Laman

Sabtu, 12 September 2015

Ikhlas Dalam Ramai Dalam Sunyi


Orang yang beriman adalah orang yang hijrah dari nafsunya, lalu berguru kepada seorang Syeikh yang bisa mendidiknya memberikan pengetahuan, dan terus belajar dari kecil hingga mati.
Kemudian terus membaca Al-Qur’an, kemudian mendalami Sunnah Rasulullah Saw, maka ia akan mendapatkan taufiq dari Allah Swt. Karena ia mengamalkan apa yang diketahui menuju kepada Allah azza wa-Jalla.
Sepanjang ia mengamalkan ilmunya, ia akan diberi ilmu oleh Allah yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Hatinya teguh dalam berpijak, dan ikhlas dalam melangkah menuju Allah azza wa-Jalla.
Bila anda mengamalkan ilmu anda, tetapi tidak membuat anda dekat pada Allah azza wa-Jalla, anda pun tidak menemukan indahnya ibadah dan kemseraan denganNya, ketahuilah bahwa anda sesungguhnya belum mengamalkannya, karena anda telah terhijab oleh cacat-cacat dalam amal anda. Apa cacat-cacat itu?
Riya’, kemunafikan dan keta’juban pada diri sendiri. Wahai orang yang beramal, ikhlaslah! Jika tidak, anda jangan berpayah-payah dalam Muroqobah pada Allah azza wa-Jalla ketika khalwat maupun ketika berada dalam keramaian. Karena orang munafiq malah senang pamer ketika dalam keramaian, dan orang yang ikhlas tidak peduli apakah dalam ramai atau dalam sunyi, sama saja.
Bila anda melihat orang yang sangat pesolek atau wanita pesolek, pejamkan mata nafsumu, hawa nafsumu dan nalurimu, lalu ingatlah pada pandangan Allah Azza wa-Jalla kepadamu, bacalah:
“Dan kamu tidak berada dalam suatu keadaan…” (Q.S. Yunus:61)
Waspadalah pada pandangan Allah azza wa-Jalla dan pejamkan kedua matamu dari memandang yang diharamkan. Ingatlah pada Dzat yang anda tidak bisa menhindari pandangan dan pengetahuanNya. Bila anda sudah tidak membantah dan kontra pada Allah azza wa-Jalla maka ubudiyah anda padaNya sempurna dan anda menjadi hamba yang benar-benar hambaNya, tergolong orang-orang yang disebutkan:
“Sesungguhnya hamba-hambaKu, kamu (Iblis) tidak bisa menguasai (menggodanya).” (Q.S. Al-Hijr:42)
Bila syukurmu benar-benar terwujud pada Allah azza wa-Jalla, Allah mengilhami makhluknya untuk berterimakasih padamu, menyayangimu, pada saat itulah tidak ada peluang lagi bagi syetan dan kroninya.
Anda jangan sampai meninggalkan berdoa sebagai prinsip, jangan sampai sibuk berdoa hanya untuk mencari dispensasi. Doa itu adalah ketenggelaman jiwa dan pembebasan bagi yang tertahan sampai mendapatkan jalan keluar dari tahanannya dan masuk dalam Sang Maha Diraja.
Jadikan akal sehat anda , bahwa meninggalkan doa itu tidak baik sama sekali. Namun anda berdoa, anda butuh niat dan akal sehat serta pengetahuan dan mengikuti jejak orang yang berpengetahuan. Anda tidak memikirkan apa yang datang dari Allah Azza wa-Jalla dan apa yang ada pada diri orang-orang yang shaleh, dan karena itulah prasangka anda buruk pada mereka. Janganlah anda berilusi dengan pangkal agama dan perilaku ruhanimu pada mereka, jangan sampai anda kontra dengan mereka dalam semua aktivitasnya sepanjang mereka tidak kontra dengan aturan syariat, karena mereka berada di sisi Allah azza wa-Jalla baik secara lahir maupun batin.
Hati mereka tidak akan tenang sebelum meraih keselamatan dari Allah azza wa-Jalla. Karena itu kemarilah wahai hamba Allah Azza wa-Jalla di muka bumi. Wahai ahli zuhud kalian mengetahui sesuatu tetapi kalian tidak meraih kebaikan. Masuklah kemari mempelajari kitabku, sampai anda saya ajari tentang suatu hal yang tak pernah anda temukan selama ini. Dalam hati ada kitab, dan dalam rahasia batin juga ada kitab, dalam nafsu kita juga ada kitab, serta dalam tubuh kita juga ada kitab, semuanya merupakan derajat-derajat dan maqom serta langkah-langkah yang berbilang.
Langkah pertama saja anda tidak benar, bagaimana anda melangkah ke tahap kedua? Islam anda saja tidak benar, bagaimana anda sampai pada iman? Iman anda pun tidak benar bagaimana anda bisa sampai pada Iiqon (yaqin)? Iiqon anda juga tidak benar bagaimana sampai kema’rifatan dan kewalian?
Berakal sehatlah anda, tapi anda tidak menggunakannya. Masing-masing anda ingin menjadi pemimpin, tetapi anda tidak memiliki pirantinya? Anda baru bisa jadi pemimpin jika anda sudah bisa zuhud dari dunia, zuhud dari nafsu, kesenangannya, watak dan hasratnya. Kepemimpinan itu turun dari langit bukan dari bumi. Kewalian itu datang dari Allah azza wa-Jalla bukan datang dari makhluk. Jadilah diri anda sebagai pengikut, bukan yang diikuti, dan jadilah kalian sebagai sahabat bukan yang disahabati. Bumikan dirimu dalam kehinaan dan kesembunyian.
Bila anda meraih sesuatu di hadapan Allah azza wa-Jalla berbeda dengan Dari harapanmu, maka pada saatnya Dia mendatangimu. Maka pasrahkanlah dirimu padaNya, tinggalkan merasa bisa atas upayamu, kekuatanmu, kontramu dan sahabatmu dan nafsumu.
Bersahabatlah dengan ubiyah-mu, yaitu melaksanakan smeua perintah dan menjauhi laranganNya, serta bersabar atas bencana-bencana.
Dasar perkara seperti itu adalah tauhid dan kekokohannya, dan asasnya adalah amal yang sholeh. Namun, betapa tidak kokohnya bangunan anda, niat anda saja tidak benar bagaimana anda bicara? Sedangkan diammu pun juga tidak benar, bagaimana bicaramu benar pada orang lain, sebagai pengganti para Rasul? Karena para Rasul adalah para penceramah, ketika para Rasul wafat maka Allah azza wa-Jalla menetapkan para Ulama yang mengamalkan ilmunya, dan mereka dijadikan sebagai pewarisnya.
Siapa yang ingin berada di maqom sebagai pengganti Rasul harus menjadi manusia paling suci di zamannya, yang paling mengenal aturan dan ilmunya Allah azza wa-Jalla.
Namun mereka menganggap masalah ini sepele, hai orang-orang bodoh terhadap Allah azza wa-Jalla dan rasulNya, wali-waliNya yang shaleh dari para hambaNya!
Wahai orang yang bodoh pada dirinya, pada watak, dunia dan akhiratnya, celakalah kalian ini! Diamlah kalian ini sampai datangnya orang yang ilmunya mengalahkan nafsunya, berbicara dan menghidupkan jiwa kalian, menegakkan dan membangkitkan kalian.
Itulah ilmu yang bermanfaat. Bagaimana tidak demikian, karena ia telah menutup pintu makhluk dan membuka Pintu Allah azza wa-Jalla, yaitu Pintu Agung. Jika penutupan pintu dan pembukaan pintu ini benar pada seorang hamba, maka ia akan kehilangan dukungan manusia, namun ia akan khalwat, lalu datanglah pakaian dalam hatinya, datang pula kunci-kunci yang mampu menyingkap kulit-kulit dan yang ada adalah isi.
Pintu hawa nafsu tertutup, lalu ia menang dalam pergumulan jiwa, lalu terbukalah jalan menuju Allah azza wa-Jalla, lalu muncullah ketekunan atas hasratnya yang selaras dengan ketekunan pendahulu-pendahulunya dari para Nabi dan Rasul Saw, serta para WaliNya. Ketekunan itu tidak lain adalah ketekunan bersih tanpa kotoran, ketekunan tauhid tanpa syirik, ketekunan pasrah total tanpa kontra padaNya, ketekunan jujur tanpa dusta, ketekunan pada Allah azza wa-Jalla, bukan pada makhluk, ketekunan pada Sang Penyebab, bukan pada akibat.
Ketekunan-ketekunan inilah yang digapai oleh para pemimpin agama, raja-raja ma’rifat, yang disebut sebagai Rjalul Haq Azza wa-Jalla, para kaum terpilihNya, parakekasihNya, yang senantiasa sebagai pembela agamaNya dan mereka adalah pecinta agamaNya.
Celakalah kalian, bagaimana anda mengklaim mengikuti thariqah kaum sufi sedangkan anda musyrik dengan lainNya? Anda ini tidak punya iman, sedangkan di muka bumi ini masih ada yang anda takuti dan anda harapkan. Anda tidak bisa zuhud di dunia selama di dunia masih ada yang kau harapkan. Anda tidak bertauhid selama anda masih memandang yang lainNya dalam perjalananmu menuju kepada Allah azza wa-Jalla.
Orang yang ‘arif senantiasa asing di dunia dan akhirat dan zuhud dari dunia dan akhirat, serta zuhud dari segala hal selain Allah azza wa-Jalla secara total, karena tak ada yang kesenangan sedikit pun selain padaNya.
Hai kaumku… Dengarkan sesuatu dariku, jangan sampai ada prasangka buruk dalam hatimu. Bagaimana tidak, kalian berprasangka dan menggunjingku, padahal aku sangat sayang pada kalian, aku memikul beban kalian, menjahit amal-amal kalian yang compang camping dan memohonkan syafa’at untuk kalian pada Allah azza wa-Jalla, memohonkan ampunan dosa-dosa kalian?
Siapa yang kenal aku, ia tidak akan berpaling dariku sampai mati, kesenangan dan kenikmatan, makan dan minumnya serta pakaiannya pun, tidak ada yang mengalahkan kesenangannya bersamaku.
Anak-anak sekalian… Bagaimana kalian tidak mencintaiku, akulah yang sangat berkehendak untuk kebahagiaanmu, bukan untuk kepentinganku! Aku ingin kemanfaatan ada dalam hidupmu, kebersihan dirimu dari kekuasaan dunia yang mematikan dan penuh tipudaya itu, sampai kapan terus mengikuti jejak dunia? Sebentar lagi dunia berpaling dari kalian dan membnuh kalian. Sedangkan Allah azza wa-Jalla tidak membiarkan kekasihNya bersama dunia bahkan tak sejenak pun. Dia tidak menginginkan kekasihNya merasa aman dengan dunia, tidak membiarkan bersama dunia dan yang lainnya.
Justru Dialah bersama mereka dan mereka bersamaNya. Selamanya hati mereka hanya untukNya, berdzikir di sisiNya, hadir. Sedangkan pada yang lainNya, ia menolak hanya kepadaNya ia menghadap.

Lepaskan Dari Belenggu Dunia


Hai orang bodoh! Tinggalkan catatanmu, kemarilah dan duduk patuh di depanku.
Ilmu itu muncul dari bibir para Tokoh-tokoh Ilahi, bukan dari catatan buku, diraih dari sumber ruhani bukan dari wacana, diambil dari mereka yang fana’ dari dirinya dan dari makhluk, Baqo’ bersama Allah Azza wa-Jalla.
Lingkaran hakikat itu tergantung fana’ anda dari diri anda dan makhluk lainnya, kemudian berada pada wujud anda bersama-Nya. Matilah dari yang lain-Nya, lalu hiduplah bersama-Nya dan bagi-Nya.
Bergaullah dengan para pelayan Allah Azza wa-Jalla, mereka yang terus menerus di pintu-Nya. Kesibukan mereka hanyalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, berserasi dengan takdir-Nya, senantiasa beraktivitas bersama kehendak-Nya dan tindakan-Nya atas mereka.
Mereka tidak pernah kontra atas kehendak-Nya pada mereka begitu pula pada yang lain. Mereka tidak menentang apa yang didapatkan dari-Nya baik sedikit maupun banyak, baik bernilai tinggi maupun rendah.
Karena janganlah anda sibuk berorientasi pada tujuan nafsu anda ketika anda sedang sibuk dengan Allah azza wa-Jalla.
Para wali-wali Allah Azza wa-Jalla senantiasa bertugas memotivasi makhluk lain namun sama sekali tidak punya kepentingan dengan mereka, namun semata karena Ilham Allah pada mereka sebagai wujud rahmat bagi makhluk, sama sekali tidak punya keinginan menuntut balas dari makhluk untuk dirinya. Karena dirinya tenteram bersama-Nya, tak tersisa nafsu kesenangan dan hasrat yang berkaitan dengan dunia.
Anda menyangka dirinya seperti diri anda yang bodoh yang telah anda habiskan untuk berbakti pada dunia, memenuhi seleranya dan kesenangannya. Kalau saja akal anda sehat, pasti anda akan berpaling dari dunia, dan anda lebih sibuk dengan aktivitas Sang Pencipta dunia.
Yang benar anda diam atas jawaban-jawaban atau ajakan dunia dan anda merobohkan ucapan-ucapan dunia yang menghalangi anda. Dengarkan saja dunia itu seperti anda mendengarkan ocehan orang gila yang hilang akalnya. Jangan peduli dengan ucapannya dan ambisinya memburu kesenangan, kenikmatan dan kesantaian. Kehancuranmu dan hancurnya dunia karena anda menerima permintaan-permintaannya. Sedangkan kebaikan dirimu dan dunia, terletak pada kontramu pada dunia.
Nafsu itu apabila bisa patuh kepada Allah Azza wa-Jalla, rizkinya akan didatangkan dari berbagai penjuru. Bila ia maksiat dan ingkar, maka putuslah faktor-faktor rizkinya lalu ia terbebani oleh penderitaan, hingga ia bangkrut dunia akhirat.
Orang yang taat dan patuh pada Allah Azza wa-Jalla, senantiasa akan dilayani, kemana pun ia berada senantiasa menemukan bagian dari ridho kepada-Nya dan ia melaksanakan kewajiban tanpa beban sedikit pun, dengan senang hati tanpa terpaksa. Karena itu kosongkan hati dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla, sedangkan fisik tenang jauh dari sibuk berburu dunia dan laba keuntungannya.
Hai orang yang dilimpahi nikmat, bersyukurlah atas nikmat-Nya, jika tidak nikmat akan hilang dari tanganmu. Ikatlah sayap nikmat dengan syukur, bila tidak, ia akan terbang darimu. Orang mati adalah orang yang mati pada Tuhannya Azza wa-Jalla walau ia hidup di dunia.
Waspadalah, bagaimana memanfaatkan hidupnya, pada saat yang sama yang terbelenggu oleh kesangannya, kenikmatannya dan kemewahan dunia. Itulah yang disebut mati maknawi, bukan mati rupa.
“Ya Allah hidupkanlah kami bersamamu, dan matikan kami dari selain Diri-Mu.”
Wahai si tua dalam usia, namun kanak-kanak dalam watak. Sampai kapankah anda melawan watak naluri duniawimu, yang anda jadikan sebagai cita-citamu? Ketahuilah hasrat citamu itu adalah apa yang engkau hasratkan. Dan anda adalah budak bagi yang mengendalikan anda, jika kendali itu ada di tangan dunia, maka anda adalah budak dunia.
Jika anda terkendali oleh akhirat, anda adalah budak akhirat. Dan bila kendalimu di Tangan Allah Azza wa-Jalla, maka andalah hamba Allah Azza wa-Jalla. Begitu pula jika anda dikendalikan nafsu anda maka anda adalah budak nafsumu. Jika yang mengendalikan adalah hawa senangmu maka engkau budak hawa nafsumu, bila kendali itu ada di tangan makhluk maka engkaulah budak makhluk. Lihatlah kendali mana yang paling mendominasi.
Pasti mayoritas pengendali itu adalah berhasrat dunia dan minoritasnya adalah pengendali akhirat. Yang langka adalah yang berhasrat pada Tuhannya dunia dan akhirat.Pada yang terakhir inilah anda berguru dengan adab terbaik, jangan kontra dan menentangnya, anda akan rugi besar. Jangan sampai su’ul adab pada mereka, yang membuat anda malah hancur.
Jadilah anda orang yang berakal sehat. Tapi anda malah menentang Allah Azza wa-Jalla dengan amal-amal anda. Jangan kau samakan posisi anda dengan sayap nyamuk di sisi-Nya, melainkan anda harus benar-benar ikhlas dalam kesendirian dan seluruh kondisimu. Karena kekayaan yang tak pernah sirna adalah benar dan jujur serta ikhlas dan takut kepada Allah azza wa-Jalla, berharap pada-Nya dan kembali pada-Nya dalam segala situasi dan kondisi.
Tetaplah beriman, maka Dia akan menemuimu. Bila anda bertemu dengan salah seorang dari kalangan mereka ini, rendahkanlah dirimu dan pasrahkan dirimu padanya, jangan sampai anda kontra padanya. Diamlah dan jangan sampai anda su’ul adab dengan mereka. Diam atas apa yang anda tidak mengerti. Karena mengetahui dan pasrah diri atas apa yang anda tidak mengerti adalah Islam itu sendiri.
Hai orang yang lemah rasa yaqinnya. Dunia dan akhirat tidak anda raih, karena anda telah su’ul adab pada Allah Azza-wa-Jalla, dan sangkaan burukmu pada para wali Allah Azza wa-Jalla, para abdal Nabi-nabiNya yang telah diposisikan oleh Allah Azza wa-Jalla pada maqomnya. Mereka membawa benang amanah yang dibawa oleh para Nabi as, dan para shiddiqun. Allah menyerahkan kepada mereka, amal dan ilmunya para Nabi.
Mereka telah difanakan dari nafsunya, kesenangannya dan memadukan mereka pada-Nya dan memposisikan mereka di hadapan-Nya. Mereka telah menyucikan hatinya dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla, sedangkan dunia, akhirat dan makhluk ada di tangan mereka.
Allah memperlihatkan kekuasaanya dan mengajari mereka hikmah-hikmah-Nya dan mengajari mereka potensi kekuatan untuk mereka. Maka benarlah ucapan:
“Tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah Yang Maha Luhur nan Agung.”
Mereka membernarkan dengan jiwa atas ucapan ini, lalu daya dan kekuatan mereka dan kekuatan makhluk fana’. Mereka berpegang teguh pada Kekuatan Allah Azza wa-Jalla. Maka Mu’adz bin Jaba ra, berkata, “Ya Allah bila Engkau tidak bertindak padaku sebagaimana aku kehendaki, maka sabarkanlah diriku atas apa yang Engkau kehendaki.”
Anak-anak sekalian… Ridho terhadap ketentuan Allah Azza wa-Jalla lebih baik dibanding meraih dunia dengan penuh konflik. Karena manisnya ridho dalam hati para Shiddiqun lebih manis dibanding kenikmatan dunia dan kesenangan syahwatnya. Sebab dengan ridho kehidupan menjadi baik.
Kesimpulannya, dalam semua kondisi dengan berbagai ragam jenis, bicaralah pada manusia dengan bahasa ilmu dan amal serta keikhlasan. Jangan bicara dengan bahasa ilmu tanpa amal, karena itu pasti tidak memberi manfaat pada anda dan tidak berguna bagi diri anda sendiri.
Rasulullah Saw, bersabda: “Ilmu itu membisik bersama amal, jika ilmu bersama amal maka ia meresponnya, tetapi jika tidak, ia akan meninggalkannya.”

Kapankah Nafsumu Puas?


Berserasilah dengan Allah Azza wa-Jalla dalam soal makhluk, dan jangan berserasi dengan makhluk dalam urusan Allah Azza wa-Jalla. Hancurlah yang hancur
dan kembalilah yang kembali.
Dikisahkan oleh Abdullah bin al-Mubarak ra, bahwa suatu hari ada seseorang datang kepadanya meminta sesuap makanan, dan di rumahnya kebetulan tinggal ada sepuluh biji telur. Lalu ia menyuruh pelayan perempuan untuk memberikan sepuluh telur itu, lalu pelayan itu memberinya sembilan telur disisakan satu.
Ketika maghrib tiba, tiba-tiba ada lelaki datang mengetuk pintunya, lalu orang itu berkata, “Ambillah keranjang ini”. Lantas Abdullah ra mengeluarkan apa yang ada di keranjang itu, ternyata isinya telur. Kemudian ia menghitungnya, ternyata jumlahnya sembilan telur. Ia bertanya pada pelayan perempuannya, “Mana telur yang lain? Berapa jumlah telur yang kamu berikan tadi?”.
“Sembilan, saya sisakan satu, agar kita bisa berbuka dengan satu telur itu “jawab pelayan itu.
“Utang yang harus kita bayar itu sepuluh…” kata Abdullah.
Itulah kehidupan dan amaliyahnya pada Tuhannya Azza wa-Jalla. Mereka beriman dan membenarkan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka tak pernah kontra dengan sumber utama itu dalam gerak-gerik kehidupannya, keluar maupun masuknya harta semata untuk amal kepada Allah Azza wa-Jalla, karena mereka sangat beruntung dan amaliahnya dan sangat disiplin. Mereka melihat pintuNya terbuka, dan melihat makhlukNya tertutup, mereka menghindari pintu itu. Mereka berserasi dengan Allah azza
wa-Jalla untuk makhlukNya, namun tidak berserasi kepada makhluk untuk menuju Allah Azza wa-Jalla. Mereka juga berselaras dengan Allah Azza wa-Jalla dalam hal amarahNya bagi orang yang mendapatkan amarah, dan berserasi dalam CintaNya bagi orang yang dicintaiNya.
Karena itu diantara mereka berkata, “Berserasilah dengan Allah Azza wa-Jalla dalam soal makhluk, dan jangan berserasi dengan makhluk dalam urusan Allah Azza wa-Jalla. Hancurlah yang hancur dan kembalilah yang kembali. Kaum sufi senantiasa
di sisi Allah Azza wa-Jalla, memohon pertolongan padaNya untuk diri mereka dan yang lain. Mereka tidak mempan dengan cacian si pencaci, dan tidak takut pada siapa pun dalam menegakkan aturan dan syariatNya.”
Anak-anak sekalian, tinggalkan stressmu, dimana anda tenggelam di dalamnya. Dan ikutilah jejak kaum sufi dalam ucapan maupun tindakan. Jangan sampai anda mencari wushul sebagaimana ungkapannya para pendusta yang mengaku-aku telah sampai (wushul) kepada Allah Azza wa-Jalla. Bersabarlah dengan cobaan sebagaimana mereka bersabar, hingga anda meraih wushul sebagaimana mereka raih.
Kalau bukan karena cobaan, niscaya manusia menjadi hamba yang zuhud semua, tetapi datanglah cobaan pada mereka, namun mereka tidak sabar menghadapinya, sehingga mereka terhijab dari pintu Tuhannya Azza wa-Jalla.
Siapa yang tidak sabar, ia tidak meraih anugerah. Bila ridho dan sabar hilang darimu, akan menjadi faktor penyebab yang membuat dirimu keluar dari ubudiyahmu kepada Allah Azza wa-Jalla, sebagaimana firmanNya dalam hadits Qudsi: “
Siapa yang tidak rela pada ketentuanKu, dan tidak sabar pada ujianKu, maka hendaknya ia mencari Tuhan selain Aku.” (Hr. Ibnu Asakir)
Terimalah dariNya, bukan dari yang lainNya. Sang Penentu itu ada bagimu dan memberikan ujianmu. Wujudkan Islam kalian secara hakiki hingga meraih iman.
Dan berimanlah secara hakiki hingga kalian meraih Iqon (rasa yaqin), maka saat itulah kalian melihat apa yang belum pernah kalian lihat dari sisi raya yaqin.
Segalanya tampak bagimu seperti rupa yang sesungguhnya, dan informasi menjadi jelas, karena benar-benar qalbu berserah diri pada Al-Haq Azza wa-Jalla, karena segalanya menampakkan diri dariNya.
Apabila qalbu mandiri di hadapan Allah Azza wa-Jalla, anda keluar menuju kepadaNya dengan tangan kemuliaan, sehingga anda menjadi mulia karenaNya.
Maka jadilah diri anda sangat dermawan, memprioritaskan yang lain dibanding diri anda, dan sedikit pun anda bukan orang bakhil.
Qalbu yang benar adalah qalbu yang bagus dan mulia hanya bagi Allah Azza wa-Jalla. Sedangkan batinnya telah bersih dari kotoran adalah mulia, dan bagaimana keduanya tidak pernah terwujud padahal Allah Yang Maha Mulialah yang menganugerahkan padanya?
Wahai kaum Sufi, hendaklah anda ini dermawan dan lebih mementingkan orang lain demi taat kepada Allah azza wa-Jalla. Bukan untuk maksiat. Karena setiap harta yang didistribusikan untuk maksiat, sama saja membiarkan terhapus ibadahnya.
Disiplinlah dalam bekerja disertai disiplin taat hingga anda merasakan kedekatan dari Allah Azza wa-Jalla, hingga seluruh problemamu kau hadapkan padaNya, besertanya, bukan beserta lainnya.
Dengan begitu makananmu benar-benar dari kiprah anugerah dan kemurahanNya, hanya saja anda tidak tahu dan tidak mengerti.
Nafsu itu menjadi hijab mereka, manakala nafsu telah hilang dari pusatnya maka hilanglah hijab itu. Disinilah Abu yazid al-Bisthamy ra, mengatakan, “Aku bermimpi melihat Tuhanku, dan aku bertanya, bagaimana jalan menuju kepadaMu wahai Sang Pencipta? Lalu Allah Azza wa-Jalla menjawab, “Tinggalkan nafsumu dan kemarilah!”.
Lalu aku meninggalkan nafsu itu seperti biji meninggalkan kulitnya. Karena Allah swt, memperjelas terhadap nafsu, bukan lainnya, dan Dia memerintahkan untuk meninggalkan nafsu. Karena dunia dan semuanya selain Allah Azza wa-Jalla mengikuti nafsu. Dunia dan akhirat dengan segala kesenangannya juga mengikuti nafsu. Allah swt. Berfirman:
“Dan di dalam syurga itu apa yang yang disenangi oleh nafsu-nafsu dan menyenangkan mata.” (Az-Zukhruf 71).
Kaum Sufi itu ketika siang hari mereka melakukan kebajikan untuk makhluk dan keluarganya, sedangkan di malam hari, mereka hanya untuk khidmah kepada Tuhannya Azza wa-Jalla dan khalwat denganNya.
Para raja saja, di siang hari mereka bercengkerama dengan anak-anaknya, binatang buruan dan menyelesaikan kebutuhan rakyatnya. Ketika malam hari mereka melakukan pertemuan dengan para menterinya dan pengawal terpilihnya.
Dengarkan! Semoga Allah swt merahmatimu apa yang aku ucapkan, dengarkan dengan telinga hatimu, camkanlah dan kerjakanlah bersama Allah Azza wa-Jalla. Seseorang seharusnya tidak bicara kecuali bersama Allah swt, dan dari Allah swt. Ia tidak bicara kecuali dengan jalan Allah Azza wa-Jalla yang paling bersih. Anda tidak bisa diterima jika mengatakan kepadaku, “Betapa bagusnya kamu.” Tetapi katakanlah kepadaku dengan ucapan hatimu, maka anda jadi bagus.
Amalkan atas apa yang ku ucapkan padamu, ikhlaslah dalam mengamalkan itu, sampai ketika aku melihat semua itu darimu, aku katakan padamu, “Kalian memang bagus.”.
Sampai kapan anda puas dengan nafsumu, duniamu, akhiratmu, makhluk dan segala hal selain Allah Azza wa-Jalla secara total? Makhluk itu hijab nafsumu, dan nafsumu adalah hijab hatimu, dan hatimu adalah hijab bagi rahasia batinmu.
Sepanjang anda bersama makhluk, maka anda tidak bisa melihat nafsumu. Namun jika anda meninggalkan makhluk anda akan melihat nafsu anda, betapa nafsu itu sangat memusuhi Tuhanmu Azza wa-Jalla dan musuh bagi kebahagiaan sejatimu.
Karena itu perangilah nafsu itu secara terus menerus sampai ia tenang di hadapan Tuhannya Azza wa-Jalla, tenang dan tenteram pada janjiNya, dan takut akan ancamanNya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Nya.
Disanalah anda berserasi dengan takdir Allah Azza wa-Jalla.
Maka disitulah hijab sirna dari qalbu. Rahasia batinmu akan melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya, dimana Qalbu dan rahasia Qalbu mengenal Tuhannya Azza wa-Jalla,
bergegas menuju kepadaNya, sama sekali tidak terpaku pada sesuatu selain Dia Azza wa-Jalla.
Sang arif itu tidak pernah berhenti pada sesuatu pun selain Allah Azza wa-Jalla Sang Pencipta segala sesuatu itu sendiri.
Si arif tidak tidur untukNya, tidak lelah bagiNya, tidak ada batasan bagiNya, kepada Allah Azza wa-Jalla.
Sang pecinta tiada maujud dirinya, karena ia berada di lembah Takdir dan Pengetahuan bersama Allah Azza wa-Jalla.
Gelombang lautan ilmu menanjakkan ketinggiannya, hingga melepaskannya ke angkasa menuju bintang-bintang.
Ia sendiri sirna, tiada, tak terfahami logika. Ia bisu dan tuli, kecuali hanya mendengar Allah Azza wa-Jalla, tidak melihat lainNya. Ia mati di hadapan Allah azza wa-Jalla, dan bila Allah Azza wa-Jalla menghendakinya, Dia menghidupkannya, dan apabila Allah azza wa-Jalla berkehendak, Dia menampakkannya.
Selamanya, ia berada dalam kemah-kemah taqarrub pada Allah Azza wa-Jalla. Bila datang kesempatan hukuman mereka siap melaksanakan. Jika ada kesempuatan keluar, mereka berada di depan gerbang melaksanakan eksekusi terhadap makhluk, sebagai perantara antara makhluk dengan Allah Azza wa-Jalla. Itulah situasi kondisi mereka, namun kondisi ruhani mereka itu ada yang dirahasiakan.
Wahai kaumku, hati-hati! Kalian sedang bingung, karena kalian berada di simpang zaman yang sia-sia. Sabarlah bersama Allah Azza wa-Jalla, maka kalian bisa melihat apa yang ada di dunia dan di akhirat.
Bila kalian ingin mewujudkan Islam, kalian harus Istislam (pasrah total). Bila anda ingin meraih taqarrub dari Allah Azza wa-Jalla, seharusnya anda menyerahkan diri anda di hadapanNya, takdir dan tindakanNya, tanpa harus bertanya, “Kenapa? Bagaimana?”.
Dengan cara begitu anda bisa bertaqarrub. Jangan sekali-kali punya kemauan, karena punya kamuan di hadapanNya itu tidak benar. Allah Azza wa-Jalla berfirman: “Dan mereka tidak bisa berkehendak kecuali Allah menghendakinya.” (Al-Insaan: 30)
Bila apa yang anda inginkan tidak tercapai, maka jangan lagi berhasrat lebih. Jangan sampai engkau tentang Allah Ta’ala, dalam hal tindakanNya. Bila Allah menguji harga dirimu, hartamu, kesehatanmu, anakmu dan dan hancurnya dirimu, maka tersenyumlah dalam menghadapi takdirNya, kehendakNya dan perubahanNya. Tetaplah begitu bila anda ingin dekat denganNya, jika anda ingin bersih jiwamu bersamaNya. Bila anda ingin hatimu sampai padaNya, sedangkan anda di dunia, maka rahasiakanlah deritamu dan tampakkanlah kegembiraanmu, dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik. Rasulullah saw, bersabda:
“Roman gembira orang beriman itu di wajahnya, sedangkan susahnya tersimpan di hatinya.”
Jangan sampai anda mengadu pada seseorang, karena jika anda mengadu pada Allah Azza wa-Jalla, namun juga mengadu pada sesama makhluk, dirimu gugur di hadapanNya, sehingga masalah anda tidak hilang.
Jangan kagum pula pada amal perbuatan anda, karena kagum itu merusak amal ibadah anda. Namun siapa yang memandang pertolongan Allah Azza wa-Jalla (dibalik amal ibadahnya), seluruh ketakjuban amal akan sirna. Jadikan tujuanmu itu adalah Dia, karena Dialah yang menjadikan rahmat bagimu, menyiapkan faktor-faktor penyebab sampainya dirimu padaNya.
Bagaimana anda bisa menjadikan tujuanmu padaNya sedangkan anda dusta dalam ucapan maupun tindakan? Orang yang mencari pujian dari sesama, pada saat yang sama juga takut akan caciannya.
Semua yang datang dari Allah Azza wa-Jalla benar. Kaum sufi semuanya benar tanpa dusta. Benar tapi tidak ditampakkan.
Perbuatan mereka lebih banyak dibanding ucapannya, karena mereka adalah wakil Allah Azza wa-Jalla bagi makhluk, khalifahNya, bentengNya di muka bumi, merekalah yang begitu spesial di hadapanNya.
Tapi kamu wahai munafiq! Kamu bukan mereka! Jangan kamu campur aduk kemunafikanmu dengan mereka, pasti tidak akan pernah bisa, baik dalam angan-angan, ungkapan maupun perkataan.
“Ya Allah jadikanlah kami tergolong orang-orang yang jujur dan benar, Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Janganlah kamu merasa mendapatkan kondisi ruhani mereka dengan hanya formalitas belaka atau berpakaian dengan gaya pakaian mereka, berbicara dengan wacana mereka, semua itu tidak ada gunanya manakala kamu masih kontra dengan perbuatan mereka. Kamu kotor tanpa kebersihan akhlak jiwa dan tanpa Sang Khaliq azza wa-Jalla.
Kalian ini dunia tanpa akhirat, batil tanpa kebenaran, lahir tanpa batin, ucapan tanpa tindakan, tindakan tanpa keikhlasan, keikhlasan tanpa keserasian dengan Allah azza wa-Jalla.
Sesungguhnya Allah Azza wa-Jalla tidak menerima ucapan tanpa amal, amal tanpa ikhlas, ikhlas tanpa selaras dengan Kitab dan sunnah NabiNya – semoga sholawat salam baginya –, dan itu semua adalah klaim tanpa bukti, hingga wajar kalau Dia tidak menerimamu.
Bisa saja anda diterima oleh sesame dengan kedustaan anda, tetapi anda akan ditolak oleh Allah Azza wa-Jalla, karena Dialah Yang Maha Mengetahui apa yang ada di hati anda.
Jangan pamer! Karena Sang Maha Waspada terus memandangmu. Allah Azza
wa-Jalla memandang hatimu bukan memandang rupamu.
Dia memandang apa yang ada dibalik baju, dibalik kulit dan tulang belulangmu, Dia memandang kesendirianmu, bukan memandang popularitasmu.
Apa anda tidak malu ketika anda menjadi sorotan makhluk, anda berias. Sedangkan ketika menjadi pandangan Allah azza wa-Jalla anda malah najis?
Bila ingin beruntung taubatlah dari dosa-dosamu, bersihkan taubatmu. Taubat dari kemusyrikan dengan makhluk, dan jangan beramal kecuali hanya demi Allah azza wa-Jalla.
Sebab aku melihat kamu semuanya salah! Karena kamu bersama hawa nafsumu, bersama dunia dan syahwatmu, dan kenikmatan yang menyeret dirimu hingga membuatmu terkena murka.
Engkau rela dengan sesuap makanan demi memuaskan nafsumu, dan engkau bisa marah gara-gara nafsu pula.
Kendali nafsumu telah memperbudakmu, lalu manakah posisimu diantara hamba-hamba Allah Azza wa-Jalla, dimana mereka mewujudkan ubudiyah dan rela pada tindakanNya?
Walau mereka tertimpa derita, tetapi mereka tetap kokoh bagai gunung yang tinggi, dan mereka tetap memandangnya dengan mata kesabaran, mata keserasian denganNya.
Mereka biarkan fisik mereka untuk cobaanNya, tetapi mereka melemparkan hatinya kepada Allah Azza wa-Jalla. Mereka senantiasa sunyi, mereka adalah sangkar tanpa burung. Ruh mereka di sisiNya, jasad mereka di hadapanNya.
Wahai orang-orang yang kontra Tuhannya Azza wa-Jalla, wahai orang yang yang gentar padaNya, kemarilah, hingga aku perbaiki dirimu denganNya, aku akan bermohon kepadaNya agar kalian diterima, dan kalian aman. Aku akan tundukkan kalian di hadapanNya, hingga kalian melaksanakan perintah dan kewajibanNya.
Ya Allah, kembalikan kami padaMu, tempatkanlah kami di pintuMu, jadikanlah kami bagiMu, dalam DiriMu dan besertaMu. Ridhoilah kami untuk bakti padaMu. Semua cobaan dan anugerah hanya bagiMu, maka sucikanlah batin kami dari selain DiriMu. Janganlah Engkau biarkan kami ketika Engkau melarang kami, dan janganlah Engkau tinggalkan kami ketika Engkau memerintahkan kami. Janganlah Engkau jadikan lahiriyah kami maksiat kepadaMu, dan batin kami musyrik padaMu.
Raihlah jiwa-jiwa kami hanya bagiMu. Jadikanlah kami semua merasa cukup kepadaMu dibanding berpaling pada selain DiriMu. Ingatkanlah kami dari alpa padaMu. Kehendakilah kami untuk taat padaMu dan munajat padaMu .
Jadikanlah kenikmatan qalbu dan rahasia qalbu kami dengan mendekat padaMu. Pisahkanlah kami dengan maksiat seperti engkau pisahkan antara langit dan bumi. Dekatkanlah taat padaMu sebagaimana Engkau dekatkan antara hitam dan putihnya mata kami. Pisahkanlah kami dengan hal-hal yang engkau benci, sebagaimana Engkau pisahkan antara Yusuf dan Zulaikha untuk maksiat padaMu.

Allah mencintaimu, bukan untuk DiriNya


MEREKA menyerupai para malaikat, dan para malaikat itu adalah ulama-ulama mereka, melayani mereka dalam menjalankan tugas-tugas dunia akhirat.
Wahai kaumku, bila ucapanku tidak sampai merubah perilakumu, maka dengarkanlah dengan penuh pembenaran dan keimanan dalam hatimu dan batinmu, maka perilaku lahiriyahmu dan batinmu akan terhembusi olehnya, dan duri dalam nafsumu akan hancur karenanya, neraka syahwatmu akan padam karenanya. Kesenangan terburukmu adalah rangsangan duniawimu, dan matamu yang terpejam dari kefakiran, lalu semua itu menghancurkanmu.
Seorang Sufi mengatakan — semoga rahmat Allah Ta’ala melimpah padanya, “Hakikat taqwa manakala apa yang ada dihatimu engkau kumpulkan, lalu engkau biarkan di tempat terbuka, dan anda membawanya keliling pasar, maka anda pun tidak sama sekali malu dengan kondisi hatimu itu.”
Hai orang bodoh, bagaimana cukup taqwa anda, bahkan ketika dikatakan pada diri anda, “Hai takwalah…!”, malah anda marah. Ketika dikatakan pada anda bahwa anda benar, maka anda baru mendengarkan dan anda merasa lebih mulia. Namun jika dikatakan anda salah, anda berkeras kepala kepadanya, anda memaksa orang itu menghilangkan marah anda.
Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab ra, “Orang yang bertaqwa kepada Allah Swt tidak akan hilang marahnya.” Allah Swt, berfirman dalam hadits Qudsi, “Aku mencintai kalian ketika kalian taat kepadaKu, maka ketika kalian maksiat kepadaKu, Aku marah pada kalian.”
Allah Azza wa-Jalla mencintai kalian, bukan karena butuh kalian, tetapi karena kasih sayangNya pada kalian. Dia mencintai kalian, bukan untuk DiriNya. Dia mencintai ketaatanmu padaNya, karena manfaatnya kembali padamu sendiri. Anda harus aktif dan menghadap Dzat Yang mencintaimu, demi untukmu, dan berpaling dari orang yang mencintaimu demi kepentingan orang itu.
Orang beriman itu lupa segalanya dan mengingat Tuhannya Azza wa-Jalla, sehingga berhasillah taqarrub kepadaNya, dan hidup denganNya, besertaNya, lalu tawakkalnya benar.
Cukuplah di dunia dan akhirat bila tawakkalnya orang beriman, tauhidnya benar, Allah Azza wa-Jalla memberikan amal kepadanya sebagaimana dianugerahkan kepada Nabi Ibrahim as, memberinya makna dan hakikatnya, bukan panggilan namanya. Allah memberikan makanan dan memberinya minuman dan menempatkan di bilik RumahNya, bukan berarti Allah Azza wa-Jalla memberinya pada wujud tempatnya.
Bila dalam posisi ini, benarlah mengaitkan dengan Nabi Ibrahim as, dari segi maknawinya, bukan dari segi rupa bentuk.
Apa anda tidak malu, ketika anda berhasrat demikian, namun anda mengabdi kegelapan dan memakan makanan haram. Sampai kapan anda makan seperti itu, dan mengabdi pada penguasa? Padahal dalam waktu dekat mereka lengser. Karena itu hendaknya anda mengabdi kepada Allah Azza wa-Jalla yang tidak pernah lengser. Gunakan akal sehatmu, terimalah kehidupan duniamu yang sedikit, hingga anda meraih akhirat lebih banyak.
Raihlah bagianmu dari zuhudmu, hingga upayamu justru menuju di hadapan pintu Tuhanmu Azza wa-Jalla, ada di genggaman KuasaNya, bersamaNya, bukan bersama dunia, bukan bersama tangan-tangan dunia, bukan pula berada di tangan-tangan penguasanya melalui pergaulan naluri nafsu, syetan dan publik.
Bila anda berusaha untuk kehidupan dunia, sedangkan hati anda bersama Tuhan Azza wa-Jalla, maka para malaikat dan ruh-ruh para Nabi ada di sekitar anda. Sungguh jauh berbeda orang yang menyerah pada dunia dan orang yang menyerah kepada Allah Azza wa-Jalla.
Orang sufi yang berakal sehat mengatakan, “Kami tidak makan bagian dunia kami, baik di jalan mauipun di rumah kami. Kami tidak makan kecuali di sisiNya.”
Orang-orang zuhud makan di syurga. Orang arif makan disisiNya, sedang mereka ada di dunia. Para pecintaNya tidak makan di dunia maupun di akhirat. Makan dan minum mereka adalah kemesraan, kedekatannya pada Tuhan mereka, memdang Allah Azza wa-Jalla, Tuhannya dunia maupun Tuhannya akhirat.
Orang yang benar dalam cintanya, menjual dunia dengan akhirat, lalu menjual akhirat dengan hanya demi WajahNya dan hasrat kepadaNya bukan lainNya. Dan ketika jual beli sempurna, kemuliaan menjadi dominan, maka dunia dan akhirat dikembalikan padanya sebagai anugerah, dan perintah untuk meraih keduanya, lalu mereka meraihnya hanya semata memenuhi perintahNya, baik dengan kenyang maupun lapar, tetapi tidak butuh pada keduanya. Mereka ini meraih itu semua sebagai bentuk keselarasan dengan takdir, beradab yang bagus dengan takdir, dan mereka menerima dan meraih, serta menyebutkan:
“Dan sesungguhnya kamu niscaya tahu apa yang Kami kehendaki.” (Huud: 79)
Maksudnya, “kamu tahu, bahwa kami telah ridho padaMu bukan selain Engkau, kami pun ridho dengan lapar, dahaga, compang camping, hina dan dina. Dan agar kami bersimpuh di pintuMu.”
Mereka menegaskan jiwa mereka untuk tenteram padaNya. Allah Azza wa-Jalla memandang mereka dengan pandangan penuh kasih saying, lalu Allah Azza wa-Jalla memuliakan mereka setelah hinhanya, mengkayakan mereka setelah miskinnya, dan menyiapkan taqarrub mereka dunia hingga akhirat.
Orang beriman itu zuhud di dunia, lalu zuhudnya membersihkan kotoran batinnya, lalu ia datangi akhirat, dan hatinya tinggal di sana, lalu yang lain pun dihilangkan dari hatinya, karena yang lain (selain Allah Azza wa-Jalla) itu hijab di hadapanNya Azza wa-Jalla.
Disitulah ia tinggalkan aktivitas dengan makhluk secara total, menjalankan perintah syara’ dan menjaga aturannya ketika bergaul dengan sesama, hingga terbuka matahatinya, lalu melihat cacat-cacat dirinya dan makhluk. Kemudian tidak ada tempat hunian kecuali pada Tuhannya Azza wa-Jalla, tidak pula mendengar dari lainNya, tidak berakal sehat kecuali dariNya, tidak merasa tenteram kecuali pada selain janjiNya, tidak takut selain ancamanNya. Ia tinggalkan aktivitas lain, dan lebih aktif padaNya.
Jika ia telah memenuhinya, maka ia berada dalam “Segala yang tak terbayang mata, takrdengar telinga dan tak pernah terlintas di hati manusia.”
Anak-anak sekalian, aktiflah dengan dirimu, maka akan berguna bagimu baru berguna pada yang lain. Jangan sampai anda masuk pada suatu hal, bersama dirimu hawa nafsumu, karena Allah Azza wa-Jalla apabila berkehendak padamu, Dia menyiapkanmu untukNya. Apabila Dia menghendakimu untuk memberikan manfaat pada sesame, Allah mengembalikanmu pada mereka, dan Dia memberimu keteguhan dan kekuatan bagi mereka, kekuatan untuk menghadapi mereka dengan keleluasaan hatimu untuk sesame, dan luasnya dadamu bagi mereka. Allah Azza wa-Jalla juga memberikan hikmah dalam batin dan rahasia batinmu, sehingga yang ada adalah Dia, bukan anda. Dengarkan firmanNya:
“Wahai Dawud, sesungguhnya Kami jadikan dirimu sebagai khalifah di muka bumi. (Shaad: 26)
“Sesungguhnya Kami jadikan dirimu sebagai khalifah.”
Tapi kamu mengklaim apa yang engkau katakan itu dari dirimu. Kaum sufi tidak punya kehendak, tidak punya pilihan, semata mereka hanya menjalankan perintahNya Azza wa-Jalla, tindakanNya, kehendakNya dan aturanNya.
Hai orang yang terlempar dari Jalan yang Lurus. Janganlah anda berargumentasi dengan sesuatu, karena anda sama sekali tidak memiliki argumen di hadapanmu sendiri. Halal itu jelas, dan haram juga jelas. Apa yang membuatmu menghindar dari Allah Azza wa-Jalla, betapa kecilnya rasa takutmu padaNya, betapa banyak anggapan rendahmu dalam memandangNya. Nabi Saw, bersabda: “Takutlah pada Allah Azza wa-Jalla seakan engkau melihatNya, bila engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Allah Azza wa-Jalla melihatmu.” (Hr. Bukhari).
Orang yang sadar adalah orang senantiasa memandang Allah Azza wa-Jalla melalui hatinya, lalu mengumpulkan yang bercerai berai dalam kesatupaduan, hingga hijab runtuh satu persatu antara dirinya dengan Allah Azza wa-Jalla, bangunan-bangunan ambruk dan yang ada hanya maknawinya, hubungan-hubungan terputus, dan milik menjadi terlepas, tidak ada yang tersisa melainkan hanyalah Allah Azza wa-Jalla, mereka tak bisa bicara, tak bisa gerak, tak ada kesenangan pada sesuatu, hingga benar apa yang dilakukannya. Jika telah benar, sempurnalah kewajibannya. Pertama-tama mereka keluar dari perbudakan dunia, lalu keluar dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla secara total, dan mereka senantiasa dalam amaliyah jiwanya dengan Allah Swt, juga menangani berbagai masalah di rumahnya.
“Dia melihat bagaimana mereka bekerja (beramal).” (Al-A’raaf: 129)
Rahasia batin adalah raja, dan qalbu adalah menteri, nafsu dan lisan sertaanggota badan adalah aparat birokrasinya. Rahasia batin (sir) minum dari lautan Ilahi Azza wa-Jalla. Qalbu minum dari sir. Nafsu yang tenteram minum dari qalbu. Lisan minum dari nafsu yang tenteram. Seluruh badan minum dari lisan. Jika ucapannya benar, hatinya benar. Jika lisannya buruk maka hatinya buruk. Lisanmu butuh kendali taqwa dan taubat dari ucapan yang kotor dan munafik.
Bila lisan bisa langgeng demikian, maka kefasihan lisan akan menjadi kefasihan qalbu. Apabila kefasihan qalbu langgeng akan memancarkan cahaya menuju lisan dan anggota badan. Maka ucapannya adalah ucapan taqarrub, dan bila itu terjadi dalam kedekatan padaNya, ia justru tidak punya ucapan, tidak punya doa dan dzikir. Doa, dzikir dan ucapan menjauh. Dalam kedekatan padaNya hanya diam, tercekam, dan menerima dengan memandang dan menikmati bersamaNya.
Ya Allah jadikan kami termasuk orang yang memandangMu di dunia dengan mata hatinya dan di akhirat dengan mata kepalanya.
Ya Tuhan kami berikanlah kami kebajikan di dunia, dan kebajikan di akhirat dan lindungi kami dari azab neraka.

Mendengar Dengan Telinga Hati Featured


“Mereka (para malaikat) tidak mengingkari apa yang diperintahkan Allah pada mereka, dan mengerjakan apa yang diperintahkannya.” (At-Tahriim, 6).
Hai kaum sufi, bila kata-kataku tidak masuk dalam jiwamu, maka dengarkanlah dengan penuh iman dan pembenaran.
Karena kata-kataku mengarah di hati, maka dengarkan dengan telinga hatimu dan rahasia hatimu, pada saat itulah akan berpadu; lahir dan batinmu, dan duri hawa nafsumu akan pecah, sedangkan api nafsumu pun padam. Karena nafsu terburukmu membuatmu suka dengan dunia dan membuatmu benci dengan kefakiran, lalu membuatmu hancur dalam kerusakan.
Sebagian Sufi menegaskan, Hakikat taqwa itu, bila anda mengggabungkan apa yang ada di hatimu dan anda biarkan dalam satu tempat terbuka, lalu anda kelilingkan ke pasar, tak satu pun membuat anda malu. Namun wahai si tolol, bila dikatakan padamu, “Taqwalah kepada Allah swt,” anda menjadi marah. Bila dikatakan kebenaran padamu, anda mendengar namun anda menghina sinis. Bila ada orang yang kontra dengan anda justru anda berkeras kepala mempertahankan anda dan membela diri atas kekerasan hati anda.
Allah Swt berfirman dalam hadits qudsi:
“Aku senantiasa mencintai kalian sepanjang kalian taat padaKu, maka ketika kalian maksiat padaKu, maka Aku marah pada kalian.”
Allah Azza wa-Jallah mencintai kalian bukan karena Dia butuh pada kalian, namun karena kasih sayangNya padamu. Dia mencintai anda bukan untukNya, namun untukmu. Doa mencintai taatmu , karena manfaatnya kembali pada dirimu. Karena itu hendaknya anda aktif dan menghadap pada Yang mencintaimu dan berpaling dari mencintaimu untuk kepentingannya.
Orang beriman itu lupa segalanya karena hanya mengingatNya Azza wa-Jalla, hingga ia berhasil mendekat padaNya, hidup bersamaNya dan bersertaNya, maka ia akan meraih tawakkal yang benar. Bila tawakal dan tauhid orang beriman benar , dunia dan akhiratnya dicukupi oleh Allah Ta’ala. Sebagainmana dianugerahkan pada Nabi Ibrahoim as yang dianugerahi makna nya dan kondisinya, bukan formalitas rupanya. Allah memberikan makan dan minum dari sumber minuman dariNya, dan menempatkannya di ruang terhormatNya, bukan berarti memberikan wujud kedudukanNya.
Disinilah penisbatan dariNya akan benar bila ditinjau dari segi esensi maknanya bukan dari wujud bentuknya.
Ingatlah apakah anda tidak malu jika anda mengabdi kegelapan dan makanan haram? Sampai kapan anda mengabdi para raja-raja yang sebentar lagi lengser? Kapan anda menerima limpahan pengabdian kepada Allah swt yang tak pernah lengser selamanya? Jadilah orang yang berakal sehat, terimalah sedikit dunia dan banyak akhirat, terimalah dari bagian zuhudmu dan engkau akan meraih pintu-pintu Tuhanmu Aza wa-Jalla melalui Tangan KuasaNya, tindakan dan kesertaanNya, bukan dengan tangan dunia, bukan melalui pintu dan tangan-tangan penguasa yang bergabung dan kesenangan dan nafsu, syetan dan khalayak awam.
Bila engkau raih dunia sedangkan hatimu ada di pintu Tuhanmu Azza wa-Jalla maka para malaikat dan ruh para Nabi ada di sekitarmu. Tentu jauh sekali perbedaan kedua di atas.
Orang-orang yang berakal sehat mengatakan, “Kami tidak makan bagian dunia kami baik di jalan maupun di rumah-rumah kami, dan kami tidak makan kecuali yang datang dariNya. Sedang orang-orang zuhud makan dari dalam syurga. Orang-orang arif selalu makan di sisiNya walau mereka ada di dunia.
Sang pecinta tidak makan di dunia maupun di akhirat karena makanan dan minuman mereka adalah kemesraan dan kedekatan dari Tuhannya serta memandang Sang Kekasihnya. Mereka menjual dunia dengan akhirat, lalu menjual akhirat dengan kedekatan padaNya, Tuhannya dunia dan akhirat. Dan Shiddiqun dengan cintanya menjual akhirat demi WajahNya dan hanya menghendakiNya, bukan lainNya. Ketika jual beli selesai ia penuh dengan kemuliaan, lalu dunia dan akhirat diberikan padanya sebagai anugerah. Ia mengambil seperlunya menurut perintahNya, tanpa merasa butuh pada keduanya. Mereka melakukan itu semua sebagai penyelarasan dengan takdir dan beradab yang bagus dengan takdirNya. Mereka menerima dan mengambil sembari berkata:
“Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang kami ingiunkan.” (Huud 79)
Anda akan merasakan, “Kami relah bersamaMu bukan dengan selainMu, dan kami pun rela dengan lapar Dan dahaga, compang-camping hina dina, yang tenteram, dan hendaknya kami selalu ada di depan pintuMu.”
Ketika mereka rela dengan itu semua dan menegaskan jiwanya maka Allah memandang mereka dengan pandangan cinta kasih, Allah Azza wa-Jalla pun memuliakan mereka setelah mereka merasa hina, Allah mencukupinya setelah mereka merasa fakir dan dihamparkan rasa taqarrub di dunia dan di akhirat kepadaNya.
Orang beriman melakukan tindakan zuhud di dunia sehingga zuhudnya memberishkan kotoran di batinnya, lalu datanglah akhirat, ia menghuninya dengan hatinya, lalu datanglah unsur pembersih hatinya karena akhirat pun dinilainya jadi hijab untuk mendekat kepadaNya Azza wa-Jalla. Disinilah ia tinggalkan kesibukan dengan makhluk secara total, kemudian hanya menjaga dan menjalan perintahNya, menjaga batas-batas syar’i antara dirinya dengan publik, kedua matahatinya terbuka, lalu ia melihat cacat jiwanya dan para makhluk, sampai ia tidak tenang kecuali berada di sisi Tuhannya Azza wa-Jalla. Ia tidak mendengar selain dariNya, tidak menggunakan akal selain dariNya, tidak terpaku kecuali pada janjiNya, tidak takut selain ancamanNya. Ia tinggalkan aktivitas selain Dia, dan aktif bersamaNya. Jika semua ini sempurna ia masuk dalam posisi “tiada mata pernah memandang dan tiada telinga pernah mendengar serta tiada intuisi di hati manusia.”
Anak-anak sekalianAktifkan dirimu untuk mengoreksi diri, lalu engkau dapatkan manfaat, baru engkau berikan pada yang lain. Jangan seperti lilin yang membakar dirinya dan menerangi lainnya. Jangan sampai dirimu masuk dalam sesuatu hal bersama dirimu, nafsu dan hawa nafsumu. Bila Allah Azza wa-Jalla menghendakimu, Dia berikan padamu untukNya, bila Allah Azza wa-Jalla menghendakimu untuk memberi manfaat bagi publik pasti Dia memerintahmu untuk terjun di sana, memberi kekuatan dan keteguhan atas kekerasan jiwa mereka, dengan keleluasaan hatimu terhadap makhluk. ALLAH Azza wa-Jalla pun melapangkan dadamu, dan memberikan kepastian hukum pada batinmu, dan meresapkannya ke batinmu. Saat itulah yang ada hanya Dia bukan anda. Dengarkan apa yang difirmankan)Nya:
“Wahai Dawud, sesungguhnya Kami jadikan kamu khalifah di muka bumi “ ( Shaad 26)
Dan firmanNya: “Sesungguhnya Kami jadikan dirimu Khalifah”.
Sepanjang anda merasa bisa bicara, maka diri anda mewakili ego nafsu anda. Sedangkan kaum Sufi tidak memiliki hasrat dan kehendak, namun mereka semata hanya mengaksentuasi perintah Allah Azza wa-Jalla Dalam ucapan, tindakan dan pengaturan.
Wahai orang yang lepas dari jalan yang lurus jangan anda berhasrat pada sesuatu, karena anda tidak mempunyai argument kuat untuk mempertahankannya. Halal itu jelas dan haram itu jelas. Namun betapa buruknya dirimu pada Allah Azza wa-Jalla, betapa sedikitnya rasa takutmu padaNya, namun betapa banyaknya anda merendahkan nilai memandangNya. Nabi saw, bersabda:
“Takutlah kepada Allah Azza wa-Jalla seakan-akan engkau melihatNya, dan bila engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (Hr Bukhari)
Mereka yang sadar diri senantiasa memandsng Allah Azza wa-Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadi lah keteguhan yang satu yang menggugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya.
Semua bangunan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendiri putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa-Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa-Jalla secara total, dan senantiasa terus demikian dalam mennjalani ujian di RumahNya.
“Maka itulah Dia memandang bagaimana mereka beramal.” (Sal-A’raaf 129).
Sirr (rahasia batin) adalah raja, dan qalbu adalah perdana menteri. Nafsu, lisan dan seluruh banggota tubuh adalah pasukan yang mengabdi pada sirr dan qalbu. Sirr meminum dari lautan Ilahi Aza wa-Jalla dan qalbu minum dari lautan sirr. Nafsu yang tenteram minum dari qalbu, lisan minum dari nafsu, serta seluruh anggoita badan minum dari lisan. Bila lisan bagus, pasti darti qalbu yang bagus, dan jika rusak maka rusak karenanya. Lisan anda butuh kendali ketaqwaan dan taubat dari bicara pada hal-hal yang hina dan munafik. Bila bisa langgeng lisan anda demikian, kefasihan lisan akan berbalik pada kefasihan qalbu dan akan memancarkan cahaya dari qalbu itu, lantas memancar pada lisan serta seluruh tubuh. Bila segalanya sempurna, lisan yang dekat pada taqarrub akan menyerap jiwa taqarrub, lalu lisan tak ada lagi ucapan, tak adsa doa, dan tak ada dzikir yang terucap. Doa, dzikir maupun ucapan begitu jauh darinya, sedangkan yang dekat adalah diam, beku dan menerima dengan memandang dan menikmati bersamaNya.
Ya Allah jadikanlah kami tergolong orang yang memandangMu di dunia dengan kedua mata hatinya dan di akhirat memandang dengan kedua mata kepalanya. Dan berikan kami di dunia kebajikan dan di akhirat kebajikan pula, dan lindungi kami dari azab neraka.

Mengapa Akhirat Kosong?


Celaka kamu! Allah Azza wa-Jalla memberikan pilihan fakir padamu, sedangkan anda malah memilih kaya. Tahukah anda bahwa Allah Azza wa-Jalla memberikan pilihan terbaik bagimu tetapi anda tidak menyukai
pilihan Allah Azza wa-Jalla? Sesungguhnya yang membenci pilihan Allah Azza wa-Jalla adalah nafsumu, kesenanganmu, watakmu, syetanmu, dan lingkaran kawan-kawan burukmu. Karena mereka pasti tidak suka pilihan Allah Azza wa-Jalla.
Karena itu anda jangan berselaras dengan mereka, jangan berpaling pada mereka, mengikuti kontra mereka dan kebencian mereka kepada Allah Azza wa-Jalla. Degarkan apa yang menjadi kata hati dan rahasia batinmu, karena keduanya akan mengungkapkan kebaikan, dan mencegahmu dari keburukan.
Relalah dengan kefakiranmu, karena rela dengan kefakiranmu itu berarti anda kaya yang nyata, karena anda terjaga dari hal-hal di luar batas kemampuan anda. Sebab Allah Azza wa-Jalla telah memberikan kemampuan kepadamu, jika tidak pasti anda telah terjerumus pada jurang maksiat. Dan karena itu Dia Allah Azza wa-Jalla memberikan kepampuan berupa kefakiran dan kelemahan padamu, dan pada saat yang sama Allah Azza wa-Jalla melindungimu dari maksiat.
Bila anda sabar atas pilihan Allah Azza wa-Jalla anda meraih pahala yang tak terhingga oleh diri anda dan manusia di muka bumi. Tapi anda lebih senang tergesa-gesa. Orang yang tergesa-gesa, tidak meraih apa pun kecuali yang berada dalam hasrat syetan, sedangkan hati-hati itu dari Ar-Rahman. Sebaliknya jika tergesa-gesa, andalah pasukan syetan. Bila anda sabar, berarti anda pasukan Ar-Rahman Azza wa-Jalla dan anda menyertaiNya.
Hakikat taqwa itu menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah Azza wa-Jalla dan meninggalkan laranganNya, bersabar dalam mengerjakannya, sabar dalam menerima bagian-bagian dariNya, bersabar pada cobaan-cobaanNya, maka kalian adalah makhluk universal, jiwa universal, fana’ universal dan sirna serta watak universal. Serasa tak ada kabar dari Allah Azza wa-Jalla, atau tidak pula dari kaum ’arifun.
Kalian semua gila, jika disandarkan pada pandangan publik, namun sesungguhnya kalianlah yang berakal sehat.
Bila kegilaan orang yang gila kepada Allah Azza wa-Jalla sempurna, maka ia segera keluar dari kegilaannya. Gerak adalah awal, dan akhirnya adalah diam. Hilanglah rasa sakit dan muncullah hikmah.
Anak-anak sekalian! Anda ini kosong akhirat, penuh dengan dunia. Perilakumu membuatku dan kalangan orang-orang shaleh dan wali, sangat menggelisahkan. Anda meninggalkan majlis mereka dan merasa cukup dengan pikiran rasio anda. Padahal siapa pun yang merasa cukup dengan pikiran rasionalnya akan tersesat. Tak seorang pun Ulama, melalinkan ia ingin bertambah ilmunya. Tak seorang pun orang alim kecuali ada yang lebih alim dari dirinya. Allah Azza wa-Jalla berfirman:
”Dan Aku tidak mendatangkan ilmu kecuali sedikit.” (QS Al-Isra’: 85)
Kalian mesti bergabung dengan mayoritas Ulama dan kekuatan terbesar secara sungguh-sungguh. Anda harus mengikuti jejak mereka. Pisah dengan mereka adalah penyakit kronis thariqah.
Rasulullah Saw, bersabda: ”Ikutilah jejak-jejak mereka dan jangan berbuat bid’ah, maka kalian akan tercukupi.” (Hadits ditakhrij oleh Al-Haitamy dan Ath-Thabrany)
Thariqah ini tidak bisa ditempuh dengan hawa nafsu. Tetapi dengan ayturan dan melaksanakan aturannya, meninggalkan rasa mampu maupun rasa berdaya serta ambisi. Meraih kepasrahan total dan melemparkan jiwa kepada Allah Azza wa-Jalla. Meninggalkan sikap tergesa-gesa dan dan lebih hati-hati. Semua itu tidak bisa muncul melalui sikap tergesa-gesaan nafsu anda.
Jalan ini harus ditempuh dengan jiwa ksatria, kesabaran, kewaspadaan dan perjuangan jiwa. Karena itu anda harus berguru pada sebagian penguasa-penguasa ma’rifat, hingga memberikan petunjuk padamu, memberikan pendidikan kema’rifatan serta mengambil beban-bebanmu.
Anda menaiki kendaraan jiwanya. Bila anda lelah ia membawa bebanmu atau menyilakan padamu untuk berjalan di belakangnya, itupun jika anda mencintainya, ia akan menyilakan anda berjalan di belakangnya. Namun jika anda yang dicintainya, ia menyilakan anda menaiki kendaraan cahayanya, dan ia naik di belakang anda (cukup mengawasi anda). Siapa yang merasakan ini, akan mengenalnya.
Duduk dengan keluarga sejati sungguh nikmat, tetapi duduk dengan mereka yang pendusta dari kalangan munafik adalah derita.
Hendaknya anda terus ber-muroqobah (waspada akan Pandangan Allah Azza wa Jalla), menuntut dirimu untuk menepati hak-hak Allah Azza wa Jalla, dan hak-hak makhlukNya, bila anda inginkan kebajikan dunia akhirat. Waspadailah pengetahuan Allah Azza wa Jalla padamu dan tuntutlah dirimu untuk melakukan amal, karena anda memang dituntut untuk memenuhi perintahNya Azza wa Jalla, menjauhi tumpukan dosa-dosa kemaksiatan.
Anda lakukan dengan sabar ketika bencana tiba, dan ridho ketika keputusan dan takdir tiba, syukur ketika nikmat datang. Bila anda mampu menempuhnya, segala penghalang akan sirna, lalu anda bisa istiqomah bersanding dengan Allah Azza wa Jalla. Anda dapati kasih sayang dalam perjalanan, anda raih pertolongan, dan anda dapatkan kekayaan jiwa yang mengikutimu kemanapun engkau pergi.
Jangan peduli dimana anda berada, dimana tempat tinggal anda. Karena ketika anda gugur, anda langsung mendapatkan hikmah, pengetahuan, ilmu dan kepastian, manusia, jin, malaikat. Semua itu takut pada anda karena ketakutan anda kepada Allah Azza wa Jalla. Segalanya memberikan padamu karena kepatuhan anda pada Allah Azza wa Jalla. Karena siapa yang takut kepada Allah Azza wa Jalla, segalanya takut padanya.
Siapa yang tidak takut kepada Allah Azza wa Jalla, segala penjuru akan menakuti dirinya. Siapa yang berbakti kepada Allah Azza wa Jalla, semuanya akan berbakti padanya, karena Allah Azza wa Jalla tidak pernah membiarkan sejenakpun amal siapa pun dari hamba-hambaNya.
”Sebagaimana engkau memberi hutang pasti tertunai.” atau ”Sebagaimana jiwa kalian berada, disanalah anda dilimpahi.”
Ya Allah berilah kami amal melalui kemurahanMu dan kebajikanMu, ampunanMu dan kasih sayangMu pada kami di dunia dan akhirat.
Ya Tuhan kami, berikanlah kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan lindungi kami dari azab neraka.

Amal Akhiratmu, Mana ?




Dunia, semuanya adalah hikmah, sedangkan amal akhirat adalah Qudrat. Dunia ini dibangun di atas hikmah dan akhirat dibangun di
atas Qudrat. Karena itu jangan abaikan amal di negeri hikmah, dan jangan menganggap enteng QudratNya di negeri Qudrat. Beramallah di negeri hikmah dengan hikmahNya, dan jangan menyerahkan diri pada takdirNya.
Jangan jadikan takdir sebagai bentuk penyerahan dirimu, dan anda beralasan dibalik takdir, lalu anda meninggalkan amaliyah. Penyerahan atas nama takdir hanyalah perbuatan orang-orang malas, karena posisi penyerahan diri pada takdir itu bukan pada soal-soal perintah dan larangan.
Orang beriman tidak tenteram dengan dunia ini dan apa yang ada di dalamnya, bahkan tidak selera dengan bagian-bagian duniawinya. Ia lebih senang jika hatinya menuju kepada Allah azza wa-Jalla. Ia menetap di sana hingga diterimaNya. Ia, lari dari dunia, hingga ia meraih izin untuk masuk kepadaNya. Rahasia batinnya pergi, lalu menuju hatinya, dan hatinya meraih nafsunya yang tenang (muthmainnah) serta fisiknya yang patuh. Pada saat seperti itu, tiba-tiba ia tidak tertambat pada keluarganya, seperti ada sela kehampaan antara dirinya dengan mereka, tak peduli dengan kejahatan makhluk lain, seperti ada halangan antara dirinya dengan mereka, hingga hanya dia sendiri dan Tuhannya Azza wa-Jalla. Seakan-akan makhluk lain tidak diciptakan, dan seakan hanya dia sendirilah yang diciptakan Allah Azza wa-Jalla. Allah Azza wa-Jalla Sang pelaku dan dirinya satu-satunya obyek. Ia yang dicari dan Allah Yang Mencari. Seakan Allah Azza wa-Jalla adalah akar dan dia cabang ranting. Ia tidak melihat selain Dia, dan lainnya tidak melihatnya. Ia terbungkus dari makhluk.
“Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkan kembali…” (Abasa: 22)
Ia hadir untuk mereka demi kebajikan dan memberikan petunjuk kebenaran kepada mereka, dan ia sabar jika disakiti mereka, demi meraih ridho Allah Azza wa-Jalla. Para Sufi itu adalah penjaga hati dan rahasia batin, yang senantiasa teguh bersama Allah azza wa-Jalla, bukan bersama lainNya. Mereka beramal untukNya bukan untuk lainNya.
Tetapi hai munafik, anda tidak pernah meraih informasi kebajikan mereka, tidak mencerap keimanan bahkan tidak meraih kebahagiaan bersama Allah Azza wa-Jalla. Dalam waktu dekat anda mati, dan menyesal setelah mati. Padahal anda telah mendapatkan wacana yang fasih dan keelokan syurgawi, tetapi itu tidak memberi manfaat bagimu. Kefasihan itu buat qalbu, bukan untuk wacana ucapan. Menangislah seribu kali atas dirimu dan yang lain.
Hai orang yang hatinya mati! Wahai orang yang menghindar dari kaum sufi. Wahai orang yang banyak mengatur dan terhijab dari dirimu sendiri, dari makhluk dan dari Tuhanmu Azza wa-Jalla: “Oh Tuhanku, sungguh aku terbungkam, maka bukakanlah ucapanku dariMu, hingga manusia meraih manfaat dari ucapanku, memberikan kesempurnaan pada mereka di hadapanku. Jika tidak, kembalikan diriku dalam kebungkaman.”
Wahai kaumku, aku mengajak kalian pada “kematian merah” yaitu bentuk perlawanan terhadap hawa nafsu, watak naluri, syetan dan dunia, serta keluar dari makhluk, dan meninggalkan selain Allah azza wa-Jalla secara total. Dan berjuanglah kalian dalam situasi kondisi ini, jangan sampai kalian putus harapan, karena Allah Azza wa-Jalla berfirman:
“Setiap hari Dia dalam urusanNya.” (Ar-Rahman 29)
Mohonlah padaNya menurut kadar QudratNya. Mohonlah padanya dari sisi Qudrat, bukan dari sisi hikmah. Mohonlah padaNya dari sisi IlmuNya, bukan dari sisi amalmu dan kemampuanmu. Berdiamlah di hadapanNya di atas telapak kehangusan dari segala hal. Jangan mencoba untuk merekayasa di hadapanNya dan jangan pula menakar-nakar takdir di hadapanNya, serta jangan mereka-reka ketergantungan padanya. Jangan anda hindari aturanNya dengan memilih aturanmu hingga terhempas pada kebodohan. Siapa yang tidak mengamalkan ilmuNya maka ia bodoh. Namun, bila ia menjaganya dan mengamalkan makna-maknanya, maka pengetahuan itu akan mengajari anda untuk melaksanakannya tanpa condong pada makhluk. Karena mengamalkan ilmu itu akan mengembalikan dirimu kepada Allah azza wa-Jalla, membuat anda zuhud dengan dunia, dan menajamkan mata batin anda, untuk menjauhkan dirimu dari berhias lahiriyah dan memberi inspirasi untuk menghias batiniyah. Disinilah Tuhanmu Azza wa-Jalla memberikan pelimpahan padamu, karena anda telah menjadi baik di hadapanNya:
“Dan Dia memberikan pelimpahan (wilayah) kepada orang-orang yang shaleh.” (Al-A’raf: 196)
Allah Azza wa-Jalla melimpahkan anugerah pada lahirnya, dan batin mereka mendidik lahirnya melalui Tangan HikmahNya, sedangkan batinnya berada di Tangan IlmuNya. Hingga mereka tidak takut dengan lainNya, tidak pula berharap kepada lainNya, tidak meraih kecuali dariNya, tidak memberi kecuali ia disertai rasa takut jika ada selain Dia, dan ia senantiasa bahagia bersamaNya, bertentraman denganNya.
Saat ini adalah akhir zaman, begitu banyak perubahan dan pergeseran. Inilah zaman lengang hampa dan zaman kemunafikan. Hai orang munafik, anda adalah budak dunia dan budak makhluk, karena anda penuh pamer dengan mereka, beramal untuk mereka, sedangkan anda lupa pada pandangan Allah Azza wa-Jalla kepadamu. Kelihatannya anda beramal untuk akhirat, sedangkan semuanya bertujuan dunia. Nabi saw, bersabda:
“Bila seseorang berias dengan amal akhirat tetapi ia sendiri tidak berhasrat pada akhirat dan tidak mencari akhirat, maka nama dan nasabnya dilaknat di langit.” (Hr. As-Suyuthy dalam Jam’ul Jawami’).
Aku lebih tahu dibanding kalian hai orang-orang munafik melalui jalan hikmah dan ilmu pengetahuan dariNya, namun aku menutupi kalian dengan Tutupnya Allah Azza wa-Jalla.
Celaka! Anda tidak malu pada tubuhmu, tidak membersihkannya dari maksiat lahiriah dan najis-najisnya. Anda mengaku menyucikan batin dan menyucikan qalbu, tentu tidak benar. Bagaimana rahasia batinmu, anda tidak mendidik diri dengan makhluk lantas anda mengaku beradab dengan Allah Azza wa-Jalla. Sang guru tidak rela padamu, anda tidak beradab dengannya, sedangkan anda menerima perintah-perintahnya, dan anda banyak pamer selama ini.
Tak ada komentar bagimu, melainkan jika anda menegakkan tauhidmu di atas kakinya, dan mengokohkan dirimu di hadapan Allah Azza wa-Jalla, lalu anda keluar dari kulit telurmu, dan anda duduk di pangkuan kelembutan di bawah sayap-sayap kemesraan denganNya, disana anda temukan rasa cinta pada keikhlasan dan menegak air minum musyahadah. Anda tetap disana sampai anda menjadi induk ayam, maka disitulah anda menjadi penjaga bagi anak-anak ayam, memberikan pengaruh positif pada mereka dengan penuh kasih sayang, mengingatkan manusia siang dan malam, agar mereka taat kepada Tuhannya Azza wa-Jalla.