Laman

Sabtu, 19 Juli 2014

Madrasah Hadhramaut : Penyakit Hasad


Segala puji bagi Allah SWT dengan pujian yang dengannya kami dapat mewujudkan ikhlas yang sesuangguhnya dalam penghambaan dan yang dengannya kami menjadi bagian dari orang-orang yang hatinya terpenuhi oleh cahaya Allah SWT SWT, yang tidak ada lagi tersisa celah sedikit pun bagi syirik di saat-saat melakukan segala perbuatan.
Bila kami katakan bahwa kesombongan (al-kibr) adalah tanda atas kebodohan, riya’ (ar-riya’) adalah tanda atas kepandiran, sesungguhnya hasad adalah permusuhan (mu‘adah) terhadap Allah secara terang-terangan. Naudzu billah!!!
Segala puji milik Allah, Yang mensucikan hati orang-orang yang tulus dalam meraih kesucian, Yang menolong hamba-hamba-Nya di dalam mensucikan hati mereka di jalan ketulusan pencarian terhadap-Nya. Milik-Nya segala puji atas segala yang telah dikaruniakan-Nya, milik-Nya segala puji atas segala yang tengah dikaruniakan-Nya, dan milik-Nya segala puji hingga Allah ridha, dan milik-Nya segala puji setelah ridha.
Ya Allah, limpahkanlah karunia dan kesejahteraan senantiasa atas penghulu kami, Nabi Muhammad, pemilik hati yang paling suci di antara makhluk, dan atas ahli baytnya, shabat-shahabarnya, para tabi‘in, tabi’ut tabi‘in, dan para pengikut mereka, hingga hari Kiamat.
Pada pelajaran yang lalu telah dibahas ihwal menolehkan pandangan kepada hati dengan maksud untuk mensucikannya dari kotoran-kotoran, yang me­nempel padanya dari maksiat dan penyakit-penyakit hati.
Telah lalu penjelasan tentang bagaimana mengobati hati dari penyakit sombong (al-kibr), yang menjadi tanda dari kebodohan pelakunya, demikian pula ten­tang bagaimana mengobati kegelapan penyakit riya’, yang merupakan bentuk peremehan hati terhadap keagungan Allah SWT, dan penolehan hati, karena kebodohan, kepada cinta kedudukan di sisi manusia. Imam Al-Haddad berkata, “Riya’ adalah tanda kebodohan pelakunya. Mengapa?”
Beliau berkata, “Karena ia telah memalingkan ibadahnya kepada Allah kepada makhluk, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula memberikan madharat bagi dirinya.”
Selanjutnya kita akan membicarakan bagaimana melepaskan diri dari hasad, penyakit ketiga dari induk segala penyakit dan maksiat hati.
Bila kembali mengingat pelajaran yang lalu, kalian akan tahu bahwa sombong akan melahirkan penolehan pandangan kepada manusia, karena pada kondisi ini seseorang membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Ia memandang dirinya lebih mulia dan lebih utama dari orang lain. Pandangan ini muncul dari sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain, yang selanjutnya berkembang menjadi riya’, ingin dipandang oleh orang lain. Ia mencari dan menuntut pandangan orang lain kepada dirinya, menuntut orang lain memuliakannya dan mengagungkannya. Ia cinta terhadap kedudukan di antara manusia.
Keadaan semacam ini, bila terus tumbuh berkembang di dalam diri pelakunya, selanjutnya akan berubah menjadi penyakit yang ketiga, yakni hasad.
Hasad, yang merupakan maksiat di antara maksiat-maksiat hati, adalah perasaan berat dalam memandang nikmat atau karunia yang ada di sisi makhluk. Engkau merasa berat bila melihat orang lain memperoleh nikmat dari Allah SWT, baik nikmat duniawi maupun nikmat ukhrawi. Dari mana datangnya perasaan berat semacam ini? Perasaan itu datang karena engkau sibuk untuk meraih dan mendapatkan kedudukan di antara ma­nusia.
Apabila kedudukanmu di antara manusia adalah karena ilmu yang engkau miliki, engkau akan merasa berat bila memandang orang lain yang lebih alim dan berilmu dari dirimu, karena engkau takut orang-orang akan menolehkan pandangan mereka kepadanya, bukan kepada dirimu. Sehingga penyakit yang ada di dalam hatimu itu sampai kepada batas­an bahwa engkau merasa berat untuk melihat adanya nikmat yang Allah berikan kepada selain dirimu. Mengapa? Karena engkau tidak menginginkan orang-orang memandang kepada orang yang mendapat karunia itu. Engkau hanya ingin agar orang-orang memandang kepadamu.
Atau, apabila kedudukan yang engkau harapkan di antara manusia adalah dengan sebab kekayaan yang engkau miliki, atau kemampuan untuk meng-goal-kan proyek-proyek yang mendatangkan pundi-pundi kekayaan, engkau akan merasa berat bila di hadapanmu terdapat orang lain yang juga memiliki kemampuan seperti itu, karena engkau takut hal itu akan membuat pandangan orang-orang tertuju kepadanya, bukan kepada dirimu.
Pada ilmu, kedudukan, pangkat, jabatan, dan pada apa pun itu, penuhnya hati oleh kegelapan cinta terhadap kedudukan di sisi manusia akan melahirkan setelahnya penyakit yang ketiga ini, yakni hasad, perasaan berat melihat nikmat yang ada di sisi makhluk.
Bila kami katakan bahwa kesombongan (al-kibr) adalah tanda atas kebodohan, riya’ (ar-riya’) adalah tanda atas kepandiran, sesungguhnya hasad adalah permusuhan (mu‘adah) terhadap Allah secara terang-terangan. Naudzu billah!!!
Apakah seseorang dapat menerima bahwa dirinya menjadi musuh bagi Tuhan, Yang Maha Pemilik segala kemuliaan? Hasad adalah permusuhan terhadap Allah SWT secara terang-terangan, karena orang yang hasud seolah-olah ia menentang Allah SWT.
“Kenapa Engkau memberi si Fulan?”
Di saat engkau merasa berat untuk melihat adanya nikmat pada seseorang, seolah-olah engkau menentang terhadap Yang memberinya nikmat itu, Allah SWT. Inilah bahaya hasad. Engkau akan se­nantiasa hidup dengan kegelapan hati, yang hatimu merasa berat untuk melihat kebaikan di sisi manusia, dan menentang Allah SWT dalam memberikan karunia-Nya kepada sekalian makhluk-Nya.
Hasad memiliki beberapa macam. Pertama, hasad Iblis (al-hasad al-iblisiy). Yakni berharap hilangnya nikmat dari orang lain meskipun nikmat itu tidak di­harapkan menjadi miliknya.
Seseorang berharap hilangnya nikmat dari orang lain yang ada di hadapannya sekalipun nikmat itu tidak akan menjadi miliknya. Misalkan, seseorang sukses dalam meng-goal-kan suatu transaksi bisnis, engkau berharap agar orang itu mendapat kerugian, sekalipun dirimu tidak dapat melakukan suatu transaksi pun.
“Atasku dan atas musuh-musuhku,” seperti yang dikatakan orang-orang.
Ini hasad Iblis. Dia merasa berat melihat kedudukan yang tinggi dari Allah SWT berada pada ayah kita, Nabi Adam AS. Hasad semacam ini kemudian mem­bawa Iblis kepada menentang Tuhan, Yang Maha Pemilik segala kemuliaan, dengan menolak untuk ber­sujud kepada Nabi Adam AS. Setelah itu, sebagai ganti dari semestinya ia kembali dan bertaubat kepada Allah SWT serta menyesali kesalahannya, yang, bila saja dia bertaubat, niscaya Allah akan menghapuskan dosanya, karena sungguh Allah mahaluas karunia-Nya, kepada Allah justru Iblis mengancam Adam AS dan anak-cucunya. Iblis berkata, “Dia (iblis) berkata, ‘Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari Kiamat, niscaya be­nar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali se­bahagian kecil." (QS Al-Isra: 62).
Apakah perbuatan Iblis terhadap anak-cucu Adam akan mengembalikan kedudukannya? Apakah dengan itu Iblis akan mendapatkan kembali kedudukan yang telah hilang darinya? Tidak!! Sekali-kali tidak akan pernah kedudukannya itu kembali kepadanya. Disebabkan karena teramat gelap dan hitam pekatnya hasad yang ada di dalam hatinya, Iblis berpaling dari seharusnya memikirkan bagaimana mendapatkan ganti dari kerugian yang dialaminya, dan bagaimana meraih kembali kedudukan yang telah hilang dari dirinya, kepada bagaimana mendatangkan madharat terhadap orang lain yang mendapatkan karunia dan kedudukan dari Allah SWT dan bagaimana melenyapkan karunia yang diraih oleh selain dirinya.
Inilah yang terburuk dan paling hina dari macam-macam hasad.
Bila seseorang terhalang dari ketulusan dan kelapangan hati dan selamanya bersedih hati, niscaya dia tidak akan pernah merasakan nikmatnya ketaatan selama-lamanya. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya munajat kepada Allah SWT. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, karena dia berhadapan dengan Allah dengan sikap permusuhan terhadap-Nya.
Setelah menjelaskan hakikat hasad dan macam pertama dari macam-macam hasad, yakni hasad Iblis (al-hasad al-iblisiy), pengasuh melanjutkan penjelas­annya tentang macam-macam hasad selanjutnya dan bahaya darinya.
Kedua, harapan terhadap hilangnya nikmat dari orang lain agar nikmat itu beralih kepada dirinya. Seseorang berharap hilangnya nikmat dari orang lain yang berada di hadapanya dan dia berharap agar nikmat itu beralih kepada dirinya. Dia berharap, si Fulan merugi dalam usahanya, agar dirinyalah yang kemudian mendapat keuntungan yang besar. Dia berharap, si Fulan jatuh kedudukannya, agar dialah yang nantinya mendapatkan dan menggantikan kedudukannya.
Seseorang yang memiliki sifat hasad semacam ini berharap hilangnya nikmat dari orang lain agar dirinya yang mendapatkannya. Sifat semacam ini adalah sifat yang buruk dan sesuatu yang dapat me­ngotori hati — wal-‘iyadzu billah, semoga Allah menjauhkan kita dan kalian semua daripadanya. Akan tetapi sifat hasad yang kedua ini lebih rendah keburukannya dari yang sebelumnya.
Ketiga, harapan terhadap hilangnya nikmat dari orang lain agar dia mendapatkannya, namun, jika tidak mendapatkannya, dia tetap rela bila nikmat itu dimiliki orang lain.
Seseorang berharap hilangnya nikmat dari orang lain yang ada di hadapannya dan mengharapkan untuk mendapatkan nikmat itu. Akan tetapi jika tidak ada jalan untuk menggapainya agar menjadi miliknya, dia merelakan nikmat itu menjadi milik orang lain tersebut.
Jenis hasad semacam ini pun buruk, akan tetapi kadar keburukannya lebih ringan dari dua macam hasad sebelumnya.
Keempat, ghibthah. Sesuatu yang tidak dinilai buruk, tapi merasakan berat terhadap nikmat yang ada pada orang lain.
“Mengapa Fulan mendapatkan ini dan itu? Akan tetapi aku tidak berharap agar si Fulan rugi. Aku hanya berharap agar aku pun mendapatkan seperti yang didapatkan oleh si Fulan.”
Inilah ghibthah. Hasad seorang mukmin adalah ghibthah. Seorang mukmin tidak hasad kepada sesamanya, tetapi ia ghibthah.
Apa makna ghibthah kepada orang lain? Maknanya, ia berharap agar mendapatkan nikmat seperti yang didapatkan orang lain, tetapi tidak mengharapkan hilangnya nikmat itu dari orang lain.
Untuk macam yang keempat ini, tidaklah mengapa dimiliki seorang mukmin. Engkau melihat seseorang memiliki suatu kebajikan, misalkan ia telah hafal Al-Qur’an. Engkau merasa berat karena engkau belum hafal, maka engkau pun berharap agar segera dapat hafal Al-Qur’an, tapi engkau tidak merasa berat terhadap saudaramu yang telah lebih dahulu hafal Al-Qur’an. Perasaan berat itu selanjutnya memotivasimu untuk menghafal Al-Qur’an sehingga engkau mendapatkan apa yang ia dapatkan.
Engkau tidak berharap agar nikmat itu hilang dari saudaramu. Ini termasuk bab at-tanafus (saling berlomba). Allah SWT berfirman, "...dan untuk yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba." QS. Al-Muthaffifin: 26.
Ghibthah adalah sesuatu yang terpuji, karena ini kembali kepada sifat asal manusia, yakni harapan untuk menang, harapan untuk beridentitas, dan harapan untuk maju.
Bila datang ghibthah ke dalam hatimu, tidaklah mengapa. Yang bermasalah adalah pada tiga macam yang pertama, yakni seseorang berharap hilangnya nikmat dari orang lain.
Bahaya di Dunia
Adapun bahaya dan akibat yang ditimbulkan oleh sifat hasud sangatlah besar. Dan tidak hanya terbatas di dunia, tetapi juga di akhirat.
Mengenai bahaya dan akibat sifat hasud di dunia, pertama, orang yang hasud akan senantiasa berada dalam duka dan kesedihan.
Orang yang hasud selalu berada dalam duka selama hidupnya. Karena seseorang yang di hatinya terpenuhi oleh gelapnya sifat hasad tidak pernah suka melihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah SWT. Dia tidak pernah suka bila seseorang terlihat harmonis bersama keluarganya sehingga berusaha untuk menebarkan fitnah, tidak suka bila seseorang mendapatkan nikmat dari kebaikan dunia, tidak suka bila seseorang mendapatkan nikmat berupa ilmu atau kebaikan apa pun.
Selamanya, ketika melihat orang lain mendapat kebaikan, dia akan merasa berat karenanya, sehingga ia pun berharap agar nikmat itu hilang. Orang semacam ini hidupnya miskin. Dia dalam kesedihan sepanjang hidupnya karena karunia Allah tidak pernah terputus selamanya kepada makhluk-Nya. Maka, sepanjang dia melihat karunia dan nikmat Allah di sisi makhluk-Nya, sepanjang itu pula dia se­nantiasa berduka dan bersedih hati sampai akhir umurnya.
Bila saja tidak ada akibat buruk dikarenakan sifat hasad selain hal ini, niscaya cukuplah sebagai bukti dari buruknya sifat hasad. Yang satu ini adalah bah­wa orang yang hasud selamanya bersedih di dunia.
Kedua, orang yang hasud tidak memiliki kawan. Karena hubungannya dengan manusia lainnya sebatas fatamorgana. Orang yang hasud, sekalipun seolah-olah mencurahkan cinta kepada sesama, pasti akan datang saat-saat ketika tampak darinya sikap dan perilaku yang menunjukkan bahwa dia seorang yang hasud terhadap sesamanya sehingga orang-orang pun akan menjauh darinya. Orang yang hasud tidak memiliki kawan. Dia akan hidup terkucilkan sekalipun dia berusaha untuk menutupinya.
Ketiga, orang yang hasud terhalang dari nikmat ketulusan dan kelapangan hati. Ini berlaku di dunia sebelum akhirat. Orang yang hasud tidak akan merasakan makna ketulusan dalam hubungannya de­ngan makhluk lainnya. Setiap kali melihat seseorang mendapatkan sesuatu dari nikmat yang Allah berikan, hatinya merasa berat karenanya. Dia pun gundah dan susah karenanya, di saat orang yang menyambut gembira terhadap datangnya kebaikan pada orang lain merasakan makna ketulusan, karena hubungan yang dibangun bersama sesamanya adalah hubungan yang didasarkan atas cinta terhadap kebaikan bagi sesamanya. Keempat, seorang yang hasud tidak akan mungkin menjadi dai yang meng­ajak kepada jalan menuju Allah SWT. Orang yang hasud tidak akan mungkin mengabdi kepada Islam. Meskipun berusaha untuk melakukan perbuatan yang menggambarkan khidmah terhadap Islam, dia tidak akan dapat menjadi sebab dalam menyampaikan kebajikan kepada segenap makhluk. Karena dasar dalam berdakwah kepada Allah adalah bahwa engkau menyampaikan cahaya iman kepada orang lain. Apa maknanya? Maknanya, engkau me­nyampaikan kebaikan kepada mereka. Apa makna menyampaikan kebaikan kepada mereka? Maknanya, engkau menjadi sebab bagi kebahagiaan mereka. Dan jika di dalam hati terdapat hasad, niscaya akan terasa berat terhadap adanya kebaikan di sisi makhluk. Lalu bagaimana engkau dapat menjadi sebab dalam menyampaikan kebaikan kepada mereka? Syaikh Muhammad As-Sinqithi men­ceritakan satu kisah nyata yang lucu tapi juga ironis. Beliau menceritakan bahwa seorang nonmuslim nonpribumi tinggal di kota Damaskus. Bertahun-tahun lamanya ia berjualan minyak tanah. Setelah lebih dari dua puluh tahun berada di Damaskus, ia merasa saatnya kembali ke negerinya. Lalu ia pun mendatangi seseorang yang terlihat ahli ibadah. Ia datang kepada orang itu dan berkata, “Wahai Tuan, sekarang ini usiaku 60 tahun. Selama aku tinggal di negeri kalian, negeri Islam, aku telah tertarik kepada Islam. Apakah, jika aku masuk ke dalam Islam, Allah akan mengampuniku atas segala yang telah aku perbuat selama ini?”
Orang itu berkata kepadanya, “Enam puluh tahun engkau bergelimang dalam kemaksiatan, dosa, dan berbagai kenistaan... lalu begitu saja ingin lepas dari semua itu dan engkau ingin masuk ke dalam surga? Sulit... hal itu tidak akan mungkin... tidak ada jalan keselamatan bagimu!”
Sampai di situ selesailah permasalahannya, dan orang itu pun mempercayainya. Ia pun kembali ke rumahnya dalam keadaan bersedih dan diliputi duka.
Namun, setelah enam bulan berlalu, hasrat dan keinginan yang kuat di dalam hatinya untuk menetapi jalan kebaikan membawanya untuk datang kepada Syaikh Muhammad As-Sinqithi, yang menceritakan kisah itu.
Nonmuslim itu berkata kepada Syaikh Sinqithi, “Apakah mungkin aku masuk Islam?”
“Baiklah, sekarang ucapkan dua kalimah syahadat!”
“Apakah engkau yakin bahwa itu mungkin untukku?”
“Engkau rela Islam sebagai agamamu dan yakin terhadapnya?”
“Ya”
“Sekarang, ucapkanlah dua kalimah syahadat dan jangan ragu.”
Nonmuslim itu pun bersyahadat dan menangis setelahnya.
Syaikh Sinqithi pun bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
“Aku pergi kepada seorang syaikh sebelum ini, atau seorang yang rupanya seperti seorang syaikh, tapi ia berkata kepadaku, ‘Tidak mungkin ada jalan selamat untukmu...’.” “Siapa dia?”
“Si Fulan di daerah anu...”
Syaikh Sinqithi pun mengunjungi orang yang ditunjukkan oleh nonmuslim tadi.
Setelah bertemu, ia bertanya kepadanya, “Apakah benar beberapa bulan yang lalu ada seorang kelana yang datang kepadamu dan menyatakan bahwa ia hendak masuk Islam lalu engkau katakan kepadanya, ‘Sudahlah, tak ada gunanya... engkau sudah 60 tahun....’
Orang itu menjawab, “Benar.”
“Bagaimana mungkin engkau melakukan hal seperti itu?”
“Allah adalah Tempat meminta pertolongan. Orang ini sudah 60 tahun menghabiskan umurnya dalam keharaman, bersenang-senang dengan perempuan dan segala yang dia inginkan dari dunia, lalu nanti dia akan masuk surga bersama kita?! Ini musykil... Dia akan masuk surga bersama kita?!”
Hikmah dari kisah ini, di dalam kisah ini terdapat tiga masalah, akan tetapi semuanya kembali kepada satu masalah, yakni hasad.
Masalah pertama, dia (“ahli ibadah” itu) tidak menginginkan adanya nikmat bagi orang lain.
Masalah kedua, dia meyakini bahwa dirinya masuk surga. Ini adalah musibah yang kedua. Ujub telah mewariskan kesombongan di dalam hatinya (...dia masuk surga bersama kita?!).
Apakah engkau dapat menjamin bahwa engkau pasti masuk surga?
Masalah yang ketiga adalah sesuatu yang paling dalam. Sesungguhnya dia merasa dirinya rugi bahwa dirinya terhalang dari maksiat. “Bagaimana mungkin orang ini tenggelam dalam maksiat sedangkan aku tidak?” Karenanya dia marah, mengapa orang lain melakukan maksiat sedangkan dirinya tidak.
Mengapa hal ini dapat terjadi? Tidak lain sebabnya adalah hasad.
Kelima, orang yang hasud terhalang dari nikmat ketaatan kepada Allah SWT.
Bila seseorang terhalang dari ketulusan dan kelapangan hati dan selamanya bersedih hati, niscaya dia tidak akan pernah merasakan nikmatnya ketaatan selama-lamanya. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya munajat kepada Allah SWT. Tidak akan mungkin orang yang hasud merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, karena ia berhadapan dengan Allah dengan sikap permusuhan terhadap-Nya. “Wahai Tuhanku, kenapa Engkau memberi ini dan itu kepada Fulan dan Fulan?!”
Orang yang hasud menghadapi Allah dengan apa-apa yang tidak disukai-Nya ada di dalam hati hamba-hamba-Nya yang datang kepada-Nya. Ini semua adalah akibat dan bahayanya sifat hasud.
Di akhirat, hasad akan menghanguskan segala kebajikan. Hasad adalah sebab datangnya murka Allah SWT. Hasad adalah sebab tertolaknya seseorang dari rahmat Allah SWT. Tidakkah engkau ketahui bahwa hasad adalah sebab dari terusirnya Iblis?
Setelah pengasuh menjelaskan bahayanya penyakit hasad di dunia, selanjutnya pengasuh menjelaskan ba­haya hasad kelak setelah pelakunya menjumpai Allah SWT di akhirat.
Di akhirat, hasad akan menghanguskan segala kebajikan. Hasad adalah sebab datangnya murka Allah SWT. Hasad adalah sebab tertolaknya seseorang dari rahmat Allah SWT. Tidakkah engkau ketahui bahwa hasad adalah sebab dari terusirnya Iblis? Itulah sebabnya, orang yang hasud akan terusir dari rahmat Allah SWT.
Hasad juga adalah sebab masuknya pelakunya ke dalam neraka. Hasad akan menjadi permulaan hilangnya iman seseorang bila pelakunya tidak menyadarinya – wal ‘iyadzu billah. Bagaimana hasad dapat menjadi sebab tercerabutnya iman dari pelakunya? Karena orang yang hasud senantiasa me­­nentang dan menentang Allah SWT. “Ya Rabb, mengapa Engkau karuniakan kepada Fulan?!” “Mengapa Engkau mudahkan fulan?!” “Mengapa?!” “Mengapa?!!!”
Terhadap Tuhannya, ia menyimpan rasa dalam benaknya, “Ya Rabb, sungguh aku tidak rela dengan apa yang Engkau putuskan!” Kondisi ini bila berke­lanjutan di dalam dirinya, lalu apakah yang tersisa dari imannya? Imannya akan hilang dan tercerabut dari asalnya.
Wahai murid, peniti jalan menuju Allah SWT, masuklah ke dalam hatimu dan periksalah. Terkadang hasad tersembunyi pada nafsu di dalam hati. Berapa kali engkau merasa bahwa dirimu marah terhadap seseorang melampaui batas dalam ucapan yang engkau lontarkan kepadanya hanya karena hal sepele yang tidak perlu berkata keras dan tidak pula berteriak karenanya.
Periksalah, mungkin di dalam hatimu engkau merasakan sesuatu yang berat dari orang yang engkau marahi itu? Engkau hasad terhadapnya pada satu hal sehingga muncul masalah paling kecil namun membuatmu berdiri dan melontarkan kata-kata yang tidak patut kepadanya.
Para ulama hati mengatakan, “Paling buruknya macam-macam hasad adalah hasadnya para ulama, para penuntut ilmu, para dai, dan para salikin, peniti jalan menuju Allah SWT. Mengapa demikian? Karena, semestinya merekalah yang mempergunakan bekal pensucian hati.”
Apabila seorang penuntut ilmu, misalnya, hasad terhadap penuntut ilmu lainnya, niscaya ia akan menanti-nanti kapan penuntut ilmu yang dihasadinya itu melakukan suatu kesalahan. Dan bila ia telah melakukan kesalahan, dia akan menyerangnya dengan serangan yang dahsyat terhadapnya. Karena serangan yang dilakukan itu sesungguhnya bukanlah di­tujukan terhadap kesalahan yang ringan itu sendiri, melainkan untuk membinasakan semua yang datang dan berasal dari sisi penuntut ilmu, orang alim, dai, atau salik, yang dihasadinya itu.
Mengapa demikian? Karena permasalahan yang sesungguhnya adalah permasalahan hasad, bukan permasalahan kritik terhadap kesalahan. Demikian pula halnya dalam perdagangan, jual-beli, dan perniagaan. “Tidak, tidak, tidakk!!.... Aku tidak mungkin percaya kepada si Fulan selama-lamanya!” Mengapa? Pada hari ketika engkau menurunkan barang dagangan ke pasar, orang-orang tidak menemukan masalah apa pun dari si Fulan dalam perniagaannya? Apakah ada kemunngkinan tidak sa­darnya mereka terhadap masalah si Fulan itu karena lupa? Sesungguhnya yang menyebabkan datangnya kemungkinan, mengapa engkau langsung meng­anggapnya tidak amanah atau keji dalam perniagaannya, adalah karena engkau dan si Fulan berada pada satu profesi sebagai pedagang. Bila persaingan telah berlangsung, hasad pun muncul dan datang.
Bila ada seorang petani dan ada petani lain selain dalam satu usaha agrobisnis, misalnya, lalu petani yang kedua melakukan kesalahan dalam salah satu prosedur bercocok tanam yang semestinya hingga memberi pengaruh terhadap panen yang dihasilkan, petani yang pertama akan berkata, “Tidak, jangan kalian percaya kepada si Fulan untuk melakukan tugas-tugas ini dan itu, dia telah melakukan ini dan itu....”
Siapa yang melakukan kecaman dan serangan terhadap petani itu? Yang melakukannya tidak lain adalah petani sepertinya, pada profesi yang sama. Mengapa? Karena petani tersebut merasa berat untuk melihat petani lainnya lebih unggul dan lebih sukses darinya.
Bagaimana mengobati hasad?
Pertama, benci terhadap sifat hasad itu sendiri. Engkau benci sifat ini berada pada dirimu. Akui bahwa sifat hasad ada dalam dirimu dan engkau membenci keberadaanya di dalam dirimu. Biarkan Allah melihat hatimu dan mendapati kebencianmu terhadap hasad di dalamnya. Kebencianmu untuk hasad terhadap orang lain.
Kedua, mendoakan orang yang engkau merasa berat melihat adanya karunia padanya.
Engkau melihat seseorang yang Allah berikan karunia kepadanya berupa nikmat lahir atau bathin lalu hatimu merasa berat melihat nikmat itu ada padanya, maka ucapkanlah, “Ya Allah, tambahkan­lah nikmat-Mu baginya dan berikan keberkahan untuknya di dalamnya.... Ya, Allah, berikan taufiq untuknya agar dapat mempergunakan karunia-Mu dengan sebaik-baiknya.... Ya Allah, bahagiakanlah dia dengan karunia-Mu di dunia dan akhirat.... Ya Allah, muliakanlah dia dan muliakan dzuriyahnya dengan tambahan karunia dari sisi-Mu....”
Sebagian ulama berkata, “Ya Rabbi, Engkau perintahkan aku untuk mendoakan sedangkan hatiku tiada rela. Mungkin lidahku dapat berkata-kata, tapi hatiku sesungguhnya tak menghendakinya. Aku tertawa dan mengkhianati Tuhanku. Aku tiada mampu melakukannya. Aku berkata ‘Ya Rabbi, tambahkan karuniamu kepadanya’ sedang hatiku berkata ‘Jangan pernah Engkau tambahkan baginya’.”
Meskipun hal seperti ini terjadi padamu, tetap lakukanlah. Jika engkau ucapkan ‘Ya Rabb, tambahkanlah karunia-Mu untuknya’ dan hatimu berkata ‘Jangan, ya Rabb. Jangan pernah Engkau tambahkan karunia-Mu untuknya’, ucapkanlah, ‘Ya Rabb, aku berlepas diri dari apa yang ada di hati ini kepada-Mu. Dan yang lidahku mampu untuk mengucapkannya, tolonglah aku atas apa yang aku tiada kuasa terhadapnya (untuk menggerakkan hatiku sebagaimana aku mampu menggerakkan lisanku untuk mendoakan kebaikan). Aku ber-tawajjuh (menghadapkan diri dan jiwa) kepada-Mu pada apa-apa yang membuat-Mu ridha dengan apa-apa yang aku mampu melakukannya, maka tolonglah aku pada apa-apa yang aku tiada mampu memperbuatnya.’ Semoga Allah memuliakanmu.
Ini adalah termasuk obat yang mujarab untuk mengobati hasad yang ada di dalam hati. Engkau mendoakan orang yang engkau merasa berat melihat nikmat berada di sisinya, dan memohonkan untuknya agar Allah SWT menambahkan karunia yang sudah diberikan dengan karunia yang lebih besar lagi.
Bila justru engkau kukuhkan kedudukannya itu di sisi manusia, sesungguhnya engkau telah menghinakan nafsumu dengan segala apa yang dapat menghinakannya. Dengan demikian, engkau telah membunuh permasalahan yang sesungguhnya dari dalam dirimu dan engkau membasminya sampai ke akar-akarnya. Beberapa waktu yang lalu, pengasuh menjelaskan bahayanya penyakit hasad di akhirat dan sebagian penjelasan tentang bagaimana mengo­bati penyakit hasad. Selanjutnya pengasuh melanjutkan ihwal bagaimana mengobati hati dari penyakit hasad, sebagai pelajaran terakhir dari pelajaran kesebelas, tentang penyakit hasad.
Cara yang ketiga untuk mengobati penyakit hasad adalah menceritakan orang yang engkau hasadi di saat ketidakhadirannya dengan pujian.
Engkau ceritakan orang yang engkau merasa berat melihat karunia Allah berada di sisinya dengan pujian. Ceritakan orang yang engkau hasadi di saat ketidakhadirannya dengan pujian terhadap kebaikan-kebaikan yang dimilikinya kepada orang-orang lain. Adapun jika di hadapannya engkau puji sedangkan di belakangnya engkau cela, yang demikian itu adalah kemunafikan dan mencari muka.
Pujilah di saat ketidakhadirannya kepada orang-orang dengan pujian yang baik dan kukuhkan buah dari kebaikan-kebaikannya itu di hati manusia.
Tahukah engkau, di mana wujud pengobatan terhadap hasad dari perbuatan ini?
Ini adalah paling idealnya pengobatan langsung terhadap masalah hasad pada nafsu. Mengapa engkau hasad? Engkau ingin bersenang-senang? Eng­kau menginginkan kedudukan di sisi manusia? Engkau ingin bersenang-senang dengan kedudukan? Bila engkau memuji kemampuan dan keahlian orang yang bersaing denganmu dalam ilmu, perdagangan, industri, teknik, atau bidang apa pun itu, di saat ketiadakhadirannya dan menceritakannya kepada orang-orang lain, apa yang sesungguhnya engkau lakukan di sini? Engkau tengah menguatkan dan meneguhkan kedudukan yang akan menjadi milik orang yang engkau hasadi itu di hati manusia dengan sebab karunia yang telah Allah berikan kepadanya.
Bila demikian halnya, apa yang sedang engkau lakukan? Sesungguhnya engkau tengah membasmi penyakit yang ada dalam hatimu dari asalnya.
Mengapa engkau merasa berat melihat nikmat pada seseorang, mengapa engkau hasad terhadapnya? Karena engkau melihat bahwa nikmat itu akan menjadi sebab bertambahnya kedudukan orang itu, yang akan menyaingi kedudukanmu di sisi manusia. Dan bila justru engkau kukuhkan kedudukannya itu di sisi manusia, sesungguhnya engkau telah menghinakan nafsumu dengan segala apa yang dapat menghinakannya. Dengan demikian, engkau telah membunuh permasalahan yang sesungguhnya dari dalam dirimu dan engkau membasminya sampai ke akar-akarnya.
“Siapa yang dapat melakukan itu?! Ini teramat berat!!”
Apakah engkau ingin dekat dengan Allah? Apakah engkau ingin menjadi seorang peniti jalan menuju Allah SWT? Tentu tidak akan pernah mudah untuk berdiri dan berada di tempat orang-orang yang meniti jalan menuju Allah.
Untuk pertama kali, engkau akan keluar dari majelis ini dengan semangat yang berkobar-kobar setelah mendengarkan penjelasan ini.
“Ya Allah, aku merasa berat terhadap nikmat-Mu yang ada di sisi Fulan. Ya Allah, tambahkanlah karunia-Mu untuknya dan berkahilah dia padanya....”
Esok hari, engkau duduk bersama kawan-kawanmu, katakanlah, “Masya Allah, Fulan luar biasa. Aku yakin, keahlian yang luar biasa di bidang ini akan memberikan manfaat dan mendatangkan kebaikan yang besar. Dan aku akan menyambut gembira atas keberhasilannya.”
Sampai batas ini, mungkin masih mudah bagi hati untuk menerimannya. Akan tetapi, setelah dua atau tiga hari, dan orang-orang mulai menceritakan dan memuji-muji orang yang engkau puji dan ceritakan itu di hadapan mereka, mulai nafsumu menjadi terasa sempit mendengarnya. Mereka memujinya lagi, lagi, dan lagi, dan engkau katakan, “Benar, benar demikianlah dia adanya!” Namun, sekali lagi, dengan marah engkau berkata, “Kami tahu bahwa dia istimewa!!”
Mengapa itu bisa terjadi? Karena dengan sebab semakin banyaknya orang-orang memuji dan menceritakan kebaikan orang itu, urat lehermu terasa semakin sempit dan mencekik.
Makna dari penjelasan ini adalah bahwa ini semua adalah proses yang panjang, karena di sini engkau tengah melawan nafsumu pada apa-apa yang di­sukainya. Engkau tengah membasmi penyakit ini dari dalam hatimu dari dasar hati, yakni mengobati penyakit hasad.
Keempat, memikirkan bagaimana membantu orang yang engkau hasad terhadapnya. Engkau merasa berat melihat nikmat yang telah Allah berikan kepada sesorang. Bila engkau dapat membantu orang itu pada nikmat yang ada padanya, ini pun akan dapat mengobati penyakit hasad yang ada di dalam hatimu lebih dahsyat dan lebih hebat lagi. Bila ini dapat engkau lakukan, niscaya Allah akan memandang hatimu. Inilah yang diharapkan dan buah darinya.
Apabila Allah memandang hatimu dan melihat bahwa engkau berinteraksi dengan-Nya dengan interaksi seperti demikian itu, niscaya Allah akan bertajalli atas dirimu dengan nur-Nya. Dan bila Allah telah bertajalli atas dirimu dengan nur-Nya, Allah akan memberimu kesucian yang engkau tidak upayakan sebelumnya. Dengan sebab itu hatimu akan membuat manusia menjadi tenteram dan hatimu akan menjadi sebab turunnya kebaikan bagi manusia dari sisi Allah SWT, selanjutnya engkau akan merasa rindu untuk melihat adanya nikmat dan karunia bagi manusia lainnya. Mengapa? Karena engkau melihat tajalliyat (pancaran-pancaran kemaha­kuasaan yang berupa rahmat dan kasih sayang) Yang Maha Pemberi nikmat, Allah SWT....
Wahai murid, pahamilah makna ini dan sadarilah. Apabila engkau obati jiwamu dengan apa yang telah kami sebutkan dalam pelajaran ini dan dengan apa-apa yang telah diuraikan oleh para ulama tentang mengobati hati, engkau akan melihat adanya pancaran sinar di dalam hatimu. Apa pancaran sinar itu? Yakni nur dan cahaya kebahagiaan dengan melihat nikmat yang diberikan oleh Yang Maha Pemberi karunia terhadap makhluk-Nya yang lain.
Makna dari ini adalah bahwa engkau menyaksikan tajalliyat Allah SWT. Engkau melihat seseorang yang dikaruniai nikmat oleh Allah SWT.
Apa yang engkau saksikan? Gambaran yang engkau saksikan adalah seorang manusia dan nikmat yang da­tang kepadanya, adapun hakikatnya sesungguhnya engkau menyaksikan tajalli Allah SWT dengan asma-Nya Al-Mun‘im (Yang Maha Pemberi nikmat) atas hamba-Nya. Maka engkau telah berpindah dari ke­gelapan hasad kepada nur penyaksian terhadap tajalli Allah SWT dengan asma-Nya Al-Mun‘im. Kemudian tajalli Allah dengan asma-Nya Al-Mun‘im ini membuat hatimu terpenuhi dengan nur asma Allah Al-Mun‘im.
Bila hatimu telah terpenuhi dengan tajalli Allah dengan asma-Nya Al-Mun‘im, engkau pun akan bertajalli atas dirimu sendiri denga asma-Nya al-Mun‘im. Maka pada saat itu Allah bertajalli atasmu dengan nikmat wushul (sampai) kepada-Nya, yang untuk sampai kepada yang demikian itulah aku meniti jalan ini, menguraikan penjelasan ini, dan menghadiri majelis ilmu untuk menyampaikan pelajaran ini.
Setelah kita membicarakan, pada tiga pelajaran yang lalu, perihal induk dari segala penyakit hati, apakah masih tersisa sesuatu dari al-kibr (kesombongan) da­lam dirimu yang belum engkau benci. Benar, kita butuh waktu untuk melakukan mujahadah agar kita terlepas darinya dan memohon perlindungan Allah darinya. Dari riya’ (menolehkan padangan kepada kedudukan di sisi manusia), dan dari hasad (merasa berat melihat nikmat pada seseorang). Kita akan berupaya untuk melepaskan diri dari penyakit-penyakit itu.
Setelah pelajaran ini, tugas telah menunggu di hadapanmu yang harus engkau kerjakan. Yakni melepaskan diri dari penyakit al-kibr dengan merenungkan keadaanmu dan segala kekuranganmu. Kita melepaskan diri dari al-kibr dengan mendahului orang lain untuk mengucapkan salam kepadanya, bersih-bersih rumah, membersihkan kamar mandi masjid, dan lain-lain.
Kita melepaskan diri dari riya’ dengan merasakan keagungan Allah SWT sampai kita tidak mencari dan merindukan kedudukan di sisi makhluk, membenci lin­tasan riya’ yang datang, dan memperbanyak dzikir La ilaha illallah.
Dan kita melepaskan diri dari hasad dengan membencinya dan mengakui adanya hasad di dalam hati kita, mendoakan orang yang mendapatkan nikmat di hadapan kita, mengakui adanya perasaan berat di dalam hati kita di saat melihat orang lain mendapatkan nikmat, memuji mereka di belakang mereka, dan dengan membantu orang itu pada nik­mat yang ada padanya agar semakin bertambah kebaikan padanya.
Dari tiga penyakit atau tiga maksiat ini bercabang darinya berbagai macam penyakit di dalam hati, karena penyakit-penyakit hati teramat banyak jenis dan bentuknya – wal ‘iyadzu billah. Akan tetapi barang siapa perhatiannya tercurah untuk mensucikan hatinya dari tiga penyakit ini, berarti ia mengobati hatinya dari penyakit-penyakit yang lainnya, yang bercabang dari ketiganya. Karena seolah ia mengobati sumber penyakitnya.
Apabila engkau peduli dengan semua itu dan rela terhadap berlalunya hari demi hari, waktu demi waktu, kesungguhan, pikiran, segenap upaya, agar engkau terlepas dari ketiga induk penyakit itu, niscaya nur-nur kesucian akan memancar dan ber­kemilau di dalam hatimu.
Kita memohon kepada Allah SWT, semoga Dia mengaruniai kita kesempurnaan kesucian lahir dan bathin. Ya Bathin, ya Zhahir... sucikanlah lahir dan bathin kami, dan jadikanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih. Ya Allah, selamatkanlah kami dari kegelapan hasad. Ya Allah, karuniakanlah di dalam hati kami cinta terhadap kebaikan bagi hamba-hamba-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang paling bermanfaat bagi makhluk-Mu yang lain dan paling dekat kepada-Mu...

IQRO" DENGAN KALBU


Pardi berkeringat basah pagi itu. Nafasnya ngos – ngosan, seperti baru dikejar raja babi hutan.
“Olahraga kok dipaksa, Di. Kalau ngga kuat istirahat dulu . Jangan langsung lari tiga kilo.. “ sindir Dulkamdi
“Olahraga gundhulmu itu, “ jawab Pardi ketus.
“Terus?”
“ Saya ini cepat –cepat lari kemari, khawatir telat ketemu orang – orang disini, terutama pada Kang Soleh, sebab kabarnya ia mau pergi ke Jakarta “
“Ada apa sih?”
Sambil meredakan nafasnya, Pardi menjawab,
“Semalam saya menghadiri diskusi dikota , Dul. Narasumbernya dari Jakarta dan Surabaya. Ada Penanya yang cukup mengagetkan . dan lebih kaget lagi , narasumbernya tidak tahu jawabannya. “
“Memangnya bertanya apa, Di. Kan biasa dalam diskusi, kalau tidak bisa jawab, ya sudah, kalau berbeda pendapat , ya wajar..”
“ Orang itu menanyakan , kapan thariqat itu dimulai di zaman Rasul? Kapan pula Tasawuf dikembangkan? Nah, saya ikut manggut – manggut saja , ingin mendengarkan bagaimana jawabannnya, soalnya saya juga ngga mengerti, kapan ya thariqat sufi dimaulai di zaman Rasul. Kalau bentuk – bentuk alamiahnya, kita tahu, Dul. Kan banyak di buku – buku . Rupanya pertanyaan ini tidak ada dalam kitab maupun buku, Dul”
“ Bener juga kamu Di. Saya juga baru mendengarnya, Di..”
Rupanya hadirin di kedai Cak San menunggu seseorang , sebab mereka juga tidak tahu, kapan sufi di mulai di zaman Rasul?
“ Nah ini biangnya Kang, saya ngga mau basa – basi. Kapan sih dunia Thariqat sufi dimulai di zaman Nabi Muhammad S.A.W ?” Tanya Pardi tiba – tiba pada Kang Soleh
“ Untuk apa kamu tanyakan itu” sahut Kang Soleh
“ Pokoknya buat kita – kita pentinglah , Kang “
“ Kalau saya beri tahu, biar kamu nanti bisa berdebat begitu?”
“ Bukan begitu Kang . Kita – kita ini juga tidak tahu Kang, kata Dulkamdi juga tidak ada di kitab kuning..”
“ Memang Di, di kitab kuning tidak ada, apalagi kitab putih . Sebenarnya , kalau kita telusuri lebih dalam lagi juga ada. Hanya saja, perlu dijelaskan dengan pandangan – pandangan yang lebih tegas lagi.”
“Betul Kang..” jawab mereka kompak
“ Begini, Singkat saja ya.. Sejak Nabiyullah dan Rasulullah diangkat menjadi Nabi dan Rasul, sejak saat itu beliau adalah Nabi yang Sufi dan RAsul yang Sufi. Nubuwah dan Risalah Islam tentu secara keseluruhan mengandung dimensi sufistik semuanya. Kecuali mereka yang hanya melihat Islam dari bentuk dan kulitnya saja, akan menolak semua ini. Singkatnya, sejak Rasulullah menerima wahyu pertama kali di Gua Hira’ , saat itulah secara deklaratif misi sufi menjadi substansi wahyu itu sendiri. Rasulullah merasa tidak bisa membaca. Sebab yang bisa hanyalah Allah. Namun ketika Jibril meneruskan “ Bacalah, dengan nama Tuhanmu.. dst” Rasulullah langsung membacanya.
Maksudnya, Jibril meminta membaca dengan dan bersama Tuhan. Nama Tuhan itu adalah Allah. Allah hanyalah sebuah nama bagi Tuhan. Maka Nabi pun membacanya dengan kalbunya, lalu bergemuruhlah dada Nabi dengan sebutan Allah… Allah.. Allah hingga bertahun – tahun, sampai mengalami istighraq atau jadzab , atau tenggalam dalam lautan Illahi, hingga tubuhnya menggigil. Dzikrullah , sebagai elemen utama Sufi dimulai dalam gua itu, Nah, jelas, kan?” Kata Kang Soleh mengakhiri penjelasannya.
Mereka mendengarkan dengan penuh penyimakan dan persunyian. Rasulullah menyatukan dirinya denga Asma Allah itu dalam hatinya. Artinya Rasulullah membaca dengan kalbunya. Bacaan kalbu beda dengan bacaan lisan. Bacaan kalbu adalah hasrat dan seluruh fakta kebenaran ideal yang terus bergelora.

CINTAN SANG NABI SAW YANG TERAMAT SANGAT TERHADAP UMMATNYA

CINTAN SANG NABI SAW YANG TERAMAT SANGAT TERHADAP UMMATNYA
-Bacaan yang dapat menggetarkan Sanubarimu untuk semakin cinta kepada Rasulullah SAW-
Dari Al Habib Munzir Al Musawa, ia pernah berkata :
"Rasulullah SAW adalah idolaku dan idola kalian, kekasihku dan kekasih kita semua sungguh beruntunglah orang yang mencintai Beliau SAW, sebagaiamana Sabda Beliau SAW : “Seseorang bersama orang yang dicintai. “

Demikian Riwayat Shahih Bukhari. Dan Saudara/i ku , hadits ini memanggil semua jiwa baik ia seorang shalih ataupun pendosa besar untuk mau tidaknya mereka bersama Sayyidina Muhammad SAW, maukah kita bersama Rasulullah SAW? Hadits ini telah membuka gerbang luas agar kita bersama Muhamamad Rasulullah SAW. Cintailah Nabi kita Muhammad Rasulullah SAW.
Saudara/I ku yang di Muliakan ALLAH Azza Wa Jalla. Sungguh manusa yang paling sempurna, manusia yang paling indah untuk dipanut dan Beliau SAW sangat ramah bahkan kepada para orang-orang yang tidak beriman kepada ALLAH , dan sangat menyayangi ummatnya yang pendosa agar mau kembali kepada Pintu kasih Sayang ALLAH , dan amat lembut kepada ummatnya yang beriman dan semakin lembut karena tidak ada Manusia yang lebih lembut dari Sayyidina Muhammad SAW.
Berkata Abu Hurairah R.a ketika sedang duduk memandang Wajah Sang Nabi SAW seraya berkata : “Ya Rasulullah… jika kami memandang wajahmu terangkat jiwa kami Kekhusyuan. “
Saudara/I ku yang di Muliakan ALLAH, Rasulullah Saw bersabda , diriwayatkan oleh Imam Buhkari dalam kitabnya Adabul Mufrad : “Maukah kalian ku beritau orang-orang yang mulia diantara kalian? Orang yang jika kalian lihat wajahnya, membuat kalian ingat kepada ALLAH dan berdzikir kepada ALLAH. “
Merekalah para Shalihin, jika para Shalihin saja ketika kita lihat wajahnya membuat kita ingat kepada ALLAH , lebih-lebih jika kita melihat Wajah pemimpin para Shalihin yaitu Sayyidina Muhammad SAW.
Berkata Anas bin Malik R.a didalam Sahih Bukhari : “Belum pernah kami melihat Wajah yang lebih menakjubkan dari wajah Sayyidina Muhammad SAW. “
Demikianlah Perkataan Anas bin Malik, maka kita memahami bahwa tidak ada wajah yang lebih patut dicintai dari wajah Sayyidina Muhammad SAW, yaitu wajah yang ketika para Sahabat R.a melihat Wajah beliau SAW semakin bertambah khusyulah mereka karena memandang Sayyidina Muhammad SAW.
Beliau SAW adalah Makhluk ciptaan ALLAH yang memang ALLAH ciptakan sebagai Makhluk yang paling berkasih Sayang dari semua ciptaan-Nya , sebagai mana firman-Nya : “Sungguh engkau (Nabi SAW) berada pada akhlak yang Agung“ (Q.S Al Qalam : 4)
Juga ALLAH Azza Wa Jalla berfirman bahwa Rasulullah SAW ada “SIRAJAN MUNIRA / Pelita yang terang benderang. “.
Demikian bukti cinta ALLAH kepada para hamba-hamba Nya , memang di dunia ini kita tidak dapat melihat ALLAH, tidak dapat melihat secara langsung bagaimana kasih sayang-Nya ALLAH, tidak dapat melihat secara langsung bagaimana lembut-Nya SWT. Namun ALLAH tidak mau mengecewakan para hamba-hamba Nya maka Dia SWT menciptakan Sayyidina Muhammad SAW untuk membuktikan bahwa ALLAH Maha berkasih Sayang , dan bahwa ALLAH Maha berlemah lembut.
Dengan menciptakan Sayyidina Muhammad SAW , seakan-akan ALLAH melihatkan kasih sayang-Nya, melihatkan kelembutan-Nya kepada seluruh hamba-hamba Nya, namun kalian patut memahami bahwa Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang berlemah lembut dan berkasih sayang , dan jangan kalian mengira bahwa Nabi Muhammad SAW sama dengan ALLAH AZZA WA JALLA , namun kalian harus memahami bahwa ketika kalian melihat Sirah atau sejarah kehidupan Nabi SAW yang sangat berlemah kembut kepada siapa saja, (MAKA DISITU ADA PEMBBUKTIAAN LANGSUNG DARI ALLAH) dan kalian dapat mengambil kesimpulan bahwa “Ciptaan-Nya ALLAH Azza Wa Jalla saja sudah seperti itu (maksudnya Rasulullah SAW) lebih-lebih cinta dan Kasih saying ALLAH kepada seluruh hamba-hamba Nya“
Rasulullah SAW diciptakana ALLAH sebagai manusia pilihan dan kelemah lembutan Rasulullah SAW itu belum seberapa dibanding dengan Kelembutan Sang Maha Lembut yaitu ALLAH, namun ALLAH perlihatkan kelembutan-Nya dengan memperlihatkan kepada Aku dan Kalian dari kelemah lembutan sosok terpilih yang dicptakan ALLAH yaitu Sayyidina Muhammad SAW.
Saudara/i ku yang di Muliakan ALLAH , ketahuilah bahwa Rasulullah SAW sejak dahulu sudah merindukan mu , sebagaimana Sabda beliau SAW : “aku merindukan saudara-saudaraku“ siapa mereka yang dimaksud Rasulullah SAW? Sebagaimana Riwayat Shahih Muslim “HUMUL LADIIN YA'ISYUUNA BA'DI , YAWWADDU AHADUHUM LAW RA'ANI BI AHLIHI WAMAALIHI“ yaitu mereka yang hidup setelah aku wafat sangat ingin melihat wajahku dari segal-galanya. Yang dimaksud Rasulullah SAW yaitu kalian wahai yang dirindukan semulia-mulia Makhluk yaitu Sayyidina Muhammad SAW.

BIDADARIPUN NGOMEL


Pagi itu , kedai Cak San belum ada pelanggan yang datang. Kecuali seorang kakek tua yang bertubuh kurus dan berwajah pucat. Badannya gemetaran dan tubuhnya dibungkus sarung sampai menutup kepalanya.
“ Lagi sakit, Mbah..”
“Wajah Mbah kelihatan pucat. Mbah mungkin terserang demam..”
Kakek itu diam saja. Ketika secangkir kopi disodorkan di hadapannya , ia raih cangkir itu segera. Dan suara sruputan itu terasa nikmat sekali.
Pardi dan Dulkamdi datang bersamaan, sepulang dari jama’ah subuh masjid Raudah. Agak jauh dibelakang Kang Soleh dan rombongannya., sedang asyik berbincang . Satu per satu akhirnya mereka memasuki kedai Cak San.
Kakek tua itu menggeser pantatnya menuju sudut mendekati perapian, tempat memanggang pisang bakar. Kehadirannya terasa tak ingin diketahui oleh orang –orang itu. Tapi Dulkamdi menangkap sesuatu yang ganjil kakek itu. Wajahnya yang pucat, tapi menggambarkan senyuman bak mawar pagi.
“ Mbah.., dari mana Mbah, kok saya tidak pernah jumpa, Mbah..”
“ Dari rumahnya Gusti Allah.. Maunya, ya menuju rumah nya Allah. Tapi saya kesrimpet dijalan. Saya baru saja diomeli habis – habisan oleh para bidadari..”
Betapa terkejutnya para hadirin di kedai mendengar jawaban kakek tua itu. Sedang wajah kakek tua itu ekspresinya tetap saja dingin, seperti menyimpan rahasia terdalam.
“ Ke rumah Allah, kok mampir di kedai jelek ini Mbah..” Goda Pardi.
“ Karena saya jengkel sama bidadari itu. Jadi.. lebih baik saya ngopi di kedai ini … ngga papa kan?"
Mendengar jawaban itu , Pardi jadi penasaran. Sebab, semalaman baru saja ia diomeli istrinya, dan pagi – pagi ke kedai Cak San, siapa tahu , dapat hiburan segar yang bisa membugarkan hatinya yang kecut.
“Memang bidadari ada yang ngedumel, Mbah..”
Kakek itu tiba –tiba terdongak dan meledakkan ketawanya sampai napasnya habis. Yang tersisa adalah batu – batuk yang ngikil, akibat tersedak oleh napasnya yang hampir terhenti.
Kang Soleh yang sejak tadi sudah menaruh perhatian pada kakek tua itu, matanya tak berkedip memandangnya.
“ Pasti, si tua ini bagian dari Sirrulah.. (rahasia Allah) yang tersebar dimuka bumi..” katanya dalam hati.
“ Ya bisa ngedumel dan cemburu dan … kalau perlu kamu akan diomeli habis-habisan..”
“Memangnya , Mbah diomeli ?”
“ Wah.. wah… wah.. sudah tiga bulan ini saya tidak bisa tidur..” kata kakek tua itu, yang tidak meneruskan ucapannya.
Pardi, Dulkamdi, dan Kang Soleh terjengak mendengar kisah kakek itu. “ Saya juga tidak doyan makan, paling – paling hanya minum saja. Sekarang ini perut saya terasa lapar sekali setelah di omeli bidadari… Memang.. memang.. itu salah saya sendiri. Tapi.. memang nafsu itu.. nafsu itu..”
Orang – orang pada terdiam
“ Teruskan Mbah…” pinta Pardi.
“ Nafsu itu membuatku lalai. Aku hanya ingin istirahat sejenak denga rasa lelah yang kurebahkan, tiba tiba bidadari itu muncul. Matanya yang tajam penuh amarah dan cemburu, “ Heh , kakek tua.. baeratus-ratus tahun aku merindumu, memujamu, membayangkan drama cinta kita yang mesra dan romantic, tanpa makan, tanpa tidur.. bahkan untuk mimpi pun aku tak mau…kecuali mimpi denganmu wahai kakek tua. Kok tiba – tiba semalam kamu terlelap dalam tidurmu..sementara aku tak memejamkan matamu…” Begitu omelan bidadari itu padaku. Lalu aku terbangun, dan nafasku hampir copot. Aku ketakutan, lari kesana kemari, sampailah aku ke kedai ini….”
Pardi keliahatan bengong melompong mendengar kisah menarik kakek tua ini. Bahkan, Dulkamdi tak kuat menahan harunya, lalu air matanya mengembang dan mulutnya terkunci rapat menahan emosi yang hendak meledak dalam tangisnya.
“Mbah, sampean merindukan bidadari…”
“ Sebenarnya saya tidak membayangkanya, apalagi merindukannya. Tapi saya kasihan melihat bidadari itu. Jadinya saya kasihan pada diri sendiri. Begitu nafsuku ingin menikmati tidurku, bidadari itu mencemburuiku…”
“Okhhhhhhh… saya paham… saya paham… Mbah, tapi Mbah pasti lebih paham…” kata Kang Soleh.
Kang Soleh mendekati si Mbah itu.Ia dekatkan mulutnya ke telinganya, komat kamit membisikkan sesuatu. Ganti si kakek tua itu mendekatkan mulutnya ke telinga Kang Soleh, mulutnya komat – kamit . Lalukeduanya tertawa terbahak – bahak seperti dua orang sahabat lama yang baru saja bertemu. Entah, apa yang mereka katakana berdua itu. Wallahu A’lam.

A…B…C…Itu Adalah Allah


Suatu hari seorang sahabat Nabi bertanya; `Wahai Nabi, apabila Al-Qur’an itu bukan makhluk? Lalu apakah huruf hijaiyah, alif, ba’, ta’, sampai ya’ itu makhluk atau bukan?”
“Huruf hijaiyah itu bukan makhluk,” jawab Nabi SAW.
“Alif itu adalah salah satu dari nama Allah. Ba’ juga nama Allah, ta’ juga nama Allah….hingga ya’. Bahkan A…B…C…D…E..dan seterusnya itu juga nama-nama Allah.”
Hadits ini dikutip oleh seorang wali besar Syeikh Abdul Qadir al-Jilany dalam kitabnya Al-Ghunyah.
Jadi, jika Allah saja bersembunyi di balik tirai huruf-huruf yang kelak dari huruf itu membentuk suku kata dan dari kata membentuk kalimat, maka setiap kalimat yang baik dan bermanfaat – yang bisa mengubah jiwa kita, pastilah tidak lepas dari rahasia Ilahi yang tersembunyi di balik huruf-huruf-Nya. Karenanya, jika Anda berkata jorok, berdusta, berbohong, menggunjing, memaki, menyakiti dengan ucapan, sesungguhnya Anda telah memanipulasi susunan kata-kata yang terdiri dari Asmaul Husna untuk sebuah kejorokan, kekejian, kejahatan, dan kedustaan. Itulah awal dari sebuah dosa yang muncul dari kata dan wacana.
Seorang sufi ketika ditanya apa anti ucapan-ucapan atau kalamullah dalam Al-Qur’an? Ia hanya akan menjawab; “Ooouh, artinya, semuanya Allah… Allah… Allah… Dari surat Al Fatihah sampai Al Falaq, An Naas, dan seterusnya, semuanya artinya Allah….” Kalimat seorang sufi ini meneguhkan betapa seluruh huruf dalam Al-Qur’an itu adalah Asmaul Husna. Karena itu kita harus suci lahir dan batin ketika membaca Al-Qur’an. Sebab kita sesungguhnya sedang berdzikir menyebut nama-nama Allah Ta’ala.
Keagungan cinta Allah, semakin luhur ketika Allah “sengaja” menirai di balik sesuatu yang tak pernah terduga oleh para hamba-Nya. Termasuk bersembunyi di balik huruf-huruf itu, sampai huruf itu menjadi simbol dari nama Allah.
Jika kita sadari bahwa seluruh suara dan ucapan kita sesungguhnya juga deretan nama-nama Ilahi, kita pasti akan berdzikir kepada Allah. Qiyaaman (ketika berdiri, aktif, dan bergerak), wa qu’uudan (ketika diam, sunyi, dan tak bergerak), wa’ala junuubihim (ketika kita tidur lelap dalam kefanaan hamba), hanya karena kita sadar betapa nafas, simbol, anugerah, dan cahaya Ilahi terus menerus mengitari gerak gerik hati kita, suara yang lahir dari mulut kita, bahkan keluar masuknya nafas kita.

Jumat, 18 Juli 2014

Cinta Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily


Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily
Beliau r.a. menceritakan dari gurunya: Tekunilah bersuci dari kesyirikan; setiap kali berhadas, maka kamu bersuci; jangan sekutukan Allah dengan sesuatu pun. Dan dari noda cinta dunia; setiap kali condong kepada suatu syahwat, kamu meluruskan
dengan tobat apa yang telah atau hampir dirusak oleh hawa nafsu.
Kamu harus mencintai Allah Swt. dalam pengagungan dan kesucian. Biasakanlah minum dengan gelas-Nya (sekaligus) bersama kemabukan dan kesegaran: Setiap kali tersadar atau terbangun, teruslah minum sehingga jadilah mabukmu dan segarmu dengan-Nya. Hingga kamu lenyap dengan keindahan-Nya dari cinta dan dari minuman, kemuliaan, dan gelas, dengan apa yang tampak bagimu dari cahaya keindahan-Nya dan kegungan-Nya yang suci dan sempurna.
Barangkali aku berbicara kepada orang yang tidak mengenal cinta dan minuman, minum, gelas, kemabukan, maupun kesegaran. Seseorang berkata kepadanya, “Benar. Berapa banyak orang yang tenggelam dalam sesuatu, tetapi ia tidak mengetahui ketenggelamannya. Karena itu, kenalkanlah kepadaku dan ingatkan aku terhadap apa yang tidak aku ketahui atau terhadap apa yang telah Dia anugerahkan kepadaku sedangkan aku lalai.”
Aku berkata kepadanya, “Baiklah. Cinta adalah pikatan dari Allah terhadap hati hamba yang mencinta dengan apa yang Dia singkapkan untuknya dari keindahan-Nya, kesucian kesempurnaan keagungan-Nya, cahaya-cahaya dengan cahaya-cahaya, nama-nama dengan nama-nama, sifat-sifat dengan sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan dengan perbuatan-perbuatan (af’al). Dan menjadi luas pandangan padanya bagi orang yang Allah kehendaki.
Minum adalah penuangan hati, sendi-sendi, dan nadi-nadi dari minuman ini hingga memabukkan. Dan minum itu adalah dengan pelatihan demi pelatihan dan pembersihan (pendidikan). Karena itu, masing-masing dituangkan sesuai dengan kadarnya, Sebagian mereka dituangkan tanpa media atau perantara, Allah Swt. yang menangani hal ini untuknya. Sebagian lagi dituangkan dari sudut media-media dengan perantara-perantara seperti malaikat, para ulama, tokoh-tokoh besar dari kalangan muqarrabin (dekat kepada Allah). Dan, sebagian lagi bahkan mabuk dengan menyaksikan gelas sebelum mencicipinya sedikit pun. Bagaimana adanya menurutmu setelah mencicipi, setelah minum, setelah puas, setelah mabuk dengan minuman? Kemudian, kesegaran setelah itu di atas ukuran-ukuran yang berbeda sebagaimana kemabukan demikian juga halnya.
Gelas adalah makrifat kepada al-Haqq. Dia mengerjakan minuman yang suci murni lagi jernih itu kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-Nya yang diberikan kekhususan di antara para makhluk-Nya. Maka, kadang-kadang peminum menyaksikan gelas itu secara bentuk lahir, kadang-kadang menyaksikan nya secara maknawi, dan kadang-kadang menyaksikan nya secara ilmiah. Bentuk adalah jatah fisik badan dan nafsu, maknawi adalah jatah akal dan hati, dan ilmiah adalah jatah bagian roh dan sir (matabatin). Oh duhai minuman, betapa lezatnya.
Sungguh beruntung orang yang meminum darinya, senantiasa terus-menerus, dan tidak diputus darinya. Maka, kita memohon kepada Allah semoga mendapatkan karunia-Nya. Itu adalah karunia Allah, Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan, Allah memiliki karunia yang sangat besar.
Kadang-kadang jemaah para pencinta berkumpul lalu minum dituangkan kepada mereka dari satu gelas. Kadang-kadang dituangkan kepada mereka dari gelas-gelas yang banyak. Kadang-kadang dituangkan kepada seorang saja dengan satu gelas dan beberapa gelas. Kadang-kadang minuman berbeda sesuai dengan jumlah gelas. Dan kadang-kadang juga berbeda minumnya padahal dari satu gelas, meskipun banyak orang yang telah minum darinya.
Beliau juga ditanya tentang cinta. Beliau menjawab, “Cinta adalah pikatan dari Allah untuk hati hamba-Nya dari setiap sesuatu selain-Nya. Sehingga kamu melihat ego condong kembali ketaatan terhadap-Nya, akal berbenteng dengan maghfirah-Nya, roh terpikat di dalam hadirat-Nya, dan matabatin tercurah dalam musyahadah kepada-Nya. Dan hamba selalu minta tambah, lantas ditambahkan dan meminta dibukakan dengan apa yang lebih manis dari kelezatan munajat-munajat kepada-Nya, lantas dia dibusanai perhiasan-perhiasan pendekatan diatas permadani kedekatan. ltulah yang dinamakan pikiran-pikiran hakikat dan kekokohan ilmu. Oleh karena itu, mereka mengatakan: ‘Para wall Allah itu pengantin-pengantin.’
Seseorang berkata kepadanya, “Sungguh aku telah mengetahui cinta. Lalu, apa minuman cinta, apa gelas cinta, siapa penuang, bagaimana rasanya, siapa peminum, apa kepuasan, apa kemabukan, dan apa kesegaran?” Beliau r.a. menjawab, “Minuman adalah cahaya yang bersinar tajam dari keindahan Kekasih. Gelas adalah kelembutan yang menyampaikan hal itu ke mulut-mulut hati. Penuang adalah Yang Menangani bagi orang istimewa paling agung, dan orang-orang saleh dari para hamba-Nya, Dialah Yang Maha Mengetahui segala ukuran dan kemaslahatan para kekasih-Nya.
Siapa yang disingkapkan untuknya keindahan itu dan menikmatinya dalam satu napas atau dua napas kemudian dibentangkan tirai atasnya, maka dialah pencicip yang merindu, Siapa yang berlangsung baginya hal tu selama satu jam atau dua jam, maka dia adalah peminum sejati. Dan, siapa yang berkelanjutan padanya perkara itu dan penuangan minuman berlangsung terus hingga tenggorokan penuh dan sendi-sendinya dari cahaya-cahaya Allah yang tersimpan, maka itulah kepuasan. Dan, karena ia kehilangan indra dan pikiran, sehingga dia tidak tahu apa yang dikatakan dan apa yang ia katakan, maka itulah kemabukan.
Dan kadang-kadang gelas-gelas beredar di seputar mereka, keadaan mereka pun berbeda-beda. Mereka dikembalikan kepada zikir, keadaan-keadaan, dan ketaatan-ketaatan, serta mereka tidak berhasil dalam menggapai sifat-sifat bersama berdesakannya takdir. Maka, ilmu lah waktu kesegaran mereka, keluasan pandangan mereka, dan bertambahnya amal mereka. Maka, dengan bintang-bintang ilmu dan purnama tauhid, mereka mendapat petunjuk di malam mereka. Dengan matahari-matahari makrifat mereka memperoleh cahaya. Mereka itulah partai Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itu golongan yang menang.

SULUK WIJIL SUNAN BONANG


1
Inilah ceritera si Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf
Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Sampai rahasia terdalam
2
Sepuluh tahun lamanya Sudah
Wujil Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata
Seraya menghormat
Minta maaf
3
“Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan
Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari
Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya
Menjadi bahan tertawaan orang
4
Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar
5
Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahasia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada
6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tinggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat
7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namun isinya berwarna kuning
8
Matahari terbenam, malam tiba
Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian, memanaskan
Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan
9
Sang Arif berkata lembut
“Hai Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut Wujil
Seraya dielus-elus
Tanda kasihsayangnya
“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”
11
“Ingatlah Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”
12
Kebajikan utama (seorang Muslim)
Ialah mengetahui hakikat salat
Hakikat memuja dan memuji
Salat yang sebenarnya
Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib
Tetapi juga ketika tafakur
Dan salat tahajud dalam keheningan
Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa
Dan termasuk akhlaq mulia
13
Apakah salat yang sebenar-benar salat?
Renungkan ini: Jangan lakukan salat
Andai tiada tahu siapa dipuja
Bilamana kaulakukan juga
Kau seperti memanah burung
Tanpa melepas anak panah dari busurnya
Jika kaulakukan sia-sia
Karena yang dipuja wujud khayalmu semata
14
Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?
Dengar: Walau siang malam berzikir
Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan
Zikirmu tidak sempurna
Zikir sejati tahu bagaimana
Datang dan perginya nafas
Di situlah Yang Ada, memperlihatkan
Hayat melalui yang empat
15
Yang empat ialah tanah atau bumi
Lalu api, udara dan air
Ketika Allah mencipta Adam
Ke dalamnya dilengkapi
Anasir ruhani yang empat:
Kahar, jalal, jamal dan kamal
Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya
Begitulah kaitan ruh dan badan
Dapat dikenal bagaimana
Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana
16
Anasir tanah melahirkan
Kedewasaan dan keremajaan
Apa dan di mana kedewasaan
Dan keremajaan? Dimana letak
Kedewasaan dalam keremajaan?
Api melahirkan kekuatan
Juga kelemahan
Namun di mana letak
Kekuatan dalam kelemahan?
Ketahuilah ini
17
Sifat udara meliputi ada dan tiada
Di dalam tiada, di mana letak ada?
Di dalam ada, di mana tempat tiada?
Air dua sifatnya: mati dan hidup
Di mana letak mati dalam hidup?
Dan letak hidup dalam mati?
Kemana hidup pergi
Ketika mati datang?
Jika kau tidak mengetahuinya
Kau akan sesat jalan
18
Pedoman hidup sejati
Ialah mengenal hakikat diri
Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk
Oleh karena itu ketahuilah
Tempat datangnya yang menyembah
Dan Yang Disembah
Pribadi besar mencari hakikat diri
Dengan tujuan ingin mengetahui
Makna sejati hidup
Dan arti keberadaannya di dunia
19
Kenalilah hidup sebenar-benar hidup
Tubuh kita sangkar tertutup
Ketahuilah burung yang ada di dalamnya
Jika kau tidak mengenalnya
Akan malang jadinya kau
Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil
Sia-sia semata
Jika kau tak mengenalnya.
Karena itu sucikan dirimu
Tinggallah dalam kesunyian
Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia
20
Keindahan, jangan di tempat jauh dicari
Ia ada dalam dirimu sendiri
Seluruh isi jagat ada di sana
Agar dunia ini terang bagi pandangmu
Jadikan sepenuh dirimu Cinta
Tumpukan pikiran, heningkan cipta
Jangan bercerai siang malam
Yang kaulihat di sekelilingmu
Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!
21
Dunia ini Wujil, luluh lantak
Disebabkan oleh keinginanmu
Kini, ketahui yang tidak mudah rusak
Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna
Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi
Bentangan pengetahuan ini luas
Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya
Orang yang mengenal hakikat
Dapat memuja dengan benar
Selain yang mendapat petunjuk ilahi
Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini
22
Karena itu, Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali
Dan terlindung dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenal diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya
23
Bila kau mengenal dirimu
Kau akan mengenal Tuhanmu
Orang yang mengenal Tuhan
Bicara tidak sembarangan
Ada yang menempuh jalan panjang
Dan penuh kesukaran
Sebelum akhirnya menemukan dirinya
Dia tak pernah membiarkan dirinya
Sesat di jalan kesalahan
Jalan yang ditempuhnya benar
24
Wujud Tuhan itu nyata
Mahasuci, lihat dalam keheningan
Ia yang mengaku tahu jalan
Sering tindakannya menyimpang
Syariat agama tidak dijalankan
Kesalehan dicampakkan ke samping
Padahal orang yang mengenal Tuhan
Dapat mengendalikan hawa nafsu
Siang malam penglihatannya terang
Tidak disesatkan oleh khayalan
35
Diam dalam tafakur, Wujil
Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)
Memuja tanpa selang waktu
Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)
Disebabkan oleh makrifat
Tubuhnya akan bersih dari noda
Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini
Dari orang arif yang tahu
Agar kau mencapai hakikat
Yang merupakan sumber hayat
36
Wujil, jangan memuja
Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja
Juga sia-sia orang memuja
Tanpa kehadiran Yang Dipuja
Walau Tuhan tidak di depan kita
Pandanglah adamu
Sebagai isyarat ada-Nya
Inilah makna diam dalam tafakur
Asal mula segala kejadian menjadi nyata
Setelah itu Sunan Bonang lebih jauh berbicara tentang hakikat murni ‘kemauan’. Kemauan yang sejati tidak boleh dibatasi pada apa yang dipikirkan. Memikirkan atau menyebut sesuatu memang merupakan kemauan murni. Tetapi kemauan murni lebih luas dari itu.
38
Renungi pula, Wujil!
Hakikat sejati kemauan
Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita
Berpikir dan menyebut suatu perkara
Bukan kemauan murni
Kemauan itu sukar dipahami
Seperti halnya memuja Tuhan
Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak
Pun tidak membuatmu membenci orang
Yang dihukum dan dizalimi
Serta orang yang berselisih paham
39
Orang berilmu
Beribadah tanpa kenal waktu
Seluruh gerak hidupnya
Ialah beribadah
Diamnya, bicaranya
Dan tindak tanduknya
Malahan getaran bulu roma tubuhnya
Seluruh anggota badannya
Digerakkan untuk beribadah
Inilah kemauan murni
40
Kemauan itu, Wujil!
Lebih penting dari pikiran
Untuk diungkapkan dalam kata
Dan suara sangatlah sukar
Kemauan bertindak
Merupakan ungkapan pikiran
Niat melakukan perbuatan
Adalah ungkapan perbuatan
Melakukan shalat atau berbuat kejahatan
Keduanya buah dari kemauan