Laman

Sabtu, 05 Mei 2018

Nasib Manusia Telah Ditetapkan


( الحـديث الرابـع )
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
[رواه البخاري ومسلم]
Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.
(Riwayat Bukhori dan Muslim).
Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah kebahagiaan dan kecelakaan.
Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk surga atau neraka, akan tetapi amal perbutan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.
Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).
Disunnahkan bersumpah untuk mendatangkan kemantapan sebuah perkara dalam jiwa.
Tenang dalam masalah rizki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hatinya karenanya.
Kehidupan ada di tangan Allah. Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya.
Sebagian ulama dan orang bijak berkata bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.

RAHASIA HURUF HIJAIYAH


مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً
يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي
التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ
يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم
مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah
dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya
maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan
tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-
penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
(dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-
orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka
ampunan dan pahala yang besar.” (QS. AL-FATH ayat 29)
Ada dua puluh sembilan huruf Hijaiyah. Awalnya adalah alif, kemudian ba,
kemudian ta, dan akhirnya adalah ya. Huruf kedua, Ba, merangkum semua
pengetahuan tentang wujud semesta. Ba adalah Bahr, Samudera. Setiap
wujud sejatinya meng-ada di dalam “samudera” abadi ini. Renungkanlah
perlahan sekali…
Ba-Bahr Al Qudrah-Samudera Kehendak
Tubuh kita dan segala benda-benda, air yang kita teguk dan udara yang
kita hirup, segala yang kita lihat sentuh dan rasakan, padat cair dan
gas, semuanya terbangun dari atom-atom. Kita semua sudah tahu itu. Meski
atom bukanlah elemen terkecil dari benda-benda, sebagaimana telah
ditunjukkan oleh para ahli fisika kuantum, mari kita batasi perjalanan
kita hanya sampai di atom ini. Inti atom (nucleus) merupakan pusat atom.
Seberapa besar inti atom ini? Jika kita perbesar ukuran sebiji atom
menjadi sebesar bola berdiameter 200 meter, maka besarnya inti atom
adalah sebesar sebutir debu di pusatnya.
Hebatnya, sebutir debu ini membawa 99,95% massa atom seluruhnya yang
dipadatkan oleh strong nuclear force ke dalam partikel proton. Sementara
elektron-elektron sangatlah ringan dan bergerak mengelilingi proton pada
jarak yang jauh sekali. Seberapa jauh? Jika kita perbesar ukuran
elektron menjadi sebesar biji kelereng, maka jarak antara elektron ini
ke inti atom adalah sejauh satu kilometer! Ada apa di antara elektron
dengan proton? Tidak ada apa-apa. Hanya ruang kosong semata sepanjang
jarak satu kilometer itu!
Sebutir garam terdiri dari banyak sekali atom. Jika kita bisa menghitung
satu milyar atom dalam sedetik, maka kita membutuhkan lebih dari lima
ratus tahun untuk menghitung jumlah seluruh atom di dalam sebutir garam
saja! Atom-atom itu secara rapi membangun wujud sebutir garam. Dan di
dalamnya terbentang ruang kosong di antara atom-atomnya. Sebagaimana
samudera. Sebutir garam mewujud di dalamnya. Ia “berenang” dan meng-ada
di dalamnya. Juga kita dan semua benda-benda.
Wujud kita sejatinya selalu berada di dalam samudera ruang kosong….di
dalam samudera atomis gaya-gaya….di dalam samudera kehendakNya (Bahr
al-Qudrah)…
Dari Husein bin Ali bin Abi Thalib as. :
Seorang Yahudi mendatangi Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu Amirul
Mukminin Ali bin Abi Thalib as bersama Nabi.
Yahudi itu berkata kepada Nabi Muhammad SAW : “apa faedah dari huruf
hijaiyah ?”
Rasulullah SAW lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib as, “Jawablah”.
Lalu Rasulullah SAW mendoakan Ali, “ya Allah, sukseskan Ali dan bungkam
orang Yahudi itu”.
Lalu Ali berkata : “Tidak ada satu huruf-pun kecuali semua bersumber
pada nama-nama Allah swt”.
Kemudian Ali berkata :
1. “Adapun Alif artinya tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup
dan Kokoh,
2. Adapun Ba artinya tetap ada setelah musnah seluruh makhluk-Nya.
3. AdapunTa, artinya yang maha menerima taubat, menerima taubat dari
semua hamba-Nya,
4. adapunTsa artinya adalah yang mengokohkan semua makhluk “Dialah
yang mengokohkan orang-orang beriman dengan perkataan yang kokoh
dalam kehidupan dunia”
5. Adapun Jim maksudnya adalah keluhuran sebutan dan pujian-Nya
serta suci seluruh nama-nama-Nya.
6. Adapun Ha adalah Al Haq, Maha hidup dan penyayang.
7. Kha maksudnya adalah maha mengetahui akan seluruh perbuatan
hamba-hamba-Nya.
8. Dal artinya pemberi balasan pada hari kiamat,
9. Dzal artinya pemilik segala keagungan dan kemuliaan.
10. Ra artinya lemah lembut terhadap hamba-hamba-Nya.
11. Zay artinya hiasan penghambaan.
12. Sin artinya Maha mendengar dan melihat.
13. Syin artinya yang disyukuri oleh hamba-Nya.
14. Shad maksudnya adalah Maha benar dalam setiap janji-Nya.
15. Dhad artinya adalahyang memberikan madharat dan manfaat.
16. Tha artinya Yang suci dan mensucikan,
17. Dzha artinya Yang maha nampak dan menampakan seluruh tanda-tanda.
18. Ayn artinya Maha mengetahui hamba-hamba-Nya.
19. Ghayn artinya tempat mengharap para pengharap dari semua
ciptaan-Nya.
20. Fa artinya yang menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan.
21. Qaf artinya adalah Maha kuasa atas segala makhluk-Nya
22. Kaf artinya yang Maha mencukupkan yang tidak ada satupun yang
setara dengan-Nya, Dia tidak beranak dan tidak diperanakan.
23. Adapun Lam maksudnya adalah maha lembut terhadap hamba-nya.
24. Mim artinya pemilik semua kerajaan.
25. Nun maksudnya adalah cahaya bagi langit yang bersumber pada
cahaya arasynya.
26. Adapun waw artinya adalah, satu, esa, tempat bergantung semua
makhluk dan tidak beranak serta diperanakan.
27. Ha artinya Memberi petunjuk bagi makhluk-Nya.
28. Lam alif artinya tidak ada tuhan selain Allah, satu-satunya serta
tidak ada sekutu bagi-Nya.
29. Adapun ya artinya tangan Allah yang terbuka bagi seluruh
makhluk-Nya”.
Rasulullah lalu berkata “Inilah perkataan dari orang yang telah diridhai
Allah dari semua makhluk-Nya”.
Mendengar penjelasan itu maka yahudi itu masuk Islam.
Dari Ibrahim bin Khuttab, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al
Fadl, dari Abdullah bin Najiyah, dari Ahmad bin Badil Al Ayyamy, dari
Amr bin Hamid hakim kota ad Dainur, dari Farat bin as Saib dari Maimun
bin Mahran, dari Ibnu Abbas dan sanadnya Rosulullah SAW, ia berkata:
“Segala sesuatu ada penjelasan (tafsir)nya yang diketahui oleh orang
yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak
mengetahuinya”.
Kandungan empat unsur alam semesta dalam huruf hijaiyah, yaitu:
1. Unsur api : alif, haa’, tha’, shad, mim, fa’, syin.
2. Unsur udara : ba’, wawu, ya’, nun, shat, ta’, dha’.
3. Unsur air : jim, za’, kaf, sin, qaf, tsa’, zha’.
4. Unsur tanah : ha’, lam, ‘ain, ra’, kha’, ghain.
30 kunci huruf hijaiyah yang berada di tubuh manusia yaitu:
1. alif = hidung
2. ba” = mata
3. ta” = tempat mata(lubang tempat mata)
4. tsa” = bahu kanan
5. jim = bahu kiri
6. ha = tangan kanan
7. kha = tangan kiri
8. dal = telapak tangan kanan dan kiri
9. dzal = kepala dan rambut
10. ro” = rusuk kanan
11. zai = rusuk kiri
12. sin = dada kanan
13. syin = dada kiri
14. shod = pantat kanan
15. dhod = pantat kiri
16. tho” = hati
17. zho” = gigi
18. ain = paha kanan
19. ghoin = paha kiri
20. fa” = betis kanan
21. kof = betis kiri
22. kaf = kulit
23. lam = daging
24. mim = otak
25. nun = nurcahaya
26. wau = telapak kaki kanan dan kiri
27. HA” = sungsum tulam
28. lam alif = manusia utuh
29. hamzah = memenuhi segala
30. ya” = mulutmanusia
Affirmasi:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ……………….
contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ALIF
contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan Hamzah
30 kunci dipakai untuk membersihkan bagian bagian tubuh dari hal -hal
yang negatif.sehingga tubuh dapat berfungsi normal.dan tentunya
meningkatkan tingkat kita dalam hal dunia dan spiritual..
Nb.
Artikel ini sekedar sebagai referensi bahan kajian untuk seluruh
praktisi QUANTUM TRANCEFORMASI NAQS DNA. Dan sebenarnya masih banyak
lagi kajian mengenai ilmu huruf ini, yaitu diantaranya mengenai ilmu
khodam huruf dan lain sebagainya Yang mana kajian itu tidak saya
tampilkan di sini karena sudah terlalu jauh dari prinsip dasar NAQS DNA.
Huruf hijaiyah itu adalah Intisari Asma-asma Allah Ta’ala. Hanya Allah
swt, saja yang Maha Mengetahui rahasianya. Bila ada seorang Ulama Sufi
dibukakan rahasia huruf, itu pun masih sebagian kecil sekali, dibanding
samudera rahasia huruf itu sendiri.
Allah swt, tidak memerintahkan kita agar menyelidiki rahasia-rahasia
ghaib yang tersembunyi dibalik huruf-huruf hijaiyah. Kecuali jika Allah
swt, menghendaki hambaNya untuk mengetahuinya, Allah swt membukakan
hijab huruf itu. Dan itu pun hanya kurang dari setetes samuderaNya
hakikat huruf yang tiada hingga. Oleh karena itu, janganlah kita
membatasi diri terhadap rahasia & karunia ilmu dari Allah swt.
INILAH BEBERAPA PRINSIP DASAR METHODE NAQS DNA :
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran
dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada)
dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang
beriman.” (Yunus: 57)
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an sesuatu yang menjadi penyembuh
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)
“Katakanlah: ‘(Al-Qur`an) itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi
orang-orang yang beriman’.” (Fushshilat: 44)
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah
gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan
takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk
manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21)
Dari Syifa` bintu Abdullah radhiallahu ‘anha:
أَنَّهَا كَانَتْ تُرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا جَاءَ اْلإِسْلاَمُ، قَالَتْ: لاَ أَرْقِي حَتَّى
اسْتَأْذَنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَيْتُهُ فَاسْتَأْذَنْتُهُ. فَقَالَ عَنْهَا
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ارْقِي مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهَا شِرْكٌ
“Dahulu dia meruqyah di masa jahiliyyah. Setelah kedatangan Islam,
maka dia berkata: ‘Aku tidak meruqyah hingga aku meminta izin kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu dia pun pergi
menemui dan meminta izin kepada beliau. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Silahkan engkau meruqyah
selama tidak mengandung perbuatan syirik’.” (HR. Al-Hakim, Ibnu
Hibban, dan yang lainnya. Al-Huwaini berkata: “Sanadnya muqarib.”
Ibid, hal. 220).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat
satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali
lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi
alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR.
At-Tirmidziy 5175, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 39 serta
Shahiihul Jaami’ Ash-Shaghiir 5340)
Kunci Ilmu Ghaib
Kunci Serat Tubuh Nur Huruf
Hijaiyah adalah motode spiritual membuka serat tubuh manusia dengan
tehnik penempatan lafal huruf hijaiyah yang ada pada tubuh kita. Kunci
Serat Tubuh Nur Huruf Hijaiyah suatu ilmu inti dari induk ilmu islami
secara spiritual baik ilmu hikmah maupun kharomah. Kunci Serat Tubuh Nur
Huruf Hijaiyah jika terbuka khasafnya maka banyak manfaat yang akan
diperoleh secara laduniyah bab ilmu johir maupun bathin. Kunci Serat
Tubuh Nur Huruf Hijaiyah dasar meraih pencerahan spiritual para jawara
muslim dan para waliyullah. Kunci Serat Tubuh Nur Huruf Hijaiyah banyak
dipakai perguruan silat, yayasan supranatural dengan diajarkan guna
muridnya mencapai tingkat spiritual tinggi, dengan mahar atau biaya yang
beragam dari mahar seikhlasnya sampai puluhan juta rupiah. Walau disini
disampaikan secara free bin gratis, saran kami harap di gurukan agar
mendapat bimbingan dari seorang guru agar terhindar dari tipu daya jin
dan syaiton.
Rahasia Huruf Hijaiyah
بسم الله الرحمن الرحم
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً
يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي
التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ
يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم
مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan
dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang
sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah
dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat
mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya
maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan
tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-
penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
(dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-
orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka
ampunan dan pahala yang besar.” (QS. AL-FATH ayat 29),
Ada dua puluh sembilan huruf Hijaiyah. Awalnya adalah alif, kemudian ba,
kemudian ta, dan akhirnya adalah ya. Huruf kedua, Ba, merangkum semua
pengetahuan tentang wujud semesta. Ba adalah Bahr, Samudera. Setiap
wujud sejatinya meng-ada di dalam “samudera” abadi ini. Renungkanlah
perlahan sekali…
Ba-Bahr Al Qudrah-Samudera Kehendak
Tubuh kita dan segala benda-benda, air yang kita teguk dan udara yang
kita hirup, segala yang kita lihat sentuh dan rasakan, padat cair dan
gas, semuanya terbangun dari atom-atom. Kita semua sudah tahu itu. Meski
atom bukanlah elemen terkecil dari benda-benda, sebagaimana telah
ditunjukkan oleh para ahli fisika kuantum, mari kita batasi perjalanan
kita hanya sampai di atom ini. Inti atom (nucleus) merupakan pusat atom.
Seberapa besar inti atom ini? Jika kita perbesar ukuran sebiji atom
menjadi sebesar bola berdiameter 200 meter, maka besarnya inti atom
adalah sebesar sebutir debu di pusatnya.
Hebatnya, sebutir debu ini membawa 99,95% massa atom seluruhnya yang
dipadatkan oleh strong nuclear force ke dalam partikel proton. Sementara
elektron-elektron sangatlah ringan dan bergerak mengelilingi proton pada
jarak yang jauh sekali. Seberapa jauh? Jika kita perbesar ukuran
elektron menjadi sebesar biji kelereng, maka jarak antara elektron ini
ke inti atom adalah sejauh satu kilometer! Ada apa di antara elektron
dengan proton? Tidak ada apa-apa. Hanya ruang kosong semata sepanjang
jarak satu kilometer itu!
Sebutir garam terdiri dari banyak sekali atom. Jika kita bisa menghitung
satu milyar atom dalam sedetik, maka kita membutuhkan lebih dari lima
ratus tahun untuk menghitung jumlah seluruh atom di dalam sebutir garam
saja! Atom-atom itu secara rapi membangun wujud sebutir garam. Dan di
dalamnya terbentang ruang kosong di antara atom-atomnya. Sebagaimana
samudera. Sebutir garam mewujud di dalamnya. Ia “berenang” dan meng-ada
di dalamnya. Juga kita dan semua benda-benda.
Wujud kita sejatinya selalu berada di dalam samudera ruang kosong….di
dalam samudera atomis gaya-gaya….di dalam samudera kehendakNya (Bahr
al-Qudrah)…
Dari Husein bin Ali bin Abi Thalib as. :
Seorang Yahudi mendatangi Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu Amirul
Mukminin Ali bin Abi Thalib as bersama Nabi.
Yahudi itu berkata kepada Nabi Muhammad SAW : “apa faedah dari huruf
hijaiyah?”
Rasulullah SAW lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib as, “Jawablah”.
Lalu Rasulullah SAW mendoakan Ali, “ya Allah, sukseskan Ali dan bungkam
orang Yahudi itu”.
Lalu Ali berkata : “Tidak ada satu huruf-pun kecuali semua bersumber
pada nama-nama Allah swt”.
Kemudian Ali berkata :
Alif (ا): Ismullah (nama Allah), yang tiada Tuhan selain-Nya. Dia
selalu hidup, Maha Mandiri dan Mahakuasa.
Ba’ (ﺏ): al Baqi’ (Mahakekal), setelah musnahnya makhluk.
Ta (ﺕ): al Tawwab (Maha Penerima Taubat) dari hamba-hamba-Nya.
Tsa’ (ﺙ): al Tsabit (Yang Menetapkan) keimanan hamba-hamba-Nya.
Jim (ﺝ) : Jalla Tsanauhu (Yang Mahatinggi Pujian-Nya), kesucian-Nya,
dan nama-nama-Nya yang tiada berbatas.
Ha’ (ﺡ): al Haq, al Hayyu, wa al Halim (Yang Mahabenar, Mahahidup, dan
Mahabijak).
Kha (ﺥ): al Khabir (Yang Mahatahu) dan Mahalihat. Sesungguhnya Allah
Mahatahu apa yang kalian kerjakan.
Dal (ﺩ): Dayyanu yaumi al din (Yang Mahakuasa di Hari Pembalasan).
Dzal (ﺫ): Dzu al Jalal wa al Ikram (Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).
Ra (ﺭ): al Rauf (Mahasayang).
Zay (ﺯ): Zainul Ma’budin (Kebanggaan Para Hamba).
Sin (ﺱ): al Sami al Bashir (Mahadengar dan Mahalihat).
Syin (ﺵ): Syakur (Maha Penerima ungkapan terima kasih dari
hamba-hamba-Nya).
Shad (ﺹ) : al Shadiq (Mahajujur) dalam menepati janji. Sesungguhnya
Allah tidak mengingkari janji-Nya.
Dhad (ﺽ): al Dhar wa al Nafi (Yang Menangkal Bahaya dan Mendatangkan
Manfaat).
Tha (ﻁ): al Thahir wal al Muthahir (Yang Mahasuci dan Menyucikan).
Zha (ظ): Zhahir (Yang Tampak dan Menampakkan Kebesaran-Nya).
‘Ain (ﻉ): al ’Alim (Yang Mahatahu) atas segala sesuatu.
Ghain (ﻍ): Ghiyats al Mustaghitsin (Penolong bagi yang memohon
pertolongan) dan Pemberi Perlindungan.
Fa (ف): Yang Menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan.
Qaf (ﻕ): Yang Mahakuasa atas makhluk-Nya.
Kaf (ﻙ): al Kafi (Yang Memberikan Kecukupan) bagi semua makhluk, tiada
yang serupa dan sebanding dengan-Nya.
Lam (ﻝ): Lathif (Mahalembut) terhadap hamba-hamba-Nya dengan
kelembutan khusus dan tersembunyi.
Mim (ﻡ): Malik ad dunya wal akhirah (Pemilik dunia dan akhirat).
Nun (ن): Nur (Cahaya) langit, cahaya bumi, dan cahaya hati orang-orang
beriman.
Waw (ﻭ): al Wahid (Yang Mahaesa) dan tempat bergantung segala sesuatu.
Haa (ه): al Hadi (Maha Pemberi Petunjuk) bagi makhluk-Nya. Dialah yang
menciptakan segala sesuatu dan memberikan petunjuk.
Lam alif (لآ): lam tasydid dalam lafadz Allah untuk menekankan
keesaan Allah, yang tiada sekutu bagi-Nya.
Ya (ﻱ): Yadullahbasithun lil khalqi (Tangan Allah terbuka bagi
makhluk). Kekuasaan dan kekuatan-Nya meliputi semua tempat dan semua
keberadaan.
Rasulullah lalu berkata “Inilah perkataan dari orang yang telah diridhai
Allah dari semua makhluk-Nya”.
Mendengar penjelasan itu maka yahudi itu masuk Islam.
Dari Ibrahim bin Khuttab, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al
Fadl, dari Abdullah bin Najiyah, dari Ahmad bin Badil Al Ayyamy, dari
Amr bin Hamid hakim kota ad Dainur, dari Farat bin as Saib dari Maimun
bin Mahran, dari Ibnu Abbas dan sanadnya Rosulullah SAW, ia berkata:
“Segala sesuatu ada penjelasan (tafsir)nya yang diketahui oleh orang
yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya”.
Ilmu Huruf dan Rahasianya
Ketika huruf hijaiyah terbagi menjadi 28 makhraj (pengucapan huruf) dan
setiap makhraj merupakan manzilah dari manzilah-manzilah bulan yang
jumlahnya juga 28, maka tersusunlah huruf-huruf itu ke dalam susunan
Abjad. Dan huruf-huruf itu terbagi menjadi:
Pertama: Bertitik dan tidak bertitik, menggambarkan nathiq (bicara) dan
shamit (diam).
Kedua: Mengandung empat unsur, yaitu:
- Unsur api : alif, haa’, tha’, shad, mim, fa’, syin.
- Unsur udara : ba’, wawu, ya’, nun, shat, ta’, dha’.
- Unsur air : jim, za’, kaf, sin, qaf, tsa’, zha’.
- Unsur tanah : ha’, lam, ‘ain, ra’, kha’, ghain.
Ketiga: Dari segi kesendirian dan tidaknya, terbagi menjadi: mufradah,
matsani dan matsalis. Mufradah adalah huruf-huruf Muqaththa’ah (yang
terdapat di awal surat Al-Qur’an) seperti huruf alif, kaf, dan lam.
Matsani seperti dal, dzal, sampai fa’ dan qaf. Matsalis seperti ba’
sampai kha’ dalam susunan Abatatsa. Dari sisi nuqthah (titik): ada yang
satu, dua, dan yang tiga.
Keempat: Malfuzhi, masruri, dan malbubi. Malfuzhi adalah huruf yang
dalam pelafazhan atau pengucapannya tidak sama antara huruf pertama dan
huruf terakhir, misalnya alif dan jim.Masruri adalah huruf yang dalam
pengucapannya sama antara huruf pertama dan huruf terakhir, misalnya
mim, nun, dan wawu. Malbubi adalah huruf yang pengucapannya terdiri dari
dua huruf, misalnya ba, ta; huruf ini juga disebut huruf ‘illiyyah.
Kelima: Mufashshalah dan Muwashshalah. Mufashshalah adalah huruf yang
hanya bisa disambung dengan huruf sebelumnya, yaitu alif, wawu, dzal,
ra’, za’, dan dal. Muwashshalah adalah huruf yang bisa disambung dengan
huruf sebelum dan sesudahnya.
Keenam: Huruf cahaya dan huruf kegelapan. Huruf cahaya adalah: shat,
ra’, alif, tha’, ‘ain, lam, ya’, ha’, qaf, nun, mim, sin, kaf, ha’. Yang
semuanya terhimpun dalam kalimat:
صِرَاطُ عَلِيٍّ حَقٌّ نُمْسِكُهُ
Jalan Ali benar kita pegang teguh
Dan selain huruf-huruf tersebut adalah huruf kegelapan. Coba kita
perhatikan nama-nama semuanya didominasi oleh huruf-huruf cahaya kecuali
“Al-Wadûd”.
Ketujuh: Huruf mudghamah (tersembunyi) dan muzhharah (nampak).
Masing-masing berjumlah 14 sama dengan pembagian jumlah manzilah bulan.
Yang nampak selalu berada di atas bumi, dan yang tersembunyi selalu
berada di bawah bumi.
Huruf Mudghamah adalah huruf yang bila diawali (Al) bunyi Al-nya tidak
nampak, misalnya Ra’ dan Dal. Huruf Muzhharah adalah huruf yang bila
diawali (Al) bunyi Al-nya nampak, misalnya ba’, jim.
Hukum huruf-huruf tersebut memiliki rahasia yang menakjubkan. Misalnya,
dalam susunan Abatatsa, “alif” merupakan huruf zat Yang Maha Suci, yakni
Al-Awwalu wal Akhiru. Adapun khalifah huruf “alif” adalah “ya'” dan
“wawu”, keduanya termasuk huruf layyinah dalam menjelaskan semua huruf,
sebagaimana wujud Yang Maha Suci adalah sumber dari semua wujud, dan hal
ini terkandung dalam doa, misalnya:
يا من كل شيئ قائم بك
Wahai Zat yang segala sesuatu terwujud karena keberadaan-Mu
Tak ubahnya kwalitas suara dan perbedaannya terjadi di udara karena
ketergantungan gelombang pada sumber gelombang.
Karena itu kita tidak akan menemukan dua bentuk yang sama dalam semua
wujud berdasarkan hukum penampakan Ahadiyah (hukum Alif dan ba’) dan
penampakan nama “Man laysa kamitslihi syay-un ” (Dia yang tidak
diserupai oleh segala sesuatu). Demikian juga kita tidak akan
mendapatkan dua suara dalam wujud yang sama, sebagaimana hal ini
digambarkan oleh Allah swt dalam firman-Nya:
وَ مِنْ ءَايَتِهِ خَلْقُ السمَاوَاتِ وَ الأَرْضِ وَ اخْتِلاََف أَلْسِنَتِكمْ وَ أَلْوَانِكمْ إِنَّ فى ذَلِك
لاَيَاتٍ لِّلْعَلِمِينَ
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah penciptaan langit dan bumi,
dan perbedaan bahasa dan warna kulitmu, sesungguhnya dalam hal itu ada
tanda-tanda kekuasaan Allah bagi semesta alam.” (Ar-Rum: 22).
Allah Maha Mendengar suara ini dan semua suara yang kwalitasnya telah
terjadi dan akan terjadi di udara, dengan satu pendengaran yang sifatnya
hudhuri dan isyraqi (pengenalan tingkat rasa).
(Disarikan dari kitab Syarah Doa Jawsyan Kabir, Sabzawari)
Kunci Serat Tubuh Nur Huruf Hijaiyah yakni 30 kunci huruf hijaiyah yang
berada di tubuh manusia antara lain yaitu:
1. alif = hidung
2. ba' = mata
3. ta' = tempat mata(lubang tempat mata)
4. tsa' = bahu kanan
5. jim = bahu kiri
6. ha = tangan kanan
7. kha = tangan kiri
8. dal = telapak tangan kanan dan kiri
9. dzal = kepala dan rambut
10. ro' = rusuk kanan
11. zai = rusuk kiri
12. sin = dada kanan
13. syin = dada kiri
14. shod = pantat kanan
15. dhod = pantat kiri
16. tho' = hati
17. zho'= gigi
18. ain = paha kanan
19. ghoin = paha kiri
20. fa' = betis kanan
21. kof = betis kiri
22. kaf = kulit
23. lam = daging
24. mim = otak
25. nun = nur/cahaya
26. wau = telapak kaki kanan dan kiri
27. ha' = sungsum tulam
28. lam alif = manusia utuh
29. hamzah = memenuhi segala
30. ya' = mulut/manusia
Affirmasi:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ……(di isi dengan salah satu yang mau di
bangkitkan penempatannya yakni huruf Alif samapi Ya')………….
Contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ALIF
30 kunci dipakai untuk membersihkan bagian bagian tubuh dari hal -hal
yang negatif.sehingga tubuh dapat berfungsi normal.dan tentunya
meningkatkan tingkat kita dalam hal dunia dan spiritual..
Catatan:
Artikel ini sekedar sebagai referensi bahan kajian. Dan sebenarnya masih
banyak lagi kajian mengenai ilmu huruf ini, yaitu diantaranya mengenai
ilmu huruf dan lain sebagainya Yang mana kajian itu tidak saya tampilkan
di sini karena sudah terlalu jauh dari prinsip dasar.
Huruf hijaiyah itu adalah Intisari Asma-asma Allah Ta’ala. Hanya Allah
swt, saja yang Maha Mengetahui rahasianya. Bila ada seorang Ulama Sufi
dibukakan rahasia huruf, itu pun masih sebagian kecil sekali, dibanding
samudera rahasia huruf itu sendiri.
Allah swt, tidak memerintahkan kita agar menyelidiki rahasia-rahasia
ghaib yang tersembunyi dibalik huruf-huruf hijaiyah. Kecuali jika Allah
swt, menghendaki hambaNya untuk mengetahuinya, Allah swt membukakan
hijab huruf itu. Dan itu pun hanya kurang dari setetes samuderaNya
hakikat huruf yang tiada hingga. Oleh karena itu, janganlah kita
membatasi diri terhadap rahasia dan karunia ilmu dari Allah SWT.
Prinsip Dasar Al Hikmah:
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari
Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam
dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an sesuatu yang menjadi penyembuh dan
rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)
“Katakanlah: ‘(Al-Qur`an) itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi
orang-orang yang beriman’.” (Fushshilat: 44)
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah gunung,
pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada
Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya
mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21)
Dari Syifa` bintu Abdullah radhiallahu ‘anha:
أَنَّهَا كَانَتْ تُرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا جَاءَ اْلإِسْلاَمُ، قَالَتْ: لاَ أَرْقِي حَتَّى
اسْتَأْذَنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَيْتُهُ فَاسْتَأْذَنْتُهُ. فَقَالَ عَنْهَا رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ارْقِي مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهَا شِرْكٌ
“Dahulu dia meruqyah di masa jahiliyyah. Setelah kedatangan Islam, maka
dia berkata: ‘Aku tidak meruqyah hingga aku meminta izin kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu dia pun pergi menemui
dan meminta izin kepada beliau. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda kepadanya: ‘Silahkan engkau meruqyah selama tidak mengandung
perbuatan syirik’.” (HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan yang lainnya.
Al-Huwaini berkata: “Sanadnya muqarib.” Ibid, hal. 220).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat satu
kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.
Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu
huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidziy 5/175,
lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/9 serta Shahiihul Jaami’ Ash-Shaghiir
5/340)
Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan sobat sekalian.

Menapak Dalam Ilmu Ma' Rifat

PESAN AL-GHAZALY DALAM KITAB (Minhajul Abidin)
Imam Al Ghazaly dalam bukunya yang berjudul Minhajul Abidin, mengatakan,
bahwa Ilmu yang fardlu ain yang wajib dituntut oleh seorang muslim
adalah mencakup 3 hal, yaitu :
Ilmu Tauhid
Ilmu Syariat
Ilmu Sir (Ilmu tentang hati)
Dan tidaklah ilmu-ilmu itu semua dituntut untuk tujuan berargumentasi
atau memberikan keyakinan kepada orang lain baik yang beragama Islam
maupun bukan.
Tetapi ilmu tersebut fardlu ain untuk dituntut, yang berhubungan dengan
untuk perubahan diri.
Ilmu Tauhid dan syariat, dikalangan ummat Islam sekarang ini demikian
popular untuk dipelajari. Namun jarang sekali orang yang mempelajari dan
mengerti mengenai Ilmu Sir (Ilmu tentang hati).
Lantas mungkin kita akan bertanya, untuk apakah belajar Ilmu tentang
hati, atau macam manakah ilmu tentang hati tsb?
Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Dalam diri manusia ada segumpal darah. Yang apabila shalih (tidak
rusak), maka akan shalih seluruhnya, tetapi apabila buruk maka akan
buruk pula seluruhnya, itulah hati”.
Bahkan di hadits lain, Rasulullah SAW mengatakan : ” /Sesungguhnya
sebuah amal itu bergantung dari niatnya/“.
Sungguh, hal-hal ibadah syariat yang kita laksanakan sepanjang hari akan
tidak mempunyai nilai, bila tidak disertai niat yang shalih…
Dan letak niat itu adalah di HATI.
Demikian besar fungsi hati, sehingga wajar saja bila Imam Al Ghazaly
mengkatagorikan Ilmu ini menjadi ilmu yang fardlu ain untuk dituntut.
Dikajian tasawuf, pembahasan tentang hati merupakan agenda utama. Hal
ini sesungguhnya untuk penyelarasan dari Ilmu Tauhid dan Syariat, yang
sebelumnya (oleh kebanyakan orang) telah dipelajari.
Dalam sebuah kata-kata hikmah (bagi sebagian ulama ini dikatakan sebagai
hadits dari Rasulullah SAW) bahwa : “/Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa
Rabbahu/“. “Barangsiapa mengenal dirinya (nafsahu) maka ia akan mengenal
Tuhannya”.
Sementara Ali. R.A mengatakan bahwa : “/Awwaluddina Ma’rifatullah/“.
“Awalnya beragama adalah mengenal Allah”.
Sehingga dapat dilihat hubungannya, bahwa Mengenal diri (An-Nafs)
merupakan awal dari seorang beragama dengan haq.
HATI
Diri manusia dapat dilihat secara indrawi dengan perilaku dan perangai
seseorang. Dan seorang berperilaku, seorang berperangai, merupakan
cerminan dari HATI-nya.
Sehingga untuk mengenal diri kita, kita harus memulainya dengan mengenal
Hati kita sendiri.
Hati itu terdapat 2 jenis :
1. Hati Jasmaniyah
Hati jenis ini bentuknya seperti buah shaunaubar. Hewan memilikinya,
bahkan orang yang telah matipun memilikinya.
2. Hati Ruhaniyyah
Hati jenis inilah yang merasa, mengerti, dan mengetahui. Disebut pula
hati latifah (yang halus) atau hati robbaniyyah.
Dalam kajian kita, yang dituju dengan kata HATI atau Qalb adalah hati
jenis 2, hati Ruhaniyyah.
Karena Hati inilah yang merupakan tempatnya Iman :
Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu
indah dalam hatimu (QS. 49:7)
karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu (QS. 49:14)
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam
hati mereka (QS. 58:22)
Bahkan lebih dari itu, dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan :
Tidak akan cukup untuk-Ku bumi dan langit-Ku tetapi yang cukup bagi-Ku
hanyalah hati (qalb) hamba-Ku yang mukmin”.
/Catatan : Apakah sebenarnya Iman (mukmin) itu ?/
Maka dengan hatilah, seseorang dapat merasakan iman. Dengan hatilah
seorang hamba dapat mengenal Rabb-nya.
Sebelum kita beranjak jauh tentang hati, ada beberapa hal yang nantinya
bersangkut paut dengan hati dan perlu kita jelaskan terlebih dahulu.
Kebanyakan orang hanya mengerti bahwa manusia itu hanya terdiri jasad
dan ruh. Mereka tidak mengerti bahwa sesungguhnya manusia terdiri dari
tiga unsur, yaitu : jasad, jiwa dan ruh.
Banyak orang yang tidak mengerti tentang Jiwa ini. Bahkan dalam bukunya
Al Ihya Ulumuddin Bab Ajaibul Qulub, Imam Al Ghazaly mengatakan, “bahkan
ulama -ulama yang masyhur sekarang ini (zaman Imam Al Ghazaly : red)
banyak yang tidak mengerti hal ini”. Itu pada zaman Imam Al Ghazaly.
Berapa ratus tahun yang lalu. Apatah lagi sekarang?
Kebanyakan orang rancu pengertiannya antara Jiwa dengan Ruh. Padahal
jelas-jelas dalam Al Qur’an, Allah membedakan penggunaan kata Ar-Ruh
(Ruh) dengan An-Nafs (Jiwa).
JASAD
Jasad adalah anggota tubuh dari manusia. Seperti : tangan, kaki, mata,
mulut, hidung, telinga, dan lain-lainnya. Bentuk dan keberadaannya dapat
diindera oleh manusia. Hewanpun dapat menginderanya.
Dari jasad inilah, timbulnya kecenderungan dan keinginan yang disebut
SYAHWAT. Seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an :
“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada syahwat, yaitu :
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik”. (QS Ali
Imran : 14)
JIWA (An Nafs)
An-Nafs dalam kebanyakan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, diartikan
dengan Jiwa atau diri. Padahal sesungguhnya An-Nafs ini menunjuk kepada
dua maksud, yaitu : hawa nafsu dan hakikat dari manusia itu sendiri
(diri manusia).
1. Hawa Nafsu
Nafsu yang mengarah kepada sifat-sifat tercela pada manusia. Yang akan
menyesatkan dan menjauh dari Allah. Inilah yang oleh Rasulullah SAW
dalam hadits yang diriwayatkan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas :
“Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu yang berada diantara kedua lambungmu”.
“Dan aku tidaklah membebaskan diriku (dari kesalahan), karena
sesungguhnya nafsu itu suka menyuruh kepada yang buruk”. (QS Yusuf : 53)
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu
dari jalan Allah (QS Shaad : 26)
2. Diri Manusia
Diri manusia ini apabila tenang, jauh dari goncangan disebabkan pengaruh
hawa nafsu dan syahwat, dinamakan Nafsu Muthmainnah.
“Hai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu,
merasa senang (kepada Tuhan) dan (Tuhan) merasa senang kepadanya”. (QS
Al Fajr : 27-28)
Namun diri manusia yang tidak sempurna ketenangannya, yang mencela
ketika teledor dari menyembah Tuhan, disebut Nafsu Lawwamah.
“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat mencela kejahatan (Nafsu
Lawwamah)”. (QS Al Qiyamah : 2)
RUH (Ar Ruh)
Perkataan Ruh, mempunyai dua arah. Sebagai nyawa dan sebagai suatu yang
halus dari manusia.
1. Nyawa
Pemberi nyawa bagi tubuh. Ibarat sebuah lampu yang menerangi ruangan.
Ruh adalah lampu, ruangan adalah tubuh. Mana yang terkena cahaya lampu
akan terlihat. Mana yang terkena ruh akan hidup.
2. Yang Halus dari Manusia
Sesuatu yang merasa, mengerti dan mengetahui. Hal ini yang berhubungan
dengan hati yang halus atau hati ruhaniyah.
Dalam Al Qur’an, Allah SWT menggunakan kata Ruh dengan kata Ruhul Amin,
Ruhul Awwal, dan Ruhul Qudus.
Adapun maksud-maksud dari kata tersebut merujuk kepada keterangan yang
berbeda-beda yaitu :
1. Ruhul Amin
Yang dimaksud dengan ini adalah malaikat Jibril.
“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan
semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin”. (QS Asy-Syu’araa’ :
192-193)
2. Ruhul Awwal
Yang dimaksud dengan ini adalah nyawa atau sukma manusia.
3. Ruhul Qudus
Yang dimaksudkan dengan ini bukanlah malaikat Jibril, tetapi ruh yang
datang dari Allah, yang menguatkan, menjadi petunjuk serta kabar gembira
bagi orang-orang yang beriman.
Katakanlah : “Ruhul Qudus menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan
benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang telah beriman, dan menjadi
petunjuk serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri
(kepada Allah)”. (QS An Nahl : 102)
dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran kepada Isa putra Maryam dan
Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus (QS Al Baqarah :87)
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam
hati mereka dan menguatkan mereka dengan ruh yang datang dari pada-Nya
(QS Al Mujadillah : 22)
Setelah kita mengetahui definisi-definisi atau penjelasan mengenai
jasad, jiwa, dan ruh mungkin kita akan bertanya, lalu apa manfaatnya?
TENTARA HATI
Hati itu bagi seorang manusia, bagaikan raja dengan tentara-tentara
berupa tentara zahir dan tentara bathin.
Ketika seorang berada dalam ancaman bahaya, maka orang tersebut untuk
menolak atau melawan bahaya, memerlukan dua tentara tsb.
Tentara batin : yaitu marah untuk melawan ancaman bahaya, tentara Zahir
: yaitu tangan dan kaki untuk mengeluarkan langkah-langkah perlawanan.
Demikian pula ketika seorang akan makan. Ia memerlukan dua tentara tsb.
Tentara batin : Syahwat untuk makan, tentara zahir : tangan dan kaki
untuk mengambil makanan.
Seorang sedang lapar bagaimanapun, bila hatinya mendiamkan syahwat
(keinginan jasad) untuk makan dan tidak memerintahkan tangan dan kaki
untuk mengambil makan, maka ia tidak akan melakukan pekerjaan makan.
Untuk itulah dikatakan HATI adalah Raja, bagi seluruh tubuh dan diri
manusia.
Sehingga perna penting Raja untuk mengarahkan kemana tubuh dan diri
berjalan, sangat menentukan sekali.
HATI DI TIGA PERSIMPANGAN
Sesungguhnya Hati yang merupakan Raja ini, berada pada 3 persimpangan.
seperti gambar dibawah ini
Hati berada dalam pengaruh Jasad (Syahwat), Hawa Nafsu, dan Nafsu
Muthmainnah.
Seorang manusia, yang membiarkan hatinya berada dalam dominasi Syahwat
dan Hawa Nafsunya, maka akan menjadi orang yang tersesat. Yang lambat
laun bisa tergelincir menjadi orang yang dimurkai Allah.
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah
telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah
Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran
(QS. 45:23)”
Hawa Nafsu itu melingkupi segala aspek. Tidak diperbolehkan kita
mengikuti hawa nafsu, dalam BERAGAMA sekalipun.
Banyak para aktivis dakwah, demikian bersemangatnya dalam berdakwah
kadang kala terlena, tidak menyadari kalau dalam mengatur strategi
dakwah, telah ditunggangi oleh Hawa Nafsunya.
Banyak pula para alim-ulama, yang demikian bangga terhadap ilmu yang
dipelajarinya, sehingga merasa pendapatnya adalah pendapat yang paling
benar, dan selainnya (selain golongannya) adalah pendapat yang salah.
Tidak disadari bahwa Hawa Nafsu telah merasuk dalam kemurnian beragamanya.
Dan kalaulah kita dapat keluar dari dominasi Hawa Nafsu dan Syahwat ini,
maka Allah menjanjikan :
Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka : “Bunuhlah dirimu
atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan
melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau
mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah
yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman
mereka). (QS. 4:66)
Apakah dalam ayat diatas, maksud bunuh diri adalah mengambil pisau lalu
menghujamkannya ke perut? Atau mengambil racun lalu meminumnya?
Bukan !
Inilah kesalahan yang dapat terjadi bila kita tidak mengetahui arti yang
sesungguhnya dari kata An-Nafs tersebut.
Dalam ayat ini dalam Arabnya dipergunkan kata Anfus (Jamak dari An-Nafs).
Bila Al Qur’an menggunakan An-Nafs dalam bentuk jamak, ini sesungguhnya
merefer kepada Jiwa-jiwa yang banyak. Yaitu Hawa Nafsu. Karena bentuk
Hawa Nafsu itu banyak. Seperti marah, sombong, ria, ujub, ingin
dihormati, dsb.
Namun bila An-Nafs ini dalam bentuk tunggal, maka sesungguhnya ia
merefer kepada Jiwa yang tunggal yaitu Nafsu Muthmainnah. Karena memang
Nafsu Muthmainnah ini tunggal. Dan ini merupakan Hakikat diri manusia.
Jadi, bunuhlah dirimu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud :
Keluar dari Dominasi Hawa Nafsu.
Keluar dari kampungmu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud :
keluar dari kampung si Jiwa, yaitu Jasad. Atau keluar dari dominasi Syahwat.
Sehingga, bila seorang dapat keluar dari dominasi Hawa Nafsu dan
Syahwatnya, sesungguhnya Allah akan menguatkan iman mereka.
Namun Sangat sedikit sekali yang mau melaksanakan ini.
Hawa Nafsu dan Syahwat ini bukan dibunuh dan dihilangkan. Tetapi
dikontrol oleh Nafsu Muthmainnah.
Ada saatnya hawa nafsu dan syahwat dikeluarkan, dan saat lain kembali
dikekang.
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan
diri dari keinginan hawa nafsunya. (QS. 79:40) maka sesungguhnya
surgalah tempat tinggal(nya). (QS. 79:41)”
Kesalahpahaman pengartian An-Nafs juga berimplikasi kepada penafsiran
yang kadang kala kurang tepat pada ayat-ayat seperti dibawah :
Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas
orang-orang yang duduk satu derajat (QS. 4:95)
Banyak orang sering langsung mengarah kepada ayat-ayat sejenis diatas,
berjihad dengan harta dan Jiwa (An-Nafs) adalah merupakan perang fisik.
Apakah memang demikian? Apakah Islam harus selalu perang sementara Islam
adalah sebuah agama yang damai?
Memang betul, dalam kondisi yang mewajibkan kita berperang ayat ini
merupakan perintah pula untuk berperang.
Namun dalam kondisi damai ada yang lebih berat dibandingkan dengan
perang fisik, yaitu berjihad melawan syahwat dan hawa nafsu.
Setelah melakukan perang dan akan memasuki bulan Ramadhan, Rasulullah
SAW bersabda kepada para sahabat :
“Kita kembali dari jihad kecil kepada perjuangan besar”. (Hadits riwayat
Al Baihaqy dan Jabir, dalam hadits ini ada sanad yang lemah).
Terlepas dari ke-dhoifan hadits diatas logikanya seperti ini : Seorang
manusia yang telah dapat melepaskan hatinya dari takut kehilangan harta,
keluarga, jabatan, dsb, hanya seorang yang telah mampu melawan syahwat
dan hawa nafsunya.
Kalaulah kita temukan orang yang seperti ini, niscaya dia tidak takut
lagi mati. Niscaya dia tidak akan pernah mengelak dari perintah untuk
berperang, bila kondisinya mewajibkannya untuk berperang.
Tetapi orang yang hatinya masih takut kehilangan harta, pekerjaan,
keluarga, jabatan, dsb. ia akan takut mati. Peperangan adalah sebuah hal
yang sangat berat baginya.
Artinya, dalam logika sederhana tersebut, akan tergambar, kalaupun
hadits tsb dhoif dari sanadnya, namun secara ilmiah hal itu dapat
dibenarkan dan secara mathan, tidak ada ayat Al Qur’an yang bertentangan
dengannya.
Dalam bahasan saya diatas, saya juga mencoba menunjukkan, bahwa tasawuf
yang bagi sebagian orang diidentikkan sebagai pola pendekatan Islam yang
mengabaikan perintah untuk berperang adalah kurang tepat.
Berperang adalah suatu kewajiban apabila kondisinya mewajibkan untuk
melakukannya. Namun bila masa damai bukan lantas mencari-cari supaya ada
perang! Tetapi melakukan jihad yang lebih berat, yaitu melawan Hawa
Nafsu dan Syahwat.
Dan Allah menjanjikan bagi mereka yang mampu melawan Hawa Nafsu dan
Syahwatnya ini dengan menguatkan iman dan surga sebagai tempat tinggalnya.
Semoga kita termasuk kedalam golongan orang yang dikuatkan Allah untuk
melawan dominasi syahwat dan hawa nafsu yang ada dalam diri kita.
NAFSU MUTHMAINNAH
Seorang yang hatinya telah didominasi oleh Nafsu Muthmainnah, bukan lagi
oleh syahwat atau hawa nafsu, maka Nafsu Muthmainnah menjadi Imam bagi
seluruh tubuh dan dirinya.
Dan seperti dikatakan dalam penjelasan sebelumnya, sesungguhnya Nafsu
Muthmainnah inilah yang disebut Jati Diri manusia itu. Hakikat dari
manusia itu.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa (An-Nafs)
mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu”. Mereka
menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. 7:172)
Siapakah yang berjanji dalam ayat diatas ? Apakah kita pernah merasa
berjanji?
Yang berjanji seperti disebutkan di ayat diatas, bukanlah ruh. Tetapi
Jiwa yang tunggal, Nafsu Muthmainnah.
Namun kemana Nafsu Muthmainnah kita sekarang?
Sejak kita dilahirkan ke bumi, berapa puluh tahun yang lalu, sudah
berapa banyak kita membiarkan hati kita di dominasi Syahwat dan Hawa Nafsu?
Pada dasarnya, Jiwa (Nafsu Muthmainnah) kita ini seperti juga jasad.
Jasad membutuhkan makan, demikian pula dengan Jiwa.
Jasad membutuhkan makanan berupa : karbohidrat, vitamin, mineral,
protein, dsb. Jiwa juga membutuhkan makanan, seperti : shalat, dzikir,
puasa, dsb.
Dalam sehari orang pada umumnya jasadnya membutuhkan makan 3 kali,
dengan kadar karbohidrat, vitamin, mineral, protein tertentu. Apabila
ini tidak terpenuhi maka akan sakit, bahkan mati.
Demikian pula jiwa.
Dalam sehari Allah telah menetukan makanan minimalnya :
————————————————————————————
MAKANAN JUMLAH KADAR (misal)
————————————————————————————
Subuh 2 Rakaat 200
Dzuhur 4 Rakaat 400
Ashar 4 Rakaat 400
Maghrib 3 Rakaat 300
Isya 4 Rakaat 400
————————————————————————————
Total 17 Rakaat 1700
————————————————————————————
Dalam sehari Allah mempersyaratkan minimal 1700 nilai (misal untuk
memudahkan deskripsi) bagi jiwa kita.
Namun ketika subuh kita sholat sambil mengantuk, mungkin nilainya hanya 50.
Dzuhur selagi masih banyak perkerjaan, nilainya mungkin 20. Ashar Sudah
hampir pulang bekerja, nilainya mungkin 40. Maghrib sudah sampai rumah
tapi masih capek, mungkin nilainya 60. Isya bisa konsentrasi dengan baik
mungkin nilainya 400.
Namun dalm sehari itu total yang dikonsumsikan oleh Jiwa hanya 570. Jauh
dari nilai minimal 1700. Dan selama puluhan tahun hidup tahun ini,
sepanjang hari kita kurang dalam memberikan konsumsi pada Jiwa.
Apa yang terjadi? Jiwa kita sakit. Nafsu muthmainnah sakit. Mungkin
sekarang ia lumpuh, buta, tuli, dan bisu, atau mungkin mati !
Itulah yang dikatakan Allah
Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan
yang benar), (QS. 2:18)
maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai
hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang
dengan itu mereka dapat mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu
yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS. 22:46)
Hati adalah tempat dari Nafsu Muthmainnah. Ketika Nafsu Muthmainnah yang
dominan terhadap hati, maka hati itu adalah si Nafsu Muthmainnah.
Kita tidak menyadari, bahwa dengan perjalanan hidup kita selama sekian
puluh tahun, dengan memberikan konsumsi makanan yang kurang terhadap
Jiwa kita dan membiarkan terdominasi oleh Hawa Nafsu dan Syahwat, Jiwa
(hati) kita menjadi lumpuh, buta, tuli, bisu, bahkan mungkin mati.
Jiwa (hati) kita menjadi sakit. Sehingga lupa terhadap perjanjian yang
pernah diucapkan pada Allah seperti dalam QS 7:172.
JIWA YANG SEHAT
Ada orang-orang yang berhasil dalam pelaksanaan agamanya, menghidupkan
dan menyehatkan kembali Jiwa (Nafsul Muthmainnah) nya.
Sehingga hatinya di dominasi oleh Nafsul Muthmainnahnya. Jiwa yang
sekarang ini abstrak/ghaib (tidak terindera) oleh kita, apabila telah
hidup, telah sehat, maka matanya akan melihat, telinganya akan
mendengar, mulutnya dapat berkata-kata.
Jiwa apa bila melihat maka ia akan melihat sesuai dengan dimensi
keghaibannya. Inilah yang dalam terminologi tasawuf dikatakan Mukasyafah.
Jadi bukanlah suatu hal yang aneh dikalangan para pejalan tasawuf yang
lurus, dapat melihat jin, malaikat, jiwa-jiwa manusia yang telah mati,
dan lain sebagainya yang menurut pandangan kita adalah sesuatu yang ghaib.
Karena sesungguhnya bukan mata inderawi (jasad) lah yang melihat tetapi
mata si Jiwa yang ada didalam dada.
Dan sehatnya Jiwa Muthmainnah inilah, salah satu paramater seorang telah
beriman dengan benar.

Puasa wajib dan sunnah

Puasa Wajib dan Sunah Beserta Dengan Penjelasannya
puasa wajib dan sunnah
Puasa wajib dan sunah | Ada beberapa macam puasa dalam agama islam , tetapi pasti diantara kita masih bingung perbedaan puasa wajib dan puasa sunah?selama ini kita cuma tahu puasa pasti di bulan ramadhan. Sebenarnya apakah ada puasa selain di bulan ramadhan ?
Pengertian puasa
Puasa dalam bahasa arab yaitu ash syiam yang artinya menahan .
Sedangkan menurut istilah menahan hawa nafsu atau menahan diri dari semua hal yang dapat membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan syarat – syarat tertentu . Puasa merupakan rukun islam yang ke 3.
Dalil naqli tentang perintah puasa terkandung di dalam Qs. Al- Baqoroh ayat 183 :
macam - macam puasa
Lafadz ( Yaayyuhalladzi na amanu kutiba ‘alaikumussyiamu kama kutiba ‘alalladzina minqoblikum la’allakum tattaqun )
Artinya
macam - macam puasa
Macam – macam puasa menurut hukumnya
Hukum puasa di bagi menjadi 2 , yaitu wajib dan sunnah
1.Macam – macam puasa wajib
yang termasuk di dalam puasa wajib yaitu :
adversitemens
a. puasa ramadhan
Puasa ramadhan yaitu puasa yang di laksanakan pada bulan ramadhan yang hukumnya wajib bagi seluruh umat muslim yang sudah memenuhui syarat wajib puasa .
b. Puasa Nadzar
Puasa wajib yang selanjutnya adalah puasa nadzar yaitu puasa yang di wajibkan sendiri oleh seseorang dengan janjinya.
c. Puasa qodlo
Puasa qodlo merupakan puasa yang dilakukan di luar bulan ramadhan untuk mengganti puasa ramadhan yang ditinggalkan karena suatu hal .
d. Puasa kafarah
Puasa kafarah juga merupakan puasa wajib. puasa kafarah yaitu puasa yang dilakukan untuk membayar atau mengganti sesuatu yang dilanggar .
2. Macam – macam puasa sunnat
Ada beberapa puasa yang hukumnya sunnat,diantaranya adalah :
a. Puasa senin dan kamis
Puasa senin dan kamis yaitu puasa yang di lakukan oleng seseorang pada hari senin dan kamis ,yang merupakan sunnah rosul.
Hadist tentang puasa senin dan kamis ,yang di riwayatkan oleh Tarmizi :”dari Aisyah r.a. bahwasannya Nabi muhammad saw memiliki waktu puasa hari senin dan kamis ” ( HR.Tarmizi )
b. Puasa syawal
Puasa syawal juga merupakan puasa sunnat, puasa sawal yaitu puasa yang dikerjakan selama 6 hari di bulan syawal. Hadist tentang puasa syawal :
“Rosululloh bersabda : Barang siapa yang berpuasa pada bulan ramadhan dan kemudian ia berpuasa 6 hari pada bulan syawal adalah seperti puasa satu tahun .”(HR.Muslim)
c. Puasa Arofah
Puasa Arofah yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 dzulhijjah ,sehari sebelum hari raya idul adha,dan dilakukan hanya oleh orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji
Syarat wajib dan sah serta rukun berpuasa
1.syarat wajib berpuasa
syarat wajib yaitu syarat yang harus ada pada diri seseorang yang akan berpuasa , jika sudah memenuhi syarat wajib puasa maka seseorang harus melaksanakan puasa.
yang termasuk kedalam syarat wajib berpuasa :
Beragama islam
Baligh atau dewasa
Memiliki akal sehat
Suci dari haid dan nifas
mumayyis / dapat membedakan baik dan buruk
Tidak dalam keadaan menjadi musafir (melakukan perjalanan jauh )
sanggup berpuasa
2.syarat sah berpuasa
syarat syah puasa yaitu syarat yang mempengaruhi sah atau tidaknya puasa yang di lakukan .
syarat sah puasa diantaranya :
islam sepanjang hari
suci dari haid dan nifas
Berpuasa pada waktu yang telah di tentukan ( bukan pada hari – hari yang di larang untuk berpuasa )
3.Rukun berpuasa
Rukun puasa yaitu sesuatu yang wajib di lakukan saat berpuasa .
yang termasuk dalam rukun puasa adalah :
Niat
Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa .
Hal – hal yang dapat membatalkan puasa
Niat untuk berbuka puasa sebelum waktunya
Makan , minum , dan melakukan hubungan badan dengan sengaja
Onani ( mengeluarkan mani denagn sengaja )
Muntah dengan sengaja )
Orang – Orang yang di perbolehkan untuk tidak berpuasa
Orang yang melakukan perjalanan jauh kurang lebih 84 km. Akan tetapi orang ini harus dan wajib membayar puasa di waktu lain atau mengqodo puasa yang ditinngalkan .
Orang yang sakit . Orang ini wajib mengganti di waktu lain sejumlah hari yang di tinggalkan .
Orang tua renta . Orang ini tidak wajib mengganti puasa dengan puasa di waktu lain akan tetapi harus membayar fidyah yaitu memberi fakir miskin makan sebanyak satu mud.
Ibu hamil / menyusui. Orang ini boleh tidak berpuasa , tetapi harus membayar fidyah atau mengganti dengan puasa diwaktu lain .
Demikian penjelasan mengenai puasa wajib dan puasa sunah. Semoga bermanfaat dan kita senantiasa selalu dapat mengerjakan segala perintah alloh yang merupakan kewajiban bagi kita dan juga mengerjakan sunnah – sunah rosul, yang akan menjadikan tambahan pahala buat kita . Semoga Alloh selalu melindungi kita . AMIN

*ADA 3 MATA YG TIDAK DIJILAT API NERAKA..*

*1. Setitik air mata ibu jatuh, kerana angkara anaknya, 10 kebajikan anaknya hilang, ibu-ibu jangan jatuh air mata dan anak jangan bagi ibu jatuh air matanya, biarlah Ibu menangis kerana anak berjaya dan bukan sedih kerana angkara anak.*
*2. Kalau balik tengah malam, buka lampu tengok dan tatap muka Ibu/bapa/anak, sebab wajah org tidur akan menampakkan segalanya.*
*ADA 3 MATA YG TIDAK DIJILAT API NERAKA..*
*» Melihat kaabah sehingga menitis air mata.*
*» Membaca Al-Qur’an sehingga menitis air mata.*
*» Memandang wajah Ibu yg sedang tidur/sedar hingga berlinangan air mata.*
*3. Org yg kita kena tengok dan selalu pandang dlm hidup, tengok masa tidur.*
*Ibu..*
*Suami/Isteri..*
*Anak anak..*
*1. Adalah menjadi satu dosa jika kita mengguna jari telunjuk utk menunjukkn sesuatu pada Ibu/bapa.*
*2. Barang siapa yg tidak mendoakn ibu/bapa selepas sembahyang buat ibu/bapa yg sudah meninggal maka dikira dia anak derhaka walaupun pada waktu ibu/bapanya hidup dia tak pernah menderhaka. Maksudnya jika ibu/bapa masih hidup atau telah tiada, selepas setiap solat kita mesti mendoakannya.*
*3. Doa org yg masih hidup makbul utk org yg hidup dn mati, jadi doaknlah Ibu/bapa kita yg telah tiada.*
*4. Ketika melalui kubur, prlahankn kenderaan (jika sdg menaiki kndraan) dn beri salam, mrka akan doakn kita “brkatilah si pulan ini” dn jika tak bagi salam, mrka akan kata “celakahlah org ini” jadi, jgan lupa bagi salam.*
*5. Tanda-tanda siksa Allah atas muka bumi ini antara lain simpan harta sampai mati tak pernah keluarkan zakat.*
*6. Sesiapa yang bersedekah selalu, takkan miskin org itu selamanya.*
*7. Jika ibu/ayah kita sudah meninggal dn semasa hayatnya kita ada peruntukkan wang utk dia, bila ibu/ayah kita dah takde teruskn memberi peruntukkn tu sebagai sedekah.*
*“Ya Allah, aku sedekahkan bagi pihak ibu/bapaku, semoga pahala sedekah ni sampai kpda ibu/bapaku”.*
*Itu yang buat ibu/bapa kita bahagia di sana.*
*8. Kalau kita susah nak brsedekah, bayangkn wajah Ibu/bapa kita baru kita ringan tangan nak ber-sedekah.*
*9. Allah panjangkn usia Ibu/bapa supaya mrka sakit dn nyanyuk utk beri syurga pda anak2nya, jagalah mrka dgan baik Insyallah, syurga balasanya, jadi klu tahu ibu/bapa sakit, berebut-lah menjaga ibu/bapa kita, besar sgat pahalanya.*
*10. Allah klu boleh tak nak kita masuk neraka jadi Allah takkn matikn seseorang dlm keadaan kotor dn brdosa jadi dia bagi kita sakit/malu/miskin utk mmbersihkn kita sebelum dia mengambil kita.*
*Oleh krna sahabat2 dlm group ni sya sayangi...*
*Dgan niat yg baik ikhlas kerna Allah same2 berdoa*
*"Yaa Allah, Ya Rahman, Ya Rahim.... Org Yg M'baca Ini Adalah Org Yg Baik & Setia, Kuat & Sabar‥*
*Sayangilah Mrka Serta Kasihilah Mrka‥*
*Tolong Bantu Tingkatkn Kehidupan Mrka‥*
*Permudahkn Rezeki Mrka..*
*Sihatkn Tubuh Badan Mrka..*
*Permudahknlah Langkah Mrka‥*
*Berikn Kebahagiaan Pda Mrka..*
*Ampunkn Dosa Dosa Mrka..*
*Aaminn…*
*Kirimkn pada ahli keluarga mu semoga mereka juga akan Mendoaknmu…*
*Wassalam...*

TITIAN HIDUP


Malam semakin suram bersama denyutan nafas
Penghuni dunia sedang tidur lena
Merasa aman dan selesa didakap mimpi
Kedinginan udara pagi begitu menusuk kalbu

Terleka sungguh penghuni dunia dibuai mimpi
Seolah-olah masa maseh lagi panjang
Lembutnya tilam diranjang bersulam
Membawa siapa pun yang tidur pasti terlena
Entah bila mereka akan tersedar dari anganan
Khabar telah sampai menyusun jari jemari
Namun dipandang sepi tiada peduli
Bangkitlah bertahajud bersama mencari redha
Wahai penghuni malam yang lena tidur
Adakah kamu sedar atau sengaja berkhayal
Masa untuk mengatur langkah perjalanan
Amat terlalu singkat dan waktunya amat terhad
Panggilan agung telah berkumandang
Memecah benteng wujud mu agar kamu tahu
Kita adalah seorang musafir yang hanya...
Menumpang lalu untuk sementara cuma
Laluilah titian yang tersedia untuk dirimu
Tajamnya ibarat rambut dibelah tujuh
Perhatikanlah dengan mata hati mu itu
Agar setiap langkahan mu tiada tersasar
Ingatlah kepada pesanan guru mu dahulu
Segala yang kamu lalui itu hanyalah mimpi
Keluarlah dari mimpi mu kepada dunia nyata
Kembalilah kepada Allah Yang Esa....!

Agar ibadah diterima di sisi Allah, haruslah terpenuhi dua syarat, yaitu:
*1). Ikhlas karena Allah.*
*2). Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’).*
Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, maka amalan ibadah menjadi tertolak.
Berikut kami sampaikan bukti-buktinya dari Al Qur’an, As Sunnah, dan Perkataan Sahabat.

*Dalil Al Qur’an*
Dalil dari dua syarat di atas disebutkan sekaligus dalam firman Allah Ta’ala,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
_“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.”_
(QS. Al Kahfi: 110)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,
_“Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”,_ maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan _“Janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”,_ maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205, Muassasah Qurthubah.)
Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Allah,
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
_“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”_
(QS. Al Mulk: 2)
Beliau mengatakan, _“Yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”_
Lalu Al Fudhail berkata, _“Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”_
(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab Al Hambali, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H.)
*Dalil dari Al Hadits*
Dua syarat diterimanya amalan ditunjukkan dalam dua hadits. Hadits pertama dari ‘Umar bin Al Khottob, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
_“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita)”._
(HR. Bukhari no. 6689 dan Muslim no. 1907.)
Hadits kedua dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
_“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”_
(HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718.)
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
_“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”_
(HR. Muslim no. 1718.)
Dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, _“Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir). Sebagaimana hadits ‘innamal a’malu bin niyat’ [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.”_
(Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 77.)
Di kitab yang sama, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,
“Suatu amalan tidak akan sempurna (tidak akan diterima) kecuali terpenuhi dua hal:
Amalan tersebut secara lahiriyah (zhohir) mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini terdapat dalam hadits ‘Aisyah ‘Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.’ Amalan tersebut secara batininiyah diniatkan ikhlas mengharapkan wajah Allah. Hal ini terdapat dalam hadits ‘Umar ‘Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat’.”
(Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 20.)
*Perkataan Sahabat*
Para sahabat pun memiliki pemahaman bahwa ibadah semata-mata bukan hanya dengan niat ikhlas, namun juga harus ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai dalilnya, kami akan bawakan dua atsar dari sahabat.
*Pertama:*
- Perkataan ‘Abdullah bin ‘Umar.
Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
_“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”_
(Diriwayatkan oleh Ibnu Battoh dalam Al Ibanah ‘an Ushulid Diyanah, 2/212/2 dan Al Lalika’i dalam As Sunnah (1/21/1) secara mauquf (sampai pada sahabat) dengan sanad yang shahih. Lihat Ahkamul Janaiz wa Bida’uha, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 285, Maktabah Al Ma’arif, cetakan pertama, tahun 1412 H.)
*Kedua:*
- Kisah ‘Abdullah bin Mas’ud.
Terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,
فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.
_“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?”_
قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
Mereka menjawab,
_”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”_
Ibnu Mas’ud berkata, _“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.”_
(HR. Ad Darimi no. 204 (1/79). Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayyid. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah (5/11) mengatakan bahwa hadits ini shahih.)
Lihatlah kedua sahabat ini (yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud) meyakini bahwa niat baik semata-mata tidak cukup. Namun ibadah bisa diterima di sisi Allah juga harus mencocoki teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa ibadah baik itu shalat, puasa, dan dzikir semuanya haruslah memenuhi dua syarat diterimanya ibadah yaitu ikhlas dan mencocoki petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sehingga tidaklah tepat perkataan sebagian orang ketika dikritik mengenai ibadah atau amalan yang ia lakukan, lantas ia mengatakan, “Menurut saya, segala sesuatu itu kembali pada niatnya masing-masing”.
Ingatlah, tidak cukup seseorang melakukan ibadah dengan dasar karena niat baik, tetapi dia juga harus melakukan ibadah dengan mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kaedah yang benar _“Niat baik semata belum cukup.”_
*Sebab-sebab Munculnya Amalan Tanpa Tuntunan*
*Pertama:*
Tidak memahami dalil dengan benar.
*Kedua:*
Tidak mengetahui tujuan syari’at.
*Ketiga:*
Menganggap suatu amalan baik dengan akal semata.
*Keempat:*
Mengikuti hawa nafsu semata ketika beramal.
*Kelima:*
Berbicara tentang agama tanpa ilmu dan dalil.
*Keenam:*
Tidak mengetahui manakah hadits shahih dan dho’if (lemah), mana yang bisa diterima dan tidak.
*Ketujuh:*
Mengikuti ayat-ayat dan hadits yang masih samar.
*Kedelapan:*
Memutuskan hukum dari suatu amalan dengan cara yang keliru, tanpa petunjuk dari syari’at.
*Kesembilan:*
Bersikap ghuluw (ekstrim) terhadap person tertentu. Jadi apapun yang dikatakan panutannya (selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), ia pun ikuti walaupun itu keliru dan menyelisih dalil.
(Disarikan dari Al Bida’ Al Hauliyah, ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz bin Ahmad At Tuwaijiri, hal. 37-68, Darul Fadhilah, cetakan pertama, 1421 H.)
Inilah di antara sebab munculnya berbagai macam amalan tanpa tuntunan (bid’ah) di sekitar kita.
_Wallahhu A'lam_