Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
Riwayat dari Abdullah bin Amr ra:
“Tuhanku mendidikku, dan “Rasulullah saw, masuk ke dalam rumahku, lalu bersabda, “Wahai
Abdullah bin Amr, bukankan aku diberi informasi bahwa sebenarnya dirimu
sangat ketat (memaksa diri) dalam sholat malam dan puasa di siang
hari?” Aku menjawab, “Saya memang melakukannya…”. Lalu Rasulullah saw,
bersabda, “Cukuplah bagimu sebulan itu puasa tiga hari. Satu kebaikan
itu sebanding dengan dengan sepuluh kebaikan, maka (jika anda melakukan
puasa tiga hari setiap bulan) sama dengan puasa setahun penuh….” (Hr.
Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzy, Nasa’I, Ibnu Majah, Daramy dan Ibnu
Sa’d) Dia mendidik adabku dengan baik.”
Dalam hadits ini ada rahasia-rahasia:
Adanya berita gembira atas kesinambungan cahaya amal dengan cahaya amal
yang lain tanpa terhenti, walau pun ada jarak waktu yang jauh.
Berlipatgandanya pahala amal pada ummat ini, satu kebaikan sebanding
dengan sepuluh kebaikan, agar hatinya bangkit untuk amal kebajikan.
Tidak adanya keterpaksaan yang membuat si hamba jadi bosan.
Terus menerus berdzikir hingga hati tak tertimpa kealpaan.
Kepastian iman terhadap janji dan kebajikan kemuliaan Allah swt.
Semua perilaku tersebut merupakan tingkah kaum ‘arifin yang melepaskan
diri dari hasrat duniawi dan ukhrowi, dimana hasrat citanya hanyalah
Tuhan mereka. Maka siapa pun yang himmahnya hanyalah Rabb, tiadalagi
hasrat lain baginya.
Yahya bin Mu’adz ra, dalam munajatnya mengatakan:
“Ilahi, bila aku mengenalMu, sesungguhnya Engkau telah memberi petunjuk
padaku. Jika aku mencariMu, sesungguhnya karena Engkau menghendakiKu.
Jika aku datang kepadaMu, sesungguhnya Engkau memilihku. Jika aku taat
padaMu, sesungguhnya karena Engkau memberi taufiq kepadaku. Dan jika aku
kembali kepadaMu, itu karena Engkau menghampiriku.”
Diriwayatkan bahwa Nabi Musa as telah bermunajat:
“Oh Tuhan, bagaimana caraku bersyukur atas nikmat-nikmatMu, sedangkan setiap rambut yang tumbuh saja ada dua nikmat?”
Allah swt menjawab:
“Wahai Musa! Bila engkau tahu bahwa dirimu sangat tak berdaya bersyukur
kepadaKu, sesungguhnya engkau benar-benar telah bersyukur kepadaKu….”
Allah swt, mewahyukan kepada Nabi Dawud as:
“Bersyukurlah atas nikmatKu kepadamu…”
Nabi Dawud as, menjawab:
“Ya Allah bagaimana aku bisa bersyukur kepadaMu, sedangkan syukurku kepadaMu itu adalah nikmat teragung bagiku?”
“Bila engkau tahu itu, sebenarnya engkau hambaku paling bersyukur padaKu…” firmanNya dalam wahyu kepadanya.
Muhammad bin as-Sammak ra mengatakan, “Ingatlah kepada Dzat yang
mendahului ingatNya sebelum dzikirmu, dan cintaNya sebelum cintamu. Apa
pun yang kau dzikirkan tak lain jkecuali karena dzikirNya kepadamu, dan
tak ada cintamu kepadaNya kecuali karena cintaNya kepadamu.”
Abu Bakr al-Wasithy ra, menegaskan, “Siapa yang lupa mengiat Allah Ta’ala berarti ia telah terkena Istidroj..”
Perlu diketahui bahwa sifat terendah dari seorang arif Billah adalah
bila seseorang hatinya hidup bersama Allah tanpa ikatan apa pun, yaitu
mengingat Allah, hanya kepada Allah. Hal demikian jelas, seperti dalam
firmanNya, “Sesungguhnya dzikir Allah itu paling besar…”.
Dikatakan mengenai firman Allah Ta’ala:
“Sangat sedikit hamba-hambaKu yang sangat bersyukur”, artinya adalah
sangat sedikit orang yang melihat anugerahKu ketika ia bersyukur
kepadaKu…, Bersama Allah, kita bersyukur pada Allah.
Nabi Musa as, berkata:
“Ilahi, bagaimana Adam mampu bersyukur kepadaMu? Karena Adam Engkau
cipta dari TanganMu, dan Engkau hembuskan RuhMu, dan Engkau posisikan di
syurgaMu, serta Engkau perintah para malikat bersujud kepadanya, lalu
mereka pun sujud?”
Allah swt, menjawab:
“Hai Musa! Adam tahu bahwa semua itu dariKu, lalu dia memuji karenanya.”
Siapa yang taat kepada Allah swt, sesungguhnya ia taat karena
pertolonganNya, maka ia dapatkan anugerah. Siapa yang maksiat kepada
Allah swt, maka karena bagian takdirNya yang ia maksiat kepadaNya. Bagi
Allah ada hujjah baginya. AnugerahNya mendahului ketaatan hambaNya
sebelum ia taat, dan keadilanNya mendahului maksiatnya sebelum ia
berbuat maksiat. Karena Allah adalah Maha memberlakukan apa yang
dikehendakiNya.
Dalam suatu riwayat Nabi Ibrahim as bermunajat :
“Oh Tuhanku, kalau bukan karena Engkau bagaimana aku mengenal siapa Engkau?”
Abu Abdullah ra, ditanya, “Bagaimana kami tidak senang dengan pujian dan sanjungan?”
“Semata karena lupa mengingat anugerah Allah pada kalian, lupa
mengingat kebaikan pertolonganNya yang mendahuluimu. Siapa yang lupa
anugerah dan ingkar nikmat, nikmat pun akan diterima sebagai derita…”
jawabnya.
Anak-anakku…
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah
memberimu ma’rifat, dan menolongmu untuk taat kepadaNya tanpa minta
balas kebaikan darimu dan tanpa minta pertolongan dari arahmu, karena
itu sudah seyogyanya anda berdzikir kepadaNya dan berbakti kepadaNya
tanpa minta ganti rugi dan kecukupan dariNya.”
Banyak sekali ragam kelompok ahli dzikir, diantaranya:
Ada yang berdzikir karena tujuan meraih anugerah Islam,
Ada yang berdzikir karena demi ashlus-Sunnah wal-Jamaah,
Ada yang berdzikir karena adanya anugerah dibalik dzikirnya, hingga
hati dan lisannya kelu, akalnya melayang, ia lebur dalam keagunganNya,
bergerak dalam kemuliaanNya, hangus dalam mencintaiNya, disaat ia tahu
bahwa seluruh amal itu tidak akan pernah bisa tegak kecuali bersamaNya.
Dzikir ada dua arah:
– Dzikir yang menimbulkan rasa takut dan rasa takut penuh cinta.
– Dzikir yang melahirkan rindu dan cinta.
Rasa takut dan cinta adalah dzikir bagi orang yang berdzikir bersama
diri sendiri, kemudian ia melihat itu semua karena Dzikrnya Allah
padanya yang menyebabkan dzikirnya kepada Allah Ta’ala, kemudian ia tahu
bahwa dengan dzikrullah membuat sambung pada Dzikrinya Allah pada
dirinya.
Sedangkan rindu dan cinta dibalik dzikir adalah dzikirnya
orang yang mengingat Dzikrnya Allah di zaman Azali, hingga tiada maujud
dan sirna diri di dunia, kemudian sampai abadi. Lalu dijumpai bahwa
Ingatan Allah padanya telah ada sejak Azali, abadi selamanya. Sedangkan
dzikirnya sendiri, malah tercampuri kotoran syahwat, teraduk oleh
kealpaan demi kealpaan.
Maka sangat berbeda jauh antara orang
yang masuk pada Allah Ta’ala dengan melihat dzikirnya sendiri, dan
antara orang yang masuk kepada Allah Ta’ala dengan melihat anugerah dan
kemuliaanNya. Perlu diketahui bahwa dzikirnya hamba kepada Allah Ta’ala,
jika dibandingkan dengan penyandaran dzikirnya Allah Ta’ala pada si
hamba, ibarat debu di bawah derasnya hujan.
Dengan dzikir kepadaMu hiduplah ejekanku hai pengkhayal
Dan dengan DzikirMu kepadaku mendahului dzikirku sungguh teragung!
Engkau beri anugerah besar, hingga aku tak mampu mensyukurinya
Manalagi anugerah elokMu yang mampu kusyukuri?