Laman

Selasa, 18 Oktober 2016

"Sepenggal Kisah Umar, Salman Dan Seorang Pemuda Shalih"


Umar bin khattab sedang duduk di bawah sebatang pohon kurma. Surbannya di lepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis di beberapa bagian. Di atas kerikil ia duduk, dengan cemeti umatar nya tergeletak di samping tumpuan lengan. Di hadapannya para pemuka shahabat bertukar pikiran dan membahas berbagai persoalan. Ada anak muda yang tampak menonjol di situ. Abdullah ibn Abbas. Berulang kali Umar memintanya berbicara.

Jika perbedaan wujud, Umar hampir selalu bersetuju dengan Ibnu Abbas. Ada juga Salman Al-Farisi yang tekum menyimak. Ada juga Abu Dzar Al-Ghifari yang sesekali bicara berapi-api.

Pembicaraan mereka segera terjeda. Dua orang pemuda berwajah mirip datang dengan mengapit pria belia lain yang mereka cekal lengannya. “Wahai Amirul Mukminin,” Ujar salah satu berseru-seru, “Tegakkanlah hukun ALLAH atas pembunuhan ayah kami ini!”

Umar bangkit. “”Takutlah kalian kepada ALLAH!” hardiknya, “Perkara apakah ini?”

kedua pemuda itu menegaskan bahwa pria belia yang mereka bawa ni adalah pembunuh ayah mereka. Mereka siap mendatangkan saksi dan bahkan menyatakan bahwa si pelaku ini telah mangaku. Umar bertanya kepada sang tertuduh. “Benarkah yang mereka dakwakan kepadamu ini?”

“Benar wahai Amirul Mukminin!”

“Engkau tidak menyangkal dan di wajahmu kulihat ada sesal!” ujar Umar menyelidik dengan teliti. “Ceritakanlah kejadiannya!”

“Aku datang dari negeri yang jauh” kata belia itu. “Begitu sampai di Kota ini ku tambatkan kudaku di sebuah pohon dekat kebunmilik keluarga mereka. Ku tinggalkan ia sejenak untuk mengurus suatuhajat tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai memakan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka.”

“Saat aku kembali,” lanjutnya sembari menghela nafas, “Kulihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tewas menggenaskan. Melihat kejadian itu, aku di bakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada ALLAH karenanya”

Umar tecenung.

“Wahai Amirul mukminin,” kata salah satu dari kedua kakak beradik itu, “Tegakkanlah hukum ALLAH. Kami meminta qishash atas orang ini. Jiwa dibayar dengan jiwa.”

Umar melihat pada belia tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. Umar iba dan merasa alangkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi.

“Bersediakah kalian,” ucap Umar ke arah dua pemuda penuntut Qishash, “Menerima pembayaran diyat dariku atas nama pemuda ini dan memaafkan nya?”

Kedua pemuda itu saling pandang,”Demi ALLAH, hai Amirul mukminin” jawab mereka, “Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. keberadaannya di tengah kami takkan terbayar dan terganti dengan diyat sebesar apapun. Lagipula kami bukanlah orang miskinyang menghajatkan harta. Hati kami baru akan tenteram jika Had di tegakkan!”

Umar terhenyak. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya pada sang terdakwa.

“Aku ridha hukum ALLAH di tegakkan atasku, wahai Amirul Mukminin” kata si belia dengan yakin. “Namun ada yang menghalangiku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kembali pada mereka. demikian juga keluargaku. aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil Jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka sembari berpamitan memohon ridha dan keampunan ayah ibuku”

Umar terhenyuh. Tak ada jalan lain. hudud harus di tegakkan. Tetapi pemuda itu juga memiliki amanah yang harus di tunaikan. “Jadi bagaimana?” tanya Umar.

“Jika engkau mengijinkanku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk kembali ke daerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi ALLAH, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu tegakkanlah had untukku tanpa ragu, wahai putra Al-Khattab”

“Adakah orang yang isa menjaminmu?”

“Aku tidak memiliki seorangpun yang kukenal di kota ini hingga dia bisa kuminta menjadi penjamin ku. Aku tak memiliki seorangpun penjamin kecuali ALLAH yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

“Tidak! Demi ALLAH, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak bisa mengizinkanmu pergi.”

“Aku bersumpah dengan nama ALLAH yang amat keras azabnya. Aku takkan menyalahi janjiku.”

“Aku percaya, tapi tetap harus ada manusia yang menjaminmu!”

“Aku tak punya!”

“Wahai Amirul Mukminin!” terdengar sebuah suara yang berat dan berwibawa menyela. “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah ia menunaikan amanahnya!” inilah dia, Salman Al Farisi yang tampil mengajukan diri.

“Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini?”

“Benar. Aku bersedia!”

“Kalian berdua kakak beradik yang mengajukan gugatan,”panggil Umar, “Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman Al Farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini? Adapun Salman demi ALLAH, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat”

Kedua pemuda itu saling pandang. “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.

—————————————————————-

Waktu tiga hari yang disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. Umar gelisah tak karuan. Dia mondar mandir sementara Salman duduk khusu’ di dekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.

Waktu terus merambat. Belia itu masih belum muncul.

Kota Madinah mulai terasa kelabu. Para shahabat berkumpul mendatangi Umar dan Salman. Demi ALLAH, mereka keberatan jika Salman harus di bunuh sebagai badal. Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanannya untuk islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia di hormati. Dia dicintai.

Satu demi satu, dimulai dari Abi Darda’, beberapa shahabat mengajukan diri sebagai pengganti Salman jika hukuman benar-benar dijatuhkan padanya. Tetapi Salma menolak. Umar juga menggeleng.

Matahari semakin langsir ke Barat. Kekhawatiran Umar makin memuncak. Para shahabat makin kelut dan sedih. Hanya beberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tampak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok. Dia pemuda itu, sang terpidana.

“Maafkan aku,” ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah, urusan dengan kaumku itu ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat istirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa kutinggal di tengah jalan. aku harus berlari-leri untuk sampai kemari sehingga nyaris terlambat.”

Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini merasakan satu sergapan iba. semua yang mendengar penuturannya merasakan keharuan yang mendesak-desak. Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya di hari itu.

“Pemuda yang jujur” ujar Umar denganmata berkaca-kaca, “Mengapa kau datang kambali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?”

“Sungguh jangan sampai orang mengatakan,” kata pemuda itu sambil tersenyum ikhlas, “Tak ada lagi orang yang tepat janji. dan jangan sampai ada yang mengatakan, tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum muslimin”

“Dan kau Salman,” kata Umar bergetar, “Untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?”

“Sungguh jangan sampai orang bicara,” ujar Salman dengan wajah teguh, “Bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai adayang merasa, tak ada lagi saling percaya di antara orang-orang Muslim.”

“ALLAHU AKBAR!” kata Umar, “Segala puji bagi ALLAH. kalian telah membesarkan hati ummat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai pemuda, had untukmu harus kami tegakkan!”

Pemuda itu mengangguk Pasrah.

“Kami memutuskan…” Kata kakak beradik penggugat tiba-tiba menyeruak, “Untuk memaafkannya.” mereka tersedu sedan.

“Kami melihatnya sebagai seorang yang berbudi dan tepat janji. Demi ALLAH, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal dan beristighfar kepada ALLAH atas dosanya. Kami memaafkannya. Janganlah menghukumnya, wahai Amirul Mukminin”

“Ahamdulillah!, Alhamdulillah!” ujar Umar. Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salman tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan Asma ALLAH, yang kemudia bahkan diikuti oleh semua hadirin.

“Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Umar pada kadua ahli waris korban.

“Agar jangan sampai ada yang mengatakan,” jawab mereka masih terharu, “Bahwa di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang”

———————————————————————————-

Saudara seiman itu adalah dirimu

hanya saja dia itu orang lain

sebab kalian adalah satu jiwa

hanya saja kini sedang hinggap di jasad yang berbeda

*Mulailah segala sesuatu dengan basmalah di lisan, pikir dan hatimu dan wujudkanlah rohman dan rohim dalam perilakumu.. .... .Takhallaqu bi Akhlaqillah, berakhlaklah kamu dengan akhlak Alloh*.

MAKRIFAT WALI SEMBILAN

ASSALAMUALAIKUM SAYA SUKRI NAK KONGSKAN DI WALL MAKRIFAT WALI SEMBILAN INI HAKIKAT BERGURU DENGAN GURU SEJATI DAN GURU ZAHIR,GURU BATIN,GURU NGAIB DAN GURU SHAHADAH DAN BERGURU LANGSUNG DENGAN ALLAH, PENGALAMAN saya menuntut ilmu MAKRIFAT KANJENG GURU WALI ALLAH SYEIKH SITI JENAR kepada ayah kandung saya bapak kandung saya sendiri HAMID adalah guru zahir saya pernah berkata orang yang ilmu cukup tinggi dapat dikalah dengan ilmu dalam dan bapak saya HAMID pernah berkata sebelum kamu nak temui guru mursyid di luar sana adalah guru tasawuf dan guru mursyid MAKRIFAT carilah HAKIKAT guru mursyid yang ada di dalam sejatimu lebih hebat lagi pada guru mursyid yang diluar carilah guru mursyid sejati di dalam dirimu itu rupanya sejati macam dirimu sendiri, DAN bapak Hamid beritahu guru sejati HITAM adalah IBLIS syaitan jin dia adalah korin kita dan guru sejati merah adalah natsu kita dan guru sejati kuning adalah sahabat kita ketika kita lahir ke dunia adalah orang jawa panggil KAKANG KAWAH ADI si ari ari adalah kembaram NGAIB kita adalah 4 malaikat Jibril, Mikail,israfil,izrail,dia adalah sahabat kita dan GURU SEJATI WARNA PUTIH adalah ROH SEJATI KITA ADALAH NUR MUHAMMAD adalah nyawa kita,DAN GURU SEJATI KITA YANG WARNA PUTIH TERANG BENDERANG BERCAHAYA adalah ALLAH, dan pertama sekali saya zikir thoriqat SAMANIYAH DAN saya zikir memhadirkan guru sejati yang hitam adalah korin saya adalah IBLIS YANG BERNAMA JAN MARIBAH BIHIN,keluar macam rupa wajah saya dia kata akulah guru sejati segala alam hitam kamu nak belajar ilmu hitam ilmu sihir ilmu santau angin dan ilmu santet pukau tenung guna guna ilmu hitam teluh aku boleh jadikan kamu dukun ilmu hitam yang sakti seperti mat lampir, dan saya zikir lagi keluar macam wajah saya tapi warna hitam adalah GURU SEJATI HITAM SYAITAN YANG BERNAMA MATUHURAS aku yang masuk dalam hati sanubari mu bisikkan segala kejahatan suruh kamu menyengutukan Allah dan suruh kamu derhaka kepada Allah dan membisikkan suruh fitnah mengumpat membunuh mencuri hisap dadah merogol dan akulah yang mengajarkan kepada kamu macam mana nak melakukan kejahatan dan menipu kianat orang tapi aku beritahu kepada mu aku tiada berkuasa bagi orang yang mengenal Allah menyatakan Allah dan PENYAKSIAN ke atas diri kita bahawa Tiada yang nyata hanya Allah yang MAUJUD ada dan orang yang selalu ingat Allah aku tiada kuasa menhasutnya, dan saya zikir lagi keluar jin KORIM rupanya macam saya warna hitam guru sejati KORIM jin hitam BARHANAS dan dia kata aku selalu sokong segala apa yang kamu buat jahat aku selalu mengajar kamu segala kejahatan, dan saya zikir lagi keluar GURU SEJATI MERAH NAMA NUR AMARAH JIBRA adalah HAWA NAFSU SAYA YANG BAIK DAN YANG JAHAT dan dia beritahu kepada saya apabila kamu marah kepada seorang naik natsu amarah adalah aku natsu merah hitam dan apabila kamu melakukan kebaikan buat yang baik akulah natsu merah putih,dan GURU sejati natsu rupanya macam wajah kita dan kita boleh berguru dengannya baik untuk menaikkan natsu semangat 1001 niat dan hajat,Dan saya zikir lagi keluar GURU sejati sahabat URI TEMBUNI SAHABAT 4 ADALAH MALAIKAT YA ZANURULLAH,YA SAMADULKAH, YA HALIMULLAH, YA KORIMULLAH, 4 malaikat sahabat uri TEMBUNI keluar sebijik macam rupa saya dia kata saya guru sejati sahabat uri TEMBUNI kamu saya boleh ajar kamu baca quran dan khatam al quran 30 juzuk dan sekali terjemahan dan jadikan kamu hafiz dan saya boleh buka rahsia hikmah hikmat karomah dan rahsia al quran yang tersurat dan tersirat saya boleh ajarkan kamu macam mana nabi muhammad solat 5 waktu dan saya boleh ajar segala ilmu thoriqat yang hebat yang ada dalam dunia kepada kamu dan bisa menjadi kan mu orang yang penuh hikmah hikmah penuh sakti dan ilmu apa yang ada di dalam dunia dan akhirat tanyalah akan ku ajarkan kepada mu dan aku nak beritahu kepada mu aku ada raja ilmu surah al fatihah raja dan surah al fatihah muzizat surah al fatihah seribu dinar dan kalau kamu mahu aku akan ajarkan bismillah sejuta dinar basmalah sejuta dinar dan saya zikir pula keluar GURU SEJATI KUNING rupanya keluar macam wajah saya adalah
Malaikat jibrail Mikail israfil izrail yang selalu menemanimu ke mana kamu pergi dan selalu membisikkan segala kebaikan kepada hati nurani mu
yang selalu ingat kepada mu suruh ingat kepada Allah dengan berzikir ALLAH ALLAH dan hu ALLAH dan ALLAH HU dan setiap nafasmu naik turun dan menjagamu daripada sebarang bahaya dan bencana dan aku malaikat jibrail Mikail israfil izrail boleh ajar ilmu ketuhanan ilmu HAKIKAT yang tinggi kepada mu,dan saya zikir lagi keluar cahaya putih kuning adalah ROH NYAWA saya adalah GURU SEJATI WARNA PUTIH KUNING adalah roh nyawa nafas saya adalah NUR MUHAMMAD rupanya wajah keluar macam rupa wajah sejati saya dia kata aku ruhmu akan ajar ilmu ketuhanan tahap tinggi dan aku akan ajar kepada mu MAKRIFAT paling tinggi, dan saya zikir THORIQAT NASABANDI AHAD AL HAQ HU AH dan bapak saya beritahu sebentar lagi datang guru NGAIB nabi Allah khidir dan saidina ali WALI qutub sultan auliya syeikh Abdul kadir jalaini raja WALI dan ibnu arabi dan WALI songo WALI sembilan sunan kalijaga dan sunan bonong sunan giri dan KANJENG syeikh siti JENAR akan datang ajar segala ilmu MAKRIFAT kepada mu mereka adalah GURU NGAIB kamu dan GURU saya habib Osman madani suruh saya sukri zikir YAKAZAH UNTUK BERTEMU DENGAN NABI MUHAMMAD SAW dan BAI,AH IJAZAH THORIQAT SUFI DENGANNYA ,dan saya zikir pula keluar cahaya yang terang benderang dan bilik saya tempat saya berzikir khalwad dengan Allah penuh dengan cahaya warna putih dan GURU MURSYID SEJATI SHAHADAH PUTIH keluar macam rupa wajah saya tapi dia cukup kacak hensen lawa segak dan dia wajah bercahaya saya jatuh cinta ketika itu kalau datang perempuan cantik sudah saya tolak tidak mahu dan saya mahu yang sejati saya adalah ALLAH dan ketika itu GURU MURSYID SEJATI SHAHADAH PUTIH beritahu AKULAH ADALAH ALLAH RAJA SEKELIYAN GURU MURSYID AKULAH ALLAH GURU MURSYID KAMU HAKIKAT GURU mursyid adalah aku dan aku keluar seperti wajahmu adalah wajahku HAKIKAT wajahku adalah wajahmu HAKIKAT wajahmu adalah wajahku HAKIKAT muhammad itu adalah aku dan HAKIKAT aku ALLAH adalah muhammad HAKIKAT daripada yang satu tiada sekutu dengan apa pun dan saya bertanya wahai GURU sejatiku adalah ALLAH yang kata kekasihmu nabi muhammad saw muhammad bin Abdullah adalah rasullullah,DAN SAYA NAK BERTANYA MANA KEKASIH ALLAH YANG SEJATI YANG DICINTAI ALLAH DI DIRI KITA JASAD DAN GURU MURSYID SEJATI SHAHADAH MENJAWAB ADALAH ROHMU NYAWAMU ADALAH NUR MUHAMMAD ADALAH KEKASIH ALLAH ADALAH RASULULLAH ADALAH NYAWAMU ROHMU ITU YANG DIKATAKAN RASULULLAH ADALAH KEKASIH ALLAH

Selasa, 11 Oktober 2016

** NUR (CAHAYA) **


NUR ILAHI


Allah s.w.t hanya bisa dikenal jika DIA sendiri mau DIA dikenali
Jika Dia mau memperkenalkan Diri-Nya kepada seseorang, maka hati orang tersebut akan dipersiapkan dengan meng-karunia-kannya warid.
Hati orang tersebut akan diterangi dengan Nur-Nya
Tidak mungkin mencapai Allah s.w.t tanpa dorongan yang kuat dari Nur-Nya,
Karena Nur-Nya adalah kendaraan bagi hati untuk sampai ke Hadirat-Nya.
HATI adalah umpama BADAN
ROH adalah NYAWA.
Roh berkaitan dengan Allah s.w.t dan kaitan itu dinamakan As-Sir (Rahasia).
ROH menjadi nyawa kepada HATI
SIR menjadi nyawa kepada ROH
KARENA :
Hakekat HATI adalah ROH
Hakekat ROH adalah SIR
Sir atau Rahasia yang sampai kepada Allah s.w.t.
Sir-lah yang masuk ke Hadirat-Nya.
Sir-lah yang mengenal Allah s.w.t.
Sir adalah Hakekat dari sekalian yang maujud.
Nur Ilahi menerangi Hati, Roh dan Sir.
Nur Ilahi membuka bidang Hakekat-Hakekat.
Amal dan ilmu tidak mampu menyingkap Rahasia Hakekat-Hakekat
Nur Ilahi yang berperan menyingkap Tabir Hakekat itu.
Orang yang mengambil hakekat dari buku-buku atau dari ucapan orang lain bukanlah Hakekat sebenar-nya yang ditemuinya, tetapi hanyalah sangkaan, dugaan atau khayalan semata.
Jika mau mencapai Hakekat perlu-lah mengamalkan wirid sebagai pembersih hati. Kemudian bersabar menanti sambil terus juga berwirid. Sekiranya Allah s.w.t kehendaki warid akan di-datangkan-Nya kepada hati yang asyik dengan wirid itu.
Itulah ke-jaya-an yang besar yang bisa dicapai oleh seorang manusia semasa hidupnya di dunia ini.
Alam ini pada hakekatnya adalah gelap
Alam menjadi terang karena ada kenyataan Allah s.w.t.
Andaikan kita berdiri di atas puncak sebuah bukit pada waktu malam yang gelap gelita.
Apa yang terlihat hanyalah kegelapan.
Ketika siang tiba, matahari memancarkan sinarnya, terlihatlah tumbuh-tumbuhan dan hewan yang menghuni bukit itu.
Kewujudan di atas bukit itu menjadi nyata karena diterangi oleh cahaya matahari.
Cahaya menzahirkan kewujudan dan gelap yang membungkusnya.
Jika kegelapan hanya sedikit maka kewujudan kelihatan samar.
Sekiranya kegelapan itu tebal maka kewujudan tidak kelihatan lagi.
Hanya cahaya-lah yang dapat menzahirkan kewujudan, karena cahaya dapat menghalau kegelapan.
Jika cahaya matahari dapat menghalau kegelapan yang menutupi benda-benda alam yang nyata, maka cahaya Nur Ilahi pula dapat menghalau kegelapan yang menutup hakekat-hakekat yang gaib.
Mata di kepala melihat benda-benda alam,
Mata hati melihat pada hakekat-hakekat.
Banyak-nya benda alam yang di-lihat oleh mata karena banyaknya cermin yang membalikkan cahaya matahari, sedangkan cahaya hanya satu jenis saja dan datangnya dari matahari yang satu jua.
Begitu juga halnya pandangan mata hati. Mata hati melihat banyaknya hakekat karena banyaknya cermin hakekat yang membalikkan cahaya Nur Ilahi, sedangkan Nur Ilahi datangnya dari Nur yang satu yang bersumber dari Zat Yang Maha Esa.
Kegelapan yang menutupi mata hati menyebabkan hati terpisah dari kebenaran.
Hatilah yang tertutup sedangkan KEBENARAN TIDAK PERNAH TERTUTUP.
Dalil atau bukti yang dicari bukanlah untuk menyatakan kebenaran
tetapi untuk mengeluarkan hati dari lembah kegelapan ke cahaya yang terang benderang untuk melihat kebenaran yang memang selalu tersedia ada, bukan mencari kebenaran baru.
Cahaya-lah yang menerangi dan membuka penutup hati.
Nur Ilahi adalah cahaya yang menerangi hati dan mengeluarkannya dari kegelapan serta membawanya menyaksikan sesuatu dalam keadaannya yang asli.
Apabila Nur Ilahi sudah membuka penutup hati dan cahaya terang telah bersinar maka mata hati dapat memandang kebenaran dan KEASLIAN yang selama ini disembunyikan oleh alam nyata.
Bertambah terang cahaya Nur Ilahi yang diterima oleh hati bertambah jelas kebenaran yang dapat dilihatnya.
Pengetahuan yang diperolehi melalui pandangan mata hati yang bersuluhkan Nur Ilahi dinamakan ilmu LADUNI atau ilmu yang diterima dari Allah s.w.t secara langsung.
Kekuatan ilmu yang diperolehi bergantung kepada kekuatan hati menerima cahaya Nur Ilahi.
Murid yang masih pada peringkat permulaan hatinya belum cukup bersih, maka cahaya Nur Ilahi yang diperolehinya tidak begitu terang.
Oleh karena itu ilmu laduni yang diperolehinya masih belum mencapai peringkat yang halus-halus.
Pada tahap ini hati kadang mengalami kekeliruan.
Kadang-kadang hati menghadap kepada yang kurang benar dengan membelakangi yang lebih benar.
Orang-orang pada peringkat ini perlu mendapatkan penjelasan dari ahli-ahli makrifat yang lebih arif.
Apabila hatinya semakin bersih cahaya Nur Ilahi semakin bersinar meneranginya dan dia mendapat ilmu yang lebih jelas.
Lalu hatinya menghadap kepada yang lebih benar, sehingga dia menemui KEBENARAN YANG HAKIKI.

KISAH WALI YANG TERSEMBUNYI


Inilah Kisah Seorang Wali Yang Tersembunyi, tersembunyi karena masyarakat tidak mengetahui bahwa beliau adalah seorang Wali. Kejadian ini diambil dari Buku Harian Sultan Murad IV.
Di dalam buku hariannya itu, diceritakan bahwa suatu malam sang Sultan Murad merasa sangat gelisah dan galau, ia ingin tahu apa penyebabnya. Maka ia pun memanggil kepala pengawalnya dan mengatakan bahwa ia akan pergi keluar dari istana dengan menyamar sebagai rakyat biasa.
Wafatnya Imam Syafii, Wali yang tersembunyi
Sesuatu yang memang biasa beliau lakukan. Sultan murad berkata: “Mari kita keluar, kita blusukan melihat keadaan rakyatku”. Mereka pun pergi, udara saat itu sangat panas. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah. Maka disentuhlah lelaki itu dan dibangunkan oleh Sultan Murad, ternyata lelaki itu telah wafat. Orang-orang yang lewat di sekitarnya tidak ada yang peduli dengan keadaan mayat lelaki tersebut. Maka Sultan Murad yang saat itu menyamar sebagai rakyat biasa, memanggil mereka yang saat itu lewat.
Kemudian mereka bertanya kepada Sultan: “Ada apa? Apa yang kau inginkan?”. Sultan menjawab: “Mengapa orang ini wafat tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang ngurus dan membawa ke rumahnya? Siapa dia? Dan di mana keluarganya?” Mereka berkata: “Orang ini Zindiq, pelaku maksiat, dia selalu minum khamar (mabuk mabukan) dan selalu berzina dengan pelacur”.
Sultan menjawab: “Tapi . . bukankah ia juga Umat Rasulullah Muhammad SAW? Ayo angkat dia, kita bawa ke rumahnya”. Maka Mereka mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya. Ketika sampai di rumahnya, saat istri lelaki tersebut mengetahui suaminya telah wafat, ia pun sedih dan menangis.
Tapi orang-orang langsung pergi semua, hanya Sang Sultan dan kepala pengawalnya yang masih tinggal dirumah lelaki itu. Kemudian Sang Sultan bertanya kepada istri laki-laki itu: “Aku mendengar dari orang-orang disini, mereka berkata bahwa suamimu itu dikenal suka melakukan kemaksiatan ini dan itu, hingga mereka tidak peduli akan kematiannya, benarkah kabar itu”.?
Maka Sang istri menjawab: “Awalnya aku menduga seperti itu tuan. Suamiku setiap malam keluar rumah pergi ke toko minuman keras (khamar), kemudian membeli sesuai kemampuannya. Ia bawa khamar itu ke rumah, kemudian membuangnya ke dalam toilet, sambil berkata: “Alhamdulillah Aku telah meringankan dosa kaum muslimin”.
Suamiku juga selalu pergi ke tempat pelacuran, memberi mereka uang dan berkata kepada si pelacur: “Malam ini merupakan jatah waktuku, jadi tutup pintumu sampai pagi, jangan kau terima tamu lain!”. Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa pemuda-pemuda Islam”.
Tapi, orang-orang yang melihatnya mengira bahwa ia selalu minum minuman keras (khamar) dan melakukan perzinahan. Dan berita ini pun menyebar di masyarakat. Sampai akhirnya suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: “Kalau nanti kamu mati, maka tidak akan ada kaum muslimin yang akan memandikan jenazahmu, dan tidak ada yang akan mensholatimu, tidak ada pula yang akan menguburkanmu”.
Ia hanya tertawa, dan menjawab: “Janganlah takut wahai istriku, jika aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, oleh para Ulama dan para Auliya Allah”. Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: “Benar apa yang dikatakannya, Demi Allah, akulah Sultan Murad itu, dan besok pagi kita akan memandikan suamimu, mensholatinya dan menguburkannya bersama sama masyarakat dan Para Ulama”.
Hikmah Wali Yang Tersembunyi
Akhirnya jenazah laki-laki itu besoknya dihadiri oleh Sultan Murad, dan Para Ulama, Para Syeikh dan juga seluruh warga masyarakat….!! “Subhanallah” Terkadang kita suka menilai orang dari apa yang kita lihat dan kita dengar dari omongan orang orang. Andai saja kita mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati seseorang, niscaya pasti kita akan menjaga lisan kita dari membicarakan orang lain…
******* Sumber. buku harian Sultan Murad IV (Sultan Turki Utsmani, memerintah Sep 1623 – Feb 1640) yang berbahasa arab. Ibnu Marawis
Hikmah apa yang dapat kita ambil dari kisah ini? Seorang Wali yang tersembunyi, beliau melaksanakan tugasnya sebagai wali Allah, meski orang awam menilainya sangat hina. Allah tetap menjaganya menjadi wali yang tersembunyi sampai saatnya tiba.

MELIHAT ALLAH


Kata melihat disebut dengan berbagai versi dalam bahasa Arab, dan Al-Qur'an. Melihat berarti dengan mata kita. Sedangkan mata kita ada tiga. Mata kepala, mata analisa fikiran, mata hati.
Dalam konteks hubungan dengan "Melihat Allah" dan "Seakan-akan melihat Allah", maka ada sejumlah ayat, misalnya ketika Nabi Musa as, berhasrat ingin melihat Allah. "Musa as berkata: Ya Tuhan, tampakkan diriMu padaKu, aku ingin memandangMu." Allah menjawab, "Kamu tidak bisa melihatKu." (al-A'raf 143).
Ayat lain menyebutkan: "Sesungguhnya Akulah Tuhanmu, maka lepaskanlah sandalmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci." (Thaha 12)
Dan dia berkata, "Sesungguhnya aku akan menyaksikan Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya Aku bebas dari kemusyrikan kamu padaKu, melalui selain Dia."
Ayat lain menyebutkan, "Kemana pun engkau menghadap, disanalah Wajah Allah."(Al-Baqarah 115)
"Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepatuhan." (Al-An'aam 79)
Nabi Musa as, gagal ketika hasratnya menggebu ingin melihat Allah, lalu Allah menjawab, "Kamu tidak bisa melihatKu.". Dengan kata lain "Kamumu" atau "Akumu" tidak bisa melihatKu. Karena itu Abu Bakr ash-Shiddiq ra berkata, "Aku melihat Tuhanku dengan Mata Tuhanku." yang berarti bahwa hanya dengan Mata Ilahi saja kita bisa MelihatNya.
Dimaksud dengan "Mata Ilahi" adalah Mata Hati kita yang diberi hidayah dan 'inayah oleh Allah SWT untuk terbuka, dan senantiasa di sana hanya Wajah Allah yang tampak, sebagaimana dalam Al-Qur'an. Ibnu Athaillah menggambarkan secara bijak:
"Alam semesta ini gelap, dan sebenarnya menjadi terang karena dicahayai Allah di dalamnya. Karena itu siapa yang melihat semesta, namun tidak menyaksikan Allah di dalamnya, atau di sisinya, atau sebelum dan sesudahnya, benar-benar ia telah dikaburkan dari wujud Cahaya, dan tertutup dari matahari ma'rifat oleh mendung-mendung duniawi semesta."
Karena itu soal "Menyaksikan Allah" hubungannya erat dengan tersingkapnya tirai hijab, yang menghalangi diri hamba dengan Allah, walaupun Allah sesungguhnya tidak bisa dihijabi oleh apa pun. Karena jika ada hijab yang bisa menutupi Allah, berarti hijab itu lebih besar dan lebih hebat dibanding Allah.
Oleh sebab itu, dalam menggambarkan Musyahadah (penyaksian Ilahi) ini, Rasulullah menggunakan kata, "Seakan-akan", karena mata kepala kita dan mata nafsu kita, keakuan kita pasti tak mampu. Kata-kata "Seakan-akan" lebih dekat sebagai bentuk kata untuk sebuah kesadaran jiwa dan kedekatan hati.Tetapi ketika Rasulullah bersabda, "Jika kamu tidak melihatNya, kamu harus yakin bahwa Dia melihatmu.". Rasul SAW tidak menyabdakan, "Seakan-akan melihatmu.".
Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kedekatan atau taqarrub sampai-sampai seakan-akan melihatNya, adalah akibat dari kesadaran kuat bahwa "Dialah yang melihat kita." Kesadaran jiwa bahwa Allah SWT melihat kita terus menerus, menimbulkan pantulan pada diri kita, yang membukakan matahati kita dan sirr kita untuk memandangNya.
Kesadaran Memandang Allah, kemudian mengekspresikan sebuah pengalaman demi pengalaman yang berbeda-beda antar para Sufi, sesuai dengan tingkat haliyah ruhaniyah (kondisi ruhani) masing-masing. Ada yang menyadari dalam pandangan tingkat Asma Allah, ada pula sampai ke Sifat Allah, bahkan ada yang sampai ke Dzat Allah. Lalu kemudian turun kembali melihat Sifat-sifatNya, kemudian Asma'-asmaNya, lalu melihat semesta makhlukNya.
Lalu kita perlu mengoreksi diri sendiri lewat perkataan Abu Yazid al-Bisthamy, "Apa pun yang engkau bayangkan tentang Allah, Dia bertempat, berwarna, berpenjuru, bertempat, bergerak, diam, itu semua pasti bukan Allah SWT. Karena sifat-sifat tersebut adalah sifat makhluk."
Kontemplasi demi kontemplasi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid yang Kamil Mukammil hanya akan menggapai kebuntuan jalan dalam praktek Muroqobah, Musyahadah maupun Ma'rifah.
Bagi mereka yang dicahayai oleh Allah maka digambarkan oleh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam:
"Telah terpancar cahayanya dan jelaslah kegembiraanya, lalu ia pejamkan matanya dari dunia dan berpaling darinya, sama sekali dunia bukan tempat tinggal dan bukan tempat
ketentraman. Namun ia jiwanya bangkit di dalam dunia itu, semata menuju Allah Ta'ala, berjalan di dalamnya sembari memohon pertolongan dari Allah untuk datang kepada Allah.
Hamparan tekadnya tak pernah terhenti, dan selamanya berjalan, sampai lunglai di hadapan Hadratul Quds dan hamparan kemeseraan denganNya, sebagai tempat Mufatahah, Muwajahah, Mujalasah, Muhadatsah, Musyahadah, dan Muthala'ah."
Ibnu Athaillah menyebutkan enam hal dalam soal hubungan hamba dengan Allah di hadapan Allah, yang harus dimaknai dengan rasa terdalam, untuk memahami dan membedakan satu dengan yang lain. Bukan dengan fikiran:
1) Mufatahah: artinya, permulaan hamba menghadapNya di hamparan remuk redam dirinya dan munajat, lalu Allah membukakan tirai hakikat Asma, Sifat dan keagungan DzatNya, agar hamba luruh di sana dan lupa dari segala yang ada bersamaNya.
2) Muwajahah, artinya saling berhadapan, adalah sikap menghadapnya hamba pada Tuhannya tanpa sedikit dan sejenak pun berpaling dariNya, tanpa alpa dari mengingatNya. Allah menemui dengan CahayaNya dan hamba menghadapnya dengan Sirrnya, hingga sama sekali tidak ada peluang untuk melihat selainNya, dan tidak menyaksikan kecuali hanya Dia.
3) Mujalasah, artinya menetap dalam majlisNya dengan tetap teguh terus berdzikir tanpa alpa, patuh tunduk tanpa lalai, beradab penuh tanpa tergoda, dan hamba memuliakanNya seperti penghormatan cinta dan kemesraan agung, lalu disanalah Allah
swt berfirman dalam hadits Qudsi, "Akulah berada dalam majlis yang berdzikir padaKu."
4) Muhadatsah, maknanya dialog, yaitu menempatkan sirr (rahasia batin) dengan mengingatNya dan menghadapNya dengan hal-hal yang ditampakkan Allah pada sirr itu, hingga cahayaNya meluas dan rahasia-rahasiaNya bertumpuan. Inilah yang
disabdakan Nabi saw, "Pada ummat-ummat terdahulu ada kalangan disebut sebagai kalangan yang berdialog dengan Allah, dan pada ummatku pun ada, maka Umar diantaranya."
5) Musyahadah, adalah ketersingkapan nyata, yang tidak lagi butuh bukti dan penjelasan, tak ada imajinasi maupun keraguan. Dikatakan, "Syuhud itu dari penyaksian yang disaksikan dan tersingkapnya Wujud."
6) Muthala'ah, adalah keselarasan dengan Tauhid dalam setiap kepatuhan, ketaatan dan batin, semuanya kembali pada hakikat tanpa adanya kontemplasi atau analisa, dan setiap yang tampak senantiasa muncul rahasiaNya karena keparipurnaanNya. Wallahu A'lam.
Maka Hadrat Ilahi, telah menjadi kehidupan hatinya, dimana mereka tenteram dan tinggal. Renungkan semua ini dengan hati yang suci.

Minggu, 09 Oktober 2016

Keutamaan Bershalawat

"BISMILLAHIRROHMANIRROHIM"
Keutamaan Bershalawat
Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dari ‘Abdullah bin ‘Amr,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, َﺔَﻠْﻴِﺳَﻮﻟﺍ ﻲِﻟ َﻝَﺄَﺳ ْﻭَﺃ َّﻲَﻠَﻋ ﻰَّﻠَﺻ ْﻦَﻣ ِﺔَﻣﺎَﻴِﻘﻟﺍ َﻡْﻮَﻳ ﻲِﺘَﻋﺎَﻔَﺷ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﺖَّﻘَﺣ “Barangsiapa bershalawat
kepadaku atau meminta agar
aku mendapatkan wasilah,
maka dia berhak mendapatkan
syafa’atku pada hari kiamat
nanti.” (Hadits ini terdapat dalam Fadhlu Ash Sholah ‘alan
Nabiy no. 50, Isma’il bin Ishaq
Al Jahdiy. Dikatakan shohih
oleh Syaikh Al Albani) Dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ًﺓَﺪِﺣﺍَﻭ َّﻰَﻠَﻋ ﻰَّﻠَﺻ ْﻦَﻣ ﺍًﺮْﺸَﻋ “Barangsiapa yang
bershalawat kepadaku sekali,
maka Allah akan bershalawat
kepadanya sepuluh kali.” (HR.
Muslim no. 408) Keutamaan Bershalawat di
Hari Jum’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, ِﻡْﻮَﻳ ِّﻞُﻛ ﻰِﻓ ِﺓَﻼَّﺼﻟﺍ َﻦِﻣ َّﻰَﻠَﻋ ﺍﻭُﺮِﺜْﻛَﺃ َّﻰَﻠَﻋ ُﺽَﺮْﻌُﺗ ﻰِﺘَّﻣُﺃ َﺓَﻼَﺻ َّﻥِﺈَﻓ ٍﺔَﻌُﻤُﺟ َﻥﺎَﻛ ْﻦَﻤَﻓ ، ٍﺔَﻌُﻤُﺟ ِﻡْﻮَﻳ ِّﻞُﻛ ﻰِﻓ ﻰِّﻨِﻣ ْﻢُﻬَﺑَﺮْﻗَﺃ َﻥﺎَﻛ ًﺓَﻼَﺻ َّﻰَﻠَﻋ ْﻢُﻫَﺮَﺜْﻛَﺃ ًﺔَﻟِﺰْﻨَﻣ “Perbanyaklah shalawat
kepadaku pada setiap Jum’at.
Karena shalawat umatku akan
diperlihatkan padaku pada
setiap Jum’at. Barangsiapa
yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling
dekat denganku pada hari
kiamat nanti.” (HR. Baihaqi
dalam Sunan Al Kubro. Hadits
ini hasan ligoirihi –yaitu hasan
dilihat dari jalur lainnya-) Amalkanlah Shalawat Berikut Di antara shalawat yang
dianjurkan yang dapat kita
amalkan adalah: [1] Dari Zaid bin Abdullah
berkata bahwa sesungguhnya
mereka dianjurkan
mengucapkan, ِّﻲِّﻣُﻷﺍ ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ ﻰَﻠَﻋ ِّﻞَﺻ َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ “Allahumma sholli ‘ala
Muhammad an nabiyyil
ummiyyi. [Ya Allah, berilah
shalawat kepada Muhammad
Nabi yang Ummi]” (Fadhlu Ash
Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 60.
Syaikh Al Albani
mengomentari bahwa hadits
ini shohih) [2] Dari Ka’ab bin ‘Ujroh, beliau
mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami sudah
mengetahu bagaimana kami
mengucapkan salam padamu.
Lalu bagaimana kami
bershalawat padamu?” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah, ِﻝﺁ ﻰَﻠَﻋَﻭ ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ ﻰَﻠَﻋ ِّﻞّﺻ َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ َﻚَّﻧِﺍ َﻢْﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇ ِﻝﺁ ﻰَﻠَﻋ َﺖْﻴَّﻠَﺻ ﺎَﻤَﻛ ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ ٌﺪْﻴِﺠَﻣ ٌﺪْﻴِﻤَﺣ “Allahumma sholli ‘ala
Muhammad wa ‘ala ali
Muhammad kama shollaita ‘ala
ali Ibrahim, innaka hamidun
majid” [Ya Allah, berilah
shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau
memberi shalawat kepada
kerabat Ibrahim.
Sesungguhnya Engkau Maha
Terpuji lagi Maha Mulia]
(Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
no. 56. Syaikh Al Albani
mengomentari bahwa sanad
hadits ini shohih) [3] Dalam riwayat Bukhari no.
3370 terdapat lafazh shalawat
sebagai berikut, ِﻝﺁ ﻰَﻠَﻋَﻭ ، ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ ﻰَﻠَﻋ ِّﻞَﺻ َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ َﻢﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇ ﻰَﻠَﻋ َﺖْﻴَّﻠَﺻ ﺎَﻤَﻛ ، ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ ، ٌﺪﻴِﺠَﻣ ٌﺪﻴِﻤَﺣ َﻚَّﻧِﺇ ، َﻢﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇ ِﻝﺁ ﻰَﻠَﻋَﻭ ِﻝﺁ ﻰَﻠَﻋَﻭ ، ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ ﻰَﻠَﻋ ْﻙِﺭﺎَﺑ َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ ، َﻢﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇ ﻰَﻠَﻋ َﺖْﻛَﺭﺎَﺑ ﺎَﻤَﻛ ، ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ ٌﺪﻴِﺠَﻣ ٌﺪﻴِﻤَﺣ َﻚَّﻧِﺇ ، َﻢﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇ ِﻝﺁ ﻰَﻠَﻋَﻭ “Allahumma sholli ‘ala
Muhammad wa ‘ala ali
Muhammad kama shollaita ‘ala
Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim,
innaka hamidun majid.
Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali
Muhammad kama barokta ‘ala
Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim,
innaka hamidun majid.” [Ya
Allah, berilah shalawat kepada
Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi
shalawat kepada Ibrahim dan
kerabatnya. Sesungguhnya
Engkau Maha Terpuji lagi Maha
Mulia. Ya Allah, berilah
keberkahan kepada Muhammad dan kerabatnya
karena engkau memberi
keberkahan kepada Ibrahim
dan kerabatnya. Sesungguhnya
Engkau Maha Terpuji lagi Maha
Mulia] Itulah bacaan shalawat yang
dapat kita amalkan dan
hendaknya kita mencukupkan
diri dengan shalawat yang
telah diajarkan oleh Nabi kita
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah kita mengamalkan
shalawat yang sebenarnya
tidak ada tuntunan dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
apalagi mengandung
kesyirikan semacam shalawat nariyah. Butuh pembahasan
tersendiri untuk membahas
shalawat nariyah ini. Penutup Saudaraku, perbanyaklah
shalawat di hari Jum’at.
Ingatlah, makna shalawat
adalah sebagaimana yang
dikatakan oleh Abul ‘Aliyah, ِﺔَﻜِﺋَﻼَﻤْﻟﺍ َﺪْﻨِﻋ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻩُﺅﺎَﻨَﺛ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺓَﻼَﺻ “Shalawat Allah adalah pujian-
Nya kepada beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam di hadapan
para malaikat.” (HR. Bukhari
no. 10) Sebagian ulama mengatakan
bahwa makna shalawat dari
Allah adalah rahmat, dari
malaikat adalah istigfar
(mohon ampunan) dan dari
manusia adalah do’a. Namun makna shalawat dari Allah
yang lebih tepat adalah
sebagaimana perkataan Abul
‘Aliyah di atas sebagaimana
yang dikuatkan oleh Syaikh
Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dalam Syarhul
Mumthi’ dan Syarh Bulughul
Marom. Semoga kita dimudahkan oleh
Allah untuk mengamalkannya.
Semoga Allah selalu memberi
kita ilmu yang bermanfaat.
Alhamdulillahilladzi bi
ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina
Muhammad wa ‘ala alihi wa
shohbihi wa sallam.

Sabtu, 08 Oktober 2016

KISAH SUFI HASAN AL BASRI

Kisah teladan seorang Wali Allah terkenal untuk dikongsi…. semoga dapat menjadi iktibar, peringatan dan pengajaran kepada kita semua….
.
| SEBELUM Hasan menjadi seorang Sufi, beliau ialah seorang jauhari (peniaga intan berlian). Satu hari beliau pergi ke satu tempat bernama Rom (di Asia Minor) kerana berniaga, dan pergi berjumpa Menteri Sultan. Menteri itu berkata kepada beliau, “Anda hendaklah menunggu beberapa hari lagi kerana pada masa ini menemankan sultan dalam satu kerja pentingnya. Jika anda mahu, anda bolehlah bersama kami.”

Hasan pun berangkatlah bersama sultan, menteri dan lain-lain. Mereka masuk ke satu hutan yang luas. Di tengah hutan itu ada terdiri sebuah khemah yang hebat, yang di kawal oleh askar-askar. Pegawai-pegawai tentera masuk ke khemah itu dan kemudian keluar. Kemudian mereka berjalan mengelilingi khemah itu, dan kemudia pergi. Setelah itu tiba pula orang-orang tua yang kehormatan masuk ke khemah itu, berkata sesuatu, kemudian keluar, lalu mengelilingi khemah itu dan pergi. Kemudian datang pula golongan-golongan pakar-pakar perubatan dan berbuat demikian juga.
Kemudian giliran dua ratus orang gadis yang cantik-cantik pula berbuat demikian. Akhirnya datanglah Sultan dengan Menterinya; baginda masuk ke dalam khemah itu, berkata sesuatu, keluar dan mengelilingi khemah itu dan terus pergi.
Hasan hairan melihat peristiwa itu. Beliau bertanya kepada Menteri yang menemaninya itu. Kata Menteri tersebut, “Sultan itu mempunyai anak yang lawa dan berani telah meninggal dunia di sini. Anak itu di kuburkan di tempat khemah itu terdiri. Tiap-tiap tahun kami mengunjungi tempat ini dan melakukan upacara yang tuan baru saksikan tadi.
Mula-mulanya pihak tentera pergi ke kubur itu dan berkata kepada yang berkubur di situ iaitu anak raja itu, “Jikalah dengan senjata kami, dapat kami menyelamatkan kamu dari Tuhan Kematian, akan kami korbankan nyawa kami untuk menyempurnakan tujuan itu, tetapi apakah daya kami tidak berupaya.”
Kemudian datang pula pihak candakiawan yang berkata, “Jikalau ilmu dan pengalaman kami dapat menyelamatkan kamu dari mati, tetapi apakan daya kami tidak berupaya“. Kemudian datang pula, pihak tabib, berkata, “Jika ubat-ubat kami dapat menyelamatkan kamu dari mati, tentu kami akan berusaha menyelamatkan kamu, tetapi apakan daya, kami tidak berupaya”. Kemudian pihak gadis-gadis yang cantik itu pula berkata, “Jikalau kecantikan kami dapat menyelamatkan kamu dari mati, nescaya kami kurbankan apa sahaja untuk kamu, tetapi apakan daya, kami tidak berupaya”. Selepas itu, datang pula Sultan ditemani oleh Menteri-Menterinya dan berkata, ‘Anak ku ! kami berusaha sedaya-upaya dengan kekuatan tentera, tabib-tabib dan lain-lain untuk menyelamatkan kamu dari mati, namun takdir Tuhan tetap berlaku jua. Selamatlah kamu tinggal di sini dan kami akan datang lagi tahun depan, pada masa ini juga.”
Peristiwa ini sangat mengharukan fikiran Hasan dan mengubah sikapnya. Beliau menghabiskan hidupnya dengan beribadat kepada Allah dan bersedia untuk menghadapi mati. Beliau kembali ke Basrah. Perniagaannya di tinggalkan. Beliau pergi jauh dari manusia ramai dan bersumpah tidak akan senyum sepanjang hidupnya. Tujuh puluh tahun lamanya beliau tidak berhenti-henti beribadat kepada Allah. Dalam hidupnya hanya satu sahaja keperluan dan tujuannya iaitu Allah. Dia tidak peduli apa sahaja selain Allah.
.
| APABILA Rabi’atul-adawiyah Al-Basriyyah (803 Masehi) tidak datang menghadiri syarahan Hasan, ia tidak akan memberi syarahan hari itu. Orang bertanya kenapa beliau bersikap demikian. Jawabnya, “Serbat yang ada di dalam bekas untuk gajah tidak dapat dimuatkan dalam bekas untuk semut.”

Semasa beliau bersyarah dalam keadaan dzauk (mabuk terhadap Allah) beliau berterima kasih kepada Rabi’atul adawiyah dengan katanya, “Saya berterima kasih kerana berkat mu, membawa ku ke dalam mabuk cinta kepada Allah ( dzauk )”
Beliau pernah di tanya, “Apakah Islam dan siapakah orang Islam? “Hasan menjawab, “Islam itu dalam kitab-kitab dan orang Islam itu dalam kubur.”
.
| KATA KATA HASAN

1. Janganlah kamu tinggalkan amalan agama mu kerana takutkan musuh yang mengganggu kamu. Bahkan mereka itu mengganggu Allah.
2. Akhir dunia dan awal akhirat ialah dalam kubur.
.
| BIASANYA Hasan menulis dosa-dosa yang dilakukan pada pakaiannya semenjak dahulu lagi. Beliau selalu melihat tulisan tersebut. Kadang-kadang beliau akan menangis hinggakan jatuh pengsan apabila melihat dosa yang di lakukannya itu.
.
| SATU ketika, Hasan berserta dengan beberapa orang lain, sedang pergi ke Ka’abah, tengah jalan mereka sampai ke satu perigi, mereka semuanya dahaga tetapi mereka tidak ada tali timba untuk mengambil air telaga itu. Hasan pun berkata, “ Saya hendak sembahyang, semasa saya sembahyang tuan-tuan akan lihat air itu naik ke atas tuan-tuan bolehlah minum air itu untuk menghilangkan dahaga.” Perkara itu benar-benar berlaku. Tetapi ada seorang daripada mereka itu, setelah minum sepuas-puasnya, telah mengisi bekas airnya untuk kegunaan masa depan. Air itu pun tidak semena-mena turun ke bawah semula. Apabila beliau di tanya tentang peristiwa ganjil itu. Hasan menjawab, “Itu adalah kerana kurangnya iman mu untuk bertawakal bulat-bulat kepada Allah."
.
| HASAN sangat merendahkan dirinya hingga dianggap dirinya itu lebih hina dari segala yang lain. Satu hari, di tebing sungai Dajlah, beliau nampak seorang lelaki sedang duduk dengan seorang perempuan muda dan sebotol arak ada di hadapan orang itu. Terlintas dalam fikirannya, “Alangkah jahatnya orang itu! Alangkah baiknya jika ia seperti aku”. Tatkala itu datang sebuah perahu dan tidak jauh dari orang itu. Perahu itu beransur-ansur tenggelam. Ada tujuh orang dalam perahu itu pun hampir-hampir mati lemas. Orang itu pun segera melompat ke dalam sungai itu dan menyelamatkan enam orang dari tujuh orang itu dari mati lemas. Kemudian orang itu berpaling kepada Hasan dan berkata, “Jika kamu lebih mulia dari saya, maka dengan nama Allah, selamatkanlah orang yang seorang lagi itu. Kamu hanya selamatkan seorang, tetapi aku selamatkan enam orang.” Tetapi Hasan tidak dapat menyelamatkan orang yang seorang itu. Orang itu berkata kepada Hasan, “Tuan, orang perempuan di sisi saya itu ialah ibu ku, dan botol itu mengandungi air sahaja. Peristiawa ini adalah untuk menguji tuan.“

Mendengarkan itu, Hasan jatuh terduduk, lalu berkata, “Seperti tuan telah menyelamatkan enam orang, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam air kebanggaan dan kesombongan”. Orang itu menjawab, “Moga-moga Allah kabulkan kehendak mu!”. Hasan terasa yang kehendaknya telah terkabul.
Semenjak itu, beliau sangat merendahkan diri. Apabila melihat seekor anjing, beliau berkata, “Ya Allah, demi anjing yang baik ini, terimalah aku sebagai hamba Mu”.
.
| HASAN berkata bahawa empat peristiwa yang memberinya pengajaran besar dalam hidup:

1) Satu ketika saya tarik pakaian seorang kasi (orang pontong) kerana berseloroh. Orang itu berkata, “Kembalikan pakaian itu, kerana ada orang yang tahu keadaan ku yang sebenarnya”. Tiba-tiba terlintas di fikiran ku: bagaimana pula kedudukan kita di akhirat kelak jika di telanjangkan dan semua dosa kita itu diperlihatkan?
2) Seorang mabuk sedang menggelupur dalam Lumpur. Saya katakan kepadanya supaya berhati-hati agar tidak tenggelam. Orang itu berkata, “Hasan, jika aku tenggelam, aku sediri yang menderita. Tuan jagalah diri tuan. Jika tuan jatuh, semua pengikut mu akan tenggelam sama.”
3) Suatu hari seorang budak (kanak-kanak) membawa lampu yang menyala. Saya tanya dia dari mana dia bawa api itu. Kanak-kanak itu pun memadamkan lampu itu dan berkata, “Beritahu pada ku ke mana perginya api yang bernyala pada lampu itu?”
4) Suatu hari seorang perempuan yang jelita berlari di jalan raya dengan kepalanya tanpa tudung sambil merungut tentang suaminya. Saya suruh dia menutup kepala dan mukanya. Perempuan itu berkata, “Cinta kepada suami telah menghilangkan fikiran ku hingga aku tidak sedarkan diri ku dan keliling ku. Jika tuan tidak memberitahu ku yang kepala dan muka ku tidak bertutup, maka tidaklah aku tahu. Aku akan berjalan seperti ini di jalan ini. Tetapi hairan juga aku, hai Hasan, tuan berpura-pura sebagai seorang pencinta Allah dan tuan sedar kepada apa sahaja yang terlintas di hadapan tuan, dan panca-indera tuan masih ada kesedaran kepada yang lain. Apakah cinta Allah yang ada pada tuan itu?
.
| PENDAPAT HASAN

Kambing itu lebih sedar dari manusia kerana menurut kata gembalanya. Tetapi manusia itu tidak taat kepada perintah Tuhannya dan menurut sahaja kehendak iblis.
Kawan-kawan yang jahat merosakan orang yang berjalan menuju Allah.
Mengumpulkan harta-benda lebih buruk daripada meminum arak yang mana adalah dilarang oleh Al–kitab.
Siapa yang memencilkan dirinya akan selamat. Siapa yang memisahkan dirinya dari nafsunya akan merasai kebebasan.
Orang yang menggali asas dasar dunia ini akan di situ membina bagunan akhirat adalah orang yang bijak.
Barang siapa yang kenal Allah menganggap dunia ini sebagai musuhnya, dan siapa yang kasih akan dunia akan menjadi musuh Allah.
Orang yang membuang amalan ruhaniah dan menggantikan nya dengan bermurah hati kepada dunia, cuba menegapkan cara-caranya yang jahat itu, adalah orang yang rosak.
Barangsiapa yang cinta kepada emas dan perak akan dihinakan oleh Allah. Siapa yang menganggap dirinya sebagai pemimpin masyarakat adalah sesat dan hina.
Allah berfirman dalam Al-Quran, “Aku akan ampunkan kamu dari segala dosa kamu jika kamu tidak memandang yang lain kecuali Aku.”
Hasan di tanya, “Bagaimanakah kamu?”
Beliau menjawab, “Saya adalah ibarat orang di tengah laut yang kehilangan perahu dan terapung-apung di dalam air.”