Laman

Jumat, 01 Mei 2015

Training Allah Ta’ala (1)


Melanjutkan tulisan Benci, Cinta dan Suluk…
Suluk merupakan satu-satunya training yang diciptakan oleh Allah untuk manusia dengan begitu sempurnanya, atas hasil riset dari para Nabi dan kemudian disempurnakan oleh para Wali mengikuti perkembangan zaman dan sesuai dengan kebutuhan manusia dizamannya.
Suluk adalah media untuk membentuk manusia sejati, manusia yang mengenal Allah secara hakiki tanpa keraguan sedikitpun. Suluk akan mampu meng-upgrade kondisi ruhani manusia dari tidak mengenal Allah menjadi manusia yang mencapai tahap makrifat, mengenal Allah dengan sebenarnya.
Salah satu hadap atau aturan dalam suluk adalah “Dilarang memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi walaupun itu berhubungan dengan Kebaikan”. Selama 10 hari tidak ada informasi dari luar yang masuk ke alam fikiran, hanya getaran zikir dari Dzat Maha Tinggi yang disalurkan lewat chanel-Nya yaitu Waliyammursyida.
Kalau ada iktikaf/suluk kemudian mengizinkan pesertanya berdiskusi, membaca buku-buku agama dan mengaji maka itu bukanlah suluk/Iktikaf dalam makna sebenarnya. Barangkali itu hanya belajar mempraktekkan kata Iktikaf dalam hadist tanpa bimbingan dari seorang Master yang ilmunya diturunkan secara berkesinambungan langsung dari Rasulullah SAW.
Membaca Al-Qur’an atau Hadist, kemudian melakukan apa yang disampaikan disana tanpa atau yang menuntun, tanpa ada Guru Ahli yang telah berpuluh-puluh bahkan beratus kali mempraktekkan lewat bimbingan Guru sebelumnya, maka apa yang dipraktekkan akan jauh dari makna yang sebenarnya. Sama halnya mempraktekkan ilmu dokter tanpa pernah menempuh pendidikan di fakultas kedokteran dibimbing oleh dokter senior yang berpengalaman maka ilmu yang dipraktekkan akan melenceng jauh dari aturan-aturan ilmu kedokteran.
Aturan-aturan dalam suluk sedemikian bagusnya tidak akan memberikan makna apa-apa kalau tidak ada Guru Master yang benar-benar ahli yang bisa menyalurkan energi Ketuhanan. Karena inti dari Suluk adalah bisa mengambil energi Ilahi yang dengan energi itulah manusia bisa berhubungan dengan Allah lewat ibadah-ibadah yang dilakukannya sehari-hari.
Ruh dari ibadah adalah seorang hamba bisa berkomunikasi secara baik dengan Allah, dan ini tidak mungkin bisa didapat kalau hanya mempraktekkan ibadah langsung seperti yang diajarkan syariat. Nabi bertahun-tahun melakukan khalwat (suluk) di Gua Hira’ untuk memperoleh ruh ibadah, komunikasi yang sempurna dengan Allah lewat bimbingan seorang Master yang berpangkat Jibril.
Jibril adalah sosok yang memiliki tingkat ruhani bisa mengajarkan ilmu-ilmu Ketuhanan kepada manusia, khususnya kepada Nabi/Rasul. Jibril adalah pangkat yang disandang oleh sosok yang telah sempurna ilmu kerohaniannya. Kalau anda mencari Jibril maka sampai kiamatpun tidak akan pernah bertemu, tapi kalau anda mencari sosok yang memiliki pangkat rohani Jibril, barangkali Allah akan menuntun anda kesana.
Jangankan Jibril sebagai pangkat rohani, mencari seorang Gubernur yang berpangkat duniawi pun anda tidak akan pernah bisa menjumpai sampai anda mendapatkan informasi yang lengkap tentang Gubernur. Anda harus bertanya dulu Gubernur dari daerah mana, berkuasa pada periode berapa, barulah anda berjumpa dengan sosok dibalik pangkat Gubernur. Kalau anda ingin berjumpa dengan Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017, maka sosok di balik pangkat tersebut adalah orang bernama Joko Widodo atau akrab di panggil dengan Jokowi. Kalau yang anda maksud Gubernur DKI periode sebelumnya maka bukan Jokowi orangnya, atau anda ingin berjumpa dengan Gubernur Jawa Barat, anda harus mempunyai data spesifik tentang tahun Gubernur itu memerintah sehingga anda akan berjumpa dengan sosok dibalik pangkat tersebut.
Pangkat kerohanian tertinggi adalah Rasul, utusan Allah yang antara dia dengan Allah tidak memiliki jarak. Apa yang diucapkan Rasul itupula yang diucapkan Allah dan sebaliknya. Rasul ibarat speaker yang menterjemahkan getaran Maha Dahsyat dari Alam Rabbani menjadi bahasa yang bisa dipahami oleh manusia di bumi. Kenapa Rasul adalah pangkat kerohanian tertingggi karena dalam diri Rasul bersemayam Nur Allah yang Maha Tinggi, bersemayam wasilah sebagai alat komunikasi antara manusia dengan Allah. Jibril dan Malaikat memiliki pangkat kerohanian di bawah Rasul. Kalau manusia bisa mengenal Rasul secara zahir bathin maka dia sudah pasti bisa mengenal Jibril dan melaikat juga secara zahir bathin.

Obrolan Santai 4 Sahabat di Sore Jum’at


Diskusi hari Jum’at dengan 3 sahabat saya, mas paijo, bang Regar dan bang Yusuf (anggap aja nama samaran), tentang perkembangan dakwah tarekat menjadi sebuah perenungan saya sampai hari ini. Masing-masing kami berada di pulau terpisah, bang regar di pulau jawa, mas paijo dan bang yusuf di Kalimantan sedangkan saya sedang berada di pulau sumatera. Tentu diskusi kami bukan menggunakan power gaib, meraga sukma atau terbangnya rohani berkumpul ke satu tempat seperti wali-wali dulu, kami hanya menggunakan “syafaat” dari teknologi berupa BBM smile emotikon . Saya sangat yakin mas paijo dan bang regar punya kemampuan untuk terbang rohani nya dalam sekejab kemanapun dia pengen, itu hanya permainan anak-anak bagi mereka, cuma mereka sangat menghargai teknologi yang sudah susah payah diciptakan oleh saudara kita dibelahan dunia sana, maka diskusinya cukup via bbm saja smile emotikon
Diskusi ini saya kutip apa adanya, agar sahabat pembaca bisa lebih paham, kawan-kawan dalam diskusi ini profilnya sbb : Bang Yusuf adalah seorang dosen, Beliau sudah Doktor, jenis orang Kolerik Melankolis, suara nge-Bass dan berwibawa, Bang Regar adalah seorang pengusaha sukses, Kolerik Melankolis yang sedang belajar jadi orang Senguin, senang humor dan orangnya enjoy dan Mas Paijo adalah seorang yang selalu berusaha, optimis, saat ini sedang menekuni bisnis Ayam potong…
Bang Yusuf : Assalamu’alaikum wr. Wb Abangda semua…bermula dari diskusi kecil…mudahan ada manfaatnya.
Mas Paijo : Wa’alaikum salam… salam sejahtera untuk kita semua (kirain mas paijo mo pidato tadi he he).
Bang Regar : Yes! (Lho jawab salam koq pake yes?!?)
Sufimuda : Wa’alaikum salam, hadir
Bang Yusuf : Mohon Izin utk memulai…Guru memandang ku dengan bersedih…seakan beliau berkata jgn berdiam diri… surau mungkin sedang “bermasalah”.
Sufimuda : Menyimak…
Mas Paijo : Lanjutkan bang yusuf…
Sufimuda : Jam 3 tadi sepulang shalat Jum’at saya menangis lama tiba2 ditempat dzikir, teringat Guru kita, mungkin ada hub dgn yg mo disampaikan bang yusuf, silahkan bang
Bang Yusuf : Sepertinya masalah surau banyak dan blunded… namun saya ingin mengobrol dulu dan yang ringan2 saja…jika perlu sedia cemilan dan minuman…
Bang Regar : Yup…
Saya berfikir gmana cara ngirim makanan dan minuman via BBM ya, setahu saya teknologi Tele- transportasi belum berhasil diciptakan sampai saat ini
Sufimuda : Silahkan, saya lagi santai menunggu azan magrib…
Mas Paijo : Surau sepi abangda semua…
Sufimuda : Benar mas Paijo, ditambah masalah dialami oleh setiap ikhwan…
Bang Regar : Kembali ke khitah.. this time for how to be, not how to have..
Bang Yusuf : Guru telah menanamkan pada saya dan sy meyakini bahwa itu juga tertanam pada abangda semua..
Sufimuda : Tadi cerita tentang mimpi bang yusuf belum selesai…ttg Guru memandang dengan wajah sedih.
Mas Paijo : Pasti itu bang Yusuf…
Bang Yusuf : Sedihnya Guru kita…sy persepsikan…seperti yg bang Regar bilang…this time how to be… bergerak…action…dimulai…dari yang kecil dan dapat melakukan…untuk sesuatu yang dpt…menggerakkan semua…
(Kening saya berkerut, ini bang Yusuf lagi diskusi dengan kawan seperguruan atau sedang mengajar mahasiswanya ya, penyakit S3 nya keluar ni..)
Sufimuda : Menurut sy, kuncinya di “Power” tanpa itu semua tidak berdaya..
Bang Regar : Absolutely…
Mas Paijo : Power Guru unlimited dengan power begitu mampu menaungi anak muridnya.. itu mimpi saya di datangi Guru.. power kita bisa besar kalau terhubung dengan big generator yg unlimited juga..
Sufimuda : Itu phenomena setiap tarekat sahabat semua, di tinggalkan Sang Guru para murid berubah fokus ke materi. Tarekat X, berebut kekuasaan dan harta termasuk berebut posisi pewaris Guru, tarekat Y sama saja. Ada yang bisa kembali ke jalur tapi banyak yang hanyut, hanyut dalam bentuk hilang jamaah atau jamaah banyak tapi tidak berpower.
Bang Yusuf : Wah..wah… yang ringan ringan saja…
Sufimuda : Kalau yg ringan ndak usah di bahas disini bang Yusuf, tiap malam wirid ke surau aja, ngobrol ama anak surau smile emotikon Dalam pandangan bang Regar ini udah paling ringan dibahas, boleh bang yusuf ksh contoh yg ringan biar diskusi kita lebih nyambung…
Bang Yusuf : Pewaris Guru adalah Guru Mursyid yg “dipersiapkan”…. Ada guru ada murid…mungkinkah atau akankah..saya dan abangku semua yang ada di room ini…”murid yang dipersiapkan”?????
(Dari banyak tanda seru yang diketik bang Yusuf, kelihatannya ini pertanyaan serius), ini yang menjadi renungan saya, setiap Guru mempersiapkan pewaris ilmunya, mungkinkah Sang Guru juga mempersiapkan para murid untuk melanjutkan berguru kepada pewaris Guru?
Mas Paijo : Murid yang lagi di masukkan kawah candradimuka biar tahan banting, tahan pukul dsb…tp jgn lama2 Tuhan bisa patah kalau terus2an… frown emotikon
(Gaya protes mas paijo ini khas para pengabdi smile emotikon )
Bang Regar : Sy Jujur, sdh 1 bulan ini rajin pagi petang,, kl gk bisa petang, ya malam lah.. Minimal buat diri sendiri n keluarga lah generatornya.
Sufimuda : Ya Bang Regar, jadi ingat kata-kata Guru 6 bulan sebelum Beliau Berlindung Kehadirat Allah, “Suatu saat nanti kalian sulit dapat syafaat (pertolongan)” harus diperjuangkan sungguh2 baru syafaat turun.
Bang Regar : Benar Bang Sufimuda… Pilar tarekat harus ditegakkan kembali..Agak bosan juga, ngomong kaya kaya, harus kembali ke ngomong berbuat berbuat. Sy yakin 100 persen, jamaah sudah rindu “ketharekatan”… Klu berbuat, kaya pasti di lewati. Krn kaya bukan tujuan, merupakan lintasan smp pada Yang Maha Kaya.
Mas Paijo : yg berobat butuh power lebih bro.. harus ada generator besar utk menghandle hal tsb..
Bang Regar : Skrg saatnya berjuang dan berdoa, jika sungguh sungguh berjuang dan berdoa menegakkan fatwa Guru,, Beliau pasti turun tangan, trust me.
Sufimuda : Benar Bang Regar, kalau istiqamah dzikir, akan melimpah juga.
Mas Paijo : (Memberikan jempol)
Sufimuda : Tangan Tuhan ada di atas tangan mrk… tangan mrk yang lemah, namun penuh harap dan sungguh2 maka tangan Tuhan akan menguatkan tangan mereka.
Mas Paijo : Dzikir Ayam..
(Keluar ni ke isengan mas Paijo sebagai pengusaha Ayam potong, koq dzikir Ayam??)
Sufimuda : Ayam bahaya di dzikirkan Mas Paijo, bisa mati, wadahnya gk sanggup menampung dzikir mas paijo he he Tapi kalau Ayam mati, sekali kali boleh dicoba hidupkan pakai dzikir “Hayyum Qayyum ya Jalzala li wal ikhram” he he
Mas Paijo : he he
Bang Regar : Dan Beliau pasti turun tangan bro, I trust it… Dimana murid siap, disitu Guru datang, bukan bgt ungkapannya
Sufimuda : Nah itulah kunci nya bang Regar, sangat sepakat
Bang Regar : sy fikir, kembali hidupkan segala amalan yg di tinggalkan Guru kepada kita, Tahlil, duduk pagi petang, jam langkah, sedekah, dll
Sufimuda : Benar b Regar! Makanya suluk ke depan saya mengajak kita semua untuk suluk bersama-sama, kita jolok karunia bersama-sama.
Mas Paijo : (kasih jempol)
Sufimuda : Udah kita jolok rame2 juga gk turun, gampang, tinggal kita tonjok aja ipar dani kita ha ha ha
Bang Regar : ha ha
Bang Regar : Bang Sufimuda, dzikir tadi berlaku gak utk menghidupkan yang sudah “mati”.
Sufimuda : Sangat berlaku bang regar, Dia Maha Hidup..
Diskusi kemudian berlanjutkan ke hal-hal ringan seputar kehidupan sehari-hari, begitulah para sahabat kalau bertemu walau tidak bertatap muka tapi tetap hidup diskusinya se olah-olah berjumpa. Tanpa terasa sudah memasukan halaman ke 4 saya menulis ulang diskusi Jum’at lalu, biasanya saya menulis 2-3 halaman saja. Sebelum sy tutup, kita liat tulisan bang Yusuf dengan Gaya dosen nya yg membuat mas paijo kesal berikut ini :
Bang Yusuf : Pertanyaan reflektif ini saya utarakan untuk lebih mendrive arah diskusi ini :1. Akankah. 2. Mungkinkah. 3. Bukankah.. sebagai “murid yang dipersiapkan”. Pilih salah satu….
Mas Paijo : maksud pertanyaan bang yusuf apa sich bro…?
Saya dan bang regar tidak menanggapi kekesalan Mas Paijo, kami terus ngobrol tentang hal-hal lucu, kembali mas Paijo nanya..
Mas Paijo : Itu maksud pertanyaan bang yusuf apaan bro? Itulah pertanyaan org S3 ndak paham ane…
Kami tidak menjawab pertanyaan mas Paijo tentang maksud pertanyaan bang Yusuf, biarlah bang yusuf dengan keunikannya dan Mas Paijo dengan kebingungannya. Kalau Mas Paijo nanya ke saya, paling saya jawab : “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu!”.
Jujur, saya sangat senang sore Jum’at itu, saya senang karena Allah mengirimkan kepada saya sahabat-sahabat terbaik yang selalu bisa diajak diskusi tentang apapun.

KONTAK ROHANI


Manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Diri rohani adalah inti daripada manusia. Diri rohani yang merupakan mitra dari diri jasadi (jasmani) dapat mengadakan kontak dengan diri rohani manusia lainnya, baik semasa masih sama-sama hidup atau sama-sama sudah mati atau salah seorang sudah mati dan yang lainnya masih hidup. Diri rohani tidak mengalami kematian, sedangkan yang mengalami kematian adalah diri jasadi.

Kontak Rohani Semasa Hidup
Kontak rohani semasa masih hidup yang sering juga dinamakan kontak batin seperti :
Antara imam dan makmum dalam shalat; Seorang makmum wajib berniat menjadi makmum dan konsekwensinya dia harus mengikuti imam sepenuhnya. Manakala makmum menyalahi perbuatan imam atau tidak sesuai dengan apa yang dilakukan imam, umpamanya imam sujud dia rukuk, imam tahiyat dia berdiri dan seterusnya, maka shalat si makmum tadi menjadi batal.
Antara anak dengan kedua orang tua; Hubungan betin kasih sayang, perasaan tanggung jawab antara kedua orang tua dan anak, dan sebaliknya, merupakan fitrah manusia. Banyak dalil dalam Al Qur’an maupun Al Hadist bahwa orang tua bertanggung jawab terhadap anaknya dalam masalah nafkah, pendidikan, agama, dan sebagainya. Sebaliknya anak disuruh berbakti dan tidak boleh durhaka kepada kedua orang tuanya. (Q.S. Al Isra 17:23).
Antara suami dan isteri; Dengan akad nikah yang sah, maka terjadilah suatu hubungan atau ikatan batin yang kuat antara suami dan istri dan keluarga kedua belah pihak. Dengan akad nikah terjadilah mwaddah, rasa kasih sayang antara keduanya yang merupakan berkahnya nikah (Q.S. Ar Rum 30:21) dan menimbulkan suatu ikatan janji yang suci lagi kokoh kuat antara keduanya, yang menimbulkan hak dan kewajiban masing-masing (Q.S. An Nisa’ 4:21).
Antara murid dengan guru; Tidak ada di atas dunia ini seseorang memperoleh ilmu tanpa melalui guru, langsung atau tidak langsung. Seorang murid dengan sungguh-sungguh menuntut ilmu dari gurunya, dan seorang guru dengan tulus ikhlas memberikan pendidikan dan pengajaran kepada muridnya, sehingga dengan demikian terjadilah hubungan, kontak batin yang harmonis antara keduanya. Murid yang mendapatkan ilmu pengetahuan dari gurunya dengan cara demikian akan memperoleh ilmu yang berkah dan bermanfaat.
Antara murid/salik dan Syekh Mursyid; Sama halnya antara murid dengan guru sekolah, bagitu pulalah halnya antara murid/salik dengan Syekh Mursyidnya, ada hubungan bathin yang sangat kuat satu dengan lainnya. Kalau antara murid dengan guru di kelas adalah transfer of knowledge, mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), maka antara murid/salik dengan Syekh Mursyid adalah Transfer of Spiritual, mentransfer masalah-masalah kerohanian, membina iman dan taqwa (imtak). Masalah kerohanian adalah sangat halus dan tinggi yang dasar utamanya adalah wahyu dari Allah SWT. Karena itulah persyaratan Syekh Mursyid, jauh lebih sulit dan tinggi dibandingkan dengan guru di depan kelas. Syekh Mursyid adalah seorang yang berkualitas wali, karena dia membimbing rohani murid dalam berzikir dan beribadah. (Q.S. Al Kahfi 18:27).

Kontak Rohani Orang Hidup dengan Orang yang Meninggal dan Sebaliknya
Sesungguhnya arwah di alam barzah itu masih hidup, bsai mendengar, melihat, mengetahui dan berkomunikasi baik antara sesama arwah orang yang sudah meninggal, maupun dengan arwah orang yang masih hidup. Dalam kajian tasawuf, arwah para Nabi dan wali-wali Allah semasa hidupnya, arwahnya hidup di alam Syahadah dan juga hidup atau dapat berkomunikasi di alam gaib.
Seorang Syekh Mursyid dapat membimbing muridnya dari jarak tanpa batas baik semasa dia masih hidup maupun dia telah meninggal dunia karena sesungguhnya arwah para wali itu hidup disisi Allah. Sebagai contoh Syekh Abdul Wahab Rokan semasa Perang Aceh sekitar tahun 1890-an pernah di photo oleh tentara belanda ikut sebagai penjuang dipihak pasukan Aceh sehingga Belanda menganggap Beliau sebagai pemberontak. Padahal pada saat yang sama Beliau tidak pernah keluar dari rumahnya ber zikir/suluk selama berhari-hari. Saidi Syekh Dermoga Barita Raja Muhammad Syukur pernah menolong muridnya yang tenggelam di laut dan membawanya ke darat dengan selamat padahal pada saat yang sama Beliau sedang makan dengan santai di rumah Beliau. Lalu siapa yang mengangkat orang di laut? Atau siapa yang ikut dalam perang?
Hal-hal seperti ini bukan hal yang asing dalam Tarekat dan tentu saja kalau diuraikan penomena yang dialami oleh para pengamal tarekat sangat banyak dan sangat unik serta ajaib.
Di antara sesama kita pun bisa saling berkomunikasih secara rohani asal lengkap memenuhi rukun dan syaratnya. Pengkajian masalah roh atau diri rohani ini dan hubungan roh satu dengan roh lainnya, merupakan masalah pokok dan amat penting dalam kajian tasawuf dan tarekat. Tentang roh dapat kita ketahuai dengan jelas dari Firman Allah :
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati diiwaktu tidurnya, maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”. (Q.S. Az Zumar 39:42)
Menalaah tafsir ayat ini, baik dari tafsir Depag maupun tafsir Ibnu Qayyim dalam bukunya “Ar Ruh” dapat disimpulkan bahwa :
Roh orang yang meninggal keluar dari jasadnya dan roh itu ditahan oleh Allah SWT.
Roh orang yang tidur dilepaskan oleh Allah untuk kembali kepada jasadnya sampai dengan dia meninggal, sesuai dengan ajal yang ditetapkan baginya.
Roh Nabi, roh Rasul dan roh orang saleh yang tidur mengembara ke alam atas, alam malakut, alam rabbani dan dapat melihat kejadian yang telah lalu, sekarang dan yang akan datang. Dari penglihatannya itu kadang-kadang menzahir dan menjelma sebagai mimpi, maka mimpinya itu dinamakan mimpi yang benar atau ar ru’yatush-shalihah.

Kontak Rohani dengan Allah
Roh yang telah disucikan kemudian diajarkan cara berzikir kepada Allah barulah bisa mengadakan kontak dengan Allah dalam Shalatnya (Q.S. Al A’laa, 87:14-15). Tanpa disucikan terlebih dahulu mustahil roh kita bisa berhubungan dengan Allah karena Allah adalah Zat Maha Suci dan Maha Tinggi. Disinilah pentingnya kedudukan seorang Syekh Mursyid bukan hanya membimbing secara jasmani akan tetapi bisa mensucikan rohani sang murid dengan Nur Allah yang dititipkan dalam dadanya. Tentu saja seorang murid harus mengenal guru semasa Gurunya masih hidup, pernah bertemu dengan guru nya (berziarah) sehingga benar-benar mengenal Guru nya, dengan demikian akan terjadi kontak rohani baik semasa Guru nya masih hidup maupun sudah meninggal begitu juga sebaliknya. Banyak orang tersesat karena mencari Guru Rohani di hutan-hutan, di pinggir laut menunggu datang Nabi Khidir atau berzikir sendiri di rumah meninggu datangnya Syekh Abdul Qadir atau Syekh lainnya. Cara demikian justru akan semakin jauh kita dengan hakikat sebenarnya karena syetan dengan mudah datang menyerupai orang yang kita inginkan. Berguru secara rohani harus pernah perjumpa terlebih dahulu secara jasmani agar benar-benar terjaga.
Bukan hal mustahil seorang hamba yang telah disucikan dan dibimbing sampai ke tahap Makrifatullah bisa berkumunikasi dengan Allah dan bahkan melihat wajah-Nya karena roh itu tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kalau kita belum bisa berkomunikasi dengan Allah dalam artinya yang sebenarnya, belum bisa mendengar suara-Nya dan belum bisa melihat wajah-Nya berarti kita belum sampai ke tahap Makrifatullah. Kalaupun ada yang mengaku telah mencapai maqam Makrifatullah namun belum bisa memenuhi kriteria diatas maka makrifat nya hanya sampai kepada pemahaman saja atau makrifat kepada sifat dan nama-Nya belum kepada makrifat Zat-Nya. Carilah seorang Guru Mursyid yang benar-benar bisa mengantarkan rohani kita sampai ke tahap Makrifatullah karena hanya itu satu-satunya jalan yang paling aman untuk sampai ke hadirat-Nya.
Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk mengenal-Nya serta mengabdi dengan ikhlas kepada-Nya.

Untuk Apa Kita Ada?


Kalau direnungi secara dalam, seorang manusia hadir di dunia benar-benar hanya sesaat saja, seperti sekejab mata jika di bandingkan dengan usia bumi yang sudah sangat tua. Ibarat matahari yang nampak terlihat, terbit dan tenggelam begitu lah perjalanan hidup manusia di dunia ini. Yang membedakannya, matahari terbit dan tenggelam kemudian terbit lagi dan tenggelam lagi dan seterusnya, sementara seorang manusia terbit dan tenggelam, kemudian tidak akan pernah terbit lagi untuk selamanya.
Kehidupan yang sesaat diberikan oleh Tuhan kepada manusia tidak lain agar manusia bisa memberikan pengabdian terbaik kepada-Nya, kepada sesama manusia dan seluruh alam sehingga manusia tersebut benar-benar menjadi orang yang bermanfaat. Sebagian lahir dengan mengikuti kodrat alamiah manusia sebagai pengabdi untuk membuat kehidupan di bumi menjadi lebih baik.
Sementara sebagian manusia hidup di dunia ini dalam kondisi tidak kreatif, lahir menjalani kehidupan, kemudian meninggal dunia, berlalu seperti debu yang tertiup angin di musim panas. Kehadiran dan ketidakhadirannya di dunia tidak memberikan pengaruh apa-apa, dan inilah kebanyakan manusia.
Ada juga manusia yang hadir di dunia ini memberikan warna hitam, kehadirannya mempersuram kehidupan di muka bumi dengan berbagai kerusakan yang dilakukannya. Setelah dia berlalu sesuai dengan umur yang diberikan Tuhan, dia kemudian meninggalkan warisan hidup berupa kekacauan dan ketidakserasian.
Tentang hal ini, saya teringat pertanyaan Guru kepada saya, “Untuk apa Tuhan menciptakan daun jelatang?”. Jelatang adalah salah satu jenis semak yang batang dan daunnya sangat gatal bila disentuh. Jelatang sepintas lalu tidak bisa dimanfaatkan untuk apapun oleh manusia, hanya mengganggu saja. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Guru tentang jelatang tersebut dan kemudian Beliau menjawab sendiri, “Untuk meramai-ramaikan dunia”.
Jadi kehadiran Jelatang di muka bumi ini hanya untuk membuat bumi menjadi ramai, tidaka lebih dan tidak kurang. Lalu bagaimana kehadiran kita di dunia yang fana ini? Apa sama dengan Jelatang?
Tuhan menciptakan rumput untuk dimakan kambing, Tuhan menciptakan kambing untuk dimakan manusia, Tuhan menciptakan manusia untuk?
Tuhan menciptakan plankton untuk di makan ikan, Tuhan menciptakan ikan untuk dimakan manusia, Tuhan mencipakan manusia untuk?
Kalau kita tidak mengetahui untuk apa tujuan Tuhan menciptakan manusia, berarti kehadiran kita di dunia ini sama dengan kehadirat ikan, rumput, kambing dan lain-lain, hanya sebagai pelengkap agar dunia ini menjadi ramai.
Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan yang sangat istimewa, untuk mengabdi kepada-Nya lewat ibadah dan lewat aktifitas sehari-hari yang bisa memberikan manfaat kepada semua. Nabi juga pernah memberikan nasehat tentang hal ini dimana manusia terbaik menurut Beliau adalah manusia yang paling bermanfaat untuk sesama.
Semakin memberikan manfaat kepada sesama, maka semakin baik nilai manusia dimata Allah dan Rasul-Nya. Atas dasar itu, harapan Nabi kepada Ummatnya agar dalam kehidupan yang dijalani hendaknya bisa menjadi rahmat bagi keluarga, lingkungan dan bisa menjadi rahmat bagi seluruh Alam.
Dalam kehidupan yang sangat singkat ini, mari kita renungkan dalam-dalam tentang apa yang telah kita lakukan di dunia ini, apakah telah sesuai dengan tujuan penciptaan sebagai pengabdi yang memberikan manfaat untuk semua atau keluar dan tujuan tersebut, memberikan kerusakan dan kehancuran bagi kehidupan manusia dan makhluk lain.
Semoga kita termasuk jenis manusia yang kehadiran kita di dunia dalam waktu singkat bisa memberikan warna indah bagi dunia dan isinya sehingga ketika kita kembali kehadirat-Nya akan disambut oleh Allah dengan penuh kerinduan, karena kita telah menyelesaikan tugas-Nya sebagai penyebar kebaikan di muka bumi.

Sufi Road : Kesiapan Menerima Pancaran Cahaya


Datangnya anugerah itu menurut kadar kesiapan jiwa, sedangkan pancaran cahayaNya menurut kadar kebeningan rahasia jiwa.
Anugerah, berupa pahala dan ma’rifat serta yang lainnya, sesungguhnya terga tung kesiapan para hamba Allah. Rasulullah saw, bersabda:
“Allah swt berfirman di hari qiamat (kelak): “Masuklah kalian ke dalam syurga dengan rahmatKu dan saling menerima bagianlah kalian pada syurga itu melalui amal-amalmu.” Lalu Nabi saw, membaca firman Allah Ta’ala “Dan syurga yang kalian mewarisinya adalah dengan apa yang kalian amalkan.” (Az-Zukhruf: 72)
Adapan pancaran cahaya-cahayaNya berupa cahaya yaqin dan iman menurut kadar bersih dan beningnya hati dan rahasia hati. Beningnya rahasia hati diukur menurut kualitas wirid dan dzikir seseorang.
Dalam kitabnya Lathaiful Minan, Ibnu Athaillah as-Sakandary menegaskan, “Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala menanamkan cahaya tersembunyi dalam berbagai ragam taat. Siapa yang kehilangan taat satu macam ibadah saja dan terkaburkan dari keselarasan Ilahiyah satu macam saja, maka ia telah kehilangan nur menurut kadarnya masing-masing. Karenanya jangan mengabaikan sedikit pun atas ketaatan kalian. Jangan pula merasa cukup wirid anda, hanya karena anugerah yang tiba. Jangan pula rela pada nafsu anda, sebagaimana diklaim oleh mereka yang merasa dirinya telah meraih hakikat dalam ungkapannya, sedangkan hatinya kosong…”Jangan keblinger dengan Cahaya atau bentuk Cahaya sebagaimana tergambar dalam pengalaman mengenai Cahaya lahiriyah, baik yang berwarna warni atau satu warna. Cahaya batin sangat berhubungan erat dengan kebeningan batin, tidak ada rupa dan warna yang tercetak. Melainkan pancaran Cahaya keyakinan total kepadaNya.Perihal pancaran Cahaya ini, beberapa item pernah kita ungkap di edisi 2006, namun masih relevan untuk kita renungkan kembali, dan tertuang dalam kitab Al-Hikam:
“Bagaimana hati bisa cemerlang jika wajah semesta tercetak di hatinya? Bagaimana bisa berjalan menuju Allah sedangkan punggungnya dipenuhi beban syahwat-syahwatnya? Bagaimana berharap memasuki hadhirat Ilahi sedangkan ia belum bersuci dari jinabat kealpaannya? Atau bagaimana ia faham detil rahasia-rahasiaNya, sedangkan ia tidak taubat dari kelengahannya?”
Semesta kemakhlukan adalah awal dari hijab Cahaya, dan ikonnya ada pada nafsu syahwat dan kealpaannya.
“Siapa yang cemerlang di awal penempuhannya akan cemerlang pula di akhir perjalannya.” Kecemerlangan ruhani dengan niat suci bersama Allah dalam awal perjalanan hamba, adalah wujud pantulan Cahaya yang diterima hambaNya, karena yang bersama Allah awalnya akan bersama Allah di akhirnya.
“Orang-orang yang sedang menempuh perjalanan menuju kepada Allah menggunakan petunjuk Cahaya Tawajuh (menghadap Allah) dan orang-orang yang sudah sampai kepada Allah, baginya mendapatkan Cahaya Muwajahah (limpahan Cahaya). Kelompok yang pertama demi meraih Cahaya, sedangkan yang kedua, justru Cahaya-cahaya itu bagiNya. Karena mereka hanya bagi Allah semata, bukan untuk lainNya. Sebagaimana dalam Al-Qur’an, “Katakan, Allah” lalu tinggalkan mereka (selain Allah) terjun dalam permainan.” Itulah hubungan Cahaya dengan para penempuh dan para ‘arifun, begitu jauh berbeda.
“Cahaya adalah medan qalbu dan rahasia qalbu. Cahaya adalah pasukan qalbu, sebagaimana kegelapan adalah pasukan nafsu. Bila Allah hendak menolong hambaNya, maka Allah melimpahkan padanya pasukan-pasukan Cahaya, dan memutus lapisan kegelapan dan tipudaya.”
Wilayah Cahaya adalah qalbu, ruh dan sirr. Cahaya akan memancar sebagai instrument, wujud adalah hakikat yaqin yang memancar melalui instrumen pengetahuan yang dalam tentang Allah.
“Allah mencahayai alam lahiriyah melalui Cahaya-cahaya makhlukNya. Dan Allah mencahayai rahasia batin (sirr) melalui Cahaya-cahaya SifatNya. Karena itulah cahaya semesta lahiriyah bisa sirna, dan Cahaya qalbu dan sirr tidak pernah sirna.”
“Pencerahan Cahaya menurut kebeningan rahasia batin jiwa”.
“Sholat merupakan tempat munajat dan sumber penjernihan dimana medan-medan rahasia batin terbentang, dan di dalamnya Cahaya-cahaya memancarkan pencerahan.” Karena itu cita dan hasrat anda, hendaknya pada penegakan sholat, bukan wujud sholatnya.
“Apabila cahaya yaqin memancar padamu, pasti anda lebih dekat pada akhirat dibanding jarak anda menempuh akhirat itu sendiri. Dan bila anda tahu kebaikan dunia, pasti menampakkan gerhana kefanaan pada dunia itu sendiri.” Maksudnya, nuansa ukhrowi menjadi lapisan baju anda, yang melapisi Nuansa Ilahi. Segalanya terasa dekat tanpa jarak padamu.
“Tempat munculnya Cahaya adalah hati dan rahasia jiwa. Cahaya yang ditanamkan dalam hati adalah limpahan dari Cahaya yang menganugerah dari khazanah rahasia yang tersembunyi. Ada Cahaya yang tersingkapkan melalui makhluk-makhluk semesta, dan ada Cahaya yang tersingkapkan dari Sifat-sifatNya. Terkadang hati berjenak terhenti dengan Cahaya-cahaya, sebagaimana nafsu tertirai oleh alam kasar dunia.” Itulah ragam Cahaya, ada Cahaya muncul dari kemakhlukan ada pula Cahaya SifatNya. Tetapi, jangan sampai Cahaya jadi tujuan, agar tidak terhijabi hati kita dari Sang Pemberi Cahaya, sebagaimana terhijabinya nafsu oleh alam kasar dunia.
“Cahaya-cahaya rahasia jiwa ditutupi oleh Allah melalui wujud kasarnya alam semesta lahiriyah, demi mengagungkan Cahaya itu sendiri, sehingga Cahaya tidak terobralkan dalam wujud popularitas penampakan.” Itulah Cahaya yang melimpahi para ‘arifin, auliya’ dan para sufi, yang dikemas oleh cover tampilan manusia biasa. Sebagaimana Rasulullah saw, disebutkan , “Bukanlah Rasul itu melainkan manusia seperti kalian, makan sebagaimana kalian makan, minum sebagaimana kalian minum.” Ini semua untuk menjaga agar para hamba tidak berambisi popularitas, dan merasa bahwa Cahaya itu muncul karena upayanya.
“Cahaya-cahaya para Sufi mendahului wacananya. Ketika Cahaya muncul maka muncullah wacana” Para Sufi dan arifun berbicara dan berwacana, bukan karena aksioma logika, tetapi karena limpahan Cahaya, baru muncul menjadi mutiara kata. Sementara para Ulama, wacananya mendahului cahayanya.
“Ada Cahaya yang diizinkan untuk terbiaskan, ada pula Cahaya yang diizinkan masuk di dalam jiwa.” Ada Cahaya yang hanya sampai di lapis luar hati, tidak masuk ke dalam hati, sebagaimana orang yang menasehati tentang hakikat tetapi dia sendiri belum sampai ke sana. Ada Cahaya yang menghujam dalam jiwa, dan dada menjadi meluas, dengan ditandainya sikap merasa hampa pada negeri dunia penuh tipudaya, dan menuju negeri keabadian, serta menyiapkan diri menjemput maut.
“Janganlah anda menginginkan agar warid menetap terus menerus setelah Cahaya-cahayanya membias dan rahasia-rahasiaNya tersembunyi.” Itulah perilaku para pemula, biasanya ingin agar Cahaya-cahaya warid itu menetap terus menerus. Padahal suatu kebodohan tersendiri, karena penempuh akan lupa pada Sang Pencahaya.
“Sesungguhnya suasana keistemewaan itu ibarat pancaran matahari di siang hari yang muncul di cakrawala, tetapi Cahaya itu tidak dari cakrawala itu sendiri, dan kadang muncul dari matahari Sifat-sifatNya di malam wujudmu. Dan kadang hal itu tergenggam darimu lalu kembali pada batas-batas dirimu. Siang (Cahaya) bukanlah darimu untukmu. Tetapi limpahan anugerah padamu.”
“Cahaya-cahaya qalbu dan rahasia jiwa tidak diketahui melainkan di dalam keghaiban alam malakut. Sebagaimana Cahaya-cahaya langit tidak akan tampak melainkan dalam alam nyata semesta” Orang yang mampu memasuki alam malakut adalah yang dibukakan Cahaya-cahaya qalbu dan jiwanya. Begitu juga nuansa pencerahan Cahaya qalbu dan rahasia qalbu itu, merupakan rahasia tersembunyi di alam Malakut.
Dan lain sebagainya, yang menggambarkan soal pencahayaan ini. Karena berbagai ragam, bisa memberikan sentuhan Cahaya, apakah Cahaya qalbu, Cahaya ruh dan Cahaya Sirr yang memiliki karakteristik berbeda-beda dalam kondisi ruhani para hamba Allah.

RAHASIA CINTA


Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany
Sudah berapa kali anda belajar tetapi tidak pernah mengamalkan? Lipatlah pustaka ilmu, lalu sibuklah dengan pustaka amal disertai dengan ikhlas, jika tidak, pencarianmu pada ilmu tidak menguntungkan sama sekali.

Hanya mencari ilmu saja, berarti anda berdosa pada Allah Swt. melalui perbuatan anda. Berarti pula anda melemparkan tirai rasa malumu dari matamu, hingga orang melihatmu dengan pandangan penuh hina. Anda tersiksa karena hawa nafsumu, gagal karena hawa nafsumu, bergerak karena hawa nafsumu, apalagi anda hancur karena hawa nafsumu. Malulah kepada Allah Azza wa-Jalla dalam seluruh perilakumu, dan amalkan ketentuan hukumNya. Bila anda hanya mengamalkan menurut lahiriyahnya hukum belaka, sungguh anda telah meremehkan amal anda untuk mengenal Allah Azza wa-Jalla.
“Ya Allah ingatkan kami dari kealpaan orang-orang yang lalai. Amiin.”
Bila anda menumpuk dosa, bahaya akan tiba dan menimpa dirimu. Jika anda taubat dan memohon ampunan pada Allah Azza wa-Jalla, anda pun memohon pertolongan padanya, anda pun akan meraihnya. Jika ada cobaan menimpamu, mohonlah pada Allah Azza wa-Jalla, agar Dia menurunkan anugerah kesabaran padamu dan keselarasan denganNya, hingga antara dirimu dengan DiriNya damai. Lalu derita hanya di lahiriyah belaka tidak sampai masuk di hati, hanya pada harta bukan pada agama, hingga cobaan berubah jadi nikmat yang sirna dari kepedihan.
Hai orang munafik!Anda ini mengikuti perintah Allah Azza wa-Jalla dan RasulNya hanya formalitas nama belaka, tidak sampai menyentuh makna sesungguhnya, berarti lahir batin anda telah dusta. Wajar jika anda hina di dunia dan di akhirat. Ahli maksiat hina dalam dirinya, pendusta juga hina dalam dirinya.
Hai para Ulama jangan kau kotori ilmumu dengan kontaminasi generasi duniawi, jangan anda ikuti kemuliaan dengan kehinaan. Yang hina adalah apa yang ada di tangannya senantiasa duniawi. Makhluk lain itu tidak akan mampu memberi anda, yang memang bukan bagian anda. Bagianmu adalah di atas tangan mereka, jika anda sabar justru Allah akan memberikan bagianmu di atas tangan mereka, dan anda mulia (Justru anda jadi pemberi).
Ingat! Siapa yang diberi rizki tidak mendapat rizki? Siapa yang diberi tidak meraih pemberian? Sibukkan dirimu dengan patuh pada Allah Azza wa-Jalla, tinggalkan berburu dariNya, karena apa yang anda butuhkan Allah Azza wa-Jalla Maha Tahu mashatamu. Dalam hadits Qudsy disebutkan:
“Siapa yang sibuk dengan dzikir padaKu dibanding meminta padaKu, Aku memberinya lebih utama ketimbang yang diberikan kepada para peminta.”
Dzikir lisan saja tanpa hati tidak ada kemuliaan sama sekali. Dzikir sesungguhnya harus disertai dzikir hati dan rahasia hati, baru muncul dzikir lisan. Maka benarlah Dzikirnya Allah Azza wa-Jalla:
“Ingatlah kepadaKu maka Aku ingat kepadamu, dan bersykurlah kepadaKu dan janganhlah kufur padaKu.” (Al-Baqarah: 152)
Dzikirlah hingga Allah Azza wa-Jalla mengingatmu. Dzikirlah hingga dosa-dosamu dihapus oleh dzikir, lalu anda bersih dari noda, taat tanpa maksiat. Di saat itulah Allah Azza wa-Jalla mengingatmu, sehingga anda sibuk berdzikir padaNya jauh mengingat makhlukNya, dan DzikirNya menyibukkan dirimu dari memintaNya, hingga seluruh tujuanmu adalah Dia, lalu anda total meraih tujuanmu.
Jika Dia adalah seluruh tujuanmu, di tangan hatimu kunci-kunci RahasiaNya dibukakan. Siapa yang mencintai Allah Azza wa-Jalla, cinta kepada yang lainNya sirna, fisik, lahir dan batinnya, jiwanya untuk disediakan bagi Kekasihnya, lalu ia menjadi di luar kebiasaan dirinya dan di luar keramaian, dan ketika sudah sempurna, Allah Azza wa-Jalla mencintainya. Apakah anda merenungkan dan memandang ini semua?
Kehadiranmu akan diturunkan, dan ketika itu malah anda didatangi Malaikat Maut yang menjemputmu, mencopot hidupmu dari tempatmu, memisahkan dirimu dari keluarga dan orang-orang yang kau cintai. Berusahalah serius agar dirimu tidak mati dalam keadaan benci bertemu Allah Azza wa-Jalla. Siapkan langkahmu ke akhirat, tunggulah kematian, karena anda akan melihat di sisi Allah Azza wa-Jalla sesuatu yang lebih baik dibanding apa yang anda lihat di dunia.
“Ya Tuhan kami berikanlah kami kebajikan di dunia, dan kebajikan di akhirat. Dan lindungi kami dari azab neraka.”

Mulia, Kuat dan Kaya


Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany -Pagi hari di Madrasahnya, tanggal 19 Rajab 545 H.
Dari Nabi saw : beliau bersabda: "Siapa yang senang menjadi manusia paling mulia, hendaknya
bertaqwa kepada Allah. Dan siapa yang senang menjadi manusia paling kuat, hendaknya bertawakkal kepada Allah. Dan siapa yang senang menjadi manusia paling kaya hendaknya apa yang ada di tangan Allah lebih dipercaya ketimbang apa yang ada di tangannya. (Hr. Al-Hakim di Al-Mustadrak).
Artinya siapa yang ingin kemuliaan dunia dan akhirat hendaknya bertaqwa kepada Allah Azza wa-Jalla:
"Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa." (Al-Hujurat: 13)
Kemuliaan ada pada ketaqwaan seseorang, sedangkan kehinaan ada dalam maksiatnya. Siapa yang ingin kuat dalam agama Allah Azza wa Jalla hendaknya ia bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, karena tawakal itu membenarkan hati, menguatkan, membersihkan, menunjukan dan menampakkan keajaiban Illahi. Karena itu jangan berserah diri pada uangmu, dinarmu, dan usahamu. Justru itu bisa melemahkan dirimu, karenanya tawakal-lah kepada Allah Azza wa Jalla, karena Allah Ta’ala menguatkanmu, menolongmu dan mengasihimu serta membukakanmu tanpa terduga disamping mengokohkan hatimu.
Jangan peduli dengan datangnya dunia atau perginya dunia dari sisimu. Jangan peduli pula dengan penerimaan (dukungan) atau penolakan makhluk padamu, maka pada saat itulah anda menjadi manusia terkuat.
Bila anda berpegang pada harta, jabatan, keluarga dan nusahamu, maka sama dengan anda menantang murka Allah azza wa Jalla, karena semua itu akan sirna. Disamping tipudaya dibalik semua itu, dimana Allah swt tidak senang ada yang lain selain Allah di hatimu.
Siapa yang ingin kaya dunia akhirat hendaknya betaqwa kepada Allah Azza wa Jalla, bukan takut pada yang lain. Hendaknya ia bersimpuh di pintuNya, malu bersimpung di pintu selain pintuNya. Seharusnya ia pejamkan mata hatinya untuk memandang selain Dia Azza wa Jalla, namun bukan mata kepalanya.
Bagaimana anda percaya dengan apa yang ada di tangan anda, sedangkan semua itu akan sirna? Sementara anda malah tidak percaya pada apa yang di Tangan allah Azza wa Jalla yang tak pernah sirna? Semua ini karena kebodohan anda pada Allah Ta’ala, lalu beralih ke yang lainNya. Percayamu pada Allah membuatmu cukup, dan percayamu pada selainNya membuatmu fakir.
Wahai orang yang yang meninggalkan ketaqwaan, anda telah diharamkan mendapatkan kemuliaan dunia akhirat.
Wahai orang yang tawakal kepada makhluk dan usaha, anda telah terhalang dari kekuatan dan kemuliaan bersama Allah Azza wa-Jalla dunia akhirat.
Wahai orang yang percaya pada milik kuasanya, anda telah terhalang meraih kaya raya dunia akhirat bersama Allah Azza wa Jalla.
Anak-anak sekalian, jika anda menjadi orang yang bertaqwa, bertawakal dan percaya teguh pada Allah Azza wa Jalla hendaknya anda sabar. Karena sabar itu dasar setiap kebajikan. Bila niatmu benar dalam sabar, maka sabarmu hanya demi wajah Ilahi Azza wa Jalla, maka anda akan dapat balasan berupa cintaNya dalam hatimu, DekatNya padamu dunia akhirat.
Sabar itu berarti berserasi dengan ketentuan dan takdirNya yang telah mendahului pengetahuanmu, dimana tak seorang pun dari makhlukNya bisa menghapus takdir itu.
Hal demikian akan tertanam dalam diri mukmin yang yaqin. Maka sabar atas takdirNya itu memberi kemerdekaan, bukan keterdesakan.
Sabar di awalnya merupakan keterhimpitan, namun langkah berikutnya adalah kebebasan. Bagaimana anda mengaku beriman tetapi anda tidak bersabar? Bagaimana anda mengaku ma’rifat tetapi anda tidak ridlo? Iman dan ma’rifat bukan sekadar pengakuan.
Tidak bisa disebut beriman dan ma’rifat sampai anda memandang gerbangNya, membiarkan celaan dan sabar atas lingkar takdir dan pijakan manfaat dan derita, yang menginjak hatimu, bukan pikiran dan inderawimu, sementara anda tetap di tempat, seperti terbius, jasad tanpa ruh.
Perkara ini diperlukan ketenangan, tanpa gerakan, tersembunyi tanpa harus menghilang dari massa, dimana qalbu, sirr, batin, dan makna anda tidak ada di tengah mereka. Sungguh sudah banyak apa yang saya bicarakan, dan sungguh betapa sedikit yang kalian amalkan. Sudah panjang lebar saya uraikan tetapi anda tak pernah faham. Sudah banyak yang kuberikan, tetapi tidak pernah kalian ambil. Sudah banyak nasehatku tetapi anda tidak mengambil pelajaran.
Betapa keras hatimu betapa bodohnya kamu pada Allah Azza wa Jalla. Jika anda tahu dan beriman pada Pertemuan dengan Allah Azza wa Jalla, dan jika anda ingat mati serta apa yang ada dibalik kematian, kenapa anda masih berlaku demikian? Bukankah anda telah menyaksikan kematian ayah dan ibumu dan keluargamu? Telah menyaksikan kematian raja-rajamu? Bukankah itu telah menjadi peringatan dan nasehat bagimu dan mengendalikan nafsumu, disbanding upayamu berburu dunia dan cinta atas tetapnya dunia? Kernapa hatimu tidak cemburu, lalu kalian keluarkan dunia dan makhluk dari hatimu?[pagebreak]
Padahal Allah Azza wa-Jalla telah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak merubah apa yang ada pada kaum hingga mereka merubah apa yang ada dalam diri mereka."
Anda sedang bicara tetapi anda tidak melakukannya. Banyak yang sudah melakukan tetapi mereka tidak ikhlas.
Cerdaslah dirimu, jangan bikin su’ul adab pada Allah Azza wa Jalla. Kokohkan dirimu, wujudkan hakikatmu, kembalilah kepadaNya dan tafakurlah. Apa yang ada padamu di dunia ini tak ada manfaatnya di akhirat. Karena anda sendiri pelit pada diri sendiri, padahal jika anda dermawan pada jiwa sendiri, pasti anda sukses meraih manfaat akhirat. Sementara anda malah sibuk dengan sesuatu sirna, dan anda kehilangan yang kekal.
Karena itu jangan sampai anda disibukkan dengan harta, isteri-isteri dan anak-anak, karena dalam waktu dekat kalian terhalang dengan mereka.
Janganlah anda sibuk sekali dengan memburu dunia, sibuk mencari kehormatan dari makhluk, karena keduanya sama sekali tidak berarti di mata Allah Azza wa Jalla. Hatimu justru najis dengan kemusyrikan, penuh dengan keraguan kepada Allah Azza wa Jalla, penuh prasangka padaNya dalam perilaku jiwamu. Ketika Allah mengetahui dirimu, Allah marah padamu, dan anda dilempar jauh dari hati orang-orang yang saleh.
Sebagian Sufi – semoga Allah melimpahkan rahmatNya – ada yang tidak pernah keluar rumah, kecuali dengan mata terpejam, yang dituntun oleh anaknya. Ketika ditanya kenapa demikian? "Sampai aku tidak pertemu dengan orang yang kafir pada Allah Azza wa Jalla…".
Suatu hari ia keluar rumah dengan mata yang dicelak, lantas ia bias melihat, malah ia pingsan. Betapa dahsyatnya kecemburuannya Allah Azza wa Jalla, bagaimana seseorang bisa menyembah selain Allah Ta’ala dan musyrik? Bagaimana seseorang memakan nikmatNya sementara ia juga kufur padaNya? Anda sendiri juga tidak sadar bagaimana anda berpesta dengan orang kafir dan duduk bersama mereka, sedang dalam hatimu ada iman tapi tak merasakan cemburunya Allah Azza wa Jalla.
Kalian mesti taubat, mohon ampun, dan malu kepadaNya. Lepaslah pakaian yang tak tau malu di hadapanNya, jauhilah keharaman dunia, kesyubhatannya, lalu jauhilah hal-hal yang dibolehkan ketika anda meraihnya dengan penuh ambisi hawa nafsu dan syahwat. Karena sesuatu yang anda raih dengan penuh nafsu dan syahwat, akan memalingkan dirimu dari Allah Azza wa-Jalla.
Nabi saw, bersabda: "Dunia itu penjara bagi orang beriman" (Hr. Muslim)
Bagaimana orang bertasbih bahagia dalam penjaranya? Ia tidak gembira. Hanya romannya bahagia, hatinya duka. Secara lahiriyah bahagia, sementara hatinya serasa terpotong-potong, kesendiriannya, dan akna yang dihayatinya serasa berubah jadi maksiat dibalik bajunya, dimana luka-luka hatinya tertutup oleh potongan senyum bajunya. Barulah Allah Azza wa Jalla dan para Malaikatnya bangga. Masing-masing mereka diberi isyarat dengan jari-jari pasda mereka, para ksatria di negeri agama Allah Azza wa Jalla dan di negeri rahasiaNya, sepanjang mereka bersabar bersamaNya, dan menahan kegetiran takdirNya, sampai mereka dicintai Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana firmanNya: "Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar." (Ali Imron: 146)
Bahwa Allah azza wa Jalla membericobaan padamu semata karena cintaNya kepadamu. Sepanjang engkau melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya, maka Allah semakin cinta kepadamu, dan sepanjang engkau sabar atas cobaanNya, semakin anda dekat denganNya.
Sebagian Sufi – semoga Allah merahmatinya – meriwayatkan, "Allah swt, tidak mau menyiksa kekasihNya, tetapi Allah memberi ujian dan memberikan kesabaran padanya."
Nabi saw, bersabda: "Seakan-akan dunia itu tidak ada, dan seakan-akan akhirat itu yang senantiasa ada." (Hr. Ali Al-Qaari, dan al-Ajluny).
Kemarilah, wahai pemburu dunia, wahai pecinta dunia, aku akan uraikan cacat-cacat dunia, dan kuberikan petunjuk Jalan Allah Azza wa Jalla, aku temukan dengan mereka yang yang hanya berhasrat menuju Wajah Allah Azza wa Jalla, karena saat ini kalian sedang stress. Dengarkan apa yang aku katakana padamu dan amalkan, serta ikhlaslah dalam mengamalkannya.
Bila kalian mengamalkan ilmuku dan kalian mati ketika mengamalkannya, maka Allah swt, akan meninggikan derajatmu sampai tingkat luhur (illiyyin), lantas kalian akan melihat disana, akar ucapanku dari sana, lantas kalian memanggilku dan menyalamiku dan kalian mewujudkan hakikat apa yang aku isyaratkan padaNya.
Kaumku…!Tinggalkan semua yang menimbulkan depresimu, tinggalkan rasa nyaman yang bathil, sibukkan dirimu dengan dzikrullah Azza wa Jalla. Bicaralah yang bermanfaat dan diamlah jika itu menyengsarakan jiwamu. Jika anda ingin bicara sesuai kehendakmu, maka fikirkan apa yang bakal kau katakana,. Lalu berniatlah yang tulus, baru biacara.
Di sinilah berlaku ungkapan, "Ucapan si bodoh di depan hatinya, sedangkan ucapan si alim yang berakal ada di belakang hatinya."
Diamlah dirimu. Bila Allah Azza wa-Jalla menghendakimu bicara, maka Dia akan membuka ucapanmu. Jika Allah menghendaki suatu hal, Allah juga menyiapkanmu bagiNya. KesertaanNya padamu membuatmu bisu total, jika sudah demikian ucapan akan datang sendiri dariNya manakala Dia menghendakinya. Bahkan bisa saja, kebisuan itu terus menerus sampai mati. Maka berlakulah sabda Nabi saw,: "Siapa yang kenal Allah, lisannya kelu." (Hr. Al-Khathib al-Baghdady).
Lisan lahiriyahnya kelu, sedangkan batinnya kelu dari segala hal selain Allah swt. Maka segalanya berserasi tanpa kontra, karena mata hatinya buta dari selain memandangNya. Batinnya terkoyak dan masalahnya terhanguskan, hartanya tercerai berai, lalu ia keluar dari eksistensinya, keluar dari dunia dan akhiratnya, bahkan nama dan tandanya pun tiada.
Allah swt. Berfirman:"Kemudian jika Allah berkehendak, maka Dia membakitkan kembali." (‘Abasa: 22)
Allah Azza wa Jalla mewujudkan setelah tiada, diciptakan kembali sebagai makhluk, yang dihanguskan oleh hasta fana’, lalu dikembalikan pada Hasta Baqa’ agar meraih Pertemuan, kemudian dikembalikan agar mengajak makhluk dari kefakiran menuju KemahacukupanNya. Kecukupan adalah cukup bersama Allah Azza wa Jalla dari aktivitas hatinya dengan mendekatkan diri padaNya Azza wa Jalla. Orang yang fakir dengan dirinya tak mampu meraih itu semua.
Siapa yang ingin cukup kaya, tinggalkan dunia dan akhirat serta seisinya, tinggalkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total. Maka secara bertahap semuanya akan keluar dari hatinya, sesuatu yang ada dan sangat hina ini. Sesuatu yang remeh di dunia ini (harta dan seluruh sisinya) hanyalah piranti bekal saja. Maka raihlah bekal itu dalam rangka berjalan menuju kepadaNya. Maka Allah akan memberimu nikmat-nikmat yang dihidangkan olehNya. Anda juga meraih petunjuk, pengetahuan, dan hidayah dari CahayaNya.
Ya Allah tunjukkan hatiku kepadaMu.
Ya Tuhan kami berikanlah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka.