Laman

Minggu, 26 Agustus 2018

MANUSIA SEAKAN PALING PAHAM

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

 MANUSIA SEAKAN PALING PAHAM, PADAHAL TIADA PENGETAHUAN SELAIN YG TELAH ALLOH AJARKAN

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيم
Maha suci Engkau ! Tidak ada pengetahuan bagi kami, kecuali yang Engkau ajarkan kepada kami. Karena sesungguhnya Engkaulah yang Maha Tahu lagi Maha Bijaksana.(QS Al-Baqarah 32)
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)

"Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR Muslim 11)

Salah satu pelopor tasawuf dari kalangan Tabi’in adalah al Hasan al-Basri ra (Madinah,21H/642M – Basrah,110 H/728M) berkata, ”Barangsiapa yang memakai tasawuf karena tawaduk (kepatuhan) kepada Allah akan ditambah Allah cahaya dalam diri dan Hatinya, dan barang siapa yang memakai tasawuf karena kesombongan kepadanya akan dicampakkan kedalam neraka”

Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa.

 Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

Imam Nawawi ~rahimahullah berkata : “Pokok-pokok metode ajaran tasawuf ada lima :
 Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawuf halaman : 20, Imam Nawawi)

BERSYUKURLAH

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
BANYAK BERSYUKURLAH, SETINGGI APAPUN IBADAH DAN MA'RIFAT HAMBA TAK AKAN MAMPU MENEBUS NIKMAT ALLOH..
Firman Alloh ta'ala :
Al-Baqarah Ayat 152
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."
Rasulullah SAW bersabda : “Tidak seorang pun di antara kalian yang bisa masuk surga dengan semata-mata mengandalkan amal ibadah”.
Sahabat bertanya : “Apakah juga engkau ya Rasulullah?”
Rasulullah menjawab : “Ya, saya sendiri juga tidak bisa masuk surga melalui amal ibadah semata, kecuali jika Allah memberiku rahmatNya”.
Suatu ketika Rasulullah SAW memanggil sahabat Jabir. Wahai Jabir! Ketahuilah, baru saja datang kepadaku Malaikat Jibril, menceritakan : Dulu, pada masa Bani Israil, ada seorang hamba yang hidup selama 500 tahun. Ditengah pulau, di atas bukit. Segala kebutuhan hidupnya dicukupi oleh Allah. Hidupnya selama 500 tahun itu hanya untuk beribadah kepada Allah, tanpa sedikitpun berbuat dosa. Hamba ini bermunajad : ”Ya Allah, kiranya Engkau mengakhiri kehidupanku ini, maka aku mohon, hendaklah Engkau mencabut nyawaku dalam keadaan sujud kepadaMu”. Permohonan ini dikabulkan oleh Allah, sehingga dia meninggal dalam keadaan sujud.
Ketika aku Mi’roj, Allah memperlihatkan kepadaku hamba tadi seakan-akan berada di hadapan Allah pada hari Hisab. Ketika itu Allah memanggil malaikat : “Wahai malaikat! Masukkan hambaKu ini ke dalam surga”.
Malaikat melaksanakan seraya bertanya : “Ya Allah, hamba ini masuk ke dalam surga, apa yang diandalkan?
“Masukkan ke dalam surga karena mendapatkan rahmatKu” : Allah menerangkan.
Mendengar itu, hamba ini protes : “Saya telah beribadah selama lima ratus tahun, tiap hari saya sujud dan sujud hanya berdzikir kepadaMu. Saya hanya beramal ibadah tanpa sedikitpun berbuat dosa, tetapi kenapa Engkau menyatakan aku masuk surga karena rahmatMu ya Allah? Lalu mana prestasi amal ibadahku selama 500 tahun itu ya Allah?
Mendengar protes itu lalu Allah menyuruh malaikat untuk mengumpulkan amal ibadah hamba ini di dunia selama 500 tahun. “Lalu perlihatkan satu saja nikmat yang Aku berikan, yakni nikmat penglihatan (mata). Timbang amalan hamba ini selama 500 tahun, dengan besar nikmat penglihatan yang Aku berikan yang telah ia nikmati selama 500 tahun”.
Maka disaksikan sendiri oleh hamba itu, ternyata amal 500 tahun yang ia lakukan belum mampu mengimbangi beratnya satu nikmat yang diberikan oleh Allah yakni nikmat penglihatan.
Allah berseru : Hai manusia! Sekarang engkau menyaksikan, ternyata amal ibadahmu jika ditimbang dengan nikmat yang Aku berikan kepadamu, satu nikmat saja belum cukup, belum nikmatnikmat yang lain. Berarti kamu belum mampu mempertanggungjawabkan nikmat yang Aku berikan kepadamu.
Berarti pula kamu tidak layak untuk masuk surga”.
Menangislah hamba Allah ini, mengakui akan kelemahannya, seraya berucap : “Ya Allah, ternyata aku betul-betul menyaksikan sesungguhnya amal ibadah yang aku lakukan, belum sebanding dengan nikmat yang Engkau berikan”.
Dalam kesempatan yang lain Rasulullah SAW pernah diprotes oleh Aisyah : “Ya Rasulullah, kenapa engkau setiap malam melakukan shalat malam, bersujud di hadapan Allah,menangis di hadapan Allah, Apakah yang kurang yang diberikan oleh Allah, saya yakin, engkaulah yang pertama kali, akan dijatah masuk surga, sebelum surga dibuka untuk yang lainnya. Engkau selalu dijamin dan dijaga dari perbuatan dosa. Seandainya engkau takut neraka, Allah pun akan menutup rapat-rapat neraka itu dari pandangan engkau. Dan seandainya engkau menginginkan kekayaan di dunia, maka apapun kekayaan yang engkau inginkan, akan diberikan oleh Allah. Tetapi kenapa engkau melakukan ini setiap malam, hingga kedua kaki engkau bengkak?
Rasulullah menjawab : “Wahai Aisyah, isteriku, ketahuilah, aku melakukan ini semua, bukan karena takut neraka, bukan karena ingin surga, juga bukan karena ingin kekayaan, tetapi aku ingin dicatat oleh Allah, sebagai hambaNya yang bersyukur. Sebab apapun yang aku lakukan, belum sebanding dengan apa yang diberikan Allah kepadaku”.

Minggu, 19 Agustus 2018

Kesaksian = bukti

Sebelum engkau manusia mengeluarkan ilmunya utk mewujudkan kesaksian yaitu menampilkan bukti kekuasaan Allah , baik secara kunfayakun lafal atau ujug ujug atau anugerah yg tdk disangka sangka , dalam waktu kepepet atau tidak maka Kesaksian manusia harus ditampilkan dahulu.
Harus manusia lakukan sbg buktinya dahulu.
Itulah kesaksian diri bukan kesaksian orang laen , ini namanya pengalaman perjalanan pribadi , semakin matang dan mantab dg Allah sbg pemberi amanah.
Dan bukan karena tawasul atau pelantara baik itu pertolongan yg di pelantara makhluk apapun. Ini Tauhid suci hakiki.
========
Alhamdulillah saya bisa berbagi , dan berbagi saya ini anugerah dan Allah yg ngasih anugerah ini. Saya redho dan senang dg semua yg baca. Bismillah.
========
Bukti kalau berkekalannya manusia selalu bersama Allah yg sempurna adalah seluruh inderanya dalam pengalaman perjalanan setiap saat itu bergelombang selalu kekal dg Allah.
Maksudnya ketika ada letupan dari pancaran yg diterima inderanya maka kesadaran ingat dan lafal bathin serta mulutnya bisa menucap Allah.
Maksudnya reflek mengucap Allah mulutnya / hatinya.
Contoh :
Telinga ; mendengar dentuman , mendengar keindahan , mendengar azan dll maka langsung kontak dirinya mengucap Allah dalam lafal mulut atau hatinya saja yg mengucap / rasa eling.
Mata ; melihat yg indah , seding , terpana atau fenomena-2.
Rasa Bau ; yg wangi / busuk / masakan padang.
Rasa Kecap ; enak , manis , pedas , pahit.
Rasa raba ; dingin , panas , merinding.
Dan sesuatu yg menyentuh perasaan.
Semua itu terangkai di akal dan otak.
==========
Dikatakan iman itu bisa naik turun ketika rasa pembuktian itu masih dalam perjalan.
Dikatakan setabil ketika dirinya telah mampu mewujudkan kesaksian yaitu bukti bahwa Allah telah memberikan kesaksian.
Rasa yg ada didalan diri atas pemberian Allah berupa yakin itulah modal utk mewujudkan kesaksian itu.
Jika masih ada keraguan berarti perjalanan Anda masih ada yg kurang atau masih belum saatnya.
Tanyalah kpd diri Anda???
Pasti dia akan jawab. Krn itu jawaban Allah dan siap-2 lah mendapat perintah.
Jika belum bersyukurlah dg pencapaian yg telah diusahakan. Hal itulah yg akan menyamakan kedududkan dg yg tinggi derajat Ruhaninya.
=========
Ingat lah bahwa jalan yg lurus itu suci dan ikhlas utk Allah jangan berpaling dg makhluk = nafsu dan kesenangan dunia.
Jangan suka kawin , harta , tahta , popularitas.
=========
Alhamdulillah , Semoga kita semua diberi Allah kekuatan dan rasa bersyukur. Terima kasih.

Minggu, 29 Juli 2018

Niat itu karena Allah, bukan yg "lain"


>MALU BERINFAQ KARENA TAKUT DIKIRA PAMER?
Malu itu bisa jajan di cafe tapi infaq cuma Rp1000
Parkir aja sekarang seribu, masa parkir hidup di dunia juga seribu???
Udah gitu, pilih uang seribuan yg paling lecek pula hadeeehhhh -___-"

>MALU BERINFAQ KARENA TAKUT DIKIRA PAMER?

Pamer itu infaq 50/100rb tapi cuma sekali seumur hidup.
Abis itu ga pernah infaq lg sampe tahun depan. hadeeehhh -___-"
Lebih baik sedikit tapi rutin..
Lebih baik lagi klo bisa rutin dan banyak..

>GAJI BULANAN SAYA PAS-PASAN, NANTI KALAU TIDAK CUKUP BUAT KEBUTUHAN LAIN GIMANA??

Namanya jg Manusia, tak pernah merasa cukup. Tolong belanjakan harta Anda dengan bijak. Bedakan mana KEBUTUHAN mana KEINGINAN.
Apa saja yg membuatmu ragu untuk berinfaq/sedekah itu datangnya dari Setan. Di Al-Quran sudah dijamin jika Anda berinfaq/sedekah tidak akan membuat Anda kehilangan harta malah akan dilipatgandakan.

>BUKANKAH TANGAN KANAN MEMBERI TANGAN KIRI TAK MELIHAT?

BENAR, karena memang tangan ga punya mata, hahaha..
Al-Quran pun menajawab: 
"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara sembunyi-sembunyi dan TERANG-TERANGAN, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqoroh 274)
Perbanyak infaq/sedekah sembunyi-sembunyi, Dan tak perlu ragu infaq/sedekah diliat orang.

Semoga bermanfaat

Memaknai kata "Sunnah"

Kebanyakan kita mengartikan sunnah dengan makna sesuatu yg tidak wajib, Tidak wajib berarti tidak harus dilakukan. Dan pada akhirnya adalah menyepelekan sunnah. Padahal di dalam sunnah terdapat anjuran, cara, kebiasaan, atau sesuatu yg dapat menunjukkan kita ke jalan yang positif dan menghindarkan kita dari hal yg negatif. Di dalam sunnah juga ada ajakan yang mempunyai makna wajib. Tapi kebanyakan kita menganggapnya semua sama.

Kita contohkan dengan hal yg umum di luar pembahasan sunnah misalkan adanya ajuran atau moto hidup seperti ini:

"Hidup sehat dengan cara makan makanan bergizi, olahrga teratur, dan tidur cukup"
Jelas bahwa bila kita ingin hidup sehat maka lakukan hal tersebut. Tapi pada kenyataannya kebanyakan orang tidak mengindahkan ajuran tersebut. Mengapa demikian? tanyakan pada diri masing-masing..

Kembali ke pembahasan sunnah, perlu kita garis bawahi bahwa sunnah itu semata-mata berasal dari Rasulullah SAW baik yang dicontohkan secara langsung maupun dari pengamatan orang-orang di sekitar Beliau. BUKAN buatan Ustad-ustad terdahulu apalagi kebiasaan para leluhur kita. Belum tentu apa yg diajarkan para Ustad / leluhur sesuai dengan apa yg ditutunkan oleh Rasulullah SAW. Kita WAJIB menuntut ilmu tidak hanya pada 1 Ustad tapi belajarlah dari Ustad-Ustad lain. Jangan sampai kita terjebak dengan kebiasaan yg diajarkan para Ustad / leluhur namun bertentangan dengan tuntunan Rosul.

Sunnah ada 3 yaitu:

  1. Sunnah Sirah: Penampilan Rasulullah, dari fisik sampai cara berpakaian.
  2. Sunnah Surah: Aktivitas Rasulullah, dari bangun sampai tidur lagi termasuk sholat, kehidupan sosial, dan tata cara yang telah dicontohkan.
  3. Sunnah Sarirah: Spiritual Rasulullah, perasaan sedih, risau terhadap kemerosotan moral ummat, benci terhadap kemungkaran dan kemaksiatan, dll.

Ada yg bertanya seperti ini:

"Terus kalau tidak susuai sunnah Rosul bagaimana? Bid'ah donk? kita naik motor Bid'ah donk kan di jaman Rosul tidak ada motor adanya onta? facebook-an juga bid'ah donk?"

Saya cuma senyum-senyum aja ditanyain seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa Bid'ah itu penyimpangan yg berkaitan dengan ajaran agama atau kaitannya dengan ibadah kepada Allah. Tidak ada toleransi sedikit pun untuk menambah-nambahi atau mengurang-ngurangi ajaran agama yang dituntunkan oleh Rosul. Semua sudah jelas, semua sudah ada tuntunannya. Bacaan sholat sudah diajarkan Rosul dengan bahasa Arab, bukan berarti kita boleh mengubah "Sakarep e dewe" dengan bahasa Indonesia. Tidak hanya sholat, termasuk doa, dzikir, puasa, dan apa saja yg berhubungan dengan ibadah kepada Allah, semua sudah dituntunkan oleh Rosul.

“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am: 153)

Silahkan gosok gigi dengan odol dan sikat gigi..
Silahkan berkendara dengan motor atau mobil..
Silahkan gunakan facebook dengan bermanfaat..
Apa yang kita lakukan yang tidak berhubungan dengan Ibadah kepada Allah itu BUKAN Bid'ah. Selama tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah silahkan lakukan hal sesuka hati Anda. Tapi perlu ditinjau kembali apa yg kita lakukan itu banyak manfaatnya bukan mudhorotnya bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga orang lain. Jangan sampai kita mendapat manfaat namun orang lain mendapat mudhorotnya. Waallahu a'lam

Merutinkan Membaca Doa ini:

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
"Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.”
(HR. Muslim no. 2721)

Artinya:
Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.

Ada 4 Keutamaan di dalamnya:
  1. Meminta al-Huda / Petunjuk, hidayah tidak hanya diberikan kepada mualaf saja namun hidayah jg diturunkan kepada kita untuk semakin memantapkan keimanan. Jangan sampai kita meninggal pada saat melakukan maksiat karena kita lupa meminta untuk berdoa memohon hidayah kedapa Allah.
  2. Meminta at-Tuqo / Ketaqwaan, dengan meminta ketaqwaan kita berharap selalu dilindungi Allah dari perbuatan yang menjerumuskan ke neraka dan selalu mendekatkan dengan surga-Nya.
  3. Meminta 'Afaf / agar dijauhkan dari hal-hal yang diharamkan semacam zina. Termasuk zina mata, pikiran, dan alat indera yang lain. Zina seperti ini yang kadang banyak kita temui namun kita tidak sadar telah berzina dengan alat indera kita. Astaghfirullah.
  4. Meminta al-Ghina / dicukupkan oleh Allah dari apa yang ada di sisi manusia dengan selalu qona’ah, selalu merasa cukup ketika Allah memberinya harta sedikit atau pun banyak. Dengan kata lain selalu bersyukur dengan apa yg diberikan Allah dan berlatih hidup sederhana tidak bernafsu menginginkan harta/benda yg bersifat fana.
Selain doa sapu jagad (yaitu do’a: Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar) Doa ini juga dituntunkan oleh Rosulullah SAW. Oleh karena itu perbanyaklah do'a ini dan merutinkannya kapan saja. Bukti keseriusan seorang hamba pada doa yang ia panjatkan dengan harapan dikabulkan oleh Allah adalah dengan mengulang doa hingga 3x. InsyaAllah dengan membaca doa secara rutin, Allah akan mengabulkan doa kita, Aamiin..

Allah Maha Medengar
Allah Maha Mengetahui

Selasa, 29 Mei 2018

"Siapa yang pernah mandikan jenazah?"


"Siapa yang pernah bercita-cita ingin menguruskan jenazah ibu bapanya jika mereka meninggal dunia?"
Bagaimana yang meninggal itu kaum kerabat kita? Tiada siapa yang lebih afdal untuk menguruskan mereka, kalau bukan kita sebagai waris. Jangan gementar dan takut. Apa yang penting, kita mesti tahu apa yang perlu dilakukan apabila berhadapan dengan jenazah. Antaranya:
1. SETELAH MENINGGAL DUNIA
- Tutup matanya.
- Lembutkan sendi-sendinya.
- Ikat dagunya ke kepala supaya mulutnya tertutup.
- Baringkan ke arah kiblat.
- Tanggalkan pakaian yang dipakainya.
- Tutup keseluruhan tubuhnya dengan kain.
- Letakkan pemberat di atas perutnya.
2. SEBELUM MANDI
Sediakan peralatan mandi jenazah:
- Tempat mandi.
- Air mutlak.
- Air daun bidara.
- Kapas.
- Putik kapas.
- Sabun.
- Air Mawar.
- Minyak atar.
- Serbuk cendana.
- Kapur barus.
- Sarung tangan.
- Getah paip/ bekas menjirus air.
3. KETIKA MANDI
- Keluarkan kotoran daripada perut dengan menekan perutnya.
- Bersihkan sisa kotoran di mulut, hidung, telinga dan celah kukunya.
- Istinjakkan jenazah dengan air mutlak.
- Basuh seluruh anggotanya dengan sabun termasuklah rambut, belakang badan, jari tangan, ketiak dan pelipat lengan.
- Bilas dan niat memandikan jenazah.
- Tutupi jenazah dengan kain nipis dan jiruskan air kapur barus di atsnya.
- Wudukkan jenazah.
4. KETIKA KAFAN
- Ukur ketinggian jenazah.
- Potong kain kafan kepada tiga bahagian dan hamparkan.
- Hamparkan kapas gulung di atasnya dan taburkan serbuk cendana.
- Baringkan jenazah di atasnya.
- Tutupi kemaluan, siku tangan, dada, telinga dan kepala jenazah dengan kapas.
- Selimutkan jenazah dengan kain kafan dengan kemas serta ikat dengan tali kain dengan sempurna.
- Renjiskan air mawar dan sapukan minyak attar di atasnya.
5. SOLAT JENAZAH
- Niat.
- Takbir pertama - baca al-Fatihah.
- Takbir kedua - selawat.
- Takbir ketiga - doakan jenazah.
- Takbir keempat - beri salam.
6. PENGEBUMIAN JENAZAH
- Gali kubur secara melintang ke arah kiblat.
- Baringkan jenazah di atas lambung kanannya menghadap kiblat.
- Tutup liang lahad dengan papan dan kambus semula dengan tanah.
Hidup ini sementara. Kaya mana pun, kain kafan akan jadi pakaian diri. Kuat mana pun, kita tiada daya lagi untuk mengurus diri.
Jadi tiada apa yang perlu dibangga dan disombongkan. Berbaik-baiklah dengan orang di sekeliling, kelak merekalah yang akan mengurus jenazah kita!
Sumber: Majalah Gen-Q, Isu 40.