Laman

Senin, 10 Januari 2022

SIFAT RUH

Allah Yang Maha Suci dengan sengaja menciptakan ruh yang menjadi sumber kehidupan seluruh makhluk-Nya dari dunia hingga akhirat. Dan pada hakikatnya seluruh ciptaan-Nya tersebut “Hidup” karena tidaklah Ia menciptakan suatu makhluk melainkan padanya ada ruh yang meliputinya. Termasuk langit dan bumi beserta isi antara keduanya pun punya ruh. Allah Yang Hidup adalah Dzat pemberi hidup dan kehidupan pada seluruh makhluk bangsa ruhaniah yang diwujudkan pada alam semesta. Tidak ada yang hidup melainkan dengan sumber kehidupan, yaitu ruh! Adapun ruh sendiri berasal daripada-Nya, dan menjadi nur (hidup) makhluk.

Tetapi bagaimanakah sesungguhnya sifat ruh itu?

Ruh adalah sesuatu yang lembut dan halus, meliputi seluruh keadaan makhluk dan tidaklah ia bertempat pada suatu tempat yang sifatnya lokal dan mikro. Apabila ruh meliputi pada sesuatu yang mati, maka hiduplah sesuatu itu. Ruh tidak dapat diukur besar kecilnya dengan suatu wujud jasmaniah. Ruh tidak berjenis sebagaimana jenis jasmani manusia dan makhluk lainnya. Dan apabila ruh mensifati serta meliputi hati manusia, maka memancarlah “himmah” dan kestabilan serta kekuasaan dalam gerak langkah hidupnya. Dan bilamana menyelusup menyelimuti nafsu (jiwa) serta mendominasinya, tercerminlah kemauan dan semangat hidup dalam menata kehidupannya.

Iika ruh menguasai akal pikiran maka akal pikiran akan menjurus kesempurnaan di dalam pandangan dan dapat menentukan suatu sikap atas dasar pertimbangan yang matang bagi perjalanan hidupnya. Begitulah adanya, jika ruh singgah di telinga maka mendengarlah ia, manakala ruh berkelebat melalui mata maka memandanglah ia, dan ketika ruh bertamasya pada mulut maka berhamburanlah kata-kata yang punya mulut, pun bila ruh menjalar pada tangan maka bergeraklah ia meraba dan mengusap, juga apabila ruh mengalir pada kaki maka dapatlah melangkah tegap ataupun gontai. Begitu pula bila ruh meliputi dan menguasai sel–sel yang bergerak ke seluruh peredaran darah maka tampaklah gerak hidup jasmani.

Ruh adalah golongan makhluk Allahur Rabbul ‘ alamin yang dikekalkan kehidupannya. Adapun hidup serta kehidupan makhluk yang diliputi ruh selalu tumbuh dan berkembang. Allah Yang Maha Kaya menamai kehidupan langit dan bumi beserta isi keduanya dengan isyarat “Nur” (cahaya atau kehidupan), sebagaimana firman-Nya :

Allahu nuurus samaawaati wal ardhi …

“Allah (pemberi) cahaya (hidup) langit dan bumi ….” QS. 24 An Nuur : Ayat 35.

Innallah khalaqa ruuhan nabiyyi shalallahu ‘alaihi wasalam min dzaatihi wakhuliqal ‘aalamu biasrihi min nuuri muhammadin shalallahu ‘ alaihi wasallam. (Al – HADIS )

“Sesungguhnya Allah menciptakan ruh Nabi saw, daripada Dzat-Nya lalu diciptakan alam sekaliannya dengan rahasia-Nya dari pada Nur Muhammad saw.”

Ruh, termasuk makhluk ciptaan-Nya yang gaib dan hidup meliputi dimensi alam jasmaniah. Dan ruh memiliki sifat yang berlawanan dengan jasmani. Ruh adalah Nurullah! Tapi ruh sebagai Nurullah bukan berarti sebagaimana cahaya yang memancar dari matahari atau lampu. Nur dalam pengertian ayat dan Hadis tersebut di atas bermakna Hidup! Yakni suatu makhluk yang hidup dihidupkan Allah Yang Maha Hidup dengan ruh ciptaan-Nya! Allahul Hayyi jualah yang menghidupkannya dengan memberikan ruh ciptaan-Nya.

Kalimat “Nur” di dalam firman Allahul ‘Azhim sangat banyak, bahkan lebih dari tiga puluh (30) ayat yang menyebut tentang “Nur” sekaligus meliputi atau menjadi simbol berbagai hal seperti Muhammad Rasul Allah saw., Al Qur’aan, Agama Islam, Malaikat, Ilmu serta Hidayah (petunjuk). Istilah “Hidup” yang meliputi kehidupan seluruh makhluk juga dirumuskan dalam bahasa wahyu dengan istilah “Nur”. Apabila ruh diibaratkan nur yang terang benderang maka jasmani diibaratkan suatu tempat yang gelap gulita semisal ruangan. Padahal tidaklah akan tampak terang suatu cahaya bila ia tidak bertempat pada yang gelap gulita. Begitu pula keadaan gelap pekatnya jasmani dikatakan gelap gulita bila tidak ada sesuatu yang meneranginya. Demikianlah pengertian “Ruh” sebagai “Nur” dalam istilah wahyu-Nya. Sifat Ruh

Sufi Road : Kajian tentang Ruh

Para ulama memiliki pandangan berbeda tentang bolehnya mengkaji tema seputar ruh. Ada yang berpendapat, mengkaji ruh itu haram, karena hanya Allah yang tahu. Ada pula yang berpedapat, kajian tentang ruh itu makruh mendekati haram, karena dalam Al-Quran tidak ada nash yang menjelaskan masalah ruh secara gamblang.

Setiap pendapat tersebut memiliki dasar pemahaman yang berbeda terhadap firman Allah, “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan kalian hanya diberi sedikit pengetahuan’.” – QS Al-Isra’ (17): 85.

Mereka yang menolak kajian tentang ruh di antaranya berpandangan, pernyataan Allah pada ayat tersebut menjelaskan bahwa ruh termasuk alam metafisika, yang tidak dapat diketahui secara pasti. Ia bukan sesuatu yang bersifat inderawi, yang dapat diketahui lebih jauh. Selain itu, ilmu manusia terbatas hanya pada pengetahuan tentang penciptaan. Inilah yang dimaksud dengan kalimat dalam ayat tersebut, “Dan kalian hanya diberi sedikit pengetahuan.”

Sementara itu mereka yang memperbolehkan mengkaji tentang ruh di antaranya berpandangan, tidak ada kesepakatan para ulama yang menyatakan bahwa ruh yang ditanyakan dalam ayat itu adalah ruh (nyawa) manusia. Ada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud ruh dalam ayat tersebut adalah Al-Quran, Jibril, Isa, atau ciptaan Allah yang ghaib, yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Bagaimanapun, yang lebih baik adalah tidak membahas masalah ruh terlalu dalam. Syaikh Abu An-Nashr As-Sarraj Ath-Thuusi mengatakan, “Terdapat orang-orang yang salah memahami ruh, (kesalahan) mereka ini bertingkat-tingkat, semuanya bingung dan salah paham. Sebab mereka memikirkan keadaan sesuatu (yakni ruh) yang mana Allah sendiri telah mengangkat darinya pada segala keadaan dan telah membersihkannya dari sentuhan ilmu pengetahuan, (sehingga) ia tak akan dapat disifati oleh seorang pun kecuali dengan sifat yang telah dijelaskan Allah.”

Hakikat Ruh

Habib Syaikh bin Ahmad Al-Musawa, dalam karyanya berjudul Apa itu Ruh?, menyatakan, definisi ruh adalah, “ciptaan/makhluk yang termasuk salah satu dari urusan Allah Yang, Mahatinggi. Tiada hubungan antara ia dengan Allah kecuali ia hanyalah salah satu dari milik-Nya dan berada dalam ketaatan-Nya dan dalam genggaman (kekuasaan)-Nya. Tidaklah ia menitis (bereinkarnasi) ataupun keluar dari satu badan kemudian masuk ke badan yang lain. Ia juga akan merasakan kematian sebagaimana badan merasakannya. Ia menikmati kenikmatan sebagaimana juga badan, atau akan merasakan siksa sebagaimana juga badan. Dia akan dibangkitkan pada badan yang ia keluar darinya. Dan Allah menciptakan ruh Nabi Adam AS dari alam malakut sedangkan badannya dari tanah.”

Sementara itu, sebagian besar filosof muslim, seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan sekelompok kaum sufi, berpendapat, jiwa terpisah dari materi. Ia bukan jasad atau benda. Ia tidak memiliki dimensi panjang dan dalam. Jiwa sangat berhubungan dengan sistem yang bekerja dalam jasad. Dengan kata lain, jiwa menggerakkan jasad dari luar karena ia tidak menyatu dengan jasad. Jiwa adalah inti ruh murni yang dapat mempengaruhi jasad dari luar seperti magnet.

Al-Ghazali, dalam Ihya’-nya, menyebutkan, kata-kata ruh, jiwa, akal, dan hati, sejatinya merujuk pada sesuatu yang sama, namun berbeda dalam ungkapan. Sesuatu ini, jika ditinjau dari segi kehidupan jasad, disebut ruh. Jika ditinjau dari segi syahwat, ia disebut jiwa. Jika ditinjau dari segi alat berpikir, ia disebut akal. Dan jika ditinjau dari segi ma’rifat (pengetahuan), ia disebut hati (qalb).

Dalam bahasa sehari-hari, ruh dan jiwa juga acap digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang sama, seperti pada ucapan “ruhnya telah melayang”, atau “jiwanya telah melayang”. Dua kalimat tersebut bermakna sama, orang itu telah mati.

Para ulama lainnya berpendapat, ruh adalah benda ruhaniah (cahaya) langit yang intinya sangat lembut, seperti sinar matahari. Ia tidak dapat berubah, tidak dapat terpisah-pisah, dan tidak dapat dikoyak. Jika proses penciptaan satu jasad telah sempurna dan telah siap, seperti dalam firman Allah “Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya – QS Al-Hijr (15): 29, benda-benda mulia (ruh) Ilahi dari langit akan beraksi di dalam tubuh, seperti api yang membakar. Inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah “Aku meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya.” – QS Al-Hijr (15): 29. Selama jasad dalam kondisi sehat, sempurna, dan siap menerima benda mulia tersebut, ia akan tetap hidup. Jika di dalam jasad ada unsur-unsur yang memberatkan, misalnya penyakit, unsur-unsur itu akan menghambat benda mulia ini sehingga ia akan terpisah dari jasad. Saat itu, jasad menjadi mati.

Beragam definisi ruh disebutkan para ulama. Intinya, manusia terdiri dari jasad dan ruh. Perbedaan pendapat para ulama seputar hakikat ruh bukan bagian dari inti aqidah Islam. Masalah ini berada dalam ranah ijtihad para ulama.

Abadi, atau Fana?

Allah menetapkan kematian atas segala yang memiliki ruh dari makhluk-Nya, penguasa maupun rakyat jelata, yang kaya atau yang miskin, yang mulia atau yang lemah, yang maksiat atau yang taat, dari seluruh penduduk alam semesta ini, dan kemudian mengadili mereka di akhirat.

Dia menggenggam ruh sebagian manusia yang telah memakmurkan dunia dan menghiasinya dengan bangunan-bangunan, kemudian manusia itu menempatinya, meski itu bukan tempat yang kekal bagi semua yang hidup.

Dia juga menggenggam ruh manusia sebagian lainnya yang bersungguh-sungguh untuk memperbaiki akhiratnya dan menjadikan dunia hanya sebagai batu loncatan untuk memperbanyak amal shalih mereka sebagai perahu dalam mengarunginya.

Ruh yang ini mendapat kebahagiaan dan kesenangan, sementara ruh yang lain mendapatkan kekecewaan, kecelakaan, dan kepayahan. Ruh yang ini bersenang-senang di kebun surga dan bernaung di lentera-lentera yang bergantung di ‘Arsy dalam kenikmatan yang menyenangkan, sedang ruh yang lain terpenjara dan tersiksa di neraka jahim. Alangkah jauh perbedaan antara kedua ruh jasad dua jenis manusia tersebut.

Setelah seseorang mati, ruh tetap ada hingga terjadi peniupan sangkakala yang pertama. Ulama sepakat akan hal itu. Selama masa itu, ruh merasakan nikmat atau adzab di alam kubur.

Adapun setelah ditiupnya sangkakala, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian ulama berpendapat, ruh bersifat fana (akan sirna) dan akan mati saat peniupan sangkakala yang pertama. Dasarnya adalah firman Allah, “Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian.” – QS Ali Imran (3): 185. Dalam ayat lainnya disebut, “Semua yang ada akan binasa.” – QS Ar-Rahman (55): 26.

Menurut pendapat terkuat, setelah peniupan sangkakala yang pertama, ruh akan tetap abadi. Hukum asal sesuatu yang abadi adalah selalu ada sampai ada sesuatu yang mengubahnya. Perdapat tentang keabadian ruh ini disimpulkan dari ayat “Dan ditiuplah sangkakala. Maka, matilah makhluk yang di langit dan di bumi kecuali makhluk yang dikehendaki Allah. Kemudian sangkakala ditiup sekali lagi. Tiba-tiba mereka berdiri menunggu (keputusannya masing-masing).” – QS Az-Zumar (39): 68. Menurut penjelasan ayat ini, ruh termasuk sesuatu yang dikecualikan.

Ruh Mengetahui saat Diziarahi

Apakah ketika orang hidup menziarahi orang mati, ruh orang mati tersebut dapat mengetahui bahwa ia tengah diziarahi? Habib Syekh menuliskan dalam bukunya, jawabannya adalah “Ya.”

Bila ditanyakan apakah jasad mereka atau arwah mereka (yang bertemu), ia menjawab, “Sungguh jauh sekali. Jasad sudah hancur, yang bertemu hanyalah arwah mereka.”

Ibnu Abdil Barr berkata, “Telah tetap riwayat dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim melewati kubur saudaranya yang mana dahulu ia mengenalnya di dunia, kecuali Allah akan mengembalikan ruh saudaranya itu lalu ia menjawab salamnya.” Hadits ini menunjukkan, ruh si mati mengenalinya dan menjawab salamnya.

Pada hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, disebutkan, ketika Rasulullah SAW memerintahkan agar korban yang tewas pada Perang Badar (dari kaum musyrikin) dikuburkan dalam satu lubang, kemudian beliau mendatangi lubang tempat kubur tersebut lalu berdiri dan menyeru mereka yang telah mati itu dengan namanya masing-masing, “Wahai Fulan bin Fulan, wahai Fulan bin Fulan, apakah kalian telah mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhan kalian adalah benar? Karena sesungguhnya aku mendapati apa yang dijanjikan Tuhanku kepadaku adalah benar”, berkatalah Umar RA kepada beliau, “Ya Rasulullah, mengapakah Tuan menyeru/berbicara kepada orang-orang yang telah menjadi bangkai.”

Beliau menjawab, “Demi Allah, yang telah mengutusku dengan kebenaran, tidaklah kalian lebih mendengar apa yang kau katakan daripada mereka. Hanya saja mereka tak dapat menjawab.”

Saat memperhatikan kebiasaan sebagian besar masyarakat di Nusantara yang melakukan aktivitas ruwahan atau berkirim pahala amal kepada orang-orang yang telah wafat atau khususnya kepada arwah yang mereka ziarahi, apakah arwah orang yang telah mati itu dapat mengambil manfaat dari amal orang hidup, ataukah tidak? Berikut ini salah satu hujjah di antara luasnya bahtera hujjah yang menunjukkan sampainya amalan orang hidup kepada orang yang telah mati.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka, dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata, “Telah datang seorang kepada Nabi SAW lalu orang itu bertanya, ‘Ya Rasulullah, ibuku meninggal dunia dan ia meninggalkan utang puasa sebulan, apakah aku dapat mengqadha puasanya?’

Rasulullah SAW balik bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu jika ibumu berutang lalu engkau melunasi utangnya, apakah itu mencukupi/menggugurkan kewajibannya?’

Orang itu menjawab, ‘Ya.’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika demikian, utang kepada Allah lebih wajib untuk dilunasi’.”


Minggu, 09 Januari 2022

Kosong

 Bismillah, 


Alhamdu itu Aku (Allah) dgn engkau.

Ingat itu adlh RahasiaKu kpd engkau. Jika engkau tiada berpegang pd yg diajarkan Nabi (Rasulullah) mk engkau sesat lagi kafir.

Oleh sebab itu wajiblah engkau mengerjakan perintahnya dan taat kpdnya dan hendaklah engkau Khauf dan Cinta dan jangan engkau lupa setiap saat. 

Jika engkau lupa mk Aku lebih jauh dan kalau engkau dekat mk Aku lebih hampir dan kalau engkau hampir mk Akulah dirimu dan DiriKu adlh Laisya Kamislihi Syai'un, disitulah engkau zauk. Perbanyaklah amaliah  sehingga terbukalah bagi engkau satu dinding rahasia (hijab) yg dikatakan Nur Ala Nurin. Mk Nur itu tajalli kpd DiriNya, sehingga engkau ghaib mk engkau adlh di dlm Wujud-Haq. 


Kita sebut kalimah dzikir LAA ILAHA ILLALLAH satu nafas itulah yg disebut KALAMULLAH.

Jika engkau naikkan nafas engkau itu Aku (HU) mk itulah yg dinamakan WujudKu yg Laisya, ialah yg tanpa huruf dan tiada suara. 

Jika engkau dzahirkan suara engkau itu mk dzahirlah SifatKu, jika tiada engkau dzahirkan mk engkau ghaib di dlm Wujud Idafi. Wujud itu Laisya Idafi, itu suci murni dan bersih. 

Itulah yg disebut Nur dan itulah yg dinamakan AHMAD dan juga adlh Nur-Dzat. Mk Dzat itulah yg disebut engkau,barulah itu dikatakan Fana Ul Fana atau Karam dan engkau itu sampailah sdh pd Baqa Ul Baqa. Disitulah engkau melalui segalanya yg disebut Nur Ala Nurin (Ghaib dengan Ghaib) sampai Haq kpd Haq. 


Mari kita kembali kpd asalnya Al-Fatihah, Aku Laisya,  di dlm Aku engkau mk disitulah engkau naikkan nafas engkau kpdNya. 

Kalau engkau turunkan ke bumi atau kedalam jasad, jasad itulah yg berbunyi Allah hurufnya. Jika engkau hilangkan huruf Allah itu menjadi Hu itulah yg disebut kosong, tiada tau lagi akan dirinya, hanya yg ada Wujud saja lagi. Mk engkau tiadalah berujud lagi dan sifat bersifat lagi, dan tiada nama bernama dan tiada buat berbuat. 


Mk disitulah engjau karam di dlm Kalimah ini, barulah engkau itu hilang semuanya, yg ada hanya Wujud saja lagi SE-MATA2, disitulah engkau bernama Nuk (Nuktah). Mk Nuktah ini ialah satu2nya yg menjadi awal sekalian yg ada ini.

Mk selalulah engkau taat akan segala perintahnya, ingatlah selalu akan kataNya : Esakan Aku, Esakan Aku atau sempurnakan Aku. Jika engkau sempurnakan mk engkau itu yg bernama Insan.

Jika engkau manusia mk Dialah manusia Insan-Kamil.

Se-benar2nya diri itu Ruh. 

Se-benar2nya Ruh itu Sir. 

Se-benar2nya Sir itu Rahasia. 

Se-benar2nya Nur Nuhammad itu Sifat. 

Se-benar2nya sifat itu Dzat. 

Wassalam,,

Sabtu, 08 Januari 2022

KEUTAMAAN ZIKIR NAFI ISBAT

Dzikir Nafi dan Isbat , adalah dzikir yang paling besar manfaatnya dan sangat berbekas bagi manusia ,yaitu kalimat : LAA ILAAHA ILALLOH , artinya tiada Tuhan selain AllAh.


Allah berfirman :


” Ketahuilah tentang Tuhan itu ,bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah  ”


Nabi Muhammad SAW bersabda :


” Yang paling utama apa yang aku ucapkan dan apa yang di ucapkan oleh Nabi - Nabi sebelumku, yaitu : ” LAA ILAAHA ILLALLOH ”


Kemudian Nabi berkata pula dalam hadist :


” Barangsiapa yang  mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH dengan ikhlas pasti masuk syurga ”


Dalam hadist lain Junjungan kita juga bersabda :


” Bagi mereka  yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH tidak usah takut akan kejahatan dalam kubur dan kejahatan pada waktu berkumpul di Padang Makhsyar.”


Kemudian Rosululloh SAW bersabda pula :


” Jika ada seseorang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH secara benar, meskipun ia memiliki dosa sebesar bumi akan di ampuni Tuhan dosanya itu.”


Kalimat itu dinamakan “Kalimat Thoyyibah” yang dapat mensucikan orang yang mengucapkannya,dari syirik jali sebagaimana ia dapat membersihkan jiwa orang itu dari syirik khofi dan menjadikan orang itu orang ikhlas dan murni. Begitu juga kalimat ini dapat membuka hati manusia dari hijab yang selalu menghalangi kepada kebenaran , serta membersihkan jiwa orang itu dari segala kotoran dan sifat- sifat kebinatangan.


Kalimat LAA ILAAHA ILLALLOH itu mengkaruniai kasyaf bagi yang mengucapkan untuk selama-lamanya  , disamping mengkaruniai sifat sidiq , ikhlas , ilmu laduni , rahasia-rahasia yang aneh dan akan di beri musyahadah bermacam macam dari Allah


Karunia yang demikian itu di peroleh , jika ucapan kalimat itu diambil dan di terima dari hati yang taqwa dan suci dari selain Allah, bukan hanya dipetik dan di dengar saja dari mulut mulut orang awam .Kalimat Nafi-Isbat itu meskipun sepotong ayat yang pendek,tetapi maknanya sangat luas meliputi seluruh hati jika di ambil dengan butir- butir tauhid dari hati yang hidup ,butir- butir itu akan tumbuh. Berlainan dengan butir- butir yang tidak mencapai dan tidak hidup.


Rosululloh bersabda :


” Bahwasanya Allah ta’ala itu mengharamkan api neraka menjilat orang yang berkata LAA ILAAHA ILLALLOH yang ditujukan hanya kepada Allah semata mata. (HR.Bukhori-Muslim).


Dalam hadist lain :


“Orang sedang berdzikir seperti  pohon yang rindang di tengah tengah pohon kering .”


Nabi berkata juga :


” Orang yang ingat kepada Allah adalah laksana orang yang hidup di tengah- tengah orang yang mati .”

Rabu, 05 Januari 2022

Nikmat dalam Sakit

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


Seorang yang hidup di dunia pasti akan mengalami berbagai jenis keadaan yang berbeda. Terkadang ia sehat, namun di lain waktu ia juga sakit. Tentunya yang diinginkan setiap orang adalah kondisi sehat. Makanya banyak yang mengeluh saat diuji Allah dengan sakit.


Namun tahukah Anda bahwa di balik sakit itu ternyata ada berbagai kenikmatan? Apa saja? Di antaranya:


Pertama: Sakit itu mengurangi dosa


Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,


“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“


“Tidaklah ada kelelahan, sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudry dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.] 


Kedua: Dengan bersabar, sakit akan menjadi ‘mesin’ pahala


Allah ta’ala berfirman,


“إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“


Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberi pahala sempurna tanpa batas”. [QS. Az-Zumar (39): 10.] 


Ketiga: Sakit bisa menyadarkan diri dari kelalaian


Dalam al-Qur’an ditegaskan,


“ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“


Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena pebuatan tangan manusia. Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. [QS. Ar-Rum (30): 41.] 


Keempat: Sakit mengingatkan nikmat sehat


Seorang penyair berkata,


“الصِّحَّةُ تَاجٌ عَلَى رُؤُوْسِ الْأَصِحَّاءِ لاَ يَرَاهَا إِلاَّ الْمَرْضَى“


“Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat. Yang bisa melihatnya hanyalah orang-orang yang sakit”.


Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah di balik sakit. Maka janganlah habiskan waktu Anda untuk banyak mengeluh, sebab ternyata di balik sakit terdapat nikmat tak terhingga.


Catatan Penting:


Segala keterangan di atas tidak berarti bahwa kita diperintahkan untuk meminta sakit. Juga bukan berarti pula bahwa kita dilarang untuk berupaya mencari penyembuhan sakit kita. Yang benar, kita selalu berusaha memohon kesehatan kepada Allah ta’ala. Dan apabila suatu saat diuji dengan sakit, maka kita berusaha untuk mencari kesembuhan dengan cara-cara yang dibenarkan agama. Andaikan belum sembuh juga, maka ingatlah berbagai hikmah di atas, niscaya penderitaan Anda akan terasa lebih ringan. Dan yang lebih penting dari itu, Anda akan mendapatkan keberuntungan di akhirat, in sya Allah…

MENJELASKAN BID'AH BUKAN BERARTI MEMVONIS NERAKA

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Ketika pada da’i menasihati dan melarang amalan-amalan bid’ah, maka sama sekali bukan berarti memvonis pelakunya penghuni neraka.


📌  Ini adalah kesalahpahaman yang menjalar di tengah masyarakat. Yang kesalahpahaman ini juga dijadikan senjata untuk menentang dakwah Sunnah dan melarang orang membahas masalah bid’ah. Oleh karena ini mari kita luruskan duduk perkaranya.


Rasulullah ﷺ teladan dalam mengingkari bid’ah.


Orang yang mencontohkan dan memberi kita teladan untuk menjauhi bid’ah serta melarang bid’ah adalah Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ bersabda,


مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ


“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”.

📘  (HR. Bukhari No. 2697 dan Muslim No. 1718).


Rasulullah ﷺ juga bersabda,


مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ


“Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”.

📘  (HR. Muslim No. 1718).


Bahkan tidak hanya sekali-dua kali Beliau ﷺ bicara masalah bid’ah. Rasulullah ﷺ setiap memulai khutbah . Beliau ﷺ mengucap


أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ


“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan”.

📘  (HR. Muslim No. 867).


Tidak hanya itu, di akhir-akhir hidup Beliau ﷺ, Beliau ﷺ masih mewanti-wanti masalah bid’ah. 


Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu mengatakan:


صلَّى بنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ذاتَ يَومٍ، ثُمَّ أقبَلَ علينا، فوَعَظَنا مَوعِظةً بَليغةً ذَرَفَتْ منها العُيونُ، ووَجِلَتْ منها القُلوبُ، فقال قائلٌ: يا رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، كأنَّ هذه مَوعِظةُ مُودِّعٍ، فماذا تَعهَدُ إلينا؟


"Rasulullah ﷺ shalat bersama kami suatu hari. Setelah shalat Beliau ﷺ menghadap kami kemudian memberikan nasihat yang mendalam yang membuat air mata berlinang dan hati bergetar. Maka ada yang berkata:


"Wahai Rasulullah ﷺ, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, apa yang engkau pesankan kepada kami?”


Maka Rasulullah ﷺ pun bersabda,


أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ


“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah ﷻ, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada Sunnah-ku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.

📘  (HR. At Tirmidzi No. 2676. Ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).

ENAM JERATAN IBLIS

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


▫️Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa jerat-jerat iblis terfokus pada enam poin. Ia akan mengajak manusia kepada hal yang paling berbahaya, yaitu poin pertama. Bila belum berhasil, maka ia akan menggodanya menuju poin kedua, dan seterusnya. Berikut keenam poin tersebut:


1⃣ Pertama: Mengajak manusia kepada kakafiran, kemusyrikan dan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Hal inilah yang pertama diinginkan setan dari manusia. Betapa banyak manusia yang terjerumus ke dalam poin ini hingga menjadi bala tentaranya. Allahul-musta’aan


2⃣ Kedua: Menarik manusia kepada bid’ah dan perkara baru dalam agama, baik dalam masalah akidah maupun ibadah. Bid’ah begitu berbahaya, sebab begitu kecil kesempatan bertaubat dari pelakunya. Selain itu, bid’ah juga dapat membawa kepada kekafiran.


3⃣ Ketiga: Menggoda manusia agar mengerjakan dosa besar dengan berbagai macamnya. Dosa besar juga merupakan pengantar kepada kekafiran. Betapa banyak manusia yang terjerumus ke dalam dosa besar. Sehingga hati mereka menjadi keras sehingga dapat menghalangi mereka dari menerima kebenaran. 


4⃣ Keempat: Menggodanya dengan dosa-dosa kecil. Dosa-dosa ini menjadi mukadimah kepada dosa besar. Bila terus dikerjakan, maka statusnya berubah menjadi dosa besar. Meskipun disebut dosa kecil, namun tetap saja haram dilakukan dan tidak sepatutnya diremehkan. Mereka dahulu berkata, “Janganlah engkau melihat kepada kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat


5⃣ Kelima: Menjadikan manusia tersibukkan dengan hal-hal mubah hingga banyak menyia-nyiakan waktu dan usia, tanpa memanfaatkannya untuk kebaikan dan amal saleh. Sebagian orang berlebihan dalam hal mubah, seperti dalam hal makan dan minum, tempat tinggal maupun pakaian. Mereka menyia-nyiakan banyak harta dan waktu, serta jauh dari berbuat kebaikan. Hingga menyebabkan mereka lupa bersiap-siap berbekal menuju negeri akhirat


6⃣ Keenam: Memalingkannya dari amalan utama kepada selainnya. Seperti mengeluarkan harta pada perkara tidak penting, menyibukkan diri dengan amalan rendahan, belajar cabang ilmu yang tidak bermanfaat, mementingkan usaha syubhat (yang tidak jelas halal haramnya) dari pada yang jelas halalnya, mendahulukan ibadah yang keutamaannya hanya kembali kepada diri sendiri dari pada ibadah yang keutamaannya kembali kepada orang banyak.

TINGKAT ILMU

 Assalamualaikum

1.. ILMU USULUDDIN.

Ilmu Usuluddin batasnya adalah Mengenal Allah swt dibatas Akal yang membezakan HAQ dan yang BATHIL dengan Akal dan Dalil dari Firman-Firman Allah swt. Keyakinan maksima hanyalah kepada Ilmul Yaqin iaitu di Yakini dengan Ilmu Kalam atau Ilmu Akal.


2.. ILMU TASAWWSUF.

Menjalani proses Kerohanian seperti Salik Majzub yang mendaki atau Tanazul Rohaninya kepada wilayah KEESAAN Allah swt adalah punca terbitnya keadaan Hulul atau Mabuk dengan kesan daripada wilayah Wahdatul Wujud, samada seseorang itu tenggelam didalam Syuhudul Kasrah Fil Wahdah mahupun didalam Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, bagi Majzub Salik yang di sentap Rohaninya kepada isim Ar-Rahman.


3... ILMU TAUHID.

Peringkat Ilmu Tauhid adalah proses Mengenal Allah swt dengan Ilmu dan Pengalaman Rohani yang tidak terhenti, sampailah kita mati walaupun kita telah mengalami Pengalaman-pengalaman Rohani yang mistik, kerana Anugerah Ma'krifat bagi setiap hamba Allah itu tidak sama.

Ma'krifat Nabi Musa as dengan Ma'krifat Nabi Khidir as tidak sama. Dan tiada Nabi yang mampu mencapai Ma'krifat yang Sempurna kecuali Nabi Muhammad saw, kerana Roh Nabi Muhammad saw adalah Roh yang paling hampir kepada Allah swt.


"Maka umat yang paling beruntung adalah kita iaitu umat Nabi Muhammad saw."

Dan tiada jalan yang paling SELAMAT dan yang paling baik untuk sampai kepada Hakikat Ahad melainkan Manhaj Nubuwwah iaitu jalan Sunnah Kenabian Nabi Muhammad saw. Dan jalan yang tersisa kini adalah jalan Kewalian iaitu Manhaj Kesufian dari keturunan Baginda sendiri.


Pensucian "ANA AL-HAQ" adalah bagi Mensucikan fahaman Wahdatul Wujud yang telah tercemar kerana salah faham orang awam yang hanya memilki Ilmu Usuluddin dan Tasawwuf yang tidak melalui Manhaj Kesufian juga meniti amalan-amalan Kesufian yang mistik seperti; 

Uzlah'... Suluk.. klawat..


Dan juga bagi mencerahkan kepura-puraan orang-orang yang merasakan ia telah Hulul di Maqam Latah iaitu Maqam Syatahat.


Maqam-Maqam Wali Allah itu banyak, dari Salik, Wali kecil hinggalah ke Maqam Wali Qutub atau Aqtab iaitu penghulu sekalian Wali.


Maka Insan Sejati yang Muhaqqiqin itu hanya ada satu, pada satu-satu zaman yang menjaga HAQ KEESAAAN Allah yang AHAD, iaitu Maha ESA dan HAQ ketinggian Azzawajala yang tiada tandingan.


Sementara fahaman Wahdatul Wujud ini sudah mula dirasai oleh permulaan Kewalian apabila ASYIK dengan Anugerah Tajali Ma'krifat ataupun telah tenggelam didalam Maqam Ma'krifat.

Maka kita tidak boleh menyalahkan Wali-Wali Allah ini kerana mereka seperti orang yang mabuk kepayang atau gila angau. Cuma kita perlu nilai mereka ini agar tidak melanggar HAQ KEESAAAN Allah yang Maha ESA (Ahad) dan ketinggian Allah yang Maha Sempurna Kemuliaan-Nya.


مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ


"Siapa yang memusuhi Wali-Ku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah Hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa seorang Hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan Sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya.”


Hadis Qudsi ini menjadi bukti bahawa adanya keadaan Hulul yang berlaku kepada Wali-Wali Allah swt dan hadis sebelumnya membuktikan bahawa adanya wilayah kedalaman hati yang berbeza-beza dari wilayah Kerinduan, kemudian Fana dan Lebur di wilayah Rahasia Allah swt dan akhirnya hati itu sampai kepada Allah swt.


Maka ayat-ayat Al-Qur'an yang Mahkamat adalah ayat yang berguna sebagai batu penguji atau perisai untuk menilai maksud bagi Bathin Kalam-kalam yang Musyabihat dan batu penilai kepada kitab-kitab yang terdahulu seperti Kitab Zabur, Taurat dan Injil, termasuklah Suhuf-Suhuf sekalian Nabi seperti Suhuf Ibrahim as dan Suhuf Musa as.


هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا


"Bukankah telah datang kepada manusia satu ketika dari masa (yang beredar), sedang ia (masih belum wujud lagi, dan tidak menjadi sesuatu benda yang disebut-sebut."

(QS. Al-Insan : 1)


Maka apakah maksud kepada "Al-insanu Sirri" ?

Apakah maksud kepada “Insan Rahasia-Ku” ?


Jawaban petunjuk bagi ayat itu kepada "Sirri" adalah “Wa Ana Sirruhu”

 “Dan AKU-lah Rahasia itu”...


Maka huraian maksud Insan itu Rahasia-Ku akan menjadi berlapis-lapis dari berbagai-bagai Maqam seseorang Mursyid.


Ia boleh jadi Insan itu DIRAHSIAKAN oleh Allah swt. Maka Insan itu menjadi Martabat manusia yang memiliki Sifat-Sifat Terpuji iaitu Wali-Wali Allah yang Allah swt RAHSIAKAN.

Soalnya bukan semua Wali-Wali Allah itu DIRAHSIAKAN seperti Sultanul Aulia Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, al-Imam al-Ghazali dan lain-lainnya, dan semua Khulafa al-Rasyidin itu adalah Penghulu sekalian Wali yang tidak DIRAHSIAKAN Allah swt.


Terdapat juga Wali-Wali yang Allah RAHSIAKAN seperti Uwais Al-Qarni, Abdullah Fasik dan yang lain-lainnya.


Petunjuk “Wa Ana Sirruhu” adalah Balaghoh atau Petunjuk yang lebih tepat bagi Kalam Allah pada Hadis Qudsi ini.


Insan itu adalah orang-orang yang Dianugerahkan Rahasia Allah swt. Mustahil Allah swt mahu Menganugerahkan Rahasia-Nya kepada orang-orang Kafir Harbi yang memusuhi Nabi-Nya.


Allah swt berfirman;

“Allahu Nuurrus Samawatiwal Ardh.”


Umpama Hidayah itu hanyalah milik Allah swt apabila dibukakan penutup hati-hati manusia, begitu juga dengan Nur Petunjuk dari Allah swt.


Maka Nur Petunjuk dari Allah swt itulah yang menjadi Tajali (Permata Kanzun Makfiyan) yang dipertaruhkan di wilayah hati yang paling dalam kepada Hamba-hamba-Nya yang sangat Dikasihi-Nya.


Hadis Qudsi;

“Kelak mereka akan melihat Tuhannya seperti cahaya bulan yang terang benderang”


Inilah batas Ma'krifat tertinggi didunia sebelum kita berjumpa Allah swt bagi melihat Keindahan Wajah-Nya yang tidak Terhijab lagi.