Laman

Jumat, 01 Mei 2015

Tukang Yang Seteguh Batu


Abdullah Ibn Faraj Al-Abid mencari tukang batu untuk memperbaiki rumahnya. Di satu sudut pasar, tempat mangkal para tukang, dia melihat seorang pemuda berkulit kuning, berjubah dan bersarung wool warna putih. “Apa kamu sedang lowong?” tanya Abdullah. “Ya,” jawab pemuda itu. “Berapa upah yang kau minta?” “Satu dirham. Tapi aku ada syarat.” “Apa itu?” “Kalau azan zhuhur berkumandang, aku akan keluar, berwudlu dan shalat berjama’ah di masjid. Begitu pula kalau azan asar terdengar.” “Baik, aku setuju.”
Abdullah, seorang ulama ahli ibadah yang hidup awal abad kedua, mengajak pemuda itu ke rumahnya. Dia bekerja nyaris tanpa berkata-kata. Ketika terdengar azan zhuhur, dia berucap, “Tuan Abdullah, mu’azin memanggil.” “Silahkan, silahkan shalat,” kata Abdullah.
Pemuda itu keluar menuju masjid. Beberapa saat kemudian, seusai shalat berjam’ah, dia datang lagi. Tanpa banyak bicara, dia sudah larut dalam pekerjaannya, hingga terdengar azan asar. Dia melakukan hal yang sama seperti tadi, keluar masjid, lalu datang lagi dan bekerja sampai waktu yang di tentukan.
Bebeberapa hari kemudian, Abdullah membutuhkan tukang. Ada bagian lain rumahnya yang perlu perbaikan. Dia datang ketempat mangkal para tukang batu. Maksudnya hendak mencari pemuda dulu, tapi ia tak berhasil menjumpainya. “Oh, dia hanya datang pada hari Sabtu.” kata seseorang. Karena sudah terlanjur cocok, dia datang lagi di hari Sabtu. Pemuda itu tampak di antara para tukang. “Apa kamu ada kerjaan?” “Tidak. Tuan sudah paham dengan upah dan syarat saya, kan.” “Aku hanya memohon pilihan pada Allah.”
Si pemuda pun bekerja seperti dulu nyaris tanpa banyak bicara, beristirahat di awal waktu shalat zhuhur dan asar. Hasilnya pun memuaskan. Habis itu, Abdullah memberinya uang lebih dari satu dirham. Aneh, pemuda itu menolak. Ketika dia di paksa, dia malah meninggalkan Abdullah. Rupanya, dia teguh memegang kesepakatan. Dia hanya mau menerima setelah di beri satu dirham.
Beberapa waktu kemudian, Abdullah datang ke tempat mangkal para tukang batu di hari Sabtu. Kali ini dia gagal memjumpai pemuda tersebut. Ternyata dia sedang sakit keras. Abdullah mendatangi rumahnya, seperti yang di tunjukkan orang-orang. Pemuda itu tergolek lemah di sebuah rumah tua, milik seorang yang sudah lanjut. “Apa yang bisa ku bantu? Katakan apa saja yang engkau minta dariku.” kata Abdullah setelah memberi salam. “Jika Tuan mau menerima,” kata pemuda itu. “InsyaAllah, aku bisa terima.” “Bila aku meninggal, juallah alat-alat ini. Cucilah sarung dan jubah woolku, kafanilah aku dengannya. Bukalah kantong jubahku karena di dalamanya ada sebuah cincin. Tunggulah saat Khalifah Harun Ar-Rasyid lewat dan hentikan dia. Tunjukkanlah cincin ini. Tolong laksanakan ini setelah aku di kebumikan.”
Abdullah menyanggupi. Tak lama kemudian, pemuda itu meninggal. Abdullah melaksanakan semua pesanannya.
“Amiral Mu’minin, ada titipan untuk Baginda,” kata Abdullah ketika bertemu dengan Harun, sembari memberikan cincin si pemuda. “Siapa kamu?” “Abdullah Ibn Faraj.” “Dari mana kamu dapatkan cincin ini?”
Abdullah menceritakan pengalaman dengan pemuda pemilik cincin tersebut.
Harun kontan menangis, “Dia adalah putraku…” katanya “Bagaimana itu bisa terjadi, Baginda? Tanya Abdullah “Ia lahir sebelum aku menjadi khalifah. Ia tumbuh dengan baik. Dia mempelajari ilmu agama dan mendalami Al Qur’an. Ketika aku menjadi khalifah, dia meninggalkanku dan tida mau mengambil hartaku sedikit pun. Aku menyerahkan cincin ini kepada ibunya, Yaqut. Sembari berpesan ‘Berikan cincin ini padanya dan suruhlah ia menyimpannya. Suatu saat, mungkin dia butuh uang, cincin ini bisa di jual.’ Anak itu sangat berbakti kepada ibunya, hingga ibunya wafat. Setelah itu, aku kehilangan kontak dengannya, sampai engkau datang menemuiku.”

Al Hikam : Hakikat Cinta Kepada Allah


Mengenai hakikat cinta kepada Allah s.w.t. menurut pandangan hakikat hikmah Tauhid dan Tasawuf, sebagaimana telah diungkapkan oleh Maulana Imam Ibnu Athaillah Askandary dalam Kalam Hikmah beliau sebagai berikut:
"Orang yang begitu sangat cintanya bukanlah orang yang mengharapkan balasan sesuatu dari pihak yang dicintainya atau dia menuntut sesuatu maksud dari pihak yang ia cintai, karena orang yang begitu sangat cintanya itu ialah orang yang memberi buat anda, bukanlah orang yang begitu sangat cintanya itu merupakan orang dimana anda memberi buatnya."
Kalam Hikmah ini, sepintas lalu sulit juga menangkapnya, apabila tidak kita berikan penjelasan sebagai berikut:
Apabila cinta dapat dilukiskan melalui huruf, tulisan dan maksud-maksud tertentu, pada hakikatnya itu tidak dapat dikatakan cinta atau mahabbah. Karena cinta yang demikian, adalah cinta yang dapat dibuat, demi untuk sampai kepada tujuan yang dikehendaki. Karena itu, barangsiapa yang mencintai seseorang supaya seseorang itu memberikan sesuatu kepadanya atau menolak sesuatu yang tidak baik daripada yang mencintai, berarti orang yang mencintai itu adalah mencintai dirinya sendiri, bukan mencintai orang yang dicintai. Karena kalau bukanlah sesuatu yang dituju oleh dirinya sendiri tidak ada, maka pastilah dia tidak akan mencintai orang yang dicintainya itu.
Karena itulah, hakikat cinta pada orang yang mencintai, adalah memberikan keseluruhan yang ada pada dirinya demi untuk mendapatkan kerelaan daripada pihak yang dicintainya. Tanpa ada sesuatu yang ia ingin capai, berupa sesuatu yang sifatnya lahiriah dari pihak yang dia cintai. Sehingga tidak ada apa-apa lagi yang dimiliki olehnya, selain semuanya itu ia serahkan kepada pihak yang ia cintai. Atau boleh dikatakan, bahwa yang mencintai adalah dibunuh oleh kecintaannya itu, sehingga tidak ada tujuannya selain daripada kerelaan dari pihak yang dicintai. Misalnya saja seperti yang diungkapkan oleh pengarang Iqazul Himam fi Syarhil Hikam, tentang contoh seorang laki-laki mencintai seorang wanita. Laki-laki itu berkata: "Aku betul-betul cinta padamu." Wanita itu menjawab: "Betapa anda cinta kepada saya, padahal yang duduk di belakang anda itu adalah lebih baik."
Mendengar itu, si pria tadi memalingkan mukanya melihat wanita yang ada di belakangnya, maka setelah wanita itu melihat bahwa pria itu memalingkan mukanya melihat wanita yang ada dibelakangnya, dia berkata: "Anda ini adalah manusia yang tidak baik. Anda mengatakan begitu cinta kepadaku, tetapi anda palingkan muka anda melihat kepada selainku."
Itulah sebuah contoh dan apabila contoh ini kita kiaskan kepada hubungan cinta kita selaku hamba Allah kepada Tuhan Pencipta alam, Allah s.w.t., juga demikian. Kita mengatakan, kepada diri kita dan kepada orang lain, bahwa kita cinta kepada Allah, tetapi juga hati kita memalingkan cintanya kepada sesuatu yang selainNya, atau merasakan sesuatu selain Allah, yang mempengaruhi hati kita. Maka ini menunjukkan cinta kita kepada Allah tidak full, tetapi adalah tidak lebih daripada dakwaan semata-mata.
Selanjutnya Apabila kita begitu mencintai sesuatu, maka hendaklah jiwa raga kita itu, kita berikan buat sesuatu itu. Demikian pula, kecintaan seseorang kepada orang yang dia cintai, dia harus memberikan segala-galanya kepada pihak yang dia cintai. Dan bukanlah kebalikannya.
Demikianlah kecintaan kita kepada Allah s.w.t., tidak boleh dipalingkan kepada selainNya. Karena itu, apabila kita beribadah karena mengharapkan syurgaNya berarti kita mencintai Syurga. Dan bukan mencintai Allah. Sebab hakikat cinta kepada Allah, hanya tertuju semata-mata kepada Allah dan kita lupa kepada hal-hal yang lain selain dariNya. Apakah itu merupakan keuntungan kita berupa pahala dari Allah ataukah itu merupakan hajat-hajat kita kepadaNya.
Ada sebuah contoh kejadian, yang telah terjadi pada seorang Waliyullah bernama Ibrahim bin Adham. Beliau berkata: Pada suatu hari, saya bermohon kepada Allah, seraya saya mengucapkan "Wahai Tuhanku, jika Engkau telah memberikan kepada seseorang dari orang-orang yang cinta kepadaMu ketenteraman hati sebelum bertemu dengaMu, maka Engkau berikan pulalah kepadaku yang demikian. Karena hatiku susah sedemikian rupa, demi cintaku kepadaMu."
Ibrahim bin Adham meneruskan katanya: Setelah sering aku berdoa demikian aku bermimpi, seolah-olah aku diperintahkan Allah berdiri di hadapanNya, dan Dia 'berkata' kepadaku: Hai Ibrahim (bin Adham), tidaklah engkau bermalu kepadaKu, bahwa engkau memohon kepadaKu, supaya hatimu tenteram sebelum bertemu denganKu. Apakah begitu orang yang sangat rindu hatinya akan dapat tenteram, kalau tidak bertemu dengan yang dicintainya .
Apakah orang yang begitu cinta hatinya akan dapat tenang, tanpa bertemu dengan yang ia rindukan? Ibrahim (bin Adham) menjawab: "Wahai Tuhanku, aku bingung, dalam cinta terhadapMu. Maka aku tidak tahu, apa yang aku katakan, karena itu Engkau ampunkan dosaku, Engkau ajarlah aku ya Allah, apa yang seharusnya aku mesti katakan." Tuhan menjawab: Katakanlah olehmu:
"Wahai Tuhan, Engkau ridhailah aku dengan keputusan-keputusanMu, Engkau sabarlah aku atas cubaan-cubaanMu, Engkau ilhamkanlah kepadaku, untuk mensyukuri nikmat-nikmatMu."

Protes Pada Allah


Dengan dengus nafas ngos-ngosan, lelaki bertubuh tambun itu memasuki kedai Cak San. Ia memesan air putih dua gelas besar, untuk mengusir dahaganya. Rupanya pagi yang dingin itu, tidak mampu menyelimuti kegerahan dadanya.
"Dari mana Mas, kok seperti dikejar harimau?"
Sembari menegak dua gelas air putih, lelaki itu masih juga belum menjawab pertanyaan Pardi.
"Jangan tanya dari mana pada saya. Tapi saya harus bertanya lebih dulu kepada anda-anda di sini, kemana itu Kang Soleh? Saya ingin bikin perhitungan dengan dia....!"
Mendengar gertakan si gendut itu, penghuni kedai kopi cukup terhenyak. Ada apa gerangan Kang Soleh dikejar manusia heboh seperti dia ini. Apa Kang Soleh punya hutang, punya kesalahan, atau ada bratayudha antara Kang Soleh dengan orang ini? Nggak jelas.
"Sebentar lagi juga datang Pak, sabar sebentar," sahut Dulkamdi.
"Ya, saya ingin minta pertanggungjawabannya!"
"Wah, pertanggungjawaban apa Pak, kok kelihatannya penting sekali," timpal Pardi memberanikan diri mengorek masalah orang itu.
"Tanggungjawab Ketuhanan...!"
"Lhadalah! Kang Soleh p[asti bikin ulah lagi!"
"Ya, ia telah membikin saya jadi uring-uringan dengan diri saya sendiri, bahkan kalau perlu Pintu Allah akan saya gedor-gedor, lalu saya mau bikin protes kepadaNya."
Weleh-weleh, Pardi, si Tambun ini pasti agak tidak waras. Masak Tuhan diprotes, memang dia ini lahir ke dunia atas kehendaknya sendiri, lalu dibantu Tuhan itu atau bagaimana?
Belum juga tuntas imajinasi Pardi, Kang Soleh memasuki kedai itu. Dengan gaya agak acuh, ia mengambil sisi pojok seperti biasanya, sambil berdehem-dehem. Rupanya si Tambun itu juga belum kenal siapa Kang Soleh, bagaimana prejengannya. Serentak Pardi menyapa Kang Soleh, lalu si Tambun itu berdiri bersungut-sungut mendekati Kang Soleh. Ia memperkenalkan dirinya, lalu duduk di sebelahnya.
"Maaf Kang. Menurut saya Allah itu tidak adil. Kenapa saya melakukan usaha yang benar, ikhtiar yang halal, kerja keras, dan begitu hendak memetik hasilnya, malah saya ditipu oleh kawan saya yang ongkang-ongkak sejak dulu. Dan saya tidak mau menjelaskan lebih jauh, kasus yang seperti saya alami ini. Sebab banyak orang bener di dunia ini, malah bernasib tragis. Jadi mana keadilan Ilahi itu? Apa saya salah kalau saya protes kepada Tuhan?" kata si Tambun nerocos tanpa rem.
"Anda benar. Allah memang tidak adil!' jawab Kang Soleh.
Seluruh kedai itu sepertinya mau runtuh mendengar ucapan Kang Soleh yang kontroversial.
"Jadi?"
"Yah, keadilan itu tuntutan manusia. Yang adil itu manusia. Keadilan itu adalah persamaaan, keseimbangan dan samarata yang dituntut manusia. Tapi ingatlah bahwa keadilan yang diprotes dan dituntut dimana-mana pasti kehilangan cinta dan kasih sayang. Keadilan senantiasa menuntut persamaan dengan amarah."
"Jadi bagaimana donk hidup ini?"
"Ya nggak bagaimana, bagaimana... Hidup dijalani saja. Kalau hidup nuruti kehendak sampean itu, semua orang pasti berperut gendut, semua orang jualan kopi, semua gaji sama, semua pinter dan semua bodoh. Semua sama rata kayak komunis. Itu keadilan. Tetapi Allah itu memang tidak adil, jadi ada yang bodoh, ada yang pinter, ada yang cantik ada yang jelek, ada yang nyentrik ada yang lugu, ada pendusta ada yang jujur, ada maling ada yang dimalingi..."
Si Tambun itu hanya diam saja menunggu kata-kata Kang Soleh selanjutnya.
"Jadi, itulah Kemahaadilan Allah. Allah Maha Adil, tetapi tidak adil. Maha Adil itu yang seperti itu, jadi jangan protes orang kurus, kalau anda tambun. Karena dibalik kekurusan kawan anda, disana ada hikmah kasih sayang yang tersembunyi. Dibalik kemlaratan orang fakir, disana ada hikmah kedermawanan orang kaya. Dibalik kebodohan umat, ada perjuangan para Ulama. Dibalik wajah cantik perempuan tersimpan ujian bagi lelaki. Lalu ketidaksamaan itulah muncul perjuangan cinta dan kasih sayang antar sesama."
"Lhah, kalau saya berjuang, lalu yang memetik hasil justru orang yang dzalim?" kata si tambun itu.
"Salahnya sendiri anda merasa bisa berjuang, bisa berikhtiar, bisa ini dan bisa itu. Apa anda tidak tahu, kalau rizki anda itu sudah digaris oleh Allah, jodoh dan rumah masa depan anda sudah di tulis oleh Allah, bahwa hari ini anda belum kaya itu, bukan karena anda nggak punya rizki, tetapi kekayaan anda masih disimpan oleh Allah. Allah Maha Tahu kapan, berapa, dimana dan bagaimana rizki dan kekayaan anda itu nanti diwujudkan. Anda minta perjuangan anda hari ini, besok membuahkan hasilnya, justru itulah kesalahan besar anda."
"Kesalahannya dimana Kang?"
"Ya, tadi anda merasa bisa mengandalkan jerih payah, kekuatan dan amal anda, seakan-akan syurga dan neraka itu tergantung pada amal baik buruk anda. Padahal.....Sama sekali tidak."
"Kalau begitu kenapa saya harus beramal Kang, kalau saya besok harus ditakdirkan masuk neraka, atau sebaliknya kenapa saya harus berikhtiar, kerja keras kalau garis saya tetap miskin?"
"Kalau anda ditakdirkan masuk neraka, pasti anda ingin jauh dari amal baik, dan anda semakin menuruti hawa nafsu anda. Jika anda ditakdirkan masuk syurga, pasti anda beramal baik, berusaha meraih ridhoNya. Kalau anda bekerja keras, itu pertanda anda ditakdirkan sukses. Jika sampai mati anda belum sukses, maka anak cucu andalah yang akan memetik buahnya....Sebab belum tentu kesuksesan yang anda petik hari ini bisa menyelamatkan dunia dan akhirat anda..."
"Saya harus bagaimana Kang?"
"Nggak usah bingung. Apakah ketika anda bingung itu segala nasib anda lalu berubah seketika?"
Si Tambun itu hanya diam belaka, antara faham dan tidak. Tetapi dia telah merasakan beberapa sentuhan jiwa, minimal ia akan banyak beristighfar karena teklah banyak memprotes ketidakadilan Allah.

Sufi Road : Istiqomah


Pengertian Istiqomah
Istiqomah adalah berpegang teguh dengan agama dan kokoh (tegar dan tidak goyah) di atasnya.
Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam bukunya “Jami’ul Ulum wal Hikam” mengatakan:”Istiqomah adalah penempuhan jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, tanpa adanya pembengkokan ke kanan maupun ke kiri. Dan hal itu mencakup ketaatan secara keseluruhan, baik lahir maupun bathin, serta meninggalkan segala bentuk larangan.
Hukum Istiqomah
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi-Nya (Muhammad) shallallahu 'alaihi wasallam dan para pengikut beliau untuk beristiqomah baik dalam aqidah, syari’at, pedoman hidup, maupun dalam manhaj. Dan supaya mereka menjauhi sikap berlebih-lebihan dan supaya mereka menghindari hawa nafsu para wali-wali syaitan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
{ فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْاْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ } [ سورة هود :112] .
”Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud:112)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk kokoh dan senantiasa istiqomah, dan itu termasuk cara terbesar untuk mendapatkan kemenangan atas musuh-musuh mereka dan untuk menyelisihi lawan-lawan mereka. Dan Dia melarang mereka dari perbuatan ghuluw yaitu perbuatan melampui batas, karena sesungguhnya hal itu (ghuluw) adalah kematian/musibah sekalipun (perbuatan ghuluw) itu terhadap orang musyrik.Dan Dia Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa Dia Maha Melihat amalan hamba-hamba-Nya, Dia tidak lalai dari sesuatu sekecil apapun dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya hal sekecil apapun.”
Buah Istiqomah
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ {30} نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَدَّعُونَ {31} نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ {32}
”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:"Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):"Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushilat: 30-32)
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأَسْقَيْنَاهُم مَّآءً غَدَقًا {16}
”Dan bahwasannya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak)”. (QS. Al-Jin:16)
Dari ayat-ayat yang mulia di atas kita bisa mengambil beberapa faidah/buah dari Istiqomah diantaranya:
Pertama, Malaikat turun kepada mereka
Kedua, mendapatkan thuma’ninah (kedamaian) dan ketenangan
Ketiga, baginya kabar gembira dengan Surga.
Keempat, diberikan keluasan rizki dan kehidupan yang lapang.
Kelima, diampuni dosa-dosanya
Jalan menempuh Istiqomah
1. Melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, bersungguh-sungguh di dalamnya dan memaksa hawa nafsu untuk taat kepada-Nya.
2. Ilmu, karena bagaimana kita bisa istiqomah kalau tidak dilandasi dengan ilmua.
3. Ikhlash
4. Mengikuti/mencontoh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
5. Seimbang dan pertengahan, tidak ghuluw dan tidak meremehkan.
6. Doa
7. Bergaul dan bersahabat dengan ortang-orang shalih.
8. Selalu ada ikatan dengan al-Qur’an, baik dengan membaca, menghafal, mentadabburi dan mengamalkannya.
Dampak Istiqomah dalam kehidupan seorang muslim
1. Memperoleh tauhid yang murni.
2. Mendorong untuk berdakwah kepada jalan Allah.
3. Memiliki kesungguhan dan semangat/cita-cita yang tinggi.
4. Kokoh dan teguh di atas kebenaran.
5. Merasa kurang dalam beribadah (tidak pernah merasa telah beribadah dengan sempurna)
Penghalang-penghalang Istiqomah
1. Menganggap enteng perbuatan maksiat.
2. Menyibukkan diri dengan dunia dan melupakan akhirat.
3. Berlebih-lebihan dalam hal-hal yang mubah (yang diperbolehkan)
4. Sifat tengah-tengah (pertengahan) yang buruk.
Cerminan para Salaf dalam Istiqomah mereka
Istiqomah dalam ucapan. Imam al-Bukhari rahimahullah berkata:”Aku berharap berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla dan Dia tidak menghisabku (menghitungku) telah menggunjing (ghibah) satu orangpun.”
Istiqomah dalam rasa khawatir atau gundah
Dalam biografi Sahabat mulia Jam’ah bin Abi Jam’ah ada riwayat bahwasanya dia bermalam di rumah salah seorang Tabi’in bernama Haram bin Hayyan al-‘Abdi, maka dia melihat Jam’ah menangis semalam suntuk, maka Haram berkata kepadanya:”Apa yang membuatmu menangis?” Dia berkata:”Aku teringat suatu malam yang mana pada pagi harinya dibangkitkan manusia dari kubur-kubur mereka.” Kemudian dia bermalam di rumahnya pada malam berikutnya, lalu diapun menangis, maka Haram pun bertanya kepadanya lalu diapun menjawab:”Aku teringat suatu malam yang pagi harinya bintang-bintang berjatuhan.”
Kokoh dan tegar dalam Istiqomah
Sikap Ka’ab bin Malik radhiyallahu 'anhu ketika dikucilkan oleh manusia (para Sahabat radhiyallahu'anhum) dan manusia yang paling dekat dengannya pun keras (dalam sikap) kepadanya. Dan ketika beliau menolak surat tawaran dari Raja Ghassan yang datang kepada beliau yang di dalamnya ada tawaran yang menggiurkan dan kemewahan, akan tetapi tungku api adalah jawaban yang paling tegas terhadap tawaran yang menggiurkan itu (maksudnya beliau tidak menghiraukan tawaran itu dan beliau lebih memilih membakar surat tawaran itu).
Sikap Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu terhadap orang-orang murtad dan yang tidak mau membayar zakat setelah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka nampak dengan jelas kejujuran tekad dan keteguhan beliau radhiyallahu 'anhu dalam membela agama Allah. Dan ketika itu jazirah Arab goncang dengan adanya kemurtadan dan kemunafikan, maka beliau tetap tegar seperti gunung yang kokoh, tidak mau mengalah (menggugurkan zakat) walaupun hanya seekor anak unta sekalipun, sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala memenangkannya dan jadilah beliau tanda dan simbol bagi setiap orang yang menginginkan Istiqomah dan mencari teladan yang shalih.
Hadits-hadits seputar Istiqomah
Dari Sufyan bin ‘Abdullah ats-Tsaqafi radhiyallahu 'anhu berkata, aku berkata:”Wahai Rasulullah, katakana kepadaku suatu perkataan dalam Islam, aku tidak tanyakan tentang hal itu kepada seorang pun selain engkau –dalam sebuah riwayat yang lain: setelah engkau-“ Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:
( قل آمنت بالله ثم استقم ) .
”Katakanlah aku beriman kepada Allah, lalu Istiqomahlah.”
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
( لا يستقيم إيمان عبدٍ حتى يستقيم قلبه ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم لسانه ) .
”Tidak Istiqomah (lurus) keimanan seorang hamba sebelum Istiqomah hatinya, dan tidak akan Istiqomah hatinya sebelum Istiqomah lisannya.” (HR. Imam Ahmad)
Dari Tsauban radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
( استقيموا ولن تُحصوا واعلموا أن خير أعمالكم الصلاة ، ولا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن ) .
”Istiqomahlah kalian dan kalian tidak akan mampu beristiqomah secara sempurna, dan ketahuilah bahwa sesunguhnya sebaik-baik amalan kalian adalah sholat, dan tidak menjaga wudhu kecuali seorang mukmin.” (HR. at-Tirmidzi, Malik dll)
Makna ولن تُحصوا disebutkan di dalam kitab al-Muntaqo syarah (penjelasan) terhadap kitab al-Muwatho beberapa makna diantaranya: Kalian tidak akan sanggup untuk menjangkau semua perbuatan amal shalih, atau kalian tidak akan bisa menghitung pahala dari Istiqomah apabila engkau melakukannya. Sedangkan dalam kitab Murqotul Mashaabih syarah terhadap kitab Misykatul Mashaabih disebutkan bahwa maknanya adalah engkau tidak akan mampu beristiqomah secara sempurna.
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu (secara mauquf maupun marfu’):
( إذا أصبح ابن آدم ؛ فإن الأعضاء كلها تُكفر اللسان ، فتقول : اتق الله فينا ؛ فإنما نحن بك ؛ فإن استقمت استقمنا وإن اعوججت اعوججنا ) .
” Jika waktu pagi tiba seluruh anggota badan menyatakan ketundukannya terhadap lisan dengan mengatakan, ‘Bertakwalah kepada Allah terkait dengan kami karena kami hanyalah mengikutimu. Jika engkau baik maka kami akan baik. Sebaliknya jika kamu melenceng maka kami pun akan ikut melenceng” (HR Tirmidzi no 2407 )
Makna sabda Nabi فإن الأعضاء كلها تُكفر اللسان adalah bahwa semua anggota badan tunduk dan merendahkan diri di hadapan lisan seraya mengucapkan ucapan tersebut di atas, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi. Wallahu A’lam

Wajah-Wajah Yang Bercahaya


Bagaimanakah ciri-ciri orang yang bakal masuk Surga atau masuk Neraka? Salah satunya digambarkan Allah lewat idiom cahaya. Orang-orang yang beriman dan banyak amal salehnya, kata Allah, akan memancarkan cahaya di wajahnya. Sebaliknya, orang-orang yang kafir dan banyak dosanya akan 'memancarkan' kegelapan. Hal itu dikemukakan olehNya di ayat-ayat berikut ini
QS Al Hadiid (57) : 12 "Pada hari dimana kalian melihat orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanannya."
QS. Yunus (10) : 27 “… seakan-akan wajah mereka ditutupi oleh kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, mereka itulah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.”
Kenapakah orang-orang yang beriman dan banyak pahalanya memancarkan cahaya, sedangkan yang banyak dosa 'memancarkan' kegelapan alias kehilangan cahaya?
Ini memang rahasia yang sangat menarik. Allah sangat sering menggunakan istilah cahaya di dalam Al Qur’an. Dia mengatakan bahwa Allah adalah cahaya langit dan Bumi (QS. 24:35). Firman firmanNya juga berupa cahaya (Qur’an QS. 4:174; Taurat QS. 5:44; Injil QS. 5:46). Malaikat sebagai hamba-hamba utusanNya juga terbuat dari badan cahaya. Dan pahala adalah juga cahaya (QS. 57:19). Karena itu orang-orang yang banyak pahalanya memancarkan cahaya di wajahnya (QS. 57:12).
Kunci pemahamannya adalah di Al Qur’an Surat An Nuur: 35. Di ayat itu Allah membuat perumpamaan bahwa DzaNya bagaikan sebuah pelita besar yang menerangi alam semesta. Pelita itu berada di dalam sebuah lubang yang tidak tembus. Tetap di salah satu bagian yang terbuka, ditutupi oleh tabir kaca
Dari tabir kaca itulah memancar cahaya ke seluruh penjuru dunia, bagaikan sebuah mutiara. Pelita itu dinyalakan dengan menggunakan minyak Zaitun yang banyak berkahnya, yang sinarnya memancar dengan sendirinya tanpa disentuh api. Cahaya yang dipancarkan pelita itu berlapis-lapis, mulai dari yang paling rendah frekuensinya sampai yang tertinggi menuju cahaya Allah. Ayat tersebut memberikan perumpamaan yang sangat misterius tetapi sangat menarik. Dia mengatakan bahwa hubungan antara Allah dengan makhlukNya adalah seperti hubungan antara Pelita (sumber cahaya) dengan cahayanya. Artinya makhluk Allah ini sebenarnya semu saja. Yang sesungguhnya ADA adalah DIA. Kita hanya 'pancaran atau pantulan' saja dari eksistensiNya.
Nah, cahaya yang dipancarkan oleh Allah itu berlapis-lapis mulai dari yang paling jelek (Kegelapan) sampai yang paling baik (Cahaya Putih Terang). Allah telah menetapkan dalam seluruh ciptaanNya itu bahwa Kegelapan mewakili Kejahatan dan Keburukan. Sedangkan Cahaya Terang mewakili Kebaikan. Maka, kalau kita ingin memperoleh kebaikan dan keberuntungan, kita harus memperoleh cahaya terang. Dan sebaliknya kalau kita mempoleh kegelapan berarti kita masuk ke dalam lingkaran kejahatan dan kerugian.
Yang menarik, ternyata 'cahaya' dan 'kegelapan' itu digunakan oleh Allah di dalam firmannya sebagai ungkapan yang sesungguhnya. Misalnya ayat-ayat yang saya kutipkan di atas. Bahwa orang-orang yang beriman, kelak di hari kiamat, benar-benar akan memancarkan cahaya di wajahnya. Sedangkan orang-orang kafir, justru kehilangan cahaya alias wajahnya gelap gulita. Dari manakah cahaya di wajah orang beriman itu muncul? Ternyata berasal dari berbagai ibadah yang dilakukan selama ia hidup di dunia. Setiap ibadah yang diajarkan rasulullah kepada kita selalu mengandung dua unsur, yaitu ingat kepada Allah (dzikrullah) dan membaca firmanNya yang berasal dari KitabNya. Baik ketika kita membaca syahadat, melakukan shalat, mengadakan puasa, berzakat, maupun melaksanakan ibadah haji.
Nah, dari kedua kedua unsur itulah cahaya Allah muncul. Bagaimanakah mekanismenya? Sebagaimana dikatakan di atas, bahwa Allah adalah sumber cahaya langit dan Bumi. Maka ketika kita berdzikir kepada Allah, kita sama saja dengan memproduksi getaran getaran cahaya. Asalkan berdzikirnya khusyuk dan menggetarkan hati. Kuncinya adalah pada 'hati yang bergetar.’ Hati adalah tempat terjadinya getaran yang bersumber dari kehendak jiwa. Ketika seseorang marah, maka hatinya akan berdegup keras. Semakin marah ia, semakin kencang juga getarannya. Demikian pula ketika seseorang sedang sedih, gembira, berduka, tertawa, dan lain sebagainya.
Getaran yang kasar akan dihasilkan jika kita sedang dalam keadaan emosional. Sebaliknya getaran yang lembut akan muncul ketika kita sedang sabar, tenteram dan damai. Ketika sedang berdzikir, hati kita akan bergetar lembut. Hal ini dikemukan oleh Allah, bahwa orang yang berdzikir hatinya akan tenang dan tenteram.
QS. Ar Ra’d (13) : 28 “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram.”
Ketika seseorang dalam keadaan tenteram, getaran hatinya demikian lembut. Amplitudonya kecil, tetapi frekuensinya sangat tinggi. Semakin tenteram dan damai hati seseorang maka semakin tinggi pula frekuensinya. Dan pada, suatu ketika, pada frekuensi 10 pangkat 13 sampai pangkat 15, akan menghasilkan frekuensi cahaya.
Jadi, ketika kita berdzikir menyebut nama Allah itu, tiba-tiba hati kita bisa bercahaya. Cahaya itu muncul disebabkan terkena resonansi kalimat dzikir yang kita baca. lbaratnya, hati kita adalah sebuah batang besi biasa, ketika kita gesek dengan besi magnet maka ia akan berubah menjadi besi magnetik juga. Semakin sering besi itu kita gesek maka semakin kuat kemagnetan yang muncul daripadanya.
Demikianlah dengan hati kita. Dzikrullah itu menghasilkan getaran-getaran gelombag elektromagnetik dengan frekuensi cahaya yang terus menerus menggesek hati kita. Maka, hati kita pun akan memancarkan cahaya. Kuncinya, sekali lagi, hati harus khusyuk dan tergetar oleh bacaan itu. Bahkan, kalau sampai meneteskan air mata. Unsur yang kedua adalah ayat-ayat Qur’an. Dengan sangat gamblang Allah mengatakan bahwa Al Qur'an ada cahaya. Bahkan, bukan hanya Al Qur’an, melainkan seluruh kitab-kitab yang pernah diturunkan kepada para rasul itu mengandung cahaya.
QS. An Nisaa' (4) : 174 “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).”
QS. Al Maa’idah (5 ) : 44 “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya …”
QS Al Maa’idah (5 ) : 46 "Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil, sedang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya . . . "
Artinya, ketika kita membaca kalimat-kalimat Allah itu kita juga sedang mengucapkan getaran-getaran cahaya yang meresonansi hati kita. Asalkan kita membacanya dengan pengertian dan pemahaman. Kuncinya, hati sampai bergetar. Jika tidak mengetarkan hati, maka proses dzikir atau baca Al Qur’an itu tidak memberikan efek apa-apa kepada jiwa kita. Yang demikian itu tidak akan menghasilkan cahaya di hati kita.
Apakah perlunya menghasilkan cahaya di hati kita lewat kegiatan dzikir, shalat dan ibadah-ibadah lainnya itu? Supaya, pancaran cahaya di hati kita mengimbas ke seluruh bio elektron di tubuh kita. Ketika cahaya tersebut mengimbas ke miliaran bio elektron di tubuh kita, maka tiba-tiba badan kita akan memancarkan cahaya tipis yang disebut 'Aura'. Termasuk akan terpancar di wajah kita.
Cahaya itulah yang terlihat di wajah orang-orang beriman pada hari kiamat nanti. Aura yang muncul akibat praktek peribadatan yang panjang selama hidupnya, dalam kekhusyukan yang sangat intens. Maka Allah menyejajarkan atau bahkan menyamakan antara pahala dan cahaya, sebagaimana firman berikut ini.
QS. Al Hadiid (57) : 19 “... bagi mereka pahala dan cahaya mereka…”
Dan ternyata cahaya itu dibutuhkan agar kita tidak tersesat di Akhirat nanti. Orang-orang yang memililki cahaya tersebut dapat berjalan dengan mudah, serta memperoleh petunjuk dan ampunan Allah. Akan tetapi orang-orang yang tidak memiliki cahaya, kebingungan dan berusaha mendapatkan cahaya untuk menerangi jalannya. QS. Al Hadiid (57) : 28 “…dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu.”
QS. Al Hadiid (57) 13 "Pada hati ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman : "Tunggulah kami, supaya kami bisa mengambil cahayamu."
Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang, dan carilah sendiri cahaya (untukmu). "Lalu diadakanlah di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa."
QS. Ali lmraan (3) : 106 - 107 "Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri dan ada Pula yang menjadi hitam muram. 'Ada pun orang-orang yang hitam muram mukanya, (dikatakan kepada mereka) : kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.
"Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal di dalamnya.”
Jadi, selain wajah yang memancarkan cahaya, Allah juga memberikan informasi tentang orang-orang kafir yang berwajah hitam muram. Bahkan di QS. 10 : 27 dikatakan Allah, wajah mereka gelap gulita seperti tertutup oleh potongan¬-potongan malam.
Dalam konteks ini memang bisa dimengerti bahwa orang -orang kafir yang tidak pernah beribadah kepada Allah itu wajahnya tidak memancarkan aura. Sebab hatinya memang tidak pernah bergetar lembut. Yang ada ialah getaran-getaran kasar.
Semakin kasar getaran hati seseorang, maka semakin rendah pula frekuensi yang dihasilkan. Dan semakin rendah frekuensi itu, maka ia tidak bisa menghasilkan cahaya.
Bahkan kata Allah, di dalam berbagai firmanNya, hati yang semakin jelek adalah hati yang semakin keras, tidak bisa bergetar. Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, tingkatan hati yang jelek itu ada 5, yaitu : 1. Hati yang berpenyakit (suka bohong, menipu, marah, dendam, iri, dengki disb), 2. Hati yang mengeras. 3. hati yang membatu. 4. Hati yang tertutup. dan 5. Hati yang dikunci mati oleh Allah. Maka, semakin kafir seseorang, ia akan semakin keras hatinya. Dan akhirnya tidak bisa bergetar lagi, dikunci mati oleh Allah. Naudzu billahi min dzalik. Hati yang:seperti itulah yang tidak bisa memancarkan aura. Wajah mereka gelap dan muram. QS. Az Zumaar (39) : 60 "Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta kepada Allah, mukanya menjadi hitam."
QS. Al An’aam (6) : 39 “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita…”
Seperti yang telah saya kemukakan di depan, bahwa ternyata kegelapan itu ada kaitannya dengan kemampuan indera seseorang ketika dibangkitkan. Di sini kelihatan bahwa orang-orang kafir itu dibangkitkan dala keaaan tuli, bisu, buta, dan sekaligus berada di dalam kegelapan. Sehingga mereka kebingungan. Dan kalau kita simpulkan semua itu disebabkan oleh hati mereka yang tertutup dari petunjuk-petunjuk Allah swt.
QS. Al Hajj (22) : 8 "Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab yang bercahaya."
QS. Al Maa’idah (5 ) : 16 “…dan (dengan kitab itu) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya.”
QS. Al A’raaf (7) : 157 “…dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
QS. An Nuur (24) : 40 “…dan barangsiapa tidak diberi cahaya oleh Allah, tidaklah ia memiliki cahaya sedikit pun.”
QS. At Tahriim (66) : 8 "Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah, dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan para nabi dan orang-orang beriman yang bersama dengan dia, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan : Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Murid Yang Shiddiq


Ada yang mengumpamakan Mursyid seperti ka’bah yang selalu dikeliling oleh murid-muridnya untuk mendapatkan berkah. Ka’bah secara fisik adalah Baitullah (rumah Allah), sementara Qalbu orang mukmin termasuk qalbu Guru Mursyid juga sebagai Baitullah atau rumah Allah, itulah persamaannya.
Hanya beberapa orang, mungkin 10 atau 20 orang yang mendapat kesempatan untuk bisa masuk ke dalam ka’bah, hanya Raja atau Presiden Negara Islam dan orang-orang tertentu yang di izinkan masuk langsung ke dalam ka’bah sementara jutaan orang hanya mendapat kesempatan untuk berkeliling ka’bah dan milyaran orang hanya sekedar mampu menghadapkan wajah kesana.
Begitu juga dengan Guru Mursyid, dari sekian banyak orang yang mengaku sebagai murid, hanya hitungan jari yang bisa masuk ke dalam diri Mursyid, menjadi murid pilihan, memahami, mencintai dan mengasihi Guru Mursyidnya melebihi dirinya sendiri. Murid yang telah mencapai tahap ini disebut dengan murid Siddiq.
Murid Siddiq bisa diartikan sebagai murid yang benar-benar menjalankan segala perintah dan meninggalkan segala larangan Gurunya, memberikan pengabdian terbaik sehingga menjadi orang pilihan, dekat dengan Guru secara zahir dan bathin. Dekat secara zahir, setiap saat selalu melayani Guru ketika menjadi murid langsung, dan mengatur waktu berziarah secara berkala ketika secara zahir jauh dari Gurunya. Secara bathin, senantiasa menjaga zikir agar kontak rohani dengan Guru senantiasa terjalin, sehingga hubungan tetap terjalin.
Seorang Guru Mursyid sendiri merupakan Murid yang siddiq dari Gurunya, telah melewati ujian dan cobaan sehingga mampu mencapai tahap rohani tinggi untuk membimbing orang lain menuju kehadirat Allah SWT sebagaimana yang di lakukan oleh Gurunya.
Murid Siddiq tidak lagi memperdulikan kebutuhan pribadinya, segala fikiran dan tenaga diberikan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan Guru, sebagaimana akhlak para sahabat terhadap Nabi SAW.
Kebalikan dari murid siddiq adalah murid asal-asalan, murid jadi-jadian atau dalam istilah Guru saya disebut dengan murid2-an, sering Beliau ucapkan sebagai “Murit-muritan”. Murit-muritan ini hanya hubungan telah mengambil amalan dzikir saja dari Guru, selebihnya berbuat sesuka hatinya. Menekuni tarekat bukan niat karena Allah tapi karena tujuan duniawi, bisa karena ingin kaya, ingin terkenal, keramat dan lain sebagainya.
Murid jenis ini (murid2an), biasanya tidak akan bertahan lama, ketika masalah menimpa hidup sebagai bagian ujian yang harus dilewati oleh seorang murid, maka murid jenis ini akan hilang, seperti debu dibawa angin. Berguru hanya ingin mendapat keuntungan duniawi semata.
Murid jenis ini juga tergolong sebagai pucuk tebu yang kemana angin bertiup maka kesitu dia melangkah, tanpa pendirian kuat, ini yang disebut oleh guru sebagai rahasia Ilmu Tebu.
Ribuan bahkan jutaan orang mengaku sebagai murid seorang Wali Allah, murid dari Guru Mursyid, namun dari sekian banyak tersebut, hanya berada pada lingkaran luar, mengelilingi untuk mengambil berkah, atau hanya menghadapkan wajah kesana, hanya sedikit yang benar-benar larut dalam samudera Maha Luas, masuk ke dalam ilmu tanpa batas dari Guru Mursyid, menyatu tanpa bercerai, selalu bergayut di Jubahnya, membungkuk di bendul pintunya dan setia selamanya dari hayat hingga akhir kalam.

Menyelami Makna Khusyuk

Menyelami Makna Khusyuk
Kata Arab kbusyu' berasal dan kata khasya'a yang artinya takut'. Misalnya, disebutkan dalam Alquran, "Wa-jah-wajah pada hari itu ketakutan (khasyi'ah)" (Q.S. al-Ghasyiyah (88: 2). Kata khasyi'ah berarti hati yang di-penuhi rasa takut; takut kepada Allah Swt. dan takut bila masa hidupnya tak kan sempat untuk mengumpulkan bekal buat hari akhir nanti.
Khusyuk tidak sama dengan konsentrasi, karena konsentrasi lebih pada pikiran. Khusyuk juga bermakna rendah, merunduk, atau tunduk. Orang yang khusyuk dalam shalatnya berari orang yang menyadari sepenuhnya hakikat dan tujuan salatnya. Dan Alquran menyebutkan kata khusyuk tidak hanya berkaitan dengan shalat, tapi juga dengan berbagai aktifitas kehidupan di dunia, misalnya Allah berfirman “Suara-suara itu khusyu dihadapan yang Maha Rahman (Q.S: Thaha [20]: 128). Disini, Tuhan menyatakan bahwa suara-suara itu tunduk dan diam.
Diayat lain Allah berfirman “Seandainya kami turunkan Al Quran diatas gunung, maka engkau akan dapati gunung itu khusyuk .. (Al Hasyr [59]:21). Disini makna khusyuk tidak secara spiritual tapi khusyuk secara lahiriah, yakni gunung itu menjadi diam, tunduk dan runduk dihadapan Tuhan.
Dua Jenis Hati: 'Isyqi dan Khawfi
Khusyuk berkaitan erat dengan hati. Menurut para sufi, untuk meraih hati yang khusyuk, pertama-tama harus melewati ilmu. Dalam konteks ini, kita harus benar-benar memahami fiingsi hati ketika akan menghadap Allah. Kaitannya dengan khusyuk, ada dua jenis kualitas hati: qalb 'isyqi (hati yang rindu kepada Allah) dan qalb khawfi(hati yang takut kepada Allah). Sebagian orang memperoleh kualitas kedua-duanya, sebagian lagi hanya isyqi atau khawft saja, dan sebagian besar tidak memiliki kedua-duanya. Hati yang rindu kepada Allah {isyqi) dan hati yang takut kepada-Nya (khawft) ini sebenarnya mengejar salah satu sifat jamaliah dan jalaliah Allah Swt. Kalau jamaliah itu sisi keindahan dan kasih sayang Allah, maka jalaliah adalah keperkasaan dan keagungan Allah.
Hati yang penuh kerinduan (qalb 'isyqi) mengejar keindahan Allah (Jamaliah). la merindukan untuk melakukan kebaikan, karena Allah Mahabaik. Rindu tidak akan diperoleh tanpa ada cinta. Maka dalam tasawuf ada yang dikenal dengan mazhab cinta. Mereka beribadah dengan cinta, menghampiri Allah melalaui pintu kasih-Nya. Bagaimana mengembangkan rasa rindu kepada Allah? Belajar mencintai Allah dan mencintai segala sesuatu yang ber-hubungan dengan-Nya!
Cinta kepada Allah memiliki beberapa tingkatan. Menurut Ibn 'Arabi, cinta ada tiga macam: cinta natural, cinta supranatural, dan cinta ilahi. Cinta natural tidak hanya dimiliki manusia. Hewan pun memilikinya. Cinta ini seperti cinta kita terhadap orang yang berbuat baik kepada kita. Cirinya bersifat sangat subjektif, karena kita mementing diri kita sendiri. Kita pun mencintai Allah karena Dia limpahkan rezekinya kepada kita. Bukankah seekor anjing mencintai tuannya lantaran setiap hari si tuan memberi makan dan merawatnya?
Cinta spiritual tidak dimiliki hewan tapi hanya oleh manusia. Orang yang mencintai dengan cinta ini tidak memikirkan kepentingan dirinya, tetapi kepentingan yang dicintainya. Ini seprti seorang ibu terhadap anaknya yang tanpa pamrih ia tidak pernah mengharap balasan, bahkan rela menderita asal anaknya bahagia. Kita harus mengembangkan cinta seperti ini kepada Allah, harus lebih dari hanya cinta natural. Misalnya Allah menyuruh kita untuk menginfakkan harta kita maka kita melakukannya, bukan untuk mengharap pahala melainkan mendambakan ridha-Nya. Cinta ini tumbuh bersamaan dengan kesadaran betapa banyaknya anugerah Allah yang telah kita terima. Apa pun yang kita lakukan tidak akan sebanding dengan apa yang kita peroleh.
Cinta ilahi lebih dalam lagi. Dengan cinta ini, orang bukan hanya mendahulukan kepentingan objek yang dicintai, tapi tidak lagi melihat dirinya sebagai sesuatu yang ia miliki. Semua dilihat sebagai milik Allah. Karenanya, tidak ada suatu aktivitas pun kecuali yang diinginkan Allah. Menurut Ibn 'Arabi, jenis cinta ketiga ini tidak bisa dibayangkan. Itulah cinta Nabi Muhammad saw. kepada Allah Swt. dan para kekasih-Nya.
Untuk memperoleh kekhusyukan, kita mesti mengembangkan kualitas hati yang penuh kerinduan kepada Allah. Sholat tidak lagi dipandang sebagai sebuah kewajiban, melainkan sarana penjumpaan dengan Allah. Sehingga, waktu shalat adalah saat-saat yang kita rindukan. Rasulullah bahkan menyebut sholat sebagai lahan nyawanya. Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda: “Cahaya mataku adalah sholat (Qurratu ‘aini al sholah)
Diantara ciri-ciri rindu adalah suka “menyendiri” dengan kekasih. Sekali-kali menyediakan waktu untuk berkhalwat-menjaga jarak dari anak dan istri, duduk bertafakur dan berdzikir kepada Allah. Waktu yang paling pas adalah di sepertiga malam terakhir. Maka itu sholat tahajud dianggap sebagai salah satu media yang paling efektif mengangkat manusia menuju Allah. Sebab saat itu dia sendirian (khalwat), hanya berduaan bersama Allah. Imam 'Ali k.w. bermunajat, "Ya Allah, di tengah malam ini, ketika semua orang mencari kekasihnya, ketika istri mencari suaminya, anak-anak bersama ibunya, aku bangun mencari kekasihku yang paling kasih, Engkau Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim."
Kalau seseorang dapat mengembangkan kualitas hati demikian, ia akan meraih kedamaian. Dalam tasawuf di-kenal dengan uns, intimasi (keakraban). Dia akan merasa akrab dengan Allah. Dia akan merasa bahagia yang tak terkira ketika bersama Allah. Tidak hanya itu. Orang yang mencapai maqam ini, doanya dikabulkan oleh Allah. Bahkan dalam hadis qudsi, Allah menyatakan, "... bila ia melihat, Aku menjadi penglihatannya; bila ia mendengar, Aku menjadi pendengarannya; bila ia melangkah, Aku menjadi kakinya. Bila dia menghampiri-Ku sejengkal, Aku me-dekatinya sehasta; bila ia menuju Aku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari."
Intinya, kualitas hati yang 'isyqi tidak hanya meng-antarkan kepada salat yang khusyuk, tetapi juga pada kehidupan yang damai dan merindukan perjumpaan dengan Allah Swt. Allah berfirman, "Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sungguh salat itu berat sekali kecuali bagi mereka yang khusyuk. Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan berjumpa dengan Tuhan mereka dan kepada-Nya mereka kembali (Q.S. al-Baqarah [2]: 45).
Hati yang takut kepada Allah (qalb khawfi) mengejar keperkasaan dan keagungan Allah (Jalaliah). Sebagaimana cinta, takut juga ada tingkatannya. Pertama, takut yang paling rendah adalah takut kepada ancaman Allah, seperti pembantu takut pada ancaman tuannya. Dalam tingkat ini, salat dilakukan karena takut diazab Allah di alam kubur atau takut tidak memperoleh rezeki di dunia. Kalau kita beribadah karena takut akan ancaman siksa Allah, itu termasuk khauf yang positif. Mesinya kita mempunyai takut seperti itu, tetapi itu tingkatan takwa terendah.
Kedua, takut dalam pengertian hormat dan takzim terhadap orang yang kita agungkan. Misalnya takut kepada kedua orang tua. Kita takut bukan karena ancaman melainkan kita menghormati dan mentakzimkan mereka. Demikian juga takut kepada kepada Allah, setidaknya takut karena memang Allah Maha adil, Maha agung, dan sungguh jasanya tak terkira-kira. Itulah takutnya orang-orang saleh. Dalam sejarah diceritakan bahwa ketika Nabi mau salat, kadang-kadang tubuhnya bergetar, mukanya pucat pasi dan sebagainya. Bukan karena beliau takut diazab oleh Allah, tapi beliau memang melihat bahwa yang layak disembah demikian hanyalah Allah Swt.
Ketiga, takut dalam arti kesadaran penuh bahwa Allah adalah segala-galanya dalam dirinya. Oleh karena itu, ada sebuah doa yang sering dibaca oleh Nabi: Ya Allah perlakukanlah kami dengan rahmat-Mu, jangan perlakukan kami dengan keadilan-Mu. Makna doa ini sangat dalam. Kita memohon kepada Allah agar memperlakukan kita dengan rahmatNya, dengan anugerah-Nya, bukan keadilan Nya, sebab kalau Allah memperlakukan kita dengan adil , kita tidak akan bisa masuk surga. Bayangkan, bagaimana mungkin kita bisa menghitung secara adil limpahan rezeki dari Allah, sedangkan yang kita berikan sangatlah sedikit. Sejauh mana kita mensyukurinya? Apa yang kita berikan di jalan Allah sangat kecil dibandingkan dengan yang Allah berikan kepada kita. Karena itu, yang ditakuti oleh Nabi bukanlah ancaman Allah, melainkan keadilan-Nya.
Jadi, untuk memperoleh khusyuk, kembangkan kualitas hati yang khawfi, dengan menyadari sifat-sifat jalaliah Allah: Yang Maha Perkasa, Mahaadil, Mahabesar, Maha-agung, dan sebagainya.
Dalam tasawuf disebutkan: Sesungguhnya di dalam jamaliah Allah ada jalaliah'-Nya, dan di dalam jalaliah Allah ada jamaliah-Nya (inna ft kulli jalalin jamalun wa fi kulli jamalin jalalun). Artinya, di dalam sifat Mahaindah-Nya ada keperkasaan-Nya, dan di dalam sifat Mahaperkasa-Nya ada keindahan-Nya. Keduanya bukanlah sifat yang kontradiktif, tetapi saling melengkapi. Mana yang lebih dominan, tergantung kualitas hati. Rasulullah saw. memiliki qalb 'isyqi (hati yang rindu kepada Allah) dan qalb khawfi (hati yang takut kepada Allah) sekaligus. Kita juga mesti menyeimbangkan antara keduanya. Dengan demikian, kekhusyukan akan menjadi kenyataan.