Laman

Sabtu, 17 Januari 2015

25 dahsyatnya istighfar


– Dizaman yang serba tidak menentu ini ada baiknya kita menjadikan Istighfar sebagai salah satu amalan kita, untuk lebih membuat kita semangat melakukannya berikut uraian manfaat dari ber Istighfar.
1 Menggembirakan Allah
Rasulullah bersabda, “Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan ontanya yang hilang di padang pasir.” (HR.Bukhari dan Muslim).
2 Dicintai Allah
Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS.al-Baqarah: 222). Rasulullah bersabda, “Orang yang bertaubat adalah kekasih Allah. Orang yang bertaubat atas dosanya, bagaikan orang yang tidak berdosa.”(HR.Ibnu Majah).
3 Dosa-dosanya diampuni
Rasulullah bersabda, “Allah telah berkata,’Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengamouni dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (beberapa banyak dosanya).” (HR.Ibnu Majah, Tirmidzi).
Imam Qatadah berkata,”Al-Qur’an telah menunjukkan penyakit dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa, dan obat kalian adalah istighfar.” (Kitab Ihya’Ulumiddin: 1/410).
4 Selamat dari api neraka
Hudzaifah pernah berkata, “Saya adalah orang yang tajam lidah terhadap keluargaku, Wahai Rasulullah, aku takut kalau lidahku itu menyebabkan ku masuk neraka’. Rasulullah bersabda,’Dimana posisimu terhadap istighfar? Sesungguhnya, aku senantiasa beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari semalam’.” (HR.Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim dan dishahihkannya).
5 Mendapat balasan surga
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”(QS.Ali’Imran: 135-136).
6 Mengecewakan syetan
Sesungguhnya syetan telah berkata,”Demi kemulian-Mu ya Allah, aku terus-menerus akan menggoda hamba-hamba-Mu selagi roh mereka ada dalam badan mereka (masih hidup). Maka Allah menimpalinya,”Dan demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni mereka selama mereka memohon ampunan (beristighfar) kepada-Ku.”(HR.Ahmad dan al-Hakim).
7 Membuat syetan putus asa
Ali bin Abi thalib pernah didatangi oleh seseorang,”Saya telah melakukan dosa’.’Bertaubatlah kepada Allah, dan jangan kamu ulangi’,kata Ali. Orang itu menjawab,’Saya telah bertaubat, tapi setelah itu saya berdosa lagi’. Ali berkata, ‘Bertaubatlah kepada Allah, dan jangan kamu ulangi’. Orang itu bertanya lagi,’Sampai kapan?’ Ali menjawab,’Sampai syetan berputus asa dan merasa rugi.”(Kitab Tanbihul Ghafilin: 73).
8 Meredam azab
Allah berfirman,”Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”(QS.al-Anfal: 33).
9 Mengusir kesedihan
Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
10 Melapangkan kesempitan
Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
11 Melancarkan rizki
Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya seorang hamba bisa tertahan rizkinya karena dosa yang dilakukannya.”(HR.Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).
12 Membersihkan hati
Rasulullah bersabda,”Apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka tercoretlah noda hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkannya dan beristighfar, maka bersihlah hatinya.”(HR.Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Tirmidzi).
13 Mengangkat derajatnya disurga
Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba di surga. Hamba itu berkata,’Wahai Allah, dari mana saya dapat kemuliaan ini?’ Allah berkata,’Karena istighfar anakmu untukmu’.”(HR.Ahmad dengan sanad hasan).
14 Mengikut sunnah Rosulullah shallalhu ‘alaihi wasallam
Abu Hurairah berkata,”Saya telah mendengar Rasulullah bersabda,’Demi Allah, Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah (beristighfar) dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali’.”(HR.Bukhari).
15 Menjadi sebaik-baik orang yang bersalah
Rasulullah bersabda,”Setiap anak Adam pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat.”(HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim).
16 Bersifat sebagai hamba Allah yang sejati
Allah berfirman,”Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdo’a:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah), dan yang memohon ampun (beristighfar) di waktu sahur.”(QS.Ali’Imran: 15-17).
17 Terhindar dari stampel kezhaliman
Allah berfirman,”…Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.”(QS.al-Hujurat: 11).
18 Mudah mendapat anak
Allah berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.Nuh: 10-12).
19 Mudah mendapatkan air hujan
Ibnu Shabih berkata,”Hasan al-Bashri pernah didatangi seseorang dan mengadu bahwa lahannya tandus, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. Lalu ada orang lain yang mengadu bahwa kebunnya kering, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. Lalu ada orang lain lagi yang mengadu bahwa ia belum punya anak, ia berkata,’Perbanyaklah istighfar’. (Kitab Fathul Bari: 11/98).
20 Bertambah kekuatannya
Allah berfirman,”Dan (dia berkata):”Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”(QS.Hud: 52).
21 Bertambah kesejahteraanya
Allah berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”(QS.Nuh: 10-12).
22 Menjadi orang-orang yang beruntung
Allah berfirman,”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(QS.an-Nur: 31). Aisyah berkata,”Beruntunglah, orang-orang yang menemukan istighfar yang banyak pada setiap lembar catatan harian amal mereka.”(HR.Bukhari).
23 Keburukannya diganti dengan kebaikan
Allah berfirman,”Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.al-Furqan: 70).
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”(QS.Hud: 114).
24 Bercitra sebagai orang mukmin
Rasulullah bersabda,”Tidak seorangpun dari umatku, yang apabila ia berbuat baik dan ia menyadari bahwa yang diperbuat adalah kebaikan, maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan. Dan tidaklah ia melakukan suatu yang tercela, dan ia sadar sepenuhnya bahwa perbuatannya itu salah, lalu ia mohon ampun (beristighfar) kepada Allah, dan hatinya yakin bahwa tiada Tuhan yang bisa mengampuni kecuali Allah, maka dia adalah seorang Mukmin.”(HR.Ahmad).
25 Berkeperibadian sebagai orang bijak
Seorang ulama berkata,”Tanda orang yang arif (bijak) itu ada enam. Apabila ia menyebut nama Allah, ia merasa bangga. Apabila menyebut dirinya, ia merasa hina. Apabila memperhatikan ayat-ayat Allah, ia ambil pelajarannya. Apabila muncul keinginan untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Apabila disebutkan ampunan Allah, ia merasa gembira. Dan apabila mengingat dosanya, ia segera beristighfar.” (Kitab Tanbihul Ghafilin: 67).

Keagungan Dan Rahasia Al-Fatihah


Manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan lemah. Di antara tanda kelemahannya; manusia diciptakan dalam keadaan jahil, memiliki hati yang mudah goyah dan liar, serta butuh ditolong dan dilindungi. Oleh karena itu, Allah menjadikan zikir (mengingat Allah) sebagai penenang jiwa mereka. Allah berfirman,
الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.” (ar-Ra’d: 28)
Al-Qur’an termasuk dzikrullah, bahkan termasuk zikir yang pokok.
Di antara zikir yang akan kami bahas adalah surat yang harus dihafal dan dibaca pada setiap rakaat shalat, serta seyogianya dipahami maknanya, yaitu surat al-Fatihah.
Nama-nama Al-Fatihah
a. Fatihatul Kitab
Dinamakan demikian karena al-Fatihah menjadi pembuka bacaan dalam shalat dan pembuka susunan mushaf al-Qur’an secara tertulis.
b. Ummul Qur’an
Dinamakan demikian karena al-Fatihah lebih didahulukan dari semua surat dalam al-Qur’an. Semua surat selain al-Fatihah diakhirkan, baik tulisan maupun bacaannya. Definisi ini menyerupai nama yang pertama.
c. Ummul Kitab
Menurut mayoritas ulama, penamaan ini berasal dari Anas radhiyallahu ‘anhu. Adapun al-Hasan dan Ibnu Sirin menyangkal penamaannya dengan Ummul Kitab, karena menurut mereka Ummul Kitab adalah al-Lauhul Mahfuzh.
Akan tetapi, penamaan ini disebutkan dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ
“Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam), (suratnya adalah) Ummul Qur’an, Ummul Kitab, as-Sab’u al-Matsani, dan al-Qur’anul ‘Azhim.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah a)
Dinamakan Ummul Kitab karena surat ini adalah induk kitab dan didahulukan dari surat-surat yang lain.
d. As-Sab’u al-Matsani
Dinamakan as-Sab’u karena al-Fatihah ada tujuh ayat. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ahli qiraat dan ulama dalam masalah ini. Akan tetapi, yang diperselisihkan adalah masalah ayat-ayat yang menyusunnya. Ada yang berpendapat bahwa al-Fatihah ada tujuh ayat, termasuk ayat Bismillahirrahmanirrahim.
Al-Fatihah dinamakan al-Matsani karena bacaannya diulang-ulang dalam shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah. (Tafsir ath-Thabari 1/105)
Jenis Surat al-Fatihah
Para ulama berbeda pendapat tentang jenis surat al-Fatihah:
a. Al-Fatihah adalah surat makkiyyah . Ini adalah riwayat Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, Abul ‘Aliyah, Qatadah, dan Abu Maisarah.
b. Al-Fatihah adalah surat madaniyyah . Ini adalah riwayat Abu Hurairah, Mujahid, ‘Ubaid bin ‘Umair, ‘Atha al-Khurasani, dan Ibnu ‘Abbas.
Dan yang rajih dari kebanyakan riwayat dan pendapat para ulama’ bahwa al-Fatihah termasuk makkiyyah.
Keutamaan dan Keagungan al-Fatihah
Di antara keutamaan dan keagungannya adalah sebagai berikut.
1. Sebagai obat
· Obat untuk hati
Al-Qur’an secara umum adalah obat bagi orang-orang yang beriman. Allah berfirman,
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (al-Isra’: 82)
Kata مِنْ di sini tidak bermakna at-tab’idh (menunjukkan makna sebagian), tetapi al-jinsi. Artinya, al-Qur’an semuanya adalah obat.
Setelah mengetahui bahwa Allah menjadikan semua yang ada dalam al-Qur’an sebagai obat (penawar), kita perlu mengetahui pula bahwa Allah telah mengkhususkan beberapa surat dan ayat tertentu sebagai obat (penawar). Di antaranya adalah surat al-Fatihah.
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (4/5—7) menyebutkan bahwa penyakit itu ada dua: penyakit kalbu dan penyakit badan. Kedua penyakit ini disebutkan dalam al-Qur’an.
Penyakit kalbu dibagi menjadi dua: penyakit syubhat (kerancuan berpikir) dan keraguan; serta penyakit syahwat (hawa nafsu) dan kesesatan.
Berikut ini beberapa faedah surat al-Fatihah untuk mengobati hati.
a. Menjauhkan kita dari kesesatan dan kemurkaan.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin (1/52—55), “Dua penyakit yang membinasakan adalah kesesatan dan kemurkaan. Kesesatan mengakibatkan rusaknya ilmu, sedangkan kemurkaan mengakibatkan rusaknya niat.”
Para ulama menafsirkan, al-maghdhub ‘alaihim (mereka yang dimurkai) yang disebutkan dalam surat al-Fatihah adalah orang-orang Yahudi. Mereka berilmu, tetapi tidak mau beramal. Adapun adh-dhallin (mereka yang sesat) adalah orang-orang Nasrani. Mereka beramal tanpa ilmu. Oleh karena itu, setiap hamba-Nya diwajibkan berdoa meminta hidayah menuju jalan yang lurus setiap hari dalam setiap shalatnya.
b. Mengikhlaskan ibadah karena Allah.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Zadul Ma’ad (4/178), “Secara umum, al-Fatihah mengandung makna pengikhlasan ibadah dan pujian kepada Allah, pengembalian segala urusan kepada-Nya, dan permintaan tolong serta tawakal hanya kepada-Nya.”
c. Menangkal sifat riya dan sombong.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin, “Saya sering mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, إِيَّاكَ نَعْبُدُ (hanya kepada Engkaulah kami menyembah) akan menangkal riya, sedangkan وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan) menangkal kesombongan. Jadi, obat bagi penyakit riya adalah إِيَّاكَ نَعْبُدُ, obat bagi penyakit sombong dan bangga diri adalah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ , sedangkan obat bagi penyakit kesesatan dan kebodohan adalah اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ.”
· Obat untuk badan
Banyak orang mengingkari bahwa al-Qur’an dan zikir-zikir yang disunnahkan bisa mengobati mereka. Mereka mengira bahwa hal ini menyerupai khurafat dan kebohongan. Mereka juga mengira bahwa penyakit hanya bisa disembuhkan dengan obat fisik.
Ibnul Qayyim rahimahullah membantah anggapan seperti ini dalam Madarijus Salikin (1/55), “Adapun kandungan (ayat)nya sebagai obat, akan kita sebutkan sebagaimana yang datang dalam as-Sunnah, dibuktikan oleh kaidah kedokteran, dan sesuai dengan pengalaman.
Telah disebutkan dalam as-Sunnah dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, dari Abu al-Mutawakkil an-Naji, dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa beberapa sahabat Nabi n melewati sebuah kampung badui. Warga kampung itu tidak mau menjamu mereka. Lalu, pemimpin kampung itu tersengat kalajengking, maka mereka menemui para sahabat tersebut dan berkata, ‘Apakah di antara kalian ada juru ruqyah?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya, ada, tetapi mengapa kalian tidak menerima kami sebagai tamu? Kami tidak akan meruqyah sampai kalian memberi kami upah.’ Para sahabat berbuat demikian karena akhlak warga kampung yang kikir tidak mau menjamu tamu, sedangkan hukum menjamu tamu adalah wajib dan berdosa bagi orang yang melalaikannya. Warga kampung itu pun memberikan kambing. Kemudian, salah satu dari kami meruqyah sang pemimpin dengan surat al-Fatihah. Dia pun bisa berdiri kembali seolah-olah tidak mengalami sakit’.”
2. Allah menjawab langsung bacaan al-Fatihah para hamba-Nya
Dalam hadits qudsi disebutkan,
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي …. (الْحَدِيثَ)
(Allah berfirman), “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Jika si hamba berkata, ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’ Jika dia berkata, ‘Arrahmanirrahim’, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku berulang memuji-Ku.’ Jika dia berkata, ‘Maliki yaumid din’, Allah berfirman, ‘Hamba-Ku memuliakan-Ku’, ….” (Shahih Muslim [1/296] “Kitabush Shalat”, Bab “Wujub qira’at al-fatihah fi kulli rak’ah”)
Setelah memahami keutamaan ini, tahulah kita bahwa hal ini termasuk salah satu sebab untuk bisa merasakan kelezatan dalam shalat, seolah-olah kita sedang berdialog dan menyeru sang Pencipta.
3. Al-Fatihah mengandung landasan asmaul husna
Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin (1/82, 89). Misalnya, lafadz yang mengandung sifat uluhiyah adalah Allah, yang mengandung sifat rububiyah adalah Rabb, dan yang mengandung sifat kebaikan adalah ar-Rahman.
Tafsir Makna Ayat dalam al-Fatihah
1. الْحَمْدُ لِلهِ
Maknanya, segala pujian senantiasa bagi Allah. Al-Hamd didefinisikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam al-Badai’ (1/317) sebagai pujian yang disertai pengetahuan tentang apa yang dipujinya.
Al-Hamd juga didefinisikan sebagai penyebutan kebaikan pihak yang dipuji disertai rasa cinta, pemuliaan, dan pengagungan.
2. الرَّبُّ
Ar-Rabb artinya yang memiliki. Ada yang berpendapat bahwa kata ar-Rabb diambil dari kata at-tarbiyah (pemeliharaan).
Penamaan dengan rabb tidak boleh diberikan kepada makhluk melainkan dengan penyandaran, seperti rabbud dar (pemilik rumah).
3. الْعَالَمِينَ
Al-‘alamin adalah bentuk jamak kata al-‘alam (alam). Segala sesuatu selain Allah adalah alam. Para ahli tafsir menyebutkan lima pendapat tentang makna al-‘alamin.
· Semua makhluk, semua lapisan langit dan bumi, segala sesuatu yang ada di dalamnya dan di antara keduanya. Makna ini diriwayatkan oleh adh-Dhahhak dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
· Semua yang memiliki ruh yang berjalan di atas muka bumi. Makna ini diriwayatkan oleh Abu Shalih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
· Jin dan manusia. Makna ini diriwayatkan pula dari Ibnu ‘Abbas. Ini juga pendapat Mujahid dan Muqatil.
· Jin, manusia, dan malaikat. Makna ini dinukilkan dari Ibnu ‘Abbas dan dipilih oleh Ibnu Qutaibah.
· Para malaikat. Makna ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas.
4. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Ar-Rahman dan ar-Rahim adalah dua di antara nama-nama Allah yang indah. Kedua nama ini bermakna ar-rahmah (kasih sayang). Kedudukannya di sini adalah sebagai na’at (sifat) bagi lafdzul jalalah (الله). Adapun perbedaan kedua nama ini adalah sebagai berikut.
· Ar-Rahman
1. Salah satu nama yang khusus bagi Allah k, tidak boleh digunakan secara mutlak untuk yang selain-Nya. Ar-Rahman maknanya Dzat Yang memiliki rahmat yang luas.
2. Menunjukkan sifat dzatiyah Allah)
3. Allah merahmati segala sesuatu yang ada di daratan dan di lautan, termasuk orang kafir dan pelaku maksiat.
4. Menunjukkan sifat kasih sayang Allah di dunia dan di akhirat.
· Ar-Rahim
1. Dinisbatkan kepada Allah dan yang selain-Nya. Maknanya adalah yang mempunyai rahmat yang bersambung atau sampai kepada hamba-Nya.
2. Menunjukkan sifat fi’liyah (perbuatan sesuai dengan kehendak Allah).
3. Allah merahmati orang-orang yang beriman saja.
4. Menunjukkan sifat kasih sayang Allah di akhirat.
5. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Artinya, Yang menguasai hari pembalasan.
Makna ad-din dalam ayat ini ada dua pendapat:
1. Hari perhitungan. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
2. Hari pembalasan. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Makna kalimat رَبِّ الْعَالَمِينَ ialah Dialah penguasa/pemilik dunia, sedangkan makna مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ialah Dialah penguasa/pemilik akhirat.
6. إِيَّاكَ نَعْبُدُ
Artinya, hanya kepada Engkaulah kami beribadah. Ada tiga pendapat tentang maksud ibadah pada ayat ini.
1. Bermakna tauhid; diriwayatkan dari Ali dan Ibnu ‘Abbas.
2. Bermakna ketaatan.
3. Bermakna doa.
7. وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya, hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
8. اهْدِنَا
Artinya, tunjukilah kami.
Ada empat pendapat tentang makna ihdina:
1. Kokohkanlah kami. Ini adalah pendapat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu.
2. Tunjukilah kami.
3. Berilah kami taufik.
4. Berilah kami ilham.
Tiga pendapat terakhir diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
9. الصِّرَاطَ
Artinya, jalan.
Ada empat pendapat tentang makna ash-shirath di sini:
1. Kitab Allah. Makna ini diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Agama Islam. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, al-Hasan, dan Abul ‘Aliyah.
3. Jalan hidayah menuju agama Allah. Makna ini diriwayatkan oleh Abu Shalih dari Ibnu ‘Abbas. Ini juga pendapat Mujahid.
4. Jalan surga. Makna ini dinukilkan dari Ibnu ‘Abbas.
Jika ada pertanyaan, “Apa makna permohonan petunjuk seorang muslim, padahal dia sudah mendapat petunjuk?”, kita jawab dengan tiga jawaban:
· Tunjukilah kami agar senantiasa di atas shirath (jalan yang lurus). Ini pendapat Ibnul ‘Anbari.
· Kokohkanlah kami di atas petunjuk.
· Tambahkanlah kepada kami petunjuk.
10. الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Artinya, orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat.
Ibnu ‘Abbas berkata, “Mereka adalah para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang yang saleh.”
11. غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Artinya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi, sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani. Lihat pembahasan yang telah lalu.
Seputar Hukum yang Terkait dengan al-Fatihah
1. Apa hukum bacaan آمِين (amin) setelah al-Fatihah?
Amin maknanya اللهم اسْتَجِبْ (Kabulkanlah, ya Allah).
Amin bukan bagian dari al-Fatihah. Akan tetapi, termasuk sunnah bagi yang mendengarkan menjawab “Amin” setelah al-Fatihah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika imam mengucapkan,
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
makmum yang di belakangnya mengucapkan, ‘Amin’….” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
2. Apa hukum membaca al-Fatihah dalam shalat?
Kebanyakan ulama menukilkan pendapat al-Imam Ahmad rahimahullah bahwa membaca al-Fatihah adalah syarat sahnya shalat; barang siapa meninggalkannya padahal mampu membacanya, shalatnya tidak sah. Ini juga pendapat al-Imam Malik, al-Imam asy-Syafi’i, dan mayoritas ulama.
Disebutkan dalam hadits ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Keagungan Surat Al Iklas


Tanda-tanda kebesaran Allah pada makhluk-Nya itu sangat banyak. Salah satunya angka asma al-husna pada telapak tangan kita (81 di kiri dan 18 di kanan). Kita juga mungkin pernah melihat lafadz Allah pada binatang atau pernah mendengar sebuah pohon di suatu negara yang membentuk kalimat laailaahaillallah. Semua ini tidak lain ditujukan kepada kita agar selalu ingat kepada Allah.
Begitu juga salah satu keagungan Allah terlukis pada sayap malaikat. Menurut suatu hadits, pada sayap malaikat terdapat surat al-Ikhlas. Keterangan ini terdapat dalam riwayat Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Ketika melakukan isra ke langit, saya telah melihat Arasy di atas 360.000 sendi di mana jarak tempuh antara satu sendi ke sendi lainnya ialah 300.000 tahun perjalanan. Pada tiap-tiap sendi itu terdapat padang sahara sebanyak 12.000 dan luasnya setiap satu padang sahara itu seluas dari timur hingga ke barat. Pada setiap padang sahara itu terdapat 80.000 malaikat di mana semuanya membaca surah al-Ikhlas.”
Setelah itu Nabi bersabda lagi, Setelah selesai membaca surat tersebut mereka berkata: Wahai Tuhan kami,sesungguhnya pahala dari bacaan kami ini kami berikan kepada orang yang membaca surat al-Ikhlas baik ia laki-laki maupun perempuan.”
Ketika para sahabat mendengar keterangan Nabi yang demikian itu, mereka dibuat berdecak kagum. Lalu Nabi bersabda lagi, “Wahai para sahabatku, apakah kamu semua kagum?” Para sahabat menjawab: “Ya, kami sungguh kagum ya Rasulullah Saw.”
Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya Qul Huwallahu Ahad itu tertulis di sayap malaikat Jibril a.s, Allahush Shamad itu tertulis di sayap malaikat Mikail a.s, Lam Yalid Walam Yuulad tertulis pada sayap malaikat Izrail a.s, Walam Yakullahu Kufuwan Ahad tertulis pada sayap malaikat Israfil a.s. Oleh karena itu, barang siapa dari umatku membaca surat al-Ikhlas maka dia diberi pahala membaca kitab Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an yang agung.”
Setelah Rasulullah Saw. berkata demikian baginda bersabda lagi, “Wahai sahabatku, apakah kamu semua kagum?” Maka para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah Saw., kami semua kagum.”
Lalu Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh Qul Huwallahu Ahad itu tertulis di dahi Abu Bakar Ash-Shidiq, Allahush Shamad itu tertulis di dahi Umar al-Faaruq, Lam Yalid Walam Yuulad itu tertulis di dahi Utsman Dzn Nuurain dan Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahad itu tertulis di dahi Ali Assakhiyyi ra. Oleh karena itu, siapa yang membaca surat al-Ikhlas maka ia diberi oleh Allah pahala Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.” (Keterangan ini terdapat dalam kitab Hayatun Quluubi)
Demikian agungnya posisi surat al-Ikhlas di antara surat-surat lainnya, hingga ia sampai terlukis di sayap para malaikat. Saking agung dan besarnya manfaat surat ini, Nabi sampai pernah bersabda, “Barangsiapa membaca surat al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal dunia, maka dia tidak akan membusuk di dalam kuburnya, akan selamat dia dari kesempitan kuburnya dan para malaikat akan membawanya dengan sayap mereka melintasi titian siratul mustaqim lalu menuju ke surga.” (Seperti diterangkan dalam Tadzikaratul Qurthuby).
Ada suatu kisah yang menggambarkan keagungan surat al-Ikhlas. Kisah ini terekam dalam hadits. Suatu kali Nabi memberikan sebuah teka-teki kepada para sahabatnya: Siapakah di antara kamu yang dapat mengkhatam Qur'an dalam jangka waktu dua-tiga menit? Tidak ada seorang sahabat pun yang bisa menjawabnya. Umar lalu berkata bahwa mustahil bisa mengkhatam al-Qur'an dalam waktu begitu cepat. Tetapi Ali kemudian mengangkat tangannya. Melihat hal ini, Umar langsung berkata bahwa Ali (yang sedang kecil pada waktu itu) tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Lantas Ali membaca surat al-Ikhlas tiga kali. Rasulullah SAW menjawab dengan mengatakan bahwa Ali betul.
Menurut Nabi, membaca surah al-Ikhlas satu kali pahalanya sama dengan membaca 10 juz kitab al-Qur’an. Lalu dengan membaca surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali, maka khatamlah al-Qur’an karena hal itu sama dengan membaca 30 juz al-Qur’an.
Ini menunjukkan bahwa surat al-Ikhlas itu memiliki kelebihan dibandingkan surat-surat lainnya. Karena itu, kita sering mengucapkannya pada saat zikir, tahlil, shalat, keadaan takut dan sebagainya. Karena itu pula, Allah mengukirnya pada sayap malaikat.
Kelebihan surat al-Ikhlas juga terlihat dari kisah berikut ini. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa sewaktu ia bersama-sama Rasulullah Saw. di Tabuk, pernah suatu ketika cahaya matahari terbit dengan redup, tidak seperti pada hari-hari sebelumnya. Malaikat Jibril lalu datang. Kepada malaikat, Nabi pun menanyakan tentang hal ini,
“Wahai Jibril, kenapa matahari hari ini terbit dalam keadaan redup? Malaikat Jibril menjawab: Matahari hari ini nampak redup karena terlampau banyak sayap para malaikat. Nabi bertanya kembali, “Apa sebabnya sehingga terjadi demikian?” Jibril menjawab, hal ini dikarenakan Mu’awiyah meninggal dunia di Madinah dan Allah mengutus 70.000 malaikat agar membaca shalawat untuk Mu’awiyah. Nabi bertanya kembali, “Apa sebabnya?” Jibril menjawab ke sekian kalinya, ini dikarenakan Mu’awiyah banyak membaca Qul huwallahu ahad di waktu malam, di waktu siang, sewaktu berjalan, sewaktu berdiri, sewaktu duduk, waktu pergi, waktu pulang, bahkan setiap keadaan.”
Bayangkan, keadaan Mu’awiyah begitu dihormati di mata malaikat karena seringnya ia membaca surat al-Ikhlas saat hidup. Ini sekali lagi menunjukkan betapa agungnya posisi surat ini dalam kehidupan kita. Semakin sering kita membacanya kian besar pula kita mereguk pahala dari Allah SWT.
Hal ini pula yang membuat kenapa surat al-Ikhlas terlukis di sayap malaikat. Kenapa bukan surat yang lain? Toh, sama-sama al-Qur’an. Ini disebabkan surat al-Ikhlas memiliki kemuliaan yang sangat tinggi dibandingkan surat-surat yang lain.
Abu Sa’id al-Khudry berkata, “Ada seorang sahabat Rasul mendengar tetangganya membaca berulang-ulang ayat Qul Huwallahu Ahad. Kemudian keesokan paginya Abu Sa’id al-Khudry menyampaikan kepada Rasulullah perihal yang didengarnya semalam, yakni seakan-akan sahabat ini menganggap ringan kedudukan surat ini. Maka Nabi pun bersabda, “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya. Sesungguhnya surat al-Ikhlas benar-benar menyamai sepertiga al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari Bab Fadhail Qur’an No. 5014).
Hadits di atas sekali lagi menunjukkan betapa agungnya posisi surat al-Ikhlas, sehingga harus terlukis di sayap malaikat. Pertanyaannya kemudian adalah kenapa hanya malaikat Jibril, Mikail, Israil dan Izrafil saja yang sayapnya terlukis dengan surat al-Ikhlas?
Inilah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tapi, bila kita melihat sejarah para malaikat, maka kita tahu bahwa keempat malaikat itu memiliki peran sentral dalam kehidupan makhluk Allah. Malaikat Jibril misalnya, ia menyampaikan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Jibril adalah pemimpin para malaikat. Ia juga menjadi tempat keluh kesah Nabi saat dirinya sedang dalam kebingungan dan sebagainya.
Lalu malaikat Mikail, yang bertugas mengatur cuaca hujan, kemarau, rejeki, dan sebagainya. Sedang malaikat Israil bertugas meniup sangkakala dan malaikat Izrail yang mencabut seluruh makhluk yang bernyawa. Bukan berarti, tugas malaikat-malaikat yang lain tidak terlalu sentral dalam kehidupan manusia. Tetapi, dengan diukirnya surat al-Ikhlas pada keempat malaikat di atas, setidaknya menunjukkan akan sentralnya peran mereka dalam kehidupan makhluk Allah, terutama manusia.
Tentu ini hanya dugaan karena merupakan persoalan gaib. Kita tidak penting membanding-bandingkan peran malaikat satu sama lain. Yang penting, tugas kita adalah mempercayai bahwa di sayap-sayap malaikat yang empat itu terlukis surat al-Ikhlas, yang berarti mengindikasikan pentingnya surat ini untuk selalu kita baca setiap saat. Karena itu, perbanyaklah kita membaca al-Qur’an terutama surat al-Ikhlas.

"DZIKR"

"DZIKR"
Ruh di sini merupakan wilayah Dzikir Dzat, dan Qalbu adalah wilayah Dzikir Sifat, sedangkan Lisan adalah wilayah Dzikir kebiasaan umum.
Tata cara Dzikir ada tiga perilaku :
1. Dzikir Bidayah (permulaan) untuk kehidupan dan kesadaran jiwa.
2. Dzikir Sedang untuk penyucian dan pembersihan.
3. Dzikir Nihayah (pangkal akhir) untuk wushul dan ma'rifat.
Dzikir bagi upaya menghidupkan dan menyadarkan jiwa, setelah seseorang terlibat dosa, dzikir dilakukan dengan syarat-syaratnya, hendaknya memperbanyak dzikir :
"Wahai Yang Maha Hidup dan Memelihara Kehidupan, tiada Tuhan selain Engkau."
Dzikir bagi pembersihan dan penyucian jiwa, setelah mengamai pengotoran dosa, disertai syarat-syarat dzikir, hendaknya memperbanyak :
"Cukuplah bagiku Allah Yang Maha Hidup nan Maha Mememlihara Kehidupan."
Ada tiga martabat dzikir :
Pertama, dzikir alpa dan balasannya adalah terlempar, tertolak dan terlaknat.
Kedua, dzikir hadirnya hati, balasannya adalah kedekatan, tambahnya anugerah dan keutamaan anugerah.
Ketiga, dzikir tenggelam dalam cinta dan musyahadah serta wushul.
Dzikir itu sendiri senantiasa dipenuhi oleh tiga hal :
Dzikir Lisan dengan mengetuk Pintu Allah swt, merupakan pengapus dosa dan peningkatan derajat.
Dzikir Qalbu, melalui izin Allah swt untuk berdialog dengan Allah swt, merupakan kebajikan luhur dan taqarrub.
Dzikir Ruh, adalah dialog dengan Allah swt, Sang Maha Diraja, merupakan manifestasi kehadiran jiwa dan musyahadah.
Dzikir Lisan dan Qalbu yang disertai kealpaan adalah kebiasaan dzikir yang kosong dari tambahan anugerah.
Dzikir Lisan dan Qalbu yang disertai kesadaran hadir, adalah dzikir ibadah yang dikhususkan untuk mencerap sariguna.
Dzikir dengan Lisan yang kelu dan qalbu yang penuh adalah ketersingkapan Ilahi dan musyahadah, dan tak ada yang tahu kadar ukurannya kecuali Allah swt.
Diriwayatkan dalam hadits : "Siapa yang pada wal penempuhannya memperbanyak membaca "Qul Huwallaahu Ahad" Allah memancarkan NurNya pada qalbunya dan menguatkan tauhidnya.
Dalam riwayat al-Bazzar dari Anas bin Malik, dari Nabi saw. Beliau bersabda :
"Siapa yang membaca surat "Qul Huwallahu Ahad" seratus kali maka ia telah membeli dirinya dengan surat tersebut dari Allah Ta'ala, dan ada suara berkumandang dari sisi Allah Ta'ala di langit-langitNya dan di bumiNya, "Wahai, ingatlah, sesungguhnya si Fulan adalah orang yang dimerdekakan Allah, maka barang siapa yang sebelumnya merasa punya pelayan hendaknya ia mengambil dari Allah swt .
Diriwayatkan pula: "Siapa yang memperbanyak Istighfar, Allah meramaikan hatinya, dan memperbanyak rizkinya, serta mengampuni dosanya, dan memberi rizki tiada terhitung. Allah memberikan jalan keluar di setiap kesulitannya, diberi fasilitas dunia sedangkan ia lagi bangkrut. Segala sesuatu mengandung siksaan, adapun siksaan bagi orang arif adalah alpa dari hadirnya hati dalam dzikir."[pagebreak]
Dalam hadits sahih disebutkan:
"Segala sesuatu ada alat pengkilap. Sedangkan yang mengkilapkan hati adalah dzikir. Dzikir paling utama adalah Laa Ilaaha Illalloh".
Unsur yang bisa mencemerlangkan qalbu, memutihkan dan menerangkan adalah dzikir itu sendiri, sekaligus gerbang bagi fikiran.
Majlis tertinggi dan paling mulia adalah duduk disertai kontemplasi (renungan, tafakkur) di medan Tauhid. Tawakkal sebagai aktifitas qalbu dan tauhid adalah wacananya.
mengingat Allah dan mentauhidkanNya adalah RidloNya terhadap mereka bersamaNya, sebagaimana layakNya Dia Yang Maha Suci.
Ma'rifat itu melihat, bukan mengetahui. Melihat nyata, bukan informasi. Menyaksikan, bukan mensifati. Terbuka, bukan hijab. Mereka bukan mereka dan mereka tidak bersama mereka dan tidak bagi mereka. Sebagaimana firmanNya :
"Nabi Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya." (Az-Zukhruf: 59)
"Dan jika Aku mencintainya, maka Akulah Pendengaran baginya, Mata dan tangan dan Kaki baginya."

Selasa, 23 Desember 2014

Mutiara dari sultan aulia syekh muhyidin abdul qadir al jailani.....

Mutiara dari sultan aulia syekh muhyidin abdul qadir al jailani......
Ada empat jenis manusia.....
Yg pertama tidak berlidah dn tidak berhati. Mereka adalah manusia biasa,bodoh dn hina. Mereka tidak pernah ingat(berzikir) pada Allah.tiada kebaikan dlm diri mereka. Mereka bagai sekam tidak bernilai jika Allah tidak mengasihi mereka, membimbing hati mereka beriman padanya sendiri. Waspadalah jngn jadi seperti mereka.inilah manusia sengsara dn di murkai Allah.kita berlindung pada Allah dripada mereka.
JENIS yg kedua...
Berlidah tapi tidak berhati. Mereka bercakap bijak, tetapi tidak melakukan perbuatan bijak. Mereka menyeru orang pada jalan Allah S.W.T tetapi mereka sendiri jauh daripadanya.mereka jijik pada noda orang lain, tapi mereka sendiri tenggelam dlm lautan noda.mereka menunjukan betapa solehnya mereka.tetapi mereka sendiri jelas melakukan dosa besar pada Allah bila sendirian, mereka bagai musang berbulu ayam. Jenis manusia inilah di peringatkan oleh nabi SAW dalam sabdanya..perkara yang semistinya ditakuti olehku dan para pengikutku adalah orang berilmu yang jahat. Dalam hadis lain dinyatakan .." perkara yang paling menakutkan yang aku takutkan kepada ummatku adalah ulama yang su".

JENIS yang ketiga..
Mempunyai hati namun tidak berlidah.
Mereka adalah mukmin yang Allah telah memberinya sumpah setia daripada makhluknya, menganugerahkannya pengetahuan tentang noda dirinya sendiri, mencerahkan hatinya dan menjadikanya sedar akan mudaratnya berbaur dengan manusia, akan kekejian bercakap dan yg telah yakin bahawa keselamatan ada dalam diam serta berada dalam suatu sudut, sebagai mana sabda Nabi SAW :.. Sesiapa sentiasa diam,maka dia memperolehi keselamatan." sesungguhnya pengabadian pada Allah terdiri daripada sepuluh bahagian, yang sembilan bahagian adalah sikap diam. Orang ini adalah wali Allah dalam soal rahsianya, dilindungi memiliki keselamatan dn banyak pengetahuan dirahmati dan segala yg baik ada padanya.
JENIS yang keempat..
Yang berlidah dan yang berhati. Mereka adalah seseorang yang di undang kedunia ghiab, yang dibusanai kemuliaan sebagaimana dikatakan dalam suatu hadis: " sesiapa mengetahui dan bertindak berdasarkan pengetahuannya dan memberikannya pada orang lain, maka dia diundang ke dunia ghaib dan menjadi mulia.". Ini adalah orang yang alim yg memiliki pengetahuan mengenai Allah dan tandanya. Hatinya menjadi penyimpan pengetahuan yg jarang mengenainya dn dia menganugerahkan kepadanya rahsia yg disembunyikanya daripada yg lain. Dia memilihnya mendekatkanya padanya sendiri, membimbingnya, meluaskan hatinya agar dapat menerima rahsia dn pengetahuan ini dn menjadikanya seorang pekerja pada jalanya, penyeru para hambanya pada jalan kebajikan, yg mengigatkan akan siksaan perbuatan keji dan hujjatullah di tengah tengah mereka, pemandu dan yg di bimbing, perantara dan yang perantaraannya di terima, seorang siddiq dan saksi kebenaran, wakil para nabi dan utusan Allah, yang bagi mereka limpahan rahmat Allah.
Maka orang ini menjadi puncak umat manusia.tiada maqam diatas ini, kecuali maqam para nabi. Adalah kewajipanmu agar berhati hati, agar kamu tidak memusuhi orang seperti itu. Tidak menjauhi dan tidak meremehkan kata katanya. Sesunguhnya keselamatan terletak pada kata kata dan bersama dengan orang itu.sedangkan kebinasaan dn kesesatan terletak pada selainnya.: kecuali orang yg dikurnia oleh Allah daya dan pertolongan yg membawa kepada kebenaran dan kasih sayang....

awal beragama makrifat

Gak usah dibaca!!! Rahasia ini!!! Awas jalan masih licin
Khusus untuk orang orang yang paham!!!
Kenapa awal beragama makrifat kepada Allah, karena jika tidak
mengenal Allah maka tidak mungkin manusia bisa menyembah-Nya
dan tidak mungkin bisa mencintai-Nya. Maka sangat penting bagi
seluruh manusia untuk mencapai tahap makrifat agar ibadah-ibadah
yang dilakukannya tidak sia-sia.
Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk mengorbankan anaknya lewat
mimpi, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya.
Kenapa Ibrahim melaksanakan perintah yang “aneh” tersebut karena dia sangat yakin yang memerintahkan adalah Allah. Kenapa sangat yakin yang datang dalam mimpinya adalah Allah, karena Nabi Ibrahim telah mencapai tahap makrifatullah, mengenal Dzat Allah SWT. Akal tidak mampu menguraikan tentang wujud Allah yang datang dalam mimpi Ibrahim, tasawuf dengan mudah menguraikannya. Uraian tentang makrifat dan pengalaman-pengalaman tentang makrifat hanya bisa dipahami oleh orang yang telah berada di alam makrifat pula.
Makrifat tidak di dapat lewat perenungan, lewat kajian-kajian atau
bacaan-bacaan. Ribuan buku tasawuf dan keterangan tidak akan membawa seseorang mencapai makrifat. Al-Ghazali berkata, “Alat seorang sufi mendapatkan makrifat adalah qalbu, bukan panca indera atau akal. Pengetahuan yang diperoleh qalbu lebih benar daripada pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Jalan untuk memperoleh kebenaran adalah tasawuf (makrifat bukan filsafat)”. Al-Ghazali memaknai makrifat sebagai Memandang Wajah Allah .
Pasal kebenaran
Dia Allah terzahir dalam bentuk Aku muhammad (dirimu sendiri) – Salik. Oleh itu memahami Aku sendiri adalah memahami Allah.
Dia-lah Yang mengetahui & Yang Diketahui. Aku Kenal Allah Dengan Allah.
Dan Dia dalam Nafs kamu...dan kamu tidak nampak Dia.
Hadith Rasul :-
Siapa yan melihat saya nampaklah Allah
Dia sekarang saperti Dia dahulu juga
Allah ada dan tiada sekutu dengan Dia.
Bagaimana ada sekutu dengan Dia sedangkan dahulu, sekrang dan akan datang adalah satu sahaja padanya.
Ruh “ yang tidak dijadikan “ ialah Hakikat Muhammad ( Wahdah ) Dibawah
daripada itu ialah Hakikat – i – Insani ( Wahidiyyat ) yaitu Ruh “ yang
dijadikan” bergelar SIRR.
Semua ruh adalah bayangan dari Ruh itu ( Hakikat Muhammad ) . Itulah “
Ruh Yang Dihembuskan / Ditiupkan “
Firman Allah :-
Aku hembuskan padanya ( Adam ) Ruhku
Aku jadikan dia dengan kedua TanganKu ( Sifat Jalal & Jamal )
Kemana sahaja kamu menghadap disitu nampak Wajah Allah
Ruh ialah PEMBATASAN / HAD saperti badan adalah pembatasan Ruh.
Perkaitannya saperti air dan buih. Pada peringkat pertama ia bergelar Ruh
– Al- Quddus yaitu Hakikat –i – Muhammadi.
Ruh bukan didalam atau diluar badan dan tidak juga lekat pada badan. Ruh
bukan tidak diluar badan dan bukan tidak didalam badan, bukan terlekat
dan bukan pula tidak terlekat pada badan.
Ruh pada aspek luarnya adalah mendengar pada satu tempat, bercakap
pada satu tempat yang lain dan ditempat yang lain pula melihat. Semua ini
adalah satu yang mempunyai nama nama yang berlainan.
NUR ( cahaya ) MUHAMMAD ada dua jenis :-
Pertama BATIN – yaitu dalam peringkat ILMU dinamakan Hakikat
Muhammad dan tidak dizahirkan.
Aku dari Allah dan seluruh Alam adalah cahayaku
Ianya adalah keadaan Pencipta itu sendiri.
Al-Maidah ayat 35,
“Dan carilah jalan untuk merapatkan diri (wasilah) dengan kerinduan (dzauq) kepada-Nya”
Ayat al maidah diatas adalah ayat yang menerangken tentang mahabbah kerana kerinduan tiada akan ada kecuali jika ada mahhabbah ( cinta ) dihatinya.
Ayat dalam surat al kahfi ayat 54 tentang kebodohan manusia.
Sesungguhnya kami menjelasken (berulang ulang) didalam alquran ini bagi manusia macam macam perumpamaan. Dan adalah manusia sesuatu (makhluk) yang paling banyak membantahnya.
Kesimpulannya makrifat itu hanya dapat dipahami dengan ketaatan ,cinta dan kasih sayang saja maksudnya kita merasakan bahwa segala hal yang kita perbuat ini adalah perbuatan nurnya semata mata sedangken kita tidak memiliki daya apapun kecuali dengan kehendaknya.
Firman allah
Sesungguhnya aku mengikuti prasangka hamba hambaku
Hadistnya
Inna aqmalu binniat
Sesungguhnya segala amal itu bergantung niatnya
Firman allah
Sesungguhnya allah maha mendengar lagi mengetahui isi hati.
“Setiap orang terikat (bertanggung jawab atas apa yg dilakuannya .” (QS. St-Thur: 21)

Rabu, 17 Desember 2014

Bersabarlah


PARDI mulai puyeng kepalanya. Segalanya terasa judek. Masalahnya seperti tumpukan sampah di depan mata. Sudah berbau menyengat, sepet dipandang. Bahkan lebih dari sekedar sampah.
“Di…Di…kamu ini masih muda, kok stress melulu…”
“Aku nggak stress, Cuma aku lagi jengkel bukan main…”
“Apa bedanya?”
“Beda donk Dul…”
“Bedanya?”
“Kalau stress itu hasilnya jengkel, kalau jengkel itu apinya stress… ha..ha..ha..”
“Nah, gitu donk tertawa… Kamu jengkel kenapa?”
“Saya jengkel pada diri sendiri, dan orang lain…”
“Itu namanya ujian…”
“Saya tahu ini ujian. Tapi ketika saya lagi marah, saya lupa Dul kalau itu ujian… Kalau menurut kamu bagaimana?”
“Saya punya kiat Di… Kalau aku lagi jengkel, sumpek. Saya lemparkan diri saya…”
“Haaaaah…!?”
“Maksudku saya berusaha melemparkan hati saya ke pintunya Allah. Terserah Gusti Allah saja…”
Pardi manggut-manggut dengat kiat Dulkamdi. Lama sekali dua sahabat itu terdiam, hingga kopinya hampir dingin.
“Soal kiat bersabar kan…?” Tiba-tiba dua orang itu bicara serentak lalu tertawa-tawa. “Hanya orang-orang yang bersabar akan diberi pahala mereka yang tidak terbatas” (Q.s. az-Zumar: 10) Tiba-tiba kang soleh muncul dengan mengutip sebuah ayat. “Kata Al-Junaid – ra himahullah – Sabar adalah memikul semua beban berat sampai habis saat-saat yang tidak diinginkan”.
Sementara Ibrahim al-Khawash – rahimahullah – berkata “Sebagian besar manusia lari dari memikul beban berat sabar. Kemudian mereka berlindung diri pada berbagai sarana (sebab) dan pencarian, bahkan mereka bergantung padanya seakan-akan sesuatu yang bisa memberinya”
Ada seseorang datang kepada asy-Syibli dan bertanya, “Sabar yang mana yang sangat berat bebanya bagi orang-orang yang bersabar?”
Asy-Syibli menjawab. “Sabar demi Allah SWT (fillah)” Orangitu berkata, “Tidak!!”
Asy-Syibli menjawab lagi, “Sabar bersama Allah (ma’Allah)”. Ia pun berkata, “Tidak!!”
Akhirnya asy-Syibli marah dan balik bertanya, “celaka kau!! Lalu apa?”
Orang menjawab, “Sabar dari Allah (‘anillah)”. Kemudian asy-Syibli berteriak keras dan hampir ruhnya tercabut.
Saya pernah bertanya kepada Ibnu Salim di Basrah tentang sabar. Lalu ia menjawab dengan tiga jawaban: Pertama, orang yang berusaha untuk bersabar (mutashabir). Kedua, orang yang sabar (shabir) dan ketiga, orang yang sangat bersabar (shabhar). Maka, orang yang berusaha bersabar adalah orang yang sabar demi Allah SWT (fillah). Suatu saat ia bersabar atas hal-hal yang tidak diinginkan, tapi di saat yang lain ia tak sanggup bersabar.
Tingkatan ini sebagaimana yang pernah ditanyakan kepada al Qannad tentang sabar. Kemudian ia menjawab, “Sabar ialah senantiasa melakukan yang wajib dalam meninggalkan apa yang dilarang dan tekun melakukan apa yang diperintahkan. Orang yang sabar adalah orang yang sabar pada Allah dan karena Allah. Ia tidak pernah gelisah dan tidak memperkenankan ada kesempatan gelisah dan harapan untuk mengeluh”.
Sebagaimana juga dikisahkan dari Dzun-Nun al-Mishri-raimamullah – yang berkata: Saya pernah datang menjenguk orang sakit. Tatkala ia berbicara padaku ia merintih kesakitan. Kemudian saya berkata kepadanya, “Tidak dianggap jujur cinta seseorang jika tidak sabar atas bahaya yang menimpanya”. Kemudian orang yang sakit balik berkata, “Justru tidak bisa dianggap jujur cinta seseorang bila ia belum bisa merasakan nikmatnya bahaya yang menimpanya”.
Sebuah hadist: “Bahwa Nabi Zakaria a.s tatkala gergaji diletakkan diatas kepalanya, maka ia sekali merintih kesakitan. Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya, “Jika terdengar rintihan darimu sekali lagi, sungguh Aku akan menjungkir-balikan langit dari bumi antara yang satu dengan yang lain”. (diriwayatkan dari Wahb. Ini cerita dari Bani Israel. Tidak benar bila cerita ini dinisbatkan kepada Aabi SAW).
“Apakah kisah-kisah ini bisa membuat kita lebih sabar Kang?” tanya Pardi.
“Membaca kisah-kisah orang tentang kesabaran, akan memancarkan cahaya sabar akan mematikan amarah kita… Di…”