Laman

Minggu, 12 Juli 2020

MAKNA HAKIKAT DZAT

.
كوتيفن داري :
جعفر الدين الجيلان الصدق
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
*******
Alhamdulillah...
Mari kita bersama- sama selalu membiasakan memuji الله, dalam saat apapun. Sebagai bukti kita bersyukur atas Ni'mat yang telah diberikan-Nya
Yaitu :
Ni'mat rasa kemanusaan.
Disini Saya akan melanjutkan tentang pengertian Apa yang disebut dengan Dzat itu...
Mari kita bersama-sama memahaminya.
*******
Saudara-saudariku sekalian yang saya hormati .......
Untuk mempermudahkan pemahaman tentang Dzat.
Kita ambil contoh saja sebatang kapur tulis.
Begini :
" Coba kalian ambil satu batang kapur tulis.
Dan lihatlah warna kapurnya kapur tulis itu.
Maka yang sebenar kalian pegang itu, dan kalian lihat itu, bukanlah Dzat kapur sesungguhnya.
Melainkan masih bersifat kapur tulis saja."
" Ingatlah baik-baik !!"
" Setiap yang kalian lihat itu, baik diraba, disebut. Maka semua itu adalah :
" SIFAT "
Bukan disebut :
" DZAT "
" Yang mana disebut Dzat kapur tulis itu ????"
" Seperti apakah Dzat kapur tulis itu ???"
*******
Nah .....
" Jika kalian semua ingin mengetahui dzat kapur tulis itu, mau tidak mau .... Kalian haruslah menyisihkan semua bentuk yang namanya sifat yang menempel pada Kapur tulis itu."
Caranya bagaimana ???"
" Kikislah kapur tulis itu sehingga tidak ada lagi yang bersifat menempel pada kapur tulis tersebut sampai tiada sisanya.
Terus saja Anda kikis kapur itu, sampai tidak terlihat sifat warna putihnya.
Teruuuuuuus dan terus saja dikikis sampai habis.
Terus dan terus. ...
Sampai tidak ada sifat kapur lagi yang dapat dipegang.
Terus... Terus... Kikis hingga tidak bisa disebut-sebut lagi.
****
Nah...
Jadi... jika sudah habis Anda kikiskan kapur tulis tadi tiada tersisa sebatang kapurpun, baik yang warna putih kapurnya ....
Maka :
itulah yang disebut dengan dzat kapur tulis tadi yang sebenarnya.
" Seperti apakah bentuk Dzat kapur yang sebenarnya itu ???"
"Apakah bisa kita lihat atau tidak, ataupun bisa disebut ???"
******
Jawabannya saudara-saudariku sekalian ialah :
Jika masih ada sifat kapurnya lagi yang masih bisa Anda lihat, dipegang, diraba, dan disebut, maka berarti pencarian Anda itu belumlah sampai ke- Dzat kapur aslinya.
Inilah yang dimaksud didalam Al- Qur'an sebagai :
ليس كمثله شي
LAISYA KAMISLIHI
SYAI-UN
Inilah arti dari tujuan mencari Tuhan, yang jelas- jelas Tuhan itu tiada seumpama.
Ini baru Dzat kapur namanya.
Yang jelas makhluq الله juga.
" Bagaimana lagi dengan Dzat- الله ???"
.
Sudah pastinya lebih dari :
ليس كمثله شي
LAISYA KAMISLIHI
SYAI-UN
الله اكبر...
Allaahu Akbar ...
******
Ini baru Dzat الله.
Sedangkan الله itu bukan berupa Dzat.
Karena الله itu adalah :
" RABBUL 'IZZATI "
Tuhan semesta Dzat.
Bagaimana pula diri pribadi-Nya.
Yang pastinya ialah :
Lebih dari :
LAISYA KAMISLIH
SYAI-UN
******
Begitupun dengan kita.
Bila ingin mengetahui diri kita sendiri. Maka coba kikiskan, tentu nampak otot.
Kikis lagi otot, tentu nampak tulang kita.
Kikis lagi tulang, jelas tampak sumsum.
Kikis Sumsum lagi maka :
Yang kelihatannya apa ?
*****
Nah...
Seperti itulah bentuk hakikat diri kita ini, yang tak bisa dipegang, diraba, disebut.
Bukti zat sepatu saja, sama dengan zat segala makhluq dialam semesta.
Jadi kita sama sepatu, kapur tulis itu adalah :
" Satu Dzat "
Allah Taala berfirman :
" Bukankah telah datang kepada manusia, satu waktu dari masa?
Sedangkan ia saat belum merupakan sesuatu yang bisa disebut "
(QS. Al- Insaan : 1 ).
*****
Ketahuilah saudara-saudariku .....
Hal keadaan Dzat itu meliputi sekalian alam.
Tidak mengambil tempat. Kekal hingga hari Qiamat. Maha Suci.
Bersih dari segala sesuatu yang menempel.
.
Itu sebabnya Al- Qur'an menjelaskan bahwa :
" Allah telah men-sifati Diri-Nya sebagai Maha meliputi.
Karena ada yang Maha meliputi.
Tapi bukan Tuhan.
.
Juga الله -pun men-sifati Diri-Nya dengan Maha Besar.
Karena ada yang Maha besar.
Tapi bukan Tuhan yakni :
" Dzat-Nya "
Saudara-saudariku sekalian yang saya hormati .....
Sesungguhnya ......
Sifat Esa berdiri pada Dzat.
Dzat Esa dengan Tuhan.
" Rabbul 'Izzati "
Dzat itu banyak variasi sebutannya dalam Al- Qur'an diantaranya yakni :
" NUR MUHAMMAD "
( Ruh Maha Suci )
Sedangkan didalam Ilmu Kalam disebut :
"KOSONG "
(Tubuh kosong)
Maha Ruang
Tubuh Maha Ruang :
Tubuh alam semesta.
Dan sebagainya......
Adakalanya Jasad kita di-ibaratkan :Air yang beku.
******
APA GUNANYA BELAJAR TAUHID UNTUK MENJALANI KEHIDUPAN SEHARI- HARI ?
Nah...
Jika kalian sudah faham tentang Dzat, pasti kalian tidak ragu lagi.
Bahwa dzat kita ini, satu dzat dengan dzat pohon, dzat batu, dzat meja, dzat tanah, air, api, langit dan bumi, dzat syurga dan neraka.
Semua itu satu Dzat dari sumber yang sama.
Yang membedakan ;
Adalah :
Kita manusia beda sifat yang menempel pada dzat masing- masing.
Pemahaman ini pernah Abi jelaskan mengenai Martabat tujuh terdahulu.
.
" Beruntunglah kita ini dimanusiakan الله....
Tapi bukan dibinatangkan, bukan di batukan ....
Dan lain-lain.
******
Jika kalian dah faham tentang pengertian dua unsur ini yakni :
" Sifat & Dzat "
Insya Allah...
Kalian akan memahami perkataan ini :
Muhammad Tubuh-ku
Nur Nyawa-ku
Tuhan Tubuh-ku.
يا بدهن
Jika kalian dah memahami tentang Dzat dan Sifat ini.
Insya Allah...
Kalian juga akan memahami bahwa :
" Antara Dzat dan Sifat itu
Adalah :
" ESA "
Tiada bercerai...
Tiada bersekutu...
Tidak bisa dipisahkan...
Inilah pundasi dasar Tauhid untuk memahami ke- Esa-an الله dan Hamba.
Semoga ilmu ini menambahkan pengetahuan Anda semua dan memantapkan keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berdiri dengan Sendiriya dalam ke-Esaan- Nya, tidak menyatu setiap makhluq-Nya.
Dan Tuhan sudah jelas Esa pada ke-Esaan-Nya dan tidak perlu di Esakan.
Karena sudah nyata Esa-Nya.
Yang harus di-esakan adalah diri kita sendiri kepada ke- Esaan-Nya yang Mutlaq.
امين اللهم امين .......
فنوليس ✍️ :
جعفر الدين الجيلان الصدق

Minggu, 28 Juni 2020

Sholawat Ibrahimiyah

Tentang shalawat yang paling disarankan, disebutkan dalam kitab Fala’ul Afham karya Ibn Qayyim Aljauziyah. Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amru Al Anshari Al Badri, ia mengatakan, ”Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam datang pada saat kami berada di majelis Saad bin Ubadah, Basyir bin Sa’ad bertanya pada beliau, ”Allah telah memerintahkan kami bershalawat untuk Anda, lalu bagaimana cara kami bershalawat untuk Anda?’
Beliau menjawab: ”Ucapkanlah, ‘Yaa Allah, limpahkan shalawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, seperti Engkau menampaklimpahkan shalawat-Mu untuk  keluarga Ibrahim, dan limpahkan berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad seperti Engkau melimpahkan berkah untuk keluarga Ibrahim.’ Sedangkan ucapan salam seperti yang telah kalian ketahui.”
Shalawat ini terkenal dengan nama Shalawat Ibrahimiyah. Lafazh-nya adalah: “Allahumma shalli ala Muhammadin wa ‘ala ala’ Muhammad, kama shallayta ‘ala ali Ibrahim wa barik ‘ala Muhammadin wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala Ibrahim. Fil alamina innaka hamidun majid.”
Dalam tasyahud akhir, Imam Asy-Syafi’i ra, menganggap shalawat Nabi saw sebagai salah satu dari rukun salat. Beliau biasa memakai shalawat seperti berikut ini.
“Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa’ala ali Sayyidina Muhammad, kama shallayta ‘ala Sayyidina Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad, kama barakta ‘ala Sayyidina Ibrahim wa ‘ala ali Sayyidina Ibrahim. Fil amina Innaka Hammidun-Majid.

Artinya: “Ya Allah SWT, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami. Muhammad, dan kepada keluargajunjungan kami, Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada junjungan kami Ibrahim, dan keluarga Ibrahim, berkatilah pula junjungan kami Muhammad, dan keluarga junjungan kami Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati junjungan kami Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.”
Tambahan lafal ‘sayyidina’ boleh jadi sebagai adab dari beliau, atau mungkin pula mengikuti ucapan Rasululllah saw, dalam salah satu sabdanya yang mengatakan: ”Wa ana sayyidu waladi adama ala fakhr.”
Artinya: “Aku adalah sayyid (penghulu) manusia dan tidak sombong.”
  • Sholawat Yang Pendek

Shalawat ini cukup populer di masyarakat dengan sebutan shalawat ‘shad’. Tidak terlalu jelas siapa yang menamainya demikian. Mungkin juga karena diawali dengan huruf ‘shad’ .
”Shallahu ‘ala Muhmmad.”
Artinya: ”Semoga Allah mencurahkan shalawat kepada Muhammad.”
Penjelasaannya:
Imam Asy-Sya’rani menuturkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: ”Barangsiapa yang membaca shalawat ini berarti ia telah membukakan bagi dirinya tujuh puluh pintu rahmat, dan ditanamkan Allah kecintaan kepada dirinya dalam hati umat manusia.”
  • Sholawat Yang Ketiga

”Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala alihi wasallim. ”

Artinya: ”Ya Allah, Iimpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya.”
  • Sholawat Yang Keempat

“Allahumma shalli ‘ala muhammadin ‘abdika wa nabiyika nabiyyil ummiyy.”
Artinya: ”Ya Allah, limpahkan shalawat atas Muhammad, hamba dan nabi-Mu, nabi yang ummi.”
Penjelasan:
Imam Al-Ghozali dalam kitab Al ihya mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Barang siapa yang mengucapkan shalawat atasku pada malam Jumat sebanyak 80 kali, Allah akan mengampuni dosadosanya selama 80 tahun.”
Kemudian ditanyakan, ”Ya Rasulullah, bagaimana cara memberi shalawat kepadamu itu?”
Rasulullah saw menjawab, ”Allahumma shalli ‘ala muhammadin ‘abdika wa nabiyyikan nabiyyilummiy.”

Diriwayatkan bahwa, barang siapa yang membacanya setiap hari dan setiap malam sebanyak 500 kali, niscaya dia tidak akan mati sebelum berjumpa dengan Rasulullah saw, dalam keadaan sadar.
  • Sholawat Kelima

Shalawat Munjiyat ”Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin salatan tunjina biha, min jami’il ahwali wal ‘afat, wa taqhdi lana biha min jami’al hajat, wa tuthahhiruna biha min jami’is-sayyi’at, wa tarfa’una biha ‘indaka a’laddarajat, wa tuballighuna biha aqhsal-ghayat, min jami’ilkhayratifil-hayati wa ba’da! mamat.”
Artinya:
”Ya Allah limpahkanlah shalawat atas junjungan kami, Muhammad, dengan suatu shalawat yang menyebabkan kami selamat dari semua ketakutan dan malapetaka, yang menyebabkan Engkau menunaikan semua hajat kami, yang menyebabkan Engkau menyucikan kami, dari semua kejahatan, yang menyebabkan Engkau mengangkat kami ke derajat yang tinggi di sisi-Mu, dan yang menyebabkan Engkau menyampaikan semua cita-cita kamu berupa kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat.”
  • Sholawat Keenam

Shalawat Ash-shalah alad adyyah. “Allahumma shalli ‘ala Muhammadin bi ‘adadi man Shalla ‘alayh, wa shalli ‘ala Muhammadin bi ’adadi man-lam yu shalli ‘alayh, wa shalli ‘ala Muhammadin kama ‘amarta bish-salati ‘alayh, was hallo ‘ala Muhammadin kama tuhibbu an-yushalla ‘alayh, wa shalli ‘ala Muhammadin kama tan baghis-salatu ‘alayh.”
Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sebanyak jumlah orang yang bershalwat kepadanya; limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sebanyak jumlah orang yang tidak bershalawat kepadanya; limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana shalawat yang Engkau perintahkan kepadanya; limpahkanlah shalawat kepada Muhammad sebagai mana Engkau suka agar dibacakan shalawat atasnya; dan limpahkanlah pula shalawat kepada Muhammad sebagaimana seharusnya shalawat atasnya.”
  • Sholawat Ketujuh

‘Allahumma shalli’ ‘ala Nabiyyina Muhammadin kullama dzakamkadz-dzakiruna wa ghafala ‘an dzikrikal-ghafilun.”
Artinya : “Ya Allah limpahkanlah sholawat atas nabi kami, Muhammad selama orang-orang yang ingat menyebutMu dan orang-orang yang lalai menyebutmu dan orang-orang yang lalu melupakan untuk menyebutMu ”
Penjelasan dan kegunaannya: Shalawat ini dan shalawat adadyyah adalah dua sighat
shalawat dari Imam Syafi’I ra.
Berkaitan dengan shalawat adadyyah, diceritakan bahwa Imam Asy-syafi’I pernah bermimpi bertemu dengan seseorang, lalu dikatakan kepadanya. ”Apa yang diperbuat Allah atas diri Anda?”
Imam Asy-Syafi’I menjawab, ”Allah telah mengampuni diriku.”
“Dengan amal apa?” “Dengan lima kalimat yang aku pergunakan untuk memberi shalawat kepada nabi Muhammad
Shalallahu ‘alaihi wassalam.
”Bagaimana bunyinya? Lalu, beliau membacakan shalawat tersebut (no. 6)
  • Sholawat Kedelapan

Shalawat ini disebut juga shalawat Kamaliyah. .Allahumma shalli wasallim wabarik ‘ala sayyidi na Muhammadin, ala ‘alihi, ‘adada kamalillahi wa kama yaliqu bikamalih. ”
Artinya: ”Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam dan barakah kepada Sayyidina Muhmmad, dan keluarganya sebanyak kesempurnaan Allah dan segala yang sesuai dengan kesempurnaan-Nya itu.” Penjelasan dan kegunaannya: Shalawat Kamaliyah ini digunakan sebagai wirid di kalangan tarekat karena pahalanya tidak terhingga. Ada yang menyatakan bahwa shalawat ini menyamai pahala 14.000 shalawat lainnya.
  • Sholawat kesembilan

Shalawat Nariyah
“Allahumma shalli salatan kamilatan wasallim salaman tamman ‘ala Sayyidina Muhammadinil-ladzi tanhallu bi’hi’l uqadu, watanfariju bihil kurobu, wa tuqdha bihiki hawaiju, watunalu bihir-raghaibu, wakhusnul khawatimi, wa yustasqal-ghamamu bi wajhihil-karim; wa’ala alihi wa shahbihi fi kulli lamhatin wa napasin, bi adadi kulli ma’lumin lak.”
Artinya:
”Ya Allah limpahakanlah shalawat yang sempurna dan kesejahteraan yang paripurna kepada junjungan kami Muhammad, yang dengan perantaraan beliau itu dilepaskan semua ikatan, dilenyapkan segala kesusahan, ditunaikan segenap kebutuhan, diperoleh segala keinginan, dicapai akhir yang baik, dan diberi minum dari awan berkat wajahnya yang mulia; juga kepada keluarga dan sahabatnya, dalam setiap kedipan mata dan tarikan napas, sebanyak jumlah pengetahuan yang Engkau miliki.”
Penjelasan dan kegunaannya:
Tentang shalawat ini, Imam Qurthubi menuturkan bahwa, barang siapa yang membacanya secara rutin setiap hari sebanyak 41 kali atau 100 kali atau lebih, Allah akan melenyapkan kecemasan dan kesusahannya, menghilangkan kesulitannya dan penyakitnya, memudahkan urusannya, memperbaiki keadaannya, meluaskan rizkinya dan membukakan baginya segala pintu kebaikan dan lain-lain.
yuk bersholawat!

MENCARI KENAL.

Dalam mengenal Allah itu, tidak lah terikat, tertakluk kepada hanya satu kaedah sahaja. Kerana itu kita perlu kepada adanya ilmu dan guru bagi mencari dan mencapai tujuan.
Setiap orang mempunyai jalan dan cerita tersendiri bagi menuju Kenal kepada Hakikat Pencipta (Allah.)
Ada org mengenal Allah dengan hanya membaca..
Ada org yang mengenal dengan mengkuburkan diri jasad nya yg hidup ke liang kubur.
Ada yg mengenal dengan ditimpa berbagai2 musibah dan masalah.
Ada yang mengenal dgn berguru dengan bermacam2 guru.
Ada yang mengenal dgn hanya tidur.
Ada yang mengenal Allah dengan mimpi2..
Ada bermacam cara lagi bagi seseorg dapat mengenal akan hakikat penciptanya Allah. Kerana itu, bagi orang yang faham dan tidak terikat dengan kepompong fikirannya semata tidak menyalahkan apa sekalipun kefahaman dan pegangaan seseorang. Kerana apa jua cara dan kaedah itu hanya jalan bagi menuju kepada satu hal tujuan iaitu menuju kepada Allah.
Allah menjadikan sesuatu itu berpasang2an...
Ada zahir ada batin
Ada jahil ada yang pandai
Ada bahgia ada derita
Ada syariat ada hakikat.
Alquran juga membawa maksud
tersurat dan tersirat.
Ramai orang kebanyakan terus menjatuhkan hukuman ini salah! ini sesat! Dan tidak ramai yang mencari sebab sebelum menjatuhkan hukum. Andai pun yang mencari sebab.. ramai yg mencari sebab untuk menghukum. Memang hukuman itu perlu bagi yang berbuat salah, tetapi sebelum menjatuhkan hukum, adalah baik kita mencari sebab. Harus mencari sebab dahulu daripada memandang dan menjatuhkan hukum. Kesimpulannya, ada ketikanya, betul bagi seseorang itu mungkin salah bagi seseorang yang lain. Ada ketikanya, benar di satu pihak, dan salah bagi pihak lain. KENAL bagi saya, mungkin Tidak Kenal bagi tuan.

Sebuah Dialog....


Saya: saya ingin bertanya, saya tau ini lancang.. tapi biarkanlah saya bertanya..
Mbah : oke.. silahkan..
Saya: mbah kan dianggap guru oleh semua org disini.......dari semula ratusan, skg menjadi hanya hitungan jari........gmn itu mbah ?
Mbah : mungkin mrk menganggapku guru, tp aku bahkan tdk menganggap mereka murid.... itu hanya persepsi mrk....... taukah engkau mengapa mereka pergi ??? .....
Saya: karena mrk kecewa dg mu mbah.......
Mbah : hahahaha......... tidak....... mereka kecewa dg gambaran ideal mrk tentangku..... tentang gambaran seorg guru yg suci, penuh karomah, terkenal dsb.......... tapi aku disini bukan utk menuruti gbran ego mrk itu.......... aku malah akan mengacaukannya....... Sesungguhnya mrk pergi krn kekecewaan mereka thd ilusi mereka sendiri....... dan aku dg senang hati akan mengantarkan kepergian mereka..........
Saya: apakah tdk ada suatu momentum buat mrk ??.......
Mbah : Itu tergantung mrk...... semua kata2 bahkan dari anak kecil sekalipun, semua kondisi, peristiwa yg dihadirkan dsb sudah dapat menjadi momentum menyadari diri atau malah menjadi momentum menguatkan ego..... apabila disaat kepergian mrk, mereka meletakkan kesadaran ke arah "diri mrk sendiri" maka mrk akan melihat ego mrk sendiri, ego yg menginginkan pegangan berupa guru, sosok idealnya, dan keegoisan mereka sendiri......... tapi apabila kesadaran diletakkan "keluar diri mrk sendiri" maka itu akan menjadi penghakiman terhadapku, menghasilkan celaan, hinaan, dan itu semakin menguatkan ego mereka, ilusi mereka msg2, mrk akan tetap berada di jalur yg sama......... kembali mencari guru2 yang merupakan sosok ideal ilusif buatan pikiran mrk sendiri.......
Saya: jadi semua hal adalah pedang bermata dua ?.......
Mbah : yaaa.......... itu bisa digunakan sebagai sarana menyadari diri atau sebaliknya menguatkan ego........
Saya: lalu bgm mereka yg pergi?
Mbah : biarkan saja........ aku tdk berkewajiban mencerahkan siapapun....... termasuk dirimu...... aku hanya berkewajiban menyadari diriku sendiri.......... terkait pencerahan utk dirimu itu adalaah kewajibanmu sendiri........... utk menjumpai penghubungmu, utk ditunjukkannya kunci dan dibimbingnya.......... Namun selanjutnya, semua terpulang kpd dirimu sendiri........ melihat dirimu sendiri........ karena yg paling tau tentang dirimu yah dirimu sendiri.. ITU HANYA PERLU KEJUJURAN DAN KEMAUAN MELIHAT SEJATINYA DIRIMU......... Itu bkn urusan guru ......
Saya: Itu bkn urusan seorg guru ??
Mbah : semua manusia menginginkan pegangan......... krn itu, ego membentuk sosok ideal seorg guru sbg pegangan...... krn manusia enggan sendiri...... enggan melangkah sendiri...... dan mrk mulai masuk kedlm lembah pengkultusan...... itu fatal...... dalam pengkultusan, engkau tdk akan mkn bisa melihat ke sejatianmu...... hanya disaat engkau sendiri tanpa bayang2 siapapun, tanpa otoritas apapun, tanpa apapun jg, barulah engkau bisa melihat kesejatianmu dg merdeka......
Saya: seringkali byk orang disini mendebat apapun yang kau katakan ataupun yg kau tulis.......
Mbah : itu adalah pertanda bahwa seseorang itu tdk mendengarkan dan tdk membaca sama sekali........ ia hanya membandingkan kata2ku dg pengetahuan simpanan miliknya.......... ia sama sekali tdk mendengarkan........ ia tertutup........ ia hanya membandingkan...... dan itu semakin menguatkan ego........ dari ilusi2 yg beridentifikasi dg pikiran liar dan pengetahuan......
Saya: yaa....... . jelas sudah...... bahwa semua hal adalah pedang bermata dua....
Mbah : apabila mereka meletakkan kesadaran pd kesejatian........ maka saat itu mereka akan menemukan sarana melihat diri dan mengamati diri.......
Saya: maksudnya?
Mbah : ego akan selalu bereaksi thd kata2 apapun...... ketika engkau mendgr kata2...... letakkanlah kesadaranmu di kedalaman....... engkau akan mlh egomu bereaksi thd kata2 itu......... dan engkau tdk terlarut dalam reaksi ego itu......... engkau mengamati...... dan mendengarkan..... engkau menyadari apa yg dikatakan tanpa membandingkan dan engkau sekaligus menyadari respon egomu......
namun apabila engkau meletakkan kesadaran keluar dirimu maka engkau larut dlm reaksi egomu, dlm penghakiman dan perdebatan....
Saya: hemm..... aku paham mbah...... dan apabila seseorang mendebatmu ???
Mbah : yaaaa..... terkadang aku akan melayani debat itu...... terkadang juga tidak.........pd dasarnya mrk berdebat dg diri mrk sendiri......
Saya: mbah..... sampean selalu berkata engkau engkau, dlm setiap kata katamu seakan menyalahkan org lain....... engkau engkau dan engkau.... mbah selalu menunjuk ke luar diri mbah dalam setiap wejanganmu mbah.....
Mbah : bukankah aku juga seringkali mengambil kata ganti orang pertama yaitu aku dalam kata2 ku?
Saya: iya...
Mbah : lalu kenapa engkau hanya mengingat wejangan dengan kata ganti "engkau"?
Saya: hemmm......
Mbah : bukankah egomu terganggu dengan itu?.......
Saya: mungkin...
Mbah : egomu terganggu....... dan engkau tak menyadari....... berangsur2 semakin tak tersadari.....
Saya: iya betul...
Mbah : terkdg menghina org lain bisa membuat org itu terganggu dan membuatnya menyadari si pemikir...... dibandingkan dgn menghina diri sendiri....... aku hanya melakukannya scr acak..... namun engkau hanya mengingat satu bagian yaitu ketika kata2ku seakan menghina keluar......
Saya: yah...... saya sadar akan hal itu...
Mbah : SATU SATUNYA PERANKU ADALAH MEMBUAT EGOMU TERGANGGU...... AGAR ENGKAU BISA MENYADARINYA...... tapi kalian terlalu sibuk mengamati org lain dibanding mengamati diri sendiri...... engkau meletakkan cermin kesadaran keluar...... dan semua hal di dunia menjadi sarana bagi egomu.....

Bertakhtanya Allah

Jawaban kepada persoalan pertama;
Tuan yang dirahmati Allah, Dimanakah bertakhtanya Allah, jika tidak dihati, diqalbu atau diroh?. Bertakhtanya Allah di qalbu (roh) itu, adalah perkara benar dan bukan satu unggkapan atau omong kosong!.
Persoalannya disini, dimanakah hati (hati halus), dimanakah qalbu dan dimanakah roh?. Jika tuan-tuan tidak mengenal hati, tidak mengenal qalbu dan tidak mengenal roh, bagaimana mungkin tuan-tuan tahu yang Allah itu bertakhtanya di roh (qalbu)?. Orang yang mengenal hati, mengenal qalbu dan orang yang mengenal roh sahaja, yang tahu begaimana rasanya roh bilamana menjadi rumah Allah Taala. Untuk itu, saya sarankan tuan belajar mengenal hati dan belajar mengenal qalbu, barulah tuan akan tahu siapa itu roh. Setelah mengenal roh, barulah tuan-tuan akan tahu dimana rumah Allah?. Sekali lagi saya nyatakan disini bahawa, roh itu adalah rumah Allah adalah perkara benar!.
Jawapan kepada persoalan kedua;
Bilamana roh menjadi rumah Allah, apakah kesan dan apakah rasanya pada jasad selaku sarongnya?. Kesan atau rasa yang dialami oleh jasad bilamana didiami oleh Allah itu, adalah seperti berikut;
Sebelum itu, saya ingin tanya satu soalan, Apa yang tuan rasa bilamana rumah tuan “didatangi” oleh pembesar negara seumpama Ketua Polisi Negara atau didatangi oleh seorang Raja/President?. Bilamana rumah kita akan dilawati atau didatangi oleh pembesar negara, apa yang tuan rasa dan apa yang pernah tuan fikir?. coba jawab…………………..
Apa lagi bilamana tuan dipanggil tinggal dan duduk di Istana Raja!. Apakah rasanya yang pernah terfikir dibenak fikiran tuan-tuan, bilamana kita dijemput tinggal dan duduk didalam istana bersama Sultan?. Cuba jawab……………….
Saya tidak perlu menjawab pertanyaan tuan, kerana tuan-tuan sendiri sudah boleh menilai dan sudah boleh menjawab!. Apa lagi bilamana roh menjadi istana Allah (rumah Allah)!. Bilamana kita berada didalam Istana Raja, tentunya Istana Raja dijaga dan dikawal rapi oleh pengawal keselamatan (keselamatan terjamin). Bilamana tinggal, duduk dan makan minum didalam Istana Raja, tentunya tidak putus bekalan makanan, sudah tentu terjamin makan minum, pakainya, keselamatannya, kesihatannya, keuwangannya, kawalannya dan berbagai-bagai kebahagiaan dan kenikmatan!.
Bilamana kita tinggal diistana raja, sudah tentu kita akan merasa aman, rasa bahagia, rasa bersesar hati, rasa tidak takut, rasa selesa, rasa puas, rasa terjamin dan rasa segala macam rasa. Apa lagi bilamana jasad yang busuk, hanyir, najis, kotor dan jasad yang hina ini, duduk dan tinggal di Istana Allah (bersama Allah!), coba tuan-tuan bayangkan?……………………….
Bilamana kita mengenal hati, mengenal qalbu dan mengenal roh, bererti tuan-tuan sudah mengenal diri. Bilamana kita mengenal diri dengan rata, sudah tentu tuan mengenal Allah yang nyata!. Bilamana mengenal Allah dengan nyata, maka nyatalah qalbu (roh) itu, sebagai rumah Allah!.
Dalam rumah Raja (Istana Raja), terdapatnya peti ais, alat penghawa dingin (ac), sofa empok, tilam empok, ada talivision besar, bilik besar, makanan lazat, taman yang indah dan dayang-dayang yang cantik-cantik, apa lagi jika tinggal dirumah Allah bersama Allah!.
Bilamana Allah mendiami qalbu kita, mendiami hati kita atau bilamana Allah mendiami roh kita, “jasad” kita akan didatangi rasa redha, rasa sabar, rasa tenang, rasa, aman, rasa bahagia, rasa selamat, rasa bertimbang rasa, rasa tidak dengki, rasa tidak khianat, rasa tidak sanggup menipu, rasa tidak sampai hati menzalimi sesama makhluk, rasa tidak mendurhaki ibu bapa, rasa tidak sanggup mengingkari janji, rasa tidak bimbang jika ditimpa sakit, tidak mengeluh bilamana tidak dibayar hutang, rasa tidak kedekut untuk menghulur derma, tidak berat tulang untuk membantu orang, rasa kasih kepada anak isteri, rasa berkasih sayang kepada sesama makhluk manusia mahupun kepada binatang, tidak tendang kucing bilamana kucing mencuri ikan dibawah saji dan tidak menyesal atau tidak mudah putus asa atas rahmat Allah.
Tdk mau blg org kafir sesat sombong.Kasih dan syg kpd sesama.Tdk menyalahkan org lain dll
Inilah kesan atau rasa kepada jasad hasil dari rumah yang diduduki atau didiami Allah

Kamis, 28 Mei 2020

Urgensi Mursyid

Allah Swt. berfirman:
“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalam hidupnya) seorang wali yang mursyid” (QS 18 Al Kahfi : 17)

Dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual. Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid.

Pandangan demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan spiritual. Bukti-bukti historis akan kegagalan spoiritual tersebut telah dibuktikan oleh para ulama sendiri yang mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid.

Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid.

Masing-masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah “dunia ilmu”, yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang diserap dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan ma’rifat itu sendiri.

Jalan ma’rifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh begitu saja dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa sudah sampai kepada Allah (wushul) tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal: “Barangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah syetan”.

Oleh sebab itu, seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing ruhani, walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki oleh sang ulama tadi lebih tinggi dibanding sang Mursyid. Tetapi, tentu saja, dalam soal-soal Ketuhanan, soal-soal batiniah, sang ulama tentu tidak menguasainya.

Sebagaimana ayat al-Qur’an di atas, seorang Syekh atau Mursyid Sufi, mesti memiliki prasyarat yang tidak ringan. Dari konteks ayat di atas menunjukkan bahwa kebutuhan akan bimbingan ruhani bagi mereka yang menempuh jalan sufi, seorang pembimbing ruhani mesti memiliki predikat seorang yang wali, dan seorang yang Mursyid. Dengan kata lain, seorang Mursyid yang bisa diandalkan adalah seorang Mursyid yang Kamil Mukammil, yaitu seorang yang telah mencapai keparipurnaan ma’rifatullah sebagai Insan yang Kamil, sekaligus bisa memberikan bimbingan jalan keparipurnaan bagi para pengikut thariqatnya.

Tentu saja, untuk mencari model manusia paripurna setelah wafatnya Rasulullah saw. terutama hari ini, sangatlah sulit. Sebab ukuran-ukuran atau standarnya bukan lagi dengan menggunakan standar rasional-intelektual, atau standar-standar empirisme, seperti kemasyhuran, kehebatan-kehebatan atau pengetahuan-pengetahuan ensiklopedis misalnya. Bukan demikian. Tetapi, adalah penguasaan wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana, logika-logikanya, hanya bisa dicapai dengan mukasyafah kalbu atau akal hati.

Karenanya, pada zaman ini, tidak jarang Mursyid Tarekat yang bermunculan, dengan mudah untuk menarik simpati massa, tetapi hakikatnya tidak memiliki standar sebagai seorang Mursyid yang wali sebagaimana di atas. Sehingga saat ini banyak Mursyid yang tidak memiliki derajat kewalian, lalu menyebarkan ajaran tarekatnya. Dalam banyak hal, akhirnya, proses tarekatnya banyak mengalami kendala yang luar biasa, dan akhirnya banyak yang berhenti di tengah jalan persimpangan.

Lalu siapakah Wali itu? Wali adalah kekasih Allah Swt. Mereka adalah para kekasih Allah yang senanatiasa total dalam tha’at ubudiyahnya, dan tidak berkubang dalam kemaksiatan. Dalam al-Qur’an disebutkan:

“Ingatlah, bahwa wali-wali Allah itu tidak pernah takut dan  tidak pernah bersedih hati.
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertaqwa..." (QS 10 Yunus : 62-63)

Sebagian tanda dari kewalian adalah tidak adanya rasa takut sedikit pun yang terpancar dalam dirinya, tetapi juga tidak sedikit pun merasa gelisah atau susah. Para Wali ini pun memiliki hirarki spiritual yang cukup banyak, sesuai dengan tahap atau maqam dimana, mereka ditempatkan dalam Wilayah Ilahi di sana. Paduan antara kewalian dan kemursyidan inilah yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil dan Mukammil di atas.

Wali Allah itu adalah orang-orang yang beriman dan senantiasa bertaqwa!!!

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan bila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia." (QS 8 Al Anfaal :2-4)

"Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang bila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong." (QS 32 As Sajdah: 15)

"Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah.." (QS 9 At Taubah :112)

"..orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah..."(QS 49 Al Hujuraat :15)

Wali Allah akan berlaku lemah lembut terhadap orang mukmin dan bersikap keras/tidak akan berteman setia dengan musuh-musuh Allah (kafir)!!!

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.." (QS 60 Al Mumtahanah : 1)

"...yang bersikap lemah lembut terhadap orang  mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.."(QS 5 Al Maa'idah : 54)


Panduan mencari Mursyid

Dalam kitab Al-Mafaakhirul ‘Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Ayyad, ditegaskan, — dengan mengutip ungkapan Sulthanul Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-Syadzily ra, — bahwa syarat-syarat seorang Syekh atau Mursyid yang layak – minimal –ada lima:
1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas.
2. Memiliki pengetahuan yang benar.
3. Memiliki cita (himmah) yang luhur.
4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai.
5. Memiliki mata hati yang tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi.

Sebagaimana kata Sayyid-At-Tariqah As-Sufiyyah Shaikh Junaid Al-Baghdadi ra :
"Ilmu kami, ahli Tasawwuf diikat dengan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Jika seseorang tidak hafal Hadis Nabi dan tidak menulisnya didalam kitab2 dan tidak hafal Al-Qur'an, dan tidak mahir didalam hukum2 syaria't dan tidak pula 'alim didalam ahwal perjalanan kerohanian, maka orang itu tidak layak diikuti sebagai pemimpin Ma'rifat ketuhanan (mursyid). Maka jangan kamu mengambil ilmu darinya"

Berkata Ghawthul A'zaham Syaikh Muhyiddin Abdul Qadir Jailani ra:
"Seseorang yang menjadi Syaikh kerohanian mesti memiliki lima syarat, jika tidak, dia adalah penipu yang hanya memimpin kepada kebodohan. Dia harus sangat ahli didalam Syari'at, sementara sangat dalam pengetahuannya didalam haqiqat. Dia haruslah sangat lemah lembut dalam perkataan dan tingkah lakunya kepada yang berhajat, selalu memuliakan tamu2 yang datang kepadanya dengan penuh kasih sayang. Dia juga haruslah sangat 'alim dalam halal dan haram. Dia memimpin si salik pada jalan ma'rifat, sebagaimana dia sendiri dipimpin, sempurna didalam kemurahan hatinya." (Qala'id Al-Jawahir)

Sultanul Arifin Hazrat Sultan Bahu ra berkata:
 "Apabali seseorang memasuki alam Tasawwuf, dia wajib dengan sungguh2 mematuhi tuntutan Syari'at. Dia wajib mematuhi hukum2 didalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi dalam setiap langkahnya"
(Mihakul Fuqara)


Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut:
1. Bodoh terhadap ajaran agama.
2. Mengabaikan kehormatan ummat Islam.
3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna.
4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.
5. Berakhlak buruk tanpa peduli dengan perilakunya.

Syeikh Abu Madyan – ra- menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah Swt. lalu muncul salah satu dari lima karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang pendusta ruhani:
1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan.
2. Mempermainkan tha'at kepada Allah.
3. Tamak terhadap sesama makhuk.
4. Kontra terhadap Ahlullah
5. Tidak menghormati sesama ummat Islam sebagaimana diperintahkan Allah Swt.

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili mengatakan, “Siapa yang menunjukkan dirimu kepada dunia, maka ia akan menghancurkan dirimu. Siapa yang menunjukkan dirimu pada amal, ia akan memayahkan dirimu. Dan barangsiapa menunjukkan dirimu kepada Allah Swt. maka, ia pasti menjadi penasehatmu.”

Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengatakan, “Janganlah berguru pada seseorang yang tidak membangkitkan dirimu untuk menuju kepada Allah dan tidak pula menunjukkan wacananya kepadamu, jalan menuju Allah”.

Seorang Mursyid yang hakiki, menurut Asy-Syadzili adalah seorang Mursyid yang tidak memberikan beban berat kepada para muridnya.

Dari kalimat ini menunjukkan bahwa banyak para guru sufi yang tidak mengetahui kadar batin para muridnya, tidak pula mengetahui masa depan kalbu para muridnya, tidak pula mengetahui rahasia Ilahi di balik nurani para muridnya, sehingga guru ini, dengan mudahnya dan gegabahnya memberikan amaliyah atau tugas-tugas yang sangat membebani fisik dan jiwa muridnya. Jika seperti demikian, guru ini bukanlah guru yang hakiki dalam dunia sufi.

Jika secara khusus, karakteristik para Mursyid sedemikian rupa itu, maka secara umum, mereka pun berpijak pada lima (5) prinsip thariqat itu sendiri:
1. Taqwa kepada Allah swt. lahir dan batin.
2. Mengikuti Sunnah Nabi Saw. baik dalam ucapan maupun tindakan.
3. Berpaling dari makhluk (berkonsentrasi kepada Allah) ketika mereka datang dan pergi.
4. Ridha kepada Allah, atas anugerah-Nya, baik sedikit maupun banyak.
5. Dan kembali kepada Allah dalam suka maupun duka.
Manifestasi Taqwa, melalaui sikap wara’ dan istiqamah.

Perwujudan atas Ittiba’ sunnah Nabi melalui pemeliharaan dan budi pekerti yang baik. Sedangkan perwujudan berpaling dari makhluk melalui kesabaran dan tawakal. Sementara perwujudan ridha kepada Allah, melalui sikap qana’ah dan pasrah total. Dan perwujudan terhadap sikap kembali kepada Allah adalah dengan pujian dan rasa syukur dalam keadaan suka, dan mengembalikan kepada-Nya ketika mendapatkan bencana.

Secara keseluruhan, prinsip yang mendasari di atas adalah:
1) Himmah yang tinggi,
2) Menjaga kehormatan,
3) Bakti yang baik,
4) Melaksanakan prinsip utama; dan
5) Mengagungkan nikmat Allah Swt.

Dari sejumlah ilustrasi di atas, maka bagi para penempuh jalan sufi hendaknya memilih seorang Mursyid yang benar-benar memenuhi standar di atas, sehingga mampu menghantar dirinya dalam penempuhan menuju kepada Allah Swt.

Rasulullah saw. adalah teladan paling paripurna. Ketika hendak menuju kepada Allah dalam Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah Saw. senantiasa dibimbing oleh Malaikat Jibril as. Fungsi Jibril di sini identik dengan Mursyid di mata kaum sufi. Hal yang sama, ketika Nabiyullah Musa as, yang merasa telah sampai kepada-Nya, ternyata harus diuji melalui bimbingan ruhani seorang Nabi Khidir as. Hubungan Musa dan Khidir adalah hubungan spiritual antara Murid dan Syekh. Maka dalam soal-soal rasional Musa as sangat progresif, tetapi beliau tidak sehebat Khidir dalam soal batiniyah.

Karena itu lebih penting lagi, tentu menyangkut soal etika hubungan antara Murid dengan Mursyidnya, atau antara pelaku sufi dengan Syekhnya. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani, (W. 973 H) secara khusus menulis kitab yang berkaitan dengan etika hubungan antara Murid dengan Mursyid tersebut, dalam “Lawaqihul Anwaar al-Qudsiyah fi Ma’rifati Qawa’idus Shufiyah”.

Untuk mempermudah penemuan seorang mursyid sesuai kriteria diatas maka kita pun harus punya himmah/cita2 yg tinggi bertemu dgn Allah dan menjalankan islam sesuai Qur'an dan Sunnah dgn selalu memanjatkan do'a secara intens kepada Allah agar dipertemukan seorang mursyid yang wali..

Good Luck

"Al Qur'an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam,(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS 81. At Takwiir :27-29 )

"Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah..."      ( QS 76. Al Insaan : 29-30)


Baca juga :

Orang-Orang Yang Terpilih
Macam Tingkatan Manusia dan Kedudukan Mereka 
Model Para Penempuh
Tingkat-tingkat Kesempurnaan

Untuk mengetahui Risalah Futuhul Ghaib tekan
Kumpulan Risalah Futuhul Ghaib

Selasa, 19 Mei 2020

MENGENAL RASA

Di dalam mempelajari ilmu Agama mesti kita harus mengenal Rasa, dalam pengenalan Rasa ini kalau hanya sampai pada tingkat Syariat, bab Rasa itu tidak pernah dibicarakan atau disinggung.
Tetapi pada tingkat Tharekat keatas bab rasa ini mulai disinggung, karena bila belajar ilmu Agama itu berarti mulai mengenal siapa Sang Percipta itu. Karena ALLAH SWT maha GHOIB maka dalam mengenal hal GHOIB kita wajib mengaji rasa.
Jadi jelas berbeda dengan tingkat syariat yang memang mengaji telinga dan mulut saja. Dan mereka hanya yakin akan hasil kerja panca inderanya. Bukan Batin..!
Bab Rasa dapat dibagi dalam beberapa golongan, yaitu :
1. RASA TUNGGAL
2. SEJATINYA RASA
3. RASA SEJATI, dan
4. RASA TUNGGAL JATI.
Mengkaji Rasa sangat diperlukan dalam mengenal GHOIB. Karena hanya dengan mengkaji rasa yang dimiliki oleh batin itulah maka kita akan mengenal dalam arti yang sebenarnya, apa itu GHOIB.
1. RASA TUNGGAL :
Yang empunya Rasa Tunggal ini ialah jasad/jasmani. Yaitu rasa lelah, lemah dan capai. Kalau Rasa lapar dan haus itu bukan milik jasmani melainkan milik nafsu. Mengapa jasmani memiliki rasa Tunggal ini. Karena sesungguhnya dalam jasmani/jasad ada penguasanya/penunggunya. Orang tentu mengenal nama QODHAM atau ALIF LAM ALIF. Itulah sebabnya maka didalam AL QUR’AN, ALLAH memerintahkan agar kita mau merawat jasad/jasmani. Kalau perlu, kita harus menanyakan kepada orang yang ahli/mengerti. Selain merawatnya agar tidak terkena penyakit jasmani, kita pun harus merawatnya agar tidak menjadi korban karena ulah hawa nafsu maka jasad kedinginan, kepanasan ataupun masuk angin. Bila soal-soal ini kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, niscaya jasad kita juga tahu terima kasih. Kalau dia kita perlakukan dengan baik, maka kebaikan kita pun akan dibalas dengan kebaikan pula. Karena sesungguhnya jasad itu pakaian sementara kita untuk hidup sementara dialam fana ini.
Kalau selama hidup jasad kita rawat dengan sungguh-sungguh (kita bersihkan 2 x sehari/mandi, sebelum puasa keramas, sebelum sholat berwudhu dulu, dan tidak menjadi korban hawa nafsu, serta kita lindungi dari pengaruh alam), maka dikala hendak mati jasad yang sudah suci itu pasti akan mau diajak bersama-sama kembali keasal, untuk kembali ke sang pencipta. Seperti halnya kita bersama-sama pada waktu datang/lahir kealam fana ini. Mati yang demikian dinamakan mati TILEM (tidur) atau mati sempurna.
Pandangan yang kita lakukan malah sebaliknya. Mati dengan meninggalkan jasad. Kalau jasad sampai dikubur, maka QODHAM atau ALIF LAM ALIF, akan mengalami siksa kubur. Dan kelak dihari kiamat akan dibangkitkan.
Dalam mencari nafkah baik lahir maupun batin, jangan mengabaikan jasad. Jangan melupakan waktu istirahat. Sebab itu ALLAH ciptakan waktu 24 jam (8 jam untuk mencari nafkah, 8 jam untuk beribadah, dan 8 jam untuk beristirahat). Juga dalam hal berpuasa, jangan sampai mengabaikan jasad. Sebab itu ALLAH tidak suka yang berlebih-lebihan. Karena yang suka berlebih-lebihan itu adalah Dzad (angan-angan). Karena dzad mempunyai sifat selalu tidak merasa puas.
2. SEJATINYA RASA :
Apapun yang datangnya dari luar tubuh dan menimbulkan adanya rasa, maka rasa itu dinamakan sejatinya rasa. Jadi sejatinya rasa adalah milik panca indera :
MATA :
Senang karena mata dapat melihat sesuatu yang indah atau tidak senang bila mata melihat hal-hal yang tidak pada tempatnya dll.
TELINGA :
Senang karena mendengar suara yang merdu atau tidak senang mendengar isu atau fitnahan orang dll.
HIDUNG :
Senang mencium bebauan wangi/harum atau tidak senang mencium bebauan yang busuk dll.
KULIT :
Senang kalau bersinggungan dengan orang yang disayang atau tidak senang bersunggungan dengan orang yang berpenyakitan dll.
LIDAH :
Senang makan atau minum yang enak-enak atau tidak senang memakan makanan yang busuk dll.
3. RASA SEJATI :
Rasa sejati akan timbul bila terdapat rangsangan dari luar, dan dari tubuh kita akan mengeluarkan sesuatu. Pada waktu keluarnya sesuatu dari tubuh kita itu, maka timbul Rasa Sejati. Untuk jelasnya lagi Rasa Sejati timbul pada waktu klimaks/pada waktu keluarnya Ma'ul hayat yang keluar dari mangkuk "NUN" dibawah otak besar manusia atau HIPOTALAMUS mengalir melalui tulang belakang manusia.
4. RASA TUNGGAL JATI :
Rasa Tunggal Jati sering diperoleh oleh mereka yang sudah dapat melakukan Meraga Sukma (keluar dari jasad) dan Solat Dha’im.
Bedanya antara Meraga Sukma dan Sholat Dha’im ialah :
Kalau Meraga Sukma jasad masih ada batin keluar dan dapat pergi kemana saja. Kalau Sholat Dha’im jasad dan batin kembali kewujud Nur dan lalu dapat pergi kemana saja yang dikehendaki. Juga dapat kembali / bepergian ke ALAM LAUHUL MAKHFUZ. Bila kita Meraga Sukma maupun sholat Dha’im, mula pertama dari ujung kaki akan terasa seperti ada “aliran“ yang menuju ke atas / ke kepala. Pada Meraga sukma, bila “aliran“ itu setibanya didada akan menimbulkan rasa ragu-ragu/khawatir atau was-was.
🔴 Khusus dalam pengertian RASA TUNGGAL JATI ini, sangan didominasi oleh kesempurnaan ilmu Nafas, Nufus, Tanafas dan Anfas, tanpa kesempurnaan ilmu ini, rasa ini tidak bisa dilakukan.
Bila kita ikhlas, maka kejadian selanjutnya kita dapat keluar dari jasad, dan yang keluar itu ternyata masih memiliki jasad. Memang sesungguhnyalah, bahwa setiap manusia itu memiliki 3 buah wadah lagi, selain jasad/jasmani yang tampak oleh mata lahir ini. Kalau sholat Dha’im bertepatan dengan adanya “Aliran“ dari arah ujung kaki, maka dengan cepat bagian tubuh kita akan “Menghilang“ dan kita akan berubah menjadi seberkas Nur sebesar biji ketumbar dibelah 7 bagian. Bercahaya bagai sebutir berlian yang berkilauan. Nah, rasa keluar dari jasad atau rasa berubah menjadi setitik Nur. Nur inilah yang disebut sebagai Rasa Tunggal Jati.
Selain itu, baik dalam Meraga Sukma maupun Sholat Dha’im. Bila hendak bepergian kemana-mana kita tinggal meniatkan saja maka sudah sampai. Rasa ini juga dapat disebut Rasa Tunggal Jati. Sebab dalam bepergian itu kita sudah tidak merasakan haus, lapar, kehausan, kedinginan dan lain sebagainya. Bagi mereka yang berkeinginan untuk dapat melakukan Meraga Sukma dianjurkan untuk sering Tirakat/Kannat puasa. Jadikanlah puasa itu sebagai suatu kegemaran. Dan yang penting juga jangan dilupakan melakukan Dzikir gabungan NAFI-ISBAT dan QOLBU. Dalam sehari-hari sudah pada tahapan lillahi ta’ala.
Hal ini berlaku baik bagi mereka yang menghendaki untuk dapat melakukan SHOLAT DHA’IM. Kalau Meraga Sukma mempergunakan NURRULLAH, tapi bila SHOLAT DHA’IM sudah mempergunakan NUR ILLAHI. Karena ada Rasa Sejati, maka Rasa merupakan asal usul segala sesuatu yang ada. Oleh sebab itu bila hendak mendalami ilmu MA’RIFAT Islam dianjurkan untuk selalu bertindak berdasarkan rasa. Artinya jangan membenci, jangan menaruh dendam, jangan iri, jangan sirik, jangan bertindak sembrono, jangan bertindak kasar terhadap sesama manusia, dll.
Sebab dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita ini semua sama, karena masing-masing memiliki rasa. Rasa merupakan lingkaran penghubung antara etika pergaulan antar manusia, juga sebagai lingkaran penghubung pergaulan umat dengan Penciptanya. Rasa Tunggal jati ini mempunyai arti dan makna yang luas. Karena bagai hidup itu sendiri. Apapun yang hidup mempunyai arti. Dan apapun yang mempunyai arti itu hidup. Sama halnya apapun yang hidup mempunyai Rasa. Dan apapun yang mempunyai Rasa itu Hidup. Dengan penjelasan ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang mendiami Rasa itu adalah Hidup.
Dan Hidup itu sendiri ialah Sang Pencipta/ALLAH. Padahal kita semua ini umat yang hidup. Jadi sama, ada Penciptanya. Oleh sebab itu, umat manusia harus saling menghormati, tidak saling merugikan, bahkan harus saling tolong menolong dll. Dan hal ini sesuai dalam firman ALLAH :
“HAI MANUSIA ! MASUKLAH KALIAN DALAM PERDAMAIAN, JANGAN BERPECAH BELAH MENGIKUTI LANGKAH SYAITAN, SESUNGGUHNYA SYAITAN ITU MUSUHMU YANG NYATA”.
Ingat ! Pengertian secara Haqiqat & Ma'rifat syetan itu musuh yang NYATA, bukan musuh yang GHOIB.
Sampai disini paham ya?
Jika ada sesuatu yang belum dipahami silahkan ketik dikolom komentar, saran dan kritik kalian sangat berguna bagi kami, dan akan kami bahas pada bab-bab selanjutnya.