Laman

Jumat, 07 Oktober 2016

RAHASIA IMAM DAN MA!MUM.

RAHASIA IMAM DAN MA!MUM.
_______________________
.
ASSALAMU 'ALAIKUM YAA AKHWANII YAA AKHWATII WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH...
.
Segala puja dan puji hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian Alam.
Shalawat serta salam kita hadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW, serta keluarga dan para Shahabatnya.
.
Aamiin...
.
Saudaraku...
.
Saya akan menerangkan prihal rahasia diri kita, agar kita semakin percaya bahwa zahir kita ini adalah zahir yang hanya dapat dikenali sesama. Bagaimana dengan diri yang didalam diri zahir?
.
Saudaraku...
.
Jika ada yang bertanya padamu, siapakah Imammu didalam Shalat? Maka jawablah :
Imamku ialah Al-Qur'an. Apakah arti Al-Qur'an itu?
.
Saudaraku...
.
AL-QUR-AN adalah KALAMULLAH ( Firman Allah ), sebab Allah itu bersifat Qadim.
Jadi Al-Qur'an itu juga Qadim. Maka hakikatnya Allah-lah Imamnya.
Jika tidak yakin, maka shalat bathal.
Sebab yang dimaksudkan shalat disini ialah zahir perbuatan kita.
.
Zahir artinya : Perbuatan Tuhan pada kita.
Jadi, Allah-lah pada hakikatnya. Sehingga kita bersatu kata, atau sekata dengan Imam ( Imam dengan Ma'mum ).
.
Yang dimaksudkan " IMAAMAN LILLAAHI TA'ALA ' ialah : Berimam kepada Allah jua.
Yang dikatakan " MA'MUUMAN LILLAAHI TA!ALA " Berma'mum karena Allah.
.
Nah Saudara...
.
Imam itulah yang menggerakkan ma'mumnya. Begitu pula dengan NYAWA, dialah yang menggerakkan tubuh. Maka Mustahil nyawa itu bergerak jika tidak karena Iradah Allah.
.
Masalah gerakan didalam shalat, bila kita Ruku' maka turunkanlah nafas dahulu. Barulah ruku'. Begitu juga dengan I'tidal, naikkanlah Nafasmu, lalu berdirilah. Begitu pula dengan sujudmu, turunkan dulu Nafasmu, kemudian sujudlah. Sebelum engkau bangkit, naikkan Nafasmu, lalu angkatlah kepalamu. Lalu duduklah.
.
Begitulah gerak nafasmu didalam praktek nafas didalam shalat, turun naik.
Begitulah Imam, para Nabi, termasuk Nabi kita Muhammad SAW, juga para Wali.
Inilah yang disebut " IMAM TANPA DI IMAMI.
.
Saudaraku...
.
Jika ada orang menggunakan perkenalan semacam ini, maka orang itu Sah dijadikan Imam.
Tetapi bila orang itu tiada mengetahui perkara ini, sedangkan Ma'mum ada yang mengetahuinya, maka dikatakan " IMAM YANG DI IMAMI OLEH MA'MUM...
.
Selanjutnya...
Setelah Takbir Ihram, tahanlah nafasmu sebentar.
Nah, menahan nafas sebentar inilah dinamakan " hilang kepada Nur Muhammad.
.
Berbicara tentang Nahwu dan Sharaf, huruf baris dan lagunya.Jadi ini masalah lafadz saja.
.
Jika ada yang mengatakan bahwa Kalam Allah itu bukanlah huruf, bukan suara, bunyi, tiada berawal dan akhir, juga tiada Tasdiqnya, maka bingunglah para Nahwu Sharaf itu sebab : memang bukan Huruf. Karena Alif yang ditulis dengan dawat, itu menunjukkan kepada Alif yang memang bukan Tinda. Sedangkan Alif yang bukan tinta, itu menunjukkan kepada kata Firman Allah.
.
Inilah rahasia antara Imam dan ma'mum didalam shalat, agar mengetahui tentang hakikat menjadi Imam. Jadi Imam memang tanggungannya berat daripada ma"mum, karena perbuatan didalam gerak shalatnya di ikuti ma'mumnya, mestinya harus faham dan mengerti siapa yang di imamkan daripada Imamnya, jika tidak maka shalatnya dalam gerakannya jika ma'mum mengetahuinya maka imam berimam kepada yang mengetahuinya yakni ma!mum yang mengerti Hakikat imam tersebut.
.
Jadi Imam mesti memahami dalam memimbing ma'mumnya agar ia imami benar-benar berimam kepada Allah semata-mata.
Inilah ilmu diri didalam diri agar mengenali siapa dirinya dan siapa yang di imaminya.
Dengan keterangan teks yang singkat ini, menambahkan keyakinan kita kepada Allah, bahwa pada hakikatnya Allah lah yang dituju dan dimaksud yakni imamnya segala Imam.
Allah lah pemimpin Imam sejati didalam tindakan kita didalam gerak shalat.
.
Saudaraku...
.
Jadikan illmu itu sebagai dinding tubuhmu, agar ilmu Allah menjadi terang dalam setiap gerakmu. Dimanapun engkau berada dalam beraktivitas...
.
Semoga Allah mencurahkan Rahmat-Nya kepada kita, agar kita tidak lupa pada diri kita yang selalu bersyukur nikmat kesempurnaan diri yang diberikan Allah. maka dari itu, setelah engkau mengetahui dirimu, jangan pula engkau lupa akan Tuhan mu, jika engkau lupa, berarti lupa pada diri sebenar diri, sudah tentu lupa juga pada Tuhan.inilah yang diberi gelaran " Manusia yang tidak tahu diri."
Maka dari itu, kenalilah dirimu, barulah mengenal pada Tuhan mu.

.
Nah Afwan dan Akhwan.....
.
Insya Allah dilain kesempatan kami akan membahas lagi.
Semoga para suadara saudariku diberi kesehatan dan rezeki yang banyak.
.
Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin...

Kamis, 29 September 2016

" SHALAT MACAM APA...? "


Shalat macam apakah
yang bisa membuat kita memperoleh
ampunan dan ridha Allah ..?
Shalat yang tepat di awal waktu kah?
Yang thuma'ninah dan bagus gerakannya?
Yang tartil dan indah bacaannya?
Yang lurus dan rapi barisan shafnya?
Semua itu menjadi tidak berguna
ketika shalat tak mampu mengubah
dan memperbaiki akhlaq pelakunya
Menjadi shalat yang tidak
"tanha 'anil fakhsyai wal munkar"
Shalat yang tidak
"mencegah dari perbuatan keji dan munkar"
Ia adalah "shalat yang tidak shalat"
Shalat yang tidak "meruku'kan" keangkuhannya
Shalat yang tidak "mensujudkan" kesombongannya
Shalat yang tidak "mentakbirkan" Allah
Sang Kebenaran Sejati, Penguasa Jagat Semesta
Ia adalah shalat yang "fawailul lil mushallin"
Shalat yang tidak menghindarkan
pelakunya dari siksa api neraka
Shalat yang tidak menurunkan
ridha Allah kepadanya ...
Karena sesungguhnya
shalat yang "benar-benar shalat"
adalah yang merefleksikan kedekatan
seorang hamba kepada Tuhannya ...
Saat ia berbisik-bisik mesra dan penuh asa
dalam takbir, ruku' dan sujud yang menggetarkan
Yang mencahayai relung-relung jiwanya
Yang menghadirkan Allah Azza wajalla
di dalam seluruh penjuru kesadarannya...
~ salam ~
(Itulah tulisan Guru kami... Ust. AM)
__________*
Melalui inbox, sahabatku Hantuman Regret mendiskusikan 'tekhnik' Sholat yang Khusyu' yang seperti bagaimana ?
Maka sy menjelaskannya bahwa sholat yang khusyu' itu adalah sholat yang MEYAKINI PERTEMUAN DENGAN ALLAH "Langsung" dalam sholat itu, yakni menjalani RUKUN IHSAN.
Rukun ihsan adalah rukun makrifatnya syariat, yakni :
~ Menyembah Allah seolah-olah Melihat_Nya.
~ Jika belum, maka mesti MEYAKINI bahwasanya Dia_lah yang senantiasa mengawasi skaligus mendampingi segala gerak kita.
MELIHAT ALLAH, adalah menyaksikan_Nya.
Bisakah kita melihat_Nya ?
Ya, 'bisa' dan sekaligus 'tak bisa'.
*) Aspek 'kemungkinan' tersaksikannya Dia yang Maha Zahir adalah Keterbukaan Diri_Nya, yang menyata-zahirkan Diri_Nya untuk dikenali oleh siapapun yang dipilih_Nya menurut "KADAR PENGENALAN" yang Di Idzinkan_Nya.
Dia menghendaki hal itu ( "...AKU ingin dikenal..." ), maka dengan Cara_Nya yang sederhana, lembut, santun dan misterius, Dia akan terus mengundang pilihan_Nya agar menghampiri_Nya.
Kenyataan 'Wujud_Nya' itu adalah wujud yang BISA DIKENALI hamba, karena adanya ilmu dan 'kemiripan' (tasybih). Wajah bertemu wajah, berhadapan.
" hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah yang telah menciptakanmu 'Menurut FITRAH ALLAH', yang tiada perubahan (tubaddil) atas fitrah Allah itu..."
Nah, fitrah penciptaan manusia menurut fitrah Ketuhanan, merupakan konsepsi Rububiyah. Sebuah konsepsi yang menjelaskan tentang maksud Tuhan menciptakan makhluk terheboh_Nya di semesta berdasarkan tajalliyat di 7 martabat diri. Dari Nuraniyah hingga menyata di Insaniyah.
(Kembali ke persoalan awal, apakah Dia bisa disaksikan ?)
Ya, tentu. Jika DIA menghendaki Diri_Nya untuk terlihat oleh hamba.
".... Nurun 'ala Nurin, yahdillahi linuurihi mayyasyaa'...
- Cahaya yang berlapis-lapis, dan Dia membimbing kepada Cahaya_Nya siapa yang di Kehendaki_Nya...".
Dalam hal ini, PERANGKAT apa yang kita gunakan untuk melihat_Nya haruslah sesuai.
Dia tak bisa dicapai dengan fikir ( la tafakkaru fi dzaatillah)...
Dia tak bisa dicapai dengan penglihatan mata kepala ( laa tudrikuhul abshaar )...
Namun syahadat 'menuntut' tersaksikannya Dia dengan indera 'Penglihatan, Pendengaran dan Rasa'.
Dan indera itu memiliki fungsi semuanya. Itulah perangkat yang disebut HATI (FUAD - Tahta / singgasana hati). Sebuah lapisan lebih dalam dari hati (qalb).
Pertanyaannya, apakah HATI tersebut bersifat QADIM atau BAHARU ?
Hal tersebut mesti ter-itsbat-kan, dikarenakan penglihatan tersebut mengarah pada yang DZAT YANG QADIM.
Jika hati bersifat baharu, maka dipastikan hati akan BINASA di hadapan Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia.
__________**
Hati yang musyahadah (menyaksikan Tuhan) adalah NILAI seorang manusia. Jika baik hatinya, maka baik seluruh dirinya zahir wal bathin.
Dalam hubungannya dengan sholat, maka mendirikan sholat untuk mengingat Allah adalah sholat yang terus menghadirkan hati dari rukun niat hingga salam.
Paling tidak, PENYAKSIAN itu mesti terjadi saat TAKBIRATUL IHRAM, dengan demikian SAH lah sholat. Tersaksikannya NUR PENGENALAN_NYA. Nur Insaniyah hingga Nur Nuraniah.
Selanjutnya adalah upaya2 penetrasi, peningkatan kualitas penyaksian atas Nur_Nya yang berlapis-lapis itu....
Mengapa mesti "NUR - Cahaya_Nya" ?
Karena cahaya menampakkan segala sesuatu.
Wujud sesuatu benda ditampakkan oleh Nur kemudian cahaya itu mengenai mata, maka mata bisa melihatnya.
Demikian dengan hati, yang dicahayai maka akan nampak alam syahadah hingga malakut.
Hati yang Qadim, adalah perangkat Ruhani yang memiliki indera yang dipinjamkan_Nya. Makanya penglihatan dengan kualitas itulah yang bisa 'menangkap' Citra Diri_Nya..
Sehingga penyaksian itu berada di 'alam berdimensi tinggi, melakukannya dengan mi'raj menemui Tuhan yang Maha Tinggi.
( DIA yang MAHA TINGGI... adakah peluang mencapai_Nya ? )
Tabiratul ihram adalah GERBANG sholat....
Masukilah dan mari menjelajah samudera al Kautsar...

AKU MAHA MELIPUTI


"Sadaraku, Muslimin dan muslimat ,Jika kau telah mengenal diriMu yang Sejati maka kau bukan lagi seonggok daging atau sekujur tubuh,
Apabila saat perkenalan itu telah tiba atau hari terahirmu, maka zikirMu tak lagi dengan suara atau dengan gerak, tetapi zikirMu adalah melihat siapa yang kau ingat, Kau akan melihat wajah Allah dimanapun kau berada, dan kau tak lagi akan melihat mati itu satu kematian, karena sesungguhnya ketika itu kau menyusuri ruang waktu,
ketika itu kau adalah cahaya Allah di bumi ini
Dan kau akan tetap menjadi cahaya milik Allah saat di akhirat nanti, dan sesungguhnya karena kau adalah milik Allah, terserah kepada Allah mau dibuat apa engkau itu karena kembali kepada AsalMu, Setelah itu baru apa yang kelihatan itu akan berwajah kau, dan disitu jugalah keadaan yang mana yang memandang dan yang dipandang itu adalah kau yang esa, Kau melihat wajahMu sendiri ketika pandang memandang itu.
Jikalau kau sudah paham dan yakin segala sesuatu selain kau telah fana, itulah tandanya hatiMu itu telah mencapai ketahap puncak Ma'rifat, tahap mengenal dia dengan sebenar-benarnya pengenalan, Jika kau masih juga tidak faham dan yakin, maka akan diterangkan seperti ini untukMu yaitu berawal dari mengenal mani adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yang disebut sulbi dan taraib ,Jadi mani itu adalah mulanya seberkas cahaya yang dikeluarkan oleh Allah dari mutu manikam
sehingga para Ulama berpendapat yaitu:
Mani adalah salah satunya dzat penjelmaan dari dua macam dzat (sulbi dan taraib)....
Dengan adanya KUDRATILLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak, dan yang menjadi IRADATILLAHI yaitu berasal dari ibu ,Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu, hal ini tidak terlalu nampak karena birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudrat kaum bapak, Karna kaum ibu ini hanyalah iradat, maka ulama mengistilahkan "
SYURGA ITU DI ATAS TELAPAK KAKI IBU"
Untuk lebih jelasnya akan diterangkan dibawah bagian-bagian dari maksud yang di atas:
BAGIAN BAPAK: wadi, madi, mutu, mani, atau disebut sulbi.
BAGIAN IBU: tanah, air, angin, api, atau disebut taraib.
BAGIAN ALLAH: ruh idhafi, ruh ruhani, ruh rahmani, ruh jasmani
BAGIAN DARI GUDANG RAHASIA DISEBUT MUTU MANIKAM YAITU:
.Tanah itu ialah badan muhammad
.Air itu ialah nur .muhammad
.Angin itu ialah nafas muhammad
.Api itu ialah penglihatan muhammad
Awal itu ialah nurani„
Akhir itu ialah ruhani„
Zahir itu ialah insani„
Bathin itu ialah rabbani„ Nurani itu ialah nyawa„
Ruhani itu ialah hati„
Insani itu ialah tubuh„
Rabbani itu ialah rahasia
Nyawa itu ialah idhafi„
Hati itu ialah ruhani„
Tubuh itu ialah jasmani„
Rahasia itu ialah aku yang sejati„
Tubuh itu menyatu kepada hati Hati itu menyatu kepada nyawa„
Nyawa itu menyatu kepada rahasia„
Rahasia itu menyatu kepada nur„
Nur itulah bayang-bayang Allah yang sebenar-benarnya
Wadi... kalimahnya: LAA ILAHA
Madi... kalimahnya: ILALLAH
Mutu... kalimahnya: ALLAH
Mani... Kalimahnya: HU
Ruh jasmani kalimahnya:
YAHU
Ruh rahmani kalimahnya: IYAHU
Ruh ruhani kalimahnya: YAMANIHU
Ruh idhafi kalimahnya: YAMAN LAYISALAHU
Mutu manikam kalimahnya: MA'DAHU
TUJUH PETALA BUMI DIJADIKAN TUJUH TINGKATAN MARTABAT YAITU:
Pertama„ Sifat amarah
kedua„ Sifat lawwamah
Ketiga„ Sifat mulhimah
Keempat„ Sifat mutmainah
kelima„ Sifat radhiyatan
Keenam„ Sifat mardhiyah
Ketujuh„ Sifat ubudiyah
TUJUH PETALA LANGIT YANG DIMAKSUD DENGAN TUJUH MARTABAT YAITU:
Satu„ Lathifatul qolbi
Dua„ Lathifatul ruuhi
Tiga„ Lathifatul sirri
Empat„ Lathifatul ahfa
Lima„ Lathifatul hafi
Enam„ Lathifatul nafsu natika
Tujuh„ Lathifatul kullu jasad
JIKALAU TINGKATAN SEMACAM INI YANG KITA AMBIL HAKIKATNYA PADA ALAM KECIL YANG TERSEMBUNYI (terahasia) DALAM DIRI, MAKA ULAMA MENAMAKAN SEBAGAI BERIKUT:
Satu„ Hayatun jasadi bin-nafasi
Dua„ Hayatun nafasi bir-ruhi
Tiga„ Hayatun ruhi bis-sirri
Empat„ Hayatun sirri bil-imani
Lima„ Hayatun imani bin-nuri
Enam„ Hayatun nuri bil-qudrati
Tujuh„ Hayatun qudrati bi mu'alamullahi ta'ala dzatullah
ARTINYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
Satu„ Asalnya jasad dari nafas
Dua„ Asalnya nafas dari ruh
Tiga„ Asalnya ruh dari dalam rahasia
Empat„ Asalnya rahasia dari dalam iman
Lima„ Asalnya iman dari nur atau cahaya
Enam„ Asalnya nur atau cahaya dari qudrat
Tujuh„ Asalnya qudrat dari ke baqaan Allah
KALIMAHNYA SEPERTI INI:
Satu„ Hayatun jasadi hurufnya Alif kalimahnya LA
Dua„ Hayatun nafasi hurufnya Lam Awal kalimahnya ILAHA
Tiga„ Hayatun ruhi hurufnya Lam Akhir kalimahnya ILLA
Empat„ Hayatun sirri hurufnya Ha kalimahnya ALLAH
Lima„ Hayatun imani hurufnya Alif (Allah) kalimahnya YAHU
Enam„ Hayatun nuri hurufnya Lam (jibril) kalimahnya IYAHU
Tujuh„ Hayatun qudrati hurufnya Mim (muhammad) kalimahnya IYAHU YAMANIHU
Dengan demikian apabila kesemuanya ini kau leburkan kedalam ke-baqaan DZAT ALLAH, maka ulama menamakanNya sebagai berikut:
Satu„ Watujibul wajasadi fi fasaral qolbi
Dua„ Watujibul qolbi fi fasaral ruhi
Tiga„ Watujibul ruhi fi fasaral sirri
Empat„ Watujibul sirri fi fasaral imani
Lima„ Watujibul imani fi fasaral nuri
Enam„ Watujibul nuri fi fasaral qudrati
Tujuh„ Watujibul qudrati fi fasaral dzati fil dzati
"Maka uraian atau Tulisan yang di atas sampurnalah amalan orang ARIF BILLAH„ 
Sama2 Belajar bukan untuk mengGurui...
Santun Malam ( Budak Edan )

Kamis, 22 September 2016

La Maujuda Ilallah

Barangsiapa mengenal Al-Haq niscaya dia melihatNya dalam tiap-tiap sesuatu...
Barangsiapa yang Fana terhadapNya maka lenyaplah dari tiap sesuatu selain Allah...
Barangsiapa yang mencintai Allah niscaya tidak ada sesuatu apa pun yang mempengaruhinya...

Ma'rifatul haq ialah melihat ketuhanan Allah dengan hati, dengan Rasa dan penghayatan lahir dan batin. Maka lenyapnya selain Allah dengan sebab penglihatan qalbu ini dan perasaan yang penuh dengan penghayatan, yang demikian mendalam terhadap keesaan Allah SWT.
Siapa yang benar-benar mengenal Allah dengan imannya, penglihatan hatinya dan perasaannya lahir batin, Insya Allah dia akan melihat Allah pada setiap sesuatu yang dia lihat, baik itu melihat Allah dalam arti Dzatnya yang tidak serupa dengan sesuatu atau dia melihat Allah dalam arti melihat kekuasaanNya, melihat cipataanNya, melihat keagunganNya sifat-sifatNya yang Maha Hebat dan Maha Sempurna (bukan dengan mata kasar).
Dan status yang lain ialah Al Fana yang berarti nampaknya kebesaran Allah sehingga menjelmalah hal keadaan ini atas segala-galanya, maka lupalah seseorang itu pada segala-galanya dan hilanglah semua itu darinya selain hanya kepada Allah. Dialah yang nampak, yang terlihat dimana-mana, sebab dia adalah Maha Esa pada Dzat-Nya dan Maha Esa pula pada sifat-sifatnya, Al Fana ialah semata-mata tanpa mahluk besertaNya.

Berbeda dengan Al Baqa yakni kelihatan mahluk sebab melihat Allah. Status ini lebih tinggi dari Al Fana, pada saat Al Fana lah keluarnya kata-kata syatahat : Ana al Haq....La maujud illalah.

Jadi barangsiapa fana kepada Allah maka Allah menarik (majzub) orang tsb. kepadaNya. Hilanglah perasaannya karena rindu dan asyik masyuk dengan Allah sehingga dia tidak melihat lagi alam mahluk ini.

Keadaan fana bergantung kepada maqam yang diperkenalkan Allah.
Fana fi Af'al, bila Allah membukakan kepada Tauhidul Af'al, maknanya pada peringkat ini ia tidak melihat lagi perbuatan selain perbuatan Allah. La Af'al Illalah.

Fana fi Asma, bila Allah membukakan/mentajalikan Asmanya, Saat itu semua nama sudah kembali kepada yang haq tidak ada yang lain lagi melainkan Dia. Inilah yang menjadi Ana Al Haq seperti apa yang terjadi pada Al Hallaj.

Fana fi Sifat, bila Allah mentajalikan sifatNya yang Maha Sempurna.
Bila keadaan berlaku, segala sifat-sifat sudah dikembalikan pada yang empunya.
terasalah pendengaran itu pendengaran Allah, dan segala-galanya milik Allah.

Fana fi Dzat yatiu fana pada menyatakan Keesaan Allah pada DzatNya. Maqom ini adalah yang tertinggi pada peringkat jenis Fana. Pada tingkatan ini akan dapat dirasakan suatu kenikmatan yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata dan suara oleh huruf dan angka karena asyik dengan "Yang tidak menyerupai sesuatupun".

Maka pada tahap inilah Abu Yazid Al Bustami berkata "Subha inni", Mahasuci Aku.
Inilah sebenarnya pengakuan paling tawadhu bagi yang mengerti dan bagi yang tidak mengerti maka akan dianggap sebagai pengakuan arogan.

Semua ini berkaitan dengan Dzauq yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang mengalaminya sendiri, maka dengan ini jualah yang dikatakan Wahdatul Wujud. Wahdatul Wujud didalam Wahdatul Syuhud. Malah ada juga yang membeda-bedakannya. Semuanya bergantung kepada faham dan rasa masing-masing.

Wahdatul Wujud adalah berbeda dengan politeisme. Bahkan apa yang hendak di uraikan oleh Ibnu Arabi pun sangatlah halus dan masih jauh dari hakikat sebenarnya, namun beliau mencoba memanifestasikan dengan kata-kata qiyas dan ibarat demi untuk menjelaskan yang tersirat.

Selain dari ke empat jenis FANA diatas masih ada lagi yaitu BAQA. Maqam Baqa ini adalah maqam yang sempurna. Ibarat bisa melihat dua alam yaitu Lahir dan Bathin.
Melihat yang lahir tapi tidak terhijab dari melihat yang hakikat.

Seperti halnya Fana, Baqa pun mempunyai empat tahap yaitu Af'al, Asma, Sifat dan Dzat. Bila sudah sempurna semua maka saat itulah akan terasa La Maujud Illalah. Dan syahadat pada peringkat inilah syahadat paing tinggi dan utama, karena sudah dinafi dengan La. Termasuk diri sendiri sudah tak ada maka jadilah "Dia menyaksi diri sendiri". Di peringkat inilah yang dikatakan "Aku Menyembah Aku".

Tapi perlu diingat ini semua adalah Dzauqiah atau Rasa yang dicampakan kedalam qalbu oleh Allah SWT bukan pengakuan yang sengaja dibuat di dalam kesadaran biasa, maka bila terdengar oleh yang kurang faham jadilah fitnah. Hamba tetap hamba, khalik tetap khalik. Tapi bila sudah mabuk tak dapatlah membedakan mana gelas mana arak..itulah gila birahi mabuk hakiki.

Barang siapa mengenal akan Tuhannya maka binasalah dirinya. Inilah yang dimaksudkan Hanya Allah yang wajibal wujud...yang lain binasa...

Latihan kearah memfanakan diri inilah yang mesti diamalkan sehingga sampai ke tujuan Hanya Allah, Karena Allah, Demi Allah....

La Maujudan memberi maksud ujud pada tahap hakikat, inilah tahap yang hendak dicapai atau dihayati sewaktu menyebutnya. Secara umum menafikan keujudan semua ini (termasuk kita). Jadi yang ada hanyalah Allah semata-mata yaitu Af'al, Asma, Sifat dan Dzat. Maka inilah yang kita kenal sebagai Tauhid.

Diperingkat inilah ahli hakikat dan ma'rifat mengalami atau merasakan apa yang dikatakan binasa atau fana itu dan karam didalam kebesaran Allah SWT.

Sabtu, 27 Agustus 2016

*CERITA ALAM BARZAKH*

Barzakh bermaksud TABIR. Tabir bermaksud tapisan yang menghalang atau yang memisahkan sesuatu.
Makanya, Alam Barzakh bermaksud, alam yang dipisahkan oleh satu tabir.
Dalam konteks agama, alam Barzakh merujuk kepada alam kubur (kiamat kecil) yang menjadi alam 'perbicaraan awal' yang MENAPIS semua amalan manusia sementara menunggu datangnya kiamat besar.

Kebanyakan sistem agama dan kepercayaan yang wujud sebelum Islam, ada menceritakan kisah Alam Barzakh. Fahaman orang Mesir purba yang terkenal dengan kisah Pharaoh (Firaun/Raja) juga ada menceritakan perihal AMENTI (alam Barzakh) dan OMEGA POINT (Syurga/kebebasan sepenuhnya).
Dalam konteks sains, Alam Barzakh merujuk kepada LAPISAN ELEKROMAGNET yang menutupi bumi. Lapisan elektromagnet ini merupakan satu gelombang tenaga yang jika dilihat dari angkasa, ia kelihatan seperti satu lapisan kabus putih yang menutupi keseluruhan planet bumi.
PERUMPAMAAN
Roh manusia itu IBARAT 'Gas' yang bertebaran di seluruh alam.
Bila seseorang manusia 'mati', GAS itu akan terpisah dari jasad dan kembali bertebaran di bumi. Bagi diri yang MENGENAL (berilmu) GAS itu akan menjadi RINGAN. Makin banyak ilmu yang difahami, dikenali dan dimanfaatkan, maka makin ringan GAS seseorang itu.
Contoh :
Gas karbon dioksida bersifat lebih berat dari gas lain, makanya ia akan sentiasa mendap ke bawah. Gas oksigen yang lebih ringan akan terapung lebih tinggi, hidrogen yang lebih ringan akan lebih tinggi dan helium yang lebih ringan akan lebih-lebih tinggi dan begitulah seterusnya.
Makanya, bagi diri yang MENGENAL, GAS itu akan menjadi ringan dan bila ringan, GAS ini akan terapung lebih tinggi dan lebih jauh ke angkasaraya. Hanya GAS yang sangat-sangat ringan dan halus saja boleh naik tinggi, secara L-U-R-U-S hingga menembusi MEDAN ELEKROMAGNET bumi. Bila GAS ini sudah melepasi MEDAN ELEKROMAGNET bumi, makanya GAS ini dikatakan sudah berjaya melepasI ALAM BARZAKH.
Itu sebab dikatakan Roh orang-orang Mukminin (yang benar) dan Roh para Arifbillah (Mengenal Allah) menuju syurga dengan bergerak sepantas kilat MENYEBERANGI Siratul Mustakim (Jalan Yang L-U-R-U-S).
GAS yang sangat ringan ini bergerak melebihi ribuan kali kelajuan cahaya di angkasa. Bermula di alam Biosfera/Jasad (Langit Pertama) kemudian sepantas kilat berada di Hydrosfera ( Langit ke 2), kemudian dengan laju MENYEBERANG ke Trofosfera ( Langit Ketiga), kemudian MENYEBERANG ke Stratosfera (Langit Keempat), kemudian MENYEBERANG ke Mesosfera ( Langit Kelima) kemudian makin pantas MENYEBERANG ke Thermosfera (Langit ke Enam) kemudian MENYEBERANG lagi ke alam yang tidak berkesudahan di Exosfera ( Langit ke Tujuh).
Akhirnya di satu alam bergelar Ghaibul Ghuyub, alam kosong yang tidak dapat dijangkau dek akal manusia, di PUNCAK TERTINGGI (Sidratul Muntaha), GAS ini akan kembali menjadi KUNHI ZAT (TENAGA MURNI) yang tidak terfikirkan dek akal dan tidak terjangkau dek perasaan.
BAGAIMANA MENJADI GAS YANG RINGAN?
GAS yang paling ringan adalah Gas Murni yang tidak bercampur dengan apa-apa gas yang lain. Dalam konteks manusia, Roh yang paling ringan adalah Roh yang ASLI yang tidak bercampur sedikit pun apa-apa unsur lain.
Roh yang ringan adalah Roh yang sentiasa CINTA melakukan IHSAN dengan IKHLAS dalam setiap detik dan ketika kepada seluruh makhluk zahir dan batin.
Roh itu ada beratnya tersendiri. Satu kajian sains yang dilakukan oleh Dr. Duncan MacDougall dari Universiti Harvenhill mendapati berat badan mayat-mayat yang dikaji akan turun beberapa gram dan miligram sebaik saja nyawa keluar dari badan.
KESIMPULAN
Ringankanlah rohmu dengan sentiasa CINTA melakukan IHSAN yang IKHLAS dalam setiap detik dan ketika kepada seluruh makhluk zahir dan batin agar Ia bisa pulang ke kampung halamannya di alam Ghaibul Ghuyub dan kembali bersatu menjadi Kunhi Zat.



We all know it’s coming, sooner or hopefully later! Death is just one of those…
worldtruth.tv|Oleh Eddie Levin

Jumat, 19 Agustus 2016

Mengenal 20 SIFAT DIDALAM DIRI.


1 WUJUD
Badan Insan SIFATKU mula jadi menanggung didalam dunia.
.
2 KIDAM
RUH JASMANI kulitku mula jadi meliputi sekalian alam diri

3 BAQA
RUHANI dagingku mula jadi mnanggung RAHASIA didalam DIRI.
.
4 MUKHALAFATUHU LIL
HAWADITS
RUH NABATI darahku mula menjadi meliputi Alam Sendiri
.
5 QIYAMUHU BINAFSIHI
RUH INSAN nafasku mula jadi berjalan ucapan didalam DIRI
.
6 WAHDANIAT
RUH RABBANI hatiku asal mula jadi TAHU didalam DIRI
.
7 KUDRAT
RUH QUDUS urat putihku
yang tidak berdarah berjalan setiap dalam DIRI-ku
.
8 IRADAT
RUH KAHFI tulangku asal mula jadi menguatkan Alam
Sendiri
.
9 ILMU
RUH IDHAFI benihku asal mula jadi YANG NYATA didalam CERMIN HAQ
.
10 HAYAT
RUH NURANI uratku yang meliputi didalam tubuh aku yang hidup alam sendiri.
.
11 SAMA’
BESI KURSANI pende ngaranku asal semula jadi
.
12 BASAR
PANCARAN MA’NIKAM kalam aku berkata-kata dengan sendiri
.
13 KALAM
RUH MANIKAM mnzahir kan perkataan didalam dunia
.
14 QADIRUN
WUJUD MANIKAM tali Ruhku KUNHI DZAT dengan Sifatku
.
15 MURIDUN
ILMU ALLAH badanku asal mula jadi KALIMAH didalam diriku
.
16 'ALIMUN
DARJAT ALLAH kebesaran ku asal mula jadi duduk didalam otak yang putih
.
17 HAYYUN
Amalan terlebih suci ialah amalan Kalimah Aku asal mula jadi alam diriku
.
18 SAMI'UN
Bersama ZAT & SIFAT
WAHDAH didalam Kalimah iman diriku
19 BASIRUN
.
RAHSIA NYAWA dengan
BADANWAHIDAH bersamalah dzat dengan badan tidak bercerai dunia akhirat
.
20 MUTAKALLIMUN
Ghaib didalam Ka’bah Ghaib aku didalam Ka’bah Kaca Arasy yang putih titik didalam Kalimah.
.
AWALUDDIN MAKRIFATULLAH
Permulaan agama mestilah MENGENAL ALLAH.
.
Firman allah :-
Ya Muhammad kenalilah
DIRI mu sebelum kamu
Mengenali Aku dan sebenar benar kenal Diri kamu ialah Engakau Kenal Aku
.
Wassalam.

Sabtu, 13 Agustus 2016

ILMU TASAWUF, ILMU HAKIKAT ATAU ILMU BATIN


Sebenarnya ilmu rohaniah itu adalah ilmu tasawuf atau dikatakan juga sebagai ilmu hakikat atau ilmu batin. Mengapa ilmu ini dikatakan ilmu rohani? Ini kerana perbahasannya adalah mengenai roh. Mengapa pula ia juga dikatakan ilmu tasawuf? Jika kita lihat perbincangan para ulama termasuk ulama moden, perkataan tasawuf itu diambil daripada bermacam-macam perkataan. Tetapi di sini saya hanya memilih salah satu daripadanya iaitu dari perkataan sofa’ bermakna bersih atau murni.
Tegasnya, ilmu tasawuf itu adalah ilmu bagaimana hendak membersihkan atau memurnikan roh (hati) atau nafsu. Agar dari dorongan hati yang bersih itu dapat membersihkan pula anggota lahir daripada melakukan kemungkaran dan kesalahan. Oleh itu, ilmu tasawuf itu adalah ilmu mengenai cara-cara membersihkan lahir dan batin daripada dosa dan kesalahan. Bahkan kesalahan lahir ini berpunca dari kesalahan batin. Dosa lahir ini berlaku setelah berlakunya dosa batin. Maka sebab itulah ia dikatakan ilmu tasawuf.
Kenapa pula ilmu ini juga dikatakan ilmu batin? Ini kerana roh atau hati memang tidak dapat dilihat oleh mata kepala. Ia adalah makhluk yang tersembunyi. Maka ilmu ini dinamakan ilmu batin kerana ia membahaskan tentang hati dan sifat-sifatnya yang memang tidak dapat dilihat dengan mata lahir tapi dapat dilihat oleh mata batin.
Mengikut pandangan umum masyarakat sekarang, bila disebut ilmu batin, mereka menganggap itu adalah ilmu pengasih atau ilmu kebal. Orang yang belajar ilmu batin bermakna dia belajar ilmu kebal atau belajar ilmu pengasih. Sebenarnya orang itu belajar ilmu kebudayaan Melayu, yang mana ilmu itu ada dicampur dengan ayat-ayat Al Quran. Kebal juga adalah satu juzuk daripada kebudayaan orang Melayu yang sudah disandarkan dengan Islam. Kalau kita hendak mempelajarinya tidak salah jika tidak ada unsur-unsur syirik. Tetapi itu bukan ilmu tasawuf atau ilmu kerohanian seperti apa yang kita bahaskan di sini.
Adakalanya ilmu tasawuf dipanggil juga ilmu hakikat. Ini kerana hakikat manusia itu yang sebenarnya adalah rohnya. Yang menjadikan manusia itu hidup dan berfungsi adalah rohnya. Yang menjadikan mereka mukalaf disebabkan adanya roh. Yang merasa senang dan susah adalah rohnya. Yang akan ditanya di Akhirat adalah rohnya. Hati atau roh itu tidak mati sewaktu jasad manusia mati. Cuma ia berpindah ke alam Barzakh dan terus ke Akhirat.
Jadi hakikat manusia itu adalah roh. Roh itulah yang kekal. Sebab itu ia dikatakan ilmu hakikat.
Oleh yang demikian apabila kita mempelajari sungguh-sungguh ilmu rohani ini hingga kita berjaya membersihkan hati, waktu itu yang hanya kita miliki adalah sifat-sifat mahmudah iaitu sifat-sifat terpuji. Sifat-sifat mazmumah iaitu sifat-sifat terkeji sudah tidak ada lagi. Maka jadilah kita orang yang bertaqwa yang akan diberi bantuan oleh Allah SWT di dunia dan Akhirat. Kebersihan hati inilah yang akan menjadi pandangan Allah.
Maksudnya, bila hati bersih, sembahyangnya diterima oleh Allah SWT. Bila hati bersih, puasanya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, perjuangannya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, wirid dan zikirnya diterima oleh Allah. Bila hati bersih, pengorbanannya diterima oleh Allah. Tetapi bila hati tidak bersih, seluruh amalan lahirnya tidak akan diterima.
Itulah yang dimaksudkan di dalam ajaran Islam bahawa walaupun kedua-dua amalan lahir dan amalan batin diperintahkan melaksanakannya tetapi penilaiannya adalah amalan roh atau hatinya. Ini sesuai dengan Hadis yang bermaksud: “Cukup sembahyang sunat dua rakaat daripada hati yang bertaqwa.” Maknanya dua rakaat sembahyang seorang yang bertaqwa itu lebih baik daripada seorang yang banyak sembahyang tetapi hati masih kotor. Selain sembahyang itu diterima, dua rakaat sembahyang dari hati yang bertaqwa itu akan memberi kesan kepada kehidupan seseorang itu. Sembahyangnya itu boleh mencegah dirinya dari berbuat kemungkaran dan kemaksiatan, lahir dan batin.
Berdasarkan Hadis di atas, kita cukup bimbang kerana selama ini kita telah mengerjakan sembahyang, sudah lama berjuang, sedikit sebanyak sudah berkorban, sudah habiskan masa untuk berdakwah, sembahyang berjemaah, ikut jemaah Islamiah, yang mana ini semua adalah amalan lahir, rupa-rupanya Allah tidak terima semua amalan itu disebabkan hati kita masih kotor. Roh kita masih tidak bersih. Oleh itu dalam kita menunaikan kewajipan yang lahir ini, jangan lupa kita memikirkan roh kita. Kerana roh yang kotor itulah yang akan mencacatkan amalan lahir, mencacatkan sembahyang, mencacatkan segala ibadah dan mencacatkan pahala seluruh kebaikan kita.
Orang yang banyak amal ibadah, di langit yang pertama sudah tercampak amalannya. Kalaupun boleh naik, di langit yang kedua pula tersekat. Begitulah seterusnya di pintu-pintu langit yang lain hingga sampai ke pintu langit yang ketujuh, tersangkut lagi. Itu bagi orang yang beramal, masih tertolak amalannya. Bagaimana agaknya kalau orang yang tidak beramal langsung?
Mengapa amalan lahir itu tersangkut? Tersangkutnya amalan itu kerana ia ada hubungan dengan penyakit batin atau roh (hati) kita yang masih kotor. Orang yang mengumpat umpamanya, kerana hatinya sakit. Walaupun mengumpat itu nampaknya amalan lahir, mulutnya yang bercakap tetapi ia datang dari hati yang kotor. Sebenarnya hati itulah yang mengumpat.
Hasad dengki, riyak, kibir, sombong dan sebagainya, itu semua amalan hati. Rupa-rupanya yang menghijab amalan lahir ini adalah mazmumah hati. Amalan hati (roh) ini hendaklah dijaga kerana mazmumah hati inilah yang membatalkan pahala amalan-amalan lahir.
Ditegaskan sekali lagi, ilmu rohani adalah ilmu yang mengesan tabiat roh atau hati sama ada yang mazmumah atau mahmudahnya. Bukan untuk mengetahui hakikat zat roh itu sendiri. Hakikat roh itu sendiri tidak akan dapat dijangkau oleh mata kepala atau tidak akan dapat dibahaskan. Tetapi apa yang hendak dibahaskan adalah sifat-sifatnya sahaja supaya kita dapat mengenal sifat-sifat roh atau hati kita yang semula jadi itu. Mana-mana yang mahmudahnya (positif) hendak dipersuburkan dan dipertajamkan. Kita pertahankannya kerana itu adalah diperintah oleh syariat, diperintah oleh Allah dan Rasul dan digemari oleh manusia. Mana-mana yang mazmumahnya (negatif) hendaklah ditumpaskan kerana sifat-sifat negatif itu dimurkai oleh Allah dan Rasul serta juga dibenci oleh manusia.
Oleh yang demikian, sesiapa yang memiliki ilmu tentang roh ini, mudahlah dia mengesan sifat-sifat semula jadi yang ada pada roh itu. Mahmudahnya dapat disuburkan dan yang mazmumahnya dapat ditumpaskan. Maka jadilah roh atau hati seseorang itu bersih dan murni.
Sedangkan hati adalah raja dalam kerajaan diri. Bila raja dalam kerajaan diri ini sudah bersih, baik, adil, takut kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul, maka sudah tentu dia akan mendorong rakyat dalam dirinya iaitu anggota (jawarih) ini untuk tunduk dan patuh kepada Allah. Mudah untuk membangunkan syariat dan Sunnah Rasulullah SAW serta mudah berbuat bermacam-macam bentuk kebaikan lagi.
Maka kebaikan anggota lahir inilah yang merupakan buah daripada kebersihan jiwa itu sendiri. Jadi kebersihan jiwa itulah pokok yang melahirkan kebaikan kepada tangan, mulut, mata, telinga, kaki dan seluruh tindakan lahir kita ini. Maka bila roh sudah baik, akan jadi baiklah seluruh lahir dan batin manusia. Bila baik lahir batin manusia, dia akan menjadi orang yang bertaqwa.
Bila dia telah menjadi orang yang bertaqwa, maka dia dapat pembelaan dari Allah sama ada di dunia mahupun di Akhirat. Selagi belum menjadi manusia yang bertaqwa, tidak ada jaminan dari Allah akan dibela sama ada di dunia mahupun di Akhirat. Kalau sekadar menjadi orang Islam, tidak ada jaminan dari Allah untuk dibela.
Dalam Al Quran, Allah tidak mengatakan akan membela orang Islam. Tidak ada satu ayat pun yang Allah berjanji hendak membantu orang Islam. Tetapi yang ada dalam ayat Al Quran mahupun dalam Hadis, Allah hanya membantu orang-orang mukmin yang bertaqwa. Jadi bila jiwa sudah bersih, maka akan bersih lahir dan batin, maknanya orang itu sudah memiliki sifatsifat taqwa. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWT dalam Al Quran: “Hendaklah kamu berbekal. Sesungguhnya sebaik-baik bekalan itu adalah sifat taqwa.” (Al Baqarah: 197)
Bila seseorang itu sudah dapat berbekal dengan sifat-sifat taqwa, maka dia akan dapat pembelaan dari Allah SWT. Pembelaan di dunia mahupun di Akhirat. Sebenarnya, di sinilah rahsia kejayaan dan kemenangan umat Islam. Juga rahsia kehebatan umat Islam hingga berjaya menumpaskan musuh-musuhnya sama ada musuh lahir mahupun musuh batin.