BISMILLAAHIN NURI NURUN’ALA NURIN
Inilah
risalah singkat menjelaskan tentang martabat 7 (tujuh). Karena Martabat 7
(tujuh) itulah tahkiknya faham Ma’rifat atau sempuna bagi Aulia Allah
yang semuanya mempunyai keramat besar dalam sejarah Mazhab Ahlul Sunnah
Waljama’ah yang 4 (empat).
Adapun yang mula-mula menyusun
martabat 7 (tujuh) itu ialah SYEH AHMAD KUSASI BIN MUHAMMAD AL MADANI
WALI KUTUB RABBANI RIJALUL SHAID yang masyur itu. Kemudian diteruskan
lagi oleh murid-muridnya yang bernama SYEH ABDURRAUB, SYEH MUHAMMAD
SEMAN dan lain-lainnya yang semuanya berderajat Wali Kutubburrabbani.
Adapun marabat 7 (tujuh) itu adalah berdasakan hukum AKLI dan NAKLI,
untuk memahami Rahasia kebesaran Nabi kita Muhammad SAW yang
sebenar-benarnya karena himpunan segala rahasia Allah itu adalah
terhimpun pada Wujud diri Nabi kita yang bernama Muhammad dan kezahiran
Nabi kita itu menurut kezahiran manusia biasa dengan beribu berbapak dan
sebagainya.
Adapun arti martabat itu ialah tingkatan kezahiran rahasia Allah Ta’ala dan bersusun:
1. Martabat AHDIAH
2. Martabat WAHDAH
3. Martabat WAHIDIYAH
4. Martabat ALAM ARWAH
5. Martabat ALAM MISAL
6. Martabat ALAM ZASAM
7. Martabat ALAM INSYAN.
PENJELASAN SATU PERSATU
1. MARTABAT AHDIAH
Martabat Ahdiah bermakna Keesaan dan hukumnya LAA TA’AIN. Artinya :
Tiada ada sesuatu wujud yang terdahulu adanya, oleh karena itu hanya
dinamakan “AL HAQ” artinya : Keesaan Kesempurnaan Semata-mata.
Seperti Hadis Nabi SAW “ WAKA HALLAHUWALA SYIUM MA’AHU”
Artinya : Adalah Allah itu Maha Esa dan tiada ada lainnya sertanya.
Maka martabat Ahdiah itu bukanlah bermakna bahwa ada sesuatu wujud yang
terdahulu adanya daripada Nur Muhammad atau wujud yang maujud adanya
Nur Muhammad, tetapi adalah untuk menolak adanya Itikad yang menetapkan
bahwa ada lagi suatu wujud yang mengujudkan Nur Muhammad. Jadi jelasnya
martabat 7 ya’ni Martabat Ahdiah itu adalah bermakna pengakuan kepada Ke
Esaan, Kebesaran dan Kesempurnaan Nur Muhammad itu semata-mata. Oleh
karena itu Martabat yang sebenar-benarnya adalah 6 (enam) saja. Dan
bukan 7 (tujuh), sejalan dengan ayat “FII SIT TATIAIYA MIN
SUMMASTAWA’ALAL ‘ARSII” artinya : Kesempurnaan kejadian semesta alam
adalah di dalam 6 (enam) masa.
Kemudian sempurnalah kebesaran
Allah pada kejadian ARASY yang Maha Besar itu, menurut hadis sahih
“bahwa masa yang terakhir yakni kejadian sempurnalah kejadian Nabi
Adam", dengan ditempatkan di atas muka bumi.
Adapun hakikat ARASY
yang sebenarnya menurut faham Ma’rifat yang tahkik adalah terkandung
pada isyarat-isyarat huruf Nabi Adam itu sendiri, ialah Alif dan Dal itu
mengisyaratkan kepada “AHMAD” dan “MIM” itu mengisyaratkan pada
“MUHAMMAD”.
Oleh karena itu pada hakikatnya kezahiran Nabi Adam
itu adalah menjadi Wasilah Ja’ani menjadi jalan bagi kezahiran kebesaran
Nabi kita yang bernama Muhammad itu sendiri.
Di dalam tafsir
yang ma’I’tisar kebesaran Nabi kita yang bernama Muhammad itu telah
berwujud suatu sinar yang sangat menakjubkan pada nabi dan rasul-rasul
yang terdahulu dan bahkan kebesaran itulah yang telah menjadi MU’JIZAD
bagi Nabi-nabi terdahulu, maka kebesaran itulah diisyaratkan dengan
“ANNUR” di dalam AL QUR’AN, dan ANNUR itu bukanlah bermakna cahaya,
tetapi bermakna Keluasan, Kesempurnaan yang tiada terbatas dan tiada
terhingga.
2. MARTABAT WAHDAH
Adapun Martabat Wahdah
bermakna wujud yang awal yang tiada ada permulaannya dan hukumnya
“TA’INUL AWWALU” artinya : wujud yang terdahulu adanya daripada segala
wujud yang lainnya, lagi tiada ada permulaannya. Itulah yang dinamakan
HAIYUN AWWALU, HAIYUN AZALI, HAIYUN IZZATI, HAIYUN HAKIKI, yakni
bersifat HAIYUN yang sebenar-benarnya QADIM yang NAFSIAH, SALBIAH,
MA’ANI dan MANAWIAH, ZALAL, ZAMAL, QAHAR, KAMAL, itulah hakikat
kebesaran Nabi kita itu yang bernama Muhammad Rasulullah Sallahu’alaihi
Wasallam.
Maka Kandungan nama Muhammad itulah yang dinamakan
dengan Wahdah. Yang menjadi jumlah dan himpunan AF’AL, ASMA, SIFAT, ada
pun ZAT hanyalah bagi MA’LUM yakni Sendirinya.
ILLAH tidak lain,
dan dinamakan HAWIYYATUL’ALAMI” artinya : Sumber segala kejadian semesta
alam ini, dan dinamakan HADRATUS SARIZ artinya : Kebesaran yang
dipandang pada tiap-tiap yang maujud pada alam ini, itulah yang
diisyaratkan dalam Al Qur’an “NURUN’ALA NURIN” artinya : Nur yang sangat
dibesarkan pada semesta alam ini, yakni Nur yang hidup dan maujud pada
tiap yang hidup sekalian alam ini atau Nur yang hidup dan menghidupkan.
Kebesaran hakikat Muhammad itulah yang sebenarnya dipuji dengan kalimah
ALHAMDU kerana kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD itulah yang
diisyaratkan oleh kalimah ALHAMDU itu, yakni "ALIF" bermakna ALHAQ
artinya KEESAAN, KEBESARAN NUR MUHAMMAD, tajallinya ROH bagi kita. “LAM
LATIFUM” artinya Kesempurnaan Nur Muhammad, tajallinya NAFAS bagi kita,
“HA” HAMIDUN artinya Kesempurnaan Berkat Nur Muhammad, tajallinya HATI,
AKAL, NAFSU, PENGLIHAT, PENDENGAR, PENCIUM, PENGRASA dan sebagainya bagi
kita. “MIM" MAJIDUN artinya Kesempurnaan Safa’at Nur Muhammad,
tajallinya bagi kita : IMAN, ISLAM, ILMU, HIKMAH dan sebagainya. “DAL"
DARUSSALAMI artinya Kesempurnaan Nikmat Nur Muhammad, tajallinya bagi
kita : KULIT, BULU, DAGING, URAT, TULANG, OTAK, SUMSUM.
Maka itu
adalah tajallinya bagi diri yang bathin, adapun tajalli bagi diri yang
zahir adalah “ALIF” bagi kita, “LAM” dua tangan bagi kita, “HA” badan
bagi kita, “MIM” Pinggang bagi kita dan “DAL” dua kaki bagi kita. Itulah
yang diesakan dengan “ASYAHADU” yakni :
“ALIF ALHAQ" artinya Yang diEsakan dan yang diBesarkan.
“SYIN SYUHUDUL HAQ “ artinya Yang diakui bersifat Ketuhanan dengan sebenar-benarnya.
”HA HADIYAN MUHDIYAN ILAL HAQ “ artinya Yang menjadi Petunjuk selain menunjuki kepada jalan/Agama yang Hak.
“DAL DAIYAN ILAL HAQ" artinya Selalu menyerukan atau yang selalu memberi Peringatan kepada Agama yang Hak.
“ALHAMDU” berma’na “ALHAYATU MUHAMMADU” artinya Kesempurnaan Tajalli Nur Muhammad.
Fahamnya ialah “ADAM” adalah nama adab atau nama syari’at atau nama
hakikat, atau nama kebesaran bagi kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD. Dan
MUHAMMAD adalah nama keesaan yang menghimpunkan akan nama Adam dan nama
Allah.
Pada bahasa atau ilmu bahasa Arab “ADAM” itu damirnya
“HU” dan MUHAMMAD itu damirnya “HU” dan ALLAH itu damirnya “HU”. Pada
makna Syari’at “HU” itu bermakna Dia Seorang Laki-laki, dan pada makna
Hakikat adalah jumlah yang banyak rupa wujudnya, tetapi pada makna
Hakikat “HU” itu adalah “Esa” tiada berbilang-bilang. Itulah isyarat Al
Qur’an “HUWAL HAYYUN QAYYUM” yang HAIYUN awal tiada ada permulaannya
“WAHUWAL’ALI YIL’AZIM” yang bersifat denga sifat-sifat kesempurnaan lagi
maha besar. “HUWAR RAHMANURRAHIM” yang bersifat Rahman dan Rahim.
“HUWARABBUL ‘ABSIL KARIM” yang memiliki Arasy yang Maha Mulia, Arasy itu
ada nama kemuliaan Diri Nabi Kita itu yang sebenar-benarnya, tetapi
juga menjadi nama Majazi bagi sesuatu tempat atau suatu alam Ghaib yang
dimuliakan adanya, sama halnya seperti JIBRIL, MIKAIL, IZRAFIL, ISMA’IL,
NUHAIL, SURAIL.
Menurut tafsir yang me’I’tibar semuanya dengan
bahasa Suryani atau bahasa Arab di zaman Pura, yang bernama ABDULLAH
maka yang … ABDULLAH itu adalah Nabi kita yang bernama MUHAMMAD itu
sendiri.
Maka oleh karena itu di dalam ayat “ISRA’” Nabi kita itu
bernama ABDULLAH menunjukkan nama MUHAMMAD itu adalah juga Penghulu
sekalian malaikat dan kebesaran nama MUHAMMAD itulah yang
sebenar-benarnya yang diisyaratkan oleh Al Quran dengan huruf-huruf yang
tidak dapat ditentukan atau dihinggakan namanya, karena bersangatan
luas kandungannya mulai dari ALIF, LAM sampai NUR ada 29 tempat. Jadi
semuanya nama-nama yang mulia, di langit dan di bumi itu adalah nama
kemuliaan dan kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD itu semata-mata, dan
menjadi nama Majazi pada tiap-tiap Wujud yang dimuliakan pada alam ini.
Itulah isyarat Al Qur’an “WAHUAL LAZI PISSAMA ILLAHUW WAFIL ANDHI
ILLAHUN” dan dialah yang sebenar-benarnya memiliki sifat-sifat Ketuhanan
yakni sifat kesempurnaan yang ada di langit dan sifat-sifat
kesempurnaan yang ada di bumi, dan ayat “LAHUL ASMA’UL HUSNA” artinya
hanyalah dia yang sebenar-benarnya memiliki nama-nama yang mulia dan
yang terpuji yang telah maujud pada semesta alam ini.
Tetapi
karena adab Syari’at dihukumkan yang haram, haram yang najis, najis
seperti anjing dan babi dan sebagainya yang tidak layak kecuali bagi
MA'LUM pada majlis mengajar dan belajar, yang boleh membicarakan masalah
tersebut di atas. Yang ke 3 (tiga) berkata ASY SYEH BURHANUDDIN ARRUMI
pernah berkata yang maksudnya bahwa hakikat kebesaran Nur Muhammad itu
menghimpunkan 4 (empat) macam alam, dan hakikat alam itu hanya 4 (empat)
macam saja himpunannya iaitu :
Alam HASUT ialah alam yang terhampar
langit dan bumi dan segala isinya dan bagi kita HASUT itu ialah seluruh
Jasad, Kulit, Daging, Otak, Sumsum, Urat, Tulang.
Alam MALAKUT
ialah alam ghaib bagi malaikat-malaikat, dan bagi kita malakut itu ialah
Hati, Akal, Nafsu, Nafas, Penglihat, Pendengar, Pencium, Pengrasa dan
sebagainya.
Alam JABARUT ialah alam ghaib bagi Arasy, Kursi, Luh
Mahfus, Syurga, Neraka dan sebagainya dan bagi kita Alam Jabarut itu
ialah Roh, Ilmu, Hikmah, Fadilat, Hasanah dan sebagainya, dari pada
segala sifat yang mulia dan terpuji.
Alam LAHUT ialah alam ghaib
bagi kebesaran Nur Muhammad dan bagi kita alam Lahut itu ialah Bathin
tempat Rahasia, Iman, Islam, Tauhid dan Ma’rifat, maka ke 4 (empat)
macam alam itu adalah semuanya wujud kesempurnaan tajalli Nur Muhammad,
dan 4 (empat) macam alam itu lagi terhimpun kepada kebenaran wujud diri
Rasulullah yang bernama INSANUL KAMIL. Dan menjadi berkah dan
FAIDURRABBANI yakni kelebihan yang harus bagi tiap-tiap Mu’min yang ahli
Tahkik, karena mereka itu adalah “WADA SYATUL AMBIYA” yakni mewarisi
kebenaran bathin nabi-nabi dan rasul-rasul dan mu’min yang tahkik itulah
yang dinamakan Aulia Allah, tetapi mu’min itu tiada mengetahui bahwa
dirinya adalah Aulia yang sebenarnya.
Pendapat AL HALAD dan IBNU
ARABI bahwa kedua walikutub itu pernah berkata yang maksudnya bahwa
Muhammad itu ada dua rupa, yakni ada dua rupa dia atau ada dua Ma’na :
Muhammad yang bermakna QADIM AZALI, itulah diri Muhammad yang pertama,
yang tidak ada AL MAUTU/mati padanya selama-lamanya, jelasnya bahwa
Muhammad diri yang pertama kita itu. Itulah yang awal NAFAS yang akhir
SALBIAH, yang zahir MA’ANI dan yang bathin MA’NAWIYAH.
Muhammad yang
bermakna Abdullah Insanul Kamil itulah diri Muhammad yang kedua, nama
yang harus baginya, bersifat manusia biasa yang berlaku padanya “SUNNATU
INSANIAH, KULLU NAFSIN ZA IKATUL MAUT”
Dalam pada waktu itu
wajib kita meng’itikadkan bahwa jasad nabi kita itu adalah QADIM IDHOFI,
yaitu tidak rusak selama-lamanya dikandung bumi. Seperti hadis sahih AL
BUKHARI/riwayat BUKHARI : “INNALLAHA AZZA WAJALLA HARRAMA’ALAL ARDHI
AIYA KULLA AZSADAL AMBIYA” artinya : Bahwasanya Allah Ta’ala yang maha
tinggi telah mengharamkan akan bumi, bahwa bumi itu bisa menghancurkan
akan jasad para nabi-nabi. Maka tahkiknya faham kedua walikutub itu,
supaya kita jangan terlihat dengan faham Nasrani, dengan Yahudi dan
sebagainya. Maka kita tetapkan dahulu faham kita ialah :
Bahwa pada
hukum adab, Nabi kita Muhammad yang Muhammad itu adalah manusia biasa
seperti kita, hanyalah dilebihkan ia dengan kerasulan.
Bahwa
tiap-tiap manusia itu sendirinya baik pada hukum akal dan pada hukum
nakli, ada mempunyai dua macam diri yakni diri pertama atau diri hakiki
ialah Rohani, dan diri yang kedua yaitu diri Majazi ialah Jasmani, dan
diri yang kedua atau diri jasmani itu karena kemuliaan bagi Rasulullah
dinamakan INSANUL KAMIL.
Bahwa diri Hakiki yang bermakna Rohani
itulah yang bernama Muhammad. Itulah yang Qadim Azali, Qadim Izzati,
Qadim Hakiki, itulah makna yang dirahasiakan yang menjadi keesaan segala
sifat kesempurnaan yang 99 (sembilan puluh sembilan) itu. Jalannya
kebesaran wujud Roh Nabi kita itulah yang diisyaratkan oleh kalimah
“HUALLAH” jadi makna Muhammad itu Tahkiknya adalah “AINUL HAYATI” yakni
wujud sifat yang hidup dan yang menghidupkan. Maka itulah yang
diisyaratkan dengan kalimah “LA ILAHA ILLALLAH” dan yang dibenarkan
dengan kalimah “ALLAHU AKBAR” dan yang dipuji dengan “SUBBHANALLAH
WALHAMDULILLAH" dan sebagainya lagi. Itulah yang dipuji dengan “ALHAQ
QULHAQ” oleh seluruh malaikat-malaikat MUKARRABIN menurut tafsir yang
me’itibar.
Bahwa diri Majazi yang bermakna Jasmani, itulah yang
bernama Insanul Kamil. Itulah Muhammad majazi, yakni Muhammad yang kedua
yang menempuh ALMAUTU pada adab, tetapi jasad Nabi itu adalah Qadim
Idhofi. Jasad Nabi kita itulah diisyaratkan oleh ayat AL QUR’AN “PADABA
RAKALLHU AHNAUL KHORIKIM" artinya : Maha Sempurnalah Sifat Allah pada
Kezahiran Wujud yang sebaik-baik rupa kejadian itu”. Dan diisyaratkan
Hadis Qudsi “ZAHIRU RABBI WAL BATHINU ABDI” artinya : Kezahiran sifat
kesempurnaan Allah itu adalah maujud pada hakikat kesempurnaan seorang
hamba yang bernama Muhammad Rasulullah itu. Yakni maujud dengan rupa
Insanul Kamil, maka rupa wujud Insanul Kamil itulah yang diisyaratkan
oleh AL QUR’AN dengan “AMFUSAKUM” artinya : Wujud Diri Kamu Sendiri,
yakni “WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUN” artinya : Dan yang diri kami
berupa wujud insan itu apakah tidak kamu pikirkan. Yakni yang menjadi
diri hakiki atau diri pertama pada insan itu.
Pada hakikatnya
adalah kebenaran dan kesempurnaan Roh Nabi kita yang bernama Muhammad
itu semata-mata, dan diri kedua itupun tidak lain karena itulah
dinamakan insan yakni yang kedua, atau rupa Muhammad yang nyata, yang
nasut, maka kebenaran Roh Nabi kita yang bernama Muhammad itulah yang
diisyaratkan oleh Al Qur’an “ALLAHU NURUSSAMA WATIWAL ARDHI” artinya :
Kebenaran Nur Allah itu ialah Maujud di langit dan di bumi. Dan ayat
seterusnya “NURUN ‘ALA NURIN” artinya : Nur yang hidup dan yang
menghidupkan atas tiap-tiap wujud yang hidup pada alam ini, itulah
isyarat perkataan 4 (empat) sahabat besar itu yang berbunyi demikian :
Berkata Saidina Abu Bakar Siddik r.a :
ﻮﻤﺎﺮﺍﻳﺖ ﺷﻳﺎﺀﺍﻶ ﻮﺮﺍﻳﺖﺍﷲ
Artinya : Tidak aku lihat pada wujud sesuatu dan hanyalah aku lihat kebenaran Allah semata-mata dahulunya.
Kata Umar Ibnu Khattab r.a :
“MAA RAAITU SYAIAN ILLA WARAAITULLAHU MA’AHU”
Artinya : Tidak aku lihat pada wujud sesuatu dan hanyalah aku lihat kebenaran Allah Ta’ala semata-mata kemudiannya.
Kata Usman Ibnu Affan r.a :
ﻮﻤﺎﺮﺍﻴﺕ ﺘﺒﻳﺎ ﺍﻶ ﻮﺮﺍﻴﺕ ﺍﷲ ﻤﻌﻪ
Artinya : Tidak aku lihat pada wujud sesuatu hanyalah aku lihat kebesaran Allah Ta’ala semata-mata besertanya.
Kata Ali Ibnu Abi Talib r.a :
ﻮﻤﺎﺮﺍﻴﺕ ﺷﻴﺎﺀﺍﻶ ﻮﺮﺍﻴﺕ ﺍﷲ ﻓﻴﻪ
Artinya : Tidak Aku lihat pada wujud sesuatu hanyalah aku lihat kebesaran Allah Ta’ala semata-mata maujud padanya.
Itulah isyarat ayat Al Qur’an “WAKULIL HAMDULILLAH SAYURIIKUM AAYAA
TIHI FA’A HIRU NAHA” artinya : Dan ucapkanlah puji bagi Allah karena
sangat nampak bagi kamu pada wujud diri kamu itu sendiri, akan
tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala, supaya kamu dapat mengenalnya.
Dari itu dengan sabda Nabi Muhammad SAW “MAM TALABAL MAULA BISHAIRI
NAFSIHI FAKAD DALLAH DALALAM BA’IDA” artinya : Barang siapa mengenal
Allah Ta’ala di luar dari pada mengenal hakikat dirinya sendiri., maka
sesungguhnya adalah ia sesat yang bersangat sesat. Karena hakikat diri
yang sebenarnya, baik rohani dan jasmani tidak lain melainkan adalah
wujud kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD itu semata-mata. Maka apa-apa
nama segala yang maujud pada alam ini, baik pada alam yang nyata dan
alam yang ghaib adalah semuanya nama Majazi bagi kesempurnaan tajalli
NUR MUHAMMAD.
Adapun makna Syahadat yang tahkikut tahkik
“ASYHADUALLA ILAHA ILLALLAH” naik saksi aku bahwasanya Rohku dan Jasadku
tidak lain, melainkan wujud kesempurnaan tajalli NUR MUHAMMAD
semata-mata. “WA ASYHADUANNA MUHAMMADARRASULULLAH” dan naik saksi Aku
bahwa hanya MUHAMMAD RASULULLAH itu tiada lain, melainkan wujud
kebenaran tajalli NUR MUHAMMAD yang sebenar-benarnya.
Maka
kesempurnaan musyahadah, murakabah dan mukafahah, yakni keesaan pada
diri adalah pada keluar masuknya nafas, karena faham tahkik, tidak ada
lagi “LAA” tetapi hanya “ILLAH” yakni tidak lain “NAFSI ILLAHU” tidak
lain DIRIKU. Melainkan wujud kebesaran NUR MUHAMMAD semata mata.