Laman

Selasa, 11 November 2014

Ridha Allah


LELAKI gagah berjubah dan membawa seuntai tasbih, sambil komat-kamit. Wajahnya pucat menampakan style religius yang kuat. Jidatnya hampir gosong, entah kenapa. Mungkin terlalu banyak bersujud atau karena sengaja dihitam-hitamkan. Tiba-tiba nyeletuk pada si Pardi di kedai itu.
”Mas, yang sampean cari dalam hidup ini apa?”
”Apa ya? Saya juga nggak tahu. Saya hanya pengin jadi hamba Allah yang benar saja. Kalau sampean yang dicari apa?” Tanya Pardi.
Lelaki itu agak kaget.
”Saya harus memperbanyak ibadah, perbanyak pahala, perbanyak ganjaran biar kita nanti hebat di akhirat…” jawab lelaki itu.
”Kalau saya nggak butuh itu…”
”Haahhh…!” Ia semakin kaget.
”Apa nggak kebaretan pahala nanti di akhirat sampean ini. Kok pahala terus yang dipikir. Kelihatannya sampean nggak percaya pada janji yang Punya Pahala ya…?”
“Lho kok begitu ! Saya percaya pada Allah, percaya sekali. Karena itu saya totalkan hidup saya agar dapat imbalan diakhirat nanti”
“Apa sampean ini pedagang akhirat kok mencari laba melulu, imbalan terus, nanti sampean jadi konglomerat begitu, disana?”
“Wah, Mas… ikut saya aja… jalan keliling supaya banyak dapat pahala. Kita nanti kaya raya di akhirat…”
“Ada yang lebih kaya Mas dari sampean…”
“Siapa?”
“Saya!”
“Kok bisa?”
“Lha iya. Saya berada di sisi Yang Maha Kaya. Sampean masih memburu kekayaan pahala. Hayooo…”
Lelaki itu bingung dan mulai sebel pada Pardi.
“Terus yang sampean cari apa kalau begitu?”
“Kalau Gusti Allah Tanya saya, ya saya mencari ridha-Nya saja sudah cukup dan saya diridhai untuk jadi hamba-Nya, sudah lebih dari cukup…”
Lelaki itu kegerahan. Ia gunakan Koran untuk dijadikan kipas-kipas. Belum sempat ia minum kopi lalu ngeloyor pergi.
Usai kepergian itu Kang Soleh muncul. Lalu menegur Pardi.
“Kamu sudah tahu apa itu ridha Di…?”
“Lhadhalah… Baru saja saya mengenalkan ridha kepada tukang ibadah Kang…!”
“Kamu gak boleh sombong begitu…!”
“Katanya menyombongi orang sombong itu sedekah Kang. Ngomong-ngomong ridha itu apa sih Kang?”
“Ridha bukanlah bahwa engkau tidak mengalami cobaan, rida hanyalah bahwa engkau tidak keberatan terhadap hukum dan qadha Allah SWT”.
Kewajiban bagi hamba adalah rela terhadap ketentuan Allah SWT yang telah diperintahkan agar ia ridha dengan-Nya. Sebab tidaklah setiap ketentuan itu mengharuskan ia ridha, atau boleh rida dengan qadha tersebut, misalkan kemaksiatan dan banyaknya fitnah yang menimpa kaum muslimin.
Para syeikh berkomentar, “Keridhaan adalah gerbang Allah SWT yang terbesar”. Maksud mereka adalah, bahwa barang siapa mendapat kehormatan dengan ridha, berarti ia telah disambut sambutan paling sempurna dan dihormati dengan penghormatan tertinggi”.
Seorang murid bertanya kepada gurunya, apakah si hamba mengetahui jika Allah ridha kepadanya?’ Sang guru menjawab, ‘Tidak’, bagaimana dapat mengetahuinya, sedang ridha-Nya ghaib?’ Si murid berkata, ‘Sungguh ia tahu hal itu! Jika aku mendapati hatiku ridha kepada Allah SWT, maka aku tahu bahwa Dia ridha kepadaku’. Maka sang guru lalu berkata, ‘Sungguh baik sekali ucapanmu itu, anak muda’.
“Yang penting aku hanya ingin ridha-Nya dan kelak dapat cinta-Nya , Kang…”
“Keinginanmu seperti itu sudah lebih dari segalanya, Di…”
Pardi menghela nafas dalam-dalam dan secangkir kopi Cak San sudah di depannya.

Dzikir Qolbu


Dzikir kalbu disebut juga dzikir tersembunyi, dzikr khafi, yaitu zikir yang tersembunyi di dalam hati, tanpa suara dan kata-kata.
Zikir ini hanya memenuhi kalbu dengan kesadaran yang sangat dekat dengan Allah, seirama dengan detak jantung serta mengikuti keluar masuknya napas. Keluar masuknya napas yang dibarengi dengan kesadaran akan kehadiran Allah merupakan pertanda bahwa kalbu itu hidup dan berkomunikasi langsung dengan Allah. Sebaliknya, orang yang lupa mengingat Allah menunjukkan kalbunya mati, karena tidak ada komunikasi dengan Yang Mahahidup. Dalam literatur sufisme di Barat, zikir kalbu sering dilukiskan sebagai living presence—hidup dengan merasakan kehadiran Tuhan. Di dalam Alquran, Yang Mahahidup itu digambarkan sebagai Cahaya langit dan bumi. Maka, ketika tidak ada hubungan dengan sumber cahaya itu, kalbu pun tidak mendapat pancaran ca¬haya, sehingga gelap dan mati.
Alquran menggunakan istilah qalb (hati) sebanyak 132 kali. Makna dasar kata ini adalah membalik kembali, pergi maju-mundur, berubah, bolak-balik, naik-turun, mengalami perubahan. Rasulullah saw. mengatakan bahwa qalb— karena sifat berubah-ubahnya—bagaikan selembar bulu di gurun pasir; angin membolak-baliknya dari atas ke bawah. Salah satu istri Nabi meriwayatkan bahwa dia sering berdoa, ” Wahai Dia Yang membuat hati berubah-ubah, tetapkan hatiku pada agama-Mu!” Pendek-nya, qalb bukan sesuatu yang konstan, melainkan bisa mengalami pasang-surut dan berubah-ubah dari satu ke-adaan ke keadaan yang lain.
Imam Jafar al-Shadiq menye-butkan perubahan hati itu ada empat.
Pertama, hati yang tinggi. Tingginya hati ini ketika zikir kepada Allah Swt. Kalau orang senantiasa berzikir kepada Allah, hatinya akan naik ke tempat yang tingi.
Kedua, hati yang terbuka. Hati ini diperoleh apabila kita rida kepada Allah Swt.
Ketiga, hati yang rendah, yang terjadi ketika kita disibukkan oleh hal-hal yang selain Allah,
Keempat, adalah hati yang mati atau hati yang berhenti. Hati ini terjadi ketika seseorang melupakan Allah SWT sama sekali
Oleh karena itu, untuk menjaga agar hati kita selalu hidup, maka ingatlah kepada Allah SWT. Dzkir kalbu mempunyai dampak yang jelas dalam meneguhkan hati (qolbuO agar memiliki keyakinan, kekuatan dan kemantapan iman kepada Allah serta melahirkan perbuatan yang baik amal sshaleh dalam hubugnan vertikal kepada Allah maupun hubungan horizontal dengan sesama manusia
Mereka itu adalah orang-orang yang beriman, yang hati-nya menjadi tenteram dengan mengingat (dzikr) Tuhan. Ingatlah, hanya dengan mengingat Tuhan sajalah maka hati menjadi tenteram (Q.S. al-Ra’d [13]: 28).
Allah meneguhkan keimanan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh (al-qawl al-tsabit) dalam kehidupan dunia dan akbirat, dan Allah menyesatkan orang yang berbuat aniaya. Dan Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki (Q.S. Ibrahim [14]: 27).
Makna “ucapan yang teguh” (al-qawl al-tsdbit) adalah kalimah thayyibah atau zikir yang menghunjam di dalam kalbu. la seperti sebuah pohon, akar tunjangnya menghunjam ke bumi sedangkan dahan, ranting, dan dedaunannya menjulang ke langit, sebagaimana digambarkan pada Q.b. Ibrahim [14]: 24.
Iman tumbuh di dalam hati,sementara petiunjuk mengalihkan hati menuju arah yang benar. Dengan cara yang sama, hati adalah pusat keraguan (Q.S At-Taubah (9);45), penyangkalan (Q.S An-Nahlu (16);22), kekafiran dan penyelewengan dari jalan yang lurus. Disinilah setan mengarahkan perhatiannya, berusaha menanamkan kesesatan.
Dzikir kalbu berfungsi sebagai benteng pertahanan dari dalam untuk membendung bisikan setan yang bersumpah akan menggoda manusia dari berbagai penjuru.
Iblis berkata, “Ya Allah, karena Engkau telah menghukumku sesat, aku benar-benar akan menghalanghalangi mereka (manusia) dari jalan yang lurus. Kemudian akan mendatangi mereka dari depan, belakang, sebelah kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati mayoritas mereka bersyukur” (Q.S. al-A’raf [7]: 16-17).
Nabi berkata, “Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia seperti mengalirnya darah, maka aku khawatir bahwa dia akan memasukkan kejahatan dalam hatimu” (Bukhari, bab al-Kbalq, 11).
Alquran juga menegaskan bahwa zikir bermanfaat bagi kehidupan orang yang beriman, dan bahwa zikir menen-teramkan hati dan pikiran (Q.S. al-Ra’d: 28).
Hakim al-Tirmidzi, seorang sufi dari Termez, Uzbekistan, sebagai-mana dikutip oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam kitab Hilyab al-Auliya\ menggambarkan hubungan zikir dengan ketenteraman hati sebagai berikut:
Dengan mengingat Allah [yang diresapkan ke dalam kalbu], hati seseorang akan menjadi lembut. Sebaliknya, hati yang lupa kepada Allah dan dipenuhi oleh rekaman tentang [berbagai dorongan nafsu] dan kelezatan hidup semata, akan menjadi keras dan kering. Kalbu seseorang tidak berbeda dengan sebatang pohon. Pohon akan segar, rimbun dan penuh dengan dedaunan yang menyejukkan apabila ia menyerap air yang cukup. Apabila sebatang pohon tumbuh di tempat yang tidak berair, maka dahan dan ranting pohon itu akan kering kerontang dan dedaun-annya pun akan berguguran. Demikian pula hati kita. Zikir merupakan mata air kehidupan. Hati yang kosong dari zikir kepada Allah berarti kekurangan mata air ke¬hidupan. Hati akan kering, gersang, keras, dan penuh dengan bara hawa nafsu dan syahwat, dan akhirnya men¬jadi enggan berbakti kepada Allah. Jika terus dibiarkan, hati akan pecah berkeping-keping; yang hanya pantas menjadi bara api neraka. Sebenamya, kelembutan hati dan ketenteramannya merupakan rahmat Allah. Allah-lah yang memantulkan cahaya kedalam hati seseorang karena dzikir kepada Allah dengan kasih sayangnya.
Uraian Hakim At Tirmidzi ini merupakan penjabaran dari firman Allah SWT :
Apakah orang-orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah untuk menerima al-Islam, kemudian mendapat pancaran cahaya dari Tuhannya sama dengan orang-orang yang hatinya membatu? Maka malapetaka besar bagi mereka yang hatinya membatu [karena engganj berzikir kepada Allah, Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Q.S.ai-Zumar [29]: 22).
Barangsiapa yang [hatinya] berpaling dan zikir kepada Allah Yang Maha Pengasih, Kami sertakan setan kepada-nya, sehingga setan itu menjadi teman dekatnya. (Q.S. al- Zukhruf [431: 36). |
Dzikir kalbu (khafi), menurut kaum sufi, mem-punyai efek-efeknya sendiri yang mencerahkan: ia menyulut api kerinduan kepada Allah, membina kecintaan kepada Allah dalam hati, melahirkan perenungan, melahirkan ekstase dalam diam, menimbulkan ketidaksukaan untuk terjerembab dan tenggelam dalam urusan-urusan duniawi, serta memungkinkan dzakir (pezikir) lebih mengutamakan Allah Swt. ketimbang segala sesuatu selain-Nya.

Senin, 10 November 2014

Syukur Bersama Allah


Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
Riwayat dari Abdullah bin Amr ra:
“Tuhanku mendidikku, dan “Rasulullah saw, masuk ke dalam rumahku, lalu bersabda, “Wahai
Abdullah bin Amr, bukankan aku diberi informasi bahwa sebenarnya dirimu sangat ketat (memaksa diri) dalam sholat malam dan puasa di siang hari?” Aku menjawab, “Saya memang melakukannya…”. Lalu Rasulullah saw, bersabda, “Cukuplah bagimu sebulan itu puasa tiga hari. Satu kebaikan itu sebanding dengan dengan sepuluh kebaikan, maka (jika anda melakukan puasa tiga hari setiap bulan) sama dengan puasa setahun penuh….” (Hr. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzy, Nasa’I, Ibnu Majah, Daramy dan Ibnu Sa’d) Dia mendidik adabku dengan baik.”
Dalam hadits ini ada rahasia-rahasia:
Adanya berita gembira atas kesinambungan cahaya amal dengan cahaya amal yang lain tanpa terhenti, walau pun ada jarak waktu yang jauh.
Berlipatgandanya pahala amal pada ummat ini, satu kebaikan sebanding dengan sepuluh kebaikan, agar hatinya bangkit untuk amal kebajikan.
Tidak adanya keterpaksaan yang membuat si hamba jadi bosan.
Terus menerus berdzikir hingga hati tak tertimpa kealpaan.
Kepastian iman terhadap janji dan kebajikan kemuliaan Allah swt.
Semua perilaku tersebut merupakan tingkah kaum ‘arifin yang melepaskan diri dari hasrat duniawi dan ukhrowi, dimana hasrat citanya hanyalah Tuhan mereka. Maka siapa pun yang himmahnya hanyalah Rabb, tiadalagi hasrat lain baginya.
Yahya bin Mu’adz ra, dalam munajatnya mengatakan:
“Ilahi, bila aku mengenalMu, sesungguhnya Engkau telah memberi petunjuk padaku. Jika aku mencariMu, sesungguhnya karena Engkau menghendakiKu. Jika aku datang kepadaMu, sesungguhnya Engkau memilihku. Jika aku taat padaMu, sesungguhnya karena Engkau memberi taufiq kepadaku. Dan jika aku kembali kepadaMu, itu karena Engkau menghampiriku.”
Diriwayatkan bahwa Nabi Musa as telah bermunajat:
“Oh Tuhan, bagaimana caraku bersyukur atas nikmat-nikmatMu, sedangkan setiap rambut yang tumbuh saja ada dua nikmat?”
Allah swt menjawab:
“Wahai Musa! Bila engkau tahu bahwa dirimu sangat tak berdaya bersyukur kepadaKu, sesungguhnya engkau benar-benar telah bersyukur kepadaKu….”
Allah swt, mewahyukan kepada Nabi Dawud as:
“Bersyukurlah atas nikmatKu kepadamu…”
Nabi Dawud as, menjawab:
“Ya Allah bagaimana aku bisa bersyukur kepadaMu, sedangkan syukurku kepadaMu itu adalah nikmat teragung bagiku?”
“Bila engkau tahu itu, sebenarnya engkau hambaku paling bersyukur padaKu…” firmanNya dalam wahyu kepadanya.
Muhammad bin as-Sammak ra mengatakan, “Ingatlah kepada Dzat yang mendahului ingatNya sebelum dzikirmu, dan cintaNya sebelum cintamu. Apa pun yang kau dzikirkan tak lain jkecuali karena dzikirNya kepadamu, dan tak ada cintamu kepadaNya kecuali karena cintaNya kepadamu.”
Abu Bakr al-Wasithy ra, menegaskan, “Siapa yang lupa mengiat Allah Ta’ala berarti ia telah terkena Istidroj..”
Perlu diketahui bahwa sifat terendah dari seorang arif Billah adalah bila seseorang hatinya hidup bersama Allah tanpa ikatan apa pun, yaitu mengingat Allah, hanya kepada Allah. Hal demikian jelas, seperti dalam firmanNya, “Sesungguhnya dzikir Allah itu paling besar…”.
Dikatakan mengenai firman Allah Ta’ala:
“Sangat sedikit hamba-hambaKu yang sangat bersyukur”, artinya adalah sangat sedikit orang yang melihat anugerahKu ketika ia bersyukur kepadaKu…, Bersama Allah, kita bersyukur pada Allah.
Nabi Musa as, berkata:
“Ilahi, bagaimana Adam mampu bersyukur kepadaMu? Karena Adam Engkau cipta dari TanganMu, dan Engkau hembuskan RuhMu, dan Engkau posisikan di syurgaMu, serta Engkau perintah para malikat bersujud kepadanya, lalu mereka pun sujud?”
Allah swt, menjawab:
“Hai Musa! Adam tahu bahwa semua itu dariKu, lalu dia memuji karenanya.”
Siapa yang taat kepada Allah swt, sesungguhnya ia taat karena pertolonganNya, maka ia dapatkan anugerah. Siapa yang maksiat kepada Allah swt, maka karena bagian takdirNya yang ia maksiat kepadaNya. Bagi Allah ada hujjah baginya. AnugerahNya mendahului ketaatan hambaNya sebelum ia taat, dan keadilanNya mendahului maksiatnya sebelum ia berbuat maksiat. Karena Allah adalah Maha memberlakukan apa yang dikehendakiNya.
Dalam suatu riwayat Nabi Ibrahim as bermunajat :
“Oh Tuhanku, kalau bukan karena Engkau bagaimana aku mengenal siapa Engkau?”
Abu Abdullah ra, ditanya, “Bagaimana kami tidak senang dengan pujian dan sanjungan?”
“Semata karena lupa mengingat anugerah Allah pada kalian, lupa mengingat kebaikan pertolonganNya yang mendahuluimu. Siapa yang lupa anugerah dan ingkar nikmat, nikmat pun akan diterima sebagai derita…” jawabnya.
Anak-anakku…
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberimu ma’rifat, dan menolongmu untuk taat kepadaNya tanpa minta balas kebaikan darimu dan tanpa minta pertolongan dari arahmu, karena itu sudah seyogyanya anda berdzikir kepadaNya dan berbakti kepadaNya tanpa minta ganti rugi dan kecukupan dariNya.”
Banyak sekali ragam kelompok ahli dzikir, diantaranya:
Ada yang berdzikir karena tujuan meraih anugerah Islam,
Ada yang berdzikir karena demi ashlus-Sunnah wal-Jamaah,
Ada yang berdzikir karena adanya anugerah dibalik dzikirnya, hingga hati dan lisannya kelu, akalnya melayang, ia lebur dalam keagunganNya, bergerak dalam kemuliaanNya, hangus dalam mencintaiNya, disaat ia tahu bahwa seluruh amal itu tidak akan pernah bisa tegak kecuali bersamaNya.
Dzikir ada dua arah:
– Dzikir yang menimbulkan rasa takut dan rasa takut penuh cinta.
– Dzikir yang melahirkan rindu dan cinta.
Rasa takut dan cinta adalah dzikir bagi orang yang berdzikir bersama diri sendiri, kemudian ia melihat itu semua karena Dzikrnya Allah padanya yang menyebabkan dzikirnya kepada Allah Ta’ala, kemudian ia tahu bahwa dengan dzikrullah membuat sambung pada Dzikrinya Allah pada dirinya.
Sedangkan rindu dan cinta dibalik dzikir adalah dzikirnya orang yang mengingat Dzikrnya Allah di zaman Azali, hingga tiada maujud dan sirna diri di dunia, kemudian sampai abadi. Lalu dijumpai bahwa Ingatan Allah padanya telah ada sejak Azali, abadi selamanya. Sedangkan dzikirnya sendiri, malah tercampuri kotoran syahwat, teraduk oleh kealpaan demi kealpaan.
Maka sangat berbeda jauh antara orang yang masuk pada Allah Ta’ala dengan melihat dzikirnya sendiri, dan antara orang yang masuk kepada Allah Ta’ala dengan melihat anugerah dan kemuliaanNya. Perlu diketahui bahwa dzikirnya hamba kepada Allah Ta’ala, jika dibandingkan dengan penyandaran dzikirnya Allah Ta’ala pada si hamba, ibarat debu di bawah derasnya hujan.
Dengan dzikir kepadaMu hiduplah ejekanku hai pengkhayal
Dan dengan DzikirMu kepadaku mendahului dzikirku sungguh teragung!
Engkau beri anugerah besar, hingga aku tak mampu mensyukurinya
Manalagi anugerah elokMu yang mampu kusyukuri?

RAHASIA KEAJAIBAN CINTA SEJATI


Abu Bakar Al-Kattani menuturkan.”Suatu ketika, kala musim haji, pernah diselenggarakan dialog yang mengupas masalah cinta di Mekah. Banyak orang-orangtua yang angkat bicara pada forum itu. Sementara Junaid Al-Baghdadi adalah orang yang paling muda di antara mereka. Mereka berkata kepadanya, ‘Sampaikan pendapatmu, wahai penduduk Irak!’
Maka Al-Junaid, anak muda itu menundukkan mukanya dan air mata menetes dari kedua matanya seraya berkata, “Orang yang jatuh cinta adalah hamba yang mengabaikan dirinya, selalu menyebut Rabb-nya, melaksanakan hak-hak-Nya, memandang-Nya dengan hati, membakar hati dengan cahaya kehendak-Nya, minumannya berasal dari bejana cinta-Nya, jika bicara dengan menyertakan Allah, jika berucap dari Allah, jika bergerak menurut perintah Allah, jika diam bersama Allah, dia dengan Allah, milik Allah dan bersama Allah.”
Mendengar itu, orang-orang tua pun ikut menangis. Mereka mengatakan, “Ini keterangan yang tidak membutuhkan tambahan lagi. Semoga Allah memberikan keperkasaan kepadamu wahai pemimpin orang-orang yang berilmu.”
Inilah cinta sejati yang sejatinya mesti dimiliki dan ditumbuh-kembangkan dalam kalbu setiap Muslim. Cinta kepada Allah, menurut kaum sufi, akan mengantarkan ruh kepada kasih sayang, ridha dan ketentraman.
Ammar bin Yasir mengatakan:
“Ya Allah, andaikan aku tahu Engkau lebih meridhai diriku terjun dari ketinggian gunung ini, niscaya aku melakukannya. Andai pula aku tahu Engkau lebih meridhai aku menenggelamkan diri ke dalam air, tentu akan aku lakukan juga. Tiada kukatakan ini, kecuali begitu kuatnya cintaku kepada Zat-Mu yang Mulia dan Indah.”
Mencintai Allah merupakan kesempurnaan cinta dan merupakan tuntutan cinta. Allah mempunyai hak untuk dicintai, yang tidak boleh ada sekutu selain-Nya dalam cinta itu. Kezaliman yang paling zalim adalah meletakkan cinta itu bukan pada tempatnya dan ada persekutuan antara Allah dengan selain Allah di dalamnya.

Niat Thawaf Tapi Mengelilingi Orang Miskin

Niat Thawaf Tapi Mengelilingi Orang Miskin
Berikut ini ada Kisah Teladan Islami yang bagus, dan cocok sebagai renungan pada diri setiap muslim. Seseorang yang akan pergi haji akhirnya membatalkan hajinya demi seorang laki-laki yang miskin. Bekalnya pun diberikan semuanya.
Kisahnya.
Pada saat musim haji tiba, berangkatlah seorang laki-laki untuk menunaikan ibadah haji. Katakan saja namanya Ahmad.

Dalam perjalanannya ke kota Makkah, Ahmad bertemu dengan seorang laki-laki miskin. Kemudian laki-laki miskin itu bertanya kepada Ahmad,
“Bapak hendak pergi kemana?”
Ahmad menjawab,
“Saya akan pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.”
“Berapakah bekal yang engkau bawa?” tanya laki-laki miskin itu lagi.
“Saya membawa bekal uang sebanyak 200 dirham,” jawab Ahmad.
Dengan sangat terpaksa laki-laki miskin ini berkata lagi,
“Berikanlah uangmu itu kepadaku, karena aku ini adalah seorang laki-laki miskin yang menanggung biaya kehidupan satu keluarga besar. Kelilingilah aku tujuh kali, karena itulah sebagai ganti hajimu.”
Akhirnya Ahmad yang semula hendak pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah, gagal pergi ke sana. Karena ia menyadari bahwa menolonh orang miskin itu lebih berharga daripada melaksanakan ibadah haji. Sehingga Ahmad memberikan uangnya kepada laki-laki miskin tadi dan kembali pulang ke rumahnya.
Dewasa ini, banyak sekali orang yang lebih mementingkan diri mereka sendiri daripada memperhatikan orang-orang yang tidak punya yang ada di sekeliling mereka. Sehingga mereka tetap akan menunaikan ibadah haji tanpa perlu memandang kemiskinan para tetangganya.

KARUNIA DZIKIR DAN BEBERAPA TANDA


“Jika engkau melihat seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wirid-Nya dan melanggengkan-Nya dalam keadaan tersebut, namun ia begitu lama mendapat pertolongan-Nya, maka jangan sampai meremehkan apa yang Allah berikan kepadanya. Sebab, engkau belum melihat tanda-tanda orang yang arif ataupun kegembiraan pencinta Allah pada dirinya. Kalaulah bukan karena karunia ilham, tentu tak akan ada wirid.”
–Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam
Sahabatku, mari kita menyadari bahwa dalam shalat, doa, munajat dan wirid kepada Allah SWT terkandung ekspresi penyucian diri dan ibadah yang telah ditentukan. Cipta rasa seorang hamba yang memulai untuk melakukan pendekatan dengan ibadah tentu beragam. Bisa jadi, apa yang kita mohon ada yang cepat diberi pertolongan Allah, ada pula yang lambat, melalui proses dan jangka waktu bertahap. Semuanya terserah kepada Allah. Kita tidak perlu ikut-ikutan “sok mau mengatur” dan tidak berserah diri atas semua yang ditetapkan-Nya.
Dzikir dan doa kepada Allah tanpa keraguan akan menghasilkan nikmat-nikmat yang kadang justru tidak kentara. Sebab, Allah memuliakan hamba-Nya yang berada di jalan itu dengan beragam tanda-tanda. Maka tak heran, jika ada beberapa di antara dari kita, yang tak tampak tanda-tanda kearifannya, meskipun sebenarnya dia termasuk orang yang telah mengalami pencerahan luar biasa.

KELUARKAN DUNIA DARI HATIMU!


Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Berbahagialah orang yang mengakui nikmat Allah SWT di hadapan-Nya dan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada-Nya. Lalu, dia juga melepaskan dirinya dari segala sebab dan kekuatan dirinya. Orang yang berakal adalah orang yang tak pernah menghitung-hitung amalnya kepada Allah SWT dan tidak mengharap balasan dari-Nya dalam segala hal.
Sungguh celaka, jika engkau beribadah kepada Allah SWT tanpa disertai ilmu, engkau bersikap zuhud tanpa ilmu, dan engkau mengambil dunia tanpa ilmu.. Itulah sesungguhnya hijab dalam hijab, murka dalam murka. Engkau tak mampu membedakan antara yang baik dan buruk. Engkau tak mampu memisahkan apa yang bermanfaat bagimu dan apa yang membahayakan dirimu.
Ingatlah bahwa semua itu adalah akibat dari kebodohan dirimu terhadap hukum Allah. Sebab engkau telah meninggalkan sikap berbakti kepada para guru, guru amal dan guru ilmu, yang menunjukkan jalan kepada Allah. Engkau telah menjadikan berbicara sebagai nomer satu, sedangkan beramal sebagai nomer dua. Padahal, dengan amal kalian sampai (wushul) kepada Allah SWT.
Tidaklah akan sampai orang yang ingin mencapai sesuatu kecuali dengan ilmu, dengan sikap zuhud dalam perkara dunia, serta berpaling dari dunia, baik hati dan badannya. Orang yang bersikap zuhud akan mengeluarkan dunia dari tangannya. Orang yang zuhud yang kuat dalam kezuhudannya akan mengeluarkan dunia dari hatinya. Mereka zuhud dalam perkara dunia dengan hatinya sehingga sikap zuhud menjadi watak mereka, lahir dan batin. Pada saat itu, padamlah api tabiatnya, pecahlah hawa nafsunya, tenahlah jiwanya, dan dia terhalang dari keburukan.”