Bismillah
“Allah Ta’ala menampakkan pada segalanya, karena Dia adalah Maha Batin.
Dan Dia meliputi segalanya, karena Dia adalah Maha Dzohir (Maha Nyata
Jelas).”
Tidak bisa wushul (sampai) mengenalNya kecuali melalui
yang tampak dariNya, karena yang tampak itu menunjukkan atas DiriNya.
Namun segala sesuatu menjadi sirna jika Dia Tampak, karena WujudNya
mengapus segalanya dan ketidak bebasan atas AdaNya.
Maka, hikmah dibalik tampaknya sang makhluk, adalah wujud pengenalan
ma’rifat padaNya, selain meraih kema’rifatan karena sirnanya sang
makhluk. Maka Maha Sucilah Yang Maha Tampak dan Maha Batin nan Maha
Mengetahui.
Karena itu beliau melanjutkan:
“Allah
memperkenankan dirimu untuk memandang segala yang tersembunyi dibalik
semesta makhluk. Dan Allah swt tidak mengizinkan anda untuk memandang
atau berhenti pada wujud dzatnya makhluk. Dalam Al-Qur’an dikatakan,
“Katakan, Lihatlah apa yang tersembunyi dibalik langit….,(Yunus 101) “
dan Allah swt tidak berfirman, “Lihatlah langit…!”. Maka Allah swt,
akan membuka pintu kefahaman padamu. Allah tidak berfirman, “Lihatlah
langit!” agar anda tidak terjebak pada wujud benda-benda.”
Ibnu Athaillah menggunakan kata “memperkenankan”, untuk menunjukkan
bahwa memandang dan mencari bukti petunjuk dibalik langit itu tidak
wajib hukumnya.
Karena itu ada seorang Syeikh diberi
informasi oleh muridnya, bahwa “Ada orang yang mendapatkan bukti akan
Ke-esaan Allah swt dengan seribu dalil.” Maka Syeikh itu menjawab, “Hai
anakku, jika ia mengenal Allah swt, sama sekali ia tidak akan mencari
bukti.”
Kata-kata syeikh itu akhirnya sampai pada
sang cendekiawan yang punya seribu dalil, lalu berkata, “Benar gurumu!
Karena mereka menyaksikan dengan nyata, sedangkan kami menyaksikan
dibalik tirai.”
Ada seorang murid bertanya kepada gurunya, “Hai Ustadz, dimanakah Allah?”
Sang guru menjawab, “Hai! Kamu bisa dihanguskan Allah! Apakah kamu ini mencariNya dengan mata-kepala atas “dimana”?”
Orang yang menikmati keindahan semesta, menurut para sufi dilarang.
Yang diperkenankan adalah memandang yang tersembunyi dibalik semesta
langit dan bumi. Karena jika memandang isi langit dan bumi, seseorang
bisa terjebak pada wujud bendanya, bukan yang ada dibalik benda.
Lalu apa yang ada dibalik benda-benda semesta ini? Yang ada hanyalah
Asma’, Af’al dan SifatNya. Sehingga seseorang akan terus menerus
musyahadah dan mengingatNya (berdzikir).
(Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary)
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Kamis, 06 Maret 2014
Adab Orang Alim.
Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali mengatakan di dalam kitab Bidayatul Hidayah ada tujuh belas perkara adab orang alim, yaitu :
1. Orang alim itu hendaklah bersifat sabar.
2. Lazumul Halim, yakni bersifat halim, tidak cepat marah.
3. Duduk dengan wibawa dengan kepala menunduk.
4. Tidak takabbur dan sombong kepada seluruh hamba Allah kecuali kepada orang zalim untuk mencegah kezalimannya.
5. Tawadhu', merendah diri dalam majelis orang banyak.
6. Tidak bergurau.
7. Kasih sayang kepada pelajar dan lemah lembut baik perbuatan dan ucapan.
8. Menanti dan mengoreksi dengan sabar atas pertanyaan orang dungu atau bebal.
9. Memperbaiki dan membetulkan orang bebal atau bodoh dengan menunjukkan jalan kebajikan serta jalan yang benar, tidak marah atau menggertak orang yang baru belajar.
10. Jangan malu untuk berkata tidak tahu atau mengucap wallahu a'lam bila masih ragu atas jawaban suatu masalah yang beltm jelas persoalannya.
11. Serius dalam menanggapi pertanyaan tentang permasalahan yang menuntut jawaban agar ia menjadi faham.
12. Menerima dalil yang membenarkan perkataan orang atau murid, dan jangan sampai menolaknya karena malu kepada orang banyak, sebab mengikuti kebenaran adalah wajib, sekalipun kebenaran itu dari orang di bawah kita.
13. Mengikuti kebenaran dan kembali kepadanya jika suatu saat mengalami kesalahan.
14. Mencegah orang yang akan mempelajari ilmu yang memberi mudharat.
15. Mencegah orang yang belajar ilmu bukan untuk mencari keridhoan Allah.
16. Mencegah orang yang ingin belajar ilmu fardhu kifayah, akan tetapi mengajari ilmu yang fardhu ain terlebih dahulu, karena ilmu yang fardhu ain itu dapat memberbaiki lahiriah dan batiniyah dengan ketakwaan.
17. Mengamalkan ilmunya agar diikuti oleh murid baik perbuatan atau perkataan.
Adab Orang Yang Belajar Kepada Gurunya.
Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali di dalam kitab Bidayatul Hidayah mengatakan ada sebelas perkara adab murid terhadap guru, yaitu :
1. Bila bertemu guru, hendaklah mendahulukan memberi salam dan minta izin masuk.
2. Jangan banyak bicara di depan guru.
3. Jangan berkata sesuatu yang tidak ditanya oleh guru.
4. Jangan bertanya kepada guru melainkan minta izin terlebih dahulu.
5. Jangan menyangkal perkataan guru dengan mengatakan si fulan berbeda dengan perkataanmu.
6. Tidak menyanggah pendapat guru bila berbeda denganmu, sehingga menjatuhkan martabatnya dan mengurangi barokah.
7. Jangan berbisik dengan orang dimuka guru.
8. Jangan menoleh ke kanan dan ke kiri di muka guru, tetapi duduk sambil menundukkan pandangannya dengan tenang dan sopan seakan-akan ia di dalam shalat.
9. Jangan memperbanyak pertanyaan kepada guru saat ia lelah atau susah.
10. Apabila guru berdiri, maka murid pun berdiri untuk menghormatinya. Tidak bertanya di jalan, tetapi tunggulah sampai ia tiba di rumahnya atau tempat duduknya.
11. Jangan berburuk sangka kepada guru bila melihat perbuatanya berlainan dengan i'tikadnya, atau berlainan dengan perbuatanmu, karena guru lebih mengetahui rahasia-rahasianya seperti hikayat nabi Musa dan nabi Khidir (Balya' Ibnu Mulkan). Dimana Khidir merusak sampan yang dinaiki, membetulkan rumah orang lain tanpa meminta imbalan, membunuh anak kecil yang kenyataanya menyalahi syariat. Oleh sebab itu, nabi Musa ingkar kepadanya, namun hakekatnya tidak menyalahi aspek batin dan syariat, dan akhirnya nabi Musa juga membenarkan nabi Khidir.
محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس
Keajaiban Dalam Rahim Ibu
Ribuan sel ini melakukan bunuh diri massal. Mengapa sel-sel ini membunuh diri mereka sendiri?
Awalnya Hanya Bersel Satu Makhluk hidup bersel satu yang tak terhitung jumlahnya mendiami bumi kita. Semua makhluk bersel satu ini berkembang biak dengan membelah diri, dan membentuk salinan yang sama seperti diri mereka sendiri ketika pembelahan ini terjadi. Embrio yang berkembang dalam rahim ibu juga memulai hidupnya sebagai makhluk bersel satu, dan sel ini memperbanyak diri dengan cara membelah diri, dengan kata lain membuat salinan dirinya sendiri.
Dalam kondisi ini, tanpa adanya perencanaan khusus, sel-sel yang akan membentuk bayi yang belum lahir ini akan memiliki bentuk yang sama. Dan apabila ini terjadi, maka yang akhirnya muncul bukanlah wujud manusia, melainkan gumpalan daging tak berbentuk. Tapi ini tidaklah terjadi karena sel-sel tersebut membelah dan memperbanyak diri bukan tanpa pengawasan. Sel yang Sama Membentuk Organ yang Berbeda Sperma dan sel telur bertemu, dan kemudian bersatu membentuk sel tunggal yang disebut zigot. Satu sel tunggal ini merupakan cikal-bakal manusia.
Sel tunggal ini kemudian membelah dan memperbanyak diri. Beberapa minggu setelah penyatuan sperma dan telur ini, sel-sel yang terbentuk mulai tumbuh berbeda satu sama lain dengan mengikuti perintah rahasia yang diberikan kepada mereka. Sungguh sebuah keajaiban besar: sel-sel tanpa kecerdasan ini mulai membentuk organ dalam, rangka, dan otak. Sel-sel otak mulai terbentuk pada dua celah kecil di salah satu ujung embrio. Sel-sel otak akan berkembang biak dengan cepat di sini. Sebagai hasilnya, bayi akan memiliki sekitar sepuluh milyar sel otak. Ketika pembentukan sel-sel otak tengah berlangsung, seratus ribu sel baru ditambahkan pada kumpulan sel ini setiap menitnya.
Masing-masing sel baru yang terbentuk berperilaku seolah-olah tahu di mana ia harus menempatkan diri, dan dengan sel mana saja ia harus membuat sambungan. Setiap sel menemukan tempatnya masing-masing. Dari jumlah kemungkinan sambungan yang tak terbatas, ia mampu menyambungkan diri dengan sel yang tepat. Terdapat seratus trilyun sambungan dalam otak manusia. Agar sel-sel otak dapat membuat trilyunan sambungan ini dengan tepat, mereka harus menunjukkan kecerdasan yang jauh melebihi tingkat kecerdasan manusia.
Padahal sel tidak memiliki kecerdasan sama sekali. Bahkan tidak hanya sel otak, setiap sel yang membelah dan memperbanyak diri pada embrio pergi dari tempat pertama kali ia terbentuk, dan langsung menuju ke titik yang harus ia tempati. Setiap sel menemukan tempat yang telah ditetapkan untuknya, dan dengan sel manapun mereka harus membentuk sambungan, mereka akan mengerjakannya.
Lalu, siapakah yang menjadikan sel-sel yang tak memiliki akal pikiran tersebut mengikuti rencana cerdas ini? Profesor Cevat Babuna, mantan dekan Fakultas Kedokteran, Ginekologi dan Kebidanan, Universitas Istanbul, Turki, berkomentar: Bagaimana semua sel yang sama persis ini bergerak menuju tempat yang sama sekali berbeda, seolah-olah mereka secara mendadak menerima perintah dari suatu tempat, dan berusaha agar benar-benar terbentuk organ-organ yang sungguh berbeda?
Hal ini jelas menunjukkan bahwa sel yang identik ini, yang tidak mengetahui apa yang akan mereka kerjakan, yang memiliki genetika dan DNA yang sama, tiba-tiba menerima perintah dari suatu tempat, sebagian dari mereka membentuk otak, sebagian membentuk hati, dan sebagian yang lain membentuk organ yang lain lagi.
Proses pembentukan dalam rahim ibu berlangsung terus tanpa henti. Sejumlah sel yang mengalami perubahan, tiba-tiba saja mulai mengembang dan mengkerut. Setelah itu, ratusan ribu sel ini berdatangan dan kemudian saling bergabung membentuk jantung. Organ ini akan terus-menerus berdenyut seumur hidup. Hal yang serupa terjadi pada pembentukan pembuluh darah. Sel-sel pembuluh darah bergabung satu sama lain dan membentuk sambungan di antara mereka. Bagaimana sel-sel ini mengetahui bahwa mereka harus membentuk pembuluh darah, dan bagaimana mereka melakukannya? Ini adalah satu di antara beragam pertanyaan yang belum terpecahkan oleh ilmu pengetahuan. Sel-sel pembuluh ini akhirnya berhasil membuat sistem tabung yang sempurna, tanpa retakan atau lubang padanya. Permukaan bagian dalam pembuluh darah ini mulus bagaikan dibuat oleh tangan yang ahli.
Sistem pembuluh darah yang sempurna tersebut akan mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh bayi. Jaringan pembuluh darah memiliki panjang lebih dari empat puluh ribu kilometer. Ini hampir menyamai panjang keliling bumi. Perkembangan dalam perut ibu berlangsung tanpa henti. Pada minggu kelima tangan dan kaki embrio mulai terlihat. Benjolan ini sebentar lagi akan menjadi lengan. Beberapa sel kemudian mulai membentuk tangan. Tetapi sebentar lagi, sebagian dari sel-sel pembentuk tangan embrio tersebut akan melakukan sesuatu yang mengejutkan.
Ribuan sel ini melakukan bunuh diri massal.
Mengapa sel-sel ini membunuh diri mereka sendiri?
Kematian ini memiliki tujuan yang amat penting.
Bangkai-bangkai sel yang mati di sepanjang garis tertentu ini diperlukan untuk pembentukan jari-jemari tangan.
Sel-sel lain memakan sel-sel mati tersebut, akibatnya celah-celah kosong terbentuk di daerah ini. Celah-celah kosong tersebut adalah celah di antara jari-jari kita.
Akan tetapi, mengapa ribuan sel mengorbankan dirinya seperti ini? Bagaimana dapat terjadi, sebuah sel membunuh dirinya sendiri agar bayi dapat memiliki jari-jari pada saatnya nanti? Bagaimana sel tersebut tahu bahwa kematiannya adalah untuk tujuan tertentu? Semua ini sekali lagi menunjukkan bahwa semua sel penyusun manusia ini diberi petunjuk oleh Allah. Pada tahap ini, sejumlah sel mulai membentuk kaki. Sel-sel tersebut tidak mengetahui bahwa embrio akan harus berjalan di dunia luar. Tapi mereka tetap saja membuat kaki dan telapaknya untuk embrio. Ketika embrio berumur empat minggu, dua lubang terbentuk pada bagian wajahnya, masing-masing terletak pada tiap sisi kepala embrio.
Mata akan terbentuk di kedua lubang ini pada minggu keenam. Sel-sel tersebut bekerja dalam sebuah perencanaan yang sulit dipercaya selama beberapa bulan, dan satu demi satu membentuk bagian-bagian berbeda yang menyusun mata. Sebagian sel membentuk kornea, sebagian pupil, dan sebagian yang lain membentuk lensa. Masing-masing sel berhenti ketika mencapai batas akhir dari daerah yang harus dibentuknya. Pada akhirnya, mata, yang mengandung empat puluh komponen yang berbeda, terbentuk dengan sempurna tanpa cacat. Dengan cara demikian, mata yang diakui sebagai kamera paling sempurna di dunia, muncul menjadi ada dari sebuah ketiadaan di dalam perut ibu. Perlu dipahami bahwa manusia yang bakal lahir ini akan membuka matanya ke dunia yang berwarna-warni, dan mata yang sesuai untuk tugas ini telah dibuat. Suara di dunia luar yang akan didengar oleh bayi yang belum lahir juga telah diperhitungkan dalam pembentukan seorang manusia dalam rahim.
Telinga yang akan mendengarkan segala suara tersebut juga dibentuk dalam perut ibu. Sel-sel tersebut membentuk alat penerima suara terbaik di dunia. Semua uraian ini mengingatkan kita bahwa penglihatan dan pendengaran adalah nikmat besar yang Allah berikan kepada kita. Allah menerangkan hal ini dalam Alquran sebagaimana berikut:
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur". (QS. An-Nahl, 16:78)
Penciptaan Kedua Berbagai peristiwa yang telah dikisahkan dalam tulisan ini dialami oleh semua orang di dunia. Setiap manusia dipancarkan ke rahim sebagai sebuah sel sperma yang kemudian bersatu dengan sel telur, dan kemudian memulai kehidupan sebagai sel tunggal. Semua ini terjadi karena adanya kondisi yang secara khusus diciptakan di tempat tersebut.
Bahkan sebelum manusia mulai mengetahui keberadaan dirinya sendiri, Allah telah memberi bentuk pada tubuh mereka, dan menciptakan manusia normal dari sebuah sel tunggal. Adalah kewajiban bagi setiap orang di dunia untuk merenungkan kenyataan ini. Dan kewajiban Anda adalah untuk memikirkan bagaimana anda lahir ke dunia ini, dan kemudian bersyukur kepada Allah. Jangan lupa bahwa Tuhan kita, yang telah menciptakan tubuh kita sekali, akan mencipta kita lagi setelah kematian kita, dan akan mempertanyakan segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Hal ini amatlah mudah bagi-Nya. Mereka yang melupakan penciptaan diri mereka sendiri dan mengingkari kehidupan akhirat, benar-benar telah tertipu. Allah berfirman tentang orang-orang ini dalam Alquran:
"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata. Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?"
Katakanlah: Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pada kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." (QS. Yaasiin, 36:77-79)
Rahasia Sholat Pernah Diungkap Rosulullah SAW
Rahasia Sholat Pernah Diungkap Rosulullah SAW
Para
pembesar Yahudi melakukan pertemuan. Dalam pertemuan yang juga dihadiri
kalangan pendeta Yahudi, mereka membahas langkah baru guna menghadapi
ajaran Rasulullah Saw. Mereka ingin mempertanyakan kebenaran agama Islam
dan menghalangi cahaya dahsyat yang memancar dari agama ilahi tersebut.
Pertemuan pun digelar dan dihadiri ulama Yahudi yang paling alim saat itu. Berbagai usulan pun disampaikan dalam pertemuan tersebut. Usulan terbaik dalam pertemuan itu adalah menguji Rasulullah Saw di depan umum melalui berbagai pertanyaan pelik. Dengan cara itu, mereka berupaya menjatuhkan sosok Rasulullah Saw di depan umum.
Berdasarkan usulan tersebut, sekelompok ulama Yahudi pergi ke masjid dan mohon kepada Rasulullah Saw supaya menjawab pertanyaan-pertanyaannya di depan umum. Mendengar permohonan mereka, Rasulullah Saw menyambutnya dengan baik. Rasulullah pun menjawab satu persatu pertanyaan yang dilontarkan ulama Yahudi. Mereka pun terperangah mendengar jawaban Rasulullah Saw.
Seorang pembesar Yahudi berpikir akan mengalahkan Rasulullah Saw dengan pernyataan terakhir. Ia bertanya, "Mengapa Allah Swt mewajibkan shalat lima waktu dalam sehari semalam? Mengapa tidak kurang dan tidak lebih dari jumlah tersebut?
Rasulullah Saw dengan wajah sucinya yang menampakkan kerinduan kepada Allah Swt, menjawab, "Saat waktu Dzuhur tiba, segala sesuatu berada di bawah singgasana (Arsy) Allah Swt, yang semuanya bertasbih memuji Allah Swt. Untuk itu, Allah Swt mewajibkan shalat Dzuhur kepadaku dan ummatku, khusus waktu itu." Beliau bersabda, "Dirikanlah shalat dari tergelincirnya matahari hingga menjelang gelap malam."
Adapun shalat Ashar bertepatan dengan waktu saat Nabi Adam as memakan buah yang dilarang oleh Allah Swt. Akibat perbuatan itu, Nabi Adam as dikeluarkan dari surga. Untuk itu, Allah Swt mewajibkan shalat Ashar kepada keturunan Adam as dan ummatku. Sholat ini adalah shalat yang paling dicintai di sisi Allah Swt.
Mengenai shalat Maghrib, Rasulullah Saw bersabda, Allah Swt menerima taubat Nabi Adam setelah bertahun-tahun, dan memerintahkannya untuk mengerjakan shalat tiga rakaat. Allah Swt mewajibkan shalat Maghrib kepada ummatku, karena saat itulah doa-doa hamba-Nya akan dikabulkan. Allah Swt dalam surat Ar Ruum ayat 17 berfirman, "Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh."
Setelah itu, Rasulullah berbicara mengenai shalat Isya dan bersabda, di alam kubur dan hari kiamat diliputi kegelapan yang menakutkan yang hanya dapat diterangi dengan cahaya shalat Isya. Alllah Swt berfirman, tidak ada langkah untuk mengerjakan sholat Isya melainkan Allah Swt menjauhkan tubuh orang yang melakukan sholat tersebut dari api neraka."
Adapun mengenai shalat Shubuh, para penyembah matahari melakukan ritual yang diyakini sebagai ibadah, saat matahari terbit. Untuk itu, Allah Swt memerintahkan mukminin beribadah mengerjakan sholat Shubuh sebelum orang-orang kafir bersujud menyembah matahari.
Penjelasan tersebut merupakan bagian dari rahasia shalat lima waktu yang disampaikan Rasulullah Saw di depan pembesar Yahudi. Mendengar penjelasan Rasulullah Saw, para pembesar Yahudi terkesima dan bungkam seribu bahasa. Para pembesar dan ulama Yahudi saat itu tidak mempunyai alasan lain untuk mengingkari ajaran ilahi yang diemban oleh Rasulullah Saw. Orang-orang Yahudi pun segera meninggalkan masjid, tempat mereka menguji Rasulullah Saw.
Sumber: Situslaka
Pertemuan pun digelar dan dihadiri ulama Yahudi yang paling alim saat itu. Berbagai usulan pun disampaikan dalam pertemuan tersebut. Usulan terbaik dalam pertemuan itu adalah menguji Rasulullah Saw di depan umum melalui berbagai pertanyaan pelik. Dengan cara itu, mereka berupaya menjatuhkan sosok Rasulullah Saw di depan umum.
Berdasarkan usulan tersebut, sekelompok ulama Yahudi pergi ke masjid dan mohon kepada Rasulullah Saw supaya menjawab pertanyaan-pertanyaannya di depan umum. Mendengar permohonan mereka, Rasulullah Saw menyambutnya dengan baik. Rasulullah pun menjawab satu persatu pertanyaan yang dilontarkan ulama Yahudi. Mereka pun terperangah mendengar jawaban Rasulullah Saw.
Seorang pembesar Yahudi berpikir akan mengalahkan Rasulullah Saw dengan pernyataan terakhir. Ia bertanya, "Mengapa Allah Swt mewajibkan shalat lima waktu dalam sehari semalam? Mengapa tidak kurang dan tidak lebih dari jumlah tersebut?
Rasulullah Saw dengan wajah sucinya yang menampakkan kerinduan kepada Allah Swt, menjawab, "Saat waktu Dzuhur tiba, segala sesuatu berada di bawah singgasana (Arsy) Allah Swt, yang semuanya bertasbih memuji Allah Swt. Untuk itu, Allah Swt mewajibkan shalat Dzuhur kepadaku dan ummatku, khusus waktu itu." Beliau bersabda, "Dirikanlah shalat dari tergelincirnya matahari hingga menjelang gelap malam."
Adapun shalat Ashar bertepatan dengan waktu saat Nabi Adam as memakan buah yang dilarang oleh Allah Swt. Akibat perbuatan itu, Nabi Adam as dikeluarkan dari surga. Untuk itu, Allah Swt mewajibkan shalat Ashar kepada keturunan Adam as dan ummatku. Sholat ini adalah shalat yang paling dicintai di sisi Allah Swt.
Mengenai shalat Maghrib, Rasulullah Saw bersabda, Allah Swt menerima taubat Nabi Adam setelah bertahun-tahun, dan memerintahkannya untuk mengerjakan shalat tiga rakaat. Allah Swt mewajibkan shalat Maghrib kepada ummatku, karena saat itulah doa-doa hamba-Nya akan dikabulkan. Allah Swt dalam surat Ar Ruum ayat 17 berfirman, "Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh."
Setelah itu, Rasulullah berbicara mengenai shalat Isya dan bersabda, di alam kubur dan hari kiamat diliputi kegelapan yang menakutkan yang hanya dapat diterangi dengan cahaya shalat Isya. Alllah Swt berfirman, tidak ada langkah untuk mengerjakan sholat Isya melainkan Allah Swt menjauhkan tubuh orang yang melakukan sholat tersebut dari api neraka."
Adapun mengenai shalat Shubuh, para penyembah matahari melakukan ritual yang diyakini sebagai ibadah, saat matahari terbit. Untuk itu, Allah Swt memerintahkan mukminin beribadah mengerjakan sholat Shubuh sebelum orang-orang kafir bersujud menyembah matahari.
Penjelasan tersebut merupakan bagian dari rahasia shalat lima waktu yang disampaikan Rasulullah Saw di depan pembesar Yahudi. Mendengar penjelasan Rasulullah Saw, para pembesar Yahudi terkesima dan bungkam seribu bahasa. Para pembesar dan ulama Yahudi saat itu tidak mempunyai alasan lain untuk mengingkari ajaran ilahi yang diemban oleh Rasulullah Saw. Orang-orang Yahudi pun segera meninggalkan masjid, tempat mereka menguji Rasulullah Saw.
Sumber: Situslaka
WASILAH POKOK DALAM TAREKAT
Bila
di sebut Tariqat maka Mursyid adalah perkara yang amat mustahak.
Tariqat ialah perjalanan menuju Allah Ta'ala manakala mursyid lah yang
memimpinnya ke arah tujuannya itu. Kalau Tariqat di ibaratkan sebagai
sampan manakala Mursyid pula di ibaratkan sebagai nakhodanya yang
memimpin haluan sampan tersebut. Kedudukan Mursyid di dalam sesebuah
jemaah tariqat tidak keterlaluan katakan adalah ibarat nyawa bagi sebuah
jasad. Tidak hairanlah ada ahli sufi yang berpendapat :
"Rahsianya(intipati perjalanan tariqat) itu adalah pada masya'ih
bukannya pada zikir". Dan berkata Syeikh Tajaldin Naqsyabandi dan
perkataan ulama-ulama sufi yang lain juga ada menyatakan senada
dengannya iaitu : "Barang siapa tiada baginya syeikh(guru mursyid) maka
syaitanlah syeikhnya". Perkataan di atas merujuk kepada guru kerohanian
yakni yang menjalani jalan tariqat keruhanian.
Seseorang yang ingin bertariqat mungkin kurang di dedahkan atau tak tahu menahu kepentingan peranan salasilah. Sedangkan berguru tariqat yang tidak bersambung salasilahnya dengan ulama-ulama asalnya sehingga bersambung dengan Rasulullah s.a.w. hukumnya haram kerana terputus wasilah dalam menyampaikan matlamat.Sebab itu bukan mudah untuk kita berguru dengan seseorang kecuali telah di buktikan bahawa guru yang kita anggap sebagai guru itu memiliki sanad salasilah tariqat yang mutashil(bersambung) sehingga Rasulullah s.a.w. di samping kita melihat kepada faktor-faktor lain yang selari dengan adab syariat dan adab tariqat.
Apakah yang di maksudkan dengan salasilah tariqat dan mengapa salasilah tariqat itu penting ?
Seseorang yang di anggap mursyid ialah seseorang yang telah berguru sebelumnya dengan gurunya terdahulu dan sehinggalah bersusun sampailah kepada tabi'in kepada sahabat dan akhirnya bertemu kepada Rasulullah s.a.w. dan mestilah di dokumenkan dalam bentuk bertulis dan di sahkan oleh gurunya yang terdahulu dengan ‘memberi izin' bagi menjalankan atau menyebarkan tariqat tersebut serta mahsyur sanadnya mengikut adab tariqat.
Salsilah ini penting kerana beberapa sebab iaitu :
i. bagi menentukan seseorang murid menerima keberkatan (kesan ruhaniah) atau limpahan ruhani yang bersambung dengan syeikhnya itu terus bersambung sehinggalah persambungannya itu benar-benar dari puncanya yang sebenar dan teratasnya iaitu Rasulullah s.a.w. Sekiranya salasilahnya terputus atau tiada memiliki sanad salasilah yang sah maka bagaimana seseorang itu dapat menerima limpahan keberkatan imdad bir ruhaniah dari segala masya'ih yang terdahulu sehingga Rasulullah s.a.w yang dengannya menyampaikan kita kepada jazbah fillah(tarikan kepada Allah iaini zuk fana'fillah dan baqo'billah).
ii. Bagi yang terputus wasilah ruhaniahnya maka terputuslah apa yang di panggil rabithah mursyid(pertalian mursyid).Jika tiada baginya rabithah mursyid maka tiada terpelihara perjalanannya itu daripada tercedera terhadap gangguan musuh-musuh batin seperti iblis, syaitan jin dan segala perkara yang membahayakan perjalanan ruhaninya khususnya dalam meniti perjalanan di alam malakut.Sebab itu kita dengar bahaya-bahaya penipuan di alam ruhani yang sering kita dengar seperti membesarkan diri mengakui diri sudah capai ke martabat wali,martabat sultanul auliya, sudah dapat tahap yang tinggi dan suka menggelar diri , taa'sub , sudah pandai menilik dan di katanya sudah dapat kasyaf , pandai mengubat kerana sudah disangkanya dapat maunah dan akhirnya melalutlah kepada gila dan sebagainya. Sedangkan rukun bagi seseorang mursyid atau khalifah itu ialah sangat merendahkan diri (tawadhu') bagaimana pula dia nak mengaku dirinya lebih atau macam-macam lagi.Satu perkara lagi sifat orang yang terputus sanadnya iaitu suka kondem orang lain yang nyata kondemnya itu tidak jujur dan terlalu taasub dengan amalannya saja kononnya amalannya yang sah , betul dan orang lain itu semuanya tak betul kalau betul pun tak sempurna macam dia punya. Sebenarnya 2 perkara ini selalu dilakukan bagi orang yang lalai dalam zikrullah atau memang sudah ada cacat dalam perjalanannya.
iii. Sebagai bukti atau hujjah yang sah bahawa seseorang itu mendapat izin dari syeikhnya yang terdahulu bagi menyebarkan ajaran tariqatnya itu kerana sanad salsilah yang mahsyur dan mutashil dengan Rasulullah s.a.w. itu seumpama otoriti yang sangat berwibawa tanpa dapat di pertikaikan lagi dari sudut keizinan dan kelayakannya dalam memimpin murid.Dan inilah adab yang amat penting dalam tariqat.
iv. Salsilah juga adalah suatu keesahan yang menyatakan bahawa tiada berlaku perubahan atau pindaan atau saduran dari hal penyampaian ilmu Tariqat itu sendiri dan lazimnya salasilah ini di kepilkan bersama ajaran-ajaran,adab-adab serta segala keterangan maqam-maqam zikir tariqat yang di rekod bersama dari turun temurun supaya tidak berlaku sebarang penyelewengan atau di ciplak dari mana-mana ajaran yang bertentangan dengan asal .
Pesanan Ulama sufi yang muktabar dalam kepentingan mengetahui salsilah tariqat .
1. Kata Syeikh Amin Kurdi dalam kitabnya Dhiya'ul Iman :
"Ketahuilah bahawa seorang murid di jalan Allah yang mahu bertaubat dan menghilangkan sifat kelalaiannya wajiblah ia mencari seorang syeikh yang ada di zamannya. Iaitu seorang yang sempurna suluknya(perjalanannya) syariat dan haqiqat mengikut Al Qura'an dan Al Hadis juga sentiasa berpandukan para Ulama hingga sampai ke maqam ar-rijalul kamal. Syeikh itu telah sampai kepada keredhaan Allah dan suluknya juga adalah di bawah pimpinan seorang mursyid yang mempunyai persambungan salasilah hingga ke nabi s.a.w. Ia juga mestilah telah mendapat izin dari syeikhnya untuk menyampaikan ajarannya kepada orang lain. Ia juga mempunyai ilmu dan makrifah yang benar dan bukan jahil dan bukan kerana di dorong oleh keinginan nafsu dirinya.Oleh yang demikian syeikh yang arif yang mempunyai persambungan salasilah itu adalah merupakan wasilah kepada Allah bagi seseorang murid itu. Syeikh itulah juga merupakan pintu menuju kepada Allah yang akan di lalui oleh murid itu. Sesiapa yang tiada mempunyai syeikh yang memimpin dan mengasuhnya maka syeikhnya adalah syaitan".
2. Katanya lagi :
" Tidaklah boleh seseorang itu membuat bai'ah dan memimpin para murid kecuali setelah ia mendapat tarbiyah dan ke izinan mursyidnya seperti yang di tegaskan oleh para masya'ih. Orang yang berbuat kerja demikian itu padahal ia bukan ahlinya yang sebenar , akan lebih banyak merosakkan dari memberi kebaikan. Ianya akan menanggung dosa sebesar dosa seorang perompak kerana ia telah memisahkan murid dari syeikh yang arif sebenarnya".
3. Berkata Syeikh Amin Al Kurdi dalam kitab Dhiya'ul Iman fi Thariqah Ar Rahman pada membicarakan kepentingan salsilah iaitu:
"Adalah sangat wajar bagi para murid di jalan Allah itu untuk mengetahui salasilah para syeikh mereka itu hingga sampai kepada nabi Muhammad s.a.w. Bila kedudukan syeikh mereka jelas dan benar ada persambungan salasilah hingga kepada nabi s.a.w. maka jika para murid itu mahu mendapatkan pertolongan limpahan ruhaniah dari syeikh mereka itu mereka akan berhasil apa yang dimaksudkan . Orang yang salasilahnya tidak bersambung hingga kepada nabi s.a.w. maka orang itu adalah terputus dari limpahan ruhaniah tersebut. Oleh itu orang itu bukanlah menjadi waris bagi Rasulullah s.a.w. dan TIDAK boleh di ambil bai'ah dan ijazah daripadanya".
4. Kata Syeikh Abdul Wahab Asy Syaroni di dalam kitab Madarijus Salikin :
"Hai para murid ! Semoga Allah memberikan keredhaan Nya kepada kami dan kamu. Sesungguhnya orang yang tidak mengetahui bapanya dan datuknya di dalam jalan ini (ilmu Tariqat) ,maka ia adalah buta. Mungkin jua orang yang tersebut di nasabkan(di binkan) kepada orang lain yang bukan bapa sebenarnya. (jika begitu) maka bermakna ia termasuk ke dalam apa yang di sabdakan oleh nabi s.a.w. : ‘Allah melaknat orang yang dinasabkan kepada orang lain yang bukan bapanya yang sebenar".
Maksud bapa dan datuknya ialah para guru-guru yang terdahulu (para masya'ih) kerana guru mursyid kita ialah bapa ruhani manakala guru kepada guru kita adalah datuk ruhani kepada kita sehingga lah seterusnya sampai kepada Rasulullah s.a.w. iaitu sumber segala ruhani yakni benih sekelian alam dan induk rahmat Allah Ta'ala dengannya melimpah sekelian rahmat Allah atas setiap kejadian.
5. Kata Syeikh Abdul Qadir Al Jilani dalam kitabnya Sirrul Asrar:
"Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata : Sahabat r.a. adalah ahli jazbah(ahli tarikan batin) kerana kekuatannya menemani nabi s.a.w. Tarikan batin tersebut menyebar kepada syeikh-syeikh tariqat dan bercabang lagi pada salasilah yang banyak sehingga semakin melemah dan terputus pada kebanyakkan umat, yang tinggal adalah orang-orang yang meniru-niru sebagai syeikh tanpa makna kedalaman dan tersebarlah kepada ahli-ahli bid'ah". Ini menunjukkan ‘karan' atau jazbah fillah akan turun kepada kita melalui susur jalur salasilah tariqat.
6. Kata Syeikh Abdul Qadir Al - Jilani lagi :
"Bagaimana cara menentukan Tasawuf yang benar ? Caranya dengan dua macam : (Pertama) lahiriahnya(Kedua) Batinnya.Lahiriahnya memegang teguh pada aturan syariat dalam perintah mahupun larangan.Batinnya mengikuti jalur suluk dengan pandangan hati yang jelas bahawa yang di ikuti adalah nabi s.a.w. dan nabi s.a.w. merupakan perantara antara dia dengan Allah.Dan antara dia dengan nabi adalah ruh ruhani Nabi Muhammad s.a.w. yang mempunyai jismani pada tempatnya dan ruhani pada tempatnya, sebab syaitan tidak akan menjelma menjadi nabi dan itu merupakan isyarat pada orang - orang salikin agar perjalanan mereka tidak dalam keadaan buta. Pada fasal ini terdapat tanda-tanda yang sangat halus untuk membezakan mana golongan yang benar dan yang salah , yang tidak dapat di temukan kecuali oleh ahlinya".
Maksud di atas ialah bagi menentukan tasawuf yang benar ialah zahirnya mengikut syariat dan batinnya mengikut jalur suluk (yakni perjalanan yang berantai salasilah sehingga berakhir kepada nabi s.a.w.) supaya hingga jelas hati murid mempertemukan kepada nabi Muhammad s.a.w. dan Nabi sebagai washitah(perantara) yang menyampaikan kepada Allah iaini makrifat terhadap Allah dengan sebenarnya.Kerana jika terputus salasilah bererti terputuslah wasilah dan akibatnya akan kelirulah perjalanannya dan payahlah seseorang itu membezakan dapatan ruhaniah yang haq dengan yang batil kerana perkara ini amat lah halus lagi sukar.Jangan di kata cahaya itu lah diri dan jangan disangka bayang itulah sebenar.Jangan dikata zauk itulah muktamad kerana syaitan masih boleh memberikan rasa zauk dan segala pembukaan yang palsu ! Maka berlindunglah kita kepada Allah dari segala tipudaya makhlukNya.Maka tiada yang mengetahuinya melainkan ahlinya yang berjalan mereka itu mengikut akan mengikut orang yang mengikut akan nabi s.a.w. pada zahir (syariat)dan batinnya(rabithah ruhaniah yakni tariqat yang menyampaikan haqiqat).Bak kata perpatah : Jauhari jua yang mengenal manikam.
SIMPULAN
Justru itu hendaklah kita fahami bilamana di katakana ‘Tariqat' maka disana ada di dalamnya beberapa perkara yang tidak terpisah ibarat ‘irama dan lagunya' iaitu :
1. Mursyid berkait dengan
2. salsilah dan keizinan berkait dengan
3. rabithah ruhaniah(pertalian) berkait dengan
4. adab-adab berkait dengan
5. zikir dan maqam-maqamnya berkait dengan
6. muraqabah dan musyahadah terhadapNya
Kesemuanya ini adalah wasilah pokok dalam Tariqat dan keenam-enam inilah di panggil ‘Tariqat'. Ke enam-enam perkara di atas juga ada yang di zahirkan dan di dokumentasikan dan ada yang di batinkan yakni tidak di nyatakan atau tidak di dokumentasikan khusus yang berkait dengan dapatan atau penemuan ruhaniah yang menjadi adab supaya tidak dinyatakan. Namun perkara seperti salasilah dan ke izinan adalah perkara yang wajib di nyatakan supaya di ketahui akan nasab ruhaniahnya dan supaya tidak kita di anggap anak yang tiada bernasab seperti yang dinyatakan oleh Syeikh Abdul Wahab Asy Syaroni r.h dan yang lebih di takuti kita menyeleweng dari usul dan kaedah kaum sufi secara tidak kita sedari.
Tidak ada keringanan dalam perkara salasilah ini , jangan pula ada pihak yang berkata salasilah ini tak penting yang pentingnya ialah haqiqatnya atau makrifatnya. Jika ada pihak yang berkata begitu , terus segera tinggalkan orang itu kerana orang itu telah mengajar suatu pemahaman yang tidak betul yakni menyalahi usul mengikut kaum sufi. Kerana bagaimana buah itu lahir tanpa pokok dan benihnya ? Sebab itu kata Ulama sufi : "Barangsiapa menyalahi ushul maka diharamkan dia daripada wushul(sampai kepada makrifat Allah Ta'ala dengan makrifat sebenarnya)". Iaini barang siapa menyalahi perkara-perkara yang telah di sepakati oleh kaum sufi maka terlerai dia daripada jalan mereka.Bersama kita berlindung dengan Allah Ta'ala daripada bahaya-bahaya ini dan tipudaya makhlukNya.
Seseorang yang ingin bertariqat mungkin kurang di dedahkan atau tak tahu menahu kepentingan peranan salasilah. Sedangkan berguru tariqat yang tidak bersambung salasilahnya dengan ulama-ulama asalnya sehingga bersambung dengan Rasulullah s.a.w. hukumnya haram kerana terputus wasilah dalam menyampaikan matlamat.Sebab itu bukan mudah untuk kita berguru dengan seseorang kecuali telah di buktikan bahawa guru yang kita anggap sebagai guru itu memiliki sanad salasilah tariqat yang mutashil(bersambung) sehingga Rasulullah s.a.w. di samping kita melihat kepada faktor-faktor lain yang selari dengan adab syariat dan adab tariqat.
Apakah yang di maksudkan dengan salasilah tariqat dan mengapa salasilah tariqat itu penting ?
Seseorang yang di anggap mursyid ialah seseorang yang telah berguru sebelumnya dengan gurunya terdahulu dan sehinggalah bersusun sampailah kepada tabi'in kepada sahabat dan akhirnya bertemu kepada Rasulullah s.a.w. dan mestilah di dokumenkan dalam bentuk bertulis dan di sahkan oleh gurunya yang terdahulu dengan ‘memberi izin' bagi menjalankan atau menyebarkan tariqat tersebut serta mahsyur sanadnya mengikut adab tariqat.
Salsilah ini penting kerana beberapa sebab iaitu :
i. bagi menentukan seseorang murid menerima keberkatan (kesan ruhaniah) atau limpahan ruhani yang bersambung dengan syeikhnya itu terus bersambung sehinggalah persambungannya itu benar-benar dari puncanya yang sebenar dan teratasnya iaitu Rasulullah s.a.w. Sekiranya salasilahnya terputus atau tiada memiliki sanad salasilah yang sah maka bagaimana seseorang itu dapat menerima limpahan keberkatan imdad bir ruhaniah dari segala masya'ih yang terdahulu sehingga Rasulullah s.a.w yang dengannya menyampaikan kita kepada jazbah fillah(tarikan kepada Allah iaini zuk fana'fillah dan baqo'billah).
ii. Bagi yang terputus wasilah ruhaniahnya maka terputuslah apa yang di panggil rabithah mursyid(pertalian mursyid).Jika tiada baginya rabithah mursyid maka tiada terpelihara perjalanannya itu daripada tercedera terhadap gangguan musuh-musuh batin seperti iblis, syaitan jin dan segala perkara yang membahayakan perjalanan ruhaninya khususnya dalam meniti perjalanan di alam malakut.Sebab itu kita dengar bahaya-bahaya penipuan di alam ruhani yang sering kita dengar seperti membesarkan diri mengakui diri sudah capai ke martabat wali,martabat sultanul auliya, sudah dapat tahap yang tinggi dan suka menggelar diri , taa'sub , sudah pandai menilik dan di katanya sudah dapat kasyaf , pandai mengubat kerana sudah disangkanya dapat maunah dan akhirnya melalutlah kepada gila dan sebagainya. Sedangkan rukun bagi seseorang mursyid atau khalifah itu ialah sangat merendahkan diri (tawadhu') bagaimana pula dia nak mengaku dirinya lebih atau macam-macam lagi.Satu perkara lagi sifat orang yang terputus sanadnya iaitu suka kondem orang lain yang nyata kondemnya itu tidak jujur dan terlalu taasub dengan amalannya saja kononnya amalannya yang sah , betul dan orang lain itu semuanya tak betul kalau betul pun tak sempurna macam dia punya. Sebenarnya 2 perkara ini selalu dilakukan bagi orang yang lalai dalam zikrullah atau memang sudah ada cacat dalam perjalanannya.
iii. Sebagai bukti atau hujjah yang sah bahawa seseorang itu mendapat izin dari syeikhnya yang terdahulu bagi menyebarkan ajaran tariqatnya itu kerana sanad salsilah yang mahsyur dan mutashil dengan Rasulullah s.a.w. itu seumpama otoriti yang sangat berwibawa tanpa dapat di pertikaikan lagi dari sudut keizinan dan kelayakannya dalam memimpin murid.Dan inilah adab yang amat penting dalam tariqat.
iv. Salsilah juga adalah suatu keesahan yang menyatakan bahawa tiada berlaku perubahan atau pindaan atau saduran dari hal penyampaian ilmu Tariqat itu sendiri dan lazimnya salasilah ini di kepilkan bersama ajaran-ajaran,adab-adab serta segala keterangan maqam-maqam zikir tariqat yang di rekod bersama dari turun temurun supaya tidak berlaku sebarang penyelewengan atau di ciplak dari mana-mana ajaran yang bertentangan dengan asal .
Pesanan Ulama sufi yang muktabar dalam kepentingan mengetahui salsilah tariqat .
1. Kata Syeikh Amin Kurdi dalam kitabnya Dhiya'ul Iman :
"Ketahuilah bahawa seorang murid di jalan Allah yang mahu bertaubat dan menghilangkan sifat kelalaiannya wajiblah ia mencari seorang syeikh yang ada di zamannya. Iaitu seorang yang sempurna suluknya(perjalanannya) syariat dan haqiqat mengikut Al Qura'an dan Al Hadis juga sentiasa berpandukan para Ulama hingga sampai ke maqam ar-rijalul kamal. Syeikh itu telah sampai kepada keredhaan Allah dan suluknya juga adalah di bawah pimpinan seorang mursyid yang mempunyai persambungan salasilah hingga ke nabi s.a.w. Ia juga mestilah telah mendapat izin dari syeikhnya untuk menyampaikan ajarannya kepada orang lain. Ia juga mempunyai ilmu dan makrifah yang benar dan bukan jahil dan bukan kerana di dorong oleh keinginan nafsu dirinya.Oleh yang demikian syeikh yang arif yang mempunyai persambungan salasilah itu adalah merupakan wasilah kepada Allah bagi seseorang murid itu. Syeikh itulah juga merupakan pintu menuju kepada Allah yang akan di lalui oleh murid itu. Sesiapa yang tiada mempunyai syeikh yang memimpin dan mengasuhnya maka syeikhnya adalah syaitan".
2. Katanya lagi :
" Tidaklah boleh seseorang itu membuat bai'ah dan memimpin para murid kecuali setelah ia mendapat tarbiyah dan ke izinan mursyidnya seperti yang di tegaskan oleh para masya'ih. Orang yang berbuat kerja demikian itu padahal ia bukan ahlinya yang sebenar , akan lebih banyak merosakkan dari memberi kebaikan. Ianya akan menanggung dosa sebesar dosa seorang perompak kerana ia telah memisahkan murid dari syeikh yang arif sebenarnya".
3. Berkata Syeikh Amin Al Kurdi dalam kitab Dhiya'ul Iman fi Thariqah Ar Rahman pada membicarakan kepentingan salsilah iaitu:
"Adalah sangat wajar bagi para murid di jalan Allah itu untuk mengetahui salasilah para syeikh mereka itu hingga sampai kepada nabi Muhammad s.a.w. Bila kedudukan syeikh mereka jelas dan benar ada persambungan salasilah hingga kepada nabi s.a.w. maka jika para murid itu mahu mendapatkan pertolongan limpahan ruhaniah dari syeikh mereka itu mereka akan berhasil apa yang dimaksudkan . Orang yang salasilahnya tidak bersambung hingga kepada nabi s.a.w. maka orang itu adalah terputus dari limpahan ruhaniah tersebut. Oleh itu orang itu bukanlah menjadi waris bagi Rasulullah s.a.w. dan TIDAK boleh di ambil bai'ah dan ijazah daripadanya".
4. Kata Syeikh Abdul Wahab Asy Syaroni di dalam kitab Madarijus Salikin :
"Hai para murid ! Semoga Allah memberikan keredhaan Nya kepada kami dan kamu. Sesungguhnya orang yang tidak mengetahui bapanya dan datuknya di dalam jalan ini (ilmu Tariqat) ,maka ia adalah buta. Mungkin jua orang yang tersebut di nasabkan(di binkan) kepada orang lain yang bukan bapa sebenarnya. (jika begitu) maka bermakna ia termasuk ke dalam apa yang di sabdakan oleh nabi s.a.w. : ‘Allah melaknat orang yang dinasabkan kepada orang lain yang bukan bapanya yang sebenar".
Maksud bapa dan datuknya ialah para guru-guru yang terdahulu (para masya'ih) kerana guru mursyid kita ialah bapa ruhani manakala guru kepada guru kita adalah datuk ruhani kepada kita sehingga lah seterusnya sampai kepada Rasulullah s.a.w. iaitu sumber segala ruhani yakni benih sekelian alam dan induk rahmat Allah Ta'ala dengannya melimpah sekelian rahmat Allah atas setiap kejadian.
5. Kata Syeikh Abdul Qadir Al Jilani dalam kitabnya Sirrul Asrar:
"Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata : Sahabat r.a. adalah ahli jazbah(ahli tarikan batin) kerana kekuatannya menemani nabi s.a.w. Tarikan batin tersebut menyebar kepada syeikh-syeikh tariqat dan bercabang lagi pada salasilah yang banyak sehingga semakin melemah dan terputus pada kebanyakkan umat, yang tinggal adalah orang-orang yang meniru-niru sebagai syeikh tanpa makna kedalaman dan tersebarlah kepada ahli-ahli bid'ah". Ini menunjukkan ‘karan' atau jazbah fillah akan turun kepada kita melalui susur jalur salasilah tariqat.
6. Kata Syeikh Abdul Qadir Al - Jilani lagi :
"Bagaimana cara menentukan Tasawuf yang benar ? Caranya dengan dua macam : (Pertama) lahiriahnya(Kedua) Batinnya.Lahiriahnya memegang teguh pada aturan syariat dalam perintah mahupun larangan.Batinnya mengikuti jalur suluk dengan pandangan hati yang jelas bahawa yang di ikuti adalah nabi s.a.w. dan nabi s.a.w. merupakan perantara antara dia dengan Allah.Dan antara dia dengan nabi adalah ruh ruhani Nabi Muhammad s.a.w. yang mempunyai jismani pada tempatnya dan ruhani pada tempatnya, sebab syaitan tidak akan menjelma menjadi nabi dan itu merupakan isyarat pada orang - orang salikin agar perjalanan mereka tidak dalam keadaan buta. Pada fasal ini terdapat tanda-tanda yang sangat halus untuk membezakan mana golongan yang benar dan yang salah , yang tidak dapat di temukan kecuali oleh ahlinya".
Maksud di atas ialah bagi menentukan tasawuf yang benar ialah zahirnya mengikut syariat dan batinnya mengikut jalur suluk (yakni perjalanan yang berantai salasilah sehingga berakhir kepada nabi s.a.w.) supaya hingga jelas hati murid mempertemukan kepada nabi Muhammad s.a.w. dan Nabi sebagai washitah(perantara) yang menyampaikan kepada Allah iaini makrifat terhadap Allah dengan sebenarnya.Kerana jika terputus salasilah bererti terputuslah wasilah dan akibatnya akan kelirulah perjalanannya dan payahlah seseorang itu membezakan dapatan ruhaniah yang haq dengan yang batil kerana perkara ini amat lah halus lagi sukar.Jangan di kata cahaya itu lah diri dan jangan disangka bayang itulah sebenar.Jangan dikata zauk itulah muktamad kerana syaitan masih boleh memberikan rasa zauk dan segala pembukaan yang palsu ! Maka berlindunglah kita kepada Allah dari segala tipudaya makhlukNya.Maka tiada yang mengetahuinya melainkan ahlinya yang berjalan mereka itu mengikut akan mengikut orang yang mengikut akan nabi s.a.w. pada zahir (syariat)dan batinnya(rabithah ruhaniah yakni tariqat yang menyampaikan haqiqat).Bak kata perpatah : Jauhari jua yang mengenal manikam.
SIMPULAN
Justru itu hendaklah kita fahami bilamana di katakana ‘Tariqat' maka disana ada di dalamnya beberapa perkara yang tidak terpisah ibarat ‘irama dan lagunya' iaitu :
1. Mursyid berkait dengan
2. salsilah dan keizinan berkait dengan
3. rabithah ruhaniah(pertalian) berkait dengan
4. adab-adab berkait dengan
5. zikir dan maqam-maqamnya berkait dengan
6. muraqabah dan musyahadah terhadapNya
Kesemuanya ini adalah wasilah pokok dalam Tariqat dan keenam-enam inilah di panggil ‘Tariqat'. Ke enam-enam perkara di atas juga ada yang di zahirkan dan di dokumentasikan dan ada yang di batinkan yakni tidak di nyatakan atau tidak di dokumentasikan khusus yang berkait dengan dapatan atau penemuan ruhaniah yang menjadi adab supaya tidak dinyatakan. Namun perkara seperti salasilah dan ke izinan adalah perkara yang wajib di nyatakan supaya di ketahui akan nasab ruhaniahnya dan supaya tidak kita di anggap anak yang tiada bernasab seperti yang dinyatakan oleh Syeikh Abdul Wahab Asy Syaroni r.h dan yang lebih di takuti kita menyeleweng dari usul dan kaedah kaum sufi secara tidak kita sedari.
Tidak ada keringanan dalam perkara salasilah ini , jangan pula ada pihak yang berkata salasilah ini tak penting yang pentingnya ialah haqiqatnya atau makrifatnya. Jika ada pihak yang berkata begitu , terus segera tinggalkan orang itu kerana orang itu telah mengajar suatu pemahaman yang tidak betul yakni menyalahi usul mengikut kaum sufi. Kerana bagaimana buah itu lahir tanpa pokok dan benihnya ? Sebab itu kata Ulama sufi : "Barangsiapa menyalahi ushul maka diharamkan dia daripada wushul(sampai kepada makrifat Allah Ta'ala dengan makrifat sebenarnya)". Iaini barang siapa menyalahi perkara-perkara yang telah di sepakati oleh kaum sufi maka terlerai dia daripada jalan mereka.Bersama kita berlindung dengan Allah Ta'ala daripada bahaya-bahaya ini dan tipudaya makhlukNya.
RAHASIA SHOLAT
Ketahui olehmu yang dikehendakki dengan kata menghadhirkan Zat Sembahyang itu ialah Niat.
Manakala Niat itu adalah bekas Nur Sir Kalam Allah yang tiada berhuruf dan bersuara ya'ni rahsia qalam qadimNya. Yang demikian itulah dibilangkan berkata kata kita dengannya.
Maka hendaklah kamu ketahui sesungguhnya tatkala mengangkat Takbiratul Ikhram itu hal keadaannya mati sebagaimana sabda Nabi s.a.w. pada mengisyaratkan dengan katanya:
"Mutu Qabla Anta Mutu" Matikanlah diri kamu sebelum kamu mati. Maka adalah maksudnya itu fana'kan dirimu yang kasar, fana'kan panca inderamu yang bangsa zahir. Maka tatkala itu disuruh tilik atau pandang dirimu yang halus atau batin dengan menggunakan panca indera yang batin, kerana adalah yang batin itu berpakaian dengan Sifat Maani, manakala Sifat Maani itu adalah sifat yang lazim atau tetap bagi Zat Allah yang Wajibal wujud lagi Baqa'. Maka jika telah tetaplah bahawa Sifat Maani itu adalah Sifat Zat Allah wajiblah baginya dihukumkan Maanawiyah.
Maka untuk mendapatkan kata putus atau putus bicara mengena'i ta'arif pada Sifat Maani dan Maanawiyah perlu dibicarakan dengan teliti dan halus, bagi memahami Sifat Maani dan Maanawiyah.
Adapun dikatakan dalam pembicaraan taarif Sifat Maani itu demikian:-
"Hiya kullu sifatin maujudatin qa'inatin bimaujudin aujabat lahu hukman."
Tiap tiap sifat yang sedia ada yang berdiri dengan Zat Yang Sedia Ada diwajibkan yakni ditetapkan baginya satu hukum. Maka dalam perkara ini Sifat Maani itu wajib dihukumkan Maanawiyah.
Manakala hakikat Sifat Maani itu adalah "La hiya huwa hiya ghairuhu" Sifat itu bukan Zat, tetapi tiada lain dari Zat.(Kelakuan Sifat ini tidak berdiri dengan sendirinya tetapi lazim dia berdiri dengan Zat sebab antara zat dan sifat tidak boleh berpisah).
Adalah taarif Sifat Maanawiyah pula dikatakan:- "Hiyyal khaluth thabitu lizzati mada matizzatu mu'allalatin bi illatin" Hal yang sabit yakni tetap bagi Zat selama kekal Zat itu dikeranakan dengan satu kerana yakni Sifat Maani. Maka hakikat Sifat Maanawiyah itu " La hiya ghairuhu" Tiada lain dari Zat. Yang demikian nyatalah atau jelaslah sudah bahawa yang dihukum Maanawiyah itu adalah Sifat Maani atau Sifat Maani itulah Sifat Maanawiyah.
Maka hendaklah kamu ketahui dengan sempurna pengetahuan penegenalan bahawasanya Hakikat dirimu yang batin itu dipakaikan dengan rahsia Sifat MaaniNya. Rahsia Sifat Maani itulah Ruh Latifurrabaniah yang jadi hakikat bagi dirimu yang sebenar benar diri. Manakala adalah hakikat diri yang sebenar diri itu sebagai dzil yakni bayang bayang bagi kelakuan atau Sifat wujud Zat Allah yang mutlaq lagi tiada seumpama dengan sesuatu.
Maka ketahuilah bahawa tatkala mengangkat Takbiratul Ikhram itu dengan berkata Allahu Akbar kamu berada didalam Maqam Tauhid. Yang mana dituntut atas kita mentauhidkan akan ZatNya, SifatNya, Asma'Nya dan Af'alNya. Oleh kerana itulah bahawa tempat atau Maqam Tauhid kepada Allah itu didalam Takbiratul Ikhram pada lima waktu Solat Fardhu.
Maka untuk mendapatkan jalan Tauhid yang sebenar benarnya itu hendaklah kita ketahui dengan sempurna pengetahuan didalam bicara berkenaan Nafi dan Isbat. Oleh kerana didalam Nafi dan Isbat itulah duduknya Tauhid dan Ma'rifat.
Hakikat Nafi Yang sebenar.
Adapun sebenar benar hakikat Nafi itu Isbat dan hakikat Isbat itu Tauhid, manakala hakikat Tauhid itu Ma'rifat. Oleh kerana itulah sabda Nabi s.a.w. " La yufarriqu bainan nafi wal ithbat, man faraqa bainahuma fahuwa kafirun" Tiada becerai diantara Nafi dan Isbat, barang siapa memisahkan maka kafirlah dia. Oleh kerana hal keadaan Nafi mengandung Isbat dan Isbat mengandung Nafi, yang demikian bererti bilamana kamu Nafikan sesuatu yang mustahil bagi Allah, maka tak dapat tidak yang kamu Isbatkan itu sesuatu yang mustahil bagi Allah. AWAS. Bilamana kamu nafikan sesuatu yang haq bagi Allah maka tak dapat tidak yang kamu Isbat pun haq bagi Allah jua tiada lain. Maka faham daripada kata kata ini bahawa tidak syak lagi bilamana kamu Nafikan Zat kamu maka yang diisbatkan Zat Allah, Nafikan sifat kamu, diisbatkan Sifat Allah, Nafikan A'fal kamu diisbatkan A'fal Allah, Nafikan asma' kamu, diisbatkan Asma' Allah. Demikianlah adanya Hakikat Nafi/Isbat yang dikehendakki dibawa didalam sembahyang
APA ITU ZAT SOLAT?
‘TIDAK SAH SESUATU PENGABDIAN (IBADAH) MELAINKAN SESUDAH MENGETAHUI APA YANG DIABDIKAN ITU’
Apakah yang diabdikan itu? Ada pun yang wajib bagi mendirikan solat itu ialah diri solat (zat solat) iaitu 13 perkara;
1. Niat
2. Berdiri betul
3. Takbiratul ihram
4. Membaca al Fatihah
5. Ruku’
6. I’tidal
7. Sujud
8. Duduk antara dua sujud
9. Duduk tahiyyat akhir
10. Membaca tahiyyat akhir
11. Solawat ke atas Nabi saw
12. Salam
13. Tertib
Ada pun rukun 13 itu terbahagi kepada 3 bahagian;
1. Qalbi
2. Qauli
3. Fi’li
Yang terkandung di dalam qalbi itu 2 perkara; niat dan tertib
Dan yang terkandung di dalam qauli itu 5 perkara; takbiratul ihram, membaca al Fatihah, membaca tahiyyat akhir, solawat ke atas Nabi saw dan salam
Yang terkandung di dalam fi’li pula 6 perkara; berdiri betul, ruku’, i’tidal, sujud, duduk antara dua sujud dan duduk tahiyyat akhir
Qalbi ta’luk sifat ilmu, qauli ta’luk sifat sama’ dan fi’li ta’luk sifat basar.Qalbi itu dikatakan qasad, qauli itu pula dikatakan ta’radh dan fi’li itu dikatakan ta’yin. Kemudian dihimpunkan atau disatukan sifat-sifat itu; qalbi, qauli, fi’li, qasad, ta’radh dan ta’yin di dalam huruf yang lapan iaitu ALLAHU AKBAR, maka jadilah ia muqarranah ajmaliah
Misal yang pertama; Seumpama sepohon pokok yang telah lengkap segala rantingnya, dahannya, daunnya, bunganya dan buahnya, barulah ia dinamakan pokok.
Misal yang kedua; Lenyap segala ta’yin di dalam biji (benih) boleh jua dikatakan ‘ain biji (‘ain benih) yakni bagi pihak yang belum tumbuh, dan bagi pihak yang telah tumbuh pasti dinamakan pokok jua, yakni pada martabat haqqul yaqin iaitu fana sifat hamba pada sifat Tuhannya dan baqalah ia dengan Dia seperti firman Allah yang bermaksud; ‘Dan telah terang atau bersinar akan bumi itu dengan cahaya Tuhannya’.
Jadilah muqarranah ajmaliah yakni terkandung di dalamnya sekalian ta’yin alam ini akan apa hadratnya, imkan bererti tempat menghukumkan antara dua martabat iaitu mumkinal wujud dan wajibal wujud, yakni perbezaan hamba dengan Tuhannya yang dinamakan barzahul jama’, yakni perhubungan rupa maklum ilmu Allah ta’ala dengan jalan ijmal dan jadilah muqarranah ajmaliah seperti mana firman Allah yang bermaksud; ‘Ada pun niat itu tiada berhuruf dan tiada bersuara’.
Manakala Niat itu adalah bekas Nur Sir Kalam Allah yang tiada berhuruf dan bersuara ya'ni rahsia qalam qadimNya. Yang demikian itulah dibilangkan berkata kata kita dengannya.
Maka hendaklah kamu ketahui sesungguhnya tatkala mengangkat Takbiratul Ikhram itu hal keadaannya mati sebagaimana sabda Nabi s.a.w. pada mengisyaratkan dengan katanya:
"Mutu Qabla Anta Mutu" Matikanlah diri kamu sebelum kamu mati. Maka adalah maksudnya itu fana'kan dirimu yang kasar, fana'kan panca inderamu yang bangsa zahir. Maka tatkala itu disuruh tilik atau pandang dirimu yang halus atau batin dengan menggunakan panca indera yang batin, kerana adalah yang batin itu berpakaian dengan Sifat Maani, manakala Sifat Maani itu adalah sifat yang lazim atau tetap bagi Zat Allah yang Wajibal wujud lagi Baqa'. Maka jika telah tetaplah bahawa Sifat Maani itu adalah Sifat Zat Allah wajiblah baginya dihukumkan Maanawiyah.
Maka untuk mendapatkan kata putus atau putus bicara mengena'i ta'arif pada Sifat Maani dan Maanawiyah perlu dibicarakan dengan teliti dan halus, bagi memahami Sifat Maani dan Maanawiyah.
Adapun dikatakan dalam pembicaraan taarif Sifat Maani itu demikian:-
"Hiya kullu sifatin maujudatin qa'inatin bimaujudin aujabat lahu hukman."
Tiap tiap sifat yang sedia ada yang berdiri dengan Zat Yang Sedia Ada diwajibkan yakni ditetapkan baginya satu hukum. Maka dalam perkara ini Sifat Maani itu wajib dihukumkan Maanawiyah.
Manakala hakikat Sifat Maani itu adalah "La hiya huwa hiya ghairuhu" Sifat itu bukan Zat, tetapi tiada lain dari Zat.(Kelakuan Sifat ini tidak berdiri dengan sendirinya tetapi lazim dia berdiri dengan Zat sebab antara zat dan sifat tidak boleh berpisah).
Adalah taarif Sifat Maanawiyah pula dikatakan:- "Hiyyal khaluth thabitu lizzati mada matizzatu mu'allalatin bi illatin" Hal yang sabit yakni tetap bagi Zat selama kekal Zat itu dikeranakan dengan satu kerana yakni Sifat Maani. Maka hakikat Sifat Maanawiyah itu " La hiya ghairuhu" Tiada lain dari Zat. Yang demikian nyatalah atau jelaslah sudah bahawa yang dihukum Maanawiyah itu adalah Sifat Maani atau Sifat Maani itulah Sifat Maanawiyah.
Maka hendaklah kamu ketahui dengan sempurna pengetahuan penegenalan bahawasanya Hakikat dirimu yang batin itu dipakaikan dengan rahsia Sifat MaaniNya. Rahsia Sifat Maani itulah Ruh Latifurrabaniah yang jadi hakikat bagi dirimu yang sebenar benar diri. Manakala adalah hakikat diri yang sebenar diri itu sebagai dzil yakni bayang bayang bagi kelakuan atau Sifat wujud Zat Allah yang mutlaq lagi tiada seumpama dengan sesuatu.
Maka ketahuilah bahawa tatkala mengangkat Takbiratul Ikhram itu dengan berkata Allahu Akbar kamu berada didalam Maqam Tauhid. Yang mana dituntut atas kita mentauhidkan akan ZatNya, SifatNya, Asma'Nya dan Af'alNya. Oleh kerana itulah bahawa tempat atau Maqam Tauhid kepada Allah itu didalam Takbiratul Ikhram pada lima waktu Solat Fardhu.
Maka untuk mendapatkan jalan Tauhid yang sebenar benarnya itu hendaklah kita ketahui dengan sempurna pengetahuan didalam bicara berkenaan Nafi dan Isbat. Oleh kerana didalam Nafi dan Isbat itulah duduknya Tauhid dan Ma'rifat.
Hakikat Nafi Yang sebenar.
Adapun sebenar benar hakikat Nafi itu Isbat dan hakikat Isbat itu Tauhid, manakala hakikat Tauhid itu Ma'rifat. Oleh kerana itulah sabda Nabi s.a.w. " La yufarriqu bainan nafi wal ithbat, man faraqa bainahuma fahuwa kafirun" Tiada becerai diantara Nafi dan Isbat, barang siapa memisahkan maka kafirlah dia. Oleh kerana hal keadaan Nafi mengandung Isbat dan Isbat mengandung Nafi, yang demikian bererti bilamana kamu Nafikan sesuatu yang mustahil bagi Allah, maka tak dapat tidak yang kamu Isbatkan itu sesuatu yang mustahil bagi Allah. AWAS. Bilamana kamu nafikan sesuatu yang haq bagi Allah maka tak dapat tidak yang kamu Isbat pun haq bagi Allah jua tiada lain. Maka faham daripada kata kata ini bahawa tidak syak lagi bilamana kamu Nafikan Zat kamu maka yang diisbatkan Zat Allah, Nafikan sifat kamu, diisbatkan Sifat Allah, Nafikan A'fal kamu diisbatkan A'fal Allah, Nafikan asma' kamu, diisbatkan Asma' Allah. Demikianlah adanya Hakikat Nafi/Isbat yang dikehendakki dibawa didalam sembahyang
APA ITU ZAT SOLAT?
‘TIDAK SAH SESUATU PENGABDIAN (IBADAH) MELAINKAN SESUDAH MENGETAHUI APA YANG DIABDIKAN ITU’
Apakah yang diabdikan itu? Ada pun yang wajib bagi mendirikan solat itu ialah diri solat (zat solat) iaitu 13 perkara;
1. Niat
2. Berdiri betul
3. Takbiratul ihram
4. Membaca al Fatihah
5. Ruku’
6. I’tidal
7. Sujud
8. Duduk antara dua sujud
9. Duduk tahiyyat akhir
10. Membaca tahiyyat akhir
11. Solawat ke atas Nabi saw
12. Salam
13. Tertib
Ada pun rukun 13 itu terbahagi kepada 3 bahagian;
1. Qalbi
2. Qauli
3. Fi’li
Yang terkandung di dalam qalbi itu 2 perkara; niat dan tertib
Dan yang terkandung di dalam qauli itu 5 perkara; takbiratul ihram, membaca al Fatihah, membaca tahiyyat akhir, solawat ke atas Nabi saw dan salam
Yang terkandung di dalam fi’li pula 6 perkara; berdiri betul, ruku’, i’tidal, sujud, duduk antara dua sujud dan duduk tahiyyat akhir
Qalbi ta’luk sifat ilmu, qauli ta’luk sifat sama’ dan fi’li ta’luk sifat basar.Qalbi itu dikatakan qasad, qauli itu pula dikatakan ta’radh dan fi’li itu dikatakan ta’yin. Kemudian dihimpunkan atau disatukan sifat-sifat itu; qalbi, qauli, fi’li, qasad, ta’radh dan ta’yin di dalam huruf yang lapan iaitu ALLAHU AKBAR, maka jadilah ia muqarranah ajmaliah
Misal yang pertama; Seumpama sepohon pokok yang telah lengkap segala rantingnya, dahannya, daunnya, bunganya dan buahnya, barulah ia dinamakan pokok.
Misal yang kedua; Lenyap segala ta’yin di dalam biji (benih) boleh jua dikatakan ‘ain biji (‘ain benih) yakni bagi pihak yang belum tumbuh, dan bagi pihak yang telah tumbuh pasti dinamakan pokok jua, yakni pada martabat haqqul yaqin iaitu fana sifat hamba pada sifat Tuhannya dan baqalah ia dengan Dia seperti firman Allah yang bermaksud; ‘Dan telah terang atau bersinar akan bumi itu dengan cahaya Tuhannya’.
Jadilah muqarranah ajmaliah yakni terkandung di dalamnya sekalian ta’yin alam ini akan apa hadratnya, imkan bererti tempat menghukumkan antara dua martabat iaitu mumkinal wujud dan wajibal wujud, yakni perbezaan hamba dengan Tuhannya yang dinamakan barzahul jama’, yakni perhubungan rupa maklum ilmu Allah ta’ala dengan jalan ijmal dan jadilah muqarranah ajmaliah seperti mana firman Allah yang bermaksud; ‘Ada pun niat itu tiada berhuruf dan tiada bersuara’.
Keutamaan Tawakkal Kepada Allah dan Larangan Tawakkal Kepada Selain Allah.
Sahabat Quran
Masalah bertawakkal atau menyerahkan segenap urusan kepada Allah merupakan masalah yang berkenaan dengan keyakinan atau ’aqidah Islamiyyah. Barangsiapa yang senantiasa menyerahkan segenap urusan hidupnya hanya dan hanya kepada Allah, maka selamatlah dia. Sebab sikap demikian merupakan perintah langsung dari Allah sendiri. Dan sikap tawakkal kepada Allah merupakan indikasi iman yang sebenarnya.
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS AlMaidah ayat 23)
Ajaran Tauhid mengarahkan seorang hamba Allah agar senantiasa menggantungkan harapannya hanya kepada Allah. Islam melarang manusia untuk menggantungkan harapan kepada selain Allah. Mengapa? Karena selain Allah Sang Pencipta, maka semua yang ada di dunia hanyalah merupakan makhluk ciptaan Allah. Bagaimana mungkin seorang manusia yang telah mengimani bahwa Allah merupakan Pencipta segala sesuatu yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa akan berfikir untuk mengalihkan tempat bergantungnya kepada makhluk ciptaan Allah yang lemah dan juga sama-sama bergantung dan berharap kepada Allah?
Namun dalam mengarungi kehidupan fana di dunia tidak sedikit orang yang telah mengaku beriman kemudian menjadi terkecoh. Ada sebagian di antara mereka menyangka bahwa kemuliaan, kehormatan, kejayaan dan kemenangan dapat diraih melalui sikap menggantungkan harapan kepada selain Allah. Mereka kemudian menjadikan sebagian perhiasan dunia sebagai andalan utamanya. Mulailah mereka kemudian turut berlomba memperebutkan dunia sebagaimana orang-orang kafir memperebutkannya. Jika orang-orang kafir memperebutkan dunia karena berkeyakinan bahwa tanpa dunia ia tidak akan berjaya, maka ini sudah merupakan hal yang sewajarnya. Kenapa? Karena mereka memang tidak tahu apa-apa kecuali mengenai hal-hal lahiriah dari kehidupan dunia ini. Mereka samasekali tidak peduli bahkan tidak percaya adanya Allah sebagai tempat berharap yang semestinya. Mereka juga tidak meyakini adanya kehidupan lain yang lebih hakiki dan lebih pantas diperebutkan, yaitu kampung akhirat.
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
”Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS ArRuum ayat 7)
Jika orang-orang kafir memiliki sikap tawakkal kepada selain Allah, maka hal ini dapat dimengerti. Karena demikianlah Allah gambarkan ciri-ciri mereka. Namun yang kita sulit untuk fahami ialah bilamana ada sebagian orang yang mengaku beriman namun bersikap sebagaimana orang-orang kafir tersebut. Mereka menyerahkan ketergantungan mereka kepada dunia, kepada harta, popularitas dan kekuasaan untuk meraih kejayaan dan kehormatan. Mereka mengira bahwa kemenangan dan kejayaan ummat Islam hanya akan berhasil diraih bilamana sudah memiliki resources alias sumber-daya yang banyak (tanpa peduli bagaimana cara memperolehnya). Mereka menyangka bahwa hanya dengan jalan berkuasalah ummat Islam dapat dikatakan meraih kehormatan dan kemuliaan. Logika yang mereka kembangkan persis mirip logika orang-orang kafir. Hanya bedanya semua itu mereka bungkus dengan legitimasi yang bersumber dari ayat dan hadits.
Bahkan yang lebih memprihatinkan ialah sikap orang-orang ini dalam hal memperlakukan jalan hidup atau agama Allah, Al-Islam. Mereka tidak lagi memiliki keyakinan penuh bahwa dienullah (jalan hidup Allah) merupakan solusi tunggal untuk mengatasi berbagai problem hidup. Mereka tetap mengaku Muslim, namun dalam menerima Islam mereka memandang perlu untuk memberikan ajaran atau faham tambahan sebagai ”pelengkap” jalan hidup Allah. Mereka takut dan tidak sepenuhnnya yakin bahwa Islam merupakan dien syamil (komprehensif), kamil (sempurna) dan mutakaamil (saling menyempurnakan). Sehingga kadang-kadang mereka merasa perlu untuk menyatakan bahwa Islam yang diperjuangkan sejalan dengan Nasionalisme, Demokrasi, Humanisme atau Pluralisme. Berbagai faham bikinan manusia tadi disandingkan bersama Islam yang katanya mereka perjuangkan karena mereka perlu mendapatkan pengakuan dari manusia-manusia penganut sejati faham-faham bikinan manusia tersebut. Mereka sangat khawatir mendapat tuduhan kaum fanatik, ekstrimis, fundamentalis dan anti-HAM bilamana mengatakan Islam saja ideologi perjuangannya. Seolah mereka tidak yakin bahwa agama Allah sudah cukup untuk menjadi solusi tunggal problema kehidupan. Sikap ini sangat mirip dengan gambaran Allah mengenai kaum munafiqun dan orang-orang berpenyakit di dalam hatinya.
إِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَؤُلَاءِ
دِينُهُمْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
”(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS Al-Anfal ayat 49)
Ayat di atas turun berkenaan dengan sikap tawakkal orang-orang beriman kepada Allah Subhaanahu wa ta’aala saat akan berperang menghadapi pasukan musyrikin yang jumlahnya lebih banyak daripada orang-orang beriman. Maka dalam keadaan seperti itu kaum munafiqun dan orang-orang berpenyakit di dalam hatinya memandang orang-orang beriman sebagai menempuh jalan konyol karena tetap bersikeras hendak menghadapi kekuatan musuh yang tidak berimbang. Orang-orang beriman dianggap sebagai berlaku ”tidak realistik”. Sedemikian rupa cara pandang mereka sampai-sampai tega mengatakan: ”Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya”. Tetapi pada saat itu Allah justru berfihak kepada sikap orang-orang beriman dengan firmanNya: “Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Allah memberikan jaminan ketenteraman batin kepada orang-orang beriman dengan menegaskan bahwa barangsiapa menggantungkan harapannya (bertawakkal) kepada Allah berarti ia telah menyerahkan dirinya kepada Yang Maha Perkasa. Adakah fihak lain yang sanggup mengalahkan Yang Maha Perkasa? Tentunya tidak ada…!!!
Di zaman modern (baca: di zaman penuh fitnah) dewasa ini tidak sedikit kita jumpai kaum muslimin yang sedemikian rupa telah terjebak ke dalam logika berfikir kaum kuffar yang Allah taqdirkan sedang mendominasi dunia pada skala global. Mereka kehilangan sikap tawakkal-nya kepada Allah sehingga keyakinan bahwa Islam merupakan solusi tunggal berbagai problema hidup telah digantikan dengan sikap tawakkal kepada faham bikinan manusia seperti Demokrasi, Nasionalisme, Humanisme dan bahkan Pluralisme. Memang sih, mereka masih tetap menyatakan bahwa Islam merupakan jalan keselamatan. Namun bersama dengan ucapan itu mereka merasa wajib untuk menyatakan bahwa berbagai faham bikinan manusia tersebut tidaklah bertentangan alias selaras dengan ajaran Allah Al-Islam.
Lalu mereka memandang aneh kelompok orang-orang beriman yang tetap bersikeras dengan sikap Islam is the only solution. Bila orang-orang beriman berjuang dan berda’wah dengan menyatakan bahwa hanya dengan kembali kepada Allah sajalah, kembali kepada Syariat Islam sajalah kita akan selamat apalagi diiringi dengan ajakan untuk meninggalkan berbagai faham bikinan manusia, maka hal ini oleh kelompok tadi akan dikatakan sebagai sikap ”tidak realistik”. Mereka akan segera berkata: ”Bagaimana mungkin kita berjuang tanpa demokrasi dan nasionalisme? Ini kan sudah menjadi pandangan umum masyarakat… Bagaimana perjuangan kita akan didukung masyarakat luas bilamana kita belum apa-apa sudah menolak faham umum yang sudah berlaku…?” Tidakkah mereka menyadari bahwa ketika pertama kali Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengajak kaum Quraisy kepada kalimat Tauhid Laa ilaha illa Allah mereka segera menunjukkan penentangan akan ajakan beliau tersebut? Sampai-sampai ada yang berkata: ”Hai Muhammad, urusan ini (kalimat Tauhid) sangat dibenci oleh para raja-raja…!”
Oleh karenanya Allah mengabadikan bagaimana para Rasul berjuang. Dalam perjuangan da’wah Islam para rasul samasekali tidak menggunakan bukti-bukti melainkan yang diridhai dan diizinkan Allah. Sedikitpun para Rasul tidak bertawakkal melainkan kepada Allah semata. Sebab mereka merasa berhutang budi kepada Allah yang telah menunjuki mereka ke jalan yang benar.
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى
مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا
وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا آَذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ
”Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal. Mengapa Kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri”. (QS Ibrahim ayat 11-12)
Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang hanya bertawakkal kepadaMu, orang-orang yang merasa cukup dengan Islam sebagai jalan hidup dan orang-orang yang merasa cukup menjadikan jalan perjuangan NabiMu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagai teladan utama. Amiin ya Rabb.
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai dien dan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagai Nabi.”
Langganan:
Postingan (Atom)