Laman

Kamis, 10 Oktober 2013

cinta Ali & Fatimah Az-zahra

Cinta adalah hal fitrah yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang,
namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut
agar bukan Cinta yang mengendalikan Diri kita
Tetapi Diri kita yang mengendalikan Cinta

Mungkin cukup sulit menemukan teladan dalam hal tersebut
disekitar kita saat ini
Walaupun bukan tidak ada..
barangkali, kita saja yang tidak mengetahui saking rapatnya dikendalikan

Tapi,
kebanyakan justru yang tampak ke permukaan adalah yang justru seharusnya tidak kita contoh
Kekurangan teladan?
Mungkin..

Dan inilah fragmen dari Khalifah ke-4, Suami dari Putri kesayangan Rasulullah
tentang membingkai perasaan dan
Bertanggung jawab akan perasaan tersebut
“Bukan janj-janji”



Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama,
mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.
Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur,
datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa,
seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,
seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq,
sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan,
sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu,
’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya.
Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.
Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung.
Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak.
Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati.
Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,
“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,

dalam suatu riwayat dikisahkan

bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)

Fathimah berkata kepada ‘Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kisah ini disampaikan disini,

bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an

Kisah ini disampaikan

agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah

bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi

dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu

Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba.

Proses Penciptaan wanita

Tentang Penciptaan Wanita


Ketika Tuhan menciptakan wanita, Malaikat datang dan bertanya, “Mengapa begitu lama Tuhan?”
Tuhan menjawab, “ Sudahkah engkau lihat semua detail yang Aku buat untuk menciptakan mereka? Dua tangan ini harus bisa membersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastic. Setidaknya terdiri dari 200 bagian, yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anak saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan…dan semua dilakukannya dengan dua tangan ini”.

Malaikat itu takjub, “ Hanya dengan 2 tangan?...Impossible!”
“ Oh tidak!!Aku akan menyelesaikan ciptaan hari ini, karena ini adalah ciptaan favoritku, oh iya dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja selama 18 jam sehari”.

Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita ciptaan Tuhan itu, “ Tapi Engkau membuatnya begitu lembut Tuhan?”
“ Yah, Aku membuatnya begitu lembut, tapi engkau belum bisa bayangkan kekuatan yang Aku berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa”.

“ Dia bisa berpikir?” Tanya Malaikat
Tuhan menjawab, “ Tak hanya berpikir, dia mampu bernegosiasi. Manusia akan menyebutnya PEREMPUAN, dia akan menjadi ciptaanKu yang paling dihormati karena darinya akan lahir pembesar dan penguasa bumi”.

Malaikat itu menyentuh dagunya..
“ Tuhan, Engkau buat ciptaan ini kelihatan lelah dan rapuh! Seolah terlalu banyak beban baginya”.
“ Itu bukan lelah atau rapuh…itu Air Mata”, jawab Tuhan.
“ Untuk apa?” Tanya Malaikat.
Tuhan melanjutkan, “Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan kebahagiaan”.
“Engkau memikirkan segala sesuatunya. Wanita ciptaanMu ini akan sungguh menakjubkan!” seru Malaikat.

Tuhan tersenyum, kataNya, “Wanita ini akan mempuyai kekuatan mempesona bagi laki-laki. Dia dapat mengatasi beban bahkan laki-laki. Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri. Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit. Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, terharu saat tertawa, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya. Dia tidak menolak kalo melihat yang lebih baik. Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya. Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat”.

CINTANYA TANPA SYARAT
“ Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang. Dia girang dan bersorak saat melihat temannya tertawa. Dia begitu bahagia mendengar kelahiran. Hatinya begitu sedih saat mendengar berita sakit dan kematian. Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup, dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka”.

Tuhan terdiam sejenak, lalu Dia berkata “Hanya 1 kekurangan dari Wanita.
“DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA..”

Karena tugasnya itulah perempuan diberi kekuatan oleh Allah..
Allah telah memberikan kekuatan pada perempuan, karena ditangannya akan terlahir penerus keturunan.

Anak yang baik terlahir dari kehebatan seorang ibu yang mengasuh dan membesarkannya.
Di balik kesuksesan suami, ada istri yang hebat yang mendampinginya.

Sejatinya wanita harus di perlakukan dengan baik, agar jiwanya terbangun dengankasih sayang dan kesabaran. Kasih dan sayang sepanjang waktu dalammendampingi anak-nak dan keluarganya tanpa perasaan tersakiti.

Sehingga di harapkan perempuan dapat menjalankan fungsinya dengan baik di dalam keluarga maupun masyarakat..

Minggu, 06 Oktober 2013

Mereka Sepasang, Jiwa dan Ruh: Jiwa yang Melakukan Perjanjian dan Disaksikan oleh Ruh

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allâh mengambil kesaksian terhadap "jiwa mereka” (anfusihim) (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esa-an Tuhan)”. (QS. Al A’râf [7]:172).

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan (nafakha) ke dalam (tubuh) nya (manusia) ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan fu’ad/hati (af’idah); (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. As-Sajdah [32]:9).

Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Dari ubay bin Ka’ab ra, ia mengatakan, “Mereka (jiwa dan ruh tersebut) dikumpulkan, lalu dijadikan berpasang-pasangan, baru kemudian mereka dibentuk. Setelah itu mereka pun diajak berbicara, lalu diambil dari mereka janji dan kesaksian, “Bukankah Aku Tuhan mu?”, mereka menjawab “Benar”. Sesungguhnya Aku akan mempersaksikan langit tujuh tingkat dan bumi tujuh tingkat untuk menjadi saksi terhadap kalian, serta menjadikan nenek moyang kalian Adam sebagai saksi, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat kelak, “Kami tidak pernah berjanji mengenai hal itu”.


Dengan demikian mereka telah mengakui hal tersebut. Kemudian Adam diangkat dihadapan mereka dan ia (Adam) pun melihat kepada mereka, lalu ia melihat orang yang kaya dan orang yang miskin, ada yang bagus dan ada juga yang sebaliknya. Lalu Adam berkata, “Ya Tuhanku, seandainya Engkau menyamakan di antara hamba-hamba-Mu itu”. Allâh menjawab, “Sesungguhnya Aku sangat suka untuk Aku disyukuri”. Dan Adam melihat para nabi di antara mereka seperti pelita yang memancarkan cahaya pada mereka”. (HR. Ahmad)

yaa Salam @msa


Ujian Hidup




Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, manusia selalu berhadapan dengan dua keadaan silih berganti. Suatu saat merasakan suka, saat lain merasakan duka. Pada saat bahagia, terkadang manusia menjadi lupa. Sebaliknya, saat duka mendera, seringkali manusia berkeluh kesah.

Bagi hamba Allah SWT yang beriman, hidup adalah ujian. Selama hidup, selama itulah kita diuji Allah SWT. ''Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.'' (QS Al-Mulk [67]: 2).

Minimal ada tujuh ujian hidup yang wajib kita ketahui. Insya Allah, Allah SWT luruskan dari ujian-ujian-Nya, sehingga meraih gelar shobirin dan mujahidin. ''Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji perihal kamu.'' (QS Muhammad [47]: 31).

Pertama, ujian berupa perintah Allah, seperti Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT menyembelih putra tercintanya bernama Ismail.

Kedua, ujian larangan Allah SWT, seperti larangan berzina, korupsi, membunuh, merampok, mencuri, sogok-menyogok, dan segala kemaksiatan serta kezaliman.

Ketiga, ujian berupa musibah. ''Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.'' (QS Al-Baqarah [2]: 155).

Keempat, ujian nikmat, sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 7. ''Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami uji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.''

Kelima, ujian dari orang zalim buat kita, baik kafirun (orang yang tidak beragama Islam), musyrikun (menyekutukan Allah SWT), munafiqun, jahilun (bodoh), fasiqun (menentang syariat Allah), maupun hasidun (dengki, iri hati).

Keenam, ujian keluarga, suami, istri, dan anak. Keluarga yang kita cintai bisa menjadi musuh kita karena kedurhakaanya kepada Allah SWT.

Ketujuh, ujian lingkungan, tetangga, pergaulan, tempat dan suasana kerja, termasuk sistem pemerintahan/negara.

Subhanallah, Allah SWT amat sayang kepada kita. Allah SWT tunjukkan cara menjawab ujian itu semua. ''Dan minta pertolonganlah kamu dengan kesabaran dan dengan sholat, dan sesungguhnya sholat sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk tunduk jiwanya.'' (QS Al-Baqarah [2]: 48). Semoga kita dijadikan Allah SWT, hamba-Nya yang lulus dari ujian. Amin ya mujibas sailin.

 Yaa Salam @msa

Kamis, 03 Oktober 2013


Ilmu hakekat dimaksud adalah ilmu laduni yaitu ilmu yang dialirkan secara cepat oleh Allah swt.kepada orang-orang arif secara rahasia,setelah MEREKA TERBEBAS DARI KETERIKATAN DENGAN KEBENDAAN,kedatangannnya sangat cepat dan global,setelah mereke benar2 memposisikan sebagai HAMBA YANG FAKIR yang hanya butuh kepada Allah,setelah ia terus mendekat dan merapat sehingga dalam pandangan nya tidak ada suatu pun SELAIN ALLAH swt,dan atas perkenan dan anugrah Allah semata,Allah membukakan KTAN ALIRAN ILMU ITU.allah memuliakannya ,dengan mengalirkan ilmu tanpa melalui proses belajar,sebagaimana lazimnya ilmu lahir.kedatangannya sangat cepat dan MUJMAL ,sehingga membuatnya tidak tahu kapan dan dari arah mana datangnya ,barulah kemudian,tiba-tiba kesadarannya menjadi penuh,dapat memahami dan mengerti semuanya,atas izin Allah swt sendiri.

SYEHC IBNU ATHAILLAH "ILMU HAKEKAT YANG DITURUNKAN ALLAH KPD ORANG-ORANG ARIFIN KETIKA TAJALI ITU BERSIFAT GLOBAL(MUJMAL) DAN SETELAH TERTANGKAP TERJADINYA PENERANGAN (KETERANGAN)NYA MAKA APABILA KAMI BACAKAN,IKUTILAH BACAANNYA,KEMUDIAN MENGENAI PENJELASANNYA SESUNGGUHNYA KAMI SENDIRI YANG AKAN MENERANGKANNYA"

ILMU HAKEKAT merupakan anugrah dari Allah semata melalui ILHAM langsung masuk dalam hati tanpa perantara,ABU BAKAR AL-WARAQ berkata"Ketika saya sedang berada di hutan bai isrooil tibaitiba bergerak dalam hatiku bahwa ilmu hakekat itu berlawanan dengan ilmu syariat,mendadak terlihat padaku seorang dibawah pohon menjerit sambil memanggil"HAI ABUBAKAR tiap_tiap yang bertentangan dengan syreat ,maka itu kekufuran,"ILMU HAKEKAT TIDAK BERTENTANGAN DENGAN ILMU SYAREAT,TIDAK BERTENTANGAN DENGAN RASA DAN RASIO,MEMANG BAGI ORANG KEBANYAKAN,SULIT UTK MENCERNANYA,TETAPI SETELAH MELALUI PROSES PERENUNGAN SEIRING PERJALANAN WAKTU KEBENARANNYA MENJADI TERBUKTI"

ILMU HAKEKAT inni bersifat ilham dari ALLAH yang tidak bertentangan dengan syareat islam,bukan ramalan dan bukan wangsit,sebagaimana yang diperoleh sebagian orang melelui semedi dalam tradisi jawa yang bercampur baur dengan upacara tradisi kejawen,oleh sebabitu ,apabila ada seseorang mendapatkan wangsit dari persemediannya semacam itu,berupa ilmu yang bertentangan dengan akidah dan syreat islam,maka itu bukan dinamakan ILMU HAKEKAT atau ILMU LADUNI

Ibnu atahilan Berkataj
"KETUKA ANUGRAH ILAHI DATANG MERASUK KE DALAN HATI ANDA,MAKA AKAN MELENYAPKAN SEGALA KEBIASAAN-KEBIASAAN ANDA.FIRMAN ALLAH"SESUNGGUHNYA RAJA-RAJA APABILA MEMASUKI SUATU NEGERI NISCAYA MEREKA MEMBINASAKANNYA,"

JADI jika karunia ILAHI telah masuk ke dalam hati seseorang hamba,maka sanggup merubah dan merombak segala adat kebiasaa yang telah menjadi tabiat manusia itu.kebiasaan dan adat istiadat yang jahat dan tidak baik akan lenyap terusir oleh anugrah iman yang datang mengusai hatu si hamba.ketika hati telah menjadi baik,maka baiklah seluruh tubuh nya,perilaku dan amal perbuatannya menjadi terpuji dan diridhoi,Al-WARIDAT AL-ILLAHIYAH(ANUGRAH IMAN DAN KEMAKRIFATAN YANG DATANG)kedalam hati itu,laksana RAJA dann pasukannya yang datang menghancurkan dan mengusir kejahatan dan kegelapan yang bersarang didalam hati.

IBNU ATHAILLAH BERKATA
"KARUNNIA BESAR(AL-WARID) itu,datangnya dari TUHAN YANG PERKASA DAN PEMAKSA"karena itu bila warid tiba ,maka tiada sesuatu yang berhadapan padanya ,melainkan lenyap karenanya.Firma Allah"SEBENARNYA KAMI MELONTARKAN YANG HAK KEPADA YANG BATIL LALU YANG HAK ITU MENGHANCURKANNYA ,MAKA DENGAN SERTA MERTA YANG BATIL ITU LENYAP"

AL-WARID ,sebagaimana anugrah dari ALLAH yang diberika kepada hamba-Nya memiliki kekuatan yang luar biasa yang dapat menghancurkan dan melenyapkan kebatilan,KEKUATAN YANG DATANG DARI ALLAH yang Maha Perkasa Laghi dapat mengalahkan segalai/alanyantidak dapat dikalahkan oleh kekuatan apapun

Allah berfirman"DAN KATAKANLAH;YANG BENAR TELAH DATANG DAN YANG BATIL TELAH LENYAP"SESUNGGUHNYA YANG BATIL ITU ADALAH SESUATU YANG PASTI LENYAP"QS.AL-ISRA:81
ALLAH BERFIRMAN"SEBENARNYA KAMI MELONTARKAN YANG HAK KEPADA YANG BATIL LALU YANG HAK ITU MENGHANCURKANNYANMAKA DENGAN SERTA MERTA YANG BATIL ITU LENYAP"QS AL-AMBIYA :18

SYEKH IBNU ATHAILLAH berkata:
"BAGAIMANA ALLAH AKAN TERHALANG (TERHIJAB) DENGAN SESUATU PADAHAL YANG DIGUNAKAN HIJAB ITU TAMPAK JELAS ,DAN KEHADIRAN MAUJUDNYA PUN SANGAT TERANG"

Pernyataan ibnu athaillah ini ,sebagai penegasan dari apa yang telah dikemukakan diawal pembahasan,bagaimana mungkin ALLAH AKAN TERTUTUP HIJAB(TERHIJAB) DENGAN SESUATU,PADAHAL SESUATU TLYANG TERLIHAT ITU SEMATA-MATA NUR ILAHI,dan pada segala yang wujud,kekuasaan Allah selalu ada dan hadir,tidak pernah gaib,karena itu disebut dalam hadist qudsi"SESUNGGUHNYA HIJAB ALLAH IALAH NUR YANG APABILA DIBUKA NISCAYA DAPAT MEMBAKAR APA SAJA YANG DIPERLIHATKANNYA,JANGANKAN MANUSIA AKAN DAPAT BERTAHAN SEDANG BUKIT SAJAHC HANCUR,DAN NABI MUSA PINGSAN SEBELUM MELIHAT LANGSUNG.

MAHA SUCI ALLAH DAN TIDAK ADA SATUPUN YANG MENYERUPAI-NYA"

Minggu, 29 September 2013

Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad Al-Husayni Al-Uwaysi Al-Bukhari.


 
SILISILAH GURU2 KU

Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad Al-Husayni Al-Uwaysi Al-Bukhari. Ia lahir di Qasrel Arifan, sebuah desa di kawasan Bukhara, Asia Tengah, pada bulan Muharram tahun 717 H/1317 M. Nasabnya bersambung kepada Rasulullah SAW melalui Sayyidina Al-Husain RA. Semua keturunan Al-Husain di Asia Tengah dan anak benua India lazim diberi gelar shah, sedangkan keturunan Al-Hasan biasa dikenal dengan gelar zadah dari kata bahasa Arab saadah (bentuk plural dari kata sayyid) sesuai dengan sabda Rasulullah SAW tentang Al-Hasan RA, ”Sesungguhnya anakku ini adalah seorang sayyid.” Shah Naqshaband diberi gelar Bahauddin karena berhasil menonjolkan sikap beragama yang lurus, tetapi tidak kering. Kemudian, sikap beragama yang benar, tetapi penuh penghayatan yang indah.

Pada masanya, tradisi keagamaan Islam di Asia Tengah berada di bawah bimbingan para guru besar sufi yang dikenal sebagai khwajakan (bentuk plural dari ‘khwaja’ atau ‘khoja’ dalam bahasa Persia berarti para kiai agung). Dan, pembesar mereka adalah Khoja Baba Sammasi yang ketika Muhammad Bahauddin lahir, ia melihat cahaya menyemburat dari arah Qasrel Arifan, yaitu saat Sammasi mengunjungi desa sebelah.

Sammasi lalu memberitahukan bahwa dari desa itu akan muncul seorang wali agung. Sekitar 18 tahun kemudian, Khoja Baba Sammasi memanggil kakek Bahauddin agar membawanya ke hadapan dirinya dan langsung dibaiat. Ia lalu mengangkat Bahauddin sebagai putranya.

Sebelum meninggal dunia, Baba Sammasi memberi wasiat kepada penggantinya, Sayyid Amir Kulali, agar mendidik Bahauddin meniti suluk sufi sampai ke puncaknya seraya menegaskan, “Semua ilmu dan pencerahan spiritual yang telah kuberikan menjadi tidak halal bagimu kalau kamu lalai melaksanakan wasiat ini!”

Meniti jalan spiritual
Bahauddin pun berangkat ke kediaman Sayyid Amir Kulali di Nasaf dengan membawa bekal dasar yang telah diberikan oleh Baba Sammasi. Sammasi menyatakan jalan tasawuf dimulai dengan menjaga kesopanan tindak-tanduk dan perasaan hati agar tidak lancang kepada Allah, Rasulullah, dan guru.

Bahauddin juga percaya bahwa sebuah jalan spiritual hanya bisa mengantarkan tujuan kalau dilalui dengan sikap rendah hati dan penuh konsistensi. Karena itu, melakukan makna eksplisit dari sebuah perintah barangkali harus diundurkan demi menjaga kesantunan.

Inilah yang dilakukan oleh Bahauddin ketika dihentikan oleh seorang lelaki berkuda yang memerintahkan dirinya agar berguru pada orang tersebut. Dengan tegas, tetapi sopan; ia menolak seraya menyatakan bahwa dia tahu siapa lelaki itu. Masalah berguru kepada seorang tokoh adalah persoalan jodoh; meskipun lelaki berkuda tadi sangat mumpuni, ia tidak berjodoh dengan Bahauddin.

Setelah tiba di hadapan Sayyid Amir Kulali, Bahauddin langsung ditanya mengapa menolak perintah lelaki berkuda yang sebenarnya adalah Nabi Khidir AS? Beliau menjawab, “Karena, hamba diperintahkan untuk berguru kepada Anda semata!”

Di bawah asuhan Amir Kulali, Bahauddin mengalami berbagai peristiwa yang mencengangkan. Di antaranya, beliau pernah ditangkap oleh dua orang tak dikenal dan dikirimkan ke makam seorang wali. Di sana, dia mendapatkan lentera yang minyaknya masih banyak dan sumbunya juga masih panjang, tetapi apinya hampir padam.

Bahauddin mendapat ilham untuk menggerakkan sedikit sumbu itu agar aliran bahan bakar menjadi lancar. Dengan khusyuk, ia melakukannya, tahu-tahu sekat pembatas antara dunia nyata dan alam barzakh terbuka di hadapan beliau. Di balik tabir ruang dan waktu itu, Bahauddin mendapatkan semua mahaguru khawajakan yang sudah meninggal dunia, termasuk guru pertamanya, Khoja Baba Sammasi.

Oleh salah seorang guru mereka, Bahauddin dihadapkan kepada kepala aliran khawajakan, yaitu Khoja Abdul Khaliq Gujdawani. Dari mahaguru yang agung ini, Bahauddin mendapatkan bimbingan langsung dalam meniti suluk sufi. Sejak saat itu, Bahauddin dikenal dengan gelar Al-Uwaysi karena mendapatkan pelajaran spiritual langsung dari seorang guru yang sudah meninggal dan tidak pernah ditemuinya di dunia. Hal ini sama dengan Uways Al-Qarny, seorang tabiin yang mendapatkan pelajaran spiritual langsung dari roh Sayyidina Rasulillah SAW.

Di bawah bimbingan Amir Kulali pula, Bahauddin terus mempraktikkan semua ajaran Abdul Khaliq Gujdawani, sebagaimana beliau juga mempelajari dengan tekun ilmu-ilmu Islam lainnya, khususnya akidah, fikih, hadis, dan sirah Nabi SAW.

Dan, karena wasiat dari Baba Sammasi, tidak heran kalau Amir Kulali memberikan perhatian khusus kepada Bahauddin. Setelah semua ilmu dan pencerahan spiritual yang ada pada gurunya diserap habis, Sayyid Amir Kulali memerintahkan Bahauddin untuk mengembara seraya menunjuk ke puting dadanya dan berkata, “Semua yang ada di sumber ini sudah habis kamu sedot, maka mengembaralah!”

Bahauddin kemudian belajar kepada beberapa mahaguru lain, seperti Khoja Arif Dikkarani dan Hakim Ata, hingga beliau menjadi mahaguru sufi terbesar yang pernah muncul dari kawasan Asia Tengah (sekarang adalah negara-negara persemakmuran bekas USSR), Persia, Turki, dan Eropa Timur. Beliau meninggal pada malam Senin, 3 Rabiul Awwal 791 H/1391 M.

Karena di dadanya terukir Lafdzul Jalalah (Allah) yang bercahaya, ia dikenal juga sebagai “Naqshaband” (bahasa Persia yang berarti: gambar yang berbuhul). Dan, kepada beliau, dinisbahkan Tarekat Naqshabandiyah yang merupakan salah satu tarekat terbesar di dunia. Tarekat ini tersebar luas di Turki, Hejaz, kawasan Persia, Asia Tengah, serta anak benua India dan Indonesia.

Adanya Tarekat Naqshabandiyah ternyata mampu mempertahankan identitas keislaman di Asia Tengah dan Eropa Timur, di tengah prahara komunisme yang menerpa selama lebih dari setengah abad. Para pemimpin kebangkitan Islam di Turki, seperti Erbakan dan Erdogan, juga berafiliasi kepada tarekat ini. Bahkan, akhir-akhir ini, Tarekat Naqshabandiyah memainkan peranan sangat penting dalam penyebaran Islam di Eropah dan Amerika.

Sementara itu, di Indonesia, ada beberapa cabang Tarekat Naqshabandiyah, seperti Khalidiyah, Mujaddidiyah, dan Muzhariyah. Yang terbesar adalah Tarekat Qadiriyah-Naqshabandiyah yang–sesuai namanya–merupakan hasil simbiosis dua tarekat terbesar di dunia.

Mengembalikan Esensi Tasawuf
Shah Naqshaband muncul untuk merevitalisasi perilaku beragama dengan mengajak kembali kepada tradisi yang hidup pada zaman Nabi SAW. Bagi Shah Naqshaband, hakikat sebuah tarekat adalah penerapan ajaran syariat dalam wujud yang paling sempurna dan konsisten. Sementara itu, hakikat adalah terealisasikannya “maqam kehambaan” seorang anak manusia di hadapan Allah semata.

Shah Naqshaband menyatakan bahwa tasawuf adalah inti agama dan inti terdalam dari tasawuf itu sendiri adalah muraqabah, musyahadah, dan muhasabah. Muraqabah adalah melupakan segala sesuatu yang selain Allah dengan hanya memfokuskan hati dan perbuatan hanya kepada-Nya.

Musyahadah adalah menyaksikan keagungan dan keindahan Allah dalam seluruh eksistensi. Sementara itu, muhasabah adalah instropeksi diri yang terus-menerus agar tidak lalai dari jalan yang mulia ini. Dengan ketiga inti tasawuf itu, hati seorang saleh terus hidup dan dihidupkan oleh zikir dan kebersamaan bersama Allah dalam setiap detak jantung dan embusan napasnya sampai dia tertidur sekalipun!

Agar mencapai maqam tersebut, seorang saleh harus menjalani pelatihan di bawah bimbingan seorang mahaguru spiritual. Dialah yang akan mengajarkannya prosesi berzikir dalam hati sesuai dengan firman Allah, “Dan, sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan penuh kesungguhan dan rasa takut (akan tidak diterima amal perbuatanmu), tanpa mengangkat suara pada siang dan sore hari dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah” (QS Al-A`raaf: 205).

Zikir dalam hati dipilih karena silsilah utama tarekat ini bersambung melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq. Metode zikir ini diajari oleh Rasulullah dan berbeda dengan tarekat lain yang semuanya bersambung melalui Ali bin Abi Thalib yang diajari berzikir dengan menggunakan suara jelas. Zikir dalam hati adalah ibadah yang terbesar (sesuai dengan bunyi tekstual QS Al-`Ankabuut: 45) dan bisa dilaksanakan dalam keadaan apa pun.

Zikir dalam hati yang dilakukan oleh seorang Naqsyabandi menggunakan Lafdzul Jalalah (Allah) dan Laa Ilaaha illalLaah yang dilafalkan dengan cara tertentu sebagaimana diajarkan langsung oleh seorang mahaguru sufi (syekh). Dengan prosesi zikir ini, seorang Naqshabandi meniti tangga-tangga makrifat.

Shah Naqshaband pernah menyatakan bahwa shalat adalah titian spiritual yang paling efektif bagi seorang saleh asalkan shalatnya khusyuk. Untuk mewujudkannya, seorang saleh diharuskan mengonsumsi makanan yang halal baginya dan tidak pernah lalai mengingat atau “bersama” dengan Allah dalam kesehariannya, lebih khusus lagi saat berwudhu serta bertakbiratul ihram.

Di sisi lain, bertasawuf bagi Shah Naqshaband adalah sebuah perilaku sosial yang positif. Bukan sekadar berbudi pekerti yang luhur, melainkan juga berbuat kebajikan kepada sesama makhluk Allah. Seorang saleh tidak boleh merasa dirinya lebih mulia dari seekor anjing sekalipun. Dia juga selalu siap mengulurkan tangan kepada siapa pun yang membutuhkan bantuan. Bahkan, bantuan tersebut bukan sekadar diberikan dalam bentuk material semata, tetapi juga rohaniah dan spiritual.

Selain itu, bertasawuf juga berarti menghormati waktu. Shah Naqshaband pernah menegaskannya dalam bahasa Persia, “Orang yang berakal pasti tidak suka berkawan dengan seorang yang suka menunda-nunda pekerjaan jika mampu dilakukannya hari ini.” Waktu harus digunakan untuk ibadah dalam pengertiannya yang paling komprehensif: berbuat kebajikan, baik yang ritual maupun yang sosial. Dan, tidak boleh ada waktu yang berlalu sedetik pun tanpa yakin bahwa kita selalu “mengingat” dan “bersama” Allah.

Dengan demikian, bertasawuf bagi Shah Naqshaband adalah mewujudkan ketundukan penuh kepada Nabi Muhammad SAW secara paripurna: menjalankan perintahnya, menghindari larangannya, meneladani perbuatannya, dan menghayati spiritualitasnya, sesuai dengan ajaran Islam menurut mazhab ahlussunnah wal jamaah.

Tidak heran kalau banyak ulama yang mengakui bahwa Tarekat Naqshabandiyah adalah saripati semua tarekat sufi. Dan, barang siapa yang suluknya tidak sesuai dengan ajaran Shah Naqshaband di atas berarti sudah keluar dari jalur yang benar meskipun mengaku sebagai pengikut beliau.

Shah Naqshaband pernah menegaskan, “Tasawuf adalah syariat. Dan, barang siapa yang mengaku sebagai pengikut tasawuf, tetapi tidak menerapkan syariat, berarti dia telah tersesat!”

Syekh Abdul Rahman Al Khalidi yang bernama kecil Alam Basifat. Syekh Abdul Rahman Al Khalidi



Silsilah saya dari kakek guru (langsung)
Illa hadroti Nabiyil Musthofaa Syafa’ati Rosulilallahi Solallahu ‘Alahi Wasallam
Wa Azawaajihi, Wa Auladiihi, Wa Dzurriyatihii, Wa Ahli Baitihi, Wa Ashaabihii, Wa tabi’inna, Wa Tabi’in, Humbi Ihsanin ilayaw Midhin Syaiu Lillahi Lahumul Fatihah....

Illahii… Anta Maqsuudii Waridhoka Mathluubii ‘Atini Mahabataka Wama’rifataka
Illahi… Ampunilah dosa-dosa dan kesalahan guru-guru kami, terimalah amal baiknya, lipatkan pahalanya…rahmatilah dan sejahterakanlah mereka.
Illahii… Tempatkanlah guru-guruku disisi-Mu bersama para Nabi-nabi-Mu dan Wali-wali-Mu juga para syuhada…
Illahii….Bersihkanlah hati kami sebagaimana Engkau membersihkan hati guru-guru kami, dan tanamkanlah niat baik dan suci dihatiku seperti Engkau tanamkan niat baik di hati para guru-guruku
Illahii… Hidupkanlah kami dalam selalu mengingat, mengenal dan mencintai-Mu
Illahii… Matikanlah kami dalam selalu mengingat dan mengenal-Mu dalam keridhoan-Mu.
Illahii.... Bangkitkanlah kami dalam selalu mengingat dan mengenal-Mu dipadang mahsyar nanti dalam naungan-Mu, dengan Syafa’at Baginda Besar Rasulullah SAW.

Berkat rahmat-Mu illahi… berkat Syafa’at Baginda besar Rasulullah SAW… berkat Tarekat Samaniyah,Naqsyabandiyah,.. berkat doa Ruhaniyah guru-guruku,para alim ulama,kaum muslimin muslimat.. berkat keridhoan kedua Orangtuaku..kabulkanlah.. amin Allahumma amiin…

***************************
Syekh Abdul Rahman Al Khalidi yang bernama kecil Alam Basifat. Syekh Abdul Rahman Al Khalidi adalah seorang ulama yang menyebarkan tarekat Samaniyyah dan Naksyabandiyah di seluruh ranah Minang dan menyebar di seluruh pulau Sumatra dan pulau Jawa dan sebahagian di Kalimantan dan Malaysia.Almarhum juga pencipta ahli seni bela diri silat kumango(silek Tuo),yang sekarang di Indonesia telah banyak mengalami modifikasi dengan berbagai simbol.Beliau juga disebut sebagai "Syaikh Kumango".Silat kumango di zamannya sempat menjadi salah satu unsur yang sangat erat kaitannya dengan kedudukan sosial seseorang. Artinya, dengan menguasai Silat Kumango, seseorang akan dihormati karena ia mempunyai strata sosial yang tinggi dalam masyarakat. Oleh karena itu, para orang tua banyak yang mendorong anak laki-lakinya yang berumur 5—10 tahun untuk mempelajarinya agar kelak menjadi orang yang terpandang dan disegani di dalam masyarakatnya.

Konon, sebelumnya Syekh Abdul Rahman Al Khalidi pernah menjadi seorang parewa (preman) yang malang-melintang selama 15 tahun.

Suatu saat ia bertemu dengan Syekh Abdurrahman, kemudian menekuni ajaran agama Islam, dan menjadi seorang ulama.

Oleh karena Syekh Abdul Rahman Al Khalidi adalah penganut dan sekaligus penyebar tarekat Samaniyyah dan Naksyabandiyah

ni silsilah keilmuan yang saya pegang dan saya terima :
Tarikat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah:

19.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh As Sayyid Bahauddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad As-Syarif Al-Husaini Al-Hasani Al-uwaisi Al-Bukhari q s.Beliau adalah Imam dari Tarikat Naqsyabandiyah.
20.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad ’Alauddin Ath-Hari Al-Bukhari Al-Khawarizmi q s.
21.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ya’kub Al-Jarakhi q s.
22.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Nashiruddin ‘Ubaidullah Al-Ahrar As-Samarqandi bin Mahmud Syihabuddin q s.
23.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Az Zahid q s.
24.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Darwisy Muhammad As-Samarqandi q s.
25.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Al-Khawajaki As-Samarqandi q s.
26.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muayyiddin Muhammad Al-Baqi Billahi q s.
27.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ahmad Al-Faruqi As-Sirhindi q s.
28.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Ma’sum q s.
29.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Syaifuddin q s.
30.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Asy Syarif Nur Muhammad Al-Badawani q s.
31.Al‘Arif Billah Asy Syaikh Syamsuddin Habibullah Jani Jaanani Mushir Al-’Alawi q s.
32.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh ’Abdullah Dahlawi Al-’Alawi q s.
33.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Dhiyauddin Khalid Al-Utsmani Al-Kurdi q s.
34.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Sulaiman Affandi q s Jabal Qubais,Mekkah Al-Mukaromah.
35.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Al-Karim Ibrohim bin pahat q s Kumpulan,Lubuk Sikaping.
36.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Sholeh q s Padang kandis,Payakumbuh.
37.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Mudo ’Abdul Qodim q s Belubus,Payakumbuh.(KAKEK GURU LIHAT FOTONYA)
38.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Angku Dukun Juti q s Sungai naniang,Payakumbuh.
39.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ilyas Tengku Rahman q s pandam gadang,Payakumbuh.
40.Hamba Allah yang dhoif,yang tiada daya melainkan dari pertolongan-Nya,hamba nan fakir,Angku Mudo Prolando Kamal Al-Khalidi An-Naqsyabandi , Napar,Payakumbuh.

Tarikat Sammaniyah Al-Qodiri Khilawatiyah :

33.Al‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad bin Abd Al-Karim Al-Samman Al-Madani q s. Beliau adalah Imam dari Tarikat Sammaniyah
34.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Hasib q s
35.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Sayyidina Abu Al-Hasan q s
36.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Sayyidina Muhammad Amin bin Ahmad Ar-Ridwan Al-Madinah Ar-Rasul q s.
37.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Abd Al-Rahman Al-Kholidi bin Al-Khatib Al-Alim Al-Kumangowiyah q s.
38.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Mudo ’Abdul Qodim q s Belubus,Payakumbuh.
39.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Sayuti  Sungai naniang,Payakumbuh.
40.Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Ilyas Tengku Rahman q s Pandam gadang,Payakumbuh.
41.Hamba Allah yang dhoif,yang tiada daya melainkan dari pertolongan-Nya,hamba nan fakir,para murid2 di diseluruh nusantara

Sungguh tiada saya bermaksud sombong,apalagi ria dengan memperlihatkan silsilah keilmuan saya,kalau memakai ria hati maka sia-sia sajalah saya mengajak saudara-saudara semua yang ada membaca thread ini.Selaku hamba yang lemah dan penuah dosa serta khilaf maka kepada Allah saya mohon ampun,dan kepada saudara sekalian saya meminta maaf bila ada yang salah dalam penyampaian saya yang tidak berkenan dihati saudara sekalian.
Mohon maaf lahir & batin . Wasalamualikum wr wb

Ilahi anta maksudi waridhoka mathlubi
Disusun oleh:

Mudiak.Payakumbuh,SUMBAR.
By:Angku Mudo.

Pakai Mobil JIHAD yang Berbahan Bakar ISTIQOMAH, dengan Sopir KEIKHLASAN, Lewat Jalan IMAN, jangan lupa bawa peta QUR"AN & SUNNAH, juga Bekal TAQWA....