Laman

Sabtu, 07 Mei 2016

Tuhan Melihat Hatimu


Pada suatu hari, Hasan Al-Basri pergi mengunjungi Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu salatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak melafalkan bacaan salatnya dengan keliru. Oleh karena itu, Hasan memutuskan untuk tidak salat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya untuk salat bersama orang yang tak boleh mengucapkan bacaan salat dengan benar. Di malam harinya, Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Tuhan berbicara kepadanya, “Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan salatmu, kau akan memperoleh keridaan-Ku, dan salat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh salat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan salatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna
Di zaman sekarang ini sulit sekali kita menemukan orang yang benar-benar mempunyai kriteria dekat kepada Tuhan, sering kali mata kita tertipu oleh penampilan zahir. Orang dekat dengan Allah itu adalah para Aulia-Nya, para kekasih-Nya yang beribadah semata-mata untuk mencari keridhaan Allah, dan menuntun orang-orang menuju kehadirat Allah. Seorang wali Allah dalam kehidupan sehari-hari bisa saja ber profesi sebagai seorang pedagang, ulama, guru sekolah, dan lain-lain. Hanya orang yang diberi petunjuk oleh Allah yang bisa berjumpa dengan wali-Nya.
Mempunyai bacaan benar (tajwid) yang sempurna memang salah satu syarat sah seseorang menjadi imam dalam shalat, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana hati nya bisa terus menerus bersama Allah selama dalam shalat. Ini hal yang sangat pokok, karena seorang imam akan mempertanggung jawab kan amalan makmum nya di hadapan Allah SWT. Kalau imam sepanjang shalat mengingat wanita-wanita cantik, mengenang harta, dan sejuta persoalan hidup, apakah pantas dijadikan sebagai imam?
Saya jadi teringat kisah Imam Al-Ghazali yang menjadi imam dalam shalat Ashar disebuah mesjid, Beliau baru saja mengajarkan hukum thaharah bagi wanita yang haid. Tanpa disadari pikiran Beliau saat shalat teringat kepada wanita yang sedang haid. Salah seorang yag menjadi makmum adalah adik kandung imam al-Ghazali. Setelah selesai shalat adik imam Al-Gazali menegur, “kenapa abang di rakaat kedua mengingat wanita yang lagi haid?” Imam Al-Ghazali sangat terkejut, selaku orang yang sangat ahli dalam hukum Islam telah hapal Al-Qur’an dan ribuan hadist, telah berpuluh tahun menjadi imam baru sekarang mengetahui kekeliruannya selama ini. Beliau berkata kepada adiknya, “Tajam sekali mata hati mu, mulai saat ini aku berguru kepada mu”
Imam Al-Ghazali yang terkenal akan ilmu syariatnya, harus belajar lagi kepada adiknya yang ahli tasawuf bagaimana menjadi seorang Imam yang sah, lalu bagaimana dengan imam-imam zaman sekarang yang hanya mengandalkan kefasihannya?
Bacaan tetap lah bacaan, hapalan tetap lah hapalan yang tersimpan dalam otak yang mempunyai dimensi rendah, seorang hamba baca tetaplah akan menjadi hamba baca kalau pengetahuannya tidak di upgrade. Semoga tulisan ini menyadarkan kita semua, setelah kita fasih mengalunkan ayat Al-Qur’an tiba saatnya untuk men-fasih-kan hati dalam mengingat-Nya. Bagaimana caranya?
“Bertanyalah kepada Ahli Zikir bila kamu tidak tahu” (An-Nahl, 43)

Hakikat Sakit Seorang WALI ALLAH



Suatu hari aku berziarah kepada Guruku. Saat itu Beliau sedang terbaring di opname dirumah sakit. Bersyukur sekali dalam kedaan darurat aku di izinkan untuk langsung bertemu Beliau. Aku masih ingat saat itu aku menangis lama melihat Guruku yang selama ini gagah dan sehat terbaring lemah di kamar rumah sakit. Aku masuk kekamar dengan pelan agar tidak mengganggu istrahat Beliau. Beliau melirik ke arahku dan berkata:
“Kapan kau datang?”
“Baru 1 jam yang lalu Guru”
Kemudian Beliau menatap langit-langit kamar seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tidak sempat keluar dari mulut Beliau. Dalam hatiku berkata, bagaimana mungkin seorang wali Allah bisa sakit, padahal segala jenis penyakit sembuh berkat doa dan syafaat Beliau. Saat aku sedang mengucapkan itu dalam hati, kemudia Beliau menoleh kepadaku dan berkata:
“Sufi Muda, rohani Gurumu itu tidak pernah sakit karena dia berasal dari Yang Maha Sehat dan akan terus mengalirkan syafaat serta terus menerus menyalurkan rahmat dan karunia Allah lewat dadanya, akan tetapi fisik Gurumu akan tunduk kepada Firman Afaqi sesuai dengan hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan. Salah satu sifat dari Nabi adalah HARUS dia seperti manusia biasa. Kalau Nabi terkena api harus dirasakan panas seperti layaknya manusia begitu juga kalau nabi berjalan di tengah malam akan merasakan dingin. Begitu juga berlaku kepada wali-Nya, akan tunduk kepada hukum alam ini. Sifat HARUS seperti manusia itu juga salah satu cara Tuhan menyembunyikan Kekasih-Nya dari pandangan dunia ini. Junjungan kita Nabi Muhammad SAW berani dilempari kotoran unta dikarenakan orang kafir terhijab oleh hijab Insani”.
Aku hanya diam di sudut ranjang, menatap mata Guru yang amat aku sayangi dan setiap pertemuan aku dengan Guruku selalu aku rasakan hal baru yang sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Benar sekali apa yang dikemukan oleh para sufi bahwa bertemu dengan Guru Mursyid itu adalah satu karunia Allah yang sangat besar. Saat menatap mata Beliau seakan-akan ruhani ini terbawa melayang langsung ke Alam Rabbani. Salah satu hadab bertemu dengan Guru adalah tidak diperkenankan kita banyak berbicara dan baiknya hanya mendengar dan ketika ditanya oleh Guru haruslah menjawabnya dengan bahasa yang sopan dan dalam hati terlebih dahulu harus memperbanyak Istikhfar, memohon ampun kepada-Nya agar dalam mengucapkan kata-kata kepada Guru nanti tidak disusupi oleh nafsu dan setan.
Dalam hatiku kembali timbul pertanyaan, bukankah Guru bisa berdoa kepada Allah agar disembuhkan dari penyakit ini? Sebagai Wali Allah tentu saja Beliau bisa mendengar suara hatiku, tiba-tiba guruku berkata, “Tidak seperti itu Sufimuda….”
“Pernahkah kau mendengar kisah tentang Nabi Ayyub?”
“Pernah Guru”
“Apa yang kau ketahui tentang Nabi Ayyub?”
“Nabi Ayyub adalah nabi yang paling banyak mengalami sakit, Guru” jawabku.
Kemudian Beliau dengan senyum berkata, “Nabi Ayyub, sakit-sakitan dia, kemudian dia berdoa kepada Allah, ‘Ya Allah sembuhkanlah penyakitku ini’, kemudian Allah berfirman, ‘Apa kau ucapkan Ayyub?’ nabi Ayyyub kembali mengulang do’anya: ‘tolong sembuhkanlah penyakitku ini’ dengan marah Tuhan berkata kepada Nabi Ayyub: ‘Hai Ayyub, sekali lagi kau berdo’a seperti itu aku tampar engkau nanti’ Kemudian dengan polosnya nabi Ayyub bertanya kepada Allah: ‘Ya Allah, berarti engkau senang kalau aku sakit?’ dengan tegas Allah menjawab: ‘Ya, Aku senang kau sakit’. Setelah Nabi Ayyub tahu Tuhan senang kalau dia sakit maka diapun dengan senang menjalani sakitnya itu. Setiap dia mau ambil wudhuk dia pindahkan ulat yang ada di badannya dan setelah selesai beribadah kembali diambil ulat tadi diletakkan di badannya sambil berkata kepadda ulat, ‘hai ulat, kembali kau kesini, Tuhan senang aku sakit’. Begitulah yang dialami nabi Ayyub, maka Gurumu ada persamaan seperti itu”.
Sambil minum segelas air putih kembali Beliau berkata kepadaku, “Aku sudah berjanji kepada Tuhan agar terus memuja-Nya dan berdakwah, makanya setiap aku cerita tentang Tuhan maka badanku terasa enak”.
“Sufi Muda….”
“Saya Guru…”
“Suatu saat nanti kau pasti tahu kenapa aku sakit, silahkan baca dan renungi 2 ayat terakhir dari surat at-Taubah, disana kau menemukan jawabannya. Bacalah Laqadjaakum dengan pelan dan mesra jangan seperti burung beo yang tidak pernah tahu makna dari ucapannya”.
Kemudian Beliau membacakan surat at-Taubah sambil menangis, “Laqadjaakum Rasulun min anfusikum, azizun alaihi ma anittum, harisun alaikum bil mukminina raufur rahim….”
Aku merasakan dadaku bergemuruh dan berguncang hebat mendengar ayat yang Beliau bacakan. Serasa rontok dada ini, dan seluruh tubuh berguncang hebat, aku menangis dengan sejadi-jadinya. Apalagi Beliau membacakan arti ayat tersebut, “…. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin….”
Sungguh lama aku tenggelam dalam tangisan sambil menatap wajah Guruku yang mulia. Firman Allah yang dibacakan oleh kekasih Allah sangat berbeda dengan ayat Allah yang dibacakan oleh pada umumnya orang. Benar seperti yang dikemukan oleh Para Syekh Besar bahwa apabila Wali-Nya membacakan ayat-Nya pastilah Dia hadir menyertai bacaan Kekasih-Nya.
Aku memangis menyesali diri yang selama ini hanya menjadi beban Guru, hanya bisa meminta tapi belum bisa memberi, hanya bisa membebani belum bisa berbhakti, hanya mementingkan diri sendiri tanpa mau peduli, hanya mengharapkan kasih sayang tanpa mau menyayangi.
“Sufi Muda….”
“Saya Guru…”
“Jangan pernah engkau patah semangat kalau melihat Gurumu seperti ini, seluruh dokter di dunia ini tidak akan bisa menyembuhkan sakitku ini. Tuhan ingin menunjukkan kebesaran-Nya. Dan Tuhan sekarang sedang bekerja ke arah sana. Yang kau lihat keramat dan gagah dalam nyata dan mimpimu itu bukanlah aku, tapi itu adalah pancarahan dari Nur Ilahi. Aku hanyalah seorang hamba yang tiada berdaya. Muridku….yang Hebat itu Tuhan saja”
Kemudian Beliau membacakan surat Al-Mujaadilah ayat 21: “Kataballahu La Aghlibanna anaa wa rusulii, innallahaa qawiyum ‘azii zun (Allah telah menetapkan, bahwa tiada kamus kalah bagi Ku dan rasul-rasul-Ku. Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Gagah”.
Ketika aku berpamitan sambil mencium tangannya
Barulah aku tahu bahwa sakit seorang Wali itu bukan sakit biasa akan tetapi sakit karunia. Sakit menanggung beban dari orang-orang yang selalu bersamanya bahkan beban dunia ini. Seminggu kemudian Beliau sembuh, sehat wal afiat bahkan lebih sehat seperti sebelumnya. Terimakasih Tuhan atas berkenannya Engkau mengabulkan do’aku sehingga Guruku sehat kembali.
Ya Tuhan,
Berilah panjang umur dan kesehatan kepada Guruku agar beliau lebih lama lagi membimbing dan menuntun aku yang bodoh dan dungu ini ke jalan-Mu yang Maha lurus.
Ya Tuhan,
Andai masih ada karunia berupa kesenangan dunia yang kelak akan Engkau berikan sepanjang hidupku, berikanlah kesenangan itu kepada Guruku agar Beliau selalu bahagia dan sejahtera.
Ya Tuhan,
Jadikanlah aku orang yang selalu bisa merasakan apa yang dirasakan Guruku, senyumnya menjadi senyumku, deritanya menjadi deritaku, kepedihannya menjadi kepedihanku agar aku bisa mengerti makna dan tujuan hidup di dunia ini.
Ya Tuhan,
Jangan engkau memasukkan aku kedalam orang-orang yang merasa dekat kepada kekasih-Mu yang tanpa sadar justru lebih banyak menyakiti hatinya. Janganlah aku menyayangi kekasih-Mu seperti sayangnya anak kecil kepada seekor kuncing yang terus menerus didekap dalam pelukannya sehingga kucing itu sulit bernafas dan akhirnya mati. Jadikanlah rasa sayangku kepada Guruku sebagaimana Ia ingin disayang.
Ya Tuhan,
Ajari aku yang bodoh, lemah dan tiada berdaya ini untuk bisa mencintai kekasih-Mu sebagaimana ia ingin dicintai.
Ya Tuhan,
Izinkanlah aku bisa terus bersama kekasih-Mu dan bisa melayaninya dengan baik.
Ya Tuhan

Rabu, 04 Mei 2016

MAKAM PENELANJANGAN TUHAN


Makam ini disebut juga dengan makam ahlul akhirat, atau makam HAKIKAT SEMATA. Makam ini sangat dahsyat sekali. Ia diluar dari akal orang banyak. Dan ia tidak berpegang kepada kulit zahir daripada Nas dan dalil lagi. Ia telah menyeberang daripada
Nas dan dalil yang ada ini, ia tidak berpegang dengan kata- kata yang ada ini lagi, dan tidak bersandar kepada hukum-hukum lahir lagi. Ia berdiri sendiri menurut kata SIR-nya
Inilah yang menjadi hukum baginya Jadi yang beginilah yang hamba katakan sangat dahsyat sekali, dan sangat hebat sekali
TIDAK ADA TUHAN, MELAINKAN TUHAN
TIDAK ADA ENGKAU, MELAINKAN AKU
TIDAK ADA AKU, MELAINKAN ENGKAU
ENGKAU DAN AKU ADALAH ESA
ENGKAU LENYAP, AKU BERNYATA
AKU LENYAP ENGKAUPUN NYATA
NGAKU DAN AKU telah lenyap didalam kefanaannya,
kefanaan lenyap didalam ke-esaannya Tuhan.
Keesaan lenyap didalam kekidaman.
Kekidaman lenyap didalam kebaqaan.
Akhirnya fana dan baqa dalam keagungan.
Kini tiada kelihatan lagi makhluknya.
HAMBA dan TUHAN hanyalah asma.
HAMBA itu berarti ; AKU
TUHAN itu berarti ALLAH
HAMBA dan TUHAN adalah Satu
AKU dan ALLAH juga Satu
Kalau dihimpunkan menjadi : AKU ALLAH
Lenyap AKU, tinggallah ALLAH
FANA HURUF ALLAH, timbullah kosong
Kosong huruf, kosong asma, kosong suara, kosong segala-galanya, dan tidak apa-apa, tiada hingga. Ahirnya didalam kekosongan, Nampak jelas ujud membayang. Bayangan Allah adalah alam.
Terpandang kepada Allah Nampak jelas ujud yang sebenarnya. Kerana ia tiada boleh pisah walau ……….........
Jadi bagi orang yang berada pada makam penelanjangan TUHAN, berkata dengan sebarang kata, tapi jadi. Apa yang dikehendaki pasti jadi.
Hanya orang banyak tidak mengerti dan tidak paham dengan apa yang dimaksudkan. Contoh banyak sekali kepada wali-wali Allah yang terdahulu. Hamba pribadi telah banyak membuktikan apa-apa. Yang terjadi, diluar kemampuan orang umum/awam.
Siapa percaya boleh percaya, dan siapa yang tidak percaya boleh tinggalkan ajaran ini.
AKULAH YANG ERNAMA CINTA, AKULAH YANG BERNAMA si HAK, AKULAH YANG BERNAMA SURGA DAN NERAKA ITU. AKULAH YANG BERNAMA ZATULHAQQ, SIFATULHAQQ, ASMAULHAQQ, DAN AF’ALLUNHAQQ, HAQUQULHAQ adalah ; HAQQ, HAQQ TA’ALA itulah AKU.
TA’ALA itu namaku yang rahsia didalam Alam ini.
RUHULHAQ RAHSIA HAMBA, NAMAKU DISEBUT SETIAP SAAT.
Apabila orang menyebut TA’ALA didalam bacaannya, atau dalam hatinya atau dalam DIAMnya. Maka tersebut samaku didalamnya.
AKULAH TA’ALA ITU, DAN AKULAH RAHSIA ITU.
BERARTI HAMBA ALLAH. Yang memberi nama yang empunya nama.
HAMBA ALLAH berarti : AKU ALLAH
NAMA YANG DIHANTARKAN KEPADAKU NYATA DARI ALLAH
Tiap-tiap nama seseorang itu mengandung hikmah. Hikmah itu bertepatan dengan pemberian nama itu. AKULAH YANG HAMBA DAN AKULAH YANG TUHAN.
AKULAH YANG BERNAMA siHAQ ITU
DAN AKULAH YANG NYATA DAN YANG GOIB ITU
AKU JUA YANG LAHIR DAN AKU JUA YANG BATHIN
AKU HIDUP YANG TIADA MATI-MATI, dan apabila AKU tiada lagi dalam dunia fana ini, janganlah mencari Aku lagi.
Aku tetap ada setiap orang yag beriaman kepada ALLAH. Bila engkau hendak bertemu AKU, pandanglah dirimu itu AKU. Tidak ada AKU, melainkan AKU. Dalam keseluruhannya.
AKULAH yang bernama ala mini, dan AKULAH YANG bernama akhirat itu
Tidak aku lihat didalam sesuatu itu, melainkan AKU melihat AKU
AKU itu telah lenyap dalam KE AKUANKu, sehingga tidaklah AKU melihat kehambaanku lagi. Dan Aku telah bernyata didalam AKU, beraku ku. Sehingga hapuslah mulutku dan hatiku
mengata AKU. Kini Aku tidak berkata dengan lidah lagi, tidak dengan hati lagi, dan tidak dengan puad dan jantung lagi.
TA’ALA REDHA KASIH SAYANGKU
TA’ALA RAHMAD ITU SELIMUTKU
TA’ALA NIKMAT ITU RASAKU
TA’ALA HIKMAH ITU RACHMAN RACHIMKU
TA’ALA SUNNAH ITU ATURANKU
TA’ALA SHOLEH ITU ILMUKU
TA’ALA ADIL ITU KEKUASAANKU
TA’ALA ISFIAH ITU KEMAUANKU
TA’ALA DHOIM ITU RAHSIA PRIBADIKU
TA’ALA ALAIH ITU KALAMKU PASTI
T ‘ALA JALAL ITU KEMESRAANKU
TA’ALA JAMAL ITU KEELOKKANKU
TA’ALA KOHAR ITU KEKERASANKU
TA’ALA KAMAL ITU KESEMPURNAAN DAN KEMULIAANKU
TA’ALA KHIB ITU KESATUANKU BAGI SELURUH ALAM
Demikianlah sebagai penutup dari pembukaan
Rahsia yang terkandung pada kejadian DUNIA dan
Akhirat, dan amalan akhir kalamku sebagai harta atau
Pembendaharaan GHAIB yang kuwariskan dari Murshid AKU

Selasa, 03 Mei 2016

MENATAP WAJAH ALLAH


Kata Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, “Ini merupakan puncak kerinduan pecinta surga dan bahan kompetisi mereka. Dan untuk hal ini seharusnya orang-orang bekerja keras untuk mendapatkannya.”
Nabi Musa pernah meminta hal ini. Dijawab oleh Allah swt. seperti yang tertera di ayat 143 surat Al-A’raf.
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku. Tapi lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”
Ada tujuh pelajaran dari ayat di atas:
1. Tidak boleh menuduh kepada Nabi Musa bahwa ia meminta sesuatu yang tidak diperkenankan oleh Allah swt.
2. Allah tidak memungkiri permintaan Nabi Musa.
3. Allah menjawab dengan kalimat, “Kamu tidak akan sanggup melihat-Ku.” Bukan mengatakan, “Aku tidak bisa dilihat.”
4. Allah Mahakuasa untuk menjadikan gunung itu tetap kokoh di tempatnya, dan ini bukan hal mustahil bagi Allah, itu merupakan hal yang mungkin. Hanya saja dalam hal ini Allah juga mempersyaratkan adanya proses ru’yah (melihat). Jadi, seandainya hal itu merupakan sesuatu yang mustahil, sudah tentu Allah tidak akan mempersyaratkan hal itu.
5. Kalimat “tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luruh” adalah bukti bahwa bolehnya melihat Allah swt. Jika boleh bagi-Nya menampakkan diri kepada gunung, bagaimana terhalang untuk menampakan diri kepada para nabi, rasul, dan wali-Nya di kampung akhirat?
6. Di ayat itu Allah swt. memberitahu kepada Nabi Musa bahwa gunung saja tidak mampu melihat-Nya di dunia, apalagi manusia yang lebih lemah dari gunung.
7. Allah swt. telah berbicara dengan Nabi Musa. Nabi Musa juga telah mendengar perkataan Allah swt. tanpa perantara. Maka, melihat-Nya sudah pasti sangat bisa.
Dalil Bertemu Allah
1. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. (Al-Baqarah: 223)
Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
2. Penghormatan kepada mereka (orang-orang beriman) pada hari mereka menemui-Nya adalah salam. (Al-Ahzab: 44)
Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.
3. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih. (Al-Kahfi: 110)
Katakanlah: Sesungguhnya aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya”.
4. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah. (Al-Baqarah: 249)
Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, Maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari Ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Para ahli bahasa sepakat bahwa jika liqa’ itu dinisbahkan kepada yang hidup, yang selamat dari gangguan kebutaan dan penghalang lainnya. Maka, hal itu menuntut adanya penglihatan dengan mata.
Bagaimana Dengan Ayat 103 Surat Al-An’am?
Laa tudriku hu al-absharu wa huwa yudriku al-abshara wa huwa al-lathiifu al-khabiir.
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu.
Kata Ibnu Taimiyah, “Ayat ini lebih menunjukkan bahwa Allah bisa dilihat daripada menunjukkan tidak bisa dilihat. Allah menyebutkannya dalam konteks memberikan pujian. Sudah maklum bahwa pujian terhadap diri-NYa adalah sifat-sifat yang pasti dan melekat. Jika tidak ada, maka tidak sempurna, sehingga tidak layak dipuji.”
Ibnu Taimiyah menambahkan, “Hanya saja Allah itu dipuji dengan tidak adanya sesuatu bila sesuatu itu mengandung hal yang ada wujudnya, sebagaimana pujian terhadap diriNya dengan menafikan kantuk dan tidur yang mencakup kesempurnaan terus-menerusnya Allah mengurus makhluk-Nya; menafikan kematian yang berarti kesempurnaan hidup, serta menafikan capek dan letih yang mengandung kesempurnaan kekuasaan.”
Ibnu Taimiyah lalu menegaskan, “Oleh karena itu, Allah tidak memuji diri-Nya dengan ketiadaan yang mengandung sesuatu yang melekat. Sebab, sesuatu yang ditiadakan (ma’dum) itu menyertai yang disifati berkenaan dengan ketiadaan itu. Sesuatu Dzat Yang Sempurna tidak bisa disifati dengan hal yang layak bagi-Nya maupun sesuatu yang tiada. Jika saja yang dimaksud oleh firman Allah swt. laa tadrikuhu al-abshaaru adalah bahwa Dia tidak bisa dilihat dalam kondisi apa pun, maka dalam hal ini tidak ada pujian maupun kesempurnaan, karena yang tiada juga demikian. Sesuatu yang tiada jelas tidak bisa dilihat dan tidak bisa ditangkap dengan penglihatan, sedangkan Rabb jelas Mahatinggi untuk dipuji dengan sesuatu yang juga terdapat pada sesuatu yang jelas tidak ada. Dengan demikian, makna dari ayat di atas adalah bahwa Ia tetap bisa dilihat namun tidak bisa ditangkap sepenuhnya dan tidak bisa dimengerti hakikatnya.”
Maka, kata Ibnu Taimiyah, “Firman Allah laa tudrikuhu al-abshaaru menunjukkan puncak dari keagungan Allah. dan bahwa Dia lebih Besar dari segala sesuatu. Dan juga, karena keagunganNya, Dia tidak bisa ditangkap atau dimengerti oleh pandangan. Kata idraak adalah lebih dalam daripada ru’yah (melihat).”
Liqa’ullah Adalah Az-Ziyadah
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada “pahala yang baik” (surga) dan “tambahannya”. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (Yunus: 25-26)
Menurut Ibnu Qayyim, yang dimaksud dengan kata al-husna di ayat itu adalah al-jannah (surga), sedangkan yang dimaksud dengan az-ziyadah (tambahan) adalah memandang wajah Allah Yang Mulia. Ini adalah tafsir Rasulullah saw. atas ayat itu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.
Rasulullah membaca ayat lilladzina ahsanu al-husna wa ziyadah, lalu bersabda, “Jika ahli surga sudah masuk ke dalam surga, demikian juga ahli neraka sudah masuk ke dalam neraka, maka ada seorang malaikat yang menyeru: Wahai ahli surga, sesungguhnya kalian telah dijanjikan di sisi Allah, maka sekarang Allah hendak menunaikan janji itu kepada kalian. Mereka berkata: apakah janji itu? Bukankah Dia telah membuat berat timbangan kebaikan kami dan telah membuat putih (cerah) wajah kami, serta telah memasukkan kami ke dalam surga dan mengeluarkan kami dari neraka? Akhirnya, tabir pun dibuka lalu mereka bisa melihat kepada-Nya. Sungguh tidak ada sesuatu yang telah Dia berikan kepada ahli surga yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada-Nya. Itulah yang dimaksud dengan ziyadah.”
Ali bin Abi Thalib dan Anas bin Malik berkata, “Yang dimaksud adalah melihat Wajah Allah swt.” saat menafsirkan ayat lahum maa yasyaa-una fiihaa wa ladainaa maziid, mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi kami ada tambahannya. (Qaf: 35).
Melihat Dengan Mata Kepala
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat kepada RabbNya. (Al-Qiyamah: 22-23)
Ayat ini menegaskan dengan gamblang bahwa Allah akan dilihat dengan mata kepala secara langsung pada hari kiamat nanti. Tentang hal ini banyak hadits berderajat mutawatir.
Hadits Abu Hurairah dan Abu Sa’id dalam Shahihain menceritakan bahwa para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?” Rasulullah saw. menjawab, “Apakah kalian mendapatkan kesulitan melihat bulan pada saat purnama?” Mereka menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kalian mendapatkan kesulitan melihat matahari pada saat tidak ada awan?” Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau kemudian bersabda, “Seperti itu juga kalian melihat Rabb kalian.”
Anas bin Malik berkata, “Manusia akan melihat Allah pada hari kiamat nanti dengan mata kepala mereka.”
Orang Kafir Tidak Akan Melihat Allah
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. (Al-Muthaffifin: 14-15)
Dan salah satu bagian dari hukuman terbesar terhadap orang-orang kafir adalah mereka terhalang untuk melihat Allah dan terhalang dari mendengar perkataan-Nya.
Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i menjelaskan tentang ayat itu, “Ketika mereka itu terhalang dari melihat Rabb mereka karena mereka dalah orang-orang yang dibenci atau dimurkai Allah, maka ini menjadi bukti bahwa wali Allah itu akan melihat Allah karena Allah meridhai mereka.”
Lalu Ar-Rabi’ bertanya, “Wahai Abu Abdillah, apakah benar engkau mengatakan demikian?” Ia menjawab, “Ya, benar! Karena itu pulalah aku menundukkan diri diri di hadapan Allah. Kalau saja Muhammad bin Idris tidak meyakini bahwa ia akan melihat Allah tentu ia tidak mau menghambakan diri kepada-Nya.”

KALAU SUDAH MAKRIFAT TIDAK SHOLAT ???


Dalam tradisi Tasawuf, semakin seseorang naik derajat ma’rifatnya semakin ketat dan disiplin syariatnya. Sebab semakin mengenal Allah, semakin mengenal rahasia syariat dan agungnya perintah Allah dibalik syariat.
Kalau ada yang ma’rifat lalu meninggalkan syariat, pasti keblinger, dan itu bukan sufi juga bukan ajaran Islam, apa pun namanya. Mereka biasanya berpandangan bahwa syariat adalah Jalan menuju Hakikat, kalau sudah sampai hakikat untuk apa bersyari’at? Nah, disinilah keblingernya. Syariat itu bukan Jalan menuju hakikat. Tetapi bersyariat itu adalah menjalankan perintah dari Yang Maha Hakiki, Allah Rabbul ‘Izzah. Jika ia ma’rifat lalu meninggalkan syariat, berarti ia tidak ma’rifat kepada Allah, tapi ma’rifat kepada jin dan syetan, serta hawa nafsunya sendiri, walaupun perilakunya kelihatan bagus dan lembut serta memiliki dimensi ghoib yang tinggi misalnya. Tapi tipudaya itu bisa kelihatan lembut dan bisa kasar, bisa hebat dan bisa membuat orang tersihir.
Mungkin saja dia beralasan, saya juga menjalankan perintah sholat tetapi sholat saya berbeda dengan sholatnya orang awam yang lima waktu itu. Sholat saya adalah sholat hakikat tidak perlu berbunyi dan bergerak dan berkata-kata.
Nah, ia tidak menyadari betapa lemah dirinya. Orang ma’rifat kok merasa bisa sholat, ini jadi janggal. Sejak zaman Nabi sampai besok kiamat, teknis dan tata cara sholat tetap sama. Selama manusia masih memiliki kesadaran ruang, waktu, dimensi, arah dan akalnya sehat, masih wajib sholat. Yang tidak wajib sholat orang gila, orang tidur, orang lupa, anak kecil yang belum baligh.
Puji dan syukur bagi Allah semata, yang telah menjadikan Sholat’ “Seutama-utama peribadatan, kunci ibadah, tiang agama, penggenap dan penentu diterimanya amal-amal shalih, serta menjadi cahaya bagi pelakunya di Hari Kiamat kelak.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, baginda Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam, juga kepada keluarga ahlul baitnya serta seluruh umat yang setia mengikuti risalah yang dibawa oleh beliau Shalallaahu Alaihi Wassallam sampai akhir jaman.
Sabda Rasulullah SAW, “Tiadalah seorang hamba memperoleh sesuatu dari shalatnya selain yang dilakukannya dengan kesadaran.”
Dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa pada suatu hari, Jibril a.s..datang kepada Nabi Saw. Ia bertanya, “Ya, Rasulullah! Pernahkah Anda melihat malaikat di langit di atas dipan dengan dikelilingi tujuh puluh ribu malaikat lain yang berbaris? Mereka setia melayaninya. Dari setiap nafas yang dihirup malaikat itu, Allah menciptakan malaikat lain. Namun kini, aku melihat malaikat itu berada di atas gunung Qāf dan sayapnya hancur. Ketika ia melihatku, ia meminta tolong kepadaku. Aku bertanya ‘Apa kesalahanmu?’
Ia menjawab : 'Pada malam mikraj aku sedang berada di atas dipan. Lalu Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam berlalu di hadapanku, tetapi aku tidak berdiri untuk mengormatinya. Allah lantas menghukumku dengan hukuman ini dan menempatkanku di tempat ini, sebagaimana yang engkau lihat.’
"Lalu aku menundukkan diri kepada Allah dan memohonkan syafa’at-Nya".
Allah SWT berfirman,
‘Wahai Jibrĩl, katakan kepadanya agar ia bershalawat kepada Muhammad.’
Ia kemudian bershalawat kepadamu. Lalu Allah SWT pun mengampuninya serta menumbuhkan lagi sayapnya.”
Diriwayatkan bahwa amalan hamba yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah sholat.
Jika didapati sempurna, diterima darinya dan juga amalan-amalannya yang lain. Akan tetapi, jika didapati cacat, dikembalikan salat itu kepadanya dan juga amalan-amalan lainnya.
Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda:
“Perumpamaan sholat fardhu adalah seperti timbangan.
Barang siapa yang menyempurnakannya, berarti sempurnalah ia.”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda,
“ Dua orang dari umatku mendirikan sholat. Rukuk dan sujud mereka sama. Apa yang ada di antara kedua sholat mereka itu seperti apa yang ada di antara langit dan bumi.” (Beliau menunjuk pada kekhusyukan satu atas lainnya).
Disebutkan dalam suatu hadits, “Pada Hari Kiamat Allah tidak memandang hamba yang tidak meluruskan tulang punggunya di antara rukuk dan sujud.”
Diriwayatkan bahwa Beliau SAW bersabda: “Barang siapa yang mendirikan sholat pada waktunya, membaguskan wudhu’nya; serta menyempurnakan rukuk, sujud dan kekhusyukannya, salat itu naik kelangit dalam rupa wajah putih bercahaya.
Ia berkata,
‘Semoga Allah memeliharamu sebagaimana engkau telah memeliharaku.”
Akan tetapi: “Barang siapa yang mendirikan sholat di luar waktunya; tidak membaguskan wudhu’nya; serta tidak menyempurnakan rukuk, sujud dan kekhusyukannya, salat itu naik kelangit dalam rupa wajah hitam kelam.
Ia berkata,
‘Semoga Allah menelantarkanmu sebagaimana engkau
telah menelantarkanku.”
Dengan kehendak Allah sholat itu dilipat sebagaimana pakaian manusia dilipat, lalu di pukulkan ke wajah orang itu.”
Beliau juga pernah bersabda, ”Sejelek-jelek manusia adalah yang mencuri dalam sholatnya.” Ibn Mas’ũd r.a. berkata, “Sholat itu adalah takaran.
Barangsiapa menyempurnakannya, sempurnalah ia. Akan tetapi, barangsiapa yang menguranginya, hendaklah ia tahu firman Allah SWT yang berbunyi:
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻤِﻮَﻳْﻞٌ ﻟِّﻠْﻤُﻄَﻔِّﻔِﻴﻦَ
“Celakalah orang-orang yang mengurangi timbangan.”
(QS al-Muthaffifĩn [83]:1).
Sholatlah dengan sepenuh khusyuk dan kehadiran hati, karena barangsiapa yang hatinya tidak menyatu dengan hakikat, maka rusaklah sholatnya.
Dalam salah satu riwayat, Mu’awiyah bin Hakam as Sulami menceritakan bahwa ketika ia sedang sholat bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba ada orang yang bersin. Lalu ia mengucapkan “Yarhamukallah”. Tatkala Nabi Saw telah selesai sholat, Nabi SAW bersabda;
“... Sesungguhnya tidak pantas bercakap-cakap dalam sholat; karena sholat itu ialah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an.”
Firman Allah:
ﻭَﻗُﻮﻣُﻮﺍْ ﻟِﻠّﻪِ ﻗَﺎﻧِﺘِﻴﻦَ
“Sholatlah kamu karena Allah dengan khusyu’.”
(QS Al-Baqarah [2]:238)
Seorang ‘ulama mengatakan,
“Perumpaan orang yang sholat itu seperti pedagang yang tidak memperoleh laba sebelum habis modalnya. Demikian pula dengan sholat, tidak diterima sunnahnya sebelum ditunaikan fardhunya.”
Abũ Bakar r.a. berkata, ”Jika tiba waktu sholat, berdirilah di hadapan api (merka) Tuhanmu yang kalian nyalakan. Lalu padamkanlah.”
Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda;
“Sholat itu ketenangan dan kerendahan hati.”
Ditempat lain Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda,
” Barangsiapa yang sholatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, niscaya tidak bertambah dari selain bertambah jauh. Sholat orang yang lalai tidak dapat mencegah dari
perbuatan keji dan munkar.”
Sabda Nabi SAW: “Betapa banyak orang yang berdiri untuk sholat tetapi tidak memperoleh apapun selain letih dan lelah, dan tidak mendapatkan selain orang yang lalai.”
Sabda Rasulullah SAW, “ Tiadalah seorang hamba memperoleh sesuatu dari shalatnya selain yang dilakukannya dengan kesadaran.”
Ahli ma’rifat berkata,”Sholat itu ada empat hal, yaitu dimulai dengan ilmu, berdiri dengan rasa malu, ditegakkan dengan keagungan, dan keluar darinya dengan rasa takut.”
Sementara seorang guru sufi berkata,” Barangsiapa yang hatinya tidak menyatu dengan hakikat, rusaklah sholatnya.”
Dalam suatu hadits Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda;,
Di surga ada sebuah sungai bernama al-Afyah. Di situ terdapat bidadari-bidadari yang Allah ciptakan dari za’farān yang bermain dengan mutiara dan yakut. Mereka memuji Allah dengan tujuh puluh ribu bahasa. Suara mereka lebih indah daripada suara Dāwud a.s. Mereka mengatakan, ‘Kami adalah milik orang-orang yang mendirikan sholatnya dengan khusyuk dan kehadiran hati. Allah SWT lalu berfirman, ‘Pasti aku tempatkan ia di rumah-Ku dan menjadikan-nya berada di samping-Ku.”
Diriwayatkan bahwa Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Saw.,
“Katakan kepada orang-orang yang durhaka di antara umatmu yang tidak mengingat-Ku,’Di mana saja engkau mengingat-Ku, berdzikirlah kepada-Ku sementara kamu menghentikan anggota badanmu (dari berbuat maksiat). ketika berdzikir pada-Ku, jadilah orang yang khusyuk dan tenang. Apabila kamu berdzikir kepada-Ku, jadikanlah lidahmu di belakang kalbumu. Jika kamu berdiri di hadapan-Ku, berdirilah seperti berdirinya hamba yang hina serta bermunajat dengan hati yang takut dan lisan yang benar.”
Wallahu A’lam Bis Shawab.
Akhirul kata, demikianlah kajian kita tentang “Khusyuk dalam Sholat" Bagian pertama yang dapat kami sajikan pada topik kita kali ini. dan Insya Allah, lanjutan topik ini akan dapat kami sajikan dalam waktu dekat. Semoga bermanfaat!
“ Ya Allah, berilah kami rezeki dapat berjumpa dengan-Mu di dunia dan akhirat. Lezatkan kami dengan dekat kepada-Mu dan melihat-Mu. Jadikan kami termasuk orang yang ridha kepada-Mu dari selain-Mu. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari bersandar kepada asbab dan berdiri bersama nafsu, keinginan, dan adat kebiasaan, dan kami berlindung kepada-Mu dari segala keburukan dalam setiap keadaan. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.
ﺇِﻥّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮﺍ ﺗَﺴْﻠِﻲ ﻣﺎً
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ber-Shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah
Salam penghormatan kepadanya.”
(QS Al-Ahzab [33]:5)

PUNCAK TERTINGGI


Puncak tertinggi adalah mengenal Allah… Allah itu ADA. Untuk mencari yang ADA, seseorang salik itu perlu mati… “mati sebelum mati”… (jangan bunuh diri pula) … dengan itu tidaklah ia asyik dengan angan-angan kosong dan khayalan sahaja.
Salik dan dunia ini …hanya wujud dalam fikiran…. bagaimana pun ia tiada hakikatnya… kedua-suanya semata-mata …KOSONG. Sesuatu yang kosong tidak dapat menyampaikan kepada yang ADA.
Oleh itu… mencari yang ADA … daripada sesuatu yang tidak ada.. adalah sesuatu yang sia-sia… kerana yang tidak ada.. tidak berupaya menzahirkan yang ADA.
Sebaliknya …Yang ADA lah yang mewujudkan segala sesuatu “yang tidak ada”… KOSONG.. kepada yang ADA.
Dzat yang ghaib lagi ghaib itu… selama-lamanya tidak akan ada kenyataannya…. tetapi ada penzairan sifat-sifatnya.. terutamanya kepada salik yang mukmin.. salik yang mengenal NYA. Si salik hanya menjadi pernyataan … tajali… Dzat yang ghaibul ghaib.
Daripada AHDAH.. timbul pula …WAHDAH.. iaitu kenyataan kesempurnaan Sifat NYA.. inilah pintu untuk mengenal yang ADA…. yang tiada …KOSONG… tidak mungkin boleh bertukar menjadi Yang ADA…
DIA lah yang ADA, DIA lah Yang Zahir…Yang Batin…Yang Awal.. dan Yang Akhir…
Oleh yang demikian wujud NYA lebih terang dan nyata daripada wujud-wujud yang lain ..
DIA lah Yang Melihat dan Yang Di Lihat..
Wujud kamu…. hanya tidak ada…. KOSONG….semata-mata.
Mengenal Allah SWT.pada Zat-nya,pada Sifat-nya,pada Asma’nya dan pada Af’al-nya.
1. AWALUDIN MA’RIFATULLAH Artinya :
Awal agama mengenal Allah.
2. LAYASUL SHALAT ILLA BIN MA’RIFAT Artinya :
Tidak syah shalat tanpa mengenal Allah.
3. MAN ARAFA NAFSAHU FAKAT ARAFA RABBAHU Artinya :
Barang siapa mengenal dirinya dia akan mengenal Tuhannya.
4. ALASTUBIRAFBIKUM QOLU BALA SYAHIDENA Artinya :
Bukankah aku ini Tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,kami menjadi saksi.(QS.AL-ARAF 172)
5. AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU Artinya :
Manusia itu rahasiaku dan akulah rahasianya.
6. WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUUN Artinya :
Aku ada didalam Jiwamu mengapa kamu tidak melihat.
7. WANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ Artinya :
Aku lebih dekat dari urat nadi lehermu.
8. LAA TAK BUDU RABBANA LAM YARAH Artinya :
Aku tidak akan menyembah Allah bila aku tidak melihatnya lebih dahulu.
Bismillahirrahmanirrahim.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH
Pada malam Raibul Ruyub yaitu dalam keadaan antah-berantah pada zat,Semata-mata,pada belum ada awal dan belum ada akhir,belum ada Bulan dan belum ada Matahari,belum adbintang belum ada sesuatu.
Malahan belum ada Tuhan yang bernama Allah,maka dalam keadaan ini,diri yang punya zat tersebut ialah Mentajalikan diri-nya untuk memuji diri-nya.
Lantas Tajali-nyalah Nur Allah dan kemudian ditajali-nya pula Nur Muhammad Yaitu Insan Kamil, yang pada peringkat ini dinamakan Anta Ana,Ana Anta.
Maka yang punya zat bertannya kepada Nur Muhammad dan sekalian Roh untuk menentukan kedudukan dan taraf hamba.
Lantas ditanyakan kepada Nur Muhammad, aku ini Tuhanmu ? Maka jawablah Nur Muhammad yang mewakili seluruh Roh, Ya…Engkau Tuhanku.Persaksian ini dengan jelas diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Araf 172.
ALASTUBIRABBIKUM,QOOLU BALA SYAHIDNA.
Artinya : Bukan aku ini tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,Kami menjadi Saksi.
Selepas pengakuan atau persumpahan Roh ini dilaksankan,maka bermulalah Era barudi dalam perwujudan Allah SWT.seperti firman Allah dalam Hadits Qudsi yang artinya :
“Aku suka mengenal diriku, lalu aku jadikan mahkluk ini dan aku perkenalkan diriku.
Apa yang dimaksud dengan mahkluk ini ialah : Nur Muhammad sebab seluruh kejadian alam maya ini dijadikan daripada Nur Muhammad.tujuan yang punya zat mentajalikan Nur Muhammad adalah untuk memperkenalkan diri-nya sendiri dengan diri Rahasianya sendiri,Maka diri Rahasianya itu adalah ditanggung dan diakui Amanah ya oleh suatu kejadian yang bernama :
Insan yang bertubuh diri bathin (Roh) dan diri bathin itulah diri manusia,atau Rohani.
FIRMAN ALLAH DALAM HADITS QUDSI ;
AL-INSAANU SIRRI WA-ANA SIRRUHU
Artinya : Manusia itu Rahasiaku dan akulah yang menjadi Rahasianya.
Jadi yang dinamakan manusia itu ialah : karena IA MENGANDUNG RAHASIA.
Dengan perkataan lain manusia itu mengandung Rahasia Allah.
Karena manusia menanggung Rahasia Allah maka manusia harus berusaha mengenal dirinya,dan dengan mengenal dirinya manusia akan dapat mengenal tuhannya,sehingga lebih mudah kembali menyerahkan dirinya kepada yang punya diri pada waktu dipanggil oleh Allah SWT.yaitu tatkala berpisah Roh dengan jasad.
Firman Allah dalam surat An-nisa ayat 58 SBB:
INNALLAHA YAK MARUKUM ANTU ABDUL AMANATI ILAAHLIHA.
Artinya :Sesunggunya Allah memerintahkan kamu supaya memulangkan amanah kepada yang berhak menerimanya. (Allah).
Hal tersebut diatas dipertegas lagi oleh Allah dalam Hadits Qudsi :
MAN ARAFA NAFSAHU,FAQAT ARAFA RABAHU.
Artinya : Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal tuhannya.
Dalam menawarkan tugas yang sangat berat ini,Pernah ditawarkan Rahasia-nya itu kepada Langit,Bumi dan Gunung-gunung tetapi semuanya tidak sanggup menerimanya.
Seperti firman Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surat Al—Ahzab ayat 72.
INNA ‘ARAT NAL AMATA, ALAS SAMAWATI WAL ARDI WAL JIBAL FA ABAINA ANYAH MILNAHA WA AS FAKNA MINHA,WAHAMA LAHAL INSANNU.
Artinya : Sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat kepada Langit,Bumi danGunung-gunung tetapi mereka enggan memikulnya dan merasa tidak akan sanggup, Lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya.
Oleh karena amanat (Rahasia Allah) telah diterima,maka adalah menjadi tanggung jawab manusia untuk menunaikan janjinya.
Dengan kata lain tugas manusia adalah menjaga hubungannya dengan yang punya Rahasia.
Setelah amanat (Rahasia Allah) diterima oleh manusia (diri Bathin/Roh) untuk tujan inilah maka Adam dilahirkan untuk m,emperbanyak diri, diri penanggung Rahasia dan berkembang dari satu Dekade ke satu Dekade,diri satu generasi ke generasi yang lain sampai alam ini mengalami KIAMAT DAN RAHASIA DI KUMPUL KEMBALI.
INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUN.
Artinya : Kita berasal dari Allah, kembali kepada Allah.

Ayat-ayat Ma'rifatullah 2


ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
Secara ringkas, dapat dikatakan bahwa ketauhidan seseorang dalam asma dan shifat itu maksudnya adalah bahwa seseorang itu meng-esakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan nama2 yang telah Allah sebutkan bagi diri-Nya sendiri, dan menyifati Allah dengan sifat2 yang telah Allah sifatkan bagi diri-Nya sendiri di dalam kitab-Nya, ataupun melalui lisan Nabi-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan kemudian ia menetapkan semua itu dengan tanpa merubahnya, tanpa menghilangkannya, tanpa menanyakan bagaimananya, dan tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya.
Pengertian yang semakna dengan pengertian di atas ini -kurang lebihnya- pernah dikemukakan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah.
Atau dari sisi yang lainnya, penjelasan tentang asma dan shifat Allah ini insya Allah dapat pula kita pahami –diantaranya- berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh ibnu Qudamah rahimahullah dari perkataannya al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bahwa beliau berkata :
ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﺳﻤﺎﺀ ﻭﺻﻔﺎﺕ ﺟﺎﺀ ﺑﻬﺎ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﻭﺍﺧﺒﺮ ﺑﻬﺎ ﻧﺒﻴﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻣﺘﻪ ﻻ ﻳﺴﻊ ﺍﺣﺪﺍ ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻗﺎﻣﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺤﺠﻪ ﺭﺩﻫﺎ ﻷﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻧﺰﻝ ﺑﻬﺎ ﻭﺻﺢ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺑﻬﺎ ﻓﻴﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﻌﺪﻝ ﻓﺈﻥ ﺧﺎﻟﻒ ﺫﻟﻚ ﺑﻌﺪ ﺛﺒﻮﺕ ﺍﻟﺤﺠﺔ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻓﺮ ﻓﺎﻣﺎ ﻗﺒﻞ ﺛﺒﻮﺕ ﺍﻟﺤﺠﺔ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻤﻌﺬﻭﺭ ﺑﺎﻟﺠﻬﻞ ﻷﻥ ﻋﻠﻢ ﺫﻟﻚ ﻻﻳﺪﺭﻙ ﺑﺎﻟﻌﻘﻞ ﻭﻻ ﺑﺎﻟﺮﻭﻳﺔ ﻭﺍﻟﻔﻜﺮ ﻭﻻ ﻳﻔﻜﺮ ﺑﺎﻟﺠﻬﻞ ﺑﻬﺎ ﺍﺣﺪ ﺍﻻ ﺑﻌﺪ ﺍﻧﺘﻬﺎﺀ ﺍﻟﺨﺒﺮ ﺍﻟﻴﻪ ﺑﻬﺎ ﻭﻧﺜﺒﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺼﻔﺎﺕ ﻭﻧﻨﻔﻲ ﻋﻨﻬﺎ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﻛﻤﺎ ﻧﻔﻰ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﻋﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻴﺲ ﻛﻤﺜﻠﻪ ﺷﻲﺀ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺴﻤﻴﻊ ﺍﻟﺒﺼﻴﺮ
“Mengenai nama-nama dan sifat-sifat Allah ta'ala, maka semua itu telah datang kabar di dalam kitab-Nya dan telah dikabarkan pula oleh Nabi-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada umat beliau.
Maka, tidak ada seorang pun dari makhluk2 Allah ta'ala yang boleh menolaknya setelah hujjah ditegakan kepadanya, karena Al-Qur'an telah turun dengan membawa nama-nama dan sifat-sifat-Nya itu dan telah shahih sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh orang2 yang adil mengenai nama-nama dan sifat-sifat Allah tersebut.
Apabila ada seseorang yang menyelisihinya setelah tsabitnya hujjah kepadanya, maka ia kafir.
Adapun jika belum tsabit hujjah kepadanya, maka ia diberikan udzur disebabkan kejahilannya, sebab ilmu tentang hal ini tidaklah dapat dicapai melalui akal, bukan pula melalui perenungan, dan tidak pula melalui hati dan pemikiran. Dan kami tidaklah mengkafirkan seorangpun dalam masalah ini karena dia tidak tahu, kecuali jika setelah sampainya khabar kepadanya.
Dan kami tetapkan semua shifat Allah ini, sekaligus kami nafikan darinya penyerupaan sebagaimana Allah sendiri telah menafikan adanya penyerupaan dengan firman-Nya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.”
(Itsbat Shifat al-‘Uluw hal. 124)
Al-Quran surat Al-Isra ayat 30
Allah berfirman :
ﺇِﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﻳَﺒْﺴُﻂُ ﺍﻟﺮِّﺯْﻕَ ﻟِﻤَﻦ ﻳَﺸَﺂﺀُ ﻭَﻳَﻘْﺪِﺭُ ﺇِﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﺑِﻌِﺒَﺎﺩِﻩِ ﺧَﺒِﻴﺮًﺍ ﺑَﺼِﻴﺮًﺍ
“Sesungguhnya Rabb-mu melapangkan rejeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”
Tentang firman Allah : “Sesungguhnya Rabb-mu melapangkan rejeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya,"
Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah mengatakan :
ﺇﺧﺒﺎﺭﺍً ﺃﻧﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻫﻮ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ ﺍﻟﻘﺎﺑﺾ ﺍﻟﺒﺎﺳﻂ ﺍﻟﻤﺘﺼﺮﻑ ﻓﻲ ﺧﻠﻘﻪ ﺑﻤﺎ ﻳﺸﺎﺀ , ﻓﻴﻐﻨﻲ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ , ﻭﻳﻔﻘﺮ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ
“Ayat ini mengabarkan bahwa Allah ta’ala, Dia-lah yang memberi rejeki, menggenggamnya, melapangkannya, dan mengaturnya untuk makhluk2-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki.
Maka Dia jadikan kaya siapa yang Dia kehendaki, dan Dia jadikan faqir siapa yang Dia kehendaki yang pada hal itu terdapat hikmah.”
(Tafsir ibnu Katsir 5/66)
Adapun sebagian orang, mereka memandang bahwa kekayaan dan kemiskinan ini merupakan salah satu patokan bagi kehinaan dan kemuliaan seseorang.
Jika dia kaya, maka dia mulia, tapi jika dia miskin, berarti dia adalah orang yang hina.
Padahal masalahnya tidaklah seperti itu.
Kehinaan dan kemuliaan seseorang, sama sekali tidak ditentukan dari banyak atau sedikitnya harta yang Allah berikan kepadanya.
Bahkan telah tsabit dalam hadits yang shahih, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ﻗُﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﺎﺏِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻋَﺎﻣَّﺔَ ﻣَﻦْ ﺩَﺧَﻠَﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻴﻦُ
“Aku berdiri di pintu surga, dan ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah orang2 miskin.”
(Shahih al-Bukhari 7/30 no.5196)
Atau sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang semisal :
ﻭﻗﺎﻟﺖ ﻫﺬﻩ ﻳﺪﺧﻠﻨﻲ ﺍﻟﻀﻌﻔﺎﺀ ﻭﺍﻟﻤﺴﺎﻛﻴﻦ
“Dan surga berkata : “Orang2 lemah dan orang2 miskin akan memasukiku.”
(Shahih Muslim 4/2186 no.2846)
Bukankah ini merupakan satu kemuliaan yang besar bagi orang2 miskin?
Maka sungguh kemiskinan bukanlah selalu berarti suatu kehinaan, dan begitupula kekayaan tidaklah selalu berarti kemuliaan.
Berkenaan dengan masalah ini, Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan dalam tafsir atas surat Saba’ ayat 36 (1) :
ﻗﻞ ﻟﻬﻢ ﻳﺎ ﻣﺤﻤﺪ ( ﺇِﻥَّ ﺭَﺑِّﻲ ﻳَﺒْﺴُﻂُ ﺍﻟﺮِّﺯْﻕَ ) ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﺎﺵ ﻭﺍﻟﺮﻳﺎﺵ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ( ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ) ﻣﻦ ﺧﻠﻘﻪ ( ﻭَﻳَﻘْﺪِﺭُ ) ﻓﻴﻀﻴﻖ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ ﻻ ﻟﻤﺤﺒﺔ ﻓﻴﻤﻦ ﻳﺒﺴﻂ ﻟﻪ ﺫﻟﻚ ﻭﻻ ﺧﻴﺮ ﻓﻴﻪ ﻭﻻ ﺯﻟﻔﺔ ﻟﻪ ﺍﺳﺘﺤﻖ ﺑﻬﺎ ﻣﻨﻪ ، ﻭﻻ ﻟﺒﻐﺾ ﻣﻨﻪ ﻟﻤﻦ ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﺫﻟﻚ ﻭﻻ ﻣﻘﺖ ، ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻳﻔﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﻣﺤﻨﺔ ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﻭﺍﺑﺘﻼﺀ ، ﻭﺃﻛﺜﺮ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻻ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻔﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﺍﺧﺘﺒﺎﺭًﺍ ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﻭﻟﻜﻨﻬﻢ ﻳﻈﻨﻮﻥ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﻨﻪ ﻣﺤﺒﺔ ﻟﻤﻦ ﺑﺴﻂ ﻟﻪ ﻭﻣﻘﺖ ﻟﻤﻦ ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻴﻪ .
“(Allah berfirman) : “Wahai Muhammad, katakanlah kepada mereka : “Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rejeki “ dari hal penghidupan dan pakaian2 yang mewah bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara makhluk2-Nya. Dan Dia menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya,
(Tapi) semua itu bukanlah karena kecintaan Allah kepada orang2 yang Dia lapangkan rejekinya dan tidak pula karena kebaikan di dalamnya……
Dan itu juga bukanlah karena kemarahan dan kebencian Allah kepada orang2 yang Dia sempitkan rejekinya. Akan tetapi Allah melakukan itu adalah sebagai ujian dan cobaan untuk hamba2-Nya.
Sebagian besar manusia tidak mengetahui bahwa Allah melakukan itu sebagai ujian untuk hamba2-Nya, dan mereka menyangka bahwa orang2 yang dilapangkan rejekinya merupakan tanda kecintaan Allah sedangkan bagi orang2 yang disempitkan rejekinya merupakan tanda kebencian Allah.”
(Jami’ul-Bayan 20/410)
Kemudian, Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah di tempat lainnya menjelaskan dari sisi yang lebih prinsipil dalam masalah ini, yaitu bahwa pada kedua keadaan tersebut (yakni kelapangan dan kesempitan rejeki), maka sisi keta’atan kepada Allah-lah yang seharusnya menjadi hal yang diperhatikan oleh seorang hamba.
Beliau rahimahullah mengatakan :
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻌﻄﻲ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻣﻦ ﻳﺤﺐ ﻭﻣﻦ ﻻ ﻳﺤﺐ ﻭﻳﻀﻴﻖ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻳﺤﺐ ﻭﻣﻦ ﻻ ﻳﺤﺐ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻤﺪﺍﺭ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻃﺎﻋﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺎﻟﻴﻦ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻏﻨﻴﺎ ﺑﺄﻥ ﻳﺸﻜﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻭﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻓﻘﻴﺮﺍ ﺑﺄﻥ ﻳﺼﺒﺮ
“Sesungguhnya Allah ta’ala memberikan harta kepada orang yang Dia cintai dan kepada orang yang tidak Dia cintai. Dan Dia menyempitkan rejeki kepada orang yang Dia cintai dan kepada orang yang tidak Dia cintai.
Acuan dalam masalah ini hanyalah berkenaan dalam ketaatan kepada Allâh dalam dua keadaan tersebut.
Apabila seseorang itu diberikan kekayaan, maka hendaknya ia bersyukur kepada Allâh atas hal itu, dan jika ia berada dalam kemiskinan, maka hendaknya ia bersabar.”
(Tafsir ibnu Katsir 8/388)
Apa yang dikemukakan oleh Al-Hafizh rahimahullah di atas, adalah sebagaimana sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam mengenai sifat seorang mu'min :
ﻋﺠﺒﺎ ﻷﻣﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺇﻥ ﺃﻣﺮﻩ ﻛﻠﻪ ﺧﻴﺮ ﻭﻟﻴﺲ ﺫﺍﻙ ﻷﺣﺪ ﺇﻻ ﻟﻠﻤﺆﻣﻦ ﺇﻥ ﺃﺻﺎﺑﺘﻪ ﺳﺮﺍﺀ ﺷﻜﺮ ﻓﻜﺎﻥ ﺧﻴﺮﺍ ﻟﻪ ﻭﺇﻥ ﺃﺻﺎﺑﺘﻪ ﺿﺮﺍﺀ ﺻﺒﺮ ﻓﻜﺎﻥ ﺧﻴﺮﺍ ﻟﻪ
"Sungguh mengagumkan urusan seorang mu'min. Sesungguhnya setiap urusannya adalah baik, dan tidaklah hal itu terjadi kecuali kepada diri seorang mu'min.
Apabila dia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Dan bersyukur itu adalah baik baginya.
Apabila ia tertimpa kemudharatan, maka ia bersabar. Dan bersabar itu adalah baik baginya."
(Shahih Muslim 4/2295 no.2999)
Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah, bahwa bagi seorang muslim, kedua keadaan tersebut, yakni baik dalam kelapangan ataupun kesempitan rejeki atau dalam kondisi kaya ataupun miskin, maka hendaknya sisi keta’atan kepada Allah dalam kedua keadaan itulah yang seharusnya menjadi hal yang diperhatikan dan diutamakan olehnya.
Jika ia kaya, hendaknya ia menjadi seorang muslim yang bersyukur.
Dan jika ia miskin, hendaknya ia menjadi seorang muslim yang bersabar.
Kemudian....
Tentang firman Allah :
“sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”
Yakni bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat akan keadaan hamba2-Nya, dalam hal siapa yang berhak untuk menjadi kaya dan siapa yang berhak untuk menjadi miskin.
Al-Hafizh rahimahullah mengatakan :
ﺃﻱ ﺧﺒﻴﺮﺍً ﺑﺼﻴﺮﺍً ﺑﻤﻦ ﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﻐﻨﻰ ﻭﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﻔﻘﺮ
“Yaitu Allah Maha Mengetahui, dan Maha Melihat siapa2 yang berhak untuk kaya, dan siapa2 yang berhak untuk miskin.”
(Tafsir ibnu Katsir 5/66)
Terakhir.....satu yang perlu sekali diingat, yakni bahwa :
ﻭﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻐﻨﻰ ﻓﻲ ﺣﻖ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺍﺳﺘﺪﺭﺍﺟﺎً , ﻭﺍﻟﻔﻘﺮ ﻋﻘﻮﺑﺔ , ﻋﻴﺎﺫﺍً ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﻭﻫﺬﺍ
“Adakalanya kekayaan yang ada pada sebagian manusia itu merupakan satu istidraj (atau bisa dikatakan sebagai sesuatu yang pada akhirnya akan menuju kepada kebinasaan), sedangkan kemiskinan itu merupakan satu hukuman. (Maka) kita berlindung kepada Allah dari kedua hal tersebut.”
(Tafsir ibnu Katsir 5/66)
Note :
(1) Selengkapnya surat Saba’ dari ayat 34 sampai dengan 36 :
“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.
Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.
Katakanlah: "Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".
(Q.S Saba’ ayat 34-36)