Laman

Sabtu, 01 April 2017

APA ITU BUDAYA, AGAMA DAN AJARAN DALAM ISLAM MENURUT WAHYU WAHYU ALLAH :


KARENA KEBANYAKAN MANUSIA MENCAMPUR ADUKAN ANTARA BUDAYA DENGAN AGAMA DAN AJARAN, SEHINGGA SUKU BANGSA, BAHASA, PAKAIAN, DAN MAKANAN DIKATAKANNYA AGAMA DAN AJARAN DENGAN KATA SUNNAH RASUL, BAHKAN LATIHAN MEMANAH DAN JENGGOTPUN DIKATAKANNYA DEMIKIAN,
BUDAYA ADALAH :
Sesuatu yang dijalankan di Daerah atau Negara masing masing, yang sesuai dengan Cuaca dan Alamnya,
Yang mana tidak akan bisa dipaksakan untuk dijalankan didaerah masing masing,
Contoh :
Suku Bangsa itu mempunyai budayanya sendiri sebagai Ciptaan Tuhan, untuk menjadikan keindahan dalam kehidupan,
BUDAYA ITU SENDIRI MELIPUTI :
1. SUKU BANGSA :
Dijadikan Suku Bangsa agar saling mengenal satu sama yang lainnya agar lebih kaya dengan keberagaman,
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal, Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal, (Qs : 49 : 13),
2. BAHASA :
Semua Bahasa di dunia ini Allah yang menciptakannya Untuk menunjukan Kekuasaan Nya untuk di Syukuri, bukan dicaci atau direndahkan antara satu Bahasa dengan Bahasa yang lainnya,
Jadi pada Dasarnya Bahasa itu sangat Mulia karena Hasil Ciptaan Allah, untuk memudahkan manusia itu sendiri dalam Berinteraksi dan sebagainya,
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu, Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda tanda bagi orang-orang yang mengetahui, (Qs : 30 : 22),
3. PAKAIAN :
Allah menjadikan bagi manusia Dua Pakaian Yaitu :
A. Pakaian Perhiasan kegunaannya untuk menutupi Panas dan Dingin bahkan untuk Pakaian Perang,
B. Pakaian Penutup Aurat (Aib) ialah Pakaian Ketakwaan, biasa disebut Moral Seseorang itu sendiri,
Sekalipun dibalut dengan pakaian yang baik tetapi Buruk Moralnya, tentu tetap menjadikan seseorang tidak Mulia atau Hina,
Maka kelak kamu akan melihat dan mereka orang-orang kafirpun akan melihat, (Qs : 68 : 5),
siapa di antara kamu yang gila, (Qs : 68 : 6),
Sesungguhnya Tuhanmu, Dia lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan Nya, dan Dia lah Yang Paling Mengetahui orang orang yang mendapat Petunjuk, (Qs : 68 : 7),
Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan ayat ayat Allah, (Qs : 68 : 8),
Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak pula kepadamu, (Qs : 68 : 9),
Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, (Qs : 68 : 10),
yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,
(Qs : 68 : 11),
yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, (Qs : 68 : 12),
yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya,
(Qs : 68 : 13),
karena dia mempunyai banyak harta dan anak, (Qs : 68 : 14),
Apabila dibacakan kepadanya Ayat Ayat Kami, ia berkata : Ini adalah dongeng dongengan orang orang dahulu kala, (Qs : 68 : 15),
4. RUMAH ATAU TEMPAT TINGGAL :
Rumah juga disebut Budaya yang disesuaikan dengan keadaan Alam atau Cuaca, ada yang memakai batu, kulit binatang sesuai dengan kebutuhan,
5. MAKANAN :
Allah memerintahkan makan makanan yang Halal , yaitu Halal dari cara mendapatkannya, bukan dari kecurangan atau mencuri milik orang lain, biarpun makanan itu baik tapi diperoleh dari mencuri disebut tidak Halal atau Haram,
Makanan Halal itu juga Baik bagi tubuh apabila dikonsumsi, artinya apabila dikonsumsi tidak menjadikan masalah bagi tubuh manusia, maka disebut makanan yang Halal dan Baik atau Halallan Thoyiba,
Maka Allah menciptakan makanan bermacam macam atau berjenis jenis agar dapat memilih dari makanan itu yang sesuai dengan masing masing orang dan keadaan tubuhnya, yang mana satu sama lainnya tidak sama seperti golongan darahpun berbeda beda,
Janganlah memakannya sampai melampaui batas tetaplah pada ukuran yang tidak berlebihan, karena kalau berlebihan atau melampaui batas akan bermasalah bagi tubuh,
Hai sekalian manusia, makanlah yang Halal Lagi Baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu,
(Qs : 2 : 168),
Dan Dialah yang menjadikan kebun kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, Pohon Korma, Tanam Tanaman Yang Bermacam Macam Buahnya, Zaitun dan Delima yang serupa bentuk dan warnanya dan tidak sama rasanya, Makanlah dari buahnya yang bermacam-macam itu bila dia berbuah, dan Tunaikanlah Haknya di hari memetik hasilnya dengan Disedekahkan Kepada Fakir Miskin, dan janganlah kamu berlebih lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih lebihan,
(Qs : 6 : 141),
AGAMA ADALAH :
Agama juga disebut Addiin yaitu suatu Sistem atau Cara atau kendaraan untuk sampai kepada Tujuan,
Apakah tujuan dari Agama atau Sistem atau Kendaraan itu sendiri, kembali kepada Agama itu sendiri yang sangat luas sekali,
BEBERAPA KATA YANG MUNCUL ANTARA LAIN :
Dinul Qoyim yaitu menegakkan Agama dalam arti Hukum Hukum,
Dinul Malik yaitu Undang Undang Pemerintah yang harus dita’ati,
Maliki Yaumiddin yaitu yang mempunyai kewajiban untuk Menegakkan Hukum,
Semua itu agar tercapainya Kebaikan secara Fisik maupun Jiwa atau Moral suatu Bangsa karena tanpa Sistem atau Agama akan terjadi kekacauan, maka diperlukan secara Kaffah atau Keseluruhan dalam menjalaninya, karena didalamnya ada Banyak Hal seperti :
Perkawinan, Perdagangan, Pergaulan, Pendidikan, Sosial, Budaya, Politik, Pertanian, Teknologi, Pelanggaran Hak, Kekerasan, Pembunhan dan lain lain yang semua itu agar tercapai negeri yang Diberkahi Nya, oleh karena itu Allah menurunkan Sistem Kepada Para Nabi dan Para Rosul Nya,
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada Nya lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan, (Qs : 3 : 83),
Katakanlah : Kami Beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka, Kami tidak membeda bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada Nya lah Kami Menyerahkan Diri,
(Qs : 3 : 84),
Barangsiapa mencari Agama selain Agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima Agama itu dari padanya, dan dia di Akhirat termasuk orang-orang yang rugi, (Qs : 3 : 85),
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar benarnya, Dia telah memilih kamu dan Dia sekali kali tidak menjadikan untuk kamu dalam Agama suatu Kesempitan, Ikutilah Agama Orang Tuamu Ibrahim, Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang orang Muslim dari dahulu, dan begitu pula dalam ALQUR’AN ini, supaya Rasul itu menjadi Saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi Saksi Atas Segenap Manusia, Maka Dirikanlah Sembahyang, Tunaikanlah Zakat dan berpeganglah kamu pada Tali Allah, Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik baik Pelindung dan sebaik baik Penolong, (Qs : 22 : 78),
SEMUA PARA NABI MUSLIM YAITU YANG KAFFAH DALAM MENJALANKAN AGAMA ATAU SISTEM DARI ALLAH,
Adapun Sistem atau Agamanya disebut ISLAM yaitu Tunduk dan Patuh BaIk Suka Maupun Terpaksa, untuk menjadi baik terkadang harus dipaksa melawan Hawa Nafsunya, guna tercipta KEBERKAHAN yaitu ADIL DAN SEJAHTERA,
Maka apakah mereka mencari Agama yang lain dari Agama Allah, padahal kepada Nya lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan, (Qs : 3 : 83),
Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu KHALIFAH (Penguasa) di muka Bumi, maka berilah keputusan perkara di antara manusia dengan Adil dan janganlah kamu mengikuti Hawa Nafsu, karena ia akan Menyesatkan Kamu Dari Jalan Allah, Sesungguhnya orang orang yang sesat dari Jalan Allah akan mendapat Azab yang berat, karena mereka melupakan Hari Perhitungan, (Qs : 38 : 26),
Maka sekiranya penduduk suatu negeri Beriman dan Bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka Berkah dari Langit dan Bumi, akan tetapi mereka mendustakan Kami (Kafir) maka kami siksa disebabkan perbuatannya sendiri,
Jikalau sekiranya penduduk negeri negeri Beriman dan Bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka Berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan Ayat Ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya, (Qs : 7 : 96),
Allah menjadikan kamu Berbangsa Bangsa dan Bersuku Suku agar kamu saling kenal mengenal,
Sesungguhnya yang Paling Mulya diantara kamu adalah ORANG YANG PALING BERTAKWA,
Mengapa TAKWA menjadi penentu akan Keberkahan dari Allah, sehingga yang Paling Mulya diantara kamu adalah orang YANG PALING BERTAKWA,
Mengapa Bukan Sukunya, Bangsanya, Bahasanya, Pakaiannya, Jabatannya dan lain lain … ???
Itu dikarenakan TAKWA itu sangat sulit sekali dilaksanakannya, Karena tidak semua orang mampu untuk BERTAKWA, dikarenakan sulit itulah maka diperlukan SISTEM atau Kendaraan untuk mencapai kesana,
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling kenal mengenal, Sesungguhnya orang yang paling Mulia diantara kamu Disisi Allah ialah Orang Yang Paling Takwa Diantara Kamu, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal, (Qs : 49 : 13),
ADAPUN SISTEM ATAU ADDIIN ATAU AGAMA ANTARA LAIN IALAH :
SAHADAT
Tiada Tuhan yang Wajib Disembah atau Dita’ati selain Allah,
Maka Bertakwalah kamu disini sangat penting sekali untuk diperhatikan, bahwa ketika kita sudah mengakui Allah sebagai Tuhan kita, maka kita dituntut menjadi orang yang BERTAKWA, karena kalau tidak maka pengakuan kita itu disebut DUSTA,
Dia menurunkan Para Malaikat dengan membawa Wahyu dengan Perintah Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba hamba Nya, yaitu : Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan yang Hak Melainkan Aku, maka hendaklah kamu Bertakwa kepada Ku, (Qs : 16 : 2),
Allah tidak memaksakan orang untuk memasuki atau memeluk Agama Nya, akan tetapi harus Paham dan Jelas dahulu supaya ada Keikhlasan dalam menjalankannya agar sampai Ketujuan,
Tidak ada Paksaan untuk memasuki Agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat, Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah Berpegang Kepada Buhul Tali Yang Amat Kuat Yang Tidak Akan Putus, Dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui, (Qs : 2 : 256),
Dikarenakan Tuhannya dari Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad Rasulullah SAW tetap sama dan Ajarannyapun tidak Berubah, Hanya Sistemnya atau Addiinnya yang tidak sama,
AJARAN PARA NABI DARI MULAI NABI ADAM AS SAMPAI NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW ADALAH TAKWA ITULAH, MARI KITA SIMAK WAHYU WAHYU ALLAH DALAM ALQUR’AN INI :
1. NABI ADAM AS :
Kurban yang diterima adalah Kurban orang yang Bertakwa,
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil), Ia berkata (Qabil) : Aku pasti membunuhmu ..! Berkata Habil : Sesungguhnya Allah hanya menerima korban dari orang orang yang Bertakwa, (Qs : 5 : 27),
2. NABI NUH AS :
Menyeru untuk Bertakwa,
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata : Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, karena sekali kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia, Maka mengapa kamu tidak Bertakwa kepada Nya ..? (Qs : 23 : 23),
3. NABI IBRAHIM AS :
Menyeru untuk Bertakwa,
Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya : Sembahlah olehmu Allah dan Bertakwalah kepada Nya, Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui, (Qs : 29 : 16),
4. NABI HUD AS :
Menyeru untuk Bertakwa,
Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka : Mengapa kamu tidak Bertakwa ..? (Qs : 26 : 124),
5. NABI LUT AS :
Menyeru untuk Bertakwa,
ketika saudara mereka, Luth berkata kepada mereka : mengapa kamu tidak bertakwa ..? (Qs : 26 : 161),
6. NABI MUSA AS :
Menyeru untuk Bertakwa,
Berkata Musa : Hai kaumku, jika kamu Beriman kepada Allah, maka Bertawakkallah kepada Nya saja, jika kamu benar benar orang yang berserah diri, (Qs : 10 : 84),
7. NABI ISA AS :
Menyeru untuk Bertakwa,
Ingatlah, ketika pengikut pengikut Isa berkata : Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami ..? Isa menjawab : Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul betul orang yang Beriman, (Qs : 5 : 112),
8. NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW :
Menyeru untuk Bertakwa,
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang orang yang sebelummu, agar kamu Bertakwa, (Qs : 2 : 21),
BEGITU PULA TUJUAN DARI RUKUN ISLAM ADALAH BERTAKWA :
1. SAHADAT :
Dia menurunkan Para Malaikat dengan membawa Wahyu dengan Perintah Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba hamba Nya, yaitu : Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan yang Hak Melainkan Aku, maka hendaklah kamu Bertakwa kepada Ku, (Qs : 16 : 2),
2. SHALAT :
Hai manusia Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang orang sebelummu, agar kamu BERTAKWA.(Qs : 2: 21),
3. PUASA :
Hai orang-orang yang Beriman, diwajibkan atas kamu Berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu Bertakwa, (Qs : 2 : 183),
4. ZAKAT :
(Menunaikan Kesucian),
Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan didunia ini dan di akhirat, Sesungguhnya kami kembali bertaubat kepada Engkau,Allah Berfirman : Siksa KU akan KU timpahkan kepada siapa yang AKU kehendaki dan Rahmat KU meliputi segala sesuatu, maka akan AKU tetapkan Rahmat KU untuk orang orang yang BERTAKWA, yang MENUNAIKAN ZAKAT dan orang orang yang Beriman kepada Ayat Ayat Kami, (Qs : 7 : 156),
5. HAJI :
Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapayang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Takwa dan Bertakwalah kepada Ku hai orang orang yang Berakal,(Qs : 2 : 197),
MAKA MENURUT ALLAH ORANG YANG PALING MULYA ADALAH ORANG YANG PALING BERTAKWA.
Sedangkan Takwa itu sendiri dijelaskan dengan Wahyu Wahyu Nya :
Dan ta'atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi Rahmat,
(Qs : 3 : 132),
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang Bertakwa, (Qs : 3 : 133),
yaitu orang orang yang Menafkahkan Hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan kesalahan orang, Allah menyukai orang orang yang berbuat kebajikan, (Qs : 3 : 134),
Dan juga orang orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah ..? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui,
(Qs : 3 : 135),
Pada Surat Ali Imran Ayat 132 sampai Ayat 135 diatas terdapat beberapa bagian yaitu :
1. Menafkah Hartanya yaitu Menyisihkan Hartanya atau setiap Rizki yang diberikan Allah baik dalam keadaan lapang atau dapat banyak maupun dalam keadaan sempit atau dapat sedikit,
2. Menahan Amarah,
3. Mema’afkan kesalahan orang,
4. Segera memohon ampun,
ITU SEMUA DISEBUT TAKWA ATAU KEBAIKAN, DENGAN MENJALANKAN AJARAN SEPERTI ITU MAKA ALLAH BERJANJI SEKIRANYA BERIMAN DAN BERTAKWA PASTI HIDUP AKAN DIBERKAHI,
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri Beriman dan Bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka Mendustakan Ayat Ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya, (Qs : 7 : 96),
ADIL, MAKMUR, AMAN DAN SEJAHTERA,
Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda kekuasaan Tuhan di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, kepada mereka dikatakan : Makanlah olehmu dari rezki yang dianugerahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada Nya, Negerimu adalah negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun, (Qs : 34 : 15),
Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri negeri yang Kami limpahkan Berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri negeri itu jarak-jarak perjalanan, Berjalanlah kamu di kota kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan Aman, (Qs : 34 : 18),
AJARAN MENGAJARKAN KEPADA MANUSIA UNTUK MENJADI INDIVIDU YANG BERMANFA’AT BAGI ORANG LAIN, MENGUBAH POLA PIKIR DARI EGO YANG TINGGI MENJADI ARIF ATAU BIJAK, DARI SIFAT KERAKUSAN ATAU SIFAT KEKURANGAN MENJADI DERMAWAN,
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,
(Qs : 28 : 77),
ALHASIL DAPAT MEMBERI BAIK SECARA MATERI MAUPUN SECARA JIWA, GEN INILAH YANG MAMPU MENGHANTARKAN UMAT PADA PERADABAN YANG TINGGI MENUJU KEJAYAAAN,
Jika kamu pada perang Uhud mendapat luka, maka sesungguhnya kaum kafir itupun pada perang Badar mendapat luka yang serupa Dan masa kejayaan dan kehancuran itu Kami pergilirkan diantara manusia agar mereka mendapat pelajaran, dan supaya Allah membedakan orang orang yang beriman dengan orang-orang kafir supaya sebagian kamu dijadikan Nya gugur sebagai syuhada’ Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, (Qs : 3 : 140),
SECARA OTOMATIS TERCEGAH YAITU TIDAK TERJADINYA KEJI ATAU MERUGIKAN MANUSIA SECARA MORAL DAN TERCEGAH JUGA DARI KEMUNGKARAN ATAU MERUGIKAN MANUSIA SECARA MATERI ATAU FISIK,
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (ALQUR’AN) dan dirikanlah shalat, Sesungguhnya shalat itu mencegah dari Perbuatan Perbuatan Keji dan Mungkar, Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadat ibadat yang lain, Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan, (Qs : 29 : 45),
By : Lukman Hakim,
Mohon Ma’af Lahir dan Batin,
Salam Kasih Sayang Semesta Alam,

Senin, 27 Maret 2017

"MANUSIA”

Manusia adalah khalifah di bumi.
Manusia adalah makhluk yang di jadikan Tuhan sama dengan makhluk yang lain.
Asal usul awalnya adalah dari pada Nur,
Maksudnya : Dari pada Allah (sedangkan Allah adalah NUR) ,
“KULLA MIN INDALLAH” Artinya : segala sesuatu itu daripada Allah.
Manusia ini adalah jenis makhluk yang berderajat tinggi jika dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain..,
Dengan dikaruniahkan akal kepada manusia seharusnya manusia berfikir tentang dirinya dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain.
Agar manusia dapat keluar dari sifat MAHLUK kepada sifat MANUSIA, dan dari sifat MANUSIA kepada sifat INSAN KAMIL, karena dengan taraf Insan Kamil-lah baru manusia itu menjadi SEMPURNA.
Firman Allah :
“ Sesungguhnya Kami jadikan Insan itu sebaik-baik kejadian, kemudian Kami kembalikan mereka ke tempat yang hina (At Tin 4, 5)”
Mengapa setelah di jadikan Sempurna kemudian di kembalikan pada tempat yang hina?
Karena manusia itu sendiri tidak mau mengenal akan derajatnya (Diri)..,
Bagaimana cara kita memberi derajat kepada Diri kita seimbang dengan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah?
Apakah kita beribadah kepada Allah masih berderajat Makhluk .. atau berderajat Manusia.. atau berderajat Insan Kamil.
Dari cara beribadah inilah derajat manusia itu diberikan.
Dengan memahami derajat tersebut mudah-mudahan manusia dapat melaksanakan tugasnya kepada Allah dengan sempurna sejajar dengan kesempurnaannya, oleh karena itu maka manusia perlu mengenali dirinya dan statusnya sebagai manusia yang sempurna :
“MAN ARAFAH NAFSAHU FAKAD ARAFAH RABBAHU”
Siapa mengenal Dirinya ia mengenal Tuhannya
Maksudnya :
MAN ini adalah bertaraf makhluk, namun apabila ia mengenal dirinya NAFSAHU(Manusia) maka barulah ia mengenal TuhanNya yang bernama RABBAHU, Yaitu Tuhan yang bertaraf LAISA KAMISLIHI SYAIUN (Yang tidak berupa apa pun jua)
Maksudnya lagi :
MAN ini jika kita bawa kepada pengertian NAFSAHU maka ia akan membawa kepada manusia yang “Laisa kamislihi syaiun ” yaitu manusia yang Batin atau dikenal sebagai INSAN atau di kenal juga sebagai DIRI SEBENAR DIRI yang bertaraf NYAWA atau NAFAS,
Nyawa atau Nafas adalah bagian dari diri Rohani, fungsinya adalah menghidupkan diri Jasmani atau diri yang bernama DIRI TERPERI.
Coba rasakan di dalam tubuh ini : ada yang TURUN dan NAIK atau yang KELUAR dan yang MASUK.
Anasirnya terdiri dari NAFAS, NUFUS, AMFAS dan juga TANAFAS yang senantiasa mengingat Allah tanpa henti-hentinya,
Seharusnya diri manusia yang bertaraf MAN dan NAFSAHU ini wajib di kenali, dan ibadahnya pun wajib juga di kenali, karena inilah NILAI SEBENAR MANUSIA.
Diri terperi juga mempunya komponen Rohani yang lain yaitu : Roh, Akal dan Nafsu,
Lebih jelasnya adalah :
Dalam Jasad itu ada dua ROH,
Pertama Roh Yaqazah,(Roh Jaga=akal+nafsu) jika ia berada pada jasad, jadilah manusia itu jaga, maka apabila ia “keluar” dari jasad maka tidurlah manusia itu dengan mimpinya.
Kedua adalah Ruhul Hayat (Nyawa) jika ia berada pada jasad maka hiduplah jasad, apabila ia “keluar” dari jasad maka matilah manusia itu.
Kedua jenis Roh ini berada dalam jasmani manusia, tiada yang mengetahui tempatnya melainkan Allah swt.
Roh itu adalah..,
Satu bernama Ruhul Yaqazah yang terdiri daripada Roh, Akal dan Nafsu,
Ruhul Yaqazah ini juga di kenal sebagai HATI, ia memberikan fungsi kepada manusia supaya “HIDUP BERARTI”, dengan adanya Roh ini di dalam jasad maka dapat memberikan kekuatan kepada setiap komponen jasmani, AKAL dapat memberikan kemampuan berfikir, mengingat, dan berperasaan, sementara fungsi yang terdapat pada anasir NAFSU adalah untuk menimbul suatu hasrat atau berkeinginan,
Ruhul Yaqazah ini jika dia masih berada didalam jasad maka manusia akan menjadi aktif (sadar) dan apabila ia keluar dari jasad maka jasmani menjadi hilang kesadaran secara total, semua ini adalah atas ketentuan Allah swt jua…
Surah Az Zumar ayat 42 menyatakan bahwa :
Ruhul Yaqazah ini di tahan kemudian di lepaskan, jika dilepaskan jasad menjadi aktif dan apabila ditahan maka jasad menjadi hilang kemampuannya, hasratnya, berfikirnya, maka jadilah jasad tidur, (lihat lagi Surah Al An’am ayat 60)
Sementara Roh yang satu lagi dinamakan Ruhul Hayat atau di kenal sebagai NYAWA kepada JASAD, atau dikenal juga sebagai INSAN BATIN,
Ruhul Hayat (Roh menghidupkan) ini selama ia tidak “keluar” dari jasmani maka jasad tidak akan mati, akan tetapi apabila ia “keluar” maka jasad manusia akan mati dan menjadi busuk atau hilang (ghaib),
Sementara Ruhul Yaqazah akan mengikuti kemana saja Ruhul Hayat berada.
Kesimpulan Awal..
ROHANI yang terdiri daripada Anasir ROH, AKAL, NAFSU dan NYAWA adalah makhluk yang TERSIRAT dan yang berhak diistilahkan sebagai DIRI YANG SEBENARNYA kepada manusia,
ROHANI yang lebih awal Allah jadikan sebelum Allah ciptakan MANUSIA dari jenis yang TERSURAT.
Jasmani ibarat Rumah (tempat kediaman) yang mana kita boleh keluar dan masuk dan memeliharanya dengan baik supaya dapat tinggal lama disitu,
Karena itulah kita perlu mengucapkan rasa syukur apabila Rohani itu di kembalikan Allah kedalam jasmani agar dapat meneruskan kerja KHALIFAH di bumi ini.
Akhirul kalam..
Inillah Doa yang biasa di ucapkan ketika bangun tidur :
“Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan Rohku kepadaku, dan yang telah memberi kesehatan pada tubuhku”
Doa ini mengisyaratkan bahwa Rohani (Ruhul Yaqazah) itu boleh “keluar” dan masuk kedalam jasad manusia atas izin Allah swt.

“AKU adalah PERBENDAHARAAN yang tersembunyi”


AKU ingin dikenal…
Maka AKU ciptakan makhluk agar mereka mengenali AKU
Wahai hamba …!
Engkau tiada memiliki sesuatu apapun jua..
Kecuali apa yang AKU kehendaki untuk menjadi milikmu ..
Bahkan tiada juga engkau memiliki Dirimu,
Karena AKUlah Maha PenciptaNya,
Tiada pula engkau memiliki Jasadmu,
Karena AKUlah yang membentukNya,
Hanya dengan pertolongan-KU,
Engkau dapat berdiri..
Dan dengan “Kalimah-KU”
Engkau datang ke dunia ini ..
Wahai hamba …!
Katakanlah TIADA NYATA HANYA ALLAH,
Kemudian tegaklah berdiri di jalan yang benar,
Maka tiada Tuhan melainkan AKU
Dan tiada pula wujud sebenarnya wujud kecuali untuk-KU,
Dan segala yang selain daripada-KU
Adalah dari ciptaan tangan-KU.
Dan dari tiupan Ruh-KU.
Wahai hamba …!
Segala sesuatu adalah kepunyaan-KU,
Bagi-KU dan untuk-KU,
Jangan sekali-kali engkau merebut apa yang menjadi kepunyaan-KU …
Kembalikan segala sesuatu kepada-KU,
Niscaya akan Kubuahkan pengembalianmu dengan tangan-KU,
Dan Kutambah padanya dengan kemurahan-KU,
Serahkan segala sesuatu kepada-KU,
Niscaya AKU selamatkan engkau dari segala sesuatu ..
Ketahuilah…
Bahwa hamba-KU yang terpercaya adalah…
Yang mengembalikan segala yang selain-KU kepada-KU,
Lihatlah dengan pandangan tajam kepada-KU,
Bagaimana cara AKU melakukan pembagian..,
Niscaya engkau akan melihat pemberian dan penolakan..
Yang merupakan dua bentuk yang di-asma-kan,
Agar dengan demikian engkau mengenal-KU.
Wahai hamba …!
Sesungguhnya engkau telah melihat AKU sebelum dunia terhampar
Dan engkau pasti mengenal siapa yang telah engkau lihat ..
Dan kepada AKUlah engkau akan kembali..
Ketika AKU ciptakan sesuatu untukmu..
Dan AKU tutupi (hijab) atasmu ..
Lalu engkau pun tertutup dengan tirai dirimu sendiri,
Kemudian AKU menghijab engkau dengan diri-diri yang lain,
Yang mana diri-diri yang lain itu menyeru kepadamu dan pada dirinya..
Dan menjadi penghijab daripada-KU,
Setelah semuanya itu…
Maka AKU pun kembali menyata di balik semuanya itu,
Dan dari belakang semuanya itu
Kuperkenankan akan diri-KU.
AKU katakan kepadamu …
Bahwasanya AKUlah Maha Pencipta,
AKUlah yang menciptakan semuanya ini..
Dan bahwasanya AKU menjadikan engkau khalifah atas semuanya itu..
Ketahuilah…
Bahwa semuanya itu adalah amanah dari-KU.
Dan diharuskan untuk-mu mengembalian amanah itu kepada-KU.
Maka periksalah dirimu setelah engkau mempercayai-KU.
Sudahkah engkau mengembalikan segala sesuatu itu kepada-KU..?
Dan sudahkah engkau memenuhi perjanjian yang telah engkau buat dengan-KU..?

“KITA”


Siapa KITA..?
Mereka mengira bahwa KITA terbagi menjadi 2 bahagian :
1.Jasad KITA..
2.Roh KITA…
Lalu..
Kalau sudah terpisah Jasad dan Roh..
Mau kemana KITA?
Jawaban mereka :
1.Jasad KITA di kubur di bumi..
2.Roh KITA kalau baik ke surga.. kalau tidak baik ke neraka.
Pertanyaan-nya :
KITA-nya kemana…??
…………….
Kisah :  “ Kerbau dan Pedati”
Dahulu kala kerbau dan pedati dijadikan sebagi alat transportasi untuk membawa barang-barang dagangan hasil bumi untuk di jual ke kota atau ke pasar-pasar..
Perjalanan dari desa ke kota kadang memakan waktu hingga berhari-hari melalui jalan yang berliku-liku, menanjak dan menurun melalui panas teriknya matahari dan hujan …
Pedati yang ditarik kerbau itu sarat muatan barang dagangan berisikan hasil bumi..
Pada suatu saat di dalam perjalanan.. setelah berkali-kali mendaki dan menurun .. pada pendakian yang menanjak agak curam dengan ayun langkah yang guntai, nafas yang ter engah-engah, dan air ludah yang berbuih di mulut.. sambil melihat kekiri dan kekanan.. seakan-akan kerbau bertanya kepada pedati ..
“ Masih jauhkah lagi tempat perhentiannya..?”
Lalu apa jawab pedati..
“Wahai kawan.. engkau salah duga, salah anggap, salah kira, jangan kau tanyakan ini kepadaku, ketahuilah.. aku ini benda mati, walaupun aku mempunyai kaki tapi kakiku tidak sebanyak kakimu, kakimu empat sedangkan kakiku Cuma dua, kalau tidak karena engkau aku tak bisa berjalan, karena aku memang tak bisa jalan sendiri, bukankah engkau yang menarik hingga aku sampai kesini..?
Nasibmu masih baik kawan.., karena nanti kalau sudah sampai di perhentian, aku akan engkau tinggalkan begitu saja. Sedangkan engkau diberi makan dan minum, bahkan kadang-kadang dimandikan dan dibersihkan. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan untukmu kawan..
Sedangkan aku.., sesampainya di perhentian nanti, ditinggalkan begitu saja. Aku menanggung beban bawaan, akan tetapi dipikulkan pada pundakmu, karena engkaulah yang menarikku. Kalau engkau hendak bertanya tentang perhentian ini, tanyakanlah pada orang yang duduk dibelakangmu. mungkin dia tahu…
Sang kerbau mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang duduk di belakangnya itu. Belum sempat dia melihat orangnya yang ditunjuk itu, tahu-tahu dia dengar suara yang berarti terus jalan. Waktu itu dia hanya sempat melihat sekejap seperti cahaya sebesar api rokok membayang di belakangnya.
Terpaksa dia berjalan terus, menarik beban yang terpikul di pundaknya. adapun api yang nampak sekilas oleh kerbau itu ialah api rokok tukang pedati, yang waktu itu dalam malam gelap-gulita, merokok sambil duduk di tempatnya, dengan pakaiannya serba hitam sampai ke kain ikat kepalanya.
Inilah tiga hal yang jalan bersama untuk satu arah dan tujuan. Kerbau bergerak dengan empat kakinya, pedati dengan dua rodanya, dan si tukang pedati berjalan dengan duduk di tempatnya. Ketiga-tiganya menuju ke tempat perhentian, dan konon kabarnya di tempat perhentian itu mereka berpisah satu sama lain; si kerbau tinggal di kandangnya, pedati ditinggalkan geletak begitu saja, dan si tukang pedati balik ke rumahnya.
Renungkan….

“Al-Qur’an Dalam Pandangan Hakekat”

Tingkatan Al-Qur’an itu ada 4 yaitu :
1. Al-Qur’anul MAJID
2. Al-Qur’anul KARIM
3. Al-Qur’anul HAKIM
4. Al-Qur’anul ADHIM

1. Al-Qur’anul MAJID ialah Al-Qur’an yang ada HURUF-nya, yaitu berupa KITAB yang kita baca dan dikaji di tempat-tempat pengajian inilah manual (gambaran) dari Al-Qur’an yang HIDUP.

2. Al-Qur’anul KARIM ialah Al-Qur’an yang MULIA, yaitu yang telah membuat hingga Al-Qur’an itu bisa ditulis kedalam sebuah kitab, siapa yang membuat hingga Al-Qur’an bisa dibaca? tentunya itu hasil karya dari tulisan tangan dan jari-jarinya, jadi yang MULIA itu adalah tangan dan jari-jarinya.

3. Al-Qur’anul HAKIM ialah Al-Qur’an yang AGUNG. yaitu MATA, karena PENGLIHATANnya maka tangan dan jari-jarinya dapat menulis. Jadi yang AGUNG itu MATA dan PENGLIHATANnya.

4. Al-Qur’anul ADHIM ialah Al-Qur’an yang SUCI dan ABADI. Itulah yang HIDUP, karena walau ada tangan dan jarinya serta mata dan penglihatan tetap tidak akan terwujud Al-Qur’an kalau tidak ada yang 
HIDUP.

Lebih Jelasnya ….
Al-Qur’an = Hidup
Rasullullah adalah Al-Qur’an yang berjalan (Hidup)
Jadi Al-Qur’an yang hidup adalah INSAN.
oleh karena itu..
Jika ingin mengaji Al-Qur’an harus sampai kepada SUCI-nya, maka itulah yang SEMPURNA (Melalui 4 tahapan pengkajian Al-Qur’an diatas).
Pertama, harus ada kemauan yang kuat untuk membaca Al-Qur’anul Majid (Al-Qur’an yang ada hurufnya) inilah SYARIATnya.., setelah dibaca harus dikaji yaitu diartikan apa maksudnya.., setelah mengerti maksud-maksudnya segera cari tahu dan amalkan agar terasa manfaatnya (Tangan yang bergerak) inilah THAREKATnya…
Maksudnya.. :
Semua berawal dari Al-Qur’anul Majid (Manual Book) yang telah menunjuki jalan mengenal Allah dan Rasul-Nya kemudian dilanjutkan dengan “membaca” Al-Qur’anul Karim artinya mengkaji pekerjaan tangan dan jari kita yang sekiranya bisa menghantarkan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Bahwa…
Allah memberi tangan dan jari kepada manusia, bukan hanya digunakan untuk membuat dan mengerjakan barang-barang yang berhubungan dengan sifat ke-dunia-an saja tetapi haruslah dipakai dengan membuat jalan untuk mengenal Allah dan Rasul-Nya agar tangan kita menjadi MULIA.
Dalilnya:
“Asa bi’ahum fi adanihim minassowaiki hadarotil mauti wallahi muhitun bil kafirin” Artinya : Kalau tangan dan jari kamu tidak digunakan untuk mengenali jalan kematian, maka tangan dan jari kamu bermartabat tangan dan jari hewan saja…,
Selanjutnya…
Dari Al-Qur’anul Karim naik lagi setingkat kepada Al-Qur’anul Hakim bagian HAKEKAT. Yaitu harus mengkaji pekerjaan PENGLIHATAN kita yang sekiranya belum HAKIM.. “Sidik jari” atau bukti pada barang yang SUCI dan ABADI itu Hakekatnya adalah ALLAH dan MUHAMMAD.
Karena ALLAH dan MUHAMMAD yang memberikan MATA dan PENGLIHATAN itu,
Penglihatan juga bukan untuk dipakai melihat barang yang hanya berhubungan dengan keduniaan saja, tetapi harus juga dipakai untuk melihat dengan mata batin HAKEKAT ALLAH dan RASULULLAH.
Akhirul Kalam…

Inilah Al-Qur’an yang dimaksud dengan sebenar-benarnya Al-Qur’an yaitu Al-Qur’anul ADHIM yang SUCI lagi ABADI, yang sifatnya HIDUP, yang telah ditanamkan pada dada setiap INSAN dan menjadi IMAM dan juga sebagai IMAN untuk memisah yang Hak dan yang Bathil yang bertaraf MAKRIFAT.

Al-Qurannul Karim terletak pada kata ALLAH.

Saudara-ku…
Mari sama-sama kita teruskan pemahaman ini…
Nama ALLAH itu terkandung di dalam Al-Quran sebanyak 2696 kali.
Apa hikmah-nya yang bisa ambil..?
Mengapa begitu banyak nama Allah, bagi kita…?
“ Wahai Hambaku janganlah kamu sekalian lupa kepada namaku “
Allah itu Nama-KU
Allah itu Zat-KU
Tidak akan pernah bercerai, Nama-KU dan Zat-KU itu.
Seluruh kitab-kitab yang ada… semua terhimpun dalam Al-Qur’annul Karim.
Rahasia Al-Qurannul Karim terletak pada kata ALLAH.
Begitu pula dengan kalimah ” La Ilaha Ilallah “,
Jika ditulis dalam Bahasa Arab ada 12 huruf,
Jika digugurkan 8 huruf pada awal kalimah yaitu : La Ilaha Illa
Maka akan tertinggal 4 huruf saja, yaitu : ALLAH.
Makna kata ALLAH itu adalah sebuah nama saja,
Sekalipun digugurkan satu persatu.. nilainya tidak akan pernah berkurang..,
Justru akan mengandung makna dan arti yang semakin mendalam..,
Dan..
Mengandung Rahasia Penting bagi kehidupan kita selaku umat manusia yang telah diciptakan oleh-Nya dalam bentuk yang paling sempurna.
Saudaraku, …
ALLAH berhuruf dasar : Alif, Lam awal, Lam akhir dan Ha.
Mari sama-sama kita lihat Ke-SEMPURNAAN-nya..
Coba-lah gugurkan huruf-nya satu persatu…,
Gugurkan huruf pertamanya, yaitu huruf Alif (ا ),
Maka akan tersisa 3 huruf saja (Lam awal, Lam akhir dan Ha)
Bunyinya tidak ALLAH lagi, tetapi akan berbunyi LILLAH,
Artinya :
Bagi Allah, dari Allah, kepada Allah-lah kembalinya segala makhluk.
Gugurkan huruf keduanya, yaitu huruf Lam awal (ل ),
Maka akan tersisa 2 huruf saja (Lam akhir dan Ha)
Bunyinya tidak LILLAH lagi, tetapi akan berbunyi LAHU.
Lahu Mafissamawati wal Ardi,
Artinya :
Bagi Allah segala apa saja yang ada pada 7 lapis langit dan 7 lapis bumi.
Gugurkan huruf ketiganya, yaitu huruf Lam akhir ( ل),
Maka akan tersisa 1 huruf saja (Ha)
Dan bunyinya tidak LAHU lagi, tetapi HU,
Huwal haiyul qayum, artinya Zat Allah yang hidup dan berdiri sendirinya.
Kata HU ringkasnya dari kata Huwa,
Sebenarnya setiap kata Huwa, artinya Zat,
Misal-nya:
Qul Huwallahu Ahad., artinya Zat yang bersifat kesempurnaan yang dinamai Allah. Yang dimaksud kata HU itu menjadi berbunyi AH, artinya Zat.
Nafas kita yang keluar masuk semasa kita masih hidup ini berisi amal batin, yaitu HU, kembali napas turun di isi dengan kata ALLAH, ke bawah tiada berbatas dan ke atas tiada terhingga.
Perhatikan ini :
Pada kata ALLAH itu.. jika kita gugurkan Lam (ل ) pertama dan Lam (ل ) kedua-nya, maka tinggallah dua huruf yang awal dan huruf yang akhir (di pangkal dan di akhir), yaitu huruf ALIF dan huruf HA (dibaca AH).
Kata ini (AH) tidak dibaca lagi dengan nafas yang keluar masuk dan tidak dibaca lagi dengan nafas ke atas atau ke bawah tetapi hanya dibaca dengan TITIK.
Kata AH, jika dituliskan dengan huruf Arab, terdiri dua huruf, artinya dalam bahasa disebutkan INTAHA (Ke-sudah-an dan ke-akhir-an),
Seandai saja kita berjalan “mencari” ALLAH tentu akan ada per-mula-annya dan tentunya juga akan ada ke-sudahan-nya, akan tetapi kalau sudah sampai lafald Zikir AH, maka sampailah perjalanan itu ketujuan yang dimaksudkan.
……………………………………………………………..
(Sampai sini silahkan bertanya kepada guru kita masing-masing).
Selanjutnya…
Gugurkan Huruf Awalnya, yaitu huruf ALIF dan gugurkan huruf akhirnya yaitu huruf HA,
Maka akan tersisa 2 huruf di tengahnya, yaitu huruf LAM awal (Lam Alif) dan huruf LAM akhir ( La Nafiah).
Maksud-nya :
Jika kita berkata LA (Tidak ada Tuhan),
ILLA (Ada Tuhan),
Nafi mengandung Isbat,
Isbat mengandung Nafi
Tiada bercerai atau terpisah Nafi dan Isbat itu.
Selanjutnya lagi…
Gugurkan huruf LAM akhir dan huruf HA,
Maka yang tertinggal juga dua huruf, yaitu huruf ALIF dan huruf LAM yang awal, kedua huruf yang tertinggal itu dinamai Alif Lam La’tif dan kedua huruf itu menunjukkan Zat Allah,
Maksud-nya :
Kata ALLAH bukan NAKIRAH,
Kata Allah adalah MAKRIFAT, yakni Isyarat dari huruf ALIF dan LAM yang pertama pada awal kata ALLAH.
Gugurkan 3 huruf sekaligus, yaitu huruf LAM awal, LAM akhir dan HA,
Maka tinggallah huruf yang paling tunggal dari segala yang tunggal, yaitu huruf ALIF (Alif tunggal yang berdiri sendirinya).
Beri-lah tanda pada huruf Alif yang tunggal itu dengan tanda Atas, Bawah dan Depan, maka akan berbunyi : A. I. U.
ARTINYA setiap berbunyi A… I… U… maka di-paham-kan Ada Zat Allah..,
Jadi..
Segala bunyi atau suara di dalam Alam, baik itu yang timbul atau dating-nya dari Alam Nasar yang empat (Tanah, Air, Angin dan Api) maupun yang datangnya dan keluar dari mulut makhluk Ada Zat Allah.
Penegasannya bunyi atau suara yang datang dan timbul dari apa saja, semuanya itu berbunyi ALLAH, nama dari Zat yang Maha Esa
Sedangkan huruf ALIF itulah dasar dari huruf Arab yang banyaknya ada 28 huruf.
Dengan demikian maka…
Jika kita melihat huruf Alif maka seakan-akan kita telah melihat 28 huruf yang ada.
Lihat dan perhatikan lagi sebuah biji pada tumbuh-tumbuhan, dari biji itulah asal usul segala urat, batang, daun, ranting, dahan dan buahnya.
Syuhudul Wahdah Fil Kasrah… Pandang yang satu kepada yang banyak..
Syuhudul Kasrah Fil Wahdah… Pandang yang banyak kepada yang satu,..
Maka..
Yang ada hanya SATU JUA, yaitu satu Zat dan dari Zat itulah datangnya Alam beserta isinya.
Telah kita ketahui bersama bahwa :
Al-Quran yang jumlah ayatnya 6666 ayat akan terhimpun ke dalam Suratul Fateha,
Dan Suratul Fateha itu akan terhimpun pada Basmallah,
Dan Basmallah itupun akan terhimpun pada huruf BA’
Dan huruf BA’ akan terhimpun pada titiknya (Nuktah).
Jika kita tilik dengan jeli maka TITIK itulah yang akan menjadi segala huruf,
Terlihat banyak padahal ia Satu…
Terlihat satu padahal ia Banyak….
Setelah…
Huruf-huruf lafad ALLAH digugurkan semua-nya..
Maka tinggallah 4 huruf yang ada di atas lafad ALLAH tadi,
Yaitu huruf TASYDID (bergigi tiga, terdiri dari tiga huruf Alif)
Di atas Tasydid ada lagi 1 huruf ALIF.
4 huruf Tasydid itu adalah isyarat bahwa Tuhan itu Ada, maka wajib bagi kita untuk men-TAUHID-kan Asma Allah, Af’al Allah, Sifat Allah dan Zat Allah.
Langkah yang terakhir…
Gugurkan ke-seluruh-annya,
Maka yang akan tinggal adalah KOSONG…
LA SAUTIN WALA HARFUN,
Artinya :
Tidak ada huruf dan tiada suara..
Inilah Kalam Allah yang Qadim,
Tidak bercerai dan terpisah SIFAT dengan ZAT

AL-QUR’AN DALAM DIRI MANUSIA


Di dalam Al-Qur’an ada dua ayat yang jelas-jelas menyebutkan bahwa Al-Qur’an itu di turunkan oleh Allah di dalam diri manusia dengan menggunakan istilah hati dan dada.
Pertama :
Surah Al-Baqarah ayat 97
“Man kaana ‘aduwwan lijibriila fa-innahu nazzalahu ‘alaa qalbika bi-idznillaahi mushaddiqan limaa bayna yadayhi wahudan wabusyraa lilmu’miniin.”
Katakanlah : “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.
Kedua :
Surah Al-Qiyamah ayat 16
Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkan Al-Qur’an (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
Telah kita ketahui bersama bahwa :
Al-Qur’an itu terbentuk dari titik kemudian menjadi huruf dan seterusnya menjadi ayat yang ber-jumlah 6666 ayat dan menjadi panduan hidup manusia… kemudian… di masuk-kan pula oleh Allah ke dalam diri manusia
Pada kesempatan ini mari-lah sama-sama kita coba untuk mengkaji maksud sebenar-nya ayat di-atas karena ayat tersebut sangat JELAS dan MUDAH untuk di-pahami,
Yang menjadi persoalan-nya sekarang ialah..
Al-Qur’an yang mana-kah yang di-maksud-kan?
Al-Qur’an itu sudah berada di dalam hati manusia (Al-Baqarah 97)
Al-Qur’an itu sudah berada di dalam dada manusia (Al-Qiyamah 16)
…… sebaiknya tidak perlu di-perdebatkan lagi ….
Namun…
Siapa-kah Al-Qur’an itu..?
Setiap apa yang di katakan Al-Qur’an itu adalah Qadim (Kalam Qadim)
ini ber-arti A-Qur’an itu bersifat Qidam..
Jika ia bersifat Qidam maka ia bukan-lah Muhadas (yang baru)
Sebab..
Yang baru itu adalah makhluk yang di-ciptakan-Nya
dan yang di-cipta-kan jika ia ber-bentuk Roh maka jelas ia makhluk..
Pandangan sebagian Ulama mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah Qadim yaitu : Awal tiada permulaan.
Artinya ..
Kalam yang Qadim yang menjadi Hak Allah,
Jika ia menjadi Hak Allah
Maka..
Ia tidak boleh bersifat Roh akan tetapi ia harus bersifat DZAT
Jadi..
Yang bersifat Dzat itulah yang di turunkan oleh Allah di dalam dada atau hati manusia,
Siapakah dia..?
Apakah Al-Quran yang berbentuk Jirim..?
atau Jisim ?
atau Jauharul Fardhi ?
atau Jauharul Basits ?
Jika Al-Qur’an itu berbentuk yang ber-istilah di atas..
maka apakah dia sebenarnya yang di masukan oleh Allah di dalam hati manusia atau di dalam dada manusia..?
Kita wajib mengetahui hal ini sebab dia berada di-dalam diri kita sendiri, dan juga menjadi Panduan Hidup kita…
Jika ia sebagai panduan hidup manusia..
maka dapat kita katakan bahwa dia itu menjadi panduan kepada Roh, Akal, Nafsu dan Tubuh yang terdiri dari tulang, daging, urat,darah, rambut, dan sebagainya,
Tanpa ia semua yang ada pada sebuah batang tubuh manusia menjadi tiada berarti sama sekali,
Sebab itu-lah dikatakan mencari sesuatu di dalam diri..
Apa yang dicari dalam diri..?
Ini adalah isyarat untuk memahami bahwa Al- Qur’an itu ada di dalam hati manusia dan ada di dalam dada manusia,
Mungkin awal-nya kita merasa sulit untuk memahami bahwa Al-Qur’an itu ada di dalam diri manusia,
Walau apapun itu…… inilah ketentuan Allah dalam Al Quran,
Tapi…
Dalam bentuk apakah ..?
Jika berbentuk Al-Qur’an sebagaimana yang kita ketahui (bentuk kitab yang ada huruf dan rupa)
Maka itu adalah MUSTAHIL karena tidak mungkin Al-Qur’an ber-bentuk itu di masukan ke-dalam jasad kita.
Al-Qur’an adalah panduan hidup dan mati manusia…
Al-Qur’an adalah Kalam Tuhan, yang bersifat NUR untuk seluruh alam ciptaan Tuhan..
Kepada orang yang berfikir.. akan melihatnya sebagai sesuatu yang Benar dan Suci dan Bersih dengan tiada keraguan terhadapnya,
Karena itu layak-lah ia di namakan Kalam yang Qadim yaitu Kalamullah,
Rasullullah sendiri tidak akan ber-bicara melainkan pembicaraan-nya adalah Al-Qur’an,
ini ber-arti berbicara yang benar dan Haq itu Di dalam Al-Qur’an.
Ada ayat yang meng-gatakan Al-Qur’an ini sebagai Hablillah (tali Allah)
yaitu tali yang mengaitkan antara hamba dengan Tuhannya
Jika tali ini tidak di pegang teguh..
maka akan bercerai berai-lah manusia bersama Allah.
Sedangkan..
Hablillah ini mengenal Tuhan-nya sejak dari alam Roh dan dia-lah yang mengakui bahwa Tuhan itu adalah Rabbi yaitu Tuhan yang mencipta-nya,
Kalam-nya tidak pernah dusta..
Sebagaimana Rasullullah bersabda tidak mengikut perasaan-nya melainkan mengikut panduan Al-Qur’an semata-mata,
KESIMPULAN :
Al-Qur’an itu bukanlah berbentuk Jirim,Jisim atau Jauhar yang Fardhi karena istilah tersebut adalah berbentuk-bentuk dalam wujud ke-benda-an.
Al-Qur’an yang di maksud-kan oleh Allah swt ini bukanlah berbentuk kitab yang ber-jilid dan naskah akan tetapi ia adalah berbentuk Jauhar yang sulit untuk di lihat dengan mata kasar.
Al-Qur’an tersebut adalah berbentuk Zat, karena Basits itu adalah sebagian dari pada Zat yang di ujud-kan oleh Allah dan sesuai dengan Asma Allah yang Ma’anawiyah di samping ia adalah IMAM
Fungsi-nya sebagai IMAM atau Pemimpin sebagaimana yang di kehendaki oleh Allah kepada setiap muslim menjawab-nya ketika di tanya oleh malaikat Mungkar dan Nangkir di dalam kubur atau berbentuk Hablillah (tali Allah).
Karena ia IMAM maka ia adalah makhluk yang bertaraf Zat Di alam Roh…
Ketika Roh itu di tanya oleh Allah swt (Bani Isroil ayat 85 dan 86) Maka yang menjawab pertanyaan tersebut ialah yang menjadi ketua atau IMAM kepada Roh, Akal dan Nafsu,
Al-Qur’an adalah Nur Muhammad atau Hakekatul Muhammadiyah atau di kenal sebagai Nyawa atau Nafs kepada sumber segala kehidupan (Al-Basit)
Maka dia juga di kenal sebagai makhluk La Yakhluqu = Zat yang tidak menjadikan sesuatu (An-Nahl ayat 17),
Yang jelas…
Al-Qur’an yang di masuk-kan oleh Allah ke dalam diri manusia itu ialah :
Nur Muhammad atau
Hakekatul Muhammadiyah atau
Diri kebatinan manusia yang sebenarnya atau
Diri sebenar Diri yang tidak menanggung dosa,
Karena ia adalah makhluk bertaraf Dzat
maka..
Ia tidak terkecuali dari beribadah kepada Allah swt ,
Karena..
Ia beribadah dengan nama Shuhud kepada Wahdah dan juga Kasrah dan Sir.
Ia juga-lah yang di kenal sebagai NAFSAHU kepada ayat mengenal diri dan Tuhan,
Ia juga-lah yang di kenal seagai INSAN yang Sempurna yang tidak ada cacat dan celanya.