Laman

Kamis, 06 April 2023

Kafiat 10

Adapunn kafiat 10 dalam Thariqat naqshabandiyah Al kholidiyah Jalaliyah meliputi:

1. Menghimpun pengenalan diri dalam hati sanubari
2. Membaca Istiqfar 25 x
3. Menghadirkan Robitoh Kubur
4. Menghadirkan Syeh Bahaudin Naqsyabandi
5. Membaca Al-Fatihah 1x
6. Membaca Al-Iklas 3x
7. Menghadiahkan Pahala surat Al-Iklas dan fatihah kepada Syeh bahaudin naqsyabandi
8. Menghadirkan Robitoh guru secara sempurna
9. Menghadiahkan Pahala fatihah kepada guru
10.Membaca munjat 3 kali ILAHI ANTA MAKSUDI WARIDHOKA MADLUBI

إلهي أنت مقصودي ورضاك مطلوبي


Inilah yang di namakan kafiat 10 bahasa pesantren salaf biasanya menyebutnya tawasul, apa pentingnya tawasul dan wasilah buat kita?? jawabannya sangat penting, logikanya untuk menemui persiden kita harus melalui ajudan baru bertemu persiden. kemudian timbul pertanyaan lagi dalam diri lalu apa manfaat dari tawasul?? jawabanyapun sangat senderhana, ibarat gelas telah terisi penuh dengar air kemudian kita mengisinya lagi, tentu air tersebut tumpah dan tumpahan air itulah tidak lain itulah manfaat buat diri kita.
 
"JANGAN MENGAMALKAN KAFIAT INI JIKA BELOM BAIAT"
kafiat ini terbalik-balik bagi yang tau,,,karna ini hanya di peruntunkan bagi yang sudah jama'ah

 

syarat sebelum zikir

adapun syarat sebelum zikir adalah sebagai berikut:
1. suci badan, pakaian dan tempat dari pada najis
2. suci badan dari pada hadats
3. duduk tawaruk kiri
4. menghadap kearah kiblat
5. memakai tudung dan tasbih di tangan
6. kemudian mulai mengerjakan zikir, terlebih dahulu melaksanakan kafiat sepuluh


pembagian dosa zahir ada 8 tempat yaitu:
1. dosa mata dari pada melihat yang diharamkan Allah
2. dosa telinga dari pada mendengar yang haram dan makruh
3. dosa hidung dari pada mencium yang haram dan makruh
4. dosa mulut
5. dosa tangan
6. dosa kaki
7. dosa perut
8. dosa farji dari perbuatan haram

sedangkan dosa batin ada 7 tempat
1. dosa pada jantung jasmani yaitu pengaruh dari hawa,nafsu,dunia dan syaitan.
2. dosa pada rabu jasmani yaitu sifat bahimah artinya sifat binatang jinak.
3. dosa pada hati jasmani yaitu sifat zubuiyah artinya sifat binatang buas
4. dosa pada limpa jasmani yaitu sifat syaithaniyah seperti hasad dan dengki.
5. dosa pada empedu jasmani yaitu sifat rubuiyah seperti ujub,ria,dan takabur.
6. dosa pada otak jasmani yaitu tulul'amal atau panjang angan-angan.
7. dosa pada seluruh badan meliputi bulu,kulit,darah,daging,urat dan tulang sum-sum.

 

20 Muraqabah dalam Kitab Fathul Arifin

 

Syeikh Ahmad Khatib Syambas ibnu Abdul Ghaffar Ra. pendiri Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah dalam kitab Fathul 'Arifin mengatakan bahwa muraqabah itu ada 20:

1. Muraqabah Ahadiyah
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi dalam Zat, Sifat, dan Af’al-Nya, dan mengingat sifat kamal, Muhal dan Naqis-Nya Allah SWT; mengingat Sifat 20 yang wajib bagi Allah beserta sifat Muhal bagi Allah SWT.
Kegunaan dari muraqabah ini adalah berharap akan memperoleh anugerah keutamaan Allah dari arah yang enam (atas, bawah, depan, belakang, kanan, dan kiri) dari sifat Jaiz Allah SWT. Dalil dari muraqabah Ahadiyah adalah,
قُلْ هُوَاللهُ اَحَدٌ

“Katakanlah sesungguhnya Allah itu adalah Zat yang Maha Esa”.
(QS. Al Ikhlas[112]: 1)

2. Muraqabah Ma’iyyah
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi akan besertanya Allah SWT didalam setiap bagian-bagian dalam diri kita yang bersifat maknawi (tidak bias dilihat adanya beserta Allah SWT dalam diri kita).
Kegunaan dari muraqabah Ma’iyyah adalah adalah berharap akan memperoleh anugerah keutamaan Allah dari arah yang enam (atas, bawah, depan, belakang, kanan, dan kiri) dari sifat Jaiz Allah SWT. Dalilnya adalah,

وَهُوَمَعَكُمْ اَيْنَماَكُنْتُمْ
“Allah secara maknawi itu bersama, dimanapun kalian berada”
(QS: al-Hadid [57]: 4)

3. Muraqabah Aqrabiyyah
Yaitu, mengawasi/mengintai-intai sesungguhnya Allah SWT itu lebih dekat kepada kita dibandingkan pendengaran kuping kita, penglihatan mata kita, penciuman hidung kita, perasa lidah kita, dan pikiran hati kita. Dalam arti Allah itu lebih dekat dibandingkan dengan seluruh anggota tubuh kita yang bersifat maknawi. Kita memikirkan semua makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, seperti manusia dan hewan yang berada diatas bumi, yang terbang di awang-awang, semua makhluk yang berada didalam laut. Mengingat alam yang berada di atas, seperti langit lapis tujuh beserta isi-isinya (bulan, matahari,bintang, mega, dll), alam yang berada di bawah, seperti bumi yang lapis tujuh beserta isi-isinya (lautan, gunung, pepohonan, daun-daunan, tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam, dll). Dalilnya,

وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

“Aku (Allah) itu lebih dekat terhadap hamba-hamba-Ku dibandingkan dengan urat leher manusia”. (QS: Qaaf [50]:16)

Kegunaan dari muraqabah Aqrabiyyah adalah mengharapkan anugerah Allah kepada halus-halusnya otak yang berhubungan dengan lathaif yang lima yang berada di dalam dada yang dinamakan ‘Alam al-Amri. ‘Alam al-Amri adalah lokasi ijazahnya guru kepada murid. Adapun lafadz ijazahnya adalah:

اَلْبَسْتُكَ خِـرْقَةَالْفَقِـيْرِيَّةِ الصُّوْفِـيَّةِوَاَجَزْتُكَ اِجاَزَةًمُطْلَـقَةًلِلْاِرْشَادِوالْاِجَازَةِوَجَعَلْتُكَ خَلِيْفَةً.
“Aku pakaikan pakaian yang hina yang murni, dan aku ijazahkan kepadamu secara mutlak untuk dijadikan petunjuk dan ijazah dan kau kujadikan khalifah (pengganti)”

Kemudian si murid menjawab:

قَبِلْتُ وَرَضِيْتُ عَلَى ذلِكَ.
“Saya menerima, ridho atas ijazahnya guru kepadaku”

Maka murid sudah menjadi khalifah kecil. Inilah akhir dari wilayah shughra (wilayah kecil) dan permulaan wilayah kubra (wilayah besar).

4. Muraqabah al-Mahabbah fi al-Daerah al-Ula
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi akan kecintaan Allah SWT kepada kita makhluk-Nya yang beriman dengan menganugerahkan ridha dan pahala kepadanya, dan kecintaan kita makhluk-Nya yang beriman kepada Allah dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah mendekatkan diri kepada-Nya didalam maqam yang pertama, serta mengingat asmaul husna yang berjumlah 99, mengingat kepada keabadian Allah yang tidak berujung.
Kegunaan muraqabah al-Mahabbah fi al-Daerah al-Ula adalah berharap akan anugerah Allah kepada lathaif nafs (halusnya otak yang terletak ditengah-tengahnya kedua belah mata dan kedua belah alis).

5. Muraqabah al-Mahabbah fi al-Daerah al-Tsaniyyah
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi akan kecintaan Allah SWT kepada kita makhluk-Nya yang beriman dengan menganugerahkan ridha dan pahala kepadanya, dan kecintaan kita makhluk-Nya yang beriman kepada Allah dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah mendekatkan diri kepada-Nya didalam maqam yang kedua, serta mengingat-ingat Sifat Allah yang ma’ani dan ma’nawiyyah
Manfaat muraqabah al-Mahabbah fi al-Daerah al-Tsaniyyah adalah berharap akan anugerah Allah kepada lathaif nafs.

6. Muraqabah al-Mahabbah fi al-Daerah al-Qausi
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi akan kecintaan Allah SWT kepada kita makhluk-Nya yang beriman dengan menganugerahkan ridha dan pahala kepadanya, dan kecintaan kita makhluk-Nya yang beriman kepada Allah dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah mendekatkan diri kepada-Nya didalam maqam yang lebih dekat yang dipribahasakan dengan kadar se-bendera (isyarat kepada hal yang dekat sekali). Kegunaan muraqabah al-Mahabbah fi al-Daerah al-Tsaniyyah adalah berharap akan anugerah Allah kepada lathaif nafs).
Dalilnya ketiga muraqabah diatas adalah,

يُحِبُّنَهُمْ وَيُحِبُّوْ نَهُ
“Allah mencintai orang-orang yang beriman kepada-Nya, dan mereka juga mencinta Allah SWT”. (QS. Al Maidah [5]:54)

7. Muraqabah Wilayah al-‘Ulya
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang menjadikan wilayah Malaikat AS. Dalilnya,

هُوَالْأَوَّلُ وَالْأَخِـرُوَالظَّـاهِرُوَالْبَاطِنُ
“Allah itu Zat Yang terdahulu tanpa awal, Zat Yang Akhir tanpa ada ujungnya, Zat Yang zahir pekerjaannya, dan Zat yang bersifat maknawi”.
(QS. Al Hadid [52]:3)

Firman Allah SWT,
اِنَّ الَّذِيْنَ عِنْدَرَبِّكَ لاَيَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُوْنَهُ وَلَهُ يَسْجُدُوْنَ
Artinya:
“Sesungguhnya Semua Malaikat yang ada disamping Tuhanmu itu tidak mau menyombongkan diri dari beribadah kepada Tuhanmu, membaca tasbih dan sujud kepada Allah. Oleh sebab itu hendaklah kalian meniru sifat-sifat Malaikat (didalam memakai pakaian taqwa/sifat Malakaniya, sifat mahmudah munjiyat, dan meninggalkan sifat syaithaniyah/nafsiyyah/bahimah-hayawaniyyah/sifat mazmumat muhlikat) ”. (QS. Al A’raf [7]:206 )

Manfaat muraqabah wilayah al-ulya adalah unsur tiga yang ada pada manusia yaitu air, api, dan angin.
8. Muraqabah Kamalat al-Nubbuwwah
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi Yang menjadikan kesempurnaan sifat kenabian. Dalilnya,

وَلَقَدْفَضَّلْنَابَعْضَ النَّبِيِّيْنَ عَلَى بَعْضٍ
Artinya:
“Sungguh Aku (Allah) lebih mengutamakan para Nabi mengalahkan kepada sebagian yang lainnya ”. (QS. Al Isra’ [17]:55)

Manfaat Muraqabah Kamalat al-Nubbuwwah adalah unsur tanah pada manusia

9. Muraqabah Kamalat al-Risalah
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang menjadikan kesempurnaan sifat para Rasul. Dalilnya,

وَمَااَرْسَلْناكَ اِلاَّرَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ
Artinya:
“Aku (Allah) tidak mengutus kepada Mu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta ”. (QS. Al Anbiya’ [12]: 107)

Dan firman Allah SWT,

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَابَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ

Artinya:
“Aku (Allah) mengutamakan Para Rasul mengalahkan keutamaan yang lainnya”. (QS. Al Baqarah [2]:253)

Manfaat Muraqabah Kamalat al-Risalah adalah sifat Wahdaniyyah (lathaif 10 buah)11

10. Muraqabah Uli al-‘Azmi
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang telah menjadikan Rasul dengan title ulil azmi, yaitu Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, Nabi isa, nabi Nuh AS. Dalilnya,
وَاصْبِرْ كَمـَاصَبَرَاُوْلُوْالْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ
Artinya:
“Sabarlah kalian semua seperti para Rasul yang mempunyai pangkat ulil azmi”. (QS. Al Ahqaaf [46]:35)

Manfaat dari Muraqabah Uli al-‘Azmi adalah sifat Wahdaniyyah (lathaif 10 buah)

11. Muraqabah al-Mahabbah fi-Daerah al-Khullah wahiya Haqiqat Ibrahim ‘alaihi al-Salam
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang telah menjadikan Nabi Ibrahim yang mempunyai pangkat kholilullah (kekasih Allah). Dalilnya,

وَاتَّخَذَاللهُ اِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً
Artinya:
“Allah telah menjadikan hakikatnya Nabi Ibrahim AS sebagai kekasih”.
(QS. An Nisa’ [4]:125)

Kegunaan dari Muraqabah al-Mahabbah fi-Daerah al-Khullah wahiya Haqiqat Ibrahim ‘alaihi al-Salam adalah sifat Wahdaniyyah ¬(lathaif 10 buah)

12. Muraqabah Daerah al-Mahabbah al-Shirfah wahiya haiqaqat Syaidina Musa ‘Alaihi al-Salam
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang mulus, yang memberikan kasih sayang kepada Nabi Musa AS yang mempunyai gelar Kalimillah. Dalilnya,
وَاَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي.
Artinya:
“Aku Telah melimpahkan kepadamu (Musa) kasih sayang yang datang dari- Ku”. (QS. Thaaha [20]:39)

Kegunaan dari Muraqabah Daerah al-Mahabbah al-Shirfah wahiya haiqaqat Syaidina Musa ‘Alaihi al-Salam adalah Wahdaniyyah ¬(lathaif 10 buah)

13. Muraqabah al-Dzatiyyah al-Mumtazijah bi al-Mahabbah wahiya haqiqat al-Muhammadiyyah
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang menjadikan hakikatnya Nabi Muhammad SAW menjadi kekasih yang utama serta sifat belas asih. Dalilnya,
وَمَامُحَمَّدٌ اِلاَّرَسُوْلٌ
Artinya:
“Tidaklah nabi Muhammad itu kecuali sebagai Utusan Allah”.
(QS. Ali Imran [3]:144)

Kegunaan muraqabah al-Dzatiyyah bi al-Murabbah wahiya haqiqat al- Muhammadiyyah adalah Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).

14. Muraqabah al-Mahbubiyyah al-Shirfah wahiya haqiqat al-Ahmadiyyah
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang menjadikan hakikatnya Nabi Ahmad yang mempunyai sifat yang belas asih dan lembut. Dalilnya,
وَمُبَشِّرًابِرَسُوْلٍ يَأْتِى مِنْ بَعْدِىْ اِسْمُهُ اَحْمَدُ
Artinya:
“Bergemberilah wahai Nabi Isa AS dengan Rasul yang akan diutus didalam akhir zaman yang bernama Nabi Ahmad SAW”. (QS. Ashshaaf [61]:6)

Kegunaan Muraqabah al-Mahbubiyyah al-Shirfah wahiya haqiqat al-Ahmadiyyah adalah Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).

15. Muraqabah al-Hubbi al-Shirfi
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang mulus mengasihi orang-orang mukmin yang mencintai Allah, para Malaikat, para Rasul, Nabi, Ulama, dan semua saudara-saudara yang beragama satu (Islam). Dalilnya,
وَالَّذِيْ أمَنُوْااَشَدَّحُبًّالِلَّهِ
Artinya:
“Sesungguhnya orang yang beriman itu lebih besar kecintaan kepada Allah SWT”. (QS. AL Baqarah [2]:165)

Kegunaan Muraqabah al-Hubbi al-Shirfi adalah Sifat Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).

16. Muraqabah Laa Ta’yin
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang tidak bisa dinyatakan dengan Zat-Nya dan tidak ada makhluk baik itu Malaikat muqarrabin, Para Nabi dan Rasul yang dapat menemukan Zat-Nya. Dalilnya,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ وَهُوَالسَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ.
Artinya:
“Tidak ada sesuatu yang menyamai Allah. Dia adalah Zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Asy-Syuraa [42]:11)
Kegunaan Muraqabah Laa ta’yin adalah Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).

17. Muraqabah Haqiqat al-Ka’bah
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan i’tikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang telah menjadikan Ka’bah menjadi tempat sujud para mumkinaat kepada Allah SWT, Dalilnya,
فَوَلِّ وَجْـهَكَ شَطْرَالْمَسْجِدِالْحَرَامِ.
Artinya:
“Hadapakanlah dadamu kea rah Ka’bah yang berada di Masjidil Haram”
(QS. Al Baqarah [2]:144)

Kegunaan Muraqabah Haqiqat al-Ka’bah adalah Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).

18. Muraqabah Haqiqat al-Qur’an
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan iktikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang menjadikan hakikatnya Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dinilai ibadah membacanya, menjadi dakwah dengan ayat yang paling pendek sekalipun. Dalilinya,
وَاِنْ كُنْتُمْ فِى رَيْبٍ مِمَّانَزَّلْنَا عَلَى عبْدِنَافَأتُوْابِصُوْرَةٍمِنْ مِثْلِهِ.
Artinya:
“Jika kalian semua ragu terhadap Al-Qur’an yang telah kami turunkan kepada hambaKu Nabi Muhammad SAW, maka jika kalian mampu buatlah satu surat yang menyamai seperti surat ini”. (QS. Al Baqarah [2]:23)

Kegunaan dari muraqabah Haqiqat al-Qur’an adalah Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).

19. Muraqabah Haqiqat al-Shalat
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan i’tikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang telah mewajibkan kepada hamba-hambaNya untuk mengerjakan shalat wajib lima waktu, yang mengandung beberapa ucapan dan gerakan, dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan beberapa syarat, rukun, tata caranya, menjauhi beberapa hal yang bias membatalkan shalat, menjaga waktunya, disertai dengan khudu’ dan khusu’. Dalilnya,

اِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتاَباًمَوْقُوْتًا
Artinya:
“sesungguhnya shalat itu wajib dilaksanakan oleh setiap orang mukmin pada waktu yang telah ditentukan”. (QS. An Nisa’ [4]:103)

Kegunaan muraqabah Haqiqat al-Shalat adalah Wahdaniyyah (lathaif 10 buah).

20. Muraqabah Daerah al-Ma’budiyyah al-Shirfah
Yaitu, mengingat Allah SWT dengan i’tikad yang kuat, merasakan kehadiran-Nya bahwa Allah mengintai-intai/mengawasi yang berhak untuk disembah oleh makhluk-Nya dengan tulus ikhlas karena Zat-Nya. Dalilnya,
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ والْاِنْسَانَ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya:
“tidak Aku (Allah) jadikan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah tulus ikhlas kepada Allah SWT”. (QS. At-Thuur [52]:56

Wallohu'alam

Sumber: Status Wahyu Pratama di Facebook Pemuda TQN Suryalaya

Kafiat Menghadap Mursid


Cara menghadap mursyid sebagai berikut:

1.     Kita memandang dengan iklas bakwa Mursyid tersebut adalah guru yang akan membawa kita kejalan Allah hingga mendapatkan Ridho-Nya


2.  Berbusana dengan rapi dan sopan serta memakai tudung kepala atau sorban, sebab sabda nabi : “Bersorbanlah kamu, sesungguhnya para malaikat itu bersorban”



3.     Berkata dengan benar, ringkas mana yang penting, seperti hendak masuk suluk atau lainnya, sebab guru tidak mau mengatakan yang sia-sia, “mereka meninggalkan kata yang sia-sia”.


4.   Patuilah perkataan guru dan jangan dianggap enteng perkataan mereka itu, karena para wali-wali Allah tersebut telah sepakat: “ Siapa yang meringankan amanah gurunya, maka dia mendapat bala dengan tiga bala, sempit rejekinya, hilang ilmunya, dan mati tidak beriman.



5.      Memasuki tempat khalawat / suluk.

Setelah duduk di tempat khalawat / suluk, maka kerjakan adab-adab sebagai berikut:

1.      Baca istigfar = 1000 kali

2.      Alam Nashrah = 10 kali

3.      Ayat Kursi = 10 kali

4.      Dikerjakan zikrullah mana yang sudah diijinkan guru kepada kita dengan diikuti syarat-syarat yang telah di tentukan.

5.      Duduk tawaruk kiri yaitu kebalikan tawaruk pada sholat

6.      Memakai tudung kepala hingga tertutup bahagian muka / wajah serta mata dipicingkan gunanya supaya terang di dalam hati, dan tidak terganggu oleh bermacam-macam cahaya

7.      Berniat dengan iklas semata-mata karena allah, sebab amal seseoarang itu ditentukan oleh niatnya. Hadits nabi “ sesungguhnya, semua amal ibadah itu dengan niat dan sesungguhnya bagi tiap-tiap perkara itu apa yang diniatkan.”

 

Tawajuh....



Bagi jama'ah Tharikat Naqshabandiyah Al-kholidiyah Al-Da'imiyah diharuskan melaksanakan tawajuh karna ini merupankan rukun syahnya berzikir dan mengalirnya ilmu laduni yang tanpa kita sadari semua bisa terwujud makbul,Tawajuh adalah ritual zikir yang dilakasanakan secara berjama'ah setiap malam selasa dan malam jum'at. kenapa harus malam selasa dan malam jumat, karna kedua malam ini adalah malam dimana Nabi kita Muhamad SAW menyukainya dan afdholu lail atau utamanya malam adalah malam selasa dan malam jumat.

Adapun zikirnya sesuai tingkat pelajaran yang telah ditalkinkan guru kepada kita, istilah tawajuh ini maksudnya kita bisa tetap bertatap muka dengan jama'ah lainnya seraya berzikir bersama.

SEJARAH SINGKAT PERGURUAN “BAITUL IBADAH”

 

SEJARAH SINGKAT PERGURUAN “BAITUL IBADAH” DI BAWAH JAJARAN KEGURUAN TUANKU MUDO

1604877_1435392300027041_1162513422_n

SEJARAH SINGKAT PERGURUAN “BAITUL IBADAH”
DI BAWAH JAJARAN KEGURUAN TUANKU MUDO

Bapak Dornes Boerhan Tuanku-Mudo di lahirkan di Desa Maninjau Sumatera Barat pada tanggal 18 Oktober 1934 dari Ibu yang bernama Siti Hajir binti Arsyad Sutan Nagari,suku Chaniago. Ayah beliau bernama Boerhannudin bin Adam gelar Kari Mudo suku Melayu. Sejak tahun 1954 beliau bermukim di Jakarta.
Sekitar tahun 1971,Beliau mengambil ilmu Thariqat Soufiah Islam Sammaniyah dari almukaram Tuanku-Guru Siyuti Imam Iskandar yang sedang berada diJjakarta dalam rangkaian lawatan perjalanan Beliau di Pulau Jawa. Almukaram Tuanku-Guru Siyuti Imam Iskandar adalah murid dari Almukaram Syekh H.Ibrahim Bonjol,seorang Mursyid Ilmu Thariqat Islam Sammaniah dan Naqsyabandiyah,Surau Beliau berada di kota Medan,Jalan Raya Binjai km 6,5 gg. Ampera 1 No.30.

Pada sekitar tahun 1981,Beliau di bawa dan di serahkan oleh Almukaram Tuanku-Guru Siyuti Imam Iskandar kepada Guru Beliau. Dari Almukaram Buya Syekh H.Ibrahim Bonjol Beliau menerima Ilmu Thariqat Islam Naqsyabandiyah dan seterusnya selama lebih kurang 2(dua) tahun Beliau di perintah bermukim di Surau tersebut,untuk mendalami pemahaman tentang Ilmu Thariqat Soufiah Islam.
Dalam pertengahan tahun 1983 ,oleh Almukaram Buya Syekh H.Ibrahim Bonjol,Beliau ditugaskan untuk mengajarkan Ilmu Thariqat Soufiah Sammaniah dan Naqsyabandiyah kepada barang siapa mereka yang berkehendak,dengan gelar Lebai-Tuo seterusnya Tuanku-Sati seterusnya Tuanku-Bandaharo terakhir Tuanku-Mudo. Selanjutnya murid murid lazim menyebut Beliau dengan panggilan “Ayah Guru”. Tempat beliau mengajar sementara di Jakarta.
Bermula Ayah Guru Tuanku Mudo membimbing dan melatih murid murid dari Almukaram Tuanku-Guru Siyuti Imam Iskandar,yaitu saudara saudara seperguruan Beliau yang bermukim di daerah Jakarta dan sekitarnya,di tambah dengan beberapa murid pemula Beliau sendiri. Sejak saat itulah resmi keberadaan Perguruan “Baitul Ibadah” Jakarta.
Dalam perkembangan selanjutnya,berdatanganlah kelompok kelompok dari Sulawesi daerah Wajo dan Sengkang,kelompok dari Sumatera daerah Batam,Pekanbaru,Jambi,Tembilahan,Padang,Kerinci,Pasaman,dan sekitarnya,juga kelompok dari daerah Sumba,Sumbawa serta kelompok kelompok dari pulau Jawa,Kalimantan,mengambil Ilmu Thariqat Islam dari Beliau.
Untuk memudahkan kelompok kelompok murid di daerah masing masing berkumpul dan berlatih bersama,maka di buatkanlah Surau Surau, pembantu di Padang,Pasaman,Batam,Pekanbaru,Jambi,Tembilahan,Palembang,Pontianak,Bandung,dan lain lain. Kegiatan berlatih dan beramal di Surau Surau tersebut dipimpin oleh seorang Imam dan Khatib Surau.

zikir lataif

 بسم الله الرحمن الرحيم
Zikir lathaif adalah zikir sekalian tujuh maqam dalam hati sanubari, letaknya meliputi 7 maqam atau tempat. adapun tempat zikirnya seperti di bawah ini:

7 maqam atau tempat zikir lataif
  • Latifatul Kholbi, letaknya dua jari di bawah tetek sebelah kiri,hubunganya jantung jasmani, zikir sebanyak 5000 x, cahanya kuning tiada terhingga, wilayah kedudukannya Nabi Adam as, nama nafsu amarah, anasirnya api, sifat jeleknya hawa,nafsu dunia,sytan,iblis, sifat baiknya iman,islam,tauhid ma'rifat,ikhsan, merasakan mati tabi'i.
  • Latifatul Ruh letaknya dua jari di bawah tetek sebelah kanan, hubungannya rabu jasmani, zikir sebanyak 1000 x, cahanya merah tiada terhingga, wilayah kedudukannya nabi ibrahim as, nama nafsu lawwamah, anasirnya api, sifat jeleknya loba, tamak, kikir, bahil, sifat baiknya Qonaah, merasakan mati tab'i.
  • Latifatul Sir letaknya dua jari di atas tetek sebelah kiri, hubungannya hati jasmani, zikir sebanyak 1000 x, cahanya putih berkilau tiada terhingga, wilayah kedudukannya nabi musa as, nama nafsu mulhamah, anasirnya Air, sifat jeleknya ghodob, dendam, pemarah sifat baiknya lemah lembut,pemaaf merasakan mati ma'nawi.
  • Latifatul Khofi letaknya dua jari di bawah tetek sebelah kiri, hubungannya limpa jasmani, zikir sebanyak 1000 x, cahanya hitam pekat, wilayah kedudukannya nabi Isa as, nama nafsu muthmainah, anasirnya Air, sifat jeleknya hasad, dengki, hianat, sifat baiknya khusuk,tadaruk, merasakan mati ma'nawi.
  • Latifatul Aqfa letaknya di tengah dada, hubungannya empedu jasmani, zikir sebanyak 1000 x, cahanya hijau, wilayah kedudukannya nabi Muhamad SAW, nama nafsu Rodiah, anasirnya Angin, sifat jeleknya ujub, ria, takabur, sum'ah, sifat baiknya iklas, rojak, khouf merasakan mati suri.
  • Latifatul Natiqkoh letaknya di tengah kening, hubungannya otak jasmani, zikir sebanyak 1000 x, cahanya kelabu, wilayah kedudukannya nabi Nuh As, nama nafsu Mardiah, anasirnya Angin, sifat jeleknya sukzon sifat baiknya husnuszon, aman tentram merasakan mati suri.
  • Latifatul Kulu Jasad letaknya seluruh tubuh, hubungannya bulu, kulit, darah, daging, urat, tulang, sumsum, zikir sebanyak 1000 x, cahanya gilang gemilang, wilayah kedudukannya para masyaikhilkirom, nama nafsu Ubudiyah, anasirnya Tanah, sifat jeleknya kesal, jahel, sifat baiknya mujahadah merasakan mati hisi.

Fungsi zikir lathaif dan zikir ismu zat

1. Fungsi pertama Takhalli

Artinya mengosongkan hati dari pada yang mazmumah yaitu sifat tercela yang sangat dibenci oleh syara', karna sifat tersebut mendatangkan kecelakaan dan kesengsaraan serta kebinasaan. Gunakanlah zikir latahaif tersebut untuk membersihkan sifat tersebut diatas.


2. Fungsi kedua Thalli

Artinya mengisi jiwa yang kosong tersebut dengan sifat mahmudah yaitu sifat terpuji oleh syara', jadi sifat mazmumah itu dilawan dari sifat mahmudah, demikian juga tidak berguna sifat mahmudah dimasukkan ke dalam hati, sebelum hati tersebut di kosongkan dari pada sifat mazmumah.


3. Fungsi Ketiga Tajalli

Artinya nyata terang serta jelas. Bila hati telah berisi dengan sifat mahmudah, inilah awal terbukanya ma'rifat kepada Allah dan terbukanya Ma'rifat itu adalah awal dari terbukanya kasyaf.