Laman

Senin, 14 Juli 2014

Ruh Yang Berdzikir


Ketika kita berdzikir dengan posisi duduk menghadap qiblat dan jangan bergerak. Qolbu
juga kita suarakan dzikir Kolbu Allah… Allah… Allah… terus sampai badan kita tak
merasakan apa-apa. Qolbu terus bersuara….. masukkan lagi ke kedalaman yang paling
dalam, lalu suarakan lagi dzikrullah ke kedalaman yang paling dalam itu, bersuara Allah…
Allah… Allah… Setelah itu dengarkan dengan qolbu-mu, samakan dengan suara qolbumu.
Sampai muncul adanya getaran. Dan rasakan getaran, kehidupan Ruh terasa hidup dan makin
hidup, hidup yang lebih hidupi dengan hidupnya Ruh yang sedang berdzikir. Dan kita bisa
katakan ; Hidup Dalam Ruh yang Sedang Berdzikir. Dan kita bisa lebih mengenal Ruh kita
dengan dzikrullah.
sabda Rosullulah Muhammad Saw :
لِك لُ ش ىَ ءْ ص قَ اَل ةَ و صَ قَ اَل ةَ ال قْ لَ بِْ ذ كِ رُْ لله “Bahwasanya bagi tiap sesuatu ada alat untuk mensucikan dan alat untuk mensucikan Qolbu itu ialah Dzikrullah.”

Pintu awal memasuki alam Ruh adalah lewat qolbu, kalau qolbu sudah dibersihkan dengan
dzikir qolbu, maka lambat laun Ruh ikut menyuarakan dzikir. Dalam fase ini prosesnya
melalui ritual-ritual Khusus. Dengan mengkhususkan diri dalam menjalankan ritual, maka
kebersihan qolbu akan nampak dari kebeningan dalam pemikiran, karena qolbu selalu
mengumandangkan dzikir, sedangkan Ruh, dalam kondisi kesuciannya, ikut melantunkan
dzikir. Dzikirnya Ruh mampu merontokkan hijab jiwa yang sekian lama membelenggunya
yang sulit dipisahkan.
Dalam surat As-Syam ayat 9 dan 10, Allah swt berfirman:
1خ اَب م نَ دَ سَّھقََاد ( ا (َف 9ْل حَ م نَ ز كَ ھَّا ( و (ق دَ0ْ
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori jiwanya".
Selalu Berdzikir kepada Allah swt akan senantiasa menguatkan iman dan taqwa seseorang,
sekaligus membersihkan qolbu serta Ruh. Dalam perjalanan hidupnya, yang dipikirkan hanya
pendekatan diri kepada Allah swt. Ilham-ilham pun sering didapatkan, menerima ilham lewat
qolbu dan Ruh sebagaimana firman Allah swt. Dalam surat As-Syam ayat 8:
ف اَ لَ ھَْم ھَ ا ف جُ و رْ ھَاو تَق وْ ھَا (الش مَّ سْ
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu(jalan) kefasikan dan (jalan) ketaqwaannya”.
Jadi Allah swt juga masih menguji dan memberi cobaan kepada orang yang taqwa, cobaan itu
berupa: kejelekan serta kehinaan. Apakah dia Oleng, goyahkah taqwanya? Atau tambah
kokoh taqwanya? Sesungguhnya orang-orang yang taqwa, dia mampu mengantisipasi dan
menangkal dengan kesabaran dan ketabahan hati. Dia tetap tegar dalam menghadapi segala
cobaan yang menimpanya dan senantiasa mengokohkan posisi dalam kesuciannya yang tidak
akan dicemari oleh siapapun. Karena Ruh tetap suci. Jadi yang bisa dikotori itu adalah jiwa
bagian luar, itu-pun hanya limbasan dari kotornya qolbu yang dililit pengaruh dari hawa
nafsu serta keinginan yang menyesatkan. Wallahu a’lam.

Masuk Surga karena Sabar dan Ikhlas


Alkisah, as-Sayyid al-Quthb Syaikh Ahmad al-Badawiy mempunyai istri yang berakhlak buruk sekali. Selalu mencerca dan menghina sang syaikh. Tetap berpuluh-puluh tahun Syaikh al-Badawiy sabar dan ridha dengan perilaku istrinya ini.
Tetapi tidak demikian dengan para murid beliau. Mereka sudah tidak betah menyaksikan gurunya yang selalu direndahkan begitu rupa. Mereka berpikir: “Jangan-jangan syaikh tidak menceraikannya karena syaikh tidak mempunyai uang sebagai ganti maharnya?”
Maka para murid bersepakat untuk patungan, mengumpulkan sejumlah uang dan diserahkan kepada syaikh agar syaikh tidak lagi memikirkan biaya mahar istrinya dan segera menceraikannya.
Tetapi Syaikh as-Sayyid al-Badawiy menolak seraya berkata: “Wahai murid-muridku. Aku tidak menceraikan dia bukan karena tidak mampu membayar maharnya. Tetapi, mengapa aku harus menceraikan seseorang yang karena sabarku atas dia membuatku mendapat derajat yang tinggi di hadirat Allah?”
Dalam kisah yang lain, ada seorang murid thariqat yang sering bermimpi bertemu gurunya (Syaikh Ahmad ar-Rifa’i) duduk-duduk di Surga.
Suatu ketika (bukan dalam mimpi) si murid tersebut bermaksud menghadap gurunya, namun didapati gurunya sedang dipukuli oleh istrinya hingga memar kehitam-hitaman dan bajunya sobek. Maka murid tersebut terkejut dan keluar tidak jadi menghadap.
Setelah mencari informasi, diketahui bahwa apa yang dialami gurunya karena beliau belum membayar mahar sebesar 500 dinar. Kemudian si murid tadi pulang mengambil uang 500 dinar untuk diserahkan pada gurunya tersebut.
Setelah uang tersebut hendak diserahkan, sang guru bertanya: “Untuk apa uang ini?”
Si murid menjawab: “Untuk mahar yang belum terbayarkan.”
Kemudian Syaikh Ahmad ar-Rifa’i tersenyum seraya berkata dengan santai: “Andai saja aku tak bersabar, dipukul, diolok-olok oleh istriku, maka kamu tak akan melihat aku duduk-duduk di Surga.”
Dan masih banyak kisah yang lainnya yang serupa dengan kedua kisah di atas, seperti yang pernah dialami oleh Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin Khattab dan tokoh sufi Abu Laits as-Samarkandi. Betapa mereka dengan sabar menghadapi perlakuan buruk para istrinya,yang dengan kesabaran itu justru semakin menaikkan derajat merekaa di sisi Allah Swt.

Rabu, 02 Juli 2014

Ma'rifatullah dan Mutiara (buah) Ma'rifat..


Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Orang yang baru tahu dan kenal Ma'rifatullah itu ibarat orang berdiri di depan pintu istana kerajaan yang di dalam kerajaan tersebut berisi segala keindahan dan kemegahan
Kesalahan beberapa orang yang mengaku sudah ma'rifat adalah seperti anak kecil ..
Kebanyakan orang yang mengaku-ngaku berma'rifat itu suka kowar kowar memberitahu kpda orang lain yang padahal keadaan IA saat BARU DI DEPAN PINTU ISTANA DAN PINTU ITU sedikit TERBUKA hingga ia bisa melihat keindahan yg ada di dalam istana.. ORANG ITU MASIH DI LUAR ISTANA(ma'rifat) belum masuk,, namun ia berkowar memberitahukan kepada orang orang orang " HAI aku melihat KEINDAHAN DAN KEMEGAHAN"..hanya baru melihat dari luar saja tapi anehnya bertindak seolah sudah di dalamnya..
Kalau saja dia sudah masuk dia akan lebih tenang..lebih BERADAB..santun..ramah..penyabar..penuh sifat keTuhanan ..karena bagaimanapun orang yg masuk k istana raja itu tidak ada yang tidak beradab.. semuanya pasti menjaga adab.
JADI DEMIKIAN PULA JIKA ada ORANG sudah masuk kerajaan MA'RIFAT..tingkah laku nya lebih beradab , baik itu beradab kepada pelayan Raja.. kepada rakyat nya si raja.. terlebih kepada RAJA itu sendiri..
Lihatlah Habib Umar..Habib Ali Al Jufri..Habib Mundzir.. dan habib / Ulama lainya yg sudah "mendapatkan buah" ma'rifatullah .. mereka selalu TAWADLU(Rendah hati) ..santun..ramah..PENYABAR ,,murah senyum..ikhlas..Berjalan dengan tenang dan pnuh kekhusyu-an karena semakin berjalan jauh memasuki istana ia semakin kagum pada keindahan sang RAJA ...
dan Satu lagi..orang ahli Ma'Rifat hatinya di penuhi RASA MAHABBAH yang sangat kuat kepada Allah dan Rasulullah SAW dan bisa terlihat dari wajah dan sifat perilakunya..
Jadi kalau ada orang mengaku sudah ma'rifat tapi ko sukanya marah marah..mengadu domba..mengumpat.. dan sifat hewani lainya ..belum benar itu..
Note:
→Pelayan raja mksudnya Nabi dan Rasul + Wali dan ulama (beradap kepada pelayan Raja berarti beradab kepada Nabi,Rasul, wali dan ulama/kiai )
→Beradab kpda Rakyat si raja berarti beradab kpda smua umat manusia
→Beradab kpda RAJA berarti beradab kpda ALLAH

03 Ramadhan 1435

Senin, 30 Juni 2014

Rindu kepada Rasulullah akan selalu terbalas..jika tidak di dunia maka kelak di akhirat..


Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..
Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa, pernah mengatakan :
"Diriwayatkan dalam Riwayat yang Tsiqah (Maksudnya 'Tsiqah' itu Kuat) bahwa ketika salah seorang yang Sholeh bermimpi bertemu Rasulullah SAW, dimana dia adalah seorang yang selalu Rindu kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam, yang tidak pernah Tidur kecuali setelah Air matanya mengalalir karena ingin berjumpa dengan Rasulullah SAW.
Karena kerinduannya yang amat sangat kepada Rasulullah (Sehingga belum akan tertidur , sebelum meneteskan Air mata rindunya karena ingin jumpa dengan Sayyidina Muhammad SAW). Maka ia pun sering bermimpi Jumpa dengan Rasulullah SAW didalam mimpinya.
Ketika ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, ia bermimpi sedang berada di Padang Mahsyar ia melihat kumpulan Manusia yang memenuhi padang Mahsyar, mereka saling tindih satu sama Lain, yang masing-masing ada yang berubah wajahnya, ada yang berbau busuk dan lain sebagainya.
Mereka semua yang berada didalam Padang Mahsyar sedang dalam keadaan bingung yang teramat sangat, Ketika tiba-tiba Barisan para Malaikat melintas dan lewatlah rombongan Sayyidina Muhammad SAW BERSAMA para Nabi, Syuhada' , para Aqliyaa' , dan Shalihin.
Maka Orang Sholeh tadi hanya melihat dari kejauhan dan tidak bisa mendekat kepada Rasulullah SAW karena desakan para Malaikat yang membatasi orang-orang yang mendekat.
Ketika barisan para Malaikat itu melintas maka lewatlah Nabi Muhammad SAW, dan orang Sholeh itu tidak bisa mendekat apalahi berbicara kepada Rasulullah SAW, maka orang sholeh itu didalam mimpinya berkata dengan orang yang disebelahnya : "Jika kelak kamu bertemu dengan Rasulullah maka sampaikan salamku bahwa aku rindu kepadanya, dulu di masa hidupku di dunia akau selalu merindukan Rasulullah, jika aku masuk Neraka sampaikan kepadanya bahwa aku telah berada di tempat yang layak untukku sebagai pendosa (yaitu Neraka)".
Maka setelah ia berkata demikian barisan yang melintas tadi tiba-tiba BERHENTI karena Rasulullah SAW berhenti, kemudian Rasulullah SAW berbalik dan berkata : "Wahai Fulan, aku tidak melupakan orang yang merindukanku", lalu beliau membuka kedua tangannya kemudian orang itu berlari dan memeluk sang Nabi Muhammad SAW dan menciumnya.

Kisah waliyah besar dan sayid/habib kecil(yang cinta pada Rasulullah SAW)


Dahulu hiduplah seorang Waliyah (wali Allah perempuan) yang sangat ternama di zamannya dengan kecintaan beliau kepada Allah SWT.
Sekali waktu beliau ini ditanyai orang: “Apakah engkau mencintai Rasulullah SAW, selain engkau juga cinta kepada Allah SWT?” jawab
beliau: “Hatiku sudah dipenuhi cinta kepada-Allah dan tidak bisa mencintai selain-Allah.”
Malamnya beliau bermimpi, mendengar suara dari Arsy: “Wahai fulanah, engkau kami cintai,
tapi bukan engkau yang paling kami cintai”.
Terkejutlah beliau didalam mimpinya dan beliau bertanya: “Siapakah yang lebih dicintai dari diriku?”

Didalam mimpinya beliau melihat seorang pemuda yang sedang lelap tertidur di pangkuan Baginda Rasulullah SAW. “Dialah yang lebih
kami cintai dari engkau, karena dia cinta kepada kekasih kami(Muhammad SAW), dan kekasih kami pun cinta kepadanya, kami cinta kepadanya melebihi cinta
kami kepada engkau”.
Terbangunlah waliyah ini dan di carilah olehnya pemuda ini.
Akhirnya si waliyah ini berjumpa dengan sang pemuda tadi, di lihatnya apa amal dan kerjanya,
si pemuda ini rupanya hanyalah seorang sayyid miskin yang menjadi kuli di pasar, pulang dari
pasar, dia merawat ibunya yang sakit, malamnya ia beribadaH, itu saja.
Dihari yang kedua, di lihatnya si pemuda kembali bekerja di pasar, tapi di hari itu tidak ada yang menggunakan tenaganya, akhirnya dia pulang dengan tangan kosong. Waliyah ini mengikuti si pemuda sampai di depan rumahnya, tiba-tiba si pemuda menengadahkan
tangannya ke langit dengan tanpa
berdoa dan berkata-kata, dengan seizin Allah SWT tiba-tiba ditangannya sudah di penuhi uang.
Di Hari yang ketiga, di lihatnya si pemuda ini tidak bekerja, ketika di cari-carinya ternyata sang pemuda terbaring sakit, kata si pemuda:
“Wahai fulanah, kemarilah!”.
Berkata si sayyid
miskin ini: “Aku tahu engkau fudhul (usil ingin tahu) dengan diriku selama 3 hari ini, ketahuilah
olehmu, cintamu itu sudah cacat bercela, engkau mencintai satu kekasih saja, kekasih yang lain tidak engkau cintai, jawablah aku,
kekasih mana yang bisa meridhoimu?.”
Terkejutlah si Waliyah ini dan iapun sadar, bahwa si pemuda adalah soerang Wali Allah yang lebih utama dari dirinya. kemudian di dengarnya si pemuda bermunajah: “Wahai Allah, sudah terbuka rahasia antara kita berdua, tiada guna aku berlama-lama disini(dunia),
jemputlah aku untuk berjumpa dengan-Mu.” Lalu si pemuda menyebut: “Allah”, wafatlah beliau
pada saat itu juga, si Waliyah inipun menangis tersedu-sedu dan menyadari kesalahannya.
Allahumma Shali 'alaa sayyidina Muhammad

Kamis, 26 Juni 2014

Ada jalur Tahuid (zikir) berhubungan dgn makrifat pada Allah

Syekh Abu Said al-khoroz berkata : "Ketika Allah akan menjadikan seorang hamba menjadi Wali-Nya, maka dibukakan baginya Pintu Dzikir.
Apabila dia merasa nikmat dengan dzikirnya, maka akan dibukakan oleh Allah Pintu Qurbah kemudian dinaikkan lagi kepada Majlis 'Unsi yaitu tempat yang membuatnya merasa nyaman, kemudian dia didudukkan di atas Kursi Tauhid.

Seterusnya dibukalah semua hijabnya, kemudian dimasukkan oleh Allah kedalam Darulfardaniyah yaitu tempat dimana tidak ada temannya seorangpun didalamnya kecuali dirinya sendiri, setelah itu dibukakan oleh Allah baginya Hijabul Jalal wa Udmah dan dimasukkan kedalamnya. Kemudian oleh Allah dia dijadikan Waliyullah.
Salah satu guru kita berkata kenapa ilmu agama itu beda satu ulama dgn ulama lainnya pendapatnya, sama dgn para auliya berpendapat suatu perkara, ini disebabkan kedalaman ilmu dn kebersihan hati mereka, serta jln mereka memang beda saat menuju Allah.
Ada jalur Tahuid (zikir) berhubungan dgn makrifat pada Allah hingga puncaknya, ada juga jalur Nur , yakni lewat meneladani akhlak Rosulullah lahir maupun bathin serta menjalan sgla sunah2 Rosulullah lahr maupun bathin.
Semakin dlm ilmu bathinnya, semakin dekat dgn Allah maka semakin dlm juga kemuliaan hatinya, bersinar nur imannya,hingga mereka sampai tingkatan mahabbah tertinggi disisi tuhan-nya.
Mudahan2 walaupun sifatnya kilasann ilmu namun menambah pembendaraan kita tentang para kekasih Allah dn kita semua digolongkan cinta pada mereka, dikumpulkan dgn mereka dari dunia hingga akhrt nanti.. Aamiin ya Allah..
Oleh : ‪#‎Syarifah_Rabia_Alkaff‬
Salaamunalaikum

PERIHAL PUASA - I; Bab Fiqh

BAB 1 KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa’.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

2. Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah bersabda:
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. “ (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya).  Al-Mundziri berkata: “Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Al-Baihaqi, keduanya dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar darinya.”

3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),’Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, ‘pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. “Beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar’ Jawab beliau, ‘Tidak. Namun ovang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.’ “ (HR. Ahmad)’” Isnad hadits tersebut dha’if, dan di antara bagiannya ada nash-Nash lain yang memperkuatnya.


BAB 2 KEUTAMAAN PUASA

1. Dalil :
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda:
“Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. la telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku.’ Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi.”

2. Bagaimana ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah?
Perlu diketahui, bahwa ber-taqarrub kepada Allah tidak dapat dicapai dengan meninggalkan syahwat ini -yang selain dalam keadaan berpuasa adalah mubah-kecuali setelah ber-taqarrub kepada-Nya dengan meninggalkan apa yang diharamkan Allah dalam segala hal, seperti: dusta, kezhaliman dan pelanggaran terhadap orang lain dalam masalah darah, harta dan kehormatannya. Untuk itu, Nabi bersabda : “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari).
Inti pernyataan ini, bahwa tidak sempurna ber-taqarrub kepada Allah Ta’ala dengan meninggalkan hal-hal yang mubah kecuali setelah ber-taqarrub kepada-Nya dengan meninggalkan hal-hal yang haram.  Dengan demikian, orang yang melakukan hal-hal yang haram kemudian ber-taqarrub kepada Allah dengan meninggalkan hal-hal yang mubah, ibaratnya orang yang meninggalkan hal-hal yang wajib dan ber-taqarrub dengan hal-hal yang sunat.
Jika seseorang dengan makan dan minum berniat agar kuat badannya dalam shalat malam dan puasa maka ia mendapat pahala karenanya. Juga jika dengan tidurnya pada malam dan siang hari berniat agar kuat beramal (bekerja) maka tidurnya itu merupakan ibadah.

Jadi orang yang berpuasa senantiasa dalam keadaan ibadah pada siang dan malam harinya. Dikabulkan do’anya ketika berpuasa dan berbuka. Pada siang harinya ia adalah orang yang berpuasa dan sabar, sedang pada malam harinya ia adalah orang yang memberi makan dan bersyukur.

3. Syarat mendapat pahala puasa:
Di antara syaratnya, agar berbuka puasa dengan yang halal. Jika berbuka puasa dengan yang haram maka ia termasuk orang yang menahan diri dari yang dihalalkan Allah dan memakan apa yang diharamkan Allah, dan tidak dikabulkan do’anya.

Orang berpuasa yang berjihad:
Perlu diketahui bahwa orang mukmin pada bulan Ramadhan melakukan dua jihad, yaitu :
Jihad untuk dirinya pada siang hari dengan puasa.
Jihad pada malam hari dengan shalat malam.
Barangsiapa yang memadukan kedua jihad ini, memenuhi segala hak-haknya dan bersabar terhadapnya, niscaya diberikan kepadanya pahala yang tak terhitung.  Lihat Lathaa’iful Ma ‘arif, oleh Ibnu Rajab, him. 163,165 dan 183.


BAB  3 KEKHUSUSAN DAN KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN

1. Puasa Ramadhan adalah rukun keempat dalam Islam. Firman Allah Ta’ala :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan asas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. “(Al-Baqarah :
183).

Sabda Nabi :
Islam didirikan di atas lima sendi, yaitu: syahadat tiada sembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi hajike Baitul Haram. “ (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Ibadah puasa merupakan salah satu sarana penting untuk mencapai takwa, dan salah satu sebab untuk mendapatkan ampunan dosa-dosa, pelipatgandaan kebaikan, dan pengangkatan derajat. Allah telah menjadikan ibadah puasa khusus untuk diri-Nya dari amal-amal ibadah lainnya. Firman Allah dalam hadits yang disampaikan oleh Nabi:
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku langsung membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum dari pada aroma kesturi.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Dan sabda Nabi :
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. “ (Hadits Muttafaq ‘Alaih).  Maka untuk memperoleh ampunan dengan puasa Ramadhan, harus ada dua syarat berikut ini:
Mengimani dengan benar akan kewajiban ini.
Mengharap pahala karenanya di sisi Allah Ta ‘ala.

2. Pada bulan Ramadhan diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia dan berisi keterangan-keterangan tentang petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang bathil.

3. Pada bulan ini disunatkan shalat tarawih, yakni shalat malam pada bulan Ramadhan, untuk mengikuti jejak Nabi, para sahabat dan Khulafaur Rasyidin.
Sabda Nabi
“Barangsiapa mendirikan shalat malam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah) niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. “ (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

4. Pada bulan ini terdapat Lailatul Qadar (malam mulia), yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, atau sama dengan 83 tahun 4 bulan. Malam di mana pintu-pintu langit dibukakan, do’a dikabulkan, dan segala takdir yang terjadi pada tahun itu ditentukan. Sabda Nabi :
“Barangsiapa mendirikan shalatpada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, dari Allah niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. “ (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Malam ini terdapat pada sepuluh malam terakhir, dan diharapkan pada malam-malam ganjil lebih kuat daripada di malam-malam lainnya. Karena itu, seyogianya seorang muslim yang senantiasa mengharap rahmat Allah dan takut dari siksa-Nya, memanfaatkan kesempatan pada malam-malam itu dengan bersungguh-sungguh pada setiap malam dari kesepuluh malam tersebut dengan shalat, membaca Al-Qur’anul Karim, dzikir, do’a, istighfar dan taubat yang sebenar-benamya. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni, merahmati, dan mengabulkan do’a kita.

5. Pada bulan ini terjadi peristiwa besar yaitu Perang Badar, yang pada keesokan harinya Allah membedakan antara yang haq dan yang bathil, sehingga menanglah Islam dan kaum muslimin serta hancurlah syirik dan kaum musyrikin.

6. Pada bulan suci ini terjadi pembebasan kota Makkah Al-Mukarramah, dan Allah memenangkan Rasul-Nya, sehingga masuklah manusia ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong dan Rasulullah menghancurkan syirik dan paganisme (keberhalaan) yang terdapat di kota Makkah, dan Makkah pun menjadi negeri Islam.

7. Pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup dan para setan diikat.
Betapa banyak berkah dan kebaikan yang terdapat dalam bulan Ramadhan. Maka kita wajib memanfaatkan kesempatan ini untuk bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan beramal shalih, semoga kita termasuk orang-orang yang diterima amalnya dan beruntung.
Perlu diingat, bahwa ada sebagian orang –semoga Allah menunjukinya- mungkin berpuasa tetapi tidak shalat, atau hanya shalat pada bulan Ramadhan saja.  Orang seperti ini tidak berguna baginya puasa, haji, maupun zakat. Karena shalat adalah sendi agama Islam yang ia tidak dapat tegak kecuali dengannya.

Sabda Nabi :
“Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan itu habis dan ia tidak mendapat ampunan, maka jika mati ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan: Amin!.  Aku pun mengatakan: Amin. “ (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya) “’ Lihat kitab An Nasha i’hud Diniyyah, him. 37-39.  Maka seyogianya waktu-waktu pada bulan Ramadhan dipergunakan untuk berbagai amal kebaikan, seperti shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, dzikir, do’a dan istighfar. Ramadhan adalah kesempatan untuk menanam bagi para hamba Ailah, untuk membersihkan hati mereka dari kerusakan.  Juga wajib menjaga anggota badan dari segala dosa, seperti berkata yang haram, melihat yang haram, mendengar yang haram, minum dan makan yang haram agar puasanya menjadi bersih dan diterima serta orang yang berpuasa memperoleh ampunan dan pembebasan dari api Neraka.

Tentang keutamaan Ramadhan, bersabda:
‘”Aku melihat seorang laki-laki dari umatku terengah-engah kehausan, maka datanglah kepadanya puasa bulan Ramadhan lalu memberinya minum sampai kenyang “ (HR. At-Tirmidzi, Ad-Dailami dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dan hadits ini hasan).
“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat Jum ‘at lainnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antaranya jika dosa-dosa besar ditinggalkan. “ (HR.Muslim).

Jadi hal-hal yang fardhu ini dapat menghapuskan dosa-dosa kecil, dengan syarat dosa-dosa besar ditinggalkan. Dosa-dosa besar, yaitu perbuatan yang diancam dengan hukuman di dunia dan siksaan di akhirat. Misalnya: zina, mencuri, minum arak, mencaci kedua orang tua, memutuskan hubungan kekeluargaan, transaksi dengan riba, mengambil risywah (uang suap), bersaksi palsu, memutuskan perkara dengan selain hukum Allah.  Seandainya tidak terdapat dalam bulan Ramadhan keutamaan-keutamaan selain keberadaannya sebagai salah satu fardhu dalam Islam, dan waktu diturunkannya Al-Qur’anul Karim, serta adanya Lailatul Qadar -yang merupakan malam yang lebih balk daripada seribu bulan- di dalamnya, niscaya itu sudah cukup, Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya. Lihat kitab Kalimaat Mukhtaarah, hlm.  74 - 76.


BAB 4 HUKUM-HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN PUASA RAMADHAN

1. Definisi :
Puasa ialah menahan diri dari makan, minum dan bersenggama mulai dari terbit fajar yang kedua sampai terbenamnya matahari. Firman Allah Ta 'ala: " …….dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam ... "(Al-Baqarah: 187),

2. Kapan dan bagaimana puasa Ramadhan diwajibkan?
Puasa Ramadhan wajib dikerjakan setelah terlihatnya hilal, atau setelah bulan Sya'ban genap 30 hari. Puasa Ramadhan wajib dilakukan apabila hilal awal bulan Ramadhan disaksikan seorang yang dipercaya, sedangkan awal bulan-bulan lainnya ditentukan dengan kesaksian dua orang yang dipercaya.

3. Siapa yang wajib berpuasa Ramadhan?
Puasa Ramadhan diwajibkan atas setiap muslim yang baligh (dewasa), aqil (berakal), dan mampu untuk berpuasa.

4. Syarat wajibnya puasa Ramadhan?
Adapun syarat-syarat wajibnya puasa Ramadhan ada empat, yaitu Islam, berakal, dewasa dan mampu.

5. Kapan anak kecil diperintahkan puasa?
Para ulama mengatakan Anak kecil disuruh berpuasa jika kuat, hal ini untuk melatihnya, sebagaimana disuruh shalat pada umur 7 tahun dan dipukul pada umur 10 tahun agar terlatih dan membiasakan diri.

6 Syarat sahnya puasa.
Syarat-syarat sahnya puasa ada enam:
Islam : tidak sah puasa orang kafir sebelum masuk Islam.
Akal : tidak sah puasa orang gila sampai kembali berakal.
Tamyiz : tidak sah puasa anak kecil sebelum dapat membedakan (yang balk dengan yang buruk).
Tidak haid : tidak sah puasa wanita haid, sebelum berhenti haidnya.
Tidak nifas : tidak sah puasa wanita nifas, sebelum suci dari nifas.
Niat : dari malam hari untuk setiap hari dalam puasa wajib. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi : "Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya. " (HR.Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa'i dan At-Tirmidzi. Ia adalah hadits mauquf menurut At-Tirmidzi.
Dan hadits ini menunjukkan tidak sahnya puasa kecuali diiringi dengan niat sejak malam hari, yaitu dengan meniatkan puasa di salah satu bagian malam.


BAB 5 SUNNAH-SUNNAH PUASA

Sunah puasa ada enam:
Mengakhirkan sahur sampai akhir waktu malam, selama tidak dikhawatirkan terbit fajar.
Segera berbuka puasa bila benar-benar matahari terbenam.  Memperbanyak amal kebaikan, terutama menjaga shalat lima waktu pada waktunya dengan berjamaah, menunaikan zakat harta benda kepada orang-orang yang berhak, memperbanyak shalat sunat, sedekah, membaca Al-Qur’an dan amal kebajikan lainnya.
Jika dicaci maki, supaya mengatakan: “Saya berpuasa,” dan jangan membalas mengejek orang yang mengejeknya, memaki orang yang memakinya, membalas kejahatan orang yang berbuat jahat kepadanya; tetapi membalas itu semua dengan kebaikan agar mendapatkan pahala dan terhindar dari dosa.

Berdo’a ketika berbuka sesuai dengan yang diinginkan. Seperti membaca do’a :
“Ya Allah hanya untuk-Mu aku beupuasa, dengan rizki anugerah-Mu aku berbuka.  Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, terimalah amalku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “ Berbuka dengan kurma segar, jika tidak punya maka dengan kurma kering, dan jika tidak punya cukup dengan air.

HUKUM ORANG YANG TIDAK BERPUASA RAMADHAN
Diperbolehkan tidak puasa pada bulan Ramadhan bagi empat golongan :
Orang sakit yang berbahaya baginya jika berpuasa dan orang bepergian yang boleh baginya mengqashar shalat. Tidak puasa bagi mereka berdua adalah afdhal, tapi wajib menggadhanya. Namun jika mereka berpuasa maka puasa mereka sah (mendapat pahala). Firman Allah Ta’ala:
“ …..Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain... “ (Al-Baqarah:184).  Maksudnya, jika orang sakit dan orang yang bepergian tidak berpuasa maka wajib mengqadha (menggantinya) sejumlah hari yang ditinggalkan itu pada hari lain setelah bulan Ramadhan.

Wanita haid dan wanita nifas: mereka tidak berpuasa dan wajib mengqadha.
Jika berpuasa tidak sah puasanya. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata :
“Jika kami mengalami haid, maka diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan menggadha shalat. “ (Hadits Muttafaq ‘Alaih).  Wanita hamil dan wanita menyusui, jika khawatir atas kesehatan anaknya boleh bagi mereka tidak berpuasa dan harus meng-qadha serta memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Jika mereka berpuasa maka sah puasanya. Adapun jika khawatir atas kesehatan diri mereka sendiri, maka mereka boleh tidak puasa dan harus meng-qadha saja. Demikian dikatakan Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan o!eh Abu Dawud. ‘7, Lihat kitab Ar Raudhul Murbi’, 1/124.

Orang yang tidak kuat berpuasa karena tua atau sakit yang tidak ada harapan sembuh. Boleh baginya tidak berpuasa dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Demikian kata Ibnu Abbas menurut riwayat Al-Bukhari. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, 1/215.

Sedangkan jumlah makanan yang diberikan yaitu satu mud (genggam tangan) gandum, atau satu sha’ (+ 3 kg) dari bahan makanan lainnya. Lihat kitab ‘Lrmdatul Fiqh, oleh Ibnu Qudamah, hlm. 28.

Hukum jima’pada siang hari bulan Ramadhan.
Diharamkan melakukan jima’ (bersenggama) pada siang hari bulan Ramadhan. Dan siapa yang melanggarnya harus meng-qadha dan membayar kaffarah mughallazhah (denda berat) yaitu membebaskan hamba sahaya. Jika tidak mendapatkan, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut; jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin; dan jika tidak punya maka bebaslah ia dari kafarah itu. Firman Allah Ta’ala.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...”
(Al-Baqarah: 285). Lihat kitab Majalisu Syahri Ramadhan, hlm. 102 - 108.


BAB 6 HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA
Makan dan minum dengan sengaja. Jika dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya.
Jima’ (bersenggama).

Memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk dalam hal ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan transfusi darah bagi orang yang berpuasa.  Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga karena onani, bersentuhan, ciuman atau sebab lainnya dengan sengaja. Adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena keluamya tanpa sengaja.  Keluamya darah haid dan nifas. Manakala seorang wanita mendapati darah haid, atau nifas batallah puasanya, baik pada pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari.

Sengaja muntah, dengan mengeluarkan makanan atau minuman dari perut melalui mulut. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam .  Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha, sedang barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib qadha. “ (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).
Dalam lafazh lain disebutkan : “Barangsiapa muntah tanpa disengaja, maka ia tidak (wajib) mengganti puasanya).” DiriwayatRan oleh Al-Harbi dalamGharibul Hadits (5/55/1) dari Abu Hurairah secara maudu’ dan dishahihRan oleh AI-Albani dalam silsilatul Alhadits Ash-Shahihah No. 923.  Murtad dari Islam -semoga Allah melindungi kita darinya. Perbuatan ini menghapuskan segala amal kebaikan. Firman Allah Ta’ala: Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. “(Al-An’aam: 88).

Tidak batal puasa orang yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu, lupa atau dipaksa. Demikian pula jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat, atau air tanpa disengaja.
Jika wanita nifas telah suci sebelum sempurna empat puluh hari, maka hendaknya ia mandi, shalat dan berpuasa.

Kewajiban orang yang berpuasa:
Orang yang berpuasa, juga lainnya, wajib menjauhkan diri dari perbuatan dusta, ghibah (menyebutkan kejelekan orang lain), namimah (mengadu domba), laknat mendo’akan orang dijauhkan dari rahmat Allah) dan mencaci-maki.  Hendaklah ia menjaga telinga, mata, lidah dan perutnya dari perkataan yang haram, penglihatan yang haram, pendengaran yang haram, makan dan minum yang haram.

Puasa yang disunatkan:
Disunatkan puasa 6 hari pada bulan Syawwal, 3 hari pada setiap bulan (yang afdhal yaitu tanggal 13, 14 dan 15; disebut shaumul biidh), hari Senin dan Kamis, 9 hari pertama bulan Dzul Hijjah (lebih ditekankan tanggal 9, yaitu hari Arafah), hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram) ditambah sehari sebelum atau sesudahnya untuk mengikuti jejak Nabi dan para sahabatnya yang mulia serta menyelisihi kaum Yahudi.