Allah Swt. berfirman:
“Barangsiapa
yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk;
dan Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan
(dalam hidupnya) seorang wali yang mursyid” (QS 18 Al Kahfi : 17)
Dalam
tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani)
merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual.
Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh
sebagian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf
dengan cara-cara individual. Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani
yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan
dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari
ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua
sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf
bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid.
Pandangan
demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek
sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan
spiritual. Bukti-bukti historis akan kegagalan spoiritual tersebut telah
dibuktikan oleh para ulama sendiri yang mencoba menempuh jalan sufi
tanpa menggunakan bimbingan Mursyid.
Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti
Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama
Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh
Abdul Wahab asy-Sya’rani, dan Hujjatul Islam
Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid.
Masing-masing
ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan
kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali
atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan
agama, seluas apa pun, hanyalah “dunia ilmu”, yang hakikatnya lahir dari
amaliah. Sementara, yang diserap dari ilmu adalah produk dari amaliah
ulama yang telah dibukakan jalan ma’rifat itu sendiri.
Jalan
ma’rifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh begitu saja dengan
mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul
Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang
merasa sudah sampai kepada Allah (wushul) tanpa bimbingan seorang
Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan
tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh
jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu
membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) yang datang
dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di
sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh
sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal: “Barangsiapa menempuh
jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah syetan”.
Oleh
sebab itu, seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing
ruhani, walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki oleh sang
ulama tadi lebih tinggi dibanding sang Mursyid. Tetapi, tentu saja,
dalam soal-soal Ketuhanan, soal-soal batiniah, sang ulama tentu tidak
menguasainya.
Sebagaimana ayat al-Qur’an di atas, seorang
Syekh atau Mursyid Sufi, mesti memiliki prasyarat yang tidak ringan.
Dari konteks ayat di atas menunjukkan bahwa kebutuhan akan bimbingan
ruhani bagi mereka yang menempuh jalan sufi, seorang pembimbing ruhani
mesti memiliki predikat seorang yang wali, dan seorang yang Mursyid.
Dengan kata lain, seorang Mursyid yang bisa diandalkan adalah seorang
Mursyid yang Kamil Mukammil, yaitu seorang yang telah mencapai
keparipurnaan ma’rifatullah sebagai Insan yang Kamil, sekaligus bisa
memberikan bimbingan jalan keparipurnaan bagi para pengikut thariqatnya.
Tentu
saja, untuk mencari model manusia paripurna setelah wafatnya Rasulullah
saw. terutama hari ini, sangatlah sulit. Sebab ukuran-ukuran atau
standarnya bukan lagi dengan menggunakan standar rasional-intelektual,
atau standar-standar empirisme, seperti kemasyhuran, kehebatan-kehebatan
atau pengetahuan-pengetahuan ensiklopedis misalnya. Bukan demikian.
Tetapi, adalah penguasaan wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana,
logika-logikanya, hanya bisa dicapai dengan mukasyafah kalbu atau akal
hati.
Karenanya, pada zaman ini, tidak jarang Mursyid
Tarekat yang bermunculan, dengan mudah untuk menarik simpati massa,
tetapi hakikatnya tidak memiliki standar sebagai seorang Mursyid yang
wali sebagaimana di atas. Sehingga saat ini banyak Mursyid yang tidak
memiliki derajat kewalian, lalu menyebarkan ajaran tarekatnya. Dalam
banyak hal, akhirnya, proses tarekatnya banyak mengalami kendala yang
luar biasa, dan akhirnya banyak yang berhenti di tengah jalan
persimpangan.
Lalu siapakah Wali itu? Wali adalah kekasih
Allah Swt. Mereka adalah para kekasih Allah yang senanatiasa total dalam
tha’at ubudiyahnya, dan tidak berkubang dalam kemaksiatan. Dalam
al-Qur’an disebutkan:
“Ingatlah, bahwa wali-wali Allah itu tidak pernah takut dan tidak pernah bersedih hati.
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertaqwa..." (QS 10 Yunus : 62-63)
Sebagian
tanda dari kewalian adalah tidak adanya rasa takut sedikit pun yang
terpancar dalam dirinya, tetapi juga tidak sedikit pun merasa gelisah
atau susah. Para Wali ini pun memiliki hirarki spiritual yang cukup
banyak, sesuai dengan tahap atau maqam dimana, mereka ditempatkan dalam
Wilayah Ilahi di sana. Paduan antara kewalian dan kemursyidan inilah
yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil dan
Mukammil di atas.
Wali Allah itu adalah orang-orang yang beriman dan senantiasa bertaqwa!!!
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman
ialah mereka yang
bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan
bila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan
hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu)
orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari
rezki yang Kami berikan kepada mereka.Itulah orang-orang yang beriman
dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat
ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang
mulia."
(QS 8 Al Anfaal :2-4)
"Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang bila diperingatkan dengan ayat-ayat itu
mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula
mereka tidaklah sombong."
(QS 32 As Sajdah: 15)
"Mereka itu adalah orang-orang yang
bertaubat,
yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud,
yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang
memelihara hukum-hukum Allah.."
(QS 9 At Taubah :112)
"..
orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka
tidak ragu-ragu dan mereka berjuang
(berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah...
"(QS 49 Al Hujuraat :15)
Wali Allah
akan berlaku lemah lembut terhadap orang mukmin dan bersikap
keras/tidak akan berteman setia dengan musuh-musuh Allah (kafir)!!!
"Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.."
(QS 60 Al Mumtahanah : 1)
"...yang
bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang
berjihad dijalan Allah, dan yang
tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.."
(QS 5 Al Maa'idah : 54)
Panduan mencari Mursyid
Dalam
kitab Al-Mafaakhirul ‘Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Ayyad,
ditegaskan, — dengan mengutip ungkapan Sulthanul Auliya’ Syekh
Abul Hasan asy-Syadzily ra, — bahwa syarat-syarat seorang Syekh atau Mursyid yang layak – minimal –ada lima:
1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas.
2. Memiliki pengetahuan yang benar.
3. Memiliki cita (himmah) yang luhur.
4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai.
5. Memiliki mata hati yang tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi.
Sebagaimana kata Sayyid-At-Tariqah As-Sufiyyah Shaikh
Junaid Al-Baghdadi ra :
"Ilmu
kami, ahli Tasawwuf diikat dengan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Jika
seseorang tidak hafal Hadis Nabi dan tidak menulisnya didalam kitab2
dan tidak hafal Al-Qur'an, dan tidak mahir didalam hukum2 syaria't dan
tidak pula 'alim didalam ahwal perjalanan kerohanian, maka orang itu
tidak layak diikuti sebagai pemimpin Ma'rifat ketuhanan (mursyid). Maka
jangan kamu mengambil ilmu darinya"
Berkata Ghawthul A'zaham Syaikh Muhyiddin
Abdul Qadir Jailani ra:
"Seseorang
yang menjadi Syaikh kerohanian mesti memiliki lima syarat, jika
tidak, dia adalah penipu yang hanya memimpin kepada kebodohan. Dia
harus sangat ahli didalam Syari'at, sementara sangat dalam
pengetahuannya didalam haqiqat. Dia haruslah sangat lemah lembut dalam
perkataan dan tingkah lakunya kepada yang berhajat, selalu memuliakan
tamu2 yang datang kepadanya dengan penuh kasih sayang. Dia juga
haruslah sangat 'alim dalam halal dan haram. Dia memimpin si salik
pada jalan ma'rifat, sebagaimana dia sendiri dipimpin, sempurna
didalam kemurahan hatinya." (Qala'id Al-Jawahir)
Sultanul Arifin Hazrat
Sultan Bahu ra berkata:
"Apabali
seseorang memasuki alam Tasawwuf, dia wajib dengan sungguh2 mematuhi
tuntutan Syari'at. Dia wajib mematuhi hukum2 didalam Al-Qur'an dan
Sunnah Nabi dalam setiap langkahnya"
(Mihakul Fuqara)
Sebaliknya
kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut:
1. Bodoh terhadap ajaran agama.
2. Mengabaikan kehormatan ummat Islam.
3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna.
4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.
5. Berakhlak buruk tanpa peduli dengan perilakunya.
Syeikh
Abu Madyan
– ra- menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani
dalam perilakunya di hadapan Allah Swt. lalu muncul salah satu dari lima
karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang pendusta ruhani:
1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan.
2. Mempermainkan tha'at kepada Allah.
3. Tamak terhadap sesama makhuk.
4. Kontra terhadap Ahlullah
5. Tidak menghormati sesama ummat Islam sebagaimana diperintahkan Allah Swt.
Syeikh
Abul Hasan Asy-Syadzili mengatakan,
“Siapa
yang menunjukkan dirimu kepada dunia, maka ia akan menghancurkan
dirimu. Siapa yang menunjukkan dirimu pada amal, ia akan memayahkan
dirimu. Dan barangsiapa menunjukkan dirimu kepada Allah Swt. maka, ia
pasti menjadi penasehatmu.”
Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengatakan,
“Janganlah
berguru pada seseorang yang tidak membangkitkan dirimu untuk menuju
kepada Allah dan tidak pula menunjukkan wacananya kepadamu, jalan menuju
Allah”.
Seorang Mursyid yang hakiki, menurut Asy-Syadzili adalah seorang Mursyid yang tidak memberikan beban berat kepada para muridnya.
Dari
kalimat ini menunjukkan bahwa banyak para guru sufi yang tidak
mengetahui kadar batin para muridnya, tidak pula mengetahui masa depan
kalbu para muridnya, tidak pula mengetahui rahasia Ilahi di balik nurani
para muridnya, sehingga guru ini, dengan mudahnya dan gegabahnya
memberikan amaliyah atau tugas-tugas yang sangat membebani fisik dan
jiwa muridnya. Jika seperti demikian, guru ini bukanlah guru yang hakiki
dalam dunia sufi.
Jika secara khusus, karakteristik para
Mursyid sedemikian rupa itu, maka secara umum, mereka pun berpijak pada
lima (5) prinsip thariqat itu sendiri:
1. Taqwa kepada Allah swt. lahir dan batin.
2. Mengikuti Sunnah Nabi Saw. baik dalam ucapan maupun tindakan.
3. Berpaling dari makhluk (berkonsentrasi kepada Allah) ketika mereka datang dan pergi.
4. Ridha kepada Allah, atas anugerah-Nya, baik sedikit maupun banyak.
5. Dan kembali kepada Allah dalam suka maupun duka.
Manifestasi Taqwa, melalaui sikap wara’ dan istiqamah.
Perwujudan
atas Ittiba’ sunnah Nabi melalui pemeliharaan dan budi pekerti yang
baik. Sedangkan perwujudan berpaling dari makhluk melalui kesabaran dan
tawakal. Sementara perwujudan ridha kepada Allah, melalui sikap qana’ah
dan pasrah total. Dan perwujudan terhadap sikap kembali kepada Allah
adalah dengan pujian dan rasa syukur dalam keadaan suka, dan
mengembalikan kepada-Nya ketika mendapatkan bencana.
Secara keseluruhan, prinsip yang mendasari di atas adalah:
1) Himmah yang tinggi,
2) Menjaga kehormatan,
3) Bakti yang baik,
4) Melaksanakan prinsip utama; dan
5) Mengagungkan nikmat Allah Swt.
Dari
sejumlah ilustrasi di atas, maka bagi para penempuh jalan sufi
hendaknya memilih seorang Mursyid yang benar-benar memenuhi standar di
atas, sehingga mampu menghantar dirinya dalam penempuhan menuju kepada
Allah Swt.
Rasulullah saw. adalah teladan paling
paripurna. Ketika hendak menuju kepada Allah dalam Isra’ dan Mi’raj,
Rasulullah Saw. senantiasa dibimbing oleh Malaikat Jibril as. Fungsi
Jibril di sini identik dengan Mursyid di mata kaum sufi. Hal yang sama,
ketika Nabiyullah Musa as, yang merasa telah sampai kepada-Nya, ternyata
harus diuji melalui bimbingan ruhani seorang Nabi Khidir as. Hubungan
Musa dan Khidir adalah hubungan spiritual antara Murid dan Syekh. Maka
dalam soal-soal rasional Musa as sangat progresif, tetapi beliau tidak
sehebat Khidir dalam soal batiniyah.
Karena itu lebih
penting lagi, tentu menyangkut soal etika hubungan antara Murid dengan
Mursyidnya, atau antara pelaku sufi dengan Syekhnya. Syekh Abdul Wahhab
asy-Sya’rani, (W. 973 H) secara khusus menulis kitab yang berkaitan
dengan etika hubungan antara Murid dengan Mursyid tersebut, dalam
“Lawaqihul Anwaar al-Qudsiyah fi Ma’rifati Qawa’idus Shufiyah”.
Untuk
mempermudah penemuan seorang mursyid sesuai kriteria diatas maka kita
pun harus punya himmah/cita2 yg tinggi bertemu dgn Allah dan menjalankan
islam sesuai Qur'an dan Sunnah dgn selalu memanjatkan do'a secara
intens kepada Allah agar dipertemukan seorang mursyid yang wali..
Good Luck
"Al
Qur'an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam,(yaitu)
bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.Dan
kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS 81. At Takwiir :27-29 )
"Sesungguhnya
(ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki
(kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.Dan
kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah..." ( QS 76. Al Insaan : 29-30)
Baca juga :
Orang-Orang Yang Terpilih
Macam Tingkatan Manusia dan Kedudukan Mereka
Model Para Penempuh
Tingkat-tingkat Kesempurnaan
Untuk mengetahui Risalah Futuhul Ghaib tekan
Kumpulan Risalah Futuhul Ghaib