Laman

Selasa, 01 Mei 2018

Ulangkaji Perihal PUASA 4 Jenis ORANG


PUASA itu untuk mengingatkan kita pada 4 jenis ORANG dalam 4 hal keadaan hidup di dunia, iaitu:
1. ORANG TULI
Bayangkan betapa susahnya ORANG TULI nak mendengar dan memahami apa yang kita ucapkan. Mereka itu PUASA siang malam sepanjang hayat dari mendengar segala kata-kata yang kotor, berita-berita bohong, bunyi-bunyi yang melalaikan dan suara-suara yang TIDAK bermanfaat yang DIHARAMKAN oleh syarak, yakni PUASA PENDENGARAN (TELINGA).
2. ORANG BISU
Bayangkan betapa susahnya ORANG BISU nak bercakap dengan kita. Mereka itu PUASA siang malam sepanjang hayat dari mengeluarkan segala kata-kata yang TIDAK berfaedah dan kata-kata yang DIHARAMKAN oleh syarak seperti berbual-bual kosong, mengumpat, berdusta, memfitnah, berbantah-bantah kerana perkelahian, bersumpah bohong, keji mengeji, maki hamun, mencarut, mengarut dan yang seumpamanya, yakni PUASA KATA-KATA (LIDAH).
3. ORANG BUTA
Bayangkan betapa susahnya ORANG BUTA nak melihat sebagaimana yang kita nampak, hidup dalam kegelapan, payah menggambarkan bentuk apa yang kita ucapkan, sukar hendak pergi menuntut ilmu dan susah untuk bekerja mencari rezeki. Mereka itu PUASA siang malam sepanjang hayat dari melihat segala sesuatu yang bukan haknya yang DIHARAMKAN oleh syarak dan perkara yang boleh melalaikan hati daripada mengingati Allah, yakni PUASA PENGLIHATAN (MATA).
4. ORANG CACAT
Bayangkan betapa susahnya ORANG CACAT nak melakukan sesuatu perbuatan sebagaimana yang diperbuat oleh kita ORANG sempurna, hidup dalam ketidak-sempurnaan, payah untuk menyuap memegang sesuatu bagi ORANG CACAT yang tiada anggota tangan, sukar untuk bergerak berdiri bagi ORANG CACAT yang tiada anggota kaki dan susah untuk duduk bangun bagi ORANG CACAT yang lumpuh anggota badan. Mereka itu PUASA siang malam sepanjang hayat dari melakukan segala perbuatan yang TIDAK berfaedah dan yang DIHARAMKAN oleh syarak, yakni PUASA PERBUATAN (ANGGOTA BADAN).
Maka:
Bagaimana pula halnya PUASA kita hai ORANG yang boleh MENDENGAR, BERKATA-KATA, CELIK dan SEMPURNA?
Juga:
Mampukah kita PUASA sepanjang hayat sesempurna ORANG TULI, ORANG BISU, ORANG BUTA dan ORANG CACAT itu BERPUASA?
Andai:
Jika TIDAK mampu, hakikatnya kita ORANG yang TIDAK sempurna bukannya mereka kerana Allah telah memberi contoh sebenar-benar PUASA yang dikehendakiNya adalah PUASA sebagaimana 4 jenis ORANG di atas.
Dengan kata lain:
PUASA bagi kita ORANG yang boleh MENDENGAR, BERKATA-KATA, CELIK dan SEMPURNA mestilah jadi seperti PUASA ORANG TULI, ORANG BISU, ORANG BUTA dan ORANG CACAT.
Di mana:
1. TULIKAN telinga kita dari mendengar segala kata-kata yang kotor, berita-berita bohong, bunyi-bunyi yang melalaikan dan suara-suara yang TIDAK bermanfaat yang DIHARAMKAN oleh syarak, yakni PUASA PENDENGARAN.
2. BISUKAN lidah kita dari mengeluarkan segala kata-kata yang TIDAK berfaedah dan kata-kata yang DIHARAMKAN oleh syarak seperti berbual-bual kosong, mengumpat, berdusta, memfitnah, berbantah-bantah kerana perkelahian, bersumpah bohong, keji mengeji, maki hamun, mencarut, mengarut dan yang seumpamanya, yakni PUASA KATA-KATA.
3. BUTAKAN mata kita dari melihat segala sesuatu yang bukan haknya yang DIHARAMKAN oleh syarak dan perkara yang boleh melalaikan hati daripada mengingati Allah, yakni PUASA PENGLIHATAN.
4. CACATKAN anggota badan kita dari melakukan segala perbuatan yang TIDAK berfaedah dan yang DIHARAMKAN oleh syarak seperti tangan dicegah dari mencuri, kaki dicegah dari bergerak ke tempat maksiat, perut dicegah dari makan minum sebelum tiba waktu berbuka dan yang seumpamanya, yakni PUASA PERBUATAN.
Kesimpulannya:
Gabungan PUASA PENDENGARAN, PUASA KATA-KATA, PUASA PENGLIHATAN dan PUASA PERBUATAN itulah PUASA kita ORANG ISLAM yang mampu mencegah nafsu dari dipengaruhi oleh sifat jahat kita sendiri.
Dan bila nafsu sudah dicegah dari dipengaruhi oleh sifat jahat, maka jadilah TELINGA, LIDAH, MATA dan ANGGOTA BADAN kita ibarat kata PUASA sepanjang hayat sebagaimana ORANG TULI, ORANG BISU, ORANG BUTA dan ORANG CACAT itu BERPUASA.
Adapun:
Bagi mencuci dosa-dosa yang telah dilakukan oleh TELINGA, LIDAH, MATA dan ANGGOTA BADAN kita, setiap ORANG ISLAM DIWAJIBKAN PUASA RAMADHAN sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam yang maksudnya: "Sembahyang lima waktu, dan sembahyang Jumaat ke sembahyang Jumaat berikutnya, dan bulan RAMADHAN ke bulan RAMADHAN berikutnya adalah menjadi PENEBUS DOSA yang terjadi di antara waktu-waktu tadi, selama ORANG itu menjauhi dosa-dosa besar" (HR.Muslim).
Justeru:
Sebagai ORANG SEMPURNA yang CELIK yang BERKATA-KATA yang MENDENGAR, ambillah iktibar dari 4 hal keadaan PUASA di atas. Sungguh setiap ibadat WAJIB dalam agama Islam itu ada pengajaran yang jelas buat ORANG yang mahu berfikir. Mudah-mudahan PUASA kali ini mencapai maksud dan tujuannya, insyaAllah.
Mampukah kalian..mudah-mudahan kalian mampu sepertiku, kihkihkih!

Renungan: GURU


Bismillahirrahmanirrahim.
Melihat GURU..
Mencari GURU..
Menilai GURU..


Tidak Semestinya Dinilai Dari PENAMPILAN TUA ataupun MUDA.
Tidak Semestinya Dilihat Dari MANA ASALNYA, SIAPAKAH DIA, Orang Mana Dia, Bisa Apa Dia, ORANG KAYAkah Atau Tidak, Miskinkah Ataupun Tidak, Terkenalkah Apa Tidak..
Jika Benar-Benar Ingin SEMPURNA ILMUMU,
jalanmu, Pengetahuanmu..
Maka TETAPKANLAH HATI UNTUK MENGIKUTI ARAHANNYA, NASEHATNYA, BIMBINGANNYA, DAN AJARANNYA.
Jangan Mengeluh,
Janhan Bosan,
Jangan Bimbang,
Janganlah RAGU...

ALLAH ADA BERSAMAMU yang Siap Menuntun Nuranimu, Untuk Sampai Kepadanya.
Sampai Kepada Allah Sampainya Ilmu Pengetahuan Kita,
Kesadaran Kita,
Keinginan Kita,
Kehendak Kita,
Cita-Cita Dan Angan-Angan Kita.
Dia Gurumu Beda Dari Guru-Guru Yang Lain..
Dia Gurumu Sangat Peduli Kepadamu,
Sangat Cinta Kepadamu,
Sangat Sayang Kepadamu,
Sangat Menginginkan Yang Terbaik Atasmu.
Dialah Satu-Satunya Mahluk, Yang Awal Lahirnya Beda Sambutannya,
Beda Cara Besarnya,
Beda Cara Hidupnya,
Beda Cara Pola PIKIRANNYA.

DIA GURUMU Sangat CERDAS DAN JENIUS, Dia Sangat BIJAK DAN MUDAH MEMECAHKAN TEKA TEKI DAN MISTERI KEHIDUPAN INI.
Dari Mana Asal Ilmu Pengetahuannya Ilmu Itu Berasal Dari AL 'ALIMUN...
Dari Manakah SUMBER BUKU DAN KITABNYA, Asalnya Dari NUR ILLAHI, Yang Dipancarkan Kedalam QALBUNYA.
Maka Dari Itu Siapapun Iya Dan Apapun Bentuk Dia, Hormatilah Dia Jika Engkau Bisa Mengetahui ILMU YANG SEBELUMNYA BELUM KALIAN KETAHUI.
Satu Ilmu Yang Kalian Ketahui Darinya, Itu Sudah Cukup Menghapus 1000 Kebodohanmu..
Maka BERPRASANGKA BAIKLAH ATASNYA JIKA INGIN ENGKAU MENIKMATI INDAHNYA RAHMAT ALLAH ATASMU.
Adapun:
GURU = Qaf Wau Ra Wau
Qaf = Qalam
Wau = Amanah
Ra = Rahsia
Wau = Amanah
Jadi:
Qalam Guru itu Amanah
Rahsia Guru itu Amanah
Maka:
Qalam Guru itu seharusnya dipatuhi jangan diingkari
Rahsia Guru itu wajib dijaga jangan dibuka..
Ingatlah Ingatlah Ingatlah!

Renungan: 3 Rahsia KEMATIANMU


1. Rahsia WAKTU
Kamu tidak akan pernah tahu bila WAKTU KEMATIAN yang akan menjemput kamu..sekejap lagi, jam berikutnya, esok, lusa, tulat, minggu depan, bulan depan, tahun depan dan sebagainya.
2. Rahsia TEMPAT
Kamu tidak akan pernah tahu dimana TEMPAT KEMATIAN yang akan menjemput kamu..rumah, pejabat, masjid, pasar, restoren, dalam perjalanan dan sebagainya.
3. Rahsia CARA
Kamu tidak akan pernah tahu dengan CARA apa KEMATIAN yang akan menjemput kamu..sakit, uzur, perang, eksiden, dibunuh, husnul khotimah dan sebagainya.
Kerana Apa Tidak Tahu:
ALLAH merahsiakannya agar kamu selalu siap sedia setiap saat, KEMATIAN adalah sesuatu yang pasti akan terjadi.
Maka:
*** jangan menunda amal ibadahmu..
*** jangan menunda taubatmu..
*** jangan menunda perbaikan dirimu..
*** jangan main-main dengan maksiatmu..
*** jangan sia-siakan mereka orang yang kamu cintai..
Jadi Bermohonlah Selalu:
YA ALLAH aku bermohon kepadaMU semoga KEMATIANKU dalam keadaan HUSNUL
KHOTIMAH..
Amin.
Mulalah Bersedia Untuk MATI!

SEBENAR-BENAR PANTANG


Dalam kitab Al-Ghunyah Lithalibi Thariq Al-Haqq, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengungkap 10 PANTANG yang harus dihindari bagi sufi yang sedang melakukan mujahadah dan muhasabah, yakni:
1. Pertama, PANTANG bersumpah demi Allah, terlepas dari apakah yang dikatakan itu benar atau bohong, baik sengaja atau tidak sengaja. Ketika seseorang telah mengokohkan prinsip tersebut dalam dirinya dan membiasakan pada lisannya, niscaya Allah akan membukakan satu pintu dari cahaya-cahayaNya, meninggikan derajatnya dan dikuatkan tekad dan pandangannya.
2. Kedua, PANTANG berbohong baik serius ataupun bercanda. Jika mampu melakukannya, maka Allah akan melapangkan dadanya dan menjernihkan pengetahuannya, hingga ia tak lagi mengenal dusta.
3. Ketiga, PANTANG menjanjikan sesuatu kepada siapa pun, lalu urung memenuhinya, meski mampu mewujudkannya, kecuali memang ada alasan yang jelas. Lebih baik dia menghilangkan kebiasaan janji-janji. Jika mampu melakukannya, Allah akan membukakan pintu kemudahan dan derajat malu, dan memberi kasih sayang di tengah-tengah orang-orang jujur, serta menaikkan derajatnya di sisi Allah.
4. Keempat, PANTANG mencaci-maki makhluk lain, meski makhluk itu seukuran biji sawi atau lebih kecil lagi. Ini adalah akhlak kaum shaleh dan shiddiqin yang menghasilkan sesuatu yang baik, berupa perlindungan Allah di dunia dan derajat tinggi di sisi-Nya di akhirat.
5. Kelima, PANTANG mencaci-maki atau mendoakan hal-hal buruk kepada seseorang, meskipun orang itu dzalim. Ia harus memaafkan orang itu karena Allah, dan tidak membalas balik dengan ucapan ataupun perbuatan. Jika mampu melakukan itu, Allah akan memberi kedudukan terhormat di dunia dan akhirat, meraih cinta kasih segenap makhluk, baik jauh atau dekat, serta akan dikabulkan doanya.
6. Keenam, PANTANG menyebut musyrik, kafir, dan munafik kepada Ahli Kiblah (Muslim). Laku ini akan menjauhkan dari murka Allah dan mendekatkan kepada ridha dan kasih sayang Allah. Menjadi pintu mulia menuju Allah yang membuat si hamba dikasihi oleh segenap makhluk.
7. Ketujuh, PANTANG berpikir dan berangan-angan melakukan kemaksiatan, lahir dan batin, serta mencegah anggota tubuhnya dari hal itu. Ini adalah amalan yang paling cepat mendapat pahala bagi kalbu maupun fisik di dunia, disamping pahala di akhirat.
8. Kedelapan, PANTANG menggantungkan biaya hidupnya kepada siapa pun, baik dalam jumlah sedikit atau banyak, pada saat memerlukan ataupun tidak. Sikap semacam ini akan melengkapi kemuliaan ibadah dan kehormatan ahli takwa, dan ini adalah pintu terdekat pada keikhlasan.
9. Kesembilan, PANTANG bersikap tamak terhadap apa yang dimiliki manusia. Ini adalah kemuliaan terbesar, kekayaan sesungguhnya, kekuasaan agung, kebesaran yang luhur, keyakinan yang benar, dan kepasrahan yang tepat. Ia merupakan satu pintu keyakinan kepada Allah dan pintu zuhud yang mengantarkannya pada warak.
10. Kesepuluh, PANTANG bersikap takabur dan harus selalu tawaduk. Sikap rendah hati ini akan menguatkan posisi hamba, meningkatkan derajatnya, menyempurnakan kemuliaannya di sisi Allah dan makhlukNya. Laku ini adalah dasar dan penyempurnaan seluruh ketaatan. Dan, menjadi tujuan mulia kaum zuhud ahli ibadah.
---Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Al-Ghunyah Lithalibi Thariq Al-Haqq
Maka:
Masihkah kita dalam keadaan PANTANG setiap hari?
Jika masih belum, belajarlah untuk mula BERPANTANG.
Semoga buku amalan baru kita malam ini dihiasi dengan PANTANG!

Senin, 30 April 2018

KISAH SEORANG KIYAI DAN PELACUR


KH. Ali Yahya Lasem terkenal tampan, berbadan tegap dan atletis. Bila sarung, sorban, dan kopiahnya dibuka beliau mirip bule Eropa, Amerika atau Australia. Tak heran kalau banyak wanita terpesona.
Suatu hari beliau ada undangan mengisi pengajian di Jepara, saat di perjalanan mobil yang beliau tumpangi berhenti di sebuah lampu merah. Saat itu beliau duduk di samping sopir dengan melepas sorban dan kopiah yang dipakainya. Tiba-tiba seorang wanita muda, menor, dan seksi menghampirinya.
Wanita penghibur itu mengira bila lelaki gagah dalam mobil adalah turis banyak duit yang sedang mencari kesenangan di Indonesia.
“Malam, Om.”
“Malam.”
“Ikut dong, Om. Boleh, ya?”
“Oh, boleh, boleh. Silakan masuk.”
Wanita muda itu bergegas masuk mobil. Pintu ditutup dan mobil mulai jalan.
“Mau ke mana, Om? Butuh aku, gak? Aku temenin sampai pagi ya, Om?”
Sambil pakai lagi kopiah dan sorban Kiyai Ali santai menjawab, “Oo, ini lho mau ngaji di Jepara. Ndak apa-apa, silakan ikut aja.”
Wanita itu kaget dan salah tingkah, “Oh, jadi Bapak ini Kiyai, ya?”
Tadi panggil om sekarang panggil pak kiyai.
Lucu, ya? Kiyai Ali tersenyum geli.
“Maaf, Kiyai, saya benar-benar tidak tahu. Sekali lagi maaf.”
Wanita itu kian tegang dan raut wajahnya pucat ketakutan.
Tapi Kiyai Ali santai saja berkata, “Oo, ndak apa-apa. Santai saja, Mbak. Sekali-kali ikut pengajian bagus itu.”
“Ndak usah Kiyai, saya turun di sini aja.”
“Enggak bisa, pokoknya harus ikut. Tadi kan sampean bilang mau ikut, ya harus ikut.”
“Tapi saya kan gak pakai jilbab, Kiyai?”
“Gampang, nanti tak pinjem jamaah.”
“Tapi saya malu Kiyai?”
“Lho, sampean jadi pel#cur ndak malu, kok pengajian malah malu. Piye to?”
“Bagaimana ini, Kiyai?” Wanita itu makin salah tingkah, “Saya takut, Kiyai?” Tadi bilang malu sekarang katanya takut. Hehe..
Dengan bijak Kiyai Ali menenangkan, “Sudahlah, santai aja.”
Mobil pun terus berjalan hingga akhirnya sampai ke tempat tujuan. Jepara. Suasana tempat diselenggarakannya acara pengajian sudah ramai. Para jamaah laki-laki dan perempuan memadati area tempat acara. Gegap gempita para panitia menanti kedatangan Kiyai Ali.
Begitu turun dari mobil Kiyai Ali langsung menghampiri jamaah ibu-ibu, “Maaf Bu, bisa pinjam jilbabnya. Ini lho, Bu Nyai lupa bawa jilbab.”
Bu Nyai adalah panggilan kehormatan yang biasanya disematkan pada istri kiyai. Masa iya istri kiyai lupa berjilbab. Hehe.
Dengan sedikit bingung ibu itu menjawab tergesa-gesa, “Oh, bisa Kiyai. Sebentar saya ambilkan.”
Ibu itu bergeas pergi dan tak lama sudah kembali. Jilbab yang dibawanya itu di sodorkan ke dalam mobil dan langsung dipakai oleh sang wanita. Setelah rapi wanita itu turun dari mobil dan masyaallah… Langsung diserbu rombongan ibu-ibu untuk mencium tangannya. “Ngalap berkah,” katanya.
Mendapati sambutan kehormatan seperti itu, wanita yang kini disulap jadi Bu Nyai langsung berwajah pucat. Ia dipersilakan masuk, dijamu, dan dilayani bagaikan seorang ratu. Ada haru campur malu menyelinap di hatinya.
Pengajian pun digelar dengan seksama, Kiyai Ali menjadi pembicara yang luar biasa, penyampaiannya ringan tapi dalam makna kandungannya.
Usai acara Bu Nyai Dadakan dipersilakan menikmati jamuan rupa-rupa makanan. Lalu makan berat.
Tapi sebelum makan rombongan jamaah ibu-ibu mohon didoakan keberkahan dari Bu Nyai Dadakan, sontak saja ia kaget setengah mati. Sudah lama tak berdoa, sudah lupa doa yang dulu dihafal waktu kecil ngaji di kampung. Untungnya masih ingat Rabbana Atina Fi Dunya Hasanah, Wa Fil Akhirati Hasanah..
Pun demikian sebelum pulang, jamaah ibu-ibu bergantian cium tangan dan diantar dengan hormat sampai masuk mobil.
Selama perjalanan di mobil wanita penghibur itu menangis sedu sedan, sesenggukan dengan air mata bercucuran. Kiyai Ali dan sopir membiarkannya hingga reda..
Setelah suasana agak tenang, Kiyai Ali menasihati, “Apakah sampean tidak melihat dan berpikir tentang bagaimana orang-orang tadi memperlakukanmu, menghormatimu, mengerumunimu, mengantarkanmu, dan rela juga mereka antri hanya untuk dapat mencium tanganmu satu demi satu, bahkan minta berkah doa darimu, padahal tahu sendiri kamu siapa?”
Kembali sang wanita menangis, merasa hina, miris, dan sedih mengingat perbuatan dosa yang selama ini dilakukannya. Tapi Allah menutup aibnya, Allah sangat menyayanginya.
“Hari ini,” lanjut Kiyai Ali, “Sampean dapat nasihat yang mungkin nasihat berharga selama hidupmu, maka segeralah taubat dan mohon ampun sama Allah. Jangan sampai nyawa merenggut sebelum taubat.”
Tangisnya kian deras. Kiyai Ali membiarkannya.
Sambil terisak wanita itu berkata,
“Terimakasih Kiyai atas nasihatnya, dan berkah dari kejadian ini. Mulai hari ini saya bertaubat dan berhenti dari pekerjaan bejat ini. Sekali lagi terimakasih Kiyai.”
Menyeksamai kisah ini berarti kita belajar bijaksana. Para ulama, pendahulu, dan guru kita para mubaligh berdakwah dengan baik dan bijak, mengajak tanpa menginjak, menasihati tanpa menyakiti, dan menunjukkan kebenaran tanpa merendahkan derajat kemanusiaan.
Inilah salah satu telaga yang indah dan menyejukkan, yang menjadikan banyak orang tertarik dengan Islam. Semoga jadi pelajaran bagi kita untuk menyampaikan kebenaran dengan baik.

Adab Menjenguk Orang Sakit

BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM.
Para pembaca rahimakumullah, Islam sebagai agama yang sempurna senantiasa memperhatikan segala hal yang mendatangkan kebaikan bagi manusia.
Satu hal yang telah diatur dan dibimbingkan oleh agama kita adalah menjenguk saudara kita ketika jatuh sakit.
Begitu pentingnya permasalahan ini hingga dibakukan dalam Islam sebagai salah satu hak muslim atas muslim yang lain, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Salah satunya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟، قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
“Hak seorang muslim atas muslim yang lainnya ada enam.” Kemudian ditanyakan, “Apa saja itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika bertemu ucapkanlah salam, jika diundang maka penuhilah, jika dimintai nasehat maka berilah nasehat, jika bersin lalu memuji Allah maka doakanlah, jika sakit maka jenguklah dan jika meninggal maka ikutilah penguburannya.” HR. Muslim no 2162
Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi orang yang sakit jika ada saudara atau kerabat yang menjenguknya. Dengan itu akan akan semakin erat dan kuatlah tali persaudaraan antar mereka.
Hukum Menjenguk Orang Sakit
Para pembaca rahimakumullah, para ulama berbeda pendapat tentang hukum menjenguk orang sakit. Namun Allahu a’lam yang lebih kami pilih adalah fardhu kifayah. Artinya jika ada yang melaksanakannya maka gugur kewajiban bagi yang lain, namun jika tidak ada seorang pun yang melaksanakannya dalam kondisi mengetahui ada yang sakit maka semuanya berdosa.
Namun hal ini bisa menjadi fardhu ‘ain jika yang sakit adalah seorang kerabat atau keluarga dekat karena menjenguknya termasuk bagian dari silaturahmi, sedangkan silaturahmi itu hukumnya wajib.
Hal penting yang perlu diperhatikan pula bahwa yang berhak dijenguk itu hanyalah orang sakit yang terbaring di rumahnya dan tidak bisa beraktivitas
. Adapun orang-orang yang sakitnya ringan sehingga bisa keluar rumah dan beraktivitas maka tidak termasuk yang berhak dijenguk, namun tidak mengapa bagi kita untuk menanyakan keadaannya. (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin dan Fathu Dzil Jalali wal Ikram karya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah)

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit
Para pembaca rahimakumullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan beberapa keutamaan menjenguk orang sakit. Di antaranya adalah:
1. Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ عَادَ مَرِيْضًا لَمْ يَزَلْ فِيْ خُرْفَةِ الْجَنَّةِ، قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا خُرْفَةُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: جَنَاهَا
“Barang siapa menjenguk saudaranya yang sakit maka dia senantiasa berada di Khurfatul jannah sampai dia pulang.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa khurfatul jannah itu? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Memetik buah-buahan di surga.” HR. Muslim no. 2568 dari sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu.
2. Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الجَنَّةِ
“Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim yang lain pada pagi hari melainkan 70.000 malaikat akan bershalawat (mendoakan ampunan) baginya sampai sore hari. Jika menjenguk pada sore hari maka 70.000 malaikat akan bershalawat baginya sampai pagi hari. Dia pun berhak untuk memiliki buah-buahan yang dipetik di surga.” HR. at-Tirmidzi dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Adab Menjenguk Orang Sakit
Ada beberapa adab dan bimbingan bagi seseorang yang menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Di antaranya adalah:
1. Hendaknya meniatkan amalan tersebut karena Allah subhanahu wa ta’ala dan meneladani baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan untuk tujuan dunia.
2. Berharap agar amalan yang dilakukannya itu bisa memberikan kebaikan dan kebahagiaan bagi saudaranya yang sedang sakit.
3. Alangkah baiknya jika kesempatan menjenguk dimanfaatkan untuk menghibur si sakit dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti mengingatkan untuk bersabar, bertaubat, beristighfar, dan yang semisal dengan itu. Jangan menyampaikan hal-hal yang dapat menambah beban si sakit.
4. Jangan lupa mendoakannya, di antara doa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:
لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ
“Tidak mengapa, insya Allah (sakit ini) sebagai pembersih.” HR. al-Bukhari dari sahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjenguk orang sakit yang belum datang ajalnya lalu dia mengucapkan doa,
أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ
“Aku meminta kepada Allah yang Maha Kuasa, Rabb al-’Arsy yang agung, agar memberikan kesembuhan kepadamu.”
Sebanyak 7 kali, niscaya Allah akan memberikan kesembuhan kepadanya.” HR. at-Tirmidzi dan Abu Dawud dari sahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
5. Tidak mengapa membawa sesuatu untuk dihadiahkan kepada si sakit, karena dengan hadiah akan semakin erat tali persaudaraan dan kasih sayang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَهَادُوْا تَحَابُّوْا
“Saling memberikan hadiahlah di antara kalian niscaya kalian akan saling mencintai.” HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
6. Hendaknya tidak berkunjung atau menjenguk di waktu-waktu yang memberatkan si sakit, seperti waktu-waktu tidur atau istirahat.
7. Meruqyah si sakit dengan membacakan kepadanya bacaan-bacaan yang disyariatkan yaitu ayat-ayat Al-Qur`an atau doa-doa yang tidak mengandung kesyirikan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)
Al-Qur`an itu mengandung obat dan rahmat. Namun kandungan tersebut tidak bermanfaat bagi setiap orang dan hanya bermanfaat bagi orang yang beriman dengannya, yang membenarkan ayat-ayat-Nya, dan mengilmuinya. Adapun orang-orang yang zalim, yang tidak membenarkannya atau tidak beramal dengannya, maka Al-Qur`an tidak akan menambahkan kepada mereka kecuali kerugian. (Lihat Tafsir as-Sa’di)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk sebagian keluarganya yang sakit lalu beliau mengusap si sakit dengan tangan kanannya sambil membaca:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ، أَنْتَ الشَّافِيْ لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاءُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
“Ya Allah, Rabb seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkau adalah Dzat yang Maha Menyembuhkan. (Maka) tidak ada obat (yang menyembuhkan) kecuali obatmu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” Muttafaqun ‘alaih
8. Jika yang menjenguk itu dari kalangan orang yang berilmu hendaknya mengajarkan hal-hal penting yang belum diketahui si sakit, seperti tata cara bersuci dan shalat bagi orang sakit dan yang lainnya.
9. Lihatlah bagaimana keadaan si sakit. Jika si sakit merasa senang dengan berlama-lama di rumahnya maka hendaknya tidak segera pulang demi memberikan kebahagiaan kepada si sakit. Namun jika si sakit merasa gelisah dan kurang nyaman berlama-lama dengannya maka hendaknya tidak berlama-lama di rumahnya dan bersegera meminta izin pulang.
10. Jika memang memungkinkan, boleh bagi si penjenguk meminta kepada si sakit agar mendoakannya dengan kebaikan karena keadaan sakit merupakan salah satu momen dikabulkannya doa.
11. Jika ternyata si sakit berada di tempat pengobatan umum, seperti rumah sakit dan semisalnya maka hendaknya memperhatikan kerapian diri serta memperhatikan tata tertib dan aturan di tempat tersebut. Seperti berpakaian yang rapi dan sopan, melihat jadwal waktu-waktu berkunjung, tidak membuat gangguan bagi si sakit dan pasien yang lain semisal merokok, berkata kotor, gaduh, tidak sopan, dan yang lainnya.
12. Jangan lupa, ketika sedang menjenguk si sakit untuk banyak bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang senantiasa memberikan nikmat kesehatan kepadanya. Karena seseorang itu seringkali menyadari kadar nikmat Allah subhanahu wa ta’ala ketika melihat orang lain yang kehilangan nikmat tersebut, baik karena dicabut oleh Allah subhanahu wa ta’ala atau belum dikaruniai nikmat tersebut atau ketika dirinya sendiri telah kehilangan nikmat tersebut.

Nasehat untuk Keluarga si Sakit
Perlu saya nasehatkan kepada keluarga dan kerabat si sakit untuk senantiasa bersabar atas ujian yang menimpanya. Hendaknya senantiasa menjadikan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bimbingan ketika melayani si sakit. Termasuk ketika mengobati si sakit hendaklah menempuh cara-cara yang syar’i dan meninggalkan cara-cara yang tidak syar’i seperti membawanya ke dukun atau paranormal.
Begitu juga ketika diketahui ada tanda-tanda ajal akan menjemputnya maka hendaknya menalqinkan atau memerintahkannya untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Talqinkanlah kepada orang yang menjelang kematiannya kalimat Laa ilaaha illallah. Barang siapa yang akhir ucapannya Laa ilaaha illallah maka dia akan masuk surga…” HR. Muslim
Wallahu a’lam bish shawab.
Penulis: Ustadz Abdullah Imam hafizhahullahu ta’ala
MOGA ADA FAEDAHNYA.
MOGA SDR/I KU YG KU SAYANGI , LILLAAH...
DI BERI KESEHATAN YG PRIMA.
AAMIIN.

"TIGA ISTANA PADA DIRI MANUSIA"


Istana Allah Dalam Setiap Tubuh Manusia
Dalam tubuh setiap manusia itu terdapat istana-istana Allah. Kita harus memahami keberadaan istana-istana tersebut agar kita menjadi (manusia yang sejati). Dimana sajakah istana-istana dari Allah yang terdapat dalam tubuh kita?

Istana dari Allah itu ada di tiga lokasi dalam tubuh kita. Ketiga lokasi tersebut adalah:
1. Lokasi Pertama di Baitul Makmur
Penjelasannya adalah sebagai berikut : AKU mengatur singgasana dalam Baitul Makmur. Itulah tempat kesenangan-KU. Tempatnya ada di kepala anak Adam. Dalam kepala anak Adam terdapat dimak yaitu otak. Diantara dimak/otak itu terdapat manik. Di dalam manik itu terdapat premana atau pranawa. Di dalam pranawa terdapat sukma. Dalam sukma ada rahsa. Dalam rahsa ada AKU. Tidak ada ALLAH, selain AKU.
2. Lokasi Kedua di Baitul Muharram
Penjelasannya adalah sebagai berikut : AKU menata singgasana dalam Baitul Muharram. Itulah tempat Kesukaan-KU. Tempatnya ada di dada anak Adam. Dalam dada itu ada hati, yang berada diantara hati itu ada jantung. Dalam jantung ada budi. Dalam Budi ada jinem. Dalam Jinem ada sukma. Dalam sukma ada Rahsa. Dalam Rahsa ada AKU. Tidak ada ALLAH, selain AKU.
3. Nah Di Lokasi Ketiga di Baitul Mukadas
Penjelasannya adalah sebagai berikut : AKU mengatur singgasana dalam Baitul Mukadas. Itulah tempat yang AKU sucikan dan berada pada kemaluan Anak Adam&hawa. Dalam kemaluan laki-laki itu ada pelir. Dalam pelir ada nutfah yakni mani, dalam mani ada madi. Dalam madi ada manikem. Dalam manikem terdapat rahsa. Dalam rahsa itu ada AKU. Tidak ada ALLAH, selain AKU...PAHAHMKAN ANDA
Dengan memahami keberadaan istana-istana itu, setidaknya kita bisa lebih meningkatkan tafakkur dan lelaku guna bisa lebih mendekatkan diri pada Allah.....Coba pejemkan matamu 1detik,rasakan kehadiranya,HU......Allaaaaaahh.