Laman

Senin, 29 Mei 2017

41 keutamaan dan keuntungan dari bershalawat kepada Nabi Saw.

Menurut Ahmad bin ‘Ujaibah dalam Haqaa’iqul-Anwar, setidaknya ada 41 keutamaan dan keuntungan dari bershalawat kepada Nabi Saw.
1. Menaati perintah Allah untuk bershalawat.
2. Meneladani Allah dalam bershalawat.
3. Meneladani para malaikat Allah dalam bershalawat.
4. Memperoleh sepuluh shalawat dari Allah untuk satu kali bershalawat pada Nabi Saw.
5. Meninggikan sepuluh derajat.
6. Mendapatkan sepuluh kebaikan.
7. Menghaspus sepuluh keburukan.
8. Memudahkan terkabulnya do’a.
9. menjadi jaminan syafaat Nabi Saw.
10. Menjadi factor diampuninya dosa dan di tutupnya aib.
11. Menjadi sebab tercukupinya kepentingan hamba.
12. Menjadi perekat kedekatan kepada Nabi Saw.
13. Mengantarkan kepada maqam kejujuran.
14. Membantu pemenuhan kebutuhan.
15. Menjadi sebab curahan rahmat Allah dan permohonan do’a para malaikat.
16. Menyucikan pembacanya.
17. Pemberi kabar gembira tentang surga sebelum meninggal dunia.
18. Menyelamatkan dari masa-masa berat di akhirat.
19. Mendapatkan balasan shalawat dan salam dari Nabi Saw.
20. Memperkuat ingatan atau membuat ingat apa yang di lupakan pembacanya.
21. Mewangikan majelis atau memperindah pertemuan dan menghindarkan kita dari menyesal karena merugi pada hari kiamat.
22. Menghilangkan kefakiran.
23. Menghilangkan sifat kikir.
24. Menimbulkan kecintaan orang dan mengantarkan kepada dengan Rasul dalam mimpi.
25. Menjadi teman perjalanan menuju surga.
26. menyelamatkan dari derita kekurangan karena sepinya shalawat dalam suatu majelis.
27. Penyempurna pembicaraan setelah pujian kepada Allah Swt.
28. Menjadi sebab suksesnya hamba meniti shirat.
29. Membebaskan hamba dari mengentengkan shalawat nabi.
30. Menjadi sebab turunnya pujian baik dari Allah diantara langit dan bumi.
31. Meraih kasih sayang Allah.
32. Menjadi sumber keberkahan hidup.
33. Mengukuhkan keimanan dengan kian karibnya dengan Nabi Saw.
34. Meraih cinta Rasulullah dan menjadi kekasihnya.
35. Menjadi sumber hidayah dan menghidupkan hati.
36. Memperbaiki perangai pembacanya.
37. memperkukuh pijakan hidup dan memperkuat sikap optimis.
38. Menunaikan shalawat sebagai hak Nabi dan mensyukuri ke hadirannya sebagai nikmat terbesar bagi kita.
39. Mangandung dzikir kepada Allah, mensyukuri dan mengenal nikmat-Nya.
40. Shalawat Nabi merupakan do’a bagi kita dan di perintah oleh Allah Swt. Jadi, bershalawat meningkatkan kualitas penghambaan kita.
41. Terbentuknya pribadi luhur Nabi dalam diri. Inilah keuntung terbesar dan mulia.
Saudaraku, memang tidak sederhana menyelami ke agungan shalawat Nabi. Karena setiap kata dan huruf dalam shalawat yang kita ucapkan mengandung atmosfer ruhani yang sangat dahsyat. Kedahsyatan itu, tentu, karena posisi Nabi Muhammad Saw, sebagai hamba Allah, Nabi-Nya, Rasul-Nya, Kekasih-Nya dan Cahaya-Nya. Dan, semesta raya ini di ciptakan dari Cahaya Muhammad. Maka setiap detak huruf dalam shalawat pasti mengandung elemen metafisik yang luar biasa.
“Shalawat adalah cahaya penerang sanubari, kekuatan bagi hati, ketenangan bagi jiwa, kesejukan bagi mata, wangi kasturi bagi mejelis pertemuan, kenikmatan bagi hidup, zakat bagi umur, keindahan bagi hari-hari, dan merupakan penghilang kesedihan dan kesusahan.Shalawat bisa mendatangkan kebahagiaan, kelapangan dada, kesempurnaan nikmat dan keagungan cahaya”.

Pagar yang Berwibawa


Ada seorang wahabi dari kota Riyadh, pembenci nomor wahid terhadap alMaghfur lahu abuya sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani, diperintahkan oleh tokoh-tokoh wahabi lainnya untuk membunuh abuya. Dengan pikirannya yang licik, ia berpura-pura mengikuti pelajaran alMaghfur lahu Abuya di kediamaan beliau di Rushaifah.
Demi melaksanakan tugas jahatnya itu, dengan tanpa ragu si wahabi langsung mengabulkan permintaan tokoh-tokoh seniornya itu. Terlebih setelah ia di iming-imingi dengan harta yang amat banyak dan tidak ada batasnya, asal ia dapat menunaikan tugasnya itu dengan sempurna.
Subhanallah, kisah ini hamper sama dengan cerita Baginda Rosulullah Shollahu ‘alaihi wasallam dengan orang-orang quraisy saat beliau hijrah ke Madinah.
Akhirnya, pada hari yang ditentukan, ia mendatangi kota Mekkah. Dan diwaktu alMaghfur lahu membuka pintu rumahnya untuk taklim, ia takut masuk ke rumah beliau seperti jama’ah yang lain meski niatnya tidak sama. Dan, subhanallah. Begitu si wahabi memasuki kediaman abuya dan melihat pagar rumah beliau, tiba-tiba berubahlah niatnya itu. Yang tadinya ia dating dengan amarah dan wajah penuh kebencian, tentu ia sudah menyelipkan senjata tajam di dalam pakaiannya, tiba-tiba hatinya berbalik dua ratus derajat. Rasa marah dan benci yang membuncah pada dirinya tiba-tiba luntur entah kemana. Padahal, itu masih belum bertemu dengan alMaghfur lau.
Dan setelah bertemu dengan beliau, si wahabi itu berubah delapan ratus derajat. Tiba-tiba, ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk abuya. Ia berkata dengan sangat heran. “bagaimana orang-orang bias membenci dan memusuhi orang seperti ini? Seorang tokoh yang dihiasi dengan ilmu dan kesholehah dan ketaqwaan?” Akhirnya, si wahabai mengungkapkan penyesalan-nya yang mendalam seraya meminta maaf kepada beliau.

Siapakah hamba yang dekat dengan Tuhan


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“
Sungguh celaka orang yang tidak berilmu.
Sungguh celaka orang yang beramal tanpa ilmu
Sungguh celaka orang yang berilmu tetapi tidak beramal
Sungguh celaka orang yang berilmu dan beramal tetapi tidak menjadikannya muslim yang berakhlak baik atau muslim yang ihsan.
Urutannya adalah ilmu, amal, akhlak (ihsan)
Ilmu harus dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah ta’ala. Sebaliknya seorang ahli ilmu (ulama) yang mendapat hidayah (karunia hikmah) maka hubungannya dengan Allah Azza wa Jalla semakin dekat sehingga meraih maqom (derajat) disisiNya dan dibuktikan dengan dapat menyaksikanNya dengan hati (ain bashiroh).
Sebagaimana diperibahasakan oleh orang tua kita dahulu bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu dan beramal maka semakin tawadhu, rendah hati dan tidak sombong.
Para ulama tasawuf atau kaum sufi mengatakan bahwa hijab itu meliputi antara lain nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga hijab, terjebaknya orang dalam kenikmatan ladzatul ‘ibadah, sampai karomah juga bisa menjadi hijab, dll. Salah satu bentuk nafsu hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain tidak kelihatan, bagaimana dia bisa menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh).
Rasulullah bersabda: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” (Shahih, HR. Muslim no. 91 dari hadits Abdullah bin Mas’ud)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , “Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)
Dalam sebuah hadits qudsi , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , “Allah berfirman, Keagungan adalah sarungKu dan kesombongan adalah pakaianKu. Barangsiapa merebutnya (dari Aku) maka Aku menyiksanya”. (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemuliaan adalah sarung-Nya dan kesombongan adalah selendang-Nya. Barang siapa menentang-Ku, maka Aku akan mengadzabnya.” (HR Muslim)
Seorang lelaki bertanya pada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam “Musllim yang bagaimana yang paling baik?” “Ketika orang lain tidak (terancam) disakiti oleh tangan dan lisannya” Jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
Rasulullah shallallahu aliahi wasallam bersabda “Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya“. (HR. Ahmad)
Sayyidina Umar ra menasehatkan, “Jangan pernah tertipu oleh teriakan seseorang (dakwah bersuara / bernada keras). Tapi akuilah orang yang menyampaikan amanah dan tidak menyakiti orang lain dengan tangan dan lidahnya“
Sayyidina Umar ra juga menasehatkan “Orang yang tidak memiliki tiga perkara berikut, berarti imannya belum bermanfaat. Tiga perkara tersebut adalah santun ketika mengingatkan orang lain; wara yang menjauhkannya dari hal-hal yang haram / terlarang; dan akhlak mulia dalam bermasyarakat (bergaul)“.
Tujuan beragama adalah menjadi muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)
Firman Allah ta’ala yang artinya,
“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)
Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR Muslim 11)
Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28).

Makanan Roh


Roh -seperti tubuh-juga dapat berada dalam berbagai keadaan. Imam Ali kw berkata, ‘Sesungguhnya tubuh mengalami enam keadaan; sehat, sakit, mati, hidup, tidur, dan bangun. Demikian pula roh. Hidupnya adalah ilmunya, matinya adalah kebodohannya., sakitnya adalah keraguannya, dan sehatnya adalah keyakinannya, tidurnya adalah kelalaiannya, dan bangunnya ialah penjagaannya.’ (BiharAl-Anwar 61:40)
Seperti tubuh, roh pun memerlukan makanan. Mulla Shadra tidak menyebutnya makanan. Ia menyebutnya rezeki. Ia berkata, ‘Setiap yang hidup perlu rezeki, dan rezeki arwah adalah cahaya-cahaya ilahiah dan ilmu-ilmu rabbaniah.’ (Mafatih AI-Ghaib 545)
Untuk meningkatkan kualitas roh, supaya ia sehat dan kuat, kita perlu memberikan kepadanya cahaya-cahaya ilahiah dalam bentuk zikir, doa, dan ibadat-ibadat lainnya seperti salat, puasa, dan haji. Pada Bulan Ramadhan, kita berusaha menerangi roh kita dengan berbagai makanan rohani. Kita mandikan roh kita dengan proses pensucian batin, seperti istighfar, mengendalikan hawa nafsu, dan menjauhi kemaksiatan. Karena itu Nabi saw bersabda, ‘Bulan Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan atas kamu puasanya dan disunnahkan bagimu bangun malamnya. Barangsiapa yang berpuasa dan melakukan salat malamnya dengan iman dan ikhlas, Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu. (Dalam riwayat lain) la akan keluar dari dosa-dosanya seperti ketika ia keluar dari perut ibunya.’
Kita menghidupkan roh dengan ilmu-ilmu rabbaniah. Inilah yang kita maksud dengan dimensi intelektual dari keberagamaan kita. Ada ilmu-ilmu yang membantu kita untuk memelihara kesehatan tubuh kita seperti ilmu gizi, kedokteran, ekologi, dan sebagainya. Di samping itu, ada ilmu-ilmu yang menolong kita untuk menyehatkan roh kita: ilmu-ilmu tentang Al-Quran dan Sunnah (syariat), ilmu-ilmu tentang cara mendekatkan diri kita kepada Allah (thariqat), dan ilmu-ilmu berkenaan dengan pengalaman rohaniah (haqiqat).
Seperti tubuh, roh yang tidak diperhatikan dan dipelihara, roh yang kekurangan makanan akan menjadi roh yang lemah, sakit-sakitan, dan akan dikuasai setan. Roh yang sakit tampak dalam gejala-gejala seperti kegelisahan, keresahan, kebingungan, hidup yang tidak bermakna, hidup tanpa tujuan, kosongan eksistensial (existential vacuum). Pendeknya, roh yang sakit tampak dalam hidup yang tidak tentram. Al-Quran melukiskannya, ‘Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha 124); “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan diberikan kepadanya pet-unjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.’ (QS. Al-An’am 120).

Keindahan Roh


Seperti tubuh, arwah mempunyai rupa yang bermacam-macam: buruk atau indah; juga mempunyai bau yang berbeda: busuk atau harum. Rupa roh jauh lebih beragam dari rupa tubuh. Berkenaan dengan wajah lahiriah, kita dapat saja menyebut wajahnya mirip binatang, tapi pasti ia bukan binatang. Roh dapat betul-betul berupa binatang -babi atau kera. Tuhan berkata, ‘Katakanlah: apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk kedudukannya di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan penyembah Thagut? Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah 60)
Al-Ghazali menulis: ‘Al-Khuluq dan Al-Khalq kedua-duanya digunakan. Misalnya si Fulan mempunyai khuluq dan khalq yang indah -yakni indah lahir dan batin. Yang dimaksud dengan khalq adalah bentuk lahir, yang dimaksud dengan khuluq adalah bentuk batin. Karena manusia terdiri dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir dan roh yang mencerap dengan mata batin. Keduanya mempunyai rupa dan bentuk baik jelek maupun indah. Roh yang mencerap dengan mata batin memiliki kemampuan yang lebih besar dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir. Karena itulah Allah memuliakan roh dengan menisbahkan kepada diri-Nya. Ia bersabda, ‘Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, Aku menjadikan manusia dan’ tanah. Maka apabila telah kusempurna kan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya rohku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.’(QS. Shad 71-72). Allah menunjukkan bahwa jasad berasal dari tanah dan roh dari Tuhan semesta alam. (Ihya Ulum Al-Din, 3:58).
Khuluq -dalam bahasa Arab- berarti akhlak. Roh kita menjadi indah dengan akhlak yang baik dan menjadi buruk dengan akhlak yang buruk. Dalam teori akhlak dari Al-Ghazali, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, akan memiliki roh yang berbentuk babi; orang yang pendengki dan pendendam akan memiliki roh yang berbentuk binatang buas; orang yang selalu mencari dalih buat membenarkan kemaksiatannya akan mempunyai roh yang berbentuk setan (monster) dan seterusnya.
Ketika turun ke bumi, karena berasal dari Mahasuci, roh kita dalam keadaan suci. Ketika kita kembali kepadanya, roh kita datang dalam bentuk bermacam-macam. Ketika pohon pisang lahir ke dunia, ia lahir sebagai pohon pisang. Ketika mati, ia kembali sebagai pohon pisang lagi. Ketika manusia lahir, ia lahir sebagai manusia. Ketika mati, ia kembali kepada Tuhan dalam berbagai bentuk, tidak hanya dalam bentuk manusia saja. Ia dapat kembali dalam bentuk binatang, setan, atau cahaya.
Walhasil, untuk memperindah bentuk roh kita, kita harus melatihkan akhlak yang baik. Meningkatkan kualitas spiritual, berarti mernperindah akhlak kita. Kita menyimpulkan prinsip ini dalam doa ketika bercermin. “Allahumma kama ahsanta khalqi fa hassin khuluqi.’ (Ya Allah, sebagaimana Engkau indahkan tubuhku, indahkan juga akhlakku).

Minggu, 28 Mei 2017

KAJIAN KITAB RISALATU ADABI SULUKIL MURID Bagian XIX


Karya : Al Habib Abdullah Alwi Al Haddad
وَاعلَم أَنَّ الشَيخَ الكَامِلَ هُوَ الذِّي يُفِيدُهُ بِهِمَّتِهِ وَفِعلهِ وَقَولِهِ وَيحَفَظُهُ في حُضورِهِ وَغَيبَتِهِ وَإِن كانَ المُريدُ بَعيداً عَن شَيخِهِ مِن حَيثُ المَكانُ، فَليَطلُب مِنهُ إِشارَةً كُلِّيَةً فِيما يَأتي مِن أَمرِهِ وَيترُكُ.
Ketahuilah bahwa Syaikh yang kamil ialah seorang Syaikh yang selalu memberi faedah pada muridnya, dengan penuh kesungguhan dalam perbuatannya dan perkataannya.
Dia memelihara muridnya sewaktu berada dihadapannya, dan juga dimasa murid berada jauh daripadanya.
Sekiranya sang murid jauh dari tempat Syaikh berada, maka Sang murid hendaklah mencari darinya isyarat-isyarat yang menyeluruh tentang hal apa saja yang akan dikerjakan si murid maupun yang ditinggalkannya.
وَأَضرُّ شَيءٌ عَلى المُريدِ تَغَيُّرِ قَلبَ شَيخِهِ عَليهِ وَلَو اجتَمعَ علَى إصلاحِهِ بَعدَ ذَلِكَ مَشايخُ المَشرِقِ وَالمَغرِبِ لمَ يَستَطيعُوهُ إِلاَّ أَن يَرضَى عَنهُ شَيخُهُ.
Adapun perkara yang sangat membahayakan sang Murid, apabila hati sang Syaikh berubah, dan tidak memandang padanya. Dalam hal ini bila dikumpulkan seluruh Syaikh-Syaikh yang lain dari timur sampai ke barat untuk memperbaikinya, Niscaya akan sia-sia dan tidak akan berhasil, kecuali sang syekh sendiri yg meridloinya.
وَاعلَم أَنَّهُ يَنبَغي لِلمُريدِ الذَّي يَطُلبُ شَيخاً أَن لا يُحَكِّمَ في نَفسِهِ كُلَّ مَن يُذكَرُ بِالمَشيَخَةِ وَتَسلِيكِ المُريدينَ حَتَّى يَعرِفَ أَهلِيَّتَهُ وَيَجتمِعَ عَليهِ قَلبُهُ،
وَكذَلِكَ لا يَنبَغي للِشَيخِ إِذا جاءَ المُريدُ يَطلُبُ الطَّرِيقَ أَن يَسمَحَ لَهُ بِها مِن قَبلِ أَن يَختَبِر صِدقَهُ في طَلَبِهِ، وَشِدَّةِ تَعَطُّشِهِ إِلى مَن يَدُلُّهُ علَى رَبِّهِ.
Ketahuilah bahwa sebaiknya sang murid yang sedang mencari Syaikh sejati untuk menuntut ilmu padanya, Tidak boleh mengambil sembarang orang yang dapat diakui sebagai Syaikh, yang boleh memimpin murid-murid ke jalan Allah Ta'ala, dan menjadi Syaikhnya, sehingga ia harus menyelidiki terlebih dahulu, dan ia kenal benar-benar keahlian Syaikh tersebut, dan hatinya menerima orang itu sebagai Syaikhnya.
Demikian sebaliknya seorang Syaikh tidak boleh menerima sembarang murid yang datang padanya minta dituntun ke jalan Allah, sebelum ia menguji kesungguhan si murid untuk menunjukkan keinginannya yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan seorang pemimpin yang akan menunjukkan ke jalan Tuhannya.
وَهذَا كُلُّهُ في شَيخِ التَّحكِيمِ، وَقَد شَرَطُوا عَلى المُريدِ أَن يَكونَ مَعهُ كَالَمِّيتِ بَينَ يَدَيِّ الغَاسِلِ وَكالطِّفلِ مَعَ أُمَّهِ، وَلا يَجرِي هَذا في شَيخِ التَّبَرُّكِ، وَمَهمَا كَانَ قَصدُ المُريدِ التَّبَرُّكَ دُونَ التَّحكِيمِ فَكُلَّما أَكثَرَ مِن لِقاءِ المَشايِخِ وَزِيارَتِهم وَالتَّبرُّكَ بِهم كَان أَحسَنَ.
Syarat-syarat ini harus berlaku bagi murid-murid yang akan menuntut ilmu kepada Syaikh Tahkim (Syaikh yang dalam tangannya terserah segala putusan).
Murid yang menuntut ilmu pada Syaikh Tahkim ini, harus menganggap dirinya seperti mayat yang sedang dibersihkan oleh tangan-tangan yang memandikannya, atau laksana seorang bayi yang berada dalam pemeliharaan ibunya
, syarat-syarat serupa ini tidak berlaku pada Syaikh Tabarruk (Syaikh yang biasa dimohon keberkatan daripada-nya).
Apabila seorang murid bermaksud untuk mendapat­kan keberkatan seorang Syaikh, bukan tahkim-nya, maka diperbolehkan menemui sebanyak mungkin Syaikh dan menziarahi mereka adalah lebih baik dan utama untuk memperoleh barokah itu.
وَإذا لَم يَجِدِ المُريدُ شَيخاً فَعَليهِ بِمُلازَمَةِ الجِدِّ وَالاجتِهادِ مَعَ كَمالِ الصِّدقِ في الاِلتِجاءِ إِلى الله وَالاِفتِقارِ إِليهِ في أَن يُقَيِّضَ لَهُ مَنْ يُرشِدُهُ، فَسَوفَ يُجِيبُهُ مَن يُجِيبُ المُضطَرَّ، وَيَسُوقُ إِليهِ مَن يَأخُذُ بِيَدِهِ مِن عِبادِهِ.
Apabila murid belum menda­patkan Syaikh, maka dia harus dengan tekun dan rajin menunjukkan harapan dan keperluannya kepada Allah SWT, dengan kebenaran yang sempurna agar Dia menunjukkan kepada seorang pemimpin yang boleh memimpinnya kejalan Allah SWT.
Jika ia bersungguh akan keinginannya pasti Allah akan mengabulkan permohonannya. Sebagaimana Allah akan mengabulkan permohonan orang-orang yang terdesak (dipaksa oleh keadaan), niscaya Allah akan memimpin dan mendorong pada salah seorang diantara hamba-hamba-Nya.
وَقَد يَحسِبُ بَعضُ المُريدينَ أَنَّهُ لا شَيخَ لَهُ فَتَجِدَهُ يَطلُبُ الشَّيخَ وَلَهُ شَيخٌ لَم يَرَهُ، يُرَبِّيهِ بِنَظَرِهِ وَيُرَاعيهِ بِعَينِ عِنايَتِهِ وَهُوَ لا يَشعُرُ، وَعِندَ التَناصُفِ مَا ذَهبَ إِلاَّ الصِّدقُ، وَإِلاَّ فَالمَشايِخُ المُحَقِّقُونَ مَوجُودونَ،
وَلكِن سُبحانَ مَن لَم يَجعلِ الدَّلِيلَ عَلى أَولِيَائِه إِلاَّ مِن حَيثُ الدَّليِلُ عَليهِ وَلمَ يُوصِل إِليهِم إِلاَّ مَن أَرادَ أَن يُوصِلَهُ إِليهِ.
Setengah murid menyangka dirinya tiada mempunyai Syaikh, dan sepanjang masa ia berusaha mencari Syaikh, padahal Allah telah mentakdirkan seorang Syaikh untuknya. Sedang ia tidak pernah melihat Syaikh tersebut.
Syaikh tersebut memelihara murid-murid dengan pandangan bathinnya, dan menjaga dengan penuh perhatian sedang si murid tidak merasakan semua sama sekali.
Jika murid yang mengatakan tidak ada Syaikh pada jamannya, sebenarnya ia keliru. Atau mungkin Syaikh itu tidak benar. Dan pada hakekatnya Syaikh-Syaikh agung memang banyak sekali, akan tetapi maha suci Allah yang tidak menunjukkan bukti kepada para Auliya'Nya kecuali menjadikan bukti untuk mengenal Zatnya dan Allah tidak akan menunjukkan seorang murid pada Auliya'Nya kecuali kepada orang yang Allah kehendaki untuk dipertemukan kepadanya .
Wallohu a'lam.

Relaksasi


Saat ini, Hamdun sedang duduk di hadapanmu. Bayangkanlah senyumannya. Sosok lelaki tua, berusia 72 tahun, bertubuh agak kurus dan tinggi sekitar 168 sentimeter, berkumis dan berjenggot yang semuanya telah beruban dan panjangnya hingga di atas dada, berjubah putih. Wajahnya bercahaya. Duduk di hadapanmu. Sambil tersenyum. Dia ingin berdialog denganmu. Dan, dia mulai berbicara kepadamu. Silakan kamu menjawab dengan jujur dan turutilah, atau abaikan saja dia.
Hamdun: “Sudahkah kamu berzikir hari ini?”
Pembaca: …
Hamdun: “Baiklah. Zikir apa yang paling kamu senangi?”
Pembaca: …
Hamdun: “Sebutkan kepadaku sekali lagi zikir pendek yang paling kamu senangi.”
Pembaca: …
Hamdun: “Cobalah tenangkan pikiranmu, lemaskan tubuhmu dan ucapkan kembali zikir itu dengan perlahan, dengan bersuara, jangan hanya di dalam hati, ucapkan dengan perlahan, dengan bersuara...”
Pembaca: …
Hamdun: “Apakah kamu tahu arti dari zikir yang kamu baca?”
Pembaca: …
Hamdun: “Cobalah kamu tenangkan lagi pikiranmu, semakin lemaslah tubuhmu dan ucapkan kembali zikir itu dengan perlahan, dengan perlahan, dengan perlahan, ulangi terus, ulangi terus, jangan berhenti…”
Pembaca: …
Hamdun: “Bayangkan saat ini kamu berada dalam sebuah lingkaran jamaah yang sedang berzikir seperti yang kamu zikirkan.”
Pembaca:
Hamdun: “Dengarkan jamaah yang berzikir bersama-sama denganmu, dengan perlahan, dengan perlahan, dan terus menerus, dengan bersuara.”
Pembaca:
Hamdun: “Dengarkan dengung suara-suara jamaah zikir itu dan dengarkan pula suara yang kamu zikirkan, semakin cepat, semakin cepat, berirama, berirama, semakin cepat...”
Pembaca:
Hamdun: “Ikuti irama zikir bersama jamaah zikir itu, bersama-sama, bersatu dalam irama, semakin cepat, rasakan detak jantungmu yang ikut berzikir, rasakan, rasakan, biarkan detak jantungmu ikut berzikir…”
Pembaca:
Hamdun: “Semakin cepat lagi, gerakkan tubuhmu ke kiri dan ke kanan, begitu juga dengan kepalamu, ke kiri dan ke kanan, mengikuti zikir dan dengung suara jamaah zikir, gerakkan perlahan, ikuti irama zikir.”
Pembaca:
Hamdun: “Rasakanlah bulu, kulit, urat, darah, daging, tulang dan sumsummu ikut berzikir, terus berzikir, terus berzikir, jangan berhenti, jika airmatamu mengalir, biarkanlah ia mengalir, karena kamu mencintai zikir itu, jamaah zikir juga mencintai zikir itu, dan Allah juga mencintai zikir itu, teruslah berzikir, gerakkan badanmu, dengarkan detak jantungmu yang ikut berzikir, rasakan bulu, kulit, urat, darah, daging, tulang dan sumsummu ikut berzikir, terus berzikir, terus berzikir…”
Pembaca:
Hamdun: “Rasakanlah cintamu kepada Allah itu sungguh-sungguh, lebih dari kamu mencintai yang lain, kamu lebih cinta kepada Allah, lebih daripada mencintai yang lain, rasakan perasaan cinta Allah pada dirimu, rasakan detak jantungmu menzikirkan asma-Nya, rasakan bulu, kulit, urat, darah, daging, tulang dan sumsum ikut berzikir, terus berzikir, terus berzikir, terus berzikir, …”
Pembaca:
Hamdun: “Rasakanlah bahwa Allah itu begitu dekat, sangat-sangat dekat, sangat-sangat dekat, mendengarkan asma-Nya dizikirkan, di tengah-tengah lingkaran jamaah zikir, terus berzikir, teruslah berzikir, jangan berhenti, dengarkan dengung-dengung suara itu melekat di pendengaranmu, dengarkan dan jangan sampai dengung itu menghilang, teruslah lekatkan zikir yang berdengung itu, rasakanlah kehadiran Allah, yang sangat-sangat dekat, yang sangat-sangat dekat, yang sangat-sangat dekat…”
Pembaca:
Hamdun: “Katakan dalam hatimu: Ya Allah Ya Hayyu Ya Qoyyum, tumbuhkanlah rasa cinta yang besar dalam hatiku, tumbuhkanlah rasa cinta yang besar kepada-Mu, hanya kepada-Mu, hanya kepada-Mu, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang ingat kepada-Mu, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang sedikit di antara umat Muhammad saw, yang berjalan menuju cinta-Mu di dunia hingga di akhirat…”
Pembaca:
Hamdun: “Teruslah dengarkan dengung zikir itu dalam pendengaranmu, dengarkan dengung jamaah zikir, melekat dalam pendengaranmu, tidak akan pernah lenyap, tidak akan pernah lenyap, tidak akan pernah lenyap dengung zikir itu, teruslah berzikir, teruslah berirama, teruslah bersuara, teruskanlah…”
Pembaca:
Hamdun: “Sekarang zikirkan dengan perlahan, zikirkan dengan perlahan seperti dengung suara jamaah zikir itu, dengarkan dan lekatkan, ikuti irama zikir itu dengan perlahan, perlahan, perlahan…”
Pembaca:
Hamdun: “Sekarang, berhentilah berzikir dan diamlah sejenak, dengarkan dengung suara zikir itu yang melekat di pendengaranmu, dengarkan detak jantungmu yang masih berzikir, terus dengarkan dengung zikir itu, terus dengarkan, jangan berhenti mendengarkan, teruslah dengarkan dengung itu melekat dalam pendengaranmu,…”
Pembaca:
Hamdun: “Tariklah nafasmu perlahan, tahan nafasmu dalam tiga hitungan, telanlah sedikit nafasmu itu sampai terdengar bunyi di tenggorokanmu, kemudian bayangkan hembusan nafas yang putih itu masuk melalui ubun-ubunmu, menyelimuti kepalamu, badanmu, kedua tanganmu, sampai ujung kedua kakimu dan berakhir pula hembusan itu, bayangkan kau diselimuti cahaya yang benderang, bayangkan tubuhmu tak lagi kelihatan, hanya cahaya, hanya cahaya yang bersinar terang, tiada lagi dirimu, tiada lagi tubuhmu, tiada lagi kamu, hanya cahaya berkilauan, hanya cahaya berkilauan, hanya cahaya berkilauan, hanya cahaya berkilauan, tubuhmu sudah tiada lagi, jamaah zikir sudah tiada lagi, ruang sudah tiada lagi, hanya cahaya berkilauan, hanya cahaya, hanya cahaya, hanya cahaya, hanya cahaya, hanya cahaya, hanya cahaya berkilauan, hanya cahaya berkilauan, hanya cahaya, hanya cahaya, hanya cahaya, hanya cahaya yang bersinar benderang...”
Pembaca:
Hamdun: "Katakan: Laa maujuda illallaaahhhhhhhhh …. Laa maujuda illallaaahhhhhhhhh …. Laa maujuda illallaaahhhhhhhhh …