AJARAN 22
Biasanya Allah SWT menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan
derajat keimanan mereka. Sekiranya keimanan seseorang itu kuat, maka
ujian keimanannya itupun kuat pula. Oleh karena itu, ujian kepada Rasul
lebih hebat daripada ujian kepada Nabi, ujian kepada Nabi lebih hebat
daripada ujian kepada Abdal dan ujian kepada Abdal lebih hebat daripada
ujian kepada Wali. Setiap orang diuji
menurut tinggi atau rendahnya keimanannya. Nabi pernah bersabda,
“Sesungguhnya ujian bagi kami, para Nabi, lebih hebat daripada ujian
bagi orang-orang lain.”
Allah akan terus memberikan ujian ini
kepada mereka sesuai dengan tingkatan mereka, agar mereka senantiasa
berada di samping Tuhan dan tidak pernah lalai. Allah mengasihi mereka
dan Allah tidak mau orang yang dikasihi-Nya itu jauh dari-Nya.
Oleh karena itu, ujian diibaratkan sebagai pengikat hati dan penjara
mereka serta menjauhkan mereka dari kecenderungan kepada apa saja yang
bukan tujuan hidup mereka dan menjauhkan mereka dari perasaan senang dan
condong kepada apa saja selain Allah Yang Maha Pencipta. Apabila ini
telah menjadi keadaan mereka yang abadi, maka hancurlah diri dan hawa
nafsu amarah dan kebinatangan mereka. Dapatlah mereka membedakan antara
yang haq (benar) dengan yang bathil (palsu). Segala tanda-tanda
keserakahan dan kehendak mereka terhadap kemewahan dan kebahagiaan hidup
di dunia dan di akhirat hilang lenyap dari sisi mereka dan mereka
merasa tenteram berada di sisi Tuhan, ridha dengan Allah, sabar terhadap
ujian, selamat dari kejahatan mahluk-Nya dan mereka mendapat kepuasan
di sisi Allah SWT.
Dengan demikian, kekuasaan hati akan
bertambah hebat dan dapat mengontrol anggota-anggota badan. Ujian dan
bencana itu menguatkan hati dan meneguhkan iman dan kesabaran serta
melemahkan nafsu-nafsu kebinatangan yang berada dalam diri. Karena,
apabila kesusahan datang menimpa si mu’min dan ia menunjukkan kesabaran
dan keridhaannya serta berserah bulat kepada Allah, Allah ridha dan
menolong mereka serta memberi kekuatan kepada mereka. Allah SWT
berfirman, “Jika kamu bersyukur, sesungguhnya aku akan menambah lagi
karunia itu.”
Apabila diri manusia itu menggerakkan hatinya
untuk mecari sasaran pemuasan hawa nafsu dan berfoya-foya, dan hati
itupun menurutinya saja tanpa perintah dan ijin Allah, maka akibatnya
adalah lupa kepada Allah, menyekutukan-Nya dan berbuat dosa, lalu Allah
akan menimpakan bencana, kesusahan dan derita kepada mereka yang lupa
itu dan pikiran serta hati mereka akan sakit.
Jika hati mereka
tidak mengindahkan panggilan pemuasan tersebut sampai Allah
mengijinkannya melalui ilham (bagi Wali) dan wahyu (bagi Nabi dan
Rasul), lalu tindakan diambil atas dasar ilham dan wahyu tersebut, baik
berupa pemberian karunia maupun bukan, maka Allah akan memberikan
ganjaran kepada hati itu berupa rahmat, ampunan, kesentosaan, keridhaan,
cahaya dan ilmu, kedekatan kepada Allah, terlepas dari segala kebutuhan
dan selamat dari bahaya dan bencana. Oleh karena itu, ketahuilah dan
ingatlah selalu serta selamatkan dirimu dari ujian dengan
sungguh-sungguh dan waspada, tanpa tergesa-gesa menuruti panggilan
pikiran dan kehendaknya, tetapi hendaklah kamu menunggu dengan sabar
ijin Allah, agar kamu selamat di dunia dan di akhirat kelak.
AJARAN 23
Puaskanlah hatimu dengan apa yang ada pada kamu, sampai datang takdir
Allah untuk meninggikan derajatmu, di mana kamu diselamatkan dari
kesusahan hidup di dunia dan di akhirat dan dari dosa serta noda. Kamu
akan dinaikkan ke derajat yang lebih tinggi, sehingga kamu puas dan
bahagia. Apa yang telah ditetapkan untuk kamu, pasti akan kamu dapatkan
dan apa yang tidak ditetapkan untuk kamu, tidak akan kamu dapatkan.
Karenanya, senantiasalah kamu bersabar dan ridha dengan keadaan yang
telah ada pada kamu. Janganlah kamu berpura-pura pintar dan menuruti
kehendakmu sendiri, melainkan tunggulah sampai kamu mendapatkan
perintah.
Janganlah kamu bertindak sendiri dan jangan pula kamu
berdiam diri, karena hal ini akan merendahkan kedudukanmu dan
menganiaya dirimu sendiri. Tuhan tidak akan lupa kepada orang yang
berbuat aniaya (zhalim). Firman Allah, “Dan demikianlah Kami jadikan
sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman sebagian yang lain,
disebabkan apa yang mereka usahakan.”
Ketahuilah bahwa kamu
berada dalam istana Raja Yang Maha Berkuasa dan Maha Agung, yang
tentara-Nya banyak tiada terhingga, yang perintah-Nya tidak boleh
dibantah, yang kerajaan-Nya tidak boleh diganggu gugat, yang kekal dan
abadi selamanya, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, bahkan dapat
melihat apa yang terdetik dalam hati sanubari. Kamu akan berbuat zhalim
terhadap dirimu sendiri, jika kamu digerakkan oleh hawa nafsu
kebinatangan, berbuat sesuka hatimu sendiri dan berbuat sesuatu yang
menyekutukan Allah. Firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni
dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa
selain syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa
mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah
tersesat sangat jauh.” (QS 4:116)
Jauhkanlah dirimu dari syirik
dan janganlah kamu mendekatinya. Segala gerak dan diammu pada siang dan
malam hari, baik kamu seorang diri maupun kamu berada di tempat yang
ramai, hendaklah dibebaskan dari syirik itu. Berhati-hatilah terhadap
dosa yang berbentuk bagaimanapun juga di dalam hati dan anggota badanmu.
Jauhkanlah dosa batin dan dosa lahir. Janganlah kamu lari dari Tuhan,
karena kamu tidak akan dapat melarikan dirimu dari-Nya. Janganlah kamu
melawan-Nya, karena kamu akan dibinasakan oleh-Nya. Janganlah kamu
menentang perintah-Nya, karena jika kamu berbuat demikian, kamu akan
dihinakan-Nya. Janganlah kamu melupakan-Nya, karena kamu akan
dilupakan-Nya pula dan dilemparkan ke dalam kesusahan. Janganlah kamu
mencoba memindahkan rumah-Nya, karena jika kamu berbuat demikian, kamu
akan dibinasakan oleh-nya. Janganlah kamu berbicara tentang agama-Nya
menurut hawa nafsumu semata, karena jika kamu berbuat demikian, kamu
akan dihancurkan-Nya, hatimu akan digelapkan-Nya, imanmu akan
dicabut-Nya, dan ilmu kerohanianmu akan dihilangkan-Nya. Kemudian, kamu
akan dikuasakan kepada setan: nafsu kebinatanganmu, keluargamu,
tetanggamu, sahabatmu, jin, binatang dan seluruh mahluk akan menguasai
dan mempengaruhi kamu. Dengan demikian, kamu akan hidup di dunia ini
berada dalam kegelapan dan adzab neraka akan kamu terima di akhirat
kelak.
AJARAN 24
Janganlah kamu ingkar kepada Allah.
Berpegang teguhlah kepada-Nya. Kembalilah kepada-Nya dengan penuh
kekhusyuan dan dengan merendahkan diri. Bertawakallah kepada-Nya dengan
sepenuh penyerahan. Janganlah kamu menuruti hawa nafsu kebinatanganmu.
Janganlah kamu hanya mencari kepentingan di dunia atau di akhirat saja
atau mencari kedudukan yang lebih tinggi atau lebih mulia. Ketahuilah
bahwa kamu itu adalah hamba-Nya. Sedangkan hamba dan segala yang
dimilikinya adalah kepunyaan tuannya. Si hamba tidak mempunyai apa-apa.
Tuannyalah yang memiliki segalanya. Hendaklah kamu bersopan santun dan
jangan pula menyalahkan tuan kamu itu. Segalanya telah ditentukan
olehnya. Apa yang telah didahulukan olehnya tidak dapat dikemudiankan
dan apa yang dikemudiankan tidak dapat didahulukan. Dia telah memberi
kamu tempat kediaman yang kekal di akhirat. Dialah Tuan kamu. Dia
memberimu karunia yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah
didengar oleh telinga dan tidak pernah dirasa oleh hati. Firman Tuhan,
“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu
(bermacam-macam ni’mat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 32:17).
Ini
adalah ganjaran bagi mereka dari perbuatan mereka di dunia ini, seperti
mematuhi hukum-hukum Allah, bersabar diri untuk tidak melakukan dosa dan
maksiat serta bertawakal penuh kepada Allah dan ridha dengan-Nya.
Jika Allah memberikan perkara-perkara keduniaan kepada mereka dan
menjadikannya sebagai tuannya, maka hal itu karena kedudukan iman mereka
itu seperti tanah tandus yang berpasir, tidak dapat menampung air dan
tidak dapat menghidupkan tumbuh-tumbuhan. Kemudian ia membubuhi pupuk
supaya akar tanaman itu tumbuh. Inilah gambaran dunia dan perhiasannya,
mudah-mudahan dapat menumbuhkan keimanan dan amal saleh mereka. Jika
pupuk-pupuk ini tidak dibubuhkan, maka akan matilah tumbuh-tumbuhan itu
dan negeripun akan kosong dari manusia. Tapi Allah Yang Maha Suci dan
Maha Tinggi menghendaki negeri itu bermanusia lagi dan subur dengan
tumbuh-tumbuhan.
Oleh karena itu, pangkal iman yang ada pada
orang kaya itu lemah dan tidak subur. Ketahuilah bahwa sesungguhnya iman
itu lebih berharga dari segala kekayaan dunia. Semoga Allah senantiasa
mengasihi kita dan mengarahkan kita ke jalan yang lurus dan benar. Orang
yang kaya harta tetapi miskin iman akan bisa menjadi munafik atau
kafir, jika kekayaan harta bendanya itu dicabut darinya. Jika Allah
tidak memberikan kesabaran, keimanan yang kokoh dan cahaya ilmu yang
hakiki kepada orang kaya itu, maka akan binasalah ia. Orang kaya yang
penuh iman tidak akan pernah takut atau khawatir jika kekayaan harta
bendanya dan keduniaannya itu hilang darinya, asalkan bukan kekayaannya
itu yang hilang.
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Jumat, 25 Juli 2014
Rahasia Hati (Sirr)
Syekh Abu Nashr As-Sarraj. Sebagian kaum Sufi mengatakan, “Rahasia hati (sirr) adalah sesuatu yang tidak bisa dirasakan oleh gejolak jiwa (an-nafs), dimana rahasia tersebut memang dijadikan gaib oleh al-Haq dan selalu diawasi.”
Kaum Sufi yang lain mengatakan, “Rahasia itu ada dua macam: Rahasia bagi al-Haq, yaitu sesuatu yang selalu diawasi-Nya tanpa ada perantara apa pun, dan rahasia untuk makhluk di mana ia selalu diawasi-Nya dengan perantara.”
Dikatakan, “Rahasia itu dari rahasia dan untuk rahasia, ia adalah suatu yang haq dan tidak akan tampak kecuali dengan haq. Sementara apa yang tampak pada makhluk maka itu bukanlah rahasia.
Diceritakan dari al-Husain bin Manshur al-Hallaj - rahimahullah - yang mengatakan, “Rahasia-rahasia kami adalah `gadis’ yang keperawanannya tidak bisa dirobek oleh khayalan seorang pengkhayal.”
Abu Ya’qub Yusuf bin al-Husain ar-Razi - rahimahullah - mengatakan, “Hati para tokoh adalah kuburan yang menyimpan berbagai rahasia.”
Ia juga berkata, “Jika kancing bajuku mengetahui rahasiaku ! maka aku akan melepasnya.”
Sebagian dari mereka ada yang mengungkapkannya dalam untaian syair:
Orang yang bisa merasakan
rahasia
sungguh la telah
menyembunyikan seluruhnya
Keduanya dalam rahasianya
merasa bahagia
Tidaklah rahasia orang yang
berbahagia
memberi isyarat dengan
rahasia hatinya
sebab darinya dan kepadanya
ia sama-sama tertipu
Yang lain berkata:
Wahai rahasia dari segala
rahasia yang teramat lembut
sehingga samar dari dugaan
semua yang hidup
Dan secara lahir dan bathin
tampak dari segala sesuatu
untuk segala sesuatu yang lain
An-Nuri pernah mengatakan:
Aku bersumpah, tidak akan
menitipkan rahasiaku dan
rahasianya
kepada selain kami yang
kiranya semua rahasia akan
terbuka
Tidak, kedua mataku terlanjur
melihatnya walau sekilas saja
maka rahasia kami juga terlihat
oleh pandangan setiap mata
Namun kujadikan dugaan
antara saya dan dia
sebagai perantara yang
mampu menyingkap
kandungan rahasia
Inilah berbagai permasalahan mereka yang sampai kepada kami, Dimana sebenarnya masalah mereka masih banyak lagi yang belum terungkap.
Diceritakan dari Amr bin Utsman al-Makki - rahimahullah yang mengatakan, “Seluruh ilmu adalah diparo menjadi dua bagian: Separuh yang pertama adalah pertanyaan, dan separuh yang lain adalah jawaban.” - Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita.
“Ialah melupakan dzikir. Yakni melupakan dzikir Anda pada Allah Swt. dan melupakan segala sesuatu selain Allah Azza wajalla.”
Kemuliaan (Karamah)
Sebagian kaum Sufi mengatakan, bahwa karamah (kemuliaan) adalah mencapai apa yang dimaksud sebelum munculnya iradah (keinginan). Sedangkan kaum Sufi yang lain mengatakan bahwa kemuliaan adalah pemberian di atas apa yang diharapkan.
Pikir
Ketika al-Harits al-Muhasibi - rahimahullah - ditanya me¬ngenai pikir, la mengatakan, “Pikir adalah dalam melakukan segala sesuatu dengan al-Haq.”
Kaum Sufi mengatakan, “Berpikir adalah mengambil pelajaran dengan benar.”
Sementara itu kaum Sufi yang lain mengatakan, “Pikir adalah kondisi mengagungkan Allah Azza wa Jalla yang memenuhi hati.” Sementara perbedaan antara pikir dan berpikir (tafakkur), adalah bahwa berpikir (tafakkur) merupakan pengembaraan hati, sedangkan pikir ialah berhentinya hati dalam memahami apa yang ia ketahui.
Mengambil Pelajaran (I’tibar)
Al-Harits bin Asad al-Muhasibi - rahimahullah - mengatakan, “Mengambil pelajaran (i`tibar) ialah menjadikan sesuatu sebagai argumentasi atas sesuatu yang lain.” Sementara menurut kaum Sufi yang lain, “I`tibar adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat keimanan yang jelas dan bisa dipahami oleh akal.”
Kaum Sufi yang lain mengatakan, “I`tibar adalah sesuatu yang mampu menembus kegaiban tanpa ada sesuatu yang sanggup - menghalanginya.”
Niat
Apakah niat itu?” Kaum Sufi menjawabnya, “Niat adalah maksud yang kuat untuk melakukan sesuatu.” Sementara kaum Sufi yang lain mengatakan, “Niat adalah mengetahui nama perbuatan (amal).”
Al Junaid - rahimahullah - mengatakan, “Niat adalah meng¬gambarkan perbuatan.” Sementara yang lain mengatakan, “Niat seorang mukmin adalah Allah Yang Mahatinggi.”
Kebenaran (Ash-Shawab)
Apakah ash-shawab (kebenaran) itu? Menurut suatu kaum, ash-shawab hanyalah menauhidkan Allah semata. Al Junaid - rahimahullah - mengatakan, “Kebenaran adalah segala ucapan yang muncul karena izin dari-Nya.”
Kasih Sayang
Al Junaid - rahimahullah - pernah ditanya, “Apakah yang dimaksud dengan perasaan kasih sayang terhadap sesama makhluk?” Kemudian la menjawabnya, “Anda memberi mereka dari diri Anda sesuatu yang mereka butuhkan, tidak membebani mereka dengan sesuatu yang mereka tidak mampu melakukan dan tidak berbicara dengan mereka tentang sesuatu yang mereka tidak memahaminya.”
Ketaqwaan
Kaum Sufi mengatakan, “Ketakwaan adalah mengamalkan masalah perintah dan larangan.” Kaum Sufi yang lain mengatakan, “Ketakwaan adalah meninggalkan hal-hal yang syubhat.”Yang lain juga mengatakan, “Ketakwaan adalah simbol kesucian orang mukmin, sebagaimana Ka’bah sebagai simbol kesucian Mekkah.” Dikatakan pula, “Ketakwaan merupakan cahaya dalam hati yang dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil.”
Sahl bin Abdullah, al Junaid, al-Harits al-Muhasibi dan Abu Said - rahimahumullah - mengatakan, “Ketakwaan adalah keseimbangan antara rahasia hati dengan lahiriah yang tampak.”
Kamis, 24 Juli 2014
Jangan Sampai Menyembah Diri Sendiri~
Melaksanakan Rukun 13 spti berdiri, rukuk, sujud dan duduk dan termasuk rukun-rukun qalbi dan qauli, itu baru dikatakan perbuatan sholat, tetapi manakah sholat itu dan siapakah pemilik sebenar sholat itu?
Bagi pendapat di kalangan ahli sufi, selagi seseorang itu tdk merasakan Lamaujuda illallah di dlm melaksanakan kewajiban sholat,
belumlah lagi dikatakan ia telah menunaikan kewajiban sholat. Justeru
itulah, mengapa ahli sufi tdk mengharapkan khusyuk atau perlu memahami
bacaan-bacaan sholat.
Apa yg penting ialah seseorang itu sampai kepada tingkatan rasa Lamaujuda ilallah bahwa tidak ada dirinya di dalam sholat itu kecuali Allah saja yang ada dan melaksanakan segala perbuatan sholat itu.
Seseorang yg masih merasakan ada wujudnya sendiri dan mengaku ia yang melakukan sholat, itulah tanda belum sampai kepada tauhid dan hanya menyembah dirinya sendiri.
Seseorang yg sampai kepada tingkatan tauhid, tidak ada perasaan baginya sebagai memiliki sholat itu. Di dalam Lamaujuda ilallah itulah dia memperolehi rasa ketenangan yang luarbiasa, tanpa gangguan-gangguan yang menghalang sholatnya, dan pada ketika itulah dikatakan sesungguhnya sholat itu adalah mikraj bagi setiap mukmin.
Tujuan sholat bagi ahli sufi bukanlah krn mendambakan ganjaran pahala, tetapi untuk menghilangkan perasaan wujudnya dan menyatakan Allah saja.
Sholat itu adalah milik Allah dan telah ada sejak di Azali lagi sebelum jasad manusia itu lahir utk mengerjakan perintah sholat. Maka sebelum manusia melaksanakan sholat, sholat itu telah pun terlebih dahulu ada di Lauh Mahfudz,
siapakah yg mengerjakannya? Fikirkanlah.... mengapakah Nabi Muhammad s.a.w. diundang naik ke Sidrahtul Muntaha untuk menerima anugerah sholat?
Memang benar Allah tdk dapat dilihat dengan mata kepala di dunia ini. Tetapi untuk menyatakan adanya Allah, dirikanlah sholat sebagaimana sabda Nabi s.a.w. “Sholatlah kalian seolah-olah kalian melihat Allah. Dan jika kalian tidak melihatNYA, sesungguhnya Allah melihat kalian!”
Jadikan “Barulah kita akan memahami bahwa sebenarnya melihat Allah itu hanyalah dg cmata hati dan bukan dengan mata kepala. Melihat Allah itulah hakikat sholat, manakala rukun 13nya adalah perbuatan sholat.
.............. Wallahualam .................
Apa yg penting ialah seseorang itu sampai kepada tingkatan rasa Lamaujuda ilallah bahwa tidak ada dirinya di dalam sholat itu kecuali Allah saja yang ada dan melaksanakan segala perbuatan sholat itu.
Seseorang yg masih merasakan ada wujudnya sendiri dan mengaku ia yang melakukan sholat, itulah tanda belum sampai kepada tauhid dan hanya menyembah dirinya sendiri.
Seseorang yg sampai kepada tingkatan tauhid, tidak ada perasaan baginya sebagai memiliki sholat itu. Di dalam Lamaujuda ilallah itulah dia memperolehi rasa ketenangan yang luarbiasa, tanpa gangguan-gangguan yang menghalang sholatnya, dan pada ketika itulah dikatakan sesungguhnya sholat itu adalah mikraj bagi setiap mukmin.
Tujuan sholat bagi ahli sufi bukanlah krn mendambakan ganjaran pahala, tetapi untuk menghilangkan perasaan wujudnya dan menyatakan Allah saja.
Sholat itu adalah milik Allah dan telah ada sejak di Azali lagi sebelum jasad manusia itu lahir utk mengerjakan perintah sholat. Maka sebelum manusia melaksanakan sholat, sholat itu telah pun terlebih dahulu ada di Lauh Mahfudz,
siapakah yg mengerjakannya? Fikirkanlah.... mengapakah Nabi Muhammad s.a.w. diundang naik ke Sidrahtul Muntaha untuk menerima anugerah sholat?
Memang benar Allah tdk dapat dilihat dengan mata kepala di dunia ini. Tetapi untuk menyatakan adanya Allah, dirikanlah sholat sebagaimana sabda Nabi s.a.w. “Sholatlah kalian seolah-olah kalian melihat Allah. Dan jika kalian tidak melihatNYA, sesungguhnya Allah melihat kalian!”
Jadikan “Barulah kita akan memahami bahwa sebenarnya melihat Allah itu hanyalah dg cmata hati dan bukan dengan mata kepala. Melihat Allah itulah hakikat sholat, manakala rukun 13nya adalah perbuatan sholat.
.............. Wallahualam .................
Shalat Qadha 5 Waktu di Jum’at Terakhir Bulan Ramadhan.
Shalat Qadha 5 Waktu di Jum’at Terakhir Bulan Ramadhan.
Mengenai shalat kafarat (mengqodlo sholat lima waktu) adalah kebiasaan yang dilakukan oleh beberapa sahabat, diantaranya oleh Ali bin Abi Thalib kw, dan terdapat sanad yang muttashil dan tsiqah kepada Ali bin Abi Thalib kw bahwa beliau melakukannya di Kufah. Dan yang memproklamirkan kembali hal ini adalah AL Imam Al Hafidh Al Musnid Abubakar bin Salim rahimahullah, yaitu dilakukan pada setelah shalat jumat, pada hari jumat terakhir di bulan ramadhan, mengQadha shalat lima waktu, Tujuannya adalah barangkali ada dalam hari hari kita shalat yang tertinggal, dan belum di Qadha, atau ada hal hal yang membuat batalnya shalat kita dan kita lupa akannya maka dilakukan shalat tersebut.
Mereka melakukan hal itu menilik keberkahan dan kemuliaan waktu hari jumat dan bulan Ramadhan. Adapun tatacaranya adalah sholat dengan niat qadha` . pertama sholat dhuhur, kemudian setelah salam langsung bangun sholat ashar qadha` dan begitu seterusnya sampai sholat subuh.
Bersabda Rasulullah SAW : " Barangsiapa selama hidupnya pernah meninggalkan sholat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka sholatlah di hari Jum'at terakhir bulan Ramadhan sebanyak 4 rakaat dengan 1x tasyahud (tasyahud akhir saja), tiap rakaat membaca 1 kali Fatihah kemudian surat Al-Qadar 15 X dan surat Al-Kautsar 15 X .
Niatnya: " Nawaitu Usholli arba'a raka'atin kafaratan limaa faatanii minash-shalati lillaahi ta'alaa"
Sayidina Abu Bakar ra. berkata " Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sholat tersebut sebagai kafaroh (pengganti) sholat 400 tahun dan menurut Sayidina Ali ra. sholat tersebut sebagai kafaroh 1000 tahun.Maka bertanyalah sahabat : umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya ?". Rasulullah SAW menjawab, " untuk kedua orangtuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang yang didekatnya/ lingkungannya. " (Syaikh Abdul Qadir Jailani qs)
Niatnya: ”Nawaitu Usholli arba’a raka’atin kafaratan limaa faatanii minash-shalati lillaahi ta’alaa”.
MengQadha shalat tentunya wajib hukumnya bagi mereka yang meninggalkan shalat, namun tidak ada larangannya melakukan shalat fardhu kembali karena hukum shalat i’adah adalah hal yang diperbolehkan. Dan selama hal ini pernah dilakukan oleh para sahabat maka pastilah Rasul saww. yang mengajarkannya, mengenai tak teriwayatkannya pada hadits shahih maka hal itu tak bisa menafikan hal ini selama terdapat sanad yang tsiqah dan muttashil pada sahabat atau tabiin.
Sebab hadits yang ada kini tak sampai 1% dari hadits hadits Rasul saww. yang ada dizaman sahabat, Anda bisa bayangkan Jika Imam Ahmad bin Hanbal telah hafal 1 juta hadits dengan sanad dan hukum matannya, namun ia hanya mampu menulis sekitar 20 ribu hadits pada musnadnya, sisanya tak tertulis, lalu kemana 980 ribu hadits lainnya?, sirna dan tak tertuliskan, demikian pula Imam Bukhari yang hafal lebih dari 600 ribu hadit dengan sanad dan hukum matannya namun beliau hanya mampu menuliskan sekitar 7000 hadits pada shahihnya dan beberapa hadits lagi pada buku-buku beliau lainnya, lalu kemana 593 ribu hadits lainnya? Sirna dan tak sempat tertuliskan, Namun ada tulisan tulisan dan riwayat sanad yang dihafal oleh
murid-murid mereka, disampaikan pula pada murid murid berikutnya, nah demikianlah sanad yang sampai saat ini tanpa teriwayatkan dalam hadits shahih. Tentunya jalur mereka yang tak sempat terdata secara umum, namun masih tersimpan jalurnya dengan riwayat tsiqah dan muttashil kepada para sahabat. Hal ini merupakan Ikhtilaf, boleh mengamalkannya dan boleh meninggalkannya.
Setelah sholat sehabis salam membaca shalawat Nabi sebanyak 100 kali dengan shalawat apa saja, membaca Basmalah, Hamdalah, Istighfar, Yyahadat dan Doa ini tiga kali :
اللهم يا من لا تنفعك طاعتي ولا تضرك معصيتي تقبل مني ما لا ينفعك واغفر لي ما لا يضرك، يا من إذا وعد وفى، وإذا توعد تجاوز وعفا، اغفرلعبد ظلم نفسه، وأسألك اللهم إني أعوذ بك من بطر الغنى وجهد الفقر، إلهي خلقتني ولم أك شيئا، ورزقتني ولم أك شيئا، وارتكبت المعاصي، فإني مقر لك بذنوبي، فإن عفوت عني فلا ينقص من ملكك شيئا، وإن عذبتني فلا يزيد في سلطانك شيئا، إلهي أنت تجد من تعذبه غيري وأنا لا أجد من يرحمني غيرك اغفر لي ما بيني وبينك و اغفر لي ما بيني وبين خلقك، يا أرحم الراحمين ويا رجاء السائلين ويا أمان الخائفين ارحمني برحمتك الواسعة، أنت أرحم الراحمين يا رب العالمين، اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات وتابع بيننا وبينهم بالخيرات، رب اغفر وارحم وأنت أرحم الراحمين، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسلما كثيرا.
Allahumma yaa man laa tan-fa’uka thaa’atii wa laa tadhurruka ma’shiyatii taqabbal minnii maa laa yanfa’uka waghfirlii maa laa yadhurruka yaa man idzaa wa ‘ada wa fii, wa idzaa tawa’ada tajaawaza wa’afaa ighfirli’abdin zhaalama nafsahu, wa as’aluka. Allahumma innii a’uudzubika min bathril ghinaa wa jahdil faqri, ilaahii khalaqtanii wa lam aku syai’an, wa razaqtanii wa lam aku syaii’in, wartakabtu al-ma’ashii, fa-innii muqirun laka bi-dzunuubii,. Fa in ‘afawta ‘annii falaa yanqushu min mulkika syai’an, wa-in adzdzaabtanii falaa yaziidu fii sulthaanika syay-’an, Ilaahii anta tajidu man tu’adzdzibuhu ghayrii wa-anaa laa ajidu man yarhamanii ghaiyraka ighfirlii maa baynii wa baynaka waghfirlii ma baynii wa bayna khalaqika yaa arhamar rahiimiin wa yaa raja’a sa’iliin wa yaa amaanal khaifiina irhamnii birahmatikaal waasi’aati anta arhamur rahimiin yaa rabbal ‘aalaamiin. Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal musliimina wal muslimaat wa tabi’ baynana wa baynahum bil khaiyrati rabbighfir warham wa anta khairur-rahimiin wa shallallaahu ‘alaa sayidina Muhammadin wa ‘alaa alihii wa shahbihi wasallama tasliiman katsiiran amiin. (3kali)
Artinya; Yaa Allah, yang mana segala ketaatanku tiada artinya bagiMu dan segala perbuatan maksiatku tiada merugikanMu. Terimalah diriku yang tiada artinya bagiMu. Dan ampunilah aku yang mana ampunanMu itu tidak merugikan bagiMu. Ya Allah, bila Engkau berjanji pasti Engkau tepati janjiMu. Dan apabila Engkau mengancam, maka Engkau mau mengampuni ancamanMu. Ampunilah hambaMu ini yang telah menyesatkan diriku sendiri, aku telah Engkau beri kekayaan dan aku mengumpat di saat aku Engkau beri miskin. Wahai Tuhanku Engkau ciptakan aku dan aku tak berarti apapun. Dan Engkau beri aku rizki sekalipun aku tak berarti apa-apa, dan aku lakukan perbuatan semua ma’siat dan aku mengaku padaMu dengan segala dosa-dosaku. Apabila Engkau mengampuniku tidak mengurangi keagunganMu sedikitpun, dan bila Kau siksa aku maka tidak akan menambah kekuasaanMu, wahai Tuhanku, bukankah masih banyak orang yang akan Kau siksa selain aku. Namun bagiku hanya Engkau yang dapat mengampuniku. Ampunilah dosa-dosaku kepadaMu. Dan ampunilah segala kesalahanku di antara aku dengan hamba-hambaMu. Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih dan tempat pengaduan semua pemohon dan tempat berlindung bagi orang yang takut. Kasihanilah aku dengan pengampunanMu yang luas. Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang dan Engkaulah yang memelihara seluruh alam yang ada. Ampunilah segala dosa-dosa orang mu’min dan mu’minat, muslimin dan muslimat dan satukanlah aku dengan mereka dalam kebaikan. Wahai Tuhanku ampunilah dan kasihilah. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Washollallahu ‘Ala sayyidina Muhammadin wa’ala alihi wasohbihi wasalim tasliiman kasiira. Amin. Diambil dari kitab “Majmu’atul Mubarakah”, susunan Syekh Muhammad Shodiq Al-Qahhawi.
(oleh: Habib Munzir al-Musawa dan dari berbagai sumber lainnya.)
Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus.
Mengenai shalat kafarat (mengqodlo sholat lima waktu) adalah kebiasaan yang dilakukan oleh beberapa sahabat, diantaranya oleh Ali bin Abi Thalib kw, dan terdapat sanad yang muttashil dan tsiqah kepada Ali bin Abi Thalib kw bahwa beliau melakukannya di Kufah. Dan yang memproklamirkan kembali hal ini adalah AL Imam Al Hafidh Al Musnid Abubakar bin Salim rahimahullah, yaitu dilakukan pada setelah shalat jumat, pada hari jumat terakhir di bulan ramadhan, mengQadha shalat lima waktu, Tujuannya adalah barangkali ada dalam hari hari kita shalat yang tertinggal, dan belum di Qadha, atau ada hal hal yang membuat batalnya shalat kita dan kita lupa akannya maka dilakukan shalat tersebut.
Mereka melakukan hal itu menilik keberkahan dan kemuliaan waktu hari jumat dan bulan Ramadhan. Adapun tatacaranya adalah sholat dengan niat qadha` . pertama sholat dhuhur, kemudian setelah salam langsung bangun sholat ashar qadha` dan begitu seterusnya sampai sholat subuh.
Bersabda Rasulullah SAW : " Barangsiapa selama hidupnya pernah meninggalkan sholat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka sholatlah di hari Jum'at terakhir bulan Ramadhan sebanyak 4 rakaat dengan 1x tasyahud (tasyahud akhir saja), tiap rakaat membaca 1 kali Fatihah kemudian surat Al-Qadar 15 X dan surat Al-Kautsar 15 X .
Niatnya: " Nawaitu Usholli arba'a raka'atin kafaratan limaa faatanii minash-shalati lillaahi ta'alaa"
Sayidina Abu Bakar ra. berkata " Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sholat tersebut sebagai kafaroh (pengganti) sholat 400 tahun dan menurut Sayidina Ali ra. sholat tersebut sebagai kafaroh 1000 tahun.Maka bertanyalah sahabat : umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya ?". Rasulullah SAW menjawab, " untuk kedua orangtuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang yang didekatnya/ lingkungannya. " (Syaikh Abdul Qadir Jailani qs)
Niatnya: ”Nawaitu Usholli arba’a raka’atin kafaratan limaa faatanii minash-shalati lillaahi ta’alaa”.
MengQadha shalat tentunya wajib hukumnya bagi mereka yang meninggalkan shalat, namun tidak ada larangannya melakukan shalat fardhu kembali karena hukum shalat i’adah adalah hal yang diperbolehkan. Dan selama hal ini pernah dilakukan oleh para sahabat maka pastilah Rasul saww. yang mengajarkannya, mengenai tak teriwayatkannya pada hadits shahih maka hal itu tak bisa menafikan hal ini selama terdapat sanad yang tsiqah dan muttashil pada sahabat atau tabiin.
Sebab hadits yang ada kini tak sampai 1% dari hadits hadits Rasul saww. yang ada dizaman sahabat, Anda bisa bayangkan Jika Imam Ahmad bin Hanbal telah hafal 1 juta hadits dengan sanad dan hukum matannya, namun ia hanya mampu menulis sekitar 20 ribu hadits pada musnadnya, sisanya tak tertulis, lalu kemana 980 ribu hadits lainnya?, sirna dan tak tertuliskan, demikian pula Imam Bukhari yang hafal lebih dari 600 ribu hadit dengan sanad dan hukum matannya namun beliau hanya mampu menuliskan sekitar 7000 hadits pada shahihnya dan beberapa hadits lagi pada buku-buku beliau lainnya, lalu kemana 593 ribu hadits lainnya? Sirna dan tak sempat tertuliskan, Namun ada tulisan tulisan dan riwayat sanad yang dihafal oleh
murid-murid mereka, disampaikan pula pada murid murid berikutnya, nah demikianlah sanad yang sampai saat ini tanpa teriwayatkan dalam hadits shahih. Tentunya jalur mereka yang tak sempat terdata secara umum, namun masih tersimpan jalurnya dengan riwayat tsiqah dan muttashil kepada para sahabat. Hal ini merupakan Ikhtilaf, boleh mengamalkannya dan boleh meninggalkannya.
Setelah sholat sehabis salam membaca shalawat Nabi sebanyak 100 kali dengan shalawat apa saja, membaca Basmalah, Hamdalah, Istighfar, Yyahadat dan Doa ini tiga kali :
اللهم يا من لا تنفعك طاعتي ولا تضرك معصيتي تقبل مني ما لا ينفعك واغفر لي ما لا يضرك، يا من إذا وعد وفى، وإذا توعد تجاوز وعفا، اغفرلعبد ظلم نفسه، وأسألك اللهم إني أعوذ بك من بطر الغنى وجهد الفقر، إلهي خلقتني ولم أك شيئا، ورزقتني ولم أك شيئا، وارتكبت المعاصي، فإني مقر لك بذنوبي، فإن عفوت عني فلا ينقص من ملكك شيئا، وإن عذبتني فلا يزيد في سلطانك شيئا، إلهي أنت تجد من تعذبه غيري وأنا لا أجد من يرحمني غيرك اغفر لي ما بيني وبينك و اغفر لي ما بيني وبين خلقك، يا أرحم الراحمين ويا رجاء السائلين ويا أمان الخائفين ارحمني برحمتك الواسعة، أنت أرحم الراحمين يا رب العالمين، اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات وتابع بيننا وبينهم بالخيرات، رب اغفر وارحم وأنت أرحم الراحمين، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسلما كثيرا.
Allahumma yaa man laa tan-fa’uka thaa’atii wa laa tadhurruka ma’shiyatii taqabbal minnii maa laa yanfa’uka waghfirlii maa laa yadhurruka yaa man idzaa wa ‘ada wa fii, wa idzaa tawa’ada tajaawaza wa’afaa ighfirli’abdin zhaalama nafsahu, wa as’aluka. Allahumma innii a’uudzubika min bathril ghinaa wa jahdil faqri, ilaahii khalaqtanii wa lam aku syai’an, wa razaqtanii wa lam aku syaii’in, wartakabtu al-ma’ashii, fa-innii muqirun laka bi-dzunuubii,. Fa in ‘afawta ‘annii falaa yanqushu min mulkika syai’an, wa-in adzdzaabtanii falaa yaziidu fii sulthaanika syay-’an, Ilaahii anta tajidu man tu’adzdzibuhu ghayrii wa-anaa laa ajidu man yarhamanii ghaiyraka ighfirlii maa baynii wa baynaka waghfirlii ma baynii wa bayna khalaqika yaa arhamar rahiimiin wa yaa raja’a sa’iliin wa yaa amaanal khaifiina irhamnii birahmatikaal waasi’aati anta arhamur rahimiin yaa rabbal ‘aalaamiin. Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal musliimina wal muslimaat wa tabi’ baynana wa baynahum bil khaiyrati rabbighfir warham wa anta khairur-rahimiin wa shallallaahu ‘alaa sayidina Muhammadin wa ‘alaa alihii wa shahbihi wasallama tasliiman katsiiran amiin. (3kali)
Artinya; Yaa Allah, yang mana segala ketaatanku tiada artinya bagiMu dan segala perbuatan maksiatku tiada merugikanMu. Terimalah diriku yang tiada artinya bagiMu. Dan ampunilah aku yang mana ampunanMu itu tidak merugikan bagiMu. Ya Allah, bila Engkau berjanji pasti Engkau tepati janjiMu. Dan apabila Engkau mengancam, maka Engkau mau mengampuni ancamanMu. Ampunilah hambaMu ini yang telah menyesatkan diriku sendiri, aku telah Engkau beri kekayaan dan aku mengumpat di saat aku Engkau beri miskin. Wahai Tuhanku Engkau ciptakan aku dan aku tak berarti apapun. Dan Engkau beri aku rizki sekalipun aku tak berarti apa-apa, dan aku lakukan perbuatan semua ma’siat dan aku mengaku padaMu dengan segala dosa-dosaku. Apabila Engkau mengampuniku tidak mengurangi keagunganMu sedikitpun, dan bila Kau siksa aku maka tidak akan menambah kekuasaanMu, wahai Tuhanku, bukankah masih banyak orang yang akan Kau siksa selain aku. Namun bagiku hanya Engkau yang dapat mengampuniku. Ampunilah dosa-dosaku kepadaMu. Dan ampunilah segala kesalahanku di antara aku dengan hamba-hambaMu. Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih dan tempat pengaduan semua pemohon dan tempat berlindung bagi orang yang takut. Kasihanilah aku dengan pengampunanMu yang luas. Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang dan Engkaulah yang memelihara seluruh alam yang ada. Ampunilah segala dosa-dosa orang mu’min dan mu’minat, muslimin dan muslimat dan satukanlah aku dengan mereka dalam kebaikan. Wahai Tuhanku ampunilah dan kasihilah. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Washollallahu ‘Ala sayyidina Muhammadin wa’ala alihi wasohbihi wasalim tasliiman kasiira. Amin. Diambil dari kitab “Majmu’atul Mubarakah”, susunan Syekh Muhammad Shodiq Al-Qahhawi.
(oleh: Habib Munzir al-Musawa dan dari berbagai sumber lainnya.)
Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus.
syariat hanya berupa hukum atau aturan.
Syariat
bisa diibaratkan sebagai jasmani tempat ruh berada. Sementara hakikat
ibarat ruh yang menggerakkan badan. Keduanya sangat berhubungan erat dan
tidak bisa dipisahkan, badan memerlukan ruh untuk hidup sementara ruh
memerlukan badan agar memiliki wadah.
Seorang ulama mengibaratkan syariat laksana baju sedangkan hakikat ibarat badan. Artinya penting merawat tubuh sebagai perhatian utama sedangkan merawat baju juga tidak boleh dilupakan.
Imam Malik Ra. mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya. “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan (zindiq). Sedang bersyariat tanpa hakikat adalah kesia-siaan (fasiq). Siapa yang menghimpunkan keduanya maka itulah hakikat/kebenaran (haq).”
Syariat adalah hukum-hukum atau aturan-aturan dari Allah yang disampaikan oleh Nabi Saw. untuk dijadikan pedoman bagi umat manusia, baik aturan ibadah maupun yang lainnya. Apa yang tertulis dalam al-Quran hanya berupa pokok ajaran dan bersifat universal. Karenanya Nabi Saw. yang merupakan orang paling dekat dengan Allah dan paling memahami al-Quran menjelaskan aturan pokok tersebut lewat ucapan dan tindakan. Yang kemudian para sahabat menjadikannya sebagai pedoman kedua yang dikenal sebagai hadits atau as-Sunnah.
Sabda-sabda Nabi Saw. itu bernilai tinggi dan masih sarat dengan simbol-simbol yang memerlukan keahlian untuk menafsirkannya. Para sahabat sebagai orang-orang pilihan yang dekat dengan Nabi Saw. merupakan orang yang paling mengerti dan memahaminya. Penafsiran dari para sahabat itulah kemudian diterjemahkan dalam bentuk hukum-hukum oleh generasi selanjutnya.
Para ulama sebagai pewaris ilmu Nabi Saw. melakukan ijtihad, menggali sumber utama hukum Islam kemudian menterjemahkan sesuai dengan perkembangan zaman di masanya. Maka lahirlah cabang-cabang ilmu yang digunakan sampai generasi sekarang. Sumber hukum Islam itu kemudian dikenal memiliki 4 pilar yaitu; al-Quran, al-Hadits, al-Ijma’ dan al-Qiyas. Itulah yang kita kenal dengan syariat Islam.
Untuk melaksanakan syariat Islam terutama bidang ibadah harus dengan metode yang tepat sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dilakukan Rasulullah Saw. sehingga hasilnya akan sama. Sebagai contoh sederhana, Allah memerintahkan kita untuk shalat, kemudian Nabi Saw. melaksanakannya, para sahabat pun mengikuti. Nabi Saw. bersabda: “Shalatlah kalian seperti aku shalat.”
Tata cara shalat Nabi Saw. yang disaksikan oleh sahabat dan juga dilaksanakan oleh sahabat kemudian dijadikan aturan oleh para ulama, maka kita kenal syarat dan rukun shalat. Kalau hanya sekedar shalat maka syarat dan rukun itu bisa menjadi pedoman untuk seluruh Muslimin agar shalatnya standar sesuai dengan shalat Nabi Saw. Akan tetapi, yang demikian itu belum diajarkan tata-cara supaya khusyuk dalam shalat dan mencapai ke tahap makrifat.
Syariat tidak mengajarkan hal-hal seperti itu karena syariat hanya berupa hukum atau aturan. Untuk bisa melaksanakan syariat dengan benar, ruh ibadah itu hidup, diperlukan metodologi pelaksanaan teknisnya yang dikenal dengan “thariqah”, jalan menuju Allah. Jadi tarekat/thariqah itu pada awalnya bukan perkumpulan orang-orang mengamalkan dzikir. Nama tarekat diambil dari sebuah istilah di zaman Nabi Saw., yaitu Thariqat as-Sirriyyah yang bermakna Jalan Rahasia atau Amalan Rahasia untuk mencapai kesempurnaan ibadah.
Munculnya perkumpulan tarekat di kemudian hari adalah untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman agar orang-orang dalam ibadah lebih teratur, tertib dan terorganisir. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw. jauh hari telah mengatakan: “Kebaikan yang tidak terorganisir akan terkalahkan oleh kejahatan yang terorganisir.”
Kalau ajaran-ajaran agama yang kita kenal dengan syariat itu tidak dilaksanakan dengan metode yang benar (thariqatullah) maka ibadah akan menjadi kosong, hanya sekedar memenuhi kewajiban agama saja. Shalat hanya mengikuti syarat-rukun dengan gerak kosong belaka, badan bergerak mengikuti gerakan shalat namun hati berkelana ke mana-mana. Sepanjang shalat akan muncul berjuta khayalan karena ruh masih di alam dunia belum sampai ke alam Rabbani.
Di sinilah sebenarnya letak kelalaian kaum Muslimin pada umumnya, terlalu disibukkan aturan syariat dan lupa akan ilmu untuk melaksanakan syariat itu dengan benar yaitu tarekat. Ketika ilmu tarekat dilupakan maka pelaksanaan ibadah menjadi kacau balau. Badan seolah-olah khusyuk beribadah sementara hatinya lalai, menari-nari di alam duniawi dan yang didapat dari shalat itu bukan pahala tapi ancaman neraka Wail.
Lalai di sini bermaksud sepanjang ibadah hatinya tidak mengingat Allah. Bagaimana mungkin dalam shalat bisa mengingat Allah kalau di luar shalat tidak dilatih berdzikir (mengingat) Allah? Dan bagaimana mungkin seorang bisa berdzikir kalau jiwanya belum disucikan?
Sebagai latihannya, maka urutan yang sesuai dengan perintah Allah Swt. dalam surat al-A’la adalah: “Beruntunglah orang yang telah disucikan jiwanya, kemudian dia berdzikir menyebut nama Tuhan dan kemudian menegakkan shalat.”
Alhasil, sebenarnya tidak ada pemisahan antara keempat unsur dalam Islam; Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat. Keempatnya adalah Satu paduan, harus berjalan secara sinergi dan bersamaan. Tidak boleh terpisah antara satu dengan yang lainnya. Wallahu A’lam.
Seorang ulama mengibaratkan syariat laksana baju sedangkan hakikat ibarat badan. Artinya penting merawat tubuh sebagai perhatian utama sedangkan merawat baju juga tidak boleh dilupakan.
Imam Malik Ra. mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya. “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan (zindiq). Sedang bersyariat tanpa hakikat adalah kesia-siaan (fasiq). Siapa yang menghimpunkan keduanya maka itulah hakikat/kebenaran (haq).”
Syariat adalah hukum-hukum atau aturan-aturan dari Allah yang disampaikan oleh Nabi Saw. untuk dijadikan pedoman bagi umat manusia, baik aturan ibadah maupun yang lainnya. Apa yang tertulis dalam al-Quran hanya berupa pokok ajaran dan bersifat universal. Karenanya Nabi Saw. yang merupakan orang paling dekat dengan Allah dan paling memahami al-Quran menjelaskan aturan pokok tersebut lewat ucapan dan tindakan. Yang kemudian para sahabat menjadikannya sebagai pedoman kedua yang dikenal sebagai hadits atau as-Sunnah.
Sabda-sabda Nabi Saw. itu bernilai tinggi dan masih sarat dengan simbol-simbol yang memerlukan keahlian untuk menafsirkannya. Para sahabat sebagai orang-orang pilihan yang dekat dengan Nabi Saw. merupakan orang yang paling mengerti dan memahaminya. Penafsiran dari para sahabat itulah kemudian diterjemahkan dalam bentuk hukum-hukum oleh generasi selanjutnya.
Para ulama sebagai pewaris ilmu Nabi Saw. melakukan ijtihad, menggali sumber utama hukum Islam kemudian menterjemahkan sesuai dengan perkembangan zaman di masanya. Maka lahirlah cabang-cabang ilmu yang digunakan sampai generasi sekarang. Sumber hukum Islam itu kemudian dikenal memiliki 4 pilar yaitu; al-Quran, al-Hadits, al-Ijma’ dan al-Qiyas. Itulah yang kita kenal dengan syariat Islam.
Untuk melaksanakan syariat Islam terutama bidang ibadah harus dengan metode yang tepat sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dilakukan Rasulullah Saw. sehingga hasilnya akan sama. Sebagai contoh sederhana, Allah memerintahkan kita untuk shalat, kemudian Nabi Saw. melaksanakannya, para sahabat pun mengikuti. Nabi Saw. bersabda: “Shalatlah kalian seperti aku shalat.”
Tata cara shalat Nabi Saw. yang disaksikan oleh sahabat dan juga dilaksanakan oleh sahabat kemudian dijadikan aturan oleh para ulama, maka kita kenal syarat dan rukun shalat. Kalau hanya sekedar shalat maka syarat dan rukun itu bisa menjadi pedoman untuk seluruh Muslimin agar shalatnya standar sesuai dengan shalat Nabi Saw. Akan tetapi, yang demikian itu belum diajarkan tata-cara supaya khusyuk dalam shalat dan mencapai ke tahap makrifat.
Syariat tidak mengajarkan hal-hal seperti itu karena syariat hanya berupa hukum atau aturan. Untuk bisa melaksanakan syariat dengan benar, ruh ibadah itu hidup, diperlukan metodologi pelaksanaan teknisnya yang dikenal dengan “thariqah”, jalan menuju Allah. Jadi tarekat/thariqah itu pada awalnya bukan perkumpulan orang-orang mengamalkan dzikir. Nama tarekat diambil dari sebuah istilah di zaman Nabi Saw., yaitu Thariqat as-Sirriyyah yang bermakna Jalan Rahasia atau Amalan Rahasia untuk mencapai kesempurnaan ibadah.
Munculnya perkumpulan tarekat di kemudian hari adalah untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman agar orang-orang dalam ibadah lebih teratur, tertib dan terorganisir. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw. jauh hari telah mengatakan: “Kebaikan yang tidak terorganisir akan terkalahkan oleh kejahatan yang terorganisir.”
Kalau ajaran-ajaran agama yang kita kenal dengan syariat itu tidak dilaksanakan dengan metode yang benar (thariqatullah) maka ibadah akan menjadi kosong, hanya sekedar memenuhi kewajiban agama saja. Shalat hanya mengikuti syarat-rukun dengan gerak kosong belaka, badan bergerak mengikuti gerakan shalat namun hati berkelana ke mana-mana. Sepanjang shalat akan muncul berjuta khayalan karena ruh masih di alam dunia belum sampai ke alam Rabbani.
Di sinilah sebenarnya letak kelalaian kaum Muslimin pada umumnya, terlalu disibukkan aturan syariat dan lupa akan ilmu untuk melaksanakan syariat itu dengan benar yaitu tarekat. Ketika ilmu tarekat dilupakan maka pelaksanaan ibadah menjadi kacau balau. Badan seolah-olah khusyuk beribadah sementara hatinya lalai, menari-nari di alam duniawi dan yang didapat dari shalat itu bukan pahala tapi ancaman neraka Wail.
Lalai di sini bermaksud sepanjang ibadah hatinya tidak mengingat Allah. Bagaimana mungkin dalam shalat bisa mengingat Allah kalau di luar shalat tidak dilatih berdzikir (mengingat) Allah? Dan bagaimana mungkin seorang bisa berdzikir kalau jiwanya belum disucikan?
Sebagai latihannya, maka urutan yang sesuai dengan perintah Allah Swt. dalam surat al-A’la adalah: “Beruntunglah orang yang telah disucikan jiwanya, kemudian dia berdzikir menyebut nama Tuhan dan kemudian menegakkan shalat.”
Alhasil, sebenarnya tidak ada pemisahan antara keempat unsur dalam Islam; Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat. Keempatnya adalah Satu paduan, harus berjalan secara sinergi dan bersamaan. Tidak boleh terpisah antara satu dengan yang lainnya. Wallahu A’lam.
Terbitnya Cahaya-cahaya
“Tempat terbitnya cahaya-cahaya adalah qalbu-qalbu dan rahasia qalbu”
Kenapa demikian? Karena sumbernya adalah pemahaman atau pengetahuan. Pemahaman itu ada pada qalbu, sedangkan munculnya pengetahuan adalah dari rahasia qalbu atau rahasia batin (asrar).
Dalam kitabnya, Syeikh Abul abbas al-Hadhramy menegaskan, “Pemahaman nuur itu menurut limpahan anugerah yang memancar di qalbu dan menurut kadar cahaya dalam batinnya qalbu.“ Beliau juga mengatakan, “Cahaya itu beragam dan berbeda-beda: Ada cahaya watak diri, ada cahaya akal, ada cahaya ruh, ada cahaya qalbu dan ada cahaya titik hitam dalam qalbu (suwaidaa’ul qalb), ada pula cahaya rahasia batin (sirr), dan cahaya dalam rahasia batin (sirr) itulah yang paling agung dan paling sempurna.
Setiap cahaya dari semua cahaya itu ada yang disebut dengan cahaya penakwilan (cahaya kecerdasan), ada cahaya pelimpahan anugerah (cahaya tanziil), ada cahaya transformatif (cahaya menuju yang lebih terang) dan cahaya perpindahan (cahaya tanqil).
Setiap tahap (maqam ruhani) ada penjelasan yang tak terjangkau oleh batin kita apalagi membuat batasan garis, “Dan tidak ada yang tahu pasukan-pasukan Tuhanmu kecuali Dia”.
Beliau melanjutkan:
“Ada cahaya yang dititipkan dalam qalbu, cahaya itu melimpah datang dari khazanah ghaib tersembunyi.”
Syeikh Zarruq dalam syarah Al-Hikam ini mengatakan, “Cahaya yang dititipkan dalam qalbu itu adalah yang tercetak dalam batin qalbu yang melimpah dari cahaya Musyahadah di Hari Perjanjian Azali :
“Bukankah Aku Tuhanmu? Mereka menjawab, “Benar (Engkaulah Tuhanku)”. (Al-A’raaf: 7)
Cahaya itulah yang diibaratkan sebagai cahaya mata kita ketika mata memandang. Namun datangnya cahaya itu setelah adanya cahaya Ilham yang memancar dari khazanah rahasia tersembunyi (khazainul ghuyub)….”.
Beliau melanjutkan:
“Ada cahaya yang tersingkap padamu melalui ciptaan-ciptaannya, dan ada cahaya yang tersingkap padamu melalui Sifat-sifatNya.”
Dua model cahaya yang tersingkap, dan keduanya bersifat batin semua. Bila muncul cahaya yang tersingkap dari perspektif ciptaan-ciptaanNya, maka anda akan melihat cahaya itu dengan suatu efek bahwa ciptaan-ciptaan itu hanyalah sesuatu yang serba kurang dan sirna di dunia ini. Tak ada yang abadi, kekal dan sempurna.
Dari sanalah seseorang menjadi penuh harap dan rasa takut, lalu mencari selamat dan pahala karena anda tahu sebenarnya dunia itu seperti apa. Pada saat yang sama anda tahu akhirat dan kekekalannya dan apa yang disediakan Allah Ta’ala pada orang yang patuh dan taat padaNya dan apa yang diancamkan pada orang yang maksiat padaNya.
Sebagian para Sufi menegaskan, “Apabila iman ada di luar qalbu, yakni pada al-Fuad, maka orang beriman mencintai Allah dengan cinta yang setengah-tengah saja, bila iman sudah merasuk ke dalam qalbu yaitu masuk pada titik hitamnya, ia akan mencintai Allah dengan cinta yang sangat kuat.”
Namun hati-hati, cahaya itu bisa menjadi hijab, sebagaimana ciptaan ini bisa jadi hijab. Lalu Ibnu Athaillah as-Sakandary menegaskan:
“Kadang qalbu tercengang (berhenti) oleh pesona cahaya, sebagaimana nafsu terhijab oleh alam kasat mata.”
Kadang memang demikian, karena itu harus hati-hati, jangan sampai cahaya Allah Swt, justru menjadi tirai antara anda dengan Allah Swt, karena indahnya pesona ruhani, membuat anda alpa dan kehilangan pada Sang Pemberi Cahaya.
Model orang yang terpesona oleh cahaya dan terhenti ini ada tiga faktor:
Sangat senang dan suka cita dengan cahaya, asyik maksyuk dengan fenomena cahaya.
Menenggelamkan diri pada indahnya cahaya batin dan tidak menjenguk apa yang ada dibalik atau sesudahnya (Allah Sang Maha Pencahaya)
Memandang cahaya itu sebagai tahap final dari perjalanan ruhaninya.
Karena itu Ibnul Jalla’, ra, menegaskan, “Siapa yang hasratnya terhenti pada selain Allah Swt, ia kehilangan Allah Swt. Karena Allah Swt Maha Besar, dan jauh untuk disertai yang lainNya.
Karena itu, disebutkan oleh Syeikh Ahmad ar-Rifa’y, bahwa kaum ‘arifin bisa terkena istidroj bila terhenti pada kema’rifatannya, bukan pada Sang Ma’ruf (Allah Yang dimakrifati).
Dengan begitu:
Ketika anda berdzikir, jangan terhenti pada indah dan nikmatnya dzikir, lalu lupa pada Yang anda Ingat (Allah Swt),
Ketika anda beristiqomah jangan terpaku pada karomahnya, alpa pada Dia yang mencintai Istiqomah anda.
Ketika anda berdoa, gembira pada wujud ijabahNYa, lupa pada agung takdir munajat anda kepadaNya.
Beliau Ibnu Athaillah as-Sakandary menyebutkan hikmah dibalik ditutupnya rahasia-rahasia para wali dari umumnya manusia, dan tidak muncul di tengah publik.
“Allah Swt menutupi cahaya-cahaya rahasia batin dengan alam lahiriyah, dalam rangka memuliakannya agar tidak tergelar di dalam wujud nyata (tampak). Sekaligus terhindarkan dari bahasa popularitas.”
Betapa mulianya cahaya-cahaya para ‘arifun dan para auliya’ itu, hingga Allah harus merahasiakannya, dibalik tampilan biasa, manusiawi dan alamiah belaka. Ibarat bintang di langit semakin tinggi semakin tidak tampak dan tidak bisa dipandang.
Bahkan orang-orang kafir pun terkecoh, ketika memandang para Nabi as. Ketika mereka mengatakan, “Ini tak lebih dari manusia seperti kalian, yang makan seperti makanan kalian dan minum seperti minuman kalian. “ (Al-Mu’minun 33), “Mereka mengatakan, Rasul macam apa ini yang makan makanan dan jalan di pasar-pasar?” (Al-Furqon: 7)
Karena itu mengenal wali, menurut Syeikh Abul Abbas Al-Mursy, lebih sulit disbanding mengenal Allah Swt. Karena Allah Ta’ala sangat jelas dengan keparipurnaan dan keindahanNya, sedangkan para wali, bagaimana anda tahu, mereka makan seperti anda, dan minum seperti minuman anda.”
Lalu Ibnu Athaillah menegaskan, “Bila Allah hendak mengenalkan anda pada seorang wali dari wali-waliNya, maka wujud manusiawinya disingkap pada anda, lalu dipersaksikan wujud keistemewaannya.”
SIAPAKAH KEKASIH ALLAH YANG SESUNGGUHNYA
سبحان من ستر سر الخصوصية بظهور وصف البشرية، وظهر بعظمة الربوبية فى اظهار العبودية
"Maha suci Dia Yang menyembunyikan keistimewaan hamba-hamba pilihan-Nya di balik sifat manusiawi yang ada pada diri mereka. Dan (sebaliknya) menampakkan eksistensi sifat ketuhanan di balik kehambaan mahluk-Nya." Di dunia ini, beragam mahluk hidup beriringan. Ada yang iman, ada juga yang kufur. Yang beriman pun bertingkat-tingkat. Iman seseorang tidak sama satu sama lain. Begitu seterusnya. Di antara hamba-hamba Allah, ada yang di pilih-Nya sebagai orang terdekat. Merekalah kelompok yang imannya kuat. Yang ketika sesuatu apapun menimpanya, baik atau buruk, mereka tetap menganggap sebagai nikmat. Kemudian Allah menganugerahi mereka dengan keistimewaan yang tidak dianugerahkan kepada yang lain. Merekalah wali-wali Allah, yang tak ada rasa takut yang berlebih dan tak pula merasa susah. Begitu tingginya derajat auliya' di sisi-Nya, sampai-sampai Allah memuji mereka di dalam Al-qur'an: الا ان اولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون Dalam hadits qudsi dikatakan: من آذانى وليا فقد آذنته بالحرب "Barang siapa yang memusuhi seorang wali, maka Aku kabarkan perang atasnya." Dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa memusuhi wali berarti menanti kerusakan pada diri. Jika tidak di dunia, kerusakan itu akan menunggu di alam kedua. Itulah yang akan terjadi jika kita lancang terhadap kekasih-Nya. Lantas kitapun ingin tahu siapakah yang termasuk wali yang sedang dibicarakan di atas? Masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa wali pasti mempunyai sifat yang berbeda dengan manusia biasa. Dia bisa terbang, berjalan di air, kebal senjata tajam, dll. Seakan tidak terima jika ada manusia yang juga makan, minum, hidup kekurangan, dikatakan seorang wali. "Apa mungkin wali seperti itu ?" Dahulu, nabi juga banyak yang tidak mau menirimanya sebagai utusan hanya karena beliau makan, minum, masuk ke pasar, dan melakukan sifat-sifat manusiawi lainnya. Pada akhirnya yang mampu menyadarkan hanyalah firman Allah : وقالوا ما ل هذا الرسول يأكل الطعام ويمشى فى الأسواق، لو لا أنزل اليه ملك فيكون معه نذيرا Tetapi tetap saja orang awam belum bisa menerima sepenuhnya. Oleh karena itulah, Syeikh Ibn 'Atho'illah As-Sakandari berkata: سبحان من ستر سر الخصوصية بظهور وصف البشرية Wali memang diberi keistimewaan dan kekhushusiyahan yang tidak dimiliki orang lain. Hanya saja, keistimewaan itu pasti di tutupi Allah. Yaitu dengan memyembunyikan keistimewaan tersebut di balik sifat kemanusiaan orang yang dipilih-Nya (wali-Nya). Tugas wali tersebut akan lebih sempurna justru ketika ia bisa menutupi jati dirinya. Ada beberapa wali abdal yang bertempat di Syam. Mereka diangkat sedemikian rupa derajatnya bukan semata-mata karena ibadah. Akan tetapi di dadanya terdapat sifat rahmah. Sebab mereka, kita terus diluaskan rizki. Sebab mereka pula, kita terus dirahmati. به ترزقون وبه ترحمون *** Satu lagi Hikmah Ilahiyah yang ada pada hamba-Nya yang Sholeh. Yaitu seorang wali diberi pengetahuan tentang hal-hal yang tidak diketahui orang lain. Di sini kita kenal dengan istilah hal ghaib. Di dalam dunia tasauf, dikenal istilah orang awam dan orang khosh. Dari sisi kuantitas, orang awam jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang telah mencapai derajat khosh. Sebab itulah, yang diwajibkan oleh Syari' - dalam hal ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala - untuk dilakukan adalah syari'at. Tidak Thoriqot, bukan pula Hakikat. Hal-hal yang bersifat ghaib sengaja disamarkan dari pandangan orang awam. Hal ini dimaksudkan agar syari'at dapat berjalan lancar. Tatanan dunia akan hancur apabila pengetahuan tentang hal ghaib diketahui semua orang. Oleh sebab itulah, auliya' - yang notabenenya mempunyai pengetahuan ghaib - disembunyikan Allah. Tidak hanya disembunyikan, bahkan mereka dibuat Allah memiliki sebuah sikap yang sekiranya kita memandang, justru kita akan menganggap mereka yang sebenarnya wali bukan termasuk wali. Allah sengaja mengutus para kekasih-Nya untuk bersikap begitu sederhana justru agar dijauhi orang awam. Yang terjadi, mayoritas orang, khususnya zaman sekarang, lebih mencari keramat dan lebih percaya terhadap orang yang mengobral kehebatan-kehebatan di luar nalar yang diakui dimilikinya. Jadi kalau coba disadari, sikap orang yang suka mencari keramat dan keistimewaan tersebut sangat bertentangan dengan hikmah ilahiyah yang lebih memilih menutupi keistimewaan dari pada mengobralnya. Begitulah Allah menutupi para kekasihnya dari pengetahuan orang. Bahkan ada wali Allah yang dirinya sendiri tidak menyadari bahwa dia adalah wali Allah. Selanjutnya, sebagai imbangan menyembunyikan kekasih-Nya, Allah menampakkan eksistensi diri-Nya pada setiap ciptaan yang ada. Hal ini dimaksudkan agar yang menjadi tujuan utama dan menjadi tempat kembali dari segala urusan adalah Allah, bukan sesama mahluk. Kita akan menemukan Allah, pada tiap mahluk. Contoh; Kita bisa tahu Allah Mahakaya karena kita sadar akan kefaqiran kita. Allah Mahakuat, karena kita lemah. Begitu seterusnya. Dengan kata lain, yang menerjemahkan Allah sebagai Otoritas Tunggal atau Tuhan adalah para mahluk-Nya. Ini secara ringkasnya. Toh demekian, kita jangan berhenti pada titik kesimpulan ini. Sebab akan menyebabkan kesalahpahaman, bahwa Allah menjadi Tuhan hanya karena ada mahluk-Nya. Kalau mahluk tidak ada, Allah pun tidak lagi menjadi Tuhan yang Mahaperkasa. Kesalah pahaman ini meniscayakan kehadiran mahluk jika ingin Allah dikatakan sebagai Tuhan. Apa betul seperti itu? Sama sekali tidak! Ada dan tidak adanya mahluk sedikitpun tidak mempengaruhi sifat Rububiyyahnya Allah. Sifat ketuhanan tersebut sangat erat melekat pada dzat-Nya, tanpa membutuhkan yang lain. Tanpa mahluk, Allah tetap Dzat yang Mahapencipta dan Mahasegalanya. Kitalah yang membutuhkan Allah. Sebagai fitrah seorang hamba, kita membutuhkan adanya Tuhan. Untuk dapat lebih mengenal-Nya, kita perlu mengumpulkan keterangan-keterangan tentang Allah sebagai Tuhan. Allah pun memberi jalan kepada para hamba untuk lebih mengenal Dirinya. Yakni dengan menyertakan potongan-potongan informasi yang mengatakan kepada makhluk tentang tanda-tanda ketuhanan serta kekuasaan-Nya pada setiap ciptaan. Allah membuka sifat Rububiyyah-Nya melalui mahluk. Sebuah contoh kecil adalah diri manusia. Begitu lemahnya manusia pada waktu bayi. Tak berdaya, tak mempunyai upaya. San begitu lemahnya, bayi hanya bisa menangis di dalam pinta. Perkembangan mulai menunjukkan perubahan pada diri. Yang dahulunya merangkak saja tak mampu, saat menginjak remaja kaki semakin kokoh. Jangankan merangkak, berjalanpun sangat mudah. Beranjak dewasa, manusia mulai sempurna menggunakan akal pikirannya. Proses dari bayi sampai dewasa kemudian mampu berpikir ini seakan terjadi secara otomatis dan terprogram. Tak ada yang tahu bagaimana itu semua berproses. Yang jelas, manusia sama sekali tidak ikut andil di dalamnya. Hanya satu yang mengendalikan. Dia lah Allah Yang Mahakuasa. Inilah yang hendak diungkapkan Imam Ibn 'Atho'illah As-Sakandari melalui mutiara hikmahnya: وظهر بعظمة الربوبية فى اظهار العبودية Bila ada yang tidak mengetahui hal ini dan berpandangan bahwa dirinya sendiri yang menciptakan kekuatan tanpa otoritas lain, maka ini dapat disadarkan dengan cara mengajaknya bertafakkur tentang diri dan melihat sifat kehambaan dirinya. Kemudian andai masih enggan untuk mengakui, maka hanya ada satu hal yang akan menyadarkannya. Yaitu maut.
Langganan:
Postingan (Atom)