Laman

Selasa, 11 April 2017

DIRI


Diri Ini adalah yang menghidupkan jasad, selagi ada hayat dikandung badan di dunia ini, “DIRI” ini, harus di kenal dan dirasai sepenuh nya oleh kita, kerana ia mengandungi banyak rahsia dan serba guna, Didunia dan akhirat.
Kenal kah “DIRI” tadi kepada Allah?
Sudah tentu, kerana dia datang dari Allah, dari yang Maha Suci Hidup, Sang pencipta dan yang Maha Kuasa diatas segala yang Maha Berkuasa.

Banyak lagi, persoalan yang akan timbul, apabila kita dapat mengenal “DIRI” kita yang sebenar- benarnya “DIRI” ini, kita harus belajar dari “DIRI” ini sendiri, bukan yang lain, selain “DIRI” ini sendiri.
Dia mengetahui, kerana dia datang dari yang MAHA mengetahui.
Dia bijak, kerana dia datang dari yang MAHA bijaksana.
Dia kuasa, kerana dia datang dari yang MAHA kuasa.
Dia lah sebaik-baiknya Guru, kerana dia datang dari yang MAHA guru.
Kehidupan sebenarnya, ada di dalam, kerana kehidupan datang setelah kita Hidup.
Kesimpulan-nya;
Kenali lah “DIRI” kita ini, kerana, dia-lah sebenar-benarnya “DIRI” dan utamakan lah dia dalam segala urusan kita di dunia ini, sambil menunggu surat undangan dari yang Maha Kekal Abadi, jangan lupakan itu dan ini, kerana dia kekal kerana di kekalkan.
Ilmu Pengetahuan Mengenal “DIRI” adalah satu-satunya ilmu pengetahuan yang wajib dan harus di ketahui oleh semua manusia hidup, tanpa terkecuali, tidak peduli agama dan latar belakang apapun, kerana tiap-tiap manusia hidup, membawanya di dalam jasad kasar mereka, harus kah penghidup jasad kita ini, kita biarkan begitu saja, tanpa mengenali dan merasakan nya, hanya semasa maut hampir datang menjemput, baru kita sedar, bahwa dia akan meninggalkan kita...................
............... Amin yarabullalamin.

BAYANG DIRI CERMIN DIRI.


Yang dimaksudkan bayang, bekas dan sifat Allah itu adalah merujuk kepada makhlok. Makhloklah bayang Allah, makloklah bekas Allah dan makhloklah yang dikatakan sifat-sifat Allah.
Dengan cara memandang dan melihat bekas-bekas Allah pada sifat makhlok, Allah itu akan dapat dilihat dan dapat dipandang oleh pandangan mata Kasar. Termasuklah dengan cara melihat kepada diri kita sendiri. Maksud melihat itu, bukan melihat dengan mata zahir tapi ianya hendaklah dilihat dengan menggunakan mata batin, iaitu melalui pandangan mata hati.
Tempat melihat Allah itu, adalah pada diri sendiri. Oleh itu untuk melihat dan memandang Allah, kita dikehendaki terlebih dahulu melihat dan memandang kepada diri sendiri. Setelah kita mengenal diri, barulah Allah itu dapat dilihat dan dipandang dengan nyata dan terang oleh sebarang penglihatan. Mengenal Allah itu, adalah dengan cara melihat diri manakala untuk mengenal diri pula. Adalah dengan cara melihat Allah.
Allah dapat dirasa, Allah dapat dipandang dan Allah dapat ditiliki dengan senyata-nyatanya oleh hati-hati mukmin dari mereka-mereka yang bermata basirah (melalui pandangan mata hati yang halus). Seumpama sifat angin, angin itu tidak nampak untuk dipandang dan tidak nampak untuk dilihat tetapi ternyata ianya dapat dirasa dan dapat dinikmati dengan perasaan.
Melihat Allah tidak dapat hendak diukir melalui lukisan, tidak dapat hendak digambar dengan perkataan. Cara melihat Allah itu, tidak memerlukan kepada dalil dan tidak memerlukan apa-apa bukti.
Orang mengenal Allah itu, tidak boleh membuat dalil dan tidak dapat mendatangkan bukti. Melainkan orang makrifat itu sendiri sahaja yang tahu, yang dapat memahami dan merasai duduknya perkara.
Tidak ada bahasa hendak diucap dan tidak ada perkataan untuk dilafazkan, tentang cara mana Allah itu dapat dilihat, bagaimana Allah itu dapat dipandang, dan dirasa oleh mata hati.
Perkara melihat Allah adalah perkara rasa, bukan perkara yang melalui pancaindera mata kasar. Hanya bagi mereka yang menikmati sahaja yang merasainya. Yang jelasnya Allah itu dapat dirasa, dapat dipandang dan dapat dilihat.








SINAR CAHAYA ALLAH


Barang siapa yang telah mencapai kepada tahap mengenal diri, dengan hanya melihat alam dan segala isinya, sudah cukup jelas dan sudah cukup terang bagi dijadikan tanda dan bagi dijadikan dalil dalam kaedah melihat Allah.
Dengan hanya melihat alam dan segala isinya kita akan dapat melihat Allah. Lihatlah apa saja yang terpandang oleh mata dan pandanglah apa saja yang terlihat oleh mata. Barang sesuatu yang terpandang, sesungguhnya kita sebenarnya telah melihat Allah, kita sebenarnya telah memandang Allah ( bagi yang mengenal diri )
Memandang dan melihat orang makrifat kepada alam itu, tidak lagi terpandang atau terlihat alam, tidak lagi tertuju kepada alam, tidak lagi tertumpu kepada alam dan tidak sahaja terhenti pada alam. Alam adalah merupakan sesuatu dan merupakan benda (ain). Pandangan atau penglihatan orang makrifat itu tidak terhenti pada alam dan tidak terhenti pada benda. Allah bukan alam, Allah bukan sesuatu dan Allah bukan ain ( benda ). Allah adalah Allah, tidak sesuatupun yang menyerupai atau yang menyamainya.
Pandangan dan penglihatan orang mengenal Allah (makrifat) itu, apabila memandang dan apabila melihat kepada sesuatu benda alam, mereka tidak lagi terlihat alam mereka tidak lagi terpandang benda. Pandangan dan penglihatan mereka hanya ternampak wajah Allah bersertanya. Alam bagi mereka sudah lagi kelihatan, benda bagi mereka sudah menjadi gelap, sesuatu bagi mereka sudah menjadi binasa.
Rupa alam dan wajah alam, tidak lagi kelihatan oleh pandangan mata hatinya. Apa yang ada didepan mereka, sudah tertutup, sedah terlindung dan sudah tidak kelihatan. Pandangan mereka sudah ditutup oleh sinar cahaya Allah yang teramat sangat terang lagi teramat sangat nyata. Mata hati mereka sudah diterangi oleh cahaya yang teramat sangat silau dengan nur cahaya Allah yang meliputi sekalian mata hatinya yang meliputi sekalian alam maya.
Di keranakan tersangat terang dan tersangat jelasnya cahaya wajah Allah itu, sehinggakan wajah seisi alam ini, sudah tidak lagi kelihatan dan sudah tidak lagi terpandang. Begitulah perumpamaan betapa terangnya dalil alam dan seisinya dalam kaedah melihat Allah. Betapa jelasnya tanda alam dan seisinya dalam kaedah menyatakan Allah Ta'ala. Begitulah betapa nyata, betapa terang dan betapa mudahnya untuk melihat dan untuk menyatakan Allah. Sehinggakan melebihi terangnya cahaya matahari dan sehinggakan melebihi mata melihat alam.
Selain Allah, mereka tidak lagi nampak apa-apa, selain Allah mereka tidak lagi kelihatan apa-apa. Alam menjadi kosong dan gelap, segala isinya menjadi binasa, hilang dari pandangan hatinya. Yang mereka nampak dan yang mereka lihat itu, Allah disampingnya, Allah disebelahnya dan Allah bersamanya. Allah yang sebelum kelahirannya dan Allah itu juga yang dia nampak sesudah kematiannya. Allah yang sangat jelas kelihatan disegenap penjuru Alam.
Bersinar Cahaya Allah

Biarkan orang-orang yang telah mencapai tingkat mengetahui diri kita sendiri, cukup dengan melihat alam dan semua isinya, ini cukup jelas dan terang cukup untuk menjadi pelajaran dan menjadikan metode ini, dalam pandangan Allah.

Dengan menatap alam dan semua isinya kami akan melihat Allah. Lihat apa ini glamor dengan mata dan lihat apa yang dilihat oleh matanya. Barang sesuatu glamor, sesungguhnya kami benar-benar melihat Allah, sesungguhnya kami benar-benar mencari (Allah) yang mengetahui

Lihat dan lihat orang makrifat ke alam, tidak glamor atau lebih terlihat alami, tidak lagi untuk alam semesta, tidak lagi menjadi natural dan tidak hanya terhenti di alam. Alam adalah sesuatu dan nomina (ain). Penglihatan atau visi yang tidak orang makrifat macet di alam dan tidak bogged menurunkan sesuatu. Allah bukan natural, tidak ada allah. Dan Allah tidak ain (kata benda). Allah adalah Allah, tidak ada yang tampilannya atau sama.

Pandangan dan penglihatan orang mengenal Allah (MAKRIFAT), yang ketika melihat sesuatu dan ketika melihat ke alam, mereka tidak lagi terlihat alam mereka tidak lagi kuat sesuatu. Tayangan dan visi mereka hanya melihat wajah allah bersertanya. Nature untuk mereka sudah lebih terlihat, karena mereka telah menjadi gelap, sesuatu untuk mereka sudah dihancurkan.

Tampilan alam dan alam, tidak lagi dapat dilihat oleh mata hatinya. Apa yang ada di depan mereka, sudah tertutup, dilindungi dan belum terlihat. Mata sudah ditutup oleh sinar cahaya yang sangat, sangat cerah lagi sangat, sangat nyata. Mereka sudah diterangi oleh cahaya yang begitu dibutakan oleh cahaya allah cahaya yang meliputi alam mata yang meliputi alam maya.

Di Keranakan Ultra Cahaya terang jelas wajah Allah, bahkan seluruh wajah dunia, ini sudah tidak terlihat dan tidak lagi memiliki glamor. Itu sebuah perumpamaan bagaimana terang alam dan semuanya berjalan dengan metode untuk melihat Allah. Seberapa jelas tanda alam dan semuanya dinyatakan dalam metode allah ta ' ala. Itulah cara nyata, bagaimana cerah dan betapa mudahnya untuk melihat dan untuk Allah. Lebih cerah sinar matahari dan begitu banyak lebih dari mata bisa melihat alam.

Selain Allah, mereka tidak lagi terlihat, untuk apa pun selain allah, mereka tidak lagi tampak apa pun. Nature kosong dan gelap, langit akan hancur di samping. Mereka terbuka dan mereka melihatnya, selanjutnya allah kepada Allah, dan allah disebelahnya dengan dia. Allah sebelum kelahiran-nya dan bahwa sesungguhnya allah dia terlihat setelah kematiannya. Allah sangat jelas terlihat alami disegenap penjuru.

AWAL DAN AKHIR BERAGAMA


Awaluddin makrifatullah, akhiruddin makrifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah dan akhir beragama adalah menyaksikan Allah dengan hati (ain bashirah)
Sedangkan anak kunci untuk mengenal Allah adalah mengenal diri sendiri
Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, siapa yang kenal dirinya akan Mengenal Allah
Firman Allah Taala yang artinya “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“ (QS. Fush Shilat [41]:53 )
Langkah untuk mengenal Allah Swt yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata maka kenali dan dalami diri kita bahgian yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.
Diri manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Jasmani (jasad) adalah bahgian yang dapat nampak dengan panca indera kita disebut juga lahiriah sedangkan ruhani adalah bahgian yang tidak nampak dengan panca indera kita disebut juga bathiniah.
Nilai manusia tidak terletak pada jasmani (jasad) nya, akan tetapi terletak pada ruhani yang menggerakkannya. Kerana ruhani inilah, Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk hormat kepada manusia, kerana ruhani datangnya dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Ingatlah diwaktu Allah berkata kepada para malaiakat: ”Aku menciptakan manusia dari tanah, dan setelah aku sempurnakan aku tiupkan kedalamnya ruh-Ku, maka hormatlah kamu kepadanya“.(QS Shaad [38]: 71-72)
Ruhani (ruhNya) mempunyai panggilan Akal, Hati, Nafsu
Ruh ketika berperasaan seperti sedih, gembira, senang, terhibur, marah atau sebagainya, maka ia dipanggil dengan hati.
Ruh ketika ia berkehendak, berkemahuan atau merangsang sama ada sesuatu yang berkehendak itu, baik atau buruk, yang dibenarkan atau tidak, yang halal ataupun yang haram, di waktu itu ia tidak dipanggil hati tetapi ia dipanggil nafsu.
Ruh ketika ia berfikir, mengkaji, menilai, memahami, menimbang dan menyelidik, maka ia dipanggil akal.
Pada hakikatnya ke dalam hati (jiwa) setiap manusia telah diilhamkan oleh Allah Swt untuk menimbang antara yang Haq dan Bathil
Firman Allah ta’ala yang artinya
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil) (QS Al Balad [90]:10 )
“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As Syams [91]:8 )
Dari ilham yang dihujahkan kepada hati (qalbu) manusia maka lahirlah dalil aqli , kebenaran berdasarkan akal qalbu manusia. Cahaya nurani, yang dengannya jiwa boleh mengetahui perkara-perkara yang penting dan fitrah

SAKSIKAN KILAUAN CAHAYA ILAHI


Penyucian jiwa di setiap matalamat jalan menuju Allah, harus dilakukan secara istiqamah dengan bersungguh Waktunya juga cukup lama. Tidak hitungan bulan, tetapi tahun-tahunan. Jika sudah agak bersih dalam penyucian itu, maka pada diri seseorang akan mengalami perubahan. Bahasa awamnya memiliki keganjilan (sesuatu yang di luar pemikiran manusia). Keganjilan itu bermacam-macam. Dan setiap orang tidak akan sama.
Setelah mencuci jiwa di pelabuhan Mahabah, maka untuk meningkatkan ketakwaan harus merenangi Samudera menuju pelabuhan Makrifat. Secara harfiah, makrifat artinya penyaksian. Yang disaksikan adalah kilauan keagungan cahaya Allah (Af’al Allah). Jadi yang disaksikan adalah kilauan/cemerlang cahaya Allah. Dan yang mampu menyaksikan bukanlah mata kepala tetapi mata hati. Sebab, bab Ketuhanan adalah soal ghaib, kerananya lautan yang direnangi adalah lautan Ruhani.
Berenang di lautan makrifat untuk dapat menyaksikan kilauan cahaya Ilahi, waktunya tidaklah singkat. Bahkan tidak semua orang dapat melakukan dan mempelajari. Sebab, untuk boleh berenang ke sana atas kehendak Allah. Seseorang itu memang dikehendaki Allah. Seorang sufi wanita yang sampai melihat kilauan cahaya Allah adalah Rabiah al-Ahdawiyah. Sejak lahir sudah ditakdirkan menjadi wanita suci. Siang malam berdoa ingin melihat Allah. Namun Allah memperingatkan, cukuplah Musa saja yang punya keinginan itu. Dan, Rabiah al-Ahdawiyah dikehendaki Allah melihat kilauan keagungan cahaya-Nya.
Dapat melihat kilauan cahaya Ilahi, sebenarnya bukanlah pelabuhan terakhir. Namun sudah sangat luar biasa, ketakwaannya melebihi orang alim yang bergelar Auliyah. Ini merupakan cita-cita para kekasih Allah. Sebab, berarti perjalanan seseorang sudah sampai pada memasuki makrifat pada Allah. Sampai pada penyaksian Allah Swt.

ANUGERAH ALLAH YANG HAKIKI


Barang siapa yang belum berjumpa Guru tidak akan berjumpa jalan taubat.
Barang siapa yang tidak berjumpa jalan taubat tidak akan berjumpa jalan ilmu.
Barang siapa yang tidak berjumpa jalan ilmu tidak akan berjumpa jalan beramal.
Barang siapa tidak berjumpa jalan beramal tidak akan jumpa jalan usaha.
barang siapa yang tidak berjumpa jalan usaha tidak akan jumpa jalan sabar.
Barang siapa tidak berjumpa jalan sabar tidak akan jumpa jalan tawakkal .
Barang siapa yang tidak berjumpa jalan tawakkal tidak akan jumpa jalan fana.
Barang siapa yang tidak berjumpa jalan fana tidak akan berjumpa jalan Baqa.
barang siapa yang tidak berjumpa jalan baqa tidak akan berjumpa jalan hakikat.
Barang siapa yang tidak berjumpa jalan hakikat tidak akan berjumpa jalan makrifat.
Barang siapa yang belum makrifat tidak akan bermula jalan agama.
Barang siapa yang tidak beragama jadilah ia seperti bilis dan syaitan.

Ketahuilah kamu bahawa sesungguhnya Makrifat itu adalah anugerah Allah Ta'ala kepadamu dan bukan suatu perkara yang mudah dicapai . Apabila kamu mula mendapat ilmu tentang ketuhanan , hasil dari belajar , makrifat itu hanya di peringkat ilmu , dengan kenyakinan kamu pada ilmu tersebut dinamakan ilmu yakin. Makrifat yang hakiki ialah kamu mengenal sesuatu secara hakiki bukan lagi berdasarkan ilmu dan dalil. Apabila sudah dibukakan hijab buat kamu nampak dengan pandangan bathinmu akan Hakikat Wujud barulah disebut Makrifat Apabila menerima pandangan bathin barulah dinamakan makrifat pada tahap ainul yakin. Maknanya Kamu yakin atas pandangan bathinmu tentang Hakikat sesuatu. Seterusnya kenyakinan sampai kepada peringkat yang hakiki, iaitu Haqqul Yakin maknanya kamu mengenal sesuatu itu secara hakiki , dalam pandangan bathin , ilmu dan rasa yang tak dapat di goyang lagi. Maka apabila ditanya kepada Nabi saw bagaimana kamu mengenal Tuhan ,dijawab aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku.

RAHSIA DIDALAM RAHSIA


Bila mana dengan jalan pelajaran mematikan diri/tubuh seperti : Zat, Sifat, Asma dan Af’al yang ada pada kita. Jika sudah kita tidak ada (mefanakan diri/tubuh) inilah yang dimaksud menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala, maka bertemulah kita Ghaib di dalam Ghaib, Ujud di dalam Ujud, Zat di dalam Zat, Sifat di dalam Sifat, Asma di dalam Asma, Af’al di dalam Af’al, Sir di dalam Sir, Rahsia di dalam Rahsia dan Rasa di dalam Rasa yang menerima Zauk atau Widdan. Dalil yang menunjukkan hilangnya diri kepada Allah Ta’ala sebagai berikut :
"TIZIBUL BADANI SARAL QALBI “ artinya Hancurkan Badan jadikan Hati.
“TAZIBUL QALBI SARANRUH” artinya Hancurkan Hati jadikan Ruh.
“TAZIBUL RUHI SARANNUR" artinya Hancurkan Ruh jadikan Nur.
“TAZIBUNNURI SARAS SIRRI" artinya Hancurkan Nur jadikan Rahsia.
"TAZIBUSSIRRI ILLA ANA ILLA ANA” artinya Hancurkan Rahsia jadikan Aku ya Aku yang Mutlak, dan yang sebenarnya Aku itu adalah Rahsia sekalian Makam Manusia yang berada di dalam hati atau bathin.
“ALQOLBU KAMASALIL MURA WANAJRA FIIHI RABBAHU” artinya Hati Manusia itu diumpamakan Cermin, apabila dilihatnya Cerminnya, maka kelihatanlah Tuhannya dari pada Rahsia, kerana rupa kita yang berada di dalam bathin inilah yang diakui oleh Allah, sebab rupa dari Rahsianya.
Allah Ta’ala berfirman : “AL INSAN SIRRI WASIRRI WASIFATI LA GHAIRI” artinya Insan itu adalah Rahsiaku dan RahsiaKu itu adalah tidak lain dari pada ZatKu yang Wajibbal Wujud.
Allah Ta’ala berfirman “AL QALBI HAYATI SIRRI ANA ILLA ANA” artinya Di dalam missal itu hati, di dalam SirKu adalah Aku Rahsia segala Insan yang ada di dalam Bathin. Demikianlah yang sebenarnya untuk mengenal Allah Ta’ala.
TANGKAP IKAN HARUAN
DAPAT SI IKAN KELI
KALAU SALAH HALUAN
CARI TOK GURU BELAJARLAH LAGI.