Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Minggu, 19 Januari 2014
Kitab Salat
· Hadis riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Malik bin Huwairits Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu
· Hadis riwayat Imran bin Hushein Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Ubadah bin Shamit Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu dia berkata:
· Hadis riwayat Kaab bin Ujrah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Humaid As-Saidi Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu dia berkata:
· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Sahal bin Saad As-Saidi Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Nukman bin Basyir Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Sahal bin Saad Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu, istri Nabi Shallallahu alaihi wassalam. ia berkata:
· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Abu Qatadah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Abu Barzah Radhiyallahu’anhu: ia berkata:
· Hadis riwayat Barra’ Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Abu Masud Al-Anshari Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Barra’ bin Azib Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Barra’ Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Abdullah bin Malik bin Buhainah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Juhaifah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Juhaim Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Sahal bin Saad As-Saidi Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Salamah bin Akwa` Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Maimunah Radhiyallahu’anhu, istri Nabi Shallallahu alaihi wassalam. ia berkata:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
· Hadis riwayat Umar bin Abu Salamah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
· Hadis riwayat Jabir Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Kitab Mandi
Firman Allah Ta’ala, “… dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air besar (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih): sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (al-Maa’idah: 6)
Firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan, jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci): sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (an-Nisaa’: 43)
Bab Ke-1: Berwudhu Sebelum Mandi
147.
Aisyah istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. berkata bahwa
apabila Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam mandi janabah beliau
mulai dengan membasuh kedua tangan beliau, kemudian beliau wudhu
sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian beliau memasukkan jari-jari
beliau ke dalam air, lalu beliau menyeling-nyelingi pangkal rambut,
kemudian beliau menuangkan (dalam satu riwayat: sehingga apabila beliau
merasa sudah meratakan air ke seluruh kulitnya, beliau menuangkan, l/
72) tiga ciduk pada kepala beliau dengan kedua tangan beliau, kemudian
menuangkan air pada kulit beliau secara keseluruhan.”
Bab Ke-2: Mandinya Seorang Suami Bersama Istrinya
148. Aisyah berkata, “Aku mandi bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. dari sebuah bejana/tempat air [masing-masing kami junub, 1/78] dari sebuah mangkok yang disebut faraq (tempat air yang memuat tiga sha’), [tangan kami saling bergantian di dalam bejana itu, 1/ 70] (dalam satu riwayat: kami menciduk bersama-sama dalam bejana itu, l/72)[1] (dalam satu riwayat: tempat mencuci pakaian ini diletakkan untukku dan untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam., lalu kami masuk ke dalamnya bersama-sama, 8/154).”
Bab Ke-3: Mandi dengan Satu Gantang (Empat Mud) Air dan Semacamnya
149. Abu Salamah berkata, “Aku dan saudara lelaki Aisyah memasuki tempat Aisyah, lalu saudaranya itu menanyakan kepadanya mengenai cara mandi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Ia lalu meminta agar dibawakan satu tempat air sekitar (ukuran) satu sha’, lalu ia mandi dan menuangkan air pada kepalanya, sedangkan antara kami dan Aisyah ada tirainya.”
150.
Abu Ja’far berkata bahwa ia berada di tempat Jabir bin Abdullah dan
ayahnya ada pula di situ. Di dekatnya ada sekelompok kaum. Mereka
menanyakan kepadanya perihal mandi janabah, lalu ia berkata, “Satu sha’
cukup bagimu.” Seorang laki-laki berkata, ‘Tidak cukup bagiku.” Jabir
lalu berkata, “(Satu sha’ itu) cukup bagi orang yang rambutnya lebih
banyak dan lebih baik daripadamu.” Ia lalu menuju kami dalam satu
pakaian. (Dan dari jalan lain: dari Abu Ja’far, katanya, “Jabir berkata
kepadaku, ‘Pamanmu-yakni al-Hasan bin Muhammad al-Hanafiyah-datang
kepadaku seraya bertanya, ‘Bagaimana cara mandi janabah?’ Aku jawab,
‘Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam mengambil tiga cakupan air
dan menuangkannya ke kepala beliau, kemudian menuangkan ke seluruh tubuh
beliau.’ Al-Hasan berkata, ‘Sesungguhnya, aku berambut lebat.’ Aku
jawab, ‘Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam lebih lebat rambutnya
daripada engkau.”)
151. Ibnu Abbas berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dan Maimunah mandi (bersama) dari satu wadah.
Abu
Abdillah berkata, “Ibnu Uyainah memberikan komentar akhir, ‘Dari Ibnu
Abbas dari Maimunah dan yang sahih ialah apa yang diriwayatkan oleh Abu
Nu’aim’”[2]
Bab Ke-4: Orang yang Menuangkan Air di Atas Kepalanya Tiga Kali
152. Jubair bin Muth’im berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Adapun aku maka aku tuangkan air atas kepalaku tiga kali,’ dan beliau mengisyaratkan dengan kedua tangan beliau.[3]
Bab Ke-5: Mandi Satu Kali Mandian
153. Maimunah berkata, “Aku pernah meletakkan (dalam satu riwayat: menuangkan) air untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk dipakai mandi [janabah, 1/ 68] [dan aku menabirinya]. Beliau lalu membasuh kedua tangannya dua atau tiga kali, kemudian menuangkan air [dengan tangan kanannya] atas tangan kirinya, lalu beliau membasuh kemaluan: dan apa-apa yang ada di sekitarnya yang terkena kotoran. Beliau lalu menggosok-gosokkan tangannya ke atas tanah (dan dalam satu riwayat: menggosokkannya ke dinding, 1/70; dalam riwayat lain: ke tanah atau ke dinding, 1/71 dan 72) [dua atau tiga kali] [kemudian mencucinya], lalu berkumur-kumur, mencuci hidungnya dengan air, membasuh wajah dan kedua tangannya [dan membasuh kepalanya tiga kali 1/71], (dalam satu riwayat: berwudhu seperti wudhunya untuk shalat, hanya saja tidak membasuh kakinya, 1/68), kemudian menyiramkan air ke seluruh tubuhnya, lalu bergerak dari tempatnya dan mencuci kedua kakinya, [kemudian dibawakan sapu tangan kepada beliau, tetapi beliau tidak menggunakannya untuk mengusap tubuhnya (dalam satu riwayat: lalu aku bawakan penyeka/handuk, lalu beliau berbuat begini, tetapi tidak mengulanginya), (dalam riwayat lain: lalu aku bawakan kain, tetapi tidak beliau ambil, lalu beliau pergi sambil mengusapkan kedua tangannya.)].”
Bab Ke-6: Orang yang Memulai Mandi dengan Menggunakan Harum-Haruman atau Wangi-Wangian
154. Aisyah berkata, “Apabila Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam mandi janabah, beliau minta dibawakan hilab (bejana). Beliau mengambil dengan kedua telapak tangan beliau; beliau memulai dengan bagian kepala yang kanan kemudian yang kiri, lalu beliau lanjutkan pada bagian tengah kepala.”
Bab Ke-7: Berkumur-kumur dan Menghirup Air ke dalam Hidung Ketika Mandi Janabah
(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah di muka.”)
Bab Ke-8: Mengusap Tangan dengan Debu Agar Lebih Bersih
(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah di muka.”)
Bab Ke-9: Dapatkah Seorang yang Junub Meletakkan Tangannya di dalam Belanga (yang Berisi Air) sebelum Mencucinya Apabila Ia Tidak Terkotori Barang yang Kotor Kecuali Janabah?
Ibnu Umar dan al-Bara’ bin Azib biasa memasukkan tangannya ke dalam air tanpa mencucinya, kemudian mereka berwudhu.[4]
Ibnu
Umar dan Ibnu Abbas berpendapat tidak ada bahaya apa-apa apabila air
menetes dari tubuh (ketika mandi) ke dalam tempat yang dipakai mandi
janabah itu.[5]
155. Anas bin Malik, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dan salah seorang istrinya mandi [janabah] bersama dari satu bejana.”[6]
Bab Ke-10: Memisahkan Mandi dan Wudhu
Disebutkan dari Ibnu Umar bahwa dia mencuci kedua kakinya setelah air wudhu (pada anggota-anggota tubuhnya) telah kering.[7]
Bab Ke-11: Menyiramkan Air dengan Tangan Kanannya ke Tangan Kirinya Waktu Mandi
(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah yang diisyaratkan di muka.”)
Bab Ke-12: Apabila Menyetubuhi Istri Lalu Mengulanginya dan Suami yang Menggilir Beberapa Istrinya dalam Satu Kali Mandi
156. Muhammad bin al-Muntasyir berkata, “Aku menyebutkan hal itu kepada Aisyah, (dalam satu riwayat: Aku bertanya kepada Aisyah, lalu aku sebutkan perkataan Ibnu Umar, ‘Aku tidak suka melakukan ihram dengan memakai wangi-wangian.’ 1/72)[8] lalu ia (Aisyah) berkata, ‘Mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada ayah Abdur Rahman (yakni Ibnu Umar). Aku pernah memakaikan harum-haruman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, lalu beliau mengelilingi (mencampuri secara bergantian) istri-istri beliau, kemudian pagi-pagi beliau ihram dan memercikkan harum-haruman (minyak wangi)’”
157. Anas bin Malik berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. selalu mengelilingi (mendatangi) istri-istri beliau pada satu malam dan siang, dan mereka ada sebelas orang wanita (dalam satu riwayat: sembilan orang wanita, 6/117).” Salah seorang yang meriwayatkan hadits ini (yakni Qatadah) berkata, “Aku bertanya kepada Anas, ‘Apakah beliau mampu melakukan hal itu?’ Ia menjawab, ‘Kami katakan bahwa beliau diberi kekuatan tiga puluh orang.’”
Bab Ke-13: Mencuci Madzi dan Berwudhu Karenanya
(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ali yang disebutkan pada nomor 87 di muka.”)
Bab Ke-14: Orang yang Memakai Wangi-Wangian Lalu Mandi dan Masih Tertinggal Bekas Bau Wangi-Wangiannya
(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang baru saja disebutkan di muka.”)
Bab Ke-15: Membasuh Sela-Sela Rambut Sehingga Jika Telah Diperkirakan Bahwa Air Sudah Merata Pada Kulit Lalu Menuangkan Air di Atas Seluruh Tubuh
(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang tertera pada nomor 147 di muka.”)
Bab Ke-16: Orang yang Berwudhu dalam Janabah Lalu Membasuh Tubuhnya yang Lain dan Tidak Mengulangi Membasuh Tempat-Tempat Anggota Wudhu Sekali Lagi
(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah yang tercantum pada nomor 153 di atas.”)
Bab Ke-17: Apabila Teringat Setelah Ada di Masjid Bahwa Dirinya Menanggung Janabah Lalu Keluar Sebagaimana Keadaannya dan Tidak Bertayamum
158.
Abu Hurairah berkata, “Shalat diiqamati dan shaf-shaf telah diluruskan
berdirinya, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam keluar kepada
kami [kemudian beliau maju ke depan, padahal beliau junub, 1/157].
Ketika beliau berdiri di tempat shalat, beliau teringat bahwa beliau
junub, lalu beliau bersabda kepada kami, Tetaplah di tempatmu.’ [Maka,
kami tetap dalam keadaan kami], kemudian beliau pulang, lalu mandi,
kemudian beliau keluar ke tempat kami, sedang kepala beliau masih
meneteskan air, lalu beliau bertakbir, dan kami shalat bersama beliau.”[9]
Bab Ke-18: Melenyapkan Air dari Tubuh dengan Tangan Setelah Mandi Janabah
(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah di muka.”)
Bab Ke-19: Orang yang Memulai dengan Belahan Kepalanya Bagian Kanan Waktu Mandi
159. Aisyah berkata, “Apabila salah seorang di antara kami junub, dia mengambil air dengan kedua tangannya tiga kali untuk dibasuhkan di atas kepalanya, kemudian mengambil lagi air dengan tangannya yang satu untuk dituangkan pada belahan kepalanya yang bagian kanan dan mengambil air lagi dengan tangannya yang lain untuk dituangkan pada belahan kepala bagian kiri.”
Bab Ke-20: Orang yang Mandi Sendirian dengan Telanjang di Tempat Sunyi dan Orang yang Menggunakan Tutup, Maka yang Menggunakan Tutup Itulah yang Lebih Utama
Bahaz berkata dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Allah itu lebih berhak dimalui daripada seluruh manusia.”[10]
160.
Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam
bersabda, “Nabi Ayyub mandi telanjang, lalu jatuhlah atasnya belalang
emas [yang banyak, 8/ 197], maka Ayyub memasukkan ke dalam pakaiannya.
Tuhan lalu memanggilnya, ‘Hai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupkanmu
dari yang kamu lihat?’ Ia berkata, ‘Ya, demi kemuliaan Mu [wahai
Tuhanku], tetapi tidak ada batas kecukupan bagiku (yakni aku selalu
membutuhkan) kepada berkah Mu.”‘
Bab Ke-21: Membuat Tutup di Waktu Mandi di Sisi Orang Banyak
Bab Ke-22: Apabila Wanita Mimpi Bersetubuh
161. (Hadits ini telah disebutkan pada nomor 86).
Bab Ke-23: Keringat Orang yang Menanggung Janabah dan Orang Muslim Tidak Najis
163.
Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam
bertemu dengannya di salah satu jalan Madinah, sedangkan dia dalam
keadaan junub [(katanya), "Lalu beliau memegang tanganku, kemudian aku
berjalan dengan beliau hingga beliau duduk, 1/75], lalu aku menghindar
dari beliau.” Kemudian, dia pergi mandi, lalu kembali lagi. (Dalam satu
riwayat: Lalu aku datang, sedangkan beliau masih duduk), lalu beliau
bertanya, “Di mana engkau tadi, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah
menjawab, “Aku dalam keadaan junub, maka aku tidak suka duduk bersama
dalam keadaan aku tidak suci.” Nabi menimpali, “Subhanallah! [Wahai Abu
Hurairah],
sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.”
Bab Ke-24: Orang Junub Keluar dan Berjalan-jalan di Pasar Atau di Mana Saja
Atha’ berkata, “Orang junub itu boleh saja bercanduk, memotong kukunya, dan juga mencukur kepalanya meskipun belum berwudhu.”[11]
Bab Ke-25: Keberadaan Orang Junub di Rumah Apabila Ia Mandi
163. Ibnu Umar berkata bahwa Umar ibnul Khaththab bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam., “Apakah seseorang di antara kita boleh tidur dalam keadaan junub?” Beliau menjawab, “Boleh, apabila seseorang di antaramu berwudhu, tidurlah dalam keadaan junub.” (Dalam riwayat lain: Berwudhulah dan cucilah kemaluanmu, kemudian tidurlah.”)
Bab Ke-26: Orang Junub yang Berwudhu Lalu Tidur
164. Aisyah berkata, “Biasanya, apabila Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam hendak tidur, padahal beliau masih junub, beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu seperti wudhu untuk shalat.”
Bab Ke-27: Apabila Kemaluan Laki-Laki dan Perempuan Bertemu
165. Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Apabila seseorang duduk di antara cabang wanita yang empat yakni antara kedua kaki dan kedua tangan, kemudian mengerjakannya dengan sungguh-sungguh (yakni menyetubuhinya), sungguh ia wajib mandi.”
Bab Ke-28: Membersihkan Sesuatu Yang Basah yang Keluar dari Kemaluan Seorang Wanita Apabila Mengenai Seseorang
166. Ubay bin Ka’ab berkata, “Wahai Rasulullah, apabila seorang laki-laki menyetubuhi istrinya, tetapi tidak mengeluarkan mani, apakah yang wajib dilakukan olehnya?” Beliau menjawab, “Hendaklah dia mencuci bagian-bagian yang bersentuhan dengan kemaluan wanita, berwudhu, lalu shalat.”[12]
Abu Abdillah berkata, “Mandi adalah lebih hati-hati dan merupakan peraturan hukum yang terakhir. Telah kami jelaskan perbedaan pendapat di antara mereka mengenai masalah ini.”
Catatan Kaki:
[1] Ibnu Khuzaimah menambahkan di dalam Shahih-nya (nomor 251, terbitan Beirut) dari jalan lain dari Aisyah, ia berkata, “Aku yang memulainya, lalu aku tuangkan air ke atas kedua tangan beliau sebelum beliau memasukkannya ke dalam air.” Sanadnya bagus.
[2]
Maksudnya, riwayat dari Ibnu Abbas tanpa menyebut Maimunah ini adalah
sahih; berbeda dengan riwayat Ibnu Uyainah yang mengatakan dari Ibnu
Abbas dari Maimunah karena riwayat ini ganjil.
[3] Hadits ini diringkas karena adanya isyarat pada perkataan beliau, “Amma anaa…” (Adapun saya di dalam riwayat Muslim (1/178) disebutkan bagian sebelumnya dari Jubair, katanya, “Orang-orang berdebat tentang mandi di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam., lalu sebagian orang berkata, ‘Adapun aku, maka aku cuci kepala aku begini dan begini.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘Adapun aku ….’”
[4] Atsar Ibnu Umar di-maushul-kan oleh Sa’id bin Manshur, sedangkan atsar al-Barra’ di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah.
[5] Atsar Ibnu Umar di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan atsar Ibnu Abbas di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan oleh Abdur Razzaq dari jalan lain darinya.
[6] Tambahan ini disebutkan secara mutlak oleh penyusun, dan al-Hafizh tidak men-takhrij-nya.
[7] Di-maushul-kan oleh Imam Syafi’i (nomor 70) dengan sanad sahih darinya (Ibnu Umar), tetapi dalam riwayat ini disebutkan bahwa Ibnu Umar berwudhu dengan mencuci betisnya, bukan kakinya, kemudian masuk masjid, kemudian mengusap kedua khuf-nya, lalu shalat dengannya.
[8] Imam Muslim menambahkan (4/12-13), “Sungguh, seandainya aku melabur dengan aspal lebih aku sukai daripada berbuat begitu.”
Aku
(al-Albani) berkata, “Ibrahim an-Nakha’i dan lain-lainnya mengingkari
sikap Ibnu Umar itu, mengingat riwayat Aisyah, sebagaimana akan
disebutkan pada Kitab ke-25 ‘al-Hajj’, Bab ke-18.”
[9] Terdapat kisah lain yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah ats-Tsaqafi dan lainnya; di situ disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. bertakbir, kemudian berisyarat kepada mereka agar tetap di tempatnya, kemudian beliau pergi mandi, lantas shalat dengan mereka. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya, dan telah aku takhrij dan aku tahqiq kesahihannya di dalam Shahih Abi Dawud nomor 226.
[10] Di-maushul-kan oleh Ashhabus Sunan dan lainnya dari Bahaz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, yaitu Muawiyah bin Haidah, dan sanadnya hasan, dan telah aku takhrij di dalam Adabuz Zifaf, halaman 36.
[11] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad sahih.
[12] Hadits semakna dengannya telah disebutkan pada Kitab ke-4 “al-Wudhu” dari hadits Utsman dan lainnya, nomor 116, dan hadits ini di-nasakh (dihapuskan) dengan hadits-hadits lain sebagaimana dapat kita lihat dalam al Muntaqa dan lain-lainnya. Lihat ta’liq di muka pada nomor 13.
Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani
TIDAK MUDAH MARAH
(HR. Bukhari)
Penjelasan :
Pengarang kitab Al Ifshah berkata : "Boleh jadi Nabi mengetahui laki-laki tersebut sering marah, sehingga nasihat ini ditujukan khusus kepadanya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memuji orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya ketika marah". Sabda beliau : "Bukanlah dikatakan orang yang kuat karena dapat membanting lawannya, tetapi orang yang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya di waktu marah".
Allah juga memuji orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah dan suka memberi maaf kepada orang lain. Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : "Barang siapa menahan marahnya padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan segala makhluk, sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya"
Tersebut pada Hadits lain : "Marah itu dari setan".
Oleh karena itu, orang yang marah menyimpang dari keadaan normal, berkata yang bathil, berbuat yang tercela, menginginkan kedengkian, perseteruan dan perbuatan-perbuatan tercela. Semua itu adalah akibat dari rasa marah. Semoga Allah melindungi kita dari rasa marah. Tersebut pada Hadits Sulaiman bin Shard : "Sesungguhnya mengucapkan 'a'udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim' dapat menghilangkan rasa marah".
Karena sesungguhnya setanlah yang mendorong marah. Setiap orang yang menginginkan hal-hal yang terpuji, setan selalu membelokkannya dan menjauhkannya dari keridhaan Allah, maka mengucapkan "a'udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim" merupakan senjata yang paling kuat untuk menolak tipu daya setan ini.
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuhu,
DIRIKU DALAM FIKIRANKU
Dalam butiran cahaya bintang yang bertaburan
Kurenungi hakikat penciptaanku sebagai makluk bumi
Kucurahkan semua rasio ku tuk berfikir.....
Betapa kecilnya diriku ini.....
Seseorang diantara taburan manusia yang perpijak pada bumi
Betapa kecilnya bumi ini.....
Sebuah planet diantara taburan bintang dan galaksi
Betapa besarnya alam semesta ini......
Luas dan masih tak terjelajahi dengan teknologi masa kini
Betapa maha besarnya pencipta alam semesta ini.....
yang telah mencipta dengan keindahan dan harmoni
Pada Siang Dengan Keriuhan dan Terangnya
Dalam hiruk-pikuk aktifitas penduduk bumi
Kurenungi hakikat penciptaanku sebagai manusia
Kucurahkan semua rasio ku tuk memahami.....
Ku terlahir di dunia sebagai seorang bayi
Dalam asuhan dan bimbingan orang tua
Untuk belajar menjadi Khalifah di muka bumi
Dan beribadah kepada ALLAH yang maha ESA
Menjalani takdir ALLAH berupa Ujian dan Cobaan di dunia
Dibekali dengan Nafsu dan Akal Fikiran
Dituntun dengan kitab Alquran
Serta Alhadist melalui Rasul-NYA
Senang, susah, sedih, gembira
Menangis, tertawa, termenung, ceria
Pasrah, khawatir, ikhlas, kecewa
Resah, tenang, derita, bahagia
Dinamika kehidupan dalam pasangan rasa
Tertahta dalam hati sebagai nuansa
terwujud dalam tindakan dan aksi
dalam diri seorang pribadi
Kebaikan....akan dibalas dengan kebaikan
Kejahatan...akan dibalas dengan kejahatan
Itulah hukum yang berlaku bagi manusia di dunia ini
yang tak bisa terlepas dari aksi-reaksi
Episode bergulir seperti sebuah roda putar
Kadang diatas...kadang dibawah
Mencari puzzle hikmah dalam tempaan kehidupan dunia
Berharap ridho dari Allah Sang Pencipta
Puji, caci, cinta, benci
Jujur, dusta, sayang, dengki
Benar, Fitnah, rela, iri
Jumpa, pisah, datang, pergi
Dinamika kehidupan dalam pasangan aksi
Terjadi dalam kehidupan sehari-hari
Tindakan ditabur saat ini
Balasan dituai di hari nanti
Kebaikan.... akan mendatangkan pahala
kejahatan....akan mendatangkan dosa
Itulah balasan bagi tindakan manusia
Dari Allah yang Maha Kuasa
Episode bergulir seperti sebuah roda putar
Kadang mendapat pahala...kadang berbuat dosa
Mengumpulkan amal dalam tempaan berinteraksi dengan sesama
Berharap karunia dari Allah yang Maha Pencipta
Terus ditempa di dunia...sampai ajal tiba...
Lalu menunggu di alam kubur... hingga kiamat tiba...
Diakherat dihitung amal perbuatannya
bertanggung jawab terhadap amal perbuatannya
Tanda-tanda menjelang ajal Bagikan
Tanda Tanda Menjelang Ajal Tiba
Kematian adalah termasuk didalam perkara-perkara yang dirahasiakan Alloh SWT, namun bukan hal yang mustahil tanda-tanda kematian itu dapat dirasakan setiap hamba sebelum ajalnya tiba.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Ibnu Umar; Muhammad pernah bersabda: ”Lima kunci perkara gaib, tidak mengetahuinya melainkan Allah”. Satu, tiada yang mengetahui (kepastian mutlak) apa yang tersimpan di dalam rahim (kandungan perempuan) melainkan Allah . Dua, tiada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari melainkan Allah. Tiga, tiada seorangpun yang mengetahui bila waktunya hujan akan turun melainkan Allah. Empat, tiada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati melainkan Allah. Lima, tiada yang mengetahui bila kiamat akan terjadi melainkan Allah. (HR. Bukhory).
Hadist tersebut menjelaskan, bahwa tiada seorangpun yang mengetahui hal-hal yang gaib kecuali Allah. Adapun tanda-tanda sesuatu yang gaib itu terkadang dapat kita rasakan wujudnya dari perkiraan dan kajian para ilmuwan. Misalkan jita dapat mengetahui janin berkelamin laki atau perempuan dalam kandungan via USG. Atau kita dapat mengetahui perkiraan cuaca akan turunnya hujan maupun cuaca cerah beberapa hari sebelumnya, dll.
Padahal sesuai hadist tersebut, semua itu adalah hal-hal yang gaib, tapi mengapa manusia dapat mengetahuinya? Nah disini kita rasanya perlu mengkaji secara cermat dan membedakan mana hal yang ghaib mutlak dan mana hal gaib yang dapat kita ketahui tanda-tanda terjadinya perkara gaib.
1-Tiada yang mengetahui (kepastian mutlak) apa yang tersimpan di dalam rahim (kandungan perempuan) melainkan Alloh Ta’ala.
2-Tiada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari melainkan Alloh SWT.
3-Tiada seorangpun yang mengetahui bila waktunya hujan akan turun melainkan Alloh SWT.
4-Tiada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati melainkan Alloh SWT.
5-Tiada yang mengetahui bila Qiamat akan terjadi melainkan Alloh Ta’ala. (Bukhory).
Hadist tersebut menjelaskan, bahwa tiada seorangpun yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Alloh Ta’ala. Adapun tanda-tanda sesuatu yang ghaib itu terkadang dapat kita rasakan wujudnya dari perkiraan dan kajian para ilmuan.. misal:
-Kita dapat mengetahui janin berkelamin laki atau perempuan dalam kandungan via USG.
-Kita dapat mengetahui perkiraan cuaca akan turunnya hujan maupun cuaca cerah beberapa hari sebelumnya, dll.
Riwayat –riwayat hadist diatas mengingatkan kepada kita, sesungguhnya Alloh SWT tidak pernah berlaku dholim kepada hambanya. Tanda-tanda yang diberikan adalah untuk menjadikan manusia agar mendapat kesempatan bertobat dan bersedia memahami perjalanan menuju alam baka.
Banyak hal-hal ghaib yang kita sama sekali tidak mengetahui kecuali Alloh SWT yang maha tahu, contoh yang paling gampang: hari Qiamat itu pasti terjadi, kapan hari terjadinya? Tidak ada satu manusiapun yang dapat memastikan-nya, namun Alloh SWT memberikan tanda-tanda Qiamat kepada manusia. Begitu juga kematian seseorang tidak ada satupun yang akan mengetahui kapan taqdir/ detik-detik ajal tiba, namun Alloh SWT memberikan tanda-tanda seorang yang akan mati. Hanya saja ada orang yang merasakan tanda-tanda menjelang kematian dan ada pula yang acuh akan hal itu.
Inilah Tanda Tandany:
Tanda 100 hari sebelum ajal tiba.
Ini adalah tanda pertama dari Alloh SWT kepada hambanya dan hanya akan disadari oleh mereka-mereka yang dikehendakinya. Walaubagaimana semua orang Islam akan mendapat tanda ini, hanya saja mereka sadar atau tidak.
Tanda ini akan berlaku kepastian-nya selepas waktu Asar, yaitu :
-Seluruh tubuh dari ujung rambut hingga ke ujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan mengigil. Misal, seperti daging sapi yang baru disembelih dimana jika diperhatikan dengan cermat kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya lezat dan bagi mereka yang sadar tersirat di hatinya bahwa mungkin ini adalah tanda kematian, maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini. Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap sia-sia begitu saja. Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk memanafa’atkan sisa umur yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.
Tanda 40 hari sebelum ajal tiba.
Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu Asar. Bagian pusar kita akan berdenyut-denyut. Pada saat itu daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pokok yang letaknya di atas Arasy Alloh SWT. Maka malaikat Izroil pun akan mengambil daun tersebut dan mula membuat persediaan-nya ke atas kita diantaranya, Malaikat Maut/ Izroil akan mulai selalu mengikuti/ mengintai kita sepanjang sisa umur kita. dan Akan terjadi Malaikat maut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas lalu tak nampak lagi dan bila ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika. Adapun Malaikat maut ini wujudnya cuma seorang tetapi berkuasa untuk mencabut nyawa bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya seijin Alloh SWT.
Tanda 7 hari sebelum ajal tiba.
Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesakitan di mana orang sakit yang tidak makan secara tiba-tiba dia (yang sakit) berselera untuk makan.
Tanda 3 hari sebelum ajal tiba.
Pada saat itu mereka akan terasa denyutan di bagian tengah dahi kita yaitu, diantara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini kita rasakan, maka berpuasalah kita setelah itu. supaya perut kita tidak mengandung banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti. saat juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh ke depan (berubah menjadi agak sedikit mancung dan mengkerut.. Telingan-nya akan layu dimana bagian ujungnya akan beransur-ansur masuk ke dalam. telapak kakinya yang terlunjur akan lemas dan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.
Tanda 1 hari sebelum ajal tiba.
Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang, yaitu di kawasan ubun-ubun di mana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.
Tanda Akhir !!!
Akan berlaku keadaan di mana kita akan merasakan satu keadaan sejuk di bagian pusar hingga ke tulang sulbi dan rasa itu akan turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bagian hulkum (tenggorokan). Detik-detik itu hendaklah kita terus mengucap kalimat syahadah dan berdiam diri dan menantikan kedatangan Izroil/ malaikat maut untuk menjemput kita kembali kepada Alloh SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.
Catatan: bahwa keterangan diatas adalah tanda-tanda kematian saja, bukan kepastian, adapun ajal, hanya Alloh SWT yang maha tau. itupun tidak semua manusia sadar dengan tanda-tanda kematian tersebut.
Riwayat dari Abu Bakar ra, tentang roh.
Abu Bakar ra, telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar ra: ”Roh itu menuju ketujuh tempat :
1.Roh para Nabi dan utusan menuju ke Surga Adnin.
2.Roh para ulama menuju ke Surga Firdaus.
3.Roh mereka yang berbahagia menuju ke Surga illiyyin.
4.Roh para syuhada’ berterbangan seperti burung di surga mengikut kehendak mereka.
5.Roh para mu’min yang berdosa akan terkantung katung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari Qiamat.
6.Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7.Roh orang-orang kafir akan berada dalam Neraka Sijjin, mereka kelak disiksa berserta jasad barunya hingga sampai hari Qiamat.”
Telah bersabda Rosululloh SAW:
Tiga kelompok manusia yang akan disalami tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya:
1.Orang-orang yang mati syahid.
2.Orang-orang yang mengerjakan solat malam bulan ramadhon.
3.Orang berpuasa di hari Arafah.
Kita tidak akan dapat lolos dari ajal, Malaikat Izroil yang mempunyai tugas mencabut nyawa manusia yang selalu menghadang kita. Apa bekal kita untuk dibawa mati...? tentunya Iman dan amal-amal baik yang akan menyelamatkan kita dari kobaran api Neraka.
Sang pencabut nyawa (Izroil) akan mendatangi setiap orang guna melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan Alloh Ta’ala, siapa saja.. kapan saja.. dimana saja.. pasti ajal akan menjemput kita setelah merasakan dahsatnya Sakaratul Maut. sementara kita semua sedang menunggu kedatangan Malaikat Izroil yang bertugas memisahkan ruh dari jasad manusia. Bagaimanapun juga kita mengharap proses pencabutan nyawa berjalan dengan cepat tanpa penderitaan, namun harapan kita, Insya’Alloh akan terkabul apabila kita termasuk orang-orang yang mendapat rahmat-Nya.
Setelah badan terbujur kaku, Penyesalan tidak akan berarti, apakah mereka akan menjadi orang-orang yang beruntung ataukah menjadi orang-orang yang merugi...? tergantung tingkah laku manusia yang mereka perbuat selama di dunia, tiada yang lain, kecuali Iman dan amal baik yang akan menjadi bekal mati.
Sakaratul Maut adalah detik-detik kematian, beruntunglah bagi hamba-hamba yang taat selama di dunia dan sebaliknya (sakaratul maut) akan menjadi malapetaka besar bagi orang-orang yang belum bertaubat dan berlumuran dosa.
Sekian uraian saya, semoga bermanfa’at bagi kita semua.
Sabtu, 18 Januari 2014
HARTA, Antara Nikmat dan Fitnah
Harta, tentu banyak yang menginginkannya. Beragam cara pun dilakukan untuk memperolehnya. Halal haram,
bagi sebagian orang, adalah nomor kesekian. Yang terpenting adalah
kebutuhan terpenuhi dan gaya hidup terpuaskan. Jika sudah seperti ini,
harta tak lagi menjadi rahmat, namun menjadi celah turunnya azab.
Harta merupakan salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang dikaruniakan kepada umat manusia. Keindahannya demikian memesona. Pernak-perniknya pun teramat menggoda. Ini mengingatkan kita akan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada segala apa yang diingini (syahwat), yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Al-Jannah).” (Ali ‘Imran: 14)
Lebih
dari itu, harta adalah sebuah realita yang melingkupi kehidupan umat
manusia. ‘Sejarah’-nya yang tua, senantiasa eksis mengawal peradaban
umat manusia di setiap generasi dan masa. Jati dirinya yang berbasis fitnah,
telah banyak melahirkan berbagai gonjang-ganjing kehidupan. Maha benar
Allah dengan segala firman-Nya, tatkala Dia mengingatkan para hamba-Nya
akan realita tersebut. Sebagaimana dalam firman-Nya:Harta merupakan salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang dikaruniakan kepada umat manusia. Keindahannya demikian memesona. Pernak-perniknya pun teramat menggoda. Ini mengingatkan kita akan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada segala apa yang diingini (syahwat), yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Al-Jannah).” (Ali ‘Imran: 14)
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيْمٌ
“Ketahuilah, sesungguhnya harta dan anak-anak kalian itu (sebagai) fitnah, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfaal: 28)
Jauh-jauh hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mewanti-wanti umatnya dari gemerlapnya harta dengan segala fitnahnya yang menghempaskan. Sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا، كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah ibarat potongan-potongan malam. (Disebabkan fitnah tersebut) di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir, di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim no. 118, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Demikianlah wasiat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya tentang harta dan segala fitnahnya. Allahumma sallim sallim…(Ya Allah, selamatkanlah kami semua darinya).
Langganan:
Postingan (Atom)