Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Minggu, 28 Mei 2017
KAJIAN KITAB RISALATU ADABI SULUKIL MURID Bagian XIX
Karya : Al Habib Abdullah Alwi Al Haddad
وَاعلَم أَنَّ الشَيخَ الكَامِلَ هُوَ الذِّي يُفِيدُهُ بِهِمَّتِهِ وَفِعلهِ وَقَولِهِ وَيحَفَظُهُ في حُضورِهِ وَغَيبَتِهِ وَإِن كانَ المُريدُ بَعيداً عَن شَيخِهِ مِن حَيثُ المَكانُ، فَليَطلُب مِنهُ إِشارَةً كُلِّيَةً فِيما يَأتي مِن أَمرِهِ وَيترُكُ.
Ketahuilah bahwa Syaikh yang kamil ialah seorang Syaikh yang selalu memberi faedah pada muridnya, dengan penuh kesungguhan dalam perbuatannya dan perkataannya.
Dia memelihara muridnya sewaktu berada dihadapannya, dan juga dimasa murid berada jauh daripadanya.
Sekiranya sang murid jauh dari tempat Syaikh berada, maka Sang murid hendaklah mencari darinya isyarat-isyarat yang menyeluruh tentang hal apa saja yang akan dikerjakan si murid maupun yang ditinggalkannya.
وَأَضرُّ شَيءٌ عَلى المُريدِ تَغَيُّرِ قَلبَ شَيخِهِ عَليهِ وَلَو اجتَمعَ علَى إصلاحِهِ بَعدَ ذَلِكَ مَشايخُ المَشرِقِ وَالمَغرِبِ لمَ يَستَطيعُوهُ إِلاَّ أَن يَرضَى عَنهُ شَيخُهُ.
Adapun perkara yang sangat membahayakan sang Murid, apabila hati sang Syaikh berubah, dan tidak memandang padanya. Dalam hal ini bila dikumpulkan seluruh Syaikh-Syaikh yang lain dari timur sampai ke barat untuk memperbaikinya, Niscaya akan sia-sia dan tidak akan berhasil, kecuali sang syekh sendiri yg meridloinya.
وَاعلَم أَنَّهُ يَنبَغي لِلمُريدِ الذَّي يَطُلبُ شَيخاً أَن لا يُحَكِّمَ في نَفسِهِ كُلَّ مَن يُذكَرُ بِالمَشيَخَةِ وَتَسلِيكِ المُريدينَ حَتَّى يَعرِفَ أَهلِيَّتَهُ وَيَجتمِعَ عَليهِ قَلبُهُ،
وَكذَلِكَ لا يَنبَغي للِشَيخِ إِذا جاءَ المُريدُ يَطلُبُ الطَّرِيقَ أَن يَسمَحَ لَهُ بِها مِن قَبلِ أَن يَختَبِر صِدقَهُ في طَلَبِهِ، وَشِدَّةِ تَعَطُّشِهِ إِلى مَن يَدُلُّهُ علَى رَبِّهِ.
Ketahuilah bahwa sebaiknya sang murid yang sedang mencari Syaikh sejati untuk menuntut ilmu padanya, Tidak boleh mengambil sembarang orang yang dapat diakui sebagai Syaikh, yang boleh memimpin murid-murid ke jalan Allah Ta'ala, dan menjadi Syaikhnya, sehingga ia harus menyelidiki terlebih dahulu, dan ia kenal benar-benar keahlian Syaikh tersebut, dan hatinya menerima orang itu sebagai Syaikhnya.
Demikian sebaliknya seorang Syaikh tidak boleh menerima sembarang murid yang datang padanya minta dituntun ke jalan Allah, sebelum ia menguji kesungguhan si murid untuk menunjukkan keinginannya yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan seorang pemimpin yang akan menunjukkan ke jalan Tuhannya.
وَهذَا كُلُّهُ في شَيخِ التَّحكِيمِ، وَقَد شَرَطُوا عَلى المُريدِ أَن يَكونَ مَعهُ كَالَمِّيتِ بَينَ يَدَيِّ الغَاسِلِ وَكالطِّفلِ مَعَ أُمَّهِ، وَلا يَجرِي هَذا في شَيخِ التَّبَرُّكِ، وَمَهمَا كَانَ قَصدُ المُريدِ التَّبَرُّكَ دُونَ التَّحكِيمِ فَكُلَّما أَكثَرَ مِن لِقاءِ المَشايِخِ وَزِيارَتِهم وَالتَّبرُّكَ بِهم كَان أَحسَنَ.
Syarat-syarat ini harus berlaku bagi murid-murid yang akan menuntut ilmu kepada Syaikh Tahkim (Syaikh yang dalam tangannya terserah segala putusan).
Murid yang menuntut ilmu pada Syaikh Tahkim ini, harus menganggap dirinya seperti mayat yang sedang dibersihkan oleh tangan-tangan yang memandikannya, atau laksana seorang bayi yang berada dalam pemeliharaan ibunya
, syarat-syarat serupa ini tidak berlaku pada Syaikh Tabarruk (Syaikh yang biasa dimohon keberkatan daripada-nya).
Apabila seorang murid bermaksud untuk mendapatkan keberkatan seorang Syaikh, bukan tahkim-nya, maka diperbolehkan menemui sebanyak mungkin Syaikh dan menziarahi mereka adalah lebih baik dan utama untuk memperoleh barokah itu.
وَإذا لَم يَجِدِ المُريدُ شَيخاً فَعَليهِ بِمُلازَمَةِ الجِدِّ وَالاجتِهادِ مَعَ كَمالِ الصِّدقِ في الاِلتِجاءِ إِلى الله وَالاِفتِقارِ إِليهِ في أَن يُقَيِّضَ لَهُ مَنْ يُرشِدُهُ، فَسَوفَ يُجِيبُهُ مَن يُجِيبُ المُضطَرَّ، وَيَسُوقُ إِليهِ مَن يَأخُذُ بِيَدِهِ مِن عِبادِهِ.
Apabila murid belum mendapatkan Syaikh, maka dia harus dengan tekun dan rajin menunjukkan harapan dan keperluannya kepada Allah SWT, dengan kebenaran yang sempurna agar Dia menunjukkan kepada seorang pemimpin yang boleh memimpinnya kejalan Allah SWT.
Jika ia bersungguh akan keinginannya pasti Allah akan mengabulkan permohonannya. Sebagaimana Allah akan mengabulkan permohonan orang-orang yang terdesak (dipaksa oleh keadaan), niscaya Allah akan memimpin dan mendorong pada salah seorang diantara hamba-hamba-Nya.
وَقَد يَحسِبُ بَعضُ المُريدينَ أَنَّهُ لا شَيخَ لَهُ فَتَجِدَهُ يَطلُبُ الشَّيخَ وَلَهُ شَيخٌ لَم يَرَهُ، يُرَبِّيهِ بِنَظَرِهِ وَيُرَاعيهِ بِعَينِ عِنايَتِهِ وَهُوَ لا يَشعُرُ، وَعِندَ التَناصُفِ مَا ذَهبَ إِلاَّ الصِّدقُ، وَإِلاَّ فَالمَشايِخُ المُحَقِّقُونَ مَوجُودونَ،
وَلكِن سُبحانَ مَن لَم يَجعلِ الدَّلِيلَ عَلى أَولِيَائِه إِلاَّ مِن حَيثُ الدَّليِلُ عَليهِ وَلمَ يُوصِل إِليهِم إِلاَّ مَن أَرادَ أَن يُوصِلَهُ إِليهِ.
Setengah murid menyangka dirinya tiada mempunyai Syaikh, dan sepanjang masa ia berusaha mencari Syaikh, padahal Allah telah mentakdirkan seorang Syaikh untuknya. Sedang ia tidak pernah melihat Syaikh tersebut.
Syaikh tersebut memelihara murid-murid dengan pandangan bathinnya, dan menjaga dengan penuh perhatian sedang si murid tidak merasakan semua sama sekali.
Jika murid yang mengatakan tidak ada Syaikh pada jamannya, sebenarnya ia keliru. Atau mungkin Syaikh itu tidak benar. Dan pada hakekatnya Syaikh-Syaikh agung memang banyak sekali, akan tetapi maha suci Allah yang tidak menunjukkan bukti kepada para Auliya'Nya kecuali menjadikan bukti untuk mengenal Zatnya dan Allah tidak akan menunjukkan seorang murid pada Auliya'Nya kecuali kepada orang yang Allah kehendaki untuk dipertemukan kepadanya .
Wallohu a'lam.
Relaksasi
Saat ini, Hamdun sedang duduk di hadapanmu. Bayangkanlah senyumannya. Sosok lelaki tua, berusia 72 tahun, bertubuh agak kurus dan tinggi sekitar 168 sentimeter, berkumis dan berjenggot yang semuanya telah beruban dan panjangnya hingga di atas dada, berjubah putih. Wajahnya bercahaya. Duduk di hadapanmu. Sambil tersenyum. Dia ingin berdialog denganmu. Dan, dia mulai berbicara kepadamu. Silakan kamu menjawab dengan jujur dan turutilah, atau abaikan saja dia.
Hamdun: “Sudahkah kamu berzikir hari ini?”
Pembaca: …
Hamdun: “Baiklah. Zikir apa yang paling kamu senangi?”
Pembaca: …
Hamdun: “Sebutkan kepadaku sekali lagi zikir pendek yang paling kamu senangi.”
Pembaca: …
Hamdun: “Cobalah tenangkan pikiranmu, lemaskan tubuhmu dan ucapkan kembali zikir itu dengan perlahan, dengan bersuara, jangan hanya di dalam hati, ucapkan dengan perlahan, dengan bersuara...”
Pembaca: …
Hamdun: “Apakah kamu tahu arti dari zikir yang kamu baca?”
Pembaca: …
Hamdun: “Cobalah kamu tenangkan lagi pikiranmu, semakin lemaslah tubuhmu dan ucapkan kembali zikir itu dengan perlahan, dengan perlahan, dengan perlahan, ulangi terus, ulangi terus, jangan berhenti…”
Pembaca: …
Hamdun: “Bayangkan saat ini kamu berada dalam sebuah lingkaran jamaah yang sedang berzikir seperti yang kamu zikirkan.”
Pembaca:
Hamdun: “Dengarkan jamaah yang berzikir bersama-sama denganmu, dengan perlahan, dengan perlahan, dan terus menerus, dengan bersuara.”
Pembaca:
Hamdun: “Dengarkan dengung suara-suara jamaah zikir itu dan dengarkan pula suara yang kamu zikirkan, semakin cepat, semakin cepat, berirama, berirama, semakin cepat...”
Pembaca:
Hamdun: “Ikuti irama zikir bersama jamaah zikir itu, bersama-sama, bersatu dalam irama, semakin cepat, rasakan detak jantungmu yang ikut berzikir, rasakan, rasakan, biarkan detak jantungmu ikut berzikir…”
Pembaca:
Hamdun: “Semakin cepat lagi, gerakkan tubuhmu ke kiri dan ke kanan, begitu juga dengan kepalamu, ke kiri dan ke kanan, mengikuti zikir dan dengung suara jamaah zikir, gerakkan perlahan, ikuti irama zikir.”
Pembaca:
Hamdun: “Rasakanlah bulu, kulit, urat, darah, daging, tulang dan sumsummu ikut berzikir, terus berzikir, terus berzikir, jangan berhenti, jika airmatamu mengalir, biarkanlah ia mengalir, karena kamu mencintai zikir itu, jamaah zikir juga mencintai zikir itu, dan Allah juga mencintai zikir itu, teruslah berzikir, gerakkan badanmu, dengarkan detak jantungmu yang ikut berzikir, rasakan bulu, kulit, urat, darah, daging, tulang dan sumsummu ikut berzikir, terus berzikir, terus berzikir…”
Pembaca:
Hamdun: “Rasakanlah cintamu kepada Allah itu sungguh-sungguh, lebih dari kamu mencintai yang lain, kamu lebih cinta kepada Allah, lebih daripada mencintai yang lain, rasakan perasaan cinta Allah pada dirimu, rasakan detak jantungmu menzikirkan asma-Nya, rasakan bulu, kulit, urat, darah, daging, tulang dan sumsum ikut berzikir, terus berzikir, terus berzikir, terus berzikir, …”
Pembaca:
Hamdun: “Rasakanlah bahwa Allah itu begitu dekat, sangat-sangat dekat, sangat-sangat dekat, mendengarkan asma-Nya dizikirkan, di tengah-tengah lingkaran jamaah zikir, terus berzikir, teruslah berzikir, jangan berhenti, dengarkan dengung-dengung suara itu melekat di pendengaranmu, dengarkan dan jangan sampai dengung itu menghilang, teruslah lekatkan zikir yang berdengung itu, rasakanlah kehadiran Allah, yang sangat-sangat dekat, yang sangat-sangat dekat, yang sangat-sangat dekat…”
Pembaca:
Hamdun: “Katakan dalam hatimu: Ya Allah Ya Hayyu Ya Qoyyum, tumbuhkanlah rasa cinta yang besar dalam hatiku, tumbuhkanlah rasa cinta yang besar kepada-Mu, hanya kepada-Mu, hanya kepada-Mu, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang ingat kepada-Mu, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang sedikit di antara umat Muhammad saw, yang berjalan menuju cinta-Mu di dunia hingga di akhirat…”
Pembaca:
Hamdun: “Teruslah dengarkan dengung zikir itu dalam pendengaranmu, dengarkan dengung jamaah zikir, melekat dalam pendengaranmu, tidak akan pernah lenyap, tidak akan pernah lenyap, tidak akan pernah lenyap dengung zikir itu, teruslah berzikir, teruslah berirama, teruslah bersuara, teruskanlah…”
Pembaca:
Hamdun: “Sekarang zikirkan dengan perlahan, zikirkan dengan perlahan seperti dengung suara jamaah zikir itu, dengarkan dan lekatkan, ikuti irama zikir itu dengan perlahan, perlahan, perlahan…”
Pembaca:
Hamdun: “Sekarang, berhentilah berzikir dan diamlah sejenak, dengarkan dengung suara zikir itu yang melekat di pendengaranmu, dengarkan detak jantungmu yang masih berzikir, terus dengarkan dengung zikir itu, terus dengarkan, jangan berhenti mendengarkan, teruslah dengarkan dengung itu melekat dalam pendengaranmu,…”
Pembaca:
Hamdun: “Tariklah nafasmu perlahan, tahan nafasmu dalam tiga hitungan, telanlah sedikit nafasmu itu sampai terdengar bunyi di tenggorokanmu, kemudian bayangkan hembusan nafas yang putih itu masuk melalui ubun-ubunmu, menyelimuti kepalamu, badanmu, kedua tanganmu, sampai ujung kedua kakimu dan berakhir pula hembusan itu, bayangkan kau diselimuti cahaya yang benderang, bayangkan tubuhmu tak lagi kelihatan, hanya cahaya, hanya cahaya yang bersinar terang, tiada lagi dirimu, tiada lagi tubuhmu, tiada lagi kamu, hanya cahaya berkilauan, hanya cahaya berkilauan, hanya cahaya berkilauan, hanya cahaya berkilauan, tubuhmu sudah tiada lagi, jamaah zikir sudah tiada lagi, ruang sudah tiada lagi, hanya cahaya berkilauan, hanya cahaya, hanya cahaya, hanya cahaya, hanya cahaya, hanya cahaya, hanya cahaya berkilauan, hanya cahaya berkilauan, hanya cahaya, hanya cahaya, hanya cahaya, hanya cahaya yang bersinar benderang...”
Pembaca:
Hamdun: "Katakan: Laa maujuda illallaaahhhhhhhhh …. Laa maujuda illallaaahhhhhhhhh …. Laa maujuda illallaaahhhhhhhhh …
DZIKRULLOH PADA QOLBU
BIla hati ( qolbu ) sudah berdzikir maka hiduplah hati. Dzikrulloh ini dapat menghidupkan hati serta membuka pintu2 ilmu yg bermanfaat didunia dan akherat, juga membuka pintu Ilham yg datang dari Alloh Swt. Dzikrulloh dalam hati mengubah dari CAHAYA IMAN MANJADI CAHAYA KETAKWAAN, dari cahaya penerima ilmu menjadi penyampai ilmu.
Ada beberapa pengaruh Dziktulloh didalam qolbu:
1. Jika orang yg semula sulit menerima ilmu menjadi mudah dalam menerima ilmu
2. Jika orang sulit menyebarkan ilmu, maka menjadi mudah dalam menyampaikan atau menyebarkannya
3. Jika semula hanya menerima ilmu jadi suka memberikan ilmu walau hanya satu kalimat
4.Yang semula tertutup pd ilmu manjadi terbuka terhadapnya
5. Yang semula sulit menerima ilham menjadi mudah menerimanya dllnya.
Perubahan-perubahan itu terjadi karena adanya dzikrulloh yg dp
menghidupkan pancaran cahaya qolbu. Terpancarnya cahaya qolbu ini dan
tersingkapnya kotoran qolbu memudahkan kita dalam menangkap
sinyal-sinyal Ketuhanan, sehingga kita dimudahkan diberi petunjuk atau
hidayah sebagaimana yg tertulis dialam Alqur'an Surat At-Taghabun ayat
11 ( Tidak ada suatu musibah pun yg menimpa seseorang kecuali dg ijin
Alloh; dan barangsiapa yg beriman kepd Alloh niscaya Dia akan memberi
petunjuk kepada hatinya, dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu )
DZIKRULLOH DALAM JASAD
Dzikrulloh dalam raga ini sangat berpengaruh kepada kesehatan manusia. Ketika manusia mau mengamalkan dzikir lisan, maka pengaruhnya berupa meningkatnya kekebalan tubuh, kokohnya daya tahan semakin cepatnya daya sembuh, semakin kuatnya daya tangkap pikiran dan daya pikir.
Pengaruh itu akan semakin lebih kuat lagi apabila dzikir dikembangkan keseluruh anggota tubuh lahir dan wilayah anggota tubuh batin. Dengan melakukan Dzikir maka musnahlah sifat2 jelek dan munculah sifat2 baik.
Kenapa Dzikrulloh itu bisa merasakan hidup lebih hidup.
1. Jika Dzikrulloh mengalir ke OTAK, maka cara berpikir kita akan lebih matang.
2. Jika Dzikrulloh mengalir di MULUT, maka kita dapat berbicara dg fasih, ketika mengajak kejalan kebaikan dan merasakan nikmat serta rasa syukur atas pemberian Alloh.
3. Jika Dzikrulloh mengalir di TELINGA, maka kita dp mendengar serta memilih yg baik dan buruk.
4. Jika Dzikrulloh mengalir ke KULIT, kita dapat merasa
5. Jika Dzikrulloh mengalir ke MATA, kita dp melihat mana sebenarnya yg harus dilihat.
6. Jika Dzikrulloh mengalir di HIDUNG, kita dapat bernafas Bernapas adlh kodrat sedangkan kodrat HIDUP adalah mengamalkan DZIKRULLOH sebagai tugas kehidupan yg dari Maha Agungdari Guru Agung. Berbahagialah orang yg sudah menghidupkan raganya dengan dzikrulloh, dengan demikian Ia meneteskan DZiKRULLOH lebih deras dan memancarkannya keseluruh tubuh lahir dan batin serta selalu bertaqwa kepada Alloh Swt.
Allahu a'lam ..
1. Jika Dzikrulloh mengalir ke OTAK, maka cara berpikir kita akan lebih matang.
2. Jika Dzikrulloh mengalir di MULUT, maka kita dapat berbicara dg fasih, ketika mengajak kejalan kebaikan dan merasakan nikmat serta rasa syukur atas pemberian Alloh.
3. Jika Dzikrulloh mengalir di TELINGA, maka kita dp mendengar serta memilih yg baik dan buruk.
4. Jika Dzikrulloh mengalir ke KULIT, kita dapat merasa
5. Jika Dzikrulloh mengalir ke MATA, kita dp melihat mana sebenarnya yg harus dilihat.
6. Jika Dzikrulloh mengalir di HIDUNG, kita dapat bernafas Bernapas adlh kodrat sedangkan kodrat HIDUP adalah mengamalkan DZIKRULLOH sebagai tugas kehidupan yg dari Maha Agungdari Guru Agung. Berbahagialah orang yg sudah menghidupkan raganya dengan dzikrulloh, dengan demikian Ia meneteskan DZiKRULLOH lebih deras dan memancarkannya keseluruh tubuh lahir dan batin serta selalu bertaqwa kepada Alloh Swt.
Allahu a'lam ..
Ramadhan Dalam Rasa
Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir al-Jaelani dalam kitabnya AI-Ghunyah mengupas, bahwa kata Ramadlan itu terdiri lima huruf: R-M-DL-A-N. Huruf Ra’ – (R) berarti Ridlwanallah (Ridla Allah), huruf Mim (M) berarti Mahabatullah (Mencintai Allah), huruf Dlad (DL) berarti Dlamanullah (dalam jaminan Allah), huruf Alif (A) berarti Ulfatullah (kasih sayang Allah), dan huruf Nun (N) berarti Nurullah (cahaya Allah).
Karena itulah bulan suci Ramadlan disebut sebagai bulan Ridla, bulan Cinta, bulan Kasih Sayang, bulan Lindungan, bulan Cahaya, sekaligus sebagai bulan anugerah dan karamah bagi para auliya dan orang-orang yang berbuat kebajikan.
Disebutkan para ulama sufi, bahwa bulan Ramadlan jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, ibarat kalbu di dalam dada, ibarat para nabi dengan umat manusia, dan ibarat Tanah Suci Haram dibanding dengan bumi lainnya.
Setidak-tidaknya ada lima peristiwa besar berkait dengan bulan suci ini:
Pertama, bulan ini disebut dengan bulan Ramadlan, yang merupakan salah satu asma ‘ dari sekian asma’ Allah Ta’ala. Berarti, bulan ini adalah awal mula hamba-hamba-Nya memasuki asma’ Allah lewat pancaran cahaya ma’rifatnya. Ma’rifat Asma’, itulah awal dari pengenalan hamba- Nya kepada-Nya, lalu dilanjutkan dengan ma’rifat Sifat, dan terakhir ma’ ri fat bi-Nuridz-Dzat (ma’rifat dengan cahaya Dzatullah). Penghayatan terhadap ma’rifat itu, tidak akan tercapai manakala hamba Allah tidak mau mengekang dirinya, keakuannya, hasrat-hasrat nafsunya, egonya, dan kepentingan-kepentingannya, melainkan hamba harus puasa dari segala hal, kecuali hanya Allah belaka, sebagai tujuan dan sekaligus juga wahana penyaksian (musyahadahnya).
Kedua, bulan ini merupakan bulan di mana Kalamullah al-Qur’ an diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Langit Dunia secara global. Kalamullah itulah yang juga merupakan “ kepastian global” atas sejarah jagad raya ini. Turunnya al-Qur’an secara global, selaras dengan “Kun”-nya Allah, dan kelak melimpah secara historis dalam “Fayakuun”. Mengapa al-Qur’an diturunkan di bulan suci Ramadlan, karena Kalamullah itu adalah manifestasi dari sifat-Nya, “Al-Kalim”, di mana semaian wahananya haruslah mawjud pada asma ‘Nya, yaitu Ramadlan itu sendiri.
Ketiga, di bulan ini ada Lailatul Qadr. Malam yang melebihi seribu bulan cahaya. Cahaya bulan itu sendiri merupakan pantulan dari matahari, dan manakala tiada matahari, bulan tak bercahaya, maka terjadi kegelelapan yang dahsyat. Dengan kata lain, Lailatul Qadr merupakan wahana di mana Cahaya-cahaya Allah itu mawjud, dalam jiwa-jiwa hambaNya yang beriman. Pendaran cahaya-Nya yang melebihi ribuan cahaya bulan, hanyalah simbol betapa tak terkirakan Cahaya-Nya itu. Mereka yang mempunyai jiwa yang telah fana , dalam “kegelapan malam fana’ul fana”’, adalah jiwa mereka yang mampu menyaksikan dalam musyahadah Cahaya-Nya. Karena itu, kefana ‘an itu hanya akan termawjud manakala para hamba itu senantiasa berdzikir, bertaqarrub, bermuqarabah, dan bertaubah dalam arti yang hakiki. Sebab Cahaya-cahaya-Nya, hanya bisa disongsong oleh Sirrul ‘Abdi, sebagai puncak ketakwaan hamba Allah itu sendiri. Sirrul ‘Abdi adalah hakikat kehambaan yang final. Wujudnya adalah adalah kesimaan hamba dalam kebaqa ‘an-Nya, sehingga sang hamba tak lagi “ada” , dan yang ada hanyalah Yang Maha Ada dalam Abadi-Nya.
Keempat, di bulan ini para hamba menuai kemerdekaan dan kebebasan yang sesungguhnya. Sebab pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syetan-syetan dibelenggu. Disebut merdeka dan bebas, karena para hamba dibebaskan diri dari upaya terikat oleh kepentingan duniawi, kepentingan ukhrawi, bahkan kepentingan dari segala hal selain Allah. Sebab, kebebasan itu tidak terwujud secara hakiki manakala hamba masih diperbudak oleh selain Allah. Wujudnya adalah cahaya hati yang terang benderang sebagai “Rumah Allah” dalam jiwanya, sebagaimana disebutkan, dalam sebuah hadits, “Qalbul Mu ‘mini Baitullah” (hati orang yang beriman adalah Rumah Allah).
Kelima, munculnya dua kegembiraan: kegembiraan pertama, adalah ketika mereka yang berpuasa itu melakukan buka puasa (ifthar), dan kegembiraan kedua adalah kegembiraan ketika bertemu Tuhannya. Kegembiraan pertama bisa disebut sebagai kegembiraan lahiriah, dan kegembiraan kedua bisa disebut sebagai kegembiraan batiniah. Atau yang pertama adalah kegembiraan fana ‘nya hamba dalam kefitrahannya (dan karena itu disebut ifthar), lalu yang kedua adalah fana ‘ul fana’ dalam kebaqa’an-Nya, ketika menemui Tuhannya. Dua kegembiraan inilah yang sangat ditunggu-tunggu oleh hamba-hamba Allah. Hamba yang telah berfitrah, sekaligus hamba yang telah menjadi “Cermin Ilahi” dalam liqa’ (bertemu) dengan-Nya.
Menuju Sang Pengendali
Mereka para pekerja (salik) yang telah melakukan tradisi puasa sufistik, senantiasa akan merasakan puasa selama lamanya. Sebab di bulan Ramadlan itulah hamba Allah berada dalam khauf dan raja’ (ketakutan dan harapan), lalu meningkat lagi menjadi dalam qabdl dan basth (ketergenggaman dalam Kuasa Ilahi dan keleluasaan dalam rahmat-Nya), bahkan ada yang mencapai haibah dan uns (dalam lembah Kharisma Ilahi sekaligus juga dalam pelukan kemesraan yang tiada tara). Maka puasa, sesungguhnya adalah “perjuangan jiwa” yang disebut sebagai jihadul akbar (perjuangan besar).
Hari-hari yang penuh dengan dahaga dan lapar, malam-malam penuh keagungan dan anugerah kita arungi bersama-sama, agar kita bisa bersembunyi di balik tirai Ilahi dalam puasa yang sungguh-sungguh puasa: Puasa Hakiki.
Sebab, Ramadlan itu sendiri merupakan salah satu nama dari sekian nama Allah. Karenanya, bulan Ramadlan merupakan Bulan Ilahi, dimana Allah sendiri yang membalas pahala-pahala mereka yang berpuasa. Seakan-akan memang ada rahasia agung yang sangat pribadi antara Allah dengan para hamba-Nya. Setidak-tidaknya, hakikat takwa benar-benar dilimpahkan pada hamba-hamba Allah yang berpuasa, sebagaimana disebutkan “Haqqa Tuqaatih”, takwa yang hakiki.
Sebuah hadits menyebutkan, “Janganlah kalian semua mengatakan Ramadlan, sebab Ramadlan itu adalah nama dari nama-nama Allah Ta’ala.”
Maka Allah sendiri juga menyebutkan dengan kalimat “Syahru Ramadlan”, bukan Ramadlan saja. Hal demikian menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, bahkan betapa Allah Ta’ala sampai membuat wahana yang amat istimewa dan khusus terhadap bulan Ramadlan tersebut.
Dalam hadits Shahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, – dalam Hadits Qudsi – “Allah Azzawa-Jalla berfirman: “Setiap amal manusia kembali padanya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu hanya untuk- Ku, dan Akulah yang akan membalasnya sendiri. Puasa itu merupakan tameng, manakala di hari puasa kalian, maka janganlah melakukan hubungan suami-istri dan jangan pula berbuat kotor. Maka apabila ada seserang memakinya, katakanlah :
“Aku ini orang yang berpuasa. Dan demi Dzat Yang Menguasai Jiwa Muhammad, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum dibandingkan misik, di hari kiamat nanti. “
Dalam hadits lain disebutkan, “Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada bandingannya.” (HR. Nasa’i)
Makna puasa itu sendiri adalah mengekang dan mengangkat. Artinya mengekang segala keinginan yang mendorong kita untuk menyimpang dari perintah dan kehendak Allah, mengekang dari segala keinginan untuk berpaling pada selain Allah.
Bahwa puasa itu merupakan ibadah yang tiada bandingnya, semata juga karena puasa itu merupakan jiwa penghapusan terhadap hal-hal yang berbau empiris. Sebab Ramadlan adalah nama Allah, suatu kegembiraan kita karena kita memasuki nama Allah. Sebab itulah puasa yang berarti meninggalkan, sangat berhubungan erat dengan proses hamba-hamba Allah dalam meninggalkan “keakuan, nafsu, dan seluruh sifat tercelanya” agar bisa fana’ ke hadirat Allah. Sebab dalam kata “meninggalkan” itu mengandung arti sebagai bentuk dari ketiadaan dan negasi, dan karenanya tidak ada bandingannya. Maksudnya, memasuki bulan Allah berarti juga tidak bisa membandingkan Allah dengan lainnya, sebagaimana dalam Al-Qur’an, “Tiada satu pun misal bagi-Nya. “
Intinya, puasa itu merupakan ibadah yang bisa menyempumakan spiritualitas para hamba. Bentuk-bentuk pengekangan itu sendiri mengandung pelajaran yang amat mahal nilainya. Setahun dalam 12 bulan, Allah memberi anugerah satu bulan saja, agar hamba-hamba-Nya menjadi merdeka. Merdeka dari seluruh ikatan duniawi, dan fana ‘kepada Allah dalam lembah bulan suci ini.
Mereka yang yang sedang menjalani bulan puasa, hakikatnya menempuh jalan kemerdekaan yang sesungguhnya. Hanya saja ada tipikal manusia berpuasa, sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi ia tidak mampu menahan godaan hawa nafsunya. Ada juga yang mampu menahan dahaga, sekaligus menahan diri dhahir dan batinya dari segala yang diharamkan Allah. Puncaknya adalah mereka yang berpuasa, menahan diri dari godaan fisik dan batin, sekaligus fana’ dalam Allah. Yang terakhir inilah disebut sebagai puasa Khawasul Khawas. Puasa dari segala hal selain Allah. Hanya kepada Allahlah dirinya hadir, dan tak ada lain kecuali kehadiran Allah dalam jiwanya.
Menguak Rahasia Puasa Orang-orang Arif
Pentingnya Nilai Bulan Ramadhan
Satu perkara yang penting bagi pe-salik (kepada Allah SWT) adalah mengetahui hak dan nilai bulan Ramadhan, karena bulan puasa ini merupakan bulan undangan Allah SWT bagi mereka yang menitih jalan kepada-Nya. Bulan Ramadhan, merupakan tempat bertamu kepada Allah SWT, begitu juga makna yang tepat untuk orang berpuasa adalah tamu Allah SWT (dhiyafatullah), sekaligus sebagai bentuk usaha untuk mendapatkan keikhlasan dalam gerak dan diam, dengan dasar ridha kepada pemilik rumah, Allah SWT.
Nilai dan Faedah Lapar
(Wahai pencari maqam qarb-posisi dekat-) lapar bagi pesalik, keutamaannya adalah penyempurnaan jiwa (nafs) dan makrifah Allah SWT. Juga fadhailnya disebut dalam hadis begitu agung dan besar. Oleh karena itu kita mencari sebab, hikmat dan falsafahnya.
Diriwayatkan dari Rasulullah SAW, dimana beliau bersabda: ”Bukalah jiwa kamu menuju mujahidah dengan perantara lapar dan haus, karena tindakan ini sama dengan melaksanakan jihad dijalan Allah SWT, sebagaimana tidak ada amal yang lebih dicintai Allah SWT selain dari lapar dan haus.” Begitu juga dalam hadis lain bahwa: ”Dihari kiamat, posisi yang lebih dekat pada Allah SWT di antara kamu pada Allah SWT adalah mereka yang lebih banyak (menahan) lapar dan mereka yang banyak berpikir tantang Allah SWT.” Disabdakan pada Usamah: ”Kalau bisa, ketika malaikat maut hendak mengambil nyawamu, (adalah)ketika perutmu lapar dan tenggorokanmu haus, lakukanlah hal ini, karena perbuatan ini adalah posisi yang paling mulia. Kedudukan kamu yang dapat dibayangkan, adalah dekatnya posisi kamu dengan Rasul, para malaikat bersuka ria ketika ruh mu tiba serta Allah SWT mengucapkan salam dan salawat kepadamu.” Disabdakan juga: ”Laparkan perutmu dan keringkan badanmu, semoga Allah SWT akan melihat hatimu.” Dalam hadis mi’raj, Allah SWT berfirman kepada Rasulullah SAW : “Wahai Ahmad, apakah engkau mengetahui faedah dan hasil dari puasa?” Saya berkata: “Tidak wahai Ilahi.” Allah SWT berfirman: “Hasil dan faedah dari puasa adalah mengurangi makan dan bicara.” Kemudian Allah SWT menjelaskan hasil dari pada diam para pemikir dengan berfirman: “Diam mewariskan hikmat, dan hikmat mewariskan ma’rifat, dan ma’rifat mewariskan yakin, karena hamba sampai pada tingkatan yakin, tidak ada sisa lagi, untuknya tidak ada beda apakah kehidupannya susah atau mudah?! Ini adalah posisi shahib ridha. Bagi siapa yang beramal mencapai ridha Saya, maka tiga hasil yang akan pasti didapatkannya. Akan diajarkan kepadanya rasa syukur, sehingga tidak bercampur antara kejahilan dan kebodohan, zikir dan ingat tanpa ada kelupaan, kasih dan sayang akan diberikan kepadanya sehingga tidak akan didahulukan kasihnya kepada makhluk melebihi cintanya kepada Allah SWT karena Saya pemilik cinta, dan Saya akan mencintainya. Ciptaan Saya akan menuju pada kasihnya, mata dan hatinya selalu terpaku pada keagungan dan kemuliaan Diri-Ku, padanya ilmu sehingga kesumat hamba tidak tersembunyi.
Pada kegelapan malam dan terangnya siang Kami akan bermunajat sehingga hilang dan terputuslah bahaya makhluk yang ada bersamanya. Firman-Ku dan ucapan para malaikat akan sampai pada telinganya. Kebenaran dan rahasia-Ku yang tertutup atau tersembunyi dari semua makhluk akan jelas dan terang baginya.”
Kemudian difirmankan: “Akal dan idrak-nya akan tenggelam dalam pengetahuan marifat-Ku, dan Saya akan duduk di akalnya, kemudian kematian, tekanan, panas dan ketakutan akan menjadi ringan dan mudah, sehingga (dengan cepat dan selamat)akan masuk ke dalam surga.” Ketika malaikat maut turun kepadanya dan mengatakan: “Selamat padamu, berbahagialah!. Tuhanpun rindu padamu!” Sampai disitu disabdakan dan kemudian Allah SWT berfirman: “Ini adalah surga-Ku, tinggallah di situ, ini adalah lingkungan-Ku, tenanglah (dan tetaplah)! Maka ruh menjawab: “Wahai Sembahanku?! Engkau telah mengetahui aku, maka saya dengan-Mu tidak memerlukan semua makhluk. Demi Keagungan dan Kemuliaan-Mu aku bersumpah , kalau Engkau hendak memotong-motongku, dan hidup di antara hamba-MU dengan keadaan yang paling sengsara, dan tujuh puluh kali terbunuh, maka kesenangan dan ridha Engkau akan lebih aku cintai.” Hingga disini difirmankan, kemudian Allah SWT berfirman: “Demi Kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku bersumpah, di antara Aku dan engkau tidak ada batasan masapun yang akan menjadi hijab atau penutup, ketika engkau menghendaki dan menginginkan datanglah kepada-Ku, inilah apa yang Aku perbuat pada kekasih-Ku.”
Pada riwayat ini telah ditunjukkan dengan jelas hikmat dan falsafah lapar dan keutamaannya. Kalau kita ingin mengetahui lebih jauh dan jelas tentang keutamaan dan faedah dari pada lapar dalam puasa ini, maka lihatlah pada ulama akhlak yang akan membawakan riwayat yang ada. Karena mereka akan menjelaskan tentang keutamaan besar dari lapar, diantaranya adalah penyembuh hati, karena kenyang akan memperbanyak uap di otak, jiwa akan lambat beraktivitas dalam berpikir dan menentukan, terjadinya rasa berat sehingga akan membutakan hati. Dan rasa lapar adalah lawannya, lapar akan mengobati hati dan kecepatannya, hati akan terus beraktivitas berpikir yang berkelanjutan dengan makrifat, kemudian selalu siap untuk menerima cahaya (Ilahi), sebagaimana diriwayatkan oleh Rasulullah SAW : “Siapa yang membiarkan perutnya lapar, maka pikiran dan pemahamannya akan membesar.” Begitu banyak lagi faedah dari lapar.
Langganan:
Postingan (Atom)