Laman

Rabu, 15 Maret 2023

Istiqomah


Pengertian Istiqomah
Istiqomah adalah berpegang teguh dengan agama dan kokoh (tegar dan tidak goyah) di atasnya.

Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam bukunya “Jami’ul Ulum wal Hikam” mengatakan:”Istiqomah adalah penempuhan jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, tanpa adanya pembengkokan ke kanan maupun ke kiri. Dan hal itu mencakup ketaatan secara keseluruhan, baik lahir maupun bathin, serta meninggalkan segala bentuk larangan.

Hukum Istiqomah
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi-Nya (Muhammad) shallallahu 'alaihi wasallam dan para pengikut beliau untuk beristiqomah baik dalam aqidah, syari’at, pedoman hidup, maupun dalam manhaj. Dan supaya mereka menjauhi sikap berlebih-lebihan dan supaya mereka menghindari hawa nafsu para wali-wali syaitan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

{ فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْاْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ } [ سورة هود :112] .

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud:112)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk kokoh dan senantiasa istiqomah, dan itu termasuk cara terbesar untuk mendapatkan kemenangan atas musuh-musuh mereka dan untuk menyelisihi lawan-lawan mereka. Dan Dia melarang mereka dari perbuatan ghuluw yaitu perbuatan melampui batas, karena sesungguhnya hal itu (ghuluw) adalah kematian/musibah sekalipun (perbuatan ghuluw) itu terhadap orang musyrik.Dan Dia Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa Dia Maha Melihat amalan hamba-hamba-Nya, Dia tidak lalai dari sesuatu sekecil apapun dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya hal sekecil apapun.”

Buah Istiqomah
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ {30} نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَاتَدَّعُونَ {31} نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ {32}

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:"Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):"Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushilat: 30-32)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأَسْقَيْنَاهُم مَّآءً غَدَقًا {16}

Dan bahwasannya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak)”. (QS. Al-Jin:16)

Dari ayat-ayat yang mulia di atas kita bisa mengambil beberapa faidah/buah dari Istiqomah diantaranya:

Pertama, Malaikat turun kepada mereka
Kedua, mendapatkan thuma’ninah (kedamaian) dan ketenangan
Ketiga, baginya kabar gembira dengan Surga.
Keempat, diberikan keluasan rizki dan kehidupan yang lapang.
Kelima, diampuni dosa-dosanya

Jalan menempuh Istiqomah
1. Melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, bersungguh-sungguh di dalamnya dan memaksa hawa nafsu untuk taat kepada-Nya.
2. Ilmu, karena bagaimana kita bisa istiqomah kalau tidak dilandasi dengan ilmua.
3. Ikhlash
4. Mengikuti/mencontoh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
5. Seimbang dan pertengahan, tidak ghuluw dan tidak meremehkan.
6. Doa
7. Bergaul dan bersahabat dengan ortang-orang shalih.
8. Selalu ada ikatan dengan al-Qur’an, baik dengan membaca, menghafal, mentadabburi dan mengamalkannya.

Dampak Istiqomah dalam kehidupan seorang muslim
1. Memperoleh tauhid yang murni.
2. Mendorong untuk berdakwah kepada jalan Allah.
3. Memiliki kesungguhan dan semangat/cita-cita yang tinggi.
4. Kokoh dan teguh di atas kebenaran.
5. Merasa kurang dalam beribadah (tidak pernah merasa telah beribadah dengan sempurna)

Penghalang-penghalang Istiqomah
1. Menganggap enteng perbuatan maksiat.
2. Menyibukkan diri dengan dunia dan melupakan akhirat.
3. Berlebih-lebihan dalam hal-hal yang mubah (yang diperbolehkan)
4. Sifat tengah-tengah (pertengahan) yang buruk.

Cerminan para Salaf dalam Istiqomah mereka
Istiqomah dalam ucapan. Imam al-Bukhari rahimahullah berkata:”Aku berharap berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla dan Dia tidak menghisabku (menghitungku) telah menggunjing (ghibah) satu orangpun.”

Istiqomah dalam rasa khawatir atau gundah
Dalam biografi Sahabat mulia Jam’ah bin Abi Jam’ah ada riwayat bahwasanya dia bermalam di rumah salah seorang Tabi’in bernama Haram bin Hayyan al-‘Abdi, maka dia melihat Jam’ah menangis semalam suntuk, maka Haram berkata kepadanya:”Apa yang membuatmu menangis?” Dia berkata:”Aku teringat suatu malam yang mana pada pagi harinya dibangkitkan manusia dari kubur-kubur mereka.” Kemudian dia bermalam di rumahnya pada malam berikutnya, lalu diapun menangis, maka Haram pun bertanya kepadanya lalu diapun menjawab:”Aku teringat suatu malam yang pagi harinya bintang-bintang berjatuhan.”

Kokoh dan tegar dalam Istiqomah
Sikap Ka’ab bin Malik radhiyallahu 'anhu ketika dikucilkan oleh manusia (para Sahabat radhiyallahu'anhum) dan manusia yang paling dekat dengannya pun keras (dalam sikap) kepadanya. Dan ketika beliau menolak surat tawaran dari Raja Ghassan yang datang kepada beliau yang di dalamnya ada tawaran yang menggiurkan dan kemewahan, akan tetapi tungku api adalah jawaban yang paling tegas terhadap tawaran yang menggiurkan itu (maksudnya beliau tidak menghiraukan tawaran itu dan beliau lebih memilih membakar surat tawaran itu).

Sikap Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu terhadap orang-orang murtad dan yang tidak mau membayar zakat setelah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka nampak dengan jelas kejujuran tekad dan keteguhan beliau radhiyallahu 'anhu dalam membela agama Allah. Dan ketika itu jazirah Arab goncang dengan adanya kemurtadan dan kemunafikan, maka beliau tetap tegar seperti gunung yang kokoh, tidak mau mengalah (menggugurkan zakat) walaupun hanya seekor anak unta sekalipun, sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala memenangkannya dan jadilah beliau tanda dan simbol bagi setiap orang yang menginginkan Istiqomah dan mencari teladan yang shalih.

Hadits-hadits seputar Istiqomah
Dari Sufyan bin ‘Abdullah ats-Tsaqafi radhiyallahu 'anhu berkata, aku berkata:”Wahai Rasulullah, katakana kepadaku suatu perkataan dalam Islam, aku tidak tanyakan tentang hal itu kepada seorang pun selain engkau –dalam sebuah riwayat yang lain: setelah engkau-“ Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:

( قل آمنت بالله ثم استقم ) .

”Katakanlah aku beriman kepada Allah, lalu Istiqomahlah.”
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
( لا يستقيم إيمان عبدٍ حتى يستقيم قلبه ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم لسانه ) .

Tidak Istiqomah (lurus) keimanan seorang hamba sebelum Istiqomah hatinya, dan tidak akan Istiqomah hatinya sebelum Istiqomah lisannya.” (HR. Imam Ahmad)
Dari Tsauban radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

( استقيموا ولن تُحصوا واعلموا أن خير أعمالكم الصلاة ، ولا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن ) .

Istiqomahlah kalian dan kalian tidak akan mampu beristiqomah secara sempurna, dan ketahuilah bahwa sesunguhnya sebaik-baik amalan kalian adalah sholat, dan tidak menjaga wudhu kecuali seorang mukmin.” (HR. at-Tirmidzi, Malik dll)

Makna ولن تُحصوا disebutkan di dalam kitab al-Muntaqo syarah (penjelasan) terhadap kitab al-Muwatho beberapa makna diantaranya: Kalian tidak akan sanggup untuk menjangkau semua perbuatan amal shalih, atau kalian tidak akan bisa menghitung pahala dari Istiqomah apabila engkau melakukannya. Sedangkan dalam kitab Murqotul Mashaabih syarah terhadap kitab Misykatul Mashaabih disebutkan bahwa maknanya adalah engkau tidak akan mampu beristiqomah secara sempurna.
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu (secara mauquf maupun marfu’):

( إذا أصبح ابن آدم ؛ فإن الأعضاء كلها تُكفر اللسان ، فتقول : اتق الله فينا ؛ فإنما نحن بك ؛ فإن استقمت استقمنا وإن اعوججت اعوججنا ) .

Jika waktu pagi tiba seluruh anggota badan menyatakan ketundukannya terhadap lisan dengan mengatakan, ‘Bertakwalah kepada Allah terkait dengan kami karena kami hanyalah mengikutimu. Jika engkau baik maka kami akan baik. Sebaliknya jika kamu melenceng maka kami pun akan ikut melenceng” (HR Tirmidzi no 2407 )

Makna sabda Nabi فإن الأعضاء كلها تُكفر اللسان adalah bahwa semua anggota badan tunduk dan merendahkan diri di hadapan lisan seraya mengucapkan ucapan tersebut di atas, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi. Wallahu A’lam

Sumber : as-salafiyyah

 

Pengenalan Diri

  Mengenal diri adalah kunci untuk mengenal Tuhan, sesuai ungkapan hadis : “Siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya,” dan sebagaimana dikatakan Al Quran : “Akan Kami tunjukkan ayat-ayat Kami di dunia ini dan dalam diri mereka agar kebenaran tampak bagi mereka.” [QS 41 : 53]

Ketahuilah, tak ada yang lebih dekat kepadamu kecuali dirimu sendiri. Jika kau tidak mengetahui dirimu sendiri, bagaimana bisa mengetahui yang lain. Pengetahuanmu tentang diri sendiri dari sisi lahiriah, seperti bentuk muka, badan, anggota tubuh, dan lainnya sama sekali tak akan mengantarmu untuk mengenal Tuhan. Sama halnya, pengetahuanmu mengenai karakter fisikal dirimu, seperti bahwa kalau lapar kau makan, kalau sedih kau menangis, dan kalau marah kau menyerang, bukanlah kunci menuju pengetahuan tentang Tuhan. Bagaimana bisa kau mencapai kemajuan dalam perjalanan ini jika kau mengandalkan insting hewani serupa itu ?

Sesungguhnya pengetahuan yang benar tentang diri meliputi beberapa hal berikut :
Siapa aku dan dari mana aku datang ? kemana aku akan pergi, apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini, dan dimanakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan ? ketahuilah, ada tiga sifat yang bersemayam dalam dirimu : hewan, setan dan malaikat. Harus kau temukan, mana di antara ketiganya yang aksidental dan mana yang esensial. Tanpa menyingkap rahasia itu , kau takkan temukan kebahagiaan sejati.

Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur dan berkelahi. Karena itu, jika engkau hewan, sibukkanlah dirimu dalam aktivitas itu. Setan selalu sibuk mengobarkan kejahatan tipu daya, dan dusta. Jika kau termasuk golongan setan, lakukan yang biasa ia kerjakan. Sementara, malaikat selalu merenungkan keindahan Tuhan dan sepenuhnya bebas dari sifat hewani. Jika kau punya sifat malaikat, berjuanglah menemukan sifat-sifat asalimu agar kau dapat mengenali dan merenungi DIA Yang Maha Tinggi serta terbebas dari perbudakan syahwat dan amarah. Berupayalah untuk mencari tahu mengapa kau diciptakan dengan kedua insting hewan ini, syahwat dan amarah, sehingga kau tidak ditundukkan dan diperangkap keduanya. Alih-alih diperbudak keduanya, kau harus menundukkan mereka dan mempergunakannya sebagai kuda tunggangan dan senjatamu.

Langkah pertama untuk mengenal diri adalah menyadari bahwa dirimu terdiri atas bentuk luar yang disebut jasad, dan wujud dalam yang disebut qalb atau ruh. Qalb yang saya maksudkan bukanlah segumpal daging yang terletak di dada kiri, melainkan tuan yang mengendalikan semua fakultas lainnya dalam diri serta mempergunakannya sebagai alat dan pelayannya. Pada hakikatnya, ia bukan sesuatu yang indrawi, melainkan sesuatu yang gaib; ia muncul di dunia ini sebagai pelancong dari negeri asing untuk berdagang dan kelak akan kembali ke tanah asalnya. Pengetahuan tentang wujud dan sifat-sifatnya inilah yang menjadi kunci mengenal Tuhan.

Sebagian pemahaman mengenai hakikat hati atau ruh dapat diperoleh seseorang dengan mengatupkan matanya dan melupakan segala sesuatu di sekitarnya selain dirinya sendiri. Dengan begitu, ia akan mengetahui ketakterbatasan sifat dirinya itu. Namun syariat melarang kita menelisik hakikat ruh sebagaimana ditegaskan Al Quran : “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakan : ruh adalah urusan Tuhanku.”[QS 17 : 85]
Jadi, sedikit yang dapat diketahui hanyalah bahwa ia merupakan suatu esensi tak terbagi yang termasuk dalam dunia titah [amr], dan bahwa ia bukanlah sesuatu yang abadi, melainkan ciptaan. Pengetahuan filosofis yang tepat mengenai ruh bukanlah awal yang niscaya untuk meniti jalan ruhani. Pengetahuan itu akan didapatkan melalui disiplin diri dan kesabaran menapaki jalan ruhani, sebagaimana dikatakan Al Quran : “Siapa yang berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami [yang lurus].” [QS 29 : 69]

Untuk memahami lebih jauh perjuangan batin untuk benar-benar mengenal diri dan Tuhan, kita dapat melihat jasad kita sebagai sebuah kerajaan; jiwa sebagai rajanya dan indra beserta fakultas lain sebagai tentaranya. Akal bisa disebut perdana menterinya, syahwat sebagai pemungut pajak, dan amarah sebagai polisi. Dengan alasan mengumpulkan pajak, syahwat selalu ingin merampas segala hal demi kepentingan sendiri, sementara amarah cenderung bersikap kasar dan keras. Pemungut pajak dan polisi harus selalu ditempatkan di bawah raja, tetapi tak mesti dibunuh atau ditindas, karena mereka punya peran tersendiri yang harus dipenuhinya. Namun jika syahwat dan amarah menguasai nalar, maka jiwa pasti runtuh. Jiwa yang membiarkan fakultas-fakultas yang lebih rendah menguasai yang lebih tinggi, ibarat orang yang menyerahkan bidadari kepada seekor anjing, atau seorang musim kepada seorang raja kafir yang zalim.

Memelihara sifat-sifat setan, hewan, atau malaikat akan melahirkan watak yang bersesuaian dengannya di hari kiamat akan mewujud dalam rupa yang kasat mata, seperti syahwat menjadi babi, amarah menjadi anjing dan srigala, serta kesucian mewujud dalam rupa malaikat. Pendisiplinan moral bertujuan membersihkan kalbu dari karat syahwat dan amarah sehingga sebening cermin yang mampu memantulkan cahaya ilahi.

Mungkin ada orang yang berkeberatan dan menanyakan, “jika manusia diciptakan dengan sifat-sifat hewan, setan dan malaikat, bagaimana kita bisa tahu bahwa sifat malaikat adalah esensi kita, sementara sifat hewan dan setan hanyalah aksidensi ?.”
Jawabannya, esensi setiap makhluk adalah sesuatu yang tertinggi dan khas dalam dirinya. Contohnya, kuda dan keledai adalah hewan pengangkut beban, tetapi kuda lebih unggul karena ia dipergunakan juga untuk perang. Jika tidak, kuda terpuruk hanya menjadi hewan pengangkut beban. Fakultas tertinggi dalam diri manusia adalah akal yang memampukannya merenung tentang Tuhan. Jika akal mendominasi, maka ketika mati ia terbebas dari kecenderungan syahwat dan amarah, sehingga dapat bergabung dengan para malaikat. Dibandingkan dengan beberapa jenis hewan, manusia jauh lebih lemah. Berkat akal, ia dapat mengungguli mereka sebagaimana dikatakan Al Quran : “Telah kami tundukkan segala sesuatu di atas bumi untuk manusia.” [QS 45 : 13]
Sebaliknya, jika sifat hewani atau setan yang berkuasa, maka setelah mati ia akan selalu menghadap ke bumi dan mendambakan kesenangan duniawi.

Betapa mengagumkan, jiwa rasional [akal] manusia berlimpah dengan pengetahuan dan kekuatan. Berkat keduanya ia dapat menguasai seni dan sains, mampu bolak-balik dari bumi ke angkasa secepat kilat, dapat memetakan langit dan mengukur jarak antarbintang. Berkat ilmu dan kekuatan ia juga dapat menangkap ikan dari lautan dan burung di udara, bahkan kuasa menundukkan binatang liar seperti gajah, unta dan kuda. Panca indranya bagaikan lima pintu yang terbuka menghadap dunia luar. Namun yang paling menakjubkan dari semua itu adalah kalbunya yang memiliki jendela terbuka ke dunia ruh yang gaib. Dalam keadaan tidur, ketika saluran indranya tertutup, jendela ini terbuka menerima berbagai gambaran dari dunia gaib, yang kadang-kadang mengabarkan isyarat tentang masa depan. Kalbunya bagaikan sebuah cermin yang memantulkan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh. Tetapi, bahkan di saat ia tidur, pikiran-pikiran yang bersifat duniawi akan memburamkan cermin tersebut sehingga kesan-kesan yang diterimanya tidak jelas. Bagaimanapun, saat kematian datang, semua pikiran seperti itu akan sirna dan hakikat segala sesuatu tampak sejelas-jelasnya. Saat itulah yang dimaksud dalam ayat Al Quran : “kamu lalai dari [hal] ini. Kami singkapkan tutup matamu sehingga penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.” [QS 50 : 22]

Jendela dalam kalbu ini juga dapat terbuka dan mengarah ke dunia gaib di saat-saat yang menyerupai ilham kenabian, yakni ketika intuisi muncul dalam pikiran tanpa melalui perangkat indrawi. Makin seseorang memurnikan dirinya dari hasrat badani dan memusatkan pikiran kepada Tuhan, semakin peka ia terhadap intuisi-intuisi seperti itu. Orang yang tidak menyadari intuisi semacam itu tak berhak menyangkal keberadaannya.

Dan tidak hanya para nabi yang bisa menerima intuisi seperti itu. Layaknya sebatang besi yang terus dipoles akan berubah menjadi cermin, pikiran siapapun akan mampu menerima intuisi seperti itu jika dilatih dengan disiplin yang keras. Kebenaran inilah yang diisyaratkan oleh Nabi ketika beliau bersabda : “setiap anak dilahirkan dengan fitrah [kecenderungan menjadi musli]; orang tuanya kemudian menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
Setiap manusia di lubuk terdalam kesadarannya mendengar pertanyaan, “Bukankah Aku ini Tuhanmu ?,” dan menjawab, “ya” [referensi QS 7 : 172]. Tetapi kebanyakan kalbu manusia bagaikan cermin yang telah tertutup karat dan kotoran sehingga tidak dapat memantulkan gambaran yang jernih. Berbeda dengan kalbu para nabi dan wali yang, meski mereka pun memiliki nafsu serupa kita, sangat peka terhadap kesan-kesan ilahiah.

Sebagaimana dikatakan di atas, jiwa rasional dilimpahi pengetahuan dan kekuatan. Jadi, intuisi seperti itu tidak hanya bisa diraih dengan pengetahuan, yang membuat manusia lebih unggul dari semua makhluk lainnya, tetapi juga dengan kekuatan. Sebagaimana malaikat menguasai pelbagai kekuatan alam, jiwa manusia pun berkuasa mengatur semua anggota badan. Jiwa yang telah mencapai tingkat kekuatan tertentu, tidak saja dapat mengatur jasadnya sendiri, melainkan juga jasad orang lain. Jika ia ingin agar seseorang yang sakit sembuh, si sakit akan sembuh, atau jika ingin seseorang yang sehat agar jatuh sakit, sakitlah orang itu, atau jika ia inginkan kehadiran seseorang, orang itu akan dating dihadapannya. Baik atau buruk akibat yang ditimbulkan oleh jiwa yang sangat kuat ini bergantung pada sumber kekuatannya, sihir ataukah mukjizat.

Ada tiga hal yang membedakan jiwa yang sangat kuat ini dari jiwa orang kebanyakan.
Pertama, apa yang dilihat orang lain hanya dalam mimpi, mereka melihatnya di saat-saat jaga.
Kedua, sementara kehendak orang lain hanya mempengaruhi jasad mereka, jiwa ini, dengan kekuatan kehendakNya, bisa pula menggerakkan jasad orang lain.
Ketiga, jika orang lain mesti belajar keras untuk mendapatkan suatu pengetahuan, ia mendapatkannya melalui intuisi.

Tentu saja ada banyak hal lain yang membedakan jiwa mereka dari jiwa kebanyakan manusia. Namun, ketiga tanda itulah yang dapat diketahui umum. Sebagaimana tidak ada sesuatupun yang mengetahui hakikat sifat-sifat Tuhan kecuali Tuhan, sifat sejati seorang nabi pun hanya diketahui oleh nabi. Tak perlu merasa heran, karena dalam kehidupan sehari-haripun kita tak mungkin menerangkan keindahan puisi pada seseorang yang tak peka terhadap rima dan irama, atau menjelaskan keindahan warna kepada seorang yang buta. Selain ketidakmampuan, ada perintang-perintang lain untuk mencapai kebenaran spiritual. Satu di antaranya adalah pengetahuan capaian lahiriah. Jelasnya, hati manusia bisa digambarkan sebagai sumur dan panca indra sebagai lima aliran yang terus mengaliri sumur itu. Untuk mengetahui kandungan hati yang sebenarnya, kita harus menghentikan aliran-aliran tersebut dan membersihkan sampah yang dibawanya. Dengan kata lain, jika kita ingin sampai kepada kebenaran ruhani yang murni, kita mesti membuang pengetahuan yang telah dicapai melalui proses indrawi dan yang sering kali mengeras menjadi prasangka dogmatis.

Namun banyak juga orang yang salah kaprah menyikapi pengetahuan capaian lahiriah ini. Banyak orang yang dangkal ilmunya, seraya mengutip beberapa ungkapan yang mereka dengar dari guru-guru sufi, bercuap-cuap mencela dan menajiskan semua jenis pengetahuan. Ia tak ubahnya seseorang yang tak tahu kimia lalu berkoar : “kimia lebih baik daripada emas,” seraya menolak emas ketika ditawarkan kepadanya. Kimia memang lebih baik dari emas, tetapi alkemis sejati amatlah langka,begitupun sufi sejati.

Setiap orang yang mengkaji persoalan in akan melihat bahwa kebahagiaan sejati tak bisa dilepaskan dari makrifat, mengenal Tuhan. Tiap fakultas dalam diri manusia menyukai segala sesuatu yang untuk itu dia diciptakan. Syahwat senang memenuhi hasrat nafsu, kemarahan menyukai balas dendam, mata menyukai pemandangan indah, dan telinga senang mendengar suara-suara merdu. Jiwa manusia diciptakan dengan tujuan agar ia mencerap kebenaran. Karenanya, ia akan merasa senang dan tenang dalalm upaya tersebut. Bahkan dalam persoalan yang remeh sekalipun, seperti permainan catur, manusia merasakan kesenangan. Dan, semakin tinggi materi pengetahuan yang didapat, semakin besar rasa senangnya. Orang akan senang jika dipercaya menjadi perdana menteri, tetapi ia akan jauh senang jika semakin dekat kepada raja yang mungkin mengungkapkan berbagai rahasia kepadanya.

Seorang astronom yang dengan pengetahuannya bisa memetakan posisi bintang-bintang dan menguraikan lintasan-lintasannya, pasti merasa jauh lebih senang ketimbang pemain catur. Maka tentu saja hati ini akan merasa teramat bahagia saat mengetahui bahwa tak ada sesuatupun yang lebih tinggi dari Allah. Pengetahuan tentang Allah merupakan satu-satunya subyek pengetahuan tertinggi sehingga orang yang berhasil meraihnya pasti akan merasakan puncak kesenangan.

Orang yang tak menginginkan pengetahuan ini tak beda dengan orang yang tak menyukai makanan sehat; atau layaknya orang yang lebih suka lempung ketimbang roti. Ketika kematian datang dan membunuh semua organ tubuh yang bisa diperalat nafsu, semua dorongan dan hasrat badani musnah, tetapi jiwa manusia tidak. Ia akan tetap hidup dan menyimpan segala pengetahuannya tentang Tuhan, malah pengetahuannya semakin bertambah.

Satu bagian penting dari pengetahuan tentang Tuhan timbul dari kajian dan perenungan atas jasad manusia yang menampilkan kebijaksanaan, kekuasaan, serta cinta Penciptanya. Dengan kekuasaanNya, Dia membangun kerangka tubuh manusia yang luar biasa ini hanya dari setetes air mani. Kerumitan jasad kita dan kemampuan setiap bagiannya untuk bekerja secara harmonis menunjukkan kebijakanNya. CintaNya Dia perlihatkan dengan memberi organ tubuh yang mutlak diperlukan manusia, seperti hati, jantung, dan otak, dan juga organ yang tidak mutlak dibutuhkan, seperti tangan, kaki, lidah dan mata. Lalu Dia menyempurnakan ciptaanNya itu dengan menambahkan rambut yang hitam, bibir yang memerah, dan bulu mata yang melengkung.

Karena itu sangat pantas jika manusia disebut alam al shaghir [mikrokosmos]. Struktur jasadnya mesti dipelajari, bukan hanya oleh orang yang ingin menjadi dokter, melainkan juga oleh orang yang ingin mencapai pengetahuan lebih dalam tentang Tuhan, sebagaimana studi yang mendalam tentang keindahan dan gaya bahasa pada sebuah puisi yang indah akan mengungkapkan lebih banyak kegeniusan penulisnya.

Namun dibandingkan pengetahuan tentang jasad beserta fungsi-fungsinya, pengetahuan tentang jiwa lebih banyak berperan mengantar manusia pada pengetahuan tentang Tuhan. Jasad bisa diumpamakan seekor kuda sementara jiwa adalah penunggangnya. Jasad diciptakan untuk jiwa dan jiwa untuk jasad. Jika seseorang tidak mengetahui jiwanya, sesuatu yang paling dekat kepadanya, maka pengakuannya bahwa ia mengetahui hal-hal lain tidak berarti apa-apa. Ia tak ubahnya pengemis yang tak punya persediaan makanan, lalu mengaku bisa memberi makan seluruh penduduk kota.

Orang yang mengabaikan kebesaran jiwa manusia dan menodai kesuciannya dengan mengotori atau bahkan merusaknya, pasti akan kalah di dunia dan di akhirat. Kebesaran manusia yang sebenarnya terletak pada kemampuannya untuk terus maju dan berkembang. Tanpa kemampuan itu ia akan menjadi makhluk lainnya, takluk oleh rasa lapar, haus, panas, dingin, dan musnah oleh penderitaan. Sering kali apa yang disukai seseorang justru sangat membahayakan dirinya. Dan segala hal yang memajukannya tidak bisa diperoleh kecuali dengan kesusahan dan kerja keras. Intelektualitas manusia sesungguhnya sangat rapuh. Sedikit saja kekacauan dalam otaknya sudah cukup untuk merusak atau membuatnya gila. Dan fisiknya pun lebih lemah dibanding dengan hewan; bahkan sengatan tawon saja sudah mampu mengusik ketenangan dan kesehatannya. Tabiatnya bahkan lebih lemah lagi. Satu rupiah hilang dari kantongnya ia kelabakan dan gelisah tak keruan. Kecantikannya pun, berkat kulitnya yang lembut, hanya sedikit lebih baik daripada makhluk lainnya. Jika tidak sering dicuci, manusia akan tampak sangat menjijikkan dan memalukan.

Sebenarnya manusia merupakan makhluk yang teramat lemah dan hina di dunia ini. Kebernilaian dan keutamaannya hanya akan mewujud di negeri akhirat. Melalui pendisiplinan diri ia akan naik dari tingkatan hewan ke tingkatan malaikat. Karena itu, disertai kesadaran sebagai makhluk terbaik dan paling unggul, ia harus berusaha mengetahui ketakberdayaannya, karena pengetahuan itu menjadi salah satu kunci untuk membuka pengetahuan tentang Allah.

Wallahualam bishhowab

 

Madrasah Hadhramaut : Penyakit Hasad

Segala puji bagi Allah SWT dengan pujian yang dengannya kami dapat mewujudkan ikhlas yang sesuangguhnya dalam penghambaan dan yang dengan­nya kami menjadi bagian dari orang-orang yang hatinya terpenuhi oleh ca­haya Allah SWT SWT, yang tidak ada lagi tersisa celah sedikit pun bagi syirik di saat-saat melakukan segala perbuatan.

Bila kami katakan bahwa kesombongan (al-kibr) adalah tanda atas kebodohan, riya’ (ar-riya’) adalah tanda atas kepandiran, sesungguhnya hasad adalah permusuhan (mu‘adah) terhadap Allah secara terang-terangan. Naudzu billah!!!

Segala puji milik Allah, Yang mensucikan hati orang-orang yang tulus dalam meraih kesucian, Yang menolong ham­ba-hamba-Nya di dalam mensucikan hati mereka di jalan ketulusan pencarian terhadap-Nya. Milik-Nya segala puji atas segala yang telah dikaruniakan-Nya, mi­lik-Nya segala puji atas segala yang te­ngah dikaruniakan-Nya, dan milik-Nya se­gala puji hingga Allah ridha, dan milik-Nya segala puji setelah ridha.

Ya Allah, limpahkanlah karunia dan ke­sejahteraan senantiasa atas penghulu kami, Nabi Muhammad, pemilik hati yang paling suci di antara makhluk, dan atas ahli baytnya, shabat-shahabarnya, para tabi‘in, tabi’ut tabi‘in, dan para pengikut mereka, hingga hari Kiamat.

Pada pelajaran yang lalu telah di­bahas ihwal menolehkan pandangan ke­pada hati dengan maksud untuk mensuci­kannya dari kotoran-kotoran, yang me­nempel padanya dari maksiat dan pe­nyakit-penyakit hati.

Telah lalu penjelasan tentang bagai­mana mengobati hati dari penyakit som­bong (al-kibr), yang menjadi tanda dari ke­bodohan pelakunya, demikian pula ten­tang bagaimana mengobati kegelapan pe­nyakit riya’, yang merupakan bentuk pe­remehan hati terhadap keagungan Allah SWT, dan penolehan hati, karena kebodohan, kepada cinta kedudukan di sisi manusia. Imam Al-Haddad berkata, “Riya’ adalah tanda kebodohan pelaku­nya. Mengapa?”

Beliau berkata, “Karena ia telah memalingkan ibadahnya kepada Allah kepada makhluk, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula memberikan madharat bagi dirinya.”

Selanjutnya kita akan membicarakan bagaimana melepaskan diri dari hasad, penyakit ketiga dari induk segala penyakit dan maksiat hati.

Bila kembali mengingat pelajaran yang lalu, kalian akan tahu bahwa som­bong akan melahirkan penolehan pan­dangan kepada manusia, karena pada kondisi ini seseorang membanding-ban­dingkan dirinya dengan orang lain. Ia me­mandang dirinya lebih mulia dan lebih uta­ma dari orang lain. Pandangan ini muncul dari sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain, yang selanjutnya berkembang menjadi riya’, ingin dipandang oleh orang lain. Ia mencari dan menuntut pandangan orang lain kepada dirinya, menuntut orang lain memuliakannya dan meng­agung­­kannya. Ia cinta terhadap keduduk­an di antara manusia.

Keadaan semacam ini, bila terus tum­buh berkembang di dalam diri pelakunya, se­lanjutnya akan berubah menjadi pe­nya­kit yang ketiga, yakni hasad.

Hasad, yang merupakan maksiat di an­tara maksiat-maksiat hati, adalah pe­rasaan berat dalam memandang nikmat atau karunia yang ada di sisi makhluk. Engkau merasa berat bila melihat orang lain memperoleh nikmat dari Allah SWT, baik nikmat duniawi maupun nikmat ukhrawi. Dari mana datangnya perasaan berat semacam ini? Perasaan itu datang ka­rena engkau sibuk untuk meraih dan men­dapatkan kedudukan di antara ma­nusia.

Apabila kedudukanmu di antara ma­nusia adalah karena ilmu yang engkau miliki, engkau akan merasa berat bila memandang orang lain yang lebih alim dan berilmu dari dirimu, karena engkau ta­kut orang-orang akan menolehkan pan­dangan mereka kepadanya, bukan ke­pada dirimu. Sehingga penyakit yang ada di dalam hatimu itu sampai kepada batas­an bahwa engkau merasa berat untuk melihat adanya nikmat yang Allah berikan kepada selain dirimu. Mengapa? Karena engkau tidak menginginkan orang-orang memandang kepada orang yang menda­pat karunia itu. Engkau hanya ingin agar orang-orang memandang kepadamu.

Atau, apabila kedudukan yang eng­kau harapkan di antara manusia adalah dengan sebab kekayaan yang engkau mi­liki, atau kemampuan untuk meng-goal-kan proyek-proyek yang mendatangkan pundi-pundi kekayaan, engkau akan me­rasa berat bila di hadapanmu terdapat orang lain yang juga memiliki kemampu­an seperti itu, karena engkau takut hal itu akan membuat pandangan orang-orang tertuju kepadanya, bukan kepada dirimu.

Pada ilmu, kedudukan, pangkat, ja­batan, dan pada apa pun itu, penuhnya hati oleh kegelapan cinta terhadap kedu­dukan di sisi manusia akan melahirkan se­telahnya penyakit yang ketiga ini, yakni hasad, perasaan berat melihat nikmat yang ada di sisi makhluk.

Bila kami katakan bahwa kesombong­an (al-kibr) adalah tanda atas kebodohan, riya’ (ar-riya’) adalah tanda atas kepan­dir­an, sesungguhnya hasad adalah pe­rmusuhan (mu‘adah) terhadap Allah se­cara terang-terangan. Naudzu billah!!!

Apakah seseorang dapat menerima bahwa dirinya menjadi musuh bagi Tu­han, Yang Maha Pemilik segala kemulia­an? Hasad adalah permusuhan terhadap Allah SWT secara terang-terangan, ka­rena orang yang hasud seolah-olah ia menentang Allah SWT.

“Kenapa Engkau memberi si Fulan?”

Di saat engkau merasa berat untuk melihat adanya nikmat pada seseorang, seolah-olah engkau menentang terhadap Yang memberinya nikmat itu, Allah SWT. Inilah bahaya hasad. Engkau akan se­nantiasa hidup dengan kegelapan hati, yang hatimu merasa berat untuk melihat kebaikan di sisi manusia, dan menentang Allah SWT dalam memberikan karunia-Nya kepada sekalian makhluk-Nya.

Hasad memiliki beberapa macam. Pertama, hasad Iblis (al-hasad al-iblisiy). Yakni berharap hilangnya nikmat dari orang lain meskipun nikmat itu tidak di­harapkan menjadi miliknya.

Seseorang berharap hilangnya nik­mat dari orang lain yang ada di hadapan­nya sekalipun nikmat itu tidak akan men­jadi miliknya. Misalkan, seseorang sukses dalam meng-goal-kan suatu transaksi bis­nis, engkau berharap agar orang itu men­dapat kerugian, sekalipun dirimu ti­dak dapat melakukan suatu transaksi pun.

“Atasku dan atas musuh-musuhku,” seperti yang dikatakan orang-orang.

Ini hasad Iblis. Dia merasa berat me­lihat kedudukan yang tinggi dari Allah SWT berada pada ayah kita, Nabi Adam AS. Hasad semacam ini kemudian mem­bawa Iblis kepada me­nen­­tang Tuhan, Yang Maha Pemilik se­gala ke­muliaan, dengan menolak untuk ber­sujud kepada Nabi Adam AS. Setelah itu, sebagai ganti dari semestinya ia kem­bali dan bertaubat kepada Allah SWT serta menyesali ke­salahannya, yang, bila saja dia bertaubat, niscaya Allah akan meng­hapuskan dosanya, karena sung­guh Allah mahaluas karunia-Nya, kepada Allah justru Iblis mengancam Adam AS dan anak-cucunya. Iblis berkata, “Dia (iblis) berkata, ‘Terang­kanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diri­ku? Sesung­guhnya jika Engkau mem­beri tangguh ke­padaku sampai hari Kia­mat, niscaya be­nar-benar akan aku se­­sat­kan keturunan­nya, kecuali se­bahagi­an kecil." (QS Al-Isra: 62).

Apakah perbuatan Iblis terhadap anak-cucu Adam akan mengembalikan kedudukannya? Apakah dengan itu Iblis akan mendapatkan kembali kedudukan yang telah hilang darinya? Tidak!! Sekali-kali tidak akan pernah kedudukannya itu kembali kepadanya. Disebabkan karena teramat gelap dan hitam pekatnya hasad yang ada di dalam hatinya, Iblis berpaling dari seharusnya memikirkan bagaimana mendapatkan ganti dari kerugian yang di­alaminya, dan bagaimana meraih kembali kedudukan yang telah hilang dari dirinya, kepada bagaimana mendatangkan ma­dharat terhadap orang lain yang menda­patkan karunia dan kedudukan dari Allah SWT dan bagaimana melenyapkan karu­nia yang diraih oleh selain dirinya.

Inilah yang terburuk dan paling hina dari macam-macam hasad.

Bila seseorang terhalang dari ketulusan dan kelapangan hati dan selamanya bersedih hati, niscaya dia tidak akan pernah merasakan nikmatnya ketaatan selama-lamanya. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya munajat kepada Allah SWT. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, karena dia ber­hadapan dengan Allah dengan sikap permusuhan terhadap-Nya.

Setelah menjelaskan hakikat hasad dan macam pertama dari macam-macam hasad, yakni hasad Iblis (al-hasad al-iblisiy), pengasuh melanjutkan penjelas­annya tentang macam-macam hasad se­lanjutnya dan bahaya darinya.

Kedua, harapan terhadap hilangnya nikmat dari orang lain agar nikmat itu beralih kepada dirinya. Seseorang ber­harap hilangnya nikmat dari orang lain yang berada di hadapanya dan dia ber­harap agar nikmat itu beralih kepada diri­nya. Dia berharap, si Fulan merugi dalam usahanya, agar dirinyalah yang kemudian mendapat keuntungan yang besar. Dia berharap, si Fulan jatuh kedudukannya, agar dialah yang nantinya mendapatkan dan menggantikan kedudukannya.

Seseorang yang memiliki sifat hasad semacam ini berharap hilangnya nikmat dari orang lain agar dirinya yang menda­patkannya. Sifat semacam ini adalah sifat yang buruk dan sesuatu yang dapat me­ngotori hati — wal-‘iyadzu billah, semoga Allah menjauhkan kita dan kalian semua daripadanya. Akan tetapi sifat hasad yang kedua ini lebih rendah keburukannya dari yang sebelumnya.

Ketiga, harapan terhadap hilangnya nikmat dari orang lain agar dia mendapat­kannya, namun, jika tidak men­dapat­kan­nya, dia tetap rela bila nikmat itu dimiliki orang lain.

Seseorang berharap hilangnya nik­mat dari orang lain yang ada di hadap­annya dan mengharapkan untuk menda­patkan nikmat itu. Akan tetapi jika tidak ada jalan untuk menggapainya agar men­jadi miliknya, dia merelakan nikmat itu menjadi milik orang lain tersebut.

Jenis hasad semacam ini pun buruk, akan tetapi kadar keburukannya lebih ringan dari dua macam hasad sebelum­nya.

Keempat, ghibthah. Sesuatu yang tidak dinilai buruk, tapi merasakan berat terhadap nikmat yang ada pada orang lain.

“Mengapa Fulan mendapatkan ini dan itu? Akan tetapi aku tidak berharap agar si Fulan rugi. Aku hanya berharap agar aku pun mendapatkan seperti yang didapatkan oleh si Fulan.”

Inilah ghibthah. Hasad seorang muk­min adalah ghibthah. Seorang mukmin tidak hasad kepada sesamanya, tetapi ia ghibthah.

Apa makna ghibthah kepada orang lain? Maknanya, ia berharap agar men­dapatkan nikmat seperti yang didapatkan orang lain, tetapi tidak mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang lain.

Untuk macam yang keempat ini, ti­dak­lah mengapa dimiliki seorang muk­min. Engkau melihat seseorang memiliki suatu kebajikan, misalkan ia telah hafal Al-Qur’an. Engkau merasa berat karena engkau belum hafal, maka engkau pun ber­harap agar segera dapat hafal Al-Qur’an, tapi engkau tidak merasa berat terhadap saudaramu yang telah lebih dahulu hafal Al-Qur’an. Perasaan berat itu selanjutnya memotivasimu untuk menghafal Al-Qur’an sehingga engkau mendapatkan apa yang ia dapatkan.

Engkau tidak berharap agar nikmat itu hilang dari saudaramu. Ini termasuk bab at-tanafus (saling berlomba). Allah SWT berfirman, "...dan untuk yang demi­kian itu, hendaknya orang berlomba-lom­ba." QS. Al-Muthaffifin: 26.

Ghibthah adalah sesuatu yang terpuji, karena ini kembali kepada sifat asal manusia, yakni harapan untuk menang, harapan untuk beridentitas, dan harapan untuk maju.

Bila datang ghibthah ke dalam hati­mu, tidaklah mengapa. Yang bermasalah adalah pada tiga macam yang pertama, yakni seseorang berharap hilangnya nik­mat dari orang lain.

Bahaya di Dunia

Adapun bahaya dan akibat yang di­timbulkan oleh sifat hasud sangatlah be­sar. Dan tidak hanya terbatas di dunia, te­tapi juga di akhirat.

Mengenai bahaya dan akibat sifat ha­sud di dunia, pertama, orang yang hasud akan senantiasa berada dalam duka dan kesedihan.

Orang yang hasud selalu berada da­lam duka selama hidupnya. Karena sese­orang yang di hatinya terpenuhi oleh ge­lapnya sifat hasad tidak pernah suka me­lihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah SWT. Dia tidak pernah suka bila se­seorang terlihat harmonis bersama ke­luarganya sehingga berusaha untuk me­nebarkan fitnah, tidak suka bila sese­orang mendapatkan nikmat dari kebaikan dunia, tidak suka bila seseorang menda­patkan nikmat berupa ilmu atau kebaikan apa pun.

Selamanya, ketika melihat orang lain mendapat kebaikan, dia akan merasa be­rat karenanya, sehingga ia pun berharap agar nikmat itu hilang. Orang semacam ini hidupnya miskin. Dia dalam kesedihan sepanjang hidupnya karena karunia Allah tidak pernah terputus selamanya kepada makhluk-Nya. Maka, sepanjang dia me­lihat karunia dan nikmat Allah di sisi makh­luk-Nya, sepanjang itu pula dia se­nantiasa berduka dan bersedih hati sam­pai akhir umurnya.

Bila saja tidak ada akibat buruk di­karenakan sifat hasad selain hal ini, nis­caya cukuplah sebagai bukti dari buruk­nya sifat hasad. Yang satu ini adalah bah­wa orang yang hasud selamanya berse­dih di dunia.

Kedua, orang yang hasud tidak me­miliki kawan. Karena hubungannya de­ngan manusia lainnya sebatas fatamor­gana. Orang yang hasud, sekalipun se­olah-olah mencurahkan cinta kepada se­sama, pasti akan datang saat-saat ketika tampak darinya sikap dan perilaku yang menunjukkan bahwa dia seorang yang hasud terhadap sesamanya sehingga orang-orang pun akan menjauh darinya. Orang yang hasud tidak memiliki kawan. Dia akan hidup terkucilkan sekalipun dia berusaha untuk menutupinya.

Ketiga, orang yang hasud terhalang dari nikmat ketulusan dan kelapangan hati. Ini berlaku di dunia sebelum akhirat. Orang yang hasud tidak akan merasakan makna ketulusan dalam hubungannya de­ngan makhluk lainnya. Setiap kali me­lihat seseorang mendapatkan sesuatu dari nikmat yang Allah berikan, hatinya merasa berat karenanya. Dia pun gundah dan susah karenanya, di saat orang yang menyambut gembira terhadap datangnya kebaikan pada orang lain merasakan mak­na ketulusan, karena hubungan yang dibangun bersama sesamanya adalah hubungan yang didasarkan atas cinta terhadap kebaikan bagi sesamanya. Keempat, seorang yang hasud tidak akan mungkin menjadi dai yang meng­ajak kepada jalan menuju Allah SWT. Orang yang hasud tidak akan mung­kin mengabdi kepada Islam. Meskipun ber­usaha untuk melakukan perbuatan yang menggambarkan khidmah terhadap Islam, dia tidak akan dapat menjadi sebab dalam menyampaikan kebajikan kepada se­genap makhluk. Karena dasar dalam ber­dakwah kepada Allah adalah bahwa engkau menyampaikan cahaya iman ke­pada orang lain. Apa maknanya? Maknanya, engkau me­nyampaikan kebaikan kepada me­reka. Apa makna menyampaikan kebaik­an kepada mereka? Maknanya, engkau men­jadi sebab bagi kebahagiaan me­reka. Dan jika di dalam hati terdapat ha­sad, niscaya akan terasa berat terhadap adanya kebaikan di sisi makhluk. Lalu bagaimana engkau dapat menjadi sebab dalam menyampaikan kebaikan kepada mereka? Syaikh Muhammad As-Sinqithi men­ceritakan satu kisah nyata yang lucu tapi juga ironis. Beliau menceritakan bahwa seorang nonmuslim nonpribumi tinggal di kota Damaskus. Bertahun-tahun lamanya ia berjualan minyak tanah. Setelah lebih dari dua puluh tahun berada di Damas­kus, ia merasa saatnya kembali ke ne­geri­nya. Lalu ia pun mendatangi sese­orang yang terlihat ahli ibadah. Ia datang kepada orang itu dan berkata, “Wahai Tuan, sekarang ini usiaku 60 tahun. Se­lama aku tinggal di negeri kalian, negeri Islam, aku telah tertarik kepada Islam. Apakah, jika aku masuk ke dalam Islam, Allah akan mengampuniku atas segala yang telah aku perbuat selama ini?”

Orang itu berkata kepadanya, “Enam puluh tahun engkau bergelimang dalam kemaksiatan, dosa, dan berbagai kenis­ta­an... lalu begitu saja ingin lepas dari se­mua itu dan engkau ingin masuk ke dalam surga? Sulit... hal itu tidak akan mungkin... tidak ada jalan keselamatan bagimu!”

Sampai di situ selesailah perma­sa­lahannya, dan orang itu pun memper­ca­yai­nya. Ia pun kembali ke rumahnya da­lam keadaan bersedih dan diliputi duka.

Namun, setelah enam bulan berlalu, hasrat dan keinginan yang kuat di dalam hatinya untuk menetapi jalan kebaikan membawanya untuk datang kepada Syaikh Muhammad As-Sinqithi, yang menceritakan kisah itu.

Nonmuslim itu berkata kepada Syaikh Sinqithi, “Apakah mungkin aku masuk Islam?”

“Baiklah, sekarang ucapkan dua kali­mah syahadat!”

“Apakah engkau yakin bahwa itu mung­kin untukku?”

“Engkau rela Islam sebagai agama­mu dan yakin terhadapnya?”

“Ya”

“Sekarang, ucapkanlah dua kalimah syahadat dan jangan ragu.”

Nonmuslim itu pun bersyahadat dan me­nangis setelahnya.

Syaikh Sinqithi pun bertanya kepada­nya, “Apa yang membuatmu menangis?”

“Aku pergi kepada seorang syaikh se­belum ini, atau seorang yang rupanya se­perti seorang syaikh, tapi ia berkata ke­padaku, ‘Tidak mungkin ada jalan se­lamat untukmu...’.” “Siapa dia?”

“Si Fulan di daerah anu...”

Syaikh Sinqithi pun mengunjungi orang yang ditunjukkan oleh nonmuslim tadi.

Setelah bertemu, ia bertanya kepada­nya, “Apakah benar beberapa bulan yang lalu ada seorang kelana yang datang ke­padamu dan menyatakan bahwa ia hen­dak masuk Islam lalu engkau katakan kepadanya, ‘Sudahlah, tak ada guna­nya... engkau sudah 60 tahun....’

Orang itu menjawab, “Benar.”

“Bagaimana mungkin engkau me­lakukan hal seperti itu?”

“Allah adalah Tempat meminta perto­longan. Orang ini sudah 60 tahun meng­habiskan umurnya dalam keharaman, ber­senang-senang dengan perempuan dan segala yang dia inginkan dari dunia, lalu nanti dia akan masuk surga bersama kita?! Ini musykil... Dia akan masuk surga bersama kita?!”

Hikmah dari kisah ini, di dalam kisah ini terdapat tiga masalah, akan tetapi se­muanya kembali kepada satu masalah, yakni hasad.

Masalah pertama, dia (“ahli ibadah” itu) tidak menginginkan adanya nikmat bagi orang lain.

Masalah kedua, dia meyakini bahwa dirinya masuk surga. Ini adalah musibah yang kedua. Ujub telah mewariskan ke­sombongan di dalam hatinya (...dia ma­suk surga bersama kita?!).

Apakah engkau dapat menjamin bah­wa engkau pasti masuk surga?

Masalah yang ketiga adalah sesuatu yang paling dalam. Sesungguhnya dia me­rasa dirinya rugi bahwa dirinya ter­halang dari maksiat. “Bagaimana mung­kin orang ini tenggelam dalam maksiat sedangkan aku tidak?” Karenanya dia ma­rah, mengapa orang lain melakukan mak­siat sedangkan dirinya tidak.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Tidak lain sebabnya adalah hasad.

Kelima, orang yang hasud terhalang dari nikmat ketaatan kepada Allah SWT.

Bila seseorang terhalang dari ketulus­an dan kelapangan hati dan selamanya bersedih hati, niscaya dia tidak akan per­nah merasakan nikmatnya ketaatan se­lama-lamanya. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya munajat kepada Allah SWT. Tidak akan mung­kin orang yang hasud merasakan nik­matnya dekat dengan Allah, karena ia berhadapan dengan Allah dengan sikap permusuhan terhadap-Nya. “Wahai Tu­hanku, kenapa Engkau memberi ini dan itu kepada Fulan dan Fulan?!”

Orang yang hasud menghadapi Allah dengan apa-apa yang tidak disukai-Nya ada di dalam hati hamba-hamba-Nya yang datang kepada-Nya. Ini semua ada­lah akibat dan bahayanya sifat hasud.

Di akhirat, hasad akan menghanguskan segala kebajikan. Hasad adalah sebab datangnya murka Allah SWT. Hasad adalah sebab tertolaknya seseorang dari rahmat Allah SWT. Tidakkah engkau ketahui bahwa hasad adalah sebab dari terusirnya Iblis?

Setelah pengasuh menjelaskan bahayanya penyakit hasad di dunia, selanjutnya pengasuh menjelaskan ba­ha­ya hasad kelak setelah pelakunya menjumpai Allah SWT di akhirat.

Di akhirat, hasad akan menghangus­kan segala kebajikan. Hasad adalah se­bab datangnya murka Allah SWT. Hasad adalah sebab tertolaknya seseorang dari rahmat Allah SWT. Tidakkah engkau ke­tahui bahwa hasad adalah sebab dari terusirnya Iblis? Itulah sebabnya, orang yang hasud akan terusir dari rahmat Allah SWT.

Hasad juga adalah sebab masuknya pelakunya ke dalam neraka. Hasad akan men­jadi permulaan hilangnya iman se­se­orang bila pelakunya tidak menyadari­nya – wal ‘iyadzu billah. Bagaimana hasad dapat menjadi se­bab tercerabutnya iman dari pelakunya? Karena orang yang hasud senantiasa me­­nentang dan menentang Allah SWT. “Ya Rabb, mengapa Engkau karuniakan ke­pada Fulan?!” “Mengapa Engkau mu­dah­kan fulan?!” “Mengapa?!” “Mengapa?!!!”

Terhadap Tuhannya, ia menyimpan rasa dalam benaknya, “Ya Rabb, sung­guh aku tidak rela dengan apa yang Eng­kau putuskan!” Kondisi ini bila berke­lan­jutan di dalam dirinya, lalu apakah yang tersisa dari imannya? Imannya akan hi­lang dan tercerabut dari asalnya.

Wahai murid, peniti jalan menuju Allah SWT, masuklah ke dalam hatimu dan periksalah. Terkadang hasad ter­sembunyi pada nafsu di dalam hati. Be­rapa kali engkau merasa bahwa dirimu marah terhadap seseorang melampaui batas dalam ucapan yang engkau lon­tarkan kepadanya hanya karena hal se­pele yang tidak perlu berkata keras dan tidak pula berteriak karenanya.

Periksalah, mungkin di dalam hatimu engkau merasakan sesuatu yang berat dari orang yang engkau marahi itu? Eng­kau hasad terhadapnya pada satu hal sehingga muncul masalah paling kecil na­mun membuatmu berdiri dan melontar­kan kata-kata yang tidak patut kepadanya.

Para ulama hati mengatakan, “Paling buruknya macam-macam hasad adalah ha­sadnya para ulama, para penuntut ilmu, para dai, dan para salikin, peniti ja­lan menuju Allah SWT. Mengapa demi­ki­an? Karena, semestinya merekalah yang mempergunakan bekal pensucian hati.”

Apabila seorang penuntut ilmu, misal­nya, hasad terhadap penuntut ilmu lain­nya, niscaya ia akan menanti-nanti kapan penuntut ilmu yang dihasadinya itu me­lakukan suatu kesalahan. Dan bila ia telah melakukan kesalahan, dia akan menye­rang­nya dengan serangan yang dahsyat ter­hadapnya. Karena serangan yang di­lakukan itu sesungguhnya bukanlah di­tujukan terhadap kesalahan yang ringan itu sendiri, melainkan untuk membinasa­kan semua yang datang dan berasal dari sisi penuntut ilmu, orang alim, dai, atau salik, yang dihasadinya itu.

Mengapa demikian? Karena perma­salahan yang sesungguhnya adalah per­masalahan hasad, bukan permasalahan kritik terhadap kesalahan. Demikian pula halnya dalam perda­gangan, jual-beli, dan perniagaan. “Tidak, tidak, tidakk!!.... Aku tidak mungkin per­caya kepada si Fulan selama-lamanya!” Mengapa? Pada hari ketika engkau menurunkan barang dagangan ke pasar, orang-orang tidak menemukan masalah apa pun dari si Fulan dalam perniaga­an­nya? Apakah ada kemunngkinan tidak sa­darnya mereka terhadap masalah si Fulan itu karena lupa? Sesungguhnya yang menyebabkan datangnya kemung­kinan, mengapa engkau langsung meng­anggapnya tidak amanah atau keji dalam perniagaannya, adalah karena engkau dan si Fulan berada pada satu profesi sebagai pedagang. Bila persaingan telah berlangsung, hasad pun muncul dan datang.

Bila ada seorang petani dan ada pe­tani lain selain dalam satu usaha agro­bisnis, misalnya, lalu petani yang kedua melakukan kesalahan dalam salah satu prosedur bercocok tanam yang semesti­nya hingga memberi pengaruh terhadap panen yang dihasilkan, petani yang per­tama akan berkata, “Tidak, jangan kalian percaya kepada si Fulan untuk melaku­kan tugas-tugas ini dan itu, dia telah melakukan ini dan itu....”

Siapa yang melakukan kecaman dan serangan terhadap petani itu? Yang me­lakukannya tidak lain adalah petani se­pertinya, pada profesi yang sama. Me­ngapa? Karena petani tersebut merasa berat untuk melihat petani lainnya lebih unggul dan lebih sukses darinya.

Bagaimana mengobati hasad?

Pertama, benci terhadap sifat hasad itu sendiri. Engkau benci sifat ini berada pada dirimu. Akui bahwa sifat hasad ada da­lam dirimu dan engkau membenci ke­beradaanya di dalam dirimu. Biarkan Allah melihat hatimu dan mendapati ke­bencianmu terhadap hasad di dalamnya. Kebencianmu untuk hasad terhadap orang lain.

Kedua, mendoakan orang yang eng­kau merasa berat melihat adanya karunia padanya.

Engkau melihat seseorang yang Allah berikan karunia kepadanya berupa nik­mat lahir atau bathin lalu hatimu merasa berat melihat nikmat itu ada padanya, maka ucapkanlah, “Ya Allah, tambahkan­lah nikmat-Mu baginya dan berikan ke­ber­kahan untuknya di dalamnya.... Ya, Allah, berikan taufiq untuknya agar dapat mempergunakan karunia-Mu dengan se­baik-baiknya.... Ya Allah, bahagiakanlah dia dengan karunia-Mu di dunia dan akhi­rat.... Ya Allah, muliakanlah dia dan mulia­kan dzuriyahnya dengan tambahan karu­nia dari sisi-Mu....”

Sebagian ulama berkata, “Ya Rabbi, Eng­kau perintahkan aku untuk mendoa­kan sedangkan hatiku tiada rela. Mungkin lidahku dapat berkata-kata, tapi hatiku se­sungguhnya tak menghendakinya. Aku tertawa dan mengkhianati Tuhanku. Aku tiada mampu melakukannya. Aku berkata ‘Ya Rabbi, tambahkan karuniamu kepada­nya’ sedang hatiku berkata ‘Jangan per­nah Engkau tambahkan baginya’.”

Meskipun hal seperti ini terjadi pada­mu, tetap lakukanlah. Jika engkau ucap­kan ‘Ya Rabb, tambahkanlah karunia-Mu untuknya’ dan hatimu berkata ‘Jangan, ya Rabb. Jangan pernah Engkau tam­bah­kan karunia-Mu untuknya’, ucapkanlah, ‘Ya Rabb, aku berlepas diri dari apa yang ada di hati ini kepada-Mu. Dan yang lidah­ku mampu untuk mengucapkannya, to­long­lah aku atas apa yang aku tiada kua­sa terhadapnya (untuk menggerakkan hatiku sebagaimana aku mampu meng­gerakkan lisanku untuk mendoakan ke­baikan). Aku ber-tawajjuh (menghadap­kan diri dan jiwa) kepada-Mu pada apa-apa yang membuat-Mu ridha dengan apa-apa yang aku mampu melakukannya, maka tolonglah aku pada apa-apa yang aku tiada mampu memperbuatnya.’ Semoga Allah memuliakanmu.

Ini adalah termasuk obat yang muja­rab untuk mengobati hasad yang ada di dalam hati. Engkau mendoakan orang yang engkau merasa berat melihat nik­mat berada di sisinya, dan memohonkan untuknya agar Allah SWT menambahkan karunia yang sudah diberikan dengan karunia yang lebih besar lagi.

Bila justru engkau kukuhkan kedudukannya itu di sisi manusia, sesungguhnya engkau telah menghinakan nafsumu dengan segala apa yang dapat menghinakannya. Dengan demikian, engkau telah membunuh permasalahan yang sesungguhnya dari dalam dirimu dan engkau membasminya sampai ke akar-akarnya. Beberapa waktu yang lalu, pengasuh menjelaskan bahayanya penyakit hasad di akhirat dan sebagian pen­jelasan tentang bagaimana mengo­bati penyakit hasad. Selanjutnya penga­suh melanjutkan ihwal bagaimana meng­obati hati dari penyakit hasad, sebagai pelajaran terakhir dari pelajaran kese­belas, tentang penyakit hasad.

Cara yang ketiga untuk mengobati penyakit hasad adalah menceritakan orang yang engkau hasadi di saat ke­ti­dakhadirannya dengan pujian.

Engkau ceritakan orang yang eng­kau merasa berat melihat karunia Allah ber­ada di sisinya dengan pujian. Cerita­kan orang yang engkau hasadi di saat ke­tidak­hadirannya dengan pujian terha­dap ke­baikan-kebaikan yang dimilikinya ke­pada orang-orang lain. Adapun jika di ha­dapannya engkau puji sedangkan di bela­kangnya engkau cela, yang demiki­an itu adalah kemunafikan dan mencari muka.

Pujilah di saat ketidakhadirannya ke­pada orang-orang dengan pujian yang baik dan kukuhkan buah dari kebaikan-kebaikannya itu di hati manusia.

Tahukah engkau, di mana wujud pengobatan terhadap hasad dari per­buatan ini?

Ini adalah paling idealnya pengobat­an langsung terhadap masalah hasad pada nafsu. Mengapa engkau hasad? Eng­kau ingin bersenang-senang? Eng­kau menginginkan kedudukan di sisi ma­nusia? Engkau ingin bersenang-senang dengan kedudukan? Bila engkau memuji ke­mampuan dan keahlian orang yang ber­­saing denganmu dalam ilmu, perda­gang­an, industri, teknik, atau bidang apa pun itu, di saat ketiadakhadirannya dan men­ceritakannya kepada orang-orang lain, apa yang sesungguhnya engkau laku­­kan di sini? Engkau tengah menguat­kan dan meneguhkan kedudukan yang akan men­jadi milik orang yang engkau ha­sadi itu di hati manusia dengan sebab karunia yang telah Allah berikan kepadanya.

Bila demikian halnya, apa yang se­dang engkau lakukan? Sesungguhnya engkau tengah membasmi penyakit yang ada dalam hatimu dari asalnya.

Mengapa engkau merasa berat me­lihat nikmat pada seseorang, mengapa engkau hasad terhadapnya? Karena engkau melihat bahwa nikmat itu akan menjadi sebab bertambahnya keduduk­an orang itu, yang akan menyaingi ke­du­dukanmu di sisi manusia. Dan bila justru engkau kukuhkan kedudukannya itu di sisi manusia, sesungguhnya eng­kau te­lah menghinakan nafsumu dengan se­gala apa yang dapat menghinakan­nya. Dengan demikian, engkau telah mem­bu­nuh permasalahan yang sesung­guhnya dari dalam dirimu dan engkau membas­mi­nya sampai ke akar-akarnya.

“Siapa yang dapat melakukan itu?! Ini teramat berat!!”

Apakah engkau ingin dekat dengan Allah? Apakah engkau ingin menjadi se­orang peniti jalan menuju Allah SWT? Ten­tu tidak akan pernah mudah untuk ber­diri dan berada di tempat orang-orang yang meniti jalan menuju Allah.

Untuk pertama kali, engkau akan ke­luar dari majelis ini dengan semangat yang berkobar-kobar setelah mende­ngar­kan penjelasan ini.

“Ya Allah, aku merasa berat terhadap nikmat-Mu yang ada di sisi Fulan. Ya Allah, tambahkanlah karunia-Mu untuk­nya dan berkahilah dia padanya....”

Esok hari, engkau duduk bersama ka­wan-kawanmu, katakanlah, “Masya Allah, Fulan luar biasa. Aku yakin, keahli­an yang luar biasa di bidang ini akan mem­berikan manfaat dan mendatang­kan kebaikan yang besar. Dan aku akan menyambut gembira atas keberhasilan­nya.”

Sampai batas ini, mungkin masih mu­dah bagi hati untuk menerimannya. Akan tetapi, setelah dua atau tiga hari, dan orang-orang mulai menceritakan dan me­muji-muji orang yang engkau puji dan ce­ri­takan itu di hadapan mereka, mulai naf­sumu menjadi terasa sempit mende­ngarnya. Mereka memujinya lagi, lagi, dan lagi, dan engkau katakan, “Benar, be­nar demikianlah dia adanya!” Na­mun, se­kali lagi, dengan marah eng­kau berkata, “Kami tahu bahwa dia istimewa!!”

Mengapa itu bisa terjadi? Karena de­ngan sebab semakin banyaknya orang-orang memuji dan menceritakan kebaik­an orang itu, urat lehermu terasa semakin sempit dan mencekik.

Makna dari penjelasan ini adalah bah­wa ini semua adalah proses yang pan­jang, karena di sini engkau tengah me­lawan nafsumu pada apa-apa yang di­sukainya. Engkau tengah membasmi pe­nyakit ini dari dalam hatimu dari dasar hati, yakni mengobati penyakit hasad.

Keempat, memikirkan bagaimana mem­bantu orang yang engkau hasad ter­hadapnya. Engkau merasa berat melihat nikmat yang telah Allah berikan kepada sesorang. Bila engkau dapat membantu orang itu pada nikmat yang ada padanya, ini pun akan dapat meng­obati penyakit ha­sad yang ada di dalam hatimu lebih dah­syat dan lebih hebat lagi. Bila ini dapat engkau lakukan, nis­caya Allah akan me­mandang hatimu. Ini­lah yang diharapkan dan buah darinya.

Apabila Allah memandang hatimu dan melihat bahwa engkau berinteraksi de­ngan-Nya dengan interaksi seperti demiki­an itu, niscaya Allah akan bertajalli atas di­ri­mu dengan nur-Nya. Dan bila Allah te­lah bertajalli atas dirimu dengan nur-Nya, Allah akan memberimu kesuci­an yang eng­kau tidak upayakan sebe­lumnya. De­ngan se­bab itu hatimu akan membuat ma­nusia men­jadi tenteram dan hatimu akan men­jadi sebab turun­nya ke­baikan bagi manu­sia dari sisi Allah SWT, selanjutnya engkau akan merasa rindu untuk melihat adanya nikmat dan ka­runia bagi manusia lainnya. Menga­pa? Karena engkau meli­hat tajalliyat (pancaran-pancaran kemaha­kuasaan yang berupa rahmat dan kasih sa­yang) Yang Maha Pemberi nikmat, Allah SWT....

Wahai murid, pahamilah makna ini dan sadarilah. Apabila engkau obati jiwamu dengan apa yang telah kami se­butkan dalam pelajaran ini dan dengan apa-apa yang telah diuraikan oleh para ulama tentang mengobati hati, engkau akan melihat adanya pancaran sinar di dalam hatimu. Apa pancaran sinar itu? Yakni nur dan cahaya kebahagiaan de­ngan melihat nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Pemberi karunia terhadap makhluk-Nya yang lain.

Makna dari ini adalah bahwa engkau menyaksikan tajalliyat Allah SWT. Eng­kau melihat seseorang yang dikaruniai nikmat oleh Allah SWT.

Apa yang engkau saksikan? Gam­baran yang engkau saksikan adalah se­orang manusia dan nikmat yang da­tang kepadanya, adapun hakikatnya sesung­guhnya engkau menyaksikan tajalli Allah SWT dengan asma-Nya Al-Mun‘im (Yang Maha Pemberi nikmat) atas hamba-Nya. Maka engkau telah berpindah dari ke­gelapan hasad kepada nur penyaksian terhadap tajalli Allah SWT dengan asma-Nya Al-Mun‘im. Kemudian tajalli Allah de­ngan asma-Nya Al-Mun‘im ini membuat hatimu terpenuhi dengan nur asma Allah Al-Mun‘im.

Bila hatimu telah terpenuhi dengan ta­jalli Allah dengan asma-Nya Al-Mun‘im, eng­kau pun akan bertajalli atas dirimu sen­­diri denga asma-Nya al-Mun‘im. Maka pada saat itu Allah bertajalli atasmu de­ngan nikmat wushul (sampai) kepada-Nya, yang untuk sampai kepada yang de­mikian itulah aku meniti jalan ini, mengu­raikan penjelasan ini, dan menghadiri ma­jelis ilmu untuk menyampaikan pelajaran ini.

Setelah kita membicarakan, pada tiga pelajaran yang lalu, perihal induk dari se­gala penyakit hati, apakah masih tersisa se­suatu dari al-kibr (kesom­bong­an) da­lam dirimu yang belum engkau benci. Be­nar, kita butuh waktu untuk melakukan mujahadah agar kita terlepas darinya dan memohon perlindungan Allah darinya. Dari riya’ (menolehkan padangan kepada kedudukan di sisi manusia), dan dari ha­sad (merasa berat melihat nikmat pada seseorang). Kita akan berupaya untuk melepaskan diri dari penyakit-penyakit itu.

Setelah pelajaran ini, tugas telah me­nunggu di hadapanmu yang harus eng­kau kerjakan. Yakni melepaskan diri dari penyakit al-kibr dengan merenung­kan ke­adaanmu dan segala kekurangan­mu. Kita melepaskan diri dari al-kibr de­ngan men­dahului orang lain untuk meng­ucap­kan salam kepadanya, bersih-ber­sih ru­mah, membersihkan kamar mandi mas­jid, dan lain-lain.

Kita melepaskan diri dari riya’ de­ngan me­rasakan keagungan Allah SWT sam­pai kita tidak mencari dan merindu­kan kedudukan di sisi makhluk, mem­ben­ci lin­tasan riya’ yang datang, dan memperba­nyak dzikir La ilaha illallah.

Dan kita melepaskan diri dari hasad de­­ngan membencinya dan mengakui ada­­nya hasad di dalam hati kita, men­doa­­kan orang yang mendapatkan nikmat di hadapan kita, mengakui adanya pera­saan berat di dalam hati kita di saat me­lihat orang lain mendapatkan nikmat, me­muji mereka di belakang mereka, dan de­ngan membantu orang itu pada nik­mat yang ada padanya agar semakin bertam­bah kebaikan padanya.

Dari tiga penyakit atau tiga maksiat ini bercabang darinya berbagai macam penyakit di dalam hati, karena penyakit-penyakit hati teramat banyak jenis dan bentuknya – wal ‘iyadzu billah. Akan tetapi barang siapa perhatiannya tercu­rah untuk mensucikan hatinya dari tiga penyakit ini, berarti ia mengobati hatinya dari penyakit-penyakit yang lainnya, yang bercabang dari ketiganya. Karena seolah ia mengo­bati sumber penyakit­nya.

Apabila engkau peduli dengan se­mua itu dan rela terhadap berlalunya hari demi hari, waktu demi waktu, kesung­guh­an, pi­kiran, segenap upaya, agar eng­kau terle­pas dari ketiga induk pe­nyakit itu, niscaya nur-nur kesucian akan memancar dan ber­kemilau di dalam hatimu.

Kita memohon kepada Allah SWT, se­­moga Dia mengaruniai kita kesempur­naan kesucian lahir dan bathin. Ya Bathin, ya Zhahir... sucikanlah lahir dan bathin kami, dan jadikanlah kami ke dalam go­longan orang-orang yang sha­lih. Ya Allah, selamatkanlah kami dari ke­gelapan ha­sad. Ya Allah, karuniakanlah di dalam hati kami cinta terhadap kebaik­an bagi ham­ba-hamba-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang paling berman­faat bagi makhluk-Mu yang lain dan pa­ling dekat kepada-Mu....

Sumber: http://www.majalah-alkisah.com

 

Sufi Road : AbulHassan ‘Ali Al-Kharqani Rahmatullah‘alaih.


Perjalananya
Beliau menerima Tarbiyah Suluk dari Ruhaniah Syeikh Abu Yazid Al-Bistami karana kelahiran Syeikh AbulHassan ‘Ali Al-Kharqani adalah hampir setengah abad sesudah meninggalnya Syeikh Abu Yazid Al-Bistami . Pada setiap tahun sekali telah menjadi kebiasaan bagi Syeikh Abu Yazid Al-Bistami untuk pergi menziarahi Kubur Para Auliya dan orangorang
yang mati Syahid di Daghistan. Ketika beliau tiba di Kharqan, beliau menarik nafas panjang seolah-olah menghirup bau bunga yang wangi.

Ketika Syeikh Abu Yazid Al-Bistami ditanya oleh murid-murid beliau apakah yang dihirupnya dan dari manakah datangnya bau wangi itu?
Beliau menjawab, “Bahwa akan datang di bandar ini kelahiran seorang hamba Allah yang mendapat keharuman dari Allah Ta’ala bernama ‘Ali dan nama Kuniyatnya adalah Abul Hassan yang peringkat Keruhaniannya akan lebih tinggi dariku tiga
kali ganda dan dia akan menghabiskan hayatnya dengan keluarganya dan bertani. Dia akan lahir seratus tahun sesudahku.”

Setelah beberapa tahun kemudian Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani pun lahir.Setelah sampai usianya dua puluh tahun, setiap hari dia pergi mengunjungi Maqam Syeikh Abu Yazid Al-Bistami setelah menunaikan Solat.

Di Maqam Kubur Syeikh Abu Yazid Al-Bistami beliau berdoa,
“Ya Allah, kurniakanlah kepaaku sebahagian daripada Keruhanian yang Engkau beri kepada Abu Yazid.” Setelah dua belas tahun beliau berbuat demikian,maka pada suatu hari semasa pulang dari Maqam itu, beliau merdengar satu suara dari Maqam itu berkata,
“Abul Hassan, semua Keruhanianku adalah hadiahmu kepaaku.”
Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani menjawab, “Tuan, saya lahir tiga puluh sembilan tahun Setelah tuan, bagaimana saya menghadiahkan Keruhanian saya
kepada tuan?”
Suara itu berkata lagi,“Aku telah terhalang dalam perjalanan Keruhanianku, maka aku berdoa kepada Allah meminta halangan itu dibuang. aku merdengar suara Ketuhanan berkata, “Berdoalah kepada Nur yang akan meliputi kamu apabila kamu melawat Kharqan kali ini.” Saat aku sampai di Kharqan, aku benar-benar bertemu dengan nur itu yang meliputi dari bumi sampai ke langit. aku berdoa kepadaNya seperti disuruh oleh Allah, maka dari semenjak itu terhapuslah halangan itu.”

Ketika Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani pulang setelah peristiwa itu, beliau terasa mendapat kurnia dalam dirinya. Beliau dapat menghabiskan bacaan Al-Quran dalam dua puluh empat jam, padahal beliau tidak bisa membaca sebelum peristiwa
itu. Beliau merupakan seorang Syeikh yang agung dan menerima kedudukan yang terpuji di kalangan sekelian Para Auliya pada zamannya.

Syeikh Abu Sa’id, seorang Ahli Sufi yang masyhur pada ketika itu pernah menziarahinya dan mereka telah banyak bermuzakarah antara satu sama lain tentang berbagai masalah.Pada suatu ketika sedang mereka berbicara karena
keadaan dzauq, Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani telah memeluk Syeikh SyeikhAbu Sa’id . Setelah kembali ke tempatnya,Syeikh Syeikh Abu Sa’id telah menghabiskan masa malam itu dengan bertafakkur, sambil duduk melutut dan juga dia menjerit dalam keadaan mabuknya.
Pada keesokan harinya, Syeikh Syeikh Abu Sa’id menemui Syeikh
Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani dan meminta supaya beliau mengambil balik percikan cahaya Keruhanian yang tersinar dalam dirinya itu akibat pelukan Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani karana katanya, beliau masih belum mencapai maqam seperti yang dicapai oleh Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani dan beliau tidak tahan dengan keadaan yang terlalu tinggi itu. Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani pun memeluk beliau sekali lagi dan kembalilah Syeikh Syeikh Abu Sa’id sepertimana biasa.
Ketika Syeikh Syeikh Abu Sa’id hendak pergi, beliau telah berkata kepada Syeikh
Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani ,aku memilih kamu untuk menjadi Khalifahku.”Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani lalu memberitahu Syeikh Abu Sa’id seperti berikut,
“aku akan jadikan kamu seorang yang tinggi karena Allah telah mengurniakan kamu kepaaku setelah aku berdoa kepadaNya memohon Dia memberi kepaaku seorang sahabat yang dapat aku berbincang tentang hal-hal Keruhanian dengannya. Syukurlah, Allah telah mengkabulkan permohonan itu.”

Syeikh ‘Ali Bin ‘Utsman Al-Hujwiri Rahmatullah ‘alaih meriwayatkan bahwa beliau mendengar dari Syeikh Hassan Mu’addib yang merupakan seorang juru khidmat bagi Syeikh Syeikh Abu Sa’id bahwa apabila Syeikh Syeikh Abu Sa’id datang menghadirkan diri disamping Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani, dia tidak akan mengucapkan sebarang perkataan tetapi hanya mendengar dan hanya akan
menjawab dengan apa yang telah diucapkan oleh Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani .
Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani telah bertanya kepada Syeikh Abu Sa’id , mengapakah beliau sentiasa mendiamkan diri? Syeikh Abu Sa’id Rahmatullah
‘alaih menjawab,“Seorang penerjemah adalah mencukupi untuk satu judul.”
Syeikh ‘Ali Bin ‘Utsman Al-Hujwiri Rahmatullah ‘alaih juga telah meriwayatkan bahawa beliau telah mendengar Syeikh Abul-Qasim Qusyairi berkata,
“Apabila aku tiba di Kharqan, kelancaranku mulai keluar dan aku tidak lagi memiliki daya dan upaya untuk menerangkan keadaan diriku di sebabkan amalan yang telah
diberikan oleh pembimbing Keruhanian, dan aku menyangka bahawa aku telah dilucutkan dariKewalianku.”

KERAMAT KEBESARANNYA DANKEBESARAN KERAMATNYA

PADA suatu hari, Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani menggali tanah di rumahnya.
Tiba-tiba uang perak keluar. Ditutupnya tempat itu. Digali pula di tempat lain dan di situ keluar pula emas. Ditutupnya lubang itu juga. Pada kali ketiganya keluar pula intan.Lubang itu juga ditutupnya. Digalinya di tempat yang keempat, maka keluar pula berlian. Itu pun ditutupnya.Kemudian Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani berdoa, “Ya Allah, walaupun aku dapat seluruh harta Dunia ini dan harta di Akhirat kelak, namun tidak akan aku tukarkan dengan wajahMu.”

Pada suatu hari, seorang Sufi duduk di samping Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-harqani
sambil menunjukkan keramatnya dengan mengeluarkan seekor ikan hidup dari seember air yang diletakkan di hadapan Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani . Syeikh AbulHassan ‘Ali Al-Kharqani meletakkan tangannya dalam api dapur yang menyala di hadapannya dan mengeluarkan ikan hidup dari dalam api itu. Kemudian,
orang itu meminta Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani melompat dengannya ke dalam api itu dan lihatlah siapa akan hidup setelah masuk kedalam api itu.
Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani menjawab,“Menunjukkan keramat itu tidaklah baik. Marilah kita tenggelamkan diri kita dalam lautan Wujud Fana dan timbul semula dengan memakai pakaian Wujud Baqa.” Orang Sufi itu pun diam.

Pada suatu saat, sebelum mulai berjalan menunaikan Haji, beberapa orang telah berjumpa dengan Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani dan bertanya kepadanya apa yang mereka akan mereka lakukan sekiranya ada perampuk menyerang mereka. Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani menjawab,
“Ingatlah aku pada waktu itu.”Dalam perjalanan itu, Kafilah yang mereka sertakan itu
diserang oleh perampok. Semua orang dalam Kafilah itu dirompak oleh perampok kecuali seorang yang ingat pada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani
Pada saat orang itu ingat kepada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani , nampak olehnya Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani berada dihadapannya. Orang itu dan barang-barangnya tidak kelihatan oleh perampok itu. Maka dia pun selamat. Setelahkembali, orang-orang bertanya kepada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani kenapa mereka tidak diselamatkan pada hal mereka berdoa kepada Allah? Sedangkan orang itu hanya meminta pertolongan kepada beliau.
Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani berkata,
“Kamu semua hanya menyebut Allah di mulut saja, tetapi aku mengingatNya dengan seluruh jiwa ragaku. Olehitu, jika kamu semua mengingatiku, aku akan mengingati
Allah bagi pihak kamu semua dengan seluruh hati dan jiwa, dan permintaan kamu akan dikabulkan. Tetapi jika kamu semua hanya menyebut Allah di bibir saja tanpa terhunjam sepenuhnya dalam hati, maka permohonan kamu tidak akan mendatangkan hasil.”
Seorang Murid Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani meminta kebenaran beliau
hendak pergi ke Iraq untuk belajar Hadits, karena tidak ada guru yang pakar di tempat beliau itu.
Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani berkata,
“Aku akan ajarkan kepada kamu sebagaimana aku belajar langsung dari Rasulullah.”
Murid itu tidak percaya dengan perkataan beliau itu. Tetapi saat dia tidur, dia melihat Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata bhawa apa
yang dikatakan oleh Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani itu adalah benar. Maka mulailah Murid itu belajar Hadits pada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani .
Dalam pengajarannya, Ketika Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani berkata bahawa Hadits itu telah salah.Murid itu bertanya kenapa Hadits yang demikian itu salah? Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani menjawab,“Nabi sentiasa bersama aku pada saat aku mengajar engkau. Apabila satu Hadits salah dinyatakan, mukanya
berubah tanda tidak setuju. Dari situlah aku tahu sama ada apakah satu Hadits itu betul atau tidak.”
Suatu ketika Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani hadir dan mengambil bahagian
dalam upacara Sama’ iaitu tarian muzik Keruhanian di rumah seorang hamba Allah. Dalam Sama’ itu beliau telah sampai kepada keadaan dzauq mabuk Allah dan memukul tanah dengan kakinya tiga kali. Dinding rumah itu bergoyang dan orang lain merasai seolah-olah dinding itu telah menari bersamanya serta juga tanah di situ. Setelahbeliau sadar semula, beliau ditanya kenapa beliau berbuat
demikian? Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani menjawab,
“Sama’ ialah bagi mereka yang dalam keadaan itu telah dibawa ke tingkat Ruhaniah yang tinggi di mana semua hijab tersingkap dan mereka dapat melihat Alam Malaikat.”
Satu hari, seorang telah datang kepada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani
dan meminta kepada beliau hendak memakai pakaiannya agar dia dapat menjadi seperti Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani juga. Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani bertanya,“Bolehkah perempuan yang memakai baju lelaki menjadi lelaki atau orang lelaki memakai baju perempuanmenjadi perempuan?”
Orang itu berkata tidak boleh, lalu Syeikh abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani pun berkata,
“Jika itu tidak mungkin, bagaimana kamu memakai pakaianku boleh menjadi diriku?”
Seorang ‘Alim telah bertanya kepada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani dan meminta beliau memberi ahan kepadanya. Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani
berkata,“Serulah manusia ke Jalan Allah dan janganlah panggil mereka kepada diri kamu sendiri. Jika seorang‘Alim itu dengki kepada seorang ‘Alim yang lain yang
menjalankan tugas sepertinya juga iaitu mengajak manusia ke Jalan Allah, maka itu berarti dia bukan mengajak manusiake Jalan Allah tetapi adalah kepada dirinya sendiri. Jikatidak, apakah sebabnya dia dengki?”

Pada suatu ketika, Syeikh Abu Sina Rahmatullah‘alaih datang melawat Syeikh Abul Hassan ‘AliAl-Kharqani . Bila sampai ke rumahSyeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani
, beliau memanggil tuan rumah itu.Datanglah isteri Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-
Kharqani . Isteri Syeikh AbulHassan ‘Ali Al-Kharqani mengatakan Syeikh Abu Sina itu sebagai seorangkafir dan meminta beliau jangan memanggil Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani karena dia telah pergi mencari kayu api ke dalam hutan.
Syeikh Abu Sina pergi mencari Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani dan dilihatnya seekor singa membawa kayu api Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani itu. Syeikh Abu Sina menundukkan kepadalanya tanda hormat kepada Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani .
Dalam perbincangan mereka Syeikh Abu Sina bertanya kenapa isteri Syeikh
Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani mengatakanya kafir? Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-
Kharqani menjawab bahawa jikalau beliau tidak sabar terhadap isterinya itu, tentulah beliau tidak dapat menguasai singa itu. Pada malam itu mereka pun bicara tentang hal-hal Keruhanian dan Kesufian.
Keesokan harinya tatkala Syeikh AbulHassan ‘Ali Al-Kharqani memperbaiki
dinding rumahnya, sekeping besi yang dipegangnya itu terjatuh. Sebelum beliau tunduk mengambil keeping besi yang terjatuh itu, besi itu melayang sendirinya pergi ketangan Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani
.
Dengan itu kepercayaan Syeikh Abu Sina tentang ketinggian Ruhaniah Syeikh
Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani bertambah teguh dan semua prasangkanya tentang ketinggian Ruhaniah Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani itu pun hilang dan lenyap.

AJARAN KEUNGGULANNYA DANKEUNGGULAN AJARANNYA

SYEIKH Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani telah berkata,
“Terdapat dua jalan, satu adalah salah dan satu adalah betul. Jalan yang salah ialah jalan manusia kepada Tuhan dan jalan yang betul ialah jalan Tuhan kepada manusia. Barangsiapa yang berkata bahwa dia telah mencapai Tuhan sebenarnya masih belum mencapainya, akan tetapi apabila seseorang berkata bahawa dia telah dijadikan untuk mencapai Allah, ketahuilah bahawa dia benar-benar telah mencapaiNya.”
Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani telah memberitahu kepada seorang
dari Murid kesayangannya, “Pada pandangan Dunia, Abu Yazid telah mati, tetapi
pada pandanganku dia masih hidup dan mengetahui semua gerak-geriku.”

Antara kata-kata hikmah Syeikh Abul Hassan ‘Ali Al-Kharqani yang berisi
pengajarannya seperti berikut:
1. “Carilah Rahmat Tuhan karena ianya melampaui azab Neraka dan nikmat Syurga.”
2. “Masa lalu, masa sekarang dan masa akan datang itu adalah hijab. Bila hijab ini disingkap, engkau bisa lihat semua.”
3. “Menganggap diri sendiri itu seorang Sufi adalah satu anggapan yang besar. Sekurang-kurangnya dia bukanlah sufi.”
4. “Orang yang menunjukkan keramatnya adalah dilemparkan jauh dari Syeikh Allah.”
5. “Apabila seseorang itu betul-betul dengan ikhlas menuju Allah dan mati dalam diri mereka, maka Allah akan ditemui.”
6. “Seorang Muslim itu tidaklah terpuji karana dia berpuasa dan beribadah tetapi dia terpuji karena dalam catatan amalannya dia tidak ada berdosa semasa hidupnya. Apabila peringkat itu tercapai, dia akan takut kepada Allah dan berada dalam sopan santun dan merendahkan diri.”
7. “Barangsiapa dengan kehendak Allah dapat melihat Tuhan, dia tidak nampak yang lain. Orang yang sampai kepada Allah akan lenyaplah dirinya.”
8. “Pahlawan Tariqat itu mati walaupun dia hidup di Duniaini.”
9. “Wahai Salik, janganlah menganggap kamu telahmendapat Nur, sehingga belum kamu mengalami tujuhpuluh tahun apa yang dialami semasa aku beribadah di Khurasan sambil rukuk menghadap Mekkah dan semua harta bumi dan langit diletakkan dihadapan kamu, tetapi meskipun begitu kamu tetap tidak terpengaruh olenya dan terus merendahkan diri kepada Allah karena takut Allah tidak akan menerima ibadatmu.”
10. “Banyak orang bertawaf keliling Ka’abah, tetapi ada jugayang bertawaf keliling langit dan Syurga, namun begitu yang lebih agung dan terpuji ialah mereka yang bertawaf keliling Tauhid.”
11. “Benda-benda mula dicari dalam Dunia dan kemudian didapati, tetapi Allah dijumpai dahulu dan kemudian dicari.”
12. “Ada hamba-hamba Allah itu yang menjadi kekasihNya. Apabila mereka memanggil Nama Allah, semua burungburung
dan binatang-binatang tegak berdiam diri,Malaikat terketar, langit dan bumi akan bercahaya.Demikianlah agungnya menyebut Nama Allah itu oleh mereka hinggakan bumi bergoyang.”
13. “Tidak ada orang yang dapat menempuh jalan menuju Allah itu tanpa pertolonganNya. Dengan kesungguhan dan daya sendiri saja tidak akan berhasil.”
14. “Hiduplah dalam Dunia ini tanpa dosa.”
15. “Sentiasalah berada di samping Allah dan bukan disamping alam, karena seseorang itu sentiasa berdampingan dengan sahabatnya, dan tidak ada sahabat
yang lebih agung dari Allah.”
16. “Setengah daripada sahabat-sahabat Allah itu dapatmembaca apa yang tertulis dalam Taqdir meskipun mereka berada dalam Dunia ini.”
17. “Allah kurniakan rindu dendamNya kepada mereka yang dilimpahiNya Nur.”
18. “Wali Allah itu bukanlah makhluk atau pun insan Dunia ini.”
19. “Orang yang mencapai Allah dalam hidup yang sekarang ini dan tidak menangguhkan perjumpaan dengan Allah itu hingga setelah mati, maka dia itulah sebenarnyakekasih Allah.”
20. “Apabila Allah membawa seseorang itu ke JalanNya,maka dia akan sampai ke lembah Tauhid, tidak ada yang tahu keadaannya kecuali Allah.”
21. “Hati yang rindu kepada Allah itulah hati yang paling baik.”
22. “Apabila sakit, Allah itulah menjadi Tabib.”
23. “Barangsiapa hendakkan Syurga akan terhindar dari RahmatNya. Orang yang sentiasa berkhalwat dan menyingkirkan diri dari segala makhluk dan terus
mematikan dirinya, maka terbukalah hijab yang melindungi pandangannya dengan Tuhan.”
24. “Barangsiapa mencari keduniaan akan diperhambakan oleh Dunia. Tetapi barangsiapa menyingkirkan keduniaan, maka Dunia ini akan menjadi hambanya.”
25. “Jika dalam sesuatu masyarakat itu ada orang yang dikurniakan Allah dengan Nur dan kehampiran denganNya, maka Allah dengan RahmatNya akan mengampunkan dosa yang dilakukan oleh masyarakat itu.”
26. “Orang Darwish tidak menumpukan pandangannya kepada Dunia ini atau Akhirat.”
27. “Hanya orang yang bercita-cita tinggi itu mencapaiTuhan.”
28. “Nama Allah itu hendaklah disebut berulang-ulang setelah mematikan diri.”
29. “Hapuskan dosa dan sembahlah Allah, maka Allah akan ditemui.”
30. “Tiap-tiap orang hendak membawa sesuatu dari Dunia ini ke Akhirat, tetapi tidak ada apa-apa dalam Dunia ini yang bisa mencari jalan ke sana kecuali Fana tidak ada diri.”
31. “Takutlah Allah dan serulah Dia, dan kamu akan ditempatkan dalam keadaan Fana.”
32. “Di antara beribu-ribu orang yang menjalani jalan yang diterangkan oleh Al-Quran itu, ada seorang yang jalannya diikuti oleh Al-Quran itu sendiri, iaitu tiap-tiap
lakuannya bersesuaian dengan apa yang diterangkan oleh Al-Quran.”
33. “Orang Sufi tidak perlu cahaya matahari dan bulan karena Cahaya Allah yang ada padanya itu lebih terang dari segala cahaya.”
34. “Jalan itu akan dipendekkan oleh Allah bagi mereka yang dibimbingNya.”
35. “Makan dan minum Auliya Allah itu ialah mengenang Allah dan membicarakan tentang Allah.”
36. “Tuhan Allah itu menjadi benar-benar cahaya mata hamba-hambaNya.”
37. “Sebahagian kecil daripada Cinta Allah itu turun ke Dunia dan mencari tiap-tiap hati dalam Dunia, dan didapati tidak ada yang upaya memegangnya. Maka kembalilah ia kepada Allah.”
38. “Setelah tiap-tiap seratus tahun, satu jiwa yang sempurna akan lahir ke Dunia.”
39. “Orang yang bertemu dengan Allah itu akan mati dirinya.”
40. “Siapa yang hatinya kasih sayang kepada selain dari Allah,meskipun dia melakukan Ibadat dan bermujahadah sepanjang hidup, namun semua itu tidak akan diterimaAllah dan hatinya itu tetap tinggal mati.”
41. “Hijab yang paling besar antara insan dengan Tuhanialah Hawa Nafsu.”
42. “Kegiatan yang paling besar ialah mengenang Allah. Setelah itu ialah kesucian hidup, bersedekah danbersikap Zuhud.”
43. “Pada segi Keruhanian, duduk bersama di majlis AuliyaAllah itu adalah satu amalan yang terpuji.”
44. “Bersama di majlis Auliya Allah itu adalah satu kurniaanAllah yang besar.”
45. “Kamu melakukan Ibadat yang paling besar jika kamu dapat melarikan diri dari keduniaan.”
46. “Ka’abah yang paling besar itu ialah memandang wajah Allah.”
47. “Apabila sepuluh kali Si Salik itu merasai racun dengan
gembira dan rela, maka pada kali ke sebelas rasa gula akan diberi kepadanya. Di awal perjalanan Si Salik itu akan diuji dan ditapis.Setelah itu akan dikurniakan
kehampiran dengan Allah.”
48. “Kamu akan berjaya mencapai Allah setelah kamu diberiNya kekuatan untuk mencapaiNya dan itu pun dengan kehendakNya .”
49. “Orang yang mengorbankan kemuliaannya karena Allah,maka Allah akan memberinya pakaian KemuliaanNyasendiri.”
50. “Allah akan ditemui apabila Aku dimatikan.”
51. “Orang yang mengatakan dia mendapat Nur dan kemudian menyibarkan kepada orang ramai banyak adalahsebenarnya dia tidak ada Nur itu karena perbuatan
demikian itu adalah hijab juga.”
52. “Teruskan melakukan latihan Ruhaniah itu sehingga latihan Ruhaniah itu sendiri meninggalkan kamu.”
53. “Mematuhi kehendak Ruhaniah itu adalah lebih baik dari melakukan banyak latihan.”
54. Sekiranya setitik saja Rahmat Allah itu jatuh kepada kamu, nescaya kamu tidak akan mau apa-apa lagi dalam Dunia ini, bahkan tidak mau bercakap atau mendengar orang lain.”
55. “Ingat kepada Allah itu lebih tajam daripada tikaman seribu pedang sekali gus.”
56. “Apabila kamu melihat wajah Allah, kamu tidak akan melihat yang lain lagi sepanjang masa.”
57. “Seseorang itu hendaklah berlatih sepenuhnya selama empat puluh tahun dan kemudian bolehlah mengharapkan hasil yang memuaskan. Sepuluh tahun
melakukan latihan Keruhanian itu ialah untuk membetulkan kesalahan lidah, sepuluh tahun lagi untuk mengurangkan gemuk badan, sepuluh tahun untuk membetulkan kesalahan hati dan sepuluh tahun lagi untuk membetulkan segala kejahatan yang lain itu.”
58. “Sedikit ketawa dan banyak tangis, makan dan tidur
59. “Malanglah orang yang hidup dalam Dunia ini tanpa bercakap dengan Allah.”
60. “Jalan Ma’rifatullah itu ialah untuk orang-orang yang suci dan mabuk dalam Allah, karena bercakap dalam dzauq dengan Tuhan itu sangatlah berbahagia.”
61. “Ingat dan kenanglah Allah sentiasa.”
62. “Apabila seseorang itu menyebut Nama Allah, lidahnya terbakar dan tidak dapat menyebut nama itu lagi. Jika terlihat ia menyebutnya, maka sebenarnya memuji Dia.”
63. “Kemarahan api perpisahan dengan Tuhan itu sangatlah panas hingga jika ia terlepas dari hati orang yangmengandungnya, seluruh Dunia ini akan hangus. Tidak
lain kehendak hati orang-orang yang demikian itu ialah hendak mengenang Allah tetapi mereka dapati mereka tidak dapat berbuat demikian.”
64. “Jika hatimu terpaku pada Tuhan, seluruh Dunia tidak akan dapat memudharatkan kamu jika mereka semuanya menjadi musuhmu.”
65. “Melihat Allah beserta dengan dirimu ialah Fana dan melihat Allah saja tanpa dirimu ialah Baqa.”
66. “Bergaullah dengan orang yang hatinya terbakar dalam cinta kepada Allah dan tenggelam dengan rindu dendam kepadaNya.”
67. “Jangan buat kegiatan lain kecuali mengingat nama Allah dan jangan ingat apa-apa kecuali Dia.”
68. “Bersama dengan Allah seketika adalah lebih bernilai daripada beribadat sepanjang hayat karena keduniaan.”
69. “Tiap-tiap makhluk itu adalah hijab dan jarring kepada Salik yang ikhlas. Tidak diketahui bagaimana dan kapanseseorang itu bisa terjerat pada mereka itu.”
70. “Walaupun sekali dalam seumur hidup kamu membuatkan Allah murka, maka wajarlah kamu memohon ampun sepanjang hidup kepadaNya, karena
meskipun Dia ampunkan kamu, namun dalam hati masih terasa yang kamu telah menimbulkan kemurkaan Tuhandan tidak mematuhi Dia.”
71. “Orang yang paling baik dalam menghampirkan diri dan mengabdi kepada Ilahi ialah orang yang buta tidak melihat yang lain kecuali Allah, tuli tidak mendengar
yang lain kecuali Allah dan bisu tidak bercakap kecuali tentang Allah.”
72. “Allah telah mengurniakan sesuatu masalah kepada kita dan setelah mendampingkan kita dengan masalah itu, Dia pun menghilangkannya dari kita. Maka sewajarnyalah kita membuang semua masalah keduniaan dan berdampingan dengan Dia, agar Dia tidak jauhkandiriNya dengan kita.”
73. “Banyak orang yang berjalan-jalan di jalan tetapi mereka mati. Banyak juga yang telah berkubur tetapi mereka masih hidup.”
74. “Orang yang cinta kepada Allah itu ialah orang yang hatinya hancur lebur menjadi abu karena Allah.”
75. “Tinggalkan semua Ibadat dan dosa, dan tenggelamkan dirimu dalam lautan RahmatNya.”
76. “Manusia melihat Allah di Akhirat dengan mataKetuhanan.”
77. “Makin kuat kamu berkhidmat dengan gurumu, makin tinggi naik taraf ruhaniahnya.”
78. “Badan, lidah dan hati tidak ada paaku, hanya Allah saja dalam diriku.”
79. “Banyak orang yang beribadah dan beribadat dalam Dunia ini, tetapi sedikit benar yang membawa hasilnya bersama mereka ke Akhirat.”
80. “Ahli Dunia mendapat apa yang tercatit dalam nasib mereka, tetapi Auliya Allah mendapat apa yang tidak
tercatit dalam nasibnya.”
81. “Di jalan Tuhan, tidak ada yang lain kecuali Tuhan.”
82. “Menangislah dalam Dunia agar kamu ketawa di Akhirat kelak.”
83. “Apabila hamba itu Fana, dia akan diberi pakaian Baqa.”
84. “Dalam peringkat Ruhaniah yang paling tinggi, dahaga terhadap Allah itu sangat kuat dalam diri si hamba hinggakan jika air dari semua sungai diberi kepadanya
tidaklah dapat menghilangkan dahaganya itu bahkan bertambah dahaga lagi. Si hamba seperti ini memutuskan segala perhubungan dengan alam dan tidak pernah
megah dengan keramat yang mengalir keluar tanpa disedarinya daripada dirinya.”
85. “Gelar paling bagus untuk si hamba Allah ialah ‘Abdullah.”
86. “Untuk si Mukmin, tiap-tiap tempat itu adalah Masjid dan tiap-tiap hari itu adalah hari Jumaat.”
87. “Jangan biarkan pengemis pulang dengan tangan kosong dari rumahmu, berilah dia sesuatu walaupun kamu berhutang untuk itu.”
88. “Layanlah tetamu kamu dengan sebaik-baiknya.”
89. “Ada tiga hal keadaan yang terakhir dalam Keruhanian. Pertama kamu anggap diri kamu sebagaimana Tuhan menganggap kamu. Kedua, kamu menjadi kepunyaan Dia dan Dia menjadi kepunyaan kamu. Ketiga, kamu lenyap dan hapus dan Dia saja yang mengisikan kamu.”
90. “Sebelum kamu mati, kamu mestilah berusaha untuk mencapai tiga masalah. Pertama, dalam cintamu kepada Allah kamu menangis sebanyak-banyaknya hingga
airmata darah mengalir dari matamu. Kedua, karena takutkan Allah hinggakan air kencing kamu menjadi berupa darah. Ketiga, berjaga malam hingga kurus kering
badan kamu.”
91. Berdampinglah dengan Allah saja dan janganlah berkeinginan hendak bertemu dengan makhluk, walaupun makhluk itu Khidhr. Adakah kamu jemu berdamping dengan Allah maka kamu hendak berdamping pula dengan makhluk? Sepatutnya engkau hanya rindukan hendak berdampingan dengan Allah saja tiada yang lain.”
92. “Makhluk itu ditakluki oleh waktu atau masa dan Aku ini Tuhan bagi masa itu.”
93. “Apabila aku telah Fana, aku lihat diriku dibalut oleh Wujud Ketuhanan tetapi apabila aku pandang diriku,Fana itu pun terjatuh dari aku.”
94. “Apabila aku melampaui diri sendiri (ego), air tidak boleh melemaskan aku dan api tidak boleh membakar aku. Kemudian selama tiga bulan empat hari aku tidak
makan dan dapat menghadapi semua ujian.”
95. “Kebaikan itu adalah Sifat Allah saja, kita tidak boleh mengatakan kita baik.”
96. “Wahai Salik, jika kamu ingin menjadi pakar keramat,maka mulalah berpuasa tiap-tiap tiga hari sekali. Setelah itu empat belas hari terus-menerus. Setelah itu berpuasa selama empat puluh hari terus-menerus. Setelah itu berpuasa selama empat bulan. Akhirnya berpuasalah selama satu tahun penuh. Maka kamu akan capai satu peringkat di mana kamu akan lihat masalah Ghaib yang memegang sesuatu dengan mulutnya yang rupanya seperti ular. Jika kamu makan benda itu, kamu tidak akan berasa lapar selama-lamanya. Bila aku mula berpuasa, datanglah benda yang berupa ular itu. Aku enggan menerimanya karena itu akan menghalang aku dari mendapat Rahmat Tuhan. Aku berdoa kepada Allah supaya mengurniakan aku apa yang Dia kehendaki terus langsung dan bukan melalui perantara. Tuhan berfirman,
“Setelah ini kamu akan berasa kenyang dan tidak dahagatanpa makan dan minu m apa pun.” Maka aku pun tidak lagi berasa lapar dan dahaga. Aku pun diberi makan
secara Ghaib ini tetapi rasanya manis seperti madu danwangi seperti kasturi. Dunia tidak tahu dari mana aku dapat makan.”
97. “Selagi aku memandang kepada pertolongan yang lain dari Allah, maka selagi itulah aku tidak berjaya dalam Ibadatku. Tetapi bila aku putuskan perhubungan dengan makhluk dan berharap kepada Allah saja, maka aku dapati segala rintangan dalam perjalanan Keruhanianku itu hilang lenyap dengan kurnia Allah dan tanpa dayausaha dari diriku dan hasilnya sangatlah besar dan memuaskan.”
98. “Ketahuilah luas kasih sayang Tuhan itu. Jika dosa seluruh Dunia ini ibandingkan dengannya adalah tidak lebih dari sebutir pasir saja.”
99. “Aku minta jangan ada hendaknya Neraka dan Syurgaagar manusia cinta kepada Allah karena Allah saja.”
100. “Jalan-jalan menuju Allah itu tidak terkira dan tidak terhad. Bolehlah dikatakan banyaknya itu seperti banyaknya makhluk ini. Tiap-tiap orang berjalan di jalan
itu menurut daya upayanya. Aku telah menjalani hampir jalan-jalan itu dan aku dapati ada orang yang berjalan di jalan-jalan tersebut. Tidak ada jalan yang kosong dan tidak ditempuhi orang. Kemudian aku berdoa kepada Allah, “Tunjukilah kepaaku jalan yang tidak ada orang menempuhinya dan tidak ada di jalan itu kecuali Engkau dan aku saja.” Allah tunjukkan kepaaku jalan rindu dendamnya jiwa. Ini barerti barangsiapa hendak berjalan di jalan Cinta Allah ini hendaklah jangan takut susah payah yang akan menimpanya dalam perjalanan itu. Hendaklah patuh sepenuhnya menurut perintahNya dan ingat kurniaNya dan sentiasa bersyukur kepadaNya.”
101. Orang yang dipandang penakut oleh Dunia ini adalah berani pada pandangan Tuhan dan orang yang penakut pada pandangan Tuhan itu ialah orang yang
dipuji dan dipuja oleh Dunia sebagai pahlawan.”
102. “Apa yang aku ceritakan kepada kamu adalah perutusan dari Allah, ianya sangat suci dan Dunia tidak boleh mengatakan itu haknya.”
103. “Apa saja keutamaan Ruhaniah yang aku capai adalah hasil dari memencilkan diri dan menututp mulutku.”
104. “Suara Ketuhanan berkata, “Abul Hassan, patuhlah kepaaku karena Aku hidup tanpa mati. Jika kamu patuh kepaaku, maka Aku akan kurniakan kepadamu
hidup yang kekal. Janganlah hampir kepada masalah yang aku larang.”
105. “Dengan kurnia Allah, diberinya aku peringkat Ruhaniah yang lebih tinggi dari yang dikurniakanNya kepada Abu Yazid.
106. “Aku ini bukan menetap dan bukan pula dalam perjalanan. Peringkat ini lebih rendah dari peringkat yang aku nikmati sekarang iaitu aku telah menetap dalam
Tauhid dan berjalan dalam Allah. Oleh karena Allah telah menghapuskan diri egoku, maka Neraka dan Syurga tidak menjadi persoalan kepaaku. Keadaan aku
sekarang ialah jika semua penghuni Neraka dan Syurga masuk ke dalamnya nescaya mereka semua akan Fana hancur lebur.”
107. “Ya Allah, KurniaMu paaku tidak kekal dan kurniaku padaMu adalah kekal. Karena KurniaMu padaku ialah diri Aku dan kurniaku kepadaMu ialah Engkau. Aku mati tetapi Engkau hidup abadi.”
108. “Ya Allah, aku ingin mencapai peringkat di mana aku tidak ada lagi dan Engkau saja yang ada dalamku.”
109. “Dunia lari dari mereka yang menuntutnya. Engkau Maha Kasih dan suka menghampirkan diriMu kepada mereka yang menuju jalan kepadaMu.”
110. “Oh Tuhan, aku juga yang selalu menyakitkan Kamu, tetapi Kamu sentiasa memberi kurnia yang tidak putusputus kepalaku.”
111. “Ada orang mencari kebahagiaan dengan sikap Zuhud, ada yang dengan berjalan menuju Ka’abah dan ada pula yang mencari kebahagiaan dalam Ibadat.
Jadikanlah aku tidak termasuk dalam golongan mereka itu, tetapi jadikanlah bahagiaku itu dalam Engkau dan Engkau saja.”
112. “Oh Tuhan, bawalah aku kepada AuliyaMu yang tahu menyebut NamaMu sebagaimana ia patut disebut, agar aku dapat berkat dengan mengkhidmati mereka
itu.”
113. “Ya Allah, aku ini hanya hambaMu yang hina. Ibadatku dan Zikirku tidak bernilai padaMu. Terimalah aku yang lemah ini yang tidak ada pergantungan selain
Kamu dan Kamu saja pelindungku.”


Sumber : AR-RISALAH AL-‘ALIYAH
Faqir Maulawi Jalalluddin Ahmad Ar-Rowi An-Naqshbandi Al-Mujaddidi Al-Uwaisi
‘Ufiya Allahu ‘Anhu Wali Walidaihi