarqandi
ia ulama dari negri cempa
yang mengembara ke tanah jawa..
datang berkunjung pada bibinya
permaysuri raja Majapahit,,
kepada raja ia jelaskan..
memohon izin sebarkan islam..
raja terkesan dan beranggapan..
agama islam bukan ancaman..
raja setuju dan mengijinkan..
raden rahmat syiarkan islam..
bahkan memberi sebuah desa
desa ampel di surabaya..

ia terima anugerah raja..
tinggal menetap di desa ampel
sejak itulah raden rahmatullah
terkenal dengan sunan ampel
disana ia membangun pesantren
mengajar ilmu syariat agama
jadi penyuluh bagi masyarakat
pendidik budi pekerti mulia
ini lah pesan dari kanjeng sunan
pesan abadi hingga akhir zaman
pa bila ingin hidup bahagia
janga lakukan lima perkara
mabuk mabukan ,,bermain judi..
maling, madat,dan berbuat zina.

HAKEKAT RUH DI QOLBU


Dalam kitab ‘Sirr al-Asrar’ yang berisi kumpulan ajaran Syaikh Abdul Qadir al-Jilani didapati keterangan bahwa pada awalnya manusia dicipta oleh Allah SWT di alam lâhût (alam dimensi ketuhanan). Manusia awal itu adalah manusia yang masih berwujud ruh (jiwa) yang sangat murni, yang disebut rûh al-quds.
Ruh al-Quds dicipta langsung oleh Allah SWT dan didalamnya terkandung disain serta program-program (rencana-rencana) Allah, juga sifat-sifat Allah, yang sifatnya sangat misterius (sirri). Maka Ruh al-Quds disebut juga Sirr (rahasia).
Allah SWT adalah cahaya (QS an-Nûr 24). Ruh al-Quds yang dicipta langsung oleh Sang Cahaya pun mengandung cahaya yang sangat murni, yang memiliki tingkat radiasi sangat tinggi.
Dalam kitab itu juga dikatakan bahwa alam memiliki lapis-lapis dimensional yang berbeda:
1. Alam Lâhût, alam dimensi ketuhanan.
2. Alam Jabarût, alam ilmu, ketentuan, rencana dan takdir.
3. Alam Malakût, alam para malaikat, alam ruh, alam enerji.
4. Alam Mulki, alam fisik, alam nyata.
Ketika Rûh al-Quds akan diturunkan dari alam lâhût ke alam jabarût ia dibalut lebih dulu dengan lapisan Ruh as-Shulthâny. Sebab kalau tidak, radiasi cahaya Ruh al-Quds yang sangat murni dan teramat kuat itu akan membakar semua yang ada di alam jabarut. Ruh as-Sulthany adalah mantel (hijâb) bagi Ruh al-Quds. Ruh as-Shulthany disebut juga dengan Fuâd.
Lalu Ruh al-Quds (Sirr) yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany (Fu’ad) diturunkan ke alam level-3, yaitu alam malakût. Namun alam malakut lebih materialized daripada alam-alam sebelumnya, dan apa yang ada di dalamnya akan mudah terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds meskipun sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany. Oleh sebab itu sebelum diturunkan ke alam malakut, Ruh al-Quds yang sudah dengan Ruh as-Sulthany, dibalut lagi dengan Rûh ar-Rûhâny. Ruh lapis ketiga ini disebut juga Qalbu.
Selanjutnya Ruh al-Quds (Sirr), yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany (Fuad) dan Ruh ar-Ruhaniyah (Qalbu), diturunkan lagi ke alam level-4 yaitu alam mulki. Inilah alam kosmik yang sekarang dapat kita lihat secara visual dengan mata kepala kita. Alam kosmik wujudnya sangat lahiriah dan dapat dikenali secara empirik (terukur). Namun radiasi cahaya Ruh al-Quds, meski sudah dibalut dengan dua lapis ruh lainnya, masih terlalu tinggi bagi alam ini. Apa yang ada di alam mulki dapat terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds. Untuk itu, sebelum diturunkan ke alam mulki, Ruh al-Quds dibalut lagi dengan lapis ke-3 yaitu Rûh al-Jismâny yang untuk mudahnya sering disebut dengan Rûh saja. Untuk lebih jelasnya lihatlah tabel berikut ini.
Alam Rûh (Nafs)
Lâhût Rûh al-Quds - Sirr
Jabarût Rûh as-Sulthany - Fu’ad
Malakût Rûh ar-Rûhâny - Qalbu
Mulki
Rûh al-Jismâny - Rûh
Diri (nafs) kita yang hakiki dalah diri yang berwujud ruh (jiwa). Tubuh biologis kita hanyalah cangkang atau wadah bagi diri kita yang sesungghnya, yaitu ruh. Di dalam rûh ada qalbu, di dalam qalbu ada fuâd dan di dalam fuad ada sirr. Sirr adalah rahasia. Sirr berisi rahasia-rahasia Allah untuk orang itu berupa sifat-sifat Allah, rencana dan takdir Allah. Sirr terhubung langsung dengan Allah SWT.
Dikenal pula istilah lubb yang jamaknya albâb. Surat Ali Imran ayat 130 menyebut Uli al-Albâb sebagai individu yang selalu berdzikir, berfikir, dan beribadah. Apa arti lubb? Kalau kita menebang sebatang pohon, lalu kita perhatikan penampang potongannya, akan terlihat di bagian tengah dari batang pohon itu ada bagian yang berwarna kecoklatan. Itulah inti dari batang pohon tersebut. Arab menyebutnya lubb.
Qalbu adalah lubb bagi ruh. Intinya ruh adalah qalbu, intinya qalbu adalah fu’ad, dan intinya fuad adalah sirr. Sirr adalah inti dari segala inti, yang mengandung rahasia dari segala rahasia, sehingga disebut Sirr al-Asrar (secret of the secrets).
Banyak orang memahami bahwa hati (qolbu) itu adalah segumpal daging dalam diri manusia. Pemahaman ini tidak salah karena didasarkan pada sabda Rosululloh Saw sebagai berikut :
Artinya : “… Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati (qolbu) “. (Riwayat Bukhori dan Muslim)
Namun pemahaman ini adalah pemahaman yang sangat mendasar yang diajarkan oleh Rosululloh Saw kepada umatnya yang pada waktu itu masih kental dengan kejahiliyahan dan tidak mau menerima sesuatu yang sulit difahami secara akal. Adapun maksudnya agar umatnya mudah mengerti dan tidak timbul banyak pertanyaan yang menjadikannya kembali kepada kemusyrikan dan kekufuran.
Menurut penjelasan K.H. Zainal Abidin Bazul Ashab (Pimpinan Pondok Pesantren Az-Zainiyyah, Nagrog – Sukabumi) bahasa yang digunakan oleh Rosululloh Saw dalam hadits di atas merupakan kepiawaian komunikasi artinya yang dimaksudkan oleh beliau bukanlah hati yang berbentuk segumpal darah itu, akan tetapi tempat atau mahalnya berada tepat di bagian tersebut.
Qolbu adalah sebuah latifah/titik sensor/dimensi ketuhanan yang tidak mempunyai bentuk fisik sebagaimana difahami oleh sebagian kita. Untuk membuktikan bahwa qolbu itu bukanlah daging hati, kita bisa melihat dan menyaksikan seekor ayam atau kambing yang kita potong kemudian kita bedah perutnya maka kita akan menemukan pada hewan tersebut segumpal daging yang disebut daging hati, tapi pernahkah setelah kita cari kemudian kita temukan di dalam perut hewan yang sudah dibedah tersebut ada daging qolbu.
Kemudian kita pergi ke sebuah warung makan atau restoran lalu kita bertanya apakah disana ada sop daging hati atau goreng daging hati, maka pasti di salah satu warung makan atau restoran itu ada dan disediakan menu makanan dengan lauk sop atau goring daging hati. Tapi coba kita tanyakan apakah disana ada sop atau goring daging qolbu, maka jawabannya pasti tidak ada karena qolbu tidak diperjualbelikan dan bukan untuk dimakan dan bukan pula berbentuk segumpal daging.
Daging hati yang berbentuk segumpal daging itu dalam bahasa arab disebut “kabid” bukan qolbu. Adapun qolbu menurut Imam Al-Ghozali r.a adalah ruh, akal atau nafsu.
APA ITU RUH ?
Firman Alloh Swt dalam surah Al-Israa ayat 85 :
Artinya : dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Dalam kitab sirrurl asror karya Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dikemukakan sebagai berikut : Makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Alloh Swt adalah ruh, ruh siapa? Ruh Muhammad Saw. Sebagaimana telah Alloh firmankan dalam hadits qudsi : “Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya-Ku”.
Ruh adalah hakikat Muhammad dan hakikat Muhammad disebut nur kenapa disebut nur ? karena bersih dari segala kegelapan. Ruh Muhammad adalah ruh termurni sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk, sebagaimana sabda beliau Saw : “aku dari Alloh dan makhluk lain dari aku”.
Dari ruh Muhammad inilah Alloh menciptakan semua ruh di alam lahut (negeri asal setelah 4.000 tahun dari penciptaan ruh Muhammad). Kemudian ruh-ruh tersebut diturunkan ke tempat yang terendah, dimasukkan kepada makhluk yang terendah, yaitu jasad. Jasad itu sendiri diciptakan Alloh dari bumi yang tersusun dari empat unsur (tanah, air, api dan angin).
Setelah diwujudkan jasad itu maka Alloh menitipkan ruh dari-Nya ke dalam jasad, dan sebagai barang titipan pastinya Alloh akan mengambil kembali titipannya itu. Ketahuilah ruh itu memiliki perjanjian awal di negeri asalnya yaitu alam lahut dan isi perjanjiannya adalah ketika Alloh bertanya kepada semua ruh : “Alastu birobbikum?” (Bukankah Aku ini Tuhanmu sekalian?) Ruh-ruh menjawab : “Benar, Engkau adalah Tuhan kami”. (Al-‘A’raf 172). Tapi sayang banyak ruh yang lupa dengan perjanjian awalnya terhadap Alloh Swt, sehingga mereka terlena dan betah tinggal di dalam jasad sebagai tempat terendah bagi mereka.
Ruh-ruh yang setia dan tetap memegang perjanjian awal pada hakikatnya mereka tetap berada pada negeri asalnya yaitu alam lahut meskipun badannya di bumi. Namun sangat sedikit orang yang sadar dan berkeinginan pulang atau kembali ke negeri asalnya. Oleh karena itu Alloh melimpahkan kenabian kepada ruh agung Muhammad sebagai penunjuk jalan dari kesesatan mereka. Nabi mengajak mereka agar kembali dan sampai serta bertemu dengan Alloh Swt.
Tapi sebagai manusia biasa Nabi memiliki keterbatasan waktu di dunia ini untuk menjalankan tugasnya tersebut, maka kemudian Alloh mewariskan tugas ini kepada para ulama yang sholih yang sudah mencapai kesucian ruh dan telah Alloh berikan bashiroh (pandangan yang jelas) kepadanya. Siapa mereka? Mereka adalah para wali Alloh.
Para wali Alloh sebagai ahli bashiroh telah dibukakan mata hatinya untuk mengetahui jalan menuju Alloh, mereka itulah yang disebut ahli ruhani.
Ruh terbagi ke dalam 4 bagian :
(1) Ruh Al-Qudsi (ruh termurni), yaitu ruh yang berada di alam lahut atau alam ma’rifat atau alam tertinggi. Ruh ini adalah hakikat manusia yang disimpan di dalam lubuk hati. Keberadaannya akan diketahui dengan taubat dan talqin kalimat “Laa Ilaaha Illalloh”. Ruh ini dinamakan oleh ahli Tashowuf sebagai bayi ma’nawi (thiflul ma’ani). Ruh inilah yang senantiasa akan mampu berhubungan dengan Alloh Swt sedangkan badan atau jasmani ini bukan mahromnya bagi Alloh. Ruh Al-Qudsi telah Alloh tempatkan di dalam rasa (sirri). Alatnya adalah ilmu hakikat, yaitu ilmu tauhid. Amalannya adalah mudawamah nama-nama Tauhid dengan lisan sir tanpa suara dan huruf. Siapapun tidak ada yang mampu melihat/menelitinya kecuali Alloh. Adapun keuntungannya yaitu keluarnya tiflul ma’ani, musyahadah serta terarah dan melihat kepada zat Alloh dalam keagungan-Nya dan dalam keindahan-Nya dengan penglihatan sirri.
(2) Ruh Sulthoni, adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam jabarut. Tempat ruh ini adalah fuad (mata hati). Alatnya adalah ma’rifat dan amalannya adalah mudawamah asma Alloh dengan lisan dan hati (qolbu). Adapun keuntungan pengolahan dari ruh sultani adalah melihat pantulan “Jamalillah” (keindahan Alloh). Tempatnya adalah di sorga ketiga yaitu sorga firdaus.
(3) Ruh Sairani Rawani (ruh ruhani), adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam malakut. Tempatnya adalah hati (qolbu). Alatnya adalah mudawamah asma’ul bathin tanpa suara dan huruf, hasilnya adalah ma’rifat kepada Alloh Swt, ilmu bathin, memperoleh ketenangan did lam bergaul, hidupnya hati dan musyahadah di alam malakut (seperti menyaksikan sorga dan ahlinya dan malaikat-malaikatnya). Tempatnya di akhirat adalah sorga tingkat ke dua yaitu sorga na’im.
(4) Ruh Jismani, adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam mulki (alam terendah bagi ruh). Ruh jismani Alloh telah tempatkan di dalam jasad antara daging dan darah tepatnya di wilayah dada dan anggota badan yang zahir. Alat untuk mengolah ruh ini adalah syari’at, hasilnya adalah wilayah (pertolongan Alloh), mukasyafah (terbukanya hijab antara manusia dengan Alloh), dan musyahadah (merasa berhadap-hadapan dengan Alloh) begitupula karomatul kauniyah pada martabat kewalian seperti ; berjalan di atas air, terbang di udara, menyingkat jarak, mendengar dari jauh, melihat rahasia badan dsb. Keuntungan di akhirat akan ditempatkan di sorga ma’wa.
Setiap ruh itu mempunyai hanut (tempat) di daerah keberadaannya, dan bekal/alat pengolahannya dan keuntungan/hasil pengolahannya dan cara pengolahannya yang tidak pernah sia-sia yang diketahui secara tertutup (rahasia) maupun secara terbuka. oleh karena itu wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui cara mengolah dirinya, sebab apa yang dilakukan di muka bumi ini akan diminta pertanggung jawabannya kelak di hari kiamat.
Tujuan utama didatangkannya manusia kea lam terendah adalah agar manusia berupaya kembali mendekatkan diri kepada Alloh dan mencapai darajat (kembalinya manusia ke tempat asalnya) dengan menggunakan hati (qolbu) dan jasad. Maka perlu ditanamkan bibit tauhid di lading hati agar tumbuh menjadi pohon tauhid yang akarnya tertanam di dalam rasa dan menghasilkan buah tauhid untuk mencapai ridho Alloh Swt.
Syekh Abdul Qodir Al-Jailani menyebut ruh atau hakikat Muhammad itu adalah akal.
APA ITU AKAL ?
Kebanyakan kita mengatakan bahwa akal itu adalah otak, sehingga kalau kita berkata kepada orang lain “gunakan akalmu!” maka kita akan menunjuk dan mengarahkannya kepada kepala kita sebagai isyarat bahwa tempatnya akal disana. Ketahuilah wahai saudaraku akal bukanlah otak, jadi letak keberadaannya bukan di kepala. Keberadaan akal tidaklah berbentuk secara fisik sehingga tidak dapat dilihat oleh mata kepa ini. Tapi meskipun demikian, fungsi dan gerakannya dapat dirasakan.
Semoga Alloh senantiasa menjaga kita dari kesesatan, semoga kita diberikan pemahaman yang mendalam akan akal ini sehingga kita tahu sebenarnya akal itu apa. Sulit saudaraku untuk yakin dan beriman dengan menggunakan otak kita ini, otak ini selalu menuntut bukti nyata, alasan dan sebab yang benar menurutnya. Dengan selalu menggunakan otak dan menuntut segala sesuatunya harus rasional akhirnya kita tidak bisa beriman secara betul-betul akan tetapi malah bermain-main dalam keimanan. Seperti dalam melaksanakan sholat, perhatikanlah firman Alloh berikut :
Artinya : “dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sholat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”. (Al-Maaidah ayat 58)
Akal adalah alat untuk berfikir dan memahami ayat-ayat Alloh baik yang kauniyah maupun quraniyah. Tapi berfikir dengan akal tidak seperti berfikir dengan otak, berfikir dengan akal itu akan berujung dengan satu kesimpulan : “robbana maa kholaqta hadza baathila” tidak ada sesuatu apapun yang Alloh telah ciptakan itu sia-sia. Apabila seseorang telah mempergunakan akalnya dalam berfikir dengan baik dan benar maka keimanannya akan semakin mantap dan terus meningkat.
Sekarang kita buktikan bahwa akal bukanlah otak, pernahkah anda makan goring atau pepes ikan mas ? ketika kita makan dibagian kepalanya akan terdapat yang disebut otak ikan. Tapi sekarang adakah di kepala ikan itu akal, maka pasti tidak ada karena akal bukan di kepala dan akal bukan otak. Kalau akal diartikan otak seperti yang ada di kepala ikan maka berarti ikan juga punya akal. Jadi jelas bahwa akal bukanlah otak dan otak bukanlah akal. Akal itu adalah qolbu, sebagaimana Alloh firmankan dalam surah Qoof ayat 37 :
Artinya : “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya”.
Dalam ayat di atas Alloh menggunakan kata qolbun untuk menyatakan akal.
APA ITU NAFSU ?
Nafsu adalah elemen jiwa (unsur ruh) yang berpotensi mendorong pada tabi’at badaniyah/biologis dan mengajak diri pada berbagai amal baik atau buruk. Nafsu itu pula adalah ruh sebagaimana dimaksud dalam firman Alloh surah At-Takwir ayat 7 :
Artinya : “dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)”.
Nafsu di dalam ayat ini diartikan ruh.
Adapun nafsu memiliki tingkatan-tingkatan. Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang dikenal dengan istilah “marotibun nafsi” yaitu terdiri dari :
(1) Nafsu Amaroh
Nafsu amaroh tempatnya adalah “ash-shodru” artinya dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Bukhlu artinya kikir atau pelit
2. Al-Hirsh artinya tamak atau rakus
3. Al-Hasad artinya hasud
4. Al-Jahl artinya bodoh
5. Al-Kibr artinya sombong
6. Asy-Syahwat artinya keinginan duniawi
(2) Nafsu Lawwamah
Nafsu lawwamah tempatnya adalah “al-qolbu” artinya hati, tepatnya dua jari di bawah susu kiri. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Laum artinya mencela
2. Al-Hawa artinya bersenang-senang
3. Al-Makr artinya menipu
4. Al-Ujb artinya bangga diri
5. Al-Ghibah artinya mengupat
6. Ar-Riya’ artinya pamer amal
7. Az-Zulm artinya zalim
8. Al-Kidzb artinya dusta
9. Al-ghoflah artinya lupa
(3) Nafsu Mulhimah
Nafsu mulhimah tempatnya adalah “Ar-ruh” tepatnya dua jari di bawah susu kanan. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. As-Sakhowah artinya murah hati
2. Al-Qona’ah artinya merasa cukup
3. Al-Hilm artinya murah hati
4. At-Tawadhu’ artinya rendah hati
5. At-Taubat artinya taubat atau kembali kepada Alloh
6. As-Shobr artinya sabar
7. At-Tahammul artinya bertanggung jawab
(4) Nafsu Muthmainnah
Nafsu muthmainnah tempatnya adalah “As-Sirr” artinya rahasia, tepatnya dua jari dari samping susu kiri kea rah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Juud artinya dermawan
2. At-tawakkul artinya berserah diri
3. Al-Ibadah artinya ibadah
4. Asy-Syukr artinya syukur atau berterima kasih
5. Ar-Ridho artinya rido
6. Al-Khosyah artinya takut akan melanggar larangan
(5) Nafsu Rodhiyah
Nafsu rhodiyah tempatnya adalah “Sirr Assirr” artinya sangat rahasia, tepatnya di jantung yang berfungsi menggerakkan seluruh tubuh. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Karom artinya
2. Az-Zuhd artinya zuhud atau meninggalkan keduniawian
3. Al-Ikhlas artinya ikhlas atau tanpa pamrih
4. Al-Waro’ artinya meninggalkan syubhat
5. Ar-Riyadhoh artinya latihan diri
6. Al-Wafa’ artinya tepat janji
(6) Nafsu Mardhiyah
Nafsu mardhiyah tempatnya adalah “Al-khofiy” artinya samar, tepatnya dua jari dari samping susu kanan ke tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Husnul Khuluq artinya baik akhlak
2. Tarku maa siwalloh artinya meninggalkan selain Alloh
3. Al-Luthfu bil kholqi artinya lembut kepada makhluk
4. Hamluhum ‘ala sholah artinya mengurus makhluk pada kebaikan
5. Shofhu ‘an dzunubihim artinya mema’afkan kesalahan makhluk
6. Al-Mail ilaihim liikhrojihim min dzulumati thoba’ihim wa anfusihim ila anwari arwahihim artinya mencintai makhluk dan cenderung perhatian kepada mereka guna mengeluarkannya dari kegelapan (keburukan) watak dan jiwa-jiwanya ke arah bercahayanya ruh-ruh mereka.
(7) Nafsu Kamilah
Nafsu kamilah tempatnya adalah “Al-Akhfa” artinya sangat samar, tepatnya di tengah-tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Ilmu Al’Yaqiin
2. Ainul Yaqiin
3. Haqqul Yaqiin
QOLBU = RUH = AKAL = NAFSU
Kenapa dikatakan demikian, karena memang benar seperti itu adanya. Mari kita lihat bersama apabila ada di hadapan kita sosok mayat. Apabila saya tanyakan, mayat ini sudah tidak ada apanya : qolbunya, ruhnya, akalnya atau nafsunya. maka pasti jawabannya : “semuanya”.
Tidak salah apabila ada yang mengatakan qolbunya yang tidak ada, karena ketika seseorang meninggal maka qolbunya yang selalu menjadi sumber perasa ketika masih hidup seperti ; sedih, senang, tentram, menyesal, marah maka setelah meninggal perasaan di mayat itu hilang, dia tidak merasakan apa-apa lagi.
Tidak salah juga kalau orang berkata ruhnya yang tidak ada, karena ruh adalah nyawa bagi mayat itu. Setelah ruhnya tidak ada maka mayat itu tidak bernyawa lagi, tidak bernafas lagi tidak berdetak lagi jantungnya serta nadinyapun tidak berdenyut lagi.
Apabila ada yang mengatakan akalnya yang tidak ada, maka ini juga betul karena setelah meninggalnya seseorang maka mayat orang tersebut tidak akan berfikir lagi dan tidak akan faham lagi dengan ilmu-ilmu yang dulu pernah dipelajarinya selagi hidup.
Terakhir jika dikatakan yang tidak ada itu nafsunya, maka ini pun betul. Karena nafsu itu adalah unsur dalam jiwa orang yang masih hidup yang memiliki keinginan-keinginan baik maupun buruk. Dengan demikian setelah menjadi mayat maka tidak ada lagi pada mayat itu nafsunya sehingga dia tidak memiliki keinginan apapun.
Sekarang dapat kita simpulkan kalau semua jawaban tersebut adalah benar, maka berarti keempat nama yang berbeda itu adalah satu, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Imam Al-Ghozali r.a : qolbu, ruh, akal dan nafsu itu adalah satu. (syai’un wahidun).

Jangan Hanya Nuruti Nafsu


PAGI itu, Pardi kelimpungan. Hatinya gelisah, resah dan ketakutan.
“Kamu sakit flu, Di?” Tanya Dulkamdi.
“Nggak, sehat-sehat saja…”
“Pasti hatimu yang sedang flu, masuk angin, kemasukan apa Di…?”
Pardi masih terdiam, tidak bisa menutupi kegelisahan bathinnya. Dulkamdi tahu benar kejanggalan itu.
“Jangan dipendam nanti sakit jantung…”
“Iya Dul… saya lagi gelisah, jangan-jangan apa yang kita lakukan selama ini, karena menuruti hawa nafsu saja…”
“Maksudmu?”
“Ya ini, di kedai Cak San ini… Masak kamu nggak kroso, kita sangat menikmati suasana ini, kita bicara ngakak, kita ceplas-ceplos, seperti ini kita paling hebat…”
Kini ganti Dulkamdi dan Cak San yang terhenyak mendengar ucapan Pardi. Ya, mereka merasa jangan-jangan ada selipan-selipan hawa nafsu di balik obrolan dunia sufi ini. Nafsu menikmati pengetahuan yang mendorong seseorang jadi bangga dan merasa paling hebat.
Dulkamdi ingat kutipan Al-Hikam yang disampaikan Kyai Mursyid. “Orang bicara tentang maqom maupun kondisi ruhani tertentu. Adakalanya ingin disebut sebagai orang yang berderajat tinggi, ada pula yang berbicara memang karena orang itu sudah sampai kepada Allah. Keduanya berbeda, tapi sulit dibedakan kecuali oleh orang yang memiliki mata hati yang suci”.
Dulkamdi hanya bisa menyela napas dalam-dalam, sementara hening pagi itu benar-benar membuat gerah, tidak sesejuk embun yang harus mengabut.
“Alaaah…gak usah dipikir dalam-dalam”, kata Kang Soleh nyelonong dengan ceplosannya. “kalau muncul rasa bangga dan kenikmatan fantastic di balik ungkapan ruhani kita, cepat-cepat istighfar saja dalam hati. Nati nafsu juga hilang sendiri”.
“wah… solusinya kok gampang to Kang?”
“Lha iya… Yang penting kita ini tidak kemoncelan, masak zikir sampai dibisniskan. Dunia sufi sampai dijadikan komoditas ekonomi baru, nanti lama-lama dijadikan sumber devisa pariwisata. Yang penting kita tidak edan. Apa kamu ikut edan agar keduman zaman edan… Ya, kita do’akan saja semoga orang yang berbicara kebaikan itu benar-benar tulus dari hatinya, bukan ditulus-tuluskan sampai menangis segala. Itu namanya edan tenanan…”
Mereka kembali bisa tertawa-tawa, sesekali berniat menentawakan diri sendiri.


Senin, 18 Agustus 2014

NUR, MATA HATI DAN HATI



NUR-NUR ILAHI ADALAH KENDERAAN HATI DAN RAHSIA HATI.
NUR ITU IALAH TENTERA HATI, SEBAGAIMANA KEGELAPAN ADALAH TENTERA NAFSU. JIKA ALLAH S.W.T MAHU MENOLONG HAMBA-NYA MAKA DIBANTU DENGAN TENTERA ANWAR (NUR-NUR) DAN DIHENTIKAN BEKALAN KEGELAPAN.
NUR ITU BAGINYA MENERANGI (MEMBUKA TUTUPAN), MATA HATI ITU BAGINYA MENGHAKIMKAN DAN HATI ITU BAGINYA MENGHADAP ATAU MEMBELAKANG.
Allah s.w.t hanya boleh dikenal jika Dia sendiri mahu Dia dikenali. Jika Dia mahu memperkenalkan Diri-Nya kepada hamba-Nya maka hati hamba itu akan dipersiapkan dengan mengurniakannya warid. Hati hamba diterangi dengan Nur-Nya. Tidak mungkin mencapai Allah s.w.t tanpa dorongan yang kuat dari Nur-Nya. Nur-Nya adalah kenderaan bagi hati untuk sampai ke Hadrat-Nya. Hati adalah umpama badan dan roh adalah nyawanya. Roh pula berkait dengan Allah s.w.t dan perkaitan itu dinamakan as-Sir (Rahsia). Roh menjadi nyawa kepada hati dan Sir menjadi nyawa kepada roh. Boleh juga dikatakan bahawa hakikat kepada hati adalah roh dan hakikat kepada roh adalah Sir. Sir atau Rahsia yang sampai kepada Allah s.w.t dan Sir yang masuk ke Hadrat-Nya. Sir yang mengenal Allah s.w.t. Sir adalah hakikat kepada sekalian yang maujud.
Nur Ilahi menerangi hati, roh dan Sir. Nur Ilahi membuka bidang hakikat-hakikat. Amal dan ilmu tidak mampu menyingkap rahsia hakikat-hakikat. Nur Ilahi yang berperanan menyingkap tabir hakikat. Orang yang mengambil hakikat dari buku-buku atau dari ucapan orang lain, bukanlah hakikat sebenar yang ditemuinya, tetapi hanyalah sangkaan dan khayalan semata-mata. Jika mahu mencapai hakikat perlulah mengamalkan wirid sebagai pembersih hati. Kemudian bersabar menanti sambil terus juga berwirid. Sekiranya Allah s.w.t kehendaki warid akan didatangkan-Nya kepada hati yang asyik dengan wirid itu. Itulah kejayaan yang besar boleh dicapai oleh seseorang hamba semasa hidupnya di dunia ini.
Alam ini pada hakikatnya adalah gelap. Alam menjadi terang kerana ada kenyataan Allah s.w.t padanya. Misalkan kita berdiri di atas puncak sebuah bukit pada waktu malam yang gelap gelita. Apa yang dapat dilihat hanyalah kegelapan. Apabila hari siang, matahari menyinarkan sinarnya, kelihatanlah tumbuh-tumbuhan dan haiwan yang menghuni bukit itu. Kewujudan di atas bukit itu menjadi nyata kerana diterangi oleh cahaya matahari. Cahaya menzahirkan kewujudan dan gelap pula membungkusnya. Jika kegelapan hanya sedikit maka kewujudan kelihatan samar. Sekiranya kegelapan itu tebal maka kewujudan tidak kelihatan lagi. Hanya cahaya yang dapat menzahirkan kewujudan, kerana cahaya dapat menghalau kegelapan. Jika cahaya matahari dapat menghalau kegelapan yang menutupi benda-benda alam yang nyata, maka cahaya Nur Ilahi pula dapat menghalau kegelapan yang menutup hakikat-hakikat yang ghaib. Mata di kepala melihat benda-benda alam dan mata hati melihat kepada hakikat-hakikat. Banyaknya benda alam yang dilihat oleh mata kerana banyaknya cermin yang membalikkan cahaya matahari, sedangkan cahaya hanya satu jenis sahaja dan datangnya dari matahari yang satu jua. Begitu juga halnya pandangan mata hati. Mata hati melihat banyaknya hakikat kerana banyaknya cermin hakikat yang membalikkan cahaya Nur Ilahi, sedangkan Nur Ilahi datangnya dari nur yang satu yang bersumberkan Zat Yang Maha Esa.
Kegelapan yang menutupi mata hati menyebabkan hati terpisah daripada kebenaran. Hatilah yang tertutup sedangkan kebenaran tidak tertutup. Dalil atau bukti yang dicari bukanlah untuk menyatakan kebenaran tetapi adalah untuk mengeluarkan hati dari lembah kegelapan kepada cahaya yang terang benderang bagi melihat kebenaran yang sememangnya tersedia ada, bukan mencari kebenaran baharu. Cahayalah yang menerangi atau membuka tutupan hati. Nur Ilahi adalah cahaya yang menerangi hati dan mengeluarkannya dari kegelapan serta membawanya menyaksikan sesuatu dalam keadaannya yang asli. Apabila Nur Ilahi sudah membuka tutupan dan cahaya terang telah bersinar maka mata hati dapat memandang kebenaran dan keaslian yang selama ini disembunyikan oleh alam nyata. Bertambah terang cahaya Nur Ilahi yang diterima oleh hati bertambah jelas kebenaran yang dapat dilihatnya. Pengetahuan yang diperolehi melalui pandangan mata hati yang bersuluhkan Nur Ilahi dinamakan ilmu laduni atau ilmu yang diterima dari Allah s.w.t secara langsung. Kekuatan ilmu yang diperolehi bergantung kepada kekuatan hati menerima cahaya Nur Ilahi.
Murid yang masih pada peringkat permulaan hatinya belum cukup bersih, maka cahaya Nur Ilahi yang diperolehinya tidak begitu terang. Oleh itu ilmu laduni yang diperolehinya masih belum mencapai peringkat yang halus-halus. Pada tahap ini hati boleh mengalami kekeliruan. Kadang-kadang hati menghadap kepada yang kurang benar dengan membelakangkan yang lebih benar. Orang yang pada peringkat ini perlu mendapatkan penjelasan daripada ahli makrifat yang lebih arif. Apabila hatinya semakin bersih cahaya Nur Ilahi semakin bersinar meneranginya dan dia mendapat ilmu yang lebih jelas. Lalu hatinya menghadap kepada yang lebih benar, sehinggalah dia menemui kebenaran hakiki