Laman

Selasa, 26 April 2016

RAHASIA RASULULLAH DICINTAI “PENDUDUK” LANGIT DAN BUMI


Nabi Muhammad merupakan sosok nabi yang istimewa. Beliau begitu dicintai oleh para “penduduk” langit, yaitu Allâh dan para malaikat-Nya. Sebagaimana Allâh berfirman: “Sesungguhnya Allâh dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzâb [33]: 56).
Betapa istimewanya Rasulullah hingga Allâh dan para malaikat turut bershalawat baginya. Bershalawat dari Allâh berarti memberi rahmat. Bershalawat dari malaikat berarti memintakan ampunan. Sedangkan bershalawat dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat, seperti dengan perkataan: Allâhuma shalli alâ Muhammad atau Assalamu’alaika ayyuhan Nabi (semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Nabi).
Tidak hanya oleh “penduduk” langit, “penduduk” bumi-pun amat mencintai Rasulullah. Bahkan diriwayatkan dalam sebuah kisah, dikala Rasulullah wafat, Khalifah Umar mengancam akan membunuh bagi siapa saja yang berani mengatakan bahwa Rasulullah telah wafat. Sampai pada akhirnya Khalifah Abû Bakar yang berani dengan tegas mengatakan, “Rasulullah telah wafat”. Betapa cintanya para “penduduk” bumi kepada Rasulullah hingga tak rela menghadapi kenyataan akan wafatnya beliau.
Kecintaan yang teramat mendalam kepada Rasulullah tentunya menyisakan tanda tanya besar bagi siapa saja yang hendak meneladaninya. Mengapa Rasulullah amat dicintai “penduduk” langit dan bumi? Apa rahasia yang dimiliki oleh Rasulullah? Padahal beliau adalah manusia biasa sama seperti kita, hanya bedanya ia diberikan wahyu. Lantas apa yang membuatnya begitu amat dicintai? Tetunya Rasulullah memiliki rahasia tersebut, tapi tidak lantas kemudian ia menyembunyikannya. Rasulullah dengan tulus mengajarkan kita tentang cara bagaimana agar dicintai oleh “penduduk” langit dan bumi. Pelajaran tersebut ia abadikan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
Dari Abû ‘Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi dia berkata: “Seseorang mendatangi Rasûlullâh, maka beliau berakata: Wahai Rasûlullâh, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allâh dan manusia akan mencintaiku, maka beliau bersabda, Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allâh dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia.” (HR. Ibnu Majah).

Zuhud Terhadap Dunia


Zuhud terhadap dunia adalah rahasia Rasulullah agar dicintai “penduduk” langit. Rahasia ini sesuai dengan firman Allâh yang berbunyi: “…Katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa…” (QS al-Nisâ’ [4]: 77).
Dalam ayat lain Allâh berfirman: “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allâh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS al-Hadîd [57]: 23).
Allâh adalah Pencipta dunia, maka cintai Allâh bukan dunia. Sebab mencintai dunia berarti menduakan-Nya. Lantas bagaimana mungkin kita dapat dicintai-Nya?
“Dunia ibarat bayang-bayang. Jika ia dikejar maka ia akan menjauh, sebaliknya jika dijauhi maka ia akan mengejar. Oleh karenanya sikapi dunia dengan sewajarnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda bahwa sikap bijak yang harus lahir dari diri seorang muslim dalam menyikapi harta dan kekayaan yang dimiliki adalah selalu bersyukur dengan jalan melihat standar orang lain yang berada di bawahnya. Sehingga dengan cara itu, ia akan selalu merasa banyak dan cukup dengan nikmat yang telah diberikan Allâh kepadanya.” (HR. Muslim).
Rasulullah sangat zuhud terhadap dunia. Sebagai bukti, kita dapat meneladani sejarah hidupnya dalam menyikapi tiga syahwat dunia, yaitu harta, tahta dan dunia. Terhadap harta, Rasulullah tidak pernah berlebihan.
Dikisahkan dahulu Rasulullah pernah memberikan harta terakhirnya kepada seorang sahabat yang membutuhkan. Ketika ditanya sahabat, Rasulullah menjawab: “Rejekiku besok sudah ditetapkan Allâh.”
Terhadap tahta, Rasulullah juga tidak pernah berambisi. Dalam peristiwa pemindahan hajar aswad (batu), para ketua kabilah hampir berseteru hanya karena ingin memindahkan batu. Kemudian Rasulullah mengambil kain untuk tempat batu dan meminta setiap ketua kabilah memegang ujung kain. Perselisihan itupun berakhir dengan perdamaian. Adapun terhadap wanita, Rasulullah membuktikan dengan mempersunting Khadijah sebagai isteri pertamanya.
>>> Zuhud terhadap Apa yang Ada pada Manusia
Zuhud terhadap apa yang ada pada manusia adalah rahasia Rasulullah dicintai “penduduk” bumi. Al-Junaid berkata, “Zuhud ialah keadaan jiwa yang kosong dari rasa memiliki dan ambisi menguasai.”
Bahkan Alî bin Abî Thâlib menjelaskan, “Zuhud berarti tidak peduli, siapa yang memanfaatkan benda-benda duniawi ini, baik seorang yang beriman atau tidak. Kedua pernyataan tersebut mengisyaratkan kepada kita betapa tidak perlunya mengurusi apa yang ada pada orang lain. Terlebih berambisi ingin memiliki dan menguasainya.”
Rasulullah sangat zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Rasulullah tidak pernah mengemis terhadap sesuatu hal duniawi yang orang lain miliki. Sebab, pada dasarnya manusia adalah makhluk egois dan rakus. Semakin kita mempunyai rasa ingin memiliki dan menguasai apa yang dimiliki orang lain, maka dapat dipastikan orang tersebut akan benci kepada kita karena merasa apa yang dimilikinya akan terancam. Benarkah demikian? Renungkanlah.
Demikianlah rahasia Rasulullah yang menjadikannya dicintai oleh “penduduk” langit dan bumi. Kedua kunci dari rahasia Nabi berpangkal dari sikap zuhud. Berbagai penjelasan dan dalil di atas menegaskan bahwa zuhud adalah konsep yang luhur dan mendapat pengakuan dalam Islam. Zuhud merupakan bagian penting dalam usaha pendidikan jiwa dan pribadi setiap Muslim. Kendati demikian, patut diingat pesan al-Ghazali yang menyatakan bahwa seseorang yang meninggalkan harta dan dunia belum tentu dikategorikan sebagai orang yang zuhud.
Sebagai penutup, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan agar terhindar dari lilitan ketergantungan pada dunia, yaitu:
[1] Tidak meletakkan hal-hal duniawi di hati. Zahid akan meletakkan dunia di tangannya, tidak dihatinya.
[2] Tidak hanyut dalam memburu kekayaan duniawi. Betapa banyak kehancuran dan kerusakan di bumi karena kerakusan manusia.
[3] Tidak menumpuk kekayaan duniawi. Agar tidak cinta dunia, maka kita harus memposisikannya sebagai jalan (wasilah), bukan sebagai tujuan (ghayah).
[4] Segera menginfaqkan kekayaan duniawi yang diperoleh.

Minggu, 24 April 2016

OBAT TERKENA SIHIR DAN SEGALA MACAM PENYAKIT.


Diriwayatkan bahwasannya Nabi Muhammad SAW bersabda; Jibril mengajariku sebuah obat dengannya saya tidak lagi butuh pada obat lain dan dokter.
Kemudian Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali, bertanya ; Apa itu wahai Rasulullah? Sesungguhnya kami membutuhkan obat tersebut...
Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda; Ambillah air hujan secukupnya, dan bacakanlah atasnya surat Al-Fatihah, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas, dan ayat Al-Kursiy. Masing-masing dibaca sebanyak 70 kali. Diminum pagi dan sore selama 7 hari.
Demi Dzat yang telah mengutusku dengan hak sebagai seorang Nabi, sungguh Jibril telah berkata kepadaku: " Sesungguhnya, barang siapa meminum air tersebut, maka Allah akan menghilangkan segala penyakit dari tubuhnya. Dan Allah akan menyembuhkan dari semua macam sakit. Dan barang siapa pula meminumkan air tersebut pada istrinya, lalu tidur bersama dengan sang istri, maka istri akan bisa hamil dengan idzin Allah.
Dan air tersebut juga bisa menyembuhkan mata yang sakit, menghilangkan guna-guna, santet dan sihir, menghilangkan dahak, menyembuhkan sakit dada, sakit gigi, pencernaan, sembelit, kencing tidak lancar dan tidak butuh dibekam (cantuk) dan kemanfaatan2 lain yang hanya Allah yang lebih tau.
Teks arabnya:
ﻓﺎﺋﺪﺓ ; ﺭﻭﻱ ﺃﻧﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ " ﻋﻠﻤﻨﻲ ﺟﺒﺮﻳﻞ ﺩﻭﺍﺀ ﻻ ﺃﺣﺘﺎﺝ ﻣﻌﻪ ﺇﻟﻰ ﺩﻭﺍﺀ ﻭﻻ ﻃﺒﻴﺐ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ; ﻭﻣﺎ ﻫﻮ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ؟ ﺇﻥ ﺑﻨﺎ ﺣﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ . ﻓﻘﺎﻝ ; ﻳﺆﺧﺬ ﺷﻴﺊ ﻣﻦ ﻣﺎﺀ ﺍﻟﻤﻄﺮ ﻭﺗﺘﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ، ﻭﺳﻮﺭﺓ ﺍﻹﺧﻼﺹ ، ﻭﺍﻟﻔﻠﻖ ، ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﻭﺁﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ، ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﺳﺒﻌﻴﻦ ﻣﺮﺓ ﻭﻳﺸﺮﺏ ﻏﺪﻭﺓ ﻭﻋﺸﻴﺔ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ . ﻓﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﺑﻌﺜﻨﻲ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻧﺒﻴﺎ ، ﻟﻘﺪ ﻗﺎﻝ ﻟﻲ ﺟﺒﺮﻳﻞ ; ﺇﻧﻪ ﻣﻦ ﺷﺮﺏ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﺟﺴﺪﻩ ﻛﻞ ﺩﺍﺀ ﻭﻋﺎﻓﺎﻩ ﻣﻦ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ ﻭﺍﻷﻭﺟﺎﻉ ، ﻭﻣﻦ ﺳﻘﻲ ﻣﻨﻪ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﻭﻧﺎﻡ ﻣﻌﻬﺎ ﺣﻤﻠﺖ ﺑﺈﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ تعالى. ﻭﻳﺸﻔﻲ ﺍﻟﻌﻴﻨﻴﻦ ، ﻭﻳﺰﻳﻞ ﺍﻟﺴﺤﺮ ، ﻳﻘﻄﻊ ﺍﻟﺒﻠﻐﻢ ، ﻭﻳﺰﻳﻞ ﻭﺟﻊ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﻭﺍﻷﺳﻨﺎﻥ ﻭﺍﻟﺘﺨﻢ ﺍﻟﻌﻄﺶ ﻭﺣﺼﺮ ﺍﻟﺒﻮﻝ ، ﻭﻻ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺣﺠﺎﻣﺔ ﻭﻻ ﻳﺤﺼﻰ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻊ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ، ﻭﻟﻪ ﺗﺮﺟﻤﺔ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﺍﺧﺘﺼﺮﻧﺎﻫﺎ ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ
SEMOGA BERMANFA'AT.
*Kitab An-Nawadir karya al Qulyubi

Siapa Sebenarnya Yang Bersembahyang

Siapa Sebenarnya Yang Bersembahyang
Saudara saudari yang dirahmati Allah sekalian. Semua orang boleh mengerjakan sembahyang lima waktu dengan taat!. Sayangnya tidak ramai dikalangan kita yang tahu siapakah sebenarnya yang bersembahyang!.
Perlu diingatkan disini bahawa sebelum kita mendirikan sembahyang, hendaklah terlebih dahulu kita pastikan siapakah sebenar-benarnya yang bersembahyang?. Kita dikehendaki megetahui
1) Sembahyang sebelum sembahyang (solat sebelum solat)
2) Sembahyang semasa sembahyang (solat semasa solat)
3) Sembahyang sesudah sembahyang (solat sesudah solat)
Sesudah kita benar-benar tahu tiga perkara diatas, barulah boleh dikatakan yang kita itu benar-benar sembahyang!. Barang siapa yang berhajat untuk mengetahuinya,
Pelayaran melalui bahtera saya ini, adalah pelayaran bahtera ilmu yang selalu menempuh gelombang fitnah, tiupan angin sesat yang kencang dan gelora tuduhan salah yang boleh mendatangkan maut dan karam. Gelora fitnah dilautan ilmu makrifat itu, selalunya tidak pernah sepi!. Namun barang siapa yang tahan dengan gelombang, gelora serta ombak lautan fitnah makrifat, ayuh sisingkan pergelangan tangan, ayuh mari kita mengembara bersama saya. Sebelum kita berlayar di lautan fitnah ini, ingin terlebih dahulu saya mengajukan satu persoalan kepada tuan-tuan.
Siapakah Yang Bersolat Sebelum Kita Solat!
Siapakah terlebih dahulu mengerjakan sembahyang, sebelum tuan-tuan bersembahyang (bersolat)?. Sebelum tuan-tuan bersolat, siapakah terlebih dahulu yang bersolat?. Bolehkan solat kita itu, dibuat-buat sendiri, ditetapkan, dikerjakan atau diperlakukan dengan kuasa diri kita sendiri?. Bolehkah kita berkuasa untuk berdiri mengerjakan solat, jika tidak “terlebih dahulu didirikan” ?. Siapakah yang mendirikan kaki tuan-tuan?, siapakah yang mendatangkan gerak sebelum tuan-tuan bergerak untuk bersembahyang?. Siapakah yang menetapkan tuan-tuan untuk mengerjakan sembahyang. Sebelum tuan-tuan berdiri, siapakah yang mendirikan kaki tuan-tuan?.
Bolehkah kaki kita itu berdiri tanpa didahulukan oleh berdirinya Allah?. Bolehkan kita berniat, sebelum diniatkan terlebih dahulu oleh Allah, Bolehkan kita rukuk, sebelum terlebih dahulu dirukukkan oleh Allah. Siapakah yang memulakan pekerjaan sembahyang, jika tidak dimulai oleh Allah?. Siapakah yang sebenarnya bersolat, jika tidak ………………………………….
Apakah kuasa sembahyang itu kita?, Apakah yang memulai sembahyang itu kita?. Apakah yang rukuk itu kita?. Apakah yang sujud itu kita?. Cuba jawab?. Mana kuasa, mana kudrat dan mana kehendak serta kemahuan kita?. Jika tidak digerakkan, dimulai dan jika tidak dengan kudrat dan iradat Allah, bolehkah kita bersembahyang?.
Sebelum kita bersembahyang, sebenarnya Allah telah terlebih dahulu mendirikan sembahyang kita di Loh Mahfuz !. Sebelum kita beranak atau sebelum kita dilahirkan kedunia ini, sebenarnya kita telahpun dididirikan oleh Allah untuk bersembahyang!. Berdirinya kita untuk bersembahyang itu, sebenarnya adalah berdiri yang telah Allah dirikan!. Kita sebenarnya telah ditetapkan oleh Allah untuk mendirikan sembahyang, semasa didalam kitab Loh Hul Mahfuz!. Allah telah terlebih dahulu dirikan kita untuk bersolat, semasa dialam sebelum kita dilahirkan. Allah sudah mendirikan kita sembahyang, semasa didalam perut ibu lagi. Berdirinya sembahyang kita itu, adalah diatas berdirinya yang telah didirikan oleh Allah semasa didalam alam “Loh Hul Mahfuz”
Jika tidak ditetapkab oleh Allah didalam Loh Hul Mahfuz, masakan kita boleh berdiri sembahyang!. Pekerjaan sembahyang yang kita dirikan itu, adalah pekerjaan yang telah siap di kerjakan oleh Allah, sedari dialam Loh Hul Mahfuz!. Perbuatan kita itu, sebenarnya bukan atas ketetapan atau kerajinan kita, kita hanya ikut garis yang telah Allah tetapkan sedari dulu. Kita hanya lalu, hanya ikut dan hanya turuti apa yang telah Allah tetapkan.
Kita hanya ikut apa yang sudah Allah tetapkan. Pekerjaan sembahyang yang kita dirikan itu, bukan pekerjaan baru atau bukan perbuatan baru, ianya telah sedia ada didalam kitab loh hul mahfuz!. Kita ini, hanya ajuk atau hanya sekadar melakonkannya semula!. Kita hanya melakonkannya semula skrip yang telah disiapakan oleh Allah swt.
Kita sebenarnya adalah sifat yang melakukan pekerjaan yang telah orang kerjakan. Kita melakukan pekerjaan yang telah siap dikerjakan oleh orang lain!. Apakah boleh kita mengaku yang sembahyang itu kita punya?. Apakah boleh kita mengaku yang mengerjakan sembahyang itu kita?.

Jumat, 22 April 2016

~ AKU MERINDUKANMU, O, MUHAMMADKU ~


:: Oleh: ‪#‎KH‬. Ahmad Mustofa Bisri
Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu

Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu
Aku merindukanmu, o. Muhammadku
Ribuan tangan gurita keserakahan
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa memakan korban
Melilit bumi meretas harapan
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu
O, Muhammadku, O, Muhammadku!
Dimana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Aku pun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku
Aku merindukanmu, O, Muhammadku
Sekian banyak Abu Jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu
O, Muhammadku - Sholawat dan salam bagimu -
Bagaimana melawan gelombang kebodohan
Dan kecongkaan yang telah tergayakan
Bagaimana memerangi
Umat sendiri? O, Muhammadku
Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Aku sungguh merindukanmu.
1416 H

Ma’rifat Hamba Allah (Tauhid)

Ma’rifat Hamba Allah (Tauhid)
Allah berfirman,
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia (QS 2:163)”
“Tuhan kamu adalah Tuhan yang maha Esa (QS 16:22)”
“Katakanlah: Dialah Yang maha Esa (QS 112:1)”.
Itulah beberapa mutiara tauhid yang disebutkan oleh Allah di dalam Al Qur’an
sebagai pentauhidan akan ke-Esa-an Diri-Nya. Maka secara harfiah, tauhid
adalah Mengesakan Tuhan.
Al Ghazali dalam kitab
Raudhah Al-Thalibin Wa Umdah Al-Salikin (16)
mengartikan
tauhid sebagai menyucikan
Al-Qidam
dari sifat
al-huduts
(baru), menjauhkannya
dari segala sesuatu yang baru, sehingga seseorang tidak kuasa melihat dirinya
bernilai lebih terhadap yang lainnya. Artinya, dirinya menjadi tiada atau fana.
Sebab bila dia melihat kepada dirinya sendiri atau orang lain disaat dia berada
dalam kondisi mentauhidkan Al-Haqq
, maka akan terjadi dualisme, dan itu berarti
tidak mengesakan terhadap Dzat-Nya yang
qadim
, yang memiliki sifat Esa dan
Tunggal (disinilah Iblis tertipu sehingga menolak perintah Allah). Keesaan
sebagai Yang Tunggal sebagai makna tauhid pada hakikatnya berkaitan erat
dengan pengenalan yang baru (semua makhluk) terhadap yang
qidam
. Maka
dalam siklus
makrifatullah
tak pernah berhenti, tauhid merupakan ujung dari
makrifat dari yang menyaksikan, ia dikatakan rahasia dan ruh dari makrifat.
Namun, tauhid juga merupakan awal dari
makrifatullah
, karena di ujung
perjalanan makrifat si pencari (salik) akan mengalami penyaksiannya di awal
mula sebelum ia menjadi dirinya (sebelum ruhnya ditiupkan ke dalam jasad) (QS
7:172).
Dengan demikian menjadi jelas bahwa ketika seseorang mencapai suatu
totalitas tauhid yang benar berupa penyaksian akan Allah sebagai Tuhan Yang
Esa, tidak ada pengakuan bahwa dirinya telah sampai, karena pengakuan akan
menyebabkan suatu bencana baik bagi dirinya yang diliputi kesombongan diri,
atau hanya sekedar ilusi yang menipu dirinya sendiri. Dalam banyak aspek,
pengungkapan makrifat dimungkinkan apa adanya, seperti Nabi Muhammad
SAW menceritakan Isra & Mi’rajnya, sebagai suatu
dzauqi
atau citarasa ruhaniah
penyaksian hakiki sehingga darinya akan muncul berbagai pengungkapan
lahiriah berupa puisi, prosa, dan bentuk-bentuk pengungkapan lainnya. Ada yang
boleh disiarkan sebagai suatu berita kenikmatan yang memang harus ditebarkan
sebagai sebuah rahmat, ada juga yang harus disembunyikan karena bisa
menimbulkan fitnah baik bagi dirinya, para munafik dan ateis, maupun orang
yang mengikutinya dengan kebodohan dan tanpa ilmu sehingga yang muncul
dari pengikut yang bodoh adalah pengakuan-pengakuan palsu.
6.10.1 Pengertian Tauhid
Menurut Al-Qusyairy an-Naisabury, “Risalatul Qusyairiyah”
[10]
, Tauhid adalah
suatu hukum bahwa sesungguhnya Allah SWT Maha Esa, dan mengetahui
bahwa sesuatu itu satu bisa dikatakan tauhid juga. Sehingga, menauhidkan
sesuatu yang satu merupakan bagian dari keimanan terhadap yang satu itu.
Makna eksistensi Allah SWT sebagai Yang Esa adalah suatu penyifatan yang
didasarkan ilmu pengetahuan. Dikatakannya bahwa Allah SWT adalah
Ketunggalan Dzat, sehingga “
Dia Adalah Dzat Yang tidak dibenarkan untuk
disifati dengan penempatan dan penghilangan.
” Selanjutnya banyak ahli hakikat
yang mengatakan bahwa Allah SWT itu Esa adalah penafian segala
pembagian terhadap dzat; penafian terhadap penyerupaan tentang Hak dan
Sifat-sifat-Nya, serta penafian adanya teman yang menyertai-Nya dalam Kreasi
dan Cipta-Nya.
Hujwiri dalam “Kasyf al-Mahjub”
dan Al Qusyairy
dalam kitab Risalahnya,
membagi pengertian tauhid menjadi tiga kategori yaitu :
Tauhid Allah SWT oleh Allah SWT, yaitu ilmu dan pengetahuan-Nya
bahwa sesungguhnya Dia adalah Esa.

Tauhid Allah SWT oleh makhluk, yaitu ketentuan-Nya bahwa makhluk
adalah yang menauhidkan dan menjadi ciptaan-Nya, atau disebut
tauhidnya hamba dan penegasan tauhid ada dalam hatinya.

Tauhid Allah SWT oleh manusia yaitu pengetahuan hamba bahwa Allah
SWT Yang maha Perkasa dan Agung adalah Maha Esa.
Pada tauhid yang pertama, maka ketauhidan-Nya hanya dapat terpahami oleh
ilmu dan pengetahuan-Nya, dimana Yang Memahami ketauhidan Allah oleh Allah
adalah Allah sendiri atau penetapan-Nya pada makhluk pilihan-Nya Sendiri.
Dalam hal ini yang mendapat kemuliaan itu adalah Nabi Muhammad SAW
dimana beliau dapat memperoleh kekuatan dan memperlihatkan eksistensi Allah
dari luar non-eksistensinya pada saat peristiwa Mi’raj. Sehingga, Yang Ada
adalah Allah semata. Dalam pengertian demikian, makhluk yang mengetahui
berdasarkan pengetahuan-Nya hanya mampu sekedar berkata bahwa “
aku
mengenal Allah dengan Allah
” dengan tabir sebagai suatu sifat
ar-Rububiyyah
.
Hakikatnya, seperti yang sering diungkapkan oleh Rasulullah SAW dan para
sahabat tersebut adalah ujung dari
Ma’rifat al-Haqq
, dalam batas-batas yang
sangat dekat (
Qabaa Qausaini
atau lebih dekat lagi), tetapi bukan merupakan
Ma’rifat Dzat
Allah karena hanya Dialah yang dapat menauhidkan-Nya.
Meminjam istilah Ibnu Arabi, maka tauhid yang pertama bisa dikatakan sebagai
al-Hirah al-Ilahiyah
atau
Kebingungan Ilahiyah
yang dialami makhluk setelah
mencapai maqam tertinggi yaitu Mi’raj Nabi SAW. Dan hanya Nabi Muhammad
SAW lah yang berhak mengatakan dengan penyaksian utuh “
aku mengenal
Allah dengan Allah
”. Para sahabat, wali, dan kaum arifin sesudahnya berada di
bawah maqam nabi SAW tersebut, sehingga dalam sabdanya Nabi Muhammad
SAW berkata “
Saya bersama Allah dimana tidak seorangpun dari malaikat atau
nabi bisa berada bersama saya.
” Tauhid Allah oleh Allah karena itu dikatakan

Yang Ada hanyalah Dia
”. Dan bagi mereka yang mengikuti jejak Nabi
Muhammad SAW maka mereka mentauhidkan melalui dirinya karena tanpa “
Nur
Muhammad dan Muhammad SAW
” semua makhluk akan musnah. Secara
eksak, hal ini berarti bahwa tanpa “
Nur Muhammad dan Muhammad SAW

semua makhluk tidak pernah diciptakan oleh Allah SWT. Inilah makna awal dan
akhir dari esensi penciptaan melalui firman “Basmalah” dan “Kun” yang
dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai “Yang Petama Kali”
diciptakan dan yang “Yang Paling Akhir” dimunculkan, yang “Lahir sebagai Nabi
Muhammad SAW hamba Allah” dan “Yang Batin sebagai Nur Muhammad”
(penyisipan kata sambung “dan” harus dipahami dengan logika kuantum yang
tidak terbedakan, Lihat juga QS al-Hadiiid ayat 3).
Pada tauhid yang kedua, maka Tauhid-Nya Allah oleh makhluk adalah suatu
penghambaan mutlak dari semua makhluk yang eksis setelah kehendak “
Kun Fa
Yakuun
”. Maka, pentauhidan yang muncul adalah suatu ketentuan baik yang
berupa penetapan-penetapan, sunnatullah yang pasti dan tidak pasti, puja-puji,
dan tasbih semua makhluk dari maujud yang paling elementer sampai maujud
yang nyata membangun relativitas dari yang baru (dari makhluk), dari
nanokosmos ke makrokosmos, dari
‘alam al-mulk
sampai
‘alam
al-jabarut
.
Penegasan tauhid yang terdapat dalam semua makhluk, karena itu adalah
penegasan dalam hati, sebagai suatu hakikat paling elementer dan halus bahwa
semua makhluk mengada semata-mata karena curahan rahmat dan kasih
sayang-Nya semata. Pada tauhid kedua ini, Abu Bakar As Shiddiq r.a.
mengatakan bahwa tauhid adalah perbuatan Ilahi dalam hati makhluk-Nya. Maka
dikatakan bahwa pentauhidan Allah SWT oleh makhluk adalah pentauhidan dari
ciptaan-Nya, atau yang diciptakan-Nya dengan kehendak firman “
kun fa yakuun
”.
Jadi tauhid kedua adalah tauhid semua alam semesta (al-Aalamin) beserta
semua isinya, yang memuja dan memuji hanya kepada Penciptanya, juga karena
Dialah Allah yang Maha Memelihara (QS 1:2), maka tiada Tuhan selain DiriNya.
Disini semua makhluk harus menauhidkan Allah SWT dengan secara total
menafikan eksistensi dirinya sendiri sebagai maujud, sehingga makhluk harus
mengatakan “
Tidak ada Tuhan Selain Allah (Laa ilaaha illaa Allaah)
Tauhid yang ketiga adalah Tauhid Allah oleh manusia melalui pengetahuan-Nya
yang dianugerahkan kepada manusia berupa akal pikiran dan kehendak bebas
untuk memilah dan memilih. Pentauhidan Allah SWT oleh manusia adalah
pentauhidan untuk makhluk yang menyaksikan pertamakali dan makhluk yang
disempurnakan sebagai Insan kamil. Maka, manusia yang menauhidkan Tuhan
sebagai Yang Esa adalah ia yang melakukan pencarian atau dianugerahi
makrifat pengenalan secara langsung. Pencarian adalah wasiat Allah yang
ditauhidkannya, maka ia yang mencari adalah ia yang akan berjalan dari awal
dan sampai ke awal kembali. Ia yang mampu memecahkan rahasia eksistensi
dirinya melalui dirinya sendiri untuk kemudian mengenal Dia yang
ditauhidkannya. Inilah tauhid yang identik dengan pengertian “
Man arofa
nafsahu, faqod arofa robbahu
”. Tauhid demikian adalah tauhidnya hamba Allah
yang mesti menegaskan ketauhidan Allah SWT melalui profil manusia yang
paling disempurnakan yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai hamba Allah dan
Kekasih Allah. Maka tauhid manusia seperti ini adalah “
Tidak ada Tuhan Selain
Allah, dan Muhammad SAW adalah Utusan Allah (Laa ilaaha illaa Allaah,
Muhammadurrasulullah)”
Dan dengan demikian, bagi manusia dan semua
makhluk-Nya maka tauhid ketiga adalah tauhid Yang Awal dan juga tauhid Yang
Akhir (QS 57:3), yang merupakan rahmat bagi seluruh alam. Tanpa melalui
penauhidan ketiga ini, maka tauhid manusia (dan jin) menjadi tidak sempurna.
Kendati seseorang dapat memulai dari ketauhidan kedua, yakni Tauhid Allah
oleh makhluk sebagai makhluk elementer, namun tauhid kedua adalah tauhid
bagi makhluk non sintesis yang berjalan dengan berjalannya sang waktu sebagai
suatu
qadā
. Maka ia yang tidak memulai dari tauhid ketiga hanya mendapat
sekedar pengampunan, karena Tauhid kedua adalah tauhidnya manusia pertama
yaitu Nabi Adam a.s. Dan pengampunan, seperti halnya ampunan yang
dianugerahkan kepada Adam dan Hawa sebagai suatu hidayah untuk mereka
dan anak cucunya, tidak lebih dari awal mula perjalanan makrifat manusia, yaitu
awal mula dari manusia pertama menyadari kesadaran diri yang teosentris
bahwa ada Tuhan Yang Esa. Rasululllah SAW bersabda :
“Ada seseorang dari generasi sebelum zaman kamu sekalian yang sama sekali
tidak pernah beramal baik kecuali bahwa ia bertauhid saja. Orang itu berwasiat
kepada keluarganya,’Bila aku mati, bakarlah aku dan hancurkan diriku,
kemudian taburkan separuh tubuhku di darat dan separuhnya di laut pada saat
angin kencang.’ Keluarganya pun melakukan wasiatnya itu. Kemudian Allah
SWT berfirman kepada angin,’Kemarikan apa yang kamu ambil.’ Tiba-tiba orang
tersebut sudah berada disisi-Nya. Kemudian Allah SWT bertanya kepada orang
tersebut,’Apa yang membebanimu sehingga kamu berbuat begitu?’ Dia
menjawab,’Karena malu pada-Mu.’ Kemudian Allah SWT mengampuninya.” (HR
Bukhari)
Tauhid ketiga sebenarnya ekor yang memutar kearah kepala, jadi tauhid ketiga
yaitu Tauhid Allah oleh manusia adalah suatu kewajiban bagi semua manusia
dan jin, suatu lingkaran perjalanan yang menutup dimana awal dan akhir
bertemu, yaitu tauhid Allah oleh Allah dan tauhid Allah oleh manusia yang
menyambung tanpa kelim (tanpa kelihatan sambungannya, tetapi tahu bahwa
disitulah sambungannya, seperti pita mobius yang memelintir saling
memunggungi),
atau katakanlah suatu sambungan yang saling memunggungi.
Maka menjadi jelas bahwa dalam tauhid ketiga, antara manusia yang
menauhidkan dan Allah yang ditauhidkan saling memunggungi, dan diantara
keduanya adalah alam semesta sebagai wadah pembelajaran bagi makhluk
yang disempurnakan yaitu manusia sebagai hamba Allah

“Kesejatian Diri” dua kata yang seringkali membuat orang kurang paham dengan kata-kata itu, siapa, mengapa dan bagaimana sesungguhnya dirinya. Dalam Proses pencarian siapa diri kita ini meski terlihat sederhana, ternya dibutuhkan bermacam perjuangan dan ujian sampai kita benar-benar tahu dan mengerti apa dan bagaimana diri kita sesungguhnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita dihadapkan pada sesuatu yang kurang nyaman menurut kita, oleh karena keterbatasan kuasa serta keterbatasan posisi kita, akhirnya kita menuruti apa yang sebenarnya ada penolakan pada diri kita. Mengikuti atau menuruti sesuatu hal yang bertentangan pada diri kita adalah suatu ujian yang berat, karena disini kita akan menjadi sosok yang bermuka dua.
Dari kejadian diatas, satu bisa kita tarik hikmahnya dan bisa sbagai perbendaharaan dalam tahap mencari Kesejatian diri, bahwa sebenarnya diri kita tidak seperti yang kita lakukan tadi. Dari berbagai macam aktivitas yang ada penolakan pada diri kita, itulah yang sesungguhnya dapat membangun dan menemukan siapa dan bagaimana diri kita. Berjalannya waktu, lambat laun proses pencarian “Kesejatian Diri” akan kita temukan…

Kedudukan SYARIAT, THARIKAT;HAQIKAT, makam MAKRIFAT.

SERI BEBAS "RENUNGAN".
"1. Bila kamu masih berada dikedudukan SYARIAT:
Maka lakukanlah hukum dan kaidah syariat dengan benar dan baik, semoga apa yg kamu lakukan itu diridhai Allah, dan mengangkatmu kemakam/kedudukan berikutnya yakni makam, THARIKAT.
2.Bila kamu berada pada makam THARIKAT;
Maka lakukanlah kaidah2 dan hukum Tharikat dengan benar dan baik.
Contoh; Tadinya kamu tidak tahu bagaimana Shalat yg Khusu' dan sekarang kamu jadi tahu khusu' itu.
Semoga kamu dikurniakan Allah derajat yg lebih tinggi lagi yakni kemakam Haqikat.
3..Bila kamu berada dimakam HAQIKAT, maka lakukanlah dengan benar dan baik, serta sabarlah dan tawakkal, karena dimakam ini, sudah wajib kamu lebih mawas dalam memikirkan sesuatu-sesuatu.
dan tetaplah beristiqamah, karena kamu sudah mulai diajarkan tentang rasa bohong dan rasa benar.
contoh; kamu bisa mengetahui orang yang berbicara itu BOHONG atau BENAR, dengan merasakan pembicaraannya.
dan semoga kamu diangkat kemakam berikutnya yakni makam MAKRIFAT.
4.Bila kamu berada dimakam MAKRIFAT, Maka lakukanlah dengan benar, disertai tawakkal lahir maupun bathin, karena dimakam ini sebenarnya, kamu dikenalkan dengan kebenaran yang MUTLAQ.
Dan tetaplah istiqamah, semoga kamu dikurniakan untuk turun kembali kemakam syariat demi mengajarkan sesamamu manusia bagaimana melakukan syariat dengan benar dan baik.
=Artinya;
-bila kamu berada pada makam syariat, maka berbicaralah dalam wilayah syariat.
-dan bila kamu berada dimakan tharikat maka berbicaralah didalam wilayah tharikat, dan syariat.
-dan bila kamu berada dimakam haqikat, maka berbicaralah kamu diwilayah haqikat, tharikat dan syariat.
-dan bila kamu berada dimakam MAKRIFAT, maka berbicaralah kamu diwilayah THaqikat,Tharikat dan syariat.