Ibnu Athaillah As Sakandary
Dzikir itu bermacam-macam. Sedangkan Yang Didzikir hanyalah Satu, dan
tidak terbatas. Ahli dzikir adalah kekasih-kekasih Allah. Maka dari segi
kedisiplinan terbagi menjadi tiga:
Dzikir Jaly
Dzikir Khafy
Dzikir HaqiqiDzikir Jaly (bersuara), dilakukan oleh para pemula, yaitu
Dzikir Lisan yang mengapresiasikan syukur, puhjian, pebngagungan nikmat
serta menjaga janji dan kebajikannya,
dengan lipatan sepuluh kali hingga tujuh puluh.Dzikir Batin Khafy
(tersembunyi) bagi kaum wali, yaitu dzikir dengan rahasia qalbu tanpa
sedikit pun berhenti. Disamping terus menerus baqa' dalam musyahadah
melalui musyahadah kehadiran jiwa dan kebajikannya, dengan lipatan tujuh
puluh hingga tujuh ratus kali.
Dzikir Haqiqi yang kamil (sempurna)
bagi Ahlun-Nihayah (mereka yang sudah sampai di hadapan Allah swt,)
yaitu Dzikirnya Ruh melalui Penyaksian Allah swt, terhadap si hamba. Ia
terbebaskan dari penyaksian atas dzikirnya melalui baqa'nya Allah swt,
dengan symbol, hikmah dan kebajikannya mulai dari tujuh ratus kali lipat
sampai tiada hingga. Karena dalam musyahadah itu terjadi fana', tiada
kelezatan di sana.
Ruh di sini merupakan wilayah Dzikir Dzat,
dan Qalbu adalah wilayah Dzikir Sifat, sedangkan Lisan adalah wilayah
Dzikir kebiasaan umum. Mananakala Dzikir Ruh benar, akan menyemai Qalbu,
dan Qalbu hanya mengingat Kharisma Dzat, di dalamnya ada isyarat
perwujudan hakikat melalui fana'. Di dalamnya ada rasa memancar melalui
rasa dekatNya.
Begitu juga, bila Dzikir Qalbu benar, lisan
terdiam, hilang dari ucapannya, dan itul;ah Dzikir terhadap panji-panji
dan kenikmatan sebagai pengaruh dari Sifat. Di dalamnya ada isyarat
tarikanpada sesuatu tersisa di bawah fana' dan rasa pelipatgandaan qabul
dan pengungkapan-pengungkapan.
Manakala qalbu alpa dari dzikir lisan baru menerima dzikir sebagaimana biasa.
Masing-masing setiap ragam dzikir ini ada ancamannya.
Ancaman bagi Dzikir Ruh adalah melihat rahasia qalbunya. Dan ancaman
Dzikir Qalbu adalah melihat adanya nafsu dibaliknya. Sedangkan ancaman
Dzikir Nafsu adalah mengungkapkan sebab akibat. Ancaman bagi Dzikir
Lisan adalah alpa dan senjang, maka sang penyair mengatakan :
Dialah Allah maka ingatlah Dia
Bertasbihlah dengan memujiNya
Tak layaklah tasbih melainkan karena keagunganNya
Keagungan bagiNya sebenar-benar total para pemuji
Kenapa masih ada
Pengandaian bila dzikir-dzikir hambaNya diterima?
Manakala lautan memancar, dan samudera melimpah
Berlipat-lipat jumlahnya
Maka penakar lautan akan kembali pada ketakhinggaan
Jika semua pohon-pohon jadi pena menulis pujian padaNya
Akan habislah pohon-pohon itu, bahkan jika dilipatkan
Takkan mampu menghitungnya.
Dia ternama dengan Sang Maha Puji
Sedang makhlukNya menyucikan sepanjang hidup
Bagi kebesaranNya.
Perilaku manusia dalam berdzikir terbagi tiga:
* Khalayak umum yang mengambil faedah dzikir.
* Khalayak khusus yang bermujahadah
* Khalayak lebih khusus yang mendapat limpahan hidayah.
* Dzikir untuk khalayak umum, adalah bagi pemula demi penyucian. Dzikir
untuk khalayak khusus sebagai pertengahan, untuk menuai takdir. Dan
dzikir untuk kalangan lebih khusus sebagai pangkalnya, untuk waspada
memandangNya.
* Dzikir khalayak umum antara penafian dan penetapan (Nafi dan Itsbat)
* Dzikir khalayak khusus adalah penetapan dalam penetapan (Itsbat fi Itsbat)
* Dzikir kalangan lebih khusus Allah bersama Allah, sebagai penetapan
Istbat (Itsbatul Istbat), tanpa memandang hamparan luas dan tanpa
menoleh selain Allah Ta'ala.
* Dzikir bagi orang yang takut karena takut atas ancamanNya.
* Dzikir bagi orang yang berharap, karena inginkan janjiNya.
* Dzikir bagi penunggal padaNya dengan Tauhidnya
* Dzikir bagi pecinta, karena musyahadah padaNya.
* Dzikir kaum 'arifin, adalah DzikirNya pada mereka, bukan dzikir mereka dan bukan bagi mereka.
* Kaum airifin berdzikir kepada Allah swt, sebagai pemuliaan dan pengagungan.
* Ulama berdzikir kepada Allah swt, sebagai penyucian dan pengagungan.
* Ahli ibadah berdzikir kepada Allah swt, sebagai rasa takut dan berharap pencinta berdzikir penuh remuk redam.
* Penunggal berdzikir pada Allah swt dengan penuh penghormatan dan pengagungan.
* Khalayak umum berdzikir kepada Allah swt, karena kebiasaan belaka.
[pagebreak] Hamba senantiasa patuh, dan setiap dzikir ada yang Diingat, sedangkan orang yang dipaksa tidak ada toleransi.
Tata cara Dzikir ada tiga perilaku :
1. Dzikir Bidayah (permulaan) untuk kehidupan dan kesadaran jiwa.
2. Dzikir Sedang untuk penyucian dan pembersihan.
3. Dzikir Nihayah (pangkal akhir) untuk wushul dan ma'rifat.
Dzikir bagi upaya menghidupkan dan menyadarkan jiwa, setelah seseorang
terlibat dosa, dzikir dilakukan dengan syarat-syaratnya, hendaknya
memperbanyak dzikir :
"Wahai Yang Maha Hidup dan Memelihara Kehidupan, tiada Tuhan selain Engkau."
Dzikir bagi pembersihan dan penyucian jiwa, setelah mengamai pengotoran
dosa, disertai syarat-syarat dzikir, hendaknya memperbanyak :
"Cukuplah bagiku Allah Yang Maha Hidup nan Maha Mememlihara Kehidupan."
Ada tiga martabat dzikir :
Pertama, dzikir alpa dan balasannya adalah terlempar, tertolak dan terlaknat.
Kedua, dzikir hadirnya hati, balasannya adalah kedekatan, tambahnya anugerah dan keutamaan anugerah.
Ketiga, dzikir tenggelam dalam cinta dan musyahadah serta wushul. Sebagaimana dikatakan dalam syair :
Kapan pun aku mengingatMu, melainkan risau dan gelisahku
Pikiranku, dzikirku, batinku ketika mengingatMu,
Seakan Malaikat Raqib Kau utus membisik padaku
Waspadalah, celaka kamu, dzikirlah!
Jadikan pandanganmu pada pertemuanmu denganNya
Sebagai pengingat bagimu.
Ingatlah, Allah telah memberi panji-panji kesaksianNya padamu
Sambunglah semua dari maknaNya bagi maknamu
Berharaplah dengan dengan menyebut kebeningan dari segala yang rumit
Kasihanilah kehambaanmu yang hina dengan hatimu
Siapa tahu hati menjagamu
Dzikir itu sendiri senantiasa dipenuhi oleh tiga hal :
* Dzikir Lisan dengan mengetuk Pintu Allah swt, merupakan pengapus dosa dan peningkatan derajat.
* Dzikir Qalbu, melalui izin Allah swt untuk berdialog dengan Allah swt, merupakan kebajikan luhur dan taqarrub.
* Dzikir Ruh, adalah dialog dengan Allah swt, Sang Maha Diraja, merupakan manifestasi kehadiran jiwa dan musyahadah.
Dzikir Lisan dan Qalbu yang disertai kealpaan adalah kebiasaan dzikir yang kosong dari tambahan anugerah.
Dzikir Lisan dan Qalbu yang disertai kesadaran hadir, adalah dzikir ibadah yang dikhususkan untuk mencerap sariguna.
Dzikir dengan Lisan yang kelu dan qalbu yang penuh adalah
ketersingkapan Ilahi dan musyahadah, dan tak ada yang tahu kadar
ukurannya kecuali Allah swt.
Diriwayatkan dalam hadits : "Siapa yang
pada wal penempuhannya memperbanyak membaca "Qul Huwallaahu Ahad" Allah
memancarkan NurNya pada qalbunya dan menguatkan tauhidnya.
Dalam riwayat al-Bazzar dari Anas bin Malik, dari Nabi saw. Beliau bersabda :
"Siapa yang membaca surat "Qul Huwallahu Ahad" seratus kali maka ia
telah membeli dirinya dengan surat tersebut dari Allah Ta'ala, dan ada
suara berkumandang dari sisi Allah Ta'ala di langit-langitNya dan di
bumiNya, "Wahai, ingatlah, sesungguhnya si Fulan adalah orang yang
dimerdekakan Allah, maka barang siapa yang sebelumnya merasa punya
pelayan hendaknya ia mengambil dari Allah swt .
Diriwayatkan
pula: "Siapa yang memperbanyak Istighfar, Allah meramaikan hatinya, dan
memperbanyak rizkinya, serta mengampuni dosanya, dan memberi rizki tiada
terhitung. Allah memberikan jalan keluar di setiap kesulitannya, diberi
fasilitas dunia sedangkan ia lagi bangkrut. Segala sesuatu mengandung
siksaan, adapun siksaan bagi orang arif adalah alpa dari hadirnya hati
dalam dzikir."[pagebreak]
Dalam hadits sahih disebutkan:
"Segala sesuatu ada alat pengkilap. Sedangkan yang mengkilapkan hati
adalah dzikir. Dzikir paling utama adalah Laa Ilaaha Illalloh".
Unsur yang bisa mencemerlangkan qalbu, memutihkan dan menerangkan adalah dzikir itu sendiri, sekaligus gerbang bagi fikiran.
Majlis tertinggi dan paling mulia adalah duduk disertai kontemplasi
(renungan, tafakkur) di medan Tauhid. Tawakkal sebagai aktifitas qalbu
dan tauhid adalah wacananya.
Pintu dzikir itu tafakkur,
Pintu pemikiran adalah kesadaran.
Sedang pintu kesadaran zuhud.
Pintu zuhud adalah menerima pemberian Allah Ta'ala (qona'ah)
Pintu Qonaah adalah mencari akhirat.
Pintu akhirat itu adalah taqwa.
Pintu Taqwa ada di dunia.
Pintu dunia adalah hawa nafsu,.
Pintu hawa nafsu adalah ambisi.
Pintu ambisi adalah berangan-angan.
Angan-angan merupakan penyakit yang akut tak bias disembuhkan.
Asal angan-angan adalah cinta dunia.
Pintu cinta dunia adalah kealpaan.
Kealpaan adalah bungkus bagi batin qalbu yang beranak pinak di sana.
Tauhid merupakan pembelah, di mana tak satu pun bisa mengancam dan membahayakannya. Sebagaimana dinkatakan :
"Dengan Nama Allah, tak ada satu pun di bumi dan juga tidak di langit
yang membahayakan, bersama NamaNya. Dan Dia adalah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui."
Tauhid paling agung, esensi, qalbu dan mutiaranya adalah Tauhidnya Ismul Mufrad (Allah) ini, menunggalkan dan mengenalNya.
Sebagian kaum 'arifin ditanya mengenai Ismul A'dzom, lalu menjawab,
"Hendaknya anda mengucapkan: Allah!", dan anda tidak ada di sana.
Sesungguhnya orang yang berkata "Allah", masih ada sisa makhluk di
hatinya, sungguh tak akan menemukan hakikat, karena adanya hasrat
kemakhlukan.
Siapa pun yang mengucapkan "Allah" secara tekstual
(huruf) belaka, sesungguhnya secara hakikat dzikir dan ucapannya tidak
diterima. Karena ia telah keluar (mengekspresikan) dari unsur, huruf,
pemahaman, yang dirasakan, simbol, khayalan dan imajinasi. Namun Allah
swt, ridlo kepada kita dengan hal demikian, bahkan memberi pahala,
karena memang tidak ada jalan lain dalam berdzikir, mentauhidkan, dari
segi ucapan maupun perilaku ruhani kecuali dengan menyebut Ismul Mufrad
tersebut menurut kapasitas manusia dari ucapan dan pengertiannya.
Sedangkan dasar bagi kalangan khusus yang beri keistemewaan dan inayah
Allah swt dari kaum 'arifin maupun Ulama ahli tamkin (Ulama Billah)
Allah tidak meridloi berdzikir dengan model di atas. Sebagaimana
firmanNya :
"Dan tak ada yang dari Kami melainkan baginya adalah maqom yang dimaklumi."
Sungguh indah apa yang difirmankan. Dan mengingatkan melalui taufiqNya
pada si hamba, memberikan keistemewaan pada hambaNya. Maka nyatalah
Asmaul Husna melalui ucapannya dan dzikir pada Allah melalui dzikir
menyebut salah satu AsmaNya.
Maka, seperti firmanNya "Kun", jadilah seluruh ciptaan semesta, dan meliputi seluruh maujud.
Siapa yang mengucapkan "Allah" dengan benar bersama Allah, bukan
disebabkan oleh suatu faktor tertentu, namun muncul dari pengetahuan
yang tegak bersamaNya, penuh dengan ma'rifat dan pengagungan padaNya,
disertai penghormatan yang sempurna dan penyucian sejati, memandang
anugerah, maka ia benar-benar mengagungkan Allah Ta'ala, benar-benar
berdzikir dan mengagungkanNya dan mengenal kekuasaanNya.
Sebab, mengingat Allah dan mentauhidkanNya adalah RidloNya terhadap mereka bersamaNya, sebagaimana layakNya Dia Yang Maha Suci.
Ma'rifat itu melihat, bukan mengetahui. Melihat nyata, bukan informasi.
Menyaksikan, bukan mensifati. Terbuka, bukan hijab. Mereka bukan mereka
dan mereka tidak bersama mereka dan tidak bagi mereka. Sebagaimana
firmanNya :
"Nabi Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya." (Az-Zukhruf: 59)
"Dan jika Aku mencintainya, maka Akulah Pendengaran baginya, Mata dan tangan dan Kaki baginya."
Bagiamana jalan menuju padaNya, sedang ia disucikan
Dari aktivitas keseluruhan dan bagi-bagi tugas?
Demi fana wujud mereka, karena WujudNya
Disucikan dari inti dan pecahan-pecahannya?
Tak satu pun menyerupaiNya, bahkan mana dan bagaimana
Setiap pertanyaan tentang batas akan lewat
Dan diantara keajaiban-keajaiban bahwa
WujudNya di atas segalanya dan sirnanya pangkal penghabisan.
bismillaahirrahmaanirrahiim...
man sagholahulqur'an 'an mas'alati u'tiya afdholama u'tiyalissailiin...
Orang yang setiap harinya disibukkan dg al qur"an sampai lupa meminta
kepadaKu maka orang itu di beri rizqi yg lebih utama dr rizqi2 orang
orang yg meminta kepadaKu(Allah)
(kama qola filkitab tibyan fiadabi hamalatil qur'an)
ainna kitaballahi autsaqu syaafi'in#
wa aghnaa ghonaain waahibaan mutafadhila..
Sesungguhnya al qur'an adlh yg paling bisa diharapkan syafa'atnya atau
pertolngan dan yg paling sempurna di dalam menjamin kekurangan..
waghoiru jaliisiin laayamullu khaditsuhu#
watardaaduhu yazdaaduhu yazdadu fiihii tajammulaa..
MEMBACA dan MENGAMALKAN al qur'an adalah pekerjaan yg TIDAK MEMBOSANKAN semakn SERING dibACA semakin indah pula kedngranya ,
karena itu tdk ada bertmn yg lbh menyenangkan kecuali bertmn dg alqur'an..
Mereka yg sering membaca al qur'an adl keluarga Allah dan pilihan dr orang orang mulia.
O Allah
Ijinkan ku mencoretkan ini..
Oh Allah... Oh Allah..
Terimalah rasa cintaku pada kalam kalam Mu..
Hudal Lil muttaqiin...
Sang pemberi peringatan..
Pemberi kabar gembira dan kesedihan..
Teman setia kala suka dan dukaku..
Media 'tuk menghubungiMu..
Tempat curhat keluh kesah hati seorang hamba
yang mencoba taat pada Tuan nya...
Ku alunkan beberapa ayat itu tanpa kemerduan...
Ku membisu melihat rangkaian rangkaian kejahatan
dan kekejian mereka kaum musrikin kepada utusan
utusanMu terdahulu.. Lalu dadaku pun sesak
melihat balasan penderitaan kaum musyrikiin
kelak...
Resah dan gelisah ku saat terbesit sindiran hati ..
Ku akui.. ku masih banyak berdusta padaMu
Ku bertanya keikhlasan ibadah ibadahku padaMu..
Sudah kah ku mencintaiMu sesusah hatiku..??
Dan adakah aku dalam perhatianMu... ?
Bait demi bait ku buka luasnya makna ..
Ku lihat secercah harapan dalam ayat ayat
syurgaMu...
Ku ukirkan satu senyum indah...
Hatiku tersipu malu karena ulah rasa indah..
Akankah ku berjumpa dengan ciptaanMu??
syurga..???
Dan Engkau di hari jum'at ..??
Allah ku..Allah ku..
Ku rayu Engkau tuk bersemayam dalam hatiku..
Selamanya..
Bersenandung dalam kerinduan dan kefana-an..
O Allahu Allahu Allahu..
Bismillahirahmannirahim,
Keadaan wanita shalihah di dunia adalah sebagai berikut :
1. Meninggal sebelum menikah.
2. Ditalak suami pertama, dan tidak menikah lagi sampai meninggal.
3. Menikah dengan lelaki yang bukan ahli surga (ahli neraka). Misalnya,
suaminya fasik, munafik , murtad atau melakukan kesyirikan
4. Meninggal lebih dahulu sebelum suaminya.
5. Ditinggal mati suaminya, dan tidak menikah lagi sampai meninggal.
6. Ditalak atau ditinggal mati suaminya, kemudian menikah dengan lelaki lain.
Maka di surga,
Untuk wanita jenis pertama, kedua, dan ketiga, dia akan dinikahkan
dengan seorang lelaki yang menjadi penghuni surga. Dia memiliki sifat
yang sempurna, sebagaimana penghuni surga lainnya. Ini berdasarkan sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ما في الجنة أعزب
“Di surga, tidak ada orang yang tidak menikah.” (H.R. Ahmad dan Muslim)
Untuk wanita jenis keempat dan kelima, dia akan dinikahkan dengan suaminya di dunia.
Adapun wanita yang keenam [kedua suami si wanita masuk surga], ada 2 pendapat di kalangan Ulama.
Pendapat Pertama: Wanita Tersebut Memilih Suami yang Dikehendakinya
Syaikh Muhammad al-’Utsaymīn pernah ditanya, “Jika seorang wanita
pernah memiliki dua orang suami di dunia (suami pertama meninggal dunia
lalu wanita tersebut menikah lagi, kemudian kedua suami dan wanita
tersebut masuk surga), maka siapakah yang akan bersama wanita tadi?”
Beliau menjawab, “Jika seorang wanita memiliki dua orang suami di
dunia, maka pada hari kiamat ia akan diperintahkan untuk memilih (salah
satu) di antara keduanya di surga. Dan apabila wanita itu belum menikah
di dunia, maka Allah akan menikahkannya dengan orang yang akan menjadi
penyejuk mata baginya di surga. Kenikmatan surga tidaklah terbatas untuk
pria, akan tetapi mencakup pria dan wanita, dan di antara kenikmatan
tersebut adalah pernikahan.” [Fatāwa al-'Aqīdah, hal. 313]
Pendapat Kedua: Wanita Tersebut Bersama Suaminya yang Terakhir
Pendapat yang paling kuat dalam hal ini—insya Allah—dan didukung oleh
hadits serta atsar adalah, ketika di surga, wanita mukminah akan bersama
dengan suami terakhirnya di dunia. [Lihat al-Jannah wan Nār, Dr. 'Umar
Sulaimān al-Asyqar, hal. 245-246]
Nabi ` bersabda,
الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا
“Seorang wanita adalah untuk suaminya yang terakhir.”
[Lihat Shahīh al-Jāmi', no. 6691; dan ash-Shahīhah, no. 1281]
Imam ath-Thabrāni meriwayatkan, bahwa Mu’āwiyah pernah meminang Ummu
ad-Dardā` setelah Abū ad-Dardā` meninggal dunia. Maka Ummu ad-Dardā`
berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Abū ad-Dardā` menyebutkan
bahwa Rasulullah ` bersabda, ‘Siapa saja wanita yang ditinggal mati oleh
suaminya, lalu ia menikah lagi, maka ia diperuntukkan bagi suaminya
yang terakhir.’ [Hadits ini dinyatakan valid oleh Syaikh al-Albāni dalam
Shahīh al-Jāmi', no. 2704] Dan tidaklah aku lebih memilihmu
dibandingkan Abū ad-Dardā`.”
[Al-Mu'jam al-Ausath (III/275) no. 3130]
Imam al-Baihaqi meriwayatkan, bahwa Hudzaifah berkata kepada istrinya,
“Jika engkau ingin untuk menjadi istriku di surga maka janganlah engkau
menikah lagi sepeninggalku. Sebab wanita di surga itu diperuntukkan bagi
suaminya yang terakhir di dunia. Karena itulah Allah mengharamkan
istri-istri Nabi ` untuk menikah lagi sepeninggal beliau, sebab mereka
adalah istri-istri beliau di surga.”
[Sunan al-Baihaqi al-Kubrā (VII/69) no. 13199]
Imam Ibn Sa’d meriwayatkan, bahwa Asmā` pernah mengadukan sikap keras
suaminya, az-Zubair Ibn al-’Awwām, kepada ayahnya, Abū Bakr. Maka Abū
Bakr berkata, “Wahai puteriku, bersabarlah. Sebab apabila seorang wanita
memiliki suami yang shalih lalu si suami meninggal dunia dan ia tidak
menikah lagi, niscaya Allah akan mengumpulkan keduanya di surga.”
[Ath-Thabaqāt al-Kubrā (VIII/251). Lihat pula ash-Shahīhah, penjelasan hadits no. 1281]
Penting untuk diingat kembali, bahwa di surga tidak ada kesedihan dan
kegundahan, hanya ada suka cita dan kegembiraan. Karena itu, meskipun
seorang wanita di surga akan bersanding suaminya yang terakhir—padahal
bisa jadi ketika di dunia ia lebih mencintai suaminya yang lain—namun ia
tetap akan bahagia dan bersuka cita.
Begitu pula bila seorang
suami berhak atas surga Allah, ia dapat menarik istri, orangtua dan
anaknya , selama mereka dalam keimanan yang sama (muslim) dan "tidak
menyekutukan Allah",
Dari hadist Ath Tabrani, Rasulullah SAW bersabda :
Ketika seseorang masuk ke surga, ia menanyakan orang tua, istri dan
anaknya. Lalu dikatakan kepadanya : Mereka tidak mampu mencapai derajat
amalmu. Kemudian ia berkata : Ya Tuhanku , aku beramal bagiku dan bagi
mereka. Lalu Allah memerintahkan untuk menyusulkan mereka ke surganya.
Setelah itu Ibnu Abbas membaca surah Ath Thur (52) ayat 21 :
Dan orang-orang yang beriman , lalu anak cucu mereka mengikuti dengan
iman, Kami susulkan keturunan mereka pada mereka, dan Kami tidak
mengurangi amal mereka sedikit pun. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa
yang dikerjakannya.
Masuklah ke surga besama istrimu untuk digembirakan. (QS surat Az Zukruf 43, : 70)
Sahabat fillah,
Uraian diatas sekedar untuk pengetahuan bersama bahwa suami / istri /
anak , Allah karuniakan adalah sebagai amanah dan teman seperjalanan di
dunia, dalam rangka meraih Cinta Allah subhana wa Ta'ala.
Dan
Intinya adalah bagaimana setiap jiwa harus benar-benar mempersiapkan
sendiri seberapa jauh Allah kelak ridha kepada Nya, dan tak jemu
mendidik seluruh keluarganya . Agar kelak Allah berkenan mengumpulkan
mereka bersama dalam kemuliaan surga Nya.
Semoga Allah menjadikan kita semua dalam golongan hamba-hamba Nya yang beruntung , dimuliakan dan di Cintai Nya . Aamiin.
Hakikat Cinta
Jangan beri cinta pada sebarangan,
Memberi cinta atau meletakkan cinta kepada sebarangan adalah sia-sia
dan akan menyesal,
Kerana cinta itu mahal biarlah pulangannya sepadan dengan mahalnya,
Kalau kita cinta kepada sesuatu kita pula yang memberi sesuatu
kepadanya
adalah orang yang bodoh macam baghal,
Kita beri cinta pada perempuan terutama yang bukan isteri kita,
berbagai-bagai perkara dan benda dia minta kita berikan kepadanya,
Bukan dia yang memberi sesuatu kepada kita bukankah kita dibodohinya?,
Adakalanya setelah dia kikis harta dan kekayaan kita, dia pun tarik
diri dari kita
apakah untungnya?,
Begitu juga kita berikan cinta kepada isteri kita, berbagai-bagai
perkara yang dia minta kita kena beri juga,
Dia tidak fikir lagi apakah kita ada atau tidak ada,
Sudahlah cinta kita beri kepadanya, kita diminta pula apa sahaja!,
Sepatutnya dialah yang memberi kita apa sahaja,
Kerana kita telah bayar dengan kecintaan kepadanya, cinta itu bukankah
mahal?
Kita cinta harta, kita cari untuk kita milikinya,
Siang malam kita tidak rehat dibuatnya kerana cintakan harta,
Setelah dapat apa yang kita mahu,
Banyaklah harta yang ada pada kita, hingga kita jadi orang kaya,
Aduh! Sedihnya kita pula kena jaga harta,
Kalau tidak jaga orang curi pula atau dia binasa,
Sepatutnya kecintaan telah kita beri kepadanya, dialah jaga kita,
mengapa pula kita jaga dia,
Kita pula telah diperbodoh oleh harta,
Kita diperhambanya hingga menyusahkan kita,
Kita letak dia di tempat yang mulia dan terpelihara,
Hartalah yang mulia bukan kita yang mulia, kita tidak dipedulikannya,
Sekali lagi harta boleh memperbodoh kita.
Mengapa manusia tidak pandai meletakkan cinta,
kepada Zat Dialah yang akan menjaga kita,
Dia akan urus kita, bertanggungjawab kepada kita, memelihara kita,
Siang malam Dia akan jaga kita,
Di waktu susah disenangkan-Nya kita!,
Ketika sakit disembuh-Nya kita!,
Di kala kita miskin dikayakan-Nya kita!,
Di waktu kita lapar dikenyangkan-Nya kita!,
Di waktu kita takut, dihiburkan-Nya kita!,
Bahkan Dia memberi segala-galanya kepada kita selama mana kita masih
hidup di dunia.
Yang saya maksudkan ialah Tuhan kita yang menghidup dan mematikan kita,
Bukankah baik kita cintakan Dia, kita beri kasih sayang kepada-Nya,
Alangkah patutnya bahkan indahnya kita mencintai satu Zat yang belum
kita kenal Dia jauh sekali mencintai-Nya,
Dia telah beri kita hidup, rezeki, kesihatan, hiburan dan lain-lainnya,
Kita belum beri kasih sayang kepada-Nya Dia telah pemurah dengan kita,
terutama udara,
Tanpa kita bayar apa-apa kepada-Nya,
Kalaulah kita kenal Dia dan cinta pula dengan-Nya Dia akan beri kita
sesuatu yang bersifat rohani dan maknawi pula,
Yang bersifat maknawi dan rohani itu lebih mahal daripada kehidupan
yang lahir di dunia,
Untungnya kekal abadi, kita terima di Akhirat sana di dalam Syurga.
Apakah dia?,
Iaitu rahmat-Nya,
Dia akan anugerah yang lebih besar lagi yang kita akan terima dari-Nya,
Hidayah-Nya taufiq-Nya, iman dan taqwa, cinta-Nya, redha-Nya,
keampunan-Nya akhirnya adalah Syurga-Nya,
Mengapa kita tidak jatuh hati dengan Zat yang kita tidak cinta pun
pemurah-Nya sudah diberi-Nya kepada kita?,
Kalau kita cintai Dia lebih besar lagi kita terima redha dan
keampunan-Nya,
Kita tidak payah jaga Dia, Dialah yang jaga kita,
Kita tidak payah tadbir Dia, Dialah yang mentadbir kita,
Kita tidak payah menjaga keselamatan-Nya, Dialah yang menjaga
keselamatan kita,
Bahkan di waktu kita tidur pun Dia jaga kita begitu setia.
Mengapa kita beri cinta murahan, yang menyusahkan kita,
Kitalah yang memberinya bukan dia memberi kita,
Macam-macam kita memberinya itu pun dia tidak setia,a
Alangkah bodohnya kita bahkan malang sekalilah kita kerana ditipunya
kita,
Di mana akal kita hingga tidak mampu berfikir secara rasional,
Marilah kita merubah sikap untuk menyelamatkan diri kita,
Kita cintailah Tuhan, yang Dia memberi kita segala-galanya hidup dan
mati kita,
Cintakan Tuhan selamat kita ke Syurga.
Bagaimanakah ciri-ciri orang yang bakal masuk Surga atau masuk Neraka?
Salah satunya digambarkan Allah lewat idiom cahaya. Orang-orang yang
beriman dan banyak amal salehnya, kata Allah, akan memancarkan cahaya di
wajahnya. Sebaliknya, orang-orang yang kafir dan banyak dosanya akan
'memancarkan' kegelapan. Hal itu dikemukakan olehNya di ayat-ayat
berikut ini:
QS Al Hadiid (57) : 12
"Pada hari dimana kalian melihat orang-orang beriman laki-laki dan
perempuan, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah
kanannya."
QS. Yunus (10) : 27
“… seakan-akan wajah mereka
ditutupi oleh kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, mereka itulah
penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.”
Kenapakah
orang-orang yang beriman dan banyak pahalanya memancarkan cahaya,
sedangkan yang banyak dosa 'memancarkan' kegelapan alias kehilangan
cahaya?
Ini memang rahasia yang sangat menarik. Allah sangat
sering menggunakan istilah cahaya di dalam Al Qur’an. Dia mengatakan
bahwa Allah adalah cahaya langit dan Bumi (QS. 24:35). Firman firmanNya
juga berupa cahaya (Qur’an QS. 4:174; Taurat QS. 5:44; Injil QS. 5:46).
Malaikat sebagai hamba-hamba utusanNya juga terbuat dari badan cahaya.
Dan pahala adalah juga cahaya (QS. 57:19). Karena itu orang-orang yang
banyak pahalanya memancarkan cahaya di wajahnya (QS. 57:12).
Kunci pemahamannya adalah di Al Qur’an Surat An Nuur: 35. Di ayat itu
Allah membuat perumpamaan bahwa DzaNya bagaikan sebuah pelita besar yang
menerangi alam semesta. Pelita itu berada di dalam sebuah lubang yang
tidak tembus. Tetap di salah satu bagian yang terbuka, ditutupi oleh
tabir kaca
Dari tabir kaca itulah memancar cahaya ke seluruh
penjuru dunia, bagaikan sebuah mutiara. Pelita itu dinyalakan dengan
menggunakan minyak Zaitun yang banyak berkahnya, yang sinarnya memancar
dengan sendirinya tanpa disentuh api. Cahaya yang dipancarkan pelita itu
berlapis-lapis, mulai dari yang paling rendah frekuensinya sampai yang
tertinggi menuju cahaya Allah.
Ayat tersebut memberikan
perumpamaan yang sangat misterius tetapi sangat menarik. Dia mengatakan
bahwa hubungan antara Allah dengan makhlukNya adalah seperti hubungan
antara Pelita (sumber cahaya) dengan cahayanya. Artinya makhluk Allah
ini sebenarnya semu saja. Yang sesungguhnya ADA adalah DIA. Kita hanya
'pancaran atau pantulan' saja dari eksistensiNya.
Nah, cahaya
yang dipancarkan oleh Allah itu berlapis-lapis mulai dari yang paling
jelek (Kegelapan) sampai yang paling baik (Cahaya Putih Terang). Allah
telah menetapkan dalam seluruh ciptaanNya itu bahwa Kegelapan mewakili
Kejahatan dan Keburukan. Sedangkan Cahaya Terang mewakili Kebaikan.
Maka, kalau kita ingin memperoleh kebaikan dan keberuntungan, kita
harus memperoleh cahaya terang. Dan sebaliknya kalau kita mempoleh
kegelapan berarti kita masuk ke dalam lingkaran kejahatan dan kerugian.
Yang menarik, ternyata 'cahaya' dan 'kegelapan' itu digunakan oleh
Allah di dalam firmannya sebagai ungkapan yang sesungguhnya. Misalnya
ayat-ayat yang saya kutipkan di atas. Bahwa orang-orang yang beriman,
kelak di hari kiamat, benar-benar akan memancarkan cahaya di wajahnya.
Sedangkan orang-orang kafir, justru kehilangan cahaya alias wajahnya
gelap gulita.
Dari manakah cahaya di wajah orang beriman itu
muncul? Ternyata berasal dari berbagai ibadah yang dilakukan selama ia
hidup di dunia. Setiap ibadah yang diajarkan rasulullah kepada kita
selalu mengandung dua unsur, yaitu ingat kepada Allah (dzikrullah) dan
membaca firmanNya yang berasal dari KitabNya. Baik ketika kita membaca
syahadat, melakukan shalat, mengadakan puasa, berzakat, maupun
melaksanakan ibadah haji.
Nah, dari kedua kedua unsur itulah
cahaya Allah muncul. Bagaimanakah mekanismenya? Sebagaimana dikatakan di
atas, bahwa Allah adalah sumber cahaya langit dan Bumi. Maka ketika
kita berdzikir kepada Allah, kita sama saja dengan memproduksi getaran
getaran cahaya. Asalkan berdzikirnya khusyuk dan menggetarkan hati.
Kuncinya adalah pada 'hati yang bergetar.’
Hati adalah tempat
terjadinya getaran yang bersumber dari kehendak jiwa. Ketika seseorang
marah, maka hatinya akan berdegup keras. Semakin marah ia, semakin
kencang juga getarannya. Demikian pula ketika seseorang sedang sedih,
gembira, berduka, tertawa, dan lain sebagainya.
Getaran yang
kasar akan dihasilkan jika kita sedang dalam keadaan emosional.
Sebaliknya getaran yang lembut akan muncul ketika kita sedang sabar,
tenteram dan damai.
Ketika sedang berdzikir, hati kita akan
bergetar lembut. Hal ini dikemukan oleh Allah, bahwa orang yang
berdzikir hatinya akan tenang dan tenteram.
QS. Ar Ra’d (13) : 28
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati
menjadi tenteram.”
Ketika seseorang dalam keadaan tenteram,
getaran hatinya demikian lembut. Amplitudonya kecil, tetapi frekuensinya
sangat tinggi. Semakin tenteram dan damai hati seseorang maka semakin
tinggi pula frekuensinya. Dan pada, suatu ketika, pada frekuensi 10
pangkat 13 sampai pangkat 15, akan menghasilkan frekuensi cahaya.
Jadi, ketika kita berdzikir menyebut nama Allah itu, tiba-tiba hati
kita bisa bercahaya. Cahaya itu muncul disebabkan terkena resonansi
kalimat dzikir yang kita baca. lbaratnya, hati kita adalah sebuah batang
besi biasa, ketika kita gesek dengan besi magnet maka ia akan berubah
menjadi besi magnetik juga. Semakin sering besi itu kita gesek maka
semakin kuat kemagnetan yang muncul daripadanya.
Demikianlah
dengan hati kita. Dzikrullah itu menghasilkan getaran-getaran gelombag
elektromagnetik dengan frekuensi cahaya yang terus menerus menggesek
hati kita. Maka, hati kita pun akan memancarkan cahaya. Kuncinya, sekali
lagi, hati harus khusyuk dan tergetar oleh bacaan itu. Bahkan, kalau
sampai meneteskan air mata.
Unsur yang kedua adalah ayat-ayat
Qur’an. Dengan sangat gamblang Allah mengatakan bahwa Al Qur'an ada
cahaya. Bahkan, bukan hanya Al Qur’an, melainkan seluruh kitab-kitab
yang pernah diturunkan kepada para rasul itu mengandung cahaya.
QS. An Nisaa' (4) : 174
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari
Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu
cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).”
QS. Al Maa’idah (5 ) : 44
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya …”
QS Al Maa’idah (5 ) : 46
"Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil, sedang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya . . . "
Artinya, ketika kita membaca kalimat-kalimat Allah itu kita juga sedang
mengucapkan getaran-getaran cahaya yang meresonansi hati kita. Asalkan
kita membacanya dengan pengertian dan pemahaman. Kuncinya, hati sampai
bergetar. Jika tidak mengetarkan hati, maka proses dzikir atau baca Al
Qur’an itu tidak memberikan efek apa-apa kepada jiwa kita. Yang demikian
itu tidak akan menghasilkan cahaya di hati kita.
Apakah
perlunya menghasilkan cahaya di hati kita lewat kegiatan dzikir, shalat
dan ibadah-ibadah lainnya itu? Supaya, pancaran cahaya di hati kita
mengimbas ke seluruh bio elektron di tubuh kita. Ketika cahaya tersebut
mengimbas ke miliaran bio elektron di tubuh kita, maka tiba-tiba badan
kita akan memancarkan cahaya tipis yang disebut 'Aura'. Termasuk akan
terpancar di wajah kita.
Cahaya itulah yang terlihat di wajah
orang-orang beriman pada hari kiamat nanti. Aura yang muncul akibat
praktek peribadatan yang panjang selama hidupnya, dalam kekhusyukan yang
sangat intens. Maka Allah menyejajarkan atau bahkan menyamakan antara
pahala dan cahaya, sebagaimana firman berikut ini.
QS. Al Hadiid (57) : 19
“... bagi mereka pahala dan cahaya mereka…”
Dan ternyata cahaya itu dibutuhkan agar kita tidak tersesat di Akhirat
nanti. Orang-orang yang memililki cahaya tersebut dapat berjalan dengan
mudah, serta memperoleh petunjuk dan ampunan Allah. Akan tetapi
orang-orang yang tidak memiliki cahaya, kebingungan dan berusaha
mendapatkan cahaya untuk menerangi jalannya.
QS. Al Hadiid (57) : 28
“…dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu.”
QS. Al Hadiid (57) 13
"Pada hati ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata
kepada orang-orang yang beriman : "Tunggulah kami, supaya kami bisa
mengambil cahayamu."
Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke
belakang, dan carilah sendiri cahaya (untukmu). "Lalu diadakanlah di
antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada
rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa."
QS. Ali lmraan (3) : 106 - 107
"Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri dan
ada Pula yang menjadi hitam muram. 'Ada pun orang-orang yang hitam muram
mukanya, (dikatakan kepada mereka) : kenapa kamu kafir sesudah kamu
beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.
"Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal di dalamnya.”
Jadi, selain wajah yang memancarkan cahaya, Allah juga memberikan
informasi tentang orang-orang kafir yang berwajah hitam muram. Bahkan di
QS. 10 : 27 dikatakan Allah, wajah mereka gelap gulita seperti tertutup
oleh potongan¬-potongan malam.
Dalam konteks ini memang bisa
dimengerti bahwa orang -orang kafir yang tidak pernah beribadah kepada
Allah itu wajahnya tidak memancarkan aura. Sebab hatinya memang tidak
pernah bergetar lembut. Yang ada ialah getaran-getaran kasar.
Semakin kasar getaran hati seseorang, maka semakin rendah pula frekuensi
yang dihasilkan. Dan semakin rendah frekuensi itu, maka ia tidak bisa
menghasilkan cahaya.
Bahkan kata Allah, di dalam berbagai
firmanNya, hati yang semakin jelek adalah hati yang semakin keras, tidak
bisa bergetar. Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, tingkatan
hati yang jelek itu ada 5, yaitu : 1. Hati yang berpenyakit (suka
bohong, menipu, marah, dendam, iri, dengki disb), 2. Hati yang mengeras.
3. hati yang membatu. 4. Hati yang tertutup. dan 5. Hati yang dikunci
mati oleh Allah.
Maka, semakin kafir seseorang, ia akan
semakin keras hatinya. Dan akhirnya tidak bisa bergetar lagi, dikunci
mati oleh Allah. Naudzu billahi min dzalik. Hati yang:seperti itulah
yang tidak bisa memancarkan aura. Wajah mereka gelap dan muram.
QS. Az Zumaar (39) : 60
"Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta kepada Allah, mukanya menjadi hitam."
QS. Al An’aam (6) : 39
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita…”
Seperti yang telah saya kemukakan di depan, bahwa ternyata kegelapan
itu ada kaitannya dengan kemampuan indera seseorang ketika dibangkitkan.
Di sini kelihatan bahwa orang-orang kafir itu dibangkitkan dala keaaan
tuli, bisu, buta, dan sekaligus berada di dalam kegelapan. Sehingga
mereka kebingungan. Dan kalau kita simpulkan semua itu disebabkan oleh
hati mereka yang tertutup dari petunjuk-petunjuk Allah swt.
QS. Al Hajj (22) : 8
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah
tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab yang bercahaya."
QS. Al Maa’idah (5 ) : 16
“…dan (dengan kitab itu) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap
gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya.”
QS. Al A’raaf (7) : 157
“…dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
QS. An Nuur (24) : 40
“…dan barangsiapa tidak diberi cahaya oleh Allah, tidaklah ia memiliki cahaya sedikit pun.”
QS. At Tahriim (66) : 8
"Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah, dengan taubat
yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam Surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan para
nabi dan orang-orang beriman yang bersama dengan dia, sedang cahaya
mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka
mengatakan : Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan
ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Untuk keamanan, kebahagiaan dan kedamaian hidup di dunia dan Akhirat,
manusia perlu model atau contoh untuk diikuti. Justeru manusia, walaupun
telah ALLAH bekalkan fitrah ingin mencintai dan dicintai tidak akan
dapat melakukannya dengan sempurna jika tidak ada contoh. Begitulah
rahmat dan kasih sayang ALLAH. Sentiasa menunjukkan jalan-jalan
keselamatan buat hamba- hamba-Nya. Tinggal lagi apakah manusia itu mahu atan tidak mahu mencontohinya, itu sahaja.
Maka atas dasar itu dengan rahmat ALLAH, Dia telah mengutuskan seorang
manusia bernama Muhammad bin Abdullah sebagai Rasul-Nya di atas muka
bumi ini 1400 tahun yang lampau. ALLAH telah lengkapkan Rasul itu dengan
sifat yang sempurna lahir dan batin. ALLAH telah memelihara peribadinya
daripada sebarang kesalahan dan cacat-cela, agar dia menjadi contoh
yang agung kepada manusia lain.
Dengan segala pemeliharaan itu
maka jadilah Rasulullah SAW manusia yang paling tinggi akhlaknya. Sama
ada akhlak dengan ALLAH mahupun akhlak sesama manusia.
Oleh itu tidak hairanlah jika ALLAH sendiri memuji Rasulullah SAW dalam Al Quran dengan firman-Nya:
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) mempunyai akhlak yang sangat agung." (Al Qalam: 4)
Al hasil, terbentuklah Rasulullah SAW itu sebagai insan kamil yang
menjadi lambang segala kebaikan. Nabi Muhammadlah manusia yang paling
sempurna. Seluruh himpunan sifat baik telah dipakaikan oleh ALLAH pada
diri Rasulullah SAW. Itulah gambaran betapa kasih dan sayangnya
Rasulullah SAW kepada seluruh makhluk.Bukan sahaja kepada manusia bahkan
juga kepada binatang. Bukan sahaja kepada orang Islam tetapi juga
kepada yang bukan Islam. Maka atas dasar itulah ALLAH SWT telah
menegaskan dalam Al Quran bahawa kedatangan Rasulullah SAW itu adalah
sebagai pembawa rahmat.
Firman ALLAH:
" Dan tidak Kami utuskan engkau (Muhammad) melainkan untuk rahmat kepada sekalian alam." (Al Anbia: 107) .
Rasulullah SAW juga pernah bersabda:
"Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia." (Riwayat Malik)
Di sini saya hanya ingin menggambarkan tentang kasih sayang, iaitu satu
aspek daripada akhlak Rasulullah SAW yang sangat perlu untuk manusia.
Setidak-tidaknya untuk keselamatan mereka di dunia walaupun tidak di
Akhirat. Kasih sayang Rasulullah SAW terhadap manusia tidak ada
tandingannya. Mari kita lihat bukti bagaimana dan betapa kasih sayang
Rasulullah SAW melalui dua sudut.
Jika kita membaca Al' Quran
dan meneliti Hadis Rasulullah SAW, maka kita akan dapati betapa
Rasulullah SAW itu sangat pengasih sekalipun kepada anak kecil ataupun
binatang. Di antara ayat Quran yang menunjukkan betapa tingginya rasa
kasih Rasulullah SAW itu ialah sewaktu ALLAH SWT berfirman:
"Telah datang kepada kamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri.
Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan
keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang Mukmin." (At Taubah: 128)
Dalam ayat yang lain ALLAH SWT telah berfirman:
"Maka dengan rahmat ALLAH-lah kamu dapat berlaku lemah-lembut dan kasih sayang pada mereka. "(Ali Imran: 159 )
Allah berfirman lagi:
"Dan jikalau kamu berkasar dan berkeras hati nescaya mereka akan menjauhkan diri darimu. "(Ali Imran: 159)
Di antara Hadis yang menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Rasulullah SAW ialah:
"Barang siapa yang tidak mengasihi manusia, dia tidak dikasihi ALLAH. "(Riwayat At Termizi)
"Kasihilah siapa sahaja yang ada di bumi nescaya akan mengasihi kamu
siapa-siapa sahaja (malaikat) yang di langit." (Riwayat Abu Daud)
"Sebaik-baik manusia ialah orang yang memberi manfaat pada manusia (termasuk meratakan kasih sayang).
Sebaik-baik manusia ialah mereka yang paling baik akhlaknya (kasih sayang kepada orang lain)." (Riwayat At Tabrani)
"Berbaktilah kepada kedua ibu bapa kamu, maka akan. berbakti anak-anak
kamu kepada kamu (termasuk memberi kasih sayang)." (Riwayat Al Hakim)
"Sesungguhnya orang yang paling hampir dengan tempatku di kalangan kamu
ialah yang paling cantik akhlaknya, mereka menghormati orang lain dan
mereka senang bermesra dan dimesrai.
Orang Mukmin itu ialah yang
mudah mesra dan dimesrai, dan tiada kebaikan pada mereka yang tidak
boleh bermesra dan dimesrai. Dan sebaik-baik manusia ialah yang banyak
memberi manfaat kepada manusia." (Riwayat Al Hakim dan Al Baihaqi)
"Sesiapa yang tidak mengasihi orang kecil kami, sedangkan dia tahu
kewajipan sebagai orang besar kami maka bukanlah dia dari golongan
kami." (Riwayat Al Bukhari)
"Siapa yang berbuat baik (beri
kasih sayang) kepada anak yatim lelaki atau perempuan, adalah aku dan
dia di dalam Syurga seperti dua ini (ditunjukkan dua jarinya yang
dirapatkan)." (Riwayat Al Hakim)
“Orang mukmin yang paling
sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. “ (Riwayat Abu
Dawud, Ahmad dan At-Tirmidzi )
“Penyebab utama masuknya
manusia ke surga adalah bertakwa kepada Allah dan kebaikan akhlaknya. “ (
Riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )
“Sesungguhnya orang yang
paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya dari pada hari kiamat
adalah orang yang paling baik akhlaknya.” ( Riwayat At-Tirmidzi )
“Saya menjamin sebuah rumah yang paling tinggi tingkatannya di sorga
bagi orang-orang yang berbudi pekerti. “ ( Riwayat At-Tirmidzi )
“Sesungguhnya orang mukmin dengan akhlaknya yang baik akan mendapatkan
kedudukan yang sama dengan orang yang (rajin) melaksanakan puasa dan
shalat malam. “ (Riwayat Abu Dawud)
"Barangsiapa yang
menghindari perdebatan dalam keadaan ia bersalah nescaya Allah akan
membangunkan untuknya sebuah rumah di sekitar syurga. Barangsiapa yang
menghindari perdebatan dalam keadaan ia benar niscaya Allah akan
membangunkan untuknya sebuah rumah di tengah-tengah surga. Dan
barangsiapa yang baik akhlaknya niscaya Allah akan membangunkan untuknya
sebuah rumah di ketinggian surga. (HR.Abu Dawud, Ath-Tirmidzi, Ibnu
Majah dan Al-Baihaqi).
Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya:
“Manusia yang paling dikasihi Allah ialah orang yang memberi manfaat
kepada orang lain dan amalan yang paling disukai oleh Allah ialah
menggembirakan hati orang-orang Islam atau menghilangkan kesusahan
daripadanya atau menunaikan keperluan hidupnya di dunia atau memberi
makan orang yang lapar. Perjalananku bersama saudaraku yang muslim untuk
menunaikan hajatnya, adalah lebih aku sukai daripada aku beriktikaf di
dalam masjid ini selama sebulan, dan sesiapa yang menahan kemarahannya
sekalipun ia mampu untuk membalasnya nescaya Allah akan memenuhi
keredhaannya di dalam hatinya pada hari Qiamat, dan sesiapa yang
berjalan bersama-sama saudaranya yang Islam untuk menunaikan hajat
saudaranya itu hinggalah selesai hajatnya nescaya Allah akan tetapkan
kakinya(ketika melalui pada hari Qiamat) dan sesungguhnya akhlak yang
buruk akan merosakkan amalan seperti cuka merosakkan madu.” (Riwayat
Ibnu Abi Dunya)
Allah SWT berfirman :“ Dan dirikanlah shalat.
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari ( perbuatan-perbuatan ) keji dan
mungkar. “ ( Al-Ankabut : 45 )
Subhanallah ! Jika shalat
seseorang itu belum mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka
shalatnya baru sebatas olah raga. Ia telah shalat, namun shalatnya
belum memperbaiki akhlaknya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT
berfirman :“ Sesungguhnya Aku menerima shalat dari seseorang yang
mengerjakannya dengan khusyuk karena kebesaran-Ku, dan ia tidak
mengharapkan anugerah dari shalatnya karena sebagai hamba-Ku
(makhluk-Ku), dan ia tidak menghabiskan waktu malamnya karena bermaksiat
kepada-Ku, menghabiskan waktu siangnya untuk berdzikir kepada-Ku,
mengasihi orang miskin, ibnu sabil, mengasihi anda dan menyantuni orang
yang sedang terkena musibah.”Ingatlah, bahwa seluruh aturan syariat
Islam terdapat akhlak didalamnya. Dapatkah anda menyaksikan adanya
hubungan antara ibadah (shalat) dan akhlak (rendah hati dan kasih
sayang)? Ingatlah, jika shalat anda belum memberikan nilai-nilai kasih
sayang terhadap sesama manusia, maka anda belumlah memetik buah shalat
anda secara sempurna.
"Sesungguhnya di kalangan kamu yang lebih
dikasihi ALLAH ialah mereka yang senang bermesra dan dimesrai.
Sebaliknya yang paling dibenci ALLAH ialah mereka yang suka menabur
fitnah dan memecah belahkan persaudaraan."