Rasulullah s.a.w bersabda:
Bila hati seorang sudah dimasuki Nur, maka itu akan menjadi lapang dan
terbuka.” Setelah mendengar ucapan Rasulullah s.a.w. itu orang banyak
bertanya: “Apakah tandanya hati yang lapang dan terbuka itu ya
Rasulullah..? Rasulullah menjawab:
“Ada perhatiannya terhadap
kehidupan yang kekal di akherat nanti, dan timbul kesadaran dan
pengertian terhadap tipu daya kehidupan dunia sekarang ini, lalu dia
bersedia menghadapi mati sebelum datangnya mati.” (H.R. Ibnu Jurair)
Bersedia menghadapi mati sebelum datangnya mati adalah pelajaran luar
biasa berhikmahnya dari hadits ini.
Statement ini mengisyaratkan
kepada kita untuk berlatih mati dalam rangka menghadapi proses kematian,
agar dapat mati dalam keadaan sukses. Lalu bagaimanakah bentuk sukses
dari sebuah kematian itu? Berbicara mengenai hal ini, Nabi Ibrahim
berpesan kepada anak-anaknya: “Janganlah sampai kamu meninggal dunia
padahal kamu tidak menyerahkan dirimu (Total Submission) kepada ALLAH.”
(Q.S. Ibrahim : 152)
Orang yang menyerahkan diri secara total kepada
ALLAH adalah orang yang dekat kepada-NYA, oleh karena itu kematiannya
adalah sebuah kesuksesan. “Adapun bila yang meninggal itu adalah
orang-orang yang mendekatkan diri (kepada ALLAH). Maka (kematian
baginya) adalah lega, semerbak dan nikmat sekali.” (QS. Waqi’ah : 89-90)
Ibrahim a.s. mengisyaratkan bahwa kematian yang sukses adalah kematian
dalam keadaan “penyerahan diri secara total kepada ALLAH semata”. Karena
memang: “Sesungguhnya hidupku dan matiku hanyalah untuk ALLAH semata.
(QS. Al An’am : ) Tentang Sukses Kematian, Rasulullah bersabda: “Siapa
yang suka menemui ALLAH, ALLAH suka menemuinya, dan barang siapa benci
menemui ALLAH, ALLAH benci pula menemuinya.”
Setelah mendengar sabda
Rasulullah ini banyak para sahabat yang menangis. Melihat itu
Rasulullah bertanya kepada mereka, kenapa menangis..? Mereka menjawab:
“Semua kami membenci mati ya Rasulullah. Maka berkatalah Rasulullah:
“Bukan demikian yang dimaksud, tetapi adalah ketika menghadapi sakaratil
maut.”
Sebagaimana kehidupan yang indah, kematian yang indah adalah
kematian dengan kondisi jiwa penuh dengan ke-“Tauhid”-an. Jiwa yang
dipenuhi dengan menafikan segala bentuk penuhanan terhadap sesuatu
selain ALLAH dan terus-menerus meneguhkan (isbatkan) penuhanan kepada
ALLAH semata-mata. Karena:
Lailaha ilalloh adalah ucapan AKU
Lailaha ilalloh adalah AKU
Lailaha ilalloh adalah benteng AKU.
Siapa yang masuk dalam benteng AKU dengan mengucap Lailaha ilalloh lepas dari aniaya-KU. (Hadits Qudsi)
Dalam hidup berbekal Tauhid, dalam menghadapi sakaratul maut berbekal
Tauhid, jiwa pergi dari jasad membawa Tauhid. Jika kesadaran telah
dipenuhi dengan “Tauhid” kehidupan kita akan bebas dari aniaya ALLAH,
demikian juga dengan kematian kita. Oleh karena itu seperti diriwayatkan
oleh Muslim dari Sa’id Al-Khudri r.a beliau berkata : “Saya mendengar
Rasulullah s.a.w bersabda:
“Talkinkanlah olehmu orang yang mati di
antara kamu dengan kalimat La ilaha illallah. Karena sesungguhnya,
seseorang yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya, maka
itulah bekalnya menuju surga.” Masuk ke dalam benteng SANG AKU: Lailaha
ilalloh, tentunya bukan sekedar ucapan lisan saja. Akan tetapi telah
diyakini dengan qalbu dan telah disaksikan dengan sepenuh jiwa.
Dengan kondisi kesadaran yang demikian maka qalbu menjadi terbersihkan
dari segala kotoran-kotoran dosa, selalu terisi dengan keimanan, ingatan
selalu tertuju kepada ALLAH dan sikap jiwa dalam keadaan berserah diri
total kepada ALLAH, sebagai pemilik hidup kita. Penyerahan diri dengan
kesadaran kepada ALLAH Yang Maha Esa.
Seperti dikatakan oleh
Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali (wafat 1111): “At Tauhid al-khalis an
layaraha fii kulli syai’in ilallah” (Tauhid sejati adalah penglihatan
atas Tuhan dalam segala sesuatu). Dengan Tauhid ini, manusia menjadi
sadar kedudukannya bahwa tubuhnya adalah semata-mata bentuk Kuasa ALLAH
(melihat Tuhan dalam tubuhnya), sebagaimana alam semesta raya.
Harus
kembali kepada-NYA dalam posisi tunduk patuh sebagaimana tunduk
patuhnya alam semesta. Semua adalah bentuk Kuasa ALLAH, Energi ALLAH,
Daya ALLAH karena sesungguhnya: La haula walaa quwwata illa billahil
aliyyil adziem. Dengan Tauhid pula manusia sadar bahwa, hidup yang ada
didalam dirinya (melihat Tuhan tidak terpisahkan dari hidupnya),
yang menyebabkan badan bisa hidup bergerak serta membuatnya menjadi
makhluk sadar adalah roh yang berasal dari-NYA – “Min Ruhi” atau Roh
SANG AKU. Milik-NYA semata-mata dan aksioma akan kembali kepada-NYA.
Tidak ada rasa peng-“aku” an atas hidup, jiwa dan roh yang ada di dalam
badan ini. Ia adalah milik-NYA dan akan kembali kepada-NYA.
Dengan
kondisi psikologis yang demikian orang akan lebih tenang dengan
bertawakal kepada ALLAH semata dalam menghadapi situasi kritis saat ajal
menjemput. Karena ia telah sadar bahwa: o Mati adalah untuk kembali ke
Asal atau Sumber dari hidup, yaitu ALLAH o Mati adalah perjalanan
menuju ALLAH o Mati adalah saat menemui ALLAH o Mati adalah Bersaksinya
roh atas Wajah ALLAH o Mati adalah untuk Merasakan Kedekatan/ Kesatuan
dengan ALLAH
Pelatihan Mati Sukses, Seperti Jawaban Rasulullah
kepada para Sahabatnya: “Ada perhatiannya terhadap kehidupan yang kekal
di akherat nanti, dan timbul kesadaran dan pengertian terhadap tipu daya
kehidupan dunia sekarang ini, lalu dia bersedia menghadapi mati sebelum
datangnya mati.” Jika kita simak hadits nabi tersebut, Rasulullah telah
memberikan motivasi kepada kita tentang bagaimana hendaknya umatnya
melakukan latihan untuk menghadapi mati sebelum datangnya kematian, agar
dapat sukses ketika menghadapinya nanti.
Mengenai hal ini, Haji
Slamet Oetomo Blambangan berkenan berbagi pengetahuan dan best
practicenya kepada kita dalam menghadapi kematian. Saya senang
menyebutnya dengan istilah pelatihan mati khusyuk. Proses pelatihan ini
berangkat dari filosofi tentang Hakikat manusia yang diajarkan Tuhan
melalui al qur’an.
- Yang pertama, kematian itu adalah proses
kembali menemui Tuhan sama dengan sholat, dzikir atau itikaf. Oleh
karena itu kita posisikan Kesadaran sesuai dengan surat: Al ‘Araf : 29 :
” Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan
sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana
Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan
kembali kepadaNya).”
Meluruskan muka atau diri adalah menumpahkan
dan memusatkan seluruh perhatian kepada ALLAH semata. Dan dibekali
dengan keikhlasan dengan tingkat kesadaran seperti dinyatakan qur’an :
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al An’am : 162).
Dan
seperti dijadikan pada mulanya yaitu bayi lahir, bayi itu suci, tidak
merasa bisa tidak merasa pandai bahkan dipanggil namanya tidak
tahu/bodoh. Semua yang ada nikmat ALLAH, kepunyaan ALLAH harus kembali
kepadaNYA seperti pada mulanya yaitu seperti bayi lahir suci, perasaan
tidak bisa apa-apa. Berserah diri total.
- Yang kedua, Tahu Tujuan
Kematian. Tidak lain adalah Tuhan Semesta Alam – ALLAH. Tuhan seperti
yang dijelaskan dalam surat Al Iklash: “Tuhan ALLAH Yang Maha Esa. Tuhan
ALLAH tempat meminta. Dia tidak beranak dan tidak pula dilahirkan
sebagai anak. Dan tidak ada sesuatupun yang ada persamaannya dengan
DIA.” (Al –Iklash ) Al Fajr 27-28 dan Tuhan yang dijelaskan dalam surat
Fushilat : 54 : “Bukankah mereka masih dalam keraguan tentang pertemuan
dengan Tuhannya,,? Bukankah DIA-NYA meliputi segala sesuatu.”
- Yang
ketiga, mati adalah proses menemui ALLAH. Tidak lain adalah proses
mendekatkan diri kepada ALLAH. Proses mendekatkan diri kepada ALLAH
adalah proses menjalankan jiwa kepada tujuannya , yaitu ALLAH. Dalam
proses kematian, yang berjalan adalah jiwa dengan min ruhinya, bukan
pikiran atau hati. Seperti Firman ALLAH: “Wahai jiwa yang tenang
masuklah kedalam Surga-KU”. Adalah jiwa dengan min ruhinya, bukan badan,
pikiran dan hati. Saat kematian, seyogya nya jiwa dijalankan kepada
ALLAH dengan terus mengingat ALLAH .
Dengan ingat kepada ALLAH, jiwa
akan semakin meluncur mendekat kepada ALLAH. Pada posisi in, dalam
batin hendaknya juga dikembangkan “Baik Sangka” kepada ALLAH, sebab
sikap yang demikian akan menuntun kepada keadaan yang menjadi
persangkaan kita. Sesuai dengan rumus “AKU adalah menurut persangkaan
hamba-KU tentang AKU dan AKU bersama dia bila dia memanggil AKU”.
-
Yang Keempat, menyadari eksistensi sebagai manusia. Bahwa tubuh manusia
sebagai prototipe alam semesta adalah bentuk Kekuasaan ALLAH yang Maha
Dasyhat, Maha Luar Biasa. Sedangkan jiwa manusia dengan min ruhinya
adalah berasal dari ALLAH, secara ilahiah adalah SATU dengan ALLAH.
Oleh karena itu harus disadari bahwa tubuh ini bukan tubuh milik kita
akan tetapi Kuasa ALLAH, dan jiwa ini adalah min ruhi – Roh milik ALLAH.
Disini kedirian menjadi lenyap karena yang ada hanya Kuasa ALLAH dan
Roh ALLAH keduanya adalah milik ALLAH aspeknya ALLAH. Aksiomatis kembali
kepada ALLAH.
- Yang kelima, lihatlah kembali ke diri kita manusia.
Perhatikan keluar masuknya nafas itu adalah pertanda adanya hidup
adanya roh dalam tubuh sehingga hidup bergerak, itu adalah kinerja-NYA
ALLAH, perbuatan-NYA ALLAH. Keluar masuknya nafas adalah tanda adanya
hidup-NYA ALLAH yang ada dalam tubuh, adanya min ruhi, Roh ALLAH yang
meresapi seluruh tubuh ini. Roh ALLAH yang meresapi seluruh Qudrat ALLAH
– tubuh.
Selanjutnya Perhatikan juga sang otak yang netral –
sebagai jembatan antara roh yang metafisika dan tubuh yang fisika. Yang
bertugas sebagai regulator kesadaran manusia, berikan informasi yang
benar kepada otak, install informasi tentang kebenaran ketuhanan.
Sehingga hiduplah manusia dengan kesadaran berketuhanan secara
benar:”Tiada Tuhan selain ALLAH dan Muhammad adalah utusan ALLAH”.
-
Yang Keenam, dengan kesadaran yang telah diperoleh kini serahkanlah,
kembalikanlah, dudukkan pada posisi yang sebenarnya – segala eksisensi
yang ada kepada SUMBER nya, kepada PUSAT nya, kepada ALLAH.
- Tubuh, Pikiran, Hati adalah Qudrat ALLAH kembali kepada pemilik Qudrat yaitu ALLAH
- Jiwa dengan minruhinya adalah milik ALLAH kembali kepada ALLAH
- Rasa Ingat/ Rasa Jati/ Rasa ber Tuhan kembali kepada ALLAH
- Semua kembali kepada ALLAH.
Sang gembala
Pada zaman Nabi Musa as dahulu, hidup seorang gembala yang bersemangat
bebas. Ia tidak punya uang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya.
Yang ia miliki hanyalah hati yang lembut dan penuh keikhlasan; hati yang
berdetak dengan kecintaan kepada Tuhan. Sepanjang hari ia
menggembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan
hatinya kepada Tuhan yang dicintainya, “Duhai Pangeran tercinta, di
manakah Engkau, supaya aku dapat persembahkan seluruh hidupku pada-Mu?
Di manakah Engkau, supaya aku dapat menghambakan diriku pada-Mu? Wahai
Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernafas. Karena berkat-Mu aku hidup. Aku
ingin mengorbankan domba-Ku ke hadapan kemuliaan-Mu.”
Suatu hari,
Nabi Musa as melewati padang gembalaan tersebut dalam perjalanannya
menuju kota. Ia memperhatikan sang gembala yang sedang duduk di tengah
ternaknya dengan kepala yang mendongak ke langit.. Sang gembala menyapa
Tuhan, “Ah, di manakah Engkau, supaya aku dapat menjahit baju-Mu,
memperbaiki kasut-Mu, dan mempersiapkan ranjang-Mu? Di manakah Engkau,
supaya aku dapat menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Di manakah
Engkau, supaya aku dapat mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu
untuk minuman-Mu?”
Musa mendekati gembala itu dan bertanya, “Dengan
siapa kamu berbicara?” Gembala menjawab, “Dengan Dia yang telah
menciptakan kita. Dengan Dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan
malam, bumi dan langit.” Musa as murka mendengar jawaban gembala itu,
“Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu
ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumbat mulutmu dengan kapas
supaya kamu dapat mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang
mendengarmu tidak menjadi marah dan tersinggung dengan kata-katamu yang
telah meracuni seluruh angkasa ini. Kau harus berhenti bicara seperti
itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan menghukum seluruh penduduk
bumi ini akibat dosa-dosamu!”
Sang gembala segera bangkit setelah
mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang nabi. Ia
bergetar ketakutan. Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, ia
mendengarkan Musa as yang terus berkata, “Apakah Tuhan adalah seorang
manusia biasa, sehingga Ia harus memakai sepatu dan alas kaki? Apakah
Tuhan seorang anak kecil, yang memerlukan susu supaya Ia tumbuh besar?
Tentu saja tidak.
Tuhan Mahasempurna di dalam diri-Nya. Tuhan tidak
memerlukan siapa pun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah
engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tapi kau
juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang
penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki
otak yang sehat!”
Gembala yang sederhana itu tidak mengerti bahwa
apa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia
juga tak mengerti mengapa Nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai
seorang musuh tapi ia tahu betul bahwa seorang Nabi pastilah lebih
mengetahui dari siapa pun. Ia hampir tak dapat menahan tangisannya. Ia
berkata kepada Musa, “Kau telah menyalakan api di dalam jiwaku. Sejak
ini aku berjanji akan menutup mulutku untuk selamanya.” Dengan keluhan
yang panjang, ia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.
Dengan perasaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat,
Nabi Musa as melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba-tiba Allah Yang
Mahakuasa menegurnya, “Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan
kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pecinta dari yang
dicintainya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau dapat
menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di
antaranya.” Musa mendengarkan kata-kata langit itu dengan penuh
kerendahan dan rasa takut.
Tuhan berfirman, “Kami tidak menciptakan
dunia supaya Kami memperoleh keuntungan daripadanya. Seluruh makhluk
diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak memerlukan
pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian.
Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah
yang mereka lakukan. Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah
bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memperhatikan
keindahan kata-kata atau komposisi kalimat.
Yang Kami perhatikan
adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah
Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-kata mereka bukan
kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta,
kata-kata tidak mempunyai makna.” Suara dari langit selanjutnya berkata,
“Mereka yang terikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat
dengan cinta. Dan umat yang beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta.
Karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri.” Tuhan
kemudian mengajarkan Musa as rahasia cinta. Setelah Musa as memperoleh
pelajaran itu, ia mengerti kesalahannya.
Sang Nabi pun merasa
menderita penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, ia berlari mencari
gembala itu untuk meminta maaf. Berhari-hari Musa as berkelana di padang
rumput dan gurun pasir, menanyakan orang-orang apakah mereka mengetahui
gembala yang dicarinya. Setiap orang yang ditanyainya menunjuk arah
yang berbeda. Hampir-hampir Musa kehilangan harapan tetapi akhirnya Musa
as berjumpa dengan gembala itu. Ia tengah duduk di dekat mata air.
Pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut masai. Ia berada di tengah
tafakur yang dalam sehingga ia tidak memperhatikan Musa yang telah
menunggunya cukup lama. Akhirnya, gembala itu mengangkat kepalanya dan
melihat kepada sang Nabi. Musa as berkata, “Aku punya pesan penting
untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku, bahwa tidak diperlukan
kata-kata yang indah bila kita ingin berbicara kepada-Nya. Kamu bebas
berbicara kepada-Nya dengan cara apa pun yang kamu sukai, dengan
kata-kata apa pun yang kamu pilih.
Karena apa yang aku duga sebagai
kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang
menyelamatkan dunia.” Sang gembala hanya menjawab sederhana, “Aku sudah
melewati tahap kata-kata dan kalimat. Hatiku sekarang dipenuhi dengan
kehadiran-Nya.
Aku tak dapat menjelaskan keadaanku padamu dan
kata-kata pun tak dapat melukiskan pengalaman ruhani yang ada dalam
hatiku.” Kemudian ia bangkit dan meninggalkan Musa as. Nabi Musa as
menatap gembala itu sampai ia tak kelihatan lagi. Setelah itu Musa as
kembali berjalan ke kota terdekat, merenungkan pelajaran berharga yang
didapatnya dari seorang gembala sederhana yang tidak berpendidikan.
Cerita di atas melukiskan kepada kita bahwa ada sekelompok orang yang
mengambil cinta sebagai agamanya. Kalau seseorang telah meledakkan
kecintaannya kepada Tuhan, dia tidak lagi dapat menemukan kata-kata yang
tepat untuk melukiskan seluruh kecintaannya kepada Allah SWT. Di dalam
cinta, kata-kata menjadi tidak punya makna.
Dari kisah ini juga kita
belajar bahwa untuk dapat mendekati Allah swt, tidak diperlukan
kecerdasan yang tinggi atau ilmu yang sangat mendalam. Salah satu cara
utama untuk mendekati Tuhan adalah hati yang bersih dan tulus. Tidak
jarang pengetahuan kita tentang syariat membutakan kita dari Tuhan.
Tidak jarang ilmu menjadi hijab yang menghalangi kita dengan Allah SWT.
Kita akhiri kisah ini dengan sabda Nabi SAW, “Innallâha lâ yanzhuru
illâ shuwarikum walakinallâha yanzhuru illâ qulûbikum. Ketahuilah,
sesungguhnya Tuhan tidak memperhatikan bentuk-bentuk luar kamu. Yang
Tuhan perhatikan adalah hati kamu.”
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Kamis, 04 Agustus 2016
4 Maqam Dalam Tasawuf
Bagi Penempuh Jalan Ruhani
Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah
tingkata maqam dalam tasawuf
Didalam tarekat hanya ada 4 tingkatan yang mana keempat tingkatan tersebut berbeda istilah dalam setiap tarekat, tingkatan pencapain dalam setiap amalan-amalan tasawuf dalam dunia tarikat sufi tersebut adalah:
Zikir
Rasa
Penyaksian
Mahabbah
1. Zikir
Zikir adalah ingat. Bagi kita yang berzikir didalam dunia tasawuf, sebelum zikir tersebut dapat melahirkan rasa dekat kepada Allah maka zikir itu gagal. Jika zikir telah melahirkan rasa dekat kepada Allah maka berarti seorang penempuh jalan tareqat telah melewati satu etape atau tingkatan pencapaian ( maqam ). Artinya zikir seorang salik yang sukses adalah zikir yang melahirkan rasa dekat kepada Allah.
2. Rasa
Maqam yang kedua adalah rasa dekat, ketika seorang penempuh jalan telah memilki rasa dekat kepada Allah, dan rasa dekat tersebut sudah sampai kepada puncak rasa, tanpa ia sadari ternyata ia baru sampai di tengah jalan, artinya sang salik belum sampai ke tujuan yang sesungguhnya. Rasa dekat kepada Allah bukanlah tujuan, rasa dekat hanya sebagai batu loncatan untuk dapat meyaksikan Allah.
Darimanakah datangnya rasa dekat kepada Allah tersebut?
Rasa dekat mustahil terbit dari akal seorang hamba apalagi datang dari hawa nafsu. Rasa dekat lahir dari pemberian Allah sendiri, seorang hamba tidak mampu menciptakan rasa dekat di dalam hati dan perasaannya sendiri, akal tidak memilki kesanggupana untuk melahirkan rasa dekat apalagi hawa nafsu. jika rasa dekat tersebut muncul yakinlah bahwasanya:
" Di balik rasa dekat itu tidak ada yang lain selain Allah "
Tidak satupun zat yang sanggup memberikan rasa dekat kepada Allah melainkan Allah sendiri.
3. Penyaksian
Ketika keakuan diri sudah lenyap, rasa kepemilikin sudah hilang terhadap segala sesuatu termasuk terhadap diri sendiri bahkan terhadap kata " aku " sendiri, sehingga mencapai titik nol maka pada saat itulah terbuka tirai dan hijab yang di buka sendiri oleh Allah. Disaat di bukakan hijab maka pada saat itulah sang hamba akan dapat menyaksikan keindahan Wajahnya Allah.
Meyaksikan Allah dengan hati bukan dengan kedua mata, karena meyaksikan adalah kerja hati dan melihat adalah kerja mata. Artinya yang meyaksikan Allah adalah hati bukan kedua bola mata kita.
4. Mahabbah
Setelah tirai itu terbuka dan dapat menyaksikan keindahan Allah, siapa yang tidak akan jatuh cinta? siapa yang tidak akan takjub kepada Allah? Maqam cinta adalah maqam tertinggi dalam pencapaian tingkatan seorang penempuh jalan tasawuf sufi/tarekat.
Didalam tarekat hanya ada 4 tingkatan yang mana keempat tingkatan tersebut berbeda istilah dalam setiap tarekat, tingkatan pencapain dalam setiap amalan-amalan tasawuf dalam dunia tarikat sufi tersebut adalah:
Zikir
Rasa
Penyaksian
Mahabbah
1. Zikir
Zikir adalah ingat. Bagi kita yang berzikir didalam dunia tasawuf, sebelum zikir tersebut dapat melahirkan rasa dekat kepada Allah maka zikir itu gagal. Jika zikir telah melahirkan rasa dekat kepada Allah maka berarti seorang penempuh jalan tareqat telah melewati satu etape atau tingkatan pencapaian ( maqam ). Artinya zikir seorang salik yang sukses adalah zikir yang melahirkan rasa dekat kepada Allah.
2. Rasa
Maqam yang kedua adalah rasa dekat, ketika seorang penempuh jalan telah memilki rasa dekat kepada Allah, dan rasa dekat tersebut sudah sampai kepada puncak rasa, tanpa ia sadari ternyata ia baru sampai di tengah jalan, artinya sang salik belum sampai ke tujuan yang sesungguhnya. Rasa dekat kepada Allah bukanlah tujuan, rasa dekat hanya sebagai batu loncatan untuk dapat meyaksikan Allah.
Darimanakah datangnya rasa dekat kepada Allah tersebut?
Rasa dekat mustahil terbit dari akal seorang hamba apalagi datang dari hawa nafsu. Rasa dekat lahir dari pemberian Allah sendiri, seorang hamba tidak mampu menciptakan rasa dekat di dalam hati dan perasaannya sendiri, akal tidak memilki kesanggupana untuk melahirkan rasa dekat apalagi hawa nafsu. jika rasa dekat tersebut muncul yakinlah bahwasanya:
" Di balik rasa dekat itu tidak ada yang lain selain Allah "
Tidak satupun zat yang sanggup memberikan rasa dekat kepada Allah melainkan Allah sendiri.
3. Penyaksian
Ketika keakuan diri sudah lenyap, rasa kepemilikin sudah hilang terhadap segala sesuatu termasuk terhadap diri sendiri bahkan terhadap kata " aku " sendiri, sehingga mencapai titik nol maka pada saat itulah terbuka tirai dan hijab yang di buka sendiri oleh Allah. Disaat di bukakan hijab maka pada saat itulah sang hamba akan dapat menyaksikan keindahan Wajahnya Allah.
Meyaksikan Allah dengan hati bukan dengan kedua mata, karena meyaksikan adalah kerja hati dan melihat adalah kerja mata. Artinya yang meyaksikan Allah adalah hati bukan kedua bola mata kita.
4. Mahabbah
Setelah tirai itu terbuka dan dapat menyaksikan keindahan Allah, siapa yang tidak akan jatuh cinta? siapa yang tidak akan takjub kepada Allah? Maqam cinta adalah maqam tertinggi dalam pencapaian tingkatan seorang penempuh jalan tasawuf sufi/tarekat.
Dzikr Khofi
dzikr khofi adalah "awal" dan puncaknya dzikr itu sendiri., sebelum saya jelaskan apa itu dzikr khofi maka ada baiknya saya jelaskan yg berkaitan denganya yakni nafas, tanafas, anfas, nufus.
Di dalam ajaran Islam jawa terdapat empat jenis nafas
iaitu nafas, tanafas, anfas dan nufus. Dalam bahasa Jawa
diucapkan “napas, tanapas, anpas,nupus”
Napas merupakan tali tubuh dan berada di dalam hati
suweda. Hati yang menghubungkan fikiran yang suci.
kewujudannya adalah udara yang keluar dari badan.
Dalam istilah biologi, nafas yang ada dalam hati suweda
ini menjadi udara yang mengandungiCO2. Udara ini
secara normal keluar dari tubuh dengan sendirinya.
Dengan keluarnya Co2 ini dari tubuh badan menjadikan
fikiran bersih.
Tanapas merupakan tali hati. Nafas yang mengikat hati
sirri (rasa hati). Bersumberkan dari perasaan hati yang
jernih. Kedudukan nafas ini ada di daerah pusat.
Kewujudan dari tanapas ini adalah udara segar yang
masuk ke dalam tubuh.Jadi tujuan menarik nafas
dalam-dalam ketika berolahraga bertujuan untuk
memasukkan udara bersih atau oksigen bagi melakukan
pembakaran di dalam tubuh kita sehingga daya dan
tenaga baru dihasilkan.
Anpas merupakan tali ruh. Tali yang mengikat ruh
dengan badan jasmani.Letak anpas adalah di jantung.
Kewujudannya adalah udara yang ada di dalam tubuh.
Apabila dilakukan secara berturutan pertama kali nafas
dihembus keluar terlebih dahulu supaya zat kekotoran
yang berupa udara tersingkir dari tubuh badan.
Kemudian tarik nafas secara dalam-dalam dan ditahan
sejenak didalam. baru kemudian dilepaskan secara
perlahan-lahan. Jadi udara yang ditahan itu merupakan
perwujudan dari anpas.
Nupus merupakan tali rasa dan berada di tengah-tengah
jantung iaitu dibahagian jantung yang berwarna putih.
ianya befungsi sebagai jembatan jantung yang
menghubungkan rasa dengan atma. Kewujudannya
adalah udara yang bergerak dari kiri ke kanan meliputi
seluruh tubuh jasmani dan rohani. dalam bahasa biologi
darah yang mengandungi oksigen ( dari udara bersih
paru-paru) keluar dari ventrikel kiri jantung melalui
pembuluh darah aorta dan beredar ke seluruh tubuh.
jadi disebut dzikr khofi itu ialah ketika nafas, tanafas, anfas, nufus ikut berdzikr, yaitu yg tercipta ketika seseorang mengamalkan dzikr nafas (hu Allah) senantiasa maka terciptalah suatu keadaan diri yg selalu mengingatNya, dzikr yg tak berlafal, mabuk dalamNya dan slalu ingat Dia.
dimanapun kapanpun walau disituasi apapun.
salam sejahtera, fasalamun alaykum udkhulil jannata bima kuntun tamalun.
Senin, 01 Agustus 2016
ALAM MALAKUT
[ Prof Dr Nasarudin Umar ]
Tingkatan-tingkatan alam dalam dunia tasawuf iaitu alam mulk, Mitsal atau alam khayalan, dan alam barzah, yang keseluruhannya ternyata akrab dengan manusia. Sementara alam malakut yang lebih di kenal dengan alamnya para malaikat dan jin, merupakan suatu alam yang tingkat berdekatannya dengan alam puncak lebih utama dari pada alam-alam sebelumnya.
Namun, alam malakut masih lebih rendah dari alam diatasnya, seperti jabarrut dan al-a’yan al-Tsabitah. Bermulai dari alam mitsal sampai alam-alam di atasnya tidak boleh di tangkap panca indera dasar ataupun fizikal manusia kerana sudah masuk wilayah alam ghaib. Manusia yang dengan panca indera fizikal hanya mampu mengobservasi/memasuki secara fizikal alam syahadah mutlak, seperti alam mineral, alam tumbuh-tumbuhan, alam haiwan, dan sebahagian dari dirinya sendiri.
Al-Quran mengisyaratkan unsur kejadian manusia ada tiga iaitu unsur badan atau jasad, unsur nyawa (nafs), da unsur roh (ruh). Dalam Al-Quran, nyawa dan ruh berbeza. Nyawa dimiliki tumbuh-tumbuhan dan binatang, tetapi unsur roh tidak dimiliki keduanya, bahkan oleh seluruh makhluk Tuhan lainnya. Unsur roh inilah yang membuat para malaikat dan seluruh makhluk lainnya sujud kepada manusia (Adam).
Roh yang merupakan unsur yang ketiga manusia ini menjadi potensi amat dasyat baginya untuk mengakses alam puncak sekalipun. Unsur ketiga inilah yang disebut sebagai ciptaaan khusus (khalqon akhar) di dalam Alquran.
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati yang (berasal) dari tanah. Kemudian, kami jadikan saripati iaitu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian, kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, pencipta Yang paling baik”.(QS al-mukmin [23]:12-14).
Kata ansya’nahu khalqan akhar dalam ayat di atas, menurut para mufasir, maksudnya adalah unsur rohani setelah unsur jasad dan nyawa (nafs). Hal ini sesuai dengan riwayat ibnu Abbas yang menafsirka kata ansya’nahu dengan ja’ala ansya’al ruh fih, atau penciptaan roh kedalam diri adam. Unsur ketiga ini kemudian disebut unsur ruhani, atau lahut atau malakut, yang menjadikan manusia berbeza dengan makhluk biologi lainnya.
Unsur ketiga ini merupakan proses terakhir dan sekaligus penyempurnaan subtansi manusia sebagaimana di tegaskan di dalam beberapa ayat, seperti dalam surah al-Hijr: 28-29. Setelah pencitaan unsur ketiga ini selesai, para makhluk lain termasuk para malaikat dan jin bersujud kepada Adam dan alam raya pun di tundukkan (taskhir) untuknya. Unsur ketiga ini pulalah yang mendukung kapasitas manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi (QS al-An’am [6]: 165) disamping sebagai hamba (QA al Zariat [51]:56).
Meskipun memiliki unsur ketiga, manusia akan tetap menjadi satu-satunya makhluk eksistensialis karena hanya makhluk ini yang bisa turun naik derajatnya di sisi Tuhan. Sekalipun manusia ciptaan terbaik (ahsan taqwim/QS at-tin [95]:4), ia tidak mustahil akan turun kederajat paling rendah (asfala sa-filin)/Qs At-Tin [95]:5), bahkan bisa lebih rendah dari pada binatang ( Qs –al A’raf [7]:179).
Eksistensi kesempurnaan manusia dapat di capai manakala ia mampu menyinergikan secara seimbang potensi berbagai kecerdasan yang di milikinya. Seperti orang sering menyebutnya dengan kecerdasan unsur jasad (IQ), kecerdasan nafsi EQ), dan kecerdasan ruhani (SQ). Tidak semua aspek manusia itu dapat dipahami secara ilmiyah dan terukur oleh kekuatan panca indera manusia. Kerana memang unsur manusia memiliki unsur berlapis-lapis.
Dari lapis mineral tubuh kasar sampai kepada roh (unsur Lahut/malakut) yang di
cipta Allah SWT sebagaimana di tegaskan lagi di dalam Alquran, “kemudian apabila telah aku sempurnakan kejadiannya dan aku tiupkan roh-Ku kepadanya, tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya. Lalu para malaikat itu bersujud semuanya”.(QS Shad[38]:72-73).
para penghuni alam malakut terdiri atas para jin dan malaikat, termasuk iblis. Alam ini tidak bisa di akses dengan panca indra atau kekuatan-kekuatan fisik manusia. Alam ini hanya boleh di akses manusia jika mereka mampu menggunakan potensi lahut dan malakut yang dimilikinya. Hubungan interaktif antara para penghuni alam dimungkinkan, mengingat berbagai alam itu sama-sama ciptaan Allah SWT.
Manusia sebagai makhluk utama memiliki kemampuan untuk itu karena kedahsyatan unsur ketiga tadi. Jika kita merujuk kepada pendapat Syekh Abdul Qodir Jilani yang membahagi Roh itu dalam empat tingkatan, semakin mudah kita memahami kemungkinan itu. Menurut Syekh Abdul Qodir Jailani dalam kitabnya sirr al – asrar, roh itu memiliki empat tingkatan.
Tingkatan itu adalah roh jasad yang berinteraksi dengan alam mulk; roh ruhani yang berinteraksi dengan alam malakut; roh sultani yang beriteraksi dengan alam jabarut; dan roh al quds yang berinteraksi alam lahut. Namun perlu diingatkan di sini kita sebagai hamba tidak boleh menyamakan oleh bayangan keindahan alam-alam di atas manusia.
Jangan sampai kita lengah sehingga seolah-olah pencarian kita bukan lagi tertuju kepada redho Allah semata. Melainkan sesudah merasakan unsur-unsur kekeramatan. Semakin tinggi tingkat pencarian seseorang, semakin tinggi pula unsur yang akan ditempuhinya sebagaimana disebutkan dalam hadis Qudsi diatas.
“Kerjakanlah semuanya dengan semata-mata kerana Allah SWT.
Tingkatan-tingkatan alam dalam dunia tasawuf iaitu alam mulk, Mitsal atau alam khayalan, dan alam barzah, yang keseluruhannya ternyata akrab dengan manusia. Sementara alam malakut yang lebih di kenal dengan alamnya para malaikat dan jin, merupakan suatu alam yang tingkat berdekatannya dengan alam puncak lebih utama dari pada alam-alam sebelumnya.
Namun, alam malakut masih lebih rendah dari alam diatasnya, seperti jabarrut dan al-a’yan al-Tsabitah. Bermulai dari alam mitsal sampai alam-alam di atasnya tidak boleh di tangkap panca indera dasar ataupun fizikal manusia kerana sudah masuk wilayah alam ghaib. Manusia yang dengan panca indera fizikal hanya mampu mengobservasi/memasuki secara fizikal alam syahadah mutlak, seperti alam mineral, alam tumbuh-tumbuhan, alam haiwan, dan sebahagian dari dirinya sendiri.
Al-Quran mengisyaratkan unsur kejadian manusia ada tiga iaitu unsur badan atau jasad, unsur nyawa (nafs), da unsur roh (ruh). Dalam Al-Quran, nyawa dan ruh berbeza. Nyawa dimiliki tumbuh-tumbuhan dan binatang, tetapi unsur roh tidak dimiliki keduanya, bahkan oleh seluruh makhluk Tuhan lainnya. Unsur roh inilah yang membuat para malaikat dan seluruh makhluk lainnya sujud kepada manusia (Adam).
Roh yang merupakan unsur yang ketiga manusia ini menjadi potensi amat dasyat baginya untuk mengakses alam puncak sekalipun. Unsur ketiga inilah yang disebut sebagai ciptaaan khusus (khalqon akhar) di dalam Alquran.
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati yang (berasal) dari tanah. Kemudian, kami jadikan saripati iaitu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian, kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, pencipta Yang paling baik”.(QS al-mukmin [23]:12-14).
Kata ansya’nahu khalqan akhar dalam ayat di atas, menurut para mufasir, maksudnya adalah unsur rohani setelah unsur jasad dan nyawa (nafs). Hal ini sesuai dengan riwayat ibnu Abbas yang menafsirka kata ansya’nahu dengan ja’ala ansya’al ruh fih, atau penciptaan roh kedalam diri adam. Unsur ketiga ini kemudian disebut unsur ruhani, atau lahut atau malakut, yang menjadikan manusia berbeza dengan makhluk biologi lainnya.
Unsur ketiga ini merupakan proses terakhir dan sekaligus penyempurnaan subtansi manusia sebagaimana di tegaskan di dalam beberapa ayat, seperti dalam surah al-Hijr: 28-29. Setelah pencitaan unsur ketiga ini selesai, para makhluk lain termasuk para malaikat dan jin bersujud kepada Adam dan alam raya pun di tundukkan (taskhir) untuknya. Unsur ketiga ini pulalah yang mendukung kapasitas manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi (QS al-An’am [6]: 165) disamping sebagai hamba (QA al Zariat [51]:56).
Meskipun memiliki unsur ketiga, manusia akan tetap menjadi satu-satunya makhluk eksistensialis karena hanya makhluk ini yang bisa turun naik derajatnya di sisi Tuhan. Sekalipun manusia ciptaan terbaik (ahsan taqwim/QS at-tin [95]:4), ia tidak mustahil akan turun kederajat paling rendah (asfala sa-filin)/Qs At-Tin [95]:5), bahkan bisa lebih rendah dari pada binatang ( Qs –al A’raf [7]:179).
Eksistensi kesempurnaan manusia dapat di capai manakala ia mampu menyinergikan secara seimbang potensi berbagai kecerdasan yang di milikinya. Seperti orang sering menyebutnya dengan kecerdasan unsur jasad (IQ), kecerdasan nafsi EQ), dan kecerdasan ruhani (SQ). Tidak semua aspek manusia itu dapat dipahami secara ilmiyah dan terukur oleh kekuatan panca indera manusia. Kerana memang unsur manusia memiliki unsur berlapis-lapis.
Dari lapis mineral tubuh kasar sampai kepada roh (unsur Lahut/malakut) yang di
cipta Allah SWT sebagaimana di tegaskan lagi di dalam Alquran, “kemudian apabila telah aku sempurnakan kejadiannya dan aku tiupkan roh-Ku kepadanya, tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya. Lalu para malaikat itu bersujud semuanya”.(QS Shad[38]:72-73).
para penghuni alam malakut terdiri atas para jin dan malaikat, termasuk iblis. Alam ini tidak bisa di akses dengan panca indra atau kekuatan-kekuatan fisik manusia. Alam ini hanya boleh di akses manusia jika mereka mampu menggunakan potensi lahut dan malakut yang dimilikinya. Hubungan interaktif antara para penghuni alam dimungkinkan, mengingat berbagai alam itu sama-sama ciptaan Allah SWT.
Manusia sebagai makhluk utama memiliki kemampuan untuk itu karena kedahsyatan unsur ketiga tadi. Jika kita merujuk kepada pendapat Syekh Abdul Qodir Jilani yang membahagi Roh itu dalam empat tingkatan, semakin mudah kita memahami kemungkinan itu. Menurut Syekh Abdul Qodir Jailani dalam kitabnya sirr al – asrar, roh itu memiliki empat tingkatan.
Tingkatan itu adalah roh jasad yang berinteraksi dengan alam mulk; roh ruhani yang berinteraksi dengan alam malakut; roh sultani yang beriteraksi dengan alam jabarut; dan roh al quds yang berinteraksi alam lahut. Namun perlu diingatkan di sini kita sebagai hamba tidak boleh menyamakan oleh bayangan keindahan alam-alam di atas manusia.
Jangan sampai kita lengah sehingga seolah-olah pencarian kita bukan lagi tertuju kepada redho Allah semata. Melainkan sesudah merasakan unsur-unsur kekeramatan. Semakin tinggi tingkat pencarian seseorang, semakin tinggi pula unsur yang akan ditempuhinya sebagaimana disebutkan dalam hadis Qudsi diatas.
“Kerjakanlah semuanya dengan semata-mata kerana Allah SWT.
Senin, 25 Juli 2016
KELEBIHAN MENGIKUT SUNNAH RASULULLAH SAW YANG BERKAITAN DENGAN SEMBAHYANG
KELEBIHAN MENGIKUT SUNNAH RASULULLAH SAW YANG BERKAITAN DENGAN SEMBAHYANG
Fadhilat Memakai Gamis (jubah)
Dari Ummi Salamah RA ia berkata:
عَنْ اُمِّ سَلَهَمَةَ رَضِىَ الله ُ عَنْهَا قَالَتُ : كَانَ اَحَبَّ الثِّيَابِ اِلَى رَسُولُ اللهِ الْقَمِيْصُ ( رواه ابوداود والتركذى )
Ertinya, "Adalah pakaian yang paling disukai oleh Nabi SAW ialah gamis."
Fadhilat Memakai Serban
رَكْعَتَانِ بِعِمَامَةٍ خَيْرٌ مِّنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةً بِلاَ عِمَامَةٍ
“Dua rakaat dengan memakai serban itu terlebih baik daripada 70 rakaat dengan tiada serban."
Fadhilat Tudung Kepala
Sunat juga memakai tudung kepala dengan serban atau kain selendang.
Dalam kitab "Baghyatut Tullab" diterangkan tentang tudung kepala demikian, "… dan demikian lagi sunat memakai tudung kepalanya jikalau dengan kain selendangnya kerana faedahnya (fadhilatnya) sangat banyak dan dinamakan Khalwat Sugra lagi membaikkan zahir dan bathin seperti malu ia akan Allah SWT dan takut ia daripada-Nya kerana tutup kepala itu kelakuan orang yang takut yang lari yang tiada menolong akan dia baginya dan lagi ada padanya itu menghimpunkan bagi fikir dan memeliharakan daripada banyak pandang kepada maksiat dan menghimpunkan himmahnya dan dapat hadir hati serta Tuhannya dan terpelihara anggotanya daripada menyalahi dan dirinya daripada keinginan dan lainnya daripada beberapa fawaid (banyak faedah)."
Fadhilat Memakai Gamis (jubah)
Dari Ummi Salamah RA ia berkata:
عَنْ اُمِّ سَلَهَمَةَ رَضِىَ الله ُ عَنْهَا قَالَتُ : كَانَ اَحَبَّ الثِّيَابِ اِلَى رَسُولُ اللهِ الْقَمِيْصُ ( رواه ابوداود والتركذى )
Ertinya, "Adalah pakaian yang paling disukai oleh Nabi SAW ialah gamis."
Fadhilat Memakai Serban
رَكْعَتَانِ بِعِمَامَةٍ خَيْرٌ مِّنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةً بِلاَ عِمَامَةٍ
“Dua rakaat dengan memakai serban itu terlebih baik daripada 70 rakaat dengan tiada serban."
Fadhilat Tudung Kepala
Sunat juga memakai tudung kepala dengan serban atau kain selendang.
Dalam kitab "Baghyatut Tullab" diterangkan tentang tudung kepala demikian, "… dan demikian lagi sunat memakai tudung kepalanya jikalau dengan kain selendangnya kerana faedahnya (fadhilatnya) sangat banyak dan dinamakan Khalwat Sugra lagi membaikkan zahir dan bathin seperti malu ia akan Allah SWT dan takut ia daripada-Nya kerana tutup kepala itu kelakuan orang yang takut yang lari yang tiada menolong akan dia baginya dan lagi ada padanya itu menghimpunkan bagi fikir dan memeliharakan daripada banyak pandang kepada maksiat dan menghimpunkan himmahnya dan dapat hadir hati serta Tuhannya dan terpelihara anggotanya daripada menyalahi dan dirinya daripada keinginan dan lainnya daripada beberapa fawaid (banyak faedah)."
Minggu, 24 Juli 2016
MEMBUKA HIJAB YANG MEMBATASI DIRI DENGAN TUHAN
Bagaimana cara kita membuka dan menelusuri Hijab kita dan Allah.??
A. Membina Peribadi
1. Perbaikan Akhlak Firman AlLah swt. dalam Al-Quran (S. Al-Kahfi: 110)
"Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh (memperbaiki akhlak) dan janganlah ia mempersekutukan apapun dalam beribadat kepada Tuhan (bersih dari segala kotoran hawa nafsu)"
Al-Ghazali di dalam kitabnya Kimyaus-Saadah menyatakan
"Tujuan perbaikan akhlak ialah membersihkan qalbu dari kotoran hawa nafsu dan amarah hingga hati menjadi suci bersih bagaikan cermin yang dapat menerima Nur cahaya Tuhan".
2. Sabar Firman AlLah swt. dalam Al-Quran (S. Al-Baqarah: 45 - 46)
"Jadikanlah sabar dan Salat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu adalah tugas berat kecuali bagi orang yang khusyu".
Orang - orang yang khusyu' itu ialah orang yang menyukai bahwa mereka itu akan bertemu dengan AlLah dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya"
Menurut Al-Ghazali, 'Sabar' ialah meninggalkan segala macam pekerjaan yang digerakkan oleh hawa nafsu, tetap pada pendirian agama yang bertentangan dengan kehendak hawa nafsu, semata - mata kerana menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat"
Pembahagian Sabar:
a) Sabar Disiplin / Taat
i) Sabar sebelum taat, ialah niat yang ikhlas, tujuan yang benar, merasa berkewajipan atas keyakinan agama dalam menerima peraturan berupa perintah atau larangan.
ii) Sabar melaksanakan taat, ialah melaksanakan kewajipan sampai selesai, berkala atau terus menerus dengan penuh tanggungjawab dan kesungguhan.
iii) Sabar setelah taat, ialah tidak merasa bangga dengan selesainya pekerjaannya, tidak iri hati atau kekurangan atau kelebihan orang lain, tidak ria' untuk dikagumi hasil usahanya.
b) Sabar Berkewajipan. Mengetahui sesuatu kewajipan tidak cukup untuk dapat dikerjakan tanpa adanya kesabaran dan sebaliknya mengetahui sesuatu larangan belum tentu dapat meninggalkannya tanpa adanya kesabaran.
c) Sabar menurut hukum terbahagi:
Sabar untuk menjauhkan diri dari segala yang haram,hukumnya 'wajib'.
Sabar untuk menjauhkan diri dari segala pekerjaan makruh, hukumnya 'sunat'.
Sabar dalam menjalankan hukuman kerana pelanggaran maka hukumnya 'harus'.
Sabar membela kehormatan atau hak milik hukumnya 'haram'. Sifat sabar dalam keadaan ini dinamakan 'sabar Saja'ah' (sabar berani). Firman AlLah dalam Al-Quran (S. Al-Anfaal: 46) "Bersabarlah kamu sekalian, sesungguhnya AlLah beserta mereka yang sabar".
3) Syukur. Berterima kasih kepada AlLah atas segala nikmat pemberianNya. Erti Syukur, keadaan seseorang mempergunakan nikmat yang diberikan oleh AlLah itu hanya untuk membuat kebajikan.
4) Ridha bil Qadha. Ridha ertinya rela menerima dengan apa yang ditentukan dan ditaqdirkan AlLah kepadanya. Rela berjuang atas jalan AlLah mencari semata - mata keridhaan AlLah (Ibtighaa MadhatilLah).
Kesimpulan Sabar, Syukur dan Ridha adalah tiga sifat terpuji yang sangat bernilai tinggi, dapat membawa kepada ketinggian budi pekerti dan akhlak dan merupakan kekuatan yang dapat menolong untuk berkemahuan keras, berjiwa besar dan bertanggungjawab.
Pendidikan Tasauf pertama - tama dengan pembaikan akhlak, mencapai tingkat demi tingkat yang lebih tinggi, dari Muslim biasa kepada Mukminin kepada Muhsinin kepada Muttaqin kepada Mukarrabin kepada Arifin - mengenal dan merasai Tuhan yang sungguh - sungguh. Dengan sifat - sifat yang tersebut, mereka memasuki latihan - latihan jiwa dan mujahadah dengan Sistem berikut :
Takhalli - mensuci bersih diri dari segala dosa lahir dan dosa bathin.
Tahalli - mengisi diri dengan segala sifat yang terpuji.
Tajalli - memperoleh hakekat kenyataan Tuhan kerana suci bersihnya hati mereka mencintai AlLah. B Latihan Rohani dan Tingkat - Tingkat Yang Harus Dilalui
1. Tujuan Takhalli ialah:
a]. Membersihkan diri dari kotoran hati / sifat - sifat tercela.Firman AlLah dalam Al-Quran (S. As-Sams: 9 & 10) "Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensucikan jiwanya dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya".
Sifat - sifat yang mengotori jiwa / hati
Hasad - irihati
Haqad - dengki / benci
Suuz-zan - sangka buruk
Kibir - sombong
Ujub - merasa sempurna diri dari orang lain
Riya - mempamerkan kelebihan diri
Suma' - cari nama atau kemasyuran
Bukhul - bakhil / kikir
Hubbul Mal - cinta kebendaan
Tafahur - membanggakan diri
Ghadab - pemarah
Ghibah - pengumpat
Namimah - bicara belakang orang
Kizib - dusta
Khianat - munafik Maksiat Lahir - segala perbuatan yang dikerjakan oleh anggota badan manusia yang merosak orang atau diri sendiri sehingga membawa pengorbanan benda - benda, fikiran dan perasaan. Maksiat Bathin - lebih berbahaya kerana tidak kelihatan dan kurang disedari dan sukar dihilangkan.
b]. Cara membersihkan jiwa / hati Tersingkapnya tabir / hijab yang membatasi diri dengan Tuhan ialah suci bersihnya diri / jiwa dari kotoran - kotoran maksiat lahir dan maksiat bathin. Menurut Ahli Tarekat ada 4 dinding / hijab yang membatasi diri dengan Tuhan dan ada 4 juga jalan yang dapat membuka dinding / hijab itu.
i) Tingkat Pertama : Suci dari Najis dan Hadas - Bersih dari najis maka wajib bersuci dengan air atau berinstinja dengan tanah. - Suci dari hadas besar (keluar mani) maka wajib mandi. - Suci diri dari hadas kecil maka wajib berwudhu. * Seorang yang hendak menghubungkan diri dengan Tuhan maka wajib bersih badannya, bersih pakaiannya, bersih tempatnya, bersih lahir dan bathinnya.
ii) Tingkat Kedua : Suci Dari Dosa Lahir Ada 7 anggota badan yang membuat dosa lahir yang disebut maksiat, iaitu :
Mulut - dusta / ghibah
Mata - melihat yang haram
Telinga - mendengar cerita kosong
Hidung - menimbulkan rasa benci
Tangan - merosak
Kaki - berjalan membuat maksiat
Kemaluan - bersyahwat / berzina (termasuk makan yang haram).
iii) Tingkat Ketiga : Suci dari Dosa Bathin Ada 7 alat pembuat dosa bathin yang dinamakan 7 Lataif (Petikan : Pengantar Ilmu Tarekat oleh Abubakar Aceh)
Latifatul Qalby - berhubungan jantung jasmani. Letaknya dua jari di bawah susu kiri. Di sinilah letaknya sifat - sifat kemusyrikan, kekafiran dan ketahyulan dan sifat - sifat iblis. Untuk mensucikannya zikir dengan membaca 5000 kali - AlLah, AlLah. Pada tingkat ini hati diisi dengan Iman, Islam, Ihsan, Tauhid dan Makrifat.
Latifatu Roh - berhubungan Rabu jasmani. Letaknya dua jari di bawah susu kanan. Di sinilah letaknya sifat Bahimiyah (binatang jinak) iaitu sifat menurut nafsu. Untuk mensucikannya zikir dengan dipalu sekeras - kerasnya 1000 kali - AlLah, AlLah.
Latifatus-Sirri. Letaknya dua jari di atas susu kiri. Di sinilah letaknya sifat 'Syabiyah' (binatang buas) iaitu sifat zalim / aniaya, pemarah dan pendendam. Untuk mensucikannya zikir dengan membaca 1000 kali - AlLah, AlLah. Pada tingkat ini hati diisi dengan sifat kasih sayang dan ramah - tamah.
Latifatul Khafi - dikenderai Limpah jasmani. Letaknya dua jari di atas susu kanan. Di sinilah letaknya sifat 'Syaitanuyah' iaitu hasad / dengki, munafik dan khianat. Untuk mensucikannya berzikir 1000 kali membaca AlLah, AlLah dengan dipalukan sekeras - kerasnya. Pada tingkat ini hati diisi sifat Syukur dan Sabar.
Latifatul Akhfa - berhubungan empedu jasmani. Letaknya di tengah - tengah dada. Di sinilah letaknya sifat ria, takbur / sombong, ujub / membanggakan diri dan Sum'a / cari nama atau kemasyuran. Untuk mensucikannya zikir 1000 kali membaca AlLah, AlLah. Pada tingkat ini hati diisi sifat Ikhlas, Khusyu', Tadarru Tafakkur.
Latifatun-nafsun-Natiqa. Letaknya di antara dua kening. Di sinilah letaknya 'nafsu ammarah' penghalang besar untuk menciptakan perbaikan masyarakat. Untuk mensucikannya zikir 1000 kali membaca AlLah, AlLah. Pada tingkat ini hati diisi dengan sifat Tenteram dan Pikiran Tenang.
Latifah kullu Jasad - kenderai seluruh tubuh jasmani. Dalam Latifah inilah terletak sifat jahil dan ghaflah (kejahilan dan alpa). Untuk mensucikannya hendaklah dizikirkan 1000 kali - AlLah, AlLah sehingga mengalir zikir disekujur badan jasmani sehingga tiada tempat untuk sifat kebendaan / kejahilan dan kelalaian / Ghaflah. Pada tingkat ini hati diisi pula sifat Ilmu dan Amal.
iv) Tingkat Keempat : Suci Hati Rabbaniyah Yang dimaksudkan Latifatul Qalby di sini bukan jantung jasmani tetapi "Latifatur Rabbaniyah" adalah Roh yang suci yang paling halus dan memerintah serta mengatur badan dan anggota badan jasmani. Dialah hakekat diri yang sebenar diri. Induk kepada latifah - latifah lain. Sabda RasululLah s.a.w.
"Di dalam tubuh anak Adam ada segumpal daging apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad dan apabila ia rosak maka rosaklah seluruh jasad. Ketahuilah, dia itu ialah 'hati'.
Pada Latifah Rabbaniyahlah tempat jatuhnya penilikan AlLah kepada manusia. Menurut Kaum Sufi, bahawa kehidupan dan alam penuh dengan rahsia - rahsia tersembunyi. Rahsia tertutup oleh dinding/hijab tetapi bisa terbuka dan dapat tersingkap, dapat melihat atau merasai atau berhubungan dengan terang ter-rahsia asal kita menempuh jalannya. Jalan itulah dinamakan 'Tarekat'. Ahli Tarekat menempuh jalan didikan 3 tingkat iaitu
Takhalli,
Tahalli dan
Tajalli.
2. Tujuan Tahalli ialah:
Mengisi diri dengan sifat - sifat terpuji / menyinari hati.
a) Dasar Perbaikan Akhlak. Kaum Sufi mengatur suatu ajaran untuk memperbaiki tata kehidupan dan penghidupan manusia agar manusia itu menjadi 'manusia wara' yang ikhlas dalam beribadat kepada AlLah, ikhlas dalam pengabdian melayani masyarakat dan damai / berpartisipasi dalam kehidupan. Firman AlLah dalam Al-Quran (S. An-Nahl: 90)
"Bahwa sesungguhnya AlLah memerintahkan untuk berlaku adil, berbuat kebajikan, hidup berkeluarga. Dan melarang kekejian, kemungkaran dan bermusuhan. Bahwa Tuhan mengajarkan kepada kamu sekalian (pokok - pokok akhlak itu) agar kamu sekalian menjadi perhatian"
Ajaran itu menurut istilah sufi dinamakan: Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Sistem ajaran ini memerlukan latihan - latihan dan perjuangan dengan tanjakan - tanjakan dari satu tingkat ke tingkat lebih tinggi yakni dari mensuci bersihkan hati ke tingkat menyinari hati sampai dekat diri kepada AlLah dalam keadaan Tajalli.
b) Sifat yang Mnyinari Hati / Jiwa. Sifat yang menyinari hati / jiwa menurut Kaum Sufi dinamakan sifat - sifat terpuji. Menurut Al-Ghazali di dalam kitabnya "Arbain fi Usulid-Din" antara sifat - sifat terpuji itu ialah:
Taubat - menyesali diri dari perbuatan yang tercela
Khauf / Taqwa - perasaan takut kepada AlLah
Ikhlas - niat dan amal yang tulus atau suci
Syukur - rasa berterima kasih
Zuhud - hidup sederhana, apa adanya
Sabar - tahan diri dari segala kesukaran
Ridha - bersenang diri menerima keputusan AlLah
Tawakkul - menggantungkan diri, nasib kepada AlLah
Mahabbah - cinta kepada AlLah semata - mata
Zikrulmaut - selalu ingat mati Maka apabila manusia telah menaungi dan mengisi hatinya dengan sifat - sifat terpuji itu maka hati menjadi cerah dan terang dapat pula menerima cahaya dari sifat - sifat tadi.
c) Mendekatkan Diri kepada AlLah. Untuk mendekatkan diri kepada AlLah perlu melalui apa yang lazim dikerjakan oleh Kaum Sufi iaitu Kesempurnaan Agama Islam yang dapat dicapai dalam 4 tingkat.
i) Tingkat Pertama : Syariat Ertinya mengerjakan amal badaniyah daripada segala hukum - hukum: shalat, puasa, zakat dan haji. Syariat adalah peraturan - peraturan yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. Tujuan utama syariat ialah membangun kehidupan manusia atas dasar amar ma'ruf dan nahi mungkar. Syariat membahagi ma'ruf kepada 3 kategori:
1. Fardhu atau wajib
2. Sunnat atau mustahab
3. Mubah atau harus
Selanjutnya syariat membahagi munkarat atas 2 bahagi iaitu :
1. Haram
2. Makruh
Peraturan - peraturan yang diatur oleh syariat itu adalah atas dasar Quran dan Sunnah yang merupakan sumber hukum dalam Islam untuk keselamatan manusia. Menurut Ahli Sufi, bahawa syariat itu baru merupakan tingkat pertama menuju jalan kepada Tuhan. Tarekatlah yang merupakan perbuatan untuk melaksanakan syariat itu. Apabila 'Syariat' dan 'Tarekat' dikuasai maka lahirlah 'Hakekat' yang tidak lain daripada perbaikan keadaan dan ehwal, sedang tujuan terakhir adalah 'Makrifat' iaitu mengenal Tuhan yang sebenar - benarnya, serta mencintainya sebaik - baiknya. Syariat ialah pengenalan perintah dan Hakekat ialah pengenalan pemberi perintah.
ii) Tingkat Kedua : Tarekat Dasar - dasar pokok mengenai Tarekat antara lain:
1. Sebuah Hadis Qudsi menyatakan : "Adalah Aku suatu perbendaharaan yang tersembunyi, maka inginlah Aku supaya diketahui siapa Aku, maka kujadikanlah makhluk: Maka dengan AlLah mereka mengenal Aku". Dasar "Wihdhatul Wujud" yang menjadi faham Ahli Tarekat. Bahawa AlLah itu permulaan kejadian, yang awalnya tiada permulaan. AlLah telah ada dan tiada yang lain besertaNya. Dan kerana supaya zatnya dilihat pada sesuatu yang bukan zatnya, sebab itulah dijadikan segenap kejadian (Al-Khaliq).
2. Firman AlLah dalam Al-Quran (S.Al-Jin: 16)
"Dan bahawa jika mereka tetap (istiqamah) menempuh jalan itu "TAREKAT" sesungguhnya akan Kami beri rezeki / rahmat yang berlimpah - limpah".
"Tarekat" adalah suatu sistem (tariqah) untuk menempuh jalan yang pada akhirnya mengenal dan merasakan adanya Tuhan, dalam keadaan seseorang dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya (ainul basirah). Ini didasarkan atas pertanyaan Saidina Ali bin Abi Thalib kepada RasululLah: "Manakah Tarekat yang sedekat - dekatnya mencapai Tuhan? Yang dijawab RasululLah s.a.w. : "tidak lain daripada zikir kepada AlLah". "Syariat" mewajibkan seseorang mengadap Kiblat dalam Shalat, maka "Tarekat" tidak sampai di situ saja. Tarekat berpegang kepada Firman AlLah: "Sembahlah Aku". Yang bermaksud semua ibadah dilakukan kerana tujuan untuk ber-Taqwa (takut) kepada AlLah. Tetapi bukan setakat pengertian "syariat" iaitu mengerjakan apa yang diperintah dan menjauhkan apa yang dilarang. Tetapi menurut Ahli Tarekat Taqwa adalah perpaduan dari 4 sifat:
1. (ta) - Taubat
2.(qaf) - Qinaah atau khusyu'
3. (wauw) - Wara
4. (alif) - Ikhlas beribadah mencari keridhaan AlLah
iii) Tingkat Ketiga : Hakekat Syariat merupakan peraturan, Tarekat merupakan pelaksanaan maka hakekat adalah tujuan pokok yakni pengenalan Tuhan yang sebenar - benarnya. Menurut Tarekat, hati wajib menghadap kepada AlLah berdasarkan ayat Quran: "Fa'buduny - sembahlah Aku". Menurut kita menyembah Tuhan seolah - olah Tuhan terlihat, berdasarkan Hadis: "Sembahlah Tuhanmu, seakan - akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka sesungguhnya Tuhan melihat kamu".
Menurut Makrifat, ialah mengenal AlLah untuk siapa dipersembahkan segala amal ibadat itu. Yang dengan khusyu' seseorang hamba merasa berhadapan dengan AlLah, ketika ini perasaan bermusyahadah berintai - intaian dan bercakap - cakap dengan Tuhan seolah - olah AlLah berkata: "Innany Ana AlLah - Aku inilah Tuhan yakni AlLah" maka kehadiran "hati" berkata: "Anta AlLah - Engkaulah AlLah". Lalu AlLah berkata lagi: "Iqimis-shalata lizikry - bershalatlah untuk mengingat akan Aku". Demikian "hakekat", ialah membuka kesempatan bagaimana salik mencapai maksudnya, iaitu mengenal Tuhan, Ma'rifatulLah dan Musyahadah Nur yang Tajalli.
Al-Ghazali menerangkan : "Bahawa Tajalli itu ialah terbuka Nur cahaya yang ghaib bagi hati seseorang dan sangat mungkin yang dimaksudkan dengan Tajalli ialah Mutajalli yang tidak lain daripada itulah AlLah".
iv) Tingkat Keempat : Ma'rifat. Ma'rifat adalah tujuan pokok, yakni: mengenal AlLah yang sebenar - benarnya. Taftazany dalam kitabnya "Syarhul Maqsid" menerangkan: "Apabila seseorang mencapai tujuan terakhir dalam pekerjaan suluknya - ilalladan fillah, pasti dia tenggelam dalam lautan tauhid dan irfan sehingga zatnya selalu dalam pengawasan zat Tuhan dan sifatnya selalu dalam pengawasan sifat Tuhan. Ketika itu orang itu fana dan lenyap dalam keadaan "masiwallah" apa yang bersifat bukan AlLah. Dia tidak melihat wujud alam ini melainkan AlLah. Al-Ghazali menerangkan: "bahawa hatilah yang dapat mencapai hakekat sebagaimana yang tertulis pada Lauhin Mahfud, iaitu hati yang sudah bersih dan murni. Alhasil, tempat untuk melihat dan Ma'rifat AlLah adalah "HATI".
3. Tujuan Tajalli ialah:
Mencari Kenyataan AlLah. Firman AlLah dalam Al-Quran (S.An-Nur: 25)
"AlLah itu cahaya langit dan bumi"
Berlandaskan ayat ini Ahli Sufi yakin beroleh pancaran Nur AlLah Tajallinya AlLah. Demikian AlLah Tajalli dengan af-al, asma' dan zatNya yang tidak tersembunyi, "mutajalli min zatihi la yakhhfa". Dalam menempuh jalan (tarekat) untuk memperoleh kenyataan Tuhan (Tajalli), Ahli Sufi berusaha melalui ridha dengan latihan - latihan dan mujahadah (perjuangan) dengan menempuh jalan, antara lain melalui dasar pendidikan 3 tingkat iaitu: Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Ada pula yang menempuh jalan suluk dengan sistem "Muratabatu - thariqah" yang terdiri dari 4 tingkat: (seperti sistem yang dipakai oleh Tarekat Naqsabandiah) :
1. Taubat
2. Istiqamah : Taat lahir dan bathin
3. Tahzib : terdiri dari beberapa riadhah / latihan seperti puasa, mengurangi tidur dan menyendiri.
4. Taqarrub : mendekatkan diri kepada AlLah dengan berkhalwat, zikir terus - menerus.
Seterusnya maka sampailah salik pada Maqam Nihayah: Fana-uhu 'ala baqa-ihi wa ghaya-tuhu 'ala hudu-rihi iaitu fana dalam kebaqaan AlLah dan lenyap dalam kehadiran AlLah. Hal demikian bisa berhasil kerana Tuhan Maha cahaya terhadap hambaNya dan Tuhan adalah sumber cahaya dan Ilmu. Apabila Tuhan telah menembusi hati hambaNya dengan 'nur' dan cahayaNya, maka berlimpah ruahlah Rahmat.
| Ilmu dan Makrifat
SALIK DAN SULUK
Salik adalah orang yang menjalani latihan kerohanian secara bersuluk. Suluk pula adalah sistem latihan kerohanian yang digunakan bagi tujuan mendekatkan diri kepada Tuhan. Semasa bersuluk seseorang itu mengasingkan diri daripada orang ramai. Bila dia tidak ada bersama orang ramai, maka mereka terselamat daripada gangguan yang mungkin datang daripadanya dan juga dia terselamat daripada gangguan yang mungkin datang daripada mereka. Pengasingan tersebut boleh menyelamatkan ahli suluk itu daripada anasir yang boleh merosakkannya melalui ego dan nafsunya. Dalam pengasingan itu juga dia melatihkan diri bagi memperolehi perkembangan kerohanian. Dia melatihkan diri agar terpisah daripada sifat-sifat yang tercela dan digantikan dengan sifat-sifat yang terpuji. Semasa bersuluk itu amal ibadat seperti bersembahyang, berpuasa, berzikir dan lain-lain dilakukan dengan banyaknya. Dorongan hawa nafsu dikurangkan dengan cara menyedikitkan makanan, tidur dan berkata-kata. Bila kurang berkata-kata hati menjadi tidak lalai dalam mengingati Tuhan.
Orang yang mahu memasuki suluk mestilah mempunyai azam yang kuat. Perkara-perkara yang sering menghalang seseorang daripada memasuki suluk adalah dunia, makhluk, syaitan dan hawa nafsu. Kebanyakan manusia tidak sanggup memisahkan diri buat seketika dengan dunia dan makhluk. Tipu daya syaitan dan kesenangan hawa nafsu berada dengan makhluk. Oleh sebab itu agak sukar bagi kebanyakan orang memisahkan dirinya daripada orang ramai. Jika dia berjaya melepaskan halangan tersebut dia mungkin berhadapan dengan halangan lain semasa bersuluk. Halangan semasa bersuluk adalah tuntutan mencari rezeki, kebimbangan tidak akan menemui apa yang dicari, kemungkinan ditimpa penyakit dan juga masalah keluarga yang berbagai-bagai. Seseorang salik perlu memperkuatkan sifat sabar dan bertawakal jika dia mahu jika dia mahu melepasi rintangan yang menghalangnya meneruskan amalan suluk. Dia juga perlu mengawasi perkara-perkara yang boleh merosakkan pencapaian rohaninya. Perkara-perkara tersebut adalah sifat-sifat takabur, ujub, riak dan samaah. Suasana hati yang ingin diperolehi melalui bersuluk adalah: "Ilahi! Engkau jua maksud dan tujuanku dan keredaan Engkau yang aku cari".
Salik yang berhasrat memperolehi hasil yang baik perlu menjaga sopan santun semasa bersuluk. Perlu yang perlu dijaga adalah:
a) mengikhlaskan kasih kepada Allah s.w.t dan melakukan ibadat semata-mata kerana Allah s.w.t bukan kerana mahukan kasyaf dan keramat.
b) Amal ibadat yang dilakukan hendaklah sesuai dengan peraturan yang ditentukan oleh syariat, tidak boleh mengubahnya sehingga bercanggah dengan syariat.
c) Salik perlu melepaskan ilmu-ilmu yang boleh melalaikannya dan boleh menarik cita-citanya kepada yang selain Allah s.w.t. Ilmu-ilmu seperti ilmu kebal, ilmu pengasih, ilmu menarik harta dari bumi, ilmu yang berkait dengan khadam dan yang seumpamanya hendaklah dilepaskan kerana ilmu yang demikian menutup mata hati.
d) Ketika menjalani amalan suluk fikiran hendaklah dibebaskan daripada memikirkan dan mengangankan sesuatu yang di dalam dunia.
e) Hati hendaklah dipisahkan daripada sifat-sifat yang keji, seperti sifat haiwan, syaitan dan dorongan hawa nafsu.
f) Memenuhkan masa bersuluk dengan kegiatan yang mengingatkan hati kepada Allah s.w.t.
Sebahagian manusia lebih dituntut bergiat dalam kehidupan harian daripada mengasingkan diri. Pertama adalah orang alim yang ilmunya diperlukan bagi menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh orang ramai. Termasuk di dalam ilmu yang diperlukan oleh orang ramai adalah pengajarannya, fatwanya dan karangannya. Orang yang seperti ini penyebaran ilmu merupakan ibadat khusus bagi mereka selepas ibadat fardu. Selepas urusan sembahyang lima waktu, lebih afdal baginya menyebarkan ilmu dan membasmikan kejahilan dalam masyarakat daripada mengasingkan diri dan membenamkan diri ke dalam perkara yang sunat. Golongan kedua adalah pengusaha yang mempunyai kepakaran yang diperlukan oleh orang ramai, seperti doktor, pembuat roti, tukang kayu dan sebagainya. Mereka perlu berkhidmat kepada orang ramai dan memakmurkan bumi ini. Masa lapang mereka perlu diisi dengan ibadat dan membaca al-Quran. Golongan ke tiga adalah pemerintah yang bertugas membawa kebajikan kepada orang ramai. Mereka lebih dituntut menegakkan keadilan di dalam masyarakat dan menyebarkan kesejahteraan hidup daripada mengasingkan diri. Masa lapang mereka perlu diisi dengan ibadat dan pada malamnya diperbanyakkan wirid.
Ada dua jenis manusia, secara sifat semulajadi mereka, sangat cenderung memasuki jalan suluk. Jenis pertama adalah orang yang cenderung untuk menjadi abid atau ahli ibadat. abid tidak mempunyai sebarang pekerjaan kecuali beribadat kepada Allah s.w.t. Golongan ini seolah-olah tidak ada kemahiran untuk melakukan sesuatu yang lain daripada beribadat. Mereka hanya memperolehi manfaat dengan menggunakan masa untuk beribadat. Golongan ini dikuasai oleh suasana hati yang sangat takut meninggalkan ibadat untuk melakukan sesuatu pekerjaan, kerana dia takut tidak akan dapat menyempurnakan kebaktiannya kepada Allah s.w.t. Mereka sangat takutkan dunia kerana mereka melihat kekacauan di dalam dunia menjadi fitnah yang merosakkan hubungan mereka dengan Tuhan. Meninggalkan ibadat membuat mereka merasakan berjauhan dengan Tuhan. Rasa berjauhan dengan Tuhan menjadikan mereka tidak bermaya dan tidak berupaya berbuat apa-apa. Hanya ibadat boleh memberi kekuatan kepada mereka. Mereka seolah-olah tidak ada pilihan kecuali hidup beribadat dalam pengasingan. Jenis kedua dinamakan muwahhid iaitu orang yang terikat sepenuhnya dengan Allah s.w.t. Kecintaan mereka kepada Allah s.w.t sangat kuat menyebabkan hati mereka ‘pecah' dan tidak berupaya lagi mengasihi sesuatu yang selain Allah s.w.t. Kebahagiaan mereka hanyalah bersama-sama Allah s.w.t, tidak ada tempat lagi untuk makhluk. Hati mereka tidak melihat kepada makhluk, oleh itu kehadiran makhluk tidak diperlukan. Orang yang ditakdirkan menjadi salah satu daripada dua golongan tersebut sangat cenderung memasuki jalan suluk sebagai persediaan untuk mereka mencapai kesempurnaan pada jalan abid atau muwahhid.
Selain golongan yang menuju kepada suasana abid dan muwahhid, orang yang cenderung memasuki jalan suluk adalah muta'allim, iaitu orang yang belajar semata-mata kerana Allah s.w.t. Mereka merupakan golongan yang mencari kebenaran. Mereka tidak merasa puas dengan apa yang ditemui pada jalan pembelajaran biasa. Mereka memasuki suluk dengan harapan akan menemui apa yang tidak mereka temui sebelum bersuluk. Mereka percaya kebenaran yang sejati hanya boleh ditemui oleh hati yang suci murni dan cara yang paling baik menyucikan hati adalah dengan bersuluk. Golongan ini memerlukan bimbingan guru tarekat yang arif. Guru hendaklah tahu kedudukan murid dan tahu kadar ilmu yang boleh dibukakan kepada murid berkenaan. Bagi muta'allim (orang yang belajar) yang tidak memasuki jalan suluk, haruslah memberi tumpuan kepada mempelajari ilmu. Menghadiri majlis ilmu lebih utama daripada ibadat sunat dan berzikir yang boleh dilakukan pada masa lapangnya.
Muta'allim yang memasuki suluk lebih terdorong untuk mengalami suasana kerohanian yang diistilahkan sebagai muttakhaliq, iaitu orang yang mengalami perubahan sifat. Ada dua jenis muttakhaliq. Jenis pertama mengalami suasana mereka menjadi alat dan Allah s.w.t Pengguna alat. Mereka melihat perbuatan dan kelakuan mereka berlaku tanpa mereka rancang dan mereka tidak berdaya menahannya. Mereka melihat apa yang terjadi pada mereka terjadi tanpa kehendak mereka sendiri, tanpa usaha, tanpa tadbir dan tanpa ikhtiar memilih. Muttakhaliq jenis kedua pula adalah orang yang melihat Allah s.w.t meletakkan sifat dan bakat pada diri mereka dan mereka menjadi pelaku kepada sifat dan bakat tersebut. Jenis pertama melakukan sesuatu dalam suasana ‘dengan kehendak Allah s.w.t' dan jenis kedua dalam suasana ‘dengan izin Allah s.w.t.'
Ahli suluk, sesudah melalui berbagai-bagai pengalaman kerohanian, kembali semula kepada kesedaran biasa dinamakan mutahaqqiq. Golongan ini kembali kepada jalan kenabian, memegang tugas sebagai khalifah Allah s.w.t yang meneruskan perjuangan Nabi-nabi. Golongan ini kembali kepada kesedaran kemanusiaan bagi membolehkan mereka menguruskan hal-ehwal manusia.
Latihan kerohanian yang dilakukan semasa bersuluk berkemungkinan membawa salik memperolehi kasyaf, iaitu terbuka perkara ghaib kepada pandangan mata hatinya. Kasyaf ada dua jenis, iaitu kasyaf kecil dan kasyaf besar. Kasyaf kecil termasuklah terbukanya pandangan untuk melihat kepada Alam Barzakh, melihat roh orang yang sudah meninggal dunia, melihat syurga dan neraka, melihat makhluk halus dan lain-lain. Kasyaf besar pula adalah terbukanya pandangan hati kepada hakikat sesuatu dan membuka ingatan dan penghayatan kepada Allah s.w.t. Dalam perjalanan kerohanian, kasyaf kecil tidak penting bahkan kasyaf kecil sering menjadi benteng yang menghalang salik meneruskan perjalanannya. Keasyikan menyaksikan perkara ghaib membuat salik berhenti dan menyangkakan dia sudah sampai kepada Yang Haq, sedangkan perjalanannya masih jauh lagi. Apa yang penting adalah kasyaf besar atau terbukanya hakikat sesuatu. Pembukaan tentang hakikat boleh menyelamatkan salik daripada tipu daya syaitan yang bersembunyi di sebalik berbagai-bagai rupa, bentuk dan keadaan. Salik yang dikurniakan kasyaf besar tidak tertipu dengan syaitan walaupun syaitan datang dalam rupa guru yang alim dan warak. Salik juga boleh mengenali malaikat sekalipun malaikat datang tanpa berupa. Rasulullah s.a.w melihat rupa malaikat Jibrail a.s dalam rupanya yang asli hanya dua kali sahaja, tetapi setiap kali Jibrail a.s datang Rasulullah s.a.w mengenalinya, sekalipun Jibrail a.s memakai rupa manusia atau tidak berupa. Kasyaf yang mengenali hakikat inilah sangat penting bagi salik yang berjalan kepada Tuhan. Kasyaf seperti ini diperolehi apabila rohani kembali kepada kesuciannya yang asal. Rohani yang demikian mengenali syaitan walaupun syaitan mengenderai manusia atau suasana dan rohani itu juga mengenali malaikat walaupun malaikat tidak menjelma di hadapannya. Contoh kasyaf besar adalah, apabila seorang salih didatangi oleh seseorang yang menyuruhnya berbuat kejahatan, maka dengan segera orang salih itu berkata: "Pergi kamu syaitan!" Orang salih itu menyedari atau melihat dengan kasyafnya yang orang yang mendatanginya itu sedang digunakan oleh syaitan untuk mengenakan tipu dayanya. Kasyaf yang demikian, walaupun tidak memperlihatkan rupa syaitan yang sebenarnya, tetapi syaitan itu tidak dapat bersembunyi.
Kasyaf membawa salik kepada zauk iaitu mengalami suasana yang berhubung dengan Tuhan. Zauk membawa salik mengalami suasana Hadrat Tuhan. Suasana Hadrat Tuhan yang menguasai salik itu membentuk keperibadiannya.
Bidang zauk sangat luas. Zauk biasanya diperolehi oleh salik yang terus menerus membenamkan dirinya di dalam zikir. Tenaga zikir memberi kekuatan kepada rohaninya untuk menghadap kepada hakikat ketuhanan. Kesan daripada pengalaman menghadap kepada hakikat ketuhanan yang dirasakan oleh hati itulah dinamakan zauk. Misalnya, hati salik berhadap kepada hakikat Tuhan Yang Maha Keras. Dia akan dikuasai oleh perasaan takut kepada Tuhan, takut kerana dosa-dosa yang telah dilakukannya, takut kerana ibadat yang dilakukannya tidak sempurna dan bermacam-macam ketakutan lagi. Pengalaman yang demikian dinamakan pengalaman hakikat dan ia membuatnya mengenali Tuhan Yang Maha Keras atau dia dikatakan memperolehi makrifat tentang Tuhan Yang Maha Keras.
Salik juga mungkin mengalami hakikat kenabian. Mungkin salik mengalami suasana Nabi Adam a. s diciptakan dan diturunkan ke bumi. Salik tersebut dikatakan mengalami Hakikat Adamiyah dan ia membuatnya lebih mengerti tentang kenabian Adam a.s. Pengalaman yang demikian tidak mengubahnya menjadi Nabi Adam a.s atau bersatu dengan beliau a.s. Jika ada penyatuan pun hanyalah dalam zauk atau alam perasaan, bukan penyatuan yang sebenarnya. Hakikat Adamiyah adalah suasana pentadbiran Tuhan yang berhubung dengan kejadian Adam a.s. Ia bukan anasir alam dan bukan berada dalam hati salik yang mengalaminya. Ia adalah suasana yang Tuhan gubah bagi memperkenalkan apa yang Dia mahu kenalkan kepada hati hamba-Nya. Begitu juga dengan pengalaman salik berhubung dengan hakikat Nabi Muhammad s.a.w atau dikenali sebagai Hakikat Muhammadiah. Salik tidak bertukar menjadi Nabi Muhammad s.a.w atau bersatu dengan baginda s.a.w. Salik diberi kesempatan mengenali Nabi Muhammad s.a.w dalam suasana pentadbiran Tuhan atau urusan Tuhan. Apa sahaja yang Tuhan mahu ciptakan telah ada pada sisi-Nya, dalam Ilmu-Nya, termasuklah Nabi Adam a.s dan Nabi Muhammad s.a.w. Tuhan bentukkan misal bagi suasana yang pada sisi-Nya yang melampaui segala misalan, dan misal gubahan Tuhan itu dihantarkan kepada hati salik. Salik yang menetap dalam kehambaan menyaksikan Hakikat Adam, Hakikat Muhammad dan Hakikat Tuhan. Salik yang terbalik pandangannya menjadi orang yang merasakan menjadi Nabi Adam a.s, menjadi Nabi Muhammad s.a.w dan menjadi Tuhan atau pun mereka merasakan suasana penyatuan dengan hakikat-hakikat tersebut. Penyatuan tersebut hanya berlaku dalam bayangan ilmu, bukan penyatuan yang sebenarnya. Apabila salik melepasi peringkat bayangan, dia masuk kepada hal yang sebenar, yang tidak serupa dengan bayangan ilmu itu.
Manusia yang ciptaannya digabungkan unsur rohani dengan unsur jasmani berkemampuan menerima bayangan Tuhan atau menerima sinaran Nur-Nya. Bayangan tetap bayangan. Zat Tuhan Yang Maha Tinggi tetap tinggal diselubungi oleh selimut ghaib yang Mutlak lagi amat perkasa, tidak mungkin diruntuhkan oleh kasyaf yang bagaimana pun. Nur bukanlah Zat, tetapi hanyalah satu ayat, tanda atau bukti tentang Tuhan dan juga satu Hijab daripada sekalian banyak Hijab-hijab ketuhanan, juga satu nama daripada sekian banyaknya nama-nama Tuhan. Kebodohan, ketidak-upayaan mengenal-Nya adalah tabir penutup yang asli dan tidak mungkin tersingkap hakikat Zat Tuhan melainkan pada hari kebangkitan, suasana yang Tuhan berkehendak memperlihatkan Diri-Nya secara nyata. Sebelum itu penyaksian merupakan penglihatan akal dan mata hati atau melihat Nur-Nya.
Dalam fana salik mencapai Wajibul Wujud sifat bukan Wajibul Wujud Zat. Zat Ilahiat melampaui perbatasan Wajibul Wujud, mumkinul wujud atau apa sahaja yang dikaitkan dengan wujud atau tidak wujud. Salik yang mencapai Wajibul Wujud sifat mencapai kedudukan kewalian iaitu dia menjadi alat Allah s.w.t, bukan menjadi Allah s.w.t. Allah s.w.t memperkenalkan Hadrat-Nya melalui sifat dan nilai yang ada dengan manusia. Sifat dan nilai yang ada pada wali-Nya memperkenalkan-Nya dengan lebih berkesan daripada orang lain. Semakin sempurna kewalian seseorang itu semakin menyerlah keupayaan yang dikurniakan Allah s.w.t kepadanya dalam memperkenalkan-Nya sebaik mungkin.
Bakat atau keupayaan memperkenalkan Tuhan yang dikurniakan kepada wali itu dinamakan tajalli Rahmani (kenyataan Tuhan). Wali yang di dalam fana mengucapkan " Ana al-Haq! (Aku adalah Tuhan!)" memperkenalkan sifat Kalam Tuhan. Tuhan yang mengatakan demikian melalui lidah wali-Nya. Wali yang tidak di dalam fana pula mengatakan "Hua al-Haq! (Dia jualah Tuhan!)". Ucapan wali yang di dalam fana dan ucapan wali yang di dalam kesedaran itu membawa maksud yang serupa. Wali yang di dalam fana tidak menjadi Tuhan dan demikian juga wali yang di dalam kesedaran.
Satu jenis tajalli lagi dinamakan tajalli rohani (tajalli roh). Roh yang asli yang mengenal Tuhan dibungkus atau dihijab oleh bakat roh yang mendatang yang padanya terdapat berbagai-bagai sifat buruk yang menghijab Latifah Rabbaniah. Dalam tajalli roh kumpulan atau penyatuan hijab-hijab itulah yang menyata sebagai roh yang memiliki sifat Rabbaniah (ketuhanan). Orang yang mengalami tajalli roh mengatakan juga "Ana al-Haq!" dan pada ucapan tersebut ada pengakuan tentang ketuhanan rohnya. Dia benar-benar merasakan rohnya itulah Tuhan dan dia melihat sekalian makhluk tunduk kepada keagungan, kebesaran dan kemuliaan rohnya. Orang yang mudah terjatuh ke dalam medan tajalli roh ini adalah mereka yang sejak awal perjalanan lagi memang mempercayai dan berpegang kepada fahaman wahdatul wujud dan mereka sengaja mencari penyatuan dengan Tuhan. Segala usaha ditujukan bagi menghapuskan kemanusiaan mereka dan melahirkan ketuhanan diri mereka. Mereka berpegang kepada fahaman bahawa diri mereka, Adam, Muhammad dan Allah s.w.t adalah yang satu (kami berlindung kepada Allah s.w.t daripada iktikad yang sesat itu). Ibadat dan zikir bukan ditujukan kerana mencari keredaan Allah s.w.t sebaliknya digunakan bagi melahirkan kesedaran menurut apa yang telah mereka iktikadkan. Penyatuan Adam, Muhammad, Allah s.w.t dan diri mereka dialami pada makam roh. Sejak mula lagi, walaupun menyebut nama Allah s.w.t tetapi tumpuan dan penghayatan mereka adalah roh. Mereka memulakan sembahyang dengan memukau diri sendiri agar meyakini bahawa perbuatan mereka adalah Perbuatan Tuhan, sifat mereka adalah Sifat Tuhan, wujud mereka adalah Wujud Tuhan dan zat mereka adalah Zat Tuhan. Kalimah "La ilaha illa Llah" yang bermaksud "Tiada Tuhan melainkan Allah" mereka menghayatinya sebagai "La maujud illa Llah " yang bermaksud " Tidak ada yang ada melainkan Allah". Mereka gunakan ucapan orang yang di dalam zauk untuk membentuk kefahaman mereka di dalam sedar. Setelah ditekankan beberapa lama bahawa perbuatan, sifat, wujud dan zat mereka sama dengan Tuhan maka keyakinan yang demikian terpahat dalam jiwa mereka. Bila sampai kepada satu tahap keyakinan hati mereka merasakan sekalian makhluk tunduk kepada ketuhanan mereka. Ketika itu keluarlah dari mulut mereka ucapan " Ana al-Haq!".
Walaupun mengucapkan yang demikian seperti yang diucapkan oleh salik yang di dalam fana namun hati salik yang menerima tajalli Rahmani berbeza daripada hati mulhid yang menerima tajalli roh. Dalam tajalli roh tidak ada fana. Apa yang disangkakan fana di situ adalah pelepasan secara menyeluruh pengakuan kehambaan dan penerimaan secara menyeluruh bahawa rohnya adalah Tuhan atau Tuhan yang menjadi nyawa kepada rohnya. Bila orang ini kembali semula kepada kesedaran, ego diri dan sifat-sifat kebinatangan bertambah kuat menguasai mereka. Mereka menjadi orang yang takabur, berani mempersendakan Tuhan, nabi-nabi dan amalan agama (Ya Allah! Lindungi kami daripada perbuatan sesat itu.) Dari kalangan mereka timbul ungkapan bahawa ilmu Tuhan belum sempurna. Keegoan diri bertambah dan syariat dibuang begitu sahaja. Mereka menyahut seruan azan dengan ucapan meremehkannya. Mereka melihat ibadat yang orang lain lakukan sebagai sia-sia sahaja kerana kononnya orang ramai tidak mengenal Tuhan seperti mereka. Bagi mereka sembahyang yang sebenar adalah menyembah diri sendiri. Mereka inilah kumpulkan yang sesat, menyebarkan kesesatan dengan berselindung di sebalik ajaran tarekat tasauf dan ahli sunnah wal jamaah. Setiap Mukmin yang menjalani tarekat yang benar berkewajipan menghancurkan gerakan kumpulan tarekat yang sesat itu. Jangan terpedaya orang sesat yang boleh mengeluarkan kebolehan yang luar biasa. Mahaguru ajaran sesat, iblis laknatullah, lebih lagi luar biasanya.
Dalam tajalli Rahmani keegoan salik binasa dan dia mencapai fana. Dalam kefanaan sifat kemanusiaannya lenyap bersama-sama kekotoran hatinya. Bila dia sedar semula dia sudah menjadi bersih dan hatinya penuh dengan keikhlasan. Ego tidak kembali kepadanya. Dia sentiasa merendahkan diri kepada Tuhan dan sesama manusia. Dia mematuhi perintah-Nya dan peraturan-Nya dan berjalan di atas muka bumi dengan tawaduk dan takwa.
Seseorang yang ingin menjadi salik sangat perlu melepaskan fahaman wahdatul wujud dan keinginan kepada sesuatu yang selain Allah s.w.t seperti kasyaf, kekeramatan, kewalian, sesuatu ilmu dunia dan lain-lain yang boleh menjadi hijab. Masuklah ke dalam suluk bersama-sama syariat, sebagai hamba Tuhan, yang inginkan makam sebagai hamba Tuhan semata-mata tidak hamba kepada yang selain-Nya, mahu menyembah Tuhan semata-mata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu baik yang nyata mahupun yang ghaib, berharap, bergantung dan berhajat kepada-Nya semata-mata, tidak kepada yang lain.
Orang yang baharu memasuki bidang tarekat tasauf gemar memerhatikan martabat nafsu. Mereka sering mengintai-intai diri mereka apakah sudah berada pada martabat nafsu yang tinggi. Jika mereka merasakan terdapat tanda ketinggian nafsu mereka maka mereka akan merasakan kejayaan. Orang salik dan juga orang yang berminat kepada tasauf perlulah sedar bahawa martabat nafsu bukanlah matlamat. Huraian di dalam buku-buku, daerah nafsu-nafsu dinyatakan dengan jelas. Dalam perjalanan yang sebenarnya tidak ada sempadan yang jelas di antara satu daerah nafsu dengan daerah nafsu yang berikutnya. Perubahan sifat nafsu berlaku tanpa disedari, tidak ada isyarat yang mengsahkan yang mereka sudah berpindah kepada daerah nafsu yang lain. Keinginan kepada pertukaran makam nafsu merupakan tipu daya yang halus. Orang yang memasuki suluk perlu membuang kehendak diri sendiri dan tunduk kepada kehendak Tuhan. Jika masih lagi mengintai makam nafsu bermakna kehendak diri masih lagi kuat. Walaupun dia melihat tanda nafsunya sudah ada pada makam yang tinggi, tetapi keinginannya kepada makam nafsu yang tinggi itu menunjukkan kehendaknya masih belum menyerah kepada kehendak Tuhan. Itu bermakna dia belum mencapai makam nafsu yang tinggi itu walaupun dia merasakan sudah mencapainya. Makam-makam nafsu hanyalah panduan di dalam perjalanan, berguna bagi guru yang membimbing muridnya dalam menyusun latihan berperingkat-peringkat.
Permulaan tarekat adalah syariat dan penghabisan tarekat adalah juga syariat. Kebenaran dalam syariat dipermulaan jalan tidak jelas. Setelah sampai di penghujung jalan kebenaran yang dinyatakan oleh syariat menjadi jelas. Pengalaman fana yang paling tinggi dalam nafsu radhiah tidak dapat menandingi satu sembahyang fardu yang dilakukan kerana Allah s.w.t menurut peraturan syariat. Baqa bersama-sama Allah s.w.t di dalam makam nafsu mardhiah tidak dapat menandingi baqa (kekal) di dalam Sunah Rasulullah s.a.w. Kesempurnaan nafsu pada makam kamaliah tidak dapat menandingi kesempurnaan menjalankan perintah Allah s.w.t, terutamanya dalam bidang berdakwah membimbing umat manusia kepada jalan Allah s.w.t. Makam-makam nafsu hanyalah alat atau jalan, bukan matlamat. Zikir yang dilakukan sendirian selama 24 jam tanpa berhenti tidak dapat menandingi zikir yang melibatkan perkataan, perbuatan dan perasaan yang dilakukan dalam masyarakat dan memanfaatkan makhluk Tuhan. Tarekat haruslah dijadikan alat untuk menyempurnakan syariat bukan untuk sesuatu tujuan yang lain.
Salik perlu tahu bahawa latihan kerohanian yang sebenar hanya bermula apabila dia diheret oleh kuasa ghaib dan dia dapat merasakan yang dia diberi bimbingan, tunjuk-ajar serta panduan. Pada masa yang sama dia merasakan jalan menuju Tuhan semakin terang dan rasa kehampiran dengan Tuhan semakin bertambah. Salik perlu sedar bahawa tidak ada satu jalan pun daripada hamba kepada Tuhan. Semua jalan kepada Tuhan adalah dihulurkan daripada Tuhan kepada hamba. Selagi Tuhan tidak menghulurkan jalan selagi itulah hamba tidak menemui jalan kepada-Nya. Latihan kerohanian yang dilakukan oleh salik bertujuan mempersiapkan salik agar bersedia memasuki jalan Tuhan apabila Tuhan membuka jalan tersebut. Sekiranya dia tidak bersedia jalan tersebut akan ditutup kembali. Rasulullah s.a.w berkhalwat di Gua Hiraa sebagai persiapan menerima kedatangan wahyu. Khalwat yang baginda s.a.w lakukan itu tidak berupaya memanggil wahyu turun. Wahyu datang daripada Allah s.w.t, menurut kehendak-Nya namun, Allah s.w.t menghantarkan wahyu setelah baginda s.a.w bersedia dan mampu menerima kedatangan wahyu itu. Begitu juga dengan kedatangan warid. Ia dihantarkan kepada salik yang bersedia menerimanya.
Setelah mengakui tidak ada jalan atau tangga yang boleh dibina oleh hamba untuk mencapai Tuhan maka hamba tidak ada pilihan kecuali bersandar kepada Tuhan dan berserah diri kepada-Nya. Ilmu dan amal hanya mampu membawa salik kepada makam berserah diri kepada Tuhan dengan sepenuh jiwa raga. Makam berserah diri adalah medan di mana dihulurkan jalan atau tangga yang membawa seseorang hamba kepada Tuhan. Penyerahan yang sebenar itu adalah Islam. Hanya Islam sahaja yang menjadi agama yang diredai Allah s.w.t dan kepada orang yang benar-benar Islam sahaja dikurniakan nikmat kehampiran dengan Allah s.w.t Yang Maha Tinggi. Tidak dinamakan Islam tanpa syariat Islam. Oleh sebab itu tarekat yang putus dengan syariat Islam tidak akan menemukan seseorang dengan Allah s.w.t. Islam merupakan satu-satunya jalan bagi seseorang hamba menghampiri Tuhan. Tidak ada jalan lain lagi. Allah s.w.t telah menyatakan perkara ini dengan tegasnya di dalam al-Quran:
Hari ini Aku sempurnakan agama kamu bagi kamu dan Aku cukupkan atas kamu nikmat-Ku. Dan Aku reda Islam menjadi agama (syariat) kamu. ( Ayat 3 : Surah al-Maa'idah )
Langganan:
Postingan (Atom)