Laman

Jumat, 13 Mei 2016

Memiliki Indera Ke 6


Karena anggapan seperti inilah sehingga pada mulanya sebagian orang mengatakan bahwa ESP atau indra keenam hanyalah takhyul atau cerita dongeng. Tetapi sekarang kebenaran adanya indra keenam sudah dibuktikan oleh para ilmuwan dan peneliti di seluruh dunia.
Seorang ilmuwan bernama Dr. J.B. Rhine mengadakan penelitian ilmiah pertama atas ESP ini pada tahun 1930-an dan 40-an di Duke University. Hasil penelitiannya cukup menakjubkan dunia akademis pada waktu itu, khususnya karena banyak ilmuwan yang lain sedang berlomba-lomba ingin mengkonfirmasi kebenaran adanya apa yang disebut ESP itu. Buku yang ditulisnya berjudul Extra-Sensory Perception after 60 Years menjadi buku wajib sebagai bacaan pendahuluan mata kuliah psychology di Universitas Harvard. Penelitiannya diulangi lagi di seluruh dunia sebanyak 309 kali yang melibatkan 50,000 orang dan 2 juta sesi, dan membuktikan tanpa keraguan bahwa ESP atau indra ke-6 benar-benar ada.
Pada awal abad ke 20, seorang ilmuwan terkenal bernama Albert Einstein berkata:
“Pikiran intuitif adalah karunia yang mulia dan pikiran yang rasional adalah hamba yang setia. Kita telah menciptakan suatu masyarakat yang menghormati hamba dan telah melupakan karunia itu.”
Nah, orang-orang yang memiliki kemampuan indra ke-6 sering disebut psychic. Pada umumnya orang menganggap bahwa indra ke-6 hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu seperti paranormal dan sejenisnya. Tetapi sesungguhnya, setelah diadakan penelitian bertahun-tahun seperti disebutkan di atas ditemukan bahwa semua manusia memiliki indra ke-6 atau ESP
Sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna kita sebagai manusia adalah juara sejak lahir karena kita adalah satu-satunya sel yang berhasil menjadi bentuk yang sempurna dari sekian banyak juta sel, meskipun terkadang ada (maaf) yang terlahir dalam keadaan tidak sempurna atau tidak lengkapnya anggota tubuh, tetapi janganlah pernah melihat mereka dengan sebelah mata karena dibalik kekurangannya pasti ada kelebihan yang dia miliki, yang mungkin kita tidak ketahui. Demikian pula dalam hal supranatural, dari sekian banyak manusia yang berkeliaran dimuka bumi ini pasti ada orang yang memiliki indera ke-6 atau kemampuan diluar batas kewajaran bahkan mungkin juga anda salah satunya.
Berikut adalah 7 Ciri Ciri Orang Memiliki Indera Ke 6 :
1. Pernah mengalami mimpi yang kemudian menjadi kenyataan, mimpi tersebut sebenarnya adalah pandangan kita tentang masa yang belum terjadi, indera keenam kita yang mungkin kalah dengan nafsu duniawi, hanya bisa memperingatkan kita melalui otak dan mewujudkan peringatan tersebut lewat mimpi.
2. Merasakan ada sesuatu di dekat anda padahal waktu itu anda hanya sendiri, bisa jadi waktu itu anda memang tidak sendiri, sebenarnya ada makhluk lain yang mungkin lebih dari satu, berada di dekat anda, mungkin mereka sebenarnya ingin bertutur sapa dengan anda, namun kebanyakan dari mereka justru mempermainkan perasaan anda hingga anda jadi merinding, nah merinding itu sebenarnya adalah wujud dari proteksi alamiah anda melalui aura yang mengusir tamu tak di undang tadi, semakin besar keberanian anda, maka semakin kuat aura anda untuk mengusir mereka, dan rasa merinding tadi pun semakin hilang.
3. Pada keadaan tertentu kita merasa ada seseorang/sesuatu yang memperhatikan kita,namun setelah di tengok tidak ada siapapun. Untuk kedua kalinya kami juga yakin bahwa sebenarnya anda memang di perhatikan oleh sesuatu, mungkin tetangga kita dari alam lain, ataupun para pengelana yang sedang singgah di dekat anda. Bisa juga sihir jahat yang memang di kirim untuk anda dan lain sebagainya.
4. Deja vu adalah perasaan yakin bahwa anda telah mengalami atau melihat situasi yang sebenarnya baru saja anda alami. Anda merasa seolah peristiwa tersebut telah terjadi atau terulang lagi. Pengalaman ini biasanya disertai dengan rasa akrab, seram, atau aneh. Deja vu biasanya dihubungkan dengan mimpi, tapi kadang-kadang ada kemungkinan bahwa hal itu memang benar-benar terjadi di masa lalu .. ilmu jiwa mengatakan deja vu adalah bagian dari visi supranatural yang bocor, yang seharusnya tidak keluar … namun terpaksa keluar oleh kekuatan bawaan seseorang, dan membentuk sebuah perasaan yang tidak asing lagi bagi kita, padahal kita baru mengalami sekali itu, perasaan tersebut berasal dari pandangan kita sendiri, sebenarnya peringatan akan tibanya hari itu (saat deja vu kita rasakan) telah tertangkap oleh indera keenam, indera tersebut sebenarnya mencoba untuk menginformasikan pada kita, namun gagal, sehingga di saat kita benar-benar mengalami hal tersebut, perasaan akan visi tadi meluap-luap hingga kita merasa mengalami satu kejadian dua kali. Kesimpulanya, deja vu berarti kehendak bebas sang indera keenam untuk menentukan pilihanya, ia tidak mau di kontrol oleh hukum alam, dan ia menunggu sang pemilik untuk melatih dan membebaskanya dari tabir belenggu.
5. Saat kita memperhatikan sesuatu tanpa berkedip, kita akan menangkap cahaya yang menyelimuti benda tersebut, namun setelah di amati kembali, cahaya tadi pun lenyap. Ketahuilah bahwa cahaya yang menyelimuti benda padat dalam pandangan anda tersebut adalah aura/prana yang menyelimuti benda itu, anda bisa bertanya pada ahli aura atau ahli meditasi yang berpengalaman.
6. Ketika pertama kali kita bertemu dengan seseorang kita merasakan ketidak sukaan/kecocokan, meskipun kita belum mengenal orang itu. Hal ini disebabkan karena adanya alarm tak terlihat dari indera keenam, aura yang kita miliki akan menyatu dengan aura orang yang bertemu dengan kita, di saat penyatuan aura tersebut, bila kita bisa melihat, akan terjadi interaksi, bila kita mengalami kecocokan, maka warna aura tersebut akan berubah dan melebur sehingga muncul kesan yang hangat dan nyaman ……. seperti terasa sangat bersahabat, dan bila sebaliknya, maka akan terjadi tolak-menolak selayaknya medan magnet hingga kita merasakan gerah dan kurang nyaman, jadi bila anda merasa tidak suka dengan orang yang bahkan belum kita kenal, maka bisa di pastikan orang tersebut juga merasakan hal yang sama, hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan kita untuk mencari rekan bisnis maupun pasangan.
7. Pernah melihat sekelebat bayangan, begitu nyata, namun setelah di sadari, ternyata tidak ada apapun di sekitar kita. Bukan ilusi optik atau gangguan mata yang di akibatkan posisi tubuh terhadap letak pandangan, namun sekelebat bayangan tadi memanglah tetangga kita yang sedang numpang lewat, bila anda adalah salah satu dari pemilik indera keenam, anda pasti tau maksudnya, dan anda pun pasti juga tau, terkadang kamar kita adalah jalan pintas atau jalan masuk ke rumah mereka, dan terkadang anda pasti kesal, jika kamar mandi/toilet kita di jadikan dapur oleh mereka. Munculnya sekelebat bayangan tadi sebenarnya adalah visi kita yang berasal dari celah yang di miliki oleh tabir penghalang dari indera keenam. Karena di saat pikiran kita kosong, keinginan akan nafsu dan keduniawian pun ikut kosong, sehingga tabir yang menyelimuti indera tersebut juga sedikit memiliki celah, contohnya adalah saat kita nonton tv, dan kurang enjoy dengan acaranya, saat melamun, saat sedih, saat bosan dll, sekelebat bayangan itupun tak akan muncul bila pikiran kita tidak dalam keadaan seperti yang disebutkan diatas.

Suara yang diulang setiap minit di dunia ini


Maha Suci Allah yang Maha Mencipta. Ketahuilah bahawa Azan tidak terputus berkumandang di ‘globe’ bumi selama 24 jam. Mengikut penyelidikan yang dilakukan di sebuah Universiti di UAE, didalam bidang Matematik, menjelaskan bahawa ini merupakan keajaiban yang dijadikan oleh Maha Pencipta didalam memberi hak kepada ‘Suara Azan” sepanjang 24 jam setiap hari.
Penyelidiknya didalam kajian tersebut berkata : “ Sesungguhnya Azan yang memanggil orang Islam melakukan ibadat solat tidak pernah putus dari globe bumi setiap hari pada setiap putaran masa, dimana setelah Azan selesai berkumandang disesuatu kawasan, ia akan diteruskan berkumandang dikawasan yang lain !!”
Abdul Hamid al-Fadhil, penyelidikan tersebut menjelaskan bahawa globe bumi ini boleh dibahagikan kepada 360 garisan, dimana ditentukan waktu setiap kawasan tersebut darinya. Setiap garis dipisahkan dengan garisan dengan jangka waktu 4 minit, diandaikan Azan dilakukan tepat pada waktunya bagi setiap kawasan. Diandaikan juga muezzin yang baik akan melaungkan azan selama 4 minit.
Dia juga mengandaikan Azan akan dikumandangankan pada setiap daerah digarisan tersebut selama 4 minit, maka setiap 4 minit kawasan-kawasan yang berada pada garisan tersebut akan melaungkan Azan. Maka, dalam tempoh 24 jam, genap 360 garisan globe bumi melaksanakan Azan, dan menunjukkan bahawa Azan berkemundang secara berterusan selama 24jam didalam penghidupan bumi. Formulanya boleh gambarkan seperti berikut :-
4 (minit) x 360 (longitude) = 1440 minit
1400 (minit) / 60 (minit) = 24 jam
Maha Suci Allah yang memperlihatkan kekuasaannya kepada makhluk yang sentiasa alpa memahami hakikat perjalanan bumi ini. Bayangkan pada saat dimana Azan sudah tiada lagi kedengaran, apakah yang akan terjadi kepada makhluk yang berada dibumi ini? Firman Allah swt :-
وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ
“Dan berapa banyak tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan di bumi yang mereka menyaksikannya berulang-ulang semasa mereka pagi dan datang, sedang mereka tidak juga menghiraukan dan memikirkannya.” [Surah Yusuf : 105].
Berkata Ibn Kathir rh : “Allah mengkhabarkan bahawa kebanyakkan orang tidak memikirkan mengenai tanda-tanda (Ayat) dan bukti Allah yang satu terhadap ciptaan Allah pada langit dan bumi. Allah mencipta bintang-bintang dan planet-planet yang mengelilingi orbit, dan semuanya cipta dengan tujuan tertentu. Terdapat banyak tanah-tanah yang subur terletak sebelah menyebelah, dan taman-taman, gunung-gunung, lautan, dimana ombaknya memukul diantara satu sama lain, dan padang pasir yang luas. Terdapat banyak makhluk yang hidup dan yang mati, dikalangan binatang, tumbuh-tumbuhan, dan buah-buahan yang sama bentuknya, akan tetapi berbeza rasa, bau, warna dan sifat. Kesemuanya disebabkan Allah yang satu, yang menjadikan semua jenis ciptaan, dimana hanya dia yang tetap dan kekal selama-lamanya. Hanyalah dia yang tersendiri Nama dan Sifatnya.”

Jenis macam seksaan dalam neraka


Berikut ini adalah macam macam siksaan dan banyak siksaan lainnya yang akan diberikan sebagai hukuman kepada para penduduk neraka:
1) Api neraka yang menghanguskan kulit. Api neraka ciptaan Allah subhanahu wa ta'ala akan membakar kulit orang-orang kafir. Kulit adalah bagian tubuh yang sangat sensitif, bagian yang merasakan apa yang dirasakan oleh tubuh, dimana rasa sakit akibat kebakaran dirasakan, dan inilah alasannya mengapa Allah subhanahu wa ta'ala akan mengganti kulit yang terbakar itu dengan kulit baru, untuk kemudian dibakar lagi, dan proses tersebut berlangsung terus tanpa henti-hentinya:
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak Kami akan masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain (baru), supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Qs. an-Nisa'[4]: 56)
2) Air yang menghancurkan isi perut. Salah satu jenis siksaan yang akan dirasakan oleh penghuni neraka adalah penyiraman hamim ke atas kepala mereka. Hamim adalah air yang sangat panas; karena panasnya yang sangat tinggi, hamim akan menghancurkan semua isi perut mereka.
"Orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu, dihancurkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka." (Qs. al-Hajj[22]: 19-20)
Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda, "Hamim akan dituangkan ke atas kepala mereka dan terus menembus ke dalam perut dan menghancurkan segala apa yang ada di dalamnya, untuk kemudian keluar dari kaki dengan melelehkan semuanya, kemudian orang itu dikembalikan lagi ke bentuk semula." Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan-gharib-shahih. [1]
3) Penyiksaan di wajah. Bagian yang paling agung dan mulia dari tubuh seorang manusia adalah wajah. Karena itu, Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam melarang kita untuk memukul atau menampar wajah orang lain. Salah satu cara yang dilakukan Allah subhanahu wa ta'ala untuk memperlakukan para penghuni neraka dengan hina adalah dengan menumpukkan azab atas mereka di wajah, sehingga mereka berada dalam keadaan buta, tuli, dan bisu pada hari kiamat nanti.
"Dan kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (dengan menyeret mereka) pada wajah dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam. Tiap kali nyala api jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya." (Qs. al-Isra'[17]: 97)
Kemudian mereka akan dilemparkan ke dalam neraka dengan muka terlebih dahulu:
"Dan siapa yang membawa kejahatan, disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tidaklah kamu dibalas melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan." (Qs. an-Naml[27]: 90)
Api neraka akan menghanguskan muka mereka terus-menerus, tanpa ada batas antara mereka dan api:
"Andaikata orang-orang kafir itu mengetahui, waktu (dimana) mereka tidak mampu mengelakkan api neraka dari muka mereka dan (tidak pula) dari punggung mereka, sedang mereka tidak pula mendapat pertolongan, (tentulah) mereka tidak meminta disegerakan." (Qs. al-Anbiya'[21]: 39)
"Maka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat." (Qs. al-Mu'minun[23]: 104)
"Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka." (Qs. Ibrahim[14]: 50)
"Apakah orang yang melindungi dirinya dengan wajahnya dari kejahatan azab pada hari kiamat (sama dengan orang yang bebas dari siksaan)?" (Qs. az-Zumar[39]: 24)
Melihat pemandangan yang menakutkan ini membuat kita gemetar!
"Pada hari ketika wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, "Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat kepada Rasul." (Qs. Al-Ahzab[33]: 66)
Persis seperti kita membolak-balik daging atau ikan di atas pembakaran, begitulah azab yang akan mereka terima di neraka nanti. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala melindungi kita dari azab neraka!
4) Diseret. Siksaan lain yang akan dialami orang-orang kafir ialah bahwa mereka akan diseret di atas muka mereka ke dalam neraka.
"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. (Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka di atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka), "Rasakanlah sentuhan api neraka." (Qs. al-Qamar[54]: 47-48)
Pada waktu mereka diseret itu, penderitaan mereka akan bertambah lagi karena mereka diikat dengan rantai dan belenggu "Kelak mereka akan mengetahui ketka belenggu dan rantai dipasang di leher mereka seray diseret ke dam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api." (Qs. al-Mu'min[40]: 70-72)
Qatadah berkata, "Mereka akan diseret satu kali di dalam neraka dan satu kali dalam hamim. [2]
5) Penghitaman wajah. Allah subhanahu wa ta'ala akan menghitamkan wajah para penghuni neraka di hari kiamat nanti.
"Pada hari ketika, ada muka yang putih berseridan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu, rasakanlah azab sebab kekafiranmu itu." (Qs. Ali 'Imran[3]: 106)
Muka mereka begit hitamnya seolah-olah kegelapan malam telah menutup muka mereka:
"Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (Qs. Yunus[10]: 27)
6) Api neraka akan mengelilingi orang-orang kafir.Para penghuni neraka adalah orang-orang kafir yang dikelilingi (dibelit) olh dosa-dosa dan ketidaktaatan mereka, sehingga bagi mereka tidak ada lagihasanah (kebaikan). Allah subhanahu wa ta'ala befirman, sebagai jawaban terhadap orang-orang Yahudi yang mengaku bahwa api neraka akan menyentuh mereka hanya sementara waktu: "(Bukan demikian), siapa yang melakukan kejahatan dan dibelit oleh dosa-dosa, merekalah yang menjadi ahli neraka, mereka kekal di dalamnya." (Qs. al-Baqarah[2]: 81)
Hanya orag-orang kafir dan musyrik yang akan menghadapi kenyataan yang demikian itu. Siddiq Hasan Kan berkata, "Apa yang dimaksud disini dengan kejahatan atau perbuatan jahat adalah perbuatan-perbuata tertentu yang karena alasan-alasan yang sudah jelas tidak akan dapat mengantarkan para pelakunya untuk mencapaihasanah. Kekekalan di neraka adalah untuk orang-orang kafir dan musyrik, sehingga perbuatan jahat dan dosa dalam ayat ini harus ditafsirkan sebagai kata yang berarti kafir dan syirik. Jadi, argumentasi kaum Mu'tazilah dan Khawarij telah dibuktikan kesalahannya oleh hadits-hadits mutawatir yang menyatakan bahwa orang-orang Muslim yang berdosa pada akhirnya nanti akan dikeluarkan dari neraka."
Dosa-dosa dan perbuatan jahat mengelilingi orang-orang kafir seperti gelang melingkari pergelangan tangan. Oleh sebab itu, hukuman yang ditimpakan atas mereka sepadan dengan kejahatan-kejahatan mereka. Karenanya orang-orang kafir akan dikelilingi oleh api neraka, sebagaimana yang difirmankan Allah subhanahu wa ta'ala, "Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka)." (Qs. al-A'raf[7]: 41)
"Tikar tidur" ada di bawah badn mereka, dan "selimut" di atasnya. Maksudnya, api neraka akan mengelilingi mereka dari atas dan bawah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:
"Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah mereka." (Qs. al-'Ankabut[29]: 55)
"Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan api..." (Qs. az-Zumar[39]: 16)
"Dan sesungguhnya jahanam itu benar-benar mengelilingi orang-orang kafir." (Qs. at-Taubah[9]: 49)
Sebagian ulama salaf menginterpretasikan katamihad (tikar tidur) dengan makna "kasur" danghawasy dengan "selimut." [3]
Kata "mengelilingi" dapat ditafsirkan lain, yaitu bahwa neraka mempunyai dinding yang mengelilingi (mengepung) orang-orang kafir, sehingga mereka tidak bisa keluar untuk melarikan diri, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala, "Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang-orang lalim itu neraka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi mendidih yang melelehkan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Qs. al-Kahfi[18]: 29)
7) Api neraka menjilat jantung mereka. Di atas telah diterangkan bahwa ukuran tubuh para penghuni neraka besar sekali. Namun demikian, api neraka akan menembus ke dalam tubuh mereka dan menjalar sampai ke bagian-bagian tubuh yang paling dalam.
"Aku akan memasukkannya ke dalam neraka saqar. Tahukah kamu apa neraka saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Neraka saqar itu adalah pembakar kulit manusia." (Qs. al-Muddatstsir[18]: 29)
Menurut sebagian ulama salaf, frase "tidak meninggalkan" mempunyai makna bahwa "api neraka itu memakan tulang-tulang, daging-daging, dan otak, dan tidak ada yang tidak disentuhnya." [4]
"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia benar-benar akan dilemparkan ke dalam huthamah. Dan tahukah kamu apa huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang membakar sampai ke jantung." (Qs. al-Humazah[104]: 4-7)
Muhammad ibn Ka'ab al-Qurthubi berkata, "Api huthamah membakarnya sampai ke jantungnya, dan kemudian Allah menciptakan tubuh yang baru. Ada yang mengatakan bahwa ketika Tsabit al-Banani membacakan ayat tersebut, ia berkata, 'Api huthamah akan membakar mereka (orang-orang kafir), sampai api tersebut menjalar ke jantung mereka, tetapi mereka tetap hidup, agar mereka merasakan betapa pedihnya azab tersebut.' Kemudian ia menangis. [5]
8) Semua isi perut mereka akan keluar dan terburai di neraka. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Usamah ibn Zaid bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:
"Seseorang akan ditarik dan dilemparkan ke dalam neraka pada hari kiamat nanti. Kemudian semua isi perutnya akan keluar dan terburai di dalam neraka, dan ia dipaksa berjalan berkeliling seperti seekor keledai yang menarik sebuah jentera. Penduduk neraka berkumpul di sekelilingnya dan berkata, "Hai Fulan, apa kesalahanmu? Apakah kamu tidak menyuruh kami berbuat baik dan melarang kami melakukan kejahatan?" Ia menjawab, "Saya selalu menyuruh kamu berbuat baik, tetapi saya sendiri tidak melakukannya, dan saya selalu melarang kamu melakukan kejahatan, tetapi saya sendiri sering melakukannya." [6] Kemudian ia berjalan berkeliling seperti seekor keledai menarik jentera."
Salah seorang penduduk neraka yang seluruh isi perutnya akan dikeluarkan di neraka nanti adalah 'Amr ibn Lahiy, orang pertama yang mengubah agama masyarakat Arab. Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam melihatnya menarik isi perutnya sendiri di neraka. Muslim meriwayatkan dari Jabir ibn 'Abdullah bahwa Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam bersabda, "Saya melihat 'Amr ibn 'Amir al-Khuza'i menarik isi perutnya sendiri di neraka, dan ia adalah orang pertama yang memulai tradisi sa'ibah (melepas unta betina untuk makan rumput dengan bebas demi berhala)." [7]
9) Rantai, belenggu, dan martil para penghuni neraka. Allah subhanahu wa ta'ala telah menjanjikan bahwa para penghuni neraka akan "diberi" rantai, dibelengggu, dan martil:
"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala." (Qs. al-Insan[76]: 4)
"Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala, serta makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih." (Qs. al-Muzammil[73]: 12-13)
Belenggu-belenggu tersebut akan dipasang di leher mereka:
"Dan kami pasang belenggu di leher orang-orang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan." (Qs. Saba'[34]: 33)
"Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka seraya mereka diseret." (Qs. al-Mu'min[40]: 71)
Rantai-rantai atau belenggu-belenggu itu sengaja digunakan Allah subhanahu wa ta'ala untuk menghukum mereka: "Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu..." (Qs. al-Muzammil[73]: 12)
Rantai-rantai tersebut adalah sejenis hukuman yang lain, yang digunakan unuk mengikat orang-orang yang berdosa, sebagaimana layaknya para penjahat di dunia ini dirantai dan diikat. Simak bagaimana Al-Qur'an menggambarkannya, "(Allah berfirman), 'Pegangilah ia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.'"(Qs. al-Haqqah[69]: 30-32)
Allah subhanahu wa ta'ala telah menjanjikan bahwa orang-orang kafir yang mencoba melarikan diri dari neraka akan dicambuk dengan batang-batang besi dan kemudian dilemparkan lagi ke bagian neraka yang lebih dalam:
"Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi (untuk menghukum mereka). Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), "Rasakanla azab yang membakar ini." (Qs. al-Hajj[22]: 21-22)
10) Mereka akan ditemani oleh sembahan-sembahan dan setan-setan mereka di neraka. Kaum kafir dan musyrik mempunyai kebiasaan untuk mengagung-agungkan berhala-berhala yang mereka sembah, bukannya mengagungkan dan menyembah Allah subhanahu wa ta'ala. Mereka dengan cara apapun juga akan berusaha membela berhala-berhala tersebut, bahkan bersedia mengorbankan diri dan harta mereka demi pengabdian mereka kepada berhala-berhala dan sembahan-sembahan mereka itu. Pada hari kiamat nanti, Allah subhanahu wa ta'ala akan memasukkan sembahan-sembahan mereka itu ke dalam neraka, sebagai penghinaan atas mereka agar menyesal dan mereka tahu bahwa mereka telah sesat dan menyembah sesuatu yang tidak mempunyai kekuatan yang dapat memberi mereka keuntungan atau mencelakakan mereka.
"Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan (mereka) semua kekal di dalamnya." (Qs. al-Anbiya'[21]: 98-99)
Ibn Rajab mengatakan, "Karena orang-orang kafir itu menyembah berhala-berhala, bukannya menyembah Allah subhanahu wa ta'ala, dan mereka percaya berhala-berhala tersebut dapat menjadi perantara antara mereka dengan Allah sehingga dapat mendekatkan mereka kepada Allah subhanahu wa ta'ala, mereka akan dihukum dengan mengikutsertakan berhala-berhala tersebut bersama mereka di neraka untuk menghina dan mempermalukan mereka, dan untuk membuat mereka menyesali perbuatan-perbuatan mereka. Karena, apabila suatu hukuman disertai dengan sesuatu yang menjadi penyebab dijatuhkannya hukuman tersebut, hal ini akan menambah kepedihandan penyesalan bagi si pelaku kejahatan."[8]
Karena alasan ini pula, matahari dan bulan akan dilemparkan ke dalam neraka dan menjadi bahan bakarnya, untuk menghukum orang-orang kafir yang suka menyembah keduanya, bukannya menyembah Allah. Ini sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits, "Matahari dan bulan akan digulingkan dalam neraka." [9]
Al-Qurthubi mengatakan, "Benda-benda tersebut dimasukkan ke dalam neraka, karena merekalah--bukannya Allah subhanahu wa ta'ala--yang telah disembah oleh orang-orang kafir. Benda-benda tersebut dimasukkan ke dalam neraka bukan dengan maksud untuk menghukum benda-benda itu, karena benda-benda itu adalah benda mati yang tidak bernyawa, melainkan untuk menambah rasa penyesalan dan malu orang-orang kafir. Hal inilah yang dikatakan oleh sebagian ulama." [10]
Untuk alasan yang sama, orang-orang kafir akan dikumpulkan bersama setan-setan mereka agar hukuman mereka terasa lebih berat dan lebih pedih:
"Siapa yang berpaling dari ajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur'an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat) ia berkata, "Aduhai, andai saja (jarak) antara aku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat." Setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia). (Harapanu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersama-sama dalam azab."(Qs. az-Zukhruf[43]: 36-39)
Referensi: Al-Asyqar, 'Umar Sulaiman (2001).Surga dan Neraka.

Kisah gubernur dan tulang busuk

Kisah gubernur dan tulang busuk
Setelah tidak lagi bergabung dengan tentara Muslimin, Amr bin Ash dipercaya Khalifah Umar bin Khattab menjadi gubernur Mesir. Menjadi pemimpin umat Islam di sana, serta berdakwah mengajak kepada siapa saja untuk beriman kepada Allah SWT.
Amr bin Ash menempati istana megah, lengkap dengan berbagai kenikmatan dan jaminan keamanan pada setiap waktu. Namun kemegahan istananya itu bertolak belakang dengan gubuk kecil dan reyot yang berada tidak jauh dari depan istananya.
Dalam buku kisah keadilan para pemimpin Islam tulisan Nasiruddin dikatakan, Suatu ketika Amr berpikir untuk menggusur gubuk tersebut menggantinya dengan membangun sebuah masjid agung. Hal itu dimaksudkan supaya terjadi keseimbangan antara istana sebagai refleksi dari kehidupan dunia dan masjid sebagai upaya meraih kebahagiaan akhirat.
Kemudian Amr mengumpulkan seluruh pejabatnya untuk membahas kemungkinan pembangunan masjid impiannya. Dalam rapat tersebut, Amr mendapat informasi jika gubuk reyot di depan istananya adalah milik keluarga Yahudi miskin. Informasi tersebut justru semakin menguatkan keinginan Amr untuk segera meletakkan batu pertama pembangunan masjid.
Esok harinya, Amr memanggil orang Yahudi yang mendiami gubuk ke istana. Sesampainya di Istana, Amr kemudian mengutarakan maksudnya ingin membangun masjid di atas tanah tempat gubuk milik orang Yahudi tersebut. Sebagai imbalannya, Amr bersedia membeli tanah dengan harga yang telah disepakati.
Mendengar rencana itu, orang Yahudi tidak menyanggupi permintaan sang gubernur. Dengan lantang dia menolak untuk menyerahkan tanahnya walau dibayar berpuluh kali lipat. Sambil berjalan meninggalkan istana, orang Yahudi tetap pada pendiriannya tidak menyerahkan harta satu-satunya yang dimiliki.
Sebagai gubernur, Amr tidak mengindahkan keputusan orang Yahudi yang tetap pada pendiriannya. Segera Amr menetapkan surat keputusan untuk membongkar paksa gubuk keluarga Yahudi miskin tersebut. Amr beralasan pembongkaran dilakukan untuk mewujudkan sebuah kemaslahatan yang lebih besar kepada kaum Muslimin Mesir.
Orang Yahudi yang sedang tidur santai di gubuknya kaget begitu melihat dari kejauhan, sejumlah tentara kerajaan berjalan menuju ke arahnya. “Atas perintah gubernur, kami ingin membongkar paksa gubuk kamu untuk dijadikan masjid,” kata salah satu prajurit dengan nada tinggi.
Keluarga Yahudi menangis tanpa henti, tanpa daya dia menyaksikan tempat tinggal satu-satunya yang mereka miliki harus dibongkar. Orang Yahudi membayangkan saat-saat bahagia melihat senyum anggota keluarganya akan berakhir hanya dalam hitungan menit.
Di tengah perasaan sedihnya tersebut, tiba-tiba orang Yahudi teringat akan pemimpin tertinggi umat Islam, Khalifah Umar bin Khattab yang berada di Madinah. Tanpa pikir panjang, segera dia berjalan menuju Madinah untuk meminta keadilan atas keputusan Gubernur Amr.
Namun dalam perjalanan, orang Yahudi berkecil hati ketika membayangkan sosok Umar bin Khattab. Dia pesimis, dirinya yang lusuh dengan pakaian compang-camping akan disambut setibanya di Madinah, terlebih keluhannya didengarkan oleh seorang tokoh besar Muslimin. Dengan perasaan gundah, orang Yahudi tetap berjalan ke Madinah menjajal keberuntungan nasibnya.
Sesampainya di Madinah, semua yang dia takutkan tidak terjadi. Dengan ramah, Khalifah Umar menyambut orang Yahudi layaknya tamu kenegaraan. Suguhan aneka makanan dan minuman mejadi bentuk betapa hormatnya khalifah kepada tamu, meski dirinya menyadari bukan seorang muslim.
Sambil menyantap hidangan, orang Yahudi menceritakan permasalahannya kepada Khalifah Umar. Di akhir pembicaraan, Umar meminta orang Yahudi untuk mengambil sepotong tulang busuk yang berada di tempat sampah tidak jauh dari tempat dia duduk. Dengan keraguan, orang Yahudi menuruti permintaan Umar.
Di tulang busuk itu, Umar kemudian mencabut pedang dari selongsongnya dan menggoreskan garis lurus pada tulang busuk. “Bawalah tulang busuk ini baik-baik ke Mesir dan berikan kepada gubernurmu, Amr bin Ash,” kata Umar sambil menyodorkan tulang busuk tersebut kepada orang Yahudi. Dengan perasaan bingung, orang Yahudi hanya menuruti permintaan Umar kemudian kembali ke Mesir.
Setibanya di Mesir, segera dia menyerahkan tulang busuk itu ke Gubernur Amr. Tidak disangka, setelah memegang tulang busuk tersebut dan melihat goresan lurus, tubuh Amr menggigil dan wajahnya berubah menjadi pucat ketakutan. Segera Amr bin Ash memerintahkan anak buahnya untuk menghentikan dan merobohkan masjid yang masih dalam tahap pembangunan.
Begitu herannya orang Yahudi, sebelum masjid dirobohkan, segera dia bertanya kepada Amr untuk menjelaskan maksud dari tulang busuk tersebut.
“Tulang itu berisi ancaman khalifah, yakni Amr bin Ash ingatlah kamu, siapapun kamu dan setinggi apapun jabatanmu, suatu saat nanti kamu menjadi tulang yang busuk. Karena itu bertindak adillah kamu seperti huruf alif yang tegak lurus, adil di atas dan adil di bawah. Sebab jika tidak, ku tebas batang lehermu,” kata Amr bin Ash.
Segera orang Yahudi tersebut tertunduk haru, ia kagum akan sikap kepemimpinan Khalifah Umar dan keadilannya yang tidak pandang bulu. Dengan perasaan ikhlas, orang Yahudi tersebut menginfakkan tanahnya untuk dibangun masjid. Tidak lama kemudian, dia beriman dengan menyatakan diri memeluk Islam.

Kisah sahabat nabi julaibib


Namanya Julaibib, begitulah dia biasa dipanggil. Nama ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri fisiknya yang kerdil dan pendek. Nama Julaibib adalah nama yang tidak biasa dan tidak lengkap. Nama ini, tentu bukan ia sendiri yang menghendaki. Bukan pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan ibunya. Demikian pula orang-orang, semua tidak tahu, atau tidak mau tahu tentang nasab Julaibib. Bagi masyarakat Yatsrib, tidak bernasab dan tidak bersuku adalah cacat sosial yang sangat besar.
Tampilan fisik dan kesehariannya juga menjadi alasan sulitnya orang lain ingin berdekat-dekat dengannya. Wajahnya jelek terkesan sangar, pendek, bunguk, hitam, dan fakir. Kainnya usang, pakaiannya lusuh, kakinya pecah-pecah tidak beralas. Tidak ada rumah untuk berteduh, tidur hanya berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tidak ada perabotan, minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak tangan. Abu Barzah, pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk diantara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!” demikianlah keadaan Julaibib pada saat itu.
Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tidak satu makhluk pun bisa menghalangi. Julaibib menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam Shollallahu ‘alaihi wasallam sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam, “Julaibib…”, begitu lembut beliau memanggil, “Tidakkah engkau menikah?”
“Siapakah orangnya Ya Rasulallah Shollallahu ‘alaihi wasallam”, kata Julaibib, “yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”
Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tidak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam juga tersenyum. Mungkin memang tidak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam menanyakan hal yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.
Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. “Aku ingin menikahkan putri kalian.”, kata Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam pada si empunya rumah, “
“Betapa indahnya dan betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. “Ooh.. Ya Rasulallah Shollallahu ‘alaihi wasallam, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.”
“Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, “ku pinang putri kalian untuk Julaibib”
“Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis
“Ya. Untuk Julaibib.”
“Ya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam”, terdengar helaan nafas berat. “Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini”
“Dengan Julaibib?”, istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, tidak bernasab, tidak berkabilah, tidak berpangkat, dan tidak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib”
Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun, “Siapa yang meminta?”
Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.
“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”. Sang gadis yang shalehah lalu membaca ayat ini :
“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)
Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”
Doa yang indah.
Maka benarlah doa sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar baginya. Maka kebersamaan di dunia itu tidak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib telah dihajatkan langit mesti tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tidak terlalu bersahabat padanya.
Saat syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi ia akan mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka ia bertanya diakhir pertempuran. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”
“Tidak Ya Rasulallah Shollallahu ‘alaihi wasallam!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tidak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.
“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, Sang Nabi bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.
“Tidak Ya Rasulallah Shollallahu ‘alaihi wasallam!”. Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tidak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.
Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.
Para sahabat tersadar,“Carilah Julaibib!”
Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di sekitarnya tergolek tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh. Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau Shollallahu ‘alaihi wasallam menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya.”
Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tidak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Dan Dialah yang akan menyutradarai pentas kepahlawanan para aktor ketaatan. Dan semua akan berakhir seindah surga. Surga yang telah dijanjikanNya.
“Apalah artinya rupa yang cantik dan kedudukan yang tinggi, tapi rumah tangga porak peranda. Suami curang terhadap isteri, manakala isterinya juga bermain kayu tiga di belakang suami. Apalah yang dibanggakan dengan harta kekayaan yang melimpah ruah tetapi hati tetap tidak senang malah selalu bimbang dan cemas kerana diburu orang ke mana pergi. Memadailah rezeki yang sedikit yang Allah kurniakan tetapi berkat. Memadailah dengan suami yang dijodohkan tiada rupa asalkan suami tersebut dapat memberi kebahagiaan di dunia dan lebih-lebih lagi Akihrat.”

Rasulullah, Malaikat dan Peristiwa Thaif


Pada tahun ke sepuluh kerasulan di bulan Syawal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk mencari wilayah baru sebagai tempat dakwah kepada Allah dan Islam. Rasulullah bersama pelayannya yang bernama Zaid bin Haritsah, lantas pergi menuju Thaif yang berjarak sekita 60 mil dari Makkah. Beliau berangkat dan kembali dengan berjalan kaki. Setiap kali beliau bertemu dengan kabilah di sepanjang perjalanan, beliau selalu mengajak mereka untuk memeluk Islam. Namun tidak satu pun kabilah yang menuruti ajakan Rasulullah.
Rasulullah tinggal di Thaif selama 10 hari menyampaikan dakwah kepada penduduk Thaif. Di kota Thaif ini Rasulullah menemui tokoh-tokoh dari suku Tsaqif yang berpengaruh di kota tersebut. Namun tidak seorang pun yang mengikuti ajakan Rasulullah, para pemimpin dari suku itu menolak seruan Rasulullah dengan cara yang kasar, mereka berkata kepada Rasulullah, "Keluar dari kampung kami!" Penduduk Thaif, termasuk anak-anak dan para budak, mengusr Rasulullah dengan kasar. Ketika Rasulullah berjalan keluar, beliau diikuti oleh penduduk Thaif sambil diledek dan diteriaki. Mereka juga melampari batu kepada Rasulullah hingga sandal beliau berlumuran darah. Mereka terus melempari Rasulullah dengan batu sammpai beliau berlindung di sebuah kebun milik Atabah dan Syaibah, dua putra Rabiah, yang berjarak 3 mil dari Thaif. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersembunyi di kebun itu, mereka baru berhenti dan kembali ke kampung mereka. Rasulullah bersama Zaid bin Haritsah, istirahat dan berusaha menggobati luka yang beliau alami.
Dalam kondisi sulit dan sedih, baik secara jasmani maupun rohani, Rasulullah menghadap Tuhannya dengan menyampaikan doa yang menambahkan keimanan, keyakinan dan keridhaan atas apa yang beliau alami karena berjuang di jalan Allah. Doa kenabian itu adalah;
"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadu akan kelemahan dan ketidak berdayaanku dalam berhadapan dengan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa Engkau serahkan aku? Apakah ke jarak yang jauh Engkau arahkan aku? Apakah kepada musuh Engkau serahkan urusanku? Jika Engkau tidak murka, maka aku tidak perduli. Akan tetapi pengampunan-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan, urusan dunia dan akhirat menjadi baik berkat cahaya-Mu, dari murka-Mu dan kemarahan-Mu. Engkau berhak untuk mencela sampai Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah."
Dari langit ketujuh, pertolongan Allah datang kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengutus Jibril yang datang bersama malaikat gunung-gunung. Ia (Jibril) berkata, "Wahai Rasulullah, maukah engkau jika aku jatuhkan dua gunung kepada mereka? (Jika engkau mau, maka akan aku lakukan)."
Namun jawaban Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menunjukkan sikap yang luar biasa. Sikap yang menunjukkan akhlak yang luhur, kasih sayang dan kelembutan. Bahkan beliau tetap mengharapkan keislaman mereka, entah dalam waktu dekat atau dalam waktu yang lama. Beliau berkata, "Aku justru berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang rusuk mereka generasi yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun."
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kembali ke Makkah setelah menginap di kebun Al-Muth'im bin Adi. Beliau kembali setelah menyempurnakan perjalanan menuju Allah dan agama-Nya. Beliau sangat yakin untuk terus melanjutkan perjalanan menuju Allah tanpa perduli dengan apa yang beliau alami di jalan Allah. Beliau tidak pernah goyah oleh apapun dalam mewujudkan cita-citanya.
Kedatangan malaikat pada peristiwa ini diabadikan dalam hadits berikut ini:
Hadits riwayat Aisyah, Istri Nabi, ia berkata: Bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah; "Wahai Rasulullah, apakah engkau pernah mengalami suatu hari yang lebih pedih dari hari Perang Uhud?" Rasulullah menjawab; "Aku sering mendapatkan (sesuatu yang menyakitkan) dari kaummu. Dan yang paling menyakitkan adalah peristiwa hari Aqabah, ketika aku sedang mengajak Ibnu Abdi Yalil bin Abdu Kulal masuk Islam namun ia tidak menyambut ajakan yang aku inginkan. Aku pun segera beranjak pergi dengan hati sedih dan tidak sadar diri kecuali setelah tiba di daerah Qarnu Tsa'alib. Aku lalu menengadahkan kepalaku ke arah langit, tiba-tiba tampaklah segumpal awan menaungiku. Aku pun menatapnya, ternyata Jibril berada di sana dan berseru kepadaku kemudian berkata; "Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan jawaban mereka terhadapmu. Dan Allah telah mengutus malaikat gunung kepadamu agar kamu dapat memerintahkan kepadanya apa yang kamu inginkan atas mereka. Lalu malaikat gunung berseru kepadaku serta mengucapkan salam dan berkata; "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan aku adalah malaikat gunung yang telah diutus Tuhanmu kepadamu agar kamu dapat memerintahkan kepadaku sesuai dengan perintahmu dan dengan apa yang kamu inginkan. Jika kamu menginginkan, aku dapat menimpakan mereka dengan dua gunung itu." Rasulullah lalu menjawab; "Tidak, bahkan aku berharap semoga Allah melahirkan dari keturunan mereka, orang-orang yang akan menyembah Allah semata serta tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun." (H.R Muslim)
Betapa agung dan mulianya Rasulullah. Para nabi dan utusan Allah yang lain berdoa agar Allah menghukum mereka yang sesat dan dzalim, tetapi Rasulullah tidak pernah melakukan itu. Meskipun kedzaliman mereka bahkan telah melukai dirinya secara langsung. Fasilitas berupa pertolongan malaikat Allah yang dengan sekejap mata mampu menghancurkan masyarakat kota Thaif itu beliau tolak. Beliau bahkan mendoakan masyarakat yang ingkar itu agar diberi oleh Allah keturunan yang baik dan beriman kepada Allah.
Dan malaikat yang tahu penderitaan yang dialami Rasulullah, namun tanpa perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala, para malaikat tersebut tidak bisa melakukan apa pun terhadap orang-orang yang menyakiti Rasulullah. Ketika mereka menghampiri Rasulullah, mereka hanya menawarkan jasa, apa yang harus mereka lakukan terhadap orang-orang yang ingkar itu.
Jika Rasulullah menghendaki menghukum kaum tersebut, maka Allah akan mengabulkan keinginan Rasulullah dan datanglah kepada para malaikat tersebut mandat untuk bertindak. Inilah karakter malaikat yang hanya tunduk dan patuh kepada Allah, meski mereka tidak rela Muhammad makhluk yang paling dikasihi Allah dianiaya orang-orang ingkar.
Begitulah peristiwa yang dialami oleh Rasulullah dan para malaikat di kota Thaif. Peristiwa ini sekaligus mementahkan pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa malaikat memiliki nafsu. Karena ada sebagian dari kita yang mengambil kesimpulan yang nyeleneh dari peristiwa Thaif ini bahwa malaikat memiliki nafsu dan berbuat sekendak hati mereka (malaikat) dalam bertindak, padahal malaikat tidak akan melakukan suatu perbuatan tanpa seizin Allah Subhanahu Wa Ta'ala.(pen)
Sumber :
1. Buku Ensiklopedi Sejarah Islam I. pengarang: Tim Riset & Studi Islam Mesir dan Dr. Raghib As-Sirjani. penerbit: Pustaka Al-Kautsar. hal: 17-18
2. Buku Jejak Malaikat di Bumi. pengarang: M. Hilal Tri Anwari. penerbit: Pustaka Al-Kautsar. hal: 262-263

HADIS-HADIS PERINTAH MENAHAN LISAN (RIYADHUS SALIHIN)


بسم الله الرحمٰن الرحيم
Hadis ke-1511:
وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – عن النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ» متفق عَلَيْهِ
وهذا صَريحٌ في أنَّهُ يَنْبَغي أَنْ لا يَتَكَلَّمَ إِلاَّ إِذَا كَانَ الكلامُ خَيرًا، وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَتْ مَصْلَحَتُهُ، ومَتَى شَكَّ في ظُهُورِ المَصْلَحَةِ، فَلاَ يَتَكَلَّم
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, daripada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam Baginda bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat maka hendaklah dia berkata baik ataupun diam.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Imam Al-Nawawi memberi komentar: “Hadis ini jelas sekali menunjukkan bahawa seseorang hendaklah tidak berbicara kecuali apabila perbicaraan itu adalah baik, iaitu hal yang telah jelas kemaslahatannya. Dan bila dia masih ragu kemaslahatan tersebut, maka hendaklah dia tidak berbicara.”
Maka apabila kita hendak bercakap, sentiasa hanya bercakap benda yang baik. Kalau tidak ada benda yang baik, dituntut supaya kita diam. Ini bererti, hendaklah kita berfikir dulu sebelum kita bercakap. Bukan cakap dulu baru fikir.
‘Dan bila dia masih ragu kemaslahatan tersebut, maka hendaklah dia tidak berbicara’. Ia membawa maksud bahawa dia fikir dulu sebelum dia mengucapkan sesuatu. Kalau ia jelas ada kebaikan, baru dia bercakap. Kalau terlintas di fikirannya sama ada ucapan itu bermanfaat atau tidak, maka hendaklah dia diam.
Jalan selamat adalah diam. Bukan seperti mana yang biasa orang kata, ‘Cakap je lah, mana tahu baik’. Itu tidak ada istilahnya dalam syarak. Syarak mengatakan seperti mana dalam hadis tadi, ‘Hendaklah dia berkata baik, atau diam’. Kalau ragu-ragu, jalan selamat adalah diam.
Hadis ke-1512:
وعن أَبي موسى – رضي الله عنه – قَالَ: قُلْتُ: يَا رسولَ اللهِ أَيُّ المُسْلمِينَ أفْضَلُ؟ قَالَ: «مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ» متفق عَلَيْهِ
Daripada Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dia berkata, aku berkata, “Wahai Rasulullah, orang Islam yang bagaimanakah yang paling utama? Baginda menjawab, “Orang yang kaum Muslimin selamat dari lisannya dan tangannya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Orang Islam yang paling baik adalah orang Islam yang menjaga lidahnya dan juga tangannya dari mengganggu orang lain. Menjaga tangan maknanya daripada perbuatan memukul, mengambil harta orang, macam-macam lagi. Menjaga lisan maknanya dari kata-kata/ucapan yang boleh menyakiti orang. Maka menjaganya dengan menggunakannya dalam hal-hal yang sentiasa baik.
Hadis ke-1513:
وعن سهل بن سعد، قَالَ: قَالَ رسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم: «مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ» متفق عَلَيْهِ
Daripada Sahl bin Sa’ad dia berkata, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya dan apa yang ada di antara kedua kakinya maka aku menjamin untuknya Syurga.” (Riwayat Al-Bukhari, dan tidak ditemui dalam sahih Muslim)
Rasulullah memberi satu kiasan di dalam hendak mengingatkan umat Baginda supaya menjaga lidah. Baginda mengatakan ‘Barangsiapa yang dapat menjaga apa yang berada di antara dua rahangnya’ iaitu lidahnya, ‘dan apa yang berada di antara dua kakinya’ iaitu kemaluannya, ‘maka aku menjamin untuknya Syurga’.
Persoalan, kenapa Rasulullah tidak terus kata ‘Barangsiapa yang menjamin untukku lidah dan kemaluannya’? Kenapa Baginda berkias? Tujuannya adalah supaya kita ambil perhatian, supaya kita berfikir. Sebab kalau ucapan itu dimudahkan, orang akan mengambil mudah. Kita bagi contoh, kalau kita nak orang itu ambil perhatian apa yang kita pesan kepadanya, “Mat, kalau engkau nak buat sesuatu, gunakan apa yang ada di antara dua telinga engkau.” Orang itu akan fikir, di antara dua telinga ada apa?
Tujuannya untuk menarik perhatian, supaya kita ingat apa yang dikata. Seperti mana kadangkala apabila Rasulullah ingin menjelaskan sesuatu, Baginda akan bertanya dahulu. Contoh, “Tahukah kamu siapa yang muflis?” “Tahukah kamu apa itu ghibah?” “Tahukah kamu siapa yang datang tadi?” (dalam hadis Jibril). Kenapa Rasulullah tanya sedangkan Baginda tahu sahabat memang tidak ada jawapannya. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian.
Hadis ke-1514:
وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه: أنَّه سمع النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – يقول: «إنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بالكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ والمَغْرِبِ» متفق عَلَيْهِ.
ومعنى: «يَتَبَيَّنُ» يُفَكِّرُ أنَّها خَيْرٌ أم لا.
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahawasanya dia mendengar Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia fikir, sehingga dengannya dia terjerumus ke dalam Neraka yang jaraknya lebih jauh daripada timur dan barat.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Kandungan hadis:
Beratnya hasil buruk yang diperolehi oleh seseorang akibat tidak menjaga lidah, akibat mengucapkan satu perkara yang tidak baik. Hanya satu perkataan menyebabkan dia masuk ke dalam api Neraka yang jarak kedalamannya lebih jauh daripada timur dan barat.Hadis ini juga menunjukkan bahawa Neraka ada peringkatnya. Seperti mana Syurga berperingkat, Neraka juga berperingkat. Dalam bahasa Arab disebut darajat (peringkat ke atas) bagi Syurga, manakala bagi Neraka disebut darakat (tingkatan-tingkatan ke bawah).Darjat yang terbaik adalah yang teratas. Darjat tertinggi bererti kedudukan yang paling baik. Adapun Neraka, yang paling buruk adalah yang paling bawah.
Hadis ke-1515:
وعنه، عن النبيّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «إنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ الله تَعَالَى مَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجاتٍ، وإنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلَمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا في جَهَنَّمَ». رواه البخاري
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, daripada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam Baginda bersabda. “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kata-kata yang diredhai Allah tanpa dia menaruh perhatian padanya maka Allah mengangkatnya lantaran ucapannya itu beberapa darjat. Dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan kata-kata yang dimurkai Allah tanpa memikirkannya maka ia menjerumuskannya ke dalam Neraka Jahannam.” (Riwayat Al-Bukhari)
Hadis ke-1516:
وعن أَبي عبد الرحمان بِلالِ بن الحارِثِ المُزَنِيِّ – رضي الله عنه: أنَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «إنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ تَعَالَى مَا كَانَ يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ يَكْتُبُ اللهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَومِ يَلْقَاهُ، وإنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ مَا كَانَ يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ يَكْتُبُ الله لَهُ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ». رواه مالك في المُوَطَّأ، والترمذي، وقال: حديث حسن صحيح
Daripada Abu Abdurrahman Bilal bin Al-Harits Al-Muzani radhiyallahu ‘anh, bahawa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang berkata-kata dengan kalimah yang diredhai Allah sementara dia tidak mengira bahawa ucapannya akan berakibat seperti itu, nescaya Allah akan mencatat untuknya keredhaanNya kerana ucapannya itu sehingga pada hari dia akan menemuiNya. Dan sesungguhnya seseorang berkata-kata dengan kalimah yang dimurkai Allah tanpa dia sangka bahawa ia akan berakibat seperti itu nescaya Allah akan mencatatkan kemurkaanNya kerana ucapannya itu sehingga pada hari dia menemuiNya.” (Riwayat Malik dalam Al-Muwattha’, Al-Tirmizi, dan dia berkata: Hasan Sahih)
Kandungan hadis:
Wajib merenungi dan memikirkan semua perkataan dan perbuatan.Sikap lalai terhadap murka Allah akan menjerumuskan ke dalam Neraka, itulah sejelek-jelek tempat tinggal.Meremehkan dosa dan perbuatan maksiat boleh menyebabkan pelakunya terjerumus dalam kebinasaan.
Hadis ke-1517:
وعن سفيان بن عبد الله – رضي الله عنه – قَالَ: قُلْتُ: يَا رسولَ الله حدِّثني بأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ: «قلْ: رَبِّيَ اللهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ» قُلْتُ: يَا رسولَ اللهِ، مَا أخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ؟ فَأَخَذَ بِلِسانِ نَفْسِهِ، ثُمَّ قَالَ: «هَذَا». رواه الترمذي، وقال: حديث حسن صحيح
Daripada Sufyan bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Aku berkata: “Ya Rasulullah, beritahulah aku sesuatu yang dapat aku jadikan pegangan.” Baginda bersabda, “Katakanlah: Allah adalah Tuhanku, kemudian istiqamahlah.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang paling engkau takutkan atasku? Maka Rasulullah memegang lidahnya kemudian berkata: “Ini.” (Riwayat Al-Tirmizi dan dia berkata: Hasan Sahih)
Kandungan hadis:
Menunjukkan kegigihan sahabat dalam mempelajari kebaikan.Istiqamah adalah dengan ilmu dan amal, seperti mana yang terangkum dalam hadis riwayat Al-Tirmizi yang menerangkan bahawa istiqamah adalah ilmu, manakala dalam riwayat Muslim diterangkan bahawa istiqamah adalah amal.Setelah Nabi memerintahkan untuk istiqamah, Baginda berpesan agar menjaga lidah. Ini mengacu kepada sabda Nabi dalam riwayat lain, “Iman seorang hamba tidak dapat istiqamah sampai hatinya mampu istiqamah, sedang hati tidak dapat istiqamah, sampai lidahnya mampu istiqamah.” (Hasan, riwayat Ahmad)
Hadis ke-1519:
وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم: «مَنْ وَقَاهُ اللهُ شَرَّ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ، وَشَرَّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ دَخَلَ الجَنَّةَ». رواه الترمذي، وقال: حديث حسن
Daripada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallambersabda, “Barangsiapa yang dilindungi oleh Allah dari kejelekan antara dua rahangnya dan kejelekan antara dua kakinya maka dia akan masuk Syurga.” (Riwayat Al-Tirmizi, dia berkata: Hadis hasan)
Hadis ke-1520:
وعن عقبة بن عامرٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قُلْتُ: يَا رسولَ اللهِ مَا النَّجَاةُ؟ قَالَ: «أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ». رواه الترمذي، وقال: حديث حسن
Daripada ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan?” Baginda bersabda, “Tahanlah lisanmu, dan jadikanlah rumahmu luas (dengan mengingati Allah dan ketaatan), dan tangisilah dosamu.” (Riwayat Al-Tirmizi, dia berkata: Hadis hasan)
Hadis ke-1521:
وعن أَبي سعيد الخدري – رضي الله عنه – عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «إِذَا أصْبَحَ ابْنُ آدَمَ، فَإنَّ الأعْضَاءَ كُلَّهَا تَكْفُرُ اللِّسانَ، تَقُولُ: اتَّقِ اللهَ فِينَا، فَإنَّما نَحنُ بِكَ؛ فَإنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا، وإنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا». رواه الترمذي.
Daripada Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, daripada Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, Baginda bersabda, “Apabila anak Adam memasuki waktu pagi, maka sesungguhnya setiap anggota tubuhnya tunduk kepada lidah, seraya berkata, “Bertakwalah kepada Allah, kerana sesungguhnya kami bergantung kepadamu. Jika kamu lurus maka kami pun lurus. Jika kamu bengkok maka kami pun bengkok.” (Hasan, riwayat Al-Tirmizi)
Kandungan hadis:
Kepentingan menjaga lidah demi keselamatan seseorang. Lidah biasanya menjadi penterjemah dan juru bicara kepada hati. Apa yang ada dalam hati biasanya akan muncul melalui lidah.Anggota tubuh manusia saling bergantung antara satu sama lain. apabila satu melakukan kesalahan, ia akan berpengaruh kepada anggota yang lain.
Hadis ke-1522:
وعن مُعَاذٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْني بِعَمَلٍ يُدْخِلُني الجَنَّةَ وَيُبَاعِدُني مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: «لَقَدْ سَألتَ عَنْ عَظيمٍ، وإنَّهُ لَيَسيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ: تَعْبُدُ اللهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ، وتُؤتِي الزَّكَاةَ، وتَصُومُ رَمَضَانَ، وتَحُجُّ البَيْتَ» ثُمَّ قَالَ: «ألاَ أدُلُّكَ عَلَى أبْوابِ الخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيئَةَ كَما يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ» ثُمَّ تَلا: {تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ المَضَاجِعِ} حَتَّى بَلَغَ {يَعْمَلُونَ} ثُمَّ قَالَ: «ألا أُخْبِرُكَ بِرَأسِ الأَمْرِ، وَعَمُودِهِ، وَذِرْوَةِ سِنَامِهِ» قُلْتُ: بَلَى يَا رسولَ اللهِ، قَالَ: «رَأسُ الأمْر الإسْلامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةِ سِنَامِهِ الجِهادُ» ثُمَّ قَالَ: «ألاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ!» قُلْتُ: بلَى يَا رَسولَ اللهِ، فَأخَذَ بِلِسانِهِ وقال: «كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا» قُلْتُ: يَا رسولَ الله وإنَّا لَمُؤاخَذُونَ بما نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فقالَ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ! وَهَلْ يَكُبُّ الناسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟». رواه الترمذي، (1) وقال: «حديث حسن صحيح»، وَقَدْ سبق شرحه في باب قبل هَذَا
Daripada Mu’az radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, khabarkan aku sebuah amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam Syurga dan menjauhkanku dari Neraka.” Baginda bersabda, “Engkau telah bertanya suatu yang sangat agung, dan sesungguhnya hal itu adalah mudah bagi orang yang dimudahkan Allah Ta’ala: Sembahlah Allah dan jangan engkau mensyirikkanNya dengan sesuatu pun, dirikanlah solat, tunaikan zakat, puasa Ramadan, dan tunaikan haji.” Kemudian Baginda bertanya, “Mahukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai, sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadam api, dan solatnya seseorang pada tengah malam.”
Kemudian Baginda membaca ayat: “ mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap. Mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang kami beri kepada mereka. Tidak ada seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, iaitu (nikmat yang pelbagai) yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Surah Al-Sajdah: 16-17)
Kemudian Baginda bersabda, “Mahukah kamu aku khabarkan pokok segala perkara, tiang dan puncaknya?” Aku berkata, “Tentu wahai Rasulullah.” Baginda bersabda, “Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah solat, dan puncaknya adalah jihad.” Kemudian Baginda bersabda, “Mahukah aku khabarkan kepadamu kunci untuk semua itu?” Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Baginda memegang lidahnya seraya berkata, “Jagalah ini.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan dihisab kerana ucapan kita?” Baginda bersabda, “Ibumu kehilanganmu! Tidakkah manusia tersungkur ke dalam Api Neraka di atas mukanya kecuali hasil dari lidah mereka?” (Riwayat Al-Tirmizi, dia berkata: Hadis hasan sahih)
Kandungan hadis:
Pertanyaan yang cukup agung/besar: kerana masuk syurga dan selamat dari neraka adalah hal yang sangat besar.Betapa besar dan beratnya suatu urusan, namun apabila dia mendapat taufiq, nescaya hal itu akan dipermudahkan baginya. Taufiq hanya diperoleh dengan memohon daripada Allah, dengan itu urusan tersebut menjadi ringan dan mudah.Petunjuk dalil: ‘Seseorang itu tersungkur ke dalam api Neraka di atas wajahnya hasil dari lidahnya’. Menunjukkan bahawa banyak bicara menimbulkan kerosakan yang tidak terhitung.Dianjurkan meninggalkan perbicaraan yang tidak penting, kerana banyak bicara mendatangkan banyak salah, dan banyak salah pasti banyak dosanya.Setiap orang akan diminta pertanggungjawaban atas semua ucapannya, baik bersifat serius ataupun sekadar gurauan.Penghinaan terhadap orang yang dimasukkan ke dalam Neraka adalah dengan dihumban wajah atau hidungnya, kerana wajah adalah anggota tubuh yang paling dihormati. Semoga Allah menyelamatkan kita semua pada hari kiamat kelak.
(Rujukan: Syarah Riyadhus Salihin, Syeikh Salim bin Eid Al-Hilali)
وَصلَّى الله عَلى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم
(Disalin dari rakaman kuliah Riyadhus Salihin, Kitab 17, Bab 254 Haramnya Ghibah & Perintah Menjaga Lisan,