Laman

Jumat, 28 Februari 2014

Inilah Cara Mudah Mengenal Golongan Ahlussunnah wal Jama’ah


Mayoritas ulama sedunia berakidah Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA) dan sekarang terkumpul dalam Empat Imam Madzhab (Maliki, Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali), bukan “Manhaj Salaf”. Mereka adalah ulama-ulama pilihan terbaik Allah SWT dan Dia tidak mengumpulkan ulama-ulama-Nya berada dalam kesesatan. Sabda Rasulullah SAW (hadits hasan dari jalur Ibnu Umar):

ان الله تعالى لا يجمع أمتي على ضلالة , و يد الله على الجماعة , و من شد شد الى النار

Artinya:

“Sesungguhnya Allah ta’ala tidak mengumpulkan ummat (maksudnya ulama di kalangan ummat)-ku atas kesesatan. Dan kekuatan Allah berada atas jama’ah (ulama Ahlussunnah wal Jama’ah). Barangsiapa menyendiri (keluar dari jama’ah), maka akan bertempat di neraka.”
{Keterangan dari kitab “Faidhul Qadir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir min Ahaditsi Al-Basyir An-Nadzir” karya Imam Muhammad Abdur Ra’uf Al-Munawi, jilid 2 halaman 271, cetakan “Darul Fikr”, Beirut, Libanon}.

Dengan demikian, ta’at kepada ulama Ahlussunnah wal Jama’ah berarti ta’at kepada Allah. Sedangkan memisahkan diri dari jama’ah Ahlussunnah wal Jama’ah (Maliki, Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali), berarti matinya tidak diridhoi Allah dan matinya dalam keadaan mati jahiliyah, sebagaimana tersebut di dalam kitab “Nihayatul Arab fi Fununil Arab” karya Syeikh Syihabuddin Ahmad biin Muhammad an-Nuwairi jilid 6 halaman 12 cetakan Mesir, Rasulullah SAW bersabda dari jalur Abu Hurairah sebagai berikut:

من خرج من الطاعة و فارق الجماعة ثم مات مات ميتة جاهلية

Artinya:

“Barangsiapa keluar dari jalur ketaatan kepada Allah SWT dan memisahkan diri dari golongan Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA), jika suatu saat nanti ia mati (sebelum taubat), maka matinya dalam keadaan mati Jahilihiyyah.”

Perlu diketahui bahwa ada tiga ciri golongan Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu:

1. Dalam ilmu fiqih menganut kepada salah satu Empat Imam Madzhab (Maliki, Syafi’i, Hanafi, dan Hanbali).

2. Dalam ilmu tauhid (aqidah / aqa’id / ushuluddin) menganut kepada Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (260-324 H. / 873-935 M.) dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi (239-333 H. / 853-944 M.), bukan menganut kepada aqidah Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri Wahabisme (1111-1206 H. / 1701-1793 M.).

3. Dalam Ilmu Tasawuf menganut kepada Imam Al-Junaidi Al-Baghdadi (wafat 297 H. / 910 M.), Imam Abul Hasan Asy-Syadzili (591-656 H. / 1195-1258 M.), dan Imam Al-Ghozali (450-505 H. /1058-1111 M.).

Di dalam kitab “Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah” karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari (pendiri pondok pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur dan pendiri organisasi Nahdhatul Ulama) halaman 9-10 diterangkan sebagai berikut:

قد كان مسلمو الأقطار الجاوية فى الأزمان السالفة الخالية متفقي الاراء و المذهب , متحدي المأخذ و المشرب , فكلهم فى الفقه على المذهب النفيس مذهب الامام محمد بن ادريس , و فى أصول الدين على مذهب الامام أبى الحسن الأشعري , و فى التصوف على طذهب الامام الغزالي و الامام أبى الحسن الشاذلي رضي الله عنهم أجمعين

Artinya:

“Pada masa lalu Umat Islam di Jawa sepakat dalam berpendapat dan bermadzhab dengan satu rujukan dan pegangan, yaitu dalam bidang fiqih mengikuti kepada Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, dalam masalah ushuluddin mengikuti kepada madzhab Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, dan dalam bidang tasawuf mengikuti kepada Imam Al-Ghozali dan Imam Abul Hasan Asy-Syadzili”.

قال العلامة الشيخ

ثم انه حدث فى عام ألف و ثلاثمائة و ثلاثين أحزابا متنوعة , و أراء متدافعة , و أقوال متضاربة , و رجال متجاذبة , فمنهم سلفيون فائمون على ما عليه أسلافهم من التمذهب بالمذهب المعين , و التمسك بالكتب المعتبرة المتداولة , و محبة أهل البيت و الأولياء و الصالحين , و التبرك بهم أحياء و أموات , و زيارة القبور , و تلقين الميت , و الصدقة عنه , و اعتقاد الشفاعة و نفع الدعاء و التوسل و غير ذلك

Artinya:

“Kemudian pada tahun 1330 H muncul bermacam-macam golongan, pendapat-pendapat yang bertentangan, pikiran-pikiran yang berseberangan , dan para tokohnya saling tarik-menarik (kontroversi). Dari mayoritas para tokoh, ada para ulama salaf yang konsisten terhadap kesalafan-nya, yang mengikuti terhadap madzhab yang telah ditentukan, dan berpegang teguh pada kitab-kitab yang dianggap presentatif (mu’tabaroh) yang biasa beredar (masyhur). Mencintai ahli bait (keluarga Nabi Muhammad SAW), mencintai para wali dan orang-orang yang shaleh, mengambil berkah kepada mereka, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, ziarah kubur, men-talqin mayit, bersedekah untuk mayit, meyakini adanya syafa’at (pertolongan), manfa’at do’a, wasilah dan lain-lain”.

8 PENGERTIAN CINTA MENURUT AL QUR'AN


Menurut Hadits Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu).

Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga :

Lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
Lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan
Lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri.

Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh SWT, dengan membaca firmanNya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

Cinta Mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.
Cinta Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
Cinta Mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
Cinta Syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
Cinta Ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).
Cinta Shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)
Cinta Syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam Surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari Hadist riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi
Cinta Kulfah, yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

Mi’raj Abu Yazid Al-Busthami (2)


Abu Yazid mengisahkan sebagai berikut:
“Aku memandang Allah dengan mata keyakinan setelah Dia mengangkatku ke derajat kemerdekaan dari semua makhluk dan setelah Dia memberikan pencerahan padaku dengan cahaya-Nya, menyingkap padaku rahasia rahasia-Nya yang menakjubkan dan memanifestasikan padaku kebesaran ke-’Dia’-an-Nya. Kemudian aku memandang diriku sendiri, dan merenungkan dalam dalam rahasia-rahasia dan sifat-sifatku. Cahayaku adalah kegelapan di sisi cahayaNya; kebesaranku menyusut dan menjadi keburukan di sisi kebesaranNya; kemuliaanku hanyalah kesombongan di sisi kemuliaanNya. Milik-Nya lah segala kesucian, dan milikkulah segala kekotoran.

Saat aku memandang lagi, aku melihat keberadaanku berasal dari cahaya-Nya. Aku sadar bahwa kemuliaanku berasal dari kebesaran dan kemuliaan-Nya. Apa saja yang aku lakukan, aku lakukan dengan kemampuan yang berasal dari kemahakuasaan-Nya. Apa pun yang dilihat oleh mata tubuh fisikku, dilihat melalui-Nya. Aku memandang dengan mata keadilan dan realitas; semua ibadahku merupakan karunia-Nya, bukan dariku, namun aku menyangka, bahwa akulah yang menyembah Nya.

Aku berkata, “Ya Allah, apa ini?”
Dia berkata, “Aku, dan bukan selain-Ku.”
Lalu Dia menjahit mataku, agar tidak menjadi sarana untuk melihat, agar aku tidak dapat melihat. Kemudian Dia mengajarkan akar permasalahan, yakni ke-Dia-an-Nya, pada pandangan mataku. Dia mencerabutku dari keberadaanku, dan membuatku abadi melalui keabadian-Nya, dan Dia memuliakanku. Dia menyingkapkan padaku keesaan-Nya, tak terdesak oleh keberadaanku.

Allah, Sang Kebenaran, meningkatkan realitas dalam diriku. Melalui-Nya aku memandang-Nya, dan aku memandang-Nya dalam realitas.
Di sana aku berdiam sejenak, dan aku menemukan ketenangan. Aku menutup telinga penentangan; aku menarik lidah hasrat ke dalam tenggorok kekecewaan. Aku mengabaikan pengetahuan yang dipelajari, dan mengenyahkan campur tangan jiwa yang mengajak kepada keburukan. Aku tetap diam sejenak, tanpa kelengkapan apa pun, dan dengan tangan kesucian-Nya aku menyapu bid’ah dari jalan akar prinsip-prinsip.
Allah mengasihiku. Dia mengaruniaiku pengetahuan abadi, dan memasang lidah kebaikan-Nya kedalam tenggorokku. Dia menciptakan bagiku mata dari cahaya-Nya, maka aku melihat semua makhluk melalui-Nya. Dengan lidah kebaikan-Nya aku berkomunikasi dengan-Nya, dari pengetahuan-Nya aku memperoleh pengetahuan, dan dengan cahaya-Nya aku memandang-Nya.

Dia berkata, “Wahai engkau yang semua tanpa semua maupun dengan semua, tanpa kelengkapan maupun dengan kelengkapan!”
Aku berkata, “Ya Allah, jangan biarkan aku terperdaya oleh hal ini. Jangan biarkan aku berpuas diri dengan keberadaanku, tidak merindukan-Mu. Lebih baik Engkau menjadi milikku tanpaku, daripada aku menjadi milikku sendiri tanpa-Mu. Lebih baik aku berbicara pada-Mu melalui-Mu, daripada aku berbicara pada diriku sendiri tanpa-Mu.”
Dia berkata, “Mulai sekarang, perhatikanlah hukum (agama), dan janganlah melanggar perintah serta larangan Ku, agar perjuanganmu beroleh rasa syukur Kami.”

Aku berkata, “Aku telah menyatakan keimananku dan hatiku percaya dengan teguh. Jika Engkau bersyukur, lebih baik Engkau bersyukur pada diri-Mu sendiri daripada kepada hamba-Mu; dan jika Engkau menyalahkan, sesungguhnya Engkau Mahasuci dari segala kesalahan.”
Dia berkata, “Dari siapa engkau belajar?”
Aku mengatakan, “Dia Yang mengajukan pertanyaan lebih mengetahui daripada yang ditanya; karena Dia adalah Yang Dirindukan sekaligus Yang Merindu, Yang Bertanya sekaligus Yang Menjawab.”

Ketika Dia telah membuktikan kesucian jiwaku yang terdalam, jiwaku mendengar suara kepuasan-Nya; Dia menyelubungiku dengan keridhaan-Nya. Dia memberi pencerahan kepadaku, dan mengantarkanku keluar dari kegelapan jiwa jasmani dan pelanggaran pelanggaran watak badaniah. Aku sadar bahwa melalui-Nya-lah aku hidup; dan karena karunia-Nya lah aku dapat menghamparkan permadani kebahagiaan dalam hatiku.
Dia berkata, “Mintalah apa saja yang engkau inginkan.”

Aku mengatakan, “Aku menginginkan-Mu, karena Engkau lebih baik daripada karunia, lebih besar daripada kedermawanan, dan melalui-Mu aku telah menemukan kepuasan dalam diri-Mu. Karena Engkau milikku, aku telah menggulung lembaran karunia dan kedermawanan, dan jangan cegah aku dari-Mu, dan jangan tawarkan aku apa yang rendah di hadapan-Mu.”
Sejenak, Dia tidak menjawabku. Kemudian, sambil menyematkan mahkota kemurahan hati di kepalaku, Dia berkata, “Kebenaran yang engkau katakan, dan realitas yang engkau cari, di dalamnya engkau telah melihat dan mendengar kebenaran.”

Aku mengatakan, ‘Jika aku telah melihat, melalui-Mu-lah aku melihat. Dan jika aku telah mendengar melalui-Mu-lah aku mendengar. Pertama Engkaulah yang mendengar, kemudian baru aku mendengar.”
Dan aku memanjatkan banyak pujian kepada-Nya. Karenanya. Dia memberiku sayap keagungan, sehingga aku dapat terbang dalam wilayah kemuliaan dan melihat karya karya-Nya yang menakjubkan.
Melihat kelemahan dan kebutuhanku, Dia memperkuatku dengan kekuatan-Nya dan menghiasiku dengan perhiasan-Nya.
Dia menyematkan mahkota kemurahan hati dikepalaku, dan membukakan pintu istana keesaan bagiku. Ketika Dia melihat bahwa sifat-sifatku menjadi hampa di hadapan sifat-sifat-Nya, Dia menganugerahiku sebuah nama dari kehadiran-Nya dan memanggilku dengan keesaan-Nya. Ketunggalan pun mewujud, dan kejamakan pun lenyap.
Dia berkata, “Keridlaan Kami adalah keridlaanmu, dan keridlaanmu adalah keridlaan Kami. Perkataanmu tidak memuat kekotoran, dan tak ada yang membebanimu dalam ke-’Aku’-anmu.”

Lalu Dia membuatku merasakan tikaman kecemburuan, dan membangkitkanku lagi. Aku bangkit dalam kesucian dari tungku ujian.
Kemudian Dia berkata, “Milik siapakah kerajaan?”
Aku mengatakan, “Milik Mu.”
Dia berkata, “Milik siapakah perintah?”
Aku mengatakan, “Milik Mu.”
Dia berkata, “Milik siapakah pilihan?”
Aku mengatakan, “Milik Mu.”

Karena kata-kata ini sama dengan apa yang telah Dia dengar saat perjanjian awal (zaman Azali, red), Dia berkehendak untuk menunjukkan padaku bahwa bila tanpa kasih sayang Nya, makhluk tidak akan pernah menemukan ketenangan; dan bahwa bila tidak karena cinta Nya, kemahakuasaan Nya dapat menimbulkan kerusakan pada segala hal.
Dia memandangku dengan mata yang meliputi melalui perantara ke-mahapemaksa’-an-Nya; dan sekali lagi, tak ada jejakku yang terlihat.
Dalam kemabukanku, aku menghempaskan diriku ke setiap lembah. Aku meleburkan tubuhku dalam setiap tungku peleburan, dalam kobaran api cemburu.

Aku memacu kuda pencarian dalam padang belantara yang luas; tak ada permainan yang aku lihat yang lebih baik daripada kefakiran yang sangat, tak ada sesuatu yang aku ketahui yang lebih baik daripada ketidakmampuan absolut. Tak ada lampu yang aku lihat yang lebih terang daripada diam, tak ada kata-kata yang aku dengar yang lebih baik daripada kebungkaman. Aku menjadi penghuni istana kesunyian; aku mengenakan pakaian ketabahan, hingga segala persoalan mencapai inti mereka.
Dia melihat lahir dan batinku hampa dari cacat watak badaniah. Dia membuka celah kelegaan dalam dadaku yang kelam, dan memberiku lidah pembebasan dan penyatuan. Maka kini aku memiliki lidah kemuliaan abadi, hati cahaya ilahiah, dan mata karya Ilahi. Dengan pertolongan Nya aku bicara, dengan kekuatan Nya aku menggenggam.

Karena melalui-Nya aku hidup, aku takkan pernah mati. Karena aku telah mencapai tingkatan ini, tandaku kekal, ekspresiku abadi, lidahku adalah lidah penyatuan, jiwaku adalah jiwa pembebasan. Bukanlah dariku aku bicara, aku hanya penyampai belaka; juga bukan melaluiku aku bicara, aku hanya pengingat belaka. Dia menggerakkan lidahku sesuai dengan kehendak-Nya, aku tiada lain hanya penerjemah belaka. Kenyataannya, Dialah Yang berbicara, bukan aku.
Kini, selelah membesarkan aku, Dia berbicara lagi, “Para makhluk ingin melihatmu.”

Aku berkata, “Aku tidak ingin melihat mereka. Namun jika Engkau berkehendak untuk menghadirkanku ke hadapan para makhluk-Mu, aku tidak akan menentang-Mu. Letakkan aku dalam keesaan-Mu, sehingga ketika makhluk-makhluk-Mu melihatku dan memandang karya-Mu, mereka akan melihat Yang Mencipta, dan aku tidak berada di sana sama sekali.”
Dia mengabulkan permohonanku; Dia menyematkan mahkota kemurahan hati di kepalaku, dan membuatku melampaui maqam watak badaniahku.
Lalu Dia berkata, “Datanglah ke hadapan para makhluk-Ku.”
Aku mengambil satu langkah menjauhi Yang Hadir (Allah swt.). Pada langkah kedua, aku terjatuh seketika. Aku mendengar pekikan, “Kembalikan kekasih-Ku, karena dia tidak bisa tanpa-Ku, dia juga tidak mengetahui jalan keselamatan menuju Aku.”

Mi’raj Abu Yazid Al-Busthami (1)


Oleh: Fariduddin ‘Aththar

Abu Yazid Thaifur ibnu ‘Isa ibnu Surusyan al-Bisthami, cucu seorang Zoroastrian (penganut Zoroastrianisme/ajaran Zoroaster), lahir di Bistham di timur laut Persia, di sana pula ia wafat pada tahun 261 H/874 M atau 264/877 M, dan hingga kini makamnya masih ada.

Ia adalah pionir aliran ekstatik (“mabuk”) dalam sufisme. Ia dikenal karena keberaniannya dalam mengekspresikan peleburan mistik menyeluruh kepada ketuhanan. Ia sangat mempengaruhi imajinasi para sufi yang hidup setelah masanya, terutama dengan penggambarannya tentang perjalanan menuju surga (sebagai imitasi mi’raj-nya Rasulullah Muhammad saw.).
Ayahnya adalah salah seorang yang terpandang di kota Bistham. Riwayat kehidupan Abu Yazid yang luar biasa dimulai sejak ia masih berada dalam kandungan ibunya.

Ibunya berkata padanya, “Setiap kali ibu memasukkan makanan yang syubhat ke mulut ibu, engkau meronta ronta dalam kandungan dan tak mau diam sampai ibu mengeluarkan makanan itu dari mulut ibu.”
Pernyataan ini dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri.
lbunya menyekolahkannya. Di sekolah, Abu yazid mempelajari Al-Quran. Suatu hari, gurunya menjelaskan makna salah satu ayat di surah Luqman: “Bersyukurlah kepada Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Ayat ini menggetarkan hati Abu Yazid.

“Guru,” katanya seraya meletakkan buku catatannya, “izinkanlah aku untuk pulang dan mengatakan sesuatu kepada ibuku.”
Gurunya mengizinkannya, dan Abu Yazid pun bergegas pulang.
“Ada apa, Thaifur,” pekik ibunya, “mengapa engkau pulang? Apa mereka memberimu hadiah, atau ada acara khusus.”

“Tidak,” Jawab Abu Yazid. “Pelajaranku telah sampai kepada ayat di mana Allah memerintahkan aku untuk mengabdi kepada Nya dan kepada Ibu. Aku tidak akan sanggup melaksanakan keduanya sekaligus. Ayat ini menggetarkan hatiku. Hanya ada dua pilihan: lbu memintaku dari Allah agar aku dapat menjadi milik lbu sepenuhnya, atau lbu menyerahkanku kepada Allah agar aku dapat sepenuhnya bersamaNya “
Suatu malam, ibuku memintaku untuk mengambilkannya air minum. Aku bergegas mengambilkan air minum untuknya, namun tak ada air di teko. Aku pun mengambil kendi, namun kendi ini juga kosong. maka aku pun pergi ke sungai dan mengisi kendi dengan air. Ketika aku kembali ke rumah, ibuku telah tertidur.

Malam itu udara begitu dingin. Aku memegang teko dengan tanganku. Ketika ibuku terbangun, ia pun minum dan mendoakanku. Lalu ia melihat bahwa teko itu membuat tanganku membeku kedinginan.
‘Mengapa tak engkau letakkan saja teko itu?’ tanya ibuku.

“Aku takut tatkala lbu terbangun, aku tidak ada di sisi Ibu,’ jawabku.
Setelah ibunya menyerahkannya kepada Allah, Abu Yazid meninggalkan Bistham dan selama tiga puluh tahun berkelana dari satu daerah ke daerah lain, mendisiplinkan dirinya dengan ibadah dan rasa lapar yang sinambung. Ia mendatangi 113 pembimbing spiritual dan mengambil manfaat dari mereka semua.
Di antara mereka ada yang dijuluki Ash-Shadiq. Abu Yazid sedang duduk ketika gurunya itu tiba-tiba berkata, “Abu Yazid, ambilkan aku buku dari jendela itu.”

“Jendela? jendela yang mana?” tanya Abu Yazid.
Gurunya balik bertanya, “Selama ini engkau selalu datang ke sini, dan engkau tidak pernah melihat jendela itu?”
“Tidak pernah,” jawab Abu Yazid. “Apa urusanku dengan jendela? Ketika aku berada dihadapanmu, aku menutup mataku dari hal hal lain. Aku datang kepadamu bukan untuk melihat lihat.”
“Kalau begitu,” kata sang guru, “pulanglah ke Bistham. Usahamu telah sempurna.”

Abu Yazid diberi tahu bahwa di suatu tempat tinggallah seorang guru besar. Abu Yazid jauh-jauh datang untuk menemuinya. Ketika ia mendekat, ia melihat sang guru kondang itu meludah ke atas kiblat. Abu Yazid seketika itu pula bergegas kembali pulang. Ia berujar, “Jika ia memiliki ilmu sedikit saja, ia tidak akan pernah melecehkan-Nya.”
Dalam kaitannya dengan hal ini, dikatakan bahwa rumah Abu Yazid terletak sekitar empat puluh langkah dari sebuah masjid, dan ia tidak pernah sekali pun meludah di jalan demi menghormati masjid itu.

Abu Yazid membutuhkan waktu dua belas tahun penuh untuk tiba ke Ka’bah. Itu karena di setiap melewati tempat ibadah yang ia lalui, ia selalu membentangkan sajadahnya dan mendirikan salat dua rakaat.
“Tempat ibadah ini bukanlah serambi istana para raja duniawi, di mana orang dapat lewat kesana-kemari dengan seenaknya,” katanya.
Akhirnya, ia sampai juga di Ka’bah, tapi tahun itu ia tidak pergi ke Madinah.
“Tidaklah pantas menjadikan kunjungan ke Madinah sebagai sekadar bagian dari kunjunganku kali ini,” ia menjelaskan. “Aku akan mengenakan pakaian haji tersendiri, bukan yang kupakai saat ini, untuk kunjunganku ke Madinah.”
Tahun berikutnya, ia kembali, mengenakan pakaian haji tersendiri. Di suatu kota, ia berpapasan dengan sekelompok besar orang yang kemudian menjadi para muridnya. Ketika ia pergi, orang-orang itu mengikutinya.
“Siapa mereka?” tanyanya sambil menengok ke belakang.
Terdengarlah jawaban, “Mereka ingin menemanimu.”

“Ya Allah!” pekik Abu Yazid. “Aku mohon pada-Mu, jangan jadikan aku selubung antara para hambaMu dan diri-Mu!”
Lalu dengan tujuan menghapus kecintaan orang-orang itu kepadanya dan agar dirinya tidak Menjadi penghalang dijalan mereka (menuju Allah) setelah salat Subuh, Abu Yazid memandang mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.”
“Dia sudah gila” pekik orang-orang itu. Dan mereka pun pergi meninggalkan Abu Yazid.

Abu Yazid menyusuri jalannya. Di perjalanan, ia menemukan tengkorak yang bertuliskan: “Tuli, Bisu, dan buta, maka mereka tidak mengerti.”
Ia memungut tengkorak itu, dan sambil menangis ia menciumnya.
“Tampaknya ini adalah kepala seorang sufi yang dibinasakan Allah, karena ia tidak memiliki telinga untuk mendengar suara abadi, tidak memiliki mata untuk melihat keindahan abadi, tidak memiliki lidah untuk mengagungkan kebesaran Allah, tidak memiliki akal untuk memahami sedikit saja dari pengetahuan hakiki Allah. Ayat ini berbicara tentangnya.”
Setelah Abu Yazid mengunjungi Madinah, ia melihat perintah untuk kembali guna merawat ibunya. Ia pun segera bertolak menuju Bistham, diiringi oleh sekelompok orang. Berita kembalinya Abu Yazid tersebar ke seluruh kota Bistham, dan masyarakat Bistham pun keluar menuju perbatasan kota untuk menyambutnya. Abu Yazid tampak sangat disibukkan oleh perhatian yang ditunjukkan masyarakat Bistham, sehingga ia khawatir hal itu akan mencegahnya dari Allah. Ketika mereka mendekatinya, ia mengeluarkan roti dari lengan bajunya. Saat ini bulan Ramadlan, namun Abu Yazid malah berdiri dan makan roti. Seketika setelah masyarakat Bistham melihat hal ini, mereka pun meninggalkan Abu Yazid. “Tidakkah kalian lihat?” Abu Yazid berkata pada para muridnya. “Aku menaati aturan agama, namun masyarakat malah menolakku.”
Ia menunggu dengan sabar hingga malam tiba. Pada tengah malam, ia memasuki kota Bistham dan menuju ke rumah ibunya. Di sana, ia berdiri dan mendengar suara ibunya berwudlu dan berdoa.
“Ya Allah, jagalah orang buangan kita (maksudnya Abu Yazid). Buatlah hati para syekh (guru spiritual) cenderung padanya, dan berikanlah ia petunjuk agar dapat melakukan segalanya dengan baik.”
Abu Yazid menangis ketika ia mendengar kata-kata ini. Kemudian ia mengetuk pintu.
“Siapa itu?” pekik ibunya.
“Orang buanganmu,” jawab Abu Yazid.
Sambil menangis, sang ibu membuka pintu. Pandangan matanya tampak suram.
“Thaifur,” kata sang ibu pada anaknya, “tahukah engkau apa yang telah menyuramkan pandangan mataku? Tangisan. Aku kerap menangis selama terpisah darimu, dan punggung ibu bungkuk dua kali lipat karena menanggung beban kesedihan.”

Abu Dzar Al-Ghifari

Meski tak sepopuler sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, namun sosoknya tak dapat dilepaskan sebagai tokoh yang paling giat menerapkan prinsip egaliter, kesetaraan dalam hal membelanjakan harta di jalan Allah. Ditentangnya semua orang yang cenderung memupuk harta untuk kepentingan pribadi, termasuk sahabat-sahabatnya sendiri.

Di masa Khalifah Utsman, pendapat kerasnya tentang gejala nepotisme dan penumpukan harta yang terjadi di kalangan Quraisy membuat ia dikecam banyak pihak. Sikap serupa ia tunjukkan kepada pemerintahan Muawiyah yang menjadi gubernur Syiria. Baginya, adalah kewajiban setiap muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin.

Kepada Muawiyah yang membangun istana hijaunya atau Istana Al Khizra, abu Dzar menegur, “Kalau Anda membangun istana ini dengan uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri berarti Anda telah berlaku boros,” katanya. Muawiyah hanya terdiam mendengar teguran sahabatnya ini.

Dukungannya kepada semangat solidaritas sosial, kepedulian kalangan berpunya kepada kaum miskin, bukan hanya dalam ucapan. Seluruh sikap hidupnya ia tunjukkan kepada upaya penumbuhan semangat tersebut. Sikap wara’ dan zuhud selalu jadi perilaku hidupnya. Sikapnya inilah yang dipuji Rasulullah SAW. Saat Rasul akan berpulang, Abu Dzar dipanggilnya. Sambil memeluk Abu Dzar, Nabi berkata “Abu Dzar akan tetap sama sepanjang hidupnya. Dia tidak akan berubah walaupun aku meninggal nanti.” Ucapan Nabi ternyata benar. Hingga akhir hayatnya kemudian, Abu Dzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat shaleh.

Abu Dzar terlahir dengan nama Jundab. Dulu, ia adalah seorang perampok yang mewarisi karir orang tuanya selaku pimpinan besar perampok kafilah yang melaui jalur itu. Teror di wilayah sekitar jalur perdagangan itu selalu dilakukannya untuk mendapatkan harta dengan cara mudah. Hidupnya penuh dengan kejahatan dan kekerasan. Siapa pun di tanah Arab masa itu tahu, jalur perdagangan Mekkah-Syiria dikuasai perampok suku Ghiffar, sukunya.

Namun begitu, hati kecil Abu Dzar sesungguhnya tak menerimanya. Pergolakan batin membuatnya sangat menyesali perbuatan buruk tersebut. Akhirnya ia melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang dimilikinya. Kaumnya pun diserunya untuk berhenti merampok. Tindakannya itu menimbulkan amarah sukunya. Abu Dzar akhirnya hijrah ke Nejed bersama ibu dan saudara laki-lakinya, Anis, dan menetap di kediaman pamannya.

Di tempat ini pun ia tidak lama. Ide-idenya yang revolusioner berkait dengan sikap hidup tak mengabaikan sesama dan mendistribusikan sebagian harta yang dimiliki, menimbulkan kebencian orang-orang sesuku. Ia pun diadukan kepada pamannya. Kembali Abu Dzar hijrah ke kampung dekat Mekkah. Di tempat inilah ia mendapat kabar dari Anis, tentang kehadiran Rasulullah SAW dengan ajaran Islam.

Abu Dzar segera menemui Rasulullah SAW. Melihat ajarannya yang sejalan dengan sikap hidupnya selama ini, akhirnya ia pun masuk Islam. Tanpa ragu-ragu, ia memproklamirkan keislamannya di depan Ka’bah, saat semua orang masih merahasiakan karena khawatir akan akibatnya. Tentu saja pernyataan ini menimbulkan amarah warga Mekkah. Ia pun dipukuli dan hampir saja terbunuh bila Abbas, paman Rasulullah SAW, tidak melerai dan mengingatkan warga Mekkah bahwa Abu Dzar adalah warga Ghiffar yang akan menuntut balas jika mereka membunuhnya.

Sejak itu, Abu Dzar menghabiskan hari-harinya untuk mencapai kejayaan Islam. Tugas pertama yang diembankan Rasul di pundaknya adalah mengajarkan Islam di kalangan sukunya. Ternyata, bukan hanya ibu dan saudaranya, namun hampir seluruh kaumnya yang suka merampok pun akhirnya masuk Islam. Sikap hidupnya yang menentang keras segala bentuk penumpukkan harta, ia sampaikan juga kepada mereka. Namun, tak semua menyukai tindakannya itu. Di masa Khalifah Utsman, ia mendapat kecaman dari kaum Quraisy, termasuk salah satu tokohnya, Muawiyah bin Abu sufyan.

Suatu kali pernah Muawiyah yang kala itu menjadi Gubernur Syiria, mengatur perdebatan antara Abu Dzar dengan para ahli tentang sikap hidupnya. Tujuannya agar Abu Dzar membolehkan umat menumpuk kekayaannya. Namun, usaha itu tak menggoyahkan keteguhan pandangannya. Karena jengkel, Muawiyah melaporkan kepada Khalifah Utsman ihwal Abu Dzar. Khalifah segera memanggil Abu Dzar. Memenuhi panggilan Khalifah, Abu Dzar mendapat sambutan hangat di Madinah. Namun, ia pun tak kerasan tinggal di kota Nabi tersebut karena orang-orang kaya di kota itu pun tak menyukai seruannya utnuk pemerataan kekayaan. Akhirnya Utsman meminta Abu Dzar meninggalkan Madinah dan tinggal di Rabza, sebuah kampung kecil di jalur jalan kafilah Irak Madinah.

Di kampung inilah Abu Dzar wafat karena usia lanjut pada 8 Dzulhijjah 32 Hijriyah. Jasadnya terbaring di jalur kafilah itu hanya ditunggui jandanya. Hampir saja tak ada yang menguburkan sahabat Rasulullah SAW ini bila tak ada kafilah haji yang menuju Mekkah. Kafilah haji itu segera berhenti dan menshalati jenazah dengan imam Abdullah ibn Masud, seorang sarjana Islam terkemuka masa itu.

Sifat Kaum Sufi dan Siapa Mereka?


Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – berkata: Adapun sifat sifat kaum Sufi dan siapa sebenarnya mereka, adalah sebagaimana yang pernah dijawab oleh Abdul Wahid bin Zaid – sebagaimana yang pernah saya terima – dimana ia adalah salah seorang yang sangat dekat dengan Hasan al-Bashri – rahimahullah – ketika ditanya, “Siapakah kaum Sufi itu menurut Anda?” Ia menjawab, “Adalah mereka yang menggunakan akalnya tatkala ditimpa kesedihan dan selalu menetapinya dengan hati nurani, selalu berpegang teguh pada Tuannya (Allah) dari kejelekan nafsunya. Maka merekalah kaum Sufi.”
Dzun Nun al-Mishri – rahimahullah – ditanya tentang Sufi, kemudian ia menjawab, “Seorang Sufi ialah orang yang tidak dibikin lelah oleh tuntutan, dan tidak dibuat gelisah oleh sesuatu yang hilang darinya.” DzunNun juga pernah mengemukakan, “Orang-orang Sufi adalah kaum yang lebih mengedepankan Allah daripada segala sesuatu. Maka dengan demikian Allah akan mengutamakan mereka di atas segala-galanya.”

Pernah ditanyakan pada sebagian orang Sufi, “Siapa yang pantas menjadi sahabatku?” Maka ia menjawab, “Bertemanlah dengan kaum Sufi, karena di mata mereka kejelekan yang ada pasti memiliki berbagai alasan untuk dimaafkan. Sedangkan sesuatu yang banyak dalam pandangan mereka tak ada artinya, sehingga tak membuat Anda merasa bangga (ujub).”
Al-Junaid bin Muhammad – rahimahullah – ditanya tentang kaum Sufi, “Siapa mereka?” Ia menjawab, “Mereka adalah kaum pilihan Allah dari makhluk-Nya yang Dia sembunyikan tatkala Dia menyukai dan Dia tampakkan tatkala Dia menyukai pula.”

Abu al-Husain Ahmad bin Muhammad an-Nuri – rahimahullah – ditanya tentang kaum Sufi, maka ia menjawab, “Kaum Sufi ialah orang yang mendengar sama’ (ekstase ketika dzikir) dan lebih memilih menggunakan sarana (sebab).”
Orang-orang Syam menyebut kaum Sufi dengan sebutan fuqara’ (orang orang fakir kepada Allah). Dimana mereka memberikan alasan, bahwa Allah swt. telah menyebut mereka dengan fuqara’ dalam firman Nya:
“(Juga) bagi orang-orang fakir yang berhijrah, dimana mereka diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang jujur (benar).” (Q.s. al Hasyr:8).

Dan firman Nya pula:
“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) dijalan Allah.” (Q.s. al Baqarah: 273).

Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Nahya al-Jalla’ – rahimahullah – ditanya tentang seorang Sufi. Maka ia menjawab, “Kami tidak tahu akan adanya persyaratan ilmu, akan tetapi kami hanya tahu, bahwa ia adalah seorang fakir yang bersih dari berbagai sarana (sebab). Ia selalu bersama Allah Azza wajalla dengan tanpa batas tempat. Sementara itu al-Haq, Allah tidak menghalanginya untuk mengetahui segala tempat. Itulah yang disebut seorang Sufi.”

Ada pendapat yang menyatakan, bahwa kata Sufi awalnya berasal dari kata Shafawi (orang yang bersih), namun karena dianggap berat dalam mengucapkan, maka diganti menjadi Shufi.
Abu Hasan al Qannad rahimahullah ditanya tentang makna Sufi, maka ia menjawab, “Kata itu berasal dari kata Shafa’, yang artinya adalah selalu berbuat hanya untuk Allah Azza wa jalla dalam setiap, waktu dengan penuh setia.”

Sebagian yang lain berkata, “Sufi adalah seseorang apabila dihadapkan pada dua pilihan kondisi spiritual atau dua akhlak yang mulia, maka ia selalu memilih yang paling baik dan paling utama.” Ada pula yang lain ditanya tentang makna Sufi, maka ia menjawab, “Makna Sufi adalah apabila seorang hamba telah mampu merealisasikan penghambaan (ubudiyyah), dijernihkan oleh al-Haq sehingga bersih dari kotoran manusiawi, menempati kedudukan hakikat dan membandingkan hukum-hukum syariat. Jika ia bisa melakukan hal itu, maka dialah seorang Sufi. Karena ia telah dibersihkan.”
Syekh Abu Nashr – rahimahullah – berkata: jika Anda ditanya, “Siapa pada hakikatnya kaum Sufi itu?” Coba terangkan pada kami! Maka Syekh Abu Nashr as-Sarraj memberi jawaban, “Mereka adalah ulama yang tahu Allah dan hukum-hukum Nya, mengamalkan apa yang Allah ajarkan pada mereka, merealisasikan apa yang diperintah untuk mengamalkannya, menghayati apa yang telah mereka realisasikan dan hanyut (sirna) dengan apa yang mereka hayati. Sebab setiap, orang yang sanggup menghayati sesuatu ia akan hanyut (sirna) dengan apa yang ia hayati.”

Abu Hasan al Qannad – rahimahullah – berkata, “Tasawuf adalah nama yang diberikan pada lahiriah pakaian. Sedangkan mereka berbeda beda dalam berbagai makna dan kondisi spiritual.”
Abu Bakar Dulaf bin Jahdar asy-Syibli – rahimahullah – ditanya tentang mengapa para kaum Sufi disebut dengan nama demikian. Ia menjawab, “Karena masih ada bekas yang mengesan di jiwa mereka. Andaikan tidak ada bekas tersebut, tentu berbagai nama tidak akan bisa melekat dan bergantung pada mereka.”

Disebutkan juga bahwa kaum Sufi adalah sisa-sisa orang-orang terbaik Ahlush-Shuffah (para penghuni masjid yang hidup pada zaman Nabi saw., pent.).
Adapun orang yang mengatakan bahwa nama tersebut merupakan simbol lahiriah pakaian mereka. Hal ini telah disebutkan dalam riwayat tentang orang orang yang mengenakan pakaian shuf (wool), dimana para Nabi dan orang orang saleh memilih pakaian jenis ini. Sementara untuk membicarakan masalah ini akan cukup panjang. Banyak jawaban tentang tasawuf, dimana sekelompok orang telah memberikan jawaban yang berbeda beda. Di antaranya adalah Ibrahim bin al-Muwallad ar-Raqqi rahimahullah yang memberikan jawaban lebih dari seratus jawaban. Sedangkan yang kami sebutkan, kami rasa sudah cukup memadai.

Ali bin Abdurrahim al-Qannad – rahimahullah – memberi jawaban tentang tasawuf dan lenyapnya orang-orang Sufi dalam untaian syairnya:
Ketika Ahli Tasawuf telah berlalu, tasawuf menjadi keterasingan, jadi teriakan, ekstase dan riwayat.
Ketika berbagai ilmu telah berlalu, maka tak ada lagi ilmu dan hati yang bersinar,Nafsumu telah mendustaimu, tak ada pijakan jalan nan indah
Hingga kau tampak pada manusia dengan ketajaman mata, mengalir rahasia yang ada di dalam dirimu terbuka Tampaklah aktivitas dan rahasia bergururan.

Di kalangan para guru (syekh) Sufi ada tiga jawaban tentang tasawuf.
Pertama, jawaban dengan syarat ilmu, yaitu membersihkan hati dari kotoran kotoran, berakhlak mulia dengan makhluk Allah dan mengikuti Rasulullah saw. dalam syariat.
Kedua, jawaban dengan lisanul-haqiqah (bahasa hakikat), yaitu tidak merasa memiliki (pamrih), keluar dari perbudakan sifat dan semata mencukupkan diri dengan Sang Pencipta langit.
Ketiga, jawaban dengan lisanul-Haq (bahasa al-Haq), yakni mereka yang Allah bersihkan dengan pembersihan sifat-sifatnya, dan Dia jernihkan dari sifat mereka. Merekalah yang pantas disebut kaum Sufi.

Saya pernah bertanya pada al-Hushri, “Siapakah sebenarnya seorang Sufi menurut pandangan Anda.” Ia menjawab, “Ia adalah seorang manusia yang tidak bertempat di atas bumi dan tidak dinaungi langit. Artinya, sekalipun mereka berada di atas bumi dan di bawah langit, akan tetapi Allah-lah yang menempatkannya di atas bumi dan Dia pulaYang menaunginya dengan langit. Bukan bumi atau langit itu sendiri.”

Dari Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. diriwayatkan bahwa ia pernah berkata, “Bumi mana yang akan sanggup memberi tempat pada saya dan langit mana yang sanggup menaungiku, jika saya mengatakan tentang apa yang ada dalam Kitab Allah menurut pendapatku semata.”

CINTA KETUHANAN


Ahli Makrifat itu tidak mempunyai makrifat jika ia tidak mengenal Allah dari segala
sudut dan dari segala arah mana saja ia menghadap. Ahli Hakikat hanya ada satu arah iaitu ke arah Yang Hakiki itu sendiri. ”Ke mana saja kamu memandang, di situ ada Wajah Allah” (Al-Qur-an)

“Ke mana saja kamu memandang”, sama ada dengan deria atau akal atau khayalan, maka di situ ada Wajah Allah”.

Persoalan kita kenal dan tahu berkenaan ahli makrifat dan apakah makrifat itu tidak timbul di sini. Petah berkata-kata dan cekap dalam berhujah berkenaan dengan apa yang berkaitan dengan mereka tidak diperlukan di sini.

Apa yang perlu di sini adalah kesedaran diri kita berkenaan pekerjaan dan keadaan mereka. Mereka cuma ada satu pandangan sahaja yakni “Ke mana saja kamu memandang, di situ ada Wajah Allah”

Tahu dan boleh tidak sama dengan “yang sedar diri”. Yang sedar kepada pekerjaan diri mereka dan yang sedar dengan keadaan diri mereka.

Apabila diminta mereka berkata, maka mereka akan bertutur mengikut pekerjaan diri mereka dan mengikut keadaan diri mereka. Bukan dengan sangka-sangkaan ilmunya, bukan dengan cerita itu dan cerita ini, tetapi disampaikan mengikut kesedaran berkenaan pekerjaan dirinya dan keadaan dirinya.

Mereka berkata dalam keadaan sedar diri dan bertutur dengan bahasa pekerjaan dan keadaan dirinya.

Ini bukanlah soal Mengenal Allah apabila hijab itu tersingkap, tetapi adalah soal MengenalNya dalam hijab itu sendiri……….Kesempurnaan adab itu ialah memerlukan hijab itu dipelihara………

Berhadapan dengan yang buta tidaklah perlu kebenaran itu dipertahankan. Tidak usah berhujah, jauh sekali daripada berjidal kerana itu adalah hal-ahwal mereka yang buta. Biarkan si buta melalak-lalak mempertikaikan barang yang kita miliki. Walau bagaimana kita susun aturkan perihal barang milik kita dengan kata-kata yang benar, si buta akan tetap tidak akan dapat nampak “barang pesaka’ yang kita simpan. Kefahaman mereka berkenaan barang pesaka ini tidak sama dengan mata yang melihat dan menyaksikan keujudannya. Bersabarlah dengan lidah yang kelu tanpa bahasa.

Jika pemberian yang sedikit itu sudah kita hilang kesabaran diri, bagaimana mungkin untuk menanggung sesuatu yang lebih besar.

Yakinilah wahai saudara-saudaraku. Semoga Allah memberikan PetunjukNya kepada anda bahawa…….

Hanya Cinta kepada Allah yang boleh menamatkan perbalahan ini. Hanya Cinta yang boleh menolong apabila anda meraung meminta tolong dari cengkaman mereka. Mulut bisu dalam Cinta; perbalahan tidak ada. Si ‘asyik kuatir untuk menjawab balik perbalahan itu, kerana takutkan mutiara keruhanian(mistik) itu keluar dari mulutnya.

Umpama burung hinggap di atas kepala anda dan anda kuatir ia terbang lari. Anda tidak bergerak atau menghembuskan nafas yang kuat. Anda tahankan diri anda supaya tidak terbatuk. Semua itu takutkan burung itu terbang. Kalau ada orang bertanya, anda letakkan jari di mulut yang bertutup memberi isyarat “diam”.

Cinta Ketuhanan ibarat burung itu. Ia membuatkan anda tidak mahu membuka mulut. Ibarat cerek yang panas dan menggelegak airnya. Tudung cerek itu anda tutupkan supaya airnya tidak keluar.

Fudhoil bin Iyadh seorang wali Allah berkata kepada seorang lelaki;

“Jika sesiapa bertanya kepada mu samada kamu cinta kepada Allah, hendaklah kamu diam kerana jika kamu kata: ”Saya tidak cinta kepadaNya”, maka kamu kafir dan jika kamu berkata, ”Saya cinta”, maka perbuatan kamu berlawanan dengan katamu.”