Laman

Minggu, 19 Januari 2014

Kitab Salat

1. Permulaan azan

· Hadis riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Dahulu, orang-orang Islam ketika tiba di Madinah, mereka berkumpul lalu memperkirakan waktu salat. Tidak ada seorang pun yang menyeru untuk salat. Pada suatu hari mereka membicarakan hal itu. Sebagian mereka berkata: Gunakanlah lonceng seperti lonceng orang Kristen. Sebagian yang lain berkata: Gunakanlah terompet seperti terompet orang Yahudi. Kemudian Umar berkata: Mengapa kalian tidak menyuruh seseorang agar berseru untuk salat? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Hai Bilal, bangunlah dan serulah untuk salat. (Shahih Muslim No.568)

2. Perintah menggenapkan azan dan mengganjilkan iqamat

· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Bilal diperintahkan agar menggenapkan azan dan mengganjilkan iqamat. (Shahih Muslim No.569)

3. Sunat menunjuk dua orang muazin untuk satu mesjid

· Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mempunyai dua muazin, Bilal dan Ibnu Ummu Maktum yang buta. (Shahih Muslim No.573)

4. Sunat membaca seperti yang dikumandangkan muazin bagi yang mendengar azan kemudian membaca selawat untuk Nabi Shallallahu alaihi wassalam. dan memohon wasilah untuknya

· Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apabila engkau mendengar azan, maka bacalah seperti yang dikumandangkan muazin. (Shahih Muslim No.576)

5. Keutamaan azan dan larinya setan ketika mendengar azan

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam., Beliau bersabda: Sesungguhnya setan, apabila mendengar azan untuk salat, ia berlari sambil terkentut-kentut sampai tidak mendengarnya lagi. Ketika azan telah berhenti, ia kembali menghasut. Apabila mendengar iqamat, ia pergi sampai tidak mendengarnya. Ketika iqamat telah berhenti, ia kembali menghasut lagi. (Shahih Muslim No.582)

6. Sunat mengangkat dua tangan sejajar pundak ketika takbiratul ihram, akan rukuk dan bangun dari rukuk serta tidak mengangkat tangan ketika bangun dari sujud

· Hadis riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mengangkat kedua tangan hingga sejajar pundak ketika memulai salat, sebelum rukuk dan ketika bangun dari rukuk. Beliau tidak mengangkatnya di antara dua sujud. (Shahih Muslim No.586)

· Hadis riwayat Malik bin Huwairits Radhiyallahu’anhu:
Dari Abu Qilaabah, bahwa ia melihat Malik bin Huwairits ketika ia salat, ia bertakbir lalu mengangkat kedua tangannya. Ketika ingin rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Ketika mengangkat kepala dari rukuk, ia mengangkat kedua tangannya. Ia bercerita bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dahulu berbuat seperti itu. (Shahih Muslim No.588)

7. Menetapkan takbir tiap kali turun dan bangun dalam salat, kecuali bangun dari rukuk membaca: “Allah mendengar orang yang memuji-Nya”

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu
Dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Hurairah salat mengimami para sahabat. Ia bertakbir tiap kali turun dan bangun. Ketika selesai ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip dengan salat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.. (Shahih Muslim No.590)

· Hadis riwayat Imran bin Hushein Radhiyallahu’anhu:
Dari Mutharrif bin Abdullah, ia berkata: Aku dan Imran bin Hushein salat di belakang Ali bin Abu Thalib. Saat sujud beliau bertakbir. Saat mengangkat kepalanya beliau bertakbir. Saat bangun dari dua rakaat beliau bertakbir. Selesai salat Imran memegang tanganku dan berkata: Sesungguhnya Ali telah mengimami salat kita dengan salat seperti salat Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. atau katanya: Sesungguhnya Ali telah mengingatkan aku dengan salat Muhammad Shallallahu alaihi wassalam.. (Shahih Muslim No.594)

8. Wajib membaca surat Al-Fatihah setiap rakaat dan bagi orang yang tidak bisa dan belum mempelajarinya disarankan membaca surat lain, selain surat Fatihah

· Hadis riwayat Ubadah bin Shamit Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Orang yang tidak membaca surat Al-Fatihah, tidak sah salatnya. (Shahih Muslim No.595)

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tidak ada salat kecuali dengan bacaan surat Al-Fatihah. (Shahih Muslim No.599)

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. masuk mesjid. Lalu seorang lelaki masuk dan melakukan salat. Setelah selesai ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda: Ulangilah salatmu, karena sesungguhnya engkau belum salat. Lelaki itu kembali salat seperti salat sebelumnya. Setelah salatnya yang kedua ia mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wassalam. dan memberi salam. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Wa’alaikas salam. Kemudian beliau bersabda lagi: Ulangilah salatmu, karena sesungguhnya engkau belum salat. Sehingga orang itu mengulangi salatnya sebanyak tiga kali. Lelaki itu berkata: Demi Zat yang mengutus Anda dengan membawa kebenaran, saya tidak dapat mengerjakan yang lebih baik daripada ini semua. Ajarilah saya. Beliau bersabda: Bila engkau melakukan salat, bertakbirlah. Bacalah bacaan dari Alquran yang engkau hafal. Setelah itu rukuk hingga engkau tenang dalam rukukmu. Bangunlah hingga berdiri tegak. Lalu bersujudlah hingga engkau tenang dalam sujudmu. Bangunlah hingga engkau tenang dalam dudukmu. Kerjakanlah semua itu dalam seluruh salatmu. (Shahih Muslim No.602)

9. Dalil tidak boleh mengeraskan bacaan basmalah

· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Aku pernah salat bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., bersama Abu Bakar, bersama Umar dan bersama Usman dan aku tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca Bismillahirrahmanirrahim. (Shahih Muslim No.605)

10. Dalil bahwa basmalah adalah awal ayat tiap surat kecuali surat At-Taubah

· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersama kami, tiba-tiba beliau terlena sesaat, kemudian mengangkat kepala beliau sambil tersenyum. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang membuat Anda tertawa? Beliau menjawab: Baru saja satu surat diturunkan kepadaku. Lalu beliau membaca: Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar “nikmat yang banyak”. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus. Kemudian beliau bertanya: Tahukah kalian, apakah Kautsar itu? Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda: Itu adalah sungai yang dijanjikan Tuhanku. Sungai yang menyimpan banyak kebaikan dan merupakan telaga yang didatangi umatku pada hari kiamat. Wadahnya sebanyak bilangan bintang. Ada seorang hamba yang ditarik dari kumpulan mereka. Aku berkata: Ya Tuhanku, dia termasuk umatku. Allah berfirman: Engkau tidak tahu, dia telah membuat suatu bid`ah sepeninggalmu. (Shahih Muslim No.607)

11. Tasyahhud dalam salat

· Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu dia berkata:
Ketika kami bermakmum di belakang Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., kami membaca: “Keselamatan tetap pada Allah, keselamatan tetap pada si fulan”. Suatu hari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda kepada kami: Sesungguhnya Allah adalah keselamatan itu sendiri. Jadi, apabila salah seorang di antara engkau duduk (membaca tasyahud) hendaknya membaca: “Segala kehormatan, semua rahmat dan semua yang baik itu milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkat-Nya dilimpahkan kepadamu, wahai Nabi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada para hamba-Nya yang saleh. Apabila dia telah membacanya, maka keselamatan itu akan menyebar kepada semua hamba Allah yang saleh”, baik yang di langit maupun yang di bumi. “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, kemudian berdoalah sesukanya. (Shahih Muslim No.609)

12. Selawat kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam. sesudah tasyahhud

· Hadis riwayat Kaab bin Ujrah Radhiyallahu’anhu:
Dari Abdullah bin Abu Laila, dia berkata: Kaab bin Ujrah menemuiku dan berkata: Maukah engkau aku berikan hadiah? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pernah menemui kami, lalu kami berkata: Kami telah mengetahui cara membaca salam untuk Baginda, lalu bagaimana kami membaca selawat untuk Anda? Beliau bersabda: Bacalah: “Allahumma shalli `alaa Muhammad wa `alaa aali Muhammad kamaa baarakta `alaa aali Ibrahim. Innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik `alaa Muhammad wa `alaa aali Muhammad kamaa baarakta `alaa aali Ibrahim Innaka hamiidum majiid”. (Ya Allah, limpahkanlah sejahtera kepada Muhammad dan keluarga nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan kesejahteraan kepada keluarga nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha mulia). (Shahih Muslim No.614)

· Hadis riwayat Abu Humaid As-Saidi Radhiyallahu’anhu:
Bahwa para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami membaca selawat untuk Anda? Beliau bersabda: Bacalah: “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa azwaajihi wa zurriyyatihi kamaa shallaita ‘alaa aali Ibrahim wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa azwaajihi wa zurriyyatihi kamaa baarakta ‘alaa aali Ibrahim. Innaka hamiidum majiid.” (Ya Allah, limpahkanlah sejahtera kepada Muhammad dan istri-istrinya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan kesejahteraan kepada keluarga nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji dan mulia. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan istri-istrinya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha mulia). (Shahih Muslim No.615)

13. Membaca “sami`allahu liman hamidah” dan “aamiin”

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apabila imam membaca “sami`allahu liman hamidah”, hendaklah kalian membaca “Allahumma rabbanaa lakal hamdu”, (Ya Allah, Tuhan kami, hanya milik-Mu-lah segala pujian), karena barang siapa yang ucapannya bertepatan dengan bacaan malaikat, maka dosanya yang lalu akan diampuni. (Shahih Muslim No.617)

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Bila Imam membaca: Amin, hendaklah kalian membaca: “Aamiin”. Karena sesungguhnya barang siapa yang bacaan aminnya bertepatan dengan bacaan amin malaikat maka dosanya yang lalu akan diampuni. (Shahih Muslim No.618)

14. Makmum harus mengikuti imam

· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu dia berkata:
Nabi Shallallahu alaihi wassalam. pernah jatuh dari kuda sehingga lambung kanan beliau robek. Kami datang menjenguk. Saat tiba waktu salat, beliau salat bersama kami dengan duduk dan kami pun salat di belakang beliau dengan duduk. Usai salat beliau bersabda: Sesungguhnya seseorang dijadikan imam untuk diikuti. Jadi, apabila dia bertakbir, bertakbirlah. Bila dia sujud, sujudlah. Bila ia bangun, bangunlah. Bila ia membaca “sami`allahu liman hamidah”, bacalah “rabbanaa lakal hamdu” dan bila ia salat dengan duduk, salatlah dengan duduk pula. (Shahih Muslim No.622)

· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pernah sakit. Para sahabat datang menjenguk beliau. Kemudian beliau salat dengan duduk. Para sahabat bermakmum pada beliau dengan berdiri. Beliau memberi isyarat kepada mereka agar duduk, maka mereka pun duduk. Selesai salat beliau bersabda: Sesungguhnya seseorang dijadikan imam hanyalah untuk diikuti. Jadi apabila ia rukuk, maka rukuklah kalian, bila ia bangun, maka bangunlah kalian dan bila ia salat sambil duduk, maka salatlah kalian sambil duduk. (Shahih Muslim No.623)

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya imam itu untuk diikuti. Karena itu, maka janganlah kalian menyalahinya. Apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah kalian, bila ia rukuk, maka rukuklah kalian, bila ia membaca “sami`allahu liman hamidah”, maka bacalah “Allahumma rabbanaa lakal hamdu”, bila ia sujud, maka sujudlah dan bila ia salat sambil duduk, maka salatlah kalian sambil duduk. (Shahih Muslim No.625)

15. Imam mengangkat seseorang untuk menggantikannya apabila ia uzur, seperti sakit, bepergian atau lainnya, makmum harus berdiri di belakang imam yang duduk selama ia mampu, penghapusan hukum duduk di belakang imam yang duduk bagi makmum yang mampu berdiri

· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu:
Dari Ubaidillah bin Abdullah, ia berkata: Aku menemui Aisyah dan berkata: Maukah Anda menceritakan kepadaku tentang sakit Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam? Ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam. menderita lemah sekali, beliau bersabda: Apakah para sahabat sudah salat? Kami jawab: Belum, mereka menunggu baginda, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Tuangkan air untukku di bak. Kami pun melakukannya lalu beliau mandi. Setelah itu, saat ingin bangkit beliau pingsan. Ketika siuman beliau bertanya: Apakah para sahabat sudah salat? Kami jawab: Belum. Mereka menunggu baginda, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Tuangkan air untukku di bak. Kami mengerjakannya dan beliau mandi. Saat akan berdiri beliau pingsan lagi. Setelah siuman beliau bertanya: Apakah para sahabat sudah salat? Kami jawab: Belum, mereka menunggu baginda, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Tuangkan air untukku di bak. Kami mengerjakannya dan beliau mandi. Ketika akan bangun beliau pingsan lagi untuk yang ketiga kalinya. Pada waktu siuman beliau bertanya: Apakah para sahabat sudah salat? Kami jawab: Belum. Mereka menunggu baginda, wahai Rasulullah. Para sahabat telah berkumpul di mesjid menunggu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. untuk salat Isyak. Beliau memerintahkan seseorang menemui Abu Bakar agar ia mengimami salat. Tiba di hadapan Abu Bakar, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. memerintahkan Anda untuk mengimamai salat sahabat lainnya. Abu Bakar adalah seorang yang lembut hati, ia berkata: Wahai Umar, imamilah mereka itu! Umar berkata: Anda lebih menjadi imam mereka. Akhirnya Abu Bakar mengimami salat mereka selama beberapa hari. Ketika sakit Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. agak ringan, beliau keluar untuk salat Zuhur, dibantu oleh dua orang, salah satunya adalah Abbas. Saat itu Abu Bakar akan mengimami sahabat. Ketika ia melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. datang, ia mundur untuk menunda (salat). Nabi Shallallahu alaihi wassalam. memberi isyarat kepadanya agar jangan ditunda. Kemudian beliau memerintahkan kedua orang yang memapah beliau: Dudukkan aku di sampingnya. Mereka mendudukkan beliau di samping Abu Bakar. Maka Abu Bakar salat berdiri bermakmum kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., para sahabat yang lain bermakmum kepada Abu Bakar dan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. saat itu salat sambil duduk. (Shahih Muslim No.629)

· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Abu Bakar mengimami sahabat ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sakit yang membuatnya wafat, pada hari Senin, ketika berbaris dalam salat, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menyingkap tirai kamar dan memandang kami dengan berdiri. Wajah beliau putih seperti kertas, beliau tersenyum. Kami yang sedang salat terpukau karena gembira dengan keluarnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Kemudian Abu Bakar mundur untuk ke barisan pertama. Ia mengira bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. keluar untuk salat. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. memberi isyarat tangan kepada mereka agar terus menyempurnakan salat. Lalu beliau masuk lagi dan menurunkan tirai kamar. Pada hari itu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. wafat. (Shahih Muslim No.636)

· Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sakit dan semakin bertambah parah. Beliau bersabda: Perintahkan Abu Bakar agar mengimami salat kaum muslimin. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, Abu Bakar adalah seorang yang berhati halus. Kalau ia menempati tempat baginda, ia tidak akan mampu mengimami salat Kaum muslimin. Beliau bersabda: Perintahkan Abu Bakar agar mengimami salat kaum muslimin. Kalian ini seperti teman-teman Yusuf (dalam berdebat). Abu Musa berkata: Kemudian Abu Bakar mengimami salat mereka ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. masih hidup. (Shahih Muslim No.638)

16. Jamaah menunjuk seseorang untuk mengimami mereka bila imam yang tetap terlambat datang dan mereka tidak khawatir akan timbul masalah akibat penunjukan tersebut

· Hadis riwayat Sahal bin Saad As-Saidi Radhiyallahu’anhu:
Bahwa ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pergi ke Bani Amru bin Auf untuk mendamaikan pertikaian di antara mereka, maka ketika tiba waktu salat, seorang muazin datang kepada Abu Bakar lalu berkata: Maukah engkau mengimami salat orang-orang. Lalu saya mengiqamati? Abu Bakar menjawab: Ya. Kemudian Abu Bakar salat. Ketika orang-orang sedang salat, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. datang. Beliau maju perlahan hingga sampai barisan awal. Melihat itu orang-orang bertepuk tangan, tetapi Abu Bakar tidak menoleh. Ketika tepuk tangan semakin riuh ia menoleh dan melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Beliau mengisyaratkan Abu Bakar agar tetap di tempatnya. Abu Bakar mengangkat kedua tangannya seraya memuji Allah ‘azza wa jalla sesuai dengan yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, lalu mundur sehingga sejajar dengan barisan awal. Setelah itu Nabi Shallallahu alaihi wassalam. maju dan salat. Usai salat, beliau bersabda: Hai Abu Bakar, apa yang menghalangimu untuk tetap di tempatmu ketika aku suruh? Abu Bakar menjawab: Tidak layak bagi anak Abu Quhafah salat di hadapan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Beliau bersabda lagi: Mengapa kalian bertepuk tangan? Barang siapa yang ingin mengingatkan sesuatu di dalam salat, hendaknya ia bertasbih, karena bila ia bertasbih, ia akan ditoleh. Tepuk tangan hanya untuk wanita. (Shahih Muslim No.639)

17. Bertasbih bagi lelaki dan tepuk tangan bagi wanita jika ingin mengingatkan sesuatu di dalam salat

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pernah bersabda: Bertasbih untuk lelaki dan tepuk tangan untuk wanita. (Shahih Muslim No.641)

18. Perintah membaguskan, menyempurnakan dan khusyuk dalam salat

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Suatu hari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mengimami salat kami. Usai salat beliau bersabda: Hai fulan, mengapa engkau tidak membaguskan salatmu? Tidakkah orang yang salat merenungkan bagaimana salatnya? Sesungguhnya ia salat untuk dirinya sendiri. Demi Allah, sungguh aku dapat melihat belakangku, sebagaimana aku melihat depanku. (Shahih Muslim No.642)

· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Sempurnakanlah rukuk dan sujud, demi Allah, sesungguhnya aku dapat melihat engkau di belakangku (kemungkinan bersabda: yang di belakang punggungku) saat engkau rukuk atau sujud. (Shahih Muslim No.644)

19. Larangan mendahului imam dalam rukuk, sujud atau lainnya

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. pernah bersabda: Apakah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, tidak takut kepalanya diganti oleh Allah dengan kepala keledai. (Shahih Muslim No.647)

20. Meluruskan barisan dan merapikannya, berdesakan dalam barisan pertama dan berlomba mendapatkannya, mendahulukan orang-orang yang punya keutamaan dan mendekatkan mereka kepada imam

· Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Luruskanlah barisan kalian. Sesungguhnya kelurusan barisan salat termasuk bagian dari kesempurnaan salat. (Shahih Muslim No.656)

· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sempurnakanlah barisan, karena sesungguhnya aku dapat melihat engkau yang ada di belakangku. (Shahih Muslim No.657)

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Luruskanlah barisan dalam salat, karena lurusnya barisan itu termasuk kebaikan salat. (Shahih Muslim No.658)

· Hadis riwayat Nukman bin Basyir Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sebaiknya engkau mau meluruskan barisanmu atau Allah akan menancapkan rasa permusuhan di antara engkau. (Shahih Muslim No.659)

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seandainya manusia tahu apa (keutamaan) yang terdapat dalam azan dan barisan pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, pasti mereka akan mengundinya. Seandainya mereka tahu apa (keutamaan) yang terdapat dalam bersegera (datang sedini mungkin) melakukan salat, pasti mereka berlomba-lomba melakukannya. Seandainya mereka tahu apa yang terdapat dalam salat Isyak dan salat Subuh, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. (Shahih Muslim No.661)

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Seandainya kalian (atau mereka) tahu apa yang ada dalam barisan depan, tentu akan diadakan undian. (Shahih Muslim No.663)

21. Perintah agar para wanita yang salat di belakang laki-laki untuk tidak mengangkat kepala mereka dari sujud sebelum laki-laki mengangkat kepalanya

· Hadis riwayat Sahal bin Saad Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Aku melihat orang-orang lelaki yang salat di belakang Nabi Shallallahu alaihi wassalam. mengikatkan kain mereka pada leher seperti anak kecil karena sempitnya kain mereka. Seseorang berkata: Hai para wanita, janganlah kalian mengangkat kepala kalian sebelum orang-orang lelaki mengangkat kepala mereka. (Shahih Muslim No.665)

22. Wanita boleh ke mesjid apabila tidak menimbulkan hal-hal yang negatif dan tanpa memakai wangi-wangian

· Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Jika istri salah seorang dari kalian minta izin pergi ke mesjid, maka janganlah mencegahnya. (Shahih Muslim No.666)

· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu, istri Nabi Shallallahu alaihi wassalam. ia berkata:
Seandainya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. melihat apa yang diperbuat wanita saat ini, tentu beliau melarang mereka pergi ke mesjid, seperti dilarangnya wanita Bani Israel. Yahya berkata: Aku bertanya kepada Amrah: Apakah wanita Bani Israel dilarang pergi ke mesjid (tempat ibadah mereka)? Ia menjawab: Ya. (Shahih Muslim No.676)

23. Membaca bacaan dalam salat jahriyah (salat yang bacaannya dikeraskan) dengan suara antara keras dan pelan, apabila khawatir akan timbul hal yang tidak baik jika dikeraskan

· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:
Tentang firman Allah Taala: Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salatmu dan jangan pula memelankannya. Ia berkata ayat ini turun ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sedang bersembunyi di Mekah. Ketika beliau salat bersama para sahabat, beliau mengeraskan suaranya dalam membaca Alquran. Orang-orang musyrik yang mendengarnya menjelek-jelekan Alquran, Allah yang menurunkannya dan Nabi yang membawanya. Maka Allah Taala berfirman: Janganlah engkau mengeraskan suaramu di dalam salatmu, sehingga orang-orang musyrik mendengar bacaanmu: Dan janganlah engkau memelankannya sehingga sahabatmu tidak mendengarnya. Carilah cara di antara kedua hal itu. Akhirnya beliau membaca antara keras dan pelan. (Shahih Muslim No.677)

· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu:
Tentang firman Allah: Dan janganlah mengeraskan suaramu di dalam salatmu dan jangan pula memelankannya. Ia berkata: Ayat ini diturunkan berkaitan dengan doa. (Shahih Muslim No.678)

24. Mendengarkan bacaan Alquran

· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu:
Tentang firman Allah: Janganlah engkau gerakkan lidahmu tergesa-gesa untuk membaca Alquran. Ia berkata: Dulu ketika malaikat Jibril turun menyampaikan wahyu, Nabi Shallallahu alaihi wassalam. sering menggerakkan lidah dan bibir beliau (untuk mengulang-ulang agar tidak lupa). Hal itu membuat beliau merasa berat. Keadaan beliau seperti itu dapat dilihat. Lalu Allah berfirman: Janganlah engkau gerakkan lidahmu terburu-buru untuk membacanya dan ingin cepat “menguasainya”. Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkan di dadamu dan membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya, ikutilah bacaan itu. Kami menurunkannya, maka dengarkanlah baik-baik. Firman-Nya: Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya “Kami menjelaskannya melalui lidahmu”. Ketika malaikat Jibril mendatangi beliau (untuk memberi wahyu), maka beliau diam mendengarkan. Setelah Jibril pergi, beliau membacanya, sebagaimana telah dijanjikan oleh Allah pada beliau. (Shahih Muslim No.679)

25. Mengeraskan bacaan dalam salat subuh dan membacakan Alquran untuk Jin

· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tidak membacakan kepada jin dan tidak pula melihat mereka. Beliau pergi bersama para sahabat menuju pasar Ukaz. Saat itu antara setan dan berita langit telah terhalang. Mereka dilempari panah api. Setan-setan itu kembali kepada kaum mereka dan berkata: Antara kami dan berita langit telah terhalang dan kami pun dilempari panah api. Ini tidak lain pasti karena sesuatu telah terjadi. Pergilah ke belahan bumi bagian timur dan barat, telitilah apa yang menghalangi kita dengan berita langit. Mereka pun pergi ke belahan bumi bagian timur dan barat. Sebagian mengambil arah Tihamah dengan tujuan pasar Ukaz (Nabi berada di Nakhl). Saat itu beliau sedang salat Subuh dengan para sahabat. Mereka mendengar Alquran yang dibaca beliau dan memperhatikannya. Lalu kata mereka: Inilah yang membuat kita terhalang dengan berita langit. Mereka kembali kepada kaum mereka dan berkata: Hai kaumku, Sesungguhnya kami telah mendengar bacaan yang mengagumkan, yang dapat mengantarkan kita kepada kebenaran. Maka aku beriman kepadanya, dan tidak akan menyekutukan Tuhanku dengan siapapun. Maka Allah Taala menurunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan bacaan Alquran. (Shahih Muslim No.681)

26. Bacaan dalam salat Zuhur dan Asar

· Hadis riwayat Abu Qatadah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Kami pernah salat berjamaah dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Dalam dua rakaat pertama salat Zuhur dan Asar, beliau membaca Fatihah dan dua buah surat, kadang-kadang memperdengarkan ayat kepada kami. Beliau memanjangkan rakaat pertama salat Zuhur dan memperpendek rakaat kedua. Demikian pula dalam salat Subuh. (Shahih Muslim No.685)

27. Bacaan dalam salat Subuh

· Hadis riwayat Abu Barzah Radhiyallahu’anhu: ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dalam salat Subuh membaca enam puluh sampai seratus ayat. (Shahih Muslim No.702)

28. Bacaan dalam salat Isyak

· Hadis riwayat Barra’ Radhiyallahu’anhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bahwa dalam suatu perjalanan beliau mengerjakan salat Isyak. Dalam salah satu dari dua rakaatnya beliau membaca Wat tiini waz zaitun. (Shahih Muslim No.706)

· Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Muaz pernah salat bersama Nabi Shallallahu alaihi wassalam. lalu pulang mengimami kaumnya. Pada suatu malam ia salat Isyak bersama Nabi Shallallahu alaihi wassalam. lalu pulang mengimami kaumnya. Ketika ia mulai dengan membaca surat Al-Baqarah, ada seorang lelaki yang memisahkan diri dari salat berjamaah sampai salam, selanjutnya mengerjakan salat sendiri dan pergi. Orang-orang menegurnya: Hai fulan, apakah engkau telah munafik? Ia menjawab: Tidak, demi Allah. Sungguh, aku akan menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan memberitahukan hal ini. Setelah bertemu dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah pemilik unta penyiram tanaman, bekerja di siang hari. Sesungguhnya Muaz setelah mengerjakan salat Isyak bersama Anda lalu pulang dan (salat bersama kami) mulai dengan bacaan surat Al-Baqarah. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menghadap ke arah Muaz dan bersabda: Wahai Muaz, apakah engkau ingin menimbulkan fitnah (kesulitan)? Bacalah (surat) ini dan itu. Sufyan berkata: Aku berkata kepada Amru bahwa Abu Zubair menceritakan kepada kami dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Bacalah Was Syamsi wa Dhuhaaha (surat As-Syams), Wadh Dhuhaa (surat Ad-Dhuhaa), Wal laili idza Yaghsyaa (surat Al-Lail) dan Sabbihisma rabbikal a`laa (sutat Al-A`laa), maka Amru menanggapi: Ya, seperti itu. (Shahih Muslim No.709)

29. Perintah kepada imam agar mempercepat salat sambil menjaga kesempurnaan

· Hadis riwayat Abu Masud Al-Anshari Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Seorang lelaki datang menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan berkata: Saya terlambat salat Subuh karena si fulan memperlambat salatnya saat mengimami kami. Kemudian aku belum pernah melihat Nabi Shallallahu alaihi wassalam. marah dalam memberikan nasehat seperti marahnya beliau (memberikan nasehat) pada hari itu. Beliau bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya di antara engkau ada yang membuat orang lari (jera). Barang siapa di antara kalian menjadi imam, maka hendaklah ia meringkas, sebab di belakangnya ada orang tua, orang lemah dan orang yang punya keperluan. (Shahih Muslim No.713)

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apabila salah seorang dari kalian menjadi imam, maka hendaknya ia memperingan salatnya, karena di antara mereka ada anak kecil, orang tua, orang lemah dan orang sakit. Bila salat sendirian, maka salatlah sekehendak hatinya. (Shahih Muslim No.714)

· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. meringkas (bacaan) salat dan menyempurnakannya. (Shahih Muslim No.719)

· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pernah mendengar tangis anak kecil bersama ibunya ketika sedang salat. Maka beliau membaca surat yang ringan atau surat yang pendek. (Shahih Muslim No.722)

30. Keselarasan antara rukun-rukun salat dan memperingan dengan tetap sempurna

· Hadis riwayat Barra’ bin Azib Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Aku mengamati salat Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. Aku perhatikan berdirinya, rukuknya, iktidal setelah rukuk, sujudnya, duduk antara dua sujud, sujud kedua, duduk antara salam dan selesai salat, (aku perhatikan) satu dengan lainnya saling sama. (Shahih Muslim No.724)

· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Sungguh, aku tidak akan menambah-nambah, aku akan mengimami salat kalian seperti aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mengimami salat kami. Tsabit (salah seorang perawi) berkata: Anas telah melakukan sesuatu yang tidak seperti yang kalian lakukan. Ketika ia bangun dari rukuk, ia berdiri tegak hingga orang berkata: Anas telah lupa, dan ketika bangun dari sujud, ia diam (tidak bergerak) sehingga orang bilang: Anas telah lupa. (Shahih Muslim No.726)

31. Mengikuti imam dan bergerak setelah gerakan imam

· Hadis riwayat Barra’ Radhiyallahu’anhu:
Bahwa mereka (para sahabat) salat di belakang Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Ketika beliau bangun dari rukuk (dan ingin sujud). aku tidak melihat seorang pun membungkukkan badannya hingga Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. meletakkan dahinya di tanah. Setelah itu para sahabat yang di belakang beliau ikut bersungkur sujud. (Shahih Muslim No.728)

32. Bacaan ketika rukuk dan sujud

· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dalam rukuk dan sujudnya banyak membaca: “Subhaanaka allahumma rabbanaa wa bihamdika, allahummaghfir li” (Maha suci Allah, ya Allah, ya Tuhan kami, dengan segala puji-Mu, ampunilah aku). Beliau menafsirkan perintah Alquran. (Shahih Muslim No.746)

33. Menjelaskan anggota tubuh untuk bersujud, larangan menahan rambut dan pakaian (saat sujud), menjalin rambut ketika salat

· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Nabi Shallallahu alaihi wassalam. diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota badan dan dilarang menutup dahinya dengan rambut dan pakaian. (Shahih Muslim No.755)

34. Meluruskan badan, meletakkan kedua telapak tangan di atas tanah, mengangkat kedua siku dari lambung dan menjauhkan perut dari kedua paha ketika sujud

· Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Luruslah kalian dalam sujud dan janganlah seorang kalian melunjurkan kedua lengannya seperti anjing melunjurkan kaki depannya. (Shahih Muslim No.762)

35. Menjelaskan suatu hal yang berhubungan dengan cara salat

· Hadis riwayat Abdullah bin Malik bin Buhainah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. merenggangkan kedua tangannya ketika salat hingga tampak putihnya ketiak beliau. (Shahih Muslim No.764)

36. Pembatas orang yang salat

· Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., jika keluar untuk salat hari raya, beliau minta dibawakan tombak pendek yang kemudian beliau letakkan di depannya. Lalu beliau salat menghadap tombak itu dan para sahabat berada di belakang beliau. Beliau melakukannya saat sedang dalam perjalanan. (Karena itulah kemudian banyak para pemimpin menggunakan tongkat). (Shahih Muslim No.773)

· Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. biasa menambatkan tunggangan beliau dan beliau salat menghadap ke arahnya. (Shahih Muslim No.775)

· Hadis riwayat Abu Juhaifah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Aku menemui Nabi Shallallahu alaihi wassalam. di Mekah. Saat itu beliau berada di Abthah (nama tempat) di dalam kemah yang terbuat dari kulit samakan milik beliau. Kemudian Bilal keluar membawa air wudu beliau. Ada orang yang mendapat air itu sedikit dan ada pula yang hanya diperciki oleh lainnya. Nabi Shallallahu alaihi wassalam. keluar dengan memakai pakaian merah, nampaknya aku dapat melihat betis beliau yang putih. Beliau berwudu dan Bilal mengumandangkan azan. Aku memperhatikan mulutnya bergerak kesana kemari ke kanan dan ke kiri, ia membaca: “Hayya `alas shalah, hayya `alal falah”, (Marilah mengerjakan salat, marilah menuju kemenangan). Sebatang tombak pendek ditancapkan untuk Nabi. Beliau melangkah maju dan mengerjakan salat Zuhur (diqasar) dua rakaat. Keledai dan anjing lewat di depan beliau tanpa dicegah. Selanjutnya beliau mengerjakan salat Asar (diqasar) dua rakaat. Demikian kemudian beliau tak henti-hentinya mengerjakan salat dua rakaat hingga kembali ke Madinah. (Shahih Muslim No.777)

· Hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Aku datang dengan naik keledai betina. Saat itu aku hampir usia balig. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mengimami salat para sahabat di Mina, lalu aku lewat di depan barisan, lalu aku pulang dan kubiarkan keledaiku merumput, dan aku masuk ke barisan salat. Tidak ada seorang pun yang mencela perbuatanku itu. (Shahih Muslim No.780)

37. Melarang orang lewat di depan orang yang sedang salat

· Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Bila salah seorang di antara kalian sedang salat, janganlah ia membiarkan seorang pun lewat di depannya, dan hendaklah ia mencegahnya semampunya. Bila ia tidak peduli, perangilah karena sesungguhnya ia adalah setan. (Shahih Muslim No.782)

· Hadis riwayat Abu Juhaim Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seandainya orang yang lewat di depan tempat salat itu mengetahui betapa besar dosanya, pasti ia berdiri selama lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yang sedang salat Abu Nadher berkata: Aku tidak tahu, apakah ia mengatakan hari atau bulan atau tahun. (Shahih Muslim No.785)

38. Orang yang salat sebaiknya mendekatkan pembatas

· Hadis riwayat Sahal bin Saad As-Saidi Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Jarak tempat salat Nabi Shallallahu alaihi wassalam. dan dinding seukuran jalan lewat kambing. (Shahih Muslim No.786)

· Hadis riwayat Salamah bin Akwa` Radhiyallahu’anhu:
Bahwa ia memilih tempat mushaf lalu mengerjakan salat di sana. Ia bercerita bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. selalu memilih tempat tersebut. Jarak antara mimbar dan kiblat kira-kira cukup untuk lewat kambing. (Shahih Muslim No.787)

39. Melintang di depan orang salat

· Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. pernah salat di tengah malam, sedangkan aku tidur melintang di antara beliau dan kiblat seperti melintangnya jenazah. (Shahih Muslim No.791)

· Hadis riwayat Maimunah Radhiyallahu’anhu, istri Nabi Shallallahu alaihi wassalam. ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pernah salat dan aku (berada) dekat beliau dalam keadaan haid. Kadang-kadang pakaian beliau mengenai tubuhku saat sujud. (Shahih Muslim No.797)

40. Salat dengan selembar pakaian dan cara pemakaiannya

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tentang salat dengan selembar pakaian. Beliau menjawab: Bukankah tiap engkau punya dua lembar pakaian. (Shahih Muslim No.799)

· Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Janganlah seorang dari kalian mengerjakan salat dengan memakai selembar pakaian yang tidak sedikit pun menutupi kedua pundaknya. (Shahih Muslim No.801)

· Hadis riwayat Umar bin Abu Salamah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Aku melihat Rasulullah salat di rumah Ummu Salamah dengan satu lembar pakaian untuk menutupi seluruh tubuhnya (seperti selimut), kedua ujungnya diletakkan di atas pundak beliau. (Shahih Muslim No.802)

· Hadis riwayat Jabir Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. salat dengan berselimutkan selembar pakaian di tubuh beliau. (Shahih Muslim No.805)

Sumber: Kumpulan Hadits Shahih Muslim

Kitab Mandi

Firman Allah Ta’ala, “… dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air besar (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih): sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (al-Maa’idah: 6)

Firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan, jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci): sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (an-Nisaa’: 43)

Bab Ke-1: Berwudhu Sebelum Mandi
147. Aisyah istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. berkata bahwa apabila Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam mandi janabah beliau mulai dengan membasuh kedua tangan beliau, kemudian beliau wudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian beliau memasukkan jari-jari beliau ke dalam air, lalu beliau menyeling-nyelingi pangkal rambut, kemudian beliau menuangkan (dalam satu riwayat: sehingga apabila beliau merasa sudah meratakan air ke seluruh kulitnya, beliau menuangkan, l/ 72) tiga ciduk pada kepala beliau dengan kedua tangan beliau, kemudian menuangkan air pada kulit beliau secara keseluruhan.”


Bab Ke-2: Mandinya Seorang Suami Bersama Istrinya

148. Aisyah berkata, “Aku mandi bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. dari sebuah bejana/tempat air [masing-masing kami junub, 1/78] dari sebuah mangkok yang disebut faraq (tempat air yang memuat tiga sha’), [tangan kami saling bergantian di dalam bejana itu, 1/ 70] (dalam satu riwayat: kami menciduk bersama-sama dalam bejana itu, l/72)[1] (dalam satu riwayat: tempat mencuci pakaian ini diletakkan untukku dan untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam., lalu kami masuk ke dalamnya bersama-sama, 8/154).”


Bab Ke-3: Mandi dengan Satu Gantang (Empat Mud) Air dan Semacamnya

149. Abu Salamah berkata, “Aku dan saudara lelaki Aisyah memasuki tempat Aisyah, lalu saudaranya itu menanyakan kepadanya mengenai cara mandi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Ia lalu meminta agar dibawakan satu tempat air sekitar (ukuran) satu sha’, lalu ia mandi dan menuangkan air pada kepalanya, sedangkan antara kami dan Aisyah ada tirainya.”


150. Abu Ja’far berkata bahwa ia berada di tempat Jabir bin Abdullah dan ayahnya ada pula di situ. Di dekatnya ada sekelompok kaum. Mereka menanyakan kepadanya perihal mandi janabah, lalu ia berkata, “Satu sha’ cukup bagimu.” Seorang laki-laki berkata, ‘Tidak cukup bagiku.” Jabir lalu berkata, “(Satu sha’ itu) cukup bagi orang yang rambutnya lebih banyak dan lebih baik daripadamu.” Ia lalu menuju kami dalam satu pakaian. (Dan dari jalan lain: dari Abu Ja’far, katanya, “Jabir berkata kepadaku, ‘Pamanmu-yakni al-Hasan bin Muhammad al-Hanafiyah-datang kepadaku seraya bertanya, ‘Bagaimana cara mandi janabah?’ Aku jawab, ‘Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam mengambil tiga cakupan air dan menuangkannya ke kepala beliau, kemudian menuangkan ke seluruh tubuh beliau.’ Al-Hasan berkata, ‘Sesungguhnya, aku berambut lebat.’ Aku jawab, ‘Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam lebih lebat rambutnya daripada engkau.”)


151. Ibnu Abbas berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dan Maimunah mandi (bersama) dari satu wadah.
Abu Abdillah berkata, “Ibnu Uyainah memberikan komentar akhir, ‘Dari Ibnu Abbas dari Maimunah dan yang sahih ialah apa yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim’”[2]


Bab Ke-4: Orang yang Menuangkan Air di Atas Kepalanya Tiga Kali

152. Jubair bin Muth’im berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Adapun aku maka aku tuangkan air atas kepalaku tiga kali,’ dan beliau mengisyaratkan dengan kedua tangan beliau.[3]


Bab Ke-5: Mandi Satu Kali Mandian

153. Maimunah berkata, “Aku pernah meletakkan (dalam satu riwayat: menuangkan) air untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk dipakai mandi [janabah, 1/ 68] [dan aku menabirinya]. Beliau lalu membasuh kedua tangannya dua atau tiga kali, kemudian menuangkan air [dengan tangan kanannya] atas tangan kirinya, lalu beliau membasuh kemaluan: dan apa-apa yang ada di sekitarnya yang terkena kotoran. Beliau lalu menggosok-gosokkan tangannya ke atas tanah (dan dalam satu riwayat: menggosokkannya ke dinding, 1/70; dalam riwayat lain: ke tanah atau ke dinding, 1/71 dan 72) [dua atau tiga kali] [kemudian mencucinya], lalu berkumur-kumur, mencuci hidungnya dengan air, membasuh wajah dan kedua tangannya [dan membasuh kepalanya tiga kali 1/71], (dalam satu riwayat: berwudhu seperti wudhunya untuk shalat, hanya saja tidak membasuh kakinya, 1/68), kemudian menyiramkan air ke seluruh tubuhnya, lalu bergerak dari tempatnya dan mencuci kedua kakinya, [kemudian dibawakan sapu tangan kepada beliau, tetapi beliau tidak menggunakannya untuk mengusap tubuhnya (dalam satu riwayat: lalu aku bawakan penyeka/handuk, lalu beliau berbuat begini, tetapi tidak mengulanginya), (dalam riwayat lain: lalu aku bawakan kain, tetapi tidak beliau ambil, lalu beliau pergi sambil mengusapkan kedua tangannya.)].”


Bab Ke-6: Orang yang Memulai Mandi dengan Menggunakan Harum-Haruman atau Wangi-Wangian

154. Aisyah berkata, “Apabila Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam mandi janabah, beliau minta dibawakan hilab (bejana). Beliau mengambil dengan kedua telapak tangan beliau; beliau memulai dengan bagian kepala yang kanan kemudian yang kiri, lalu beliau lanjutkan pada bagian tengah kepala.”


Bab Ke-7: Berkumur-kumur dan Menghirup Air ke dalam Hidung Ketika Mandi Janabah


(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah di muka.”)

Bab Ke-8: Mengusap Tangan dengan Debu Agar Lebih Bersih

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah di muka.”)

Bab Ke-9: Dapatkah Seorang yang Junub Meletakkan Tangannya di dalam Belanga (yang Berisi Air) sebelum Mencucinya Apabila Ia Tidak Terkotori Barang yang Kotor Kecuali Janabah?

Ibnu Umar dan al-Bara’ bin Azib biasa memasukkan tangannya ke dalam air tanpa mencucinya, kemudian mereka berwudhu.[4]
Ibnu Umar dan Ibnu Abbas berpendapat tidak ada bahaya apa-apa apabila air menetes dari tubuh (ketika mandi) ke dalam tempat yang dipakai mandi janabah itu.[5]

155. Anas bin Malik, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dan salah seorang istrinya mandi [janabah] bersama dari satu bejana.”[6]

Bab Ke-10: Memisahkan Mandi dan Wudhu

Disebutkan dari Ibnu Umar bahwa dia mencuci kedua kakinya setelah air wudhu (pada anggota-anggota tubuhnya) telah kering.[7]

Bab Ke-11: Menyiramkan Air dengan Tangan Kanannya ke Tangan Kirinya Waktu Mandi

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah yang diisyaratkan di muka.”)

Bab Ke-12: Apabila Menyetubuhi Istri Lalu Mengulanginya dan Suami yang Menggilir Beberapa Istrinya dalam Satu Kali Mandi

156. Muhammad bin al-Muntasyir berkata, “Aku menyebutkan hal itu kepada Aisyah, (dalam satu riwayat: Aku bertanya kepada Aisyah, lalu aku sebutkan perkataan Ibnu Umar, ‘Aku tidak suka melakukan ihram dengan memakai wangi-wangian.’ 1/72)[8] lalu ia (Aisyah) berkata, ‘Mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada ayah Abdur Rahman (yakni Ibnu Umar). Aku pernah memakaikan harum-haruman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, lalu beliau mengelilingi (mencampuri secara bergantian) istri-istri beliau, kemudian pagi-pagi beliau ihram dan memercikkan harum-haruman (minyak wangi)’”

157. Anas bin Malik berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. selalu mengelilingi (mendatangi) istri-istri beliau pada satu malam dan siang, dan mereka ada sebelas orang wanita (dalam satu riwayat: sembilan orang wanita, 6/117).” Salah seorang yang meriwayatkan hadits ini (yakni Qatadah) berkata, “Aku bertanya kepada Anas, ‘Apakah beliau mampu melakukan hal itu?’ Ia menjawab, ‘Kami katakan bahwa beliau diberi kekuatan tiga puluh orang.’”


Bab Ke-13: Mencuci Madzi dan Berwudhu Karenanya

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ali yang disebutkan pada nomor 87 di muka.”)


Bab Ke-14: Orang yang Memakai Wangi-Wangian Lalu Mandi dan Masih Tertinggal Bekas Bau Wangi-Wangiannya

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang baru saja disebutkan di muka.”)

Bab Ke-15: Membasuh Sela-Sela Rambut Sehingga Jika Telah Diperkirakan Bahwa Air Sudah Merata Pada Kulit Lalu Menuangkan Air di Atas Seluruh Tubuh

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah yang tertera pada nomor 147 di muka.”)

Bab Ke-16: Orang yang Berwudhu dalam Janabah Lalu Membasuh Tubuhnya yang Lain dan Tidak Mengulangi Membasuh Tempat-Tempat Anggota Wudhu Sekali Lagi


(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah yang tercantum pada nomor 153 di atas.”)

Bab Ke-17: Apabila Teringat Setelah Ada di Masjid Bahwa Dirinya Menanggung Janabah Lalu Keluar Sebagaimana Keadaannya dan Tidak Bertayamum


158. Abu Hurairah berkata, “Shalat diiqamati dan shaf-shaf telah diluruskan berdirinya, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam keluar kepada kami [kemudian beliau maju ke depan, padahal beliau junub, 1/157]. Ketika beliau berdiri di tempat shalat, beliau teringat bahwa beliau junub, lalu beliau bersabda kepada kami, Tetaplah di tempatmu.’ [Maka, kami tetap dalam keadaan kami], kemudian beliau pulang, lalu mandi, kemudian beliau keluar ke tempat kami, sedang kepala beliau masih meneteskan air, lalu beliau bertakbir, dan kami shalat bersama beliau.”[9]

Bab Ke-18: Melenyapkan Air dari Tubuh dengan Tangan Setelah Mandi Janabah

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Maimunah di muka.”)


Bab Ke-19: Orang yang Memulai dengan Belahan Kepalanya Bagian Kanan Waktu Mandi

159. Aisyah berkata, “Apabila salah seorang di antara kami junub, dia mengambil air dengan kedua tangannya tiga kali untuk dibasuhkan di atas kepalanya, kemudian mengambil lagi air dengan tangannya yang satu untuk dituangkan pada belahan kepalanya yang bagian kanan dan mengambil air lagi dengan tangannya yang lain untuk dituangkan pada belahan kepala bagian kiri.”

Bab Ke-20: Orang yang Mandi Sendirian dengan Telanjang di Tempat Sunyi dan Orang yang Menggunakan Tutup, Maka yang Menggunakan Tutup Itulah yang Lebih Utama

Bahaz berkata dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Allah itu lebih berhak dimalui daripada seluruh manusia.”[10]


160. Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Nabi Ayyub mandi telanjang, lalu jatuhlah atasnya belalang emas [yang banyak, 8/ 197], maka Ayyub memasukkan ke dalam pakaiannya. Tuhan lalu memanggilnya, ‘Hai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupkanmu dari yang kamu lihat?’ Ia berkata, ‘Ya, demi kemuliaan Mu [wahai Tuhanku], tetapi tidak ada batas kecukupan bagiku (yakni aku selalu membutuhkan) kepada berkah Mu.”‘

Bab Ke-21: Membuat Tutup di Waktu Mandi di Sisi Orang Banyak

Bab Ke-22: Apabila Wanita Mimpi Bersetubuh

161. (Hadits ini telah disebutkan pada nomor 86).

Bab Ke-23: Keringat Orang yang Menanggung Janabah dan Orang Muslim Tidak Najis

163. Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam bertemu dengannya di salah satu jalan Madinah, sedangkan dia dalam keadaan junub [(katanya), "Lalu beliau memegang tanganku, kemudian aku berjalan dengan beliau hingga beliau duduk, 1/75], lalu aku menghindar dari beliau.” Kemudian, dia pergi mandi, lalu kembali lagi. (Dalam satu riwayat: Lalu aku datang, sedangkan beliau masih duduk), lalu beliau bertanya, “Di mana engkau tadi, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab, “Aku dalam keadaan junub, maka aku tidak suka duduk bersama dalam keadaan aku tidak suci.” Nabi menimpali, “Subhanallah! [Wahai Abu Hurairah],
sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.”


Bab Ke-24: Orang Junub Keluar dan Berjalan-jalan di Pasar Atau di Mana Saja

Atha’ berkata, “Orang junub itu boleh saja bercanduk, memotong kukunya, dan juga mencukur kepalanya meskipun belum berwudhu.”[11]

Bab Ke-25: Keberadaan Orang Junub di Rumah Apabila Ia Mandi

163. Ibnu Umar berkata bahwa Umar ibnul Khaththab bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam., “Apakah seseorang di antara kita boleh tidur dalam keadaan junub?” Beliau menjawab, “Boleh, apabila seseorang di antaramu berwudhu, tidurlah dalam keadaan junub.” (Dalam riwayat lain: Berwudhulah dan cucilah kemaluanmu, kemudian tidurlah.”)

Bab Ke-26: Orang Junub yang Berwudhu Lalu Tidur

164. Aisyah berkata, “Biasanya, apabila Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam hendak tidur, padahal beliau masih junub, beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu seperti wudhu untuk shalat.”

Bab Ke-27: Apabila Kemaluan Laki-Laki dan Perempuan Bertemu

165. Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, “Apabila seseorang duduk di antara cabang wanita yang empat yakni antara kedua kaki dan kedua tangan, kemudian mengerjakannya dengan sungguh-sungguh (yakni menyetubuhinya), sungguh ia wajib mandi.”

Bab Ke-28: Membersihkan Sesuatu Yang Basah yang Keluar dari Kemaluan Seorang Wanita Apabila Mengenai Seseorang

166. Ubay bin Ka’ab berkata, “Wahai Rasulullah, apabila seorang laki-laki menyetubuhi istrinya, tetapi tidak mengeluarkan mani, apakah yang wajib dilakukan olehnya?” Beliau menjawab, “Hendaklah dia mencuci bagian-bagian yang bersentuhan dengan kemaluan wanita, berwudhu, lalu shalat.”[12]

Abu Abdillah berkata, “Mandi adalah lebih hati-hati dan merupakan peraturan hukum yang terakhir. Telah kami jelaskan perbedaan pendapat di antara mereka mengenai masalah ini.”



Catatan Kaki:

[1] Ibnu Khuzaimah menambahkan di dalam Shahih-nya (nomor 251, terbitan Beirut) dari jalan lain dari Aisyah, ia berkata, “Aku yang memulainya, lalu aku tuangkan air ke atas kedua tangan beliau sebelum beliau memasukkannya ke dalam air.” Sanadnya bagus.


[2] Maksudnya, riwayat dari Ibnu Abbas tanpa menyebut Maimunah ini adalah sahih; berbeda dengan riwayat Ibnu Uyainah yang mengatakan dari Ibnu Abbas dari Maimunah karena riwayat ini ganjil.

[3] Hadits ini diringkas karena adanya isyarat pada perkataan beliau, “Amma anaa…” (Adapun saya di dalam riwayat Muslim (1/178) disebutkan bagian sebelumnya dari Jubair, katanya, “Orang-orang berdebat tentang mandi di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam., lalu sebagian orang berkata, ‘Adapun aku, maka aku cuci kepala aku begini dan begini.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. bersabda, ‘Adapun aku ….’”

[4] Atsar Ibnu Umar di-maushul-kan oleh Sa’id bin Manshur, sedangkan atsar al-Barra’ di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah.

[5] Atsar Ibnu Umar di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan atsar Ibnu Abbas di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan oleh Abdur Razzaq dari jalan lain darinya.

[6] Tambahan ini disebutkan secara mutlak oleh penyusun, dan al-Hafizh tidak men-takhrij-nya.

[7] Di-maushul-kan oleh Imam Syafi’i (nomor 70) dengan sanad sahih darinya (Ibnu Umar), tetapi dalam riwayat ini disebutkan bahwa Ibnu Umar berwudhu dengan mencuci betisnya, bukan kakinya, kemudian masuk masjid, kemudian mengusap kedua khuf-nya, lalu shalat dengannya.

[8] Imam Muslim menambahkan (4/12-13), “Sungguh, seandainya aku melabur dengan aspal lebih aku sukai daripada berbuat begitu.”
Aku (al-Albani) berkata, “Ibrahim an-Nakha’i dan lain-lainnya mengingkari sikap Ibnu Umar itu, mengingat riwayat Aisyah, sebagaimana akan disebutkan pada Kitab ke-25 ‘al-Hajj’, Bab ke-18.”

[9] Terdapat kisah lain yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah ats-Tsaqafi dan lainnya; di situ disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. bertakbir, kemudian berisyarat kepada mereka agar tetap di tempatnya, kemudian beliau pergi mandi, lantas shalat dengan mereka. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya, dan telah aku takhrij dan aku tahqiq kesahihannya di dalam Shahih Abi Dawud nomor 226.

[10] Di-maushul-kan oleh Ashhabus Sunan dan lainnya dari Bahaz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, yaitu Muawiyah bin Haidah, dan sanadnya hasan, dan telah aku takhrij di dalam Adabuz Zifaf, halaman 36.

[11] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan sanad sahih.

[12] Hadits semakna dengannya telah disebutkan pada Kitab ke-4 “al-Wudhu” dari hadits Utsman dan lainnya, nomor 116, dan hadits ini di-nasakh (dihapuskan) dengan hadits-hadits lain sebagaimana dapat kita lihat dalam al Muntaqa dan lain-lainnya. Lihat ta’liq di muka pada nomor 13.

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – Penulis: Syaikh Al-Albani

TIDAK MUDAH MARAH

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam: "Berilah wasiat kepadaku". Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Janganlah engkau mudah marah". Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau : "Janganlah engkau mudah marah".

(HR. Bukhari)

Penjelasan :

Pengarang kitab Al Ifshah berkata : "Boleh jadi Nabi mengetahui laki-laki tersebut sering marah, sehingga nasihat ini ditujukan khusus kepadanya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memuji orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya ketika marah". Sabda beliau : "Bukanlah dikatakan orang yang kuat karena dapat membanting lawannya, tetapi orang yang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya di waktu marah".

Allah juga memuji orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah dan suka memberi maaf kepada orang lain. Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : "Barang siapa menahan marahnya padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan segala makhluk, sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya"

Tersebut pada Hadits lain : "Marah itu dari setan".

Oleh karena itu, orang yang marah menyimpang dari keadaan normal, berkata yang bathil, berbuat yang tercela, menginginkan kedengkian, perseteruan dan perbuatan-perbuatan tercela. Semua itu adalah akibat dari rasa marah. Semoga Allah melindungi kita dari rasa marah. Tersebut pada Hadits Sulaiman bin Shard : "Sesungguhnya mengucapkan 'a'udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim' dapat menghilangkan rasa marah".
Karena sesungguhnya setanlah yang mendorong marah. Setiap orang yang menginginkan hal-hal yang terpuji, setan selalu membelokkannya dan menjauhkannya dari keridhaan Allah, maka mengucapkan "a'udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim" merupakan senjata yang paling kuat untuk menolak tipu daya setan ini.

Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuhu,

DIRIKU DALAM FIKIRANKU

Pada Malam Dengan Keheningan dan Gelapnya
Dalam butiran cahaya bintang yang bertaburan
Kurenungi hakikat penciptaanku sebagai makluk bumi
Kucurahkan semua rasio ku tuk berfikir.....

Betapa kecilnya diriku ini.....
Seseorang diantara taburan manusia yang perpijak pada bumi
Betapa kecilnya bumi ini.....
Sebuah planet diantara taburan bintang dan galaksi

Betapa besarnya alam semesta ini......
Luas dan masih tak terjelajahi dengan teknologi masa kini
Betapa maha besarnya pencipta alam semesta ini.....
yang telah mencipta dengan keindahan dan harmoni

Pada Siang Dengan Keriuhan dan Terangnya
Dalam hiruk-pikuk aktifitas penduduk bumi
Kurenungi hakikat penciptaanku sebagai manusia
Kucurahkan semua rasio ku tuk memahami.....

Ku terlahir di dunia sebagai seorang bayi
Dalam asuhan dan bimbingan orang tua
Untuk belajar menjadi Khalifah di muka bumi
Dan beribadah kepada ALLAH yang maha ESA

Menjalani takdir ALLAH berupa Ujian dan Cobaan di dunia
Dibekali dengan Nafsu dan Akal Fikiran
Dituntun dengan kitab Alquran
Serta Alhadist melalui Rasul-NYA

Senang, susah, sedih, gembira
Menangis, tertawa, termenung, ceria
Pasrah, khawatir, ikhlas, kecewa
Resah, tenang, derita, bahagia

Dinamika kehidupan dalam pasangan rasa
Tertahta dalam hati sebagai nuansa
terwujud dalam tindakan dan aksi
dalam diri seorang pribadi

Kebaikan....akan dibalas dengan kebaikan
Kejahatan...akan dibalas dengan kejahatan
Itulah hukum yang berlaku bagi manusia di dunia ini
yang tak bisa terlepas dari aksi-reaksi

Episode bergulir seperti sebuah roda putar
Kadang diatas...kadang dibawah
Mencari puzzle hikmah dalam tempaan kehidupan dunia
Berharap ridho dari Allah Sang Pencipta

Puji, caci, cinta, benci
Jujur, dusta, sayang, dengki
Benar, Fitnah, rela, iri
Jumpa, pisah, datang, pergi

Dinamika kehidupan dalam pasangan aksi
Terjadi dalam kehidupan sehari-hari
Tindakan ditabur saat ini
Balasan dituai di hari nanti

Kebaikan.... akan mendatangkan pahala
kejahatan....akan mendatangkan dosa
Itulah balasan bagi tindakan manusia
Dari Allah yang Maha Kuasa

Episode bergulir seperti sebuah roda putar
Kadang mendapat pahala...kadang berbuat dosa
Mengumpulkan amal dalam tempaan berinteraksi dengan sesama
Berharap karunia dari Allah yang Maha Pencipta

Terus ditempa di dunia...sampai ajal tiba...
Lalu menunggu di alam kubur... hingga kiamat tiba...
Diakherat dihitung amal perbuatannya
bertanggung jawab terhadap amal perbuatannya

Tanda-tanda menjelang ajal Bagikan

Tanda Tanda Menjelang Ajal Tiba

Kematian adalah termasuk didalam perkara-perkara yang dirahasiakan Alloh SWT, namun bukan hal yang mustahil tanda-tanda kematian itu dapat dirasakan setiap hamba sebelum ajalnya tiba.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Ibnu Umar; Muhammad pernah bersabda: ”Lima kunci perkara gaib, tidak mengetahuinya melainkan Allah”. Satu, tiada yang mengetahui (kepastian mutlak) apa yang tersimpan di dalam rahim (kandungan perempuan) melainkan Allah . Dua, tiada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari melainkan Allah. Tiga, tiada seorangpun yang mengetahui bila waktunya hujan akan turun melainkan Allah. Empat, tiada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati melainkan Allah. Lima, tiada yang mengetahui bila kiamat akan terjadi melainkan Allah. (HR. Bukhory).

Hadist tersebut menjelaskan, bahwa tiada seorangpun yang mengetahui hal-hal yang gaib kecuali Allah. Adapun tanda-tanda sesuatu yang gaib itu terkadang dapat kita rasakan wujudnya dari perkiraan dan kajian para ilmuwan. Misalkan jita dapat mengetahui janin berkelamin laki atau perempuan dalam kandungan via USG. Atau kita dapat mengetahui perkiraan cuaca akan turunnya hujan maupun cuaca cerah beberapa hari sebelumnya, dll.

Padahal sesuai hadist tersebut, semua itu adalah hal-hal yang gaib, tapi mengapa manusia dapat mengetahuinya? Nah disini kita rasanya perlu mengkaji secara cermat dan membedakan mana hal yang ghaib mutlak dan mana hal gaib yang dapat kita ketahui tanda-tanda terjadinya perkara gaib.


1-Tiada yang mengetahui (kepastian mutlak) apa yang tersimpan di dalam rahim (kandungan perempuan) melainkan Alloh Ta’ala.

2-Tiada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari melainkan Alloh SWT.

3-Tiada seorangpun yang mengetahui bila waktunya hujan akan turun melainkan Alloh SWT.

4-Tiada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati melainkan Alloh SWT.

5-Tiada yang mengetahui bila Qiamat akan terjadi melainkan Alloh Ta’ala. (Bukhory).

Hadist tersebut menjelaskan, bahwa tiada seorangpun yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Alloh Ta’ala. Adapun tanda-tanda sesuatu yang ghaib itu terkadang dapat kita rasakan wujudnya dari perkiraan dan kajian para ilmuan.. misal:

-Kita dapat mengetahui janin berkelamin laki atau perempuan dalam kandungan via USG.

-Kita dapat mengetahui perkiraan cuaca akan turunnya hujan maupun cuaca cerah beberapa hari sebelumnya, dll.

Riwayat –riwayat hadist diatas mengingatkan kepada kita, sesungguhnya Alloh SWT tidak pernah berlaku dholim kepada hambanya. Tanda-tanda yang diberikan adalah untuk menjadikan manusia agar mendapat kesempatan bertobat dan bersedia memahami perjalanan menuju alam baka.

Banyak hal-hal ghaib yang kita sama sekali tidak mengetahui kecuali Alloh SWT yang maha tahu, contoh yang paling gampang: hari Qiamat itu pasti terjadi, kapan hari terjadinya? Tidak ada satu manusiapun yang dapat memastikan-nya, namun Alloh SWT memberikan tanda-tanda Qiamat kepada manusia. Begitu juga kematian seseorang tidak ada satupun yang akan mengetahui kapan taqdir/ detik-detik ajal tiba, namun Alloh SWT memberikan tanda-tanda seorang yang akan mati. Hanya saja ada orang yang merasakan tanda-tanda menjelang kematian dan ada pula yang acuh akan hal itu.

Inilah Tanda Tandany:

Tanda 100 hari sebelum ajal tiba.

Ini adalah tanda pertama dari Alloh SWT kepada hambanya dan hanya akan disadari oleh mereka-mereka yang dikehendakinya. Walaubagaimana semua orang Islam akan mendapat tanda ini, hanya saja mereka sadar atau tidak.

Tanda ini akan berlaku kepastian-nya selepas waktu Asar, yaitu :

-Seluruh tubuh dari ujung rambut hingga ke ujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan mengigil. Misal, seperti daging sapi yang baru disembelih dimana jika diperhatikan dengan cermat kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya lezat dan bagi mereka yang sadar tersirat di hatinya bahwa mungkin ini adalah tanda kematian, maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini. Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap sia-sia begitu saja. Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk memanafa’atkan sisa umur yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.

Tanda 40 hari sebelum ajal tiba.

Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu Asar. Bagian pusar kita akan berdenyut-denyut. Pada saat itu daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pokok yang letaknya di atas Arasy Alloh SWT. Maka malaikat Izroil pun akan mengambil daun tersebut dan mula membuat persediaan-nya ke atas kita diantaranya, Malaikat Maut/ Izroil akan mulai selalu mengikuti/ mengintai kita sepanjang sisa umur kita. dan Akan terjadi Malaikat maut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas lalu tak nampak lagi dan bila ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika. Adapun Malaikat maut ini wujudnya cuma seorang tetapi berkuasa untuk mencabut nyawa bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya seijin Alloh SWT.

Tanda 7 hari sebelum ajal tiba.

Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesakitan di mana orang sakit yang tidak makan secara tiba-tiba dia (yang sakit) berselera untuk makan.

Tanda 3 hari sebelum ajal tiba.

Pada saat itu mereka akan terasa denyutan di bagian tengah dahi kita yaitu, diantara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini kita rasakan, maka berpuasalah kita setelah itu. supaya perut kita tidak mengandung banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti. saat juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh ke depan (berubah menjadi agak sedikit mancung dan mengkerut.. Telingan-nya akan layu dimana bagian ujungnya akan beransur-ansur masuk ke dalam. telapak kakinya yang terlunjur akan lemas dan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.

Tanda 1 hari sebelum ajal tiba.

Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang, yaitu di kawasan ubun-ubun di mana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.


Tanda Akhir !!!

Akan berlaku keadaan di mana kita akan merasakan satu keadaan sejuk di bagian pusar hingga ke tulang sulbi dan rasa itu akan turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bagian hulkum (tenggorokan). Detik-detik itu hendaklah kita terus mengucap kalimat syahadah dan berdiam diri dan menantikan kedatangan Izroil/ malaikat maut untuk menjemput kita kembali kepada Alloh SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.

Catatan: bahwa keterangan diatas adalah tanda-tanda kematian saja, bukan kepastian, adapun ajal, hanya Alloh SWT yang maha tau. itupun tidak semua manusia sadar dengan tanda-tanda kematian tersebut.

Riwayat dari Abu Bakar ra, tentang roh.

Abu Bakar ra, telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar ra: ”Roh itu menuju ketujuh tempat :

1.Roh para Nabi dan utusan menuju ke Surga Adnin.

2.Roh para ulama menuju ke Surga Firdaus.

3.Roh mereka yang berbahagia menuju ke Surga illiyyin.

4.Roh para syuhada’ berterbangan seperti burung di surga mengikut kehendak mereka.

5.Roh para mu’min yang berdosa akan terkantung katung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari Qiamat.

6.Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.

7.Roh orang-orang kafir akan berada dalam Neraka Sijjin, mereka kelak disiksa berserta jasad barunya hingga sampai hari Qiamat.”

Telah bersabda Rosululloh SAW:

Tiga kelompok manusia yang akan disalami tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya:

1.Orang-orang yang mati syahid.

2.Orang-orang yang mengerjakan solat malam bulan ramadhon.

3.Orang berpuasa di hari Arafah.

Kita tidak akan dapat lolos dari ajal, Malaikat Izroil yang mempunyai tugas mencabut nyawa manusia yang selalu menghadang kita. Apa bekal kita untuk dibawa mati...? tentunya Iman dan amal-amal baik yang akan menyelamatkan kita dari kobaran api Neraka.

Sang pencabut nyawa (Izroil) akan mendatangi setiap orang guna melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan Alloh Ta’ala, siapa saja.. kapan saja.. dimana saja.. pasti ajal akan menjemput kita setelah merasakan dahsatnya Sakaratul Maut. sementara kita semua sedang menunggu kedatangan Malaikat Izroil yang bertugas memisahkan ruh dari jasad manusia. Bagaimanapun juga kita mengharap proses pencabutan nyawa berjalan dengan cepat tanpa penderitaan, namun harapan kita, Insya’Alloh akan terkabul apabila kita termasuk orang-orang yang mendapat rahmat-Nya.

Setelah badan terbujur kaku, Penyesalan tidak akan berarti, apakah mereka akan menjadi orang-orang yang beruntung ataukah menjadi orang-orang yang merugi...? tergantung tingkah laku manusia yang mereka perbuat selama di dunia, tiada yang lain, kecuali Iman dan amal baik yang akan menjadi bekal mati.

Sakaratul Maut adalah detik-detik kematian, beruntunglah bagi hamba-hamba yang taat selama di dunia dan sebaliknya (sakaratul maut) akan menjadi malapetaka besar bagi orang-orang yang belum bertaubat dan berlumuran dosa.

Sekian uraian saya, semoga bermanfa’at bagi kita semua.

Sabtu, 18 Januari 2014

HARTA, Antara Nikmat dan Fitnah

Harta, tentu banyak yang menginginkannya. Beragam cara pun dilakukan untuk memperolehnya. Halal haram, bagi sebagian orang, adalah nomor kesekian. Yang terpenting adalah kebutuhan terpenuhi dan gaya hidup terpuaskan. Jika sudah seperti ini, harta tak lagi menjadi rahmat, namun menjadi celah turunnya azab.

Harta merupakan salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang dikaruniakan kepada umat manusia. Keindahannya demikian memesona. Pernak-perniknya pun teramat menggoda. Ini mengingatkan kita akan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada segala apa yang diingini (syahwat), yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Al-Jannah).” (Ali ‘Imran: 14)
Lebih dari itu, harta adalah sebuah realita yang melingkupi kehidupan umat manusia. ‘Sejarah’-nya yang tua, senantiasa eksis mengawal peradaban umat manusia di setiap generasi dan masa. Jati dirinya yang berbasis fitnah, telah banyak melahirkan berbagai gonjang-ganjing kehidupan. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya, tatkala Dia mengingatkan para hamba-Nya akan realita tersebut. Sebagaimana dalam firman-Nya:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيْمٌ

“Ketahuilah, sesungguhnya harta dan anak-anak kalian itu (sebagai) fitnah, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfaal: 28)
Jauh-jauh hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mewanti-wanti umatnya dari gemerlapnya harta dengan segala fitnahnya yang menghempaskan. Sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا، كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah ibarat potongan-potongan malam. (Disebabkan fitnah tersebut) di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir, di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim no. 118, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Demikianlah wasiat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya tentang harta dan segala fitnahnya. Allahumma sallim sallim…(Ya Allah, selamatkanlah kami semua darinya).