Laman

Sabtu, 05 Mei 2018

Menapak Dalam Ilmu Ma' Rifat

PESAN AL-GHAZALY DALAM KITAB (Minhajul Abidin)
Imam Al Ghazaly dalam bukunya yang berjudul Minhajul Abidin, mengatakan,
bahwa Ilmu yang fardlu ain yang wajib dituntut oleh seorang muslim
adalah mencakup 3 hal, yaitu :
Ilmu Tauhid
Ilmu Syariat
Ilmu Sir (Ilmu tentang hati)
Dan tidaklah ilmu-ilmu itu semua dituntut untuk tujuan berargumentasi
atau memberikan keyakinan kepada orang lain baik yang beragama Islam
maupun bukan.
Tetapi ilmu tersebut fardlu ain untuk dituntut, yang berhubungan dengan
untuk perubahan diri.
Ilmu Tauhid dan syariat, dikalangan ummat Islam sekarang ini demikian
popular untuk dipelajari. Namun jarang sekali orang yang mempelajari dan
mengerti mengenai Ilmu Sir (Ilmu tentang hati).
Lantas mungkin kita akan bertanya, untuk apakah belajar Ilmu tentang
hati, atau macam manakah ilmu tentang hati tsb?
Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Dalam diri manusia ada segumpal darah. Yang apabila shalih (tidak
rusak), maka akan shalih seluruhnya, tetapi apabila buruk maka akan
buruk pula seluruhnya, itulah hati”.
Bahkan di hadits lain, Rasulullah SAW mengatakan : ” /Sesungguhnya
sebuah amal itu bergantung dari niatnya/“.
Sungguh, hal-hal ibadah syariat yang kita laksanakan sepanjang hari akan
tidak mempunyai nilai, bila tidak disertai niat yang shalih…
Dan letak niat itu adalah di HATI.
Demikian besar fungsi hati, sehingga wajar saja bila Imam Al Ghazaly
mengkatagorikan Ilmu ini menjadi ilmu yang fardlu ain untuk dituntut.
Dikajian tasawuf, pembahasan tentang hati merupakan agenda utama. Hal
ini sesungguhnya untuk penyelarasan dari Ilmu Tauhid dan Syariat, yang
sebelumnya (oleh kebanyakan orang) telah dipelajari.
Dalam sebuah kata-kata hikmah (bagi sebagian ulama ini dikatakan sebagai
hadits dari Rasulullah SAW) bahwa : “/Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa
Rabbahu/“. “Barangsiapa mengenal dirinya (nafsahu) maka ia akan mengenal
Tuhannya”.
Sementara Ali. R.A mengatakan bahwa : “/Awwaluddina Ma’rifatullah/“.
“Awalnya beragama adalah mengenal Allah”.
Sehingga dapat dilihat hubungannya, bahwa Mengenal diri (An-Nafs)
merupakan awal dari seorang beragama dengan haq.
HATI
Diri manusia dapat dilihat secara indrawi dengan perilaku dan perangai
seseorang. Dan seorang berperilaku, seorang berperangai, merupakan
cerminan dari HATI-nya.
Sehingga untuk mengenal diri kita, kita harus memulainya dengan mengenal
Hati kita sendiri.
Hati itu terdapat 2 jenis :
1. Hati Jasmaniyah
Hati jenis ini bentuknya seperti buah shaunaubar. Hewan memilikinya,
bahkan orang yang telah matipun memilikinya.
2. Hati Ruhaniyyah
Hati jenis inilah yang merasa, mengerti, dan mengetahui. Disebut pula
hati latifah (yang halus) atau hati robbaniyyah.
Dalam kajian kita, yang dituju dengan kata HATI atau Qalb adalah hati
jenis 2, hati Ruhaniyyah.
Karena Hati inilah yang merupakan tempatnya Iman :
Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu
indah dalam hatimu (QS. 49:7)
karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu (QS. 49:14)
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam
hati mereka (QS. 58:22)
Bahkan lebih dari itu, dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan :
Tidak akan cukup untuk-Ku bumi dan langit-Ku tetapi yang cukup bagi-Ku
hanyalah hati (qalb) hamba-Ku yang mukmin”.
/Catatan : Apakah sebenarnya Iman (mukmin) itu ?/
Maka dengan hatilah, seseorang dapat merasakan iman. Dengan hatilah
seorang hamba dapat mengenal Rabb-nya.
Sebelum kita beranjak jauh tentang hati, ada beberapa hal yang nantinya
bersangkut paut dengan hati dan perlu kita jelaskan terlebih dahulu.
Kebanyakan orang hanya mengerti bahwa manusia itu hanya terdiri jasad
dan ruh. Mereka tidak mengerti bahwa sesungguhnya manusia terdiri dari
tiga unsur, yaitu : jasad, jiwa dan ruh.
Banyak orang yang tidak mengerti tentang Jiwa ini. Bahkan dalam bukunya
Al Ihya Ulumuddin Bab Ajaibul Qulub, Imam Al Ghazaly mengatakan, “bahkan
ulama -ulama yang masyhur sekarang ini (zaman Imam Al Ghazaly : red)
banyak yang tidak mengerti hal ini”. Itu pada zaman Imam Al Ghazaly.
Berapa ratus tahun yang lalu. Apatah lagi sekarang?
Kebanyakan orang rancu pengertiannya antara Jiwa dengan Ruh. Padahal
jelas-jelas dalam Al Qur’an, Allah membedakan penggunaan kata Ar-Ruh
(Ruh) dengan An-Nafs (Jiwa).
JASAD
Jasad adalah anggota tubuh dari manusia. Seperti : tangan, kaki, mata,
mulut, hidung, telinga, dan lain-lainnya. Bentuk dan keberadaannya dapat
diindera oleh manusia. Hewanpun dapat menginderanya.
Dari jasad inilah, timbulnya kecenderungan dan keinginan yang disebut
SYAHWAT. Seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an :
“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada syahwat, yaitu :
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik”. (QS Ali
Imran : 14)
JIWA (An Nafs)
An-Nafs dalam kebanyakan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, diartikan
dengan Jiwa atau diri. Padahal sesungguhnya An-Nafs ini menunjuk kepada
dua maksud, yaitu : hawa nafsu dan hakikat dari manusia itu sendiri
(diri manusia).
1. Hawa Nafsu
Nafsu yang mengarah kepada sifat-sifat tercela pada manusia. Yang akan
menyesatkan dan menjauh dari Allah. Inilah yang oleh Rasulullah SAW
dalam hadits yang diriwayatkan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas :
“Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu yang berada diantara kedua lambungmu”.
“Dan aku tidaklah membebaskan diriku (dari kesalahan), karena
sesungguhnya nafsu itu suka menyuruh kepada yang buruk”. (QS Yusuf : 53)
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu
dari jalan Allah (QS Shaad : 26)
2. Diri Manusia
Diri manusia ini apabila tenang, jauh dari goncangan disebabkan pengaruh
hawa nafsu dan syahwat, dinamakan Nafsu Muthmainnah.
“Hai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu,
merasa senang (kepada Tuhan) dan (Tuhan) merasa senang kepadanya”. (QS
Al Fajr : 27-28)
Namun diri manusia yang tidak sempurna ketenangannya, yang mencela
ketika teledor dari menyembah Tuhan, disebut Nafsu Lawwamah.
“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat mencela kejahatan (Nafsu
Lawwamah)”. (QS Al Qiyamah : 2)
RUH (Ar Ruh)
Perkataan Ruh, mempunyai dua arah. Sebagai nyawa dan sebagai suatu yang
halus dari manusia.
1. Nyawa
Pemberi nyawa bagi tubuh. Ibarat sebuah lampu yang menerangi ruangan.
Ruh adalah lampu, ruangan adalah tubuh. Mana yang terkena cahaya lampu
akan terlihat. Mana yang terkena ruh akan hidup.
2. Yang Halus dari Manusia
Sesuatu yang merasa, mengerti dan mengetahui. Hal ini yang berhubungan
dengan hati yang halus atau hati ruhaniyah.
Dalam Al Qur’an, Allah SWT menggunakan kata Ruh dengan kata Ruhul Amin,
Ruhul Awwal, dan Ruhul Qudus.
Adapun maksud-maksud dari kata tersebut merujuk kepada keterangan yang
berbeda-beda yaitu :
1. Ruhul Amin
Yang dimaksud dengan ini adalah malaikat Jibril.
“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan
semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin”. (QS Asy-Syu’araa’ :
192-193)
2. Ruhul Awwal
Yang dimaksud dengan ini adalah nyawa atau sukma manusia.
3. Ruhul Qudus
Yang dimaksudkan dengan ini bukanlah malaikat Jibril, tetapi ruh yang
datang dari Allah, yang menguatkan, menjadi petunjuk serta kabar gembira
bagi orang-orang yang beriman.
Katakanlah : “Ruhul Qudus menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan
benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, dan menjadi
petunjuk serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri
(kepada Allah)”. (QS An Nahl : 102)
dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran kepada Isa putra Maryam dan
Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus (QS Al Baqarah :87)
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam
hati mereka dan menguatkan mereka dengan ruh yang datang dari pada-Nya
(QS Al Mujadillah : 22)
Setelah kita mengetahui definisi-definisi atau penjelasan mengenai
jasad, jiwa, dan ruh mungkin kita akan bertanya, lalu apa manfaatnya?
TENTARA HATI
Hati itu bagi seorang manusia, bagaikan raja dengan tentara-tentara
berupa tentara zahir dan tentara bathin.
Ketika seorang berada dalam ancaman bahaya, maka orang tersebut untuk
menolak atau melawan bahaya, memerlukan dua tentara tsb.
Tentara batin : yaitu marah untuk melawan ancaman bahaya, tentara Zahir
: yaitu tangan dan kaki untuk mengeluarkan langkah-langkah perlawanan.
Demikian pula ketika seorang akan makan. Ia memerlukan dua tentara tsb.
Tentara batin : Syahwat untuk makan, tentara zahir : tangan dan kaki
untuk mengambil makanan.
Seorang sedang lapar bagaimanapun, bila hatinya mendiamkan syahwat
(keinginan jasad) untuk makan dan tidak memerintahkan tangan dan kaki
untuk mengambil makan, maka ia tidak akan melakukan pekerjaan makan.
Untuk itulah dikatakan HATI adalah Raja, bagi seluruh tubuh dan diri
manusia.
Sehingga perna penting Raja untuk mengarahkan kemana tubuh dan diri
berjalan, sangat menentukan sekali.
HATI DI TIGA PERSIMPANGAN
Sesungguhnya Hati yang merupakan Raja ini, berada pada 3 persimpangan.
seperti gambar dibawah ini
Hati berada dalam pengaruh Jasad (Syahwat), Hawa Nafsu, dan Nafsu
Muthmainnah.
Seorang manusia, yang membiarkan hatinya berada dalam dominasi Syahwat
dan Hawa Nafsunya, maka akan menjadi orang yang tersesat. Yang lambat
laun bisa tergelincir menjadi orang yang dimurkai Allah.
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah
telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah
Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran
(QS. 45:23)”
Hawa Nafsu itu melingkupi segala aspek. Tidak diperbolehkan kita
mengikuti hawa nafsu, dalam BERAGAMA sekalipun.
Banyak para aktivis dakwah, demikian bersemangatnya dalam berdakwah
kadang kala terlena, tidak menyadari kalau dalam mengatur strategi
dakwah, telah ditunggangi oleh Hawa Nafsunya.
Banyak pula para alim-ulama, yang demikian bangga terhadap ilmu yang
dipelajarinya, sehingga merasa pendapatnya adalah pendapat yang paling
benar, dan selainnya (selain golongannya) adalah pendapat yang salah.
Tidak disadari bahwa Hawa Nafsu telah merasuk dalam kemurnian beragamanya.
Dan kalaulah kita dapat keluar dari dominasi Hawa Nafsu dan Syahwat ini,
maka Allah menjanjikan :
Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka : “Bunuhlah dirimu
atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan
melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau
mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah
yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman
mereka). (QS. 4:66)
Apakah dalam ayat diatas, maksud bunuh diri adalah mengambil pisau lalu
menghujamkannya ke perut? Atau mengambil racun lalu meminumnya?
Bukan !
Inilah kesalahan yang dapat terjadi bila kita tidak mengetahui arti yang
sesungguhnya dari kata An-Nafs tersebut.
Dalam ayat ini dalam Arabnya dipergunkan kata Anfus (Jamak dari An-Nafs).
Bila Al Qur’an menggunakan An-Nafs dalam bentuk jamak, ini sesungguhnya
merefer kepada Jiwa-jiwa yang banyak. Yaitu Hawa Nafsu. Karena bentuk
Hawa Nafsu itu banyak. Seperti marah, sombong, ria, ujub, ingin
dihormati, dsb.
Namun bila An-Nafs ini dalam bentuk tunggal, maka sesungguhnya ia
merefer kepada Jiwa yang tunggal yaitu Nafsu Muthmainnah. Karena memang
Nafsu Muthmainnah ini tunggal. Dan ini merupakan Hakikat diri manusia.
Jadi, bunuhlah dirimu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud :
Keluar dari Dominasi Hawa Nafsu.
Keluar dari kampungmu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud :
keluar dari kampung si Jiwa, yaitu Jasad. Atau keluar dari dominasi Syahwat.
Sehingga, bila seorang dapat keluar dari dominasi Hawa Nafsu dan
Syahwatnya, sesungguhnya Allah akan menguatkan iman mereka.
Namun Sangat sedikit sekali yang mau melaksanakan ini.
Hawa Nafsu dan Syahwat ini bukan dibunuh dan dihilangkan. Tetapi
dikontrol oleh Nafsu Muthmainnah.
Ada saatnya hawa nafsu dan syahwat dikeluarkan, dan saat lain kembali
dikekang.
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan
diri dari keinginan hawa nafsunya. (QS. 79:40) maka sesungguhnya
surgalah tempat tinggal(nya). (QS. 79:41)”
Kesalahpahaman pengartian An-Nafs juga berimplikasi kepada penafsiran
yang kadang kala kurang tepat pada ayat-ayat seperti dibawah :
Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas
orang-orang yang duduk satu derajat (QS. 4:95)
Banyak orang sering langsung mengarah kepada ayat-ayat sejenis diatas,
berjihad dengan harta dan Jiwa (An-Nafs) adalah merupakan perang fisik.
Apakah memang demikian? Apakah Islam harus selalu perang sementara Islam
adalah sebuah agama yang damai?
Memang betul, dalam kondisi yang mewajibkan kita berperang ayat ini
merupakan perintah pula untuk berperang.
Namun dalam kondisi damai ada yang lebih berat dibandingkan dengan
perang fisik, yaitu berjihad melawan syahwat dan hawa nafsu.
Setelah melakukan perang dan akan memasuki bulan Ramadhan, Rasulullah
SAW bersabda kepada para sahabat :
“Kita kembali dari jihad kecil kepada perjuangan besar”. (Hadits riwayat
Al Baihaqy dan Jabir, dalam hadits ini ada sanad yang lemah).
Terlepas dari ke-dhoifan hadits diatas logikanya seperti ini : Seorang
manusia yang telah dapat melepaskan hatinya dari takut kehilangan harta,
keluarga, jabatan, dsb, hanya seorang yang telah mampu melawan syahwat
dan hawa nafsunya.
Kalaulah kita temukan orang yang seperti ini, niscaya dia tidak takut
lagi mati. Niscaya dia tidak akan pernah mengelak dari perintah untuk
berperang, bila kondisinya mewajibkannya untuk berperang.
Tetapi orang yang hatinya masih takut kehilangan harta, pekerjaan,
keluarga, jabatan, dsb. ia akan takut mati. Peperangan adalah sebuah hal
yang sangat berat baginya.
Artinya, dalam logika sederhana tersebut, akan tergambar, kalaupun
hadits tsb dhoif dari sanadnya, namun secara ilmiah hal itu dapat
dibenarkan dan secara mathan, tidak ada ayat Al Qur’an yang bertentangan
dengannya.
Dalam bahasan saya diatas, saya juga mencoba menunjukkan, bahwa tasawuf
yang bagi sebagian orang diidentikkan sebagai pola pendekatan Islam yang
mengabaikan perintah untuk berperang adalah kurang tepat.
Berperang adalah suatu kewajiban apabila kondisinya mewajibkan untuk
melakukannya. Namun bila masa damai bukan lantas mencari-cari supaya ada
perang! Tetapi melakukan jihad yang lebih berat, yaitu melawan Hawa
Nafsu dan Syahwat.
Dan Allah menjanjikan bagi mereka yang mampu melawan Hawa Nafsu dan
Syahwatnya ini dengan menguatkan iman dan surga sebagai tempat tinggalnya.
Semoga kita termasuk kedalam golongan orang yang dikuatkan Allah untuk
melawan dominasi syahwat dan hawa nafsu yang ada dalam diri kita.
NAFSU MUTHMAINNAH
Seorang yang hatinya telah didominasi oleh Nafsu Muthmainnah, bukan lagi
oleh syahwat atau hawa nafsu, maka Nafsu Muthmainnah menjadi Imam bagi
seluruh tubuh dan dirinya.
Dan seperti dikatakan dalam penjelasan sebelumnya, sesungguhnya Nafsu
Muthmainnah inilah yang disebut Jati Diri manusia itu. Hakikat dari
manusia itu.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa (An-Nafs)
mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu”. Mereka
menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. 7:172)
Siapakah yang berjanji dalam ayat diatas ? Apakah kita pernah merasa
berjanji?
Yang berjanji seperti disebutkan di ayat diatas, bukanlah ruh. Tetapi
Jiwa yang tunggal, Nafsu Muthmainnah.
Namun kemana Nafsu Muthmainnah kita sekarang?
Sejak kita dilahirkan ke bumi, berapa puluh tahun yang lalu, sudah
berapa banyak kita membiarkan hati kita di dominasi Syahwat dan Hawa Nafsu?
Pada dasarnya, Jiwa (Nafsu Muthmainnah) kita ini seperti juga jasad.
Jasad membutuhkan makan, demikian pula dengan Jiwa.
Jasad membutuhkan makanan berupa : karbohidrat, vitamin, mineral,
protein, dsb. Jiwa juga membutuhkan makanan, seperti : shalat, dzikir,
puasa, dsb.
Dalam sehari orang pada umumnya jasadnya membutuhkan makan 3 kali,
dengan kadar karbohidrat, vitamin, mineral, protein tertentu. Apabila
ini tidak terpenuhi maka akan sakit, bahkan mati.
Demikian pula jiwa.
Dalam sehari Allah telah menetukan makanan minimalnya :
————————————————————————————
MAKANAN JUMLAH KADAR (misal)
————————————————————————————
Subuh 2 Rakaat 200
Dzuhur 4 Rakaat 400
Ashar 4 Rakaat 400
Maghrib 3 Rakaat 300
Isya 4 Rakaat 400
————————————————————————————
Total 17 Rakaat 1700
————————————————————————————
Dalam sehari Allah mempersyaratkan minimal 1700 nilai (misal untuk
memudahkan deskripsi) bagi jiwa kita.
Namun ketika subuh kita sholat sambil mengantuk, mungkin nilainya hanya 50.
Dzuhur selagi masih banyak perkerjaan, nilainya mungkin 20. Ashar Sudah
hampir pulang bekerja, nilainya mungkin 40. Maghrib sudah sampai rumah
tapi masih capek, mungkin nilainya 60. Isya bisa konsentrasi dengan baik
mungkin nilainya 400.
Namun dalm sehari itu total yang dikonsumsikan oleh Jiwa hanya 570. Jauh
dari nilai minimal 1700. Dan selama puluhan tahun hidup tahun ini,
sepanjang hari kita kurang dalam memberikan konsumsi pada Jiwa.
Apa yang terjadi? Jiwa kita sakit. Nafsu muthmainnah sakit. Mungkin
sekarang ia lumpuh, buta, tuli, dan bisu, atau mungkin mati !
Itulah yang dikatakan Allah
Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan
yang benar), (QS. 2:18)
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai
hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang
dengan itu mereka dapat mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu
yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS. 22:46)
Hati adalah tempat dari Nafsu Muthmainnah. Ketika Nafsu Muthmainnah yang
dominan terhadap hati, maka hati itu adalah si Nafsu Muthmainnah.
Kita tidak menyadari, bahwa dengan perjalanan hidup kita selama sekian
puluh tahun, dengan memberikan konsumsi makanan yang kurang terhadap
Jiwa kita dan membiarkan terdominasi oleh Hawa Nafsu dan Syahwat, Jiwa
(hati) kita menjadi lumpuh, buta, tuli, bisu, bahkan mungkin mati.
Jiwa (hati) kita menjadi sakit. Sehingga lupa terhadap perjanjian yang
pernah diucapkan pada Allah seperti dalam QS 7:172.
JIWA YANG SEHAT
Ada orang-orang yang berhasil dalam pelaksanaan agamanya, menghidupkan
dan menyehatkan kembali Jiwa (Nafsul Muthmainnah) nya.
Sehingga hatinya di dominasi oleh Nafsul Muthmainnahnya. Jiwa yang
sekarang ini abstrak/ghaib (tidak terindera) oleh kita, apabila telah
hidup, telah sehat, maka matanya akan melihat, telinganya akan
mendengar, mulutnya dapat berkata-kata.
Jiwa apa bila melihat maka ia akan melihat sesuai dengan dimensi
keghaibannya. Inilah yang dalam terminologi tasawuf dikatakan Mukasyafah.
Jadi bukanlah suatu hal yang aneh dikalangan para pejalan tasawuf yang
lurus, dapat melihat jin, malaikat, jiwa-jiwa manusia yang telah mati,
dan lain sebagainya yang menurut pandangan kita adalah sesuatu yang ghaib.
Karena sesungguhnya bukan mata inderawi (jasad) lah yang melihat tetapi
mata si Jiwa yang ada didalam dada.
Dan sehatnya Jiwa Muthmainnah inilah, salah satu paramater seorang telah
beriman dengan benar.

Puasa wajib dan sunnah

Puasa Wajib dan Sunah Beserta Dengan Penjelasannya
puasa wajib dan sunnah
Puasa wajib dan sunah | Ada beberapa macam puasa dalam agama islam , tetapi pasti diantara kita masih bingung perbedaan puasa wajib dan puasa sunah?selama ini kita cuma tahu puasa pasti di bulan ramadhan. Sebenarnya apakah ada puasa selain di bulan ramadhan ?
Pengertian puasa
Puasa dalam bahasa arab yaitu ash syiam yang artinya menahan .
Sedangkan menurut istilah menahan hawa nafsu atau menahan diri dari semua hal yang dapat membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan syarat – syarat tertentu . Puasa merupakan rukun islam yang ke 3.
Dalil naqli tentang perintah puasa terkandung di dalam Qs. Al- Baqoroh ayat 183 :
macam - macam puasa
Lafadz ( Yaayyuhalladzi na amanu kutiba ‘alaikumussyiamu kama kutiba ‘alalladzina minqoblikum la’allakum tattaqun )
Artinya
macam - macam puasa
Macam – macam puasa menurut hukumnya
Hukum puasa di bagi menjadi 2 , yaitu wajib dan sunnah
1.Macam – macam puasa wajib
yang termasuk di dalam puasa wajib yaitu :
adversitemens
a. puasa ramadhan
Puasa ramadhan yaitu puasa yang di laksanakan pada bulan ramadhan yang hukumnya wajib bagi seluruh umat muslim yang sudah memenuhui syarat wajib puasa .
b. Puasa Nadzar
Puasa wajib yang selanjutnya adalah puasa nadzar yaitu puasa yang di wajibkan sendiri oleh seseorang dengan janjinya.
c. Puasa qodlo
Puasa qodlo merupakan puasa yang dilakukan di luar bulan ramadhan untuk mengganti puasa ramadhan yang ditinggalkan karena suatu hal .
d. Puasa kafarah
Puasa kafarah juga merupakan puasa wajib. puasa kafarah yaitu puasa yang dilakukan untuk membayar atau mengganti sesuatu yang dilanggar .
2. Macam – macam puasa sunnat
Ada beberapa puasa yang hukumnya sunnat,diantaranya adalah :
a. Puasa senin dan kamis
Puasa senin dan kamis yaitu puasa yang di lakukan oleng seseorang pada hari senin dan kamis ,yang merupakan sunnah rosul.
Hadist tentang puasa senin dan kamis ,yang di riwayatkan oleh Tarmizi :”dari Aisyah r.a. bahwasannya Nabi muhammad saw memiliki waktu puasa hari senin dan kamis ” ( HR.Tarmizi )
b. Puasa syawal
Puasa syawal juga merupakan puasa sunnat, puasa sawal yaitu puasa yang dikerjakan selama 6 hari di bulan syawal. Hadist tentang puasa syawal :
“Rosululloh bersabda : Barang siapa yang berpuasa pada bulan ramadhan dan kemudian ia berpuasa 6 hari pada bulan syawal adalah seperti puasa satu tahun .”(HR.Muslim)
c. Puasa Arofah
Puasa Arofah yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 dzulhijjah ,sehari sebelum hari raya idul adha,dan dilakukan hanya oleh orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji
Syarat wajib dan sah serta rukun berpuasa
1.syarat wajib berpuasa
syarat wajib yaitu syarat yang harus ada pada diri seseorang yang akan berpuasa , jika sudah memenuhi syarat wajib puasa maka seseorang harus melaksanakan puasa.
yang termasuk kedalam syarat wajib berpuasa :
Beragama islam
Baligh atau dewasa
Memiliki akal sehat
Suci dari haid dan nifas
mumayyis / dapat membedakan baik dan buruk
Tidak dalam keadaan menjadi musafir (melakukan perjalanan jauh )
sanggup berpuasa
2.syarat sah berpuasa
syarat syah puasa yaitu syarat yang mempengaruhi sah atau tidaknya puasa yang di lakukan .
syarat sah puasa diantaranya :
islam sepanjang hari
suci dari haid dan nifas
Berpuasa pada waktu yang telah di tentukan ( bukan pada hari – hari yang di larang untuk berpuasa )
3.Rukun berpuasa
Rukun puasa yaitu sesuatu yang wajib di lakukan saat berpuasa .
yang termasuk dalam rukun puasa adalah :
Niat
Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa .
Hal – hal yang dapat membatalkan puasa
Niat untuk berbuka puasa sebelum waktunya
Makan , minum , dan melakukan hubungan badan dengan sengaja
Onani ( mengeluarkan mani denagn sengaja )
Muntah dengan sengaja )
Orang – Orang yang di perbolehkan untuk tidak berpuasa
Orang yang melakukan perjalanan jauh kurang lebih 84 km. Akan tetapi orang ini harus dan wajib membayar puasa di waktu lain atau mengqodo puasa yang ditinngalkan .
Orang yang sakit . Orang ini wajib mengganti di waktu lain sejumlah hari yang di tinggalkan .
Orang tua renta . Orang ini tidak wajib mengganti puasa dengan puasa di waktu lain akan tetapi harus membayar fidyah yaitu memberi fakir miskin makan sebanyak satu mud.
Ibu hamil / menyusui. Orang ini boleh tidak berpuasa , tetapi harus membayar fidyah atau mengganti dengan puasa diwaktu lain .
Demikian penjelasan mengenai puasa wajib dan puasa sunah. Semoga bermanfaat dan kita senantiasa selalu dapat mengerjakan segala perintah alloh yang merupakan kewajiban bagi kita dan juga mengerjakan sunnah – sunah rosul, yang akan menjadikan tambahan pahala buat kita . Semoga Alloh selalu melindungi kita . AMIN

*ADA 3 MATA YG TIDAK DIJILAT API NERAKA..*

*1. Setitik air mata ibu jatuh, kerana angkara anaknya, 10 kebajikan anaknya hilang, ibu-ibu jangan jatuh air mata dan anak jangan bagi ibu jatuh air matanya, biarlah Ibu menangis kerana anak berjaya dan bukan sedih kerana angkara anak.*
*2. Kalau balik tengah malam, buka lampu tengok dan tatap muka Ibu/bapa/anak, sebab wajah org tidur akan menampakkan segalanya.*
*ADA 3 MATA YG TIDAK DIJILAT API NERAKA..*
*» Melihat kaabah sehingga menitis air mata.*
*» Membaca Al-Qur’an sehingga menitis air mata.*
*» Memandang wajah Ibu yg sedang tidur/sedar hingga berlinangan air mata.*
*3. Org yg kita kena tengok dan selalu pandang dlm hidup, tengok masa tidur.*
*Ibu..*
*Suami/Isteri..*
*Anak anak..*
*1. Adalah menjadi satu dosa jika kita mengguna jari telunjuk utk menunjukkn sesuatu pada Ibu/bapa.*
*2. Barang siapa yg tidak mendoakn ibu/bapa selepas sembahyang buat ibu/bapa yg sudah meninggal maka dikira dia anak derhaka walaupun pada waktu ibu/bapanya hidup dia tak pernah menderhaka. Maksudnya jika ibu/bapa masih hidup atau telah tiada, selepas setiap solat kita mesti mendoakannya.*
*3. Doa org yg masih hidup makbul utk org yg hidup dn mati, jadi doaknlah Ibu/bapa kita yg telah tiada.*
*4. Ketika melalui kubur, prlahankn kenderaan (jika sdg menaiki kndraan) dn beri salam, mrka akan doakn kita “brkatilah si pulan ini” dn jika tak bagi salam, mrka akan kata “celakahlah org ini” jadi, jgan lupa bagi salam.*
*5. Tanda-tanda siksa Allah atas muka bumi ini antara lain simpan harta sampai mati tak pernah keluarkan zakat.*
*6. Sesiapa yang bersedekah selalu, takkan miskin org itu selamanya.*
*7. Jika ibu/ayah kita sudah meninggal dn semasa hayatnya kita ada peruntukkan wang utk dia, bila ibu/ayah kita dah takde teruskn memberi peruntukkn tu sebagai sedekah.*
*“Ya Allah, aku sedekahkan bagi pihak ibu/bapaku, semoga pahala sedekah ni sampai kpda ibu/bapaku”.*
*Itu yang buat ibu/bapa kita bahagia di sana.*
*8. Kalau kita susah nak brsedekah, bayangkn wajah Ibu/bapa kita baru kita ringan tangan nak ber-sedekah.*
*9. Allah panjangkn usia Ibu/bapa supaya mrka sakit dn nyanyuk utk beri syurga pda anak2nya, jagalah mrka dgan baik Insyallah, syurga balasanya, jadi klu tahu ibu/bapa sakit, berebut-lah menjaga ibu/bapa kita, besar sgat pahalanya.*
*10. Allah klu boleh tak nak kita masuk neraka jadi Allah takkn matikn seseorang dlm keadaan kotor dn brdosa jadi dia bagi kita sakit/malu/miskin utk mmbersihkn kita sebelum dia mengambil kita.*
*Oleh krna sahabat2 dlm group ni sya sayangi...*
*Dgan niat yg baik ikhlas kerna Allah same2 berdoa*
*"Yaa Allah, Ya Rahman, Ya Rahim.... Org Yg M'baca Ini Adalah Org Yg Baik & Setia, Kuat & Sabar‥*
*Sayangilah Mrka Serta Kasihilah Mrka‥*
*Tolong Bantu Tingkatkn Kehidupan Mrka‥*
*Permudahkn Rezeki Mrka..*
*Sihatkn Tubuh Badan Mrka..*
*Permudahknlah Langkah Mrka‥*
*Berikn Kebahagiaan Pda Mrka..*
*Ampunkn Dosa Dosa Mrka..*
*Aaminn…*
*Kirimkn pada ahli keluarga mu semoga mereka juga akan Mendoaknmu…*
*Wassalam...*

TITIAN HIDUP


Malam semakin suram bersama denyutan nafas
Penghuni dunia sedang tidur lena
Merasa aman dan selesa didakap mimpi
Kedinginan udara pagi begitu menusuk kalbu

Terleka sungguh penghuni dunia dibuai mimpi
Seolah-olah masa maseh lagi panjang
Lembutnya tilam diranjang bersulam
Membawa siapa pun yang tidur pasti terlena
Entah bila mereka akan tersedar dari anganan
Khabar telah sampai menyusun jari jemari
Namun dipandang sepi tiada peduli
Bangkitlah bertahajud bersama mencari redha
Wahai penghuni malam yang lena tidur
Adakah kamu sedar atau sengaja berkhayal
Masa untuk mengatur langkah perjalanan
Amat terlalu singkat dan waktunya amat terhad
Panggilan agung telah berkumandang
Memecah benteng wujud mu agar kamu tahu
Kita adalah seorang musafir yang hanya...
Menumpang lalu untuk sementara cuma
Laluilah titian yang tersedia untuk dirimu
Tajamnya ibarat rambut dibelah tujuh
Perhatikanlah dengan mata hati mu itu
Agar setiap langkahan mu tiada tersasar
Ingatlah kepada pesanan guru mu dahulu
Segala yang kamu lalui itu hanyalah mimpi
Keluarlah dari mimpi mu kepada dunia nyata
Kembalilah kepada Allah Yang Esa....!

Agar ibadah diterima di sisi Allah, haruslah terpenuhi dua syarat, yaitu:
*1). Ikhlas karena Allah.*
*2). Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’).*
Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, maka amalan ibadah menjadi tertolak.
Berikut kami sampaikan bukti-buktinya dari Al Qur’an, As Sunnah, dan Perkataan Sahabat.

*Dalil Al Qur’an*
Dalil dari dua syarat di atas disebutkan sekaligus dalam firman Allah Ta’ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
_“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.”_
(QS. Al Kahfi: 110)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,
_“Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”,_ maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan _“Janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”,_ maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205, Muassasah Qurthubah.)
Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Allah,
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
_“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”_
(QS. Al Mulk: 2)
Beliau mengatakan, _“Yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”_
Lalu Al Fudhail berkata, _“Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”_
(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab Al Hambali, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H.)
*Dalil dari Al Hadits*
Dua syarat diterimanya amalan ditunjukkan dalam dua hadits. Hadits pertama dari ‘Umar bin Al Khottob, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
_“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita)”._
(HR. Bukhari no. 6689 dan Muslim no. 1907.)
Hadits kedua dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
_“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”_
(HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718.)
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
_“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”_
(HR. Muslim no. 1718.)
Dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, _“Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir). Sebagaimana hadits ‘innamal a’malu bin niyat’ [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.”_
(Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 77.)
Di kitab yang sama, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,
“Suatu amalan tidak akan sempurna (tidak akan diterima) kecuali terpenuhi dua hal:
Amalan tersebut secara lahiriyah (zhohir) mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini terdapat dalam hadits ‘Aisyah ‘Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.’ Amalan tersebut secara batininiyah diniatkan ikhlas mengharapkan wajah Allah. Hal ini terdapat dalam hadits ‘Umar ‘Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat’.”
(Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 20.)
*Perkataan Sahabat*
Para sahabat pun memiliki pemahaman bahwa ibadah semata-mata bukan hanya dengan niat ikhlas, namun juga harus ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai dalilnya, kami akan bawakan dua atsar dari sahabat.
*Pertama:*
- Perkataan ‘Abdullah bin ‘Umar.
Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
_“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”_
(Diriwayatkan oleh Ibnu Battoh dalam Al Ibanah ‘an Ushulid Diyanah, 2/212/2 dan Al Lalika’i dalam As Sunnah (1/21/1) secara mauquf (sampai pada sahabat) dengan sanad yang shahih. Lihat Ahkamul Janaiz wa Bida’uha, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 285, Maktabah Al Ma’arif, cetakan pertama, tahun 1412 H.)
*Kedua:*
- Kisah ‘Abdullah bin Mas’ud.
Terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,
فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.
_“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?”_
قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
Mereka menjawab,
_”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”_
Ibnu Mas’ud berkata, _“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.”_
(HR. Ad Darimi no. 204 (1/79). Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayyid. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah (5/11) mengatakan bahwa hadits ini shahih.)
Lihatlah kedua sahabat ini (yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud) meyakini bahwa niat baik semata-mata tidak cukup. Namun ibadah bisa diterima di sisi Allah juga harus mencocoki teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa ibadah baik itu shalat, puasa, dan dzikir semuanya haruslah memenuhi dua syarat diterimanya ibadah yaitu ikhlas dan mencocoki petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sehingga tidaklah tepat perkataan sebagian orang ketika dikritik mengenai ibadah atau amalan yang ia lakukan, lantas ia mengatakan, “Menurut saya, segala sesuatu itu kembali pada niatnya masing-masing”.
Ingatlah, tidak cukup seseorang melakukan ibadah dengan dasar karena niat baik, tetapi dia juga harus melakukan ibadah dengan mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kaedah yang benar _“Niat baik semata belum cukup.”_
*Sebab-sebab Munculnya Amalan Tanpa Tuntunan*
*Pertama:*
Tidak memahami dalil dengan benar.
*Kedua:*
Tidak mengetahui tujuan syari’at.
*Ketiga:*
Menganggap suatu amalan baik dengan akal semata.
*Keempat:*
Mengikuti hawa nafsu semata ketika beramal.
*Kelima:*
Berbicara tentang agama tanpa ilmu dan dalil.
*Keenam:*
Tidak mengetahui manakah hadits shahih dan dho’if (lemah), mana yang bisa diterima dan tidak.
*Ketujuh:*
Mengikuti ayat-ayat dan hadits yang masih samar.
*Kedelapan:*
Memutuskan hukum dari suatu amalan dengan cara yang keliru, tanpa petunjuk dari syari’at.
*Kesembilan:*
Bersikap ghuluw (ekstrim) terhadap person tertentu. Jadi apapun yang dikatakan panutannya (selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), ia pun ikuti walaupun itu keliru dan menyelisih dalil.
(Disarikan dari Al Bida’ Al Hauliyah, ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz bin Ahmad At Tuwaijiri, hal. 37-68, Darul Fadhilah, cetakan pertama, 1421 H.)
Inilah di antara sebab munculnya berbagai macam amalan tanpa tuntunan (bid’ah) di sekitar kita.
_Wallahhu A'lam_

Jumat, 04 Mei 2018

INILAH SALAH SATU TIPU DAYA IBLIS

Bismillahirrahmanirrahim
Ikhwani fillah wa akhawati rahimani wa rahimakumullah

Di antara tipu daya iblis kepada manusia adalah MENJAUHI MANUSIA DARI AHLI ILMU DAN MENDEKATKAN MANUSIA KEPADA AHLI PIDATO.
Buka mata ...
Buka telinga ...
Pandanglah sekeliling kita.
Apa benar atau tak kenyataan saya?
Lihat apa yang berlaku di depan mata kita sendiri ...
Renungi diri kita.
Perhatikan lah ...
Dunia sekarang banyak di majlis ilmu disertai dengan celoteh dan gurauan yang menggelitik dan mengundang gelak tawa dari para hadirin.
Tak sedikit di antara orang awam yang merasa jenuh bahkan mengkritik ustaz yang membawakan dalil Al Quran dan sunnah serta perkataan para ulama'...
Mereka lebih berminat kepada penceramah yang membawa bicara ilmu dengan menceritakan pengalaman peribadi yang disertai dengan gurauan dan akhirnya majlis ilmu menjadi medan ketawa.
Ada juga penceramah yang dengan lantang membicarakan keburukan orang lain serta menjadikan itu sebagai bahan lawak.
Adakah majlis ilmu sebegitu ??
Adakah benar penyampai itu seorang pendakwah AL HAQ ??
Apa yang dia sampaikan itu??
Ilmu yang baik atau ghibah ??
Dah terang dan jelas pun …
Mengaibkan orang itu dosa.
Mengumpat orang itu dosa.
Mempersendakan orang itu dosa.
Menghina majlis ilmu juga dosa.
Namun manusia sekarang lebih terpesona dengan cara penceramah sebegitu. Seronok dengar kisah orang daripada ilmu Allah.
Jelas ini lah tipu daya syaitan.
Wallahul Musta'an.
Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu berkata kepada sahabatnya ~:
★Sesungguhnya kalian berada di sebuah zaman yang banyak ditemui ulamanya sedikit ahli pidatonya dan akan datang sebuah zaman di mana sedikit ulama nya tapi banyak ahli pidatonya. ★
Memang benar apa yang dituturkan oleh beliau. Memang itulah yang sedang berlaku sekarang.
Hakikatnya ...
Kita sekarang berada di zaman yang mana orang bodoh diikuti dan orang berilmu dijauhi.
Inilah realiti duniawi !!
Astaghfirullah
Astaghfirullah
Astaghfirullah al aziim.
Moga kita semua selamat.
Aamiin
Jazakumullah khairan wa barakallahu fiikum.
※※※
Duhai diri ...
Jangan cintakan duniawi ...
Lihat lah berapa ramai
pencintanya di timpa azab
Jangan rindukan duniawi ...
Lihat lah berapa ramai perindunya di timpa bencana ...
Duniawi ...
Indahnya terselit keburukan ...
Manisnya bercampur kepahitan ...
Lapang nya disertai kepayahan ...
Kesenangan nya diiringi kesengsaraan ...
Bahagia nya bersama kedukaan ...
Duhai diri ...
Jangan memakai pakaian keegoan ...
Jangan mengenakan pakaian ketamakan ...
Jangan bergaya dengan pakaian kesombongan
Ingat lah ...
Diri tercipta dari tanah ...
Diri hanya seorang hamba ...
Yang bertuankan hanya DIA.
Duhai diri ...
Lihat lah berapa ramai hari ini ...
Mereka berselindung di sebalik pakaian ...
Mereka bertopeng kan ilmu ...
Namun punyai hati yang busuk ...
Hati yang penuh dengan riak ...
Hati yang penuh dengan hasad ...
Hati yang penuh dengan sifat tercela ...
Sungguh sikit para hamba yang menghadap DIA sebagai seorang ...
Hamba yang mengenali diri ...
Hamba yang bersyukur ...
Hamba yang bersabar ...
Hamba yang redha ...
Hamba yang benar mencintai DIA.
Duhai diri ...
Kembalilah pada AL HAQ
ikuti lah AL QURAN dan AS SUNNAH.
※※※
Lazimkan lah diri dengan perkara yang baik ...
Agar kita dapat meraih khusnul khotimah
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadualla ilahailla anta astagfiruka wa’atubu ilaik
Alhamdulillah
Aamiin
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam semesta alam.

Rabu, 02 Mei 2018

*IBADAH HAJI SEBELUM TIDUR*


Jika kamu merasa bersyukur 👏 atas segala Rahmat Allah,
jangan sungkan
Tunaikanlah ibadah haji sebelum tidur....
Ini sangat menarik, tolong luangkan 2 menit saja untuk membacanya.
suatu hari Rasulullah SAW pernah
bersabda kepada Ali ( R.A. ) :
Wahai Ali, lakukanlah 5 hal ini sebelum tidur...
◆ 1. Berikan sedekah 4000 Dinar, kemudian tidurlah.
◆2. Khatamkan Quran, lalu tidur.
◆3. Belilah surga, lalu tidurlah.
◆4. Perbaikilah hubungan dua orang yang tengah berselisih,
kemudian tidurlah.
◆5. Tunaikanlah satu kali haji,
lalu tidurlah.
Ali ( R.A. ) pun menjawab,
Ya Rasulallah !
Mana mungkin aku bisa melakukannya ?
Lalu nabi ( SAW ) menjawab :
◆4 kali membaca Al Fatihah adalah sama dengan sedekah 4,000 Dinar.
◆3 kali membaca surah Al Ikhlas sama nilainya dengan menhatamkan satu Al-Qur'an.
◆3 kali membaca Shalawat ( minimal membaca Sallalaho Alaihi Wa Salam ) adalah harga surga.
◆10 kali bacaan istighfar sama nilainya dengan menyambungkan silaturrahim dua orang yg berselisih.
◆4 kali membaca Subhanallah,
Alhamdulillah, Laa ilaaha ilallah, Allahu Akbar sama dengan menunaikan satu kali Haji.
★Lalu Ali (R.A.) pun berkata, Ya Rasulallah ( SAW )!
Kini aku akan menjalankan semua
nasehatmu ini sebelum tidur !
★Hanya butuh kurang dari lima menit untuk menjalankannya,
namun lihatlah semua kebaikan amalan tersebut!
Siapa tak ingin memperoleh semua kebajikan itu dalam buku catatan amal baiknya?
★untuk mengingatkan seseorang akan amalan ini, cara termudah adalah dengan menuliskan kesemua dzikir tersebut pada sehelai kertas, untuk dibaca sebelum tidur, dan tempelkan di dekat tempat tidur Anda, untuk dibaca 😊....
Dan tentu saja, dengan niat mengingat Allah ....
🌻Indahnya jika Anda mau berbagi tulisan ini ke sebanyak Muslim yang Anda kenal, karena jika atas usaha Anda seseorang menjalankan amalan2 ini, maka Anda pun akan menerima pahala dan kebaikannya ...
In sya ALLAH.
Aamiin...YaRobbal 'Aalamiin...
🌻Suratul Faatihah melindungi seseorang dari kemurkaan Allah
🌻 Surah Yasiin melindungi seseorang dari kehausan pada hari pengadilan.
🌻Suratul Waaqi'ah melindungi seseorang dari kefakiran dan kelaparan.
🌻Surah Al-Mulk melindungi manusia dari azab kubur.
🌻Surat Al-Kautsar melindungi seseorang dari kejahatan musuh.
🌻Surat Al-Kaafiruun melindungi dari kekafiran saat ajal menjemput.
🌻Surat Al-Ikhlaas melindungi seseorang dari kemunafikan.
🌻Surat Al-Falaq melindungi seseorang dari marabahaya.
🌻Surat An-Naas melindungi seseorang dari pikiran jahat.
🍁Seandainya seseorang mengindahkan amalan2 dalam pesan yang Anda kirimkan
ini dan mengamalkannya,
andapun akan meraih kebaikan karena telah menyampaikannya... 🍃
🌻Saran
Jangan tunggu nanti.
Kirimkan sekarang !
Semoga Allah melimpahkan kesuksesan untuk setiap orang yang telah mengamalkan dan menyampaikan pesan ini.
"Aamiin Yaa Robbal Aalamiin "