Laman

Rabu, 12 Januari 2022

Tampa Huruf Tampa Suara"

 Alhamdulillah

Apa Allah itu? Tidak ada tafsirnya.

Apa itu Allah? Dirinya alam. 

Siapa itu Allah? Satu Maharuang dan semesta alam. 

Bagaimana Allah itu? Meliputi alam dunia dan akhirat.


Yang dapat mengalahkan pengaruh ketuhanan dan kenabian, yaitu dengan kesadaran tinggi dalam pengenalan. Kalau kita musyahadah pada kosong, kita berada dalam kosong. Sadari kita benar-benar dalam kosong. Itulah yang tidak ada tafsirnya. Yang tidak ada tafsirnya itulah ھ , maka kosonglah dia. Ini pribadi antara kita dengan Tuhan.


Perasaannya perasaan itu Ruh Qudus. Hendaklah kita rasakan sampai kepada yang diam itu (sama-tengah-hati). Inilah diistilahkan: "Ada di dalam diam." Tubuh yang diam inilah yang tajalli. Syahadat ada di dalam diam. 


Ruh Qudus itu zat mutlak. Dan zat mutlak itu Rahasia Tuhan. Kalau ruh rayhan itu sifat atau cahaya zat (mutlak) itu. Cahaya zat itu menjadi manusia. Cahaya zat inilah cahaya Ruh Qudus (cahaya diri Ruh Qudus).


Tubuh yang diam itulah yang tajalli. Syahadat ada di dalam diam. Ruh Qudus itu zat; Rahasia Tuhan. Sedangkan zat dan sifat itu satu, maka ingatan dan perasaan itu musti satu.


Sahnya tafakur: Ruh Qudus diam. Kosong itu nyawa hakiki atau Nur. Muhammad itu nyawa majati, artinya yang ada di sama-tengah-hati.


Musyahadah pada kosong, kita berada dalam kosong. Sadari kita berada dalam kosong. Itulah ھ yang tidak ada tafsirnya. Jadi, ھ ini tidak diucapkan dengan huruf atau dengan suara; tidak dibunyi-bunyikan. Cukup disadari kita berada dalam kosong.


“Tafakur tidak boleh lama-lama. Jika lama, jahat. Hanya satu saat saja. Untuk cepat berhasil, bawalah dengan mengaji Quran. Jangan ingat-ingat kosong dan sesuatu lagi. Apabila merenyamnya hilang, sampailah orang itu.

Orang yang sempurna mengenal Allah itu, apa yang terlintas, terdengar, teringat, terpandang, dan lain-lain itu, semuanya BUKAN Allah. Jadi, penghabisan tafakur, siapa memandang putih dirinya, sampailah ilmunya.

Wasalam

ALLOH MAHA MELIPUTI

 BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Sadaraku. Muslimin dan muslimat .Jika kau telah mengenal diriMu yang Sejati maka kau bukan lagi seonggok daging atau sekujur tubuh.

Apabila saat perkenalan itu telah tiba atau hari terahirmu.maka zikirMu tak lagi dengan suara atau dengan gerak. tetapi zikirMu adalah melihat siapa yang kau ingat. Kau akan melihat wajah Allah dimanapun kau berada. dan kau tak lagi akan melihat mati itu satu kematian. karena sesungguhnya ketika itu kau menyusuri ruang waktu.

ketika itu kau adalah cahaya Allah di bumi ini

Dan kau akan tetap menjadi cahaya milik Allah saat di akhirat nanti. dan sesungguhnya karena kau adalah milik Allah. terserah kepada Allah mau dibuat apa engkau itu karena kembali kepada AsalMu. Setelah itu baru apa yang kelihatan itu akan berwajah kau. dan disitu jugalah keadaan yang mana yang memandang dan yang dipandang itu adalah kau yang esa. Kau melihat wajahMu sendiri ketika pandang memandang itu.

Jikalau kau sudah paham dan yakin segala sesuatu selain kau telah fana. itulah tandanya hatiMu itu telah mencapai ketahap puncak Ma'rifat. tahap mengenal dia dengan sebenar-benarnya pengenalan. Jika kau masih juga tidak faham dan yakin. maka akan diterangkan seperti ini untukMu yaitu berawal dari mengenal mani adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yang disebut sulbi dan taraib .Jadi mani itu adalah mulanya seberkas cahaya yang dikeluarkan oleh Allah dari mutu manikam

sehingga para Ulama berpendapat yaitu:

Mani adalah salah satunya dzat penjelmaan dari dua macam dzat (sulbi dan taraib)....

Dengan adanya KUDRATILLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak. dan yang menjadi IRADATILLAHI yaitu berasal dari ibu .Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu. hal ini tidak terlalu nampak karena birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudrat kaum bapak. Karna kaum ibu ini hanyalah iradat. maka ulama mengistilahkan 

SYURGA ITU DI ATAS TELAPAK KAKI IBU :


Untuk lebih jelasnya akan diterangkan dibawah bagian-bagian dari maksud yang di atas:

BAGIAN BAPAK: wadi. madi. mutu. mani. atau disebut sulbi.

BAGIAN IBU: tanah. air

angin. api. atau disebut taraib.

BAGIAN ALLAH: ruh idhafi. ruh ruhani. ruh rahmani.ruh jasmani


BAGIAN DARI GUDANG RAHASIA DISEBUT MUTU MANIKAM YAITU:

* Tanah itu ialah badan muhammad

* Air itu ialah nur .muhammad

* Angin itu ialah nafas muhammad

* Api itu ialah penglihatan muhammad


Awal itu ialah nurani„

Akhir itu ialah ruhani„

Zahir itu ialah insani„

Bathin itu ialah rabbani„ Nurani itu ialah nyawa„

Ruhani itu ialah hati„

Insani itu ialah tubuh„

Rabbani itu ialah rahasia


Nyawa itu ialah idhafi„

Hati itu ialah ruhani„

Tubuh itu ialah jasmani„

Rahasia itu ialah aku yang sejati„

Tubuh itu menyatu kepada hati Hati itu menyatu kepada nyawa„

Nyawa itu menyatu kepada rahasia„

Rahasia itu menyatu kepada nur„

Nur itulah bayang-bayang Allah yang sebenar-benarnya


Wadi... kalimahnya: LAA ILAHA

Madi... kalimahnya: ILALLAH

Mutu... kalimahnya: ALLAH

Mani... Kalimahnya: HU


Ruh jasmani kalimahnya:

YAHU

Ruh rahmani kalimahnya: IYAHU

Ruh ruhani kalimahnya: YAMANIHU

Ruh idhafi kalimahnya: YAMAN LAYISALAHU

Mutu manikam kalimahnya: MADAHU


TUJUH PETALA BUMI DIJADIKAN TUJUH TINGKATAN MARTABAT YAITU:

1. Sifat amarah

2. Sifat lawwamah

3. Sifat mulhimah

4. Sifat mutmainah

5. Sifat radhiyatan

6. Sifat mardhiyah

7. Sifat ubudiyah


TUJUH PETALA LANGIT YANG DIMAKSUD DENGAN TUJUH MARTABAT YAITU:

1. Lathifatul qolbi

2. Lathifatul ruuhi

3. Lathifatul sirri

4. Lathifatul ahfa

5. Lathifatul hafi

6. Lathifatul nafsu natika

7. Lathifatul kullu jasad


JIKALAU TINGKATAN SEMACAM INI YANG KITA AMBIL HAKIKATNYA PADA ALAM KECIL YANG TERSEMBUNYI (terahasia) DALAM DIRI, MAKA ULAMA MENAMAKAN SEBAGAI BERIKUT:1. Hayatun jasadi bin-nafas 

2. Hayatun nafasi bir-ruhi

3. Hayatun ruhi bis-sirr

4. Hayatun sirri bil-imani

5. Hayatun imani bin-nuri

6. Hayatun nuri bil-qudrati

7.  Hayatun qudrati bi mualamullahi ta'ala dzatullah


ARTINYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

1.Asal jasad dari nafas 

2.asalnya nafas dari ruh 

3.Asalnya ruh dari dalam rahasia 

4.Asal rahasia dari dalam iman 

5.Asal iman dari nur atau cahaya 

6.Asalnya nur atau cahaya dari qodrat 

7.Asalnya qodrat dari ke baqoaan Alloh 


KALIMAT SEPERTI INI : 

1.Hayatun jasad hurufnya Alif    kalimahnya LA

2.Hayatun nafasi hurufnya Lam Awal kalimahnya ILAHA 

3.Hayatun ruhi hurufnya LAM Akhir kalimahnya ILLA 

4.Hayatun sirri hurufnya Ha kalimahnya Alloh 

5.Hayatun imani hurufnya Alif (Alloh) kalihnya Yahu 

6.Hayatun nuri hurufnya Lam (jibril) kalimahnya IyaHU 

7.Hayatun qodroti hurufnya Mim (muhammad) kalimanya IYAHU YAMANIHU 


Dengan demikian apabila kesemuanya ini kau leburkan kedalam ke-baqoaan DZAT ALLOH.maka ulama menamakannya sebagai BERIKUT:

1.watujibul wajasadi fi fasaral qolbi .

2.watujibul qolbi fi fasaral ruhi .

3.watujibul ruhi fi fasaral sirri .

4.watujibul sirri fi fasaral imani .

5.watujibul imani fi fasaral nuri .

6.watujibul nuri fi fasaral qodroti .

7.watujibul qodroti fi fasaral Dzati fil Dzati .


" maka uraian atau tulisan yg diatas sempurnalah amalan" orang ARIF BILLAH"


Ugi:meresap menyerap menyerat berserah...


SAMA" BELAJAR BUKAN INGGIN MEGURUI ...


WASSALAM...

Senin, 10 Januari 2022

SIFAT RUH

Allah Yang Maha Suci dengan sengaja menciptakan ruh yang menjadi sumber kehidupan seluruh makhluk-Nya dari dunia hingga akhirat. Dan pada hakikatnya seluruh ciptaan-Nya tersebut “Hidup” karena tidaklah Ia menciptakan suatu makhluk melainkan padanya ada ruh yang meliputinya. Termasuk langit dan bumi beserta isi antara keduanya pun punya ruh. Allah Yang Hidup adalah Dzat pemberi hidup dan kehidupan pada seluruh makhluk bangsa ruhaniah yang diwujudkan pada alam semesta. Tidak ada yang hidup melainkan dengan sumber kehidupan, yaitu ruh! Adapun ruh sendiri berasal daripada-Nya, dan menjadi nur (hidup) makhluk.

Tetapi bagaimanakah sesungguhnya sifat ruh itu?

Ruh adalah sesuatu yang lembut dan halus, meliputi seluruh keadaan makhluk dan tidaklah ia bertempat pada suatu tempat yang sifatnya lokal dan mikro. Apabila ruh meliputi pada sesuatu yang mati, maka hiduplah sesuatu itu. Ruh tidak dapat diukur besar kecilnya dengan suatu wujud jasmaniah. Ruh tidak berjenis sebagaimana jenis jasmani manusia dan makhluk lainnya. Dan apabila ruh mensifati serta meliputi hati manusia, maka memancarlah “himmah” dan kestabilan serta kekuasaan dalam gerak langkah hidupnya. Dan bilamana menyelusup menyelimuti nafsu (jiwa) serta mendominasinya, tercerminlah kemauan dan semangat hidup dalam menata kehidupannya.

Iika ruh menguasai akal pikiran maka akal pikiran akan menjurus kesempurnaan di dalam pandangan dan dapat menentukan suatu sikap atas dasar pertimbangan yang matang bagi perjalanan hidupnya. Begitulah adanya, jika ruh singgah di telinga maka mendengarlah ia, manakala ruh berkelebat melalui mata maka memandanglah ia, dan ketika ruh bertamasya pada mulut maka berhamburanlah kata-kata yang punya mulut, pun bila ruh menjalar pada tangan maka bergeraklah ia meraba dan mengusap, juga apabila ruh mengalir pada kaki maka dapatlah melangkah tegap ataupun gontai. Begitu pula bila ruh meliputi dan menguasai sel–sel yang bergerak ke seluruh peredaran darah maka tampaklah gerak hidup jasmani.

Ruh adalah golongan makhluk Allahur Rabbul ‘ alamin yang dikekalkan kehidupannya. Adapun hidup serta kehidupan makhluk yang diliputi ruh selalu tumbuh dan berkembang. Allah Yang Maha Kaya menamai kehidupan langit dan bumi beserta isi keduanya dengan isyarat “Nur” (cahaya atau kehidupan), sebagaimana firman-Nya :

Allahu nuurus samaawaati wal ardhi …

“Allah (pemberi) cahaya (hidup) langit dan bumi ….” QS. 24 An Nuur : Ayat 35.

Innallah khalaqa ruuhan nabiyyi shalallahu ‘alaihi wasalam min dzaatihi wakhuliqal ‘aalamu biasrihi min nuuri muhammadin shalallahu ‘ alaihi wasallam. (Al – HADIS )

“Sesungguhnya Allah menciptakan ruh Nabi saw, daripada Dzat-Nya lalu diciptakan alam sekaliannya dengan rahasia-Nya dari pada Nur Muhammad saw.”

Ruh, termasuk makhluk ciptaan-Nya yang gaib dan hidup meliputi dimensi alam jasmaniah. Dan ruh memiliki sifat yang berlawanan dengan jasmani. Ruh adalah Nurullah! Tapi ruh sebagai Nurullah bukan berarti sebagaimana cahaya yang memancar dari matahari atau lampu. Nur dalam pengertian ayat dan Hadis tersebut di atas bermakna Hidup! Yakni suatu makhluk yang hidup dihidupkan Allah Yang Maha Hidup dengan ruh ciptaan-Nya! Allahul Hayyi jualah yang menghidupkannya dengan memberikan ruh ciptaan-Nya.

Kalimat “Nur” di dalam firman Allahul ‘Azhim sangat banyak, bahkan lebih dari tiga puluh (30) ayat yang menyebut tentang “Nur” sekaligus meliputi atau menjadi simbol berbagai hal seperti Muhammad Rasul Allah saw., Al Qur’aan, Agama Islam, Malaikat, Ilmu serta Hidayah (petunjuk). Istilah “Hidup” yang meliputi kehidupan seluruh makhluk juga dirumuskan dalam bahasa wahyu dengan istilah “Nur”. Apabila ruh diibaratkan nur yang terang benderang maka jasmani diibaratkan suatu tempat yang gelap gulita semisal ruangan. Padahal tidaklah akan tampak terang suatu cahaya bila ia tidak bertempat pada yang gelap gulita. Begitu pula keadaan gelap pekatnya jasmani dikatakan gelap gulita bila tidak ada sesuatu yang meneranginya. Demikianlah pengertian “Ruh” sebagai “Nur” dalam istilah wahyu-Nya. Sifat Ruh

Sufi Road : Kajian tentang Ruh

Para ulama memiliki pandangan berbeda tentang bolehnya mengkaji tema seputar ruh. Ada yang berpendapat, mengkaji ruh itu haram, karena hanya Allah yang tahu. Ada pula yang berpedapat, kajian tentang ruh itu makruh mendekati haram, karena dalam Al-Quran tidak ada nash yang menjelaskan masalah ruh secara gamblang.

Setiap pendapat tersebut memiliki dasar pemahaman yang berbeda terhadap firman Allah, “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan kalian hanya diberi sedikit pengetahuan’.” – QS Al-Isra’ (17): 85.

Mereka yang menolak kajian tentang ruh di antaranya berpandangan, pernyataan Allah pada ayat tersebut menjelaskan bahwa ruh termasuk alam metafisika, yang tidak dapat diketahui secara pasti. Ia bukan sesuatu yang bersifat inderawi, yang dapat diketahui lebih jauh. Selain itu, ilmu manusia terbatas hanya pada pengetahuan tentang penciptaan. Inilah yang dimaksud dengan kalimat dalam ayat tersebut, “Dan kalian hanya diberi sedikit pengetahuan.”

Sementara itu mereka yang memperbolehkan mengkaji tentang ruh di antaranya berpandangan, tidak ada kesepakatan para ulama yang menyatakan bahwa ruh yang ditanyakan dalam ayat itu adalah ruh (nyawa) manusia. Ada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud ruh dalam ayat tersebut adalah Al-Quran, Jibril, Isa, atau ciptaan Allah yang ghaib, yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Bagaimanapun, yang lebih baik adalah tidak membahas masalah ruh terlalu dalam. Syaikh Abu An-Nashr As-Sarraj Ath-Thuusi mengatakan, “Terdapat orang-orang yang salah memahami ruh, (kesalahan) mereka ini bertingkat-tingkat, semuanya bingung dan salah paham. Sebab mereka memikirkan keadaan sesuatu (yakni ruh) yang mana Allah sendiri telah mengangkat darinya pada segala keadaan dan telah membersihkannya dari sentuhan ilmu pengetahuan, (sehingga) ia tak akan dapat disifati oleh seorang pun kecuali dengan sifat yang telah dijelaskan Allah.”

Hakikat Ruh

Habib Syaikh bin Ahmad Al-Musawa, dalam karyanya berjudul Apa itu Ruh?, menyatakan, definisi ruh adalah, “ciptaan/makhluk yang termasuk salah satu dari urusan Allah Yang, Mahatinggi. Tiada hubungan antara ia dengan Allah kecuali ia hanyalah salah satu dari milik-Nya dan berada dalam ketaatan-Nya dan dalam genggaman (kekuasaan)-Nya. Tidaklah ia menitis (bereinkarnasi) ataupun keluar dari satu badan kemudian masuk ke badan yang lain. Ia juga akan merasakan kematian sebagaimana badan merasakannya. Ia menikmati kenikmatan sebagaimana juga badan, atau akan merasakan siksa sebagaimana juga badan. Dia akan dibangkitkan pada badan yang ia keluar darinya. Dan Allah menciptakan ruh Nabi Adam AS dari alam malakut sedangkan badannya dari tanah.”

Sementara itu, sebagian besar filosof muslim, seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan sekelompok kaum sufi, berpendapat, jiwa terpisah dari materi. Ia bukan jasad atau benda. Ia tidak memiliki dimensi panjang dan dalam. Jiwa sangat berhubungan dengan sistem yang bekerja dalam jasad. Dengan kata lain, jiwa menggerakkan jasad dari luar karena ia tidak menyatu dengan jasad. Jiwa adalah inti ruh murni yang dapat mempengaruhi jasad dari luar seperti magnet.

Al-Ghazali, dalam Ihya’-nya, menyebutkan, kata-kata ruh, jiwa, akal, dan hati, sejatinya merujuk pada sesuatu yang sama, namun berbeda dalam ungkapan. Sesuatu ini, jika ditinjau dari segi kehidupan jasad, disebut ruh. Jika ditinjau dari segi syahwat, ia disebut jiwa. Jika ditinjau dari segi alat berpikir, ia disebut akal. Dan jika ditinjau dari segi ma’rifat (pengetahuan), ia disebut hati (qalb).

Dalam bahasa sehari-hari, ruh dan jiwa juga acap digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang sama, seperti pada ucapan “ruhnya telah melayang”, atau “jiwanya telah melayang”. Dua kalimat tersebut bermakna sama, orang itu telah mati.

Para ulama lainnya berpendapat, ruh adalah benda ruhaniah (cahaya) langit yang intinya sangat lembut, seperti sinar matahari. Ia tidak dapat berubah, tidak dapat terpisah-pisah, dan tidak dapat dikoyak. Jika proses penciptaan satu jasad telah sempurna dan telah siap, seperti dalam firman Allah “Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya – QS Al-Hijr (15): 29, benda-benda mulia (ruh) Ilahi dari langit akan beraksi di dalam tubuh, seperti api yang membakar. Inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah “Aku meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya.” – QS Al-Hijr (15): 29. Selama jasad dalam kondisi sehat, sempurna, dan siap menerima benda mulia tersebut, ia akan tetap hidup. Jika di dalam jasad ada unsur-unsur yang memberatkan, misalnya penyakit, unsur-unsur itu akan menghambat benda mulia ini sehingga ia akan terpisah dari jasad. Saat itu, jasad menjadi mati.

Beragam definisi ruh disebutkan para ulama. Intinya, manusia terdiri dari jasad dan ruh. Perbedaan pendapat para ulama seputar hakikat ruh bukan bagian dari inti aqidah Islam. Masalah ini berada dalam ranah ijtihad para ulama.

Abadi, atau Fana?

Allah menetapkan kematian atas segala yang memiliki ruh dari makhluk-Nya, penguasa maupun rakyat jelata, yang kaya atau yang miskin, yang mulia atau yang lemah, yang maksiat atau yang taat, dari seluruh penduduk alam semesta ini, dan kemudian mengadili mereka di akhirat.

Dia menggenggam ruh sebagian manusia yang telah memakmurkan dunia dan menghiasinya dengan bangunan-bangunan, kemudian manusia itu menempatinya, meski itu bukan tempat yang kekal bagi semua yang hidup.

Dia juga menggenggam ruh manusia sebagian lainnya yang bersungguh-sungguh untuk memperbaiki akhiratnya dan menjadikan dunia hanya sebagai batu loncatan untuk memperbanyak amal shalih mereka sebagai perahu dalam mengarunginya.

Ruh yang ini mendapat kebahagiaan dan kesenangan, sementara ruh yang lain mendapatkan kekecewaan, kecelakaan, dan kepayahan. Ruh yang ini bersenang-senang di kebun surga dan bernaung di lentera-lentera yang bergantung di ‘Arsy dalam kenikmatan yang menyenangkan, sedang ruh yang lain terpenjara dan tersiksa di neraka jahim. Alangkah jauh perbedaan antara kedua ruh jasad dua jenis manusia tersebut.

Setelah seseorang mati, ruh tetap ada hingga terjadi peniupan sangkakala yang pertama. Ulama sepakat akan hal itu. Selama masa itu, ruh merasakan nikmat atau adzab di alam kubur.

Adapun setelah ditiupnya sangkakala, terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian ulama berpendapat, ruh bersifat fana (akan sirna) dan akan mati saat peniupan sangkakala yang pertama. Dasarnya adalah firman Allah, “Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian.” – QS Ali Imran (3): 185. Dalam ayat lainnya disebut, “Semua yang ada akan binasa.” – QS Ar-Rahman (55): 26.

Menurut pendapat terkuat, setelah peniupan sangkakala yang pertama, ruh akan tetap abadi. Hukum asal sesuatu yang abadi adalah selalu ada sampai ada sesuatu yang mengubahnya. Perdapat tentang keabadian ruh ini disimpulkan dari ayat “Dan ditiuplah sangkakala. Maka, matilah makhluk yang di langit dan di bumi kecuali makhluk yang dikehendaki Allah. Kemudian sangkakala ditiup sekali lagi. Tiba-tiba mereka berdiri menunggu (keputusannya masing-masing).” – QS Az-Zumar (39): 68. Menurut penjelasan ayat ini, ruh termasuk sesuatu yang dikecualikan.

Ruh Mengetahui saat Diziarahi

Apakah ketika orang hidup menziarahi orang mati, ruh orang mati tersebut dapat mengetahui bahwa ia tengah diziarahi? Habib Syekh menuliskan dalam bukunya, jawabannya adalah “Ya.”

Bila ditanyakan apakah jasad mereka atau arwah mereka (yang bertemu), ia menjawab, “Sungguh jauh sekali. Jasad sudah hancur, yang bertemu hanyalah arwah mereka.”

Ibnu Abdil Barr berkata, “Telah tetap riwayat dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim melewati kubur saudaranya yang mana dahulu ia mengenalnya di dunia, kecuali Allah akan mengembalikan ruh saudaranya itu lalu ia menjawab salamnya.” Hadits ini menunjukkan, ruh si mati mengenalinya dan menjawab salamnya.

Pada hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, disebutkan, ketika Rasulullah SAW memerintahkan agar korban yang tewas pada Perang Badar (dari kaum musyrikin) dikuburkan dalam satu lubang, kemudian beliau mendatangi lubang tempat kubur tersebut lalu berdiri dan menyeru mereka yang telah mati itu dengan namanya masing-masing, “Wahai Fulan bin Fulan, wahai Fulan bin Fulan, apakah kalian telah mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhan kalian adalah benar? Karena sesungguhnya aku mendapati apa yang dijanjikan Tuhanku kepadaku adalah benar”, berkatalah Umar RA kepada beliau, “Ya Rasulullah, mengapakah Tuan menyeru/berbicara kepada orang-orang yang telah menjadi bangkai.”

Beliau menjawab, “Demi Allah, yang telah mengutusku dengan kebenaran, tidaklah kalian lebih mendengar apa yang kau katakan daripada mereka. Hanya saja mereka tak dapat menjawab.”

Saat memperhatikan kebiasaan sebagian besar masyarakat di Nusantara yang melakukan aktivitas ruwahan atau berkirim pahala amal kepada orang-orang yang telah wafat atau khususnya kepada arwah yang mereka ziarahi, apakah arwah orang yang telah mati itu dapat mengambil manfaat dari amal orang hidup, ataukah tidak? Berikut ini salah satu hujjah di antara luasnya bahtera hujjah yang menunjukkan sampainya amalan orang hidup kepada orang yang telah mati.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka, dari Abdullah bin Abbas RA, ia berkata, “Telah datang seorang kepada Nabi SAW lalu orang itu bertanya, ‘Ya Rasulullah, ibuku meninggal dunia dan ia meninggalkan utang puasa sebulan, apakah aku dapat mengqadha puasanya?’

Rasulullah SAW balik bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu jika ibumu berutang lalu engkau melunasi utangnya, apakah itu mencukupi/menggugurkan kewajibannya?’

Orang itu menjawab, ‘Ya.’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika demikian, utang kepada Allah lebih wajib untuk dilunasi’.”


Minggu, 09 Januari 2022

Kosong

 Bismillah, 


Alhamdu itu Aku (Allah) dgn engkau.

Ingat itu adlh RahasiaKu kpd engkau. Jika engkau tiada berpegang pd yg diajarkan Nabi (Rasulullah) mk engkau sesat lagi kafir.

Oleh sebab itu wajiblah engkau mengerjakan perintahnya dan taat kpdnya dan hendaklah engkau Khauf dan Cinta dan jangan engkau lupa setiap saat. 

Jika engkau lupa mk Aku lebih jauh dan kalau engkau dekat mk Aku lebih hampir dan kalau engkau hampir mk Akulah dirimu dan DiriKu adlh Laisya Kamislihi Syai'un, disitulah engkau zauk. Perbanyaklah amaliah  sehingga terbukalah bagi engkau satu dinding rahasia (hijab) yg dikatakan Nur Ala Nurin. Mk Nur itu tajalli kpd DiriNya, sehingga engkau ghaib mk engkau adlh di dlm Wujud-Haq. 


Kita sebut kalimah dzikir LAA ILAHA ILLALLAH satu nafas itulah yg disebut KALAMULLAH.

Jika engkau naikkan nafas engkau itu Aku (HU) mk itulah yg dinamakan WujudKu yg Laisya, ialah yg tanpa huruf dan tiada suara. 

Jika engkau dzahirkan suara engkau itu mk dzahirlah SifatKu, jika tiada engkau dzahirkan mk engkau ghaib di dlm Wujud Idafi. Wujud itu Laisya Idafi, itu suci murni dan bersih. 

Itulah yg disebut Nur dan itulah yg dinamakan AHMAD dan juga adlh Nur-Dzat. Mk Dzat itulah yg disebut engkau,barulah itu dikatakan Fana Ul Fana atau Karam dan engkau itu sampailah sdh pd Baqa Ul Baqa. Disitulah engkau melalui segalanya yg disebut Nur Ala Nurin (Ghaib dengan Ghaib) sampai Haq kpd Haq. 


Mari kita kembali kpd asalnya Al-Fatihah, Aku Laisya,  di dlm Aku engkau mk disitulah engkau naikkan nafas engkau kpdNya. 

Kalau engkau turunkan ke bumi atau kedalam jasad, jasad itulah yg berbunyi Allah hurufnya. Jika engkau hilangkan huruf Allah itu menjadi Hu itulah yg disebut kosong, tiada tau lagi akan dirinya, hanya yg ada Wujud saja lagi. Mk engkau tiadalah berujud lagi dan sifat bersifat lagi, dan tiada nama bernama dan tiada buat berbuat. 


Mk disitulah engjau karam di dlm Kalimah ini, barulah engkau itu hilang semuanya, yg ada hanya Wujud saja lagi SE-MATA2, disitulah engkau bernama Nuk (Nuktah). Mk Nuktah ini ialah satu2nya yg menjadi awal sekalian yg ada ini.

Mk selalulah engkau taat akan segala perintahnya, ingatlah selalu akan kataNya : Esakan Aku, Esakan Aku atau sempurnakan Aku. Jika engkau sempurnakan mk engkau itu yg bernama Insan.

Jika engkau manusia mk Dialah manusia Insan-Kamil.

Se-benar2nya diri itu Ruh. 

Se-benar2nya Ruh itu Sir. 

Se-benar2nya Sir itu Rahasia. 

Se-benar2nya Nur Nuhammad itu Sifat. 

Se-benar2nya sifat itu Dzat. 

Wassalam,,

Sabtu, 08 Januari 2022

KEUTAMAAN ZIKIR NAFI ISBAT

Dzikir Nafi dan Isbat , adalah dzikir yang paling besar manfaatnya dan sangat berbekas bagi manusia ,yaitu kalimat : LAA ILAAHA ILALLOH , artinya tiada Tuhan selain AllAh.


Allah berfirman :


” Ketahuilah tentang Tuhan itu ,bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah  ”


Nabi Muhammad SAW bersabda :


” Yang paling utama apa yang aku ucapkan dan apa yang di ucapkan oleh Nabi - Nabi sebelumku, yaitu : ” LAA ILAAHA ILLALLOH ”


Kemudian Nabi berkata pula dalam hadist :


” Barangsiapa yang  mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH dengan ikhlas pasti masuk syurga ”


Dalam hadist lain Junjungan kita juga bersabda :


” Bagi mereka  yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH tidak usah takut akan kejahatan dalam kubur dan kejahatan pada waktu berkumpul di Padang Makhsyar.”


Kemudian Rosululloh SAW bersabda pula :


” Jika ada seseorang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH secara benar, meskipun ia memiliki dosa sebesar bumi akan di ampuni Tuhan dosanya itu.”


Kalimat itu dinamakan “Kalimat Thoyyibah” yang dapat mensucikan orang yang mengucapkannya,dari syirik jali sebagaimana ia dapat membersihkan jiwa orang itu dari syirik khofi dan menjadikan orang itu orang ikhlas dan murni. Begitu juga kalimat ini dapat membuka hati manusia dari hijab yang selalu menghalangi kepada kebenaran , serta membersihkan jiwa orang itu dari segala kotoran dan sifat- sifat kebinatangan.


Kalimat LAA ILAAHA ILLALLOH itu mengkaruniai kasyaf bagi yang mengucapkan untuk selama-lamanya  , disamping mengkaruniai sifat sidiq , ikhlas , ilmu laduni , rahasia-rahasia yang aneh dan akan di beri musyahadah bermacam macam dari Allah


Karunia yang demikian itu di peroleh , jika ucapan kalimat itu diambil dan di terima dari hati yang taqwa dan suci dari selain Allah, bukan hanya dipetik dan di dengar saja dari mulut mulut orang awam .Kalimat Nafi-Isbat itu meskipun sepotong ayat yang pendek,tetapi maknanya sangat luas meliputi seluruh hati jika di ambil dengan butir- butir tauhid dari hati yang hidup ,butir- butir itu akan tumbuh. Berlainan dengan butir- butir yang tidak mencapai dan tidak hidup.


Rosululloh bersabda :


” Bahwasanya Allah ta’ala itu mengharamkan api neraka menjilat orang yang berkata LAA ILAAHA ILLALLOH yang ditujukan hanya kepada Allah semata mata. (HR.Bukhori-Muslim).


Dalam hadist lain :


“Orang sedang berdzikir seperti  pohon yang rindang di tengah tengah pohon kering .”


Nabi berkata juga :


” Orang yang ingat kepada Allah adalah laksana orang yang hidup di tengah- tengah orang yang mati .”

Rabu, 05 Januari 2022

Nikmat dalam Sakit

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


Seorang yang hidup di dunia pasti akan mengalami berbagai jenis keadaan yang berbeda. Terkadang ia sehat, namun di lain waktu ia juga sakit. Tentunya yang diinginkan setiap orang adalah kondisi sehat. Makanya banyak yang mengeluh saat diuji Allah dengan sakit.


Namun tahukah Anda bahwa di balik sakit itu ternyata ada berbagai kenikmatan? Apa saja? Di antaranya:


Pertama: Sakit itu mengurangi dosa


Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,


“مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ“


“Tidaklah ada kelelahan, sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang sangat yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudry dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.] 


Kedua: Dengan bersabar, sakit akan menjadi ‘mesin’ pahala


Allah ta’ala berfirman,


“إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ“


Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberi pahala sempurna tanpa batas”. [QS. Az-Zumar (39): 10.] 


Ketiga: Sakit bisa menyadarkan diri dari kelalaian


Dalam al-Qur’an ditegaskan,


“ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ“


Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena pebuatan tangan manusia. Allah mengehendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. [QS. Ar-Rum (30): 41.] 


Keempat: Sakit mengingatkan nikmat sehat


Seorang penyair berkata,


“الصِّحَّةُ تَاجٌ عَلَى رُؤُوْسِ الْأَصِحَّاءِ لاَ يَرَاهَا إِلاَّ الْمَرْضَى“


“Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat. Yang bisa melihatnya hanyalah orang-orang yang sakit”.


Dan masih banyak lagi hikmah-hikmah di balik sakit. Maka janganlah habiskan waktu Anda untuk banyak mengeluh, sebab ternyata di balik sakit terdapat nikmat tak terhingga.


Catatan Penting:


Segala keterangan di atas tidak berarti bahwa kita diperintahkan untuk meminta sakit. Juga bukan berarti pula bahwa kita dilarang untuk berupaya mencari penyembuhan sakit kita. Yang benar, kita selalu berusaha memohon kesehatan kepada Allah ta’ala. Dan apabila suatu saat diuji dengan sakit, maka kita berusaha untuk mencari kesembuhan dengan cara-cara yang dibenarkan agama. Andaikan belum sembuh juga, maka ingatlah berbagai hikmah di atas, niscaya penderitaan Anda akan terasa lebih ringan. Dan yang lebih penting dari itu, Anda akan mendapatkan keberuntungan di akhirat, in sya Allah…

MENJELASKAN BID'AH BUKAN BERARTI MEMVONIS NERAKA

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Ketika pada da’i menasihati dan melarang amalan-amalan bid’ah, maka sama sekali bukan berarti memvonis pelakunya penghuni neraka.


📌  Ini adalah kesalahpahaman yang menjalar di tengah masyarakat. Yang kesalahpahaman ini juga dijadikan senjata untuk menentang dakwah Sunnah dan melarang orang membahas masalah bid’ah. Oleh karena ini mari kita luruskan duduk perkaranya.


Rasulullah ﷺ teladan dalam mengingkari bid’ah.


Orang yang mencontohkan dan memberi kita teladan untuk menjauhi bid’ah serta melarang bid’ah adalah Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ bersabda,


مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ


“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”.

📘  (HR. Bukhari No. 2697 dan Muslim No. 1718).


Rasulullah ﷺ juga bersabda,


مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ


“Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”.

📘  (HR. Muslim No. 1718).


Bahkan tidak hanya sekali-dua kali Beliau ﷺ bicara masalah bid’ah. Rasulullah ﷺ setiap memulai khutbah . Beliau ﷺ mengucap


أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ


“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan”.

📘  (HR. Muslim No. 867).


Tidak hanya itu, di akhir-akhir hidup Beliau ﷺ, Beliau ﷺ masih mewanti-wanti masalah bid’ah. 


Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu mengatakan:


صلَّى بنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ذاتَ يَومٍ، ثُمَّ أقبَلَ علينا، فوَعَظَنا مَوعِظةً بَليغةً ذَرَفَتْ منها العُيونُ، ووَجِلَتْ منها القُلوبُ، فقال قائلٌ: يا رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، كأنَّ هذه مَوعِظةُ مُودِّعٍ، فماذا تَعهَدُ إلينا؟


"Rasulullah ﷺ shalat bersama kami suatu hari. Setelah shalat Beliau ﷺ menghadap kami kemudian memberikan nasihat yang mendalam yang membuat air mata berlinang dan hati bergetar. Maka ada yang berkata:


"Wahai Rasulullah ﷺ, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, apa yang engkau pesankan kepada kami?”


Maka Rasulullah ﷺ pun bersabda,


أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ


“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah ﷻ, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada Sunnah-ku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.

📘  (HR. At Tirmidzi No. 2676. Ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).