Laman

Minggu, 16 Juli 2017

TENTANG PRINSIP HIDUP MANUSIA.


Sebagai muslim harus (HABLUMMINALLAH) yaitu harus senantiasa terjalin dgn baik,
Karena setiap manusia yg terlahir di dunia sudah berjanji kepada Allah SWT untuk slalu tunduk dan patuh kepada-Nya dgn segenap aturannya,
Janji ini di laksanakan oleh manusia tatkala ia berada dlm RUH..

ALLAH Berfirman:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak" Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman),
Bukankah Aku ini Tuhan kalian..
Mereka menjawab :
Betul (Engkau Tuhan kami),
kami menjadi saksi..
(Kami lakukan yg demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah org" yg lengah terhadap ini (kekuasaan Tuhan), (QS AL A'RAF 172)..
ALLAH SWT menceritakan bahwa Dia telah mengeluarkan keturunan Bani Adam dari sulbi mereka utk mengadakan persaksian atas diri mereka bahwa Allah adalah Tuhan dan Pemilik mereka, dan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia..
Sebagaimana ALLAH SWT
menjadikan hal tersebut di dlm fitrah dan pembawaan mereka, seperti yg disebutkan oleh
ALLAH SWT melalui firman-Nya :
Maka hadapkanlah wajahmu dgn lurus kepada agama (Allah),
(tetaplah atas) fitrah Allah yg telah menciptakan manusia menurut fitrah itu..
Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.QS (RAL RUM: 30)..
Dari Abu Hurairah bahwasanya
Rasulullah bersabda :
Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah lalu kedua org tuanyalah yg menjadikannya sebagai seorang YAHUDI, NASRANI dan MAJUSI (penyembah api)..
Apabila kedua org tuanya muslim, maka anaknya pun akan menjadi muslim..
Setiap bayi yang dilahirkan dipukul oleh syetan pada kedua pinggangnya, kecuali Maryam dan anaknya (Isa). HR Muslim (No : 4807)..
Tunduk dan kepatuhan kepada Nya meliputi seluruh aspek kehidupan yaitu : Jasmani, Rohani, Dunia, Akhirat..
.
Begitu juga kepatuhan manusia meliputi 4 bidang hubungan Yaitu :
1. Hamblum Minallah..
2. Hablum Minannas..
3. Hablum Minal 'alam..
4. Hablum Binnafsihi..
Penyerahan total seorang hamba kepada Allah yg di buktikan dgn tingkah laku, budi pekerti dan tindakan nyata harus di jadikan PRINSIP HIDUP agar yg di jalaninya mendapatkan kebahagiaa dunia dan Akhirat
ALLAH berfirman :
Dan org" yg bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dlm surga berombong"an (pula)..
Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu, sedangkan pintu"nya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga"nya..
Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu,
Maka masukilah surga ini, sedangkan kamu kekal di dalamnya. (QS SL ZUMAT 73)..
ALLAH berfirman :
Dan diantara mereka ada yg berdoa :
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Al-Baqarah : 201)..
.
"Innafa'afidz-dzikraa" - Semoga bermanfaat..
Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin..

Rabu, 12 Juli 2017

PENGLIHATAN GURU MURSYID


Pada Tawasul ke-7 terdapat kata "wa min qoofin ilaa qoof...". Qoof disana bukan huruf qof yang ada pada huruf hijaiyyah. Tetapi nama sebuah tempat yang dihuni oleh manusia seperti kita. Jadi Guru Musryid kita dengan kasih sayangnya tidak hanya mendo'akan manusia yang ada dimuka bumi atau di kolong langit saja. Bagaimana sejarahnya bisa ada manusia di gunung Qof tersebut? Pada saat Nabi Muhammad Saw. Mi'raj beliau melihat di gunung Qof sebuah kota yang hanya dihuni oleh manusia dan sangat ramai sekali. penduduk yang berada di sana kemudian mengucapkan syukur alhamdulillah karena dipertemukan dengan Nabi Muhammad Saw. Kemudian Nabi bertanya: Darimanakah asal muasal kalian semua? Maka orang-orang itu menjawab : Kami adalah keturunan Bani Isroil. Setelah Nabi Musa as. wafat, maka terjadilah perebutan kekuasaan hingga menyebabkan terbunuhnya 43 nabi. Lalu kami keluar dari kota itu dan sampailah kami disini. Semoga hal ini menjadika kita lebih yakin akan kemurahan dan kasih sayang Guru Mursyid kita.
Selanjutnya, menurut Imam al-Ghazali seorang murid yang sedang belajar dzikir terdiri dari 4 tingkatan :
Lisannya saja yang berdzikir; tetapi hatinya tidak, dzikirnya tidak masuk ke dalam hati.
Lisannya berdzikir dan dia berusaha dengan keras supaya dzikir tersebut masuk ke dalam hati.
Lisan dan hatinya berdzikir secara bersamaan. Hal ini bisa terjadi dari hasil riyadhoh (latihan). Hakikat riyadhoh menurut Imam al-Ghazali adalah Mengosongkan hati dari urusan dunia.
Dzikirnya membuat dia tenggelam kedalam hati dan ruh.
Seperti kata Syekh Abdul Qodir al-Jailani : Aku tenggelam dalam lautan ilmu dan lautan musyahadah.
Dzikir lisan saja tanpa dibarengi dengan dzikir hati lebih baik dari pada orang yang tidak berdzikir sama sekali. Oleh karena itu amalkanlah TQN ini dengan sungguh-sungguh. Semua guru yang ada pada silsilah ini akan hadir kepada seorang murid yang selalu patuh dan taat serta melaksanakan semua perintah dari guru Mursyidnya. Seorang Mursyid melihat dengan Nur Allah sehingga semuanya terlihat jelas dan tidak terhalang apapun. Matahari bisa menerangi bumi tetapi bisa terhalang cahayanya hanya karena ada tembok. Sedangkan ma'rifat seperti jutaan matahari. Kalimat terbaik dari yang terbaik adalah Laa Ilaha Ilallah. Sehingga manusia yang mengetahui hakikat kalimat tersebut adalah yang terbaik di antara manusia. Semua amal shaleh tanpa Laa Ilaha Ilallah tidak akan sampai kepada Allah. Karena itu kita patut bersyukur bisa bertemu dengan pangersa .Hadrotusyeikh Maulana Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul al-Qodiri an-Naqsyabandi al-Muttaqi al-Kamil al-Muwaffaq Ra Qs

Riwayat Mengenal Dzikir Khofi


Ketika Nabi Muhammad S.A.W. dan Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a. bersembunyi di Gua Hiro, kaum Quraisy yang Kafir, memburu Nabi ke gua itu, dan mereka mencari berada di mulut gua itu.Sayyidina Abu Bakar sangat bimbang, khawatir mereka mengetahui bahwa Nabi S.A.W. berada di situ.
Kemudian Nabi S.A.W. bersabda. sebagaimana termaktub dalam Surat At-Taubah ayat 40 :"Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita" (QS.9 At-Taubah : 40).
Sayyidina Abu Bakar berkata :"Ya Rasulullah, mohon anda memberi petunjuk, agar hati hamba tenteram jangan merasa bimbang seperti sekarang". Sabda Nabi S.A.W: "Ucapkan olehmu Asma Allah". "Bagaimana caranya mengucapkan kalimah itu dan dimana menempatkannya, ya Rasulullah" kata Sayyidina Abu Bakar.
"Harus ingat kamu kepada Tuhanmu di dalam hati dengan merendah. merasa malu dan takut, tidak usah dengan ucapan yang keras (tidak dilisankan), cukup dengan getarnya hati, detaknya jantung. Cara berdzikir seperti itu harus dari pagi sampai petang serta ingat terus jangan ada lupanya", sabda Nabi S.A.W. "Bagaimana kalau lupa ya Rasulullah?" tanya Sayyidina Abu Bakar.
"Harus ingat kamu kepada Allah. Dimana lupa usahakan untuk ingat lagi", sabda Nabi S.A.W.
Jadi kalau diumpamakan, seperti jam (arloji putar). Apabila berhenti putar lagi.
Setelah Sayyidlna Abu Bakar dapat ijazah dan Nabi Muhammad S.A.W. hatinya merasa tenteram, tidak bimbang dan takut melihat rombongan kaum kafir yang akan membunuh Nabi S.A.W. sebagaimana Firman Allah (Q S. Al-Fath ayat 26) :"Lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya.” (QS 46 Al-Fath : 26)
Semua itu adalah asal-usul adanya Thoreqat Naqsyabandiyyah.
Setelah Sayyidina Abu Bakar diberi wirid itu dari Rasulullah S.A.W. beliau sangat takut kepada Allah sampai para Sahabat menerangkan : "Apabila kita mendekati Sayyidina Abu Bakar, tercium dari mulutnya seperti telah memakan goreng hati domba, dan terdengar dari hatinya seperti suara mendidihnya minyak kelapa dalam penggorengan."Keterangan seperti itu dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tabrani yang berbunyi "Tidak semata-mata Allah SWT. mengucurkan suatu rahasia ke dalam dadaku, akan tetapi aku juga mengucurkan rahasia itu ke dalam dada Sayyidina Abu Bakar"Yang dimaksud dengan rahasia ialah Dzikir Khofi.
Rasulullah S.A.W. bersabda kepada para Sahabat :"Apabila ditimbang iman Abu Bakar dengan iman jin dan manusia. selain para Nabi dan Mursalin. tenlu akan lebih berat imannya Abu Bakar.”
"Apa sebabnya Sayyidina Abu Bakar sedemikian tinggi imannya melebihi para Sahabat yang lain, ya Rasulullah, padahal shalatnya, puasanya dan sedekahnya sama……..?" tanya para Sahabat.
Sabda Rasulullah S.A.W. "Kamu sekalian tidak akan mengungguli Abu Bakar dalam hal banyaknya sholat, puasanya dan sidqohnya, akan tetapi keunggulan dari Abu Bakar adalah karena dalam dirinya ada satu rahasia, yang tetap tinggal dalam qalbunya".
Setelah Sayyidina Abu Bakar Siddiq diberi ijazah oleh Nabi Muhammad S.A.W. amalan tersebut menjadi termasyur pada masa itu, sehingga wirid itu disebut Siddiqiyyah, didasarkan pada nama Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a.
Perlu diketahui, sebenarnya sebutan silsilah itu berbeda-beda karena berbeda-beda masanya.
Dimulai dari masa Sayyidina Abu Bakar sampai kepada Syekh Thoofur bin Isa Abi Yazid aI-Busthami, dinamai Thoreqat Siddiqiyyah. Dan mulai Syekh Thoofur sampai kepada Syekh Muhammad Bahauddin Husaeni al-Uwesi al-Bukhori, dinamai Khowajikaniyyah.
Dari mulai Syekh Bahauddin sampai kepada Syekh Abdullah Al-Ahrori dinamai Thoreqat Naqsyabandiyyah.
Arti dari Naqsyabandi itu berasal dari kalimat Naqsun-bandun yang artinya mencapkan stempel. Jelasnya Menerapkan cap/stempel yang abadi yang tidak bisa dilebur/dihapus oleh apa-apa, adapun hapusnya oleh Lupa/Ghoflah.
Menurut riwayat, ketika Syekh Bahauddin Naqsyabandi sedang berdzikir kepada Allah, dalam hatinya sampai jelas terlihat lahirnya lafadz Jalallah tembus ke dalam dadanya. Maka dari sejak itu sampai sekarang, disebut Thoreqat Naqsyabandiyyah.

Tujuan Talqin dan Bai'at


Muhammad SAW. bersabda : "Talqinkanlah oleh kamu orang-orang yang akan mati dengan kalimat Laa Ilaaha Illalaah". Maksud yang akan mati disini ialah kita orang-orang yang masih hidup yang hatinya belum mampu berdzikir/mengingat Allah, maka segera ditalqinkan/tanyakan kepada Ahlinya/Guru Mursyid.
Hadist tersebut menunjukkan betapa pentingnya "Talqin Dzikir" harus mulai dari sekarang supaya hati kita selalu hidup dan mampu mengingat Allah, baik dalam keadaaan sehat maupun pada waktu akan lepasnya nyawa yang kita cintai.
Jadi talqin dzikir itu bukan hanya penting pada sakaratul maut saja. Karena jika hanya mengandalkan pada waktu akhir hayat, belum tentu dia mampu mengucapkan dzikrullah, karena bukanlah lisan yang bicara semata tetapi harus disertai hati dengan keimanannya.
"Talqin", asal kata dari laqqana, yulaqqinu, talqiinan, artinya "Menuntun, atau tuntunan". Dan merupakan peringatan/tuntunan guru kepada muridnya yang harus diikuti dengan seksama.
Dengan ditalqin dzikir kita akan dapat tuntunan/peringatan. Dengan dasar Firman Allh swt. :
Artinya : Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya perinagatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Adz-Dzariyyah : 55).
Manusia pertama yang menerima talqin dzikir ialah Nabi Adam a.s. Sebagaimana digariskan dalam Al-Qur'an :
Artinya : "Kemudian Adam ditalqin/diilhami beberapa kalimat oleh Tuhannya, lalu Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha menerima toubat dan Penyayang". (QS. Al-Baqarah :37).
Ilham itu kalimat Thayyibah Laa Ilaaha Illallaah yang diajarkan kepada Nabi Adam a.s. dipatuhinya. Sedangkan Nabi Muhammad saw. menerima talqin dzikir di Gua Hira', sesuai dengan wahyu pertama surat Al-Alaq ayat 1-2 sebagai berikut :
Artinya : "Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan! Yang menciptakan manusia dari segumpal darah". (QS. Al-Alaq :1-2).
Diikrarkan dengan lisan, kemudian hati membenarkan dengan tawajjuh (menghadapkan) diri kita ke hadirat Ilahi Rabbi.
Maksud dan rencana itu tidak akan berhasil, manakala umat manusia tidak ditauhidkan, disatukan hati dan jiwanya dalam satu aqidah yang pantas dan berhak, tidak boleh ada tandingannya, apa dan siapapun yaitu Allah swt. Allah memutuskan dan menetapkan, bahwa hanya Dia sendiri Zat yang harus di-ibadati, dimitoskan dan dikultuskan, tanpa ada tandingan apa atau siapapun. Dengan riset dan observasi yang cermat, teliti, bahwa Dzat Maha Akbar itu adalah Allah sendiri, sebagai Malikal Mulki dan sebagai Rabbu Ma'bud, dimana mendengar dan mentaati-Nya adalah mutlak.
Talqin itu peringatan guru kepada murid, sedang bai,at- yang juga dinamakan 'ahad, adalah sanggup dan setia murid dihadapan gurunya untuk mengamalkan dan mengerjakan segala kebajikan yang diprintahkannya.
Banyak hadist yang menerangkan kejadi Nabi mengambil 'ahad pada waktu membai'at sahabat-sahabatnya. Diriwayatkan oleh Ahmad r.a. dan Tabrani r.a. bahwa Rosullullah SAW. penah mentalqinkan sahabat-sahabatnya secara berombongan dan perseorangan.
Talqin berombongan pernah diceritakan oleh Syaddad bin "Aus r.a. : "Pada suatu ketika kami berada dekat Nabi SAW. Nabi SAW. bersabda" : Apakah ada diantaramu orang asing? maka jawab saya, tidak ada". Lalu Rosulullah SAW. menyuruh menutup pintu dan berkata : "Angkat tanganmu dan ucapkanlah Laa Ilaaha Illallaah, seterusnya beliau berkata : "Segala puji bagi Allah wahai Tuhanku, Engkau telah mengutus aku dengan kalimat ini dan Engkau menjadikan dengan ucapannya kurnia syurga kepadaku dan bahwa Engkau tidak sekali-kali menyalahi janji". Kemudian beliau berkata pula : "Belumkah aku memberi kabar gembira kepadamu bahwa Allah telah mengampuni bagimu semua?".
Maka Rosulullah SAW, bersabda :
"Tidaklah ada segolongan manusiapun yang berkumpul dan melakukan dzikir dengan tidak ada niat lain melainkan untuk Tuhan semata, kecuali akan datang suara dari langit. Bangkitlah kamu semua, kamu sudah diampuni segala dosamu dan sudah ditukar kejahatannya yang lampau dengan kebajikan".
Oleh karena itu Allah berfirman:
Artinya : " Maka bergembiralah kami dengan bai'atmu yang telah kamu lakukan itu adalah kejayaan yang agung". QS. At-Taubah : 111).
Tentang bai'at perseorangan pernah diceritakan oleh Yusuf Al-Kurani r.r. dan teman-temannya dengan sanad yang syah : "Bahwa syaidina "Ali k.w. bertanya kepada nabi : "Ya Rosulullah tunjukilah aku jalan yang sependek-pendeknya kepada Allah dan yang semudah-mudahnya dan yang paling utama dapat ditempuh oleh hambaNya pada sisi Allah?. Maka bersabdalah Rosulullah : "Hendaknya kamu lakukan dzikrullah yang kekal (dzikir dawam) dan ucapan yang paling utama pernah kulakukan dan dilakukan oleh Nabi-nabi sebelum aku, yaitu Laa Ilaaha Illallaah. Jika ditmbang tujuh petaka langit dan bumi dalam satu daun timbangan, dan kalimat Laa Ilaaha Illallaah dalam satu timbangan yang lainnya, maka akan lebih berat kalimat Laa Ilaaha Illallah dalam daun timbangan yang lain".
Kemudian ia berkata : " Wahai 'Ali, tidak akan datang kiamat jika di atas muka bumi ini masi ada orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. Syaidina 'Ali berkata : " Bagaimana caranya aku berdzikir itu ya Rosullallah?. Nabi menjawab : " Pejamkan kedua matumu dan dengankan aku mengucapkan tiga kali, kemudia engkau mengucapkan tiga kali pula, sedangkan aku mendengarkannya. Maka berkatalah Rosullullah Laa Ilaaha Illallaah tiga kali, sedangkan kedua mataku dipejamkan, dan suaranya dikeraskan, serta 'Ali mendengarkannya. Kemudian 'Ali mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah tiga kali, dan Nabi mendengarkannya.
Demikian cara talqin dzikir yang disampaikan oleh 'Ali bin Abi Thalib k.w. yang kemudian diterangkan, bahwa talqin dzikir hati yang bersifat bathiniyah, dilakukan dengan isbat tidak dengan nafi, yaitu dengan lafadz isim zat seperti yang difirmankan oleh Allah dalam Al-Quran :
Artinya : " Katakanlah "Allah", kemudian tinggalkanlah sifat mereka bermain-main didalam kesesatan. QS. An'Aam : 91).
Nabi memperingatkan syaiyyidina 'Ali k.w. : "Wahai 'Ali pejamkan matamu, katupkan dan lipatkan lidahmu, lalu sebut : "Allah, Allah".
Inilah cara yang peranh dipelajari dan diambil Syaiyyidina Abu Bakar r.a.secara rahasia (mengisi perasaan) daripada Nabi, dan inilah dzikir yang boleh terhujam teguh sampai ke dalam hati. Karena inilah Nabi memuji Syaiyyidina Abu Bakar r.a. bukan karena banyak puasa dan shalat, tetapi karena sesuatu yang terhujamkan dalam hatinya.
Firman Allah dalam Al-Quran :
Artinya : "Dan mereka yang mempunyai iman yang teguh serta tetap tenang hatinya dengan dzikrullah, bukankah dzikrullah itu menenangkan dan menentramkan hati?". QS. Ar-Ra'du :28).
Jalan atau Thariqah yang kedua macam ini tentang dzikir jahar dan khafi adalah pokok daripada seluruh Thariqah, kemudian tersiarlah dalam pencariannya dengan kurnia Tuhan Yang Maha Pemurah.

Pencarian yang paling serius manusia

Pencarian yang paling serius manusia sepanjang sejarah adalah pencarian Tuhan atau mencari eksistensi Tuhan yang bisa benar-benar dikenal sehingga akan bisa disembah dan dicintai dengan benar. Konsep Tuhan pada semua agama adalah sama, bahwa Dia adalah pencipta seluruh alam, mengatur segalanya dan Dia ada Pemilik Kekuatan Maha Dahsyat, kekuatan super diluar kemampuan manusia. Seluruh manusia tanpa kecuali menyadari ada sesuatu diluar dirinya yang mempunyai kekuatan luar biasa, kekuatan itu kemudian disebut Tuhan.
Karena keterbatasan manusia, maka apapun gambaran tentang Tuhan merupakan hasil dari imajinasi dan pemikirannya sehingga diseluruh dunia konsep tentang Tuhan berbeda-beda. Di dalam Islam sendiri pemahaman tentang Tuhan juga berbeda walaupun pada hakikatnya sama. Syariat yang merupakan hukum tertulis tentang agama hanya bisa menjelaskan tentang “ciri-ciri” Tuhan, kita hanya bisa diajarkan tentang nama-nama-Nya (asmaul husna), tentang sifat-sifat-Nya namun ketika sampai pembasahan kepada Dzat Allah Yang Maha Agung, maka syariat akan menjadi buntu. Guru-guru yang belajar agama hanya pada tataran lahiriah tidak bisa menjelaskan kepada kita secara memuaskan tentang Dzat Allah, maka cara yang paling mudah untuk menenangkan para murid adalah dengan argument-argumen yang menyatakan bahwa Dzat Allah tidak boleh ditanyakan sama sekali.
Kenapa demikian, karena memang syariat bukanlah ilmu yang bisa digunakan agar manusia sampai kepada Dzat Allah, syariat hanya menjelaskan kepada kita tentang konsep Ketuhanan, sifat dan namanya yang kemudian dikenal dengan ilmu Tauhid, ilmu Meng-Esa-kan Tuhan. Ilmu yang bisa mengantarkan manusia kepada Dzat Allah adalah ilmu tasawuf. Karena ilmu tasawuf sangat halus dan dikhawatirkan bisa dipahami secara keliru, maka diperlukan penyambung antara ilmu syariat dan tasawuf sebagai ilmu hakikat, penyambung itu lah ilmu tauhid.
Belajar ilmu tauhid tanpa belajar tasawuf lewat bimbingan Guru Mursyid tidak ada bedanya dengan belajar ilmu filsafat yang juga mengajarkan konsep Ketuhanan yang pada akhirnya akan berujung kepada pencarian tanpa batas atau ujung.
Di kalangan sufi, mereka tidak lagi berbicara tentang “mengenal”, tapi sudah pada tahap jatuh cinta, rindu, mabuk akan Tuhan yang kesemua itu bisa kita baca pada karya-karya sufi klasik seperti Abu Yazid al-Bisthami, Rabi’ah al-Adawiyah, Jalaludin Rumi dan lain-lain. Tidak mungkin manusia bisa sampai kepada tahap Mabuk kepada Tuhan sebelum dia benar-benar pernah meminum anggur Tuhan. Jatuh cinta secara mendalam seperti yang diungkapkan oleh para tokoh sufi hanya bisa terjadi pada orang yang sudah mengenal Tuhan secara sempurna, memandang wajah-Nya dan berkomunikasi dengan mesra lewat ibadah-ibadah yang dilakukannya setiap saat.
Bagaimana mungkin kita bisa jatuh cinta pada sosok Abstrak yang tidak dikenal sama sekali, pada sosok yang konon kabarnya berada di langit sana. Karena meyakini Tuhan berada di langit barangkali yang menyebabkan manusia setiap berdoa wajahnya memandang ke atas. Kalau kita bahas langit secara hakikat, tentu saja bukan langit yang Nampak biru ketika siang dan hitam ketika malam, karena di langit itu tidak ada apa-apa selain awan, bintang, planet dan galaksi.
Waktu saya kecil, ada seorang ulama yang sangat tidak percaya bahkan menolak dengan keras tentang kemampuan manusia sampai ke bulan. Beliau menjelaskan bahwa langit itu ada pintu dan setiap pintu di jaga oleh malaikat dengan demikian tidak mungkin orang kafir yang tidak pernah mengambil wudhuk bisa melawati pintu langit yang di jaga malaikat. Setelah saya berguru kepada seorang Auliya Allah dan melakukan suluk, baru saya paham perbedaan antara langit tempat berada arwah para Nabi dengan langit zahir yang terlihat setiap hari. Jadi langit 7 lapis yang dimaksud oleh Nabi bukanlah langit yang terlihat.
Pencarian Tuhan lewat akal pikiran dan perenungan hanya bisa membawa kita kepada keyakinan bahwa Tuhan itu memang ada di dunia ini, namun untuk bisa sampai kehadirat-Nya diperlukan seorang Master, Pembimbing yang sudah berulang kali bolak balik kesana sehingga jalan yang kita tempuh bukan jalan keliru yang membawa kita kepada kesesatan.
Tidak mungkin manusia yang tercipta bisa sampai kepada Sang Pencipta, tidak mungkin manusia yang baharu sampai kepada Allah yang Maha Qadim, kecuali lewat bimbingan para Nabi dan Para Wali yang diberi ilmu oleh Allah unuk membimbing manusia kejalan-Nya. Tujuan Tuhan menurunkan agama tidak lain agar manusia bisa mengenal dan berkomunikasi sempurna dengan Allah, sehingga manusia mengetahui dengan pasti apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan kepada dirinya.
Satu hal yang harus di pahami bahwa ibadah, shalat dan lain-lain bukanlah sarana untuk mengenal Allah, ibadah adalah sarana untuk menyembah-Nya, tentu saja untuk bisa menyembah terlebih dahulu kita harus mengenal yang kita sembah agar penyembahan kita tidak keliru.
Kalau sampai hari ini di dalam ibadah kita tidak menemukan getaran Ilahi, tidak berefek apa-apa pada jasmani dan rohani kita berarti adalah yang salah dalam ibadah yang kita lakukan. Agama pada hakikatnya adalah ilmu eksak, ilmu pasti bukan ilmu menduga atau mencoba-coba. Kalau Rasulullah SAW, Para sahabat bisa akrab dengan Tuhan memakai suatu ilmu tentu saja ketika kita memakai ilmu dan rumus yang sama maka hasilnya akan sama, itu PASTI.
Ketika belum sampai kepada tahap PASTI, berarti kita baru belajar agama secara zahir yang bisa dipelajari oleh siapapun karena pelajaran agama zahir merupakan pelajaran akal pikiran yang akan hilang ketika manusia meninggal dunia. Manusia harus meng-upgrade ilmu agamanya sehingga bukan hanya jasmaninya yang beragama tapi juga rohani karena nanti yang kembali kepada Allah bukanlah jasmani tapi rohani.
Ketika manusia belum mengenal Allah, dalam ibadah formal yang sangat tenang sekalipun dia tidak akan bisa mendapatkan apa-apa selain kekosongan dan kehampaan serta menduga-duga bahwa dia sedang berhadapan dengan Allah.
Ketika ilmu agamanya telah di upgrade dibawah bimbingan Guru Yang Ahli, dan ketika kita telah mengenal Tuhan dengan sebenar kenal tanpa keraguan sedikitpun, maka dimanapun kita bisa menjumpai-Nya, tidak hanya ketika melakukan ibadah formal saja, ketika menghirup segelas kopi pun akan ada wajah-Nya disana….

Pentingnya Guru Mursyid


Jalan menuju Allah itu bersifat ruhaniah. Mata lahir dan akal tidak akan mampu melihat jalan ini. Yang mampu melihatnya hanyalah ruh atau hati yang bersih.
Saudaraku, sudah menjadi pengalaman kita, bahwa di jalan raya yang bersifat material banyak terjadi kecelakaan. Padahal, jalan raya yang bersifat material itu, mata lahir kita bias melihatnya.Jalan raya itu juga dilengkapi dengan berbagai rambu lalu-lintas. Tetapi kecelakaan berlaku setiap hari. Ada yang tabrakan, ada yang serempetan, ada yang masuk jurang, ada yang terguling dan berbagai macam kecelakaan bias terjadi di jalan yang begitu jelas terlihat dengan mata kepala kita.
Belajar dari pengalaman ini, tentu kita dapat dengan mudah memahami kenyataan betapa susahnya menempuh jalan ruhani (jalan menuju Cinta Agung). Berbagai macam kecelakaan ruhani menimpa kita setiap harinya.
Coba kita review kembali kecelakaan-kecelakaan ruhaniah yang menimpa kita tiap hari.
ada perempuan lewat, mata kita tak berkedip.
Di uji oleh Allah dengan kehilangan barang kesayangan, rumah terbakar, hendak menikah ternyata ditinggal kawin oleh calon suami/istri, dll maka kita pun complain dengan Allah. Kita tak puas hati dengan ketentuan Allah. “mengapa itu harus terjadi padaku?”
Bila mendapat nikmat, sombong, berbangga hati, tidak bersyukur.
Dalam majlis pertemuan resmi dengan Allah (sholat) tidak melahirkan rasa takut, tidak terasa hebatnya Allah. Tetapi bila ketemu dengan presiden tersa takut dan terasa kuasa presiden sehingga kita begitu menjaga adab bila ada pertemuan dengan Presiden.
Apabila berdakwah, kemudian dipuji orang maka hati pun berbunga (termasuk lah menulis blog kemudian dipuji postingannya bagus-bagus, maka hatinya berbunga-bunga)
Nah, saking seringnya kita mengalami kecelakaan ruhaniah ini, maka kita perlu pimpinan dari orang yang mampu melihat dan paham jalan ini (jalan ruhaniah menuju Allah). Orang ini disebut guru mursyid. Guru mursyid sangat diperlukan oleh setiap manusia dalam perjalanan ruhani menuju taqwa. Dia dapat memimpin di bidang ilmu, akal atau hati, lahir maupun batin dan dalam semua hal sehingga hidup manusia dapat tertuju kepada Allah. Guru mursyid Allah beri anugerahkan ilmu-ilmu yang luar biasa, ilmu lahir juga ilmu batin.
Karena pentingnya guru mursyid ini, Imam Malik pernah berkata: “Barangsiapa yang tidak mempunyai guru mursyid maka syaitanlah yang akan menjadi gurunya.”
Orang yang bisa memimpin hati/ruhani (guru mursyid), hanyalah orang yang pintu hatinya terbuka, yaitu orang yang mempunyai basyirah. Bukan sekadar akalnya yang terbuka. Banyak orang yang akalnya terbuka, hingga dapat menangkap ilmu, tetapi sangat sedikit orang yang hatinya terbuka. Mursyid itu ialah orang yang hatinya terbuka luas dan dapat memimpin orang lain.
Jadi setiap orang mesti mencari seorang guru mursyid untuk memimpin dirinya walaupun dia alim. Setelah dia bertemu dengan guru mursyid yang layak, maka lahir dan batinnya perlu diserah kepada guru mursyid itu.

Sembahlah Aku



Jangan kau sembah Zat-Ku
Jangan kau sembah Sifat-Ku
Jangan kau sembah Asma-Ku
Jangan kau sembah afal-Ku
Sembahlah AKU

"Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat."
(Q.S. As-Saffat:96)

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia."
(Q.S. Asy-Syura:11)

"Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu."
(Q.S. Al-an`am:164)

"Jangan kausembah Zat-Ku; jangan kausembah Sifat-Ku; jangan kau sembah Asma-Ku; jangan kausembah afal-Ku. Sembahlah AKU."
[Hadis Qudsi]

Jika pengetahuan seseorang hanya sampai pada Afal Allah,
sampailah ia hanya pada Perbuatan-Perbuatan Allah saja.
Jika pengetahuan seseorang hanya sampai pada Asma Allah,
sampailah ia hanya pada Nama-Nama Allah saja.
Jika pengetahuan seseorang hanya sampai pada Sifat Allah,
sampailah ia hanya pada Sifat-Sifat Allah saja.
Jika pengetahuan seseorang hanya sampai pada Zat Allah,
sampailah ia hanya pada Zat Allah saja.
Jika pengetahuan seseorang sampai ke Allah,
sampailah ia pada Allah.

Zat Allah = Nur Ilahi = Cahaya Tuhan
Cahaya Tuhan, bukan Tuhan.
Tuhan bukan berupa Cahaya
Zat Allah = ruh (pada manusia)
Allah bukan berupa ruh.
Pada manusia itu ada Zat Allah, tapi manusia bukan Allah.
KunciNya,
"Jgn Sampai Terlihat Adanya Diri" barulah Aku nyata sebenar2 nyata.



 Jadi Zat Allah yang meliputi sekalian alam itu disebut Nur Ilahi, sedangkan Zat Allah yang ada pada diri manusia itu disebut ruh. Ruh dan Nur Ilahi ini Zat Allah yang sama, bukan berbeda. Ruh dan Nur Ilahi ini esa, bukan becerai. Itu-itu juga, hanya yang pada manusia itu sebutannya ruh. (silakan cermati Q.S. Nur:35, informasinya itu menunjukkan Nur Ilahi itu meliputi "luar-dalam")
Zat Allah bersifat Mahasuci, makanya yang ada pada manusia itu disebut Ruh al-Quds atau Ruhul Qudus, Ruh yang bersifat Mahasuci.
فَإِذَا سَوَّيۡتُهُ ۥ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُواْ لَهُ ۥ سَـٰجِدِينَ
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh [ciptaan] Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (Al-Hijr: 29)
Allah meniupkan ruh (Zat-Nya) pada jasad Adam. Jelas sekali Allah itu bukan berupa Zat.
"Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki." (Q.S. Nur:35)
Apakah artinya ALLAH = NUR? Tentu tidak.
Zat Allah = Nur Ilahi = Cahaya Tuhan
Tuhan dengan Cahaya-Nya tentu Esa, tetapi tetap Cahaya Tuhan itu, bukan Tuhan.
Tuhan bukan berupa Cahaya
Zat Allah = ruh (pada manusia)
Allah bukan berupa ruh.
Pada manusia itu ada Zat Allah, tapi manusia bukan Allah.
I'tibar untuk mendekatkan paham:
Matahari dengan cahayanya esa. Maksudnya esa, antara matahari dengan cahayanya tidak ada jarak-antara. Sebagaimana esanya ruh dan tubuh kita.
Matahari dengan cahayanya esa, tapi tidak pernah seorang pun menyatakan sinar matahari yang memantul di dinding rumah itu sebagai matahari. Tetap orang akan memandangnya sebagai sinar/cahaya matahari.
Tubuh kita esa dengan ruh. Ruh ialah Nur Ilahi/Zal Allah/Cahaya Tuhan yang juga esa dengan Sang Pemilik Cahaya.
Itulah sebab dikatakan kaum arif billah:
Mengaku diri Tuhan, kafir
Tidak mengaku diri esa dengan Tuhan, kufur.
Allah = ismu Zat, nama bagi Zat. bukan ismu-Rabb.
"Tidak ada yang setara dengan Dia" (Al-Ikhlas:4)
"Tidak ada yang seumpama dengan Dia." (Ash-Shura:11)
kalau makhluk berupa zat-sifat-asma-af`al
dan Tuhan juga berupa zat-sifat-asma-af`al
sama dan seumpama dong makhluk dan Tuhan?
Kalau makhluk itu wujud zat-sifat-asma-af'al Allah,
lalu Allah itu wujuf zat-sifat-asma-af'al siapa dong? Ada yang mendahului Allah itu hil yang mustahal 😄
Tuhan tidak bernama, sebelum ada ciptaan, siapa yang mau menyebut-Nya Tuhan?
Setiap makhluk punya nama, dari Pemberi Nama. Tuhan tidak ada yang memberi nama, kecuali Diri-Nya sendiri (itu pun untuk keperluan makhluk)
Oleh sebab esa Tuhan dg Nur/Zat-Nya lah Allah menyebut Diri-Nya dengan sebutan Zat-nya, yaitu "Allah". Tapi tetap bahwa Tuhan itu bukan Zat.

Hanya Alloh yg mampu memberikan pemahaman...mohon maaf bia kurang dapat terpahami sahabat ku seklian...