Laman

Rabu, 17 Desember 2014

Bersabarlah


PARDI mulai puyeng kepalanya. Segalanya terasa judek. Masalahnya seperti tumpukan sampah di depan mata. Sudah berbau menyengat, sepet dipandang. Bahkan lebih dari sekedar sampah.
“Di…Di…kamu ini masih muda, kok stress melulu…”
“Aku nggak stress, Cuma aku lagi jengkel bukan main…”
“Apa bedanya?”
“Beda donk Dul…”
“Bedanya?”
“Kalau stress itu hasilnya jengkel, kalau jengkel itu apinya stress… ha..ha..ha..”
“Nah, gitu donk tertawa… Kamu jengkel kenapa?”
“Saya jengkel pada diri sendiri, dan orang lain…”
“Itu namanya ujian…”
“Saya tahu ini ujian. Tapi ketika saya lagi marah, saya lupa Dul kalau itu ujian… Kalau menurut kamu bagaimana?”
“Saya punya kiat Di… Kalau aku lagi jengkel, sumpek. Saya lemparkan diri saya…”
“Haaaaah…!?”
“Maksudku saya berusaha melemparkan hati saya ke pintunya Allah. Terserah Gusti Allah saja…”
Pardi manggut-manggut dengat kiat Dulkamdi. Lama sekali dua sahabat itu terdiam, hingga kopinya hampir dingin.
“Soal kiat bersabar kan…?” Tiba-tiba dua orang itu bicara serentak lalu tertawa-tawa. “Hanya orang-orang yang bersabar akan diberi pahala mereka yang tidak terbatas” (Q.s. az-Zumar: 10) Tiba-tiba kang soleh muncul dengan mengutip sebuah ayat. “Kata Al-Junaid – ra himahullah – Sabar adalah memikul semua beban berat sampai habis saat-saat yang tidak diinginkan”.
Sementara Ibrahim al-Khawash – rahimahullah – berkata “Sebagian besar manusia lari dari memikul beban berat sabar. Kemudian mereka berlindung diri pada berbagai sarana (sebab) dan pencarian, bahkan mereka bergantung padanya seakan-akan sesuatu yang bisa memberinya”
Ada seseorang datang kepada asy-Syibli dan bertanya, “Sabar yang mana yang sangat berat bebanya bagi orang-orang yang bersabar?”
Asy-Syibli menjawab. “Sabar demi Allah SWT (fillah)” Orangitu berkata, “Tidak!!”
Asy-Syibli menjawab lagi, “Sabar bersama Allah (ma’Allah)”. Ia pun berkata, “Tidak!!”
Akhirnya asy-Syibli marah dan balik bertanya, “celaka kau!! Lalu apa?”
Orang menjawab, “Sabar dari Allah (‘anillah)”. Kemudian asy-Syibli berteriak keras dan hampir ruhnya tercabut.
Saya pernah bertanya kepada Ibnu Salim di Basrah tentang sabar. Lalu ia menjawab dengan tiga jawaban: Pertama, orang yang berusaha untuk bersabar (mutashabir). Kedua, orang yang sabar (shabir) dan ketiga, orang yang sangat bersabar (shabhar). Maka, orang yang berusaha bersabar adalah orang yang sabar demi Allah SWT (fillah). Suatu saat ia bersabar atas hal-hal yang tidak diinginkan, tapi di saat yang lain ia tak sanggup bersabar.
Tingkatan ini sebagaimana yang pernah ditanyakan kepada al Qannad tentang sabar. Kemudian ia menjawab, “Sabar ialah senantiasa melakukan yang wajib dalam meninggalkan apa yang dilarang dan tekun melakukan apa yang diperintahkan. Orang yang sabar adalah orang yang sabar pada Allah dan karena Allah. Ia tidak pernah gelisah dan tidak memperkenankan ada kesempatan gelisah dan harapan untuk mengeluh”.
Sebagaimana juga dikisahkan dari Dzun-Nun al-Mishri-raimamullah – yang berkata: Saya pernah datang menjenguk orang sakit. Tatkala ia berbicara padaku ia merintih kesakitan. Kemudian saya berkata kepadanya, “Tidak dianggap jujur cinta seseorang jika tidak sabar atas bahaya yang menimpanya”. Kemudian orang yang sakit balik berkata, “Justru tidak bisa dianggap jujur cinta seseorang bila ia belum bisa merasakan nikmatnya bahaya yang menimpanya”.
Sebuah hadist: “Bahwa Nabi Zakaria a.s tatkala gergaji diletakkan diatas kepalanya, maka ia sekali merintih kesakitan. Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya, “Jika terdengar rintihan darimu sekali lagi, sungguh Aku akan menjungkir-balikan langit dari bumi antara yang satu dengan yang lain”. (diriwayatkan dari Wahb. Ini cerita dari Bani Israel. Tidak benar bila cerita ini dinisbatkan kepada Aabi SAW).
“Apakah kisah-kisah ini bisa membuat kita lebih sabar Kang?” tanya Pardi.
“Membaca kisah-kisah orang tentang kesabaran, akan memancarkan cahaya sabar akan mematikan amarah kita… Di…”

Yaqin


Disebuah kedai, pardi dan dulkamadi sedang asyik mendiskusikan makna yaqin. “Yaqin itu sebagai lawan dari ragu ragu, skeptik, hipokrit(munafik) dan angan angan panjang yang tidak berkesudahan. Memulai sesuatu haruslah dengan rasa yaqin yang kuat, bukan yaqin pada kekuatan diri, percaya diri, rasa hebat diri, rasa unggul diri, bukan ! Tetapi yaqin pada Allah Ta’ala ” kata kang sholeh mencoba menggaris bawahi sejumlah aksioma tentang yaqin…
“Apa sih kang yang diyakini dari Allah Ta’ala dibalik perjalanan sukses itu sendiri ?”
“lhaah, berarti tandanya kamu masih belum yaqin kalau masih bertanya seperti itu…”
“memang kang. . . Jujur saja saya semakin tolol, ketika membedah soal yaqin ini, sebab banyak orang yang mencoba belajar yaqin. Pada diri sendiri, akhirnya malah terjebak dalam dunia ilmu sihir. Kan celaka”.
“Allah memiliki asma’ dan sifat sifat Agung yang senan tiasa Maha Akrab dengan hamba hambaNya, menghendaki kebajikan hamba dan tidak menginginkan hamba celaka. Seluruh protes hamba seputar takdir. Fakta kehidupan, ketidak adilan, akhirnya hanya membuat “bungkam para hamba ,manakala para hamba memahami Allah. Dan mengenal Allah dengan sesungguhnya. Apa masih kurang yaqin ?”
“uraikan lagi kang”
” Allah tidak pernah mendzalimi para hambaNya, tetapi para hamba itulah yang mendzalimi dirinya sendiri,kealpaan dan kelalaian diri telah melemparkan para hamba untuk jauh dari pertolongan dan hidayahNya. Dan,ironisnya kealpaan dan kelalaian itu dinikmati oleh para hamba sebagai bentuk kebanggaan dan arogansi hidup, tanpa ia sadari telah banyak hatinya terluka, sakit dan kelak hatinya mati “
“lagiii kang shol”
” Allah menjadikan hambaNya yang yaqin padaNya, sebagai simbul dari ucapan, pendengaran, tangan dan langkahNya pada diri hamba itu. Dipuncak rasa Yaqin (Haqqul yaqin) segalanya, apapun selain Allah tak berarti apa apa, sehingga sang hamba menjadi merdeka dan bebas secara Universal, benar benar sebagai hamba, bukan hamba dunia dan hawa nafsunya apalagi benar benar bebas secara kompleks.”
“lagi kaang”
” lagi…lagi…satu kalimat belum titik saja kamu gak bisa menjalani apalagi uraian luas, jangan-jangan nanti tambah bingung…”
“siapa tahu diantara ribuan kata yang mengurai ada satu kata saja yang bisa membuatku yaqin,itu bisa membantu sukses diriku dunia akhirat kang shol”
“sekarang coba kita renungkan produk produk karakter orang yang yaqin pada Allah Ta’ala”
“orang yaqin kepada Allah, sikap dan tindakannya, bukan untuk memenuhi hasratnya sendiri, tetapi memang itulah kehendak Tuhannya, sehingga rasa khawatir, takut, gelisah, trauma, dan iri serta dengki, egoistik sirna dari dirinya, lalu ia merasa damai bersama Nya, begitu luas tak terhingga pandangannya. Karena gelisah, takut, khawatir, hanyalah produk hawa nafsu kita yang harus kita lawan.
Orang yang yaqin tidak akan pernah membanggakan prestasinya, mengandalkan kinerjanya, membusungkan dadanya, karena semua itu dari Allah bersama Allah dan menuju kepada Allah.
0rang yang yaqin kepada Allah, seberat apapun problem yang dihadapi, seterpuruk apapun kebangkrutan yang dialami, serendah apapun ketersungkuran ,sosial yang dialami dinasibi, tidak sejengkal langkah pun ia bergeser dari Rahmad Allah. Karena orang yang Yaqin kepadaNya, memandang watak dan karakter dunia, sejak dunia ini ada hingga esok hari kiamat, wataknya memang problematik, dilematik dan kasuistik. Jadi bukan sesuatu yang asing baginya. Orang yang yaqin kepada Allah, dunia maupun akhirat akan menyertainya, memburunya, mengejarnya, karena hamba yang yaqin berada pada pusat pusaran ruhani, dalam putaran kecepatan yang tak terhingga, sampai dirinya serasa diam dan mandiri bersamaNya.
0rang yaqin kepada Allah tidak pernah kehilangan masa depan sama sekali, karena ia telah berada dimasa depan itu secara hakiki, masa depan yang hakiki adalah Allah Ta’ala itu sendiri.”
Pardi dan Dulkamadi serta pengedai kopi cak san, bener bener terkesima, kang saleh pun kaget ,karena orang orang pada mencatat uraian kang shaleh.
“Weleh… weleh, kedai kopi kayak kampus saja. Catat semua dalam hati, dalam penghayatan disini, dalam dada, bukan dalam selembar kertas…” kata kang shaleh sembari ngeloyor keluar dari kedai. Mereka hanya mesam mesem wae. . .he he

Kedamaian


KANG Soleh berkali-kali merngepuskan asap rokoknya ke angkasa. Kepulan asap itu hampir-hampir membuat Kedai Cak San melayang ke udara. Sesekali ia ucapkan istighfar, lain kali jemari kakinya mengetuk-ngetuk ke arah meja. Kang Soleh stres? Tidak! Sebab, ia tampak sedang mencari-cari sesuatu. Kadang ia tersenyum sendiri, kadang bola matanya mengembangkan genangan air mata. Kadang wajahnya sedikit mendongak ke atas, kadang matanya memandang tajam pada satu objek tertentu.
Cak, tidak berani bertanya. Seringkali hal itu dialami Kang Soleh. Tapi, bagi Pardi dan Dulkamdi, kondisi Kang Soleh seperti itu dianggap sebagai bagian dari tema diskusi. Kalau perlu dijadikan objek kajian di majlis kedai kopi itu.
“Dul, pengetahuan apa yang paling utama diantara sejuta ilmu pengetahuan yang ada?” tanya Pardi.
“Pasti ilmu kedokteran. Sebab ilmu itu diilhami oleh penciptaan Siti Hawa’ dari rusuk Adam, itu kan bagian utama dari teori ilmu bedah,” jawab Dulkamdi.
“Bukan, ilmu teknik dan bangunan!” sela Wakidi,” sebab Allah menciptakan alam raya ini melalui teknologi dan teknik struktur yang dahsyat.”
“Kalau saya pasti ilmu politik, sebab dalam menciptakan jagad raya ini, Allah perlu membuat aturan-aturan hukum. Itu kan konsentrasi dunia politik. Apalagi Allah itu Maha Kuasa…ha..ha…ha…” kata anggota majlis kopi lainnya.
Perdebatan ilmu mana yang paling utama berlanjut seru. Masing-masing membuat argumentasi dan klaim paling benar. Bahkan diskusi itu tiba-tiba berubah menjadi debat kusir yang mengarah pada emosi. Suasana jadi geger.
Merlihat suasana seperti itu, Kang Soleh diam saja. Ia biarkan sampai dimana anggota majlis kopi itu menyelesaikan masalah sekaligus mencari solusi sosialnya.
“Kalian ini seperti anak-anak saja…” kata Kang Soleh menyela perdebatan itu. Mereka lantas terdiam, sambil menghela nafas dalam-dalam. “Ya itu… seperti kalian itu… inilah yang sedang saya pikirkan. Mengapa kedamaian kita tidak pernah terwujud? Saya tahu mengapa tidak terwujud? Tetapi saya masih penasaran, mengapa Sandiwara Ilahiyah tentang arah perdamaian ini, belum kita rasakan? Atau mungkin karena dosa-dosa kita sehingga mata hati kita kabur memandang mosaik kedamaian yang hakiki?”
“Wah, sorry Kang, kita memang kebacut! Tapi pasti ada hikmahnya Kang,” kata Pardi mewakili teman-temannya. “Tapi bagaimana sebenarnya menurut Kang Soleh, apakah prioritas utama atas pengetahuan itu salah, Kang?”
“Semua ilmu itu milik Allah. Karena itu ilmu yang lebih mendekatkan kepada Allah itulah yang harus Anda cermati dulu. Tetapi jangan sampai Anda mengabaikan yang lain, karena ilmu itu semua dari Allah swt.”
Mereka hanya manggut-manggut belaka, memahami wacana Kang Soleh, sembari menghayati dalam hati masing-masing, menurut potensi hati masing-masing, dan menurut situasi pergolakan hati masing-masing.
“Yang dirisaukan Kang Soleh tadi?”
“Saya hanya heran. Setiap hari, sehabis salat, kita baca doa, Allahumma Anta as-Salaam, wa-Minka as-Salaam, wailaika Ya’udus Salam, Fahayyina Rabbanaa bis-Salaam, wa-Adkhilnal Jannata Daaras Salaam…(Ya Allah, Engkaulah kedamaian, dari-Mu-lah kedamaian itu, dan kepada-Mu-lah kedamaian itu berpulang. Maka damaikanlah hidup kami, dan masukkanlah kami ke Syurga penuh damai…). Lha, iya, kok masih terus bengekerengan seperti kamu-kamu ini….”
“Kalau Kang Soleh heran…apalagi kami-kami ini Kang!”
“Ya…,saya dengan kalian, tidak ada bedanya. Sama-sama hamba Allah.
Soal penghayatan, saya yakin Cak San bisa lebih mantap daripada saya. Tapi benar juga ya, barangkali karena orang yang mengucapkan doa tadi tidak disertai zikir dalam hatinya. Sebab, kedamaian itu tidak terletak pada mulut dan anjuran. Palagi setelah dicarikan jalan dan direkayasa, malah nggak damai-damai. Damai itu kan, bermula dari jiwa kita sendiri. Dan jiwa kita bisa damai kalau jiwa kita berzikir, ingat terus menerus kepada Allah. Kalau begitu dusta, orang yang bicara kedamaian tanpa zikrullah!”.
Sambil manthuk-manthuk, Kang Soleh bangkit dari duduknya, tanpa babibu, ngeloyor saja keluar dari kedai.
Dulkamdi dan Pardi, Wakidi dan yang lainnya, saling memandang satu dengan lainnya. Mereka mencoba mengerti apa yang dikatakan Kang Soleh, dan mereka pun tersenyum simpul, kecuali Dulkamdi yang tertawa meledak seperti gludhuk.

Kamis, 27 November 2014

Tidak Ada Perantara Antara Manusia dengan Allah


Dalam hadist Qudsi Allah berfirman, “Jadikanlah dirimu beserta dengan Allah…”, ini perintah Allah yang utama. Setiap manusia berusaha dengan segenap kemampuannya, dengan ikhtiar ibadahnya untuk bisa senantiasa selalu beserta atau bersama dengan Allah. Karena tidak semua manusia mengetahui rahasia untuk berhubungan dengan Allah maka Allah memberikan rumus, “Jika engkau belum bisa berhubungan dengan Allah maka adakanlah dirimu beserta dengan orang yang beserta dengan Allah, maka dialah yang mengantarkan dirimu kepada Allah”. Dari hadits Qudsi tersebut jelas bahwa Allah tidak menyuruh kita mengambil perantara tapi mencari orang yang bisa menuntun dan membimbing kita kepada-Nya dalam hal ini Nabi dan kemudian diteruskan oleh para Wali Allah.
Pengamal tarekat tidak pernah menjadikan Gurunya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, Guru Mursyid bertugas untuk membimbing, mengarahkan dan menuntun murid kepada jalan Allah, jalan yang sudah berulang kali di lewati oleh Sang Guru sehingga paham di mana jurang terjal dan di mana tikungan tajam sehingga para murid selamat sampai ke tempat tujuan.
Guru, Mursyid dan Wasilah
Hal yang harus kita pahami dengan baik terlebih dulu adalah perbedaan antara Guru, Mursyid dan Wasilah agar kita lebih mudah memaknai hakikat langsung hubungan dengan Allah. Kalau kita menyebut Guru berarti kita sedang membicarakan sosok manusia dalam hal ini lebih khusus kepada Guru tarekat. Gelar yang diberikan kepada Guru Tarekat bisa Syekh, Saidi Syekh, Tuan Guru, Sunan, Kanjeng, Kiayi, Abuya, Abi dan gelar lain yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat yang tujuannya adalah untuk menghargai sang Guru. Guru Tarekat dalam keseharian bisa saja berprofesi sebagai pimpinan pasantren, iman mesjid, ahli pengobatan, Guru di Universitas dan bahkan sebagai pekerja biasa. Profesi duniawi Guru tidak mempengaruhi derajat Beliau di sisi Allah. Guru sebagaimana manusia biasa memiliki sifat-sifat alamiah manusia juga seperti: sedih, sakit, tersinggung, senang, susah dan sifat-sifat alamiah manusia lainnya. Seorang murid harus memahami akan kepribadian Gurunya, karena itu dalam tarekat ada istilah Hadab/Adab atau sopan santun dari murid kepada Guru agar kasih sayang Guru bisa mengalir kepada murid-muridnya.
Mursyid adalah pembimbing rohani, ketika menyebut kata Mursyid lebih bersifat kepada rohani. Mursyid akan membimbing rohani para murid secara 24 jam dari dunia sampai ke akhirat kelak karena rohani Mursyid telah berada pada tingkatan sempurna lagi menyempurnakan.
Sama halnya dengan Nabi atau Rasul yang merupakan pangkat kerohanian, Muhammad bin Abdullah adalah manusia biasa sama seperti umumnya manusia lain yang memiliki kekurangan, mengalami sakit dan sedih sedangkan Rasulullah (rohani Muhammad) adalah suci lagi mensucikan yang terbit dari dzat dan sifat Allah, Rasulullah ini lah yang berfungsi membimbing rohani ummat menuju Allah SWT.
Dalam dunia tarekat sudah menjadi kelaziman kata Guru dan Mursyid di gabung menjadi satu karena fungsi seorang Guru Tarekat bukan hanya menuntun murid secara zahiriah dengan ilmu-ilmu agama tapi juga membimbing rohani para murid setiap saat 24 jam agar jauh dari godaan setan. Kita sering menyebut Guru Tarekat sebagai Guru Mursyid atau Syekh Mursyid.
Sedangkan Wasilah adalah pancaran cahaya Allah atau dikenal dengan Nur Muhammad yang berasal langsung dari sisi Allah. Dengan Nur inilah manusia bisa berkomunikasi dengan Allah. Manusia tidak akan mungkin bisa sampai kehadirat Allah, siapapun itu tanpa kecuali, tanpa adanya wasilah, tanpa adanya cahaya Allah tanpa adanya AL-BURAQ. Dengan Cahaya Allah itu pula seluruh Nabi/Rasul termasuk Nabi Muhammad berhubungan dengan Allah, karena Beliau diberi Wasilah berupa Nur itulah yang membuat pangkat Beliau menjadi Rasulullah, utusan Allah. Satu hal yang harus di pahami, utusan Allah itu bukanlah Muhammad bin Abdillah yang sudah wafat 14 abad yang lain, bukan sama sekali. Utusan Allah adalah Nur Muhammad, cahaya Allah yang diberikan ke dalam dada Muhammad yang telah terlebih dulu di sucikan oleh Jibril as dengan menggunakan metodologi yang berasal dari Allah. Dengan memiliki Wasilah tersebut maka Muhammad adalah sebagai pembimbing seluruh manusia saat itu untuk bisa berkomunikasi dengan Allah. Siapapun yang menggunakan metode yang persis digunakan oleh Nabi Muhammad maka dia akan mendapat hasil yang sama yaitu komunikasi yang murni dengan Allah Ta’ala.
Nabi Muhammad dengan kedudukan sebagai utusan Allah bisa diibarat sebagai Pemancar gelombang radio yang meneruskan gelombang dari pusat kemudian diteruskan keseluruh alam, sehingga radio tersebut bisa diterima oleh semua orang yang telah memiliki radio, dengan syarat radio nya hidup dan menyetel di chanel yang tepat.
Hubungan antara manusia dengan Allah dengan Wasilah ini sangat ilmiah dan tak terbantahkan, inilah sebagai sumber power bagi ummat Islam sehingga musuh-musuh Islam berusaha dengan sekuat tenaga menghancurkan hal yang Maha Penting ini, menghembuskan keraguan ke dalam kaum muslim tentang Wasilah. Kabar buruknya propaganda yang dilakukan berabad-abad untuk menghancurkan metode warisan Nabi ini (Tarekatullah) telah mulai berhasil dilakukan oleh orientalis pada abad ke-19 yang dimulai dari jantung peradaban Islam yaitu Mekkah dan Madinah, dari sanalah dimulai gerakan untuk menghancurkan ajaran tasawuf, warisan Nabi yang tak ternilai harganya.
Wasilah yang tertanam dalam dada nabi Muhammad itu kemudian diteruskan kepada sahabat, diteruskan ke generasi berikut, sampai akhir zaman. Jadi, Nabi, Rasul dan para Wali itu bukanlah Wasilah, mereka hanya sebagai pembawa wasilah yang berasal dari sisi Allah.
Ketika seorang hamba pilihan dititipkan Wasilah oleh Allah maka secara otomatis dalam dirinya bersemayam Nur Allah, apapun yang terpancar dalam dirinya berasal dari Allah swt. Pada tahap ini persis seperti yang di firmankan Allah dalam hadits Qudsi, “Apabila melihat AKU-lah matanya”, “Apabila berjalan AKU-lah kakinya” dan “Apabila bermohon niscaya KU kabulkan”. Orang yang mempunyai kedudukan seperti di atas sangat langka, tidak semua manusia yang dalam matanya ada mata Allah, di kakinya ada kaki Allah dan dalam bahasa sederhana diseluruh tubuhnya telah dipenuhi dengan cahaya Allah sehingga ketika orang memandang wajahnya adalah Allah disana. Orang yang telah mendapat wasilah ini disebut oleh Nabi, “Barang siapa memandang kepada wajah orang Alim sekali dengan pandangan yang senang, niscaya Allah menjadikan pandangan tersebut malaikat yang memintakan ampun baginya hingga hari kiamat”. Bukan hanya memandang wajah, namanya pun begitu mulia sebagaimana disebut dalam hadist, “Sebaik-baik manusia adalah yang apabila namanya disebut maka nama Allah ikut disebut”. Siapakah manusia yang namanya tidak pernah berpisah dengan nama Allah, yang menyebut namanya sama dengan menyebut nama Allah? Mareka adalah orang-orang yang diberi kedudukan mulia oleh Allah, para kekasih Allah yang hanya Allah yang mengetahui keberadaan mereka. Mereka pula yang telah begitu akrab dengan Allah bisa mengantarkan seluruh manusia dengan mudah di sisi-Nya.

Tasawuf adalah Ajaran Rasulullah SAW dan Para Sahabat


Benih-benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan perilaku nabi Muhammad SAW.
Peristiwa dan Perilaku Hidup Nabi. Sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari-hari beliau berkhalawat (mengasingkan diri) di Gua Hira, terutama pada bulan Ramadhan disana nabi banyak berzikir dan bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pengasingan diri Nabi SAW digua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalawat. Kemudian puncak kedekatan Nabi SAW dengan Allah SWT tercapai ketika melakukan Isra Mikraj. Di dalam Isra Mikraj itu nabi SAW telah sampai ke Sidratulmuntaha (tempat terakhir yang dicapai nabi ketika mikraj di langit ke tujuh), bahkan telah sampai kehadiran Ilahi dan sempat berdialog dgn Allah. Dialog ini terjadi berulang kali, dimulai ketika nabi SAW menerima perintah dari Allah SWT tentang kewajiban shalat lima puluh kali dalam sehari semalam. Atas usul nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW memohon agar jumlahnya diringankan dengan alasan umatnya nanti tidak akan mampu melaksanakannya. Kemudian Nabi Muhammad SAW terus berdialog dengan Allah SWT. Keadaan demikian merupakan benih yang menumbuhkan sufisme dikemudian hari.
Perikehidupan (sirah) nabi Muhammad SAW juga merupakan benih-benih tasawuf yaitu pribadi nabi SAW yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona dengan kemewahan dunia. Dalam salah satu Doanya ia memohon: ”Wahai Allah, Hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin” (HR.at-Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim).
“Pada suatu waktu Nabi SAW datang kerumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq. Ternyata dirumahnya tidak ada makanan. Keadaan ini diterimanya dengan sabar, lalu ia menahan lapar dengan berpuasa” (HR.Abu Dawud, at-Tirmizi dan an-Nasa-i) .
Ibadah Nabi Muhammad SAW. Ibadah nabi SAW juga sebagai cikal bakal tasawuf. Nabi SAW adalah orang yang paling tekun beribadah. Dalam satu riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa pada suatu malam nabi SAW mengerjakan shalat malam, didalam salat lututnya bergetar karena panjang dan banyak rakaat salatnya. Tatkala rukuk dan sujud terdengar suara tangisnya namun beliau tetap melaksanakan salat sampai azan Bilal bin Rabah terdengar diwaktu subuh. Melihat nabi SAW demikian tekun melakukan salat, Aisyah bertanya: ”Wahai Junjungan, bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang diampuni Allah, mengapa engkau masih terlalu banyak melakukan salat?” nabi SAW menjawab:” Aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur” (HR.Bukhari dan Muslim).
Selain banyak salat nabi SAW banyak berzikir. Beliau berkata: “Sesungguhnya saya meminta ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari tujuh puluh kali” (HR.at-Tabrani).
Dalam hadis lain dikatakan bahwa Nabi SAW meminta ampun setiap hari sebanyak seratus kali (HR.Muslim). Selain itu nabi SAW banyak pula melakukan iktikaf dalam mesjid terutama dalam bulan Ramadan.
Akhlak Nabi Muhammad SAW. Akhlak nabi SAW merupakan acuan akhlak yang tidak ada bandingannya. Akhlak nabi SAW bukan hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Allah SWT. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah SWT yang artinya: “Dan sesungguhnya kami (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS.Al Qalam:4) ketika Aisyah ditanya tentang Akhlak Nabi SAW, Beliau menjawab: Akhlaknya adalah Al-Qur’an”(HR.Ahmad dan Muslim). Tingkah laku nabi tercermin dalam kandungan Al-Qur’an sepenuhnya.
Dalam diri nabi SAW terkumpul sifat-sifat utama, yaitu rendah hati, lemah lembut, jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar, tidak angkuh, santun dan tidak mabuk pujian. Nabi SAW selalu berusaha melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya dan tidak pernah berputus asa dalam berusaha.
Oleh karena itu, Nabi SAW merupakan tipe ideal bagi seluruh kaum muslimin, termasuk pula para sufi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya:”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.”.
Kehidupan Empat Sahabat Nabi Muhammad SAW.
Sumber lain yang menjadi sumber acuan oleh para sufi adalah kehidupan para sahabat yang berkaitan dengan keteguhan iman, ketakwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh karena setiap orang yang meneliti kehidupan rohani dalam islam tidak dapat mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan sufi diabad-abad sesudahnya.
Kehidupan para sahabat dijadikan acuan oleh para sufi karena para sahabat sebagai murid langsung Rasulullah SAW dalam segala perbuatan dan ucapan mereka senantiasa mengikuti kehidupan Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu perilaku kehidupan mereka dapat dikatakan sama dengan perilaku kehidupan Nabi SAW, kecuali hal-hal tertentu yang khusus bagi Nabi SAW. Setidaknya kehidupan para sahabat adalah kehidupan yang paling mirip dengan kehidupan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW karena mereka menyaksikan langsung apa yang diperbuat dan dituturkan oleh Nabi SAW. Oleh karena itu Al-Qur’an memuji mereka: ” Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk islam) diantara orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah sediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At Taubah:100).
Abu Nasr as-Sarraj at-Tusi menulis didalam bukunya, Kitab al-Luma`, tentang ucapan Abi Utbah al-Hilwani (salah seorang tabiin) tentang kehidupan para sahabat:” Maukah saya beritahukan kepadamu tentang kehidupan para sahabat Rasulullah SAW? Pertama, bertemu kepada Allah lebih mereka sukai dari pada kehidupan duniawi. Kedua, mereka tidak takut terhadap musuh, baik musuh itu sedikit maupun banyak. Ketiga, mereka tidak jatuh miskin dalam hal yang duniawi, dan mereka demikian percaya pada rezeki Allah SWT.”
Adapun kehidupan keempat sahabat Nabi SAW yang dijadikan panutan para sufi secara rinci adalah sbb:
Abu Bakar as-Siddiq.
Pada mulanya ia adalah salah seorang Kuraisy yang kaya. Setelah masuk islam, ia menjadi orang yang sangat sederhana. Ketika menghadapi perang Tabuk, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, Siapa yang bersedia memberikan harta bendanya dijalan Allah SWT. Abu Bakar lah yang pertama menjawab:”Saya ya Rasulullah.” Akhirnya Abu Bakar memberikan seluruh harta bendanya untuk jalan Allah SWT. Melihat demikian, Nabi SAW bertanya kepada: ”Apalagi yang tinggal untukmu wahai Abu Bakar?” ia menjawab:”Cukup bagiku Allah dan Rasul-Nya.”
Diriwayatkan bahwa selama enam hari dalam seminggu Abu Bakar selalu dalam keadaan lapar. Pada suatu hari Rasulullah SAW pergi kemesjid. Disana Nabi SAW bertemu Abu Bakar dan Umar bin Khattab, kemudian ia bertanya:”Kenapa anda berdua sudah ada di mesjid?” Kedua sahabat itu menjawab:”Karena menghibur lapar.”
Diceritakan pula bahwa Abu Bakar hanya memiliki sehelai pakaian. Ia berkata:”Jika seorang hamba begitu dipesonakan oleh hiasan dunia, Allah membencinya sampai ia meninggalkan perhiasan itu.” Oleh karena itu Abu Bakar memilih takwa sebagai ”pakaiannya.” Ia menghiasi dirinya dengan sifat-sifat rendah hati, santun, sabar, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan ibadah dan zikir.
Umar bin Khattab
Umar bin Khattab yang terkenal dengan keheningan jiwa dan kebersihan kalbunya, sehingga Rasulullah SAW berkata:” Allah telah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar.” Ia terkenal dengan kezuhudan dan kesederhanaannya. Diriwayatkan, pada suatu ketika setelah ia menjabat sebagai khalifah, ia berpidato dengan memakai baju bertambal dua belas sobekan.
Diceritakan, Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khatab, ketika masih kecil bermain dengan anak-anak yang lain. Anak-anak itu semua mengejek Abdullah karena pakaian yang dipakainya penuh dengan tambalan. Hal ini disampaikannya kepada ayahnya yang ketika itu menjabat sebagai khalifah. Umar merasa sedih karena pada saat itu tidak mempunyai uang untuk membeli pakaian anaknya. Oleh karena itu ia membuat surat kepada pegawai Baitulmal (Pembendaharaan Negara) diminta dipinjami uang dan pada bulan depan akan dibayar dengan jalan memotong gajinya.
Pegawai Baitulmal menjawab surat itu dengan mengajukan suatu pertanyaan, apakah Umar yakin umurnya akan sampai bulan depan. Maka dengan perasaan terharu dengan diiringi derai air mata , Umar menulis lagi sepucuk surat kepada pegawai Baitul Mal bahwa ia tidak lagi meminjam uang karena tidak yakin umurnya sampai bulan yang akan datang.
Disebutkan dalam buku-buku tasawuf dan biografinya, Umar menghabiskan malamnya beribadah. Hal demikian dilakukan untuk mengibangi waktu siangnya yang banyak disita untuk urusan kepentingan umat. Ia merasa bahwa pada waktu malamlah ia mempunyai kesempatan yang luas untuk menghadapkan hati dan wajahnya kepada Allah SWT.
Usman bin Affan
Usman bin Affan yang menjadi teladan para sufi dalam banyak hal. Usman adalah seorang yang zuhud, tawaduk (merendahkan diri dihadapan Allah SWT), banyak mengingat Allah SWT, banyak membaca ayat-ayat Allah SWT, dan memiliki akhlak yang terpuji. Diriwayatkan ketika menghadapi Perang Tabuk, sementara kaum muslimin sedang menghadapi paceklik, Usman memberikan bantuan yang besar berupa kendaraan dan perbekalan tentara.
Diriwayatkan pula, Usman telah membeli sebuah telaga milik seorang Yahudi untuk kaum muslimin. Hal ini dilakukan karena air telaga tersebut tidak boleh diambil oleh kaum muslimin.
Dimasa pemerintahan Abu Bakar terjadi kemarau panjang. Banyak rakyat yang mengadu kepada khalifah dengan menerangkan kesulitan hidup mereka. Seandainya rakyat tidak segera dibantu, kelaparan akan banyak merenggut nyawa. Pada saat paceklik ini Usman menyumbangkan bahan makanan sebanyak seribu ekor unta.
Tentang ibadahnya, diriwayatkan bahwa usman terbunuh ketika sedang membaca Al-Qur’an. Tebasan pedang para pemberontak mengenainya ketika sedang membaca surah Al-Baqarah ayat 137 yang artinya:…”Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ketika itu ia tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya, bahkan tidak mengijinkan orang mendekatinya. Ketika ia rebah berlumur darah, mushaf (kumpulan lembaran) Al-Qur’an itu masih tetap berada ditangannya.
Ali bin Abi Talib
Ali bin Abi Talib yang tidak kurang pula keteladanannya dalam dunia kerohanian. Ia mendapat tempat khusus di kalangan para sufi. Bagi mereka Ali merupakan guru kerohanian yang utama. Ali mendapat warisan khusus tentang ini dari Nabi SAW. Abu Ali ar-Ruzbari , seorang tokoh sufi, mengatakan bahwa Ali dianugerahi Ilmu Laduni. Ilmu itu, sebelumnya, secara khusus diberikan Allah SWT kepada Nabi Khaidir AS, seperti firmannya yang artinya:…”dan telah Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami.” (QS.Al Kahfi:65).
Kezuhudan dan kerendahan hati Ali terlihat pada kehidupannya yang sederhana. Ia tidak malu memakai pakaian yang bertambal, bahkan ia sendiri yang menambal pakiannya yang robek.
Suatu waktu ia tengah menjinjing daging di Pasar, lalu orang menyapanya:”Apakah tuan tidak malu memapa daging itu ya Amirulmukminin (Khalifah)?” Kemudian dijawabnya:”Yang saya bawa ini adalah barang halal, kenapa saya harus malu?”.
Abu Nasr As-Sarraj at-Tusi berkomentar tentang Ali. Katanya:”Di antara para sahabat Rasulullah SAW Amirulmukminin Ali bin Abi Talib memiliki keistimewahan tersendiri dengan pengertian-pengertiannya yang agung, isyarat-isyaratnya yang halus, kata-katanya yang unik, uraian dan ungkapannya tentang tauhid, makrifat, iman, ilmu, hal-hal yang luhur, dan sebagainya yang menjadi pegangan serta teladan para sufi.
Kehidupan Para Ahl as-Suffah. Selain keempat khalifah di atas, sebagai rujukan para sufi dikenal pula para Ahl as-Suffah. Mereka ini tinggal di Mesjid Nabawi di Madinah dalam keadaan serba miskin, teguh dalam memegang akidah, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Diantara Ahl as-Suffah itu ialah Abu Hurairah, Abu Zar al-Giffari, Salman al-Farisi, Mu’az bin Jabal, Imran bin Husin, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Huzaifah bin Yaman. Abu Nu’aim al-Isfahani, penulis tasawuf (w. 430/1038) menggambarkan sifat Ahl as-Suffah di dalam bukunya Hilyat al-Aulia`(Permata para wali) yang artinya: Mereka adalah kelompok yang terjaga dari kecendrungan duniawi, terpelihara dari kelalaian terhadap kewajiban dan menjadi panutan kaum miskin yang menjauhi keduniaan. Mereka tidak memiliki keluarga dan harta benda. Bahkan pekerjaan dagang ataupun peristiwa yang berlangsung disekitar mereka tidak lah melalaikan mereka dari mengingat Allah SWT. Mereka tidak disedihkan oleh kemiskinan material dan mereka tidak digembirakan kecuali oleh suatu yang mereka tuju.
Diantara Ahl as-Suffah itu ada yang mempunyai keistimewahan sendiri. Hal ini memang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada mereka seperti Huzaifah bin Yaman yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW tentang ciri-ciri orang Munafik. Jika ia berbicara tentang orang munafik, para sahabat yang lain senantiasa ingin mendengarkannya dan ingin mendapatkan ilmu yang belum diperolehnya dari Nabi SAW. Umar bin Khattab pernah tercengang mendengar uraian Huzaifah tentang ciri-ciri orang munafik.
Adapun Abu Zar al-Giffarri adalah seorang Ahl as-Suffah termasyur yang bersifat sosial. Ia tampil sebagai prototipe (tokoh pertama) fakir sejati. Abu Zar tidak pernah memiliki apa-apa, tetapi ia sepenuhnya milik Allah SWT dan akan menikmati hartanya yang abadi. Apabila ia diberikan sesuatu berupa materi, maka materi tersebut dibagi-bagi kepada para fakir miskin.
Begitu juga Salman Al Farisi salah seorang Ahli Suffah yang hidup sangat sederhana sampai akhir hanyatnya. Beliau merupakan salah satu Ahli Silsilah dari Tarekat Naqsyabandi yang jalur keguruan bersambung kepada Saidina Abu Bakar Siddiq sampai kepada Rasulullah SAW.
Mudah-mudahan tulisan di atas menjadi informasi yang bermanfaat bagi kita semua sehingga tidak ragu dalam berguru mengamalkan ajaran Tasawuf yang merupakan inti sari Islam yang bersumber dari ajaran Rasulullah SAW dan kemudian ajaran mulia ini diteruskan oleh Para Sahabat, Tabi’in, Tabi Tabi’in serta para Guru Mursyid sambung menyambung dengan tetap menjaga kemurniannya sehingga ajara tasawuf zaman Rasulullah SAW sampai kepada kita tetap dalam keadaan murni. Para Guru Mursyid adalah khalifah Rasulullah SAW ulama Warisatul Anbiya yang menjaga amanah Rasulullah SAW, tidak berani menambah dan mengurangi sehingga ilmu Tasawuf itu tetap terjaga sepanjang zaman.

Hijrah Menuju Cahaya Allah


“Syukur Alhamdulillah karena pagi ini anda telah selamat memasuki Tarekatullah (jalan kepada Allah), untuk itu kepada anda diminta untuk selalu istiqamah menyebut nama-Nya siang dan malam karena nama dengan yang punya nama tidak akan pernah berpisah, ketika kau menyebut nama-Nya dengan metode yang tepat maka Dia akan hadir dalam hati mu detik itu juga” (Sang Guru).
Kata-kata itu walaupun sudah sangat lama saya dengar, yaitu ketika pertama sekali habis shalat shubuh saya diterima menjadi murid Sang Guru, namun sampai saat ini nasehat tersebut masih terekam kuat dalam memori saya, seakan-akan Beliau mengucapkan baru tadi subuh.
Sejak subuh itu, saya merasakan kehidupan yang beda, menapaki jalan baru, jalan dibawah tuntunan dan bimbingan Wali Allah yang dengan sangat sabar menuntun menuju kehadirat-Nya. Tanggal subuh itu saya catat dan saya ingat, karena itu adalah hari pertama saya hijrah, berangkat dari kegelapan dan kebodohan menuju cahaya Allah yang penuh dengan pencerahan.
(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. [Ibrahim (14): 1]
Jalan yang di terangi oleh cahaya di atas cahaya sebagaimana dijelaskan dalam surat An-Nur 35 dan jalan yang merupakan pintu langsung menuju Allah SWT yaitu Wasilah sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Maidah 35.
Ketika kita memutuskan untuk menempuh jalan kepada-Nya, di bawah bimbingan Guru Mursyid yang Khalis Mukhlisin, saat itu tanpa sadar rohani kita sudah berada di alam akhirat sementara jasmani kita tetap berada di dunia.
“Kita ini ibarat orang-orang akhirat yang sedang bermain-main di muka bumi”, demikian Guru sering mengingatkan para murid agar mereka sadar bahwa tujuan hakiki bukanlah dunia ini tapi kehidupan akhirat, kehidupan bersama cahaya Allah yang harus kita miliki sejak kita hidup.
Segala sesuatu yang diperlukan di alam setelah kematian harus di selesaikan terlebih dulu di dunia ini, sehingga kita tidak lagi mencari dan berada di dalam kebingungan setelah berada di alam setelah kematian. Kita wajib mengenal Allah dengan benar dan berjumpa dengan-Nya ketika kita hidup agar setelah ruh meninggalkan jasad akan tetap bisa berjumpa dengan-Nya karena kewajiban menuntut ilmu adalah di dunia ini bukan di akhirat. Kalau di dunia tidak mengenal Allah, tidak bisa berjumpa dengan Allah maka di akhirat tidak ada yang menjamin untuk berjumpa.
Maka Hijrah menuju cahaya Allah adalah suatu yang wajib yang tidak bisa di tawar, karena tanpa itu kita akan selalu berada dalam kegelapan, kegelapan hati sejak hidup sampai di alam akhirat nanti.
Nabi 14 abad lalu telah memberikan contoh hijrah sebagai simbol, yaitu hijrah dari mekkah (kegelapan) menuju Madinah (cahaya), contoh itu yang harus diteladani oleh seluruh ummat Islam, berhijrah menuju cahaya Allah, sehingga kehidupan akan selalu di sinari cahaya Allah, dengan demikian segala gerak kita akan selalu dalam aturan-Nya, selalu atas keridhaan-Nya.
Semoga kita semua selalu di bimbing dan di tuntun oleh Allah menuju cahaya-Nya, amin ya Rabbal ‘Alamin.

Mencari Tuhan?


kaligrafi-allah-3Kunci Rahasia untuk memudahkan kita mencari sepupu jauh yang berada di Tiongkok adalah dengan ditemani oleh orang yang sudah sangat kenal dan sering berjumpa dengan sepupu kita tersebut, maka istilah yang tepat bukan mencari tapi “diperkenalkan”. Begitu juga dalam hal mencari Tuhan, istilah yang tepat adalah “diperkenalkan” sebagaimana Nabi Muhammad diperkenalkan kepada Allah oleh malaikat Jibril as sebagai pembimbing rohani Beliau. Mula-mulai diperkenal nama-Nya, “Bacalah (hai Muhammad”, bacalah dengan nama Tuhanmu..”, disini Muhammad diajari cara menyebut atau memanggil nama-Nya, diajarkan dzikir tersembunyi menyebut nama Allah pagi dan petang.
Secara bertahap atau dalam mujadah Nabi selama bertahun-tahun, maka terbukalah hijab pembatas antara Muhammad dengan Allah, maka bertemulah antara hamba dengan Tuhannya yang terungkap di Tahiyat dalam shalat, Allah berseru “Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya bagimu wahai Nabi…”. Karena shalat adalah proses Mikraj nya seorang mukmin maka seharusnya apabila shalat mengalami kesempurnaan maka kita juga mendapat seruan yang sama dari Allah, “Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya bagimu wahai fulan”.
Berulangkali saya menulis bahwa mencari Tuhan lewat akal akan lebih banyak keliru dari pada benarnya. Akal fikiran diciptakan Allah untuk mengungkapkan rahasia hasil ciptaan Allah untuk dipergunakan demi kemaslahatan manusia. Akal fikiran tidak di rancang untuk menemukan Sang Pencipta sebagai mana peringatan Allah, “Fikirkanlah ciptaanku dan jangan kau fikirkan Dzat-Ku”. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah tidak akan mungkin bisa ditemukan dengan akal fikiran. Namun demikian bukan berarti firman Allah tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak bisa ditemukan sama sekali. Sebagian keliru memaknai “Jangan kau fikirkan dzat-Ku” sebagai bentuk kemustahilan manusia untuk menemukan dzat Allah. Firman Allah tersebut mengingatkan kita bahwa ada cara khusus telah dirancang Allah untuk mengenal-Nya yaitu lewat bimbingan orang yang sudah mengenal-Nya.
Ketika pencarian Tuhan mengalami kebuntuan, maka cara terbaik adalah dengan mengikuti apa yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat dan ulama pewaris Nabi yang dengan menemukan Wasilah yang menghubungkan kita dengan Allah SWT.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan bersungguh-sungguh pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.“ ( Qs al-Maidah : 35 )
Silahkan memaknai Wasilah menurut pemahaman masing-masing, sebagian memaknai wasilah sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada-Nya dan makna wasilah menurut pemahaman Tasawuf adalah gelombang atau frekwensi yang membuat kita tersambung kepada Allah swt. Wasilah bukanlah ibadah akan tetapi Nur Allah yang diberikan kepada Nabi SAW dan kemudian diteruskan kepada ulama pewaris Nabi. Nabi sendiri bukanlah wasilah, Beliau hanya sebagai pembawa wasilah, ibarat gelas dengan air, Nabi adalah gelas sedangkan wasilah adalah air.
Wasilah akan terus berlanjut dan berkesinambungan, secara estafet tanpa putus diwariskan kedalam dada para Ulama dan wasilah ini yang kita gunakan untuk bisa berhubungan dengan Allah SWT. Ibarat listrik dengan kabel, wasilah sebagai listrik sedangkan kabel ibarat Nabi atau Wali Allah, fungsi kabel membawa arus listrik sampai kepada kita.
Perumpamaan ini hanya untuk memudahkan kita dalam memahami karena hal yang paling banyak diperdebatkan oleh orang yang belum menekuni tarekat adalah kedudukan seorang Guru Mursyid bagi pengamal tarekat yang menurut mereka diperlakukan dengan berlebihan. Anda tidak mungkin bisa menikmati listrik kalau tanpa menggunakan kabel, dan suatu hal yang wajar kalau rasa terima kasih kepada kabel yang telah begitu berjasa membawa listrik kepada anda.
Hal yang wajar kalau anda berterima kasih kepada gelas dan memperlakukan gelas dengan istimewa karena tanpa gelas anda tidak bisa minum air. Antara Mursyid dengan Wasilah walaupun berbeda unsur tapi tidak bisa dipisahkan sama sekali, keduanya telah menyatu. Kalau anda ingin menyambungkan diri dengan wasilah, anda harus menyambungkan diri dengan Guru Mursyid terlebih dulu.
Dalam hadist qudsi Allah berfirman, “…Apabila dia telah Ku cintai maka apabila melihat Aku lah matanya…” ini menunjukkan orang-orang yang dicintai oleh Allah (Guru Mursyid) memiliki keistimewaan dimana ketika kita memandang wajah Beliau ada cahaya Allah disana. Itulah sebabnya kenapa para pengamal tarekat selalu melakukan rabithah kepada Gurunya agar Allah selalu berhampiran dengan mereka dan terjauh dari gangguan setan.
Saya mengakhiri tulisan ini dengan kesimpulan bahwa Allah tidak perlu cari karena Dia tidak pernah hilang, yang dilakukan adalah mencari orang yang sudah bersama-Nya, maka orang tersebut yang akan menuntun kita kepada-Nya sebagai mana firman Allah dalam hadist Qudsi : “Jadikanlah dirimu beserta dengan Allah, Jika engkau belum bisa beserta dengan Allah maka jadikanlah dirimu beserta dengan orang yang telah beserta dengan Allah, maka dialah yang mengantarkan dirimu kepada Allah”
Semoga tulisan di hari Jum’at penuh berkah ini bermanfaat hendaknya, amin ya Rabbal ‘Alamin