Laman

Sabtu, 12 September 2015

Amal Akhiratmu, Mana ?




Dunia, semuanya adalah hikmah, sedangkan amal akhirat adalah Qudrat. Dunia ini dibangun di atas hikmah dan akhirat dibangun di
atas Qudrat. Karena itu jangan abaikan amal di negeri hikmah, dan jangan menganggap enteng QudratNya di negeri Qudrat. Beramallah di negeri hikmah dengan hikmahNya, dan jangan menyerahkan diri pada takdirNya.
Jangan jadikan takdir sebagai bentuk penyerahan dirimu, dan anda beralasan dibalik takdir, lalu anda meninggalkan amaliyah. Penyerahan atas nama takdir hanyalah perbuatan orang-orang malas, karena posisi penyerahan diri pada takdir itu bukan pada soal-soal perintah dan larangan.
Orang beriman tidak tenteram dengan dunia ini dan apa yang ada di dalamnya, bahkan tidak selera dengan bagian-bagian duniawinya. Ia lebih senang jika hatinya menuju kepada Allah azza wa-Jalla. Ia menetap di sana hingga diterimaNya. Ia, lari dari dunia, hingga ia meraih izin untuk masuk kepadaNya. Rahasia batinnya pergi, lalu menuju hatinya, dan hatinya meraih nafsunya yang tenang (muthmainnah) serta fisiknya yang patuh. Pada saat seperti itu, tiba-tiba ia tidak tertambat pada keluarganya, seperti ada sela kehampaan antara dirinya dengan mereka, tak peduli dengan kejahatan makhluk lain, seperti ada halangan antara dirinya dengan mereka, hingga hanya dia sendiri dan Tuhannya Azza wa-Jalla. Seakan-akan makhluk lain tidak diciptakan, dan seakan hanya dia sendirilah yang diciptakan Allah Azza wa-Jalla. Allah Azza wa-Jalla Sang pelaku dan dirinya satu-satunya obyek. Ia yang dicari dan Allah Yang Mencari. Seakan Allah Azza wa-Jalla adalah akar dan dia cabang ranting. Ia tidak melihat selain Dia, dan lainnya tidak melihatnya. Ia terbungkus dari makhluk.
“Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkan kembali…” (Abasa: 22)
Ia hadir untuk mereka demi kebajikan dan memberikan petunjuk kebenaran kepada mereka, dan ia sabar jika disakiti mereka, demi meraih ridho Allah Azza wa-Jalla. Para Sufi itu adalah penjaga hati dan rahasia batin, yang senantiasa teguh bersama Allah azza wa-Jalla, bukan bersama lainNya. Mereka beramal untukNya bukan untuk lainNya.
Tetapi hai munafik, anda tidak pernah meraih informasi kebajikan mereka, tidak mencerap keimanan bahkan tidak meraih kebahagiaan bersama Allah Azza wa-Jalla. Dalam waktu dekat anda mati, dan menyesal setelah mati. Padahal anda telah mendapatkan wacana yang fasih dan keelokan syurgawi, tetapi itu tidak memberi manfaat bagimu. Kefasihan itu buat qalbu, bukan untuk wacana ucapan. Menangislah seribu kali atas dirimu dan yang lain.
Hai orang yang hatinya mati! Wahai orang yang menghindar dari kaum sufi. Wahai orang yang banyak mengatur dan terhijab dari dirimu sendiri, dari makhluk dan dari Tuhanmu Azza wa-Jalla: “Oh Tuhanku, sungguh aku terbungkam, maka bukakanlah ucapanku dariMu, hingga manusia meraih manfaat dari ucapanku, memberikan kesempurnaan pada mereka di hadapanku. Jika tidak, kembalikan diriku dalam kebungkaman.”
Wahai kaumku, aku mengajak kalian pada “kematian merah” yaitu bentuk perlawanan terhadap hawa nafsu, watak naluri, syetan dan dunia, serta keluar dari makhluk, dan meninggalkan selain Allah azza wa-Jalla secara total. Dan berjuanglah kalian dalam situasi kondisi ini, jangan sampai kalian putus harapan, karena Allah Azza wa-Jalla berfirman:
“Setiap hari Dia dalam urusanNya.” (Ar-Rahman 29)
Mohonlah padaNya menurut kadar QudratNya. Mohonlah padanya dari sisi Qudrat, bukan dari sisi hikmah. Mohonlah padaNya dari sisi IlmuNya, bukan dari sisi amalmu dan kemampuanmu. Berdiamlah di hadapanNya di atas telapak kehangusan dari segala hal. Jangan mencoba untuk merekayasa di hadapanNya dan jangan pula menakar-nakar takdir di hadapanNya, serta jangan mereka-reka ketergantungan padanya. Jangan anda hindari aturanNya dengan memilih aturanmu hingga terhempas pada kebodohan. Siapa yang tidak mengamalkan ilmuNya maka ia bodoh. Namun, bila ia menjaganya dan mengamalkan makna-maknanya, maka pengetahuan itu akan mengajari anda untuk melaksanakannya tanpa condong pada makhluk. Karena mengamalkan ilmu itu akan mengembalikan dirimu kepada Allah azza wa-Jalla, membuat anda zuhud dengan dunia, dan menajamkan mata batin anda, untuk menjauhkan dirimu dari berhias lahiriyah dan memberi inspirasi untuk menghias batiniyah. Disinilah Tuhanmu Azza wa-Jalla memberikan pelimpahan padamu, karena anda telah menjadi baik di hadapanNya:
“Dan Dia memberikan pelimpahan (wilayah) kepada orang-orang yang shaleh.” (Al-A’raf: 196)
Allah Azza wa-Jalla melimpahkan anugerah pada lahirnya, dan batin mereka mendidik lahirnya melalui Tangan HikmahNya, sedangkan batinnya berada di Tangan IlmuNya. Hingga mereka tidak takut dengan lainNya, tidak pula berharap kepada lainNya, tidak meraih kecuali dariNya, tidak memberi kecuali ia disertai rasa takut jika ada selain Dia, dan ia senantiasa bahagia bersamaNya, bertentraman denganNya.
Saat ini adalah akhir zaman, begitu banyak perubahan dan pergeseran. Inilah zaman lengang hampa dan zaman kemunafikan. Hai orang munafik, anda adalah budak dunia dan budak makhluk, karena anda penuh pamer dengan mereka, beramal untuk mereka, sedangkan anda lupa pada pandangan Allah Azza wa-Jalla kepadamu. Kelihatannya anda beramal untuk akhirat, sedangkan semuanya bertujuan dunia. Nabi saw, bersabda:
“Bila seseorang berias dengan amal akhirat tetapi ia sendiri tidak berhasrat pada akhirat dan tidak mencari akhirat, maka nama dan nasabnya dilaknat di langit.” (Hr. As-Suyuthy dalam Jam’ul Jawami’).
Aku lebih tahu dibanding kalian hai orang-orang munafik melalui jalan hikmah dan ilmu pengetahuan dariNya, namun aku menutupi kalian dengan Tutupnya Allah Azza wa-Jalla.
Celaka! Anda tidak malu pada tubuhmu, tidak membersihkannya dari maksiat lahiriah dan najis-najisnya. Anda mengaku menyucikan batin dan menyucikan qalbu, tentu tidak benar. Bagaimana rahasia batinmu, anda tidak mendidik diri dengan makhluk lantas anda mengaku beradab dengan Allah Azza wa-Jalla. Sang guru tidak rela padamu, anda tidak beradab dengannya, sedangkan anda menerima perintah-perintahnya, dan anda banyak pamer selama ini.
Tak ada komentar bagimu, melainkan jika anda menegakkan tauhidmu di atas kakinya, dan mengokohkan dirimu di hadapan Allah Azza wa-Jalla, lalu anda keluar dari kulit telurmu, dan anda duduk di pangkuan kelembutan di bawah sayap-sayap kemesraan denganNya, disana anda temukan rasa cinta pada keikhlasan dan menegak air minum musyahadah. Anda tetap disana sampai anda menjadi induk ayam, maka disitulah anda menjadi penjaga bagi anak-anak ayam, memberikan pengaruh positif pada mereka dengan penuh kasih sayang, mengingatkan manusia siang dan malam, agar mereka taat kepada Tuhannya Azza wa-Jalla.

Kecintaan Sang Wali




Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany, 17 Ramadhan, tahun 545 H. di Madrasahnya
Ada keharusan ujian dan cobaan, terutama bagi mereka yang mengklaim dan mengaku-aku. Tanpa adanya cobaan dan ujian, banyak orang mengaku jadi wali. Oleh sebab itu, salah satu Sufi mengatakan, “Ujian diberikan dalam kewalian, agar tidak diaku-aku (kewalian itu)”.
DIANTARA tanda kewalian adalah kesabarannya menghadapi derita dari makhluk, dan memaafkan mereka. Para wali itu bahkan membutakan diri dari apa yang dipandang publik, dan menulikan diri dari apa yang terdengar dari hiruk pikuk mereka. Mereka telah menyerahkan harga dirinya pada publik.
Rasulullah Saw, bersabda: “Cintamu pada sesuatu telah membutakan dan menulikanmu”.
Para wali itu mencintai Allah Azza wa-Jalla, lalu mereka buta dan tuli dari selainNya. Mereka berjumpa dengan orang lain melalui ucapan yang bagus, kasih sayang dan peduli. Namun kadang mereka marah karena kecemburuan Allah Azza wa-Jalla pada mereka, kemarahan sebagai manifestasi keserasian dengan kemarahanNya.
Mereka adalah para dokter, bahwa setiap penyakit itu ada obatnya. Seorang dokter tidak mengobati setiap pasien dengan satu obat. Mereka ini mengobati menurut penyakit hati masing-masing dan kondisi batin mereka di hadapan Al-Haq Azza wa-Jalla, seperti Ashabul Kahfi, dimana Jibril as, membalik situasi hati mereka. Dan para kekasih pun merupakan tangan Kuasa, Rahmat dan Kasih Sayang.
Tangan cinta telah membalik hati mereka dan mentransformasi dari kondisi batin ruhani menuju kondisi ruhani yang lain. Dunia mereka, justru mereka bagi untuk orang yang butuh dunia, akhirat mereka diberikan kepada yang butuh akhirat, karena mereka hanya bagi Allah Azza wa-Jalla. Mereka tidak sama semakin pelit jika dunianya diminta, bahkan kalau pahala akhiratnya diminta pun diberikan semuanya. Mereka berikan dunianya bagi para fakir miskin, dan pahala akhiratnya diberikan pada mereka yang menginginkan akhirat. Yang berupa makhluk diberikan pada makhluk pula, dan Sang Khaliq hanya bagi diri mereka. Mereka serahkan semua yang kulit, karena selain Allah Azza wa-Jalla hanyalah kulit belaka. MencariNya dan dekat padaNya, itulah isi.
Sebagian mereka –semoga rahmat Allah Azza wa-Jalla melimpah pada mereka– mengatakan, “Tak ada yang tersenyum dalam menghadapi orang fasik, kecuali orang yang ma’rifat kepada Allah Azza wa-Jalla.” Memang dia memerintah dan melarangnya dan menanggung beban deritanya, dan tak ada yang mampu kecuali orang yang Arif Billah Azza wa-Jalla.
Sedangkan ahli zuhud dan ahli ibadah serta para penempuh tidak akan mampu. Bagaimana para arifun tidak menyayangi ahli maksiat? Sedangkan mereka inilah tempatnya rahmat, tempatnya taubat dan pengakuan dosa. Orang arif itu diciptakan Allah Azza wa-Jalla dari Akhlaq Allah Azza wa-Jalla, ia akan berusaha keras dalam membersihkan dosa ahli maksiat dari kekuasaan syetan dan hawa nafsu.
Bila salah satu kalian anaknya ada yang ditahan oleh orang kafir, bukankah kalian berusaha keras membebaskannya? Begitu pula sang arif. Semua manusia seperti anak sendiri. Ia menasehati makhluk dengan ucapan hikmah, lalu mengasihi mereka, karena pengetahuan mereka, sehingga mereka melihat tindakan-tindakan Allah Azza wa-Jalla pada makhluk-makhluk itu, dengan memandang adanya ketentuan dan takdir yang keluar dariNya dari pintu hukum dan pengetahuan. Namun ia merahasiakannya, lalu ia menasehati manusia dengan hokum yang merupakan perintah dan larangan, namun tidak menasehati dengan pengetahuan rahasianya.
Allah Azza wa-Jalla mengutus para Rasul, menurunkan kitab-kitab, memperingatkan, memotivasi semata karena membangun argumentasi terhadap makhluk dan mengajari mereka. Janganlah anda menentangnya, karena didalamnya ada pemberhentian. Di dalamnya ada ketetapan ilmu, yang butuh ketetapan aturan yang berintegrasi dengan dirimu dan yang lain. Dan kamu pun butuh pengetahuan khusus untukmu saja.
Bila salah satu dari kalian mengamalkan ilmu lahiriyah, Rasulullah Saw, menyuapimu dengan ilmu batin, menyuapi hukum batin sebagaimana burung menyuapi anak-anaknya. Itu dilakukan semata agar dibenarkan dan diamalkan melalui ucapannya yang bersifat lahiriyah, berupa syariatnya.
Manusia, bila benar, maka tidak ada kebenaran yang sebanding. Jika bersih tak ada bersih yang sebanding dengannya. Jika dekat kepadaNya tak ada yang sebanding dengan dekatnya.
Manusia bodoh, memandang dengan mata kepalanya. Sedang manusia cerdas memandang dengan mata akal sehatnya. Sang arif memandang dengan mata hatinya penuh dengan mutiara pengetahuan, maka demi menegakkan makhluk dengan total yang membuatnya sirna dari semua makhluk, kecuali hanya ada Allah Azza wa-Jalla. Maka disinilah Allah Swt berfirman:
“Dialah Yang Maha Awal dan Maha Akhir, Maha Dzahir dan Maha Batin.”
Ia konsentrasikan dirinya, dhahirnya, batinnya, awalnya dan akhirnya, rupa dan maknanya, hanya bagi Allah Azza wa-Jalla, dan karena itu abadilah cintanya padaNya, dunia hingga akhirat berserasi denganNya dalam seluruh tingkah laku jiwanya.
Ia lebih memilih ridhoNya, dan ia tak mau yang lain nya, sama sekali tidak tercederai oleh cacian para pencaci, sebagaimana sebagian mereka mengatakan, “Berserasilah dengan Allah Azza wa-Jalla dalam bergaul dengan makhluk, dan jangan berserasi dengan makhluk dalam berhubungan dengan Allah Azza wa-Jalla.”
Runtuhlah orang yang runtuh dan terdesaklah orang yang terdesak. Syetanmu, hawa nafsumu, watakmu dan teman-teman burukmu, sesungguhnya adalah musuh-musuhmu. Waspadalah agar kalian tidak terjerumus dalam kehancuran. Belajarlah sampai kalian tahu bagaimana menghadapi musuh-musuhmu itu, lalu kalian waspada, lantas kamu mengerti bagaimana kamu beribadah kepada Tuhanmu Azza wa-Jalla. Sedangkan orang bodoh, tidak akan diterima ibadahnya. Sebagaimana sabda Nabi Saw, “
“Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cara yang bodoh, maka ibadahnya akan lebih banyak merusaknya dibanding memperbaiki dirinya.”
Orang yang bodoh sama sekali ibadahnya tidak baik, bahkan malah menjurus pada kerusakan dan kegelapan total. Sedangkan ilmu itu pun tidak akan berguna melainkan jika diamalkan. Amal tidak ada gunanya kecuali dengan ikhlas. Setiap amal tanpa keikhlasan pelakunya, tidak akan berguna dan tidak diterima. Namun bila anda mengetahui tetapi tidak mengamalkan, justru ilmu anda akan menuntut anda nantinya. Dalam sabda Nabi Saw:
“Orang yang bodoh hanya disiksa sekali, tetapi orang alim disiksa tujuh kali.”
Karena orang bodoh tidak mau belajar, sedangkan orang pandai mau belajar tapi tidak mengamalkan ilmunya. Belajarlah, dan amalkan, lalu ajarkan. Karena semua itu adalah padual total dari kebajikan. Bila anda belajar, lalu mengamalkan, kemudian mengajarkan, anda mendapatkan dua pahala. Pahala ilmu dan pahala belajar. Dunia ini gelap, sedangkan ilmu adalah cahayanya. Siapa yang tidak berilmu akan tertutup di dunia ini, dan kerusakannya lebih banyak dibanding kebaikannya.
Wahai orang yang mengaku berilmu, janganlah anda meraihnya dengan tangan nafsumu, watakmu, syetanmu, wujudmu, jangan kau ambil dengan tangan riya’mu dan kemunafikanmu. Secara lahir anda tampak zuhud, tapi batinmu kosong. Itulah zahid yang batil. Anda menyiksa diri di hadapan Allah Azza wa-Jalla, Dia Maha Tahu apa yang ada dalam dirimu ketika engkau sendiri, ketika engkau bersama publik, ketika engkau dengan hatimu. Di hadapanNya, tak ada sunyi, terang-terangan atau tirai. Katakan, “Duh, betapa malunya, betapa susahnya, betapa terhinanya, bagaimana Allah Azza wa-Jalla melihat seluruh perbutanku malam dan siang. Dia melihat tapi aku tidak malu dari pandanganNya.”
Taubatlah padaNya atas luka dosamu, berdekatlah padaNya dengan menjalankan kewajiban dan menjauhi laranganNya. Tinggalkan dosa-dosa lahir dan batin, berbuat baiklah yang nyata, karena itulah yang bisa mengantarmu ke pintuNya, mendekat padaNya, dan Dia mencintaimu, membuat dirimu cinta pada sesama, rasa cinta padaNya yang kemudian menimbulkan transformasi cinta kepada sesama makhluk.
Bila Allah Azza wa-Jalla dan semua malaikatNya mencintaimu, seluruh makhluk akan mencintaimu, kecuali orang-orang kafir dan munafik, karena mereka ini tidak akan berserasi dengan cintamu kepada Allah Azza wa-Jalla
Setiap orang yang dihatinya ada iman, pasti mencintai sesama orang beriman. Sedangkan orang yang didalam hatinya ada kemunafikan pasti membenci orang beriman. Karena itu tidak perlu dipikir, kalau orang kafir, orang munafik, syetan dan Iblis, mereka itu adalah syetan-syetan berkepala manusia.
Orang beriman yang yaqin dan arif, hati dan batinnya serta hakikatnya lepas dari makhluk, sampai pada situasi dimana makhluk itu memang tidak memiliki kekuatan yang membahayakan dan kekuatan memberi manfaat, karena jiwanya bersimpuh di hadapan Allah Azza wa-Jalla, sama sekali dirinya tidak memiliki daya dan upaya.
Bila kondisi ruhaninya benar dari hal demikian, khabar akan tiba dari berbagai sisi yang sama sekali tidak dicampuri oleh bentuk klaim pengakuan, klaim takhally dan harapan kosong, bahkan ia buta dari sebab akibat, sampai engkau tidak lagi mendatangi pintu-pintu sesama (untuk minta tolong). Engkau tak menghiraukan, sampai hatimu, akalmu dan wajahmu berbalik dari makhluk menuju Khaliq. Sehingga wajahmu bertemu dan berhadapan dengan makhluk, sedangkan hatimu menghadap Al-Khaliq. Sampai hatimu menjadi hati seperti hatinya para Malaikat dan para Nabi, hatimu minum dari hati mereka, makan dari hati mereka (Malaikat dan para Nabi). Semua itu berkaitan dengan hati dan rahasia hati serta hakikat, bukan berkaitan dengan rupa.
Ya Allah baguskan hati kami, pakaikan pada rahasia jiwa kami, jernihkan akal kami, yang terjadi antara diri kami dan DiriMu dibalik akal makhluk dan akal kami.
Wahai orang-orang hadir, wahai orang-orang yang tidak hadir, kelak di hari kiamat kalian akan tahu apa yang datang dariku ada sesuatu yang menakjubkan, karena aku memberi penjelasan yang ada dalam diri kaum munafik, lalu bagaimana dengan hak kewajiban kaum beriman.
Ya Allah, cukupkan diriku dari semuanya, dan cukupkan diriku hanya padaMu jauhkan dari selain DiriMu. Berikan kecukupan pada pengajar dari memikirkan anak-anak dan keluarganya di rumah, agar rumahnya menjadi rumah hidangan pendidikan. Ya Allah Engkau Tahu ucapan ini sesungguhnya telah mengalahkan diriku, maka maafkanlah aku. Sudah cukup dan berhasil bagiku dariMu, berkaitan dengan soal upah anak-anak, para pengikut, para penempuh jalan. Dan aku memohonMu agar semua itu dimudahkan dengan hati yang indah dan batin yang bening.
Wahai kaumku…Kalian menyangka kalau aku mengambil keuntungan darimu. Sungguh sama sekali tidak. Aku mengambil keuntungan hanya dari Allah Azza wa-Jalla, bukan darimu, bahkan dari Allah Azza wa-Jalla mengalir pada kalian karena kebersamaanku dengan kalian, sepanjang aku mengenal kalian. Ketika aku keluar dari kalian, aku memperlihatkan pada kalian, bahwa aku sedang membantah orang-orang munafik, dan menjadi pengetahuan bagi orang-orang arif.
Aku tidak menyerang orang-orang munafik kecuali dengan sikap tegas dan berani. Bukan dengan pedang tajamku pada kalian. Aku juga tidak butuh makanan dari kalian. Karena aku meraihnya dari selain kalian (Allah Azza wa-Jalla). Aku ada tugas, setelah kalian keluar dari berguru padaku, dimana aku menjadi pemukanya. Tidakkah kalian tahu wahai orang-orang yang melihat dengan mata hati, bahwa lengan bajuku tersingsing, dan perutku terikat ketat?
Ada yang bertanya, bila utusan Allah Azza wa-Jalla, Jibril Alaihis salaam untuk para NabiNya. Lalu siapakah utusanNya untuk para wali-waliNya? Dijawab, “Jibrillah utusanNya pada mereka tanpa perantara, melalui rahmatNya, kasih sayangNya, ilhamNya, pandanganNya kepada hati mereka, pada batin mereka, kelembutanNya pada mereka. Karena mereka memandangNya baik dalam sadar maupun tidur melalui matahati mereka, dan kebeningan rahasia batin mereka serta abadinya kesadaran mereka.
Wahai kaumku…! Sesungguhnya yang membuatmu putus dari ma’rifat kepada Allah Azza wa-Jalla dan mengenal para waliNya, semata karena kesenanganmu pada dunia, ambisimu pada dunia, kecintaanmu pada berlomba menumpuk kekayaan. Ingatlah kalian pada akhirat, tinggalkan dunia, dengan kemurahan yang bagus, penuh kebajikan dan kedermawanan yang muncul dari sifat-sifatmu. Ya Allah, kami hanyalah hambamu yang kecil, berikanlah kami keberkahan keduanya. Amin.

Jangan Jual Agama Dengan Kekuasaan


Siapa yang rela pada akhirat, ia menjadi yang utama. Siapa yang rela dengan sedikit ia mendapatkan banyak. Siapa rela dengan kerendahan, kemuliaan bakal tiba. Ridholah dengan
ketakpunyaan hingga perkaranya berbalik pada anda dari kadar kerendahan dan rela dengannya, maka Allah Azza wa-Jalla menaikkan dirinya, Dia Yang Maha Kuasa atas segalanya. Disanalah anda meraih tawadhu’ dan adab yang bagus mendekati anda. Sedangkan takabur dan su’ul adab menjauhi dirimu. Taat membuatmu baik dan mendekatimu, sedangkan maksiat menjauhi dan merusakmu.
Anak-anak sekalian…. Jangan engkau jual agama dengan buah tin. Jangan engkau jual agamamu dengan buah tin para penguasa, para raja dan orang-orang kaya serta dengan memakan barang haram. Jika kalian makan melalui agamamu, hatimu menghitam. Bagaimana tidak menghitam sedang anda menyembah makhluk?
Wahai yang terhina… Bila saja di hatimu ada cahaya, pasti anda memisahkan mana yang haram, syubhat, mubah dan antara yang hitam di hati, melalui cahayaNya, dan antara mana yang mendekat pada hatimu dan menjauh dari hatimu. Hai si bodoh, aku tidak tahu kecuali usaha dan tawakkal pada Allah Azza wa-Jalla. Meraih melalui usaha, di awal iman, kemudian meraih dari Allah Azza wa-Jalla setelah tersingkapnya merantara antara dirimu dengan DiriNya. Bila hati kuat ia meraih dari Allah Azza wa-Jalla dari tangan makhluk atas perintah Allah azza wa-Jalla.
Adapun arti ucapanku, “hilangnya perantara” adalah keterpakuan hati pada perantara dan kemusyrikan ketika menjalankan perintah Allah Azza wa-Jalla, tuli dari pujian, cacian, dan penerimaan serta penolakan mereka. Ketika diberi ia hanya melihat tindakan Allah azza wa-Jalla, begitu juga jika gagal. Kaum sufi itu harus bias tuli, bisu dan buta dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla. Tidak ada yang di sisi mereka kecuali Dialah Sang Penolong, Dia yang merendahkan, memberi, mencegah bahaya yang menimpa mereka, dan memberi manfaat pada mereka.
Di sisi mereka hanya ada isi tanpa kulit, bening di atas bening, bagus di atas yang bagus. Semua makhluk keluar dari hati mereka. Tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa-Jalla. Hanya ada dzikir yang rahasia padaNya, bukan pada yang lian. Ya Allah limpahi kami rizki pengetahuan tentangMu.
Hati-hati, anda telah menyangka dan merasa mampu membuka dirimu. Kalau tidak ada hambatan hukum, pasti aku datangi anda dan aku cela hai si munafik. Jangan khawatir posisi utamamu bersamaku, karena aku tidak malu kecuali hanya kepada Allah Azza wa-Jalla, aku tidak malu kecuali pada hamba-hambaNya yang saleh.
Sang hamba ketika mengenal Allah Azza wa-Jalla, makhluk-makhluk berguguran dari hatinya sebagaimana gugurnya daun-daun kering dari pohon. Yang tersisa sudah tiada lagi makhluk secara total, hati dan batinnya buta dari pandangan pada mereka, tuli dari mendengar ucapan mereka. Bila jiwa telah tenteram, maka selamatlah dalam menjaga badan, kemudian hati pergi menuju Allah Azza wa-Jalla, mencari yang dari sisiNya, kemudian turun ke dunia, sehingga bisa mengatur nafsu yang tegak dengan kemaslahatannya. Inilah tindakan dan cipta Allah Azza wa-Jalla pada para penempuhNya, ketika dunia dating pada mereka untuk memenuhi bagiannya dalam rupa orang tua yang penuh uban nan buruk rupa, lalu memberikan bagiannya, lalu dunia menjadi pembantunya, dan tak mengambilnya kecuali mengambil bagiannya saja, dan sama sekali tidak menoleh padanya.
Anak-anak sekalian… Kosongkan hatimu hanya bagi Tuhanmu Azza wa-Jalla, dan sibukkan badanmu serta nafsumu untuk keluarga, lalu anda menjalankan perintahNya, bekerja untuk mereka dengan tindakanNya.
Diam di hadapan Allah Azza wa-Jalla, tidak bertanya padaNya dengan penuh sabar dan ridho lebih utama ketimbang berdoa, meminta dan memohon. Hapuskan ilmumu pada IlmuNya, serahkan pengaturanmu pada pengaturanNya, putuslah hasratmu bertambat pada hasratNya. Singkirkan akalmu ketika takdir dan ketentuanNya tiba. Lakukan itu semuanya bila anda menghendakiNya sebagai Tuhan, Penolong dan Tempat berserah diri.
Diamlah di hadapanNya bila anda ingin wushul (sampai) padaNya. Kehendak dan cita orang beriman menyatu, hingga tidak memiliki lintasan sedikit pun kecuali lintasan yang datang dari Allah Azza wa-Jalla di hatinya. Ia mendekam di pintu TuhanNya Azza wa-Jalla. Bila ma’rifatnya mandiri, Allah membukakan pintu di hadapanNya, lalu dibalik itu, ia melihat sesuatu yang tak mampu diungkapkan dalam lintas hatinya dan isyarat, sebuah kalam yang tersembunyi dalam batin, senantiasa fana’ dari diri dan hawa nafsunya serta akhlak tercelanya, bahkan fana’ dari semua makhluk, dalam suasana penuh pemaafan, kebagusan dan kenikmatan. Dia menjadi objek dari tindakanNya seperti Ashabul Kahfi. Allah Azza wa-Jalla berfirman:
“Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi 18)
Dengarkan ini hai anak-anakku, imanilah dan jangan engkau dustakan. Jangan sampai dirimu terhalang kebajikan dari berbagai arah.

Meraih Kemenangan Dengan Zuhud

Meraih Kemenangan Dengan Zuhud
Anak-anak sekalian....Aku melihat aktivitasmu, bukanlah aktivitas kaum yang muroqobah kepada Allah
Azza wa-Jalla, yang senantiasa takut kepadaNya. Anda malah berhubungan dengan mereka yang suka dengan kerusakan dan kehancuran. Anda berpisah dari para wali dan para sufi. Hatimu kosong dari Allah Azza wa-Jalla, dan anda penuhi dengan kesenangan dunia, pendukung dunia dan pilar dunia.
Anda perlu tahu bahwa rasa takut kepada Allah haruslah penuh di hati dan mencerahi hati, menerangkan dan menjelaskan hati. Jika anda bisa demikian, anda dipenuhi keselamatan dunia akhirat. Bila anda ingat mati, kesenangan anda pada dunia sangat sedikit, anda lebih banyak zuhud di dunia. Siapa yang akhirnya harus mati, bagaimana ia harus gembira pada dunia? Nabi Saw, bersabda:
”Setiap yang berjalan ada akhirnya, sedangkan akhir kehidupan adalah maut.” (Takhirj Ibnul Mubarak dalam bab Az-Zuhd)
Akhir dari kesusahan, kegembiraan, kekayaan, kefakiran, musim kemarau, musim hujan, sakit dan lapar, adalah maut. Siapa yang mati, datanglah kiamatnya, yang jauh jadi dekat. Seluruh milikmu akan musnah. Singkirkan semua milikmu dari hatimu, sirrmu, dan batinmu. Dunia punya batas sedangkan akhirat abadi tanpa batas. Kehidupan duniamu terbatas waktunya, kehidupanmu di akhirat abadi tak terhingga.
Jadikan semua dirimu sebagai wujud taatmu padaNya Azza wa-Jalla, jika anda bisa begitu anda bisa total bagi Tuhanmu Azza wa-Jalla.
Maksiat itu arah nafsu, dan taat adalah ketiadaan nafsu. Kesenangan mencari wujud nafsu, dan mencegahnya adalah hilangnya hasrat nafsu. Cegahlah hasrat syahwatmu dan jangan anda penuhi kecuali berselaras dengan ketentuan Allah Azza wa-Jalla, bukan dengan pilihan seleramu.
Raihlah kesenanganmu itu dengan tangan zuhud secara paksa, sehingga tangan zuhudmu yang menarikmu, yang kemudian kesenangan itu sampai pada nafsu. Harus ada zuhud sebelum anda mengenal keadaan diri anda. Kalau anda zuhud dalam kegelapan dan senang dengan hal yang terang, maka itu berarti kegelapan juga. Jika anda bisa keluar dari kegelapan itu anda malah akan melihat kecemerlangan.
Takdir itu awalnya terasa gelap, sedangkan jika anda kokoh bersama Sang Penentu Takdir, maka menjadi terang. Awal keadaanmu gelap, jika telah dibuka olehAllah Azza wa-Jalla, dan berada di hadapanNya Azza wa-Jalla, semua perkaramu menjadi terang benderang.
Bila datang cahaya rembulan ma’rifat, maka terbukalah kegelapan malam takdir. Bila anda melihat matahari ilmunya Allah Azza wa-Jalla, maka hilanglah beban-beban takdir. Kegelapan total justru terbuka jadi jelas di sekitar anda, yang jauh jadi tampak terang, dan segala problema tampak jelas solusinya.
Lalu jelaslah antara yang kotor dan yang bersih, mana untuk selain anda dan mana bagi anda. Anda bisa membedakan mana hasrat kemauan makhluk dan mana kemauan Allah Azza wa-Jalla, tampak mana pintu makhluk mana pintu Allah Azza wa-Jalla. Lalu anda melihat yang tak pernah terliohat mata danb tak pernah terdengar telinga dan tak pernah terlintas di hati manusia. Hati anda makan dari makanan musyahadah, minum dari minuman kemesraan, dan meakai pakaian qabul (diterima dihadiratNya Azza wa-Jalla) kemudian dikembalikan pada massa makhluk untuk menata kebaikan mereka, dan mengentaskan mereka dari kegelapan makhluk itu menuju Tuhannya Azza wa-Jalla. Dikembalikan pada Allah Azza wa-Jalla, bersama Dzat Yang Maha Menjaga dan Perlindungan dan kedamaian abadi.
Hai orang yang tidak percaya apa yang kukatakan ini, tidak beriman pada apa yang aku sampaikan. Kalian ini kulit tanpa isi, kulit kering yang hanya layak dibakar, kecuali jika anda bertobat, beriman dan benar.
Hai kalian! Jika anda taubat, beriman dan mebenarkan, maka di masa mudamu anda dapatkan kebaikan, keselamatan dan kemanisan. Jika tidak, justru anda akan dapatkan belahan beling yang siap memotong lidah anda, jantung dan hati anda. Terimalah ucapanku, karena aku sangat peduli padamu. Terimalah...Jangan benci dan memusuhiku, jangan sekali-kali ada permusuhan antara diriku dan dirimu.
Aku ini seperti masjid bagi sholatmu, aku membersihkan najismu dan kotoranmu. Aku menunjukkan jalan padamu, dan menyiapkan hidangan makanan dan minuman bagimu. Lakukan karena itu semua untukmu, sama sekali aku tidak mau minta balas jasa darimu. Balasan hanya dari Allah Azza wa-Jalla, karena pekerjaanku melayani orang yang mencari Allah Azza wa-Jalla.
Bila pencarianmu pada Al-Haq Azza wa-Jalla benar, aku akan sangat melayanimu. Karena jika pencarian dan tujuan hamba benar menuju Allah Azza wa-Jalla, segalanya tunduk padanya.
Anak-anak sekalian....
Jadilah dirimu penasehat bagi jiwamu, jangan butuh padaku dan orang lain. Nasehati lahir dan batinmu, nasehati dirimu dengan terus mengingat mati, menghilangkan ketergantungan pada makhluk dan upayamu, lalu bergantunglah pada Tuhanmu Azza wa-Jalla, Tuhannya para makhluk Yang Maha Agung dan Maha Mengetahui. Bergantunglah pada limpahan RahmatNya, Kasih SayangNya dan jangan sibuk dengan selain Dia Azza wa-Jalla, karena kesibukan hatimu bisa membuat hijab dariNya.
Bila salah satu dari kalian beruntung karena didikanku maka aku gembira. Bila aku bicara lalu dia menolak, aku sedih. Orang beriman mendekatku, orang munafik lari dariku. Hai orang munafik, aku berselaras dengan Allah Azza wa-Jalla dalam hal amarahnya kepadamu, karena Allah Azza wa-Jalla menjadikan diriku neraka untuk membakarmu.
Kalau kamu taubat dan menerima ucapanku, serta sabar atas kerasnya ucapanku, maka aku menjadi penejuk dan penyelamat dari panasnya api, sungguh celaka, kalian kenapa tidak sadar?
Taatmu hanya lahiriyah belaka, batinmu penuh maksiat. Sebentar lagi kamu mati dan menderita, lalu kamu dipenjara di neraka Allah Azza wa-Jalla.
Hai kalian yang sangat minim amal, apakah kalian tidak malu berlumur kebatilan, siang dan malammu. Kalian menginginkan anugerah dari Allah Azza wa-Jalla, melalui kesembronoan?
Maka, segeralah memperbanyak amal ibadah, anda bisa mengembalikan diorimu. Setiap faktor yang masuk ada kejutan yang menyakitkan, namun akhirnya anda bersih danhilang kotoranmu. Jika anda bertobat, lakukan disiplin dari awal hingga akhir.
Hai orang yang membangkang pada tuannya, hai orang yang merasa cukup dengan pola pikirnya dibanding pandangan para Sufi, Para Nabi, Para Rasul dan orang-orang shaleh. Hai orang yang lebih percaya pada makhluk dibanding pada Allah Azza wa-Jalla, dengarlah sabda Nabi Saw.:
”Terlaknat! Terlaknat, siapa yang kepercayaannya tertuju pada makhluk sepadannya....” (Takhrij al-Mundziry dalam at-Targhib wat-Tarhib)

Memperbaiki Diri Sendiri


Sibuklah untuk memperbaiki dirimu dan kebaikanmu. Tinggalkan
bicara ini dan itu, tinggalkan kerumitan duniawi, maka anda akan lepas dari problemamu menurut kemampuanmu. Nabi saw, bersabda:
“Bebaskan dirimu dari kesusahan dunia menurut kemampuan maksimalmu.”
Hai orang-orang yang tolol karena dunia, seandainya anda tahu, pasti anda tidak memburunya. Dunia ketika datang padamu, justru akan melelahkan dirimu, dan jika ia berpaling, dunia akan membuatmu susah. Namun bila anda mengenal Allah Azza wa-Jalla, anda akan makhluk bersamaNya. Namun anda tidak mengenal Allah Azza wa-Jalla, para Rasul, para Nabi dan para WaliNya.
Waspadalah! Anda bisa mengambil pejaran dari kehidupan manusia terdahulu seputar dunia ini. Karenanya, bersihkan hatimu dari dunia, maka anda bisa melepaskan segala hal selain Allah Azza wa-Jalla dari jiwamu. Bila selain Dia Azza wa-Jalla masih mengikuti nafsu, maka tundukkan nafsumu, pada saat itulah anda melihat Tuhanmu Azza wa-Jalla. Pasrahkan semua kepadaNya, maka anda selamat. Mujahadahlah menuju DiriNya, maka anda meraih hidayah. Syukurlah padaNya, Dia akan menambah nikmatNya padamu, serahkan dirimu dan makhluk lain padaNya. Jangan sampai anda kontra padaNya dalam dirimu, juga jangan kontra pada selainmu.
Kaum Sufi tidak akan pernah berhasrat, ketika bersama Allah Azza wa-Jalla, dan tidak punya pilihan ketika bersama pilihanNya. Jangan sampai mereka berambisi mencari atau berebut bagian dariNya, begitu pula tidak mencari nikmat yang diberikan pada orang lain. Bila anda ingin bergabung dengan kaum sufi dunia dan akhirat, maka berserasilah dengan firmanNya, tindakan dan kehendakNya.
Saya melihat anda malah berbalik, dan berbuah kontra dan berbeda denganNya, malam dan siang. Ketika Allah Azza wa-Jalla berkata, “Kerjakan!” dan anda malah tidak mengerjakan. Seakan akan malah Allah Azza wa-Jalla jadi hamba dan anda menjadi yang dihamba.
Maha Suci Dia Azza wa-Jalla yang penuh dengan welas asihNya. Seandainya bukan karena rasa asihNya, pasti aku melihat semuanya yang kontra dalam dirimu. Bila anda ingin bahagia, diamlah di hadapanNya. Diam lahir dan batin pun sungguh merupakan su’ul adab bagiku, bahwa Dia menyilakannya karena sebagai bentuk keringanan belaka.
Karena itu lakukanlah perintahNya dan jauhi laranganNya, berserasilah dengan takdirNya, diamlah lahir dan batinmu di hadapanNya, maka anda akan melihat kebajikan dunia dan akhirat. Jangan minta pada makhluk, karena makhluk itu sangat lemah, sangat butuh, tidak memiliki apa pun, apalagi untuk lainnya, baik itu bahaya maupun manfaat.
Bersabarlah bersama Allah Azza wa-Jalla, jangan tergesa-gesa, dan jangan pula bakhil padaNya, jangan pula mencurigaiNya. Itu akan lebih bagus bagimu, darimu, untukmu. Maka sebagian sufi mengatakan, “Hai! Hati-hati padaku dan dariku! Kalian berserasi saja dengan Allah Azza wa-Jalla, karena Dialah Yang Maha Tahu pada kalian, bersama kalian. Karena tridak semua yang baik menurutmu, itu direkomendasi olehNya. Allah Azza wa-Jalla berfirman:
“Siapa tahu bila kalian tidak suka terhadap sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian. Dan siapa tahu kalian mencintai sesuatu, sedangan hal itu lebih buruk bagi kalian. Allah Maha Tahu dan kalian tidak tahu.” (Al-Baqarah : 216)
]“Dan Allah menciptakan hal-hal yang kalian tidak tahu.” (An-Nahl : 8)
“Dan kalian tidak diberi ilmu, kecuali hanya sedikit.” (Al-Isra’ : 85)
Siapa pun yang hendak menempuh Jalan Allah Azza wa-Jalla, hendaknya ia membersihkan dirinya sebelum ia suluk. Sebab nafsu selalu su’ul adab, karena ia terus mendorong untuk keburukan.
Hati-hati, anda sedang beramal di sisi Allah Azza wa-Jalla, lalau bagaimana anda berjalan menuju kepadaNya?
Maka perangilah nafsumu, hingga ia tenang. Jika ia tenang maka ia akan mengikutimu menuju pintuNya. Jangan sampai berselaras dengan nafsu kecuali setelah anda membersihkannya, setelah mengajarinya, dan beradab yang bagus serta tenang pada janji Allah Azza wa-Jalla dan ancamanNya.
Nafsu itu buta, pekak, bisu, kotor dan lumpuh serta bodoh terhadap Tuhannya Azza wa-Jalla. Dan itu butuh kendali, butuh pembimbing dan waktu yang panjang, waktu demi waktu, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun. Maka, beranikan dirimu dan jangan takut dengan pedang nafsu, tajamnya mata pedangnya dari besi yang keras kasar.
Nafsu hanya bicara tak pernah bertindak, dusta tanpa kejujuran, janji tanpa menepati. Tak ada cinta, dan ia mengembara tanpa negeri. Iblis adalah pemimpinnya. Dan nafsu tidak memiliki kekuatan untuk memusuhi dan kontra di hadapan orang beriman yang benar-benar dekat pada Allah Azza wa-Jalla.
Bagaimana mungkin? Karenanya jangan menduga bila Iblis masuk syurga dan mampu mengeluarkan Adam as, dari syurga itu semata karena kekuatannya. Namun karena Allah Azza wa-Jalla memberikan kekuatan, dan menjadikannya sebagai sebab belaka, bukan sebagai asal akarnya.
Hai orang yang akalnya picik, jangan sampai kalian lari dari pintu Allah Azza wa-Jalla, hanya karena cobaan yang menimpamu. Karena Dia lebih Tahu apa yang baik bagimu. Allah tidak memberikan cobaan padamu melainkan demi faedah dan guna. Bila Allah memberikan cobaan padamu, maka refleksikan dirimu akan dosa-dosamu, perbanyak istighfar, taubat, dan memohon kesabaran dan kekokohan. Tetaplah di hadapanNya, dan bergelayutlah pada belas kasihNya, dan mohonlah agar diberi jalan keluar dari cobaan itu, serta penjelasan arah kebajikan di dalamnya.

Siapa, Dari Apa, Untuk Apa ?


Sungguh celaka kamu. Anda telah benar-benar mencampur antara cinta dunia dengan takabur. Dan dua karakter itu tidak akan membawa keberuntungan selama-lamanya, kecuali harus bertobat dari keduanya.
Cerdaslah anda ini. Siapa anda, dari apa anda dicipta, untuk apa pula anda diciptakan? Karena itu jangan sombong. Tidak ada orang yang sombong kecuali orang yang bodoh pada Allah Azza wa-Jalla, bodoh pada Rasulullah saw, pada orang-orang sholeh dari para hambaNya.
Hai orang yang picik akal, anda meraih keluhuran melalui kesombongan? Balikkan, anda pasti benar. Sungguh Nabi Saw, bersabda:
“Siapa yang rendah hati ia akan diangkat derajatnya oleh Allah Azza wa-Jalla, dan siapa yang sombong Allah Azza wa-Jalla akan merendahkannya.” (Hr Ahmad)
Siapa yang rela dengan akhirat ia menjadi yang utama. Siapa yang rela dengan sedikit ia akan meraih yang banyak. Siapa yang rela dengan raha hina di hadapanNya ia akan meraih kemuliaan.
Relalah dengan kekurangan, sampai masalahnya berbalik dalam hakmu dari kerendahan takdirmu, dan anda rela, maka Allah Azza wa-Jalla Sang Maha Kuasa mengangkat anda atas segalanya.
Tawadhu’ (rendah hati) dan adab yang bagus mendekatkan dirimu kepadaNya, sedangkan takabur dan su’ul adab (adab buruk) akan menjauhkan dirimu dari kepatuhan yang bisa memberbaiki dirimu dan mendekatkanmu padaNya, sedangkan maksiat merusak dirimu dan menjauhkanmu dari kepatuhan padaNya.
Anak-anak, jangan sampai mengikutkan agama pada buah tin. Jangan kau ikutkan agamamu dengan buah tin-nya para penguasa, para raja dan orang-orang kaya, serta pemakan harta haram. Bila anda makan dengan memanipulasi agamamu, hatimu bisa menghitam, karena anda telah menyembah makhluk.
Hai orang yang terhinakan, bila ada cahaya di hatimu, pasti engkau memisahkan antara mana yang haram, syubhat dan mubah. Memisahkan mana yang mencerahkan dan mana yang menggelapkan hatimu, mana yang mendekatkanmu dan mana yang menjauhkanmu.
Hai si bodoh, aku tidak kenal kecuali usaha dan tawakkal. Usaha adalah permulaan iman, dan ketika iman kuat langsung meraih dari Allah Azza wa-Jalla, setelah hilangnya perantara antara dirimu dengan DiriNya. Bila iman telah menguat anda mengambil dari Allah Azza wa-Jalla dari tangan makhluk melalui perintahNya.
Makna perantara dimaksud adalah keterpakuan hati pada apa yang ada di tangan makhluk, dan syirik atas apa yang diperintahkan Allah Azza wa-Jalla. Ia meraih dari mereka namun tidak peduli atas pujian mereka, tidak peduli cacian mereka, penerimaan atau penolakan mereka. Bila diberi, ia melihat adanya kinerjanya Allah Azza wa-Jalla pada mereka, begitu juga ketika ditolak.
Begitulah kaum Sufi senantiasa bisu, tuli, dan buta dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla. Tak ada di sisi mereka kecuali Allah Azza wa-Jalla yang menolong dan merendahkan mereka, Dialah yang memberi dan menghalangi mereka, Dialah yang menimpakan bahaya dan manfaat pada mereka. Isi tanpa kulit dan bening di atas kebeningan, kebaikan di atas kebaikan. Itulah yang keluar dari hati mereka untuk semua makhluk. Karena tidak ada yang tersisa melainkan Allah Azza wa-Jalla. Di dalam lubuk paling dalam hanya tersisa dzikir khafy padaNya, bukan yang lain. Ya Allah, berikanlah kami rizki pengetahuan bersamaMu.
Sungguh celaka anda, karena anda menyangka bahwa anda mampu merias dirimu, kalau saja bukan kepastian niscaya akan turun padamu hai munafik, dan engkau terhinakan. Kalian jangan mengkawatirkan dalam kepalamu, ketika bersamaku. Karena aku tidak malu kecuali karenaNya Azza wa-Jalla, dan kepala orang-orang shaleh.
Seorang hamba ketika mengenal (ma’rifat) kepada Allah Azza wa-Jalla, makhluk berguguran dari hatinya, dan rontok dari hatinya, seperti rontoknya daun-daun kering dari pohon. Lalu secara total hatinya tidak menyisakan makhluk. Dari sisi hati dan rahasia batinnya, buta dari melihat mereka, tuli dari mendengar mereka.
Bila nafsu tenteram, selamatlah dalam menjaga anggota badan, lalu hati bisa pergi menuju Al-Haq Azza wa-Jalla mencari yang dari sisiNya, lalu keluar ke dunia dan mengendalikan diri, menegakkan kebaikan di dunia.
Itulah kebiasaan Allah Azza wa-Jalla dan kinerjaNya bagi orang yang sedang mencariNya. Dunia datang di saat bertepatan dengan bagian yang ia dapatkan dalam rupa perempuan tua bangka beruban yang lunglai , dunia mengabdi padanya bukan, dan ia meraihnya tidak dengan kegembiraan, karena hatinya tidak di dunia dan tidak menoleh sedikit pun pada dunia.
Anak-anak sekalian, kosongkan hatimu demi Tuhanmu, sibukkan jasadmu dan nafsumu dengan serius mengurus keluarga, sehingga anda bekerja melalui perintahNya dan anda beraktivitas untuk mereka melalui tindakanNya. Diamlah di hadapan Allah Azza wa-Jalla. Tidak meminta padaNya disertai kesabaran dan kerelaan lebih utama ketimbang meminta dan dan terus menerus meminta. Hapuslah pengetahuanmu dengan memilih pengetahuanNya, tinggalkan rekayasa pengaturanmu dan memilih aturan dariNya. Putuskan hasratmu karena hasratNya. Lepaskanlah akalmu ketika ketentuan dan takdirnya tiba. Lakukan itu semua bila anda menguingkanNya sebagai Tuhan, sebagai Penolong dan sebagai Tempat berserah.
Seharusnya anda tenang di hadapanNya bila anda ingin wushul (sampai) padaNya. Orang beriman itu intuisi dan hasrat citanya manunggal, karena tak ada yang tersisa melainkan intusi Allah Azza wa-Jalla pada hatinya, sedang ia tetap bersimpuh di pintu kedekatan padaNya Azza wa-Jalla.
Apabila kamantapan ma’rifatnya padaNya kokoh, maka terbukalah pintu, ia akan berhasil, lalu ia melihat apa yang tak mampu untuk diungkapkan. Intuisi itu bagi qalbu, sedangkan isyarat adalah ucapan tersembunyi dari dalam rahasia qalbu (sirr) yang telah fana’ dari nafsu dan hawa nafsunya serta akhlaknya yang tercela, dan sirna dari seluruh makhluk dalam suasana kesejahteraan, kesehatan, kebaikan dan kenikmatan. Dialah Sang pembolak balik hati yang menggerakkan segalanya, seperti pada Ashhabul Kahfi, Allah Azza wa-Jalla berfirman:
“Dan Kami membolak-balik kearah kanan dan kiri.” (Al-Kahfi 18)
Anak-anak sekalian…Dengarkan ini semua, dan berimanlah dengan semua itu, jangan klau dustai, jangan pula kau halangi dirimu dari kebajikan yang dating dari berbagai arah.

20 SIFAT DIDALAM DIRI

Di ubun ubun meliputi sekalian jasad
20 SIFAT DIDALAM DIRI
1 WUJUD
Badan Insan SIFATKU mula jadi menanggung didalam dunia
2 KIDAM
RUH JASMANI kulitku mula jadi meliputi sekalian alam
3 BAQA’
RUHANI dagingku mula jadi menanggung RAHSIA didalam DIRI
4 MUKHALAFATUHU LIL HAWADITH
RUH NIBATI darahku mula menjadi meliputi Alam Sendiri
5 BINAFSIHI
RUH INSAN nafasku mula jadi berjalan ucapan didalam DIRI
6 WAHDANIAT
RUH RABBANI hatiku asal mula jadi TAHU didalam DIRI
7 KUDRAT
RUH QUDUS urat putihku yang tidak berdarah berjalan setiap dalam DIRI-ku
8 IRADAT
RUH KAHFI tulangku asal mula jadi menguatkan Alam Sendiri
9 ILMU
RUH IDHAFI benihku asal mula jadi YANG NYATA didalam CERMIN HAQ
10 HAYAT
RUH NURANI uratku yang meliputi didalam tubuh aku yang hidup alam sendiri.
11 SAMA’
BESI KURSANI pendengaranku asal semula jadi
12 BASAR
PANCARAN MA’NIKAM kalam aku berkata-kata dengan sendiri
13 KALAM
RUH MA’NIKAM menzahirkan perkataan didalam dunia
14 QADIRUN
WUJUD MA’NIKAM tali Ruhku KUNHI ZAT dengan Sifatku
15 MURIDUN
ILMU ALLAH badanku asal mula jadi KALIMAH didalam diriku
16 ALIMUN
DARJAT ALLAH kebesaranku asal mula jadi duduk didalam otak yang putih
17 HAIYUN
Amalan terlebih suci ialah amalan Kalimah Aku asal mula jadi alam diriku
18 SAMIUN
Bersama ZAT & SIFAT WAHDAH didalam Kalimah iman diriku
19 BASIRUN
RAHSIA NYAWA dengan BADANWAHIDAH bersamalah Zat dengan badan tidak bercerai dunia akhirat
20 MUTAKALLIMUN
Ghaib didalam Ka’bah Ghaib aku didalam Ka’bah Kaca Arasy yang putih titik didalam Kalimah.