Laman

Senin, 24 April 2017

Kedamaian

KANG Soleh berkali-kali merngepuskan asap rokoknya ke angkasa. Kepulan asap itu hampir-hampir membuat Kedai Cak San melayang ke udara. Sesekali ia ucapkan istighfar, lain kali jemari kakinya mengetuk-ngetuk ke arah meja. Kang Soleh stres? Tidak! Sebab, ia tampak sedang mencari-cari sesuatu. Kadang ia tersenyum sendiri, kadang bola matanya mengembangkan genangan air mata. Kadang wajahnya sedikit mendongak ke atas, kadang matanya memandang tajam pada satu objek tertentu.
Cak, tidak berani bertanya. Seringkali hal itu dialami Kang Soleh. Tapi, bagi Pardi dan Dulkamdi, kondisi Kang Soleh seperti itu dianggap sebagai bagian dari tema diskusi. Kalau perlu dijadikan objek kajian di majlis kedai kopi itu.
“Dul, pengetahuan apa yang paling utama diantara sejuta ilmu pengetahuan yang ada?” tanya Pardi.
“Pasti ilmu kedokteran. Sebab ilmu itu diilhami oleh penciptaan Siti Hawa’ dari rusuk Adam, itu kan bagian utama dari teori ilmu bedah,” jawab Dulkamdi.
“Bukan, ilmu teknik dan bangunan!” sela Wakidi,” sebab Allah menciptakan alam raya ini melalui teknologi dan teknik struktur yang dahsyat.”
“Kalau saya pasti ilmu politik, sebab dalam menciptakan jagad raya ini, Allah perlu membuat aturan-aturan hukum. Itu kan konsentrasi dunia politik. Apalagi Allah itu Maha Kuasa…ha..ha…ha…” kata anggota majlis kopi lainnya.
Perdebatan ilmu mana yang paling utama berlanjut seru. Masing-masing membuat argumentasi dan klaim paling benar. Bahkan diskusi itu tiba-tiba berubah menjadi debat kusir yang mengarah pada emosi. Suasana jadi geger.
Merlihat suasana seperti itu, Kang Soleh diam saja. Ia biarkan sampai dimana anggota majlis kopi itu menyelesaikan masalah sekaligus mencari solusi sosialnya.
“Kalian ini seperti anak-anak saja…” kata Kang Soleh menyela perdebatan itu. Mereka lantas terdiam, sambil menghela nafas dalam-dalam. “Ya itu… seperti kalian itu… inilah yang sedang saya pikirkan. Mengapa kedamaian kita tidak pernah terwujud? Saya tahu mengapa tidak terwujud? Tetapi saya masih penasaran, mengapa Sandiwara Ilahiyah tentang arah perdamaian ini, belum kita rasakan? Atau mungkin karena dosa-dosa kita sehingga mata hati kita kabur memandang mosaik kedamaian yang hakiki?”
“Wah, sorry Kang, kita memang kebacut! Tapi pasti ada hikmahnya Kang,” kata Pardi mewakili teman-temannya. “Tapi bagaimana sebenarnya menurut Kang Soleh, apakah prioritas utama atas pengetahuan itu salah, Kang?”
“Semua ilmu itu milik Allah. Karena itu ilmu yang lebih mendekatkan kepada Allah itulah yang harus Anda cermati dulu. Tetapi jangan sampai Anda mengabaikan yang lain, karena ilmu itu semua dari Allah swt.”
Mereka hanya manggut-manggut belaka, memahami wacana Kang Soleh, sembari menghayati dalam hati masing-masing, menurut potensi hati masing-masing, dan menurut situasi pergolakan hati masing-masing.
“Yang dirisaukan Kang Soleh tadi?”
“Saya hanya heran. Setiap hari, sehabis salat, kita baca doa, Allahumma Anta as-Salaam, wa-Minka as-Salaam, wailaika Ya’udus Salam, Fahayyina Rabbanaa bis-Salaam, wa-Adkhilnal Jannata Daaras Salaam…(Ya Allah, Engkaulah kedamaian, dari-Mu-lah kedamaian itu, dan kepada-Mu-lah kedamaian itu berpulang. Maka damaikanlah hidup kami, dan masukkanlah kami ke Syurga penuh damai…). Lha, iya, kok masih terus bengekerengan seperti kamu-kamu ini….”
“Kalau Kang Soleh heran…apalagi kami-kami ini Kang!”
“Ya…,saya dengan kalian, tidak ada bedanya. Sama-sama hamba Allah.
Soal penghayatan, saya yakin Cak San bisa lebih mantap daripada saya. Tapi benar juga ya, barangkali karena orang yang mengucapkan doa tadi tidak disertai zikir dalam hatinya. Sebab, kedamaian itu tidak terletak pada mulut dan anjuran. Palagi setelah dicarikan jalan dan direkayasa, malah nggak damai-damai. Damai itu kan, bermula dari jiwa kita sendiri. Dan jiwa kita bisa damai kalau jiwa kita berzikir, ingat terus menerus kepada Allah. Kalau begitu dusta, orang yang bicara kedamaian tanpa zikrullah!”.
Sambil manthuk-manthuk, Kang Soleh bangkit dari duduknya, tanpa babibu, ngeloyor saja keluar dari kedai.
Dulkamdi dan Pardi, Wakidi dan yang lainnya, saling memandang satu dengan lainnya. Mereka mencoba mengerti apa yang dikatakan Kang Soleh, dan mereka pun tersenyum simpul, kecuali Dulkamdi yang tertawa meledak seperti gludhuk.

Maqom Para Hamba

Ada kalangan yang diposisikan Allah untuk berkhidmah (bakti) kepada-Nya, dan ada kalangan yang oleh Allah dikhususkan mencintai-Nya. “Kesemuanya Kami anugerahi mereka, dan mereka itu mendapatkan anugerah dari Tuhanmu, dan anugerah Tuhanmu tidaklah terhalang”.
Tiba-tiba Kang Soleh berpidato layaknya Kyai saja. Ia kutib dawuhnya Ibnu Athaillah.
Para hamba Allah ada yang masih dalam tahap sebagai hamba yang penuh berikhtiar untuk melakukan perjuangan dan pengabdian. Mereka ini adalah para Muridin, yaitu para hamba yang terus berharap agar bisa wushul kepad Allah Ta’ala.
Mereka ini terdiri atas tiga golongan: Pertama, kaum ‘Ubbad, yaitu ahli ibadah. Kedua, A-Zuhad, yaitu para ahli zuhud yang disebut sebagai para Zahid. Kaum yang berusaha menepiskan dunia dari hatinya. Ketiga, kaum ahli Thaat, yaitu ahli kebajikan.
Kaum ‘Ubbad adalah mereka yang selama ini tekun beribadah dengan tujuan agar menghasilkan suatu balasan dari Allah atas ibadahnya
Sedangkan kaum Zahid alah mereka yang lari dari kepentingan duniawi, membuang hasrat duniawi demi konsentrasi jiwa pada Allah agar kelak jiwanya bersih dari dunia dan dunia hanya ada dalam akal, pikiran dan indera fisiknya belaka. Mereka terus menekuni dzikrullah pagi hingga sore hari, sore hingga pagi hari.
Ahli Tha’at adalah mereka yang berusaha menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya, terus menerus berbuat kebajikan agar apa yang dilakukan benar-benar selaras dengan perintah dan kehendak-Nya. Mereka harus berbuat ketaatan, karena mereka akan merasa tersiksa manakala terlempar dari kepatuhan pada Allah Ta’ala.
Ketiga kalangan di atas menempuh jalur maqomat aubudiyah .
“Stop Kang…Stop… !! aku mumet. Jangankan mencari posisiku, memahami saja pidatomu itu sudah mbrodoli rambutku. Gampangnya gimana gitu…” protes Pardi menghangatkan suasana pagi.
“Sebentar Di…, saya ini belajar pidato, kamu ndengarin atau tidak, bukan urusan saya. Saya sedang pidato dengan angina, pada daun-daun, pada kompor dan pada sungutmu itu….”
“Wah… kalah pildacil. Kenapa nggak ikutan lomba sekalian Kang…?”
“Itu kan tontonan. Saya lagi gremengan menurut saya sendiri untuk saya sendiri. Kalian tinggal dengarkan, kan beres…”
“Terus Kalau begitu Kang…”
“Sementara para hamba yang diposisikan secar istimewa melaui jalan Cinta, juga terdiri dari tiga golongan:
Pertama Al-Muhibbun (para pecinta Allah). Seorang pecinta, tandanya akan senantiasa mempriotaskan yang dicintai, di atas segalanya. Seorang pecinta diliputi kerinduan yang dahsyat untuk memadu kasih dengan-Nya, agar ia sendiri siap memanggil dan bermunajat dengan-Nya. Dengan panggilan Wahai Kekasihku… Dan kelak ketika ia menemukan Kekasih Yang Hakiki, ia meraih tahap yang disebut dengan Al-Mahmbubin, yang dicintai-Nya. Tahap agung tiada tara
Kedua, Al-‘Arifun (para ahli ma’rifat). Seorang hamba yang ma’rifat kepada Allah Ta’ala, akan senantiasa menyaksikan Allah dimana-mana, dalam segala yang ada, diatas yang ada, di bawah yang ada, sesudah dan sebelum yang ada semesta ini. Kaum ‘Arifun senantiasa Musyahadah (menyaksikan Allah) dalam apa pun, dan puncak musyahadah itulah ma’rifat yang sesungguhnya. Musyahadah itu ada dalam jiwa, bukan dalam wacana dan akademika. Karena itu jika seseorang merasa ma’rifat tetapi tidak ada musyahadah, maka ma’rifatnya bisa fatamorgana.
Banyak juga yang mengklaim atau diklaim telah ma’rifat hanya karena seseorang mengetahui yang ghaib dan tersembunyi. Klaim itu tidak benar sama sekali, karena orang yang ma’rifat tidak punya kepentingan dengan yang tersembunyi, rahasia sesuatu, kecuali yang disaksikan hanya Allah belaka.
Ketiga Al-Wahilun (orang-orang yang sudah sampai kepada Allah). Pertemuan Allah dengan hamba bukanlah pertemuan dzat dengan dzat. Bukan pula pertemuan dua hal yang berbeda seperti imajinasi kita. Pertemuan itu tidak memberikan peluang kepada apapun, karena “apapun” itu tidak pernah ada, kecuali yang ada hanya Allah Ta’ala. Ia tidak butuh apapun. Al-Washilun adalah kaum teristimewa dari sebelumnya (lihat Asy-Syuura: 13).
Allah menganugrahi derajat ruhani menurut kehendak-Nya tanpa ada yang menghalangi, mencegah sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa didahului sebab akibat. Semua dari-Nya dan kembali kepada-Nya.
Oleh sebab itu kita semua harus belajar memandang semuanya sebagai anugerah, keutamaan dan rahmat-Nya. Begitu…. Saudaraku…”
Tepuk tangan menggemuruhi kedai Cak San. Dasar Kang Soleh kadang seperti kanak-kanak, kadang lebih tua dari kakek-kakek. Dasaaar……

LEBIH NIKMAT DARI SURGA

Kecintaan kaum sufi kepada Allah , bukan sebab takut akan siksa -Nya, atau kerena ingin surga-Nya, akan tetapi karena rindu dendam merasakan kelezatan cinta-Nya.
Juga karena Allah adalah yang paling berhak dicintai. Itulah idealnya dalam bercinta, yang tidak dikenal oleh selain mareka yang menjadi pilihan Allah.
Nikmat terbesar yang mereka harap-harapkan hanyalah ridha dan berjumpa dengan Dia. Sementara siksa yang paling mereka takuti adalah jauhnya dari memperbincangkan soal keindahan kedamaian-Nya, juga dari tempat berkomunikasi dengan-Nya. Mereka terhalang dari sinar Dzat yang Maha Mulia.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa
maqam tertinggi yang bisa dicapai oleh pengamal ilmu zahir (syri’at) adalah wukuf dipadang Arafah , menunggu terbukanya pintu rahmat dan karunia Allah SWT dan pada hakikatnya adalah menunggu kehadiran Allah. Apakah selamanya kita harus menunggu, dan apakah menunggu itu hanya di Padang Arafah?
Seluruh ritual Haji sebagaimana ibadah lain tentu saja mempunyai aspek zahir dan bathin. Pada hakikatnya orang yang melaksanakan haji adalah memenuhi panggilan Allah, menjadi manusia mulia sebagai tamu Allah dan tentu saja sebenarnya setiap yang menunaikan ibadah haji sudah pasti berjumpa dengan yang punya rumah, jumpa dengan yang mengundang yaitu Allah SWT.
Dalam ilmu zahir (syariat), Ihsan merupakan puncak pencapaian spiritual dan tidak ada lagi maqam setelah itu. “ Shalatlah kamu seolah-olah kamu melihat Allah dan jika kamu tidak melihat Allah yakinlah Allah akan melihat kamu” inilah dasar dari Ihsan. Menurut kaum sufi tentu saja maqam ini masih spekualitif, masih seolah-olah dan tidak ada kepastian disana. Siapapun yang bersikukuh pada syariat tidak akan bisa melanjutkan perjalanan ke maqam berikut yaitu Makrifatullah, berpandang-pandangan dengan Allah dan inilah kenikmatan puncak dari para penempuh jalan spiritual melebihi apapun, bahkan kenikmatannya melebihi surga .
Abu Yazid al-Bisthami ketika berada dalam puncak kegembiraan, dia berbisik, “ Apakah itu surga? Surga hanyalah mainan dan kesukaan anak-anak. Aku hanya mencari Dzat Allah. Bagiku surga bukanlah kenikmatan yang sejati. Dzatnya menjadi sumber kebahagiaanku, ketentraman yang menjadi tujuanku. ”
Mengenai ucapan Abu Yazid yang agung ini, Ibnu Arabi pernah ditanya seseorang. Jawabnya, “ Tidak masalah. Rasulullah pernah berkata dalam do’anya , “ Wahai Tuhan kami…! Aku mohon kepada-Mu kelezatan melihat DzatMu. Aku rindu ingin bertemu dengan-Mu ”.
Setiap hamba yang ingin berjumpa dengan Allah terlebih dahulu dititipkan rasa rindu dan cinta membara dihatinya, dengan itulah dia mampu bermujahadah melawan hawa nafsu dan berbagai rintangan untuk sampai kepada tujuannya yaitu menemukan cinta sejati dan berjumpa dengan yang dicintainya.
Konon An-Nuri bertanya kepada Rabi’ah al-Adawiyah, katanya, “ Setiap hamba punya syarat. Setiap iman punya hakikat, apakah hakikat iman anda? ” Rabi’ah menjawab, “ Saya menyembah Allah bukan lantaran takut Dia. Karena dengan persepsi demikian, aku seperti budak hina yang bekerja hanya karena takut. Tidak pula lantaran ingin surga, agar tidak seperti budak hina yang diupah. Akan tetapi aku menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya. ”
Sa’id bin Yazid berkata: “ Barang siapa beramal karena Allah atas dasar cinta kepada-Nya, itu lebih mulia dari pada beramal atas dasar ketakutan. ” Selanjutnya dia berkata, “Andaikan diberikan kepadaku do’a yang mustajab, aku tidak akan minta Firdaus , akan tetapi aku hanya akan memohon ridha-Nya.” Katanya pula,” Lupa kepada Allah itu lebih menyiksa dari pada masuk neraka ”
Kalau memang memandang wajah Allah itu merupakan nikmat yang melebihi surga, kenapa kita tidak berusaha mencari jalan untuk bisa memandang wajah-Nya? Para Nabi dan orang-orang sufi mengatakan bahwa memandang wajah Allah itu bisa di dunia dan tentu bisa juga di akhirat, kalau memang bisa melihat-Nya di dunia ini kenapa kita harus menunggu sampai datang kiamat? Bukankah kalau wajah-Nya bisa dilihat di dunia sudah pasti di akhirat juga wajah itu tidak berubah dan sudah pasti bisa dilihat juga, kalau di dunia tidak bisa melihat Allah, di akhirat?!?

Ridha Allah

LELAKI gagah berjubah dan membawa seuntai tasbih, sambil komat-kamit. Wajahnya pucat menampakan style religius yang kuat. Jidatnya hampir gosong, entah kenapa. Mungkin terlalu banyak bersujud atau karena sengaja dihitam-hitamkan. Tiba-tiba nyeletuk pada si Pardi di kedai itu.
”Mas, yang sampean cari dalam hidup ini apa?”
”Apa ya? Saya juga nggak tahu. Saya hanya pengin jadi hamba Allah yang benar saja. Kalau sampean yang dicari apa?” Tanya Pardi.
Lelaki itu agak kaget.
”Saya harus memperbanyak ibadah, perbanyak pahala, perbanyak ganjaran biar kita nanti hebat di akhirat…” jawab lelaki itu.
”Kalau saya nggak butuh itu…”
”Haahhh…!” Ia semakin kaget.
”Apa nggak kebaretan pahala nanti di akhirat sampean ini. Kok pahala terus yang dipikir. Kelihatannya sampean nggak percaya pada janji yang Punya Pahala ya…?”
“Lho kok begitu ! Saya percaya pada Allah, percaya sekali. Karena itu saya totalkan hidup saya agar dapat imbalan diakhirat nanti”
“Apa sampean ini pedagang akhirat kok mencari laba melulu, imbalan terus, nanti sampean jadi konglomerat begitu, disana?”
“Wah, Mas… ikut saya aja… jalan keliling supaya banyak dapat pahala. Kita nanti kaya raya di akhirat…”
“Ada yang lebih kaya Mas dari sampean…”
“Siapa?”
“Saya!”
“Kok bisa?”
“Lha iya. Saya berada di sisi Yang Maha Kaya. Sampean masih memburu kekayaan pahala. Hayooo…”
Lelaki itu bingung dan mulai sebel pada Pardi.
“Terus yang sampean cari apa kalau begitu?”
“Kalau Gusti Allah Tanya saya, ya saya mencari ridha-Nya saja sudah cukup dan saya diridhai untuk jadi hamba-Nya, sudah lebih dari cukup…”
Lelaki itu kegerahan. Ia gunakan Koran untuk dijadikan kipas-kipas. Belum sempat ia minum kopi lalu ngeloyor pergi.
Usai kepergian itu Kang Soleh muncul. Lalu menegur Pardi.
“Kamu sudah tahu apa itu ridha Di…?”
“Lhadhalah… Baru saja saya mengenalkan ridha kepada tukang ibadah Kang…!”
“Kamu gak boleh sombong begitu…!”
“Katanya menyombongi orang sombong itu sedekah Kang. Ngomong-ngomong ridha itu apa sih Kang?”
“Ridha bukanlah bahwa engkau tidak mengalami cobaan, rida hanyalah bahwa engkau tidak keberatan terhadap hukum dan qadha Allah SWT”.
Kewajiban bagi hamba adalah rela terhadap ketentuan Allah SWT yang telah diperintahkan agar ia ridha dengan-Nya. Sebab tidaklah setiap ketentuan itu mengharuskan ia ridha, atau boleh rida dengan qadha tersebut, misalkan kemaksiatan dan banyaknya fitnah yang menimpa kaum muslimin.
Para syeikh berkomentar, “Keridhaan adalah gerbang Allah SWT yang terbesar”. Maksud mereka adalah, bahwa barang siapa mendapat kehormatan dengan ridha, berarti ia telah disambut sambutan paling sempurna dan dihormati dengan penghormatan tertinggi”.
Seorang murid bertanya kepada gurunya, apakah si hamba mengetahui jika Allah ridha kepadanya?’ Sang guru menjawab, ‘Tidak’, bagaimana dapat mengetahuinya, sedang ridha-Nya ghaib?’ Si murid berkata, ‘Sungguh ia tahu hal itu! Jika aku mendapati hatiku ridha kepada Allah SWT, maka aku tahu bahwa Dia ridha kepadaku’. Maka sang guru lalu berkata, ‘Sungguh baik sekali ucapanmu itu, anak muda’.
“Yang penting aku hanya ingin ridha-Nya dan kelak dapat cinta-Nya , Kang…”
“Keinginanmu seperti itu sudah lebih dari segalanya, Di…”
Pardi menghela nafas dalam-dalam dan secangkir kopi Cak San sudah di depannya.

WALI TANPA NAMA TANPA GELAR

 ( Bag 1 )
Suatu hari aku bertemu dengan orang gila ( Al-majnuni Murokab ) tak jauh dari makom seorang wali, beliau ngoceh gak jelas seperti sedang bicara dengan seseorang, beliau berbicara kurang lebih seperti ini ;
“ Andaikan mereka tahu bahwa ada seorang wali ( Wali Tanpa Nama Tanpa Gelar ) yang memiliki kemampuan seperti wali Qutb niscaya mereka akan datang berbondong-bondong mencium tangan Wali Tanpa Nama Tanpa Gelar tersebut, mereka akan minta di do'akan hajatnya, jika Wali Tanpa Nama Tanpa Gelar itu telah wafat niscaya mereka akan berlama-lama dipekuburannya untuk berdzikir, berdo'a dan bermuhasabah diri meminta ampun kepada ALLAH YANG MAHA PENGAMPUN atas dosa-dosa yang selama ini mereka lakukan.
Andaikan mereka tahu jika mereka sami'na wa athona kepada Wali Tanpa Nama Tanpa Gelar niscaya ALLAH SWT akan angkat derajatnya,
Namun sayang sekali karena wali tersebut tanpa nama dan tanpa gelar kewalian, maka dia seringkali dilupakan dan diabaikan setiap orang. "

Aku yang dengar ocehannya kaget dan bergumam dlm hati.
“ Hhaaaahhh...??? Apa iya ada Wali Tanpa Nama Tanpa Gelar yang kemampuannya seperti wali Qutb..? ”
Siapakah wali tersebut....?

 ( Bag. 2 )
Dengan sedikit rasa takut ku dekati dia karena penasaran ingin tahu siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar tersebut..?
Lalu terjadilah sebuah dialog:
Saya : Maaf mbah,, tadi saya dengar mbah agak mengoceh panjang lebar dan berbicara tentang wali tanpa nama tanpa gelar, siapakah sebenarnya wali tersebut mbah..?
Mengapa sedemikian hebatnya wali tanpa nama tanpa gelar tersebut hingga kemampuan dan derajatnya hampir menyamai Wali Qutb?
Orang gila tersebut menoleh kearahku dan matanya sedikit melotot lalu berkata ;
"Sampeyan siapa? kamu nguping omonganku yaaach...?
Ayo ngaku...?
Apa perlunya kamu ingin tahu tentang wali tanpa nama tanpa gelar..?"
Ucapannya dengan nada agak tinggi.
Mendengar ucapan suaranya yang agak bernada tinggi terkesan kasar membuatku sedikit takut dan gentar, lalu aku berkata lagi;
"Maaf mbah, bukan maksud saya menyinggung mbah, nama saya FIKRI, saya seorang muhibbun pecinta para wali-wali ALLAH, kadang-kadang saya dan teman-teman suka berziarah ke makam para wali, saya penasaran dan tertarik dengan wali tanpa nama tanpa gelar yang mbah sebutkan, kalau boleh tahu siapakah wali tersebut mbah?"
Orang gila itu tertawa terbahak-bahak, dan berkata:
"HA HA HA HA HA HAA .....
Dasar bocah gemblung, namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar, tentu saja aku tidak tahu nama wali tersebut dan apa gelar kewaliannya, kamu ini tampang keliatan pintar tapi ternyata gemblung yaaach,
HA...HA... HA... HA... HA"
JLEEB,,,,
Terasa menusuk sekali perkataannya ke dlm hatiku,, dia menyebut aku anak bodoh dan gemblung, wajahku merah padam menahan sedikit emosi, sepertinya aku salah sangka kukira orang gila tersebut orang yang bisa diajak dialog, tapi nyatanya dia sebut aku bocah gemblung, yach mau apalagi, aku memang gemblung namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar jadi siapa yang tahu nama wali tersebut?
Siapa yang tahu gelar wali tersebut sedangkan wali tersebut tanpa gelar...?
" Aaaach,,, sudahlah sebaiknya kutinggalkan saja dia, aku pun mulai membalikkan badan dan membuang muka dengan wajah masam hendak meninggalkan orang gila tersebut."

( Bag. 3 )
"Hai fikri mau kemana sampeyan, sampeyan ini bagaimana, sudah datang tidak mengucapkan salam, malah pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam, baru diejek begitu saja sudah bermuka masam.
Apakah mursyidmu yang seorang Wali Qutb tidak mengajarkanmu untuk mengucapkan salam saat datang dan pergi?
Apakah mursyidmu yang seorang wali tidak mengajarkanmu untuk bisa bersabar menahan celaan dan hina-an...?"
Langkahku terhenti sambil berucap;
"Astaghfirullah... betul sekali, aku tadi lupa mengucapkan salam sebelum memulai obrolan dan aku juga pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam, dan tak kusangka dia menyebut mursyidku seorang Wali Qutb, sepertinya dia mengenal mursyidku."
Kemudian aku kembali menghampirinya dan berkata;
" As-salammu' alaikum wr. wb. mbah,, mohon maaf mbah, atas kelancangan saya karena datang dan pergi tanpa mengucapkan salam, sekali lagi saya mohon maaf" (sambil mencoba meraih tangannya untuk menyalami dan mencium tangannya), orang gila itu menepis tanganku seraya berkata ;
" Wiss sudah, gak perlu lebay, cukup bilang minta maaf dan gak perlu cium tangan segala"
Aku jadi salah tingkah, tiba-tiba suasana hening sejenak beberapa menit, aku diam dan diapun diam suasana serasa seperti di kuburan
" Ngapain kamu masih disini....?"
Terdengar tiba -tiba suaranya memecah keheningan, aku agak kaget lalu berkata;
"Maaf.... anu mbah.... anu" ,
Orang gila itu menyela kalimatku
" Anu ... anu .... anu-anu apa?
Ngomong yang jelas jangan ngomong jorok, itu anumu ada disitu, mau pamer dan adu anu...?
Ayo sini aku ladenin, mana anumu?
Ayo tunjukkan"
Aaaannnnccur ... mukaku rasanya merah padam, merasa salah tingkah dan bodoh dihadapan orang gila tersebut,
dengan rasa sedikit menahan malu aku tetap memberanikan diri untuk bertanya;
" Maksud saya bukan anu mbah , maksud saya adalah ingin tahu siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar yang mbah katakan saat saya mencuri dengar"
Orang gila itupun balik bertanya..
" Kamu ini gak ada pinter pinternya juga, sudah berapa lama kamu belajar tassawwuf/spritual?"
Aku menjawab
" Sudah sekitar hampir 7 tahunan, mbah"
Lalu orang gila itu berkata sambil menepuk pahanya;
"Sudah 7 tahun masa kamu orak mudeng dan tidak tahu wali tanpa nama dan tanpa gelar, memangnya gurumu tidak mengasih tahu...?"
Aku menjawab
" Saya sering membaca dan mendengar suhbah dari guru saya mbah, tapi saya belum tahu dan belum pernah dengar ada wali tanpa nama dan tanpa gelar, dan guru sayapun tidak pernah menyebutkan siapa wali tersebut?"
Orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh lalu berkata lagi;
" Sebenarnya gurumu pernah menyebutkannya bahkan berulang-ulang kali menyebutkannya, hanya saja kamu saja yang gak faham-faham dengan maksud gurumu, lagipula sebutannya wali tanpa nama dan tanpa gelar jelas toh gurumu tidak tahu nama wali tersebut dan tidak tahu gelar wali tersebut tapi kamu sendiri tahu siapa wali tersebut, bahkan wali tersebut begitu dekat denganmu"
Aku bergumam dalam hati
" Apaaa??
Aku mengenal wali tersebut?
Siapa dia?"
Aku tambah penasaran siapakah wali yang dimaksud orang gila tersebut lalu aku lanjut bertanya;
" Maaf mbah, siapakah yang mbah maksud? mbah katakan aku mengenal wali tanpa nama dan tanpa gelar tersebut, bahkan mbah mengatakan wali tersebut dekat denganku, siapakah yang mbah maksudkan...??"
 
( Bag. 4 )
SAYA UCAPKAN SELAMAT HARI KITA KARTINI TERUNTUK PARA IBU IBU YG TUA DAN YG MUDA DAN CALON CALON IBU, DAN KHUSUSNYA UNTUK IBU KITA SENDIRI
Orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh
"Hhe .. he ... he ...
Nak,,, Wali tanpa nama dan tanpa gelar itu tidak lain adalah orangtuamu sendiri, nah sekarang aku tanya kamu, memangnya aku kenal siapa nama orangtuamu dan gelar orang tuamu...?
Yaaach,, mana aku tahu"
Jawab dgn entengnya.
Aku jadi tambah bingung lalu semakin bertanya-tanya
"Orang tuaku? maksud mbah orang tuaku adalah wali tanpa nama dan tanpa gelar...?
Mengapa bisa begitu mbah?"
Orang gila itu mulai menatap mataku dengan tajam, lalu bangkit dari duduknya lalu berkata;
"Apakah kau tidak tahu tentang sohabat Uwaisy al-Qarni, salah satu sahabat yang tidak pernah bertemu NABI secara fisik dan juga seorang wali...?
Apa yang menyebabkan dia memiliki derajat yang begitu agung hingga namanya terkenal di langit walau dibumi tak ada seorangpun yang mengenalnya...?
kau tahu...??!!
Sahabat Uwaisy al-Qarni berkata bahwa ibunya pernah berkata dan mendo'akannya
*"Anakku Uwaisy,, aku tahu hatimu begitu sangat mencintai dan menginginkan dapat bertemu NABI MUHAMMAD SAW, namun kini kau datang padaku dengan wajah dirundung sedih karena tak berhasil menemui RASULULLAH SAW dan kau memilih segera pulang karena memikirkan dan mengkhawatirkan aku ibumu ini nak, dan aku ridho padamu,
YA ALLAH,, KAU MAHA TAHU, Saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah ridho pada anakku, Maka terimalah ridho ku Ya ALLAH dan ridhoilah anakku Uwaisy".*
Dan apa kau tidak kau tahu bahwa SHULTANUL AWLIYA SYEIKH ABDUL QADIR JAILANI, dimasa kecilnya ketika dirampok malah berkata jujur tentang kantung emas yang ia bawa, perampok itu heran mengapa ia malah jujur mengatakan kantung emas yang dibawanya padahal setiap orang yang mereka rampok selalu berbohong tentang bawaannya dan berusaha menyembunyikannya dari mereka, lalu kau tahu apa kata SYEIKH ABDUL QADIR JAILANI? beliau berkata;
Ketika aku hendak bepergian menuntut ilmu ibuku berpesan
_"Anakku.... bila engkau bertemu dengan siapapun maka jujurlah jangan berbohong, sungguh ibu lebih ridho bila engkau jujur sekalipun engkau harus kehilangan harta dan perbekalanmu daripada kau harus kehilangan kejujuranmu"_
Aku tersentak kaget bukan maen, wajahku mulai pucat pasi, teringat olehku salah satu hadist yang menyatakan bahwa kita harus berbuat baik dan berbakti pada orangtua kita sendiri, bahkan RASULULLAH SAW sampai 3 kali menyebut kata _IBUMU, IBUMU, IBUMU... Lalu AYAHMU"_, tak kusangka ternyata aku tertipu oleh nafsu dan egoku sendiri, hingga aku tak tahu bahwa selama ini wali tanpa nama yang memiliki kemampuan layaknya Wali Qutb adalah orangtuaku sendiri ....
Lalu orang gila berkata kembali :
" Coba lihatlah ibumu, berapa lama dia menanggung dirimu dalam perutnya...?
Apakah kau sanggup menahan perih dan pedih seperti dirinya, hanya untuk menginginkan kau lahir ke dunia hingga bertaruh nyawa agar kau terlahir sehat dan selamat...??
Bahkan ketika dalam kondisi darurat ia lebih rela menerima kematian agar kau tetap hidup ...
Apakah kau pernah memikirkan hal ini ..??
Kekuatan apa yang membuat ibumu sekuat dan setabah itu sebagaimana kekuatan AWLIYA' yang sanggup menerima dan menanggung beban derita yang begitu berat...?
Itu semua kekuatan ALLAH SWT yang dianugerahkan kepada ibumu melalui RAHMAN dan RAHIM NYA, ini adalah sumber kekuatan para AWLIYA. "

 ( Bag. 5 )
Aku diam dgn seribu bahasa, rasanya hati ini ingin menangis sejadi-jadinya, aku serasa dihakimi dalam hari perhitungan ...
Lalu orang gila itu berkata lagi;
" Kau bangga dan takjub dengan karomah para wali tapi pernahkah kau banggakan dan takjub dengan karomah ibumu yang ALLAH SWT anugerahkan kepadamu....?
Pernahkah kau bangga dan takjub dengan karomah ibumu yang mengajarkan berkata-kata ketika masih bayi...?
Tidurnya sedikit karena kau selalu nangis dan rewel sebagaimana para AWLIYA' yang tidurnya sedikit karena memikirkan ummat NABI MUHAMMAD SAW yang banyak berkeluh kesah dan merengek...
Air susunya seakan akan tak pernah habis setiap kali kau merengek ingin netek, Apakah kau tak tahu kalau itu adalah bukti karomah ibumu...?,
Tidakkah kau pernah mendengar kalimat ini ;
*Ridho orangtua adalah ridhoNya ALLAH, para AWLIYA' mereka menjadi Wali Qutb dikarenakan ridho dari orangtua mereka, tidakkah kau sadar bahwa do'a dan harapan kedua orangtuamu hampir setara dengan Wali Qutb..?"*

" Astaghfirullah.....
Ampuuunnn mbah......."
Mendengar celotehan orang gila tersebut seakan petir menyambar keseluruh tubuhku, badanku rasanya hancur binasa berkeping keping...
Ingin sekali aku rasanya menangis sekuat-kuatnya ...
Orang gila itu berdiri lalu berkata sambil menunjuk kearahku ;
" Lihatlah dan perhatikan dirimu, kelak kau akan jadi seorang bapak, apakah kau tahu karomah bapakmu selama ini...?"
" Lihat tangannya, lihat punggungnya lihat kulitnya, setiap hari ia membanting tulang agar kau tetap bisa makan, tetap bisa tertawa, tetap tersenyum, bekerja siang dan malam hanya untuk mengabulkan segala macam pinta dan rengekmu, ketika kau kecil dirimu melakukan kesalahan dialah orang yang paling terdepan membelamu, ketika kau dalam bahaya dia rela menghadapi bahaya itu untuk menyelamatkanmu, dia tanggung bebanmu dan ibumu dipundaknya walau kian rapuh dia tetap berusaha menopang, tidakkah kau sadari bahwa bapakmu itu seorang MUJAHID FISABILILLAH...? "
" Yang setiap harinya dia berjuang menafkahi kehidupanmu bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun, dia bapakmu adalah MUJAHIDIN kebanggaanmu.."

 ( Bag 6 )
" YAA RABB,, Aku seperti hancur lebur mendengar ocehan orang gila tersebut, bahkan ternyata selama ini aku yang gila, bukan dia.
Aku melupakan siapa sesungguhnya orangtuaku sendiri, aku melupakan semua yang mereka beri padaku, bahkan aku sering takjub akan pesona dan karomah para wali, tapi aku tak pernah sadar dengan orangtuaku sendiri yang merupakan wali tanpa nama dan tanpa gelar kewalian......."
Sesaat kemudian orang gila itu berlalu meninggalkanku tanpa sepatah katapun.....
Aku mengikuti dia dari belakang ingin tahu kemana dia pergi... ternyata dia mendatangi 2 gundukan tanah, dan dia duduk disana.....
Mulutnya komat kamit seperti orang yang berdialog dan berbicara, namun karena dia menggunakan bahasa daerah yang tidak kumengerti aku tidak tahu apa yang dia ucapkan, lalu sesaat kemudian dia tertawa terbahak-bahak sambil senyam senyum dihadapan 2 gundukan tanah yang ternyata itu tanah kuburan, tapi aku tak tahu kuburan siapa itu namun aku *berkhusnuddzon* mungkin itu kuburan seorang Wali Besar.
Karena dari celoteh orang gila itu sepertinya dia tahu betul tentang wali, jadi aku pikir itu kuburan seorang wali ....
Tiba-tiba setelah selesai dia tertawa , diam diam....
Suasana menjadi hening...
Kemudian ku-lihat dia mulai menangis meneteskan air mata dengan suara terisak-isak, tangisan begitu pilu sampai serasa menyayat hatiku untuk turut menangis ...
Aku tak tahu apa yang diucapkannya dalam logat daerah, ucapannya seperti sedang curhat pada kuburan tersebut sambil tangannya mengelus-elus kuburan itu, tangisan kian jadi bahkan meraung raung, aku sedih bercampur bingung karena tak mengerti dengan bahasa yang diucapkannya ...
Namun akhirnya aku mengerti mengapa dia meraung-raung menangis dikuburan yang kusangkakan seorang wali, ditengah isak tangisnya aku mendengar dia mengucapkan kalimat;
" Mbok ... ", lalu pada kuburan yang sebelahnya dia berkata;
" Mbah ... ", aku jadi ingin menangis sejadi-jadinya .... ternyata itu kuburan orangtuanya, ternyata itu kuburan seorang wali tanpa nama tanpa gelar ...
Kini aku baru faham mengapa orang-orang mulai menganggap beliau gila, sebab dia sering tertawa, menangis meraung, dan bercakap - cakap sendiri di kuburan...
Seandainya aku jadi dia mungkin aku akan sama dengannya menjadi gila karena ditinggal pergi oleh kedua orang paling yang disayangi...
aku membalikkan badanku... bergegas ingin pulang kerumah untuk menemui kedua orangtuaku yang masih hidup... aku merasa beruntung masih memiliki wali tanpa nama tanpa gelar yang masih hidup....
Sepanjang jalan aku berdo'a;
*Allahumma firli dzunubi waliwalidayya warhamhumaa kamaa robbayani shoghiro.....*
* Demikianlah sedikit kisah tentang Wali Tanpa Nama Tanpa Gelar dan orang gila,,
SEMOGA BERMANFAAT mohon maav bila ada kesalahan yg tak berkenan di hati.


Foto Lie Hikmah.

~~Zikir Meliputi Perkataan, Perbuatan Dan Perasaan ~~

~~ Bismillahirrahmannirrahim.~~
.
~~ Assalam mu’alaikum warahmatullahi Wabarkatu.~~
.
( Baca sampai selesai agar mengetahui kesempurnaan Dzikir )
.
Sesungguhnya Aku adalah Allah!
Tidak ada Tuhan melainkan Aku!
Dan dirikanlah sembahyang bagi mengingati Aku! ( Ayat 14 : Surah Taha )
.
Sembahyang mengandungi perbuatan anggota zahir, perkataan yang dilafazkan dan penyertaan hati yang benar menghadap kepada Allah s.w.t dengan sepenuh jiwa raga.
.
Mengingati Allah s.w.t melalui sembahyang merupakan zikir yang paling sempurna.
.
Perbuatan menjadi zikir, perkataan menjadi zikir dan perasaan menjadi zikir. Sekalian maujud berada dalam suasana zikir.
.
Zikir dalam sembahyang menggabungkan pengakuan bahawa yang diingatkan itu adalah Allah s.w.t;
bahawa Allah s.w.t yang diingati itu adalah Tuhan;
bahawa tiada Tuhan melainkan Dia;
.
bahawa Allah adalah Tuhan yang disembah;
bahawa menyembah Allah s.w.t adalah dengan perkataan, perbuatan dan perasaan;
.
bahawa apa sahaja yang dilakukan adalah kerana mentaati-Nya dan kerana ingat kepada-Nya.
.
Zikir yang di dalam sembahyang menjadi induk kepada zikir-zikir di luar sembahyang.
.
Menyebut nama-nama Allah s.w.t adalah zikir.
.
Perkataan yang baik-baik diucapkan kerana Allah s.w.t adalah zikir.
.
Nasihat menasihati kerana Allah s.w.t adalah zikir.
.
Menyeru manusia ke jalan Allah s.w.t adalah zikir.
.
Semua itu merupakan zikir perkataan.
.
Zikir perbuatan pula meliputi segala bentuk amalan dan kelakukan yang sesuai dengan syarak demi mencari keredaan Allah s.w.t.
.
Berdiri, rukuk dan sujud dalam sembahyang adalah zikir.
.
Melakukan pekerjaan yang halal kerana Allah s.w.t, kerana mematuhi peraturan yang Allah s.w.t turunkan, adalah zikir.
.
Mengalihkan duri dari jalan kerana Allah s.w.t adalah zikir.
.
Apa juga perbuatan yang tidak menyalahi peraturan syariat jika dibuat kerana Allah s.w.t maka ia menjadi zikir.
.
Tidak melakukan apa-apa pun boleh menjadi zikir.
.
Orang yang menahan anggotanya, lidahnya dan hatinya daripada menyertai perbuatan maksiat sebenarnya melakukan zikir jika dia berbuat demikian kerana Allah s.w.t.
.
Semua itu menjadi zikir jika dibuat kerana Allah s.w.t, kerana mematuhi perintah-Nya, kerana mencari keredaan-Nya dan kerana ingat kepada-Nya.
.
Jadi, perbuatan dan perkataan terikat dengan amalan hati untuk menjadikannya zikir.
.
Ia hanya dikira sebagai zikir jika ada zikir hati iaitu hati ingat kepada Allah s.w.t, ikhlas dalam melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya Tanpa zikir hati tidak ada zikir-zikir yang lain, kerana setiap amalan digantungkan kepada niat yang lahir dalam hati.
.
Zikir adalah mengingati Allah s.w.t sebaik dan seikhlas mungkin.
.
Mengingati nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah zikir.
.
Melihat matahari, bulan dan bintang di langit sambil mengenang kebijaksanaan Allah s.w.t merupakan zikir.
.
Melihat kilat memancar dan mendengar guruh berdentum sambil mengenangkan keperkasaan Allah s.w.t adalah zikir.
.
Melihat fajar subuh, melihat dan mencium bunga yang indah lagi harum sambil mengenang keelokan Allah s.w.t adalah zikir juga namanya.
.
Jadi, zikir adalah pekerjaan sepanjang masa, setiap ketika, semua suasana, pada setiap sedutan dan hembusan nafas dan pada setiap denyutan nadi.
.
Kehidupan ini merupakan zikir daim (zikir berkekalan) jika mata hati sentiasa memerhatikan sesuatu tentang Allah s.w.t.
.
Misalkan seorang sedang melakukan zikir hati dan perkataan; menyebut dan mengingati nama-nama dan sifat-sifat Allah s.w.t.
.
Tiba-tiba datang seorang kanak-kanak di hadapannya.
.
Anak kecil itu memegang sebotol racun.
Anak kecil mahu meminum racun tersebut.
.
Pada ketika itu ahli zikir tadi berkewajipan meninggalkan pekerjaan zikir yang sedang dilakukannya dan berpindah kepada zikir menyelamatkan anak kecil yang mahu meminum racun itu.
.
Perpindahan perbuatan tidak memutuskan zikir atau ingatannya kepada Allah s.w.t. Dia menyebut nama Tuhan kerana ingat kepada Tuhan.
.
Dia menyelamatkan anak kecil itu kerana mentaati perintah Tuhan.
Tuhan yang mentakdirkan anak kecil itu mahu meminum racun di hadapannya. Tuhan juga mengadakan syariat yang mewajibkan membuang kemudaratan.
.
Taat kepada perintah Tuhan dan reda dengan takdir Tuhan yang datang serta bertindak menurut peraturan syariat Tuhan merupakan zikir yang sangat mulia pada sisi Tuhan.
Zikir yang begini termasuk di dalam golongan zikir yang berkekalan atau zikir daim.
.
Zikir daim sukar diperolehi.
.
Kebanyakan manusia melakukan pekerjaan yang baik-baik yang seharusnya menjadi zikir tetapi dilakukan tanpa ingatan kepada Allah s.w.t dan bukan dengan penghayatan mematuhi syariat-Nya.
.
Kekuatan dalaman perlu ditambah bagi memperolehi zikir daim.
Bagi tujuan tersebut perlulah dilakukan zikir sebutan iaitu zikir nafi-isbat (ucapan kalimah “La ilaha illa Llah ”) dan zikir nama-nama serta sifat-sifat-Nya.
.
Zikir yang seperti ini memberi kesan kepada menguatkan rasa kecintaan dan ingatan kepada Allah s.w.t.
.
Ia membuka kesedaran-kesedaran dalaman seperti yang telah dinyatakan pada tajuk yang membicarakan perjalanan Latifah Rabbaniah.
.
Kekuatan kesedaran dalaman mendorong seseorang melakukan sesuatu dengan ikhlas kerana Allah s.w.t yang dicintainya, yang hampir dengannya.
.
Zikir nafi-isbat dan sebutan nama-nama serta sifat-sifat-Nya menjadi jalan kepada zikir dalam bentuk mentaati peraturan-Nya tanpa lupa kepada-Nya.
.
Jadi, perlu dilakukan zikir secara sebutan untuk memudahkan zikir secara amalan atau perbuatan dan kelakuan.
Mudah-mudahan terhasillah zikir yang berkekalan.
.
Zikir atau mengingati Allah s.w.t haruslah dilakukan menurut kadar kemampuan masing-masing.
.
Zikir yang paling baik diucapkan adalah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w dengan sabda baginda s.a.w yang bermaksud:
.
“Ucapan zikir yang paling baik adalah yang aku dan sekalian nabi-nabi bawa.
.
Itulah ucapan kalimah ‘La ilaha illa Llah ’ .”
.
Orang yang tidak pernah berzikir adalah orang yang sangat keras hatinya dan kuat dikuasai oleh syaitan, hawa nafsu dan dunia.
.
Cahaya api syaitan, fatamorgana dunia dan karat hawa nafsu membaluti hatinya sehingga tidak ada ingatannya kepada Allah s.w.t. Seruan, peringatan dan ayat-ayat Tuhan tidak diterima oleh hatinya.
.
Beginilah keadaan orang Islam yang dijajah oleh sifat munafik.
.
Orang yang masih mempunyai kesedaran perlu memaksakan dirinya untuk berzikir, sekalipun hanya berzikir dengan lidah sedangkan hatinya masih lalai dengan berbagai-bagai ingatan yang selain Allah s.w.t.
.
Pada tahap pemaksaan diri ini, lidah menyebut Nama Allah s.w.t tetapi hati dan ingatan mungkin tertuju kepada pekerjaan, harta, perempuan, hiburan dan lain-lain.
.
Beginilah tahap orang Islam biasa.
Orang yang berada pada tahap ini perlu meneruskan zikirnya kerana jika dia tidak berzikir dia kan lebih mudah dihanyutkan di dalam kelalaian.
.
Tanpa ucapan zikir syaitan akan lebih mudah memancarkan gambar-gambar tipuan kepada cermin hatinya dan dunia akan lebih kuat menutupinya.
.
Zikir pada peringkat ini berperanan sebagai juru ingat.
Sebutan lidah menjadi sahabat yang memperingatkan hati yang lalai.
.
Berlakulah pertembungan di antara tenaga zikir dengan tenaga syaitan yang menutupi hati.
.
Tenaga syaitan akan mencuba untuk menghalang tenaga zikir daripada memasuki hati.
.
Tindakan syaitan itu membuatkan orang yang ingin berzikir itu menjadi malas dan mengantuk.
.
Oleh yang demikian perlulah dilakukan mujahadah, memerangi syaitan yang menghalang lidah daripada berzikir itu.
.
Zikir yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan berjaya melepasi benteng yang didirikan oleh syaitan.
.
Tenaga zikir yang berjaya memasuki hati akan bertindak sebagai pencuci, menyucikan karat-karat yang ada pada dinding hati.
.
Pada peringkat permulaannya zikir masuk ke dalam hati sebagai Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan yang diucapkan.
.
Apabila karat pada dinding hati sudah berkurangan ucapan zikir akan disertai oleh rasa kelazatan.
.
Hati yang sudah merasai nikmat zikir itu tidak perlu kepada paksaan lagi.
.
Lidah tidak perlu lagi berzikir.
.
Zikir sudah hidup dalam hati secara diam, jelira dan melazatkan.
.
Perhatian bukan sekadar kepada nama-nama dan sifat-sifat yang diingatkan malah ia lebih tertuju kepada Yang Empunya nama dan sifat.
.
Inilah kedudukan orang yang beriman.
.
Zikir yang lebih mendalam membawa hati berhadap kepada Hadrat Tuhan, menyaksikan Tuhan pada setiap masa dan suasana.
.
Apa sahaja yang dilihat dan dibuat memperingatkannya kepada Tuhan.
.
Inilah peringkat zikir daim yang dikurniakan kepada mereka yang beriman dan bersungguh-sungguh mengabdikan diri kepada Allah s.w.t.
.
Kehidupan mereka dipenuhi oleh zikir sepanjang masa.
Tidur mereka juga menjadi zikir.
.
Zikir yang diucapkan dengan perkataan membantu hati mengingati Tuhan.
.
Bagi sebahagian manusia berzikir secara kuat lebih memberi kesan daripada berzikir secara perlahan, terutamanya bagi mereka yang baharu memulakan amalan zikir.
.
Zikir secara senyap di dalam hati adalah pergerakan perasaan.
Hati menghayati apa yang dizikirkan dan terbentuklah alunan perasaan sesuai dengan apa yang dihayati.
.
Pada tahap yang lebih mendalam zikir bukan lagi sebutan atau ingatan kepada Nama, tetapi hati menyaksikan Keperkasaan dan Keelokan Tuhan.
.
Bila hati sudah boleh menyaksikan Keelokan dan Keperkasaan Tuhan, itu tandanya seseorang itu sudah ada hubungan semula dengan roh suci yang mengenal Tuhan.
.
Pancaran cahaya makrifat daripada roh suci membuat hati dapat melihat kenyataan sifat-sifat Tuhan.
.
Pada tahap kesedaran yang lebih mendalam, ucapan serta ingatan dan perhatian yang berhubung dengan Tuhan menimbulkan keghairahan atau zauk.
.
Zauk itu terjadi kerana kuatnya tarikan Hadrat Tuhan kepada hati.
.
Ingatan dan penyaksian terhadap Hadrat Tuhan akan memberi kesan yang sangat kuat kepada hati.
.
Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Perkasa boleh menyebabkan seseorang itu menjadi pengsan kerana takutnya hati kepada keperkasaan Allah s.w.t.
.
Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Lemah-lembut akan mengalami rasa kenikmatan dan kebahagiaan yang amat sangat.
.
Pada tahap kesedaran yang lebih mendalam, hati diperkuatkan lagi supaya mampu menerima ‘sentuhan’ Hadrat Tuhan itu.
.
Penyaksian terhadap Hadrat Tuhan tidak lagi melahirkan keghairahan atau zauk atau kegoncangan kepada hati.
.
Hati mengalami suasana Hadrat Tuhan dalam keadaan damai dan sejahtera. Pada tahap ini hati akan mengenali Tuhan sebagai Raja Yang Maha Berkuasa.
Berada pada sisi Raja tersebut membuat hati merasakan kesejahteraan dan keselamatan yang tidak terhingga, hilang rasa takut dan dukacita.
.
Pada tahap kesedaran yang paling dalam hati berhadap kepada Hadrat Tuhan yang bernama Allah s.w.t, yang menguasai semua Hadrat, yang melampaui segala nama dan sifat, segala kenyataan dan ibarat.
.
Hati sampai kepada tahap jahil setelah berpengetahuan.
Ilmu gagal menghuraikan tentang Allah s.w.t. makrifat gagal memperkenalkan Allah s.w.t. Apa sahaja yang terbentuk, tergambar, terfikir, yang disaksikan dengan mata luar dan juga mata dalam dan segala-galanya tersungkur di hadapan Hadrat Allah s.w.t, yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Perkasa.
.
Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang menyamai Allah s.w.t, Dia Maha Esa.
.
Hati yang berhadapan dengan Hadrat Allah s.w.t benar-benar mengalami dan mengenali maksud keesaan Allah s.w.t.
Hati pun tunduk, menyerah sepenuhnya kepada Allah s.w.t, Tuhan Maha Mencipta.
.
Baharulah sempurna penyerahannya, baharulah lengkap perjalanan Islamnya.
.
Setelah itu rohnya menjadi seakan-akan roh yang baharu, seumpama baharu lahir.
Roh yang baharu itu adalah Roh Islam yang telah mengenal Allah s.w.t yang melampaui segala sesuatu tetapi memiliki Hadrat-Nya, Nama-nama-Nya dan Sifat-sifat-Nya, menyata kepada Roh Islam, iaitu Roh yang lebih tulen dan seni daripada semua roh-roh yang lain.
.
Itulah roh yang telah menemui Kebenaran Hakiki.
Pada roh tersebut bercantum tahu dengan tidak tahu, kenal dengan tidak kenal, nafi dengan isbat.
.
Roh Islam itulah yang benar-benar mengerti maksud nafi dan isbat pada Kalimah Tauhid: “La ilaha illa Llah”.
.
Dia turunkan Roh dari urusan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki daripada hamba-hamba-Nya untuk memberi peringatan tentang hari pertemuan.
( Ayat 15 : Surah al-Mu’min)
.
Roh Islam yang mengenderai hati Islam dan memiliki nafsu Islam, akal Islam dan pancaindera Islam kembali kepada kehidupan dunia untuk mengajak dan membimbing orang lain kepada Yang Haq, Kebenaran Hakiki.
.
Roh Islam mengeluarkan yang Islam sahaja. Jiwanya Islam, perkataannya Islam, perbuatannya Islam, diamnya Islam, tidurnya Islam dan segala-gala yang mengenainya adalah Islam.
.
Roh Islam yang paling sempurna adalah roh Nabi Muhammad s.a.w. Baginda s.a.w merupakan contoh tauladan Islam yang paling sempurna, paling baik.
.
Zikir memainkan peranan yang penting dalam melahirkan Roh Islam.
Bagi orang yang inginkan kebenaran dan melihat kebenaran, menjadi kewajipan baginya mengingati Allah s.w.t sebanyak mungkin.
.
Lantas apabila kamu telah selesaikan sembahyang (sembahyang di waktu perang ) itu, maka hendaklah kamu ingat kepada Allah s.w.t sambil berdiri, dan sambil duduk, dan sambil (berbaring) atas rusuk-rusuk kamu.
Tetapi apabila kamu telah tenteram, maka hendaklah kamu dirikan sembahyang (seperti biasa), kerana sesungguhnya itu adalah bagi Mukminin satu kewajipan yang ditentukan mwaktunya.
( Ayat 103 : Surah an-Nisaa’ )
.
Yang mengingati Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring, dan memikirkan tentang kejadian langit-langit dan bumi (sambil berkata):
.
“Wahai Tuhan kami! Engkau tidak jadikan (semua) ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau. Lantaran itu peliharakanlah kami daripada seksa neraka”.
( Ayat 191 : Surah a-Li ‘Imran )
.
Setiap Muslim seharusnya mencari kehidupan berzikir;
berzikir sambil duduk dan sambil berbaring;
bekerja di dalam berzikir;
berehat di dalam berzikir dan tidur di dalam berzikir.
.
Lidah berzikir, anggota tubuh berzikir dan hati berzikir.
Tentera Islam yang sedang berperang dengan musuh pun dituntut berzikir, apa lagi kaum Muslimin yang berada dalam suasana aman.
.
Muslim sejati sentiasa berzikir, mengingati dan mentaati Allah s.w.t.
.
Wassalam bil Khaer....

TAHAPAN-TAHAPAN MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH SWT

Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa Ma’rifat itu merupakan tujuan pokok, yakni mengenal Allah yang sebenar-benarnya dengan keyakinan yang penuh tanpa ada keraguan sedikitpun (haqqul yaqin). Menurut Imam Al-Ghazali : “ Ma’rifat adalah pengetahuan yang tidak menerima keraguan terhadap Zat dan Sifat Allah SWT “. Ma’rifat terhadap Zat Allah adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah adalah wujud Esa, Tunggal dan sesuatu Yang Maha Agung, Mandiri dengan sendiri-Nya dan tiada satupun yang menyerupai-Nya. Sedangkan ma’rifat Sifat adalah mengetahui dengan sesungguhnya Allah itu Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Mendengar dan Maha Melihat dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dari mengetahui tentang Zat dan Sifat Allah, maka selanjutnya Al-Ghazalipun memberi kesimpulan bahwa : “ Ma’rifat adalah mengetahui akan rahasia-rahasia Allah, dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada “ lebih lanjut ditegaskannya bahwa : “ Ma’rifat itu adalah memandang kepada wajah Allah SWT “.
Ma’rifat itu sendiri tidak dapat dipisahkan dengan Hakekat. Dengan kata lain datangnya ma’rifat adalah karena terbukanya Hakekat.

Taftazany menerangkan dalam kitab “Syarhul Maqasid” : “Apabila seseorang telah mencapai tujuan akhir dalam pekerjaan suluknya (ilallah dan fillah), pasti ia akan tenggelam dalam lautan tauhid dan irfan sehingga zatnya selalu dalam pengawasan zat Tuhan (tauhid zat) dan sifatnya selalu dalam pengawasan sifat Tuhan (tauhid sifat). Ketika itu orang tersebut fana (lenyap dari sifat keinsanan). Ia tidak melihat dalam wujud alam ini kecuali Allah (laa maujud ilallah).”

Dalam hal ini, seperti apa yang dialami oleh Imam Al-Ghazali dimana ketika orang mengira bahwa Imam Al-Ghazali telah wusul – mencapai tujuannya yang terakhir ke derajat yang begitu dekat kepada Tuhan, maka Imam Al-Ghazali berkata : “Barangsiapa mengalaminya, hanya akan dapat mengatakan bahwa itu suatu hal yang tak dapat diterangkan, indah, utama dan jangan lagi bertanya”. Selanjutnya Imam Al-Ghazali menerangkan : “Bahwa hatilah yang dapat mencapai hakekat sebagaimana yang tertulis pada Lauhin Mahfud, yaitu hati yang sudah bersih dan murni. Tegasnya tempat untuk melihat dan Ma’rifat kepada Allah ialah hati.”
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya “Madarijus Salikin “ : “Ma’rifat adalah suatu kedudukan yang tinggi dari kedudukan orang-orang mu’min (disisi Allah) dan derajat yang tertinggi dari derajat orang-orang yang mendaki menuju alam surgawi “. Selanjutnya beliau berkata : “Bahwa seseorang tidak dikatakan memiliki ma’rifat terkecuali mengetahui Allah SWT melalui jalan yang mengantarkannya kepada Allah, mengetahui segala bentuk penyakit atau penghalang yang ada pada sisinya, yang mengakibatkan terhambatnya hubungan dirinya dengan Allah, yang mana kesemuanya itu ia saksikan dengan ma’rifatnya. Jadi, orang ma’rifat adalah orang yang mengetahui Allah melalui media nama-nama-Nya, sifat-sifat dan perbuatan-Nya. Kemudian berhubungan dengan Allah secara tulus, bersikap ikhlas dan sabar terhadap-Nya dalam menjauhi segala bentuk perbuatan maksiat serta meneguhkan niatnya. Berusaha untuk menanggalkan budi pekerti yang buruk serta penyakit yang merusak. Mensucikan dirinya dari berbagai bentuk kotoran dan kemaksiatan. Bersabar atas hukum-hukum Allah dalam menghadapi segala nikmat-Nya (tidak terlena), dan musibah yang menimpanya (tidak putus asa). Lalu berdakwah menuju jalan Allah berdasarkan
pengetahuannya terhadap agama dan ayat-ayat-Nya. Berdakwah hanya menuju kepada-Nya dengan apa yang dibawa utusan-Nya (yaitu Nabi Muhammad SAW), dengan tidak ditambahi dengan pandangan-pandangan akal manusia yang sesat, kecendrungan-kecendrungan mereka dan hasil kreasi mereka, kaidah-kaidah dan logika-logika mereka yang menyesatkan. Dengan kata lain tidak mengukur risalah yang dibawa oleh Rasulullah dari Allah dengan kesemuanya itu diatas. Orang seperti inilah yang layak menyandang gelar sebagai orang yang ma’rifat kepada Allah, sekalipun banyak orang memberikan panggilan atau julukan yang lain kepadanya”.

Dibawah ini kami cantumkan beberapa khazanah perbendaharaan ma’rifat yang dihimpun oleh Prof. Dr. M. Faiz Al-Math dalam bukunya yang berjudul “Puncak Ruhani Kaum Sufi” diantaranya sebagai berikut :

1. Pendekatan kita kepada Allah adalah pendekatan ilmu, sebab mustahil terjadi suatu pendekatan kepada kebenaran Allah tanpa ilmu.

2. Barangsiapa yang mengenal Allah, maka ia akan menangkap kebesaran kuasa Allah dalam segala sesuatu. Jika ia yang selalu ingat (berzikir) kepada Allah, maka ia akan melupakan yang lain kecuali Allah. Dan siapa saja yang mencintai Allah, maka ia akan mencintai dan melaksanakan ajaran-Nya dan mencampakkan ajaran lain

3. Jika kita menginginkan pintu rahmat terbuka luas, resapilah dalam sanubari akan nikmat yang dianugerahkan Allah kepadamu. Dan jika kita berharap agar hati kita merasa takut akan siksa, renungilah kelalaian kita dalam mengabdi kepada – Nya.

4. Tanda-tanda seseorang ‘aulia’ yang arif adalah senantiasa memelihara rahasia antara dia dengan Allah, tangguh dalam menghadapi cobaan yang merintangi kehidupannya. Lebih-lebih pada cobaan yang diciptakan manusia ia selalu membalasnya dengan cara yang lebih bijaksana. Mengingat tingkat intelektual mereka (tiap orang) tidak sama.

5. Barangsiapa menyadari, bahwa Allah senantiasa mengingin kan kita menjadi orang baik dan Allah lebih memahami tentang hal-hal yang mengundang kemaslahatan, maka artinya kita mampu mensyukuri nikmat Allah dan berhati tentram.

6. Bila kita berkeinginan melacak sampai dimana derajat kita di sisi Allah, maka renungilah perbuatan kita sendiri kegigihan kita dalam beribadah dan sebagainya.

7. Ma’rifat terbangun atas tiga fondasi ; Takut kepada Allah, Malu kepada Allah dan Cinta kepada Allah.
8. Orang Arif adalah orang yang tidak pernah berhenti untuk berdzikir, tak enggan dalam menunaikan ibadah dan senang berdialog dengan Allah. Sehingga tercetak dalam lubuk hatinya sikap enggan bercengkrama dengan hal sia-sia yang tidak dilatarbelakangi manfaat agama.

9. Alangkah janggalnya jika seseorang yang telah menyaksikan ke Maha Kuasaan Allah, namun dia mendurhakai-Nya. Kemanakah dia akan lari untuk mencari tempat perlindu ngan, sedangkan ia menganggap bahwa Allah selalu mengawasi sepak terjangnya. Bagaimana akan berlalai-lalai jika ia merasakan nikmat Allah selalu datang silih berganti kepadanya.

10. Kearifan laksana tanah yang bisa diinjak-injak oleh orang baik dan buruk. Ia bagaikan awan yang mampu mengayomi segala sesuatu, dan bagaikan hujan yang akan jatuh kepada teman maupun lawan.

11. Kearifan, adalah bukanlah apa yang dapat dikeruhkan oleh segala sesuatu. Justru sebaliknya segala sesuatu akan tampak jernih.

12. Ma’rifat kepada Allah sebagai intensitas seseorang hingga menimbulkan rasa malu dalam hatinya, rasa malu kepada Allah yang didasarkan pada rasa mengagungkan. Sebagaimana tauhid merupaka pembangkit rasa puas (rela) terhadap takdir dan timbul rasa berserah diri kepada Zat Yang Maha Pengatur.

13. Ma’rifat, bila telah mendarah daging, maka menjadikan kehidupan seseorang akan jernih (tidak tertindih oleh kepedihan-kepedihan hidup) pencariannya akan bersih dari hal-hal atau unsur-unsur yang haram. Segala sesuatu akan segan kepadanya. Rasa takut kepada sesama mahluk akan lenyap dari hatinya dan akan cenderung untuk menyibukkan diri dalam ibadah kepada Allah.
14. Orang yang memandang sesuatu di dunia ini dari kaca mata ma’rifatnya, walau sesuatu itu dipandang, namun yang tergambar dalam benaknya adalah kekuasaan Allah. Oleh karena itu, mata boleh menangis lantaran melihat cobaan yang menimpa, namun hatinya bersukacita lantaran dosa-dosa yang telah lampau terhapuskan oleh musibah itu.

15. Belum merasa puas orang arif ketika ia meninggalkan dunia terhadap dua perkara, yaitu ; Meratapi terhadap kekurangan dalam beribadah dan Kurangnya banyak memuji Tuhannya.
Selanjutnya mengenai perjalanan menuju Allah sebagaimana tersebut di atas, dengan tahapan-tahapan atau tingkatan-tingkatan yaitu Syari’at, Thariqat, Hakekat, dan Ma’rifat M. S. Resa menyimpulkan dalam bukunya yang berjudul “Mencari Kemurnian Tauhid (Keesaan Allah)” sebagai berikut :

· Syari’at adalah perbuatan (jasad) si hamba dalam melaksanakan ibadah kepada Allah harus dengan semurni-murninya ibadah.

· Thariqat adalah jalan (hati) untuk menuju kesuatu tujuan yang diridhai Allah, dengan hati yang bersih dan ikhlas atas segala perbuatan dan menerima cobaan Allah SWT.

· Hakekat (nyawa) adalah tujuan untuk mencapai keridhaan Allah sehingga terbukti adanya “diri yang hakiki” yang kita hanya dapat merasakan dan sadari, bahwa diri yang yang keluar dari diri, sehingga kita dapat membuktikan dengan kesadaran yang hakiki tentang Kekuasaan Allah, tentang Rahasia Alam, tentang Alam Ghaib dan lain-lainnya.

· Ma’rifat (Rahasia Allah), adalah sampainya suatu tujuan sehingga terwujud suatu kenyataan dan terbukti kebe narannya (tidak diragukan lagi).
Dari bahasan tersebut diatas maka dapat kita simpulkan bahwa hamba yang akan berjalan menuju Allah swt, harus melalui tahapan-tahapan (marhalah-marhalah) yaitu melalui : Syari’at, Thariqat, Hakikat dan Ma’rifat, atau dengan kata lain harus menempuh proses empat tahapan diantaranya :

– Pertama : Marhalah Amal Lahir artinya berkekalan melakukan amal ibadah baik yang wajib ataupun yang sunnah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw atau disebut usaha menghias diri dengan Syari’at.

– Kedua : Marhalah Amal Bathin atau Muraqabah yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh mensucikan diri dari maksiat lahir dan bathin (takhalli) dengan cara taubat dan istighfar, memperbanyak dzikir dan shalawat, menunduk kan hawa nafsu dan menghiasi diri dengan amal terpuji/mahmudah lahir dan bathin (tahalli) atau disebut menjalankan Thariqah.

Pada tahap ini, setelah hati dan rohani telah bersih karena terisi oleh taubat dan istighfar, dzikir-dzikir dan shalawat, maka dengan rahmat Allah datanglah Nur yang dinamakan Nur Kesadaran.

– Ketiga : Marhalah Riyadhah dan Mujahadah yaitu berusaha melatih diri dan melakukan jihad lahir dan bathin untuk menambah kuatnya kekuasaan rohani atas jasmani, guna membebaskan jiwa dari belenggu nafsu duniawi, supaya jiwa itu menjadi suci bersih bagaikan kaca yang segera dapat menangkap apa-apa yang bersifat suci, sehingga akan beroleh berbagai pengetahuan yang hakiki tentang Allah dan kebesaran-Nya. Pada tahap ini, mulailah jiwa sedikit demi sedikit merasakan hal-hal yang halus serta rahasia, merasakan kelezatan dan kedamaian, dan merasakan nikmatnya iman dan taqwa dalam jiwanya. Kemudian selanjutnya datanglah kasyaf/keterbukaan mata hati, menyusul terbuka hijab sedikit demi sedikit sehingga sampailah ia kepada Nur Yang Maha Agung sebagai puncak tahap/marhalah ketiga. Nur ini dinamakan Nur Kesiagaan yakni kesiagaan dalam muhadarah bersama Allah. Tahap ini juga disebut Tahap Hakikat.

-Keempat : Marhalah Fana-Kamil yaitu jiwa si salik telah sampai kepada martabat syuhudul haqqi bil haqqi yakni melihat hakekat kebenaran. Kemudian terbukalah dengan terang berbagai alam rahasia baginya yaitu rahasia-rahasia ke-Tuhanan/Rabbani. Dalam pada itu berolehlah dia nikmat besar dalam mendekati Hadrat Ilahi Yang Maha Tinggi. Tahap ini juga disebut dengan Tahap Ma’rifat. Dalam situasi seperti inilah dia menemukan puncak mahabbah dengan Allah, puncak kelezatan yang tiada pernah dilihat mata, tiada pernah di dengar telinga, dan tiada pernah terlintas dalam hati sanubari manusia, tidak mungkin disifati atau dinyatakan dengan kata-kata. Pada marhalah ini sebagai puncak segala perjalanan, maka datanglah Nur yang dinamakan Nur Kehadiran.