Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Selasa, 26 April 2016
5 Fase Perjalanan Hidup
Nabi SAW bersabda:
“Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, Beliau diam”. [HR. Imam Ahmad]
Hadis diatas diriwayatkan Ahmad, 4/273, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 5)
Prinsip pergantian zaman ini juga selaras dengan prediksi Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam besar dalam bidang hadits Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi dari Abu Hudzaifah, intelijennya Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa sallam (shahibus sirr) pada 14 abad yang silam.
Ada 5 vase dalam islam sesuai hadist diatas:
Fase kenabianFase kekhilafahan ala Minhaaj al-Nubuwwah “khulafaur rasyidin”Fase raja menggigitFase raja diktator (Mulkan jabbriyyan)Akan datangan kembali fase kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian)
1. FASE KENABIAN
Inilah periode awal perjalanan sejarah ummat Islam. Saat itu ummat Islam dipimpin langsung oleh manusia paripurna (insan kamil), pemimpin orang-orang yang bertaqwa (imamul muttaqin), panglima para mujahid (qa-idul mujahidin), yaitu Muhammad shalla-llahu ‘alaihi wa sallam. Mereka langsung dipandu oleh figur teladan (uswatun hasanah) sejak masa kesulitan, kegoncangan (fatrah al-idhthirab) di Mekah sampai jaya di Madinah. Sejak sebelum berfikir tentang perang sampai berkali-kali terjun di medan laga. Sejak sebelum berfikir tentang format kepemimpinan sampai menjadi pemimpin yang disegani di Jazirah Arab. Manusia penunggang onta yang tertata ulang persepsi (tashawwur) dan mata hati (bashirah) mereka tentang Tuhan, alam sekitar dan diri mereka sendiri, terbukti dalam sejarah memiliki kapasitas dan kapabilitas menjadi penghulu dunia (ustad ziyatul ‘alam). Beralalulah masa keemasan itu (‘ashrudz dzahab) selama 23 tahun. Ketika Allah menghendaki, Ia mencabut masa kejayaan itu.
2. FASE KEKHILAFAHAN KHULAFAUR RASYIDIN
Inilah fase kedua perjalanan sejarah ummat Islam. Para ulama dan ahli sejarah sepakat bahwa periode ini adalah pada masa khulafaur rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Ada yang berpendapat sampai ke kurun khalifah kelima, Umar bin Abdul Aziz. Masa ini fase khalifah yang lurus, jujur dan adil. Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam melegitimasi masa kedua ini masih dalam koridor minhajin nubuwah (metode kenabian). Artinya periode pertama dan kedua ini adalah masa teladan dan rujukan (referensi) ummat Islam.
3. FASE RAJA YANG MENGGIGIT
Fase kehidupan ummat Islam yang ketiga ini dikuasai oleh raja yang menggigit. Ia datang silih berganti dengan sebutan yang berbeda-beda. Yang paling awal adalah Dinasti Umaiyah, kedua Dinasti Abasiyah dan ketiga Dinasti turki Utsmaniyah yang berakhir pada tahun 1924. Sekitar 13 abad ummat Islam di bawah kekuasaan raja-raja yang menggigit ini (mulkan ‘adhdhan).
Pada masa ini para khalifah disebut raja, karena secara formal menjabat khalifah tetapi pada dataran operasional pola pemerintahannya menerapkan sistem kerajaan. Kepemimpinan bukan dilahirkan oleh syura tetapi diwariskan kepada keluarga dekat kerajaan, anak keturunannya.
Disebut “raja yang menggigit” karena masih menggigit Kitabullah dan Sunnah Rasul, tetapi hampir-hampir lepas. Dan pada akhirnya lepas juga pada tahun 1924 dengan munculnya Dewan Nasional Turki oleh Mustafa Kamal Attaturk (Bapak Bangsa Turki). Namun, para ulama’ yang istiqamah menggelarinya dengan Mustafa Kamal A’da’ut Turk (Musuh Bangsa Turki). Inilah masa keruntuhan dan keterpurukan ummat Islam. Dunia Islam laksana kebun yang penuh tanaman subur dan bunga-bunga yang indah, tetapi tanpa pagar pelindung dan penjaga kebun yang bertanggung jawab.
Kondisi ini sebagaimana yang diisyaratkan Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam, “Kamu sekalian akan dijarah beramai-ramai oleh ummat-ummat manusia seperti halnya santapan yang dikerumuni orang-orang lapar. Karena kamu semuanya ibarat buih, jumlahnya banyak tetapi tidak berkualitas”.
Sebelum tahun 1924, sekalipun kendali kekuasaan dipegang oleh “raja yang menggigit”, tetapi ummat Islam masih memiliki payung dan pusat komando (al-imamah al-‘uzhma) di Turki. Dalam dokumen sejarah dicatat, para penguasa negeri-negeri muslim di seluruh dunia selalu mengadakan korespondensi dengan pusat kekuasaan di Turki. Pada akhir abad ke-20, panglima Fatahilah sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, beliau singgah untuk belajar di Akademi Militer di Turki. Sekembalinya ke Nusantara beliau bisa memukul mundur pasukan penjajah Portugis.
Raja yg mengigit adalah para penguasa Islam atau raja-raja penerus Khulafaur Rasyidin yang dengan begitu gemilangnya menjaga sekaligus mengembangkan nilai-nilai yang dibawa agama Islam. Masa ini ditandai dengan adanya hanya satu pemerintahan (kalau jaman sekarang adalah negara) dimana seluruh umat Islam sedunia tunduk dan patuh pada satu kerajaan ini.
Hebat bukan? Tidak seperti sekarang dimana umat Islam sudah terkotak-kotak kedalam sebutan negara-negara. Negara Indonesia, negara Saudi Arabia, negara Malaysia, negara Mesir, dsb. Masa Raja-Raja yang Menggigit ini terjadi dalam tiga masa, yaitu dimulai dari kepemimpinan kerajaan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, dan yang terakhir adalah kepemimpinan Bani Ustmani di Turki yang boleh dibilang baru berakhir kemarin saja, yaitu 1924 M
Pada masa ketiga perjalanan umat Islam ini terjadi dengan sangat panjang, yaitu sekitar 13 abad! Bayangkan, Islam bersinar dengan penuh keemasan selamat 1300 tahun! Sebut saja bidang kedokteran, astronomi, bangunan beserta jembatan, ilmu matematika sudah dikembangkan oleh para ilmuwan-ilmuwan muslim. Kalau toh dewasa ini semua ilmu-ilmu tersebut sepertinya ilmuwan muslim tidak punya andil, itu tidak terlepas dari kelamnya sejarah Perang Salib dimana para salibis berusaha menghilangkan bukti kejayaan umat Islam dahulu.
4. FASE DIKTATOR (Mulkan Jabbriyyan) – (kita skrg berada di vase ini)
Masa keempat perjalanan sejarah ummat Islam ini mengalami krisis kepemimpinan. Ummat Islam dari segi kuantitas tergolong besar, tetapi mereka laksana sampah, makna lain dari gutsaa’ (buih), menurut pakar hadits Dr. Daud Rasyid. Mereka bukan berkumpul tetapi berkerumun. Mereka mayoritas, tetapi hati-hati individu mereka tercabik-cabik oleh paham kedaerahan (nasionalisme) yang sempit, madzhab, aliran keagamaan dan kepentingan. Kehadirannya tidak menggenapkan dan kepergian-nya tidak mengganjilkan. Mereka diperebutkan untuk dijadikan mangsa binatang buas.
Pada periode ini, jangankan sepakat untuk mengangkat isu-isu besar penegakan Daulah Islamiyah, penentuan awal Ramadhan dan Idul Fithri saja tidak menemukan kata sepakat. Di tengah-tengah mereka tidak ada wasit (penengah) yang dipercaya untuk mengambil keputusan yang disepakati oleh semua komponen umat ini. Tubuh ummat Islam tercabik-cabik oleh perpecahan internal. Energi mereka habis untuk ghibah, namimah, hasud, dendam, terhadap kawannya sendiri. Sehingga terlambat dalam merespon perubahan-perubahan yang terjadi di sekelilingnya (dhu’ful istijabah lil mutaghayyirat).
Setelah tahun 1924, dunia memasuki perang dunia I, II dan Perang Dingin antara Blok Timur versus Blok Barat (syarqiyyah wa gharbiyyah). Tetapi, rentetan peristiwa diatas hanyalah muqaddimah tampilnya mulkan jabariyyan (raja diktator) berskala global. Setelah tahun 1990, tidak ada lagi dua kubu di pentas kehidupan global. Yaitu pasca runtuhnya Tembok Berlin di Jerman. Hegemoni raja diktator internasional mulai menampakkan eksistensinya, bermarkas di Gedung Putih (al-bait al-abyadh), dan didukung oleh kroni-kroninya yang tergabung dalam negara G7 : Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Italia, Kanada dan Rusia.
Tidak ada pemimpin yang mangkat (baca: naik ke tampuk kekuasaan) di belahan dunia ini selain dalam hegemoni raja diktator dunia, kecuali yang dirahmati oleh Allah. Mereka yang bersebarangan dengan kemauan penguasa diktator dunia akan berjalan tertatih-tatih. Mereka memiliki tangan-tangan dan kaki-kaki di semua kepingan bumi ini. Bahkan belakangan ini ada upaya sistematis untuk memecah keutuhan bangsa, dengan fenomena Papua dan Aceh. Pihak-pihak yang masih getol mempertahankan keutuhan NKRI disingkirkan oleh orang nomer satu di negeri ini dari panggung kekuasaan. Prinsip pergantian zaman ini penting diketahui agar kita menyadari di kurun mana kita ini sedang berada. Ternyata kita berada pada titik nadir kelemahan ummat ini. Kita tidak terlalu berharap kemana pun dan kepada siapa pun. Siapa pun yang tampil memegang tampuk kepemimpinandi dunia pasti mendapat SIM (Surat Izin Mangkat) dari hegemoni malikun jabbar. Marilah kita bangun, bangkit, memperbaharui komitmen kita karena kita mengalami masa yang tidak sederhana. Kita bergerak pada kurun yang tidak mudah.
Saatnya kita bangun untuk menyongsong masa terakhir dari perjalanan sejarah ummat Islam yaitu masa khilafah ‘ala manhajin nubuwwah. Karena kita yakin bahwa kepemimpinan raja diktator ada masa akhirnya. Kebatilan, sekalipun dipagari oleh kekuasaan yang kokoh akan segera hilang. Lebih-lebih saat ini mereka mengadakan konspirasi global untuk menghancur-kan pusat syiar-syiar Islam. Sesungguhnya mercusuar Islam (baca: Tanah Suci Makkah) itu adalah milik-Nya. Dia sendiri yang akan menjaganya dari tangan-tangan jahil.
5. FASE KHILAFAH AKAN DATANG KEMBALI
Persoalan yang esensial bagi kita bukan terletak pada kapan terjadinya khilafah atas metode kenabian itu. Sebab, masa itu akan terjadi pada masa kita atau kemungkinan pada zaman keturunan kita. Hadits ini adalah prediksi nubuwwah, bukan ramalan ahli nujum dan para normal. Kita tidak bangkit pun prediksi Nabi itu pun akan terjadi. Kita sekarang perlu mempersiapkan diri sebagai elemen perubah dan pencabut sang diktator dunia. Dengan cara konsisten; istiqamah, mudawamah wal istimrar (berkesinambungan) melaksanakan tahapan amal Islami (maratibul ‘amal Islami) merujuk tahapan turunnya wahyu Al Quran.
Yaitu, memperbaiki akidah (ishlahul ‘aqidah), melaksanaan syariat (tathbiqusy syari’ah), memperbaiki akhlak (ishlahul akhlaq), melaksanakan dakwah dan harakah (‘amalu ad-da’wah wal harakah) serta memperbaiki kualitas jama’ah (binaul jama’ah).
Pada akhirnya kita perlu bangkit untuk mewujudkan agenda-agenda penting dakwah diatas. Agar kita aman dan lulus dari Mahkamah Ilahi kelak. Kita berupaya menyadarkan sebanyak mungkin manusia agar menjadi batu bata dakwah (asy-sya’bu qawaa-idud da’wah). Sekalipun kita tidak sadar, tidak bangun, tidak bergerak, fenomena kebangkitan ummat Islam itu pasti terwujud, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.
Shalat Syariat dan Shalat Tariqat
Mengenai shalat, sebagaimana telah diketahui yaitu di dalam Al-Quran:
“Hendaklah kamu menjaga shalat-shalatmu dan shalat wustha (yang di tengah)” (Al-Baqarah: 238).
Yang dimaksud dengan shalat syariat ialah shalat seluruh badan yang zahir dengan gerakan tubuh, seperti: badan berdiri, lidah membaca, ruku’, sujud, duduk, mengeluarkan suara dan bacaan-bacaan. Oleh karena itu di dalam Al-Quran disebut shalawat (beberapa shalat).
Adapun shalat tariqat adalah shalatnya hati selama-lamanya, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran “Shalat Wustha”, yaitu shalat hati, karena hati berada di tengah badan; antara kanan dan kiri; antara atas dan bawah; antara bahagia dan celaka.
Rasul bersabda:
“Sesungguhnya hati manusia ada di antara dua jari-jari Allah. Allah membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya”.
Yang dimaksud dengan dua jari Allah ialah dua sifat Allah, yaitu: 1. Memaksa; 2. Pengasih. Dari ayat dan Hadits ini diketahui bahwa shalat yang pokok adalah shalat hati. Bila shalat hati dilupakan, maka rusaklah shalatnya; dan bila rusak shalatnya, rusak pula shalat seluruh badannya. Sabda Rasul: “Tidaklah sah shalat seseorang kecuali disertai dengan hadirnya hati”. Sesungguhnya orang yang shalat itu sedang bermunajat (berdialog) dengan Tuhannya. Alat untuk munajat adalah hati. Bila hati lupa maka batallah shalatnya dan shalat badannya, karena hati sebagai pokok utama dan anggota badan yang lain mengikutinya.
Rasul bersabda:
“Sesungguhnya di dalam jasad manusia ada segumpal daging. Bila ia baik, sekujur badan akan ikut baik dan bila ia buruk, sekujur badan pun menjadi buruk. Itulah hati”.
Shalat syariat mempunyai waktu tertentu di dalam satu hari satu malam lima kali. Sunatnya shalat syariat dilakukan di masjid dengan berjamaah sama-sama menghadap Ka’bah dan mengikuti Imam, tanpa riya’ dan sum’ah.
Shalat tariqat dilakukan selamanya tanpa batas waktu selama hidup di dunia dan akhirat. Masjidnya adalah hati. Berjamaahnya ialah terpadunya kesucian batin dengan selalu memperdengarkan tauhid dengan lisan batin. Imamnya adalah rasa rindu di dalam hati untuk sampai kepada Allah. Kiblatnya ialah Hadirat Allah Yang Maha Tunggal dan Keindahan Ketuhanan. Itulah kiblat yang hakiki. Hati dan ruh selamanya tidak terlepas dari shalat ini.
Hati tidak pernah tidur dan tidak akan mati, tetapi ia selalu punya kegiatan di saat tidur maupun terjaga. Shalat hati dilakukan dengan hidupnya hati tanpa suara, berdiri dan duduk; ia selalu berhadapan dengan Allah dan senantiasa siaga dengan ucapan: “Kepada-Mu kami beribadah dan kepada-Mu kami memohon pertolongan, dan mengikuti Nabi Muhammad s.a.w. karena begitulah keadaan Nabi.
Di dalam Tafsir Al-Qadhi disebutkan bahwa ayat ini merupakan isyarat tentang hati seseorang yang sudah ma’rifat kepada Allah, yang telah berpindah dari keadaan ghaib (memandang Allah ghaib) beralih kepada hadrat Ahadiyat (selalu merasa bersama Allah). Sesuai dengan sabda Rasul dalam Haditsnya: “Para Nabi dan para wali selalu shalat, walau terlah berpindah alam (wafat), seperti halnya mereka shalat di rumahnya”, yakni mereka selalu bermunajat dengan Allah karena hatinya yang sudah hidup.
Bila dua shalat telah berpadu (shalat syariat dan shalat tariqat) lahir dan batin, maka sempurnalah shalat itu dan pahalanya pun sangat besar. Qurbah (dekat dengan Allah) diraih oleh shalat ruhaniyahnya dan darajat (surga) diraih oleh shalat badannya, maka orang yang melakukan shalat seperti ini berarti ia lahiriyahnya ahli ibadah, dan batinnya Arif Billah (yang ma’rifat kepada Allah). Dan bila shalat tak berpadu antara shalat syariat dan shalat tariqat dengan hati yang hidup, maka shalatnya shalat yang kurang dan pahalanya pun hanya mendapatkan darajat, tidak mendapat Qurbah.
Do'a Mustajab yg membuat PINTU-PINTU LANGIT BERGUNCANG dan PENGHUNI LANGIT GADUH
Dalam Kitab Al-Mujabin dan Al-Du'a', disebutkan sebuah riwayat dari
Al-Hasan sebagai berikut : Alkisah ada seorang sahabat Nabi Muhammad
bernama Abu Mu'allaq, beliau adalah seorang pedagang yang jujur, ahli
ibadah, dan sering mengunjungi daerah - daerah untuk berdagang.
Pada suatu hari beliau sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah daerah, membawa banyak barang dagangan, tiba - tiba di tengah perjalanan Abu Mu'allaq dihadang oleh seorang perampok yang bersenjata.
Perampok itu berkata : " SERAHKAN SEMUA BARANG DAGANGANMU !!"
Abu menjawab : " Baiklah jika itu maumu. Silahkan ambil seluruh barang daganganku dan hartaku. Tapi biarkan aku pergi ... "
Perampok itu menjawab : " TIDAK BISA !! JIKA AKU MEMBIARKAN KAMU PERGI, KAMU BISA MELAPOR KEPADA PETUGAS KEAMANAN dan MEREKA AKAN MENGEJARKU. KAMU AKAN KUBUNUH !!! BERSIAPLAH MENUJU AKHIRAT SEKARANG ... "
Abu menjawab : " Baiklah jika itu yang engkau inginkan. Tapi sebelum mati, izinkan aku shalat 4 rakaat yang terakhir kalinya. "
Perampok itu tertawa dan berkata : " Hahahaaa ... Silahkan jika itu permintaan terakhirmu. Shalatlah sekehendak hatimu. Aku tunggu"
Lalu Abu berwudhu dan melakukan shalat hajat 4 rakaat, lalu dalam do'anya di akhir sujud, dia berdo'a :
Yaa waduudu yaa waduud,
Yaa dzal-'arsyil-majiid, yaa fa'aalallimaa yuriid.
As-aluka bi'izzikalladzii laa yuroomu,
wa bimulkikalladzii laa yudhoomu,
wa binuurikalladzi mala-a arkaana ' arsyika,
antakfiyanii syarro haadzallishshi,
yaa mughiits aghitsnii,
yaa mughiits aghitsnii,
yaa mughiits aghitsnii.
Artinya :
Wahai Yang Maha Menyayangi,
Wahai yang Maha Menyayangi,
Wahai Tuhan yang memiliki ARSY yang mulia,
Wahai Tuhan yang mengerjakan atas apa yang dikehendaki.
Aku memohon kepada-Mu dengan kehebatan-Mu yang tidak dapat ditembus,
dengan kekuasaan-Mu yang tidak dapat diambil
dengan cahaya-Mu yang memenuhi sudut - sudut ARSY-mu,
agar Engkau pelihara aku dari kejahatan perampok ini,
wahai Yang Maha Menolong, tolonglah aku ...
wahai Yang Maha Menolong, tolonglah aku ...
wahai Yang Maha Menolong, tolonglah aku ...
Tiba - tiba,
tanpa diketahui Abu yang sedang bersujud, seorang penunggang kuda tiba - tiba muncul menghunus tombak dari kedua sisi kudanya, lalu membunuh perampok yang sedang lengah.
Ketika Abu selesai shalat, kagetlah Abu karena telah melihat perampok tersebut bersimbah darah dan meninggal.
Si penunggang kuda bertanya :
" Wahai Hamba Allah, siapakah kamu sebenarnya?
Sungguh ALLAH SWT telah mengutus aku.
Aku adalah MALAIKAT LANGIT KE EMPAT.
Sungguh,
karena do'amu yang pertama , telah membuat PINTU - PINTU LANGIT BERGUNCANG,
karena do'amu yang kedua, telah membuat PENGHUNI LANGIT GADUH,
do'amu yang ketiga DISAMPAIKAN KEPADAKU bahwa ada hamba ALLAH yang shaleh yang sedang dalam kesulitan. Lalu aku memohon kepada ALLAH SWT untuk membantumu.
Dan karena do'amu yang ke empat , aku hadir membunuh perampok ini . "
Abu lalu bersujud syukur kepada ALLAH SWT karena sudah ditolong dan jiwanya terselamatkan.
Lebih lanjut dalam kita tersebut dijelaskan :
Al-Hasan menjelaskan bahwa "BARANGSIAPA BERWUDHU DAN MENDIRIKAN SHALAT HAJAT 4 RAKAAT, lalu berdo'a dengan do'a ini (apapun permintaannya),
niscaya dikabulkan, baik dia sedang berada dalam kesulitan maupun tidak.
Untuk hajat lain,
maka kalimat "antakfiyanii syaroo haadzallishsho" (agar Engkau pelihara aku dari kejahatan perampok ini)
diganti dengan kalimat :
"antaq-dhiya haajati fii kadzaa wa kadzaa"
(agar Engkau mengabulkan apa yang menjadi hajatku, yaitu ......) SEBUTKAN HAJAT ANDA
Pada suatu hari beliau sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah daerah, membawa banyak barang dagangan, tiba - tiba di tengah perjalanan Abu Mu'allaq dihadang oleh seorang perampok yang bersenjata.
Perampok itu berkata : " SERAHKAN SEMUA BARANG DAGANGANMU !!"
Abu menjawab : " Baiklah jika itu maumu. Silahkan ambil seluruh barang daganganku dan hartaku. Tapi biarkan aku pergi ... "
Perampok itu menjawab : " TIDAK BISA !! JIKA AKU MEMBIARKAN KAMU PERGI, KAMU BISA MELAPOR KEPADA PETUGAS KEAMANAN dan MEREKA AKAN MENGEJARKU. KAMU AKAN KUBUNUH !!! BERSIAPLAH MENUJU AKHIRAT SEKARANG ... "
Abu menjawab : " Baiklah jika itu yang engkau inginkan. Tapi sebelum mati, izinkan aku shalat 4 rakaat yang terakhir kalinya. "
Perampok itu tertawa dan berkata : " Hahahaaa ... Silahkan jika itu permintaan terakhirmu. Shalatlah sekehendak hatimu. Aku tunggu"
Lalu Abu berwudhu dan melakukan shalat hajat 4 rakaat, lalu dalam do'anya di akhir sujud, dia berdo'a :
Yaa waduudu yaa waduud,
Yaa dzal-'arsyil-majiid, yaa fa'aalallimaa yuriid.
As-aluka bi'izzikalladzii laa yuroomu,
wa bimulkikalladzii laa yudhoomu,
wa binuurikalladzi mala-a arkaana ' arsyika,
antakfiyanii syarro haadzallishshi,
yaa mughiits aghitsnii,
yaa mughiits aghitsnii,
yaa mughiits aghitsnii.
Artinya :
Wahai Yang Maha Menyayangi,
Wahai yang Maha Menyayangi,
Wahai Tuhan yang memiliki ARSY yang mulia,
Wahai Tuhan yang mengerjakan atas apa yang dikehendaki.
Aku memohon kepada-Mu dengan kehebatan-Mu yang tidak dapat ditembus,
dengan kekuasaan-Mu yang tidak dapat diambil
dengan cahaya-Mu yang memenuhi sudut - sudut ARSY-mu,
agar Engkau pelihara aku dari kejahatan perampok ini,
wahai Yang Maha Menolong, tolonglah aku ...
wahai Yang Maha Menolong, tolonglah aku ...
wahai Yang Maha Menolong, tolonglah aku ...
Tiba - tiba,
tanpa diketahui Abu yang sedang bersujud, seorang penunggang kuda tiba - tiba muncul menghunus tombak dari kedua sisi kudanya, lalu membunuh perampok yang sedang lengah.
Ketika Abu selesai shalat, kagetlah Abu karena telah melihat perampok tersebut bersimbah darah dan meninggal.
Si penunggang kuda bertanya :
" Wahai Hamba Allah, siapakah kamu sebenarnya?
Sungguh ALLAH SWT telah mengutus aku.
Aku adalah MALAIKAT LANGIT KE EMPAT.
Sungguh,
karena do'amu yang pertama , telah membuat PINTU - PINTU LANGIT BERGUNCANG,
karena do'amu yang kedua, telah membuat PENGHUNI LANGIT GADUH,
do'amu yang ketiga DISAMPAIKAN KEPADAKU bahwa ada hamba ALLAH yang shaleh yang sedang dalam kesulitan. Lalu aku memohon kepada ALLAH SWT untuk membantumu.
Dan karena do'amu yang ke empat , aku hadir membunuh perampok ini . "
Abu lalu bersujud syukur kepada ALLAH SWT karena sudah ditolong dan jiwanya terselamatkan.
Lebih lanjut dalam kita tersebut dijelaskan :
Al-Hasan menjelaskan bahwa "BARANGSIAPA BERWUDHU DAN MENDIRIKAN SHALAT HAJAT 4 RAKAAT, lalu berdo'a dengan do'a ini (apapun permintaannya),
niscaya dikabulkan, baik dia sedang berada dalam kesulitan maupun tidak.
Untuk hajat lain,
maka kalimat "antakfiyanii syaroo haadzallishsho" (agar Engkau pelihara aku dari kejahatan perampok ini)
diganti dengan kalimat :
"antaq-dhiya haajati fii kadzaa wa kadzaa"
(agar Engkau mengabulkan apa yang menjadi hajatku, yaitu ......) SEBUTKAN HAJAT ANDA
RAHASIA RASULULLAH DICINTAI “PENDUDUK” LANGIT DAN BUMI
Nabi Muhammad merupakan sosok nabi yang istimewa. Beliau begitu dicintai oleh para “penduduk” langit, yaitu Allâh dan para malaikat-Nya. Sebagaimana Allâh berfirman: “Sesungguhnya Allâh dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzâb [33]: 56).
Betapa istimewanya Rasulullah hingga Allâh dan para malaikat turut bershalawat baginya. Bershalawat dari Allâh berarti memberi rahmat. Bershalawat dari malaikat berarti memintakan ampunan. Sedangkan bershalawat dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat, seperti dengan perkataan: Allâhuma shalli alâ Muhammad atau Assalamu’alaika ayyuhan Nabi (semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Nabi).
Tidak hanya oleh “penduduk” langit, “penduduk” bumi-pun amat mencintai Rasulullah. Bahkan diriwayatkan dalam sebuah kisah, dikala Rasulullah wafat, Khalifah Umar mengancam akan membunuh bagi siapa saja yang berani mengatakan bahwa Rasulullah telah wafat. Sampai pada akhirnya Khalifah Abû Bakar yang berani dengan tegas mengatakan, “Rasulullah telah wafat”. Betapa cintanya para “penduduk” bumi kepada Rasulullah hingga tak rela menghadapi kenyataan akan wafatnya beliau.
Kecintaan yang teramat mendalam kepada Rasulullah tentunya menyisakan tanda tanya besar bagi siapa saja yang hendak meneladaninya. Mengapa Rasulullah amat dicintai “penduduk” langit dan bumi? Apa rahasia yang dimiliki oleh Rasulullah? Padahal beliau adalah manusia biasa sama seperti kita, hanya bedanya ia diberikan wahyu. Lantas apa yang membuatnya begitu amat dicintai? Tetunya Rasulullah memiliki rahasia tersebut, tapi tidak lantas kemudian ia menyembunyikannya. Rasulullah dengan tulus mengajarkan kita tentang cara bagaimana agar dicintai oleh “penduduk” langit dan bumi. Pelajaran tersebut ia abadikan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
Dari Abû ‘Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi dia berkata: “Seseorang mendatangi Rasûlullâh, maka beliau berakata: Wahai Rasûlullâh, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allâh dan manusia akan mencintaiku, maka beliau bersabda, Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allâh dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia.” (HR. Ibnu Majah).
Zuhud Terhadap Dunia
Zuhud terhadap dunia adalah rahasia Rasulullah agar dicintai “penduduk” langit. Rahasia ini sesuai dengan firman Allâh yang berbunyi: “…Katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa…” (QS al-Nisâ’ [4]: 77).
Dalam ayat lain Allâh berfirman: “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allâh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS al-Hadîd [57]: 23).
Allâh adalah Pencipta dunia, maka cintai Allâh bukan dunia. Sebab mencintai dunia berarti menduakan-Nya. Lantas bagaimana mungkin kita dapat dicintai-Nya?
“Dunia ibarat bayang-bayang. Jika ia dikejar maka ia akan menjauh, sebaliknya jika dijauhi maka ia akan mengejar. Oleh karenanya sikapi dunia dengan sewajarnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda bahwa sikap bijak yang harus lahir dari diri seorang muslim dalam menyikapi harta dan kekayaan yang dimiliki adalah selalu bersyukur dengan jalan melihat standar orang lain yang berada di bawahnya. Sehingga dengan cara itu, ia akan selalu merasa banyak dan cukup dengan nikmat yang telah diberikan Allâh kepadanya.” (HR. Muslim).
Rasulullah sangat zuhud terhadap dunia. Sebagai bukti, kita dapat meneladani sejarah hidupnya dalam menyikapi tiga syahwat dunia, yaitu harta, tahta dan dunia. Terhadap harta, Rasulullah tidak pernah berlebihan.
Dikisahkan dahulu Rasulullah pernah memberikan harta terakhirnya kepada seorang sahabat yang membutuhkan. Ketika ditanya sahabat, Rasulullah menjawab: “Rejekiku besok sudah ditetapkan Allâh.”
Terhadap tahta, Rasulullah juga tidak pernah berambisi. Dalam peristiwa pemindahan hajar aswad (batu), para ketua kabilah hampir berseteru hanya karena ingin memindahkan batu. Kemudian Rasulullah mengambil kain untuk tempat batu dan meminta setiap ketua kabilah memegang ujung kain. Perselisihan itupun berakhir dengan perdamaian. Adapun terhadap wanita, Rasulullah membuktikan dengan mempersunting Khadijah sebagai isteri pertamanya.
>>> Zuhud terhadap Apa yang Ada pada Manusia
Zuhud terhadap apa yang ada pada manusia adalah rahasia Rasulullah dicintai “penduduk” bumi. Al-Junaid berkata, “Zuhud ialah keadaan jiwa yang kosong dari rasa memiliki dan ambisi menguasai.”
Bahkan Alî bin Abî Thâlib menjelaskan, “Zuhud berarti tidak peduli, siapa yang memanfaatkan benda-benda duniawi ini, baik seorang yang beriman atau tidak. Kedua pernyataan tersebut mengisyaratkan kepada kita betapa tidak perlunya mengurusi apa yang ada pada orang lain. Terlebih berambisi ingin memiliki dan menguasainya.”
Rasulullah sangat zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Rasulullah tidak pernah mengemis terhadap sesuatu hal duniawi yang orang lain miliki. Sebab, pada dasarnya manusia adalah makhluk egois dan rakus. Semakin kita mempunyai rasa ingin memiliki dan menguasai apa yang dimiliki orang lain, maka dapat dipastikan orang tersebut akan benci kepada kita karena merasa apa yang dimilikinya akan terancam. Benarkah demikian? Renungkanlah.
Demikianlah rahasia Rasulullah yang menjadikannya dicintai oleh “penduduk” langit dan bumi. Kedua kunci dari rahasia Nabi berpangkal dari sikap zuhud. Berbagai penjelasan dan dalil di atas menegaskan bahwa zuhud adalah konsep yang luhur dan mendapat pengakuan dalam Islam. Zuhud merupakan bagian penting dalam usaha pendidikan jiwa dan pribadi setiap Muslim. Kendati demikian, patut diingat pesan al-Ghazali yang menyatakan bahwa seseorang yang meninggalkan harta dan dunia belum tentu dikategorikan sebagai orang yang zuhud.
Sebagai penutup, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan agar terhindar dari lilitan ketergantungan pada dunia, yaitu:
[1] Tidak meletakkan hal-hal duniawi di hati. Zahid akan meletakkan dunia di tangannya, tidak dihatinya.
[2] Tidak hanyut dalam memburu kekayaan duniawi. Betapa banyak kehancuran dan kerusakan di bumi karena kerakusan manusia.
[3] Tidak menumpuk kekayaan duniawi. Agar tidak cinta dunia, maka kita harus memposisikannya sebagai jalan (wasilah), bukan sebagai tujuan (ghayah).
[4] Segera menginfaqkan kekayaan duniawi yang diperoleh.
Minggu, 24 April 2016
OBAT TERKENA SIHIR DAN SEGALA MACAM PENYAKIT.
Diriwayatkan bahwasannya Nabi Muhammad SAW bersabda; Jibril mengajariku sebuah obat dengannya saya tidak lagi butuh pada obat lain dan dokter.
Kemudian Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali, bertanya ; Apa itu wahai Rasulullah? Sesungguhnya kami membutuhkan obat tersebut...
Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda; Ambillah air hujan secukupnya, dan bacakanlah atasnya surat Al-Fatihah, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas, dan ayat Al-Kursiy. Masing-masing dibaca sebanyak 70 kali. Diminum pagi dan sore selama 7 hari.
Demi Dzat yang telah mengutusku dengan hak sebagai seorang Nabi, sungguh Jibril telah berkata kepadaku: " Sesungguhnya, barang siapa meminum air tersebut, maka Allah akan menghilangkan segala penyakit dari tubuhnya. Dan Allah akan menyembuhkan dari semua macam sakit. Dan barang siapa pula meminumkan air tersebut pada istrinya, lalu tidur bersama dengan sang istri, maka istri akan bisa hamil dengan idzin Allah.
Dan air tersebut juga bisa menyembuhkan mata yang sakit, menghilangkan guna-guna, santet dan sihir, menghilangkan dahak, menyembuhkan sakit dada, sakit gigi, pencernaan, sembelit, kencing tidak lancar dan tidak butuh dibekam (cantuk) dan kemanfaatan2 lain yang hanya Allah yang lebih tau.
Teks arabnya:
ﻓﺎﺋﺪﺓ ; ﺭﻭﻱ ﺃﻧﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ " ﻋﻠﻤﻨﻲ ﺟﺒﺮﻳﻞ ﺩﻭﺍﺀ ﻻ ﺃﺣﺘﺎﺝ ﻣﻌﻪ ﺇﻟﻰ ﺩﻭﺍﺀ ﻭﻻ ﻃﺒﻴﺐ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ; ﻭﻣﺎ ﻫﻮ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ؟ ﺇﻥ ﺑﻨﺎ ﺣﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ . ﻓﻘﺎﻝ ; ﻳﺆﺧﺬ ﺷﻴﺊ ﻣﻦ ﻣﺎﺀ ﺍﻟﻤﻄﺮ ﻭﺗﺘﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ، ﻭﺳﻮﺭﺓ ﺍﻹﺧﻼﺹ ، ﻭﺍﻟﻔﻠﻖ ، ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﻭﺁﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ، ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﺳﺒﻌﻴﻦ ﻣﺮﺓ ﻭﻳﺸﺮﺏ ﻏﺪﻭﺓ ﻭﻋﺸﻴﺔ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ . ﻓﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﺑﻌﺜﻨﻲ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻧﺒﻴﺎ ، ﻟﻘﺪ ﻗﺎﻝ ﻟﻲ ﺟﺒﺮﻳﻞ ; ﺇﻧﻪ ﻣﻦ ﺷﺮﺏ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﺟﺴﺪﻩ ﻛﻞ ﺩﺍﺀ ﻭﻋﺎﻓﺎﻩ ﻣﻦ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ ﻭﺍﻷﻭﺟﺎﻉ ، ﻭﻣﻦ ﺳﻘﻲ ﻣﻨﻪ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﻭﻧﺎﻡ ﻣﻌﻬﺎ ﺣﻤﻠﺖ ﺑﺈﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ تعالى. ﻭﻳﺸﻔﻲ ﺍﻟﻌﻴﻨﻴﻦ ، ﻭﻳﺰﻳﻞ ﺍﻟﺴﺤﺮ ، ﻳﻘﻄﻊ ﺍﻟﺒﻠﻐﻢ ، ﻭﻳﺰﻳﻞ ﻭﺟﻊ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﻭﺍﻷﺳﻨﺎﻥ ﻭﺍﻟﺘﺨﻢ ﺍﻟﻌﻄﺶ ﻭﺣﺼﺮ ﺍﻟﺒﻮﻝ ، ﻭﻻ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺣﺠﺎﻣﺔ ﻭﻻ ﻳﺤﺼﻰ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻊ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ، ﻭﻟﻪ ﺗﺮﺟﻤﺔ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﺍﺧﺘﺼﺮﻧﺎﻫﺎ ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ
SEMOGA BERMANFA'AT.
*Kitab An-Nawadir karya al Qulyubi
Siapa Sebenarnya Yang Bersembahyang
Siapa Sebenarnya Yang Bersembahyang
Saudara saudari yang dirahmati Allah sekalian. Semua orang boleh mengerjakan sembahyang lima waktu dengan taat!. Sayangnya tidak ramai dikalangan kita yang tahu siapakah sebenarnya yang bersembahyang!.
Saudara saudari yang dirahmati Allah sekalian. Semua orang boleh mengerjakan sembahyang lima waktu dengan taat!. Sayangnya tidak ramai dikalangan kita yang tahu siapakah sebenarnya yang bersembahyang!.
Perlu diingatkan disini bahawa sebelum kita mendirikan sembahyang,
hendaklah terlebih dahulu kita pastikan siapakah sebenar-benarnya yang
bersembahyang?. Kita dikehendaki megetahui
1) Sembahyang sebelum sembahyang (solat sebelum solat)
2) Sembahyang semasa sembahyang (solat semasa solat)
3) Sembahyang sesudah sembahyang (solat sesudah solat)
Sesudah kita benar-benar tahu tiga perkara diatas, barulah boleh dikatakan yang kita itu benar-benar sembahyang!. Barang siapa yang berhajat untuk mengetahuinya,
Pelayaran melalui bahtera saya ini, adalah pelayaran bahtera ilmu yang selalu menempuh gelombang fitnah, tiupan angin sesat yang kencang dan gelora tuduhan salah yang boleh mendatangkan maut dan karam. Gelora fitnah dilautan ilmu makrifat itu, selalunya tidak pernah sepi!. Namun barang siapa yang tahan dengan gelombang, gelora serta ombak lautan fitnah makrifat, ayuh sisingkan pergelangan tangan, ayuh mari kita mengembara bersama saya. Sebelum kita berlayar di lautan fitnah ini, ingin terlebih dahulu saya mengajukan satu persoalan kepada tuan-tuan.
Siapakah Yang Bersolat Sebelum Kita Solat!
Siapakah terlebih dahulu mengerjakan sembahyang, sebelum tuan-tuan bersembahyang (bersolat)?. Sebelum tuan-tuan bersolat, siapakah terlebih dahulu yang bersolat?. Bolehkan solat kita itu, dibuat-buat sendiri, ditetapkan, dikerjakan atau diperlakukan dengan kuasa diri kita sendiri?. Bolehkah kita berkuasa untuk berdiri mengerjakan solat, jika tidak “terlebih dahulu didirikan” ?. Siapakah yang mendirikan kaki tuan-tuan?, siapakah yang mendatangkan gerak sebelum tuan-tuan bergerak untuk bersembahyang?. Siapakah yang menetapkan tuan-tuan untuk mengerjakan sembahyang. Sebelum tuan-tuan berdiri, siapakah yang mendirikan kaki tuan-tuan?.
Bolehkah kaki kita itu berdiri tanpa didahulukan oleh berdirinya Allah?. Bolehkan kita berniat, sebelum diniatkan terlebih dahulu oleh Allah, Bolehkan kita rukuk, sebelum terlebih dahulu dirukukkan oleh Allah. Siapakah yang memulakan pekerjaan sembahyang, jika tidak dimulai oleh Allah?. Siapakah yang sebenarnya bersolat, jika tidak ………………………………….
Apakah kuasa sembahyang itu kita?, Apakah yang memulai sembahyang itu kita?. Apakah yang rukuk itu kita?. Apakah yang sujud itu kita?. Cuba jawab?. Mana kuasa, mana kudrat dan mana kehendak serta kemahuan kita?. Jika tidak digerakkan, dimulai dan jika tidak dengan kudrat dan iradat Allah, bolehkah kita bersembahyang?.
Sebelum kita bersembahyang, sebenarnya Allah telah terlebih dahulu mendirikan sembahyang kita di Loh Mahfuz !. Sebelum kita beranak atau sebelum kita dilahirkan kedunia ini, sebenarnya kita telahpun dididirikan oleh Allah untuk bersembahyang!. Berdirinya kita untuk bersembahyang itu, sebenarnya adalah berdiri yang telah Allah dirikan!. Kita sebenarnya telah ditetapkan oleh Allah untuk mendirikan sembahyang, semasa didalam kitab Loh Hul Mahfuz!. Allah telah terlebih dahulu dirikan kita untuk bersolat, semasa dialam sebelum kita dilahirkan. Allah sudah mendirikan kita sembahyang, semasa didalam perut ibu lagi. Berdirinya sembahyang kita itu, adalah diatas berdirinya yang telah didirikan oleh Allah semasa didalam alam “Loh Hul Mahfuz”
Jika tidak ditetapkab oleh Allah didalam Loh Hul Mahfuz, masakan kita boleh berdiri sembahyang!. Pekerjaan sembahyang yang kita dirikan itu, adalah pekerjaan yang telah siap di kerjakan oleh Allah, sedari dialam Loh Hul Mahfuz!. Perbuatan kita itu, sebenarnya bukan atas ketetapan atau kerajinan kita, kita hanya ikut garis yang telah Allah tetapkan sedari dulu. Kita hanya lalu, hanya ikut dan hanya turuti apa yang telah Allah tetapkan.
Kita hanya ikut apa yang sudah Allah tetapkan. Pekerjaan sembahyang yang kita dirikan itu, bukan pekerjaan baru atau bukan perbuatan baru, ianya telah sedia ada didalam kitab loh hul mahfuz!. Kita ini, hanya ajuk atau hanya sekadar melakonkannya semula!. Kita hanya melakonkannya semula skrip yang telah disiapakan oleh Allah swt.
Kita sebenarnya adalah sifat yang melakukan pekerjaan yang telah orang kerjakan. Kita melakukan pekerjaan yang telah siap dikerjakan oleh orang lain!. Apakah boleh kita mengaku yang sembahyang itu kita punya?. Apakah boleh kita mengaku yang mengerjakan sembahyang itu kita?.
1) Sembahyang sebelum sembahyang (solat sebelum solat)
2) Sembahyang semasa sembahyang (solat semasa solat)
3) Sembahyang sesudah sembahyang (solat sesudah solat)
Sesudah kita benar-benar tahu tiga perkara diatas, barulah boleh dikatakan yang kita itu benar-benar sembahyang!. Barang siapa yang berhajat untuk mengetahuinya,
Pelayaran melalui bahtera saya ini, adalah pelayaran bahtera ilmu yang selalu menempuh gelombang fitnah, tiupan angin sesat yang kencang dan gelora tuduhan salah yang boleh mendatangkan maut dan karam. Gelora fitnah dilautan ilmu makrifat itu, selalunya tidak pernah sepi!. Namun barang siapa yang tahan dengan gelombang, gelora serta ombak lautan fitnah makrifat, ayuh sisingkan pergelangan tangan, ayuh mari kita mengembara bersama saya. Sebelum kita berlayar di lautan fitnah ini, ingin terlebih dahulu saya mengajukan satu persoalan kepada tuan-tuan.
Siapakah Yang Bersolat Sebelum Kita Solat!
Siapakah terlebih dahulu mengerjakan sembahyang, sebelum tuan-tuan bersembahyang (bersolat)?. Sebelum tuan-tuan bersolat, siapakah terlebih dahulu yang bersolat?. Bolehkan solat kita itu, dibuat-buat sendiri, ditetapkan, dikerjakan atau diperlakukan dengan kuasa diri kita sendiri?. Bolehkah kita berkuasa untuk berdiri mengerjakan solat, jika tidak “terlebih dahulu didirikan” ?. Siapakah yang mendirikan kaki tuan-tuan?, siapakah yang mendatangkan gerak sebelum tuan-tuan bergerak untuk bersembahyang?. Siapakah yang menetapkan tuan-tuan untuk mengerjakan sembahyang. Sebelum tuan-tuan berdiri, siapakah yang mendirikan kaki tuan-tuan?.
Bolehkah kaki kita itu berdiri tanpa didahulukan oleh berdirinya Allah?. Bolehkan kita berniat, sebelum diniatkan terlebih dahulu oleh Allah, Bolehkan kita rukuk, sebelum terlebih dahulu dirukukkan oleh Allah. Siapakah yang memulakan pekerjaan sembahyang, jika tidak dimulai oleh Allah?. Siapakah yang sebenarnya bersolat, jika tidak ………………………………….
Apakah kuasa sembahyang itu kita?, Apakah yang memulai sembahyang itu kita?. Apakah yang rukuk itu kita?. Apakah yang sujud itu kita?. Cuba jawab?. Mana kuasa, mana kudrat dan mana kehendak serta kemahuan kita?. Jika tidak digerakkan, dimulai dan jika tidak dengan kudrat dan iradat Allah, bolehkah kita bersembahyang?.
Sebelum kita bersembahyang, sebenarnya Allah telah terlebih dahulu mendirikan sembahyang kita di Loh Mahfuz !. Sebelum kita beranak atau sebelum kita dilahirkan kedunia ini, sebenarnya kita telahpun dididirikan oleh Allah untuk bersembahyang!. Berdirinya kita untuk bersembahyang itu, sebenarnya adalah berdiri yang telah Allah dirikan!. Kita sebenarnya telah ditetapkan oleh Allah untuk mendirikan sembahyang, semasa didalam kitab Loh Hul Mahfuz!. Allah telah terlebih dahulu dirikan kita untuk bersolat, semasa dialam sebelum kita dilahirkan. Allah sudah mendirikan kita sembahyang, semasa didalam perut ibu lagi. Berdirinya sembahyang kita itu, adalah diatas berdirinya yang telah didirikan oleh Allah semasa didalam alam “Loh Hul Mahfuz”
Jika tidak ditetapkab oleh Allah didalam Loh Hul Mahfuz, masakan kita boleh berdiri sembahyang!. Pekerjaan sembahyang yang kita dirikan itu, adalah pekerjaan yang telah siap di kerjakan oleh Allah, sedari dialam Loh Hul Mahfuz!. Perbuatan kita itu, sebenarnya bukan atas ketetapan atau kerajinan kita, kita hanya ikut garis yang telah Allah tetapkan sedari dulu. Kita hanya lalu, hanya ikut dan hanya turuti apa yang telah Allah tetapkan.
Kita hanya ikut apa yang sudah Allah tetapkan. Pekerjaan sembahyang yang kita dirikan itu, bukan pekerjaan baru atau bukan perbuatan baru, ianya telah sedia ada didalam kitab loh hul mahfuz!. Kita ini, hanya ajuk atau hanya sekadar melakonkannya semula!. Kita hanya melakonkannya semula skrip yang telah disiapakan oleh Allah swt.
Kita sebenarnya adalah sifat yang melakukan pekerjaan yang telah orang kerjakan. Kita melakukan pekerjaan yang telah siap dikerjakan oleh orang lain!. Apakah boleh kita mengaku yang sembahyang itu kita punya?. Apakah boleh kita mengaku yang mengerjakan sembahyang itu kita?.
Langganan:
Postingan (Atom)