Laman

Sabtu, 21 April 2018

MENGENAL APA ITU SULUK

MENGENAL APA ITU SULUK dan MENGAPA SULUK ITU PENTING serta WAJIB DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
__________________________________________
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu,
Salam Sejahtera,
Alhamdulillah....puji Syukur atas Kehadirah Allah dan nikmat Kesehatan yang diberikanNYA pada kita semua hingga hari ini yang mana karna NikmatNYA kita masih dapat memiliki kesempatan untuk berIbadah dan berbuat kebajikan Sebanyak-banyaknya.
Sholawat dan salam marilah kita haturkan Keharibaan Junjungan Semesta Alam dan seluruh isinya, kekasih Allah, makhluk yang paling mulia yang pernah ada (baik fisik maupun rohani) yang atas kehendaknya kelak kita akan mendapatkan syafa'at pada Yaumil Mahsyar, Nabiyullah Habibullah Wa Rasulullah Muhammad Ibn Abdillah Sholallahu 'Alaihi Wassalam.
Salam Takdzim yang sekhalis-khalisnya marilah kita haturkan kepada seluruh Aulia-Aulia akbar dari Timur sampai Barat dari Utara sampai Selatan, yang mana karna kehadiran merekalah bumi ini masih bertahan sampai saat ini sebab mereka ditugaskan Allah menjaga bumi ini dari kerusakan yang disebabkan oleh tangan-tangan "bathil", hingga waktunya nanti Allah akan mengembalikan mereka pada sisiNYA sehingga kiamatlah dunia ini.
----------------------------------
Pada kesempatan yang diRahmati dan diRidhoi Allah kali ini penulis akan menjabarkan apa itu Suluk sebenarnya dan mengapa suluk itu penting serta wajib dalam perspektif hukum Islam.
I) Arti dan Defenisi kata Suluk
---------------------------------------
Suluk berasal dari bahasa Arab (Aslak/Fasluk), berasal dari Huruf Hijaiyah, Sin-Lam-Kaf, yang secara harfiah berarti 'menempuh'. Sesuai Dalil dalam Q.S.An Nahl : 69.
Di dalam Thariqah Naqsyabandiah Mujaddidiyyah Khalidyah, Suluk memiliki defenisi makna "training centre" atau dalam bahasa Indonesianya "pusat pelatihan". Kenapa disebut training centre ? ya, sebab pada saat suluk, para jema'ah suluk (salik), melatih amalan dzikirullah yang diajarkan oleh Guru Mursyidnya dan juga kegiatan-kegiatan ibadah harian yang wajib maupun sunnah dalam syari'at Islam.
Dengan pelatihan suluk ini, diharapkan kelak para salik akan mencapai Maqom Iman dan Ihsan yang berAkhlakul Karimah yang mampu berhubung diri kepada Allah dengan baik dan mampu mengenali Arwahul Muqaddasa Rasulullah dengan baik agar dapat membedakan mana yang Haq/Bathil, apakah itu Jin/Syaithon/Iblis dan mana unsur yang HAQ.
II) Mengapa Suluk itu penting ?
-------------------------------------
Saat calon salik mengikuti Thariqah Nasyabandiah Mujaddidiyyah untuk pertama kali, maka saat itu telah diberikan amalan dzikir yang merupakan warisan sejak zaman Rasul. Dulu sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu beliau Rasulullah SAW memiliki kebiasaan Tahannust dan Menyendiri
di dalam Gua Hira, apa yang dilakukan Rasulullah SAW di dalam Gua tersebut ? sementara saat itu belum ada perintah Sholat Wajib, jawabnya ya, itulah yang dilakukan Rasulullah SAW, melakukan kegiatan suluk atas bimbingan dari Guru beliau, sang Raja Diraja Malaikat, penghulu dari segala penghulu Malaikat, Jibril Alaihissalam.
Rasulullah sudah memiliki kebiasaan berTahannust di dalam Gua Hira sejak umur 13 tahun melakukan suluk , saat kota mekkah sibuk dengan hiruk pikuk dan carut marut dunia tetapi kekasih Allah tersebut memiliki hobi dan kebiasaan bediam diri dengan melakukan kegiatan-kegiatan ibadah termasuk dzikir. Hingga Rasulullah menerima wahyu pada umur 40tahun beliau pun masih tetap melakukan hal tersebut, terkadang 10hari,25hari, bahkan sampai 40hari. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh para Sahabat beliau, para Ahlul Bayt, maupun seluruh Muslimin pada masa itu.
Para Sufi yang melakukan suluk/tahannust bukanlah berarti telah meninggalkan kegiatan dunia selama-lamanya, akan tetapi sepulang dari suluk mereka kembali melakukan kegiatan rutinitas sehari-harinya.
Anggapan miring yang selalu penulis dengar sejak penulis menjadi seorang sufi pada usia sekolah dasar yaitu, "jangan ikuti suluk, nanti kamu bisa gila". Tetapi sampai saat ini penulis sendiri telah menghitung, ternyata lebih banyak orang gila yang menjadi waras setelah berSuluk, daripada orang waras yang menjadi Gila karna berSuluk.
Karena di dalam Thariqah Nasyabandiah Mujaddidiyah Khalidiyah berMazhab Ahlussunnah maka seluruh kegiatan di dalam suluk dilakukan secara berjema'ah, dari mulai sholat wajib, dzikir/tawajuh, dan makan, kecuali 3 perkara yang tidak berjema'ah, yaitu sholat sunnah, ke jamban dan istirahat. Para salik yang mengikuti suluk biasanya tidur dan dzikir di dalam "kelambu", kelambu disini dengan tujuan menjadi pengganti goa, sebab di tengah perkotaan seperti sekarang ini amatlah sulit mencari goa yang layak untuk dijadikan tempat suluk seperti masa Rasulullah SAW.
Di dalam suluk nantinya para Salik akan diajarkan Hadab 21, hadab 21 wajib diikuti demi berhasilnya proses pelatihan yang dilalui seorang salik selama hari yang ditentukan oleh Guru Mursyid. Saat suluk biasanya jema'ah (salik) dipimpin/diImani/diKomando oleh Seorang Pimpinan Dzahiriyyah. Pimpinan Dzahiriyyah bertindak sebagai perpanjangan tangan daripada seorang Guru Mursyid bilamana Guru Mursyid tidak hadir atau berhalangan hadir secara langsung dalam kegiatan suluk. Bila seorang Mursyid hadir secara fisik tentu saja posisi Imam akan digantikan langsung oleh sang Guru, seorang Pimpinan Dzahiriyyah memiliki kriteria di atas pimpinan Tawajjuh, Pimpinan Dzahiriyyah dapat/boleh/di izinkan untuk memimpin suluk dan kegiatan Tawajuh Rutin, namun seorang Pimpinan Tawajuh belum boleh/ belum diizinkan untuk memimpin kegiatan suluk, dan semua ketentuan ini sudah diatur oleh Guru Mursyid.
III) Suluk Wajib Menurut Perspektif Hukum Islam
----------------------------------------------------------
Dalil wajibnya suluk ini dapat diambil hujjahnya dari dua sudut pandang dalam perspektif hukum Islam, yaitu :
1.Dalil Wajib menurut Hukum Syariat dan Fiqih
Di dalam Kitabnya yang berjudul Tanwirul Qulub syeikh Amin Qurdi meriwayatkan perkataan Ibnu Abbas dari Imam Maliki dari Rasulullah SAW sebagai berikut :
"Barangsiapa yang berSyariat tanpa berThariqat maka ia akan menjadi orang yang Fasikh (tidak berbekas setiap amal ibadahnya sampai kepada bathin ruhani dan perilaku kesehariannya). Dan Barangsiapa yang berThariqat tanpa berSyariat maka ia akan menjadi Zindiq (penyeleweng Agama). Dan barangsiapa yang melakukan kedua-duanya (Syariat dan Thariqat) maka sesungguhnya orang itulah orang yang benar pada sisi Allah". <----> sumber : Prof.DR.H.Djama'an Noor (Eks Ketua MUI Provinsi Bengkulu).
Dalam Q.S. At Thariq : 1-17, Allah Azza Wa Jalla telah menjelaskan pentingnya suluk dengan penjelasan perilaku apa saja yang dilakukan oleh seorang salik.
2.Dalil Menurut dalil Aqli (yang bersumber dari Aqal yang Waras)
Mungkin timbul pertanyaan bagi kita selaku pengamal Thariqah Naqsyabandiah Mujadiddiyyah Khalidiyyah, kenapa suluk itu harus berjama'ah dan kenapa harus ditentukan tempatnya ? apakah tidak boleh dilakukan seorang diri di rumah masing ?
Jawaban dari pertanyaan di atas secara Dalil Aqli yaitu, jika seorang Salik melakukan kegiatan suluk sendiri di tempat masing-masing dikhawatirkan akan terdapat banyak gangguan-gangguan yang bersifat keduniawian ataupun yang bersifat tak kasat mata. Contohnya, saat sedang asyik berdzikir, tiba-tiba ada yang memanggil dan hilanglah kekhusyukan tadi, tentunya akan batal, itu adalah gangguan bersifat duniawi. Gangguan yang bersifat tak kasat mata, contohnya, saat salik melakukan kegiatan suluk sendiri di rumah datang gangguan aneh-aneh dari IBLIS (sebab IBLIS akan sangat membenci para salik yang bersuluk dan melakukan segala cara untuk menggoda), jika salik sendirian maka kemana ia akan bercerita dan bertanya ? justru itulah pentingnya melakukan kegiatan suluk secara berjema'ah dan dibawah bimbingan seorang Mursyid atau Pimpin Dzahiriyyah.
KESIMPULAN
-----------------------
Dari semua uraian di atas, mungkin ada sebagian pembaca yang belum ikut Thariqah beranggapan, "ah, apa mungkin Islam kita tidak sah bila tak ikut Thariqah atau tak ikut Suluk?"
Tidak demikian adanya pembaca yang diRahmati Allah, Suluk atau Training Centre dan juga Thariqah, adalah "ADVANCE" daripada AL ISLAM,ini bukan di luar Islam, tetapi ini maksudnya adalah "extensi atau lanjutan dari keIslaman yang sedang kita tempuh saat ini".
Kalau dulu di dalam sekolah atau perguruan Universiti of Islam kita diajarkan Islam secara syari'at hanya sampai pada batas level otak. Kini di dalam Thariqah kita diajarkan bahwa Islam itu tidak hanya sekedar sampai pada batas Akal. Di dalam tidur, seorang profesor ahli agama ditanya, "pak, siapa Tuhan anda?". maka profesor tersebut diam atau melindur bilang "gak tau". Wah.... kalau sempat nanti saat di hisab di alam Barzah bilang gak tau, gimana itu coba ? sebab, yang kelak nanti di Hisab dalam alam barzah bukanlah Fisik maupun otak kita, otak di waktu tidur telah mati, otak di saat Sakaratul Maut tidak bekerja lagi tetapi Ruh masih ada dan bekerja. Jadi, jika waktu saat kita masih sekolah kita hanya belajar Islam sampai pada level otak, maka dalam Thariqahlah kita diajarkan Islam sampai kepada level Ruhani. Sebab yang kelak pulang kehadirah Allah adalah ruhani. Jadi tujuan pentingnya berThariqah ataupun suluk tersebut tak lain tak bukan adalah melatih Ruhani kita yang mana Ruhani tersebut tadinya tidak pernah dilatih mengenal Allah, maka di dalam suluk akan dilatih dan diajarkan bagaimana mengenal TuhanNYA, yang menciptakanNYA. Sehingga kelak Ruhani itu tidak akan kesulitan saat menghadapi Sakaratul Maut, saat Yaumil Hisab di alam Barzah maupun saat menghadapi Yaumil Mahsyar, sebab Ruhani tersebut telah dilatih dan senantiasa beserta KALIMATULLAH HUWAL ULYA (Kalimah Allah yang asli dan murni , yang mengalir daripada sisi Allah dengan Dimensi Yang Maha Akbar). Kalimah Allah tersebutlah kelak yang akan menyelematkan kita, Kalimah Allah tersebutlah yang bersifat Absolute artinya berlaku dimana saja, kapan saja, kepada apa saja. Dan yang paling penting semua itu hanya akan di dapat dengan latihan yang rutin dan berkesinambungan.
"Dengan latihan yang sungguh-sungguh engkau akan menjadi seorang master daripada suatu cabang ilmu".
Akhirul Qalam,
Semoga tulisan singkat ini bermanfaat kiranya bagi siapapun yang telah mengikuti Thariqah Naqsyabandiah agar lebih menjadi perbendaharaan ilmu dan bagi yang belum mengikuti agar menjadi lebih terang dan jelas. Tidak ada yang kita tutup-tutupi sebagai seorang Sufi pengamal Thariqah Mu'tabarah. Tidak perlu takut, sebab dari sejak usia dini sekolah dasar penulis mengikuti Thariqah ini tak pernah ada orang yang jadi gila, jadi susah, jadi bodoh, ataupun jadi melarat, jika niat awal mengikuti Thariqah ini dengan niat "illahi anta makshudi wa ridhoka mathlubi a'thini mahabbataka wa ma'rifataka" , artinya "Yaa Allah Engkau yang Hamba Maksud, RidhoMU lah yang Hamba Tuju, Kurniakanlah Mahabbah (cintaMU) dan Ma'rifah (kenal akan Engkau) kepada Hamba".
Wabillahi Taufiq Wal Hidayah,
Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu,

AL-QUR’AN DALAM DIRI MANUSIA


Di dalam Al-Qur’an ada dua ayat yang jelas-jelas menyebutkan bahwa Al-Qur’an itu di turunkan oleh Allah di dalam diri manusia dengan menggunakan istilah hati dan dada.
Pertama :
Surah Al-Baqarah ayat 97
“Man kaana ‘aduwwan lijibriila fa-innahu nazzalahu ‘alaa qalbika bi-idznillaahi mushaddiqan limaa bayna yadayhi wahudan wabusyraa lilmu’miniin.”
Katakanlah : “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya Al-Qur’an ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.
Kedua :
Surah Al-Qiyamah ayat 16
Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkan Al-Qur’an di dadamu dan (membuatmu pandai) membacanya.
Telah kita ketahui bersama bahwa :
Al-Qur’an itu terbentuk dari titik kemudian menjadi huruf dan seterusnya menjadi ayat yang ber-jumlah 6666 ayat dan menjadi panduan hidup manusia… kemudian… di masuk-kan pula oleh Allah ke dalam diri manusia.
Pada kesempatan ini mari-lah sama-sama kita coba untuk mengkaji maksud sebenar-nya ayat di-atas karena ayat tersebut sangat JELAS dan MUDAH untuk di-pahami, Yang menjadi persoalan-nya sekarang ialah..
Al-Qur’an yang mana-kah yang di-maksud-kan?
Al-Qur’an itu sudah berada di dalam hati manusia (Al-Baqarah 97)
Al-Qur’an itu sudah berada di dalam dada manusia (Al-Qiyamah 16)
…… sebaiknya tidak perlu di-perdebatkan lagi ….
Namun…
Siapa-kah Al-Qur’an itu..?
Setiap apa yang di katakan Al-Qur’an itu adalah Qadim (Kalam Qadim)
ini ber-arti A-Qur’an itu bersifat Qidam..
Jika ia bersifat Qidam maka ia bukan-lah Muhadas (yang baru)
Sebab..
Yang baru itu adalah makhluk yang di-ciptakan-Nya dan yang di-cipta-kan jika ia ber-bentuk Roh maka jelas ia makhluk..
Pandangan sebagian Ulama mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah Qadim yaitu : Awal tiada permulaan.
Artinya ..
Kalam yang Qadim yang menjadi Hak Allah,
Jika ia menjadi Hak Allah
Maka..
Ia tidak boleh bersifat Roh akan tetapi ia harus bersifat DZAT
Jadi..
Yang bersifat Dzat itulah yang di turunkan oleh Allah di dalam dada atau hati manusia,
Siapakah dia..?
Apakah Al-Quran yang berbentuk Jirim..?
atau Jisim ?
atau Jauharul Fardhi ?
atau Jauharul Basits ?
Jika Al-Qur’an itu berbentuk yang ber-istilah di atas..
maka apakah dia sebenarnya yang di masukan oleh Allah di dalam hati manusia atau di dalam dada manusia..?
Kita wajib mengetahui hal ini sebab dia berada di-dalam diri kita sendiri, dan juga menjadi Panduan Hidup kita…
Jika ia sebagai panduan hidup manusia..
maka dapat kita katakan bahwa dia itu menjadi panduan kepada Roh, Akal, Nafsu dan Tubuh yang terdiri dari tulang, daging, urat,darah, rambut, dan sebagainya,
Tanpa ia semua yang ada pada sebuah batang tubuh manusia menjadi tiada berarti sama sekali, Sebab itu-lah dikatakan mencari sesuatu di dalam diri..
Apa yang dicari dalam diri..?
Ini adalah isyarat untuk memahami bahwa Al- Qur’an itu ada di dalam hati manusia dan ada di dalam dada manusia, Mungkin awal-nya kita merasa sulit untuk memahami bahwa Al-Qur’an itu ada di dalam diri manusia, Walau apapun itu…… inilah ketentuan Allah dalam Al Quran,
Tapi…
Dalam bentuk apakah ..?
Jika berbentuk Al-Qur’an sebagaimana yang kita ketahui (bentuk kitab yang ada huruf dan rupa) Maka itu adalah MUSTAHIL karena tidak mungkin Al-Qur’an ber-bentuk itu di masukan ke-dalam jasad kita.
Al-Qur’an adalah panduan hidup dan mati manusia…
Al-Qur’an adalah Kalam Tuhan, yang bersifat NUR untuk seluruh alam ciptaan Tuhan..
Kepada orang yang berfikir.. akan melihatnya sebagai sesuatu yang Benar dan Suci dan Bersih dengan tiada keraguan terhadapnya,
Karena itu layak-lah ia di namakan Kalam yang Qadim yaitu Kalamullah,
Rasullullah sendiri tidak akan ber-bicara melainkan pembicaraan-nya adalah Al-Qur’an,
ini ber-arti berbicara yang benar dan Haq itu Di dalam Al-Qur’an.
Ada ayat yang meng-gatakan Al-Qur’an ini sebagai Hablillah (tali Allah) yaitu tali yang mengaitkan antara hamba dengan Tuhannya
Jika tali ini tidak di pegang teguh..
maka akan bercerai berai-lah manusia bersama Allah.
Sedangkan..
Hablillah ini mengenal Tuhan-nya sejak dari alam Roh dan dia-lah yang mengakui bahwa Tuhan itu adalah Rabbi yaitu Tuhan yang mencipta-nya,
Kalam-nya tidak pernah dusta..
Sebagaimana Rasullullah bersabda tidak mengikut perasaan-nya melainkan mengikut panduan Al-Qur’an semata-mata,
KESIMPULAN :
Al-Qur’an itu bukanlah berbentuk Jirim,Jisim atau Jauhar yang Fardhi karena istilah tersebut adalah berbentuk-bentuk dalam wujud ke-benda-an.
Al-Qur’an yang di maksud-kan oleh Allah swt ini bukanlah berbentuk kitab yang ber-jilid dan naskah akan tetapi ia adalah berbentuk Jauhar yang sulit untuk di lihat dengan mata kasar.
Al-Qur’an tersebut adalah berbentuk Zat, karena Basits itu adalah sebagian dari pada Zat yang di ujud-kan oleh Allah dan sesuai dengan Asma Allah yang Ma’anawiyah di samping ia adalah IMAM
Fungsi-nya sebagai IMAM atau Pemimpin sebagaimana yang di kehendaki oleh Allah kepada setiap muslim menjawab-nya ketika di tanya oleh malaikat Mungkar dan Nangkir di dalam kubur atau berbentuk Hablillah (tali Allah).
Karena ia IMAM maka ia adalah makhluk yang bertaraf Zat Di alam Roh…
Ketika Roh itu di tanya oleh Allah swt (Bani Isroil ayat 85 dan 86) Maka yang menjawab pertanyaan tersebut ialah yang menjadi ketua atau IMAM kepada Roh, Akal dan Nafsu,
Al-Qur’an adalah Nur Muhammad atau Hakekatul Muhammadiyah atau di kenal sebagai Nyawa atau Nafs kepada sumber segala kehidupan (Al-Basit)
Maka dia juga di kenal sebagai makhluk La Yakhluqu = Zat yang tidak menjadikan sesuatu (An-Nahl ayat 17),
Yang jelas…
Al-Qur’an yang di masuk-kan oleh Allah ke dalam diri manusia itu ialah :
Nur Muhammad atau
Hakekatul Muhammadiyah atau
Diri kebatinan manusia yang sebenarnya atau
Diri sebenar Diri yang tidak menanggung dosa,
Karena ia adalah makhluk bertaraf Dzat
maka..
Ia tidak terkecuali dari beribadah kepada Allah swt ,
Karena..
Ia beribadah dengan nama Shuhud kepada Wahdah dan juga Kasrah dan Sir.
Ia juga-lah yang di kenal sebagai NAFSAHU kepada ayat mengenal diri dan Tuhan,
Ia juga-lah yang di kenal seagai INSAN yang Sempurna yang tidak ada cacat dan celanya.

Jumat, 20 April 2018

Shalat Daim


Shalat dalam tinjauan tasawuf ada dua macam, yaitu sholat yang bersifat syariat yaitu sholat lima waktu (shalat wajib dan sunnah), sedangkan yang kedua adalah sholat Daim. Adapun daim berarti kekal atau tetap, Shalat daim berart
i doa atau dzikir yang kekal dan tetap. Shalat daim, seperti diungkapkan dalam firman Allah:

ٱلَّذينَ هُمْ عَلى صَلاتِهِمْ دائِمُونَ

Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya secara terus-menerus (Qs. al-Ma’arij ayat 23)

Ketika Ruh masih dalam kondisi yang ruhani, Sebelum diberi badan jasmani dan dibentuk oleh Allah. Pada hakekatnya Ruh sudah dibimbing agar selalu ingat (Dzikir) kepada Allah.

وَ إِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَني آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَ أَشْهَدَهُمْ عَلى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قالُوا بَلى شَهِدْنا

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Qs. Al-A‘raf:172)

Shalat Daim Dalam Tasawuf Jawa

Shalat daim terdapat dalam kepustakaan Jawa. Tidak seperti shalat lima waktu dan shalat sunah (nawafil), shalat daim tidak terikat dengan waktu, tanpa rukuk, dan tanpa sujud. Sebutan lengkap untuk salat ini adalah shalat daim mulat salira, yaitu zikir yang kekal dan mawas diri. Mawas diri di sini berarti selalu ingat atau eling kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam buku Salat Daim Mulat Salira karya Bratakesawa dijelaskan: “Shalat daim ialah sembahyang yang tetap, yang selalu dilaksanakan, atau sembahyang yang tidak pernah ditinggalkan, mawas diri, dan mawas aku (melihat dengan teliti akan diri sendiri atau dirinya dalam arti yang seutuhnya). Melakukan ini amat penting bagi kita yang mencari ilmu hakikat. Dan melakukan yang demikian inilah yang disebut dengan salat daim mulat sarira.”

Tidak berbeda dengan penjelasan ini, R. Ngabehi Ranggawarsita (Ronggowarsito) dalam bukunya Wirid Ma’lumat Jati menyatakan bahwa yang dimaksud dengan shalat daim adalah: “memperhatikan dengan seksama rasa hidup kita semua, lalu mengakui dirinya menjadi penampakan lahiriah Tuhan Yang Maha Suci yang sejati, Yang Maha Kuasa, Yang Kuasa menciptakan segala sesuatu. Kalau sudah bisa demikian, itulah yang disebut shalat daim, yaitu shalat sejati.”

Tentang salat daim ini dijelaskan oleh Ranggawarsita, yaitu “saya berniat salat daim untuk selama hidupku, berdirinya adalah hidupku, rukuknya adalah penglihatanku, iktidalnya adalah pendengaranku, sujudnya adalah penciumanku, bacaan ayat adalah ucapanku, duduknya adalah imanku, pujiannya adalah keluar masuknya nafasku, zikirnya adalah ingatanku, kiblatnya adalah renunganku, fardu menjalankan yang wajib lantaran kodratku sendiri. Disitu lalu pasrah kepada Zat hidup kita pribadi . jangan ragu-ragu lagi, karena yang demikian itu telah berdiri Zat, sifat dan perbuatan kita ini sudah menjadi Al-Qur’an sejati, sebagai tanda hakikat semua shalat.”

Lebih lanjut ia menjelaskan, “Itulah shalat daim, yakni salat yang sejati, ia tanpa di antarai waktu, tidak mempunyai hitungan rakaat, mereka ini bisa disebut shalat sambil bekerja, melakukan pekerjaan sambil salat, duduk dengan berdiri, berdiri dengan duduk, lari dengan berhenti, membisu dengan berceritera, bepergian dengan tidur, tidur dengan jaga. Seperti itulah ibaratnya, sebab hakikat shalat daim tanpa sujud dan rukuk, yakni hanya berada dalam rasa hidup kita.”

Menurut Ranggawarsita, karena hakikat shalat terletak pada perbuatan utama, yakni sabar dalam pendengaran, maka jika seseorang bisa menutup telinga untuk tidak mendengar hal-hal yang tidak bermanfaat, berarti ia telah melaksanakan shalat.

Shalat daim tersebut menurut mereka merupakan bentuk pengembaraan ahli kerohanian dalam mencari Tuhan. Untuk menemui Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Suci, dan Maha Sempurna, maka dalam pencarian itu seseorang harus suci secara lahir dan batin. Karena itu ia harus menghidupkan hati dan perasaannya untuk selalu ingat dan berzikir kepada Tuhan. Hal ini bisa dicapai dengan cara shalat daim dalam arti tasawuf, yaitu “ ingat dan zikir yang terus-menerus”.

Dengan demikian shalat daim ini tidak dalam arti salat fardu lima waktu dan salat sunah, melainkan lebih sesuai jika diartikan zikir secara sufi yang terus-menerus.
Al-Qur’an menganjurkan banyak berzikir di luar salat. Dalam hubungan ini Allah SWT berfirman:

فَإِذا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَ ابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَ اذْكُرُوا اللهَ كَثيراً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS.al-jumuah:10)

فَإِذا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللهَ قِياماً وَ قُعُوداً وَ عَلى جُنُوبِكُمْ

Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah pada waktu kamu berdiri, duduk, dan berbaring. (Qs. An-Nisa’: 103)

Rasulullah Saw. adalah contoh yang sempurna, beliau menjalankan shalat lima waktu dan shalat sunnah-sunnah lainnya, tetapi beliau juga menjalankan shalat daim dalam sehari-harinya.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يذكر اللَّه على كل أحيانه. رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari `Aisyah radhiyallahu `anha, ia berkata : “Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam selalu berzikir kepada Allah Ta’ala dalam segala keadaan”. (HR. Muslim.)

Minggu, 15 April 2018

Antara Ruh Dan Jasad.


Pada suatu hari Abu Bashir berada di Masjid A-Haram. la terpesona mnenyaksikan ribuan orang yang bergerak mengelilingi Kabah, mendengarkan gemuruh tahlil, tasbih, dan takbir mereka. Ia membayangkan betapa beruntungnya orang-orang itu. Mereka tentu akan mendapat pahala dan ampunan Tuhan.
Imam Ja’far Al-Shadiq, tokoh spiritual yang terkenal dan salah seorang ulama besar dari keluarga Rasulullah saw, menyuruh Abu Bashir menutup matanya. Imam Ja’far mengusap wajahnya. Ketika ia membuka lagi matanya, ia terkejut. Di sekitar Ka’bah ia melihat banyak sekali binatang dalam berbagai jenisnya- mendengus, melolong, mengaum. Imam Ja’far berkata, “Betapa banyaknya lolongan atau teriakan; betapa sedikitnya yang haji.”
Apa yang disaksikan Abu Bashir pada kali yang pertama adalah tubuh-tubuh manusia. Apa yang dilihat kedua kalinya adalah bentuk-bentuk roh mereka. Kita adalah makhluk yang hidup di dua alam sekaligus. Tubuh kita hidup di alam fisik, terikat dalam ruang dan waktu. Para ulama menyebut alam fisik ini sebagai alam nasut, alam yang bisa kita lihat dan kita raba, Kita dapat menggunakan pancaindera kita untuk mencerapnya. Sementara itu, roh kita hidup di alam metafisik, tidak terikat dalam ruang dan waktu. Para ulama menyebut alam ini alam malakut. Menurut Al-Quran, bukan hanya manusia, tetapi segala sesuatu mempunyai malakut-nya. “Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya malakut segala sesuatu. Dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.’ (QS. Yasin 83); ‘Dan demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim, malakut langit dan bumi.” (QS. Al-An’arn 75)
Roh kita, karena berada di alam malakut, tidak dapat dilihat oleh mata lahir kita. Roh adalah bagian batiniah dari diri kita. Ia hanya dapat dilihat oleh mata batin. Ada sebagian di antara manusia yang dapat melihat roh dirinya atau orang lain. Mereka dapat menengok ke alam malakut. Kemampuan itu diperoleh karena mereka sudah melatih mata batinya dengan riyadhah kerohanian atau karena anugrah Allah (al-mawahib al-rabbaniyyah). Para Nabi, para walli, dan orang-orang saleh seringkali mendapat kesempatan melihat ke alam rnalakut itu.,

Makanan Roh


Roh -seperti tubuh-juga dapat berada dalam berbagai keadaan. Imam Ali kw berkata, ‘Sesungguhnya tubuh mengalami enam keadaan; sehat, sakit, mati, hidup, tidur, dan bangun. Demikian pula roh. Hidupnya adalah ilmunya, matinya adalah kebodohannya., sakitnya adalah keraguannya, dan sehatnya adalah keyakinannya, tidurnya adalah kelalaiannya, dan bangunnya ialah penjagaannya.’ (BiharAl-Anwar 61:40)
Seperti tubuh, roh pun memerlukan makanan. Mulla Shadra tidak menyebutnya makanan. Ia menyebutnya rezeki. Ia berkata, ‘Setiap yang hidup perlu rezeki, dan rezeki arwah adalah cahaya-cahaya ilahiah dan ilmu-ilmu rabbaniah.’ (Mafatih AI-Ghaib 545)
Untuk meningkatkan kualitas roh, supaya ia sehat dan kuat, kita perlu memberikan kepadanya cahaya-cahaya ilahiah dalam bentuk zikir, doa, dan ibadat-ibadat lainnya seperti salat, puasa, dan haji. Pada Bulan Ramadhan, kita berusaha menerangi roh kita dengan berbagai makanan rohani. Kita mandikan roh kita dengan proses pensucian batin, seperti istighfar, mengendalikan hawa nafsu, dan menjauhi kemaksiatan. Karena itu Nabi saw bersabda, ‘Bulan Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan atas kamu puasanya dan disunnahkan bagimu bangun malamnya. Barangsiapa yang berpuasa dan melakukan salat malamnya dengan iman dan ikhlas, Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu. (Dalam riwayat lain) la akan keluar dari dosa-dosanya seperti ketika ia keluar dari perut ibunya.’
Kita menghidupkan roh dengan ilmu-ilmu rabbaniah. Inilah yang kita maksud dengan dimensi intelektual dari keberagamaan kita. Ada ilmu-ilmu yang membantu kita untuk memelihara kesehatan tubuh kita seperti ilmu gizi, kedokteran, ekologi, dan sebagainya. Di samping itu, ada ilmu-ilmu yang menolong kita untuk menyehatkan roh kita: ilmu-ilmu tentang Al-Quran dan Sunnah (syariat), ilmu-ilmu tentang cara mendekatkan diri kita kepada Allah (thariqat), dan ilmu-ilmu berkenaan dengan pengalaman rohaniah (haqiqat).
Seperti tubuh, roh yang tidak diperhatikan dan dipelihara, roh yang kekurangan makanan akan menjadi roh yang lemah, sakit-sakitan, dan akan dikuasai setan. Roh yang sakit tampak dalam gejala-gejala seperti kegelisahan, keresahan, kebingungan, hidup yang tidak bermakna, hidup tanpa tujuan, kosongan eksistensial (existential vacuum). Pendeknya, roh yang sakit tampak dalam hidup yang tidak tentram. Al-Quran melukiskannya, ‘Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha 124); “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan diberikan kepadanya pet-unjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.’ (QS. Al-An’am 120).

Keindahan Roh


Seperti tubuh, arwah mempunyai rupa yang bermacam-macam: buruk atau indah; juga mempunyai bau yang berbeda: busuk atau harum. Rupa roh jauh lebih beragam dari rupa tubuh. Berkenaan dengan wajah lahiriah, kita dapat saja menyebut wajahnya mirip binatang, tapi pasti ia bukan binatang. Roh dapat betul-betul berupa binatang -babi atau kera. Tuhan berkata, ‘Katakanlah: apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk kedudukannya di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan penyembah Thagut? Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah 60)
Al-Ghazali menulis: ‘Al-Khuluq dan Al-Khalq kedua-duanya digunakan. Misalnya si Fulan mempunyai khuluq dan khalq yang indah -yakni indah lahir dan batin. Yang dimaksud dengan khalq adalah bentuk lahir, yang dimaksud dengan khuluq adalah bentuk batin. Karena manusia terdiri dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir dan roh yang mencerap dengan mata batin. Keduanya mempunyai rupa dan bentuk baik jelek maupun indah. Roh yang mencerap dengan mata batin memiliki kemampuan yang lebih besar dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir. Karena itulah Allah memuliakan roh dengan menisbahkan kepada diri-Nya. Ia bersabda, ‘Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, Aku menjadikan manusia dan’ tanah. Maka apabila telah kusempurna kan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya rohku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.’(QS. Shad 71-72). Allah menunjukkan bahwa jasad berasal dari tanah dan roh dari Tuhan semesta alam. (Ihya Ulum Al-Din, 3:58).
Khuluq -dalam bahasa Arab- berarti akhlak. Roh kita menjadi indah dengan akhlak yang baik dan menjadi buruk dengan akhlak yang buruk. Dalam teori akhlak dari Al-Ghazali, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, akan memiliki roh yang berbentuk babi; orang yang pendengki dan pendendam akan memiliki roh yang berbentuk binatang buas; orang yang selalu mencari dalih buat membenarkan kemaksiatannya akan mempunyai roh yang berbentuk setan (monster) dan seterusnya.
Ketika turun ke bumi, karena berasal dari Mahasuci, roh kita dalam keadaan suci. Ketika kita kembali kepadanya, roh kita datang dalam bentuk bermacam-macam. Ketika pohon pisang lahir ke dunia, ia lahir sebagai pohon pisang. Ketika mati, ia kembali sebagai pohon pisang lagi. Ketika manusia lahir, ia lahir sebagai manusia. Ketika mati, ia kembali kepada Tuhan dalam berbagai bentuk, tidak hanya dalam bentuk manusia saja. Ia dapat kembali dalam bentuk binatang, setan, atau cahaya.
Walhasil, untuk memperindah bentuk roh kita, kita harus melatihkan akhlak yang baik. Meningkatkan kualitas spiritual, berarti mernperindah akhlak kita. Kita menyimpulkan prinsip ini dalam doa ketika bercermin. “Allahumma kama ahsanta khalqi fa hassin khuluqi.’ (Ya Allah, sebagaimana Engkau indahkan tubuhku, indahkan juga akhlakku).

Roh dalam Maut


Kita kutipkan di sini hadits yang panjang;
“Kami sedang mengantarkan jenazah di Baqi. Kemudian datanglah Nabi dan duduk bersama kami di dekat jenazah. Kami tundukkan kepala kami seakan-akan burung hinggap di atasnya. Ia berkata: Aku berlindung dari siksa kubur, 3X. Sesungguhnya manusia mukmin ketika hendak memasuki akhirat dan meninggalkan dunia, turunlah malaikat kepadanya dengan wajah yang bersinar seperti cahaya matahari. Mereka duduk di dekat rnayit sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malakal maut dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: Hai roh yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaannya. Maka keluarlah roh itu mengalir seperti rnengalirnya tetesan air dari mulut cerek. Malaikat maut mengambilnya. Apabila ia sudah mengambilnya, ia tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai ia menyimpannya di dalam kafan. Dari roh itu keluarlah bau harum semerbak memenuhi permukaan bumi. Para malaikat naik membawa roh itu. Setiap kali mereka rnelewati kelompok malaikat yang lain, mereka ditanya, ‘Siapa roh yang baik ini?’ Mereka menyebut Fulan bin Fulan dengan nama-nama yang indah yang diperolehnya di dunia. Ketika sampai di langit dunia, dibukakanlah pintu baginya. Pada setiap langit, malaikat mengantarkannya sampai ke langit berikutnya dan seterusnya sampai ke Allah Ta’ala.
Allah berfirman: ‘Tuliskan kitab hamba-Ku di tempat yang tinggi. Kembalikan dia ke bumi karena aku menciptakannya dari bumi, mengembalikannya ke bumi, dan mengeluarkannya dari bumi sekali lagi. Lalu rohnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat datang dan duduk bersamanya seraya berkata: Siapa Tuhanmu? Ia berkata: Tuhanku Allah. Apa agamamu? Agamaku Islam. Siapa laki-laki yang diutus kepadamu? Rasulullah. Darimana kamu mengetahui hal ini? Aku membaca Kitabullah, beriman kepadanya, dan membenarkannya. Seorang penyeru berseru dari langit: Benar hambaku. Hamparkan baginya tikar dari surga. Bukakan baginya pintu dari surga. Lalu angin dan semerbak surga datang kepadanya. Kuburan dilegakan seluas pandangan mata. Seseorang yang berwajah cantik datang kepadanya dengan baju yang indah dan bau yang harum. Ia berkata: Bergembiralah dengan apa-apa yang akan membahagiakan kamu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu. Mayit bertanya: siapakah kamu? Wajahmu wajah yang membawa kebaikan. Ia berkata: Saya. amal shalehmu. Ia berkata: Tuhanku, tegakkanlah hari kiamat supaya aku kembali kepada keluargaku dan kekayaanku.
Bila seorang kafir meninggalkan dunia dan memasuki akhirat, dari langit turunlah mialaikat berwajah buruk dan membawa kain yang buruk. Mereka duduk di dekat mayit sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malakal maut dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: Hai roh yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.. Malaikat maut mencabut nyawanya seperti sisir besi mencabuti bulu yang basah. Mailakat maut mengambilnya. Apabila ia sudah mengarnbilnya, ia tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai ia menyimpannya di dalam kain buruk itu. Dari roh itu keluar bau yang lebih busuk dari bau bangkai dan memenuhi permukaan bumi. Para malaikat naik mernbawa roh itu. Setiap kali mereka melewati kelompok malaikat yang lain mereka ditanya. “Siapa roh yang buruk ini”? Mereka menjawab; Fulan bin Fulan dan menyebutnya dengan nama-nama yang buruk yang diperolehnya dari dunia. Ketika ia sampai ke langit dunia, ia minta dibukakan pintu langit, tetapi tidak dibukakan kepadanya. Kemudian. Rasulullah saw membaca ayat Al-Quran, “Sesingguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan kepada mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga, seperti tidak mungkinnya unta masuk ke lubang jarum. (QS. Al-A’raf 40)
Allah berfirman, ‘Tuliskan kitabnya di bumi yang paling rendah.’ Maka dilemparkanlah rohnya. Kemudian Nabi membaca ayat Al-Quran, ‘Dan barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. AI-Haj 31) Lalu rohnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat datang dan duduk bersamanya, seraya berkata: Siapa Tuhanmu? Ia berkata: Ah, aku tidak tahu. Seorang penyeru berteriak dari langit: Bohong hambaku. Hamparkan kepadanya tikar dari api neraka. Bukakan baginya pintu neraka. Panas dan keringnya neraka mendatanginya. Kuburannya disempitkan sampai pecah tulang-tulangnya. Seseorang yang berwajah buruk, berpakaian buruk, berbau busuk datang kepadanya dan berkata: Terimalah berita yang menyusahkan kamu. Inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu. Mayit bertanya, ‘Siapakah kamu? Wajahmu wajah yang membawa keburukan.’ Ia menjawab, ‘Aku amalmu yang buruk.’ Mayit itu berkata: Tuhanku jangan tegakkan hari kiamat. (Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, Al-Roh hal 44-45).